Buku 36

Namun di sepanjang jalan ia masih mencoba mengerti, apakah yang sedang terjadi. Ternyata bahwa pasukan Samekta itu dibagi menjadi tiga kelompok besar.

“Paman Samekta tidak pernah mengatakannya dengan pasti,” desisnya, “yang kini bertempur itu adalah sayap kanan pasukan Paman Samekta.”

Tetapi angan-angan Pandan Wangi itu segera terputus, ketika ia melihat seseorang berlari-lari menyongsong pasukan yang sedang bergerak itu.

“Siapakah orang itu Paman?”

Samekta menggeleng, “Aku tidak tahu. Aku kira seorang penghubung.”

Ternyata dugaan Samekta itu benar. Orang itu adalah seorang penghubung.

Belum lagi orang itu berkata sesuatu, Samekta telah lebih dahulu bertanya, “Kenapa kalian bertempur di luar pategalan?”

“Pasukan lawan memancing kami keluar.”

“Dan kalian mengejar mereka keluar seperti yang mereka kehendaki.”

“Mereka mendesak kami keluar.”

“He?” Samekta mengerutkan keningnya.

“Mereka terlalu kuat buat sayap kanan. Mereka masuk dalam-dalam. Kami memang menjebaknya. Dengan serta-merta kami menyerang mereka. Tetapi mereka mampu mendesak kami. Karena itu kami segera memerlukan bantuan.”

“Ya, aku sudah mendengar isyarat kalian dengan panah sendaren.”

“Tetapi aku dikirim untuk langsung memberitahukan, bahwa yang memimpin pasukan lawan adalah seorang yang bernama Peda Sura.”

“He,” Samekta terperanjat. Ia sudah pernah mendengar nama itu. Dan ia menyadari kini, dengan siapa ia harus berhadapan.

“Bagus,” desisnya. Terasa dadanya menjadi sesak oleh kemarahan yang meluap-luap. Tetapi ia tidak dapat menutup kenyataan, bahwa Peda Sura bukanlah lawannya untuk bertempur seorang lawan seorang. Namun Samekta adalah seorang pengawal yang cukup berpengalaman pula. Segera disusunnya satu kelompok kecil dari orang-orang yang dipilihnya, untuk bersama-sama dengan dirinya sendiri menghadapi Ki Peda Sura. Tanpa cara yang demikian, ia tidak akan dapat berhasil. Kepada orang-orangnya ia berpesan berantai, “Jangan menghadapi lawan seorang lawan seorang. Bentuklah kelompok-kelompok kecil yang tidak terpisahkan oleh perang yang betapa pun kisruhnya. Meskipun kita tidak dapat mengimbangi mereka seorang lawan seorang, tetapi jumlah kita jauh lebih banyak.”

Lalu kepada Pandan Wangi ia berkata, “Kau sudah mendengar Ngger, siapa yang berada di pasukan lawan. Kau harus berada di dalam kelompokku, untuk bersama-sama melawan Ki Peda Sura.”

Kali ini Pandan Wangi tidak membantah. Ia menyadari, bahwa Samekta mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak daripadanya. Karena itu, maka sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Baik Paman. Aku akan berada di kelompok itu.”

Samekta menarik nafas panjang. Ternyata Pandan Wangi tidak terlampau membiarkan perasaannya melambung tanpa batas. Dengan demikian ia akan dapat langsung mengawasi gadis itu, dan sekaligus Pandan Wangi akan merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan oleh Ki Peda Sura.

Kepada beberapa orang prajurit yang dipilihnya, Samekta berpesan untuk melindungi kelompok kecil yang nanti akan bertempur melawan Ki Peda Sura, supaya tidak terganggu oleh orang-orang yang telah dipersiapkan pula oleh pemimpin pasukan lawan yang garang itu.

Dari penghubung yang datang kepadanya, Samekta sama sekali tidak mendapat keterangan tentang Sidanti dan Argajaya. Mereka masih belum terlihat berada di pasukan yang sedang bertempur itu, sehingga dengan demikian, maka kedua orang itu telah menimbulkan persoalan di hati Samekta.

Pandan Wangi yang belum terlampau banyak memiliki pengalaman dan pengetahuan perang pun bertanya di dalam hatinya, “Kenapa Kakang Sidanti dan Paman Argajaya tidak berada di dalam pasukan itu?” Berbagai dugaan tumbuh di dalam hati gadis Menoreh itu. Bahkan ia sampai pada suatu kesimpulan, “Pasti ada kekuatan lain yang dipimpin oleh Kakang Sidanti. Bahkan mungkin masih ada yang lain pula yang dipimpin oleh Paman Argajaya.”

Tetapi Pandan Wangi tidak menyatakan pikirannya itu. Ia menganggap, bahwa Samekta pasti telah mempunyai perhitungan-perhitungan yang cukup baik. Dan anggapannya itupun ternyata kemudian ketika Samekta memanggil seorang penghubung datang kepadanya.

Pemimpin pasukan Menoreh itu ternyata menjadi gelisah pula, karena Sidanti dan Argajaya tidak ada di dalam peperangan itu. Katanya kepada penghubungnya, “Kau segera kembali ke pasukan sayap kiri. Menurut pengamatan penghubung dari sayap kanan, belum seorang pun yang melihat Sidanti dan Argajaya berada di dalam pasukan mereka. Pasukan itu dipimpin oleh Ki Peda Sura. Dengan demikian mereka harus lebih berhati-hati.”

Penghubung itu menganggukkan kepalanya.

“Bawalah seorang kawan dari sayap kiri,” berkata Samekta selanjutnya, “hubungi pasukan cadangan di banjar, supaya mereka mendengar hal ini pula. Kemudian sampaikan pula kepada Wrahasta. Berita ini harus sampai pula kepada setiap gardu peronda di manapun juga. Pergilah segera. Berkuda. Bawalah tanda-tanda sandi apabila diperlukan di sepanjang perjalananmu. Panah api atau panah sendaren.”

“Baik,”sahut penghubung itu, yang dengan segera meloncat berlari melakukan tugasnya. Ia harus mengambil kuda di padesan yang baru saja ditinggalkan dan seorang kawan.

Samekta pun kemudian melanjutkan langkahnya, dengan tergesa-gesa menuju ke pategalan. Di sepanjang bulak yang tidak terlampau panjang itu ia sempat membentuk beberapa kelompok-kelompok lain. Seandainya Sidanti ada di dalam pasukan lawan, apalagi bersama Argajaya pula, maka mereka pun tidak akan dapat dilawan oleh siapa pun juga dalam perang seorang lawan seorang. Karena itu, mereka harus dihadapi oleh kelompok-kelompok terpilih.

Sejenak kemudian, mereka telah dapat melihat hiruk pikuk pertempuran di luar pagar pategalan. Terdengar teriakan yang melengking-lengking di antara dentang senjata, disahut oleh umpatan-umpatan kasar dan gemeretak gigi. Ternyata orang-orang yang tidak banyak dikenal di Menoreh itu berkelahi dengan kasarnya. Mereka berbuat apa saja tanpa kendali, sehingga kadang-kadang menggoncangkan hati para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Namun anak-anak Menoreh itu telah dibekali tekad di dalam dadanya, bahwa mereka bertempur untuk tanah kelahiran mereka. Tanah yang selama ini telah memberinya tempat untuk membangun suatu bebrayan yang rukun dan damai. Tanah yang telah disadapnya setiap saat untuk makan dan minumnya.

Dorongan itulah yang membuat mereka tabah menghadapi keliaran orang-orang yang datang untuk membuat tanah perdikan ini menjadi semakin parah.

Namun orang-orang yang berkelahi dengan buasnya itu mempunyai beberapa kelebihan. Pengalaman mereka mempergunakan senjata, kebiasaan mereka berbuat kasar dan sewenang-wenang, bahkan tangan-tangan mereka yang telah terlampau sering dibasahi oleh darah, menempatkan mereka pada kesempatan yang lebih baik dari lawan-lawan mereka. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, betapapun juga dilandasi oleh tekad yang bulat, namun kadang-kadang mereka masih juga ragu-ragu untuk menghunjamkan pedang mereka terlampau dalam ke tubuh lawan seandainya mereka mendapat kesempatan. Tetapi saat-saat yang demikian itu ternyata telah menutup setiap kemungkinan berikutnya baginya. Sebab orang-orang di pasukan lawan itu akan mempergunakan segala kesempatan yang mereka peroleh.

Tepat pada saatnya, Samekta dan pasukannya berhasil menolong keadaan. Kelompok demi kelompok pasukan pengawal Menoreh dari induk pasukan itu melanda perkelahian yang sedang berlangsung, seperti arus banjir yang melanda tanggul. Kelompok demi kelompok mereka langsung melibatkan diri dalam perkelahian yang hiruk-pikuk. Perang brubuh, sehingga tidak ada batas lagi antara kawan dan lawan. Mereka harus mengenal setiap kawan-kawan mereka dari bentuk, pakaian dan jenis senjata yang di pergunakan. Seperti pesan Samekta, maka para pengawal dari Menoreh telah mencoba untuk berkelahi dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau empat orang tanpa terpisahkan. Apabila keadaan memaksa, maka setidak-tidaknya mereka bertempur berpasangan. Dua-dua.

Tidak sukar bagi Samekta untuk segera dapat menemukan Ki Peda Sura. Orang itu ternyata telah menimbulkan terlampau banyak korban. Senjatanya, sepasang bindi yang panjang telah melumpuhkan korban-korban di pihak para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Sepasang senjata itu berputaran seperti sepasang baling-baling, kemudian terayun-ayun mendatar, dan menyambar-nyambar seperti burung garuda.

“Itulah setan itu,” desis Samekta, “kita harus menghentikannya. Semakin lama ia akan menjadi semakin gila. Bau darah akan membuatnya semakin buas.” Lalu kepada Pandan Wangi ia berkata, “Hati-hatilah, Ngger. Perang brubuh adalah jenis perang yang paling tidak menyenangkan.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Ia sudah menggenggam sepasang pedangnya. Namun ternyata bahwa pengenalannya yang pertama atas peperangan telah membuat hatinya menjadi berdebar-debar.

Tetapi Pandan Wangi sama sekali tidak ingin surut. Ia benar-benar ingin melihat dan menghayati perang. Apalagi kali ini, pada saat tanah perdikannya terancam.

Namun sebenarnyalah, bahwa bukan tiba-tiba saja Pandan Wangi ingin melibatkan dirinya di dalam peperangan. Peperangan ini adalah penyaluran yang dapat diketemukannya untuk melepaskan masalah-masalah yang telah membuat dadanya semakin pepat. Persoalan yang sedikit demi sedikit tertimbun di hatinya. Sejak ia melihat kakaknya pulang dengan tabiat yang aneh. Sejak ia berkelahi dengan Sidanti di halaman rumah Ki Sentol. Kemudian sifat-sifat Sidanti yang sangat berubah dari sifat-sifatnya yang pernah dikenalnya dahulu. Pertentangan pendapat antara ayahnya dan Ki Tambak Wedi, kemudian memuncak pada saat ia mendengar ceritera ayahnya tentang Sidanti, tentang ibunya dan tentang persoalan mereka.

Sejak saat itulah terasa di dalam dada Pandan Wangi melonjak-lonjak suatu perasaan yang tidak dapat dimengertinya. Ancaman terhadap tanah perdikan ini telah membuatnya menjadi seorang yang seakan-akan menyimpan dendam di dalam dirinya. Meskipun ia masih mencoba menemui kakaknya dan berbicara dalam suasana yang baik, tetapi telah menyala api di dalam dirinya, yang setiap saat dapat meledak dan membakar seluruh hati dan jantungnya.

Itulah sebabnya, maka peperangan kali ini telah sangat menarik perhatiannya. Seolah-olah ia menemukan tempat untuk menyalurkan dendam dan kebenciannya. Dendam dan kebencian yang selama ini berkembang di dalam dirinya, meskipun ia tidak akan dapat menyebutkannya kepada siapa ia mendendam dan siapakah yang telah dibencinya. Namun selama ini ia mencoba mencari sasaran yang paling mungkin untuk melepaskan dendam dan kebencian itu. Orang yang paling mungkin disangkutkannya sebagai sumber bencana itu adalah Ki Tambak Wedi. Dan Pandan Wangi mencoba memusatkan segenap kebencian dan dendamnya kepada Ki Tambak Wedi. Tetapi Ki Tambak Wedi kini sedang berkelahi dengan ayahnya. Yang ada di peperangan ini adalah orang-orang Ki Tambak Wedi. Kepadanyalah dendam harus ditumpahkan.

Tetapi ketika ia telah berada di tengah-tengah perang brubuh yang liar dan buas itu, terasa betapa asingnya dunia yang ada di sekitarnya. Ia sama sekali tidak membayangkan sebelumnya, bahwa di dalam peperangan jiwa seseorang benar-benar tidak berharga. Ia mendengar orang yang berteriak-teriak dengan umpatan-umpatan kasar, kemudian pekik orang kesakitan. Yang lain mengerang dan yang lain lagi mengaduh di sela-sela terkaman-terkaman senjata yang saling berbenturan. Ia melihat dunia yang jauh berlawanan dengan dunianya sendiri. Ia setiap kali melihat seorang ibu mendukung bayinya. Setiap nyamuk yang menggigit bayi itu selalu diusirnya. Setiap goresan kuku-kukunya sendiri yang memerah pada kulitnya, selalu di lumurinya dengan minyak. Apabila bayi itu merasa badannya kurang sehat dan menangis, merengek-rengek, betapa ibunya menjadi bingung malam sampai sehat kembali.

Tetapi di peperangan ini, ia melihat jiwa yang sama sekali tidak dihargai lagi. Dada yang sobek oleh luka ujung senjata. Darah merah yang mengalir membasahi tanah. Tangan yang patah dan lengan yang lemah terkulai tidak berdaya lagi.

“Dua dunia yang jauh berlawanan,” desisnya di dalam hati. Di dunia yang satu, setiap gangguan pada sesamanya, selalu mendapat pertolongan sejauh-jauh dapat dilakukan. Betapa orang berusaha menyelamatkan setiap jiwa yang terancam. Oleh sakit maupun kecelakaan. Betapa orang berusaha menyambung jalan atas kemungkinan, umur yang dijamah oleh maut. Tetapi di dunia yang sekarang diinjaknya, maka setiap orang berusaha melenyapkan jiwa sesama. Bunuh membunuh dengan penuh nafsu dan kebanggaan. Semakin banyak jiwa yang dijemput oleh maut, maka semakin riuhlah sorak sorai orang-orang yang masih dapat bertahan dari dekapan kematian. Dan orang-orang yang masih hidup itu justru berusaha dengan sepenuh kemampuannya, memperbanyak kematian-kematian berikutnya.

Tetapi ia sudah berada didunia itu.

Pandan Wangi tersedar dari angan-angannya, ketika ia melihat Samekta sudah mulai memutar pedangnya. Beberapa orang di sekitarnya pun telah siap untuk bertempur. Sebuah kelompok kecil berhadapan dengan seorang yang telah mendengungkan namanya dengan nada yang hitam di dalam hiruk pikuk perang brubuh.

”Kaukah pemimpin orang-orang Menoreh itu,” terdengar suara Ki Peda Sura yang parau datar.

“Ya,” sahut Samekta pendek. Tetapi pedangnya langsung menyerang lambung lawannya. Bertubi-tubi dan sekejap kemudian setiap pedang di dalam kelompok itupun segera bergetar dan menyambar. Hanya sepasang pedang Pandan Wangi sajalah yang masih bersilang di depan dadanya.
“Kenapa kau bawa pererapuan itu kemari?“ getar suara Peda Sura.

Ternyata pertanyaan itu telah menggetarkan dada Pandan Wangi. Sejenak kemudian terungkaplah kembali segala macam kebenciannya terhadap orang-orang yang tidak dikenal itu. Enam orang pernah berusaha untuk menangkapnya dengan maksud yang paling keji yang dapat dilakukan oleh manusia. Kemudian dendam dan kebenciannya kepada Ki Tambak Wedi yang telah merusak tanah perdikan, dan lebih-lebih lagi keluarganya. Ia telah memercikkan noda yang tidak terhapus pada nama ibunya. Tetapi ibunya sendiri telah membantu menggoreskan noda itu pula.

Meskipun demikian, Pandan Wangi masih tetap ragu-ragu. Apakah benar ia telah digerakkan oleh dendam dan kebencian untuk memasuki dunia yang hitam kelam ini?

“Tidak,” tiba-tiba Pandan Wangi menggeram di dalam hatinya, “bukan dendam dan kebencian. Seandainya hatiku hanya diwarnai oleh dendam dan kebencian aku dapat mengambil jalan lain. Aku akan melepaskan dendam itu dengan cara yang lain. Tetapi aku kini dibebani oleh tanggung jawabku atas “anah perdikan ini. Kecintaanku atas tanah ini, atas keluargaku dan atas rakyat Menoreh telah memaksa aku untuk masuk ke dalam daerah yang kelam ini.”

Pandan Wangi terkejut, ketika seorang pengawal telah mendorongnya ke samping. Ketika ia menyadari keadaannya, maka hatinya terasa berdesir. Seluruh pengawal yang ada di tempat itu telah terlibat di dalam peperangan. Beberapa orang terpaksa berada di sekitarnya untuk mencoba melindunginya.

Kini Pandan Wangi merasa bahwa dirinya tidak boleh tenggelam dalam angan-angannya saja di tengah-tengah peperangan yang kisruh itu. Dengan demikian ia benar-benar menjadi beban orang lain yang harus mengawasi dan melindunginya. Apalagi ketika ia melihat, betapa Peda Sura sudah sampai pada puncak kemampuannya.

Terdengar gadis itu menggeram. Ia berpaling ketika ia mendengar seseorang terpekik di sampingnya. Matanya menjadi terbelalak ketika ia melihat pengawal yang mendorongnya dari ujung senjata lawan itu memegangi lambungnya yang terluka.

Darah yang menitik dari luka itu seolah-olah titik-titik minyak yang menyiram dadanya yang membara. Kalau semula ia menjadi ngeri melihat darah dan luka, serta melihat kekasaran dan keliaran lawannya, maka kini tiba-tiba ia merasa wajib, bahwa ia harus menghentikan semuanya. Peristiwa-peristiwa yang membuat dadanya berdebar-debar telah mendorongnya untuk segera berbuat sesuatu.

Pandan Wangi itu menggeretakkan giginya. Selangkah ia maju mendekat Peda Sura kini sedang bertempur melawan beberapa orang yang mengelilingnya. Beberapa orang pengawal terpilih.

Namun meskipun demikian, para pengawal itu seolah-olah tidak dapat berbuat terlampau banyak. Mereka hanya dapat menyerang berganti-ganti dari jurusan yang berbeda-beda. Terus-menerus untuk berusaha agar Peda Sura tidak dapat berbuat terlampau banyak.

Tetapi Peda Sura bukan kanak-kanak. Segera ia memekik tinggi sambil memutar kedua senjatanya. Seperti prahara ia maju langsung menyerang orang yang memegang pimpinan pada pasukan pengawal Tanah Perdikaa Menoreh.

Samekta terkejut melihat serangan yang langsung melibatnya itu. Seakan-akan ia tidak mendapat kesempatan untuk menghindar.

Orang-orang lain di dalam kelompok itupun serasa telah kehilangan kesempatan untuk mengimbangi gerak yang terlampau cepat. Peda Sura seolah-olah sudah tidak menghiraukan orang-orang lain kecuali Samekta.

Beberapa orang masih mencoba menahannya dan menyerangnya dari arah yang lain. Tetapi gerak Peda Sura dalam kesempatan ini ternyata terlampau cepat.

Samekta yang langsung mendapat serangan itu sudah tentu tidak akan membiarkan dirinya binasa. Sejauh-jauh dapat dilakukan ia harus memberikan perlawanan atau menghindar. Karena itu, ketika serangan itu meluncur dengan cepatnya, maka ia pun segera mencoba mengambil jarak dengan meloncat ke samping.

Tetapi senjata Peda Sura seolah-olah mempunyai mata. Serangan itupun dengan cepatnya berkisar dan mengejarnya. Sehingga dengan demikian, maka Samekta benar-benar tidak dapat lagi menghindarinya. Kini diayunkannya pedangnya, untuk mendapatkan kekuatan membentur serangan lawan itu.

Sejenak kemudian, terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Senjata di tangan kiri Ki Peda Sura yang diayunkannya ke pundak lawannya ternyata tertahan oleh pedang Samekta. Meskipun Ki Peda Sura tidak menumpahkan kekuatannya pada tangan kirinya, namun kekuatan ayunan senjatanya itu telah membuat tangan Samekta menjadi pedih. Senjata di dalam genggamannya hampir saja terlepas dan terlempar. Hanya dengan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada padanya, pedangnya masih tetap berada di genggaman. Namun dengan demikian, ia terdorong beberapa langkah surut. Kesimbangannya pun hampir-hampir tidak dapat dipertahankannya, sehingga ia terhuyung-huyung beberapa saat. Tetapi begitu ia berhasil tegak berdiri di atas kedua kakinya, dadanya berdesir dengan dahsyatnya. Sebuah bayangan meluncur ke arahnya dengan kecepatan yang luar biasa. Dua buah senjata di kedua tangannya terayun-ayun mengarah ke tubuhnya.

Dalam sekejap, Samekta segera dapat mengenal, orang itu adalah Peda Sura yang kali ini benar-benar tidak mau melepaskannya. Ki Peda Sura agaknya telah mengabaikan beberapa orang di sekitarnya, dan memusatkan serangan-serangannya kepada pemimpin pasukan pengawal Menoreh. Agaknya orang itu mempunyai perhitungan tersendiri. Ia menyadari, bahwa kekuatan lawannya agak lebih besar dari kekuatan pasukannya. Jumlahnya pun berselisih agak besar, sehingga Ki Peda Sura harus mendapat cara yang secepat-cepatnya, mempengaruhi tenaga perlawanan pasukan pengawal Menoreh. Kalau ia dapat membunuh Samekta, maka keberanian dan tekad para pengawal itu pasti segera akan surut.

Karena itulah, maka serangannya kali ini benar telah diwarnai oleh bayangan maut yang hampir mencengkamnya.

Sejenak Samekta menjadi bingung. Tetapi naluri keprajuritannya telah menggerakkan tangannya untuk menangkis serangan itu.

Loncatan Peda Sura yang secepat tatit itu agaknya telah meyakinkannya, bahwa kali ini Samekta tidak akan dapat menghindar lagi. Kalau serangan ini tidak langsung dapat membunuhnya, maka serangan berikutnyalah yang pasti akan merobek dadanya.

Ternyata perhitungan Peda Sura itu benar-benar tepat. Samekta sudah tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk melawan serangan yang datang bertubi-tubi seperti gelombang yang berurutan menghantam tebing.

Sekali lagi terjadi benturan antara kedua jenis senjata. Senjata Peda Sura yang diayunkannya dengan tangan kiri untuk kedua kalinya telah membentur senjata Samekta. Dan ternyata kali ini Samekta sudah tidak mampu lagi bertahan. Tangannya terasa seperti tersayat dan pedangnya pun terlepas dari genggaman.

Melihat pedang lawannya terlepas, Peda Sura tertawa. Ia masih harus menangkis satu dua serangan dari orang-orang yang berada di dalam kelompok Samekta. Tetapi serangan-serangan itu sama sekali tidak berarti. Yang di hadapinya sekarang adalah Samekta yang telah siap menanti maut.

Dengan mata yang buas, Peda Sura mengangkat senjata di tangan kanannya. Sesaat terdengar suara tertawanya yang mengerikan, seperti suara iblis dari dalam lubang kubur.

Samekta sendiri kini sama sekali sudah tidak berdaya untuk berbuat apapun. Yang dapat dilakukan hanyalah meloncat menghindar. Tetapi itu tidak akan banyak berguna lagi. Karena itu, maka hidup matinya kini sangat tergantung kepada orang-orang di dalam kelompoknya.

Tetapi Peda Sura mampu memunahkan setiap serangan dengan tangan kirinya, atau bergeser setapak-setapak surut, dan kemudian maju lagi.

Samekta yang sudah tidak bersenjata itu kini sama sekali telah kehilangan kesempatan. Meskipun ia masih mencoba untuk melihat seseorang yang mungkin dapat memberinya senjata, tetapi ia sudah tidak mempunyai waktu lagi.

Ki Peda Sura kemudian telah membuat perhitungan selanjutnya. Yang pertama-tama setelah Samekta mati, adalah meneriakkan kemenangan itu untuk mempengaruhi setiap ketahanan di dalam diri setiap pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang berada di dalam peperangan itu.

Tetapi tanpa disangka-sangka, Ki Peda Sura itu terkejut. Ternyata senjatanya telah membentur suatu kekuatau yaug tidak diduganya. Ia sama sekali tidak menaruh perhatian atas serangan yang tiba-tiba datang dari arah samping. Seperti serangan-serangan yang lain, digerakkannya tangan kirinya untuk menangkis serangan itu sambil berkisar, sebelum ia mengayunkan tangan kanannya, dan mematahkan leher Samekta yang berdiri tegak seperti patung.

Namun ternyata benturan yang terjadi telah menggetarkan dadanya. Karena Ki Peda Sura sama sekali tidak menyangka, maka senjatanyalah yang hampir-hampir terlepas dari tangannya.

Terdengar pemimpin dari pasukan yang liar itu menggeram. Ia terpaksa meloncat beberapa langkah surut. Namun agaknya serangan yang datang kali ini, jauh berbeda dengan serangan-serangan yang terdahulu. Sepasang pedang seakan-akan memburunya, dan dengan kecepatan yang luar biasa kedua ujung pedang itu mematuknya dari arah yang berbeda.

“Setan betina,” Ki Peda Sura berteriak, “ternyata kau mampu juga berkelahi, he!”

Orang yang memegang sepasang pedang itu adalah Pandan Wangi. Pada saat terakhir, ia menggeretakkan giginya dan langsung meloncat menyerang Ki Peda Sura, ketika Samekta benar-benar telah terancam bahaya maut. Ia dengan susah payah telan berhasil menyingkirkan keragu-raguannya, karena ia yakin, bahwa ia harus berbuat sesuatu. Berbuat sesuatu untuk tanah ini dan untuk rakyat yang berada di dalam lingkungannya.

Itulah sebabnya, maka sambil menggeretakkan giginya, Pandan Wangi telah meluncurkan serangan-serangan yang sangat berbahaya bagi lawannya. Meskipun lawannya itu adalah Ki Peda Sura.

Ternyata Ki Peda Sura harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya untuk menghindari serangan-serangan Pandan Wangi yang mengalir seperti banjir bandang. Bertubi-tubi. Sekali-sekali terjadi benturan-benturan antara dua pasang senjata. Tetapi karena Ki Peda Sura sama sekali tidak bersiap untuk melawan serangan-serangan yang demikian, maka beberapa kali ia terpaksa jauh-jauh menghindar untuk mendapat kesempatan memperbaiki keadaannya. Tetapi setiap kali Pandan Wangi telah berada di hadapannya sambil menjulurkan kedua ujung pedangnya. Berganti-ganti, tetapi kadang-kadang bersama-sama, sehingga sepasang pedang itu seolah-olah telah berubah menjadi puluhan ujung pedang yang digerakkan oleh puluhan tangan dari penari-penari yang menarikan sebuah tarian maut.

Tetapi Ki Peda Sura bukan anak-anak yang baru pandai menghapus ingus di hidungnya. Ia adalah seorang yang telah menggetarkan lingkungannya dengan berbagai macam perbuatan dan tindakannya yang nggegirisi. Ia adalah seorang yang telah mampu mencengkam lingkungannya dengan kelebihan-kelebihannya yang meyakinkan.

Itulah sebabnya, betapapun sulitnya, akhirnya perlahan-lahan Ki Peda Sura dapat menemukan keseimbangannya kembali. Perlahan-lahan ia dapat menempatkan dirinya, dalam perlawanan yang wajar terhadap lawannya yang kali ini ternyata jauh melampaui segala orang di dalam peperangan itu.

Kini Ki Peda Sura telah berdiri tegak di atas kedua kakinya. Senjatanya telah mantap di dalam genggaman. Dan matanya tajamnya memandang lawannya dengan hampir tidak berkedip, bahkan dari sepasang mata yang buas itu seakan-akan memancar api yang menjilat-jilat.

“Ternyata di Menoreh ada juga setan betina macam kau,” geramnya.

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ia menyadari sepenuhnya dengan siapa ia berhadapan. Karena itu, maka dipusatkannya perhatiannya kepada Ki Peda Sura. Dipercayakannya dirinya kepada para pengawal yang selalu berusaha menahan serangan-serangan dalam hiruk pikuk perang brubuh itu, sehingga seolah-olah kedua orang yang berhadap-hadapan itu telah dipisahkan dari lingkungan perang yang semakin kisruh.

“Hem,” Peda Sura menggeram, “sayang sekali, bahwa gadis secantik dan semuda kau, sudah harus mati di peperangan. Mungkin kaulah yang bernama Pandan Wangi puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang gila itu. Aku pernah mendengar namamu dan kelebihan-kelebihan yang kau miliki.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Selangkah ia maju mendekati lawannya dengan penuh kewaspadaan. Kedua pedangnya kini bersilang di muka dadanya.

“Uh,” Peda Sura berdesah, “bukan main. Kau memang seorang yang luar biasa. Kau mempunyai kepercayaan yang mantap kepada dirimu sendiri. Aku kira kau pun pernah mendengar namaku. Tetapi agaknya kau benar-benar tidak gentar.”

Pandan Wangi sama sekali tidak merasa perlu untuk menjawab. Karena itu ia hanya mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Kini jarak mereka menjadi semakin dekat, dan pandangan mata keduanya sama sekali tidak berkisar dari senjata lawan.

Sementara itu, Samekta telah berhasil memperoleh senjatanya kembali. Meskipun tangannya masih terasa pedih, namun ia tidak akan dapat membiarkan perkelahian antara Pandan Wangi dan Peda Sura itu berlangsung tanpa bantuan orang lain. Meskipun Pandan Wangi cukup mempunyai bekal dan kemampuan, namun Peda Sura menyimpan pengalaman yang jauh lebih banyak dari gadis yang baru untuk pertama kalinya terjun di peperangan. Apalagi perang brubuh. Karena itu, maka ia pun segera mendekat bersama beberapa orang di dalam kelompoknya.

“Ha,” berkata Ki Peda Sura, “lihat, kawanmu yang hampir menjadi bangkai itu mendekat pula. Agaknya ia benar-benar ingin mati di peperangan ini.”

Tetapi Pandan Wangi sama sekali tidak berpaling. Bahkan setelah Samekta berada di sampingnya. Ia mengerti benar, bahwa Peda Sura mampu bergerak secepat tatit.

Peda Sura mengumpat-umpat di dalam hatinya. Ia melihat banyak kelebihan pada gadis itu. Keyakinan kepada diri sendiri, penuh kewaspadaan dan otak yang terang. Dengan demikian, maka dadanya telah diamuk oleh kecemasan. Kini ia tidak yakin, bahwa ia akan dapat berbuat sekehendaknya atas lawan-lawannya. Kesempatan untuk membunuh Samekta seolah-olah telah lenyap, sedang ia menyadari, bahwa jumlah pasukan Menoreh lebih banyak dan lebih kuat dari pasukannya.

Namun demikian Peda Sura masih mempunyai harapan. Sebentar lagi pasukan Sidanti akan masuk ke induk padukuhan Menoreh. Pada saat itulah, maka pasukan Menoreh pasti akan dapat di pecahnya.

“Tetapi bagaimanakah seandainya Sidanti sengaja memperpanjang waktu menunggu pasukan ini hancur?” pertanyaan itu timbul pula di dalam hatinya. Tetapi dijawabnya sendiri, “tentu tidak. Tentu tidak. Ia masih memerlukan kami.”

Dan Ki Peda Sura tidak dapat berangan-angan berkepanjangan. Pandan Wangi melangkah semakin dekat dan pedangnya yang bersilang kini mulai bergetar.

“Betina ini benar-benar seperti iblis,” desis Ki Peda Sura di dalam hati.

Dan ternyata bahwa sekejap kemudian Pandan Wangi telah meloncat ke samping, menggerakkan pedangnya dan langsung menyerang dengan sengitnya.

Bukan saja Ki Peda Sura yang menggeram, tetapi Samekta pun menggeram pula oleh keheranan yang menyesak di dadanya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Pandan Wangi yang luruh itu dapat berubah menjadi demikian garangnya.

Samekta pun tidak mau melewatkan setiap kesempatan. Selagi ia mendapat kesempatan, maka ia pun mendekat pula dan menyerang bersama-sama dengan beberapa orang di dalam kelompok kecil itu.

Baru kini Ki Peda Sura merasa, bahwa ia sebenarnya lagi berperang. Dengan lincahnya ia berloncatan sambil menggerakkan sepasang senjatanya. Tetapi kini dengan penuh kewaspadaan dan sepenuh kemampuannya. Ia tidak lagi dapat bermain-main.

Dengan demikian, maka perkelahian itupun menjadi semakin lama semakin seru. Tidak hanya di dalam lingkaran yang memutari Ki Peda Sura, tetapi di seluruh daerah perang brubuh itu. Satu-satu korban jatuh di tanah, dan darah pun mengalir dan luka, memerahi tanah dan batu-batu padas. Erang kesakitan, dan pekik yang mengerikan membelah hiruk pikuk dentang senjata.

Pada saat yang demikian itulah, dua ekor kuda berlari berderap memecah kesepian malam di dalam padukuhan. Mereka singgah dari gardu ke gardu memberitahukan, bahwa Sidanti masih belum dijumpai di peperangan. Akhirnya orang itu sampai pula di rumah Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang ditunggui oleh sepasukan kecil dibawah pimpinan Wrahasta.

“Hem,” Wrahasta menggeram, “bagaimana dengan pasukan cadangan di banjar?”

“Pasukan itu telah aku beritahukan pula. Mereka mengumpulkan kuda sebanyak-banyaknya dapat mereka peroleh, supaya sebagian dari mereka dapat bergerak cepat ke manapun juga.”

“Bagus. Dan apakah kau telah memberitahukan semua penjaga dan semua peronda?”

“Hampir seluruhnya. Berita ini akan berkembang dengan secara beranting, bagi gardu-gardu di padukuhan-padukuhan yang agak jauh.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menjadi berdebar-debar. Kepergian Pandan Wangi ke medan peperangan telah membuat hatinya gelisah. Dan berita yang didengarnya itupun telah menambah kegelisahan dan kecemasannya.

“Sekarang, kalian akan pergi ke mana lagi?”

“Aku akan meneruskan perjalanan ke gardu-gardu di sebelah Timur. Sokurlah kalau berita beranting itu telah sampai, kalau belum maka mereka harus segera mendengarnya pula.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hati-hatilah. Musuh dapat berada di segala tempat.”

Sesaat kemudian derap kaki dua ekor kuda itu kembali memecah kesenyapan malam. Menyelusur jalan padukuhan, singgah di gardu-gardu di mulut lorong dan di sudut-sudut desa.

Namun dengan serta-merta, kedua penunggang kuda itu menarik kekang kudanya ketika ia bertemu dengan seorang penunggang kuda yang datang dari arah yang berlawanan. Kuda itu berpacu seperti angin. Dalam kilatan cahaya bulan keduanya melihat bahwa orang itu membawa senjata terhunus di tangannya.

“Penghubung yang pasti membawa berita terlampau penting.”

“Ya, ternyata senjatanya telah berada di dalam genggaman.”

Kini keduanya menjadi semakin berhati-hati. Namun semakin dekat, mereka segera mengenal, bahwa penunggang kuda itupun seorang pengawal dari Menoreh.

Penunggang kuda yang seorang itu, yang membawa senjata terhunus, telah melihat kedua orang yang berkuda pula di hadapannya. Karena itu maka segera diperlambatlah derap kudanya. Belum lagi mereka berpapasan, orang itu telah berkata keras-keras, “Pasukan yang besar datang dari arah Timur.”

Kedua orang yang menunggunya terkejut, “Pasukan siapa?”

“Setan,” hampir bersamaan keduanya menggeram.

“Langsung dipimpin oleh Sidanti dan Argajaya.”

“Pasukan cadangan telah siap.”

“Tidak cukup. Pasukan itu terlampau kuat.”

“Lalu maksudmu?”

“Semua yang ada harus dikerahkan. Sebagian harus ditarik dari peperangan di medan sebelah Barat.”

Keduanya mengerutkan keningnya. Kini penghubung yang bersenjata itu telah berhenti pula. Katanya, “Kembalilah. Salah seorang dari kalian pergi kepada Ki Samekta. Yang seorang kepada Wrahasta dan aku akan pergi ke banjar, mengambil pasukan cadangan yang dapat segera digerakkan.”

Mereka tidak terlampau banyak berbincang. Keadaan akan segera memuncak. Karena itu, maka ketiganya segera memacu kuda mereka berderap ke jurusan masing-masing. Mereka merasa betapa berat tugas pasukan pengawal kali ini, menghadapi kawan-kawan sendiri dan orang-orang liar yang tidak mereka kenal yang terjun di dalam perselisihan di antara keluarga.

Wrahasta yang mendengar tentang gerakan itu menggeretakkan giginya. Hampir saja ia lupa, bahwa ia bertugas untuk menjaga rumah Kepala Tanah Perdikan itu seisinya. Dengan kemarahan yang meluap-luap ia menggeram, “Seandainya aku tidak terikat oleh tanggung jawab ini. Aku ingin tahu, apakah benar-benar Sidanti telah melonjak terlampau jauh dari anak-anak muda sebayanya di tanah perdikan ini.”

“Tetapi kau tidak boleh meninggalkan halaman rumah ini,” berkata seorang pengawal yang lain.

“Ya, dan aku kecewa karenanya.”

“Tugasmu telah ditentukan,” sahut penghubung yang memberitahukan gerakan Sidanti itu kepadanya, “aku memberitahukan kepadamu, supaya kau berwaspada. Mungkin pasukannya dapat meresap sampai ke halaman ini. Setiap orang harus menyiapkan diri menghadapi kemungkinan.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku akan menyongsong setiap orang dari pasukan lawan di luar halaman. Tidak boleh setapak kaki pun yang mengotori halaman rumah Ki Argapati.”

Penghubung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Baiklah, aku kini pergi kebanjar.”

Tetapi kata-katanya terpotong ketika mereka yang berada di halaman itu mendengar derap kaki kuda. Bergemeretak di atas tanah berbatu-batu. Berurutan meluncur secepat loncatan tatit di langit. Mereka adalah bagian dari pasukan cadangan yang langsung menyongsong pasukan Sidanti. Menurut perhitungan mereka, pasukan itu pasti sudah berbenturan dengan para peronda yang telah menarik diri dari gardu-gardu mereka dan berkumpul untuk menahan arus pasukan Sidanti. Tetapi jumlah mereka terlampau sedikit, sehingga pengaruhnya pun tidak akan terlampau terasa pada pasukan lawan. Namun kedatangan para pengawal berkuda itu pasti akan segera mengganggu laju pasukan lawan itu.

“Mereka telah berangkat,” desis Wrahasta, “darimana mereka mendengar bahwa pasukan Sidanti maju disebelah Timur?”

“Bersama aku seorang penghubung langsung pergi ke banjar dan ke medan disebelah Barat untuk memberitahukan kepada Paman Samekta. Seandainya Samekta mempunyai kelebihan kekuatan, maka kekuatan itu akan dialirkan ke medan di sebelah Timur.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia mencoba melihat bayangan yang meluncur berurutan di hadapannya. Tetapi yang dilihatnya tinggallah orang yang paling belakang.

“Jumlah pengawal berkuda itupun tidak terlampau banyak.”

Tetapi cukup untuk menahan pasukan Sidanti sampai pasukan cadangan yang lain datang.”

“Pasukan cadangan itupun tidak begitu banyak.”

Penghubung itu tidak menyahut. Menurut pendengarannya, pasukan Sidanti yang datang dari Timur itu cukup kuat, sehingga untuk menahannya diperlukan pasukan yang kuat pula.

Sejenak kemudian mereka melihat pasukan cadangan dari Banjar, dengan tergesa-gesa menuju ke Timur, lewat jalan di alun alun kecil di hadapan rumah Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan mereka berlari-lari kecil berloncatan, seakan-akan tidak sabar lagi untuk segera bertemu dengun pasukan lawan.

Ternyata pasukan Sidanti yang kuat sama sekali tidak menemukan perlawanan yang berarti. Para peronda di gardu-gardu dan para pengawal yang di tempatkan di padukuhan-padukuhan kecil tidak terlampau bodoh untuk membunuh diri dengan menahan arus gerakan lawan. Mereka segera menghindar, menarik diri dan mencoba berkumpul dalam kelompok yang lebih besar. Tetapi jumlah mereka masih terlampau sedikit untuk melakukan perlawanan, sehingga dengan demikian, mereka masih tetap mundur dan bergabung dengan lima atau sepuluh orang di setiap padukuhan-padukuhan kecil.

Baru ketika jumlah mereka menjadi lebih banyak, mereka mencoba mengganggu pasukan lawan dengan panah-panah dari jarak yang agak jauh. Mereka menyerang pasukan lawan dari pedukuhan-pedukuhan di hadapan gerakan pasukan Sidanti, namun kemudian hilang di dalam kegelapan dan mencoba menghindar dari benturan terbuka.

“Setan,” Sidanti menggeram, “mereka licik seperti kancil. Mereka tidak berani berhadapan beradu dada.”

Argajaya tidak menjawab. Tetapi ia mengagumi cara yang dipergunakan oleh para pengawal itu. Ia termasuk salah seorang yang menganjurkan cara itu untuk melawan kekuatan yang jauh melampaui kekuatan sendiri. Dan cara itu kini dipergunakan untuk melawannya sendiri.

Para peronda yang mengundurkan diri itu akhirnya mendengar derap kaki-kaki kuda semakin mendekat. Dengan serta-merta, kegembiraan melonjak di hati mereka. Mereka akan segera mendapatkan kawan yang cuku berarti untuk melawan pasukan Sidanti. Meskipun mereka tetap ragu-ragu, apakah usaha itu akan berhasil, karena pasukan Sidanti itu agak terlampau besar.

Dengan tergesa-gesa mereka menahan para pengawal berkuda itu, supaya mereka tidak langsung terjun ke dalam jebakan lawan. Dengan berapa petunjuk dari para peronda itu, akhirnya mereka bersepakat, bahwa mereka akan mempergunakan cara yang telah mereka lakukan sebelumnya. Setiap kali menunggu pasukan lawan mendekati padukuhan. Kemudian menyerang mereka dengan senjata-senjata jarak jauh. Kini, mereka menambah cara penyerangan dengan para pengawal berkuda. Pada saat mereka sibuk menangkis serangan-serangan senjata jarak jauh, maka para pengawal berkuda itu harus menyerang mereka dengan tiba-tiba, tetapi kemudian menghilang lagi, untuk muncul pula disaat yang lain.

Demikianlah, maka mereka mencoba mempergunakan cara itu. Pertama kali, ketika Sidanti mendengar ringkik kuda, ia terkejut. Beberapa orang berkuda tiba-tiba saja meloncat dari dalam bayangan pepohonan, langsung menyerang mereka dengan melontarkan tombak-tombak panjang. Kemudian menebaskan pedang-pedang mereka. Sesaat kemudian kuda-kuda itu telah lenyap menghilang sambil meninggalkan beberapa orang korban.

Tetapi cara itu tidak akan dapat mereka ulangi. Sidanti dan Argajaya bukanlah orang-orang yang terlampau bodoh. Itulah sebabnya, maka para pengawal yang menyadari keadaan, harus mempergunakan cara yang lain untuk menyergap lawan mereka.

Tetapi cara-cara yang mereka pilih tidak selalu berhasil. Kadang-kadang mereka terpaksa mengurungkan penyerangan mereka, dan menghindar jauh-jauh. Namun pada dasarnya, mereka selalu menghindarkan diri dari benturan-benturan terbuka, sambil menunggu kedatangan pasukan cadangan yang menyusul mereka dengan berjalan kaki.

Tetapi pasukan Sidanti yang datang dari arah Timur ini ternyata terlampau kuat. Para pengawal berkuda, segera dapat menilai, bahwa pasukan cadangan itupun tidak akan mampu untuk bertahan dari arus pasukan lawan. Karena itu, maka segera mereka berusaha menghubungi setiap peronda, dan bahkan setiap orang yang mungkin dapat memperkuat pasukan pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh.

Satu dua dan kadang-kadang lima orang atau lebih berhasil berhimpun menjadi kelompok-kelompok kecil dan bergabung dengan pasukan pengawal, yang masih menunggu pasukan yang lebih besar lagi untuk melakukan perlawanan terbuka. Namun dalam pada itu, pasukan Sidanti maju terus dengan cepatnya. Semakin lama semakin dekat dengan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Setiap orang dari para pengawal itu menjadi berdebar-debar. Ketika mereka menerima seorang penghubung dari pasukan cadangan, mereka menjadi berbesar hati, Pasukan itu telah berada dan menunggu lawannya di sebuah pedukunan kecil di belakang mereka.

“Kami tahu, bahwa pasukan Sidanti cukup besar,” berkata penghubung itu, “karena itu, maka kami tidak membawanya di tempat terbuka, supaya kami dapat sedikit perlindungan dari keadaan di sekitar kami.”

“Baiklah,”jawab seorang pengawal yang tertua di antara mereka yang telah bergabung menjadi kelompok-kelompok kecil, “kami akan bergabung. Tetapi kami akan mencari jalan lain, supaya tidak segera diketahui oleh pasukan lawan.”

(***)
From Prasidi’s Collection
Scan: Herry
Konvert: Jebeng
Retype: Gaza
Proof: Eddypedo
Date: 10-29-2008

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 28 Oktober 2008 at 10:52  Comments (28)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-36/trackback/

RSS feed for comments on this post.

28 KomentarTinggalkan komentar

  1. Boleh deh saya mau retype dari hal 7 -45, tapi ndak bisa cepet ya, perlu waktu paling tidak 1 minggu, kirim aja file jpg-nya

    DD: Ada yg bisa lbh cepet? DJVU seminggu 5 buku, kalau teksnya seminggu 1/2 buku bisa ketinggalan jauh. Maunya ya seharmal sebuku.

  2. kirim file jpgnya aja

  3. convert dari jpg/image ke djvu pake djvusolo.
    wuih.. akhirnya berhasil juga 😀

  4. khusus buku 36 ini scan texnya agak kurang memenuhi syarat untuk diconvert ke doc, terlalu samar,kurang kontras.

    contoh sedikit hasil konvert ke doc, kalo kayak gini dianggap sudah cuku memenuhi syarat.. tak lanjutkan lagi.. tapi kalo tidak.. mending langsung di retype aja, gak perlu di konvert. (aku manut pasukan retype)

    ———————————————-
    “<— la *dth swaisaa.-ggfl bebcrapa crang tidak dikeoal kedatem Tanoh Perdikaa ini, Apakai tidak mungkin bahwa ia mcmbawa beberapa orang bersamanja dan be-rama.2 berkeiahi bersamanja melawan ajah dibawah Putjang Kembar. —
    Kerti menarik nafas dalani2. Kernungkinart :tu meinang da pat terdjadi. Sidauti tclb-h melakukaii apa sadja tanpa mengenai tanggung djcn\vab ivfliu’k mentjapai mai:sudn’|a. Diautaranja ora:ng2 jarg tidak dikenal .’tu, Maka lidak mustab-‘J apabila Ki Tambak Wedi meropercjuitakan tjara jang sama. Tetapi tiba2 orang tua itu luenggciengkan kepafanja — Tidak seoraugpuu jang bsrani meianggar perintah Ki Gedc Menoreh. —
    — Aku akan p«rgr’ painan. Aku lidafe akan menampakkan d.’.rl.ku. Aku akan bcrsemhiinji. Hanja apabiJa keadaan raemaksa Aku akan membarttu ajah. •—
    — Tidak nggrtj wmpat becteftja sesuatu nifi. jnfilca n»ntu b?l”k itu tc^h teftwtup. Keiti m^nnanakst bahtmia. D:pnn.-l?naHHa Icedua dennan npn’ifi ket>ema<:a.n. Tetapi k’rd-.in ka’wa.rwia itupun •jelpnokpn Tfonnlanjg. M/erckapun tidak tabu, apakab jaug sepan-tasnjn dilakuJcan.
    Per-Jahan2 Kerti meninggalkan pinf.u bilik Pandan Wasigi kembali kepn’nnnitan. Dc-rmcrsoalar dxfa’iam dirin.fa ia incr(*n«i-.o satrbH menundukkan kcoalani’a. Namiin kettemasan Fandan Wanoi ‘tu bcralasan. Mtin-cikfn Ki Tntmbak Wcdi berbuait Ijuranq. MuncrHii, munnkin sekali. Memanq tidak odfl salahnja apabfla «p«t<»orancr st&u d»in oranq pero’ mentnnokp.f.a. Tv»iitit sa-o-Ja .snmbil ber-sembnn:J2 poar Kf Aroapati tidak otcncjctahu’nja. Apabiln Kf Tambak \VVdI tid^k brrbu«t tjurang, jnaka orang2 boleh menampakkan dir jjj»,
    ————————————————

  5. Mas thebro,
    mosok di ketik ulang…nanti akan diposting konvert dari pdf ke word. Hasil konvert sudah dipaketkan ke Mas D2.
    Jadi tinggal edit..mudah2an nggak sampai seminggu…

  6. konvert file buku 36 yang didownload dari adbmcadangan memang agaknya agak memerlukan sedikit lebih banyak edit tapi tetap lebih baik daripada ketik ulang. Kelihatannya memang karena scannya yang jilid 36 ini agak lebih “light” dibanding scan sebelumnya.

    Mudah-mudahan untuk scan jilid berikutnya dapat dipertajam.

    KETIKA Kerti inengangkat wadjahuja, dilihalrja dahi Wr* hnsta berkerut merut. Bahkan Wrahasta itu berkata ter-hata2 ?-* Tetapi, tetapi ilu tidak perlu, Pandan Wangi. Aku atkao mcnga-%-almu bersama orang2 jang telah aku scdiakafi- —
    Tcrirna kasih Wrahasta. -Aku berterima kasih sekali. Tc Up biarlah paman KerU ikut bersamaku. Ia akan ikut meliha* pula kesia«jaan djhalaman ini. Ia akan dapat memberi aku naseha* apa jang hams aku lakukan. —
    — Itu tidak perlu sama sekali. Biarlah paman Kerti berada chdalam ruuiah. Bukankah tugasnja didalam rumah ini sadja. *—
    — O — Pandan Wangi bcrdesah didalam hatinja — aku bcnar2 dihadapkan pada keadaan jang lidak aku kchendaki. —
    Kctika kemudian Pandan Wangi duduk bec-sama2 dengan Kerti dau kedua kawannja, ia se-olah2 mendjad. bcku Kepalanja ‘extunduk dan wadjahnja mendjadi terlarapau suram,
    — Pandan Wangi — berkata Kcrti kemudian — sebaiknja kau memang hams beristirahat ngger. Mungkin kau terlampasi c’tegangkan oleh keadaan. Seandanja ada sesuatu jang penting.
    lah aku mengetuk piniu biiikmu. Meskipun kau pasti tidlak akan dapat tidur, tetapi se-tidak2nja kau akan mendapat kesegar an bam setelah kau berbar.ng beberapa saat. —
    Pandan Wangi menarik nafas dalam2. Sedjenak ia berpiicir Dan sedjenak kemudian ia berkata — Baiklah pa mail. Aku akan bciistirahat sebentar. Mungkin aku akan mendapat sed.kit kete nangan. Tetapi mungkin pula aku djustru mendjadi semakin U-gang. — Pandan Wangi berhenli sedjenak, lalu — Sebentar lagi i»ku mcDicrlukan laporan keadaan, didalam dan dJuar halaman

    Maka sedjenak kemudian Pandan Wong1, lelah becada di¬dalam biliknja. Dibaringkannja dfrnjn dipembaringannja untuik inuitjoba bcristirahat. Se-kal*2 dipedjamkannja matanja, nanuun ia lidak berhas.I untuk sekedjap sadja melupakan persoalan jang kini sedang membelit Tanah Pcrdikaiuija, ajahnja dan dirinia «cnd;n.
    — Hem — Pandan Wangi berdesah. Kepaianja terasa pe-n’ng. Sekali2 angan2nja terbang ke Putjang Kembar. Ia sekali tidak dapat membajangkan apa jang telah terdjadi. Tetapi s«tu hal jang sangat mengganggunja, adalah bahwa ia sama se kali tidak dapat mempertjajai K: Tambak Wedi.
    Ketika ia meHhat sikapnja, pada saat ia ditjegat oleh eiiau orang jang tidak dikenal, maka lumbuhlah berbaga> pertanjaan didalam dirinia. Apalagi setcloh ia mercnungkan semua tjeritera ajohnja, sikapnja dan kata2nja, la mendapat kesimpulan bahwa K> Tambak Wedi kini tidak dapat lagi dipertjaja.

  7. mas jebeng… minta info dikit.. njenengan convertnya pake apa ya… kayaknya lebih presisi, punyaku rodo lemah syahwat iki… klo scannya burem dikit.. ancur dah teksnya..

    makasih sebelumnya

  8. saya bisa convert jpg to pdf.. cepet.. kalo ke djvu belum pernah belajar dan coba.. tadi saya coba search, djvu solo harus belikah ke lizard?

    silakan kirim filenya ke saya.. email yang perta

  9. ternyata create djvu agak mudah.. saya bisa convert.. monggo dikirim filenya

  10. pake ABBYY Fine Reader 9.0 Professional edition
    Mas Gonas dapat download softwarenya kok
    silakan liat di box komentar buku 24.
    bisa download dari megaupload dan rapidshare, sudah saya upload fullversionnya di sana.
    selamat menikmati.

  11. trims infonya… dah mulai tak download..
    biasanya aku pake abbyy fine reader 5, bawaan scan umax astra 4100.

  12. Mas EDED.. kalo bisa file djvu jangan dibuat dalam bentuk file besar (lebih dari 3 Mb). Soalnya suami saya (ubaid) tidak bisa terima attachement dengan memory besar. Di laut dibatasi maksimum 3 Mb.
    Buku adbm-36 lebih dari 4 Mb, padahal biasanya kurang dari 2 Mb.
    Makasih atas perhatiannya.
    a/n Ubaid

  13. Mas EDED tadi tulisan suami disuruh saya forward ke Mas Ed..suami lg dilaut nunggu2 adbm 36 37 tp ga bisa saya kirim soalnya file nya kegedean katanya…tenkyu yah Mas

  14. ohm ohm semua.. yang lagi mengkonvert ke doc file

    coba deh diperbesar resolusinya sebelum mengkonvert, terutama pada bahan yang hasil scannya agak kabur.
    dan juga di setting font matching-nya pada ABBYY reader-nya.

    di bawah ini ada contoh (buku 36 hal 9 bag bawah)

    conto 1 (belum dirubah resolusinya)

    Seulah Pandan Wang meuha. idurul, ke»u,Lan diluilarnan rumennya m.ii.a larjun ngera kemeja kcpcauapj. Wrehajla iae-»««14 W teteu, !«„ iau-ra – Mahkan r-anuun VVang.. Aha afcnu trrai. drnauraao. ^u.p «au irwaniuluu aku telah atdia. —
    – lena» .. h Wrahaata – «J. .an Pandan WanoL Bcla IjCudcruug unlu.. rMu.-., Wranaal. ilu Uua* aeauauuaa hu r.panra,,. – «uap a«i ^ mungau rnranraiulLirj kau. –
    S””‘. aata WrahaaU a,end,aji bet-kilatj. N.rauu keum ™ ” – BcuUraiLauau. k^rrtiaaUaulah taiaaaa. lumah
    dtn leiswi. kepajafci, ie|Mm 0,Jnmu BIOp(li)J|Jk]111 pji, _
    ■ JW<n» kepadaam. Mudahim trjal
    teidjadl «auatu ,.mS dapat maag gunIjangkan Tanah uu. ._
    – jj^1^^”* **■ 1CMn “*P oieugjnaaapiaja. —
    – berisiiraaat. Aku ra rata dici. —
    Pandan Wat* ruekhat .nugkai, ,ang tejap dan bnt rwagaUraanj, mrJiJlt„, W[un idHU, WfJuluU
    sB a^rir^ar’ ^”,,aan icpidi rfrn tSkfisi* fc™udian ma”* m-
    ctrsauia heru dan dua 0raflg kaw^n,.i. la klah bcrnaj-J menu .rnoari duakan perUniaarJ Wrahmta jang pul akan rnuiam. Uihnja raendjadi Kmakiu binaung. N’araun itdwiU denqan iru .* meniadan, hahu/a salai, paham pada diri. raksasa itupun men’

    conto 2 (sudah diperbesar resolusinya)

    Seulah Pandan Wang ineiihal seluruh kegiatan dihalaaian romannya ma^a iapun segera ketnoaa kependapa. W rahasia me-iiganianijci sampai kepinlu, lalu kataaia — isJahkan Panuan Wangi. Aku akan berada dihaiaa;an. betiap kau memerlukan aku, dku leiah sedu. —
    •— Texuua kasih Wrahasia — djawab Pandan Wangi. Beta papua haimja ueyoia*. namun ia harus rxrs.Kap oaiX. uouxaa ui tjeuuerung unlu*. mcniuuai WronasUi nu uuuk Aeauaugan ha-r»panujd. — ociiup soal aku mungku memerlukan kau. —
    Sesaat mat:i Wrahasta mendjadi ber-kdat2. Namun kemu caon ia berkata — bccatuaualiali. l-‘erljajakainaa baiamau rumah
    di.n seisinja kepadaku seperu ajabmu niempertjaj3kan pula. —
    — Ja Wrahasta, aku penjaja kepadamu. Mudah2an tdak Uni jadi sesuatu jang dapat menggontjangkan Tanah mi. _
    — SeanUaiuja ada, kiia tcian siap aieughaaapinja. —
    — Ja. —
    — Silahkan beristirahat. Aku mata diri, —
    Pandan Wangi melihat tongkah jang tegap dan berai me ninggalkannja melintas, pendapa turun kcbalaman. Wrahasta aaaiah seorang jang memilikv kepertjajaan kepada diri sendin. Bahkan agak terlampau besar.
    Pandan Wangipun kemudian masuk kedalam pringgitan otrsama Kerti dan dua orang kawannja. Ia teluh berhas’i meng ..incan desakan pertanjaan2 Wrahasta jang past akan sunan-Lahnja mendjadi semakin bingung. Namun sedjalan dengan itu. ia menjadari, bahwa salah paham pada dlr1 raksasa itupun men-

  15. oke.. akan dicari cara supaya filenya gak lebih gedhe dari 4 Mb.

  16. DD… kirim ke aku deh, kalau menurut aku, daripada ngedit, mendingan ngetik ulang lho…lebih cepat, aku tunggu infonya… no berapa yg harus aku kerjakan. mumpung lagi nganggur.

    salam
    lurah basman

  17. versi kecil dah di upload.. untuk jilid 36 dan 37

  18. Urun retype sisanya sd hal 80. Dikirim ke imel Mas DD.

    D2: Sudah diterima. Sedang diproof oleh staf kami.

  19. Mas buku 36, hal 7-45, udah kelar, apa boleh saya posting disini atau via email ??? kalo email dikirim kemana ???
    Oh iya tambahan info kenapa saya perlu waktu agak lama untuk retype, soalnya waktunya sehari paling bisanya hanya 3 jam (komputer gantian), sungkan juga mau saya monopoli.

    D2: Teks Buku 36 dah terlanjur selesai diaplod, Bro.

  20. […] 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  21. terimakasih siapa pun yang telah membuat situs ini, saya jadi mengenal Agung Sedayu lebih baik, termasuk ekstrinsik Bapak S. H. Mintarja

  22. ikut menghaturkan,,

    terimakasih….siapa pun yang telah membuat situs ini, saya jadi mengenal si Sekar Merah dan si Pandanwangi lebih baik,
    termasuk intrinsik maupun ekstrinsik Bapak S. H. Mintarja

    • HADIR mendhisik-i pasukan “NAPAK TILAS” gandok2 awal
      ADBM……….genk DALU sadaya,

      • ki Karto, ki AS, ki Gembleh…….nuwun sewu cantrik
        nyrobot masuk duluan.

        • hardah ki tumeng

          • Rokok klobot saka Temanggung
            waduh…..Ki Menggung nyrobot.

            • hari ini ki mbleh sing ngrokok kloblot ya ?

              • halaaaah klobot kok dadi kloblot ki piyeeee
                (sopo sing nyenggol mbakyu “l” yo)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: