Buku 44

“CARILAH ALAT untuk mengangkat Ki Argapati,” desis orang tua itu. “Ia harus segera berada di dalam rumah. Aku harus mencuci lukanya dan memberikan obat baru lagi.”

Seorang dari antara mereka yang melingkarinya segera pergi mencari sebuah ekrak bambu. Dilambari dengan jerami kering, maka Ki Argapati pun kemudian dibaringkannya di atas ekrak itu dan diangkat oleh empat orang untuk segera dibawa ke pondoknya.

Ternyata obat yang sekedar untuk menolong sementara itu pun bermanfaat. Darah yang mengalir dari luka itu pun semakin lama menjadi semakin mampat.

Dengan tergesa-gesa Ki Argapati itu pun dibawa ke pondoknya. Disampingnya, Pandan Wangi berjalan sambil menjinjing pedangnya, sehingga seseorang terpaksa memperingatkannya, “Sarungkan pedangmu, Pandan Wangi.”

“Oh,” pedang itu pun kemudian disarungkannya, tanpa sempat membersihkan dahulu debu yang melekat ketika pedang itu begitu saja diletakkan di tanah.

Ki Argapati masih belum sadarkan diri ketika perlahan-lahan ia dibaringkan di pembaringan. Dengan wajah yang tegang gembala tua itu menitikkan air ke bibirnya.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat bibir yang pucat itu bergerak-gerak.

“Pandan Wangi,” berkata orang tua itu, “berilah aku air hangat. Air yang sudah mendidih, jangan didinginkan dengan campuran air tawar.”

Pandan Wangi pun mengangguk. Kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi ke dapur. Adalah kebetulan sekali di dalam periuk masih terdapat sisa air masak. Tetapi karena air itu sudah dingin, maka Pandan Wangi dengan tergesa-gesa membuat api untuk menghangatkannya.

Dengan hati-hati gembala tua itu kemudian membersihkan luka Ki Argapati dengan air hangat itu. Kemudian diambilnya reramuan obat-obatan dari sebuah bumbung kecil yang selalu dibawanya. Beberapa macam reramuan dicampurnya menjadi satu. Kemudian dengan hati-hati reramuan itu ditaburkannya di atas luka.

Sejenak orang-orang di dalam ruangan itu memperhatikan wajah Ki Gede yang putih seperti kapas. Mereka melihat wajah itu menegang. Namun kemudian kesan itu pun lenyap pula. Kembali wajah itu menjadi beku.

Yang menegang adalah wajah gembala tua itu. Sejenak ia menahan nafasnya. Namun kemudian diraba-rabanya dada Ki Argapati, di sekitar luka-lukanya. Perlahan-lahan tangannya bergerak-gerak menyelusur otot-otot di sekitar leher, kemudian ke tengkuk.

“Aku minta yang kurang berkepentingan meninggalkan ruangan ini,” berkata gembala tua itu. “Udara menjadi terlampau panas, sehingga pengaruhnya tidak menguntungkan bagi Ki Argapati.”

Orang-orang itu pun segera meninggalkan ruangan itu. Yang tinggal kemudian adalah Pandan Wangi.

Dengan hati berdebar-debar ia melihat, bagaimana orang tua itu mencoba mengobati luka yang kambuh kembali itu. Setiap kali ia melihat gembala itu mengusap keringat di keningnya. Kemudian menekuni luka itu kembali.

Setelah air pembersih luka itu menjadi kering, maka luka itu pun kemudian diobatinya dengan obat yang lain lagi. Ditaburkannya obat itu dengan hati-hati.

Tetapi Ki Argapati masih berbaring sambil memejamkan matanya. Agaknya ia masih belum sadar dari pingsannya.

Setelah menaburkan obat di atas luka itu, maka orang tua itu pun kemudian meramu obat yang lain di dalam mangkuk. Obat yang kemudian dengan hati-hati dan susah payah, diteteskan masuk ke dalam mulut Ki Argapati. Setetes demi setetes.

Pandan Wangi masih tegak berdiri di tempat dengan wajah yang semakin tegang. Dan tiba-tiba saja ia melangkah maju ketika ia melihat ayahnya bergerak.

“Jangan mengejutkannya,” desis gembala tua itu.

Pandan Wangi tertegun. Namun dahinya semakin berkerut-merut.

Sejenak kemudian kedua orang yang berada di dalam bilik itu berpaling ketika mereka mendengar langkah memasuki ruangan itu. Ternyata Samekta-lah yang datang dengan nafas terengah-engah.

“Bagaimana Kiai?” dengan serta-merta ia bertanya.

“Mudah-mudahan,” jawab orang tua itu perlahan-lahan.

Samekta pun kemudian berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tidak bertanya apa pun lagi. Kini ia melihat Ki Argapati telah menjadi tidak terlampau pucat. Perlahan-lahan Ki Argapati telah mulai bergerak-gerak.

Dengan hati-hati pula gembala tua itu mengangkat tangan Ki Argapati. Seandainya ia tidak luka di dadanya, maka tangan itu harus digerak-gerakkannya supaya pernafasannya menjadi segera lancar. Tetapi kali ini orang tua itu tidak dapat berbuat demikian, justru dada Ki Argapati sedang terluka.

Namun titik-titik obat yang diteteskan ke dalam mulut itu agaknya berpengaruh juga. Karena dengan demikian Ki Argapati telah mulai menyadari keadaanya.

Ketika Ki Argapati mulai membuka matanya, Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia berlari memeluk ayahnya, seandainya ia tidak digamit oleh gembala tua itu.

“Jangan kau kejutkan dia,” desis gembala tua itu.

Pandan Wangi tertegun. Tetapi ia tidak dapat menahan perasaannya yang bergolak, sehingga terasa sesuatu menyekat tenggorokannya. Titik-titik air mata telah mengembun pula di matanya yang buram.

“Jangan menangis,” berkata Samekta perlahan-lahan, “kita berada di medan peperangan. Kau adalah seorang prajurit dengan sepasang pedang di lambungmu.”

Dengan susah payah Pandan Wangi menahan dirinya. Tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang gadis yang sedang menyaksikan ayahnya dalam keadaan yang gawat. Karena itu, maka ia tidak berhasil mencegah air matanya meleleh di pipinya. Namun demikian Pandan Wangi tidak terisak.

“Masa yang paling gawat telah lewat,” desis gembala tua itu ketika ia melihat Ki Argapati mencoba menarik nafas. Tetapi terasa betapa, sakit dadanya, sehingga wajahnya tampak menegang sejenak.

Tetapi Ki Argapati kini telah menyadari dirinya. Perlahan-lahan sekali kepalanya bergerak-gerak. Dan perlahan-lahan sekali ia berdesis, “Di mana aku sekarang?”

“Ki Gede berada di pondok.”

Ki Gede mengerutkan alisnya, “Di mana Pandan Wangi?”

“Ayah,” desis Pandan Wangi, “aku di sini.”

“Kemarilah, Ngger,” panggil gembala tua itu. Pandan Wangi pun segera mendekat dan berjongkok di samping pembaringan.

Dengan susah payah Ki Argapati mencoba menggerakkan tangannya membelai kepala puterinya. Perlahan-lahan terdengar Ki Gede bertanya, “Bagaimana dengan pertempuran itu?”

“Pasukan Ki Tambak Wedi telah menarik diri, Ayah,” jawab Pandan Wangi.

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk mengingat-ingat apa yang terakhir dilihatnya.

Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mereka telah menarik diri. Apakah yang kita lakukan kemudian?”

“Membiarkan mereka meninggalkan pedukuhan ini,”

Ki Argapati masih mengangguk-angguk, dan sekali lagi ia bergumam, “Ya. Aku memang tidak dapat membawa kalian mengejar mereka, karena lukaku kambuh kembali.”

“Mereka meninggalkan pedukuhan ini dalam keadaan yang parah,” sambung Samekta.

Ki Argapati berdesis-desis perlahan-lahan, “Ya, ya.”

“Untuk sementara kita dapat menenangkan diri Ki Gede,” berkata gembala tua itu kemudian. “Aku kira Ki Tambak Wedi memerlukan waktu untuk menyembuhkan luka-luka pasukannya.”

“Ya, ya.”

“Nah, sekarang tenangkan hati Ki Gede. Beristirahatlah.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian seisi ruangan itu berpaling ketika mereka mendengar langkah-langkah masuk.

Sejenak kemudian Kerti, Wrahasta, Dipasanga, dan Hanggapati telah memasuki ruangan itu.

“Kemarilah,” desis Ki Argapati.

Mereka pun segera mendekat.

“Bagaimana dengan kalian?”

“Baik, Ki Gede,” Wrahasta-lah yang menjawab. “Mereka telah terusir.”

“Apakah pekerjaan kalian telah selesai?”

“Sudah, Ki Gede. Medan telah sepi Beberapa petugas sedang mencoba menolong orang-orang yang terluka dari kedua belah pihak.”

Namun kening Wrahasta berkerut ketika Ki Gede bertanya, “Di mana Gupita dan Gupala?”

Wrahasta tidak segera menjawab. Dipandanginya setiap wajah yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian ditatapnya pula kerut-merut di kening gembala tua itu.

“Apakah kau tidak melihatnya?” bertanya Ki Argapati kemudian.

Wrahasta menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak melihatnya. Tetapi kenapa Ki Gede mencari kedua gembala itu?”

“Aku akan mengucapkan terima kasih kepada mereka dan kepada Ki Dipasanga dan Ki Hanggapati yang telah lebih dahulu ada di sini.”

Dada Wrahasta menjadi berdebar-debar. Dan jawabnya, “Ki Gede memang harus berterima kasih kepada Ki Dipasanga dan Ki Hanggapati. Mereka berdua telah berhasil menahan Sidanti dan Ki Argajaya. Tetapi apakah yang telah dilakukan oleh kedua gembala itu?”

“Keduanya telah bertempur,” jawab Argapati.

“Tidak hanya mereka berdua yang bertempur. Setiap orang ikut bertempur,” Wrahasta berhenti sejenak. Kemudian, “Sebaiknya dalam kesempatan yang lain Ki Gede mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang berdiri di pihak kita tanpa membeda-bedakan.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Kemudian ia menyeringai menahan pedih di dadanya.

“Wrahasta,” berkata Ki Argapati, “kau benar. Tetapi keduanya adalah orang lain. Bukan keluarga kita sendiri. Karena itu, seperti kepada Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga, aku akan mengucapkan terima kasih yang khusus.”

“Itu terlampau berlebih-lebihan Ki Gede.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Namun ketika ia akan berbicara lagi terdengar gembala tua itu menahannya, “Sebaiknya Ki Gede beristirahat. Ki Gede memang dapat menyimpan ucapan terima kasih itu untuk lain kali. Sekarang sebaiknya Ki Gede memperhatikan keadaan Ki Gede ini lebih dahulu.”

Perlahan-lahan Ki Argapati berdesah.

“Kalau mungkin, sebaiknya Ki Gede tidur meskipun hanya sejenak. Ki Gede akan dapat beristirahat mutlak untuk sesaat.”

“Ya, ya,” jawab Ki Gede, “aku akan mencoba untuk tidur.” Ki Gede berhenti sejenak. Namun kemudian, “Tetapi sebaiknya setiap orang yang turun ke medan diteliti seorang demi seorang. Siapakah yang terluka, hilang atau gugur. Juga kedua gembala-gembala itu.”

Wajah Wrahasta menjadi tegang. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Kalau kau ketemu dengan anak-anak itu, panggillah mereka kemari,” berkata Ki Argapati seterusnya.

Bagaimanapun juga Wrahasta terpaksa menganggukkan kepalanya, “Ya, Ki Gede.”

“Sekarang aku akan mencoba beristirahat. Mudah-mudahan aku dapat meletakkan semua persoalan, sehingga aku dapat tidur meskipun hanya sekejap.”

Orang-orang di dalam bilik itu pun kemudian minta diri, dan mereka tinggalkan Ki Argapati terbaring ditunggui oleh puterinya, Pandan Wangi. Namun Pandan Wangi pun tidak terlampau lama tinggal di dalam bilik itu. Sejenak kemudian ia pun minta diri, meninggalkan ayahnya, agar ayahnya mendapat kesempatan untuk tidur barang sejenak.

Dari bilik ayahnya, Pandan Wangi langsung pergi ke belakang. Sebagaimana biasanya, ia selalu membantu mengerjakan pekerjaan dapur. Bahkan kadang-kadang mengambil air, memasak, serta menanak nasi.

Namun langkahnya tertegun ketika ia berjalan menuju ke pintu dapur. Dari celah-celah lubang pintu ia melihat dua orang anak-anak muda sedang duduk di bawah pohon jambu. Keduanya ternyata Gupita dan Gupala.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia melangkah ke samping dan berdiri di bibir pintu. Karena tidak seorang pun berada di dalam ruangan yang menghadap langsung ke pintu dapur yang tembus ke halaman belakang itu, maka, ia merasa tidak terganggu.

Gupita dan Gupala yang tidak merasa bahwa sepasang mata sedang memandanginya, duduk saja seenaknya. Bahkan tiba-tiba Gupala meloncat berdiri. Dipandanginya sedompol jambu yang merah seperti soga.

“Hee, kau lihat itu?” desisnya.

“Ya.”

“Aku memerlukannya.”

“Seperti anak-anak. Kau pasti akan dimarahi oleh pemilik rumah ini.”

“Huh, dijaman peperangan ini tidak ada orang yang memikirkan hak milik atas sedompol jambu.”

Gupala tidak menunggu Gupita menyahut. Tiba-tiba diraihnya sebutir batu.

“Tetapi terlampau tinggi,” desisnya.

Gupita masih saja duduk di tempatnya, seolah-olah acuh tidak acuh saja atas kelakuan adik seperguruannya. Ia hanya berpaling ketika ia mendengar gemeresak batu yang dilontarkan oleh Gupala.

“Meleset,” desisnya.

“Huh,” sahut Gupita, “jambu itu tidak dapat berkisar dari tempat. Dan kau tidak dapat mengenainya. Bagaimana kalau yang kau lempar itu dapat menghindar.”

“Kalau jambu itu dapat menghindar, aku tidak akan melemparnya sekali lagi. Tetapi aku tantang ia supaya turun.”

Gupita tersenyum. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

“Tolong, Kakang,“ desis Gupala, “bukankah kau juara memanah di Sangkal Putung. Kau adalah pembidik yang paling baik di seluruh Pajang.”

“Ah, Bagaimana dengan bidikan gelang-gelang besi Ki Tambak Wedi?”

Gupala menggeleng, “Entahlah. Tetapi tolong, aku kepingin jambu itu.”

Akhirnya Gupita berdiri juga. Diambilnya sebutir batu, dan perlahan-lahan ditengadahkan wajahnya. Sementara Pandan Wangi memandanginya dengan berdebar-debar.

Sedompol jambu yang telah semerah soga itu itu tergantung pada sebuah cabang yang agak tinggi. Gupala sendiri telah gagal melemparnya dengan sebutir batu. Dan kini Gupita-lah yang akan mencobanya.

Pandan Wangi terpaku di tempatnya ketika ia melihat Gupita bergeser mencari arah, supaya batu yang dilemparkannya tidak jatuh di sembarangan tempat.

Ketika Gupita mulai menggerakkan tangannya, Pandan Wangi ikut menahan nafasnya. Bahkan tanpa sadarnya ia pun telah bergeser ke tengah pintu.

Batu yang meluncur dari tangan Gupita itu seolah-olah mempunyai mata. Dengan tepat batu itu mengenai tangkai sedompol jambu yang merah segar itu, sehingga sesaat kemudian telah menghambur berjatuhan.

Dengan tangkasnya Gupita dan Gupala menangkap masing-masing dua buah di kedua tangan.

“Bukan main,” tanpa dikehendakinya Pandan Wangi berdesis.

Namun ternyata suaranya itu dapat didengar oleh Gupita dan Gupala sehingga keduanya terkejut dan berpaling.

“Maaf,” berkata Gupita, “aku mengambil jambu tanpa minta ijin lebih dahulu.”

Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu karenanya. Tetapi ia tidak dapat masuk kembali tanpa menjawab kata-kata itu.

“Tidak apa-apa. Aku mengagumi kecakapanmu membidik. Sekali lempar kau dapat mengenai sedompol jambu itu.”

“Itu belum apa-apa,” tiba-tiba saja Gupala menyahut, “Kakang Gupita dapat mengenai batu yang dilemparkan orang lain ke udara. Nah, apakah kau tidak percaya. Marilah kita coba.”

“Ah,” desis Gupita, “kau mengada-ada saja Gupala.”

“Jangan bertingkah. Ayo, kita bermain-main.”

Gupita mengerutkan keningmya. Gupala berbuat sekehendak sendiri dimana pun dan kapan pun, sehingga Pandan Wangi menjadi semakin terdiam karenanya.

Karena Pandan Wangi tidak segera menyahut, maka Gupala mendekatinya sambil mengulanginya, “Mari. Kau melemparkan batu ke udara dan Kakang Gupita akan dapat menyentuhnya dengan batu yang lain.”

“Tidak sekarang, Gupala,” berkata Gupita.

“Oh,” Gupala mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia menyadari keadaannya sehingga perlahan-lahan ia bergumam, “Maaf.” Namun kemudian dilanjutkannya, “Bagaimana dengan Ki Argapati?”

Pandan Wangi menarik nafas, jawabnya, “Ayah sudah berangsur baik. Obat ayahmu benar-benar membantunya.”

“Tentu,” sahut Gupala, “ayahku adalah seorang dukun yang tidak ada duanya. Ia dapat mengobati segala penyakit kecuali satu.”

“Sakit apa itu?” bertanya Pandan Wangi.

“Lapar,” jawab Gupala sambil tertawa.

“Hus,” desis Gupita.

“O, apakah kalian belum makan pagi?”

Gupala tertawa, ketika ia mendengar Gupita berkata, “Anak itu terlampau dikuasai oleh perutnya. Tetapi ia tidak akan mau kelaparan.”

“Tetapi seandainya kalian belum makan pagi, marilah.”

“Semua juga belum,” jawab Gupita. “Terima kasih. Nanti kami akan berada bersama-sama dengan pengawal yang lain.”

Gupala masih saja tertawa. Bahkan di sela-sela suara tertawanya ia berkata, “Bukan saja belum makan pagi, sejak kemarin aku belum makan malam.”

“Benar begitu?” desak Pandan Wangi.

“Jangan hiraukan. Terima kasih.”

“Marilah. Aku akan menjamu kalian berdua.”

“Terima kasih,” jawab Gupita. “Kami bukan orang-orang yang harus mendapat perlakukan khusus.”

“Jangan berpura-pura,” potong Gupala, “yang penting bagiku sama sekali bukan makan pagi atau sore atau malam. Tetapi aku berbangga bahwa aku akan menjadi tamu kehormatan puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ah,” Gupita berdesah dan Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Tetapi tanpa dapat ditahannya lagi ia tersenyum.

Ia mendapat kesan tersendiri atas anak muda yang gemuk itu. Kesan yang berbeda dengan kakaknya, Gupita. Kakaknya nampak lebih bersunguh-sungguh menanggapi persoalan, meskipun kadang-kadang ia mau bergurau juga. Namun apabila gembala itu telah bermain dengan serulingnya, terasa bahwa hidup baginya bukan sekedar sebuah permainan. Terasa bahwa jangkauannya dan tanggapannya tentang masalah-masalah yang dihadapinya agak lebih dalam dan bersungguh-sungguh.

Tiba-tiba saja ia mendapat kegembiraan bersama kedua anak-anak muda itu. Selama ini ia merasa hidup di dalam kungkungan kemuraman. Ia tidak pernah melihat wajah-wajah yang gembira dan cerah seperti wajah anak muda yang gemuk itu. Wajah yang kekanak-kanakan.

“Sebenarnya Ayah pun menungu kalian,” berkata Pandan Wangi tanpa disadarinya, “tetapi kalian tidak datang ke biliknya bersama pemimpin-pemimpin pengawal yang lain.”

“Kami bukan pemimpin pengawal,” sahut Gupala, “kami tidak pantas untuk berada di dalam bilik itu bersama-sama dengan para pemimpin yang lain.”

“Ah, kau,” desis Pandan Wangi. “Tetapi kalian adalah tamu-tamu kami. Marilah. Ayah sekarang sedang tidur. Nanti kalau Ayah sudah bangun, kalian harus segera menghadap. Sekarang, marilah aku jamu kalian dengan makan.”

“Sekaligus makan malamku kemarin,” potong Gupala.

Pandan Wangi tersenyum pula. Senyumnya menjadi semakin cerah. Sudah agak lama ia tidak pernah tersenyum dan apalagi tertawa, karena keadaan di sekitarnya. Dan kini ia merasakan dorongan di dalam hatinya untuk tersenyum.

“Baik,” jawabnya, “makan pagi, malam, dan siang sama sekali.”

Gupala tertawa. Suara tertawanya lepas tidak tertahan-tahan meskipun tidak terlampau keras, sedang Gupita ikut tersenyum pula karenanya.

Agaknya Gupala memang tidak dapat meninggalkan kebiasaannya. Setiap kali ia selalu masuk ke dapur. Memungut apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam mulutnya. Daging lembu, kambing, paha ayam dan bahkan apa saja. Secukil kelapa pun boleh juga.

“Marilah,” ajak Pandan Wangi pula.

“Jangan menolak rejeki,” katanya kepada Gupita, “sudah aku katakan, bahwa yang penting bukan makanan yang akan kami terima, tetapi kesempatan untuk menjadi seorang tamu.”

“Ah,” desah Pandan Wangi.

Gupita menarik nafas dalam-dalam, Sambil menggeleng-gelengkan ke-palanya, ia tidak dapat tinggal sendiri di halaman belakang. Karena itu ia pun melangkah masuk ke dalam dapur bersama Gupala mengikuti Pandan Wangi.

“Duduklah. Tetapi tempat ini agak kotor.”

“Akulah yang lebih kotor lagi.”

“Aku buatkan minum untuk kalian, kemudian makan pagi. Tetapi aku hanya dapat menghidangkan apa yang ada saja, karena bibi di rumah ini agaknya belum masak. Mungkin Bibi sedang mencuci pakaian atau keluar sebentar untuk sesuatu keperluan.”

“Terima kasih. Jangan merepotkan. Kami pun masih belum mandi. Kami akan minum saja. Nanti sesudah mandi, barulah kami akan makan,” jawab Gupita.

“Tetapi adikmu sudah sangat lapar.”

“Biarlah ia membiasakan diri menahan lapar dan haus. Tetapi ia pun harus mandi dulu. Membersihkan darah yang masih belum pampat benar.”

“Darah?” bertanya Pandan Wangi.

“Lihat, pundakku terluka meskipun tidak begitu dalam,” jawab Gupala sambil memperlihatkan noda-noda darah di bajunya yang kotor dan sobek.

“Tidakkah luka itu diobati?”

“Ayahku seorang dukun. Aku sudah dibekali dengan obat-obat yang dapat menolong luka-luka yang ringan seperti lukaku ini.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menyiapkan minuman kedua anak-anak muda itu ia berkata, “Sudah agak dingin. Tetapi cukuplah untuk menghangatkan perut.”

“Terima kasih.”

Pandan Wangi pun kemudian meletakkan mangkuk-mangkuk minuman itu di amben bambu. Air sere dengan gula kelapa. Bahkan disertai beberapa potong makanan.

“Terima kasih, terima kasih,” Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku ambilkan kalian makan kalau masih ada, meskipun sisa makan kemarin sore.”

“Kami akan mandi dahulu,” jawab Gupita, “biarlah kami makan bersama para pengawal yang lain. Minum dan makanan ini sudah lebih dari cukup.”

“Ya, jangan terlampau sibuk. Duduklah. Itulah yang penting,” sahut Gupala.

“Ah,” sekali lagi Pandan Wangi berdesah. Wajahnya menjadi ke merah-merahan seperti jambu yang menjelang tua.

Betapa inginnya Pandan Wangi duduk bersama mereka, berbicara dan bergurau, namun ia tidak dapat melakukannya. Sebagai seorang gadis, ia masih selalu dibayangi oleh perasaan malu. Karena itu, ditemuinya keduanya sambil mengerjakan pekerjaan apa saja. Membuat api, merebus air dan pekerjaan-pekerjaan dapur yang lain.

“Duduklah,” berkata Gupala, sehingga Gupita terpaksa menggamitnya.

“Kenapa?“ Gupala malah bertanya. “Bukankah tidak apa-apa aku mempersilahkannya duduk?”

“Sst,” desis Gupita.

“Kenapa?”

Gupita menggeleng-gelengkan kepalanya, sedang wajah Pandan Wangi menjadi semakin merah, sehingga tangannya menjadi gemetar.

Namun dalam pada itu, terkilas di dalam kenangannya, masa-masa kecilnya. Terasa sepercik kesegaran menyusup ke dalam dadanya. Seperti pada masa kanak-kanak, kakaknya Sidanti, setiap kali berada di rumah, selalu membawanya bermain-main. Tertawa, bergurau, dan bahkan berkejar-kejaran.

“Betapa segarnya masa kanak-kanak itu,” katanya di dalam hati. Namun justru karena kenangan itu, maka wajahnya pun menjadi suram. Apalagi kini ia dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa kakaknya, Sidanti telah memusuhi ayahnya, dan bahkan telah membakar seluruh Tanah Perdikan ini menjadi abu.

Tetapi Pandan Wangi berusaha menyembunyikan perasaannya terhadap kedua anak-anak muda itu. Ia tidak mau menyeret mereka ke dalam kemuramannya. Keduanya adalah anak-anak muda yang gembira, apalagi yang gemuk itu, seakan-akan sama sekali tidak pernah mengalami kesulitan di dalam hidupnya, seperti di masa kanak-kanak.

Untuk mengurangi ketegangan di hatinya, Pandan Wangi yang sedang membersihkan paga bambu itu berkata, “Nanti kalau Ayah bangun, kalian harus segera menghadap. Ayah memerlukan kalian.”

Gupala menarik nafas, “Kau aneh. Kau belum mempersilahkan aku makan makananmu, kau sudah akan mengusir aku.”

Mau tidak mau Pandan Wangi harus tersenyum. Tetapi ia senang bahwa ia dapat tersenyum, bukan sekedar senyum yang dibuat-buat. “Maaf. Aku lupa mempersilahkan. Minumlah dan makanlah. Di dalam geledeg itu masih ada persediaan makanan. Kalau makanan itu habis, nanti biarlah aku tambah lagi.”

Gupala tertawa mendengarnya. “Terima kasih.”

“Terlalu kau,” gumam Gupita.

Tetapi Gupala tidak mempedulikannya. Ia mengambil tidak hanya sepotong makanan, tetapi dua sekaligus. Dengan sepenuh gairah, disuapkannya makanan itu ke dalam mulutnya.

Sikap itu justru terasa menyenangkan sekali. Kalau Gupala itu mempunyai pintu di dadanya, seakan-akan pintu terbuka, sehingga apa yang tersimpan di dalam dadanya, dapat dilihat tanpa selubung apa pun.

“Silahkan,” tanpa sesadarnya ia berkata, sehingga Gupala berpaling karenanya. Sambil tersenyum ia menyahut “Ketahuan juga agaknya.”

Pandan Wangi pun tertawa. Tetapi suara tertawanya segera terputus, ketika ia melihat seseorang yang bertubuh raksasa berdiri di muka pintu.

Sejenak Pandan Wangi seakan-akan membeku di tempatnya. Sorot mata Wrahasta membayangkan hatinya yang kurang senang melihat keadaan di dalam dapur itu. Sekali-sekali Wrahasta memandangi kedua anak-anak muda itu berganti-ganti, kemudian memandangi Pandan Wangi dengan tajamnya.

Gupita yang melihat kehadirannya pun menjadi berdebar-debar. Anak yang bertubuh raksasa itu tidak begitu senang kepadanya. Karena itu untuk tidak menimbulkan hal-hal yang tidak dikehendaki, maka ia selalu menghindari benturan pandangan.

Tetapi Gupala mempunyai tanggapan lain. Ia belum begitu mengenal Wrahasta, meskipun ia sudah mendengar serba sedikit tentang raksasa itu, namun Gupala sama sekali tidak mempedulikannya. Karena itu maka tanpa mengacuhkan gelagat di wajah Wrahasta, Gupala berkata, “Ha, kau datang juga. Kemarilah. Makanan sudah tersedia.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba menegang. Ia sama sekali tidak senang melihat sikap dan tingkah laku Gupala, namun dengan demikian justru ia terdiam sesaat.

“Kemarilah, jangan malu-malu. Tidak ada orang lain. Adalah kebetulan bahwa di geledeg ada sisa makanan,” berkata Gupala selanjutnya.

“Gupala,” bisik Gupita, “jagalah dirimu sedikit.”

Gupala mengerutkan keningnya. Hampir saja ia menjawab peringatan Gupita kalau Gupita tidak mendahuluinya, “Jangan berteriak. Orang ini mempunyai beberapa kelainan.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia mulai memperhatikan wajah itu. Wajah raksasa yang kaku.

“Agaknya ia tidak pernah tertawa.”

“Sst.”

Wrahasta kemudian melangkah masuk ke dalam dapur. Dipandanginya Pandan Wangi dengan tajamnya. Sejenak kemudian terdengar suaranya, “Apa kerja anak-anak ini di sini?”

Pandan Wangi masih selalu mencoba menahan dirinya. Karena itu maka jawabnya, “Mereka belum makan sejak kemarin. Aku kasihan kepada mereka, dan aku memberikan makanan untuk sekedar mengisi perut.”

“Hampir semua orang belum makan sejak kemarin malam. Baru sebagian kecil saja dari mereka yang sempat makan lebih dahulu. Pagi ini mereka masih juga belum makan. Aku baru melihat nasi diantar ke gardu-gardu dan ke tempat-tempat peristirahatan para pengawal. Dan di sini orang-orang asing ini mendapat perlakuan khusus yang berlebih-lebihan. Itu tidak adil. Biar saja mereka pergi ke tempat para pengawal untuk menerima makan mereka. Kenapa harus di sini?”

Dada Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Ia menyadari betapa penting kedudukan Wrahasta di kalangan para pengawal. Tetapi kata-kata itu sangat menyakitkan hatinya. Ia sudah terlanjur menerima keduanya sebagai tamunya. Tiba-tiba Wrahasta datang memaki-maki.

“Nah, biarkan mereka keluar,” sambung naksasa itu.

“Wrahasta,” berkata Pandan Wangi, “aku sengaja membawa mereka kemari, supaya aku tidak kehilangan mereka lagi. Bukankah kau mendengar juga, bahwa Ayah memanggil keduanya untuk menghadap?”

“Itu hanya sekedar sopan santun. Dan aku pun akan membawa mereka menghadap. Tetapi tidak di dapur seperti ini. Kalau Ki Gede sudah bangun, biarlah keduanya datang ke dalam biliknya.”

“Kalau aku ikat mereka di sini, mereka tidak akan pergi lagi, dan kita tidak usah mencarinya.”

“Nah, itulah kepandaian puteri Kepala Tanah Perdikan ini,” sahut Gupala. “Kalau kepada kami berdua ini disediakan makanan, minuman, apalagi ingkung ayam, maka sehari penuh kami tidak akan beranjak dari amben ini.”

Gupita menyarik nafas dalam-dalam, sedang Pandan Wangi menggigit bibirnya, sementara Gupala berkata terus, “Marilah Ki Sanak. Minuman hangat dan makanan yang agak wayu sedikit, justru membuat tubuh menjadi segar-bugar, meskipun belum mandi.”

Wajah Wrahasta justru menjadi semakin tegang. Dengan suara yang datar ia berkata, “Tetapi tidak sepantasnya kalian mendapat perlakuan yang khusus. Para pengawal Tanah ini pun tidak mendapat perlakuan seperti kalian, bahkan para pemimpinnya, Paman Samekta, Paman Kerti, dan aku sendiri.”

“Itulah bedanya,” jawab Gupala, “aku adalah seorang tamu di Tanah ini. Tamu memang harus mendapat perlakuan yang lain.”

“Hanya tamu yang tidak sopanlah yang tidak menurut ketentuan dari tuan rumahnya. Ayo, jangan banyak bicara. Aku adalah tuan rumah di atas Tanah Perdikan ini.”

“Wrahasta,” potong Pandan Wangi, “tidak seorang pun yang akan menyangkal. Tetapi siapakah aku ini? Siapakah Ki Argapati? Apakah mereka bukan tuan rumah? Aku telah mempersilahkan tamu-tamuku masuk sekedar ke dalam dapur. Aku minta kau mengerti. Bukankah karena Ayah dari keduanya itu, luka-luka Ayah tidak merenggut nyawanya?”

Sesaat Wrahasta terdiam. Ia memang tidak dapat menyangkal, bahwa demikianlah yang telah terjadi. Tetapi ia pun tidak dapat mengelak lagi dari api kecemburuannya yang semakin berkobar di dadanya. Perasaan yang demikian bagi anak-anak muda dapat menjadikan pendorong untuk berbuat sesuatu, namun dapat juga menjadi racun yang berbahaya.

Dan Wrahasta justru menjadi semakin bermata gelap. Dengan suara yang gemetar ia berkata, “Pandan Wangi. Persilahkan tamumu meninggalkan ruangan ini. Biarlah berada di ruang sebagai tamu yang terhormat, yang telah menyelamatkan nyawa Ki Gede. Biarlah Paman Samekta, Paman Kerti dan para pemimpin yang lain menemuinya. Bukan kau. Kau adalah seorang gadis. Apakah kau telah berlaku sepantasnya bagi seorang gadis?”

Dada Pandan Wangi berdesir mendengar kata-kata Wrahasta. Agaknya Wrahasta sudah tidak dapat menahan hati lagi, sehingga Pandan Wangi itu menjadi semakin meyakini latar belakang dari sikap anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Namun justru dengan demikian, runtuhlah perasaan iba di hati gadis itu. Kemarahan yang telah merayapi jantungnya, tiba-tiba menjadi lilih. Pandan Wangi mengenal kemampuan Gupita dan menurut penilaiannya, tentu juga Gupala tidak akan jauh berbeda daripadanya.

Karena itu, maka perselisihan di antara mereka harus dihindari. Menilik sifat kedua anak-anak muda itu, maka Gupala mempunyai cara yang lain dalam menanggapi raksasa itu. Kalau Gupita masih selalu berusaha menahan dirinya, namun agaknya Gupala akan berbuat lain. Karena itu maka Pandan Wangi harus menjaga, agar di antara mereka tidak timbul salah paham.

Apabila demikian, maka Gupala pasti akan bertindak dengan sungguh-sungguh. Sudah barang tentu bahwa Wrahasta pasti tidak akan dapat melawannya. Dan kekalahan Wrahasta akan berakibat kurang baik bagi tanah perdikan ini.

Karena pertimbangan-pertimbangan itulah maka Pandan Wangi kemudi-an mengambil suatu sikap yang kurang dimengerti oleh Gupala, tetapi sama sekali tidak mengherankan Gupita.

“Baiklah,” berkata Pandan Wangi kemudian, “aku memang ingin mempersilahkan kalian duduk di ruang depan bersama ayah kalian, Paman Samekta, Paman Kerti dan yang lain-lain. Tentu saja setelah kalian makan makanan itu.”

Gupala tercenung sejenak. Dipandanginya wajah Pandan Wangi dan Wrahasta berganti-ganti.

“Oh,” Pandan Wangi berkata pula, “atau barangkali kalian akan mandi dahulu?”

Namun Gupala menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak perlu mandi. Aku dapat makan tanpa mandi sepuluh hari sepuluh malam. Apalagi di peperangan.”

Dada Pandan Wangi berdesir. Ia merasa bahwa tamunya yang gemuk itu merasa tersinggung. Itulah yang dicemaskannya. Tetapi kalau anak itu tetap berada di dapur, maka perselisihan yang lebih tajam mungkin akan terjadi. Justru dengan Wrahasta.

“Maaf,” jawab Pandan Wangi kemudian, “di ruang depan telah tersedia makan dan minum. Sama sekali makan malam kemarin dan mungkin masih ada yang lain lagi.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tanpa disangka-sangka ia menjawab, “Yang penting bukan makanannya. Aku berbangga bahwa aku suatu ketika menjadi tamu puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Dada Pandan Wangi berdesir. Ternyata anak muda yang gemuk itu sama sekali tidak mengacuhkan celerat di wajah Wrahasta. Dan ketika Pandan Wangi menyambar sorot mata raksasa itu, hatinya menjadi kian berdebar-debar.

Namun tiba-tiba Gupita turun dari amben sambil berkata, “Terima kasih. Itulah yang kami harapkan. Di sini kami telah menerima makanan dan minuman, di ruang depan kami akan menerimanya untuk yang kedua kalinya. Baiklah kami akan pergi ke ruang depan supaya kami tidak kehabisan.”

Gupala mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, sekali lagi Gupita mendahului, “Kalau kau mau, makanan itu dapat kita bawa. Bukankah begitu?”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun terasa menjadi kaku. “Apakah kalian memerlukannya?”

Namun Gupita menggeleng, “Terima kasih. Kami memang ingin mandi lebih dahulu.” Lalu kepada Gupala ia berkata, “Marilah.”

Sekali lagi Gupala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dengan malasnya ia pun berdri dan berkata, “Aku sebenarnya lebih senang duduk di sini. Kalau bukan yang mempersilahkan aku masuk itulah yang mempersilahkan aku keluar, aku akan tetap tinggal di dalam dapur.”

“Bukan maksudku mempersilahkan kau keluar,” sahut Pandan Wangi, “namun memang sepantasnya seorang tamu berada di ruang depan. Aku justru minta maaf bahwa aku telah mempersilahkan kalian duduk di dapur.”

“Kau tidak perlu memakai terlampau banyak alasan Pandan Wangi,” sahut Wrahasta tiba-tiba. “Sebaiknya kau memang berterus terang mengusir mereka. Apakah salahnya? Kau adalah puteri Ki Gede Menoreh. Jangankan menyuruh mereka keluar dari dapur ini. Bahkan kau dapat mengusirnya dari tlatah Menoreh.”

Sebersit warna merah membayang di wajah Gupala. Berbeda dengan Gupita, maka tiba-tiba ia bertolak pinggang.

Pandan Wangi menjadi bingung. Maksudnya adalah untuk mencegah perselisihan. Namun justru mereka seakan-akan mendapat jalan untuk berbantah.

“Sudahlah,” Pandan Wangi hampir berteriak, “kalian bukan anak-anak lagi. Di ruang dalam ayah sedang terbaring karena lukanya dan berusaha untuk beristirahat. Di sini kalian bertengkar tanpa ujung dan pangkal.”

Gupala masih akan menjawab karena ia melihat Wrahasta memandanginya dengan sorot mata kebencian. Tetapi ia tidak dapat membantah lagi ketika tangannya ditarik oleh Gupita.

“Kau mempunyai kebiasaan yang kurang baik, Gupala,” desis Gupita. “Kalau kau sedang lapar, maka nalarmu menjadi terlampau pendek.”

“Tidak. Ini bukan soal lapar.”

“Hus,“ Gupita berdesis sambil menarik lengan adiknya, “marilah. Jangan membuat kesulitan. Kau di sini menjadi seorang tamu. Kau harus tunduk kepada tuan rumah. Dan kita memang dipersilahkan keluar dari dapur. Aku yakin bahwa Pandan Wangi tidak akan ingin menyakitkan hati kita.”

“Memang bukan Pandan Wangi. Anak yang kasar itulah yang memang harus mendapat pelajaran sekali-kali.” Gupala menggeram, tetapi ia sudah menjadi semakin jauh dari pintu dapur, “Kenapa anak itu tidak kau putar saja batang lehernya ketika kau mendapat kesempatan untuk berkelahi.”

“Ah, kau terlalu terburu nafsu, itulah yang selalu dicemaskan oleh Guru.”

Gupala mengumpat. Ketika ia berpaling dilihatnya Pandan Wangi juga meninggalkan dapur, justru keluar dari pintu belakang dan cepat melingkari sudut rumah, masuk ke pintu butulan samping.

Sebenarnya bahwa Pandan Wangi pun menghindari pertemuan seorang dengan seorang. Ia tidak mau tersudut dalam kesulitan. Karena itu ketika Gupala ditarik oleh Gupita keluar dari dapur, maka ia pun segera menyusulnya pula.

“Pandan Wangi,” panggil Wrahasta, “aku perlu dengan kau sebentar.”

Pandan Wangi tertegun sejenak. Sepercik keragu-raguan melonjak di hatinya. Apakah ia akan tetap tinggal di dapur bersama Wrahasta, atau tidak. Kalau ia tetap berada di dapur, maka ia pasti harus menjawab berbagai macam pertanyaan yang dapat membuatnya pening.

“Aku ingin berbicara dengan kau, Wangi,” berkata Wrahasta kemudian.

Terasa tengkuk Pandan Wangi meremang. Ia tidak dapat mengerti sendiri, kenapa ia tidak berani menyatakan perasaannya berterus terang. Bukan karena pertimbangan-pertimbangan tentang pertahanan Tanah Perdikan Menoreh saja, tetapi karena ia memang tidak akan sampai hati untuk mengatakannya. Ia tidak akan sampai hati melihat Wrahasta menjadi kecewa dan mungkin menjadi patah hati dan bermata gelap. Seandainya kedua anak-anak muda gembala kambing itulah yang menjadi sasaran, maka hal itu pasti akan menjadi bencana bagi dirinya sendiri karena Pandan Wangi telah dapat menjajagi imbangan kekuatan mereka.

Ketikta Wrahasta melangkah mendekatinya, tiba-tiba Pandan Wangi menengadahkan wajahnya, “Wrahasta, apa kau dengar ayah memanggil?”

Wrahasta tertegun.

“Dengarlah baik-baik.” Pandan Wangi memiringkan kepalanya, “o, aku harus segera menghadap.”

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Pandan Wangi menghambur keluar. Tetapi terasa hatinya berdesir. Ia sama sekali tidak mendengar suara Ki Argapati. Dan seandainya benar, bukan jalan itu yang akan dilalui Pandan Wangi. Gadis itu pasti akan masuk ke dalam lewat pintu masuk, bukan pintu keluar.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 5 November 2008 at 01:18  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-44/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sepertinja buku 42 djvu djuga perlu diperbaiki agar jang mau re-type tidak merasa sungkan.

    Dengan demikian ternjata halaman 8, 9, 10, 12, 14, 15, 18,22 sulit dibaca, sehingga kedua gembala itupun belum berhasil menjelesaikan batjaannja.

    D2: Sudah diperbaiki kok. Betul kan Kang Sukra?

  2. betul banget bos DD.
    silakan klik cover untuk mengunduh file adbm42.djvu nya

  3. kok covernya sdh di klik tapi gk kedownload yaa…
    yg kluar cuma file gambarnya aja….

    D2: infonya di halaman berikutnya

  4. bukan di klik kanan kisanak, tapi klik kiri.
    monggo dipun cobi malih.

  5. wah kok ngak bisa tuh ya, mana yang diklik

  6. dari kemarin jilid 44 nya belum nongol-nongol ya?
    apa mas herry masih sibuk atau lagi pesta kemenangan obama ? hehehehhe

    tetap semangat.

  7. Saya tetap setia menanti dari kemarin hingga pagi ini, sebelum kabuuuur dari kantor

  8. Salam kenal para penggemar ADBM Mania, untuk jilid 44 nya kok belum keluar2 jadi penasaran dech…..hehehe…

    Untuk team ADBM tetap semangat….

  9. Hari ini di Singapore banyak orang berdebar2 menunggu hasil undian TOTO S$ 1,5jt, bahkan di loket penjual dkt rumah msh panjang antrian orang mau beli.
    Tapi saya jauh lebih berdebar2 dari mereka, bahkan sampai gemetar menunggu jilid 44 yg dari kemarin belum lahir. Moga2 keewuhan mas Herry lancar semuanya, dan beliau cukup istirahat, shg bisa kembali menurunkan ilmunya lewat jilid 44 dst….

  10. Jian…sabar subur…..taksih kulo tenggo kyai…

  11. Duh gusti nyuwun ngapuro..
    mohon maaf agak t’lat kirimnya, disamping rodo2 n pura2 sibuk cangkulan, juga proses scan jan2-e udah lama cuma harus di proses, diguntang-gunting pke photoshop ben-e ra pating plethot, kmd kpstasnya dikecilkan pke paint dst..dst..

  12. mungkin hari ini bisa hadir double 44 dan 45 , obat nunggu dari kemarin, nuwun

  13. tetap setia menanti…jilid demi jilid ….
    maaf kang herry … kami baru bisa bantu doa dari jauh…

  14. Nuwun sewu lho mas Herry…
    para pemuda padukuhan ini memang penginnya cepet2 terus.. he.. he…
    All the best mas Herry, whatever you do, kami sabar menunggu, mengerti dan percaya bhw panjenengan pasti do the best for us.

  15. saia juga sabar menanti kok

    FYI: Hits akan mencapai 200 ribu

    thanks

  16. ini mungkin yang disebut perang urat syaraf….he..he..
    memang sangat mendebarkan dan gregetan antara harapan untuk melihat adbm-44 dan marah yang dipendam karena ga keluar-luar….sungguh hebat ilmunya mas Herry ini …
    sangat ngegrigisi ilmu dari perguruan Mpu Windujati ini

  17. belum nongol juga jilid 44…

  18. aku yakin… hari ini mas herry jadi orang yang paling dikangenin adbm mania..hehehehe…
    Nek aku dadi tonggone mas herry…. mesti tak ewangi nyecan…. mumpung di rumah ada scan ama djvu solo 3.1 nganggur….
    Bravo mas…..

  19. Halo Mas Herry,.. sebentar lagi sudah mau sore lho,.. Kirimannya sudah ditunggu-tunggu sama orang-orang sa padukuhan adbm, hehehe…

    Salam, Aulianda.

  20. Mas Herry emang pinter bikin deg2an, bolak-balik masuk kok yang tambah banyak commentnya aja he..he…

    sabar2 kisanak semua, seperti agung sedayu, jangan grusa-grusu kayak sidanti, ato swandaru juga ya?

  21. Mas Heri Yth, yen mas heri percoyo, mbok dicoba scane nganggo full colour (biasane pake standar 200 dpi) terus
    ditransfer neng djvu solo 3.1. ngganggo 400 dpi (default 100 dpi) ditanggung hasile apik uk size 800 – 900 kb (nanging uga gumantung kualitas bukune lha jenenge wae buku lawas cetakan tahun 70 an)
    nanging sanajan kaya apa wae wus nrima lan maturnuwun banget marang “kerja keras Mas DD, Mas Heri dkk”.
    ku kan sabar menanti.

    D2: 800-900 kb per halaman? Kalau sebuku 37 halaman, jadi …..

  22. “…sore yang indah sekaliii..hemmm yaa…”

  23. kulo sekeluargo ngaturaken matur nuwun kalih sederek sedoyo.

    lho kok keluargo ?

    lha kulo uring-uringan je.. yen mboten moco adbm ben dino 😀

  24. aku coba scan pake “djvu solo 3.1”, langsung save dalam format djvu, untuk satu mukanya (2 halaman) besar file-nya hanya 30 kb. (menggunakan setting standar, tanpa merubah defaultnya). hasilnya udah sip

  25. maturnuwun semuanya

  26. he he D2 satu buku 800 – 900 Kb full colour, kulo nggih pun asring make kok, sayang aku nggak punya hard copynya, tapi tunggu beberapa hari lagi aku bakal nyumbang djvu full colour

  27. Nyoba buka file pdf pake adobe pdf reader di hp ga bs ya…Pake softw apa ya supaya mudah di baca pk hp?? Trima ksh..

  28. Mas D2, kayaknya ukuran file djvu-nya mendingan di bawah 2000kb deh, soalnya kejadian lagi kaya sebelumnya, mandek di tengah jalan downloadnya.

    thanks.

  29. Wah…wah…wah….., halaman depannya bener-bener apik tenan, cckk…ccckk….cccck…..

    wis jan salut tenan……

  30. Iya,. makin kereen abiss,.. Maju teruss Padepokan ini ,..

    Salam, Aulianda

  31. mugo-mugo sesuk wis sing jilid 44 wis terbit..
    yen ora lak malem mingguku kelabu tenan iki mengko

    D2: Sekarang bisa kok

  32. kulo milai maos adbm jilid 1 th 1968( manawi mboten klentu jilid 1 terbit oktober 1967). milai swargi sedo kulo mboten saget maos malih.
    namung matur sembah nuwun ingkang saget kulo aturaken dumateng sedoyo konco2 ingkang kerso mosting upload, sameniko kulo milai malih maos jilid 1.

  33. Om Sukra: buku 42 msh belum bisa tuh, 🙂
    Admin adbm : Respek dan hormat yg sebesar-besarnya atas kepedulian dan kerja kerasnya melestarikan budaya bangsa ini. Semoga semuanya sehat selalu, dan di lancarkan dalam setiap usahanya. Maturnuwun sanget..

  34. “Bagaimana Wangi…??” tanya Wrahasta.
    “Wah, uambune uapek….!!!” jawab Ki Menggung dengan serta merta.
    “Salah Ki, uambune ledhis..!!!” sergah Ki Bukansms.

    • pol poko’e 😀

      • poko’e 😀 pol amBUNe

        • poko’e gundul pol-pole

          • popo’e….mambu ompol 😀

            • lha trus ompole mambet nopo ki kartu ?

              • :mrgreen:

                • Pesss…………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: