Buku 38

“Jadi Pandan Wangi bermpur melawan Ki Peda Sura?” bertanya Argapati yang menjadi semakin cemas.

“Ya, Ki Gede.”

“Seorang melawan seorang?”

“Ya, Ki Gede.”

“Oh,” Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya terdengar kata-kata dari sela-sela bibirnya. “Hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan dapat melepaskannya. Peda Sura belum akan dapat dilawannya. Meskipun ia mempunyai bekal yang cukup namun pengalaman setan itu jauh lebih banyak dan luas. Ia tidak mempunyai batas bagi perbuatannya. Apa pun dapat dilakukannya untuk mencapai tujuannya.”

Para pengawal yang mendengar kata-kata itu pun menjadi semakin cemas pula. Tidak seorang pun yang dapat membayangkan, apa yang telah terjadi dengan Pandan Wangi.

Dan tiba-tiba saja mereka terperanjat ketika Ki Gede beekata, “Kita pergi ke bekas pertempuran itu. Aku ingin melihat sendiri, apakah yang sudah terjadi.”

Dada Kerti menjadi berdebar-debar. Betapapun ia merasa bersalah, namun diberanikan dirinya berkata, “Ki Gede. Bukankah tempat itu masih terlampau berbahaya?”

“Ya, sangat berbahaya,” sahut salah seorang dari ketiga pengawal yang menjemputnya. “Peda Sura agaknya meninggalkan sekelompok orangnya di sekitar bekas pertempuran itu.”

“Apa pun yang akan terjadi aku akan melihat,” kata-kata Argapati tiba-tiba menjadi tajam. “Aku ingin melihat, apakah aku dapat menetnukan mayat anakku. Kalau tidak maka ia pasti dibawa oleh Peda Sura. Jika demikian, maka Pandan Waugi akan mengalami penderitaan yang mengerikan.” Ki Gede berhenti sejenak. Lalu terdengar ia menggeram, “Kalau demikian halnya, maka aku sendiri akan memimpin langsung pasukan Menoreh yang ada untuk merebut kembali semua kedudukan. Aku harus menemukan Pandan Wangi dalam segala kadaan dan menemukan kembali keutuhan Tanah Perdikan Menoreh, meskipun kini sudah tersayat-sayat.”

Dada Kerti berdesir mendengar kata-kata itu. Ki Gede adalah seorang yang keras hati. Hampir setiap kata-katanya dilakukannya dengan baik. Karena itu maka dengan hati-hati ia berkata, “Tetapi bukankah Ki Gede kini sedang terluka?”

“Lukaku tidak seberapa. Aku sudah sembuh dan aku berterima kasih kepada orang bercambuk itu.”

“Tetapi,” Kerti masih mencoba menahannya, “apabila Ki Gede langsung terjun di peperangan maka luka itu akan berbahaya.”

“Jadi maksudmu, aku baiknya tidur di pembaringan, sedang anakku dan seluruh Tanah Perdikan Menoreh sedang dibakar oleh api kedengkian, nafsu dan pamrih yang melonjak-lonjak?” suara Ki Gede menjadi semakin keras, dan bahkan hampir berteriak.

Kerti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kecemasan yang merambat di dadanya menjadi semakin dalam tergores di dinding jantungnya. Ki Gede sudah mulai menentukan sikap. Jika demikian, maka sulitlah baginya, dan bagi siapa pun untuk mengurungkannya.

Kerti adalah seorang yang sudah cukup lama berada di samping Ki Gede. Ia tahu benar sifatnya dan tabiatnya. Namun pengetahuannya tentang watak Ki Gede itulah yang kini membuatnya bingung dan tidak menentu.

“Cepat!” tiba-tiba Ki Gede berteriak. “Pacu kuda ini.”

“Oh,” Kerti berdesah.

“Cepat, kau dengar?”

“Baiklah, Ki Gede.”

Kerti Tidak dapat berbuat lain kecuali mempercepat langkah kudanya. Dengan demikian maka yang lain pun menjadi semakin cepat pula.

“Kita tidak hanya sekedar lewat di daerah Wura-wari. Tetapi kita akan singgah di padesan itu. Bukankah maksudmu, pertempuran berlangsung di daerah itu? Bukankah begitu?” berkata Ki Gede kepada ketiga pengawalnya yang berkuda di depan.

“Ya, Ki Gede,” jawbab salah seorang dari mereka, “tetapi tempat itu benar-benar berbahaya. Kalau kita lewat di sekitarnya, mungkin kita akan mendapat bahan untuk mengetahui di mana Pandan Wangi berada. Tetapi kalau kita langsung masuk ke daerah Wura-wari dalam keadaan serupa ini, maka kita telah kehilangan perhitungan.”

“Persetan,” sahut Argapati, “aku sendiri akan melihat daerah itu. Aku bukan seorang yang terlampau bodoh dan tidak empunyai perhitungan. Tetapi aku akan melihat bekas pertempuran.”

“Ki Gede,” suara Kerti merendah, “bagaimana mungkin Ki Gede akan melakukannya? Baiklah, aku dengan kedua kawanku inilah yang melihatnya. Kami dapat mempergunakan cara apa pun, sambil bersembunyi atau merangkak di antara tumbuh-tumbuhan. Tetapi kami tidak sedang terluka seperti Ki Gede saat ini.”

Terdengar Ki Gede Menoreh menggeretakkan giginya. Seakan-akan ia sama sekali tidak mendengar kata-kata Kerti itu. Bahkan ia berkata dengan lantangnya, “Kaalau perlu aku akan masuk ke padesan yang sudah diduduki pasukan Sidanti. Aku ingin tahu dengan pasti, apakah yang sudah terjadi dengan Pandan Wangi.”

Kerti menarik nafas dalam-dalam. Tubuh Ki Gede Menoreh masih terlampau lemah. Hanya kadang-kadang saja ia menghentakkan dirinya, namun kemujan ia tersandar kembali ke dada Kerti yang duduk di belakangnya.

“Jangan terlampau banyak bergerak Ki Gede. Aku takut kalau luka itu kembali berdarah lagi,” berkata Kerti kemudian.

Ki Gede tidak menjawab. Tatapan matanya jauh menembus kabut malam yang keputih-putihan di bawah sinar bulan yang sedang purnama. Setitik embun jatuh dari dahan di atas mereka. Dingin.

Namun betapa hangatnya dada Kerti yang gelisah itu. Kalau benar-benar Ki Gede kehilangan pengamatan diri karena hilangnya Pandan Wangi, maka keadaan akan menjadi semakin sulit. Kalau terjadi sesuatu atas Ki Gede, maka pasukan Menoreh akan kehilangan induknya, seperti sapu lisi kehilangan suhnya. Mawut bertebaran terserak-serak di halaman.

Ketika mereka telah melampaui bulak di sebelah padukuhan Supit yang kecil, hati Kerti menjadi semakin berdebar-debar. Sebentar lagi mereka akan sampai ke pategalan, berseberangan dengan padukuhan kecil tempat pasukan Samekta menunggu gerombolan Ki Peda Sura.
Tiba-tiba ketiga pengawal yang berkuda di depan merapat dan saling berbisik, “Kita bawa Ki Gede ke pategalan. Bekas pertempuran di pategalan itu sajalah yang kita tunjukkan kepadanya supaya ia tidak mendekat ke padesan di sebelah. Aku yakin bahwa di padesan itu pasti dijaga oleh pasukan Sidanti.”

“Ya,” jawab yang lain, “dengan demikian pasti akan lebih aman bagi Ki Gede.”

Mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dan dengan demikian maka mereka agak menjadi tenteram. Karena mereka tahu, bahwa Ki Argapati benar sedang dalam keadaan parah.

Karena itu, ketika mereka sampai ke simpang tiga yang menuju ke pategalan yang agak rimbun itu, ketiga pengawal yang berada di depan itu pun berbelok.

“He, kenapa mereka berbelok,” bertanya Ki Gede.

“Tunggu,” teriak Kerti.

Ketiga pengawal itu pun segera menarik kekang kuda mereka. Salah seorang dari mereka berpaling sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, “Sst, di padesan itu sedang berjaga-jaga pasukan Sidanti,” desis salah seorang dari mereka setelah Kerti mendekat.

“Tetapi kenapa kalian berbelok kemari?” bertanya Ki Argapati. “Bukankah kita masih harus maju lagi untuk mencapai Wura-wari?”

“Pertempuran itu terjadi di pategalan itu Ki Gede,” jawab salah seorang dari mereka.

Ki Gede mengerutkan keningnya. Namun ia menggeram, “Aku ingin melihat.”

Mereka pun kemudian meneruskan perjalanan itu. Ketika mereka sampai di ujung pategalan, maka mereka pun segera berhenti. Satu-satu mereka turun dari kuda mereka dengan penuh kewaspadaan. Tangan-tangan mereka telah melekat di hulu pedang masing-masing.

Dengan hati-hati Kerti menolong Ki Gede turun dari kudanya dan memapahnya berjalan perlahan-lahan memasuki pategalan yang sunyi itu. Smentara itu, seorang dari mereka berdiri di luar pategalan untuk mengawasi kuda-kuda mereka.

Demikian mereka memasuki pategalan itu, maka segera Ki Gede menggeram. Ketiga pengawal itu tidak menipunya. Ki Gede masih sempat melihat bekas pertempuran. Bahkan masih dilihatnya beberapa sosok mayat yang terbaring di tanah. Mayat-mayat itu akan tinggal di tempatnya sampai besok. Kalau orang-orang Sidanti di padukuhan sebelah sempat, maka mayat-mayat itu baru akan dikuburkan.

“Hem,” Ki Gede berdesah, “perang yang kisruh.”

“Ya, Ki Gede, perang brubuh.”

Ki Gede tidak menyahut. Perlahan-lahan sambil berpegangan leher Kerti ia melangkah maju semakin dalam. Dilihatnya bekas peperangan itu dengan tegangnya. Hampir setiap mayat yang dijumpainya ditatapnya dengan tajamnya dan bahkan kadang-kadang diamatinya dengan seksama. Kadang-kadang memang dijumpainya mayat-mayat orang yang pernah dikenalnya, Pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Apakah pasukan Peda Sura telah membersihkan medan ini dengan mengambil mayat kawan-kawannya dan mereka yang terluka parah?” bertanya Ki Gede Menoreh.

“Aku kira belum, Ki Gede. Mayat masih banyak berserakan. Kalau Ki Gede sempat memperhatikan seluruh bekas medan ini.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Menilik korban yang jatuh, seharusnya pasukan Menoreh tidak dapat terdesak mundur.”

“Kalau keadaan tidak berubah, Ki Gede. Tetapi suara titir yang menjalar dari Timur telah menarik sebagian pasukan ini bersama Ki Samekta seudiri. Sedangkan Pandan Wangi tetap berada di medan ini.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ia masih juga melangkah maju menyusur bekas medan yang bosah-baseh.

“Aku akan menyusur garis surut pasukan Menoreh,” tiba-tiba Ki Gede bergumam.

Kerti terperanjat. Sehingga dengan serta-merta ia berkata, “Terlampau berbahaya Ki Gede.”

Ki Gede tidak menjawab, tetapi ia melangkah terus sambil berpegangan pundak Kerti.

“Ki Gede masih terlampau lelah. Seandainya tidak ada bahaya apa pun di perjalanan, maka Ki Gede akan terlampau banyak membuang tenaga.”

“Aku tergantung di pundakmu.”

“Itu bukan berarti Ki Gede tidak mengeluarkan tenaga.”

“Tetapi tenagaku masih cukup. Jangan kau cemaskan. Aku tidak akan mati karena berjalan menyusur jalan surut sampai ke tempatnya yang sekarang. Di sepanjang jalan mundur itu aku akan mencari mayat Pandan Wangi.”

Kerti menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat berhenti, karena Ki Gede yang tergantung di lehernya masih benjalan selangkah-selangkah terus, meskipun dengan susah payah.

Tetapi yang mencemaskan Kerti dan pengawal-pengawal yang lain, bukanlah tenaga yang akan dikeluarkan oleh Ki Gede itu sendlri, meskipun hal itu pun harus mendapat perhatian, tetapi bahwa di garis surut para pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu, pasti akan ditemui suatu pengawalan yang ketat dari orang-orang Sidanti.
“Ki Gede,” berkata salah seorang dari ketiga pengawal yang menjemput Ki Gede, “kalau kita akan menyelusur garis surut itu, berarti kita harus berjalan dari sini sampai ke Karang Sari.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Apabila ia ingin menyusur bekas peperangan sampai ke tempat para pengawal itu menarik diri, memang ia harus berjalan dari pategalan itu, lewat Wura-Wari melalui beberapa bulak lagi sampai ke Karang Sari.

Meskipun demikian Ki Gede bergumam, “Tetapi aku akan menemukan puteriku di sepanjang daerah itu.”

Tak seorang pun yang segera dapat menjawab. Mereka terpaksa berjalan menurut bekas-bekas peperangan di pategalan itu. Semakin lama semakin menepi. Para pengawal yang menjemput Ki Gede tahu benar, bahwa sebentar lagi mereka harus melalui daerah persawahan yang terbuka semakin dekat dengan tempat-tempat yang mungkin dihuni oleh orang-orang Sidanti.

Ketika mereka melangkah semakin maju lagi, tiba-tiba salah seorang dari ketiga pengawal itu berkata, “Ki Gede, tidak ada gunanya kita mencarinya lebih jauh.”

Ki Gede memandangnya dengan penuh keheranan, “Kenapa?”

“Di sini Pandan Wangi bertempur.”

“Aku tahu, aku tahu,“ jawab Ki Gede, “tetapi bukankah mereka mundur?”

“Yang mundur adalah pasukan pengawal. Pandan Wangi mencoba melindungi kami. Aku tahu, betapa besar tanggung jawabnya sebagai putera Ki Gede. Kami sudah mencoba untuk membawanya serta. Tetapi ia tidak bersedia. Sedang keadaan peperangan telah memaksa kami untuk selangkah demi selangkah mundur terus, kalau kami tidak ingin binasa sesuai dengan perintah Pandan Wangi sendiri sebagai pimpinan kami waktu itu sepeninggal Samekta.”

Wajah Ki Gede menjadi semakin tegang.

“Pandan Wangi terpaksa bertempur seorang lawan seorang melawan Ki Peda Sura.”

Tiba-tiba terdengar Ki Gede menggeram. Sejenak ia berdiri membeku tergantung di pundak Kerti. Namun kemudian ia berkata lantang, “Kita kembali ke induk pasukan di Karang Sari. Aku akan memimpin pasukan itu langsung ke padepokan induk. Aku harus menemukan Pandan Wangi dalam keadaan apa pun.”

Para pengawalnya menjadi berdebar-debar. Dan mereka mendengar Ki Gede berkata, “Disini aku tidak menemukan mayatnya. Anak itu pasti dibawa oleh Ki Peda Sura.”

Dada Kerti menjadi semakin bergetar. Bahkan para pengawal itu menjadi terbungkam untuk sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Apabila demikian, maka aku akan tinggal di sini.”

“Untuk apa?”

“Aku akan mencoba mencari sekali lagi. Lebih teliti di daerah peperangan ini.”

Ki Gede berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi aku akan segera menyiapkan pasukan yang ada. Aku tidak mau menunda lagi. Hilangnya Paudan Wangi adalah karena salahku. Aku terlalu bernafsu untuk menjaga harga diriku dengan perang tanding itu, sehingga keadaan Tanah Perdikan ini menjadi terpecah belah, dan anakku satu-satunya itu hilang.”

Ki Gede tidak menunggu jawaban apapun lagi. Bersama Kerti ia segera kembali ke kudanya.

“Cepat, kita pergi ke Karang Sari.”

Seteiah menolong Ki Gede naik, maka Kerti pun segera naik pula. Dua dari mereka tinggal di pategalan itu untuk melihat kemungkinan yang mengerikan apabila hal itu terjadi atas Pandan Wangi. Sedang Ki Gede dengan tergesa-gesa segera meneruskan perjalanan mereka ke Karang Sari.

Di perjalanan itu Ki Gede bergumam, ”Kita hindari daerah yang dikuasai Sidanti.”

Kerti mengerutkan keningnya. Ia agak heran mendengar pesan itu. Selama ini Ki Gede agaknya sama sekali tidak ingin menghindar dari kemungkinan bertemu dengan lawan, namun tiba-tiba pesan itu diberikannya.

“Aku akan memimpin pasukan,“ geramnya kemudian.

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tahu, bahwa Ki Gede merasa bahwa tugasnya masih belum selesai, sehingga ia tidak mau tertahan lagi di perjalanan ini.

Kuda-kuda itu pun kemudian berpacu dengan kencangnya. Debu
yang keputih-putihan meloncat di belakang kaki-kaki kuda yang berderap
di jalan kecil di tengah-tengah bulak yang panjang.

Sementara itu bulan di langit sudah menjadi terlampau rendah. Di ujung Timur telah menyala cahaya fajar yang kemerah-merahan. Semakin lama menjadi semakin cerah.

Di kejauhan terdengar suara kokok ayam yang seakan-akan menjalar dari satu kandang ke kandang yang lain. Sahut-menyahut tanpa menghiraukan apa saja yang telah terjadi di atas Tanah Perdikan Menoreh yang sedang kemelut dibakar oleh api pertentangan di antara mereka yang selama ini bersama-sama memelihara.

Apalagi setelah ada orang-orang yang tidak dikenal mencoba memanfaatkan keadaan untuk kepentingan mereka sendiri.

Kuda-kuda yang berlari di tengah-tengah bulak itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan sebuah padesan yang agak besar, yang
menjadi tempat pasukan Menoreh menarik diri, Karang Sari.

“Apakah perempuan dan anak-anak ada di Karang Sari itu pula?“ bertanya Ki Gede tiba-tiba.

“Tidak, Ki Gede,“ jawab salah seorang pengawal, “mereka berada di Patemon.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi terdengar ia menggeram, sementara langit menjadi semakin cerah.

Namun agaknya Ki Gede tidak ingin melihat matahari terbit dalam perjalanannya. Sehingga dengan memandangi langit yang semburat merah kekuning-kuningan ia berkata, “Kerti, kita harus sampai ke Karang Sari sebelum fajar.”

“Kita akan berusaha, Ki Gede,“ sahut Kerti sambil mempercepat kuda mereka pula.

“Aku harus segera mempersiapkan pasukan Menoreh,” geram Ki Gede.

Kerti tidak menyahut. Tetapi ia sudah tidak terlampau gelisah lagi. Mereka sudah tidak akan melampaui tempat-tempat yang dapat dianggap berbahaya, yang mungkin menjadi tempat-tempat bersembunyi bagi para peronda dari pihak Sidanti.

Karang Sari itu pun kemudian telah berada di hadapan mereka. Sebuah padesan yang tidak begitu besar, dikitari oleh rumpun bambu ori yang lebat, seolah-olah sengaja ditanam sebagai benteng yang kuat untuk melindungi desa Karang Sari dari bahaya.

Di antara rumpun bambu ori yang penuh dengan duri-duri yang tajam itu, terdapat sebuah lorong yang sempit menyusup di bawah sebuah regol yang kuat. Itu adalah salah satu dari empat jalan untuk memasuki desa Karang Sari di empat penjuru.

Ki Gede serasa tidak sabar lagi menunggu langkah kaki kudanya. Ingin ia meloncat langsung memasuki desa yang berpagar rapat itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada membiarkan dirinya tetap duduk di atas punggung kuda bersama dengan Kerti.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka segera mereka melihat beberapa pengawal bersenjata berdiri di depan regol desa. Sikap mereka menunjukkan kesiap-siagaan mereka. Senjata-senjata telanjang tergenggam di tangan mereka dengan eratnya. Beberapa orang di antara mereka menyongsong maju dengan tombak merunduk setinggi dada.

Beberapa puluh langkah dari regol itu Kerti memperlambat langkah kudanya. Para pengawal yang lain kini berada di belakangnya. Dengan dada berdebar-debar Kerti mengangkat tangan kanannya ke atas tanpa senjata.

Dan sebelum ia menghentikan kudanya terdengar salah seorang pengawal berteriak, “Ki Gede.”

Yang lain pun segera meloncat keluar dari regol padesan itu. Berdesak-desakan. Dan mereka melihat, bahwa sebenarnyalah yang berada di atas punggung kuda bersama dengan Kerti itu adalah Ki Gede Menoreh.

Maka mereka pun segera menyibak, memberi jalan supaya kuda Ki Gede Menoreh dapat melangkah maju.

Ketika sorot matahari yang pertama jatuh di atas desa Karang Sari, maka Ki Gede pun telah berada di regol desa itu. Di antara para pengawalnya ia merasa dirinya menjadi lebih baik. Dengan dada yang gemetar ia berkata, “Kita harus menebus kekalahan ini.”

Sejenak pengawal-pengawalnya terdiam memandangi wajah Ki Gede yang pucat. Namun kemudian seperti hentakan yang melonjak dari dalam dada masing-masing, mereka berteriak menyambut, “Ya, kita harus menebus kekalahan ini.”

Samekta dan Wrahasta yang mendengar suara ribut itu segera berlari-lari ke luar dari rumah di ujung desa itu, yang mereka pakai sebagai tempat untuk melakukan pimpinan atas para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Mereka terperanjat ketika mereka melihat Ki Argapati yang pucat duduk di atas punggung kuda dibantu oleh Kerti.

“Apakah Ki Gede terluka,“ bertanya Samekta dengan serta-merta.

Ki Gede mengangguk perlahan-lahan. Dipaudanginya wajah Samekta dan Wrahasta berganti-ganti. Seolah-olah ia ingin melihat, apa saja yang telah mereka lakukan selama ini.

Sorot mata Ki Gede terasa terlampau tajam menusuk dada kedua pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu. Perlahan-lahan kepala mereka pun kemudian tertunduk. Seolah-olah Ki Gede sedang mengamati ketidak-mampuan mereka mempertahankan Tanah Perdikan ini dari kehancuran.

Ki Gede melihat kegelisahan di wajah kedua orang itu, sehingga dengan nada yang dalam ia berkata, “Aku tidak dapat menyalahkan kalian dan menyalahkan siapa pun. Aku tahu bahwa kalian telah berbuat sebanyak-banyaknya yang dapat kalian lakukan. Aku yakin bahwa semua orang telah berjuang untuk mempertahankan Tanah ini, selain aku sendiri yang asyik memanjakan perasaan tanpa nalar yang bening. Sekarang Tanah ini terluka parah dan aku sendiri pun terluka pula.”

Semua orang menundukkan kepala mereka. Tidak seorang pun yang berani menatap wajah Ki Argapati yang sayu dan pucat.

Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara Ki Gede, “Tetapi aku ingin memperbaiki kesalahan itu. Sekarang aku akan memimpin sendiri pasukan Menoreh, merebut kembali daerah yang terpaksa kalian lepaskan itu.”

Samekta hampir-hampir tidak percaya kepada pendengarannya. Dengan pandangan yang aneh ditatapnya wajah Ki Gede Menoreh. Tetapi mulutnya tidak segera dapat mengucapkan sesuatu.

“Jangan menjadi gelisah. Aku sendiri yang akan memimpin pasukan Menoreh sekarang juga.”

“Tetapi,“ suara Samekta terbata-bata, “tetapi bukankah Ki Gede sedang terluka.”

“Lukaku tidak seberapa. Aku akan segera menjadi kuat lagi.”

“Tetapi Ki Gede memerlukan beristirahat. Meskipun hanya satu hari ini. Mungkin besok Ki Gede telah menjadi pulih kembali dan mampu memimpin pasukan Menoreh yang masih ada untuk merebut kembali semua tempat yang telah terpaksa kita lepaskan.”

“Aku tidak dapat menunggu sampai besok. Aku harus berangkat hari ini.”

Dada setiap orang yang mendengar kata-kata Ki Gede itu bergetar. Terjadilah pergolakan di setiap dada. Dorongan perasaan mereka, apalagi ketika mereka melihat Ki Gede sudah ada di antara mereka, seakan-akan telah membakar jantung mereka dan mendidihkan darah mereka. Hampir saja para pengawal itu berteriak, “Sekarang! Sekarang!“ Tetapi apabila mereka lihat Ki Gede yang lemah dan pucat, betapapun ia masih tetap dijalari oleh tekad yang menyala-nyala, mereka tidak akan dapat membenarkan sikap yang tergesa-gesa itu. Sikap itulah yang menjadi teka-teki bagi mereka. Ki Gede Menoreh tidak pernah kehilangan pengamatan,
seperti kali ini.

Karena itu, maka baik para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, maupun para pemimpinnya, tidak segera dapat menyahut. Mereka seakan-akan terpukau dalam kediaman mereka. Membeku sambil memandangi wajah Ki Gede yang pucat.

Karena tidak seorang pun yang mengucapkan sepatah kata menyambut perintahnya, maka Ki Gede berkata pula, “Kenapa kalian menjadi beku? Apakah kalian ragu-ragu, bahwa kita tidak mampu lagi untuk merebut setiap kedudukan yang telah kita tinggalkan?”

Samekta menelan ludahnya. Selangkah ia maju mendekati Ki Gede dengan dada yang berdebar-debar. Menurut tanggapannya, pasti ada sesuatu yang menyebabkan Ki Gede menjadi terlampau tergesa-gesa mengambil keputusan.

“Ki Gede,” berkata Samekta dengan hati-hati, “marilah. Kami persilahkan Ki Gede beristirahat. Marilah, kita membicarakannya dengan tenang.”

Tetapi Ki Gede Menoreh sama sekali tidak berkenan di hati. Dengan keras ia menjawab, “Aku tidak akan membicarakannya. Kalau kalian masih mengakui aku sebagai Kepala Tanah Perdikan, maka aku akan memerintahkan kalian untuk bersiap sekarang.”

Setiap dada terasa berdesir mendengar kata-kata Ki Gede itu. Sejenak mereka saling berpandangan. Ki Argapati tidak pernah demikian.

Namun Samekta masih mencoba bertanya, “Ki Gede, apakah yang menyebabkan Ki Gede harus melakukannya sekarang? Bagaimana seandainya besok atau setiap saat apabila Ki Gede sudah pulih kembali.”

“O, kalian terlampau memikirkan diri sendiri,“ suara Ki Argapati menjadi semakin keras. Kini ia duduk tegak di atas punggung kudanya meskipun Kerti masih belum turun juga. “Kalian tidak dapat merasakan, betapa sakit hatiku mengalami peristiwa ini. Mungkin terlampau pribadi, dan mungkin kalian tidak mau terseret dalam kepentingan ini. Kalau demikian baiklah.
Aku akan mengambil jalan lain. Tetapi aku harus mendapatkannya sekarang dalam segala keadaan.”

Samekta menjadi semakin tidak mengerti. Dipandanginya sejenak wajah Wrahasta. Tetapi Wrahasta yang bertubuh raksasa itu seakan-akan membeku di tempatnya. Di tubuhnya masih tergores jalur-jalur merah, bekas-bekas luka oleh sentuhan senjata lawan ketika ia bertempur mati-matian mempertahankan rumah Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Agaknya karena sesuatu hal, maka ia tidak mati di peperangan itu. Seandainya pada saat itu Pandan Wangi masih ada di dalam rumah itu, maka ia tidak akan beranjak sampai ke ujung hidupnya.

“Baiklah,“ berkata Ki Argapati kemudian, “beristirahatlah. Aku akan pergi sendiri.”

Samekta menjadi semakin bingung. Kerti pun menjadi bingung pula. Apalagi ketika ia tersentuh tubuh Ki Argapati yang menjadi terlampau panas. Panas oleh benturan yang terjadi di dalam tubuhnya. Benturan antara obat yang memampatkan lukanya dengan warangan yang ada pada ujung senjata Ki Tambak Wedi yang tergores di dada Ki Gede Menoreh itu, meskipun tidak terlampau tajam.

“Ki Gede,“ berbisik Kerti lirih, “tubuh Ki Gede menjadi terlampau panas. Mungkin terjadi sesuatu di dalam tubuh Ki Gede.”

“Oh,“ desah Ki Argapati “muugkin. Tetapi aku merasa semakin sehat. Aku sudah hampir pulih kembali.”

“Tetapi apakah agaknya yang memaksa Ki Gede untuk berbuat sekarang?“ bertanya Kerti pula. “Mungkin karena Ki Gede merasa kehilangan Pandan Wangi?”

“Sudah aku katakan,“ sahut Ki Gede.

Namun agaknya pertanyaan Kerti itu telah membuat Samekta, Wrahasta dan orang-orang lain menjadi terperanjat. Dengan terbata-bata Samekta bertanya “Maksud Ki Gede. Ki Gede ingin menemukan Pandan Wangi? Dan karena itu Ki Gede akan pergi sekarang?”

“Sudah aku katakan. Itulah sebabnya maka aku sebut persoalan ini kalian anggap terlampau pribadi. Aku terlampau mementingkan diriku sendiri, sekedar mencari anakku yang hilang itu.”

“Oh,” Samekta maju lagi selangkah, “tidak Ki Gede. Tidak. Pandan Wangi sama sekali tidak hilang.”

“He?“ Ki Argapati terbelalak mendengar kata-kata itu.

Samekta mengangguk lemah. Ketika sekali lagi ia memandang wajah Ki Gede, maka wajah itu sudah menjadi semakin pucat. Dan bahkan kini tubuh Ki Gede itu mulai menggigil. Agaknya benturan di dalam darahnya menjadi semakin dahsyat. Bahkan Kerti mulai bercuriga, apakah obat dari orang yang membawa cambuk dan mengaku bernama Gupala itu bukan justru racun yang memperkuat warangan senjata Ki Tambak Wedi yang tergores di dada Argapati.

Tetapi Kerti tidak bertanya tentang hal itu.

“Ki Gede,” berkata Samekta kemudian, “Pandan Wangi sudah kembali dengan selamat.”

“Siapa yang mengatakannya?“ bertanya Argapati.

“Ia ada disini.”

“Mana orangnya?”

“Ia sedang tidur. Ia terlampau lelah karena ia bertempur melawan Ki Peda Sura.”

Argapati termenung sejenak. Kata-kata Samekta itu seolah-olah sebuah mimpi saja yang mengganggunya. Perlahan-lahan dirabanya tengkuknya. Terasa lehernya menjadi terlampau panas.

Tiba-tiba saja ia merasakan tubuhnya menjadi terlampau lungkrah. Tulang-tulangnya seakan-akan terlepas dari tubuhnya. Kini baru ia mengerti, betapa tubuhnya dalam keadaan yang parah.

Namun dengan demikian, ia bertanya di dalam dirinya sendiri, “Apakah benar aku mendengar bahwa Pandan Wangi ada di sini? Atau karena keadaanku, maka aku menjadi kehilangan kesadaran, atau pingsan atau mimpi atau dalam keadaan apa pun. Tetapi itu hanya sekedar bayangan didalam hati?”

Tetapi ia mendengar lagi Samekta berkata, “Marilah Ki Gede, kami bawa Ki Gede kepadanya. Kepada Pandan Wangi.”

Ki Gede masih tetap ragu-ragu. Tetapi ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Marilah. Tetapi kalau kalian menipuku, maka aku dapat berbuat apa saja di luar sadarku. Adalah di luar nalar, kalau Pandan Wangi mampu melepaskan dirinya dari Peda Sura.”

Samekta tertegun sejenak. Namun kemudian segera ia berpular dan melangkah ke rumah yang diperuntukkan bagi Pandan Wangi.

Beberapa orang yang mengerumuni Ki Gede segera menyibak ketika kuda Ki Gede melangkah pula maju mengikuti Samekta.

Sementara itu Kerti masih juga duduk dibelakang Ki Gede. Di belakang kuda itu para pengawal yang sedang tidak bertugas di regol desa segera mengikutinya berbondong-bondong.

Samekta yang melangkah di depan kuda Ki Gede berjalan semakin cepat. Seperti seorang senapati yang maju di depan pasukannya di peperangan.

“Itulah rumah yang dipergunakannya, Ki Gede,” berkata Samekta sambil menunjuk sebuah rumah yang sedang di pinggir jalan di dalam lingkungan pagar batang-batang pring ori.

Ki Gede menjadi semakin berdebar-debar. Sejenak maka luka dan keadaan dirinya sendiri terlupakan lagi. Yang dipandanginya adalah pintu rumah yang kini telah berada di depannya.

Perlahan-lahan mereka memasuki regol halaman yang tidak terlampau luas. Wrahasta segera menahan para pengawal yang tidak berkepentingan agar mereka tidak turut masuk memenuhi halaman rumah itu.

Suara ribut-ribut di luar ternyata telah mengejutkan Pandan Wangi yang sedang beristirahat di bilik dalam rumah itu. Dengan hati yang berdebar-debar ia melangkah ke luar. Kedua pedangnya tetap siap di lambungnya.

“Apakah yang diributkan oleh orang-orang di luar itu bibi?” bertanya Pandan Wangi kepada seorang perempuan tua pemilik rumah itu.

“Entahlah, Ngger. Aku belum menjenguk juga.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan melihatnya sebentar.”

Perempuan tua yang lagi duduk di belakang alat tenunnya itu menengadahkan wajahnya. Sambil memiringkan kepalanya ia berkata, “Ya, aku memang mendengar orang ribut di halaman.” Tetapi perempuan itu tidak beranjak dari tempatnya. Sejenak kemudian ia telah mulai melemparkan jarum tenunnya lagi.

Pandan Wangi menarik nafas. Agaknya perempuan tua itu tidak tertarik lagi kepada apa pun juga selain jarum tenunnya yang besar itu.

“Apakah Paman tidak ada di rumah?” bertanya Pandan Wangi pula.

“Tidak, Ngger. Pamanmu sedang keluar,” jawabnya. Tetapi perempuan itu sama sekali tidak berpaling.

Sekali lagi Pandan Wangi menarik nafas.

Dan Pandan Wangi itu terperanjat ketika ia mendengar desah langkah seseorang masuk. Sebelum ia melihat orangnya, Pandan Wangi tdah mendengar suara orang itu memanggilnya.

“Angger Pandan Wangi. Apakab kau sudah bangun?”

“Paman Samekta,” desis Pandan Wangi.

Samekta kini telah berdiri di depan pintu. Katanya selanjutnya, “Aku telah mendengar suaramu. Tentu kau sudah tidak tidur lagi.”

“Aku banya dapat tidur sekejap, Paman. Selebihnya aku banya sekedar berbaring saja.” Pandan Wangi berhenti sejenak, lalu, “Siapakah yang berada di luar selain Paman Samekta.”

“Marilah, lihatlah sendiri.”

“Siapa?”

“Wrahasta.”

“Ah,” Pandan Wangi berdesah.

“Ada yang lain lagi, Ngger, marilah, lihatlah sendiri.”

Pandan Wangi masih juga ragu-ragu. Tetapi Samekta mendesaknya. “Marilah, Ngger, lihatlah siapakah yang menunggumu di luar.”

Samekta tidak menunggu jawaban Pandan Wangi. Segera ia berbalik dan melangkah ke luar, melintas pendapa.

Dengan ragu-ragu Pandan Wangi mengikutinya di belakang. Ketika ia melangkahi pintu, maka di bawah tangga pendapa dilihatnya seekor kuda yang dipegangi oleh seorang pengawal. Di belakang pengawal itu ia melihat Kerti sedang menolong seseorang turun dengan susah payah dari kuda itu.

Tiba-tiba Pandan Wangi terpekik, “Ayah.”

Dengan cepatnya Pandan Wangi meloncat berlari menyongsong ayahnya yang baru saja turun dari punggung kudanya. Menilik keadaannya, Pandan Wangi segera dapat mengetahui, bahwa sesuatu telah terjadi atas ayahnya itu. Karena itu maka dadanya serasa berhenti, seolah-olah menghentikan arus nafasnya.

Ki Argapati mendengar suara anaknya. Sejenak ia menengadahkan dadanya. Dipandangmya seseorang yang berlari ke arahnya. Seorang gadis dengan dua buah pedang di lambungnya sebelah-menyebelah.

“Pandan Wangi.”

Pandan Wangi yang berlari-lari itu langsung memeluk ayahnya yang lemah sambil berdesis, “Ayah, kenapa ayah?”

Ayahnya tidak segera menjawab. Tetapi Pandan Wangi terperanjat ketika tubuhnya tersentuh badan ayahnya. ”Ayah terlampau panas.”

Dengan tangannya yang lemah dilayani oleh Kerti Ki Argapati membelai kepala puterinya. Terdengar suaranya terlampau dalam, “Kau selamat Pandan Wangi.”

“Ya, Ayah, aku selamat,” sahut Pandan Wangi, suaranya menjadi gemetar. Betapa ia bertahan, namun ia adalah seorang gadis. Karena itu, maka terasa di pipinya air matanya mengalir satu-satu.

“Aku mendengar kau terlibat dalam perang tending melawan Ki Peda Sura.”

“Ya, Ayah.”

“Hanya tangan Tuhanlah yang dapat menyelamatkanmu.”

Pandan Wangi mengangguk. “Ya ayah.”

Ki Argapati terdiam sejenak. Tangannya masih membelai rambut puterinya yang kini menangis terisak-isak.

“Ki Gede,” berkata Kerti yang melayaninya, “sebaiknya, silahkan Ki Gede naik dan beristirahat.”

“Oh,” Pandan Wangi berdesah sambil melepaskan pelukannya. “Ya, Ayah. Silahkan Ayah naik. Apakah Ayah terluka?”

Argapati mengangguk perlahan. Terdengar suaranya semakin lirih, “Ya, aku terluka Wangi.”

“Dan tubuh Ayah terlampau panas. Apakah luka itu berbahaya dan parah?”

Argapati tidak segera menyahut. Dipalingkan wajahnya, beredar di halaman rumah itu. Dilihatnya beberapa orang pengawal berdiri mematung. Yang lain menyilangkan tombaknya di regol, supaya orang-orang yang tidak berkepentingan tidak masuk ke halaman.

“Ayah, apakah luka Ayah cukup parah?”

Ki Argapati yang lemah itu menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Tidak Wangi. Lukaku tidak terlampau parah.”

“Tetapi Ayah sangat pucat dan tubuh Ayah sangat panas.”

Ki Argapati mencoba tersenyum. Namun tampak betapa ia menahan gejolak di dalam tubuhnya. Perasaan yang aneh menjalar menyusur peredaran darahnya. Di dalam dadanya serasa menyala api yang sangat panasnya.

“Angger,” potong Kerti kemudian ketika Pandan Wangi masih ingin bertanya, “Biarlah Ki Gede Menoreh naik ke rumah dan beristirahat.”

“O, marilah. Marilah Ayah.”

Kerti dan Pandan Wangi kemudian membamu Ki Gede menaiki tangga pendapa. Perlahan-lahan mereka melintas dan masuk ke ruang dalam.

“Bibi,” berkata Paudan Wangi kepada perempuan tua yang lagi menenun di sudut ruang, “Ayahku minta ijin untuk tinggal di rumah ini pula bersamaku, Bibi. Ayah sedang terluka.”

Perempuan tua itu berpaling sejenak. Dipandanginya Argapati yang menjadi semakin lemah. Acuh tidak acuh ia menjawab, “Silahkan. Bawalah masuk ke bilik sebelah.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Perempuan itu segera melanjutkan kerjanya tanpa memperhatikan lagi orang-orang yang berada di dalam rumahnya.

Perempuan tua itu tidak berpaling ketika Pandan Wangi menyahut, “Terima kasih, Bibi.”

Namun tiba-tiba perempuan itu terbelalak. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Siapa? Siapa yang kau katakan akan tinggal di rumah ini bersamamu?”

“Ayah, Bibi. Ayahku.”

“Maksudmu, Ki Gede Menorah?”

“Ya, Bibi.”

“O,” dengan tergesa-gesa perempuan tua itu melepaskan dirinya dari alat tenunnya. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dan berkata, “Maaf. Maafkan aku. Aku tidak menyadari bahwa yang datang adalah Ki Gede Menoreh.”

Maka terbungkuk-bungkuk perempuan tua itu melangkah ke bilik yang lain sambil berkata, “Di sini. Di sinilah Ki Gede akan beristirahat.”

Dengan tergesa-gesa pula ia mengemasi pembaringan di dalam bilik itu. Dibentangkannya tikar pandan yang putih sambil bergumam, “Aku tidak menyangka, bahwa Ki Gede akan sudi singgah di rumah ini.”

Ki Gede Menoreh yang terluka itu pun segera dibaringkan di pembaringan itu. Tubuhnya ternyata menjadi semakin panas, dan nafasnya menjadi tersengal-sengal.

Kerti, Samekta. Wrahasta, Pandan Wangi, dan beberapa pemimpin pengawal yang lain menungguinya dengan cemas.

Betapa garangnya Pandan Wangi, namun sebagai seorang gadis yang menghadapi ayahnya yang terbujur dengan wajah pucat dan tubuh menggigil, Pandan Wangi tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Betapa ia mumpuni mempergunakan sepasang senjatanya, namun untuk mengatasi keadaan ayahnya ia tidak dapat mempergunakan kemampuannya mempergunakan sepasang pedangnya.

Dalam keadaan yang demikian, maka tidak ada yang dapat memberinya pengharapan selain Kekuasaan Yang Tertinggi. Tidak ada senjata, tidak ada pedang, tombak atau apa pun juga yang akan mampu menolongnya, selain Sumber Hidupnya.

Karena itu, maka baik Pandan Wangi mau pun Ki Argapati sendiri, dalam keadaan demikian telah melepaskan dirinya dari segala macam kemampuan diri, segala macam jenis senjata dan ilmu yang paling dahsyat sekalipun. Kini mereka mencoba mendekatkan diri semakin lekat kepada Penciptanya.

Namun ternyata Ki Gede Menoreh yang telah lebih dalam menyadap pengalaman hidup, lebih cepat dapat menyandarkan perasaannya. Ia lebih cepat meletakkan dirinya ke dalam tangan Yang Maha Kuasa, dalam pasrah diri yang sedalam-dalamnya.

Karena itu, maka tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk tersenyum dan berkata lirih kepada Pandan Wangi, “Pandan Wangi, kenapa kau menjadi terlampau cemas?”

“Ayah panas sekali, bahkan menggigil.”

“Luka ini sudah diobati Wangi. Jangan cemas.”

Kerti menarik nafas dalam-dalam. Ia bahkan menjadi semakin curiga terhadap obat yang telah ditaburkan di atas luka Ki Gede. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya, supaya Ki Gede Menorek tidak menjadi cemas pula.

Tetapi ngaknya Ki Gede dapat mengerti kecemasan yang tersirat di hati Kerti, sehingga sambil tersenyum ia berkata, “Jangan mencemaskan obat yang telah kau taburkan di atas luka itu Kerti. Aku percaya bahwa orang itu tidak akan berkhianat meskipun aku sudah hampir tidak dapat mengingatnya lagi siapakah dan bagaimanakah bentuk wajahnya.”

Kerti mengerutkan keningnya. Namun ia bertanya pula, “Tetapi bukankah keadaan Ki Gede menjadi semakin sulit.”

Ki Gede adalah seseorang yang memiliki pengetahuan yang jauh lebih luas dari orang-orangnya. Dalam keadaan yang demikian ia masih dapat membuat perhitungan atas dirinya sendiri. Katanya, “Mudah-mudahan aku menjadi segera lebih baik, Kerti. Mungkin benturan antara kekuatan racun pada senjata Tambak Wedi dan obat yang ditaburkan di atas lukaku, telah terjadi di dalam arus darahku. Tetapi kalau aku mampu mengatasinya, maka aku akan segera baik.”

Kerti tidak menjawab. Tetapi kecemasan masih membayang di wajahnya, di wajah Wrahasta dan di wajah Samekta, bahkan di wajah-wajah yang lain.

Dalam keadaan yang demikian, ternyata bahwa orang-orang di sekitar Ki Gede itu tidak mampu lagi untuk menenteramkan hati mereka sendiri, apalagi bagi yang sedang terluka. Setiap kali mereka berdesah untuk melepaskan ketegangan yang menghimpit dada mereka.

Dalam ketegangan, mereka yang berada di sekitar Ki Gede berdiri tegak dalam kediaman. Mereka memandang wajah Ki Gede yang pucat dan suram. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menunggu apa yang akan terjadi atas Ki Gede kemudian. Namun di dalam hati mereka tidak sepi dari doa dan harapan atas kemurahan Tuhan Maha Pencipta.

Nafas Ki Gede Menoreh pun menjadi semakin deras. Arus panas di dalam darahnya menyebabkannya basah oleh keringat.

Pandan Wangi akhirnya tidak dapat menahan ketegangan di dalam dirinya sehingga terloncatlah pertanyaannya kepada Kerti, “Paman, obat apakah yang telah dipergunakan oleh ayah?”

“Seseorang telah memberi obat itu di bawah Pucang Kembar, Ngger.”

“Siapakab orang itu?”

Kerti mengaugkat bahunya sambil berdesah, “Aku baru melihatnya sekali itu. Namanya Gupala.”

“Oh,” Pandan Wangi terperanjat, “jadi ayah mempergunakan obat dari seseorang yang belum jelas bagi Paman dan bagi ayah sendiri?”

Kerti menjadi ragu-ragu. Dipandanginya wajah Ki Gede yang pucat. Namun sebelum Kerti menjawab, terdengar suara Ki Gede lirih, “Aku tidak berprasangka jelek kepada anak yang gemuk itu, Kerti. Aku harap bahwa aku akan menjadi semakin baik seteiah benturan yang terjadi antara kekuatan racun dan obat itu mereda.”

Kerti tidak menjawab, dan Pandan Wangi pun tidak bertanya lagi. Mereka kini berdiri seperti patung menyaksikan Ki Gede yang terbaring diam sambil memejamkan matanya. Dicobanya untuk memusatkan segenap sisa-sisa tenaganya dalam perjuangannya mengatasi keadaan yang gawat pada dirinya. Tetapi Ki Gede meletakkan dirinya pada lambaran yang mapan. Pasrah setulus hati kepada Kekuasaan Yang Tertinggi.

Ruangan itu kini menjadi sepi. Perempuan tua pemilik rumah itu sudah tidak menenun lagi. Meskipun ia berdiri di luar pintu, namun ia dapat ikut merasakan, betapa ketegangan mencengkam ruang di dalam.

Hanya nafas-nafas yang tertahan sajalah yang terdengar. Hampir tidak ada mata yang sempat berkedip. Semuanya menatap wajah Ki Gede yang pucat pasi. Kadang-kadang mereka memandangi nafasnya yang bekejaran dan dadanya yang menggelombang. Tangannya yang gemetar bersilang di atas dadanya, sedang kedua kakinya terbujur lurus di bawah selimut kain panjang.

Sekali-kali mereka melihat Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Sekali-kali Pandan Wangi mengusap keringat yang mengembun di kening ayahnya, perlahan-lahan sekali. Tetapi Pandan Wangi tidak berani bertanya sesuatu.

Dadanya berdesir ketika ia melihat tombak pendek ayahnya terbaring di sisi tubuh Ki Argapati itu. Belum dimasukkan ke dalam selongsongnya, meskipun sudah berwrangka.

Tiba-tiba dendamnya kepada Ki Tambak Wedi melonjak sampai ke ujung ubun-ubun. Kalau terjadi sesuatu atas ayahnya, maka segala kesalahan adalah tanggung jawab iblis tua itu. Sejak ayahnya kawin dengan ibunya yang sudah mengandung kakaknya Sidanti, kemudian kemelutnya Tanah Perdikan Menoreh adalah akibat semata-mata dari kelahiran Sidanti, dan akhirnya keadaan ayahnya yang parah saat ini.

Tanpa sesadarnya, maka Pandan Wangi menggeretakkan giginya, sehingga Kerti berpaling ke arahnya. Orang tua itu segera dapat menangkap betapa kemarahan menyala di hati gadis yang perkasa itu.

Kerti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia segera menyadari, bahwa tidak ada seorang pun yang akan mampu melawan Ki Tambak Wedi selain Ki Gede Menoreh. Apalagi di lingkungan mereka terdapat orang-orang yang bernama Ki Peda Sura, Sidanti, Argajaya, dan orang-orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 30 Oktober 2008 at 10:15  Comments (20)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-38/trackback/

RSS feed for comments on this post.

20 KomentarTinggalkan komentar

  1. Iya mas DD, buku 36 & 37 selalu putus pas setengahnya waktu di download. Kalo di komputerku pake FDM pesannya “Server doesn’t support download resuming”.

    terima kasih buat mas DD dan semua pasukan ADBM, semoga tetap sehat dan selalu mendapat berkah Allah SWT, amienn…

    D2: Versi kecil udah dimuat. Silahkan cek lagi. Juga buat Nyi Ubaid dan yg lainnya.

  2. DD… kirim ke aku deh, kalau menurut aku, daripada ngedit, mendingan ngetik ulang lho…lebih cepat, aku tunggu infonya… no berapa yg harus aku kerjakan. mumpung lagi nganggur.

    PESAN
    DD, buku 38 biar aku yg kerjain

    salam
    lurah basman

    D2: Kenapa musti dikirim? Gak bisa DL? Retype atau edit, silahkan saja. Yg penting cepet.

  3. halaman ini gila bener.. masak pagerank nya 8/10
    ato google yang gila ya 😀
    google.com aja cuma 7/10

    tapi terlepas dari itu semua, adbm-ers emang top markotop.

  4. bener juga, barusan donlot yang versi kecil ternyata lancar jaya. Mkasih ya sedulur semua

  5. mas DD, minta file adbm-jilid-035.djvu donk. Sejak dibikin jadi djvu aku udah keasikan baca djvunya, asik banget bagaikan baca buku aslinya. di upload lagi dnk file djvunya. Thanks.

  6. matur nuwun bung DD, setelah file DJVU-ne dicilikno saiki wis lancar mocone.

  7. pro : joe…
    ni link buat download buku jilid 35. langsung copy ke download manager, DAP atau flasget, jangan pakai browser

    Klik untuk mengakses adbm-jilid-035.pdf

  8. pro joe….
    klo mo download buku 35, copy aja link buku 38 diatas, trus angka 38-nya dinganti 35..
    pakai downloader jangan browser

  9. mas DD, kalo djvu versi kecil, itu teh, yang muncul gambar kover aja yah, apa ada ceritanya? soalnya pas aku download kok gambar aja, ora ono ceritone dadi lieur eh binggung, atau mungkin aku yang ndak mudheng ya.

    Infonya dong mas DD, biar agak kebuka sedikit cakrawala saya perihal komputer. Hatur Nuhun.

  10. Ohm Yudho…

    Caranya sama saja Ohm, seperti kalo mau donlod file djvu yang sebelumnya… cuma yg di “Klik” itu gambarnya (kalo pake mouse, biasaya klik bag kanan)… abis tu baru di save sperti yang ohm yudho lakukan sebelumnya. tambah ext djvu… gituu ohm..

  11. Mas DD…

    Buku 38, ga ada covernya, adain dong covernya…., tenkyuu yah sebelumya….

  12. […] 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  13. pengen gabung ke adb-mers…gmn caranya?

  14. menjelang hari Kartini,
    Pandanwangi ngungsi neng dukuh Karangsari.

    • ki mbleh ngebuuuud

      • inggih Ki AS,
        numpak Maklaron mbelgedhes,
        mumpung Hamilton lagi pipis,
        gerobage kula tumpaki.

        • hihaha ki mbleh ora pareng pipis nang grobag yo

  15. selamad hari kardini
    (dibaca “selamat hari kartini”, maklum salah ketig.)

    • “PADAmoe KARTINI2 MOEDA BANGSAkoe”

      • saruJOEK


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: