Buku 38

Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa bahwa ia tidak cukup cepat menanggapi keadaan. Tetapi ia masih juga berkata, “Tetapi aku tidak dapat memperhitungkan waktu serupa itu. Aku melepaskan kau mengikuti orang tua itu. Aku tidak tahu batas waktu yang kau perlukan. Aku kira kau sedang mengikutinya sampai ke pinggir sungai untuk kemudian membenamkan orang tua itu ke dalamnya.”

Petugas sandi itu tidak menjawab. Tetapi ia bergumam, “Aku harus segera melaporkannya.”

Pemimpin peronda itu pun bergumam, “Kita meninggalkan kewaspadaan. Keadaan akan cepat meningkat.”

“Nah, bukankah hal itu kau sadari,” sahut pengawal yang baru saja bertempur melawan orang-orang Sidanti itu.

“Kami, seisi padesan ini, dan bahkan seluruh pasukan Menoreh akan menyadarinya. Sekarang, sampaikan laporan itu, supaya kami mendapat perintah secara resmi, apa yang harus kami lakukan di sini dan mungkin di seluruh daerah yang masih setia kepada Ki Argapati.”

Petugas sandi itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditinggalkannya regol desa itu, dan dengan tergesa-gesa pergi menemui pimpinan tertinggi pengawal Tanah Perdikan Menoreh, Samekta yang sedang menunggui Ki Argapati yang sedang sakit.

Sementara itu, Ki Argapati yang sedang terbaring, masih juga memejamkan matanya. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam, dan sekali-sekali ujung ibu jari kakinya bergerak-gerak. Namun kemudian diam kembali, seolah-olah sedang membeku.

Pandan Wangi mengerti, bahwa ayahnya sedang memusatkan segenap kemampuannya, untuk menenangkan dirinya. Ayahnya sedang mengatasi kesulitan yang terjadi di dalam tubuhnya akibat benturan racun dari senjata Ki Tambak Wedi dan obat yang ditaburkan di atas luka itu. Namun dalam kegelisahan ia sekali lagi bertanya perlahan-lahan kepada Kerti, “Paman, manakah orang itu? Apakah ia akan menunggu sampai terlambat?”

“Tidak, Ngger,” bisik Kerti, “tentu tidak. Sebentar lagi ia akan datang.”

Namun dalam pada itu, Kerti telah dicengkam oleh. kegelisahannya yang baru. Sebab ia tahu benar, bahwa tidak seorang pun lagi yang pergi mencari seorang dukun. Tetapi ia tidak sampai hati untuk mengatakannya kepada Pandan Wangi yang kecemasan itu.

Samekta yang mendengar pertanyaan Pandan Wangi itu pun menjadi gelisah pula. Dukun manakah yang akan dapat mengobati keadaan Ki Gede yang sudah menjadi kian parah itu?

Namun bagaimana pun juga, mereka masih mempunyai tempat untuk menggantungkan harapan. Mereka yakin akan kekuasan Yang Maha Besar, sehingga segala sesuatu akan sangat tergantung ditangan-Nya.

Dalam ketegangan itu, seseorang masuk ke dalam ruangannya langsung menemui Samekta. Mereka berbisik sejenak, kemudian Samekta bergeser dari tempatnya.

“Seseorang telah terlibat dalam perkelahian melawan orang-orang Sidanti. Salah seorang dari mereka keluar dari desa ini. Karena orang itu mencurigakan, maka seorang petugas sandi mengikutinya. Tetapi kawannya sempat menolongnya, sehingga mereka lolos.”

Samekta mengerutkan keningnya. Desisnya, “Kenapa ia dapat keluar dari daerah ini tanpa pengawasan?”

“Perhitungan kami yang salah,” pemimpin pengawal itu menceriterakan dengan singkat apa yang telah terjadi dengan seorang kakek-kakek dari seorang petugas sandinya.

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketegangan semakin membayangi wajahnya. Ia sadar, sepertinya pengawal menyadari, bahwa apabila berita itu sampai kepada Ki Tambak Wedi, dan Ki Tambak Wedi meyakini akan kebenarannya karena mendengar langsung dari mulut petugasnya, bukan sekedar berita dari mulut ke mulut bahwa Ki Argapati dalam keadaan parah, maka keadaan akan cepat meningkat.

Karena itu, maka katanya, “Kita harus segera mempersiapkan diri. Untuk sementara semua pasukan supaya ditarik untuk melindungi desa ini dan desa pengungsian para keluarga. Tempat tempat lain terpaksa kita lepaskan untuk sementara. Kita tidak boleh terpotong-potong menjadi sayatan-sayatan kecil yang akan digulung sedikit demi sedikit.”

Pemimpin pengawal itu menganggukkan kepalanya.

“Tetapi apakah kau yakin bahwa orang itu orang Sidanti.”

“Menurut laporannya, agaknya cukup meyakinkan.”

“Di mana orang itu?”

“Ia menunggu di luar.”

Samekta segera melangkah keluar. Ditemuinya petugas sandi yang langsung berkelahi melawan orang-orang Sidanti. Dan ia pun segera mengulangi ceriteranya, seperti ceritera pemimpin pengawal itu.

Sekali lagi Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada pemimpin pengawal itu ia berkata, “Hubungi semua pemimpin. Pasukan berkuda supaya dipersiapkan. Mereka harus dapat mengimbangi dengan cepat gerakan pasukan Sidanti. Kalau Sidanti datang menyerang, maka pasukan itu harus meninggalkan tempat ini, menyerang kedudukan-kedudukan Sidanti yang lemah untuk memecahkan perhatian mereka. Kalau perlu, mereka terpaksa mengorbankan satu dua rumah yang kelak akan kita perhitungkan untuk menimbulkan api.”

Pemimpin pengawal itu menganggukkan kepalanya. Ia menyadari sepenuhnya perintah itu.

“Itulah yang harus kalian kerjakan untuk sementara. Aku akan membicarakannya nanti, dan mungkin akan datang perintah berikutnya bagi kalian.”

“Baik,” sahut pemimpin pengawal itu, yang segera minta diri untuk mempersiapkan semua kekuatan yang ada di pihak Ki Argapati. Mereka kini tidak akan dapat mundur lagi. Mereka harus bertahan sampai kesempatan yang terakhir apabila Sidanti benar-benar menyerang. Dan mereka harus mempersiapkan benar-benar pasukan berkuda yang akan terbang ke segenap penjuru Tanah Perdikan ini. Cepat bergerak, dan cepat menghilang apabila keadaan memaksa.

Ternyata berita itu telah membuat Samekta menjadi semakin pening. Tetapi ia tidak akan segera memberitahukannya kepada Pandan Wangi. Biarlah gadis itu melepaskan diri untuk sementara dari persoalan perang. Biarlah ia menunggui ayahnya yang sedang sakit, sebagai seorang gadis yang meletakkan harapannya, bahwa orang yang sedang sakit itu kini merupakan satu-satunya orang tempat bergantung. Ia tinggal satu-satunya orang yang akan dapat melindunginya.

Karena itu, maka diam-diam digamitnya Wrahasta dan Kerti. Mereka bergeser beberapa langkah, dan dengan perlahan-lahan sekali mereka membicarakan apa yang sebaiknya mereka lakukan.

“Marilah kita bicarakan dengan tenang,” minta Wrahasta.

“Tidak sekarang. Kalian dapat memikirkannya, apakah yang sebaiknya kita lakukan. Kita tidak akan dapat meninggalkan Ki Gede dalam keadaannya. Aku sudah memberikan perintah sementara untuk mempersiapkan semua kekuatan di tempat pengungsian dan desa ini. Tidak terpecah belah, di samping satu kekuatan berkuda yang akan selalu mengimbangi gerakan Sidanti. Pasukan itu harus dapat bergerak cepat, mencapai segala penjuru dengan tiba-tiba dan melepaskan diri dengan tiba-tiba. Kalau perlu mereka harus membuat gerakan di sekitar padukuhan induk untuk mengelabuhi Sidanti dan Ki Tambak Wedi.”

Wrahasta dan Kerti mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tanpa sesadarnya, mereka berpaling dan memandang Ki Gede yang sedang terbaring. Sedang Pandan Wangi dengan penuh kecemasan berdiri di sisinya. Sekali Pandan Wangi meraba tubuh ayahnya. Tiba-tiba saja ia hampir terpekik. Ketika ia tidak melihat Kerti berdiri di sampingnya, maka segera ia berpaling mencarinya.

“Paman,” desis Pandan Wangi ketika tampak olehnya Kerti berdiri bersama Samekta dengan Wrahasta , “Tubuh ayah sudah tidak panas lagi.”

Hampir terloncat Samekta, Wrahasta, dan Kerti mendekat dengan tergesa-gesa. Hampir bersamaan pula mereka meraba kaki Ki Gede. Dan benarlah kata Pandan Wangi, kaki itu sudah tidak panas lagi. Tetapi justru dengan demikian Kerti menjadi berdebar-debar. Karena apabila panas bagian kepala dan kaki tidak seimbang, maka keadaan yang demikian akan sangat berbahaya bagi Ki Gede.

Karena itu, maka perlahan-lahan Kerti beringsut maju. Perlahan-lahan pula dirabanya tangan Ki Gede. Tangan itu pun kini sudah tidak panas pula. Kemudian dengan tangan gemetar Kerti mencoba meraba leher Ki Argapati. Secercah warna yang cerah membayang di wajahnya. Leher itu pun telah menjadi sejuk seperti tubuhnya sendiri.

Dengan penuh pengharapan Kerti berkata perlahan-lahan, “Ya. Tubuh Ki Gede sudah tidak panas lagi.”

“Pernafasannya pun telah berjalan wajar,” sahut Wrahasta.

“Kita akan berdoa terus,” gumam Samekta.

Kerti dan Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka memang selalu berdoa di dalam hati. Ternyata doa mereka telah didengar-Nya.

Dengan penuh pegharapan kini mereka menunggui Ki Gede yang sedang terbaring. Wajah-wajah mereka tidak lagi dilukisi kecemasan dan kebingungan. Tetapi wajah-wajah itu tampak diwarnai oleh kesegaran nafas Ki Argapati yang semakin lancar.

“Ayah,” Pandan Wangi berdesis ketika ia melihat ayahnya membuka matanya.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Seolah-olah ia menjadi terlampau haus menghirup kesegaran udara Tanah Perdikan Menoreh.

“Ayah,” Pandan Wangi mengulangi.

Yang pertama-tama dipandang oleh Ki Argapati adalah wajah puterinya. Kemudian orang-orang di sekitarnya. Samekta, Wrahasta, Kerti, dan orang-orang lain.

Sekali lagi Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan berkata, “Mudah-mudahan aku dapat mengatasi kesulitan di dalam diriku.”

Tubuh Ki Gede telah menjadi sejuk. Agaknya darah Ki Gede pun mengalir dengan wajar.

Kepala Ki Argapati bergerak-gerak. Ia mengangguk kecil sambil berkata lirih, “Obat yang kita terima dari anak yang gemuk itu ternyata terlampau baik.”

“Bagaimana ayah?” potong Pandan Wangi. “Apakah itu suatu bentuk pengkhianatan.”

“O, kau salah terima Wangi,” jawab Ki Argapati. “Kita harus berterima kasih kepadanya. Tak ada obat semujarab obat yang diberikan kepadaku. Seadainya aku tidak mendapat obat daripadanya, maka keadaan ini akan sangat jauh berbeda, Wangi. Berterima kasih pulalah kita kepada Yang Maha Bijaksana, yang telah mempertemukan aku dengan orang bercambuk itu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia bertanya, “Orang bercambuk, Ayah?”

“Ya.”

Wajah Pandan Wangi menegang. Tetapi ia tidak segera mengucapkan kata-kata. Teringatlah olehnya, seorang anak muda yang menyebut dirinya sebagai seorang gembala. Seorang anak muda yang mempersenjatai dirinya dengan cambuk.

“Kenapa Wangi? Apakah kau heran mendengar sebutan orang bercambuk itu?”

Pandan Wangi beringsut setapak. Perlahan-lahan ia mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ayah. Siapakah orang bercambuk itu?”

“Aku tidak begitu jelas, Wangi. Tetapi aku yakin, bahwa ia bermaksud baik.”

“Di manakah ayah mengenalnya sebelum ini?”

“Ketika ayah masih muda, di dalam lingkungan istana Demak.”

Pandan Wangi terkejut mendengar jawaban itu. Dengan kening yang berkerut-merut ia bertanya, “Berapa kira-kira umur orang bercambuk itu ayah?”

“Seumur ayah.”

“Tidak,” tiba-tiba Pandan Wangi membantah. “Ia masih muda. Bahkan lebih muda dari Kakang Sidanti.”

Kini Ki Argapati-lah yang mengerutkan keningnya. Kemudian perlahan-lahan ia menarik nafas dalam-dalam. Digerakkannya tangannya sedikit, kemudian kakinya.

“Pandan Wangi,” orang tua itu bergumam, “aku mengenalnya ketika kami masih sama-sama muda. Tidak mungkin ia kini nampak lebih muda dari Sidanti.” Ki Argapati berhenti sejenak, lalu tiba-tiba terbayang sebuah senyum dibibirnya, “O, barangkali kau pernah melihat orang yang bersenjatakan sebuah cambuk? Seorang anak muda yang gemuk hampir bulat?”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Jangan bangun, Ayah. Lebih baik Ayah berbaring sejenak, sampai keadaan Ayah menjadi cukup baik.”

Ki Argapati yang ingin mencoba untuk bangkit meletakkan kepalanya kembali. Kerti dan Samekta pun mencegahnya pula.

“Luka itu akan berdarah lagi Ki Gede,” berkata Kerti.

“Ya, sebaiknya Ki Gede beristirahat secukupnya,” sambung Samekta.

“Aku sudah merasa cukup baik.”

Pandan Wangi menggeleng, “Belum, Ayah. Ayah masih perlu beristirahat.”

Ki Argapati menganguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia kembali kepada persoalan orang bercambuk. Katanya, “Bukankah yang kau lihat anak muda yang gemuk bulat? Anak itulah yang memberi aku obat yang sangat baik ini.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tetapi ia sudah tidak dicengkam oleh kecemasan yang hampir tidak tertahankan. Wajah ayahnya, meskipun masih pucat, tetapi sudah tidak lagi seputih kapas. Dengan ragu-ragu ia menjawab pertanyaan ayahnya, “Aku tidak mengenal seorang anak muda yang gemuk bulat ayah?”

Argapati menarik nafas dalam-dalam. Sejengkal ia beringsut. Kemudian, “Lalu siapakah yang kau maksud dengan seorang yang masih lebih muda dengan Sidanti itu?”

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Kerti, Samekta, Wrahasta, dan orang-orang lain di sekitarnya. Baru sejenak kemudian ia berkata, “Beberapa orang pengawal pernah juga melihatnya. Seorang gembala yang sering menggembalakan kambingnya di sekitar daerah perbatasan sebelum kami menarik diri.”

“Oh,” Argapati tersenyum, “sudah tentu bukan seorang gembala yang aku maksudkan. Yang aku maksudkan dengan seorang bercambuk adalah seseorang yang mempergunakan cambuk sebagai ciri pribadinya atau lebih tepat, sebagai senjatanya.”

“Ya, begitulah gembala itu ayah. Seorang gembala yang masih muda semuda Kakang Sidanti, bahkan masih lebih muda lagi.”

Argapati mengerutkan dahinya. Sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Ditelekankannya tangannya pada dadanya di bawah lukanya. Kemudian ia bergeser sedikit sambil bergumam, “Apakah ada orang lain yang mempunyai ciri yang serupa. Tetapi bagaimanakah dengan anak muda yang kau katakan itu? Apakah ia berbuat baik terhadap kau atau sebaliknya?”

“Ia seorang gembala, Ayah.”

“Hanya sekedar seorang gembala? Di sini ada berpuluh-puluh gembala yang membawa cambuk. Tetapi agaknya yang seorang ini agak lain. Apakah tanggapanmu memang demikian?”

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Tanpa sesadarnya ia memandang wajah Wrahasta dengan sudut matanya. Tetapi orang yang bertubuh raksasa itu sedang menekurkan kepalanya.

“Ia mempunyai beberapa kelebihan dari gembala-gembala yang lain, Ayah.”

Argapati mengerutkan keningnya. Sekilas ia melihat Wrahasta yang tiba-tiba mengangkat wajahnya.

“Apakah kelebihan itu?”

“Ia mampu berkelahi seperti seorang pengawal.”

“Ah,” desah Argapati, “hampir setiap anak muda di daerah ini dapat sekedar membela dirinya.”

“Bukan sekedar membela dirinya,” sahut Pandan Wangi. Tetapi sejenak ia terdiam dalam keragu-raguan.

Argapati tidak segera mendesaknya. Bahkan ia berkata, “Orang lain yang mempunyai ciri serupa itu, sebuah cambuk, adalah seorang anak muda yang bertubuh gemuk. Ia menyebut dirinya sebagai anak orang bercambuk yang tidak menampakkan diri. Mungkin orang itulah yang pernah kau lihat dan mengaku sebagai seorang gembala, tetapi mempunyai beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang lain.”

“Tetapi anak muda itu tidak gemuk, Ayah.”

“Apakah kau kenal namanya?”

Sekali lagi Pandan Wangi menjadi ragu-ragu. Dan sekali lagi tanpa sesadarnya ia memandangi wajah Wrahasta. Tetapi Wrahasta tidak sedang memandangnya, justru ia sedang memandangi wajah Ki Gede yang menunggu jawaban anaknya.

Namun akhirnya Pandan Wangi menyebutnya juga, “Namanya Gupita, Ayah.”

“He?” Argapati mengingat-ingat. Sambil memandang wajah Kerti ia berkata, “Anak yang gemuk itu menyebut dirinya bernama Gupala.”

“O,” dengan serta-merta Pandan Wangi menyahut, “kalau begitu, kedua anak muda itu memang bersaudara. Menurut Gupita, ia mempunyai seorang saudara laki-laki dan seorang ayah. Mereka adalah gembala-gembala yang tinggal di tlatah Menoreh.”

Kini Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Hem, sekarang aku mempunyai sedikit bayangan tentang mereka. Jadi ada dua anak muda yang mengaku dirinya anak orang bercambuk itu.”

“Yang satu bernama Gupala dan yang lain bernama Gupita,” Kerti menyahut.

“Ya, begitulah menurut pengakuan mereka.” Argapati berhenti sejenak, lalu kepada Pandan Wangi ia bertanya, “Wangi, apakah kelebihan gembala yang kau maksudkan itu? Apakah ia sudah berbuat sesuatu yang menyatakan dirinya, sehingga kau mengambil kesimpulan demikian tentang anak itu ?”

Pandan Wangi mengangguk perlahan-lahan. Kini, ketika sekali lagi ia berpaling ke arah Wrahasta, pandangan mereka pun beradu. Cepat Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Betapa pun juga ia adalah seorang gadis. Hatinya berdebar ketika ia melihat sorot yang aneh terpancar dari sepasang mata Wrahasta.

Sejenak Pandan Wangi berdiam diri. Tanpa sesadarnya ia meraba-raba kaki ayahnya. Tetapi Argapati tidak tahu, apakah yang sebenarnya bergetar di dalam dada puterinya. Ia tidak tahu, bahwa Wrahasta menaruh hati kepada gadis itu, dan bahwa gembala yang memiliki cambuk yang aneh itu telah menumbuhkan suatu perasaan yang aneh pada puterinya.

Karena itu, maka Ki Gede itu mendesaknya, “Apakah kelebihan yang kau maksud pada gembala itu Wangi?”

Pandan Wangi tidak dapat mengelak lagi sehingga dengan demikian betapa pun beratnya ia harus menjawab, “Ayah, bukankah Ayah sudah mendengar bahwa aku terpaksa bertempur melawan Ki Peda Sura karena aku terpisah dari pasukanku?”

Ki Argapati mengangguk.

“Dan bukankah Ayah tahu, bahwa aku tidak akan mungkin mengalahkan Ki Peda Sura dalam keadaanku sekarang?”

Sekali lagi Argapati mengangguk sambil berkata, “Tetapi kemampuanmu tidak terpaut banyak menurut penilaianku, Wangi.”

“Ya, namun aku tidak akan dapat melepaskan diriku dari padanya. Ia sudah bertekad untuk menangkap aku hidup-hidup. Tanpa melukai kulitku dan apalagi membunuhku.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari, bahwa keadaan itu benar-benar merupakan keadaan yang sangat berbahaya bagi puterinya. Ki Peda Sura yang menyimpan pengalaman cukup di dalam dirinya merupakan lawan yang pasti tidak akan dapat diimbangi oleh Pandan Wangi.

Tetapi ternyata bahwa Pandan Wangi berhasil melepaskan dirinya dengan selamat, sehingga karena itu Ki Argapati bertanya, “Tetapi kau selamat sampai saat ini, Wangi. Bahkan ketika aku memasuki padesan ini dengan mata berkunang-kunang dan pikiran yang kusut karena aku merasa kehilangan kau, kau sempat beristirahat dengan tenangnya.”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Tetapi ia bergumam, “Ya, Ayah. Aku sempat melarikan diri dari tangan Ki Peda Sura dan pasukannya.”

“He, Ki Peda Sura dan pasukannya?” Ki Argapati menjadi heran, “Jangan sombong, Anakku. Ki Peda Sura sendiri pun pasti akan mampu menangkapmu kalau ia mau.”

“Benar, Ayah. Kami melepaskan diri daripadanya. Bahkan kami sempat melukai Ki Peda Sura yang kemudian dipapah oleh orang-orangnya meninggalkan medan, tepat pada saat pasukan Kakang Sidanti datang membantu.”

“O,” Ki Argapati mengerutkan keningnya, “aku menjadi pening. Bagaimana mungkin kau dapat berbuat demikian? Tetapi siapakah yang kau maksud dengan kami?”

Pandan Wangi menjadi ragu-ragu sejenak. Sekali lagi ditatapnya wajah-wajah yang ada di seputar ayahnya berbaring. Dan ketika tatapan matanya berbenturan dengan mata Wrahasta maka sekali lagi Pandan Wangi tertunduk dalam-dalam.

“Ayah,” suara Pandan Wangi menjadi terlampau dalam. Adalah terlampau sulit baginya untuk berceritera tentang anak muda yang menyebut dirinya Gupita itu. Meskipun mereka bertemu di medan perang, namun betapapun juga, Pandan Wangi adalah seorang gadis. Meskipun demikian dipaksakannya ia berceritera.

“Itulah sebabnya aku mengatakan bahwa gembala itu mempunyai kelebihan dari gembala-gembala yang lain. Ketika aku sudah hampir kehilangan akal dalam perlawananku atas Ki Peda Sura yang memang ingin menangkap aku hidup-hidup aku sudah memutuskan untuk lebih baik mati daripada tertangkap. Aku dapat membayangkau apa yang akan terjadi atas diriku, seandainya Peda Sura benar-benar dapat membawa aku hidup-hidup.” Pandan Wangi berhenti sejenak. Tampaklah wajahnya menjadi semburat merah. Suaranya menjadi semakin dalam dan hampir-hampir tidak terdengar. Lalu sambungnya, “Dalam saat seperti itu. datanglah gembala yang menyebut dirinya bernama Gupita. Ia mencoba melepaskan aku dari tangan Ki Peda Sura, sehingga ketika kami melawan bersama-sama, Ki Peda Sura itu terluka.”

Ki Argapati mendengar ceritera itu dengan dada ber-debar-debar. Ia menjadi semakin yakin, bahwa orang bercambuk itu mempunyai kepentingan dengan daerah ini. Meskipun ia tidak tahu, kepentingan apa saja yang mengikatnya, namun kehadirannya dalam keadaan seperti ini membuat Ki Argapati berharap-harap cemas.

Berbeda dengan tanggapan orang-orang lain yang berada di ruangan itu yang menganggap bahwa kehadiran anak muda yang menyebut dirinya Gupita sebagai suatu kurnia, maka Wrahasta yang bertubuh raksasa itu menangkapnya dari sudut yang berbeda. Ketika dengan sudut matanya Pandan Wangi mencoba melihat kesan di wajah Wrahasta, maka terasa sebuah desir yang lembut menyentuh jantungnya. Wajah anak muda yang bertubuh raksasa itu mejadi tegang. Dan sejenak kemudian dengan suara gemetar ia berkata, “Apakah Ki Gede dapat mempercayainya?”

Ki Gede menggerakkan kepalanya. Ia mengerutkan keningnya ketika tampak olehnya wajah Wrahasta yang menegang.

“Maksudmu, ceritera Pandan Wangi?” bertanya Ki Gede.

“Bukan,” jawab Wrahasta. “Mungkin Pandan Wangi mengatakan sebenarnya apa yang dialaminya. Tetapi anak yang menamakan dirinya Gupita itu.”

Ki Gede tidak segera menjawab. Tapi tampaklah keheranan terpancar di pandangan matanya.

“Kita sama sekali belum mengenalnya dengan baik. Kita tidak tahu, apakah maksudnya menolong Pandan Wangi,” sambung Wrahasta. “Apakah itu bukan sekedar suatu permainan yang sudah diatur olehnya dengan Sidanti dan Peda Sura?”

Pandan Wangi terkejut mendengarnya. Maka tanpa sesadarnya ia menyahut, “Ki Peda Sura sendiri terluka pada saat itu.”

Tiba-tiba saja Wrahasta tertawa pendek. Dengan wajahnya yang aneh ia menjawab, “Itu mungkin sekali. Dengan demikian ia akan berhasil mengelabuhi tanggapanmu atasnya. Gembala itu akan mendapat kepercayaan daripadamu dan terlebih-lebih lagi dari Ki Gede. Dalam suatu kesempatan ia akan menikam kita dari belakang.” Wrahasta berhenti sejenak. Suara tertawanya telah lenyap. Dan dengan bersungguh-sungguh ia berkata, “Tetapi seandainya tidak demikian, seandainya ia tidak mempunyai hubungan dengan Sidanti maka ia pasti akan memanfaatkan keadaan di Tanah Perdikan ini. Ia mungkin sekali akan mengail di air keruh untuk kepentingan pribadinya.”

Sekali lagi wajah Pandan Wangi menjadi semburat merah, bibirnya menjadi gemetar, tetapi tidak sepatah kata pun yang meloncat. Sementara itu Samekta dan Kerti menarik nafas dalam-dalam. Tanpa mereka sengaja mereka berpaling dan saling memandang. Dari loncatan sorot mata mereka, mereka telah saling berbicara. Mereka segera dapat menangkap isi hati masing-masing. Dan mereka seolah-olah berbicara satu sama lain, “Wrahasta merasa tersinggung, kenapa bukan ia sendirilah yang menolong Pandan Wangi. Lebih daripada itu ia merasa kuwatir, bahwa anak muda yang bernama Gupita itu dapat mengganggu hubungan yang sedang dirintisnya dengan Pandan Wangi.” Namun orang-orang tua itu tidak segara ikut serta menanggapi persoalan itu secara langsung. Mereka harus berhati-hati. Dalam keadaan serupa ini, setiap percikan kekecewaan akan dapat mengganggu keadaan yang semakin lama menjadi semakin gawat.

Ki Gede yang tidak mengerti persoalan yang sebenarnya tidak segera menjawab. Tetapi keheranannya masih membayang di wajahnya. Kenapa tanggapan Wrahasta terlampau miring. Padahal orang-orang yang menyatakan ciri pribadi mereka dengan cambuk itu, telah menunjukkan maksud baik mereka.

Tetapi Ki Gede tidak segera menyahut. Dicobanya untuk mengerti tanggapan Wrahasta. Betapa pun buramnya, namun Ki Gede melihat juga arah yang dapat dipakai sebagai dasar pikiran Wrahasta.

“Wrahasta terlampau hati-hati,” berkata Ki Gede didalam hatinya. “Ia sendiri belum pernah mengenal orang-orang bercambuk itu, sehingga kecurigaannya itu pun beralasan.”

Dengan demikian maka ruangan itu menjadi sepi sejenak. Namun di dalam kesenyapan itu, dada Pandan Wangi telah digelisahkan oleh gemuruhnya perasaannya. Ia mengerti, apakah sebabnya Wrahasta bersikap demikian. Sebagai seorang gadis ia merasakan getaran yang memancar dari hati anak muda yang bertubuh raksasa itu. Tetapi sebagai seorang gadis ia pun merasakan getar di dalam dadanya sendiri, apabila ia mengenang, atau berbicara apalagi menyebut nama anak muda yang menyebut dirinya sebagai seorang gembala itu.

Dalam keheningan itu terdengar Ki Argapati bertanya, “Pandan Wangi, aku ingin mendengar, apakah yang sebenarnya telah terjadi atasmu pada saat kau bertempur melawan Ki Peda Sura. Aku ingin kau berceritera dari awal sampai akhir, berurutan seperti apa yang telah terjadi sebenarnya.”

Terasa dada Pandan Wangi berdentangan. Sebenarnya ia memang ingin menceriterakan, sehingga bagian-bagian yang paling kecil sekalipun. Ia ingin berceritera bahwa anak muda itu telah menolongnya sehingga mereka jatuh berguling di atas tanah yang kotor. Ia ingin berceritera bahwa anak muda yang menyebut dirinya bernama Gupita itu menarik tangannya berlari-lari di atas pematang dan tanah yang becek berlumpur. Di atas genangan air yang memantulkan cahaya bulan yang penuh, yang bergayutan di langit yang biru bersih.

Tiba-tiba Pandan Wangi itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menggeram di dalam hatinya, “Tidak. Aku adalah seorang dari sekian banyak pengawal Tanah Perdikan ini. Yang menarik perhatianku seharusnya bukan pantulan cahaya bulan yang bulat. Bukan birunya langit yang digantungi oleh bintang gemintang. Bukan selembar awan putih yang hanyut dalam hembusan angin dari samodra. Bukan. Bukan. Yang penting bagiku, Peda Sura telah kami lukai. Aku telah berhasil melepaskan diri dari tangannya dan pasukanku telah berhasil mengundurkan diri dengan korban yang sekecil-kecilnya.”

Namun justru dengan demikian, tidak sepatah kata pun yang meloncat dari bibirnya.

Samekta dan Kerti pun menjadi berdebar-debar pula. Ia tahu betapa sulitnya Pandan Wangi mengatakan apa yang telah dialaminya menilik ceriteranya yang baru dikatakannya sepotong-sepotong. Apalagi ketika mereka melihat, wajah Wrahasta yang menjadi tegang. Apabila Pandan Wangi menceriterakan sekali lagi, bahkan lebih banyak lagi tentang anak muda yang mengaku sebagai seorang gembala itu, maka mereka menjadi cemas bahwa perasaan Wrahasta akan benar-benar terluka. Karena itu, maka sebelum Pandan Wangi dapat mengatasi kebimbangannya, terdengar Samekta berkata, “Ki Gede, ada banyak soal yang harus kita bicarakan. Sebenarnya Ki Gede masih harus banyak beristirahat. Karena itu, sebaiknya ceritera-ceritera itu dapat ditunda untuk lain kali. Sekarang kami mengharap Ki Gede menenteramkan hati, dan apabila mungkin tidur meskipun hanya sekejap.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia berkata sambil tersenyum, “Kau benar Samekta. Aku memang harus beristirahat. Tetapi mendengarkan ceritera Pandan Wangi bagiku merupakan suatu kesegaran baru di dalam diri yang tegang selama ini. Aku akan berbangga dan bahkan mengagumi anak ini. Dengan demikian, segala kepahitan atas kekalahan yang aku alami ini akan terhibur karenanya.”

“Tetapi bukankah Ki Gede tidak kalah?” potong Kerti, “Semua yang terjadi, sehingga Ki Gede menderita luka, bukanlah suatu kekalahan. Tetapi itu adalah suatu kecurangan. Ki Gede tidak akan terluka apabila Ki Tambak Wedi sanggup bertempur beradu dada.”

Ki Gede tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba saja Pandan Wangi menyahut, “Apakah Tambak Wedi berbuat curang sehingga Ayah terluka parah di dadanya?”

Kerti mengangguk. Jawabnya, “Akalmu telah membawa aku menyaksikan apa yang terjadi. Karena kami menyangka bahwa kau lari lagi dari halaman dan pergi ke Pucang Kembar, maka aku pun telah pergi ke sana pula. Agaknya kau memang bermaksud demikian.”

Pandan Wangi tidak menyahut, tetapi kepalanya ditundukkannya dalam-dalam, seolah-olah ia sedang mencoba menyembunyikan perasaan yang mengambang di wajahnya.

“Hem,” tiba-tiba Samekta menarik nafas dalam-dalam, “Kita telah terlibat lagi dalam suatu pembicaraan. Biarlah Ki Gede beristirahat sejenak, agar lukanya menjadi semakin baik. Apalagi apabila Ki Gede dapat tidur. Karena itu, maka marilah kita tinggalkan ruangan ini.”

Mereka yang berdiri di seputar pembaringan Ki Gede itu saling berpandangan sejenak. Kemudian terdengar suara Kerti, “Baiklah. Sekarang marilah kita tinggalkan ruangan ini. Ki Gede memang perlu beristirahat.”

Ketika Kerti dan Samekta berpaling ke arah Wrahasta, maka dilihatnya wajah anak muda itu masih juga tetap tegang.

“Marilah, Wrahasta,” berkata Kerti sareh.

Wrahasta masih ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia bergumam, “Marilah.”

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada Ki Gede, “Kami minta diri sejenak, Ki Gede. Kami masih menyimpan banyak persoalan. Nanti apabila Ki Gede sudah beristirahat, kami akan menyampaikan persoalan-persoalan itu.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Ia menjadi ragu-ragu untuk sejenak. Terasa sesuatu yang kurang wajar terjadi di antara orang-orangnya itu. Tetapi ia tidak dapat meraba, apakah yang kurang itu. Meskipun demikian ia mengangguk sambil berkata, “Silahkan. Silahkan. Aku memang ingin beristirahat. Tetapi aku minta Pandan Wangi tetap berada di sini menungguiku. Mungkin aku haus atau lapar atau memerlukan apa pun.”

“Tentu, Ayah,” sahut Pandan Wangi dengan serta-merta sebelum orang lain menyahut. Ia tidak mau apabila ia harus menyingkir pula dari samping ayahnya. Ia ingin menungguinya, dan lebih daripada itu, serasa dadanya dipenuhi oleh ceritera yang harus ditumpahkannya kepada ayahnya. Hanya kepada ayahnya.

Samekta dan Kerti saling berpandangan sejenak. Tanpa mereka sadari keduanya memandang Wrahasta dengan sudut mata mereka. Untunglah bahwa Wrahasta tidak memperhatikan sikap itu sehingga tidak menimbulkan persoalan apa pun di dalam dirinya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Kerti berkata, “Wangi, ayahmu minta kau tetap menungguinya. Layanilah. Kami akan minta diri sejenak.”

“Silahkanlah, Paman,” sahut Pandan Wangi.

Sejenak kemudian maka ruangan itu pun telah menjadi lengang. Yang tinggal di dalamnya adalah Ki Argapati yang berbaring di pembaringan bambu dan Pandan Wangi, yang menungguinya duduk di pembaringan itu pula. Sementara itu Samekta, Kerti, Wrahasta, dan para pemimpin yang lain pergi ke tempat yang mereka pergunakan sebagai pusat pimpinan sementara pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Supaya persoalan mereka, terutama Wrahasta, terbatas pada masalah Tanah Perdikan, tidak langsung menyentuh soal pribadi, maka Samekta segera membawa mereka ke dalam suatu pembicaraan mengenai laporan yang didengarnya, bahwa seseorang dari desa ini telah lolos untuk melaporkan keadaan Ki Gede yang senyatanya kepada Ki Tambak Wedi.

“Laporan itu berbahaya bagi kita di sini,” berkata Samekta, “sebab apabila Ki Tambak Wedi yakin akan keadaan Ki Argapati, maka ia akan segera mengambil keputusan.”

Kerti dan Wrahasta mengangguk-anggukkan kepala mereka. Bahaya itu memang terbayang di dalam kepala mereka. Apabila dalam saat yang pendek Sidanti membawa seluruh pasukannya ke desa ini, maka keadaan akan menjadi sangat gawat. Meskipun seluruh pasukan pengawal yang tersebar di segala tempat ditarik, maka untuk mempertahankan diri, pasti akan terlampau sulit.

***

From HPrasidi’s Collection
Scan: Herry Stw
Convert: Jebeng, Eddy
Retype: Lurah Baseman, DD, Jebeng
Proof: Eddy, DD
Date: 11-03-2008

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 30 Oktober 2008 at 10:15  Comments (20)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-38/trackback/

RSS feed for comments on this post.

20 KomentarTinggalkan komentar

  1. Iya mas DD, buku 36 & 37 selalu putus pas setengahnya waktu di download. Kalo di komputerku pake FDM pesannya “Server doesn’t support download resuming”.

    terima kasih buat mas DD dan semua pasukan ADBM, semoga tetap sehat dan selalu mendapat berkah Allah SWT, amienn…

    D2: Versi kecil udah dimuat. Silahkan cek lagi. Juga buat Nyi Ubaid dan yg lainnya.

  2. DD… kirim ke aku deh, kalau menurut aku, daripada ngedit, mendingan ngetik ulang lho…lebih cepat, aku tunggu infonya… no berapa yg harus aku kerjakan. mumpung lagi nganggur.

    PESAN
    DD, buku 38 biar aku yg kerjain

    salam
    lurah basman

    D2: Kenapa musti dikirim? Gak bisa DL? Retype atau edit, silahkan saja. Yg penting cepet.

  3. halaman ini gila bener.. masak pagerank nya 8/10
    ato google yang gila ya 😀
    google.com aja cuma 7/10

    tapi terlepas dari itu semua, adbm-ers emang top markotop.

  4. bener juga, barusan donlot yang versi kecil ternyata lancar jaya. Mkasih ya sedulur semua

  5. mas DD, minta file adbm-jilid-035.djvu donk. Sejak dibikin jadi djvu aku udah keasikan baca djvunya, asik banget bagaikan baca buku aslinya. di upload lagi dnk file djvunya. Thanks.

  6. matur nuwun bung DD, setelah file DJVU-ne dicilikno saiki wis lancar mocone.

  7. pro : joe…
    ni link buat download buku jilid 35. langsung copy ke download manager, DAP atau flasget, jangan pakai browser

    Klik untuk mengakses adbm-jilid-035.pdf

  8. pro joe….
    klo mo download buku 35, copy aja link buku 38 diatas, trus angka 38-nya dinganti 35..
    pakai downloader jangan browser

  9. mas DD, kalo djvu versi kecil, itu teh, yang muncul gambar kover aja yah, apa ada ceritanya? soalnya pas aku download kok gambar aja, ora ono ceritone dadi lieur eh binggung, atau mungkin aku yang ndak mudheng ya.

    Infonya dong mas DD, biar agak kebuka sedikit cakrawala saya perihal komputer. Hatur Nuhun.

  10. Ohm Yudho…

    Caranya sama saja Ohm, seperti kalo mau donlod file djvu yang sebelumnya… cuma yg di “Klik” itu gambarnya (kalo pake mouse, biasaya klik bag kanan)… abis tu baru di save sperti yang ohm yudho lakukan sebelumnya. tambah ext djvu… gituu ohm..

  11. Mas DD…

    Buku 38, ga ada covernya, adain dong covernya…., tenkyuu yah sebelumya….

  12. […] 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  13. pengen gabung ke adb-mers…gmn caranya?

  14. menjelang hari Kartini,
    Pandanwangi ngungsi neng dukuh Karangsari.

    • ki mbleh ngebuuuud

      • inggih Ki AS,
        numpak Maklaron mbelgedhes,
        mumpung Hamilton lagi pipis,
        gerobage kula tumpaki.

        • hihaha ki mbleh ora pareng pipis nang grobag yo

  15. selamad hari kardini
    (dibaca “selamat hari kartini”, maklum salah ketig.)

    • “PADAmoe KARTINI2 MOEDA BANGSAkoe”

      • saruJOEK


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: