Buku 38

Dalam ketegangan keadaan itu, Kerti mencoba menilai keadaan secermat-cermatnya. Pasukan Samekta telah terpukul mundur, bahkan bersama-sama dengan para pengawal pilihan yang dipimpin oleh Wrahasta. Tetapi apakah yang dapat dilakukan Samekta dan Wrahasta menghadapi Sidanti dan Argajaya? Adalah suatu keajaiban bahwa Pandan Wangi tidak terbunuh atau tertangkap ketika ia berkelahi melawan Ki Peda Sura. Tetapi Pandan Wangi masih belum mengatakan, apakah sebabnya ia berhasil melepaskan dirinya.

Angan-angan mereka itu segera tersentak ketika mereka mendengar desah Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia menggerakkan tangannya, kemudian sekali lagi menarik nafas dalam-dalam.

“Ayah,” desis Pandan Wangi. Ki Gede tidak segera menjawab.

“Ayah, Ayah,” Pandan Wangi menjadi pucat, “Ayah.”

Hampir saja ia menjerit sambil memeluk ayahnya, apabila Kerti tidak segera menahannya, “Jangan, Ngger. Jangan membuat ayah terkejut. Lihat, nafasnya menjadi semakin teratur.”

“Tetapi….”

Pandan Wangi menjadi semakin bingung ketika Kerti tidak juga melepaskannya. Lenyaplah gambaran seorang prajurit yang tangkas di peperangan. Yang ada kini adalah seorang gadis yang kecemasan menunggui ayahnya, satu-satunya orang tuanya yang ada, yang sedang dibelai maut.

“Tidak, Ngger. Lihatlah. Ayah sedang mencoba mengatasi kesulitan yang ada di dalam dirinya dengan memusatkan segenap kemampuanya dan kekuatan yang tersisa. Ayah sedang memohon kepada Tuhan dengan segenap hatinya, segenap budinya. Marilah kita ikut berdoa di dalam hati.”

“Tetapi, tetapi, bagaimanakah keadaan ayah itu nanti.”

“Jangan cemas. Kita pasrahkan keadaannya kepada Penciptanya. Tetapi menilik tata-lahir yang kasat mata, keadaan ayahmu menjadi semakin baik.”

“Tetapi, tetapi, apakah obat itu bukan justru menyesatkan?”

Pertanyaan itu menyentuh perasaan Kerti yang betapapun kecilnya mempunyai dugaan serupa pula. Tetapi ia yakin, bahwa Ki Gede sendiri, seorang yang hampir mumpuni, pasti dapat membedakan, apakah yang sedang terjadi atas dirinya, sehingga karena Ki Gede sendiri sama sekali tidak berprasangka, maka ia tidak berbuat apa-apa.

“Paman,” Pandan Wangi mendesak, “apakah tidak ada reorang dukun yang cukup cakap untuk mengetahui, apakah yang menyebabkan ayah menjadi terlampau panas dan parah seperti ini.”

Kerti tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Seandainya ada seorang dukun yang cakap tentang obat-obatan, namun Ki Argapati sendiri telah mantap mempergunakan obat dari orang yang belum begitu dikenalnya itu. Tetapi meskipun demikian, ikhtiar itu harus dilakukan. Pendapat Pandan Wangi itu dapat diusahakan seandainya mungkin.

Karena itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berdesis, “Memang hal itu pun akan dapat kami coba.”

Kerti pun kemudian berbisik kepada seseorang yang berdiri di belakangnya, untuk menghubungi pemimpin-pemimpin pengawal yang lain. Yang mungkin dapat memanggil seseorang yang mampu menolong keadaan Ki Gede yang sedang parah itu.

Orang itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Aku akan mencoba.”

“Tetapi orang itu harus benar-benar dapat dipercaya. Lebih baik apabila orang itu tinggal di daerah ini. Orang yang selama ini selalu berhubungan dengan Ki Gede dalam soal obat-obatan ternyata kini telah berada di pihak Sidanti.”

“Ki Wasi?” bertanya orang itu.

Kerti mengangguk. “Ya, orang itu ternyata kini berpihak kepada lawan meskipun selama ini ia selalu dekat dengan Ki Gede dalam soal obat-obatan.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi bukankah obat yang dipergunakan oleh Ki Gede ini bukan obat dari Ki Wasi.”

Kerti menggelengkan kepalanya. “Bukan, aku kira bukan.” Namun terbersit keragu-raguan di dalam dadanya. Apakah anak yang gemuk itu bukan sekedar suruhan Ki Wasi untuk meracuni Ki Argapati?

“Ah, kenapa aku menjadi terlampau cemas,” berkata Kerti di dalam hatinya. “Ki Gede telah mengenal cirri-ciri orang yang memberinya obat. Agaknya Ki Gede mempercayainya. Kenapa aku menjadi terlalu gelisah?”

Kerti mengangguk ketika pengawal itu berkata, “Baiklah aku pergi sekarang. Mudah-mudahan di padesan ini aku dapat menemukannya. Yang benar-benar baik dan dapat dipercaya.”

“Pergilah. Asal bukan Ki Wasi dan Ki Muni. Kedua-duanya tidak lagi dapat dipercaya.”

Pengawal itu segera pergi meninggalkan ruangan itu, untuk mencoba memenuhi permintaan Kerti dan Pandan Wangi.

Pandan Wangi, Wrahasta, Kerti, dan beberapa orang yang lain masih saja mengerumuni Ki Argapati dengan dada yang dicengkam oleh ketegangan. Ki Argapati masih terbaring diam sambil memejamkan matanya, dengan tangan bersilang di dadanya.

“Bagaimana keadaan ayah, Paman?” Pandan Wangi berbisik dalam kecemasan yang mencengkam.

“Kita hanya dapat menunggu, Ngger. Tetapi setidak-tidaknya keadaannya tidak menjadi semakin parah. Bahkan, lihatlah, pernafasannya sudah jauh lebih baik dan teratur.”

“Ayah telah mengerahkan tenaganya untuk mengatur jalan pernafasannya. Tetapi apakah ia dapat bertahan?”

Kerti tidak menjawab. Tetapi kecemasan yang sangat membayang di matanya. Keningnya yang telah berkerut, menjadi semakin berkerut-merut.

Wrahasta yang berdiri tegak di samping Kerti, sama sekali tidak bergerak. Ia pun tidak kalah cemasnya dari Kerti dan Samekta. Tetapi seperti juga Samekta, ia berusaha untuk menekan kecemasannya di dalam hatinya. Apalagi mereka tidak melihat langsung seperti Kerti, seseorang yang kurang mereka kenal memberikan obat kepada Ki Gede, dan obat itu telah ditaburkan di atas lukanya.

Di halaman rumah itu, pengawal yang mendapat tugas dari Kerti untuk mencari seorang dukun, segera melakukan tugasnya. Dengan tergesa-gesa ia berlalu dari halaman rumah itu, menghubungi seorang penduduk untuk menanyakan apakah di padukuhan itu ada seorang dukun yang baik untuk mengobati luka-luka baru, luka-luka karena senjata dan racun.

Tetapi pengawal itu kecewa ketika ia melihat orang itu menggelengkan kepala. ”Sayang, di desa ini tidak ada seorang pun yang pantas untuk mengobati luka. Apakah Ki Gede terluka parah?”

“Ya, Ki Gede terluka.”

“Apakah luka itu berbahaya bagi jiwanya?”

Pengawal itu terdiam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun kediamannya telah memberikan kesan kepada orang yang bertanya kepadanya, bahwa memang keadaan Ki Gede cukup berbahaya.

Berita tentang keadaan Ki Gede itu pun segera tersiar. Orang orang yang berdiri di luar halaman, di gardu-gardu dan hampir di segala tempat, telah mempercakapkan keadaan Ki Gede Menoreh. Mereka menjadi sangat berprihatin. Pada saat tanah perdikan ini mengalami bencana, maka pada saat yang demikian Ki Gede berada dalam keadaan luka parah, dan bahkan membahayakan jiwanya.

Pada saat orang-orang di seluruh padesan itu sedang berdoa untuk keselamatan Ki Gede, seluruh pengawal yang mundur ke dalam daerah itu, dan seluruh peududuk di daerah-daerah yang masih setia kepadanya, mengharapkan kesembuhannnya, maka para pengawal di jurusan Timur padesan itu telah dikejutkan oleh suara panah sendaren yang meluncur dari dalam daerah lingkungan bambu berduri.

Suara panah sendaren itu benar-benar telah menarik perhatian para pengawal, sehingga pemimpin pengawal yang berada di daerah itu segera memberikan perintah. ”Dua orang pergi bersama aku.”

Ketiganya segera meloncat ke atas punggung kuda berlari ke arah panah sendaren itu meluncur. Namun agaknya mereka telah terlambat. Panah itu jatuh ke dalam sebuah pategalan yang agak rimbun. Ketika kuda mereka mendekat, maka mereka melihat seekor kuda meluncur dengan cepatnya, menerobos dedaunan berlari ke jurusan induk kademangan.

“Seorang pengbubung atau petugas sandi dari Sidanti.”

“Marilah kita kejar,” geram salah seorang pengawal itu.

Tetapi pemimpin pengawal itu menggelengkan kepalanya, “Tidak akan dapat kita capai. Kuda itu tidak kalah baiknya dengan kuda-kuda kita. Kita kalah waktu dan kita pasti akan terjebak.”

Tetapi panah itu sangat menarik perhatian para pengawal, sehingga pemimpin pengawal itu berkata seterusnya, ”Kita harus melaporkan, bahwa di dalam lingkungan kita pasti ada petugas sandi Sidanti yang telah melepaskan panah sendaren itu.”

Ketiga pengawal berkuda itu segera berpacu kembali. Dengan segera mereka pun berusaha menemui Samekta yang sedang menunggui Ki Gede yang sedang sakit.

“Ada apa?” bertanya Samekta berbisik.

Pemimpin pengawal itu ragu-ragu sejenak. Beberapa langkah ia bergeser diikuti oleh Samekta yamg mengerti maksud pengawal itu. Lalu katanya, ”Seseorang telah melepasksan panah sendaren dari ujung desa ini.”

Samekta mengerutkan keningnya. Berita itu merupakan berita penting baginya.

“Kami bertiga sudah berusaha untuk mengejar panah sendaren itu, karena kami yakin bahwa seseorang telah menunggunya. Tetapi ternyata kami terlambat.”

“Kenapa?”

“Panah sendaren itu merupakan sesuatu yang tiba-tiba bagi kami. Ketika kami berkuda menyusul arah panah itu, maka seekor kuda yang lain telah berlari kencang-kencang dari petegalan sebelah.”

“Apakah kalian tidak mengejarnya?”

“Sudah terlampau jauh.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya.I Ia dapat mengerti, bahwa mustahil para pengawal dapat berbuat terlampau cepat dan tiba-tiba, memacu kudanya secepat anak panah pula.

Tetapi peristiwa itu tidak akan dapat dibiarkannya saja. Maka sebelum ia menemukan pemecahan ia berkata, ”Awasi keadaan baik-baik. Usahakan untuk mengetahui, siapakah yang telah melepaskan anak panah itu, atau setidak-tidaknya berusaha untuk mencegah, jangan sampai hal serupa itu terulang.”

Pemimpin pengawal itu menganggukkan kepalanya. Kemudian ia minta diri, meninggalkan rumah itu. Sekali ia berpaling, mencoba memandang wajah Ki Gede dari sela-sela yang mengerumuninya. Wajah itu masih juga pucat, dan mata Ki Gede masih saja terpejam.

Kerti yang berdiri di samping Pandan Wangi dengan gelisahnya menunggu orang yang disuruhnya mencari seorang dukun yang mungkin dapat membantu Ki Argapati, tetapi orang itu masih juga belum datang. Sedang keadaan Ki Gede merupakan teka-teki yang menegangkan bagi mereka yang tidak begitu mengerti tentang persoalan serupa itu.

Dengan tergesa-gesa Kerti menyongsongnya, ketika orang yang disuruhnya itu memasuki pintu. Tetapi ia menjadi kecewa ketika orang itu mengangkat bahunya sambil berkata, ”Tidak ada. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya dengan meyakinkan. Di sini memang ada dukun-dukun kecil yang hanya mampu mengobati luka-luka kecil. Mungkin sakit sawan atau kerasukan. Tetapi tidak untuk melawan luka yaug begitu parah.”

Kerti menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menjadi semakin cemas. Tetapi ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Perlahan-lahan ia melangkah kembali ke tempatnya di samping Pandan Wangi.

“Bagaimana, Paman?” bisik Pandan Wangi.

“Belum, Ngger. Orang itu belum menemukan. Tetapi yang lain masih akan berusaha terus.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Kecemasan yang sangat membayang di wajahnya. Tetapi seperti juga Kerti, ia pun tidak mampu berbuat apa-apa selain menunggu. Menunggu dan berdoa di dalam hati. Ia masih mengharap, bahwa secepatnya akan ada orang yang datang untuk membantu memperingan penderitaan Ki Gede dengan segala cara. Namun sebenarnya ia tidak akan dapat mengharap siapa pun. Kerti pun tidak, karena orang yang disuruhnya itu, tidak lagi berusaha untuk mendapatkan orang lain. Tidak ada orang yang dapat diharapkannya lagi.

Namun sementara itu, seseorang berjalan tertatih-tatih mendekati gardu penjagaan. Dengan nafas terengah-engah ia berkata kepada para penjaga, ”Aku akan keluar, Ngger.”

“Apakah keperluanmu, Kek?” bertanya seorang pengawal.

“Aku akan mencari seorang dukun yang baik, yang mungkin mampu mengobati luka-luka Ki Argapati.”

“Kemana kau akan pergi?”

“Kemana pun juga. Ki Samekta menyuruh aku mendapatkannya segera di mana pun.”

Beberapa orang pengawal saling berpandangan sejenak. Ketika pemimpin pengawal menganggukkan kepalanya, maka pengawal itu berkata, “Pergilah. Hati-hati, Kek. Keadaan semakin gawat.”

“O, tidak ada lagi halangannya buat seorang seperti aku, Ngger. Aku sudah tua.”

“Tetapi kau harus hati-hati. Apalagi kalau orang lain tahu bahwa kau mencari obat untuk Ki Argapati.”

“Baik, Ngger.”

Orang itu pun kemudian berjalan tersuruk-suruk di panasnya matahari meninggalkan padesan yang dilingkungi oleh pering ori yang rapat, membentengi tempat pemusatan pasukan induk pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang terdesak dari padukuhan induk.

Berita tentang luka Ki Argapati memang sudah tersebar sampai hampir seluruh tanah perdikan. Tetapi tidak seorang pun di luar lingkungan pagar pering ori yang tahu keadaan sebenarnya dari luka Ki Gede itu. Ki Tambak Wedi yang tahu benar tentang luka itu pun, tidak dapat membayangkan akibatnya. Apakah yang kemudian terjadi dengan Ki Gede itu. Apakah luka itu menjadi bertambah parah, ataukah Ki Gede dapat mengabaikannya. Ketika Ki Tambak Wedi meninggalkannya, tampaknya Ki Gede masih tetap segar dan mampu melawannya.

Karena itu, maka Ki Tambak Wedi memerlukan keterangan. Yang diharapkannya adalah beberapa orang yang memang sudah berada di dalam lingkungan pering ori itu, di padukuhan kecil tempat induk pasukan Menoreh menempatkan dirinya.

Ketika seorang petugas sandinya datang dan melaporkan bahwa sudah ada tanda panah sendaren dari seseorang di dalam lingkungan pasukan Menoreh, maka harapan Ki Tambak Wedi menjadi semakin besar untuk segera dapat mengetahui apakah yang telah terjadi dengan Ki Argapati.

“Ia pasti segera datang,“ desisnya.

Sidanti mengannguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Sekilas dilihatnya wajah Argajaya dengan sudut matanya. Wajah itu pun sama sekali tidak memberikan kesan apa pun juga.

Sementara itu, orang tua yang keluar dari daerah tertutup, pemusatan pasukan Menoreh semakin lama menjadi semakin jauh dari regol desa. Ketika orang tua itu berbelok dan masuk ke dalam daerah pategalan, maka tiba-tiba ia menarik nafas dalam. Punggungnya yang selama ini terbungkuk-bungkuk menjadi tegak kembali. Sambil menggeliat ditekankannya kedua tangannya di lambungnya sambil bergumam lirih, “Hem, serasa hampir patah punggungku.”

Sejenak kemudian orang itu berpaling. Sama sekali tidak dilihatnya seseorang menyusulnya. Daerah iu benar-benar merupakan daerah mati.

“Aku harus segera menyampaikannya kepada Sidanti, bahwa luka Ki Argapati sangat parah, bahkan hampir merenggut jiwanya,” katanya di dalam hati.

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketika ia akan melangkahkan kakinya ia mendengar gemerisik di sampingnya. Cepat ia meloncat dan bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Sejenak kemudian dari balik rimbunnya dedaunan, muncul seseorang sambil berkata, “Hem, aku sudah mengira.”

Orang tua itu terperanjat. Orang yang muncul dari balik rimbunnya dedaunan itu adalah salah seorang pengawal Menoreh.

“Apa yang kau duga?” bertanya orang tua itu.

“Aku bercuriga melihat kau keluar dari padesan untuk mencari obat buat Ki Argapati. Ki Samekta tidak akan memerintahkan kepadamu, seandainya ia benar-benar memerlukan. Ternyata belum terlampau jauh, kau telah membuka kedokmu. Kau ternyata tidak terlampau tua seperti yang kau perankan. Kau belum begitu lemah dan belum saatnya berjalan tersuruk-suruk. Bahkan agaknya kau masih mampu untuk bertempur.”

“Hem,” orang tua itu menarik nafas, “Hidung petugas sandi pengawal Menoreh cukup tajam.”

“Bukankah kau juga orang Menoreh? Kita pasti sudah pernah berjumpa sebelum ini. Aku pernah mengenalmu, tetapi tidak tertatih-tatih dan tersuruk-suruk seperti keadaanmu pada saat kau keluar dari regol desa itu. Itulah yang membuat aku bercuriga. Tetapi kau tetap dilepaskan, seolah-olah kami sama sekali tidak menaruh perhatian atasmu. Nah, sekarang, marilah kita kembali saja. Kalau kau tidak terlalu banyak ribut, maka kau tidak akan mengalami nasib terlampau jelek.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Sesaat ia tegak seolah-olah membeku. Namun tiba-tiba, secepat kilat ia mencabut sehelai keris kecil dari wrangkanya di bawah bajunya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi ia langsung menyerang, menusuk dada.

Tetapi pengawal dari Menoreh itu pun telah mempersiapkan dirinya. Sehingga dengan demikian, maka ia pun mampu untuk meloncat mneghindari serangan itu.

“Hem, kau melawan, Kek?” katanya.

Orang tua itu tidak menjawab, Tetapi serangannya telah berulang lagi. Semakin lama semakin cepat. Kerisnya mematuk-matuk dengan dahsyatnya seperti seekor bilalang yang melenting-lenting untuk hinggap di tubuh pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu.

Dengan demikian, maka petugas sandi dari Menoreh itu tidak dapat terus-menerus menghindar dan menghindar. Akhirnya ia pun harus bertempur pula.

Sesaat kemudian kedua tangannya telah menggenggam sepasang pisau belati pendek, yang segera terayun-ayun dengan dahsyatnya, menyambar-nyambar mengimbangi gerak keris lawannya.

Demikianlah, maka perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Masing-masing ternyata adalah orang-orang terpilih. Orang orang yang memiliki beberapa kelebihan dari kawan-kawan mereka sehingga mereka mendapat tugas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya.

Setelah perkelahian itu berlangsung beberapa saat, maka ternyata bahwa pengawal tanah perdikan yang sedang bertempur itu memiliki beberapa kelebihan dari lawannya. Umurnya masih jauh lebih muda dan nafasnya masih tetap segar, meskipun ia telah memeras kemampuannya. Sedang orang tua yang bersenjata keris itu semakin lama telah menjadi semakin susut tenaganya. Nafasnya mulai mengganggunya, dan ketuaannya agaknya berpengaruh juga atas kelincahannya, meskipun sebenarnya ia tidak perlu berjalan tertatih-tatih dan tersuruk-suruk.

Orang tua yang merasa dirinya terdesak itu segera mengerahkan tenaganya. Dicobanya untuk mengimbangi kemampuan lawannya. Tetapi ternyata bahwa lawannya pun berusaha sekuat tenaganya untuk segera mengakhiri perkelahian itu.

Dalam keadaan serupa itu, maka tidak ada jalan lain bagi orang tua itu daripada melarikan diri. Ia merasa bahwa ia mempunyai kecakapan yang melebihi orang-oran kebanyakan. Ia mampu berlari cepat sekali.

Namun sebelum ia mulai melepaskan langkah pertamanya, tiba-tiba sekali lagi mereka dikejutkan oleh gemerisik dedaunan di sekitar mereka. Pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu meloncat surut ketika ia melihat bahwa orang yang datang itu adalah orang Sidanti.

“Hem, aku sudah menyangka,” desis orang itu.

“Apa?” bertanya orang tua yang hampir kehabisan nafas sambil bertolak pinggang.

“Aku menyangka bahwa perjalananmu terganggu.” Kemudian ia berpaling kepada petugas sandi yang baru saja berkelahi itu, “Kau dapat menemukannya, bahwa ia adalah seorang petugas kami?”

Pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu menjawab, “Kita adalah orang-orang Menoreh. Sudah tentu kita sudah pernah saling bertemu dan saling mengenal meskipun belum begitu rapat. Aku juga pernah mengenal kau sebagai bekas pengawal tanah perdikan ini. Kau pun pasti sudah mengenal aku pula.”

“Bukan aku yang bekas pengawal tanah perdikan ini, tetapi kau.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Ditatapnya kedua orang pengikut Sidanti itu berganti-ganti.

“Jangan menyesal, karena kau mengikuti aku,” berkata orang tua itu. “Memang sudah lazimya terjadi di daerah peperangan. Kalau seseorang gagal membinasakan lawannya, maka ia sendirilah yang mungkin akan menjadi binasa. Bukankah begitu?”

Pengawal itu menganggukkan kepalanya. “Ya, itu sudah aku sadari sebelumnya.”

Jawaban itu membuat kedua orang pengikut Sidanti terdiam sejenak. Mereka saling berpandangan. Mau tidak mau mereka harus mengagumi lawannya, yang menempatkan dirinya di atas landasan yang mantap.

Dan sejenak kemudian pengawal itu berkata pula, “Nah, sekarang bagaimana? Aku tetap dalam pendirianku. Kau, Kek, harus kembali. Bahkan kalau mungkin kau yang baru saja menyusul, akan aku tangkap pula.”

Orang tua, yang ternyata petugas sandi itu, menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau terlampau dibutakan oleh kesetiaanmu yang tidak akan ada artinya, sehingga kau tidak dapat melihat yang terbentang di hadapan hidungmu. Kau berdiri berhadapan dengan kami berdua. Melawan aku sendiri kau tidak segera dapat menang. Sehingga menurut takaran yang wajar, kau tidak akan menang melawan kami berdua bersama-sama. Tetapi kau masih juga berkata akan membawa aku kembali dan menangkap kawanku ini.”

“Apa pun yang akan terjadi atasku.”

Lawannya, yang datang kemudian, tertawa pendek. Katanya, “Orang-orang yang sampai saat ini masih juga menjadi pengikut Argapati memang tergolong orang-orang gila serupa ini.”

“Terserahlah menurut penilaianmu. Sebab aku yakin, bahwa kau sendiri sebenarnya dapat menimbang, menilai dan membuat perbandingan-perbandingan, antara Ki Argapati dan Sidanti. Siapakah yang salah dan siapakah yang benar.”
“Aku sudah menyangka, bahwa kau akan berpendirian serupa itu. Orang-orang semacam kau ini memang dapat berbuat membabi buta sampai sisa nyawamu yang terakhir. Karena itu, kami memang tidak dapat berbicara dengan kau. Yang dapat kami lakukan adalah memaksa kau dengan kekerasan untuk melihat ke-nyataan, bahwa mayatmu akan terkapar di pategalan ini. Dengan demikian maka kedatanganku di sini tidak akan sia-sia. Sebab sesuai dengan perhitungan Sidanti, memang mungkin sekali seseorang akan mengikuti kakek ini keluar. Ternyata perhitungan itu benar. Sedang kalau aku tidak juga segera kembali, maka tidak mustahil Sidanti akan mengirimkan lagi lebih dari satu orang untuk menjemput aku. Jika demikian, maka kami berharap dapat menangkap kau hidup-hidup. Keterangammu tentang Ki Argapati dam daerah pertahanannya yang terakhir pasti akan sangat kami butuhkan. Betapa pun juga kau bersumpah setia, namun kami akan berusaha memeras segala macam keterangan dari mulutmu. Selama kulitmu masih belum sekeras baja, dan dagingmu belum menjadi batu.”

Pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu mengerutkan keningnya. Debar di dalam dadanya menjadi semakin cepat. Apa yang dikatakan oleh kedua orang itu memang tidak mustahil akan terjadi atas dirinya apabila ia berhasil ditangkap hidup-hidup.

“Aku masih belum terlampau jauh dari regol desa. Kalau aku berbasil membawa mereka keluar dari pategalan ini, meloncati tikungan, maka pasti akan ada seorang yang dapat melihat kami,” berkata orang itu di dalam hatinya. Maka dengan demikian ia bertekad untuk dengan segala cara menyelesaikan tugasnya sebaik-baiknya. Tetapi ia pun menyadari akibat yang paling parah dapat terjadi atasnya pula.

Orang itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar orang itu, petugas sandi Sidanti itu berkata, “Bagaianana? Apa sudah kau pertimbangkan? Mati atau ikut kami. Ada dua kemungkinan dapat terjadi atasmu apabila kau berada di antara kami. Kalau kau menyerah dengan suka rela dan memberikan keterangan dengan sejujur-jujurnya, kau akan mendapat tempat yang baik. Tetapi kalau kau terpaksa kami tangkap dengan kekerasan, akibatnya akan lain.”

“Kemungkinan-kemungkinan itu semuanya tidak aku kehendaki,” jawab pengawal itu.

“Aku sudah menduga, karena itu, kami terpaksa melumpuhkan kau. Kalau mungkin menangkap kau hidup-hidup. Kalau tidak membunuhmu dan membiarkan bangkaimu dimakan anjing liar di pategalan ini.”

Pengawal itu tidak menjawab. Tetapi ia telah bersiaga sepenuhnya. Kedua pisaunya yang telah siap di tangannya digengggamnya erat-erat.

Kedua petugas dari pihak Sidanti itu pun segera bersiap pula. Keduanya saling berpencar dan mencari sudut-sudut serangan dari arah yang berbeda. Kakek tua dengan keris kecilnya seolah-olah mendapat tenaga baru di dalam dirinya, sedang orang yang baru datang itu, benar-benar masih cukup segar. Selain dari kesegaran tubuhnya, maka di tangannya tergenggam sehelai senjata panjang. Pedang.

Tetapi Pengawal yang hanya seorang diri itu tidak akan menyerah. Ia dapat berusaha sedikit demi sedikit berkisar dari tempatnya, dan muncul di tempat yang terbuka, dengan harapan orang-orang yang berada di regol padesan tempat pemusatan pasukan Menoreh dapat melihatnya, meskipun tidak terlampau jelas. Tetapi titik-titik yang bergerak-gerak pasti akan menarik perhatian mereka.

Kedua pihak kini tidak lagi saling berbicara. Mereka telah berada dalam kesiagaan yang tertinggi. Seperti mendung yang hitam tebal tergantung di langit.

Demikianlah maka sejenak kemudian mereka telah terlibat dalam perkelahian yang seru. Seorang berhadapan dengan dua orang.

Dengan segala kemampuan yang ada padanya, pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu bertahan. Sesuai dengan rencananya, maka ia pun segera bergeser dari satu titik ke titik yang lain. Supaya lawan-lawannya tidak segera menyadari caranya, maka arah yang pertama-tama ditempuh justru masuk semakin dalam ke dalam pategalarn. Namun kemudian melingkar-lingkar dan bergeser perlahan-lahan menepi.

Tetapi ternyata kedua lawannya bukan orang-orang yang berotak terlampau tumpul. Sesaat kemudian dada pengawal itu menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar salah seorang lawannya berkata, “Ha, kau akan memancing kami keluar dari pategalan ini. Dengan demikian kau akan mengharap, kawan-kawanmu di regol padesan sebelah dapat melihat kita yang sedang berkelahi.”

Pengawal itu menggeram. Sejenak kemudian dikerahkannya segenap kemampuannya sambil menggeretakkan giginya.

Tetapi betapapun juga, menghadapi dua orang lawan yang mempunyai kemampuan yang cukup, adalah pekerjaan yang terlampau berat baginya. Sedangkan ia sadar kalau ia tidak berhasil, maka rahasia tentang Ki Gede yang parah itu akan segera sampai ke telinga Ki Tambak Wedi.

Kalau Ki Tambak Wedi kemudian dapat mendengar tentang keadaan Ki Argapati maka tidak mustahil, bahwa ia akan memanfaatkan keadaan. Ki Tambak Wedi dapat mengambil kesempatan selagi Ki Argapati masih belum dapat bangkit dari pembaringannya dan memimpin perlawanan.

“Tidak ada orang lain yang dapat melawan Ki Tambak Wedi selain Ki Argapati,” berkata pengawal itu di dalam hatinya. Tetapi dalam pada itu ia pun harus mengakui kenyataan, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan kedua lawannya itu, betapapun juga caranya. Apalagi kedua lawannya itu mengerti, bahwa ia akan membawa mereka ke luar dari pategalan supaya para pengawal yang bertugas di regol desa dapat melihat mereka yang sedang berkelahi.

Tetapi agaknya kedua orang itu tidak mau dipancingnya untuk hal itu.

“Jangan banyak tingkah,” berkata salah seorang dari kedua orang yang berpihak kepada Sidanti, “Kau hanya dapat memilih, menyerah atau terbunuh.”

Pengawal itu tidak menyahut, tetapi terdengar ia menggeram. Tandangnya menjadi semakin garang. Sepasang pisau belatinya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Namun untuk mengatasi kedua lawannya memang terlampau sulit.

Semakin lama maka semakin ternyata, bahwa ia menjadi kian terdesak. Tidak ada lagi usaha yang dapat dilakukan. Seandainya ia berkeras hati untuk bertempur terus, maka sudah dapat dipastikan bahwa ia akan mati. Kematiannya tidak akan banyak memberikan arti bagi Menoreh. Sebab mayatnya akan berkubur tanpa diketahui oleh siapa pun juga. Tidak ada orang yang tahu, apakah yang sudah terjadi atasnya dan tidak akan ada orang yang tahu bahwa seseorang akan menyampaikan berita, keadaan Ki Gede kepada Ki Tambak Wedi.

“Aku harus mencobanya,” berkata pengawal itu.

Maka sekali lagi ia mencobakan caranya. Memancing kedua lawannya menepi. Tetapi setiap kali lawannya itu tertawa sambil berkata, “Ha, kami bukan anak-anak yang dapat kau jerat dengan permainanmu.”

“Persetan!” teriak pengawal itu. “Aku pun tidak mau mati di tangan kalian berdua.”

“Mau tidak mau, kami akan membunuhmu.”

Tetapi setiap kali pengawal itu selalu menghindar dan berloncatan menjauh.

“Pengecut!” teriak orang-orang Sidanti, “Kau ternyata tidak cukup jantan untuk melakukan tugas sandimu.”

“He,” orang itu tertawa pentdek, “seorang petugas sandi kadang-kadang memang memerlukan sikap yang licik. Bahkan kadang kadang curang. Katakan, apakah kalian cukup jantan juga berkelahi berpasangan melawan aku seorang diri?”

“Tetapi kau sudah terjun ke arena. Prajurit hanya dapat dihentikan oleh maut apabila ia bertempur.”

“Hanya prajurit-prajurit yang tidak mempunyai otaklah yang berpendirian demikian. Kakek ini pun tidak berbuat demikian. Setelah ia terjun dalam perang tanding melawan aku, maka ia telah mengingkari kejantanannya dengan membiarkan kau ikut bersamanya, bersama-sama mengeroyok aku.”

“Persetan!” sahut kakek tua. “Apa pun yang sudah kita lakukan maka aku berkeputusan, kau harus dibinasakan.”

Pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu tidak sempat untuk menjawab. Kedua lawannya mendesaknya semakin sengit. Tetapi ia telah bertekad untuk menghindarinya apabila keadaan memang terlampau sulit baginya. Sebab hal itu akan lebih baik bagi pasukannya. Mereka dapat mengerti dan mempersiapkan diri sebelumnya.

Tetapi ia harus menyesal, bahwa ia terpaksa melepaskan orang yang hampir-hampir dapat ditangkapnya itu. Orang itu pasti membawa berita tentang Ki Argapati sanpai ke telinga lawan-lawannya.

“Apa boleh buat,” katanya di dalam hati, “Aku tidak mampu mengatasinya.”

Dengan demikian maka ia berusaha untuk menghindarkan diri dari perkelahian itu. Kedua orang lawannya pun tidak berani mengejarnya terus, sebab dengan demikian, mereka akan keluar dari pategalan dan pasti akan menumbuhkan kecurigaan kepada orang-orang Menoreh di padesaan sebelah.

“Hem, kau benar-benar akan lari,” berkata kakek tua itu, “baiklah. Bukan aku yang menyusul kau, tetapi kaulah yang menyusul aku. Aku tahu maksudmu, supaya aku tidak dapat menyampaikan berita sakitnya Ki Argapati kepadi Sidanti. Tetapi kau tidak berhasil. Kau terpaksa membiarkan kami pergi. Kami akan segera menyampaikan berita itu, dan kau dapat membayangkan akibatnya. Tanpa Argapati, prajurit Menoreh akan menjadi lumpuh. Dengarlah bahwa di pihak Sidanti ada nama-nama Ki Tambak Wedi, Sidanti sendiri, Ki Argajaya, Ki Peda Sura, dan masih banyak lagi. Siapakah yang berada di pihakmu? Pandan Wangi? Cobalah renungkan. Dari mana kalian akan memenangkan peperangan ini? Seandainya kekuatan prajurit di kedua belah pihak seimbang, maka senapati-senapatinyalah yang akan menentukan kemenangan.”

“Ada kelebihan di pihak kami yang tidak kalian miliki,” jawab pengawal itu, “yaitu pengabdian yang tulus. Kau tidak. Kau juga tidak. Orang-orang di pihakmu berkelahi karena pamrih-pamrih pribadi.”

“Pamrih-pamrih itulah yang telah mendorong kami untuk bertekad memenangkan peperangan ini. Pamrih-pamrih yang kami sadari. Bukan kesetiaan yang buta seperti kalian. Sebab orang-orang seperti kalian tidak lebih dari pancadan-pancadan yang hidup tetapi tidak mampu untuk berpikir. Kalian akan menjadi alat tempat orang-orang besar di pihakmu itu berdiri.”

“Itulah tekad kami. Sebab kami percaya bahwa orang-orang yang akan berdiri di atas kami adalah orang-orang yang benar berwenang dan benar-benar orang yang akan berpikir tentang kami dan Tanah kami.”

Hampir bersamaan kedua orang itu tertawa. Salah seorang daripada mereka itu berkata, “Jadilah seperti yang kau ingini. Tetapi bagaimana sekarang? Mati, atau menyerah atau membiarkan kami membawa berita tentang keadaan Ki Gede Menoreh?”
Pengawal itu tidak menjawab. Ia benar-benar tersudut dalam keadaan tanpa dapat memilih. Karena itu, maka kini ia berdiri tegak dengan sepasang senjata di tangannya, namun ia tidak berbuat sesuatu ketika kedua lawannya itu melangkah surut, “Biarlah kami ampuni kau sekali ini. Kau akan tetap hidup. Sebab aku tidak mau kau seret ke luar pategalan ini.”

Pengawal itu tidak menjawab. Kenyataan itu harus dihadapinya. Ia memang tidak mampu untuk melawan kedua pengikut Sidanti itu, betapa pun juga ia memeras tenaganya. Tetapi ia pun tidak mau mati sebelum menyampaikan kabar tentang petugas sandi itu kepada pimpinannya.

Karena itu, dengan hati yang bergolak ia terpaksa membiarkan kedua orang itu beringsut semakin jauh. Apalagi ketika ia mendengar salah seorang dari mereka tertawa sambil berkata, “Selamat tinggal. Berita tentang Ki Gede Menoreh akan segera tersebar. Tetapi mudah-mudahan Argapati sendiri tidak sempat mendengarnya karena lukanya yang parah itu. Aku tidak yakin kalau ia akan dapat disembuhkan oleh dukun yang betapa pun pandainya.”

Yang terdengar adalah gemeretak gigi pengawal itu. Perasaannya menjadi terlampau pahit mengalami peristiwa yang mengecewakan itu. Ia terpaksa membiarkan lawan-lawannya pergi sambil mentertawakannya. Sedang suatu berita yang sangat penting akan mereka bawa kepada lawan.

Sejenak kemudian kedua orang itu pun lenyap di balik dedaunan yang rimbun, seperti lenyapnya harapan petugas sandi dari pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu untuk mempertahankan rahasia tentang sakitnya Ki Argapati.

“Peronda-peronda di gardu itu terlampau malas,” ia menggeram. “Tidak seorang pun yang melihat, apa yang telah, terjadi di sini.”

Dengan penuh penyesalan ia melangkahkan kakinya kembali kepada pemimpinnya untuk segera melaporkan peristiwa itu. Di dalam kepalanya telah terbayang berbagai kemungkinan yang pahit bagi pasukan Menoreh. Ki Tambak Wedi pasti akan segera mempergunakan kesempatan untuk menghantam pasukan induk yang masih belum berhasil menghimpun diri sebaik-baiknya itu. Apalagi Ki Argapati sedang terluka parah dan Pandan Wangi sedang dibebani oleh perasaan duka seorang gadis yang sedang nenunggui ayahnya yang sudah mulai dibelai oleh tangan-tangan maut.

Dalam pada itu, tanpa setahu pengawal itu, sepasang mata selalu mengikutinya dari balik rimbunnya dedaunan. Dengan ragu-ragu seseorang melihat segala peristiwa yang terjadi. Hampir-hampir ia tidak dapat menahan diri lagi, dan menerjunkan diri dalam arena perkelahian itu. Tetapi ia selalu memegang pesan seseorang yang diseganinya. Dan pesan itu berbunyi, “Jangan langsung mencampuri persoalan Tanah Perdikan Menoreh. Kita harus menunggu, apabila saat itu telah datang, barulah kita menyatakan diri dalam sikap yang pasti. Kini kita akan berbuat dalam kesempatan-kesempatan yang sangat terbatas. Kita mengharap bahwa orang-orang yang sedang bertengkar itu menemukan penyelesaian yang tidak terlampau parah.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya pengawal yang dengan tergesa-gesa meninggalkan petegalan itu.

“Keadaan sudah terlampau parah,” desisnya. “Aku kira tidak akan ada jalan untuk kembali dan menghindari benturan-benturan yang lebih dahsyat lagi. Tetapi baiklah, aku menunggu. Mungkin satu dua hari akan segera ternyata, sikap apa yang akan kami ambil.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia pun segera meninggalkan pategalan itu sambil bergumam, “Aku harus melaporkannya. Kalau Ki Tambak Wedi mengetahui keadaan Ki Argapati, maka keadaan memang dapat menjadi semakin panas.”

Maka dengan sigapnya orang itu segera meloncat menyusup di antara rimbunnya pepohonan, sambil mengikatkan sebuah cambuk yang berjuntai panjang di bawah bajunya.

Sementara itu, pengawal yang baru saja berkelahi dengan orang-orang Sidanti berjalan semakin lama semakin cepat, bahkan berlari-lari kecil. Dengan nafas terengah-engah ia mendekati regol. Belum lagi ia mendekat terdengar ia mengumpat, “Kalian adalah orang-orang gila yang malas.”

Pemimpin pengawal yang sedang bertugas mengerutkan keningnya, “Kenapa?”

“Kalian telah berbuat suatu kesalahan, sehingga orang tua yang berjalan tersuruk-suruk itu tolos dari tanganku.”

“Kenapa justru aku yang bersalah,” bertanya pemimpin itu.

“Aku tidak mampu melawan mereka berdua.”

“Berdua?”

“Ya. Dan kau tidak mengirimkan seorang pun untuk melihat apa yang telah terjadi. Kalau aku mati di pategalan itu, maka tidak seorang pun yang tahu, apa yang telah terjadi dan bahwa berita tentang sakitnya Ki Gede yang parah itu telah sampai ke telinga Tambak Wedi.”

“He, apakah kau sedang bermimpi. Cobalah, katakan apa yang sebenarnya terjadi. Orang tua yang tersuruk-suruk hampir mati itu dapat lolos dari tanganmu?”

“Kalian bukan petugas sandi. Tetapi kalian harus dapat memperhitungkan bahwa gila sekali apabila Sidanti benar-benar mengirimkan orang yang sudah tidak tegak lagi berjalan.”

Mereka saling berpandangan. Dan mereka mendengar petugas sandi itu menceriterakan serba singkat, apa yang telah terjadi.”

“Sidanti mengirimkan orangnya untuk melihat apa yang terjadi atas petugas sandinya, ketika menurut perhitungannya jarak yang ditetapkannya terlampau jauh.”

“Jarak yang mana?”

“Antara panah sendaren dan kedatangan orang yang mengirimkannya.”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 30 Oktober 2008 at 10:15  Comments (20)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-38/trackback/

RSS feed for comments on this post.

20 KomentarTinggalkan komentar

  1. Iya mas DD, buku 36 & 37 selalu putus pas setengahnya waktu di download. Kalo di komputerku pake FDM pesannya “Server doesn’t support download resuming”.

    terima kasih buat mas DD dan semua pasukan ADBM, semoga tetap sehat dan selalu mendapat berkah Allah SWT, amienn…

    D2: Versi kecil udah dimuat. Silahkan cek lagi. Juga buat Nyi Ubaid dan yg lainnya.

  2. DD… kirim ke aku deh, kalau menurut aku, daripada ngedit, mendingan ngetik ulang lho…lebih cepat, aku tunggu infonya… no berapa yg harus aku kerjakan. mumpung lagi nganggur.

    PESAN
    DD, buku 38 biar aku yg kerjain

    salam
    lurah basman

    D2: Kenapa musti dikirim? Gak bisa DL? Retype atau edit, silahkan saja. Yg penting cepet.

  3. halaman ini gila bener.. masak pagerank nya 8/10
    ato google yang gila ya 😀
    google.com aja cuma 7/10

    tapi terlepas dari itu semua, adbm-ers emang top markotop.

  4. bener juga, barusan donlot yang versi kecil ternyata lancar jaya. Mkasih ya sedulur semua

  5. mas DD, minta file adbm-jilid-035.djvu donk. Sejak dibikin jadi djvu aku udah keasikan baca djvunya, asik banget bagaikan baca buku aslinya. di upload lagi dnk file djvunya. Thanks.

  6. matur nuwun bung DD, setelah file DJVU-ne dicilikno saiki wis lancar mocone.

  7. pro : joe…
    ni link buat download buku jilid 35. langsung copy ke download manager, DAP atau flasget, jangan pakai browser

    Klik untuk mengakses adbm-jilid-035.pdf

  8. pro joe….
    klo mo download buku 35, copy aja link buku 38 diatas, trus angka 38-nya dinganti 35..
    pakai downloader jangan browser

  9. mas DD, kalo djvu versi kecil, itu teh, yang muncul gambar kover aja yah, apa ada ceritanya? soalnya pas aku download kok gambar aja, ora ono ceritone dadi lieur eh binggung, atau mungkin aku yang ndak mudheng ya.

    Infonya dong mas DD, biar agak kebuka sedikit cakrawala saya perihal komputer. Hatur Nuhun.

  10. Ohm Yudho…

    Caranya sama saja Ohm, seperti kalo mau donlod file djvu yang sebelumnya… cuma yg di “Klik” itu gambarnya (kalo pake mouse, biasaya klik bag kanan)… abis tu baru di save sperti yang ohm yudho lakukan sebelumnya. tambah ext djvu… gituu ohm..

  11. Mas DD…

    Buku 38, ga ada covernya, adain dong covernya…., tenkyuu yah sebelumya….

  12. […] 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  13. pengen gabung ke adb-mers…gmn caranya?

  14. menjelang hari Kartini,
    Pandanwangi ngungsi neng dukuh Karangsari.

    • ki mbleh ngebuuuud

      • inggih Ki AS,
        numpak Maklaron mbelgedhes,
        mumpung Hamilton lagi pipis,
        gerobage kula tumpaki.

        • hihaha ki mbleh ora pareng pipis nang grobag yo

  15. selamad hari kardini
    (dibaca “selamat hari kartini”, maklum salah ketig.)

    • “PADAmoe KARTINI2 MOEDA BANGSAkoe”

      • saruJOEK


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: