Buku 39

Dah menginjak buku 39

Semoga tambah semangat .. apalagi Ki Gede Menoreh udah terluka.

Siapa sih Gupala.. Gupita .. ah makin penasaran aja ya

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 31 Oktober 2008 at 10:58  Comments (20)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-39/trackback/

RSS feed for comments on this post.

20 KomentarTinggalkan komentar

  1. ayo .. ayo .. sapa ngacung duluan buat proof edisi 39 ini .. kan besok libur jadi enak nge-proof nya 😀

  2. Aduh, terus terang saya merasa sangat dimanja dengan Ketekukan dan Keikhlasan sedulur semuanya dalam menampilkan cerita ini. Setiap hari satu buku. Luar biasa.

    Hanya mohon maaf saya benar2 tidak dapat urun tangan untuk membantu.

    Jadi, ijinkan saya hanya dapat mengungkapkan ucapan Terima Kasih yang sebesar-besarnya.

  3. akhhhhhhhh dolo 15 kali gagal tengah jalan molo

  4. Buku 39 Halaman 7

    Aku sudah mengeluarkan perintah untuk menarik semua pasukan. Dan aku juga sudah menyiapkan pasukan berkuda yang akan mengimbangi semua gerak lawan. Kalau perlu dengan melakukan kekerasan dan mengorbankan beberapa anak buah rumah penduduk yang kelak akan kita perhitungkan.

    Wrahasta mengerutkan keningnya. Terbayang didalam angan-angannya seakan-akan sekelompok burung elang yang terbang dari satu dahan ke dahan yang lain. Pasukan yang demikian memang dapat mempengaruhi pertimbangan lawan dan kadang-kadang dapat mengalihkan gerak pasukan. Tetapi orang-orang yang berada didalam pasukan itu harus benar-benar orang-orang terpilih. Bukan saja kemampuannya bertempur, tetapi lebih daripada itu, adalah ketabahan hati mereka menghaadapi semua keadaan, kesadaran mereka akan perjuangannya dan ketiadaan pamrih bagi diri sendiri.

    “Apakah orang-orangnya sudah dipilih?” Wrahasta kemudian bertanya, “Sebab untuk menjadi anggota pasukan itu, beberapa syarat harus dipenuhi. Apalagi apabila ada diantara mereka yang mempunyai cacat pribadi. Maka mereka pasti akan melakukan hal-hal yang merugikan nama baik pasukan Pengawal Tanah Perdikan ini”.

    “Aku mengharap demikian” sahut Samekta. “pada saat terakhir aku sendirilah yang akan menentukan orang-orang yang telah ditunjuk”.

    Maaf ya, baru dapet selembar ….

  5. Halaman 8 dan 9 Buku 39

    Wrahasta dan Kerti mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka mencoba membayangkan, apakah yang akan dapat terjadi apabila dalam waktu singkat kedua pihak harus berbenturan lagi. Keduanya akan menjaadi semakin parah. Terlebih-lebih parah lagi adalah pasukan Ki Argapati. Sudah tentu Ki Tambak Wedi akan ikut didalam pasukan itu bersama Sidanti dan Argajaya. Mungkin Ki Peda SUra dan orang-orang yang lain yang belum diketahuinya.

    Jika demikian, maka sulitlah bagi pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk mempertahankan diri. Mungkin pasukan berkuda itu akan mampu mengurai pemusatan pasukan Sidanti, namun sudah tentu tidak akan cukup kuat untuk ikut menentukan akhir dari keseluruhan.

    “Tetapi kita harus berusaha. Kita memang harus berbuat sesuatu” tiba-tiba saja Kerti berdesis, “kita tidak akan menyerahkan dirikita untuk dibantai tanpa melakukan perlawanan. Setiap laki-laki harus ikut didalam pasukan”.

    Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “sampai saat ini hamper tidak ada laki-laki yang tersisa. Yang kita harapkan untuk menambah kekuatan adalah orang-orang tua yang sampai saat ini justru telah meletakkan senjata mereka, tetapi mereka cukup mempunyai pengalaman dan kemampuan. Mereka harus kita bawa kembali ke medan-medan dan menarik senjata-senjata mereka dari wrangkanya. Mereka akan didampingi oleh anak-anak muda yang merupakan kekuatan mereka, akan mengarahkan kekuatan itu ke sasaran yang benar”.

    Sekali lagi Kerti dan Wrahasta mengangguk-anggukan kepala mereka.

    “Aku harus mendapat laporan tentang perintahku”. Berkata Samekta kemudian. Lalu “apakah kalian ada pendapat lain?”.

    Kerti dan Wrahasta menggelengkan kepala mereka “Aku kira untuk sementara, gerakan itu sudah cukup”. Sahut kerti.

    “Kita memerlukan senjata jarak jauh lebih banyak lagi” berkata Wrahasta kemudian “tekanan pada pintu-pintu masuk pedesaan ini perlu kita kurangi dengan panah-panah apabila mereka benar-benar datang. Kita harus membuat tempat-tempat yang mapan diatas bamboo-bambu ori untuk menempatkan pasukan kita”.

    “ya, Aku kira kau dapat melakukannya. Berikan perintah itu kepada pasukan yang berkepentingan”.

    Wrahasta menganggukkan kepalanya. Ia tidak menunggu sehingga waktu akan habis oleh meningkatnya keadaan. Segera ia berdiri dan melangkah keluar, mempersiapkan keadaan, pintu gerbang masuk ke pedesaan itu di empat penjuru dengan menempatkan pasukan berpanah di sela-sela pring ori.

    Samekta dan Kerti masih saja berbicara tentang keadaan dan cara-cara yang akan dapat ditempuh untuk mengatasi setiap kesulitan.

    “Pada saatnya kita harus menyampaiakan kepada Ki Argapati supaya kita tidak salah jalan”, berkata Kerti. “Meskipun saat ini masih belum memungkinkan karena lukanya, namun aku mengharap bahwa sesudah ia beristirahat, ia akan dapat dibawa berbincang. Meskipun Ki Gede sendiri tidak akan ikut turun peperangan, tetapi nasehatnya sangat kita perlukan”.

    Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih belum dapat membayangkan, seandainya Ki Gede mengetahui semua persoalan, apakah ada seseorang yang dapat mencegahnya, supaya ia tidak meninggalkan pembaringannya, turun ke medan perang meskipun lukanya belum sembuh??

    “Tetapi kita harus berhati-hati”, desis Samekta, “Kita mengenal sifat Ki Gede Menoreh baik-baik”.

    “Ya”. Sahut Kerti. “hampir saja aku tidak berhasil membawanya masuk ke desa ini. Demikian ia mendengar bahwa Pandan Wangi berpisah dari pasukannya, maka hampir saja ia kehilangan kepercayaan diri”.

    “Karena itu untuk sementara kita akan berusaha mengatasi semua persoalan di sini tanpa mengganggu Ki Argapati”, berkata Samekta kemudian.

    “Ya, tetapi bagaimanakah kira-kira perasaan Ki Gede, apabila suatu ketika kita minta ia meninggalkan desa ini karena pasukan Sidanti sudah di ambang pintu dan tidak dapat dibendung lagi”.

    Samekta mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menjawab “Aku mempunyai perhitungan, bahwa keadaan yang demikian tidak akan terlampau cepat terjadi. Aku percaya kepada Wrahasta dan aku mengharap bahwa pasukan berkuda yang akan tersusun itu dapat mengganggu susunan rencana Ki Tambak Wedi. Aku masih mengharap, mudah-mudahan Ki rRgapati cepat sembuh dan mampu memimpin pasukannya”.

    Kerti Mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Obat yang didapatkannya dari orang bercambuk itu benar-benar baik. Setelah

  6. nyerah-nyerah, buku 36-39 sulit untuk dibaca.

    maaf, kali ini saya menyerah kalah.

  7. wah download dari siang ampe sekarang lom berhasil jg >.<

  8. wah.. sekarang link ke file nya disembunyikan…

    sory belum bisa bantu.. lagi repott

  9. Apakah ada tugas lagi untuk saya? Saya bisa bantu untuk proof atau retype.

    D2: Langsung book aja, Mas Iwan. Minimal setengah buku dan cepet. Buku 39 mau?

  10. file djvu-nya sekarang ndak dimunculin lagi ya mas DD?
    soalnya sekarang aku dah dapat nih yang portable. Kalo baca yang versi doc, pusiingg!!!

    Salut atas kerja keras semua kru.Terima kasih sudah membuat saya kecanduan adbm he..he…he……

    Sukra : diunggah kok mas. ayo dibaca lagi 😀

  11. pertanyaan ini dah tak tanyakan juga dibuku 38, tapi mungkin kelewat ndak kebaca, kalo versi kecil djvu itu gamabar aja yo mas, ndak ono ceritone? soalnya pas aku download yang kesimpan kok gambar aja. Mohon infonya. Hatur nuhun.

  12. Ok, siap. Aku proof buku jilid 39, Malam Senin aku kirim hasilnya.

  13. […] 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  14. apa yg bisa saya bantu utk jilid 39?
    bagaimana kalau tetap versi djvu saja dulu ?

    nuwun

  15. apa nggak sebaiknya aja ya, kembali ke format djvu. jilid 39 ini lama sekali terbitnya…

  16. cara donlot djvu tinggal di klik covernya mas..
    kayaknya dah ditulis caranya deh.
    ini juga untuk ngakali TOS nya wordpress .. karena beberapa kali kita dapet peringatan karena dianggap membagi-bagikan file dari wordpress ini.

  17. senandung seruling Gupita kalau diterjemehkan :
    ” buka dulu topengmu……..buka dulu topengmu……”

    • diterjemehkan = diartikan secara SlanK’ekan.
      (Ki Menggung ora oleh frotes….!!!!)

    • sing liyane oleh dibukak fora ki mbleh

      • boleh-boleh, nang-ing hora proTES


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: