Buku 43

43-cover1

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 4 November 2008 at 12:22  Comments (29)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-43/trackback/

RSS feed for comments on this post.

29 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sudah siiipp kok. dengan ukuran 1,5 MB, scan sudah memadai, enak dibacanya. Enak dibaca dan perlu, kata majalah Tempo dulu.
    Matur nuwuuuuuuuuuun banget.

  2. Terimakasih untuk tim moderator yang telah bekerja keras dan selalu menjaga cita dan citra padepokan ini,..

    Salam – Aulianda

  3. saya kerjain buku 41 halaman 7 -19 saja dulu ya

  4. Iya, jilid 43 sudah kembali enak dibacanya, ngunduhnyapun nggak lama. Matur nuwun untuk tim moderator

    Saya mau ngrusuhi sedikit boleh nggak? Itu lho, cover-cover yang belum ada(kalau nggak salah jilid 2, 4, 6 dll) bagaimana cara mendapatkannya? Sekali lagi matur nuwun untuk semua.

    Salam

  5. makasih ya mas.. hari ini indah sekali dengan 2 buah buku ditangan.

  6. Mas ini saya urun sedikit jilid 43 hal 7-12 dulu

    KI ARGAPATI yang kemudian berdiri didepan regol itu memandangi bayangan barisan lawan didalam gelap malam, Ia tidak dapat menduga, berapa besar pasukan lawan itu.
    Tetapi agaknya pasukan Ki Tambak Wedi itupun berhenti beberapa puluh langkah didepan regol. Beberapa lama mereka mengatur gelar yang akan dipergunakan dan menempatkan orang-orang terpenting pada tempat yang telah ditentukan.

    “Kita tidak akan dapat menahan mereka diluar regol” desis Ki Argapati kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Samekta, Wrahasta, Kerti, Hanggapati, Dipasanga, Pandan Wangi dan beberapa pemimpin kelompok terdekat. “Mereka akan merupakan banjir bandang yang tidak tertahankan. Karena itu jangan
    berbuat bodoh dengan usaha yang sia-sia itu. Tetapi kalian harus berusaha, mengurangi jumlah, lawan sebanyak-banyaknya dapat kalian lakukan pada saat mereka mendesak masuk. Kita akan bertempur didalam regol apabila mereka sudah memecahkan pertahanan kita. Karena itu, kita harus mempersiapkan arena itu. Sehingga kita mendapat keuntungan karenanya. Dalam perang campuh, kita harus masih mendapat kesempatan mempergunakan senjata-senjata lontar. Itulah sebabnya, maka kita harus memanfaatkan pagar-pagar batu. Mereka tidak akan memperhitungkan sampai sejauh itu.”

    Samekta dan para pemimpin yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Persiapan itu memang telah dilakukannya. Peringatan Ki Gede ini telah memantapkan cara itu untuk melawan serangan yang kurang diketahui, betapa besarnya.

    “Begitu mereka mulai bergerak” sambung Ki Argapati “berikan tanda-tanda kepada pasukan yang berada diluar regol. Mereka akan menyerang pasukan lawan dari belakang. Mudah-mudahanan pengaruhnya cukup baik bagi kita.” Ki Argapati berhenti sejenak, lalu “kalian tidak boleh salah menempatkan diri kalian teiah mcmpunyai lawan masing-masing, sehingga kalian harus menemu-
    kannya. Kalau tidak rencana kita tidak akan bcrjalan dengan baik. Orang-orang terpenting dipihak lawan akan menimbulkan terlampau banyak korban.”

    Para pemimpin pcngawal itu meng-angguk-anggukkan kepala mereka. Hanggapati dan Dipasanga sejenak saling berpandangan. Mereka belum mengenal seorang demi seorang, apalagi lawan, sedang kawan sendiripun masih belum dikenalnya dengan baik.

    “Beri kami petunjuk” berkata Hanggapati “supaya kami tidak keliru memilih lawan.”

    “Ya” jawab Ki Argapati “Wrahasta akan bersama Ki Hanggapati dan Kerti akan berada bersama Ki Dipasanga. Mereka akan membawa kalian berdua kepada lawan-lawan kalian untuk bertempur bersama-sama. Ki Hanaggapati dan Ki Dipasangan masih belum dapat menimbang betapa jauh kemampuan lawan, karena sebelumnya belum pernah mengenalnya.”

    Hanggapati dan Dipasanga mengangguk-anggukkan kepalanya. Berkata Dipasanga “Yang penting bagi kami bukanlah untuk mengenal kemampuan, Hampir setiap prajurit dipeperangan tidak mengenal kemampuan lawan-lawanya sebelumnya. Yang penting bagi kami karena lawan-lawan kami telah ditentukan sebelumnya, adalah orang-orangnya. Siapakah dan yang manakah yang bernama Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya, Peda Sura dan yang lain lagi.”

    “Ya, ya” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya “aku dapat mengerti. Mudah-mudahan dalam hiruk pikuk pertempuran rencana yang telah kita susun itu dapat kita lakukan dengan baik.”

    Hanggapati dan Dipasanga mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari, bahwa lawan-lawan mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan tidak kalah dari para perwira Pajang. Karena itu, maka Pertempuran kali ini tidak akan dapal dianggapnya sebuah perkelahian antara mereka yang sedang berebut air disawah, meskipun hakekatnya tidak jauh berbeda.

    Tetapi keduanya adalah pengawal yang telah dipercaja oleh Ki Gede Pemanahan, untuk mengawani Putera satu-satunya menyelami pedalaman Alas Mentaok. Keduanya adalah perwira-perwira yang dapat dibanggakan. Keduanya tidak jauh berbeda kemampuan dari Sutawijaya sendiri.

    Dan kini mereka berdua mendapat tugas untuk mendekatkan hubungan antara Mentaok yang masih harus membangun hari depannya dengan Menoreh yang kini sedang dibakar oleh api perpecahan.

    “Aku harus dapat menunaikan tugas ini dengan baik” berkata Hanggapati didalam hatinya “kalau aku gagal, maka pendekatan hubungan antara angger Sutawrjaja dan Ki Argapati inipun akan gagal pula. Tetapi kalau aku berhasil bersama Ki Dipasanga, maka setidak-tidaknya, Ki Argapati akan mengingat-ingatnya didalam hatinya. Apabila angger Sutawijaya kelak berhasil
    membuka Mentaok, Menoreh pasti tidak akan mengganggunya.”

    Sedang Dipasangapun berpendirian serupa itu pula, sehingga meskipun kini mereka sedang berada diantara lingkungan yang baru saja dikenalnya, namun mereka merasa, bahwa tugas mereka harus mereka lakukan sebaik-baiknya untuk kepentingan Sutawijaja.

    Demikianlah, maka para pemimpin Menoreh itupun telah siap untuk menyambut lawan mereka. Wajah-wajah mereka segera menjadi tegang ketika bayangan diatas sawah yang kering dihadapan regol itu mulai bergerak-gerak, seperti seleret pagar yang hitam yang maju perlahan-lahan diantara batang-batang ilalang yang tumbuh liar.

    “Mereka telah mulai bergerak “ desis Samekta.
    “Ya, Mereka telah mulai.”
    Setiap orang mulai menahan nafasnya, seperti Ki Tambak Wedi juga menahan nafas. Sidanti, Argajaja, Ki Peda Sura, Ki Muni, Ki Wasi dan pemimpin yang lain telah ditempatkan ditempat masing-masing. Dan pasukannya kini telah mulai merayap mendekati regol padukuhan dihadapan mereka. Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa disekitar regol itu telah siap segala macam ujung senjata yang akan menyambutnya. Namun tidak ada pilihan lain daripada bertempur. Tadak ada pilihan lain dari pada menumpas mereka yang akan dapat, menjadi benih persoalan dimasa depan. Ki Tambak Wedi sama sekali tidak menghiraukan lagi, apakah dengan demikian ia telah rmenyisihkan rasa perikemanusiaan.

    Sejenak kemudian setiap tangan telah menggenggam senjata yang telanyang. Beberapa orang disetiap kelompok diperlengkapi dengan senjata-senjata jarak jauh. Panah, bandil dan bahkan tulup-tulup berduri. Disamping mereka yang berperisai, pelontar senjata-senjata jarak jauh itu harus berusaha mengurangi tekanan senjata-senjata yang dilontarkan oleh lawan.

    Maka setelah Ki Tambak Wedi merasa, saatnya telah tiba, pasukannya itupun dibawanya maju semakin dekat. Jarak yang semakin dekat itu telah membuat kedua belah pihak menjadi semakin berdebar-debar. Setiap orang mulai menilai diri. Dan setiap orang mulai hertanya-tanya, siapakah lawan yang akan dibinasakannya?

    Jarak yang memisahkan kedua pasukan itu menjadi semakin dekat. Sebentar lagi mereka pasti akan segera berbenturan. Dalam benturan yang dahsyat itu, mereka sudah tidak akan ingat lagi, bahwa mereka pernah hidup dalam satu lingkungan keluarga brsar yang bersama-sama membina Tanah Perdikan ini. Yang pernab bersama-sama membuat sawah-sawah dan pategalan menjadi hijau. Menebas hutan untuk membuka tanah-tanah baru. Menggali parit dan membuat jalan-jalan.
    Kini mereka telah terbelah dengan senjata ditangan masing-masing. Sedang dada mereka telah terbakar oleh kebencian dan nafsu-nafsu yang lain, yang tidak terkendali lagi.

    Dan kini mereka telah siap untuk saling membunuh, ya, saling membunuh. Tanpa belas kasian, tanpa berperikemanusiaan. Apalagi perintah Ki Tambak Wedi. Semua harus dimusnahkan. Mereka akan menjadi rabuk bagi kesuburan dan kemakmuran tanah ini dihari kemudian.

    Ki Argapati menunggu pasukan lawan menjadi semakin dekat. Ia tidak akan menerima lawannya dekat didepan regol. Tetapi ia akan mundur beberapa puluh langkah, ia memerlukan suatu arena yang luas untuk melawan pasukan Ki Tambak Wedi yang tidak akan dapat tertahan dimulut regol, karena Ki Argapati
    telah dapat membayangkan, betapa dahsyatnya banjir bandang yang akan melanda padukuhan dan pertahanannya kali ini. Namun menurut perhitungannya, korban merekapun tidak akan terhitung lagi.

    Demikianlah, maka pasukan Ki Tambak Wedi itupun telah menjadi semakin dekat. Samekta yang telah berjanji untuk memberitahukan kepada gembala tua dan sebagian pasukannya yang berada dipategalan disebelah padukuhan itupun segera memerintahkan untuk melepaskan tiga buah anak panah api keudara seperti yang lelah dijanjikan. Tetapi panah api itu bukan sekedar pemberitahuan kepada pasukan Menoreh yang ada diluar padukuhan, tetapi juga merupakan perntah bagi setiap orang dari pasukan pengawal Tanah Perdikan ini untuk berada ditempatnya, dan bagi mereka yang berkuwajiban untuk menyerang
    pasukan Tambak Wedi dengan senjata-senjata pelontar, untuk segera mulai memasang anak-anak panah dan lembing-lembing yang akan segera mereka lepaskan apabila perintah berikutnya telah diberikannya.

    Sejenak kemudian, maka meluncurlah tiga buah panah api berturut-turut keudara.

    Ki Tambak Wedi dan orang-orangnya yang melihat panah api itu mengerutkan kening mereka. Mereka sadar, bahwa tanda itu pasti merupakan suaru perintah. Tetapi mereka tidak tahu, arti dari perintah itu.

    Meskipun demikian Ki Tambak Wedipun kemudian meneriakkan aba-aba yang segera disahut oleh para pemimpin kelompok untuk berwaspada.

    “Panah berapi itu pasti mengandung suatu maksud. Hati-hatilah. Kita sudah sampai kehidung lawan. Sebentar lagi senjata-senjata mereka akan menghujani kita. Berlindunglah pada perisai-perisai kalian.

    Belum lagi gema perintah itu hilang, maka teryatalah, bahwa Samekta telah memberikan perintah berikutnya atas persetujuan Ki Argapati.

    Kali ini bukan panah api yang naik keudara tetapi sebuah panah api yang langsung dilepaskan oleh Samekta sendiri kearah pasukan Ki Tambak Wedi.

    Beberapa orang pengawal yang melihat panah api itupun segera menyadari, bahwa pertempuran sudah dimulai.

    Sekejap kemudian, maka beberapa panah api telah meluncur pula dari dalam lingkungan pering ori. Beberapa obor terpaksa dinyalakan untuk membakar ujung panah berapi itu.

    Ki Tambak Wedipun kemudian menggeram. Dengan suara bergetar ia segera meneriakkan perintah “Balas setiap panah dengan panah. Setiap nyawa dengan nyawa.”

    Anak buahnyapun segera menyiapkan perisai-perisai mereka dan dibelakang orang-orang yang berperisai itu, beberapa orang telah menyiapkan busur dan anak-anak panah pula.

    Sejenak kemudian, maka udara diantara kedua pasukan itupun segera dipenuhi oleh anak-anak panah yang hilir mudik kearah yang berlawanan. Anak-anak panah para pengawal yang bersembunyi dibalik pering ori dan anak-anak panah orang-orang Ki Tambak Wedi yang mencoba melindungi diri mereka dengan perisai-perisai.

    Bukan saja anak-anak panah bedor berujung runcing yang berterbangan kian kemari, tetapi juga panah api seolah-olah menari-nari diudara.

    Pasukan Ki Tambak Wedi yang merayap maju itu sama sekali tidak menghiraukan bumbung-bumbung kecil dibawah kaki-kaki mereka. Dengan demikian maka mereka telah menggulingkan beberapa diantara bumbung-bumbung yang berisi minyak, semakin lama semakin banyak. Dan minyak itu agaknya telah menangkap api yang terlontar dari panah-panah api dari balik pering ori. Dengan demikian, maka apipun segera berkobar pada jerami yang sengaja ditebarkan oleh para pengawal Menoreh.

    “Licik” Ki Tambak Wedi menggeram. Mau tidak mau, maka api itupun telah mengganggu pasukannya. Bahkan beberapa orang yang lengah telah terjilat api jerami dibawah kaki-kaki mereka.

    Api itupun sejenak kemudian telah menjalar. Api yang terlontar pada ujung-ujung panah api telah membakar jerami itu dibeberapa tempat, sehingga jerami yang terbakar itupun kemudian seolah-olah merupakan pagar yang menjilat-njilat keudara.

    Api itu benar-benar telah berhasil menahan arus pasukan Ki Tambak Wedi. Mereka harus berhati-hati supaya kaki mereka tidak terbakar karenanya.

    Dalam kesempatan yang demikian itulah, pasukan pelontar lembing dan busur-busur didalam pagar pering ori itu melepaskan lembing dan anak-anak panah. Seperti hujan senjata-senjata itu menyambar pasukan Ki Tambak Wedi yang sedang terhambat maju.

    Sekali lagi Ki Tambak Wedi mengumpat. Sidanti yang menjadi kian marah berteriak nyaring “Jangan takut. Mereka menjadi licik karena mereka ketakutan melihat arus pasukan kita yang datang seperti banjir bandang. Pecahkan regol itu kita jadikan padukuhan itu menjadi karang abang.”

    Pasukan Ki Tambak Wedipun kemudian bersorak gemuruh. Tetapi mereka masih belum dapat maju, karena api yang membakar jerami didepan regol itu masih menyala-nyala, sementara anak-anak panah menyambar-nyambar diatas kepala mereka.

    Satu dua dari mereka ternyata menjadi lengah. Selagi mereka meloncat-loncat menghindari api dibawah kaki mereka, maka sementara itu dada mereka telah disambar oleh sebuah anak panah.
    Korban telah mulai berjatuhan.
    Justru karena itulah maka kemarahan Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaja dan para pemimpin yang lain menjadi semakin memuncak.

    Namun api jerami itupun tidak dapat bertahan terlampau lama. Sejenak kemudian api itu telah mulai surut. Meskipun demikian, api itu telah berhasil menahan mereka dalam garis lontaran anak-anak panah dan lembing, sehingga senjata-senjata itu telah berhasil merenggut beberapa nyawa dari lawan mereka.

    “Kita maju terus” teriak Ki Tambak Wedi.

    Orang yang telah berada didepan api jerami itu tidak segera maju. Mereka masih menunggu pasukan yang lain, yang terpisah oleh api yang sudah hampir padam.

    “Cepat, maju terus” teriak Ki Tambak Wedi pula.

  7. jilid 43 hal 13-17

    Namun mereka masih belum dapat maju. Sisa-sisa api dan abu jerami itu masih terlampau panas, sementara anak-anak panah dan lembing masih terus menghujani mereka, sehingga satu demi satu korbanpun kian bertambah-tambah.
    Baru sejenak kemudian, pasukan itu dapat melampaui bekas api jerami yang disana-sini masih menjimpan bara.

    Dan ternyata kemudian, untuk melampaui garis yang dibuat oleh para pengawal Menoreh dengan jerami dan minyak itu, pasukan Ki Tambak Wedi sudah harus menjerahkan beberapa orang korban. Namun korban-korban itu seperti api yang menyentuh minyak didalam dada para pemimpinnya. Dengan kemarahan yang menyala-nyala mereka merayap semakin dekat.

    Panah dan lembing berloncatan diudara. Semakin lama semakin banyak. Bahkan ada diantara senjata-senjata itu yang berbenturan diudara dan jatuh ditanah tanpa menyentuh korbannya sama sekali.

    Ki Gede melihat pasukan lawan yang semakin maju itu dengan dada yang ber-debar-debar. Ternyata pasukan itu cukup kuat. Dan Ki Gede Menoreh itu tahu benar, bahwa sebagian dari mereka, bukanlah orang-orang Menoreh. Orang yang datang untuk pamrih-pamrih pribadi itulah yang membuat Ki Gede terlampau prihatin. Orang-orang itu sama sekali tidak memikirkan kepentingan apapun selain kepentingan diri mereka sendiri. Sehingga dengan demikian,
    Menoreh sama sekali tidak akan berarti lagi bagi mereka, apabila maksud mereka telah dapat tercapai. Namun ada juga diantara mereka, diantaranya Ki Peda Sura, yang menginginkan Menoreh yang lain dari Menoreh yang sekarang. Selain dapat memberikan keuntungan pribadi secara langsung, juga diwaktu-waktu mendatang Menoreh akan tetap merupakan sumber yang tidak akan kering-keringnya bagi dirinya dan orang-orangnya.

    Tetapi Ki Gede juga berbangga melihat kebulatan tekad para pengawal Tanah Perdikannya. Wajah-wajah mereka yang mantap dan sorot mata mereka yang membara, telah menyatakan, bahwa mereka bersedia melakukan apa saja untuk kepentingan Tanah ini. Apalagi setelah mereka mendengar ceritera tentang pa-
    sukan berkuda Menoreh yang telah berhasil menerobos masuk kepadukuhan induk. Ternyata bahwa Ki Tambak Wedi bukan iblis yang melihat segala keadaan dan segala peristiwa dialas Tanah ini. Suatu ketika orang yang mengerikan itu dapat juga lengah.

    Semakin dekat pasukan Ki Tambak Wedi, maka hujan senjata dari balik pering ori itupun menjadi semakin lebat. Meskipun orang-orang Ki Tambak Wedi membalas juga, namun kedudukan orang-orang dibalik pering ori itu ternyata jauh lebih baik dari mereka yang berlindung diballk perisai, karena arah lontaran anak panah lawan tidak dapat diperhitungkan.

    Namun betapapun lambatnya, pasukan lawan itu maju terus. Bahkan ketika regol padukuhan itu sudah menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengar Ki Tambak Wedi yang memimpin langsung serangan itu berteriak nyaring. Dan sejenak kemudian, seperti banjir bandang, pasukan itu mengalir melanda regol.

    Sesaat Samekta tertegun melihat arus manusia yang hampir-hampir seperti kehilangan perasaannya. Namun sejenak kemudian ia menyadari keadaannya, sehingga segera turun pula perintahnya, agar pasukan pelontar yang menyebar dibelakang pering ori, segera menarik diri menghadap regol padukuhan. Menempatkan dirinya dibalik pagar-pagar batu disepanjang jalan. Mereka, harus menyongsong pasukan Ki Tambak Wedi yang pasti akan memecahkan
    regol.

    Hanya beberapa orang sajalah yang tertinggal dibelakang pering ori untuk mengawasi apabila ada usaha lain yang dilakukan oleh pasukan lawan.

    Demikianlah maka sebagian besar dari alat-alat pelontar yang dapat dipindah dari tempatnya segera dibawa kebalik pagar-pagar batu menghadap keregol yang sebentar lagi akan dipecahkan oleh pasukan Ki Tambak Wedi.

    “Kurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya dapat kalian lakukan” perintah Samekta “sebagian langsung menyerang pasukan yang baru masuk itu dari depan, sedang yang lain harus memukulnya dari samping apabila sebagian dari mereka justru telah masuk.”

    Setiap pemimpin kelompok pasukan pelontar senjata jarak jauh itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka tahu benar apa yang harus mereka lakukan.

    “Dalam keadaan yang tidak teratasi, kalian harus mundur dan bergabung dengan pasukan yang lain.”

    Sekali lagi mereka mengangguk. Tanpa sadar, mereka telah meraba hulu pedang dilambung mereka.

    “Nah, lakukanlah.”

    Orang-orang itupun kemudian berlari-lari kembali kekelompok masing-masing. Dengan dada berdebar-debar mereka menunggu orang-orang Ki Tambak Wedi yang sedang berusaha untuk membuka pintu regol didalam hujan anak-anak panah yang dilontarkan oleh para pengawal disebelah menjebelah regol.

    “Pecahkan regol itu” teriak Ki Tambak Wedi.

    Beberapa orang yang dipimpin langsung oleh Sidanti, berusaha memecah regol itu dengan kekerasan. Karena regol itu terlampau kuat dengan selarak kayu sebesar paha, maka Sidianti berusaha mencari cara lain. Bukan pintunyalah yang akan dipecahkannya. Tetapi dinding sebelah menjebelah pintu darurat itu.

    Beberapa orang berusaha memecah dinding itu dengan kapak dan berbagai macam senjata yang mereka bawa, Agaknya usaha itu berhasil. Sedikit demi sedikit papan-papan kayu itu pecah dan memberi kesempatan ujung senjata mengungkit sisa-sisanya.

    Sejenak kemudian Sidanti telah berhasil memecahkan dinding itu. Dengan lantang ia berteriak “Masuk, buka selarak pintu.

    Seseorang dengan tergesa-gesa menjusup masuk lubang yang telah berhasil mereka buat. Tetapi begitu ia masuk, jatuhlah ia tertelungkup. Sebuah anak panah telah terhujam didadanya.

    Sidanti menggeram. Ia sadar, meskipun didepan regol itu tidak ada pasukan yang menghadang mereka, tetapi begitu pintu itu pecah. maka ujung-ujung anak panah akan berterbangan menyongsong mereka.

    Dalam keragu-raguaan itu terdengar Ki Tambak Wedi berteriak “Pecahkan dinding itu lebih lebar lagi.” Dan Sidantipun melakukannya. Dinding itu menjadi semakin menganga. Dan Sidantipun semakin keras berteriak “Masuk
    dengan perlindungan perisai.”

    Seseorang segera menjusup masuk dengan sebuah perisai yang menutup dada dan kepalanya. Tetapi ketika tangannya baru menyentuh selarak iapun jatuh terguling. Mati oleh anak panah dari lambung.

    Kini Sidanti menjadi semakin marah. Tetapi iapun menjadi semakin banyak mengetahui, tentang kesiagaan lawannya.
    Karena itu ia harus mengambili cara yang lain. Dan sekali lagi ia berteriak kepada orang-orangnya “Jangan hanya satu orang. Masuklah beberapa orang bersama-sama.”
    Dinding yang pecah disisi pintu itupun menjadi semakin lebar. Kini beberapa orang menjusup bersama-sama. Tidak hanya dari satu sisi, tetapi dari kedua belah pihak.
    Beberapa orang yang telah berada didalam pintu gerbang itupun segera membuat lingkaran untuk melindungi diri mereka dengan perisai yang satu dengan yang lain saling bersentuhan rapat, seolah-olah mereka telah berada didalam suatu lingkaran baja yang rapat, dan tidak tembus oleh panah.

    Tetapi orang-orang Menoreh tidak kehabisan akal. Mereka tidak lagi memakai panah-panah berujung runcing. Tetapi mereka kemudian melemparkan panah-panah api lewat diatas perisai-perisai itu.

    Orang-orang yang melidungi dirinya dengan perisai itu mengumpat-umpat sambil meloncat-loncat karena api yang menyentuh kaki-kaki mereka, meskipun mereka telah menutup diri dengan perisai-perisai ganda. Seorang berjongkok yang lain berdiri, dalam satu lingkaran didepan pintu regol itu.

    Tetapi api yang dilontarkan begitu saja telah jatuh bertaburan disekitar mereka, bahkan ada yang jatuh tepat diatas kepala.

    Sesaat kemudian lingkaran perisai itupun segera terurai. Tetapi pada saat yang bersamaan seseorang telah berhasil mengangkat selarak pintu regol yang besar itu pada satu sisinya.

    “Setan” geram Samekta yang berdiri diatas dinding batu. Tangannya segera terentang. Dan sejenak kemudian sebuah anak panah meluncur menjusup pagar perisai yang telah pecah, langsung menghujam kepunggung orang yang sedang berusaha mengangkat selarak pintu itu.

    Terdengar ia terpekik. Kemudian terhuyung-huyung jatuh terlentang. Sekali lagi ia mengeluh tertahan ketika palang pintu yang besar itu jatuh menimpa kepalanya. Kemudian untuk seterusnya ia terdiam. Mati.

    Namun dengan demikian pintu regol itu sudah menganga. Seperti prahara yang tidak tertahankan lagi, dan pintu itu bagaikan bendungan yang akan pecah. Perlahan-lahan kekuatan yang tidak terkira diluar pintu itu mendesak terus, sehingga akhirnya pintu itupun terbuka.

    Seperti banjir bandang, orang-orang Ki Tambak Wedi kemudian berjejalan memasuki regol itu.

    Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Sekejap kemudian, maka muntahlah dari setiap busur, anak-anak panah menghujani regol. Sejenak kemudian segera terdengar teriakan dan pekik tertahan. Beberapa orang segera jatuh terbanting ditanah karena dada mereka ditembus oleh panah dan lembing.

    “Pergunakan perisai kalian” teriak Sidanti.

    Barulah orang-orang itu sadar. Tetapi korban telah berjatuhan. Kini mereka dengan hati-hati maju sambil melindungi diri masing-masing dengan perisai.

  8. ADBM jilid 039 telah selasai proofing dan telah aku kirim ke email mbak.

    D2: kiriman sudah diterima. Sedang diproses

  9. ADBM 042: 7-40 sudah kukirim via imel. Halaman selanjutnya menyusul, ya.
    salam, wukir

  10. ADBM 43 18 – 27

    Tetapi demikian mereka berada didalam regol, maka merekapun segera berlari berpencaran disepanjang jalan. Bahkan merekapun segera berusaha meloncat masuk kedalam halaman sebelah menyebelah jalan.

    Namun ternyata para pengawal Tanah Perdikan telah siap menyambut mereka. Sebelum mereka berhadapan dalam arena perang, maka para pengawal Tanah Perdikan masih sempat menyerang mereka dengan anak-anak panah dan lembing. Namun kesempatan untuk itu menjadi semakin sempit, karena jumlah lawan yang menjadi semakin banyak dan dekat.

    Ki Argapati melihat semuanya itu dengan dada yang berdebaran. Kemudian iapun memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk menemukan lawan yang telah ditentukan. Ia sendiri masih berdiri tegak ditempatnya, diantara pengawal-pengawalnya yang paling terpercaya. Disampingnya berdiri puteri satu-satunya, Pandan Wangi yang telah menggenggam sepasang pedangnya.

    “Mereka akan segera datang Wangi.” desis ayahnya.

    Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling, dilihatnya tombak pendek ayahnya telah merunduk.

    Pasukan lawan itupun semakin lama semakin maju perlahan-lahan. Mereka kini lelah menebar, memencar kesegala arah. Namun untuk sampai digaris itu, mereka sudah harus menyerahkan terlampau banyak korban seperti yang telah diduga oleh Ki Argapati.

    Ternyata dalam keadaan yang demikian, Ki Tambak Wedi masih tetap berhasil menguasai pasukannya. Masih tampak jelas, bahkan pasukannya itu maju dalam gelar. Gelar Gayah Meta, meskipun harus disesuaikan dengan keadaan. Arena agaknya terlampau sempit untuk merubah gelar itu kedalam bentuk yang lain.

    Ki Argapati memang sudah menduga. Satu-satunya gelar yang paling menguntungkan bagi Ki Tambak Wedi. Mereka masih berada didalam lingkungan yang sempit, karena mereka belum berhasil menebarkan pasukan mereka Apalagi karena mereka berhadapan dengan gelar yang ternyata telah dipasang oleh Samekta, Sapit Orang.

    Sementara itu Wrahasta telah berdiri disamping Hanggapati. Mereka berdua harus menemukan Sidanti didalam hiruk pikuknya peperangan itu, sedang Kerti harus mengantar Dipasanga mencari Argajaya, atau apabila keadaan memaksa, dapat terjadi sebaliknya. Yang penting, bahwa Sidanti dan Argajaya dapat terikat dalam suatu perkelahian yang seimbang, sehingga mereka tidak terlampau banyak menghisap korban.

    Samekta yang mendapat kepercayaan memimpin, perlawanan itu kini telah mendekatkan dirinya kepada Ki Argapati. Keadaan menjadi terlampau sulit baginya. Karena itu maka ia harus selalu berada disamping Ki Gede, agar segala perintahnya tidak menyesatkan.

    Ki Gede Menoreh tidak beranjak dari tempatnya. Ia yakin, bahwa Ki Tambak Wedi akan berada diujung pasukannya, sehingga apabila ia tetap berada ditempai itu, maka mereka akan dapat segera bertemu.

    Demikianlah, maka pertempuran itupun segera menjalar semakin merata. Orang-orang Ki Tambak Wedi yang mengembang semakin luas, segera harus berhadapan dengan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang semakin menyempit

    Sidanti dan Argajaya telah menempatkan diri mereka masing2 disebelah menjebelah ujung belalai gelar Gayah Meta, seakan-akan menjadi ujung taring yang maha runcing. Sedang seperti telah diperhitungkan, Ki Tambak Wedi sendiri berada ditengah-tengah ujung pasukannya.

    Ki Argapati melihat gelar dikedua belah pihak dengan dada yang berdentangan. Kedua pasukan itu lelah benar-benar bertempur, dan darah pun telah membasahi Tanah Perdikan Menoreh. Darah putera-puteranya sendiri.

    Namun dalam pada itu, selagi pasukan Ki Tambak Wedi bergerak maju untuk mencapai seluruh arena pertempuran, terdengarlah hiruk-pikuk diekor pasukan itu. Sejenak Ki Tambak Wedi tertegun, namun kemudian dibiarkannya orang-orang yang memang sudah ditempatkan diekor barisan untuk mengatasi persoalannya, Ki Tambak Wedi memang sudah menduga bahwa apabila pertempuran terjadi didalam regol, maka kemungkinan yang terberat, orang-orang Argapati akan menyerang dari segala arah. Karena Itu, maka Ki Peda Sura, Ki Muni dan Ki Wasi ditempatkannya diekor barisannya.

    Ternyata yang datang menyerang ekor pasukan Ki Tambak Wedi itu adalah para pengawal yang berada diluar padukuhan.
    Dengan tangkasnya mereka menyerang sisa-sisa pasukan lawan yang masih belum sempat masuk kedalam regol. Dengan demikian, maka pasukan itupun segera tertahan.

    Namun Ki Peda Sura yang telah sembuh dari lukanya segera menempatkan diri didalam pasukannya. Sejenak kemudian ia berhasil membawa seluruh pasukannya masuk kedalam regol sambil bertempur menghadap keluar. Ki Peda Sura, Ki Muni dan Ki Wasi berusaha menyumbat pintu regol dengan ujung senjata bersama pasukannya, untuk mencegah para pengawal itu masuk.

    Tetapi ternyata usaha Ki Peda Sura itu tidak berhasil. Pasukan yang berada diluar padukuhan itupun mendesak terus, sehingga akhirnya, Ki Peda Sura harus menghadapinya didalam padukuhan, dijalan-jalan sempit dan dihalaman. Sementara ujung pasukannya telah maju lebih jauh lagi.

    Ki Argapatipun kemudian melihat pula, bahwa pasukannya yang berada diluar lingkungan pering ori ini telah ikut serta pula bertempur. Ternyata cara yang dipergunakannya itu telah berhasil menahan arus maju pasukan Ki Tambak Wedi, karena sebagian dari mereka harus melawan serangan yang datang dengan tiba-tiba dari urah belakang. Meskipun hal serupa itu telah diperhitungkan oleh Ki Tambak Wedi, namun ia tidak menyangka, bahwa ke-
    kuatan yang menyerang dari ekor gelar Gayah Metanya itu adalah pasukan yang cukup kuat.

    Tetapi Ki Tambak Wedi percaya sepenuhnya kepada kemampuan Ki Peda Sura. Tidak ada orang Menoreh yang dapat mengalahkannya. selain Ki Argapati sendiri. Kemampuan Ki Peda Sura tidak terpaut terlampau banyak daripadanya sendiri dan Ki Argapati Karena itu, ia bersama-sama Ki Muni dan Ki Wasi. Orang-orang terkuat diatas Tanah Perdikan ini, akan segera dapat menyapu
    !awan-lawannya, betapapun kuatnya.

    Dalam hiruk pikirk pertempuran itu sekali-kali terdengar teriakan-tiriakan nyaring, disela-sela keluhan kesakitan. Dentang senjata dan perisai kadang-kadang melontarkan bunga-bunga api diudara. Namun dalam pada itu, orang-orang yang sedang bertempur itupun telah dikejutkan oleh ledakan cambuk yang memekakkan telinga.

    “Setan” geram Sidanti “apakah mereka berada ditempat ini juga?”

    Namun sejenak kemudian anak muda yang perkasa itu mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Akhirnya ia melihat seseorang yang bersenjatakan cambuk. Tetapi orang itu sama sekali belum dikenalnya. Seorang dalam pakaian yang serupa dengan pakaian para pengawal dan orang-orang Menoreh yang lain. Disampingnya, seorang anak muda yang bertubuh raksasa bertempur bagaikan gayah yang sedang mengamuk.

    “Wrahasta” desis Sidanti “anak itu terlampau sombong. Tubuhnya yang besar itu disangkanya mampu membuatnya seorang yang tidak terkalahkan.”

    Karena itu, maka Sidantipun segera meloncat, menjusup diantara peperangan itu, menyongsong Wrahasta yang sedang mengayun-ayunkan pedangnya..

    Sidanti sama sekali tidak menghiraukan orang bercambuk itu ia tidak melihat Wrahasta berbisik kepada orang yang memegang cambuk itu. Dan ia tidak melihat bahwa orang yang memegang cambuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis “Jadi anak muda itulah yang bernama Sidanti. Pantas, ia tangkas seperti sikatan.”

    “Akulah yang akan menjelesaikannya” desis Wrahasta.

    “Aku mendapat tugas untuk itu.”

    “Aku adalah anak Menoreh. Aku ingin mencobanya.” Hanggapati sama sekali belum dapat memperbandingkan kekuatan Wrahasta dengan kekuatan Sidanti, bahkan dengan kcmampuannya sendiri. Tetapi agaknya Wrahasta sudah tidak dapat dicegah lagi. Ketika Sidanti datang semakin dekat, langsung ia
    menyongsongnya dengan sambaran pedang. Dengan penuh kebanggaan Wrahasta terlampau percaya kepada tenaga raksasanya. Sidanti yang lebih kecil dan lebih pendek daripadanya, pasti tidak akan memiliki kekuatan seperti kekuatannya.

    Namun betapa terkejut Wrahasta pada saat senjatanya membentur pedang Sidanti. Terasa seolah-olah tangannya menjadi retak. Perasaan sakit yang amat sangat telah menyengat telapak tangannya, kemudian menjelar sampai keseruruh tubuhnya. Wrahasta sama sekali tidak berdaya untuk mempertahankan genggamannya, sehingga pedangnya itupun bergetar dan jatuh ditanah.

    “Kau terlampau sombong” geram Sidanti “ternyata kau telah mengantarkan nyawamu he raksasa yang bodoh.”

    Sejenak Wrahasta seakan-akan terpaku ditempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Sidanti mempunyai kekuatan yang tidak terkirakan. Tangannya yang jauh lebih besar dari tangan Sidanti itu seolah-olah sama sekali tidak berdaya, dan pedangnya yang besar itu scakan-akan telah membentur batu karang.

    Tanpa dapat berbuat sesuatu ia melihat Sidanti justru melangkah surut. Kemudian menggeram “Ternyata kaulah pemimpin pengawal Menoreh yang pertama-tama mati oleh ujung pedangku.”

    Namun sebelum Sidanti meloncat maju sambil menghunjamkan ujung pedangnya, maka Hanggapati telah mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Dengan sepenuh tenaganya ia meledakkan cambuknya mengarah kepergelangan tangan Sidanti.
    Sidanti terkejut bukan buatan. Disangkanya orang yang memegang cambuk itu adalah orang-orang Menoreh yang mencoba-coba jenis senjata itu, atau salah seorang dari orang-orang berkuda yang berusaha mengelabui orang-orangnya. Namun ternyata orang itu mampu bergerak begitu tangkas dan kuat. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Sidanti sekali lagi meloncat surut. Namun orang itu
    ternyata tidak melepaskannya. Sekali lagi cambuk itu menggeletar diudara dan menyambar lehernya.

    “Setan” Sidanti mengumpat sambil merunduk rendah-rendah. la tidak mau menjadi sasaran tanpa berbuat sesuatu. Karena itu, maka tiba-tiba pedangnya terjulur lurus2 mengarah kelambung lawannya.

    Hanggapati terpaksa bergeser surut. Namun ia tidak lengah, dan cambuknya masih tetap berputar.

    “He, menjenangkan juga jenis senjata ini” katanya didalam hati. “ternyata jenis senjata lentur dapat juga digerakkan dengan cepat dan lincah seperti sulur pepohonan.”

    Dada Sidanti serasa terbakar menghadapi kenyataan itu. Karena itu maka darahnya serasa mendidih sampai keubun-ubunnya.
    Apalagi ketika ia melihat raksasa yang kehilangan pedang itu telah berhasil memungut pedangnya kembali.

    “Siapakah orang ini?” pertanyaan itu selalu mengganggu jantung Sidanti “apakah di Menoreh ada orang baru yang demikian tangkasnya bermain dengan cambuk, ataukah orang-orang ini termasuk seperguruan atau termasuk dalam salah satu cabang perguruan Kiai Gringsing ?”

    Namun justru karena itu, maka Sidamtipun kemudian mendesak maju. Ia harus segera menjelesaikan lawannya, dan kemudian membinasakan orang-orang Menoreh seperti menebas batang ilalang.

    Tetapi ternyata orang ini memang mempunyai kelebihan dari orang lain. Bahkan kemudian ternyata, bahwa orang itu mampu melawannya dengan senjata cambuknya itu.

    “He” tiba-tiba Sidanti menggeram “siapa kau? Apakah kau orang baru disini?”

    Hanggapati tidak menyawab. Tetapi cambuknya sajalah yang bergeletar menyambar-naymbar sehingga setiap kali Sidanti harus menghindarinya dan bahkan melangkah surut.

    “Aku yakin kau bukan orang Menoreh” geram Sidanti kemudian “Sikapmu terlampau tenang dan pandangan matamu lurus-lurus kepusat mata lawanmu. Kau pasti bukan orang Menoreh atau pengawal Tanah Perdikan ini. Coba katakan, siapakah kau?”

    Hanggapati masih tetap berdiam diri. Tetapi serangannya menjadi semakin deras melanda lawannya. Ujung cambuknya berdesing-desing seperti lebah yang mengitari tubuh Sidanti. Bahkan sentuhan yang sekali-sekali menyengat tubuhnya, serasa seperti tusukan duri-duri yang paling tajam.

    Sekali lagi Sidanti menggeram. Tetapi iapun terkejut ketika dibagian lain dari pertempuran itu terdengar sekali lagi ledakan cambuk. Bahkan kemudian berturut-turut.

    “Siapakah yang telah siap melawan paman Argajaya itu?” Sidanti bertanya kepada diri sendiri. Dengan demikian maka kemarahannyapun menjadi semakin meluap-luap.

    Sementara itu Dipasangapun telah melecutkan cambuknya berulang kali. Meskipun belum terlampau biasa, tetapi sebagai seorang prajurit ia segera dapat menyesuaikan diri dengan senjata yang ada ditangannya. Dan kali ini senjata itu adalah sebuah cambuk.

    Argajayapun mengumat tidak habis-habisnya. Ia tidak menyangka bahwa pada suatu ketika ia akan bertemu dengan lawan yang demikan tangguhnya. Apalagi lawannya itu ternyata bersenjata cambuk.

    “Pantaslah bahwa orang-orang berkuda itu berani memasuki padukuhan induk. Diantaranya terdapat orang-orang bercambuk seperti ini.”

    Namun seperti Sidanti, kemarahan Argajayapun segera memuncak. Seperti Sidanti iapun bertanya dalam nada yang datar “Siapa kau he ?”
    Namun berbeda dengan Hanggapati, ternyata Dipasanga menjawab “Namaku Dipa.”

    “Darimana kau ?”

    “Aku orang Menoreh.”

    “Bohong” teriak Argajaya “aku belum pernah melihat kau.”

    “Apakah kau pernah datang ke Menoreh sebelum ini.” Betapa hiruk pikuknya peperangan, Kerti yang mendengar pertanyaan itu terpaksa tersenyum. Argajaya adalah adik Kepala Tanah Perdikan ini.

    Dengan demikian maka pertanyaan Dipasanga itu telah membuktikan bahwa justru Dipasangalah yang behim mengenal Menoreh. Karena itu terdengar Argajaya menggeram “Kau terlampau bodoh untuk berpura-pura. Kenapa kau bertanya begitu kepadaku ?”

    Dipasanga surut selangkah. Namun kemudian serangannya melibat lawannya seperti angin pusaran. “Siapa kau ?” ia ganti bertanya.

    “Aku adalah Argajaya. Adik kepala Tanah Perdikan ini.” Dipasanga mengerutkan keningnya. Ia mendapat tugas untuk menghadapi salah satu diantara dua, Sidanti atau Argajaya. Kini ia telah bertemu dengan Argajaya. Tetapi ia masih belum yakin karena tidak seorangpun yang memberitahukannya dengan pasti, bahwa Argajaya adalah adik Ki Argapati.

    Meskipun demikian seakan-akan diluar sadarnya ia bertanya “Kenapa kau melawan kakakmu sendiri ?”

    Pertanyaan itu telah menusuk jantung Argajaya seperti tajamnya ujung pedang. Sejenak ia terbungkam, meskipun senjatanya tidak berhenti terayun-ayun.

    “Kenapa?” desak Dipasanga.

    “Persetan” jawab Argajaya “apakah artinya seorang kakak yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa mengerti persoalan orang lain, meskipun orang lain itu adalah anak dan adiknya sendiri ?”

    Dipasanga tersenjum. Katanya “Itulah yang tidak dapat diukur dengan ukuran-ukuran yang umum. Kepentingan seseorang tergantung sekali dari sudut memandangnya. Karena itulah maka kau dapat mengatakan bahwa Ki Argapati hanya sekedar mementingkan diri sendiri tanpa mengingat kepentinganmu dan anak laki-lakinya. Tetapi apakah kau yakin setiap orang akan mengakui bahwa kepentinganmu itu lebih bermanfaat bagi Tanah ini dari sikap yang kau anggap kepentingan pribadi pada Ki Argapati itu? Apakah bukan karena kepentingan pribadimu yang tidak dipikirkannya justru untuk kepentingan yang lebih besar, kau merasa bahwa Ki Argapati telah mementingkan dirinya sendiri.”

    “Persetan, kau tahu apa? He, siapakah kau sebenarnya? Berapa kau diupah oleh kakang Argapati untuk ikut didalam pertempuran ini?”

    “O” jawab Dipasanga “ada beberapa perbedaan antara aku dan orang-orangmu termasuk orang yang disebut-sebut bernama Peda Sura. Aku mempunyai kepentingan yang khusus kenapa aku bersedia bertempur dipihak Ki Argapati. Mungkin dapat juga disebut pamrih-pamrih pribadi meskipun tidak sejelas Ki Peda Sura. Tetapi aku ternyata telah melibatkan diri dalam pertempuran ini.”

    Argajaya menggeram. Senjatanya berputar semakin cepat. Dan dengan demikian maka cambuk Dipasangapun menjadi semakin sering meledak-ledak.

    Meskipun Dipasanga tidak biasa bertempur dengan senjata semacam itu, namun ia mampu mempergunakannya dengan baik. Sekali-sekali ujung cambuknya berhasil melontarkan beberapa orang yang lengah disekitar tempat perkelahiannya melawan Argajaya. Bahkan sekali-sekali ujung cambuk itu dapat membuat Argajaya menjadi agak bingung.

    Tetapi Argajayapun bukan orang Menoreh kebanyakan. Ia adalah adik Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Dengan demikian maka iapun segera berhasil menempatkan dirinya menghadapi orang bercambuk itu.

    Dengan demikian maka perkelahian diantara mereka menjadi semakin seru. Masing-masing memiliki kelebihannya, dan masing-masing adalah orang-orang yang sudah cukup banyak menyimpan pengalaman didalam dirinya.

    Dalam pada itu, pasukan Ki Tambak Wedi itupun semakin lama menjadi semakin meluas, sedang pasukan Ki Argapati menjadi semakin menyempit. Kini disemua pihak, kedua pasukan itu telah bertemu dan bertempur mati-matian. Dijalan-jalan sempit, dihalaman dan dikebun-kebun. Mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi dimana mereka sedang berada, yang mereka perhatikan adalah garis lingkaran dari gelar mereka masing-masing.

    Dalam keadaan yang demikian itulah, maka ujung gelar Gayah Meta itupun kini telah sampai dimuku puncak pimpinan gelar lawan. Sehingga dengan demikian, maka kedua pimpinan tertinggi itupun akan segera saling berhadapan.

    Mereka masing-masing sudah menyangka, bahwa mereka akan bertemu lagi didalam perang ini. Ki Airgapati dan Ki Tambak Wedi.

    “He” geram Ki Tambak Wedi “apakah kau sudah sembuh benar?”

    Ki Argapati mengerutkan keningnya. Tombaknya telah merunduk semakin rendah. Beberapa langkah ia menyongsong maju dibarengi oleh Pandan Wangi dan Samekta. Sebelah menyebelahnya adalah para pengawal yang paling terpercaya untuk melindunginya dari pasukan Ki Tambak Wedi yang lain.

    “Aku sudah lama menunggumu Ki Tambak Wedi.” Sahut Argapati.

    Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Dilihatnya seorang gadis yang membawa sepasang pedang yang sudah bersilang dimuka dadanya.

    “Kau bawa gadismu bertempur?” bertanya Ki Tambak Wedi.

    “Apa bedanya seorang gadis dan seorang anak lelaki?”
    “Kau memang luar biasa. Kau dapat membuat gadismu melebihi setiap lelaki diatas Bukit Menoreh ini.”

    Ki Argapati tidak menyawab. Tetapi matanya tidak berkisar dari senjata Ki Tambak Wedi yang mengerikan. Sebuah nenggala bermata rangkap.

    “Tetapi, sayang Ki Argapati” berkata Ki Tambak Wedi selanjutnya “usahamu selama ini akan sia-sia. Karena aku sudah memutuskan, bahwa setiap orang didalam padukuhan ini harus dimusnahkan. Semua harus dibunuh. Meskipun ia seorang gadis.”

    “Keputusanmu lain dengan keputusanku Ki Tambak Wedi. Dan aku mengharap bahwa keputusankulah yang akan berlaku di sini.”

    Ki Tambak Wedi menggeretakkan giginya. Segera ia meloncat menyerang sambil berteriak nyaring “Mampuslah kau ayah beranak.”

    Tetapi Ki Argapati telah siap menerima serangan itu. Karena itu maka iapun segera meloncat kesamping untuk mengelakkan serangan itu. Berbareng dengan itu, tombaknyapun segera terjulur lurus mematuk dada lawannya.

    Ki Tambak Wedi berdesis. Ia terpaksa mengeliat dan memutar tubuhnya. Dengan cepatnya ia merendah dan menyusup dibawah senjata lawannya sambil menyerang lambung.

    Ki Argapati tidak menjadi bingung. Iapun bergeser surut. Dengan cepatnya pula ia memutar tombaknya, dan berusaha untuk mengetok pundak lawannya dengan pangkal landean tombak itu.

    “Kau gila” geram Ki Tambak Wedi sambil meloncat surut. Namun sejenak kemudian serangannya telah membadai pula.

    Pada gerak yang pertama-tama telah terasa pada Ki Argapati, bahwa keleluasaan geraknya memang agak terganggu oleh luka dan pembalut didadanya. Namun meskipun demikian, ia masih merasa cukup mampu untuk menghadapi Ki Tambak Wedi dalam keadaan itu. Apalagi ia mengharap Pandan Wangi dapat mengganggu keseimbangan pertempuran itu.

    “Suruh anakmu ikut serta” tiba-tiba Ki Tambak Wedi berteriak “jangan hiraukan lagi sikap jantan dipeperangan.”

    Seleret warna merah membayang diwajah Ki Argapati yang tegang. Betapa tajamnya sindiran Ki Tambak Wedi itu bagi scorang laki-laki seperti Ki Argapati. Namun sejenak kemudian ia telah berhasil menguasai perasaannya. Bahkan kemudian ia menjawab “Kita tidak sedang berada dalam arena perang tanding, Ki Tambak Wedi. Didalam peperangan, yang bertempur adalah
    pihak yang satu melawan pihak yang lain. Bukan Ki Tambak Wedi melawan Ki Argapati.”

    “Persetan” Ki Tambak Wedi menggeram, dan serangannyapun menjadi semakin cepat.

    Dalam perkelahian yang semakin seru, maka semakin terasa, dada Ki Argapati terganggu sekali oleh pembalut dan bahkan lukanya yang masih belum sembuh benar. Karena itu, maka perlawanan Ki Argapatipun tidak pada puncak kemampuannya.

    Untunglah, bahwa Pandan Wangi yang memiliki ilmu dari ayahnya itu mampu mengisi kekurangan Ki Argapati. Setiap kali Pandan Wangi dengan sepasang pedangnya dapat mengganggu perhatian Ki Tambak Wedi, sehingga setiap kali usaha Ki Tambak Wedi untuk mendesak Ki Argapati terpaksa diurungkannya,
    karena sambaran-sambaran pedang Pandan Wangi.

    “Setan betina” ia menggeram “apakah kau dahulu yang harus mati he?”

    Pandan Wangi sama sekali tidak menyahut. Tetapi pedangnya menjadi semakin lincah berputaran.

    Ki Tambak Wedi semakin lama menjadi semakin marah mengalami perlawanan kedua ayah beranak itu. Karena itu, maka dikerahkannya segenap kemampuannya untuk segera mendesak lawannya. Supaya Pandan Wangi tidak selalu mengganggunya, maka akhirnya ia memutuskan untuk membunuh saja anak itu lebih dahulu.

    “Semua harus dibinasakan. Semua. Juga Pandan Wangi” ia menggeram didalam hatinya untuk memantapkan rencananya.

    Maka sejenak kemudian Ki Tambak Wedi mencoba memusatkan perhatiannya kepada Pandan Wangi. Ia ingin mengurangi gangguan-gangguan kecil pada saat ia akan memusnahkan Ki Argapati kelak.

    Tetapi kesempatannyapun terlampau terbatas. Kalau ia berkelahi melawan lima Pandan Wangi, maka ia pasti akan dapat mcnyelesaikan pekerjaannya satu demi satu. Tetapi kini ia berhadapan pula dengan Argapati, sehingga setiap saat ia harus berwaspada. Ujung tombak pendek itu setiap kali dengan tiba-tiba saja telah mengarah kedadanya.

    Namun Ki Tambak Wedi adalah iblis yang paling mengerikan. Sehingga dengan segala macam cara ia telah berhasil melihat Pandan Wangi yang agak terpisah dari ajuhnya.

    Namun ketika ia siap melontarkan gelang-gelang besinya untuk segera menyelesaikan Pandan Wangi yang berdiri beberapa langkah daripadanya, tiba-tiba ia disambar oleh sebuah kenangan tentang seorang perempuan yang pernah hinggap didalam hatinya. Ternyata wajah gadis yang bernama Pandan Wangi Itu mirip benar dengan ibunya, Rara Wulan. Wajah yang pernah membuatnya
    kehilangan keseimbangan, sehingga lahirlah Sidanti. Dan apabila Rara Wulan itu kemudian bersuami, maka menjadi jauhlah ia dari setiap perempuan dan menyepi dilereng Gunung Merapi.

  11. ADBM 43 Halaman 28 s/d 42

    Sekejap Ki Tambak Wedi dicengkam oleh keragu-raguan. Namun sekejap kemudian, ia menggeretakkan giginya sambil menggeram “Tidak seorangpun yang akan dapat lolos. Semua harus dimusnahkan, termasuk Pandan Wangi. Siapapun Pandan Wangi itu.”

    Dengan demikian maka segera digenggamnya selingkar gelang-gelang besinya. Dan dengan sekuat tenaganya. gelang itu dilontarkannya kearah Pandan Wangi.

    Tetapi waktu yang sekejap itu ternyata terlampau besar artinya bagi Pandan Wangi. Ki Argapati yang mempunyai cukup pengalaman melihat sikap Ki Tambak Wedi didalam pertempuran itu, segera dapat menangkap maksud dari iblis lereng Gunung Merapi itu. Karena itu, maka dengan segera ia meloncat mendekati Pandan Wangi tepat pada saatnya. Pada saat gelang besi itu meluncur kearah dada anak gadisnya.

    Sambil menggeram Ki Argapati masih sempat memukul gelang besi itu keudara, sehingga sepercik bunga api meloncat bersama gelang yang membubung itu.

    “Gila” Ki Tambak Wedi dan Ki Argapati mengumpat hampir bersamaan. Jantung didalam dada mereka pun berdentang semakin cepat pula, sementara dada Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Hampir saja ia disambar oleh senjata Ki Tambak Wedi yang pasti tidak akan dapat dielakkannya.

    Dengan demikian, maka Ki Argapati menjadi lebih berhati-hati. Ia harus melupakan sakit didadanya. Ia harus berusaha sejauh-jauh dapat dilakukan untuk melawan iblis yang paling ganas itu. Meskipun kadang-kadang Samekta dapat membantunya, tetapi tenaganya tidak terlalu banyak berarti bagi pertempuran antara orang-orang yang berilmu jauh diatas jangkauannya.

    Maka, betapa lambatnya, namun pasti, Ki Tambak Wedi akan dapat menguasai lawannya. Karena menurut pertimbangan Ki Tambak Wedi sendiri, pada suatu saat Argapati yang masih diganggu oleh lukanya itu akan kehabisan tenaga sebelum waktu yang dapat dicapai oleh ketahanan tubuhnya seperti biasanya dalam keadaan yang wajar.

    Disudut lain, Sidanti dan Argajaya ternyata tidak kalah tangkas dari lawan-lawan mereka. Wrahasta dan Kerti tidak terlampau banyak berarti lagi bagi Keduanya, karena mereka harus melawan orang-orang yang memang sudah dipersiapkan oleh Sidanti dan Argajaya pula. Sehingga baik Argajaya maupun Sidanti, masih mempunyai keyakinan, bahwa mereka akan dapat mengalahkan lawan-lawan mereka.

    Tetapi saat itu agaknya Hanggapati dan Dipasanga masih dipengaruhi oleh jenis senjata yang tidak biasa mereka pakai. Karena itu mereka berduapun tidak bercemas hati, meskipun mereka merasa tidak dapat menguasai lawannya.

    “Pada saatnya akan aku letakkan senjata-senjata ini. Dan aku akan memakai pedangku.” Keduanya berpendirian serupa didalam keadaan yang menjadi semakin gawat. Namun mau tidak mau ledakan-ledakan cambuk itu telah menumbuhkan persoalan pula didalam hati Ki Tambak Wedi yang justru
    tidak melihat sendiri siapa yang mempergunakannya.

    Demikian medesaknya persoalan suara-suara cambuk itu, sehingga Akhirnya Ki Tambak Wedi tidak dapat menahan hatinya lagi untuk mengetahuinya. Diperintahkannya seorang penghubungnya untuk melihat, siapakah orang-orang yang telah mempergunakan cambuk didalam peperangan ini.

    “Kenapa kau digelisahkan oleh suara cambuk itu Ki Tambak Wedi? Apakah kau tidak senang mendengarnya?” bertanya Argapati sambil menyerang terus.

    Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi ia tidak menyawab. Dengan sekuat-kuat tenaganya ia berusaha untuk segera mengalahkan lawannya apabila mungkin. Dengan demikian maka ia akan mendapat kesempatan untuk menjelajahi peperangan ini. Tetapi apabila tidak, maka ia harus menunggu Argapati kehabisan tenaga, dan sama sekali tidak berdaya lagi.

    Sejenak kemudian penghubungnya telah kembali lagi kepadanya. Dengan cekatan ia meloncat surut, menghindari serangan Ki Argapati dan Pandan Wangi sambil bertanya “Siapa mereka?”

    “Orang-orang yang tidak kita kenal” jawab penghubung.

    “Siapa nama mereka?”

    Penghubung Itu terpaksa meloncat jauh-jauh ketika serangan Ki Argapati melanda Ki Tambak Wedi dengan dahsyatnya. Tetapi Ki Tambak Wedipun cukup lincah untuk menghindarinya, bahkan dengan sigapnya ia meloncat menyerang Pandan Wangi. Tetapi sekali lagi ia harus membentur kekuatan Ki Argapati yang menghalanginya. Kemudian disusul oleh serangan sepasang pedang dari arah lambung.

    Ki Tambak Wedi terpaksa meloncat surut. Tetapi justru ia mendapat kesempatan untuk mendengar “Sidanti belum mengenalnya.”

    Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Kalau Sidanti belum mengenalnya, mereka atau salah seorang daripadanya pasti bukan anak-anak dari seberang Mentaok yang menggelisahkan itu.

    Dengan demikian, maka Ki Tambak Wedi bertempur semakin mantap. Ia percaya bahwa kekuatan pasukannya tidak terlampau jauh berada dibawah kekuatan lawannya, setelah korban berjaluhan pada saat mereka masuk. Bahkan mungkin masih dapat mengimbangi atau bahkan melampauinya. Tetapi yang membuatnya yakin adalah kemampuan para pemimpinnya. Tidak ada seorangpun yang dapat dipercaya diantara orang-orang yang masih setia kepada Argapati. Tidak akan ada orang yang dapat berhadapan langsung dengan Sidanti, Argajaya dan apalagi Ki Peda Sura. Bahkan orang-orang Menoreh sendiri, Ki Muni dan Ki Wasi. Meskipun Keduanya tidak akan banyak terpaut dari para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh, namun dengan demikian, maka kekuatan pasukannya telah meyakinkannya.

    Karena itu, maka kini tenaganya dipusatkannya untuk menghancurkan Ki Argapati dan dengan sepenuh tenaga ia telah memaksa dirinya untuk memantapkan rencananya, membunuh Pandan Wangi juga. Meskipun setiap kali diwajah gadis itu seolah-olah selalu membayang wajah Rara Wulan yang kecemasan, yang seolah-olah memandangnya dengan tajam dan dengan perasaan yang meluap-luap.

    “Kau gila he Tambak Wedi” seolah-olah ia mendengar suara Rara Wulan “gadis itu adalah anakku, anakku.”

    “Persetan” ia menggeram “biarlah ia anak iblis, gendruwo, tetekan, aku tidak peduli. Semua orang, apalagi pemimpinnya, harus dibunuh. Pertahanan ini harus jadi neraka yang paling jahanam bagi mereka.”

    Dengan demikian, maka sambil menggeretakkan giginya. Ki Tambak Wedi berkelahi terus, semakin lama semakin garang.

    Sementara itu, dibagian lain dari peperangan itupun menjadi semakin seru. Sekali-kali terdengar mereka berteriak disela-sela dentang senjata. Teriakan mereka yang mencoba menghentakkan kemampuannya, namun juga teriakan mereka yang tersentuh oleh senjata.

    Desak mendesak lelah terjadi disetiap langkah digaris peperangan. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari satu wadah, sehingga kekuatan, kemampuan dan cara-cara mereka bertempur hampir bersamaan. Hanya dibeberapa bagian saja terjadi kegelisahan yang agak mengganggu ketabahan hati para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang setia kepada Ki Argapati. Orang-orang yang tidak dikenal bertempur dengan kasar dan buasnya. Mereka
    sama sekali tidak menghiraukan perasaan apapun. Apalagi mereka telah mendapat perintah untuk membinasakan semua orang yang melawan. Dengan demikian, maka merekapun bertempur tanpa batas lagi. Apalagi dengan sengaja mereka menunjukkan kekejaman-kekejaman yang tidiak pernah terbayangkan sebelumnya, untuk menurunkan keberanian dan tekad lawan-lawan mereka.

    Tetapi ternyata semuanya itu hanyalah mengungkat kemarahan para pengawal Tanah Perdikan, sehingga mereka justru berkelahi semakin gigih untuk mempertahankan diri dan garis perlawanan didalam gelar yang telah mantap. Kalau salah satu garis pertahanan itu dapat dipecahkan, maka gelar keseluruhan akan dapat terpengaruh karenanya. Dengan demikian, maka apapun yang
    terjadi, mereka bertahan sampai kemampuan, mereka yang terakhir.

    Namun disela-sela pertempuran yang semakin seru itu, terdapat tiga orang yang masih sedang mencari-cari lawan masing-masing. Mereka menjusup diantara hiruk pikuknya ujung senjata. Ditangan mereka tergenggam pedang.

    Mereka tertegun sejenak, ketika mereka melihat kesulitan yang berbahaya pada garis pertempuran dibagian belakang gelar lawan. Agaknya Ki Peda Sura sedang menari dengan sepasang senjatanya yang mengerikan. Tanpa ampun, siapa yang mendekat, pasti akan terlempar jatuh. Sedang beberapa langkah dari padanya, Ki Wasi sedang mengamuk sebagai harimau terluka, dan dibagian lain lagi sambil berteriak-teriak Ki Muni mendesak lawannya tanpa dapat ditahan lagi.

    Betapa para pengawal berusaha, namun kekuatan mereka memang jauh melampaui kemampuan setiap orang diantara para pengawal.

    Sejenak gembala tua dan kedua anak-anaknya itu tertegun. Namun sejenak kemudian orang tua itu berkata — Hadapilah mereka berdua. Aku akan menjelesaikan Peda Sura. Hati-hati1ah, jangan merasa dirimu lebih baik dari lawanmu. Perasaan yang demikian adalah ujung dari kekalahan, betapapun lemahnya lawan-lawanmu.

    Kedua muridnya mengangukkan kepalanya. Sambil menghindarkan diri dari setiap serangan, akhirnya merekapun berpisah untuk menemui lawan-lawan yang telah ditentukan bagi mereka masing-masing.

    Beberapa langkah setelah meninggalkan gurunya, Gupala melonjak kegirangan, seperti anak kambing dilepaskan dipadang rumput yang hijau segar. Beberapa kali ia tertegun melihat perang campuh yang seru. Ujung senjata berputaran dan terayun-ayun, kemudian gemerincing benturan yang melontarkan bunga-bunga
    api

    Sejenak kemudian Gupala telah berada dibaris pertempuran yang terdepan. Kini ia harus mulai menyadari arti dari ujung-ujung senjata lawan, yang setiap saat dapat menghujam didadanya.

    Gupala mengerutkan keningnya. Sejenak ia melihat seorang pengawal yang bertempur mati-matian melawan seorang yang agak asing. Menurut dugaan Gupala orang itu pasti bukan orang Menoreh.

    “Mungkin orang ini termasuk salah seorang anak buah Ki Peda Sura.” katanya didalam hati. Dan tiba-tiba saja tangannya menjadi gatal. Apalagi ketika ia melihat orang itu tertawa sambil berkata “He, sebut ayah dan ibumu. Lalu tundukkan kepalamu. Aku akan memenggalnya”

    Lawannya, seorang pengawal Tanah Perdikan menggeram. Tetapi ia memang sedang terdesak. Bahkan sejenak kemudian senjatanya telah terlepas dari genggamannya.

    Sekali lagi Gupala melihat orang itu tertawa sambil berkata “Ajo cepat, berlutut.”

    Pengawal iu surut beberapa langkah. Tetapi dalam perang yang hiruk pikuk ia tidak banyak mendapat kesempatan. Sekali ia justru terdorong oleh seseorang yang sedang menghindarkan diri dari tusukan ujung tombak.

    “Mau lari kemana kau anak yang malang” suara tertawa itu menjadi semakin Keras.

    Dan tiba-tiba saja Gupala tidak dapat menahan tertawanya pula melihat orang yang sedang mabuk kemenangan itu. Bahkan kemudian ia berkata “He, kau cepat sekali mendapat kegembiraan. Itulah agaknya yang membuat kumismu menjadi tebai.”

    Orang itu terdiam. Dipandanginya Gupala sejenak. Hanya sejenak. Hiruk pikuk peperangan telah mendorongnya untuk segera melakukan sesuatu. Dan tiba-tiba saja ia meloncat menikam pengawal yang sudah tidak bersenjata itu, supaya ia segera dapat menghadapi musuhnya yang lain.

    Tetapi ujung senjata tidak pernah dapat menyentuh korbannya. Tiba-tiba saja ia terpekik selagi ia masih menjulurkan tangannya yang menggenggam senjata itu. Sejenak kemudian ia menjadi terhuyung-huyung. Demikian Gupala menarik pedangnya yang terhunjam dilambung orang itu, maka orang itupun segera jatuh tertelungkup. Mati.

    Pengawal yang terselamatkan itu sejenak berdiri mematung. Ia mengenal anak yang gemuk itu sebagai seorang gembala. Tetapi bagaimana mungkin ia dapat melakukan hal itu. Begitu cepatnya, sehingga matanya tidak dapat menangkap gerak Itu.

    Kini yang terdengar adalah suara tertawa Gupala. Sambil meloncat meninggalkan pengawal itu ia berdesis “Ambil senjata itu. Kau tidak dapat tidur didalam peperangan kalau kau tidak mau benar-benar dibantai oleh lawan-lawanmu.”

    Orang itu seperti tersadar dari tidurnya. Segera ia memungut senjata lawannya yang terbunuh itu, karena senjatanya sendiri telah tenggelam dalam hiruk pikuknya peperangan.

    Gupalapun kemudian menjusup diantara kedua pasukan yang sedang bertempur itu. Sekali tangannya yang gatal tidak dapat ditahannya lagi.

    “Bukankah aku berada dipeperangan?” ia bergumam didalam hatinya. Dengan demikian maka setiap kali ia harus berhenti, seperti terhisap oleh suatu keinginan yang tidak tertahankan, maka setiap kali senjata telah terhunjam ditubuh lawan-lawannya. Meskipun demikian, Gupala masih mcncoba membedakan, apakah lawannya itu orang-orang Menoreh, ataukah orang-orang asing yang datang ke Menoreh dalam keadaan yang kemelut itu.

    Meskipun kadang-kadang Gupala keliru, namun dari jenis pakaiannya Gupala dapat mengira-ngirakan, siapakah yang sedang dihadapinya.

    Tiba-tiba Gupala itu tertegun. Dilihatnya seseorang bertempur sambil berteriak-teriak. Kadang-kadang tertawa dan kadang membentak-bentak. Sekilas Gupala dapat melihat, bahwa orang itu mempunyai kelebihan dari para pengawal Tanah Perdikan.

    “Oh, inilah orang yang bernama Ki Muni itu agaknya” berkata Gupala didalam hatinya. Melihat ciri-ciri, tingkah laku dan pakaiannya, kalung yang dibebani dengan berbagai macam benda, maka Gupalapun dapat memastikan, bahwa orang yang dicarinya itu sudah diketemukannya.

    Perlahan-lahan Gupala yang gemuk itupun segera mendekatinya. Namun tiba-tiba ia mempunyai cara yang menyenangkan baginya untuk menarik perhatian orang yang garang itu.

    “Senjatanya sangat menarik” desis Gupala didalam hatinya “sebuah pedang yang lengkung.”

    Gupala memang tidak segera menyongsongnya. Dibiarkannya Ki Muni sesumbar dan bertempur seperti seekor elang yang menyambar-nyambar. Beberapa orang terpaksa bergabung untuk melawannya.

    Gupala mengerutkan keningnya. Bukan saja tangannya yang menjadi gatal, tetapi hatinya tergelitik melihat sikap dan tandang Ki Muni, seolah-olah diseluruh jagad tidak ada orang laki-laki selain dirinya.

    Itulah sebabnya, maka Gupalapun tiba-tiba telah berbuat serupa. Sambil tertawa berkepanjangan ia menyerang beberapa orang sekaligus. Ia membuat lingkaran perkelahian sendiri disamping arena yang berpusar pada Ki Muni.

    Beberapa orang lawan-lawannya terkejut melihat anak muda yang gemuk itu meloncat-loncat dengan lincahnya. Pedangnya terayun-ayun menyambar-nyambar seperti burung sikatan. Setiap kali ujung pedang itu menyentuh tubuh lawannya, dan setiap kali terdengar pekik kesakitan.

    Tetapi Gupala memang aneh. Ia masih sempat bergurau dipeperangan. Kalau beberapa saat lawan-lawannya tidak ada yang terpekik kesakitan karena ujung pedangnya tidak berhasil melukai lawannya, maka ia sendirilah yang berteriak. Namun kemudian suara tertawanya menggema berkepanjangan.

    Cara bertempur Gupala itu benar-benar telah menarik perhatian. Baik lawan maupun kawan. Beberapa orang pengawal terheran-heran melihat gembala itu mampu bergempur demikian tangkasnya, apa lagi seolah-olah ia hanya sedang bermain-main disaat terang bulan.

    Lawan-lawannyapun menajadi cemas melihat tandangnya. Ujung pedangnya seolah-olah mempunyai mata yang dapat melihat kemana lawannya menghindar. Seseorang yang sekali diburu oleh pedangnya, betapapun juga ia berusana, maka akhirnya ujung pedang itu pasti akan bersarang didadanya.

    Demikianlah maka Gupala telah menimbulkan kegemparan dimedan itu. Arena pertempuran diseputarnya menjadi gelisah seperti dilanda angin pusaran.

    Ternyata cara itu berhasil menarik perhatian Ki Muni. Orang yang merasa dirinya tidak terlawan itu mengerutkan keningnya melihat arena yang kisruh beberapa langkah daripadanya.

    “He siapa yang berkelahi disitu” ia berteriak.

    “He, akulah yang berkelahi disini.” terdengar jawaban dari tempat yang gelisah itu.

    “Siapa kau?” teriak Ki Muni pula.

    “Aku, gegedug Tanah Perdikan Menoreh. Seorang pengawal yang paling setia pada tugasku, karena cita-cita yang menjiwai setiap perbuatanku.”

    “Persetan, siapakah namamu?”

    “Setiap orang mengenal aku, Karena aku selalu berada disis Ki Gede Menoreh, membina tanah ini, Sekarang selagi tanah ini menjadi semakin baik, kau datang untuk menghancurkannya.”

    “Gila, gila kau” Ki Muni berteriak sambil mengamuk, Senjatanya yang lengkung menyambar-nyambar seperti elang. Beberapa orang yang berada disekitarnya segera terdesak menjauh, dan beberapa orang yang bersama-sama melawannyapun meloncat surut.

    Beberapa langkah Ki Muni maju diikuti oleh pasukannya yang mendesak maju pula.

    “Aku adalah seorang yang hampir sepanjang umurku berada di tanah ini” berkata Ki Muni dengan lantangnya “aku belum pernah mengenal tampangmu”

    Gupala tidak segera mcnyawab. Ia melihat Ki Muni menjadi semakin dekat kelingkaran perkelahiannya.

    “Ajo, sebut namamu.”

    “Jawabanmu sungguh mentertawakan” berkata Gupala “kalau kau orang Menoreh, apalagi sejak kanak-kanak, kenapa kau ikut bersama2 cecurut-cecurut itu untuk justru menghancurkan Menoreh ”

    “Setan” Ki Mbni bergumam “siapa namamu ?”
    “Kalau kau benar orang Menoreh, maka kau adalah seorang penghianat” berkata Gupala selanjutinya tanpa menjawab pertanyaan Ki Muni.

    “Diam, diam” Ki Muni berteriak “aku sobek mulutmu dengan pedang yang aku dapat dari ujung bumi ini, yang tajamnya tujuh kali tajam pedang yang lain.”

    Gupala mengerutkan keningnya. Kini Ki Muni telah berada hanya beberapa langkah saja daripadanya. Sekilas ia melihat pedang yang lain dari pedang orang-orang Menoreh. Dalam redup sinar api yang sudah hampir padam, pedang itu tampak berkilat-kilat.

    “Pedang itu memang tajam” berkata Gupala didalam hatinya “setiap sentuhan pada tubuh, akibaitnya sangat berbahaya. Tetapi agaknya pedang itu tidak sekukuh pedangku. Ternyata orang itu selalu berusaha menghindari benturan yang langsung. Apalagi dengan kekuatan yang besar.”
    Gupalapun kemudian menggeram. Dan tiba-tiba saja ia berteriak “He. Kau ingin tahu namaku. Namaku adalah Ki Muni, seorang dukun yang tidak ada duanya. Yang setia kepada tanah kelahiran.”

    “Persetan” Ki Muni menjadi semakin marah. Terasa darahnya seakan-akan telah mendidih. Dengan serta-merta ia meloncat menjelang Gupala sejadi-jadinya.

    Gupala surut selangkah untuk memantapkan diri. Namun kemudian iapun melangkah maju kembali sambil memutar pedangnya. Meskipun pedangnya tidak setajam pedang lawannya, namun pedang itu memiliki kelebihan juga. Ki Muni tidak akan berani beradu tenaga lewat tajam pedangnya.

    Dada Gupala menjadi berdebari ketika ia melihat api yang tiba-tiba saja telah melonjak keudara. Sekilas ia berpaling. Dilihatnya sebuah rumah yang terletak beberapa langkah dari arena perkelahian itu terbakar.

    “Mereka menjadi liar” desisnya didalam hati “api yang terhambur-hambur dari panah api, jerami-jerami yang bertimbun-timbun disisi ujung jalan dan bahkan yang sengaja ditebarkan diluar regol, gardu darurat diregol yang telah terbakar pula, telah hampir padam. Tetapi kini sebuah rumah telah menyala.”

    Tetapi Gupala tidak sempat untuk merenung dan mengupat-umpat saja. Serangan Ki Muni segera melandanya seperti banjir. Namun iapun telah cukup siap untuk melawannya.

    Perkelahian diantara Keduanya segera menjadi semakin seru. Baik para pengawal Tanah Perdikan, maupun orang-orang Ki Tambak Wedi, lambat laun bergeser semakin jauh. Mereka menganggap perkelahian itu adalah perkelahian yang tidak perlu dicampurinya.

    Gupala tidak memerlukan waktu terlampau lama untuk menjajagi kemampuan lawannya. Dan tiba-tiba saja ia tersenjum. Ki Muni hanyalah seorang yang mampu berteriak-teriak saja. Meskipun ia memiliki kemampuan diatas orang kebanyakan, namun orang itu hampir tidak banyak berarti bagi Gupala. Karena itu, mulailah Gupala dengan tabiatnya. Selagi ia masih bertempur menghadapi
    Ki Muni, maka sekali-sekali ia berlari berputar-putar. Namun setiap kali pedangbya menyambar, korban-korban yang berjatuhan dipihak lawan.

    “He apakah kau memang gila?” teriak Ki Muni.

    “Ki Muni” berkata Gupala “ayahku berpesan kepadaku, agar aku selalu tidak menganggap lawanku terlampau ringan. Akupun tidak menganggap demikian terhadapmu. Tetapi, aku tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa sebenarnya Ki Muni itu tidak lebih dari namanya. Hanya suaranya saja seakan-akan bunyi ledakan petir dilangit. Tetapi kau tidak memiliki kemampuan apapun dipeperangan.”

    Betapa dada Ki Muni serasa akan meledak mendengar ejekan Gupala itu. Apalagi lawannya itu tidak lebih dari seorang anak muda gemuk yang tidak dikenal. Meskipun anak itu berjambang, namun wajahnya sama sekali tidak meyakinkannya bahwa ia mampu bertempur dipeperangan.

    Karena itu, maka Ki Munipun segera mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Dibacanya segala macam ilmu, doa dan jampi-jampi. Disebutnya segala macam nenek-moyang, bahureksa segala macam sudut, kali dan hutan-hutan. Bahureksa jalan dan perapatan. Kemudian sambil menghentakkan senjatanya ia berteriak nyaring.

    Oranq-orang yanq telah mengenal Ki Muni agak lama, mengetahuinya, bahwa Ki Mumi sudah sampai pada puncak kemarahannya, dan dengan demikian orang-oran ittu mengharap, bahwa korban dipihak lawan akan semakin banyak berjatuhan.

    Tetapi ternyata dugaan itu sama sekali tidak benar. Betapapun Ki Mumi mengerahkan segala macam kemampuan yanq tersimpan didalam dirinya beserta pedang pusakanya yang didapatkannya dari ujung bumi, namun lawannya yang masih muda dan gemuk itu masih saja tertawa berkepanjangan.

    “Ayo, kerahkan segenap kemampuanmu Ki Muni “berkata Gupala sambil tertawa “atau barangkali kau memang sudah sampai pada puncak kemampuanmu?”

    “Persetan” sahwt Ki Muni sambil berteriak-teriak maka serangannyapun menjadi semakin deras. Tetapi lawannya masih saja tertawa dan kadang-kadang menari-nari berloncat-loncatan dari seorang keorang yang lain.

    Dibagian lain dari pertempuran itu, Gupita dengan tcnangnya bertempur melawan dukun yang lain, Ki Wasi. Namun ternyata Ki Wasi pun tidak seliar Ki Muni. Dengan sungguh Ki Wasi berusaha untuk mengatasi keadaan. Namun pada kemampuan tertentu ia terpaksa melihat kenyataan, bahwa lawannya
    meskipun masih cukup muda, namun memiliki kemampuan yang tidak dapat diabaikannya. Bahkan semakin lama, ternyata, bahwa lawannya adalah seorang yang luar biasa.
    “Aku belum pernah melihat wajahmu anak muda” desis Ki Wasi.
    Gupita mengerutkan keningnya. Jawabnya “Mungkin Ki Wasi.”
    “Siapa namamu ?”
    “Gupita. Seorang gembala.”
    “Kau berbohong.”
    “Tidak. Aku memang seorang gembala.”
    Ki Wasi terdiam. Senjatanya, sepasang trisula bertangkai pendek hampir tidak berarti sama sekali bagi lawannya. Namun ia berusaha sekuat-kuat tenaganya. Kalau semula ia berhasil mendesak setiap orang yang melawannya dan membawa kelompoknya setapak demi setapak maju, maka kini ia terbentur pada suatu perlawanan yang tidak mudah ditembusnya.

    Dan tanpa disangka-sangka, Ki Wasi mendengar lawannya yang masih muda itu bertanya “Ki Wasi, kenapa kau melakukan perlawanan atas Ki Argapati ?”

    Sejenak Ki Wasi tidak dapat menyahut. Pertanyaan itu bcnar-benar telah menyentuh perasaannya.

    Gupita merasakan sentuhan itu pula, karena perlawanan Ki Wasi yang seakan-akan tertegun. Bahkan kemudian orang itu meloncat selangkah mundur. Meskipun Ki Wasi menjilangkan trisulanya dimuka dadanya, namun getaran didalam dadanya telah mempengaruhinya.

    Tetapi Gupita tidak mempergunakan kesempatan itu. Bahkan membiarkan Ki Wasi menyadari keadaannya. Meskipun pedangnya teracung kedepan dada lawannya, tetapi Gupita tidak meloncat dan menembus dada itu dengan ujung pedangnya.

    “Jangan kau tanyakan, mengapa aku melawannya” geram Ki Wasi.
    “Itu hakku “ jawab Gupnta “hakmu adalah menjawab atau tidak. Kalau kau memang berkeberatan, kau tidak perlu menjawabnya.”

    “Aku tidak akan menjawab.”

    “Terserahlah. Tetapi dengan demikian aku dapat membuat jawaban sendiri. Dan aku menganggap perlawananmu itu sebagai suatu pemberontakan dan ketidak-setiaan terhadap pimpinanmu.”

    “Kau salah” jawab Ki Wasi. Namun agaknya ia telah mendapatkan kemantapannya kembali, sehingga justru ialah yang menyerang Gupita dengan sekuat-kuat tenaganya.

    Namun Gupita sebenarnya bukanlah lawannya. Karena itu, Gupita dengan, mudahnya dapat menghindarkan diri dari setiap serangannya.

    “Aku mempunyai pertimbangan sendiri” desis Ki Wasi “aku melawan Ki Argapati, karena Ki Argapati teryata mengecewakan sekali. Berapa tahun aku bekerja dengan patuh.
    Namun agaknya Ki Argapati bukan seorang yang dapat menjadi contoh bagi setiap orang diatas Tanah Perdikan ini. Ia lebih mementingkan dirinya sendiri. daripada membela anak dan adiknya. Ia begitu taat bersujud kepada kekuasaan Pajang daripada memberikan perlindungan kepada angger Sdanti dan Argajaya.
    Apakah itu sikap seorang ayah yang baik. Adalah menjadi tanggung jawab seorang ayah, apapun yang dilakukan oleh anaknya.”

    “Juga apabila anak itu melakukan kesalahan?”

    “Tentu tidak. Tetapi angger Sidanti tidak bersalah. Ia didorong kedalam suatu keadaan yang tidak dapat dielakkannya lagi. Ia mempunyai harga diri sebagai seorang putera kepala Tanah Perikan yang besar dan kuat. Tetapi Ki Gede telah melepaskan tangung jawab itu.”

    Gupita mengerutkan keningnya. Api yang berkobar semakin besar menelan sebuah rumah. Cahayanya yang kemerah-merahan telah membuat wajah-wajah semakin menjadi tegang dan mengerikan. Keringat yang meleleh dari kening dan darah yang menitik dari luka, membuat medan perang itu menjadi semakin panas.

    Gupita masih bertempur melawan Ki Wasi. Tetapi ternyata Gupita tidak memanfaatkan setiap keadaan yang memberinya kesempatan untuk menyudahi perkelahian.

    Ki Wasipun ternyata merasakan keganjilan yang terjadi dalam perkelahian itu. Ia merasa bahwa betapapun ia berusaha, namun ia tidak akan dapat mengimbangi lawannya.

    Tetapi meskipun demikian, ia masih tetap dapat melakukan perlawanan, betapapun disadarinya, bahwa perlawanannya itu hampir tidak ada artinya.

    “Apakah maksud orang ini ?” pertanyaan itu tumbuh didalam hatinya “kenapa ia tidak membunuh aku saja didalam peperangan ini meskipun agaknya ia dapat melakukannya dengan mudah ?”

    Dan Gupita memang tidak ingin membunuhnya. Agaknya Ki Wasi adalah salah seorang yang lemah hati, yang mudah percaya kepada hasutan dan keterangan-keterangan palsu. Ki Wasi yang melihat dan bahkan sering bermain-main dengan Sidanti ketika anak itu masih terlampau muda. tidak sampai hati melihat ia tersudut dalam kesulitan yang pahit, yang menurut pengertiannya, karena Argapati tidak mau melindunginya.

    “Kalau Ki Wasi dapat mengerti keadaan yang sebenarnya, apa saja yang pernah dilakukan Sidanti, maka ia akan berpendirian lain. Ia baru mendengar keterangan dari sebelah sisi. Dan keterangan itu langsung dipercayanya” berkata Gupita didalam hatinya. Dan karena itu pulalah ia ingin Ki Wasi tetap hidup, dan dapat mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.

    Karena itu, meskipun dengan alasan yang berbeda-beda, namun kemudian Gupitapun telah bertempur tidak saja melawan Ki Wasi. Beberapa orang yang melihat pemimpin kelompoknya terdesak, segera berusaha membantunya. Tetapi Gupita sama sekali lidak mengalami kesulitan. Ternyata pedangnya mampu melindungi dirinya, dan bahkan mampu melukai beberapa orang lawan-lawannya. Seorang demi seorang. Gupita telah kehilangan lawan. Para pengawal Tanah Perdikan yang bersamanya selalu mempergunakan setiap kesempatan untuk mendesak terus, sehingga semakin lama semakin ternyata bahwa garis medan ditempat itu tidak lagi dapat dipertahankan oleh orang-orang Ki Tambak Wedi yang dipimpin oleh Ki Wasi.

    Dibagian tengah Ki Peda Sura pemimpin pasukan yang menghadapi para pengawal yang datang dari arah belakang, sempat melihat pasukannya dikedua sisinya bergeser mundur, sehingga lingkaran gelar Gayah Meta itupun menjadi semakin sempit karenanya. Sambil menghentakkan senjatanya ia menggeram.
    Seharusnya kekuatan kedua sisi itu dapat dipercaya, karena masing-masing dipimpin oleh dua orang kuat dari Tanah Perdikan Menoreh ini sendiri. Tetapi ternyata bahwa pertahanan itu semakin lama semakin surut.

    “Apakah keduanya telah berkhianat dan justru membiarkan pasukannya mundur?” pertanyaan itu telah mengganggunya.

    Namun karena itulah maka iapun segera mengamuk tanpa terkendalikan lagi. Setiap arang yang berusaha mendekatinya, pasti akan terpelanting tersentuh senjatanya. Meskipun senjatanya tidak mempunyai tajam seperti pedang, namun justru senjata itu mampu meremukkan tulang. Sentuhan dikepala tidak akan perlu diulanginya lagi.

    Namun agaknya kekalutan dikedua sisi pasukannya sangat meenganggunya. sehingga ia bermaksud untuk melihat sendiri, apakah yang sebenarnya telah terjadi.

    Karena itu, maka diserahkannya pimpinan kepada salah seorang kepercayaannya, dan ia sendiri kemudian meninggalkan tempatnya untuk melihat apa yang terjadi dikedua sisinya. Yang mula-mula ngin dilihatnya adalah pasukan yang dipimpin oleh Ki Muni Orang itu adalah orang yang cukup kasar, sehingga seharusnya ia mampu melakukan apa saja untuk menghancurkan lawannya. Apalagi didalam pasukan Ki Muni itu terdapat banyak orang-orangnya sendiri, yang pasti akan mampu membuat lawan-lawan mereka kehilangan keberanian. Oranq-orangnya telah terlampau biasa melakukan pembunuhan dengan berbagai macam cara. Bahkan cara-cara yang
    tidak dapat dibayangkan sebelumnya.

    Tetapi tiba-tiba Ki Peda Sura tertegun ketika ia melihat sesuatu yang aneh dipeperangan itu. Ia melihat seorang tua dengan kumis yang lebat sedang bertempur melawan beberapa orang sekaligus.

    “Bukan main” geram Ki Peda Sura “ternyata orang ini perlu. mendapat perhatian”

    Dengan demikian, maka Ki Peda Sura mengurungkan niatnya. Dengan garangnya ia meloncat mendekati orang tua itu sambil menggeram. “He, siapakah kau”

    orang tua itu berpaling sejenak. Ketika dilihatnya Ki Peda Sura maka katanya “Kaulah yang bernama Ki Peda Sura ?”

    “Ya. Akulah Ki Peda Sura. Nah, dengan mengenali namaku, kau sudah dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atasmu. Sekarang sebut namamu.”

    “Sudah lama aku mencarimu. Dimana kau bertempur selama ini ? Hampir-hampir aku menganggap bahwa kau sudah mati terbunuh dipeperangan ini.” jawab orang itu.

    “Persetan” Ki Peda Sura berteriak. Kemarahannya yang lelah membakar dadanya, kini menjadi semakin memuncak “sebut namamu.”

    “Apakah arti nama seseorang ?”
    “Cepat sebelum kau mati.”

    “Aku dapat menyebut seribu macam nama. Panji Jayengraga, Rangga Semantana, Raden Badersewu.”

    “Cukup. Cukup. Sebut namamu yang sebenarnya.”

    “Pilihlah salah satu. Atau kalau kau anggap kurang sesuai, nah siapa sebaiknya namaku ?”

    Kemarahan Ki Peda Sura sudah tidak dapat ditahannya lagi. Karena itu, maka tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi ia menerkam orang tua berkumis itu dengan satu serangan maut. Kedua senjatanya bersama-sama lerayun, menghantam lawannya dengan kecepatan yang tidak tersangka-sangka.

    Lawannya menahan nafas. Ternyata Ki Peda Sura benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Namun, kali ini ia berhadapan dengan lawan yang tidak disangka-sangka anan dijumpainya dimedan peperangan ini. Menurut perhitungannya, selain Ki Tambak Wedi dan Ki Argapati, tidak akan ada orang yang mampu menyamainya. Tetapi ternyata kali ini, orang berkumis
    itu mampu menghindari serangannya. Dengan loncatan yang melampaui kecepatannya, ia bernasil menghindar, sehingga ayunan senajata Ki Peda Sura telah menjeret tubuhnya sendiri. Karena ia tidak memperhitungkan sama sekali hal itu, maka tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah, sebelum ia berhasil menguasai keseimbangannya kembali.

    Sambil mengumpat-umpat Ki Peda Sura mempersiapkan dirinya untuk menghadapi lawannya yang mendebarkan jantungnya. Orang tua berkumis itu ternyata memiliki bekal yang cukup untuk menghadapinya.

    Dengan demikian maka Ki Peda Sura harus berhati-hati. Kali ini ia harus bertempur bersungguh-sungguh, tidak sekedar membunuh lawan hampir tanpa perlawanan.

    “Ki Peda Sura” terdengar orang tua itu berbicara dengan suara yang agak sengau “aku terpaksa melibatkan diri dalam pertentangan ini karena aku tidak ingin melihat Tanah Perdikan ini runtuh. Dengan kehadiranmu dan orang-orangmu maka kekacauan diatas Tanah ini akan semakin mcnjadi-jadi.”

    “Kau juga orang asing disini.”

  12. boleh saya book jilid 42 hal. 40-80 Ki DD?

    D2: Update info terbaru ada di halaman buku jilid terakhir. Silahkan cek apakah masih kosong. Dengan demikian tidak terjadi tumpang-suh (pinjam istilahnya Gembala Tua).

  13. ADBM 43 Halaman 43 s/d 61

    “Memang, memang aku bukan orang Menoreh. Tetapi aku datang seorang diri. Katakanlah aku hanyalah datang bersama dua orang anak-anakku. Dan aku tidak akan melibatkan diri seandainya tidak ada orang-orang seperti Ki Tambak Wedi dan kau beserta anak buahmu. Kalau aku biarkan persoalan ini berlarut-larut, maka tanah ini akan jatuh ketangan Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Namun
    untuk seterusnya kau akan selalu memerasnya. Bayangkan, apa yang akan terjadi atas tanah ini.”

    “Persetan” Ki Peda Sura menghentakan giginya. Kemudian serangannyapun datang beruntun. Sepasang senjatanya terayun-ayun mengerikan.

    Oranq tua berkumis itu telah benar-benar bersedia untuk melawannya sehingga karena itu, maka dengan sigapnya ia menghindari setiap serangan dan bahkan kemudian menyerang kembali.

    Sejenak oranq tua itu menjadi ragu-ragu. Ia bukan seorang pembunuh yang selalu haus darah. Bahkan setiap ia melakukan pekerjaan yang menurut keyakinannya sudah pada tempatnya, ia masih saja memperhitungkan segala macam kemungkinan.

    Namun yang dihadapinya kini adalah seseoranq yang telah terbentuk. Seseorang yang tidak akan mungkin dapat dirubahnya lagi Ki Peda Sura adalah seseorang yang sangat berbahaya. Bukan saja bagi Tanah Perdikan Menoreh, tetapi juga bagi kemanusiaan pada umumnya. Seandainya ia gagal memeras Tanah Perdikan ini, maka ia akan dapat melakukannya ditempat yang lain.

    Sambil bertempur orang tua itu masih sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Bahkan ia masih sempat bertanya “Ki Peda Sura apakah pamrihmu sehingga kau bersama anak buahmu dengan bersusah payah ikut dalam pertentangan antara ayah dan anak ini ?”

    Ki Peda Sura tidak menyahut. Namun serangannya menjadi semakin garang seperti badai mangsa kesanga.

    “Ada dua kemungkinan Peda Sura” berkata orang tua itu “setelah peperangan ini selesai, kaupun akan diselesaikan pula oleh Ki Tambak Wedi, karena bagaimanapun juga kau tidak akan menang melawannya. Sedang kemungkinan yang lain. Tambak Wedilah yang akan kau peras habis-habisan. Seandainya Tambak Wedi berkeberatan, maka Tanah Perdikan inilah yang akan. menjadi korban. Kau akan memasuki setiap pintu dan menghisap segala macam isinya. Dan sudah tentu kau akan menghindari benturan-benturan langsung dengan Tambak Wedi. Dan menurut perhitunganmu Ki Tambak Wedi tidak akan sekuat Argapati dalam mengendalikan pemerintahan di Menoreh”

    “Persetan” Ki Peda Sura menggeram. Dengan sekuat tenaga ia menyerang lawannya. Namun serangan-serangannya itu sama sekali tidak pernah menegangkan urat orang tua yang berkumis itu.

    “Tetapi Ki Peda Sura” orang itu masih berbicara saja sambil memutar pedangnya “yang paling jelek adalah justru kemungkinan yang lain lagi.”
    Kemungkinan ketiga. yaitu apabila kau bcrsama-sama Ki Tambak Wedi memeras Tanah Perdikan ini.”

    “Diam, diam” teriak Ki Peda Sura. Sepasang senjatanya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Namun sepasang senjata itu sama sekali tidak berhasil menyentuh lawannya. Bahkan setiap kali senjatanya itu membentur pedang orang tua berkumis itu, terasa tangannya seakan-akan bergetar.

    “Setan manakah yang tiba-tiba ada didalam peperangan ini ?” geram Ki Peda Sura.

    “Nah Ki Peda Sura” berkata orang itu pula “masih ada kesempatan sebelum orang-orangmu tumpas dipeperangan ini. Tinggalkan medan dan pergi keasalmu. Kalau kau tidak mengganggu Tanah ini untuk seterusnya. kaupun tidak akan kami ganggu.”
    “Tutup mulutmu” terak Ki Peda Sura.

    “Maaf. Aku akan berbicara terus. Kalau kau mau mendengarkan aku akan bergembira sekali Sebab tidak akan ada kemungkinan bagimu untuk menyelamatkan anak buahmu. Kedua anakku adalah gembala-gembala yang salah seorang daripadanya telah membantu Pandan Wangi melukai kau beberapa saat yang lampau. Keduanya kini ada dimedan ini, selain dua orang lain yang akan dapat membinasakan Sidanti dan Argajaya. Nah, sekarang kau
    tahu. bahwa Ki Tambak Wedi telah salah menilai kekuatan lawannya. Termasuk kau yang terlampau tamak.

    “Bohong. Kau sangka aku percaya ?”

    “Satu contoh adalah dihadapanmu sekarang. Kalau kau tidak mau mendengarkan kata-kataku, apa boleh buat.”

    Terasa dada Ki Peda Sura berdesir. Ia sadar, bahwa lawannya kali ini bukan sekedar seorang yang berbicara terlampau keras, tetapi ia adalah seorang yang tangguh tanggon.

    Meskipun demikian sama sekali tidak telintas dikepalanya untuk meninggalkan medan. Ia masih mempunyai cara untuk mencoba mengalahkan orang ini.

    Demikanlah mereka bertempur semakin lama semakin seru. beberapa kali Ki Peda Sura terdesak, dan setiap kali ia telah bergeser surut. Beberapa orang yang bertempur disekitar kedua orang itu. terpaksa berusaha menyingkir, karena mereka masih harus melayani lawan masing-masing. Tetapi mereka lebih senang berada agak jauh dari Keduanya, daripada tanpa setahu mereka, kepala mereka pecah oleh sentuhan senjata kedua orang yang luar biasa itu.

    Namun semakin lama semakin terasa, bahwa Ki Peda Sura tidak akan mampu lagi melakukan perlawanan lebih lama lagi. Apalagi ketika orang tua yang berkumis itu mengambil suatu keputusan, bahwa Ki Peda Sura memang harus dilenyapkan.

    Ki Peda Surapun menyadari keadaaanya. Ia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi melawan orang tua berkumis itu. Karena itu ia harus segera berbuat sesuatu, agar ia tidak terdesak terus, dan apalagi dibinasakan. Sejenak kemudian terdengar sebuah tanda yang meluncur dari mulutnya. Sebuah suitan nyaring.

    Orang tua berkumis itu menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa yang diperdengarkan oleh Ki Peda Sura itu pasti suatu pertanda, tetapi orang tua itu tidak tahu, apakah maksudnya.

    “Aku harus segera menjelesaikannya” pikir orang tua itu. Tetapi ia terkejut ketika beberapa orang berloncatan dari antara hiruk pikuk peperangan, dan kemudian seolah-olah mengepungnya. Tiga orang yang bertubuh kekar dengan wajah yang mengerikan.

    “Nah, kau tidak akan dapat lolos lagi” desis Ki Peda Sura.

    Orang tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis didalam hatinya “Memang tadak ada pilihan lain. Melawan Peda Sura sama berbahayanya dengan melawan iblis.”

    “Menyerahlah, supaya kau dapat mati dengan tenang” geram Ki Peda Sura.

    Tetapi orang berkumis itu masih tetap tenang. Sekali ia bergeser untuk mempersiapkan dirinya. Dipandangnya wajah-wajah itu satu demi satu.

    “Sudah sekian lama aku tidak pernah bertempur bersungguh-sungguh. Berkelahi antara hidup dan mati. Tetapi berhadapan dengan empat orang ini agaknya memang tidak ada pilihan lain. Aku tidak hanya sekedar bermain-main lagi seperti beberapa kali aku lakukan melawan Sumangkar dan Ki Tambak Wedi, karena saat itu aku belum berada didalam suatu keadaan seperti sekarang.
    Tetapi kini aku harus menentukan” berkata orang tua itu didalam hatinya. “Juga apabila pada suatu saat aku berhadapan dengan Tambak Wedi sendiri.”

    “Kenapa kau membungkam?” bentak Ki Peda Sura, “jangan menjesal. Tidak ada pilihan lain bagimu.”

    Orang berkumis itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Marilah Ki Peda Sura. Aku sudah siap.”

    “Sebut namamu, surpaya aku dapat berceritera, bahwa seorang yang bernama dadap atau waru atau tikus atau kelinci telah aku bunuh dipeperangan” desis Ki Peda Sura.

    “Nama-nama itukah yang pantas bagiku? Bukan Panji Jayengraga, atau Rangga Parang Jumena, atau Rangga Surenggana.”

    “Cukup, cukup” bentak Ki Peda Sura “baiklah kalau kau ingin mati tanpa nama” kemudian kepada kawan-kawannya ia berkata “Kita terpaksa membunuhnya tanpa ampun, terserahlah cara yang mana yang akan kalian pilih.”

    “Orang ini harus dicincang” geram salah seorang dan mereka “teeapi ia harus mati perlahan-lahan.”

    “Bagus, aku ingin menangkapnya hidup-hidup.”
    Terdengar salah seorang dari mereka tertawa. Kemudian hampir bersamaan mereka maju mendekat.

    Orang tua itu harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Orang-orang itu bukanlah orang kebanyakan yang dapat diabaikan.

    Sejenak kemudian Ki Peda Sura itupun berkata “Nah, selesaikan, pekerjaan kita masih banyak.”

    Serentak ketiga orang itu menyerang dari tiga jurusan. Dengan senjata masing-masing yang berbeda-beda mereka berusaha sekaligus menghancurkan lawannya. Salah seorang dari mereka mempergunakan sebuah tombak pendek berduri pandan. Sentuhan senjata itu dapat menyobek kulit dedelduwel. Seorang yang lain bersenjata sebuah golok yang besar, sedang yang seorang lagi bersenjata pedang.

    Tetapi orang tua berkumis itu cukup sadar. Dengan sigapnya ia menghindari serangan-serangan itu, dan bahkan salah seorang daripada mereka telah membenturkan dengan senjata orang tua itu. Betapa ia terkejut merasakan tangannya seakan-akan disengat oleh bara api. Hampir saja senjatanya terlepas dari tangannya. Karena itu, maka terdengar ia menggeram untuk melontarkan kemarahan yang menyesak dada.

    Namun sebelum orang tua itu berhasil berdiri tegak, serangan Ki Peda Sura sendiri datang membadai. Sepasang senjatanya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Hampir saja kepala orang tua itu tersentuh oleh senjata Peda Sura yang dahsyat itu. Hanya dengan kecepatan Yang tidak dapat diperhitungkan oleh lawaanya orang tua itu berhasil menyelamatkan dirinya.

    “Bukan main” desisnya didalam hati “mereka berempat merupakan lawan yang berat juga.”

    Karena itu, maka orang tua itu tidak lagi dapat berlengah-lengah barang sekejappun. Menghadapi mereka berempat, maka tugasnya agak lebih berat daripada berhadapan langsung dengan seorang Tambak Wedi, karena ia harus memperhatikan beberapa arah sekaligus. Untunglah bahwa orang-orang Ki Tambak Wedi mempunyai kegemaran membakar rumah, lumbung dan bahkan kandang-kandang kerbau, sehingga nyala api telah membantunya untuk melihat lawan-lawannya yang datang dari berbagai arah.

    Sementara itu, Gupala telah menjadi jemu untuk bermain-main. Kini perhatiannya dipusatkannya kepada lawan utamanya, Ki Muni. Dukun itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Segenap mantra dan guna-guna telah dibacanya. Namun ternyata, bahwa ia menjadi cemas. Ternyata kemampuannya bertempur dipeperangan tidak seperti yang diduganya sendiri. Ia mengharap
    lawannya menjadi gemetar dengan mantra dan guna-gunanya. Bahkan kemudian bersujud sambil memeluk lututnya sementara ia dapat menggoreskan pedang dileher lawan itu. Tetapi lawannya yang gemuk ini sama sekali tidak terpengaruh oleh mantra-mantranya. Danyang prapatan, kedung-kedung dan pereng-pereng Bukit Menoreh ternyata kali ini tidak merestuinya. Bahkan jimat-jimat yang tergantung dilehernya, taring celeng jantan, keyong buntet dan segala macam bebatuan dan kayu-kayuan, sama sekali tidak menolongnya.

    Gupalapun agaknya adalah seorang yang terlampau sulit untuk mengendalikan dirinya. Ketika ia melihat Ki Muni mengamuk dalam keputus asaannya, maka Gupalapun menjadi marah. Apalagi ketika pedang lengkung Ki Mami berhasil menyentuh talinya yang berwarna kekuning-kuningan sehingga terputus beberapa jari diujungnya. Dan selagi ia sibuk dengan tali itu, pedang lengkung
    yang tajam bukan kepalang itu telah menyentuh tubuhnya sehingga menitikkan darah.

    Kemarahan Gupala meluap sampai keujung rambutnya. Pedang yang tajam bukan buatan, itu benar-benar telah melukainya. Sentuhan yang tidak disangka-sangka itu ternyata telah membakar jantungnya. Untunglah bahwa luka itu tidak berbahaya dan tidak terlampau dalam.

    Namun demikian luka itu telah cukup membuatnya kehilangan pertimbangan.

    Sejenak kemudian sambil menggeram Gupala meloncat maju. Kini serangannya membadai tanpa dapat ditahan lagi oleh lawannya. Seberapa orang yang mencoba membantu Ki Muni selelah ternyata bahwa Ki Muni tidak dapat melawannya sendiri telah terpelanting jatuh dengan dada terbedah, atau kening yang berlumuran darah.

    Ki Muni menjadi semakin berdebar-debar melihat lawannya seolah-olah menjadi semakin garang. Dengan demikian ia menjadi semakin berputus asa. Tidak ada seorangpun lagi yang akan mampu menolongnya. Mantra-mantra dan jampi-jampinyapun tidak.

    Tetapi Ki Muni masih juga mencoba melawan. Pedangnya masih berputar, terayun-ayun dengan cepatnya. Namun ia sendiri sudah tidak berhasil melakukan pengamatan atas gerak-geriknya sendiri,

    Gupala yang marahpun menyerangnya semakin cepat. Sehingga akhirnya Ki Muni tidak dapat menghindar lagi. Ketika Gupala menjulurkan pedangnya, Ki Muni masih mencoba menghindarkan diri sambil memukul pedang itu. Tetapi pedang itu sama sekali tidak berkisar, bahkan kemudian terayun mengarah kelambungnya.
    Dengan gugup Ki Muni masih berusaha untuk menyilangkan pedangnya, namun ternyata kekuatan lawannya terlalu besar, sehingga ia justru terdorong beberapa langkah surut. Belum lagi ia sempat memperbaiki keseimbangannya, ternyata Gupala telah meloncat sambil berteriak untuk mengakhiri perkelahian itu.

    Dada Ki Muni berdesir. Tetapi hanya sejenak. Kemudian terasa tubuhnya terdorong beberapa langkah, dan selanjutnya ia tidak tahu apalagi yang tcrjadi atas dirinya.

    Gupala menarik pedangnya. Dilihatnya Ki Muni kemudian roboh dengan darah menjembur dari luka didadanya.

    Kematian Ki Muni benar-benar telah berpengaruh pada anak buah yang dipimpinnya. Tiba-tiba mereka merasa ngeri melihat anak muda yang gemuk berjambang lebat itu. Tanpa mereka kehendaki, merekapun berusaha bergeser menjauhinya. Namun mereka tidak dapat menghindar dari pertempuran itu. Dimana-mana mereka bertemu dengan lawan, karena para pengawal Tanah Perdikan Menorehpun telah menyebar disegala medan. Bukan saja para pengawal yang masih muda. tetapi hampir setiap laki-laki yang setia kepada Ki
    Argapati mengangkat senjata. Mereka yang telah menyimpan senjata-senjata mereka karena umur mereka telah merambat semakin tuapun, ternyata telah menarik senjata-senjata itu dari wrangkanya. Bahkan mereka yang hampir tidak pernah memegang senjatapun telah bangkit dan ikut didalam peperangan yang hiruk pikuk itu.

    Diujung lain dari peperangan itu, Gupita masih bertempur melawan Ki Wasi. Tetapi ternyata Gupita lebih banyak sesorah daripada mempergunakan ujung pedangnya. Sedang lawannyapun semakin dipengaruhi oleh perasaan heran, kenapa anak muda itu masih belum berusaha dengan sungguh-sungguh menyelesaikan pertempuran itu.

    Apalagi ketika tiba-tiba saja Gupita itu berkata “Masih ada waktu Ki Wasi. Apakah kau dapat mempergunakan?”

    Ki Wasi tiak menyawab. Tetapi sikap anak muda itu telah mengendorkan nafsu perlawanannya. Dan tiba-tiba ia melihat, bahwa peperangan ini telah menjadi semakin buas. Setiap kali ia mendengar teriakan kemarahan dan pekik kesakitan.

    “Apakah memang hal serupa ini yang aku kehendaki?” pertanyaan itu telah mengganggunya.

    Sebagai seorang dukun yang baik, Ki Wasi menjadi berdebar setiap ia melihat orang-orang yang terluka, merintih dan mengaduh.

    “Inilah permulaan dari tingkah laku Sidanti” terdengar Gupita berkata “lalu apa yang kira-kira akan dilakukan apabila ia nanti berkuasa ?”

    Ki Wasi tidak menjawab. Sepasang trisulanya masih berputaran, meskipun ia sadar bahwa hal itu tidak akan banyak gunanya.

    “Ki Wasi” desis Gupita “apakah kau tahu benar, kenapa Ki Argapati tidak mau melindungi anak laki-lakinya?”

    Ki Wasi tidak menyawab.

    “Bukankah kau hanya mendengar dari Ki Tambak Wedi atau Sidanti sendiri ? Bukankah kau belum mendengarnya dari Ki Argapati ?”

    Ki Wasi masih tetap berdiam diri. Namun perlawanannya semakin lama menjadi semakin lemah. Apalagi karena ia menyadari, bahwa lawannya sama sekali tidak ingin membunuhnya. Meskipun Gupita melukai juga satu dua orang yang berusaha membantu Ki Wasi, tetapi ternyata Ki Wasi sama sekali tidak disentuh oleh ujung senjatanya.

    Meskipun demikian, tetapi setiap kata Gupita serasa lebih tajam dari ujung senjata yang digenggamnya. Kini ia melihat akibat dari pembangkangan Sidanti.

    “Pasti ada suatu alasan kenapa Argapati tidak mau melindungi Sidanti saat itu” pikiran itu seakan-akan baru saja tumbuh dikepala Ki Wasi “Atau mungkin Sidanti dan Ki Tambak Wedi memang ingin mempercepat penyerahan kekuasaan Tanah Perdikan ini, supaya mereka dapat berbuat sekehendak hati?”

    Karena itu maka Ki Wasipun menjadi ragu-ragu. Perlawanannya menjadi semakin tidak berarti, sehingga Gupita ternyata lebih banyak melayani lawan-lawannya yang lain daripada Ki Wasi sendiri.

    Meskipun demikian, peperangan disekitar Gupita masih saja berlangsung dengan serunya. Diantara pasukan Ki Tambak Wedi, maka orang-orang yang bukan berasal dari Menoreh sendiri, mempunyai cara yang mengerikan untuk menekan keberanian lawan. Seperti disudut-sudut peperangan yang lain, mereka berbuat diluar batas. Dan merekalah yang lebih menarik perhatian Gupita daripada Ki Wasi yang seakan-akan telah kehilangan tenaganya sama sekali.

    Namun adalah diluar dugaan sama sekali, ketika tiba-tiba saja terdengar orang itu mengaduh. Gupita yang sedang menyelesaikan seseorang yang berkelahi dengan gamasnya, terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Wasi terhuyung-huyung.

    Hampir diluar sadarnya ketika tiba-tiba saja Gupita meloncat mendekati Ki Wasi. Dengan serta-merta tangannya menyambar orang tua itu sehingga ia tidak jatuh terjerembab.

    Namun tiba-tiba dadanya berdesir. Tangannya itu merasakan sesuatu yang hangat meleleh dari punggung Ki Wasi. Luka.

    “Bunuh pengkhianat itu” terdengar seseorang berieriak.

    Kini menjadi jelas bagi Gupita bahwa agaknya seseorang diantara anak buah Ki Wasi sendiri telah berusaha membunuhnya, karena ia dianggap berkhianat.

    Dan belum lagi Gupita menyajari keadaan sepenuhnya, maka seseorang telah meloncat dan berusaha menusuk punggung Ki Wasi sekali lagi. Tetapi usaha orang itu kini tidak berhasil, karena pedangnya membentur pedang Gupita. Dan bahkan pedang orang itulah yang terlempar jatuh dari genggamannya.

    “Jangan hiraukan aku anak muda desis Ki Wasi” biarlah aku menerima hukuman apa saja. Aku ternyata telah berkhianat dua kali lipat. Aku telah mengkhianati Ki Argapati dan kini aku sedang berpikir untuk mengkhianati Sidanti karena sikapmu.”

    “Masih ada kesempatan” jawab Gupita “kali ini Ki Wasi tidak sedang berkhianat. Tetapi Ki Wasi sedang berusaha memperbaiki kesalahan Ki Wasi itu.”

    Ki Wasi menggeleng lemah “Tidak ada gunanya. Lukaku parah.”

    “Bukankah Ki Wasi seorang dukun ? Apakah Ki Wasi tidak membawa obat apapun ?”

    Ki Wasi ragu-ragu sejenak, kemudian katanya “Aku memang membawa. Tetapi tidak untuk luka separah ini.”

    Hiruk pikuk peperangan mendijadi semakin seru. Sementara tubuh Ki Wasi pun menjadi semakin lemah Gupita masih mencoba menahan tubuh yang lemah itu. Tetapi seperti yang dikatakannya sendiri, Ki Wasi suduh tidak mempunyai harapan.

    Gupita menarik nafas dalam sambil memegangi tubuh itu dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya masih menggenggam pedangnya erat-erat.

    “Serahkan pengkhianat itu kepada kami” teriak salah seorang lawannya “biarlah kami menyelesaikannya.”

    “Kenapa kau anggap dia berkhianat?”

    “Ia tidak melawan kau dengan sungguh-sungguh. Jangan kau sangka bahwa tidak ada seorangpun diantara kami yang mendengar percakapan kalian, meskipun sepotong-sepotong. Kau mencoba mempengaruhinya, dan dukun gila itu agaknya sedang dirambati oleh racun perkataan-perkataanmu itu. Nah, jangan kau kira, bahwa kaupun akan dapat hidup. Justru setelah pengkhianat itu mati, kaupun akan segera diselesaikan.”

    Betapa mengendapnya hati Gupita, namun darah mudanya dapat juga menjadi panas. Tetapi ia masih belum melepaskan Ki Wasi yang menjadi semakin lemah.

    “Biarkan aku” desis Ki Wasi “aku pasti akan mati. Tidak ada kesempatan untuk mengobati aku. Tetapi biarlah, aku merasa bahwa disaat-saat terakhir aku sudah menyadari kesalahanku. Aku masih sempat untuk berpesan kepadamu. Sampaikan permohonan maafku kepada Ki Argapati.”

    Gupata tidak segera dapat menyawab. Ia melihat penyesalan yang dalam dimata Ki Wasi, sehingga ia menjadi semakin iba karenanya. Tetapi agaknya Ki Wasi memang sudah tidak akan dapat tertolong lagi. Sejenak kemudian orang tua itu menjadi semakin parah. Nafasnya seakan-akan saling berkejaran, dan sejenak kemudian terdengar ia berdesis “Tinggalkan aku.”

    Gupita tidak sempat menyawab lagi. Orang itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

    Gupitapun menarik nafas. Diletakkannya orang itu perlahan-lahan diatas tanah. Lidah api yang menjilat kelangit, menerangi wajah yang menjadi seputih kapas itu dengan cahayanya yang kemerah-merahan.

    Pada saat Gupita sedang merenungi Ki Wasi itu, hampir saja ia menjadi lengah, ketika salah seorang lawannya berhasil melepaskan diri dari para pengawal Tanah Perdikan, sehingga dengan sebuah loncatan yang panjang, ia berusaha menusuk lambung Gupita. Untunglah, Gupita menyadari keadaannya, tepat
    pada saatnya, ketika ia mendengar salah seorang pengawal berteriak “He, Gupita. Awas orang itu.”

    Gupita masih sempat berguling sekali, kemudian melenting berdiri beberapa langkah dari lawannya.

    Lawannya yang merasa kehilangan sasaran menggeram. Sekali lagi ia meloncat menyerang Gupita dengan garangnya. Namun kali ini Gupita telah siap menerimanya. Malang bagi orang itu. Gupita yang pikirannya masih dipengaruhi kematian Ki Wasi diujung jalannya kembali itu, tidak dapat mengatur perasaannya. Ketika ujung senjata lawannya terjulur kedadanya, ia bergeser kesamping. Kemudian digerakkannya ujung pedangnya, menyambar orang yang terseret oleh kekuatannya sendiri, meluncur dihadapannya.

    Terdengar keluh tertahan. Kemudian orang itu terbanting jatuh ditanah. Sejenak ia menggeliat, namun kemudian ia tidak akan bergerak-gerak lagi.

    Gupita menarik nafas. Kini tidak ada lagi orang yang disegani didaerah itu. Apalagi ketika ia melihat pasukannya berhasil menguasai keadaan. Sepeninggal Ki Wasi, maka orang-orang Ki Tambak Wedi itu seakan-akan telah kehilangan pimpinan. Seorang yang membunuh Ki Wasi, mencoba untuk memegang pimpinan dikelompok itu. Namun agaknya orang itupun tidak berumur lebih
    panjang lagi ketika pundaknya seakan-akan terbelah oleh senjata seorang pengawal Tanah Perdikan.

    Gupita yang melihat keadaan orang-orangnya telah mantap, tiba-tiba saja ingin menemui gurunya. Ada sesuatu yang mendesak. Kematian Ki Waisi yang tidak wajar itu serasa mengganggu perasaannya saja. Ia ingin melepaskannya dengan menceriterakannya kepada gurunya. Hanya sebentar, dan ia akan segera kembali
    ketempatnya.

    Karena itu, maka setelah memberitahukan maksudnya kepada seorang pengawal, Gupitapun meninggalkan tempat itu untuk menemui gurunya sebentar.

    Sejenak Gupita berputar-putar. Namun kemudian ia tertarik pada suatu lingkaran pertempuran yang seru. Dengan hati yang berdebar-debar ia mendekatinya, mungkin gurunya sedang bertempur melawan Ki Peda Sura.

    Ternyata dugaannya tidak salah. Ia melihat gurunya bertempur. Tetapi tidak hanya melawan Ki Peda Sura, tetapi melawan empat orang yang tangguh dan beberapa orang lain. Ternyata Ki Peda Sura tidak hanya memberi isyarat kepada tiga orang kawannya. Beberapa orang yang lainpun datang susul menyusul dari
    Sela-sela peperangan.

    “Hem” Gupita menarik nafas dalam-dalam gurunya memang orang yang luar biasa. Meskipun ia harus melawan sekian banyak orang, namun sama sekali tidak tampak gugup atau bingung. Dengan mantap ia menggerakkan senjatanya, menyambar-nyambar.

    Ki Peda Suralah yang justru menjadi bingung. Sudah sekian lama ia bertempur bersama beberapa orang, tetapi mereka belum berhasil mengalahkan gembala tua itu. Bahkan satu demi satu orang-orangnya terlempar dari arena.

    “Ayo, cepat, kita selesaikan saja kakek ini” teriak Ki Peda Sura “jangan beri ia kesempatan.”

    Kawan-kawanya menjadi semakin bernafsu. Tetapi terlampau sulit bagi mereka untuk dapat menembus putaran pedang kakek tua berkumis lebat itu.

    Gupita yang melihat gurunya bertempur melawan sekian banyak orang segera mendekatinya. Beberapa langkah dari arena itu ia berhenti sejenak. Sekali-sekali ia harus menghindar apabila ujung-ujung senjata meluncur diseputarnya.

    Agaknya gurunya melihat kehadirannya. Karena itu maka terdengar orang tua itu bertanya “He, Gupita. Kenapa kau berada disitu?”

    “Aku ingin menemui guru sebentar. Tetapi agaknya guru baru sibuk.”

    “Apakah ada kesulitan?”

    “Tidak guru” Gupita berhenti sejenak. Namun tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mempengaruhi lawan-lawannya dengan berita kematian Ki Wasi. Karena itu maka katanya “Aku hanya akan memberitahukan, bahwa Ki Wasi telah terbunuh.”

    “He?”

    “Ki Wasi telah terbunuh.”

    Berita itu agaknya telah mengejutkan Ki Peda Sura, sehingga dengan serta merta ia berteriak “Bohong. Siapakah yang mampu membunuh Ki Wasi ?”

    “Aku” jawab Gupita tanpa disangka-sangka.

    “Bohong. Bohong. Anak kelinci macam kau.”

    “Terserahlah kepadamu. Tetapi aku memberitahukan kepada guru bahwa Ki Wasi telah mati.”

    “Kau bunuh dia ?” bertanya gurunya sambil melajani lawan-lawannya. Sedang pertempuranpun masih berlangsung dengan hiruk pikuk. Beberapa orang pengawal mencoba untuk membantu orang tua yang harus melawan sekian banyak orang. Tetapi orang-orang Ki Peda Surapun semakin banyak pula yang datang membantunya, sehingga seperti juga orang-orang Menoreh mempersiapkan diri mereka melawan pemimpin-pemimpin pasukan Ki Tambak Wedi, dengan sekelompok kecil, agaknya demikian pulalah yang dilakukan oleh
    Ki Peda Sura.

    Dalam pada itu terdengar Gupita menjawab pertanyaan gurunya “Tidak guru. Aku tidak membunuhnya.”

    “Nah” teriak Ki Peda Sura “bukankah kau sudah membual. Ki Wasi tidak mungkin mati.”

    “Benarkah begitu?” bertanya gurunya.

    “Tidak. Ki Wasi memang sudah mati. Tetapi memang bukan aku yang membunuhnya. la telah dibunuh oleh anak buahnya sendiri.”

    “Gila” teriak Ki Peda Sura.

    “Ya. Sebenarnyalah begitu.”

    Ki Peda Sura terdiam sejenak. Sepasang senjatanya dengan dahsyatnya berputaran melanda lawannya. Tetapi lawannya benar-benar seorang yang tangguh Meskipun demikian, betapa tangguhnya seseorang, namun untuk melawan sejumlah orang yang berilmu pula, agaknya memerlukan terlampau banyak tenaga dan pemusatan pikiran, Gupita berkata “apakah aku boleh ikut
    didalam permainan ini?”

    “Bagaimanakah dengan tugasmu ?

    “Tidak ada hal yang menarik sepeninggal Ki Wasi.”

    “Bohong, bohong” Ki Peda Sura berteriak-teriak. Namun Gupita sama sekali tidak menghiraukannya,

    “Baiklah” jawab gurunya “tetapi berhati-hatilah. Lawan kita adalah orang-orang yang buas dan liar.”

    “Persetan” geram Ki Peda Sura “kau berdua adalah orang-orang yang paling licik. Kalian mencoba mempengaruhi perasaan kami dengan ceritera yang mentertawakan itu.”

    Gupita masih belum menanggapinya. Kini ia maju semakin dekat. Kemudian ia meloncat masuk kedalam arena. Yang mula-mula ditanganinya adalah mereka yang sedang bertempur melawan para pengawal yang mencoba membantu orang tua yang berkumis itu.
    Namun kemudian ia merambat semakin dekat, sehingga akhirnya, ia sudah berada diujung lingkaran pertempuran yang seakan-akan terpisah ini.

    “Setan alas, kau ingin mati lebih dahulu” geram salah seorang pembantu kepercayaan Ki Peda Sura.

    Tetapi Gupita tidak memperhatikannya sama sekali. Bahkan kemudian perhatiannya tertarik kepada dua orang yang sekaligus terluka, ketika gurunya mengayunkan pedangnya.

    “Guru memang bukan seorang pembunuh” desisnya. Dan ternyata meskipun tidak mati, namun kedua orang itu sama sekali sudah tidak mampu lagi untuk melawan karena luka-lukanya.

    Bersama Gupita, gurunya bertempur melawan orang-orang Ki Peda Sura. Namun orang-orang itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. yang penting baginya, adalah memotong induknya. Ki Peda Sura sendiri.

    Dengan hadirnya Gupita didalam pertempuran itu, maka gurunya kini lebih banyak mendapat kesempatan untuk memusatkan perhatiannya kepada Ki Peda Sura. Ia sudah tidak lagi terlalu banyak diganggu oleh senjata-senjata yang berkeliaran disekitarnya, karena sebagian dari mereka harus melayani Gupita yang bertempur seperti burung Sikatan.

    Tekanan yang semakin lama semakin berat, ternyata tidak dapat lagi dielakkan oleh Ki Peda Sura, sehingga karena itu, maka ia harus lebih banyak mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Diperasnya segenap tenaganya untuk dapat bertahan terus diantara beberapa orang-orangnya yang terpenting.

    Namun gembala tua itu dapat bergerak secepat tatit. Kamana ia pergi, ujung senjatanya selalu saja mengikutinya, seolah-olah ujung senjata itu mempunyai mata yang dapat melihatnya.

    “Persetan” ia menggeram. Dan tiba-tiba saja ia bersuit beberapa kali dalam nada yang khusus.

    “Apa lagi yang akan dilakukan iblis ini?” pikir gembala tua itu.

    Dan ternyata ia tidak perlu menunggu lebih lama. Tiba-tiba seperti laron mengerumuni nyala api, beberapa orang anak buah Ki Peda Sura menyerang gembala tua itu sejadi-jadinya dari segala pihak.

    Orang tua itu adalah orang yang cukup berpengalaman. Ia pernah bertempur melawan berbagai macam kelompok dan gerombolan. Ia pernah bertempur melawan laskar yang teratur, melawan prajurit, melawan penjahat dan melawan gerombolan-gerombolan liar. Dan iapun mengenal watak dari para pemimpin gerombolan-gerombolan liar seperti Ki Peda Sura itu. Juga sikapnya kali ini. Dengan demikian, maka gembala tua itu segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa Ki Peda Sura telah berusaha mempergunakan orang-orangnya menjadi
    perisai, sementara ia akan melarikan dirinya.

    Namun ternyata orang-orang Ki Peda Sura berbuat terlalu cepat.
    Sebelum orang tua itu menyadari keadaannya, ia sudah terkepung rapat sekali. Tidak hanya satu sap, tetapi dua sap.

    “Bukan main” ia bergumam “begitu taatnya merekaterhadap pemimpinnya.”

    Namun dengan demikian orang tua itu menyadari, bahwa ia memerlukan waktu untuk memecah kepungan itu. Dan waktu itu agaknya akan dipergunakan oleh Ki Peda Sura untuk melepaskan dirinya dari tangannya. Orang itu sama sekali tidak akan merasa bertanggung jawab atas akibat dari perbuatannya itu. Ia tidak
    akan mempedulikan lagi, apakah yang akan terjadi dengan peperangan ini. Apabila Ki Peda Sura sendiri telah berhasil melepaskan dirinya, maka orang-orangnyapun pasti akan segera berusaha lari sejauh-jauh mungkin dapat mereka lakukan.

    Karena itu, maka gembala tua itupun hanya dapat menggeram. Kini ia harus berusaha secepat-cepatnya memecahkan kepungan itu. Namun harapan untuk tetap menguasai Ki Peda Sura menjadi semakin kecil.

    Yang didengarnya hanyalah suara tertawa Ki Peda Sura. Berkepanjangan diantara dentang senjata beradu.

    Tetapi tiba-tiba suara tertawa itu terputus. Sambil meloncat menghindar Ki Peda Sura mengumpat. Ketika diperhatikannya, maka seorang anak muda yang tiba-tiba menyerangnya, adalah seorang anak muda yang gemuk.

    “He, siapa kau ? Apakah kau sudah jemu hidup he ?”
    “Mau lari kemana kau Kiai ?” bertanya anak yang gemuk itu.

    Sebelum Ki Peda Sura menyawab, terdengar gembala tua ditengah-tengah kepungan orang-orang Ki Peda Sura bertanya “He, kenapa kau berada disitu?”

    Anak yang gemuk itu belum sempat menyawab. Serangan Ki Peda Sura tiba-tiba datang membadai,

    “Bukan main” desahnya didaiam hati “serangan ini berbau maut” berkata anak yang gemuk itu didaiam hatinya.

    Namun ia segera menarik nafas dalam-dalam ketika seorang anak muda yang lain datang membantunya “Hati-hatilalah menghadapi iblis berbindi rangkap ini.”

    “Persetan iblis-iblis kecil” geram Ki Peda Sura.

    Kini Ki Peda Sura harus bertempur melawan Gupala dan Gupita sekaligus. Sementara itu guru mereka yang masih sedang berusaha memecahkan kepungan yang rapat itu mengulangi pertanyaannya “Gupala, kenapa kau berada disitu?”

    “Aku kehilangan lawanku” teriak Gupala.

    “Kemana?”

    “Ke neraka.”

    “He” orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun pedangnya masih saja berputar melindungi dirinya “apakah Ki Muni sudah terbunuh?”

    “ Ya.”

    “Siapa yang membunuhnya ?”

    “Aku. Aku telah membunuhnya dengan pedang ini setelah ia melukai aku.”

    “He, kau terluka.”

    “Ya, meskipun hanya sedikit.”

    Dan tiba-tiba terdengar Ki Peda Sura memotong “Bohong. Kalian agaknya sedang berusaha mengecilkan hati kami dengan ceritera-seritera semacam itu.”

    “Aku sudah menduga bahwa kau tidak akan percaya” jawab Gupala sambil bertempur “sebenarnya aku ingin membawa kepalanya, agar kau dapat melihatnya sendiri. Tertapi niat itu aku batalkan, karena aku masih berperikemanusiaan.”

    “Persetan” Ki Peda Sura menjadi semakin garang, dan kedua anak-anak muda itupun bertempur semakin dahsyat pula.

    “Kita bertukar lawan” mereka terperanjat ketika mereka mendengar suara itu selangkah dibelakangnya. Ternyata gurunya telah berihasil memecah kepungan lawan-lawannya, dan kini telah siap menghadapi Ki Peda Sura. Katanya kemudian. “Tahanlah orang-orang itu supaya aku mendapat kesempatan melanjutkan permainanku dengan Ki Peda Sura. Lalu katanya kepada Ki Peda Sura
    “Ayo, Kiai. Jangan bubar. Aku masih belum jemu dengan permainan yang mengasyikkan ini.”

    Wajah Ki Peda Sura menjadi merah membara. Ia tahu arti dari kata-kata gembala tua itu. Agaknya orang itu sama sekali tidak ingin melepaskannya, sehingga bagaimanapun juga, ia akan selalu mengejarnya.

    Kemarahan Ki Peda Sura sudah sampai dipuncak kepalanya. Tetapi ia bukannya orang yang tidak melihat kenyataan, bahwa lawannya sama sekali tidak akan dapat dilawannya. Tetapi ia belum menemukan jalan apapun untuk menghindarinya.

    Sejenak kemudian maka Ki Peda Sura harus bertempur lagi melawan gembala tua itu. Beberapa orang kepercayaannya segera membantunya pula, sedang beberapa orang lagi diantara mereka masih harus melawan Gupala dan Gupita, semenitara para pengawal Menorehpun telah mencoba mengurangi jumlah lawan mereka.

    Tetapi betapa liciknya Ki Peda Sura. Dengan cara yang sama, mengorbankan orang-orangnya, ia masih berusaha untuk melarikain dirinya. Beberapa orang kepercayaannya dengan membabi buta telah menyerang gembala tua dan yang lain kedua murid-muridnya.
    Sementara itu Ki Peda Sura mempergunakan kesempatan untuk melenyapkan dirinya didalami hiruk pikuk peperangan. Namun kali ini ia tidak berani mengangkat dadanya sambil melepaskan suara tertawanya.

    “Licik” geram gembala tua itu. Ki Peda Sura adalah seorang yang memiliki ilmu cukup tinggi. Tidak jauh dibawah gembala tua itu. Tidak jauh pada dari Ki Tambak Wedi sendiri. Karena itu, ketika ia berusaha melarikan diri, menyusup didaiam hiruk pikuknya peperangan, ia tidak terlampau banyak mengalami
    kesulitan.

    Betapapun gembala tua itu menahan hatinya, tetapi pada suatu saat kemarahannyapun terungkat pula. Ia sudah berada di peperangan setelah terlalu lama ia tidak mengalaminya. Dan di dalam peperangan yang bersungguh-sungguh ini ia telah kehilangan lawannya. Karena itu maka dengan terpaksa sekali, ia berusaha menyingkirkan orang-orang yang telah mengurung dengan rapatnya.

    Ketika satu dua orang dari mereka terlempar sambil mengaduh, bahkan ada yang tidak sempat mengeluh karena pedang orang tua itu langsung menembus jantung, terdengar orang tua itu bergumam “Bukan maksudku. Bukan maksudku membunuh orang-orang yang tidak ikut menentukan sikap itu.”

    Namun orang tua itu tidak dapat menghindarinya, karena mereka berkelahi seperti orang kesurupan iblis. Sedang dibagian yang lain, Gupita dan Gupalapun mengalami persoalan yang serupa.

    Ketika orang tua itu sudah berada diluar kepungan, karena tidak ada seorangpun lagi yang dapat melakukannya, maka Ki Peda Sura seakan-akan telah hilang ditelan oleh api pertempuran yang semakin seru itu.

    “Aku kehilangan lawan” desis orang tua itu. Adalah terlampau sukar untuk mencari seseorang yang sengaja bersembunyi diantara ributnya peperangan itu. Pada permulaan peperangan ini, mencari Ki Peda Sura tidak akan terlalu sulit. Ia pasti berada disalah satu ujung bagian dari seluruh gelar. Selain daripada itu, ia pasti menjadi pusat dari sekelompok lawan karena ia mempunyai banyak kelebihan. Tetapi untuk mencari Ki Peda Sura yang berlindung pada sekian keributan memang tidak akan mudah.

    Meskipun demikian, gembala tua itu tidak berputus asa. Sekilas ia melihat dua orang rnuridnya bertempur. Tetapi ia tidak mencemaskan nasib keduanya. Karena itu maka katanya “Tinggallah disini, aku akan mencari iblis yang licik itu.”

    “Tetapi aku berjanji untuk kembali ketempafcku semula” jawab Gupita.

    “Kembalilah. Disini dan ditempatmu itu tidak akan banyak bedanya sekarang. Lawanmu telah menjadi patah kemauan. Mereka tinggal mendorongnya pergi dari tempat ini.”

    “Bohong” teriak salah seorang dari mereka ”aku akanmembunuh kalian.”

    Tetapi kata-katanya terputus ketika Gupala meloncat sambil berkata lantang “Tutup mulutmu. Jangan membual.”

    Orang itu terkejut bukan buatan. Tetapi terlambat. Ia tidak mampu menghindari pedang Gupala yang menjulur lurus kedadanya. Sehingga yang terdengar kemudian adalah keluhan tertahan. Namun orang yang hampir sampai dibatas ajalnya itu tiba-tiba berteriak “Aku bunuh kalian. Aku bunuh kalian.”

    Begitu suaranya hilang didalam hiruk pikuknya dentang senjata, tubuhnyapun jatuh terbanting ditanah.

    Gembala tua itu melihat sambil menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kearah Gupita, dilihatnya rnuridnya yang tua itu menggigit bibirnya.

    “Anak itu harus diajar untuk sedikit menahan diri.” berkata gembala tua itu didaiam hatinya “adalah wajar membunuh dipeperangan. Tetapi nafsunyalah yang terlampau membakar dadanya. Membunuh meskipun dipeperangan, bukanlah permainan yang dapat dilakukan sekehendak hati.”

    Namun ketika tiba-tiba teringat olehnya Ki Peda Snra, maka gembala tua itupun sekali lagi berkata “Berhati-hatilah. Aku akan pergi.”

    “Silahkan guru” jawab Gupita “akupun akan bergeser ketempatku pula.”

    Sejenak kemudian gembala tua itupun segera meloncat diantara hiruk-pukuknya ujung senjata. Sekali-kali langkahnya tertahan, namun kemudian dengan tergesa-gesa iapun melanjutkannya.

    Sementara itu Gupitapun sedang berusaha menghindarkan diri dari kekisruhan ditempatnya. Beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah berada disekitarnya pula. Betapa kekaguman mereka melihat bagaimana gembala itu menyelesaikan lawa-lawannya. Bagaimana ia menggerakkan pedangnya, dan bagaimana ia berloncatan seperti burung sikatan. Bahkan gembala yang gemuk itupun mampu bergerak dengan liacahnya tanpa dibebani oleh dagingnya yang seolah-olah berlebihan.

    “Gupala” berkata Gupita “aku akan kembali ketempatku. Apakah kau akan tinggal disini ?”

    “Aku sudah tidak mempunyai lawan.”
    “Akupun tidak. Tetapi aku sudah berjanji.” Gupala tidak segera menyawab. Tetapi senjatanyalah yang sedang berbicara. Dan Gupita hanya dapat mengangkat bahunya ketika ia melihat darah menyembur dari luka dilambung lawan Gupala itu.

    Sejenak ia masih melihat Gupala bertempur. Kemudian ditiggalkannya anak muda yang gemuk itu, yang kini berada diantara para Pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Bagi para pengawal, Gupala terasa lebih menarik dan mengagumkan dari anak muda yang seorang lagi, karena Gupala terasa lebih banyak berjasa didalam peperangan ini.

    Gupitapun kemudian kembali keteampatnya semula. Ketempat Ki Wasi terbunuh oleh kawan-kawannya sendiri.

    Ternyata bahwa para pengawal Tanah Perdikan masih belum dapat menguasai keadaan sepenuhnya. Meskipun Ki Wasi sudah tidak ada lagi. namun mereka masih harus bekerja keras untuk menahan arus lawan. Seorang yang berbadan pendek, berdada lebar, agaknya telah berusaha memimpin kelompok itu. Orang itu agaknya memiliki kemampuan yang lebih baik dari kawannya. Namun ia tidak terpaut terlampau banyak, sehingga orang yang pendek itupun tidak dapat banyak berbuat.

    Kedatangan Gupita segera dapat merubah keseimbangan. Meskipun ia tidak segarang Gupala, namun orang yang pendek itupun segera dapat dilumpuhkannya.

    Dengan demikian, maka orang-orang Ki Tambak Wedi itupun kemudian berperang tanpa ikatan. Sebagian mereka, yang justru tcrdiri dari orang-orang yang berasal dari luar Menoreh, yang dibawa oleh Ki Peda Sura dan oleh beberapa orang yang sekedar ingin mengail diair yang keruh, ternyata telah biasa bertempur tanpa pimpinan. Mereka justru mcnjadi bertambah liar dan buas.

    Diujung peperangan, Ki Tambak Wedi masih harus memeras tenaganya melawan Ki Argapati dan puterinya Pandan Wangi. Ki Argapati yang masih belum sembuh benar itu, agaknya telah terpaksa memeras tenaganya. Bahkan ia telah berbuat melampaui batas-batas yang dapat mengganggu dadanya yang terluka. Tetapi melawan Ki Tambak Wedi ia tidak dapat membatasi diri, kalau ia tidak ingin luka didadanya itu bertambah lagi dengan sebuah tusukan nenggala. Karena itu, maka ia telah memeras segenap kemampuannya untuk melawan iblis yang mengerikan itu.

    Namun betapapun juga luka didadanya itu telah membatasi kemampuannya. Ia tidak dapat sampai kepuncak ilmunya. Untunglah bahwa disampingnya ada puterinya Pandan Wangi yang dapat mengisi setiap kekurangan, sehingga Ki Tambak Wedipun tidak segera berhasil membinasakan lawannya.

    Tetapi sebenarnya kehadiran Pandan Wangi itu telah membuat Ki Argapati selalu berdebar-debar pula. Ia sama sekali tidak mencemaskan nasibnya sendiri. Adalah wajar baginya sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan, seandainya ia harus mengorbankan apapun yang dimilikinya. Bahkan nyawanya. Tetapi ia sama sekali tidak rela apabila Pandan Wangipun akan mati terbunuh pula. Pandan Wangi adalah satu-satunya anaknya yang akan dapat menyambung keturunan. Trah Argapati. Kalau Pandan Wangi terbubuh pula, maka Sidantilah yang akan menjebut dirinya trah Argapati, dan berhak mewarisi pimpinan Tanah Perdikan ini tanpa ada orang yang menggangu gugat.

    Karena itulah, maka betapa lukanya menganggunya, tetapi Argapati telah memeras segenap tenaga dan kemampuannya. Ia harus bertahan. Apapun yang akan terjadi.

    Meskipun demikian, namun tenaganya memang menjadi terbatas. Apalagi ketika tangannya meraba pembalut luka itu. Terasa sesuatu menghangati tangannya. Darah. Darah yang telah merembes dari lukanya yang belum sembuh benar.

  14. ADBM 43 Halaman 62 s/d selesai

    Dalam pemusatan tenaga, agaknya luka itu telah menitikkan darah. Gerak yang terlampau banyak dan geseran-geseran pembalutnya, telah memperderas tetesan darah itu

    Dengan demikian maka Ki Gede Menoreh itupun menjadi semakin berdebar-debar. Telah berapa puluh kali ia harus berhadapan dengan lawan. Seorang lawan seorang, atau dipeperangan. Tetapi ia belum pernah mengalami kegelisahan seperti kali ini. Kegelisahan yang terbesar justru karena ia memikirkan nasib puterinya.

    Namun karena itulah maka Argapati sama sekali tidak menghiraukan dirinya sendiri. Dengan kemampuan yang ada padanya, ia bertempur mati-matian. Tombak pendeknya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya seakan-akan ia tidak sedang diganggu oleh luka didiadanya.

    Tetapi Ki Tambak Wedi yang pernah bertempur melawan Ki Argapati, merasakan, bahwa tenaga Ki Argapati tidak sepenuh Kemampuannya apabila ia tidak diganggu oleh luka itu. Itulah sebabnya maka ia berpengharapan, pada saatnya Ki Argapati akan kehabisan tenaga dan dengan mudah menyelesaikanya. Tanpa Ki Argapati, Pandan Wangi sama sekali bukan apa-apa lagi baginya.

    Ki Tambak Wedi yang licik itu tersenjum didaiam hati. Hampir pasti, bahwa kali ini Ki Argapati tidak akan dapat menghindari ujung senjatanya. Dua kali ia berkelahi melawan Ki Argapati dalam perang tanding. Seorang lawan seorang, ia telah gagal mengalahkanya. Kemudian dengan akal yang licik dan curangpun ia tidak berhasil. Kini agaknya kesempatan telah terbuka baginya.

    “Tanpa Ki Argapati, pasukan Pengawal Menoreh ini akan segera dapat disapu seperti asap. dihembus angin.” katanya didalam hati. “Apalagi tidak searang pun yang akan mampu memimpin pasukan Pengawal ini. Yang paling bernilai dari setiap orang di Tanah Perdikan ini adalah Pandan Wangi. Dan betapa mudahnya menyelesaikan anak ini. Kalau aku tidak sampai hati untuk melakukannya, karena wajahnya yang mirip dengan wajah ibunya itu, biarlah Peda Sura menangkapnya, hidup atau mati.
    Terserah, apakah yang akan dilakukannya. Kalau Sidanti dan Argajaya berkeberatan, maka lebih baik anak itu dibunuh saja, seperti yang sudah diputuskan.”

    Dengan demikian maka tandang Ki Tambak Wedipun menjadi semakin garang. Ia melihat setiap kali Argapati terpaksa melontar surut, menahan dadanya dan barulah ia mengerahkan kemampuannya untuk menyerang kembali.

    Bahkan Ki Tambak Wedi itu tidak dapat lagi menahan perasaannya, sehingga terdengar ia berdesis “Apakah lukamu kambuh lagi Argapati ?”

    Dada Ki Argapati berdesir mendengar pertanyaan itu. Agaknya Ki Tambak Wedi telah melihat kelemahannya, sehingga dengan demikian Ki Tambak Wedi akan dapat memperhitungkan dengan tepat apa yang bakal terjadi dalam peperangan ini.

    Namun meskipun demikian, Ki Argapati masih juga tersenyum “Nah, bukankah kau hanya sekedar menunggu? Kau tidak dapat mengambil peranan apa-apa dalam perkelahian ini Ki Tambak Wedi, sehingga dengan demikian kau hanya dapat mengharap, mudah-mudahan aku terganggu oleh bekas lukaku.”

    “Persetan” Ki Tambak Wedi menggeram. Kemarahannya telah benar-benar membakar seluruh isi dadanya. “Kau harus segera selesai Argapati. Kemudian memusnahkan seluruh anak buahmu termasuk anak gadismu itu.”

    Ki Argapati tidak menyawab. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa kekuatanya pasti terbatas. Darah yang mengalir semakin deras itu, pasti akan segera mempengaruhi daya tahannya.

    Dibagian-baghian yang lain tidak ada kekhususan yang menarik dari pcperangan itu. Ternyata Sidanti dan Argajaya mendapat lawan yang tangguh. Mereka tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja diatas bukit Menoreh itu hadir orang-orang yang dapat mengimbangi kemampuannya, meskipun masih harus mendapat bantuan dari orang-orang disekitarnya.

    Tetapi Akhirnya kedua orang pengawal Sutawijaya itu tidak dapat bertahan terlampau lama dengan senjata cambuknya. Senjata yang tidak biasa dipergunakannya. Karena itu, maka akhirnya mereka telah memindahkan cambuk-cambuk itu ketangan kiri. Dan merekapun segera bertempur dengan pedangnya. Dengan demikian keadaan mereka menjadi semakin mantap.

    Yang paling mencemaskan diselutruh medan adalah justru Ki Argapati sendiri. Tekanam Ki Tambak Wedi semakin lama menjadi semakin berat, sehingga Ki Argapati telah mulai terdesak beberapa kali. Sekali-sekali tangan kirinya ditelekankan kedadanya yang terasa mulai pedih.

    “Ha” Ki Tambak Wedi tertawa “nyawamu telah berada damulut lukamu itu. Sebentar lagi kau akan menjadi lemas, dan tanpa kau kehendaki kau akan terbaring ditanah. Betapa mudahnya membunuhmu saat itu.”

    “Tutup mulutmu” Pandan Wangi membentak sambil menyerang sejadi-jadinya, sehingga terdengar ayahnya menahannya “Wangi.”

    Tetapi Pandan Wangj tidak menghiraukannya. Tiba-tiba gadis itu telah dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap, sehingga ia tidak lagi dapat mengendalikan dirinya. Ia tidak memperhitungkan lagi dengan siapa ia berhadapan.

    “He, apakah kau gila anak manis” teriak Ki Tambak Wedi.

    Pandan Wangi tidak menyawab. Penglihatannya tentang keadaan ayahnya hampir membuatnya berputus asa. Karena itu sebelum ia melihat ayahnya dikalahkan oleh Ki Tambak Wedi, maka lebih baik ia menentukan akhir dari perkelahiannya. Kalau ia berhasil bersama ayahnya mengalahkan Ki Tambak Wedi biarlah itu segera terjadi sebelum ayahnya kehabisan darah. Tetapi
    kalau ia harus mati, biarlah ia mendahului ayahnya.

    “Pandan Wangi” sekali lagi ia mendengar suara ayahnya. Tetapi Pandan Wangi tidak menghiraukannya. Sepasang pedangnya berputaran seperti sepasang angin pusaran yang libat-melibat. Namun demikian, untuk dapat mengalahkan Ki Tambak Wedi dalam keadaan serupa itu, meskipun ia bersama ayahnya, adalah
    sama dengan menunggu tumbuhnya jamur dimusim kemarau. Ayahnya telah menjadi semakin lemah, dan dirinya sendiri pasti tidak cukup kekuatan untuk melawan iblis yang telah menodai nama ibunya.

    “Pandan Wangi” teriak Ki Tambak Wedi “jangan gila.”

    Tetapi Pandan Wangi sudah tidak menghiraukan lagi. Kelembutan diwajahnya telah lenyap disaput gelapnya hati. Rambutnya tiba-tiba telah terurai dan matanyapun telah menjorotkan sinar keputus-asaan.

    “Wangi, Wangi” ayahnya masih mencoba mencegahnya. Tetapi ia seakan-akan sudah tidak mendengar apapun lagi. Namun ternyata betapa hitamnya hati Ki Tambak Wedi, ia masih juga dapat dipengaruhi oleh perasaannya. Pandan Wangi yang berurai rambut, sorot mata keputus asaan, dan gemeretak gigi itu sekali lagi telah membayangkan kenangan yang ingin dilupakan oleh Ki Tambak Wedi. Kini seolah-olah ia melihat Rara Wulan yang menyusulnya ke Pucang Kembar pada saat ia sedang melawan Arja Teja. Pandan Wangi yang putus asa itu seolah-olah berteriak kepadanya “Inilah dadaku. Disinilah kau menghujamkan senjatamu itu.”

    Ki Argapati menjadi heran melihat Ki Tambak Wedi beberapa kali meloncat surut. Namun dengan tiba-tiba lelah menyerangnya dengan garangnya. Tetapi seolah-olah orang itu selalu menghindari benturan dengan senjata Pandan Wangi.

    . Ki Argapati tidak mengerti apa yang tersirat didalam hati lawannya. Karena itu ia masih selalu dicemaskan oleh sikap puterinya itu. Meskipun kadang-kadan ia masih mampu melindunginya, namun gerak Pandan Wangi yang tidak terkendali itu kadang-kadang telah menempatkannya pada jarak yang terlampau jauh daripadanya.

    “Pandan Wangi” desis Ki Tambak Wedi “kau jangan berbuat gila. Lebih baik kau pergi dari arena ini.”

    “Itu akan lebih gila lagi” sahut Pandan Wangi “aku akan membunuhmu atau kau membunuhku.”

    “Anak setan” geram Ki Tambak Wedi “aku ingin membunuh ayahmu.”

    “Dan setiap orang disini” sambung Pandan Wangi “nah kalau begitu bunuh aku lebih dahulu”

    “Wangi” potong ayahnya “jangan kehilangan akal. Pakai otakmu didalam setiap peperangan.”

    Tetapi Pandan Wangi seakan-akan tidak mendengar lagi kata-kata ayahnya. Dengan demikian maka ia masih saja berkelahi tanpa terkendali. Dengan sepasang pedang yang terayun-ayun dengan cepatnya ia berloncatan menyerang Ki Tambak Wedi.

    Ki Argapati yang merasa semakin lemah, terpaksa menyesuaikan dirinya dengan tata gerak anaknya, supaya Pandan Wangi tidak terlepas sama sekali dari perlindungannya apabila keadaan sangat mendesak. Karena itu, maka ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menghemat tenaganya. Namun dengan demikian Ki Tambak Wedipun menjadi sibuk untuk melayani ayah beranak itu..

    “Anak setan” ia menggeram didalam hatinya. Dicobanya untuk menemukan kekuatan, agar ia tidak selalu dibayangi oleh perasaannya.

    Dan ketika ia terdesak beberapa langkah, maka ia menggeretakkan giginya sambil berkata “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli siapa dia.”

    Maka terdengar orang tua itu menggeram. Dan tiba-tiba saja ia berteriak nyaring “Persetan kalian berdua. Kalian harus segera mati. Dan padukuhan ini harus menjadi abu sebelum fajar.”

    Ketika Ki Tambak Wedi kemudian melepaskan segala macam keragu-raguannya, maka tenaga Ki Argapatipun menjadi semakin terperas karenanya. Dan ia sendiri menyadari, bahwa ia tidak akan dapat bertahan sampai fajar.

    Para pengawal yang mampu melihat keseimbangan yang sedang cendong dengan perlahan-lahan itupun mencoba untuk mendapatkan kesempatan membantu Kepala Tanah Perdikannya, agar Ki Argapati mendapat kesempatan untuk menahan diri. Samekta pun kemudian melihat kelemahan Kepala Tanah Perdikannya, sehingga hatinya menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa luka didada Ki Argapati pasti telah mengganggunya.

    Tetapi apa yang dapat dilakukan adalah tidak terlampau banyak berarti. Namun bersama dengan setiap orang yang ada. dsekitar pertarungan itu, Samekta berusaha untuk memperpanjang daya perlawanan Ki Argapati dan Pandan Wangi,

    Namun setiap kali Samekta selalu digelisahkan oleh kemungkinan yang dapat terjadi ditempat-tempat lain. Ia masih belum mendapat gambaran dari seluruh peperangan. Pada saat terakhir ia memang sedang menunggu beberapa orang yang dikirimkannya ke beberapa bagian dari gelarnya untuk melihat keadaan.

    Dengan tergesa-gesa ia berusaha menemui penghubungnya yang pcrtama-tama datang mendekatinya “Bagaimana ?” ia bertanya.

    “Ki Muni telah terbunuh” desis penghubung itu.

    “He”

    “Ki Muni.”

    “Benar begitu ?”

    “Ya.”

    “Lalu bagaimana keadaan medan ditempat itu.”

    “Anak yang gemuk itu telah meninggalkan arena, masuk kedaerah peperangan yang lebih dalam.”

    “Apakah yang dilakukannya ?”

    “Aku mencoba mencari hubungan. Ternyata Ki Peda Sura sudah melarikan diri. Tetapi gembala tua itupun tidik ada ditempatnya. Yang ada justru anak yang gemuk itu. Ketika aku berhasil mendekatinya, ia mengatakan bahwa ayahnya sedang mencari Peda Sura.”

    Samekta menarik nafas dalam-dalam. Harapannya yang menjadi pudar ketika a melihat Ki Argapati selalu terdesak, kini menjadi cerah kembali. Dengan demikian, maka keadaan pasukan dikedua belah pihakpun pasti akan terpengaruh oleh keadaan itu. Apalagi ketika kemudian ia mendengar dari penghubungnya yang lain, bahwa Ki Wasi telah mati. dibunuh oleh anak buahnya sendiri

    “Kenapa?” bertanya Samekta,

    Penghubung itu menggelengkan kepalanya “Entahlah.” Memang hal itu agak kurang penting bagi keadaan seluruh peperangan ini.

    “Dimana anak gembala yang bernama Gupita itu ?”

    “Ia masih berada ditempatnya. Kehadirannya ditempat itu ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar, apalagi sepeninggal Ki Wasi.”

    Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat membuat perhitungan dalam sekilas, bahwa pengaruh dari keadaan itu, pasti akan terasa sampai keinduk pasukan ini. Beberapa orang anggauta pasukan diinduk ini pasti akan terpaksa mengalir, membantu ketempat-tempat yang akan menjadi semakin lemah.

    “Beberapa orang akan mendapat kesempatan membantu Ki Argapati” desisnya, namun kemudian “tetapi untuk melawan Ki Tambak Wedi, apakah akan banyak dapat membantu ?”

    Pertanyaan serupa itulah yang selalu mengganggunya. Dan kini ia melihat Ki Argapati menjadi semakm lemah. Bahkan Pandan Wangipun menjadi semakin mencemaskannya. Kadang-kadang ujung senjata Ki Tambak Wedi hampir saja berhasil menyentuh tubuhnya. Dalam keadaan yang demikian, Ki Argapati telah
    memaksa dirinya untuk meloncat melindunginya, betapa ia memeras tenaganya yang terasa menghentak-hentak lukanya.

    Samekta memang tidak dapat menunggu dan membiarkan terlampau lama. Kemudian beberapa orang yang dianggapnya mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawannya telah ditariknya untuk mencoba mengganggu Ki Tambak Wedi.

    Cara itu telah membuat darah Ki Tambak Wedi semakin mendidih, sehingga ia sudah tidak menghiraukan apapun lagi. Senjatanya segera berputaran, dan setiap kali ia melemparkan seorang lawannya dari arena.

    Iblis dari lereng Merapi itu benar-benar telah bertempur dengan dahsyatnya. Senjatanya menjadi semakin mengerikan, dan patrapnyapun telah membuat setiap tengkuk meremang.

    Ki Argapati yang melihat lawannya menjadi semakin buas menjadi gemetar menahan marahnya. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan. bahwa lukanya sangat mengganggunya.

    Namun Ki Argapati kini berdiri didalam keadaan tanpa pilihan. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah bertempur tanpa memikirkan bagaimana akhir dari pertempuran itu bagi diri sendiri, meskipun hal tu telah dapat diperhitungkannya.

    Tetapi usaha Samekta dengan beberapa orang anggauta pengawal pilihan ternyata berpengaruh juga. Setiap kali Ki Tambak Wedi harus mengumpat-umpat sambil menghindarkan diri dari patukan senjata-senjata yang seolah-olah mengerumuninya.

    Dibagian belakang dari gelar Gayah Meta yang sudah menjadi semakin lebar itu, ternyata telah terjadi perubahan kesembangan. Tempat-teampat yang ditinggalkan oleh Ki Wasi dan Ki Muni, telah berubah sama sekali. Para pengawai Tanah Perdikan Menoreh telah hampir-hampir dapat menguasai seluruh keadaan. Apalagi setelah Ki Peda Sura meninggalkan arena tanpa memberikan pesan dan petunjuk apapun kepada anak buahnya.

    Kemunduran pasukan Ki Tambak Wedi ditempat-tempat itu ternyata sangat mempengaruhi keadaan disekitarnya. Beberapa orang didalam kelompok-kelompok yang lain terpaksa harus bergeser membantu tempat-tempat yang menjadi semakin lemah. Beberapa orang yang berada didalam pimpinan Sidanti dan dibagian lain dipimpin oleh Argapati, tidak dapat membiarkan gelar yang bulat itu akan terpecah.

    Sehingga sejenak kemudian, dibelahan belakang dari gelar Gayah Meta yang harus menghadapi kepungan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang semakin mendesak itu, menjadi semakin berbahaya. Apalagi karena Gupala hampir-hampir tidak mau mengekang dirinya, sehingga lingkaran arena diseputarnya menjadi semakin ribut. Lawan-lawannya harus menghadapi dalam kelompok-kemlompok kecil, meskipim mereka tidak dapat menahan putaran pedangnya yang seakan-akan melanda pasukan Ki Tambak Wedi yang sudah
    menjadi semakin kisruh. Apalagi para pengawal yang ada disekitarnya, memanfaatkan pula keadaan itu dan bertempur sejauh-jauh kemampuan mereka.

    Sidanti dan Airgajaya yang kemudian mendengar dan seorang penghubung tentang keadaan itu menggeram seperti seekor harimau lapar. Tetapi mereka tidak dapat berbuat terlampau banyak karena mereka ternyata menemukan lawan yang pilih tanding. Wrahasta dan Kerti ditempat masing-masing cukup memberikan pengaruh pula pada pertempuran disekitar lingkaran perkelahian
    yang dahsyat antara Sidanti, Argajaya dan lawan-lawannya.

    Setelah lawan-lawan Sidanti dan Argajaya bertempur dengan senjata mereka sendiri, maka segera tampak bahwa Dipasanga dan Hanggapati adalah seorang prajurit. Meskipun pada dasarnya mereka memiliki ilmu masing-masing, namun pengaruh lingkungan keprajuritan segera tampak. Apalagi prajurit-prajurit yang telah mengalami berbagai macam persoalan seperti keduanya.

    Karena itulah maka Sidanti dan Argajaya menjadi berdebar debar. Apakah persoalan Tanah Perdikan Menoreh telah menjadi persoalan didalam istana, sekaligus untuk mencari jejaknya dan gurunya.

    Dengan demikian, maka Sidanti dan Argajaya menjadi semakin lama semakin gelisah. Namun mereka tidak dapat segera mengambil sikap. Mereka hanya dapat menunggu, apa yang akan diperintahkan oleh Ki Tambak Wedi.

    Diarena pertempuran yang lain, Ki Tambak Wedi masih belum terlampau merasakan tekanan-tekanan dibagian-bagian gelamja. Ia masih memusatkan segenap perhatiannya untuk menjelesaikan Argapati yang semakin lama menjadi semakin lemah. Pandan Wangi yang berusaha bertempur sekuat tenaganya dan justru hampir-hampir menjadi putus asa itu, menjadi semakin cemas melihat keadaan ayahnya.

    Namun agaknya beberapa orang yang berusaha membantu Ki
    Argapati dan Pandan Wangi, dapat memperingan tekanan-tekanan yang diberikan oleh Ki Tambak Wedi.

    Betapa Ki Tambak Wedi mengumpat-umpat didaiam hati, setiap kali ia harus menghindari ujung tombak yang dilontarkan kearahnya, kemudian ajunan pedang yang menyambar dari belakang. Sebuah pisau yang menyambar dari arah yang tidak terduga-duga dari antara sekian banyak lawan-lawannya.

    “Setan” ia mengumpat, dan iblis tua itu menjadi semakin marah. Bukan saja kepada lawan-lawannya, tetapi juga kepada orang-orangnya sendiri. Mereka sama sekali tidak berhasil menghalau para pengawal yang seakan-akan mengepungnya dalam suatu lingkaran yang terpisah dari seluruh peperangan.

    “Kemana orang-orang gila ini?” ia menggeram. Setiap kali ia berusaha melihat pasukannya. Dan setiap kali ia melihat kesibukan yang luar biasa. Agaknya pertempuran disekitarnyapun menjadi semakin dahsyat pula.

    “Meskipun demikian” ia berkata didaiam halinya “adalah terlampau bodoh untuk membiarkan tikus-tikus ini mengerumuni aku, sehingga usahaku menjadi selalu terganggu.”

    Akhirnya Ki Tambak Wedi menjadi tidak sabar lagi. Terdengar ia bersuit nyaring, dua kali ganda.

    Setiap orang didaiam pasukannya mengetahuinya, bahwa dengan demikian Ki Tambak Wedi memerlukan beberapa orang untuk membantunya. Melihat keadaan medan disekitarya, maka Ki Tambak Wedi pasti memerlukan orang-orang untuk menghalau para pengawal yang mengitarinya.

    Tetapi betapa sulitnya untuk menghindarkan diri dari lawan masing-masing yang terasa semakin lama menjadi semakin banyak. Bahkan seolah-olah setiap orang harus melawan bukan saja seorang lawan saja, tetapi didalam hiruk pikuk peperangan, lawan-lawan mereka serasa selalu bergeser dari yang seorang keorang yang lain.
    Mereka menjadi terkejut ketika tiba-tiba dihadapan mereka telah berdiri seorang tua yang berkumis lebat, menyambar senjata mereka sehingga senjata itu terpelanting, kemudian meloncat dan hilang didalam peperangan itu, untuk muncul ditempat lain, dan berbuat serupa pula. Dalam keadaan yang demikian, maka orang-oran didalam pasukan Ki Tambak Wedi menjadi bingung dan kadang-kadang ada diantara mereka yang kehilangan akal, karena tiba-tiba senjatanya telah terlepas.

    Tanpa senjata dipeperangan yang seru terasa benar-benar mengerikan.

    Tetapi orang tua berkumis itu sendiri. Seakan-akan tidak mempedulikan lagi lawan-lawannya yang telah kehilangan senjata. Ia pergi tanpa berbuat sesuatu. Namun meskipun demikian, para pengawal Tanah Perdikan Menorehlah yang selalu mempergunakan kesempatan, selagi orang-orang yang kehilangan senjata itu masih belum berhasil memungut senjatanya itu kembali.

    Dengan demikian, maka keadaan hampir diseluruh medan segera berubah. Meskipun tidak seganas Gupala, namun Gupita telah mulai dijauhi pula oleh lawan-lawannya. Sidanti dan Argajaya, seakan-akan terikat oleh lawan masing-masing, meskipun lawan-lawan mereka tidak lebih unggul dari mereka masing-masing. Namun kesempatan yang ada pada Wrahasta dan Kerti telah dipergunakan sebaik-baiknya.

    Ki Tambak Wedipun kemudian menyadari keganjilan yang ada didalam pasukannya dan pasukan lawan. Ternyata perhitungannya telah meleset dari kenyataan yang dihadapinya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa selain Argapati dan Pandan Wangi, didalam lingkungan dinding pering ori itu terdapat orang-orang yang dapat mengimbangi pemimpin didalam pasukannya, entah darimana mereka datang.

    Betapa kemarahan telah membakar dadanya, tetapi ia harus menghadapi kenyataan yang ada dimedan yang seru itu. Iblis itupun menyadari, bahwa pasti ada suatu sebab, bahwa orang-orangnya tidak dapat memenuhi panggilannya, atau hanya sebagian saja dari mereka yang dapat mendekatinya dan membantunya mengusir para pengawal yang mengerumuninya. Meskipun demikian, ia masih belum leluasa untuk melakukan tekanan atas Argapati dan
    Pandan Wangi.

    Betapa lemahnya Argapati, namun ia masih jauh berada diatas kemampuan orang-orangnya dan bahkan masih mampu membuatnya berdebar-debar dengan ujung tombak pendeknya.

    Ki Tambak Wedi yang marah itu menggeram. Terasa dadanya seakan-akan meledak. Harapannya untuk membuat padukuhan ini menjadi karang abang sebelum fajar, agaknya sama sekali tidak akan dapat dilakukan.

    Dengan susah payah seorang penghubungnya telah berhasil mendekatinya dan memberitahukan apa yang telah rerjadi dimedan. Dengan demikian maka serasa jantung Ki Tambak Wedi itu terbakar didalam dadanya.

    Tetapi Ki Tambak Wedi masih cukup sadar, bahwa ia tidak dapat membiarkan dirinya hanjut dalam arus perasaannya. Ia harus mampu mencari kemungkinan yang paling baik disaat-saat mendatang.

    Dengan demikian, maka tekanan ia terhadap Ki Argapati yang semakin lemah dan atas Pandan Wangipun mengendor pula. Senjata-senjata yang berterbangan menyambarnya serasa semakin banya. Pisau-pisau belati dan bahkan tombak-tobak pendek. Ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk melihat, siapakah yang telah melontar-lontarkan senjata-senjata itu. sehingga setiap kali ia harus berloncatan menghindarinya.

    Yang dapat dilihatnya adalah orang-orang Menoreh yang memandanginya dengan sorot mata yang menyala. Sekilas dilihatnya seorang herkumis dan kemudian seakan-akan lenyap ditelan oleh para pengawal yang lain. Tetapi orang-orang itu satu persatu tidak menarik perhatiannya sama sekali.

    Yang menjadi pusat perhatiannya adalah keadaan keseluruhan dari peperangan ini.

    Sejenak kemudian Ki Tambak Wedi berada didaiam kebimbangan apakah ia dapat meneruskan pertempuran ? Ketika lerlihat dimatanya Argapati yang semakin lemah. Pandan Wangi yang sudah hampir kehinaan akal, maka tumbuhlah keinginannya untuk menyelesaikan saja sama sekali keduanya. Tetapi bagaimana dengan orang yang lain ? Apakah mereka tidak menjadi
    semakin berkecil hati dan kehilangan keberanian untuk bertindak disaat lain ?

    Apalagi apabila disadarinya, bahwa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang mengerumuninya menjadi semakin lama semakin banyak . Agaknya mereka telah mendapat kesempatan untuk meninggalkan medan mereka masing-masing untuk membantu Kepala Tanah Perdikannya. Lemparan-lemparan senjata kearahnya menjadi semakin deras, dan bahkan kadang-kadang terasa berbahaya.

    Karena itu, Ki Tambak Wedi yang gelisah itu harus segera mengambil suatu keputusan. Melangkah maju untuk membinasakan Argapati dan Pandan Wangi tetapi membiarkan anak buahnya menjadi semakin kalang kabut, atau menarik diri dan mencoba menghimpun kekuatan untuk melakukan serangan yang lebih
    baik disaat lain.

    Tetapi agaknya Ki Tambak Wedi tidak banyak mendapat kesempatan. Setiap kali ia mendengar sorak sorai yang seakan-akan membelah langit yang justru telah menjadi semburat merah.

    “Hem” iblis itu menggeram “aku tidak dapat membiarkan keadaan ini sampai pagi. Kalau kemudian matahari terbit dan median ini menjadi terang, maka pasukanku pasti akan menjadi semakin parah.”

    Karena itu, betapapun beratnya, Akhirnya Ki Tambak Wedi mengambil keputusan, selagi kekuatannya masih cukup besar, ia harus menarik diri. Betapa pahitnya. Tetapi tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan kekuatannya.

    “Lain kali aku masih akan dapat menghubungi orang-orang diluar Tanah Perdikan ini. Aku mengharap Ki Peda Sura masih ada didalam barisan meskipun ia bersembunyi. Ia akan dapat menjadi penghubung yang baik dengan kekuatan-kekuatan diluar Tanah ini.” Ki Tambak Wedi berkata didalam hatinya, namun, kemudian ia menggeram “Setan Argapati itu masih juga mampu bertahan sampai menjelang fajar. Meskipun tampaknya nafasnya telah hampir putus, dan darahnya telah membasahi lagi didadanya, ia masih juga dapat menggerakkan pedangnya dengan sempurna.”

    Akhirnya, memang tidak ada jalan lain bagi Ki Tambak Wedi. Dengan hati yang tersayat, ia memberikan isyarat, agar pasukannya mulai menyusun diri dalam garis surut.

    Sidanti dan Argajaya terkejut mendengar isyarat itu. Meskipun ia tidak dapat segera menguasai kedua lawannya, namun mereka tidak berada dibawah kedua prajurit Pajang itu. Nafsu mereka yang meluap-luap didada mereka, telah membatasi pengamatan mereka atas seluruh medan.

    Karena itu, isyarat Ki Tambak Wedi itu sama sekali tidak mereka sangka-sangka.

    Namun dibagian-bagiab lain, isyarat itu merupakan harapan bagi orang-orang Ki Tambak Wedi untuk tetap hidup. Karena itu, ketika isyarat yang dibawa oleh arus angin dan kemudian mengalir dari seorang pemimpin kelompok kepemimpin kelompok yang lain, segera menumbuhkan gejolak disetiap dada. Memang bagi mereka, mundur saat itu adalah satu-satu nya cara untuk menyelamatkan sisa-sisa pasukan yang ada. Mereka yang mengalami tekanan-tekanan yang luar biasa, segera mengerti, bahwa Ki Tambak Wedi ingin menyelamatkan sisa pasukan ini. Dan merekapun mengerti, bahwa disaat-saat mendatang, mereka masih harus menyusun diri lebih baik lagi untuk merebut padukuhan ini dari tangan Argapati dan membinasakannya sama sekali.

    Beberapa orang dari merekapun masih juga bertanya-tanya didalam hati, bagaimana akhir dari peperangan antara Ki Tambak Wedi dan Argapati yang sedang terluka itu.

    “Tetapi didalam pasukan Argapati terdapat kekuatan-kekuatan yang sama sekali tidak terduga-duga” desis mereka.

    Dengan demikian, maka para pemimpin kelompok-kelompok kecil didalam pasukan Tambak Wedi itu segera menyusun diri untuk melakukan gerakan surut. Ternyata untuk menarik diri dari peperangan yang seru inipun sama sekali bukan pekerjaan yang mudah.

    Selangkah demi selangkah Ki Tambak Wedi membawa orang-orangnya mundur. Sambil bertempur ia memberikan isyarat-isyarat terus menerus kepada penghubung-penghubung yang harus menyampaikan isyarat-isyarat keseluruh pasukan dengan tanda-tanda bunyi, dan gerak.

    Ki Argapati yang sudah menjadi semakin lemah, melihat gerakan yang dilakukan oleh Ki Tambak Wedi. Sejenak ia merenungi keadaan itu, keadaannya sendiri dan seluruh pasukannya. Betapa besar nafsunya untuk tetap mengejar Ki Tambak Wedi dan tidak membiarkannya terlepas dari tangannya. Tetapi luka didadanya terasa semakin lama menjadi semakin pedih. Ketika ia
    memaksa diri, maju mengejar Ki Tambak Wedi yang mencoba melindungi orang-orangnya, terasa dadanya seakan-akan menjadi pecah, sehingga langkahnyapun tertegun karenanya.

    Kini ia tidak dapat ingkar lagi. Tenaganya benar-benar telah habis terperas. Dan ia mengucapkan syukur didalam hatinya kepada Tuhan yang masih menyelamatkannya tepat pada saatnya. Tepat pada saat ia kehilangan segala kemampuannya.

    Tiba-tiba pertempuran itu serasa berputar. Pandangan matanya semakin lama menjadi semakin gelap. Api yang masih menyala dibeberapa tempatpun tampaknya menjadi semakin suram.

    Ki Argapati masih melihat Ki Tambak Wedi yang menjadi semakin jauh. Ketika Pandan Wangi meloncat ingin mengejarnya, terdengar Ki Argapati menghentakkan kekuatannya yang terakhir, memanggil puterinya “Pandan Wangi ……… “

    Pandan Wangi terkejut. Ketika ia berpaling dilihatnya ayahnya terhuyung-huyung bertelekan pada landaian tombaknya.

    “Ayah” dengan tangkasnya Pandan Wangii meloncat mendekati ayahnya. Hampir saja ayahnya terjatuh kalau ia tidak segera ditolong oleh Pandan Wangi. Demikian tergesa-gesa sehingga ia tidak sempat, menyarungkan pedangnya. dan begitu saja diletakkannya ditanah. Pedang yang seolah-olah tidak pernah terpisah dari dirinya itu, seakan-akan dilupakannya ketika ia melihat keadaan
    ayahnya yang parah.

    Sejenak kemudian Samektapun telah berdiri disampingnya. Dengan tangan gemetar iapun mencoba menahan tubuh Ki Argapati. Tetapi ternyata tubuh itu telah menjadi sedemikian lemahnya, sehingga Samekta terpaksa membaringkannya ditanah.

    “Ayah, ayah” pekik Pandan Wangi. Meskipun ia mampu bertempur dipeperangan, namun ketika ia melihat keadaan ayahnya, maka sifat-sifat kegadisannya tidak lagi dapat disimpannya.

    “Tenanglah Pandan Wangi” desis Samekta “Ki Argapati telah pingsan.”

    “Ayah, ayah.” Pandan Wangi tidak dapat menahan titik-titik air matanya yang membasahi pipinya. Apalagi ketika ia melihat darah yang memerahi pembalut luka Ki Argapati.

    Ki Tambak Wedi yang menjadi semakin jauh melihat bagaimana Argapati kehilangan kesadaran dirinya. Karena itu ia mengumpat didaiam hatinya “Kalau aku bertahan beberapa kejap lagi.”

    Meskipun demikian masih tumbuhlah keragu-raguannya, apakah ia akan berlari beberapa langkah maju dan membunuh Argapati itu sama sekali, atau ia harus tetap melindungi orang-orangnya yang sedang bergerak mundur.

    Sejenak Ki Tambak Wedi memeras pikiranya. Tetapi pengawal Tanah Perdikan Menoreh menyerang orang-orangnya yang sedang mundur itu seperti air bah. Dengan demikian, maka Ki Tambak Wedi tidak dapat membiarkan orang-orangnya itu binasa dan korban akan berjatuhan terlampau banyak.

    “Sayang” desis Ki Tambak Wedi “aku kehilangan waktu yang sekejap ini. Tetapi biarlah. Besok atau lusa apabila aku kembali, maka tidak seorangpun yang dapat, memimpin pasukan Argapati, karena Argapati sendiri pasti memerlukan waktu beberapa hari untuk dapat sembuh, atau bahkan mungkin ia akan mati karena luka-luka itu. Seandainya ia tidak mati. maka untuk maju kemedan perang, ia harus membuat banyak sekali pertimbangan-pertimbangan.”

    Dengan demikian maka Ki Tambak Wedi terus berusaha menarik diri dengan hati-hati. Para pemimpin pengawal Tanah Perdikan, sebagian telah terpaku disamping Ki Argapati. Demikian juga seorang gembala tua yang kemudian telah melepaskan kumisnya.

    “Tolonglah Kiai, tolonglah” tangis Pandan Wangi. Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Dirabanya pergelangan tangan Ki Argapati, Ternyata pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh itu telah terlampau banyak mengeluarkan tenaga selagi lukanya masih sangat mengganggunya. Akhirnya ia benar-benar kehilangan kekuatannya sama sekali.

    “Untunglah ia mampu bertahan tepat sampai Tambak Wedi menarik diri” desis Samekta..

    “Ia telah memeras segenap kekuatan yang tersisa, agar ia tetap berdiri tegak, selagi Ki Tambak Wedi masih berada dihadapannya.” jawab gembala tua itu

    Semua onang yang mengitarinya menundukkan kepalanya. Samekta, Pandan Wangi, dan gembala itu kini berlutut disampingnya. Dengan cemas mereka melihat Ki Argapati yang pucat seperti kapas.

    Ternyata keadaan itu telah menarik banyak perhatian para pemimpin Menoreh yang lain. Mereka tidak dapat melepaskan diri tanpa menghiraukan Kepala Tanah Perdikan mereka, sehingga keadaan itu telah sangat mempengaruhi seluruh medan.

    Peluang itulah yang agaknya memberi banyak kesempatan kepada Ki Tambak Wedi untuk menarik pasukannya.

    “Ki Samekta” desis gembala itu “awasilah pasukanmu. Serahkan Ki Argapati kepadaku. Mungkin didalam gerakan yang terakhir Ki Tambak Wedi membuat perangkap-perangkap yang berbahaya.”

    Samekta seperti terbangun dari tidurnya yang diganggu oleh mimpi yang buruk. Tiba-tiba ia menyadari, bahwa keadaan pasukannya masih belum terlepas sama sekali dari bahaya yang dapat dengan mendadak menjeratnya. Karena itu, maka iapun segera berdiri sambil berkata “Baiklah. Biarlah aku pergi kepasukan yang sedang mencoba mendesak pasukan lawan.”

    “Tahanlah mereka, agar mereka tidak dikendalikan oleh perasaan. Ki Tambak Wedi bukan sekedar seorang pemimpin yang mumpuni. Tetapi ia dapat mempergunakan segala cara untuk melakukan rencananya. Sebaiknya pasukanmu tidak keluar dari lingkungan ini. Kita masih belum tahu tepat, apa yang berada dipadang rerumputan diluar, meskipun kita mempunyai kesempatan yang baik kali ini.”

    “Aku sependapat Kiai, Terserahlah, aku percayakan Ki Argapati kepadamu.

    Samektapun kemudian berlari-lari bersama dua orang pengawal yang lain mendekati garis surut pasukan Ki Tambak Wedi. Setelah berhasil menghubungi beberapa orang penghubung, Samekta segera memerintahkan, supaya pasukannya tidak mengejar lawan sampai keluar lingkunian pering ori.

    “Kenapa?” bertanya penghubung itu.

    “Beberapa orang diantara kita yang mampu mengendalikan orang-orang terpenting dipasukan lawan sedang sibuk dengan Ki Argapati. Perhitungkan hal itu. Ki Tambak Wedi bukan sahabat yang dapat diajak bergurau.”

    Penghubung-penghubung itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
    menghilang didalam hiruk pikuknya kedua pasukan yang sedang bergeser itu.

    Namun memang ternyata, betapa Ki Tambak Wedi mencoba melindungi pasukannya. Ia benar-benar seperti iblis yang menjebar maut diantara mereka yang berani mendekatinya. Dengan demikian, maka usaha pasukannya menarik diri, semakin lama menjadi semakin lancar.

    Gupala dan Gupita masih selalu mengingat-ingat pesan gurunya, bahwa mereka masih belum saatnya memperlihatkan diri kepada Sidanti, Argajaya atau Ki Tambak Wedi sendiri. Sehingga dengan demikian maka gerak merekapun menjadi sangat terbatas.

    Ketika ia mendengar pesan Samekta, bahwa mereka tidak sebaiknya mengejar sampai keluar regol, merekapun segera dapat mengerti. Apalagi ketika penghubung itu mengatakan tentang keadaan Ki Argapati.

    “Guru pasti sedang menolong Ki Argapati” berkata mereka didaiam hati “sehingga Ki tambak Wedi yang kehilangan lawan itu akan menjadi burung elang dikandang ayam.”

    Ternyata betapa gejolak membakar dada setiap pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang sedang mendapat kesempatan baik itu, namun mereka dengan penuh pengertian mematuhi perintah pemimpin mereka. Karena sebenarnya merekapun ngeri melihat tandang Ki Tambak Wedi. Setiap sentuhan senjatanya sekali berarti maut.

    Demikianlah, maka ketika orang-orang didalam pasukan Ki Tambak Wedi itu telah berhasil keluar dari regol padesan itu, maka dengan susah payah para pengawal telah menahan dirinya untuk tidak terseret oleh arus perasaannya. Mereka memang tidak dapat melihat, apa saja yang ada dibalik setiap helai daun ilalang didalam gelap. Meskipun langit telah menjadi semburat merah, namun
    padang ilalang liar dihadapan padesan itu masih tetap dibayangi oleh gelapnya malam.

    Diluar regol, Ki Tambak Wedi masih saja sibuk mengatur pasukannya. Namun ia melihat, bahwa orang-orang Menoreh tidak mengejarnya terus. Karena itu, maka ia dapat menarik nafas sejenak, melepaskan kepepatan didalam dadanya.

    Belum lagi Ki Tambak Wedi mengusap keringatnya yang membasahi keningnya dengan tergopoh-gopoh Sidanti datang kepadanya sambil bergumam “Kenapa kita harus menarik diri?”

    Ki Tambak Wedi berpaling. Dipandanginya Sidanti sejenak. Kemudian ditengadahkannya wajahnya, memandangi langit yang sudah menjadi semakin merah.

    “Sebentar lagi fajar akan menyingsing.”

    “Dan kita akan melihat orang-orang itu binasa.”

    “Kau salah hitung Sidanti. Dibelakang pering ori itu ternyata terdapat banyak orang-orang yang tidak pernah kita perhitungkan, entah mereka datang dari mana. Tetapi adalah suatu kenyataan, bahwa kau dan Argajaya mendapat lawan-lawan yang tidak kau duga-duga sebalumnya. Ki Muni dan Ki Wesi telah terbunuh, Ki Peda Sura terdesak dan terpaksa menyembunyikan diri didalam medan.

    “Dan guru tidak berhasil membunuh Argapati ?”

    Ki Tambak Wedi menggeleng “Kali ini tidak. Karena itu, kita harus menyusun diri. Lebih baik dari yang sudah. Kita sudah tahu kekuatan yang sebenarnya ada dibelakang pering ori itu.”

    Sidanti menggeretakkan giginya, sementara mereka menjadi semakin lama semakin jauh dari regol yang mereka tinggalkan.

    “Tetapi aku masih berhasil melihat Argapati roboh” berkata Ki Tambak Wedi seterusnya.

    “Mati ?”

    “Aku tidak tahu. Tetapi lukanya menjadi bertambah parah. Ia terpaksa memeras seluruh tenaganya dalam peperangan ini. Argapati bertempur berpasangan dengan Pandan Wangi. Dan aku masih saja dipengaruhi oleh perasaan itu.”

    “Perasaan apa guru ?”

    Ki Tambak Wedi tergagap mendengar pertanyaan Sidanti, Sejenak ia terdiam, namun sejenak kemudian ia menjawab “Tidak. Tidak apa-apa. Tetapi aku tidak berhasil membunuhnya. Beberapa orang pengawal kepercayaan Argapati selalu mengganggu aku. Sedang orang-orangku sendiri tidak membantu aku, mengusir
    Orang-orang itu.”

    “Kenapa ?”

    “Aku tidak tahu, tetapi agaknya tekanan pasukan pengawal Menoreh memang terlampau ketat, sehingga mereka kehilangan waktu dan kesempatan. Hal inilah yang harus aku ketahui nanti. Pengalaman ini harus diperhitungkan disaat-saat mendatang.” Ki Tambak Wedi berhenti sejenak, lalu “lemparan-lemparan senjata para pengawal itu benar-benar terasa mengganggu setiap usahaku untuk
    membunuh ayah beranak itu. Setiap kali aku tertegun dan menghindar. Tetapi Ki Tambak Wedi tidak tahu, bahwa diantara para pengawal kepercayaan Argapati itu terdapat seorang tua yang mengenakan kumis palsu. Meskipun sepintas Ki Tambak Wedi melihatnya juga, tetapi ia sama sekali tidak sempat memperhatikanya, karena ia sama sekali tidak menyangka bahwa seseorang telah memasang kumis palsu itu orang yang ikut menentukan jalannya peperangan.

    Dalam pada itu, gembala tua yang telah melepas kumisnya itu berjongkok disamping Ki Argapati dengan wajah yang tegang. Ia adalah seorang dukun yang berpengalaman yang setiap saat selalu bersedia mengobati siapapun juga.

    Namun kali ini dadanya berdebar-debar melihat keadaan. Ki Argapati Agaknya luka yang dideritanya itu benar-benar berbahaya bagi keselamatannya.

    “Bagaimana Kiai? Bagaimiana?” bertanya Pandan Wangi dengan cemasnya.

    “Aku akan berusaha ngger” jawab gembala tua itu “sebaiknya, biarlah Ki Argapati ini dibawa kepondok dahulu.”

    “Tetapi kenapa Kiai belum berbuat sesuatu? jarak itu terlampau jauh Kiai.

    “Aku telah memperhitungkan. Kini aku akan menaburkan obat yang dapat mengurangi arus darahnya lebih dahulu”

    Orang-orang disekitar Ki Argapati berbaring itu terdiam sambil menahan nafasnya ketika mereka melihat dukun tua itu melepas pembalut Ki Argapati. Jantung mereka serasa tergores pula ketika mereka melihat luka yang berdarah itu. Dipeperangan mereka sudah terlampau biasa melihat luka. Tetapi luka itu luka yang sudah agak lama dan kambuh kembali, sehingga pengaruhnya pun agak berbeda

    Apalagi ketika mereka melihat darah yang sudah menjadi kehitam-hitaman.

    Perlahan-lahan gembala itu menaburkan reramuan obat diatas luka itu. Kemudian sejenak ia menungguinya sambil menghembus-hembusnya.

    Nb: ini sekedar bantuan ala kadarnya semoga bermanfaat

    salam adbmer 2008

  15. Sorry, no posts matched your criteria.

    Buku 42 ga ada yak? :(( :(( :((

    sukra : makasih mas.. tautan udah diperbaiki.

  16. Rabu, 25 April 2012

    • sugeng dalu,

      sebagai TanDa bOekTi cantrik pernah singgah di gandOK siNI

      • lha tjap djempolnya mana ki ndul

        • lha tjap djambolnya mana ki ndul

          • :rofl:

            • whew nggak mujut hihahaaa 😀

              • wew agak mrucut hihahaaa 😀

                • lho wis kebacut …

            • ha ha ha …
              😳 maksudnya mau begini 😆 atau begini 🙄 ? ki AS

              • begini….ni…ni…ni….
                begitu….tu…tu….tu

  17. Ooo niku Ben digowo mas Yamin mawon sing omahe teng kilen ngriko .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: