Buku 36

“Karena aku seorang perempuan dan Kakang Sidanti laki-laki?”

Samekta tidak segera menjawab. Sejenak ia berdiam diri. Tetapi ditatapnya wajah Pandan Wangi dengan tajamnya.

“Begitu Paman?” desak Pandan Wangi.

Samekta mengangguk perlahan-lahan. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Ya Ngger. Begitulah. Meskipun itu hanya salah satu alasan saja.”

“Masih adakah alasan yang lain, yang lebih baik dan lebih dapat aku terima dengan nalar?”

“Angger belum berpengalaman.”

“Kalau aku menghindari pengalaman yang pertama, maka selamanya aku tidak akan dapat langsung menginjak pengalaman yang kedua.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawaban itu memang benar. Tetapi seandainya Pandan Wangi benar akan pergi ke gelanggang, maka ia tidak berani menanggung akibat yang dapat terjadi atasnya. Kalau anak itu mendapat cidera, maka ia harus mempertanggung-jawabkannya kepada Ki Gede Menoreh.

Karena itu, maka Samekta itu menggelengkan kepalanya, “Jangan Ngger. Jangan mempersulit diriku. Sebaiknya Angger kembali saja pulang. Angger dapat memberikan perintah apa saja. Tetapi tidak pergi sendiri ke medan pertempuran itu.”

Dada Pandan Wangi tergetar mendengar jawaban Samekta. Meskipun ia dapat mengerti alasannya, tetapi keinginannya untuk melihat sendiri pertempuran itu seakan-akan tidak dapat lagi dibendungnya. Namun kesulitan yang di hadapi Samekta itupun mempengaruhinya pula.

Sejenak Pandan Wangi terpaku diam di tempatnya. Di dalam dadanya terjadi benturan-benturan perasaan yang sulit mendapat pemecahan. Dalam pada itu, Samekta berkata selanjutnya, “Angger Pandan Wangi. Menurut perhitunganku, maka perang yang bakal terjadi, pasti bukan perang di dalam gelar yang baik, meskipun aku sudah mempersiapkannya. Yang paling mungkin terjadi di dalam peperangan ini adalah perang brubuh. Menurut laporan dari beberapa pengawas yang melihat gerakan itu, maka sama sekali tidak ada persiapan untuk menyusun gelar. Tetapi kemungkinan untuk bertempur di dalam gelar yang baik masih ada. Pasukan Sidanti akan dapat menyusun dirinya, setelah berhadapan dengan lawan. Tetapi perbuatan yang demikian akan sangat berbahaya. Meskipun demikian, kemungkinan itu bisa juga terjadi apabila orang-orang yang memimpin pasukan itu kurang menguasai keadaan medan, tetapi juga mungkin karena meremehkan kekuatan lawan atau merasa dirinya terlampau kuat. Dalam kemungkinan yang pertama Ngger, yaitu perang brubuh, maka kehadiranmu di medan pertempuran akan sangat berbahaya. Tidak seorang pun yang dapat meluangkan waktunya untuk mengawasi dan melindungi orang lain.”

“Aku menyadari Paman. Meskipun aku belum pernah menghayati perang yang sebenarnya dalam bentuk apa pun, perang gelar maupun perang brubuh, namun aku berniat untuk melihat perang itu. Aku juga tidak perlu mendapat perlindungan dari siapa pun. Aku akan mencoba melindungi diriku sendiri.”

“Ya, ya aku tahu Ngger. Tetapi, terlampau berbahaya. Itulah kata-kata yang paling tepat aku pergunakan. Terlampau berbahaya. Aku tidak dapat menjelaskannya lebih jauh.”

“Aku ingin melihat Paman, betapa pun besarnya bahaya itu.”

“Kalau Ki Gede ada Ngger, terserahlah kepada ayahmu itu. Apa pun yang akan terjadi adalah tanggung jawab ayahmu. Tetapi sekarang Ki Gede tidak ada. Betapa mungkin aku membawamu ke medan peperangan yang masih belum dapat dibayangkan bentuknya? Menurut para pengawas dan para petugas sandi, sebagian terbesar dari mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal. Kita masih belum dapat membayangkan kekuatan mereka dan kemampuan mereka seorang demi seorang.”

“Aku pernah menghadapi orang-orang yang tidak dikenal itu, Paman. Enam orang sekaligus. Paman datang terlambat, sehingga Paman tidak menyaksikan aku berkelahi, meskipun aku aku, bahwa aku tidak mampu melawan mereka berenam bersama-sama, tetapi aku masih menyediakan diri untuk mencoba melawan lima orang di antara mereka.”

Hati Samekta tergetar mendengar jawaban Pandan Wangi yang dikatakan itu benar-benar telah terjadi. Pandan Wangi memang pernah berkelahi melawan enam orang, dan Pandan Wangi tidak binasa oleh mereka. Karena itu, maka sejenak Samekta terdiam. Ia terdorong ke sudut yang sulit untuk mengatasi. Dengan demikian ternyata baginya dan bagi Pandan Wangi itu, meskipun tidak terkatakan, bahwa sebenarnya kemampuan Pandan Wangi itu berada jauh di atasnya.

Meskipun demikian, bertempur di dalam perang brubuh terutama, yang diperlukan bukan ketrampilan perseorangan saja, tetapi juga pengalaman dan ketajaman naluri membawakan diri, di dalam hiruk pikuk ayunan senjata dan benturan-benturan kekuatan.

Karena Samekta tidak segera menjawab, maka Pandan, Wangi mendesaknya, “Bagaimanakah pendapat Paman?”

Samekta menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mencoba memberikan beberapa penjelasan tentang segala macam kemungkinan yang dapat terjadi.

“Aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun, Paman. Aku adalah salah seorang anak yang dilahirkan di atas Bumi Menoreh. Aku merasa mengemban kuwajiban seperti anak-anak yang lain. Apalagi aku adalah puteri Kepala Tanah Perdikan.”

Samekta menjadi semakin bingung. Dan dalam puncak kebingungannya ia mendengar Pandan Wangi berkata, “Paman. Sebaiknya aku memang tidak membuat Paman Samekta menjadi semakin sulit. Baiklah Paman, kini memikirkan perang yang akan terjadi itu saja. Jangan hiraukan aku. Aku akan berbuat atas hakku sendiri. Dalam keadaan yang paling jauh dari setiap kemungkinan kita sependapat, maka aku akan berdiri sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan. Aku tidak akan minta ijin kepada siapa pun, tetapi aku akan memerintah di sini kepada siapa pun yang aku kehendaki, sepanjang orang itu masih setia kepada Bumi Menoreh dan kepada Kepala Tanah Perdikannya.”

Dada Samekta kini benar-benar bergelora. Seolah-olah akan meledak. Dia masih menyimpan banyak sekali tugas-tugas yang harus diselesaikan segera. Tiba-tiba kini ia dihadapkan kepada sikap yang keras dari Pandan Wangi. Sehingga betapa pun ia mencoba mengendalikan dirinya, namun akhirnnya ia merasa bahwa nasehat-nasehatnya sama sekali tidak mendapat perhatian. Karena itu, supaya ia tidak terpancing dalam pembicaraan itu saja ia berkata, “Pandan Wangi, aku sudah mencoba mencegahmu. Tetapi kau sama sekali tidak menghiraukannya, bahkan kau telah mempergunakan wewenang tertinggi yang ada di tanganmu sekarang. Karena itu, maka aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Namun setiap peristiwa yang terjadi atas dirimu, apabila aku dan pasukanku tidak mungkin bagi mencegahnya, adalah akibat dari sikapmu dan kekerasan hatimu.

“Bagus,” tiba-tiba Pandan Wangi memotong, “sekarang Paman jangan memikirkan aku lagi. Apakah yang akan Paman kerjakan dengan pasukan Paman, lakukanlah.”

“Aku akan menyusul pasukan yang telah berangkat lebih dahulu.”

“Aku akan pergi bersama Paman.”

Samekta menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga, ia tidak akan dapat melepaskan diri dari tanggung jawab. Tetapi adalah di luar kemampuannya saat ini untuk mencegah Pandan Wangi.

Namun dalam pada itu, kedua pengawalnyalah yang kemudian berusaha mencegahnya. Salah seorang dari mereka berkata, “Pandan Wangi, bukankah kau sudah berjanji, bahwa kau tidak akan pergi ke tempat lain kecuali ke banjar ini? Kau harus segera kembali sesuai dengan kata-katamu sendiri kepada Wrahasta di rumahmu.”

Terasa dada Pandan Wangi bergetar. Wrahasta memang harus mendapat perhatian khusus daripadanya. Bukan saja karena ia adalah seorang pemimpin pengawal yang mendapat kepercayaan dari ayahnya untuk mengawal rumahnya seisinya, yang menurut tafsiran Wrahasta termasuk dirinya, tetapi juga karena Wrahasta mempunyai kepentingan pribadi.

Karena itu, sejenak Pandan Wangi tidak dapat menyahut. Namun Samekta dapat melihat jelas di wajah gadis itu, bahwa ia tidak akan dapat dicegah lagi.

Dan sejenak kemudian pengawal itu mendesaknya, “Bukankah kau berjanji, Pandan Wangi? Supaya aku tidak dianggap bersalah, kau sebaiknya kembali ke rumah.”

Tetapi Pandan Wangi menggeleng. Dalam kebingungan mencari jawab, Pandan Wangi telah terdorong lagi ke dalam suatu keadaan yang lebih menyulitkan hubungannya dengan Wrahasta. Karena gadis itu tidak ingin menyakitkan hati anak muda yang bertubuh raksasa itu, maka katanya, “Kembalilah. Kembalilah kepada Wrahasta, dan katakan kepadanya, bahwa aku pun akan kembali. Jangan digelisahkan kepergianku. Sebab aku tidak mempuayai tempat lain untuk berteduh, selain rumah itu. Biarlah ia menungguku di sana, sampai saatnya aku kembali.”

Kedua pengawalnya itu tidak dapat menangkap maksud gadis itu. Karena itu salah seorang dari mereka berkata, “Tetapi kau harus kembali bersamaku.”

“Dengar perintahku,” tiba-tiba gadis itu menggeram, sehingga kedua pengawalnya itu terkejut, “kalian berdua kembali atau mau ikut bersamaku. Tetapi tidak menghalang-halangi aku. Kalian hanya dapat menyebut salah satu dari kedua pilihan itu.”

Keduanya tidak segera dapat menjawab. Tetapi hati mereka menjadi berdebar-debar. Sejenak mereka saling berpandangan dan sejenak kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Kalau demikian Pandan Wangi, maka aku tidak akan dapat keluar daripada ikut bersamamu. Kau harus kembali bersama kami. Kalau kau tidak mau kembali, maka aku pun tidak akan kembali ke rumahmu.”

“Terserah kepadamu,” sahut Pandan Wangi, lalu katanya kepada Samekta, “Kapan kau berangkat Paman? Apakah kau menunggu pertempuran itu selesai?”

Pertanyaan itu mengejutkan hati Samekta. Namun dengan demikian terasa olehnya kekerasan hati Pandan Wangi. Maka jawabnya, tidak kalah kerasnya, “Kalau kau tidak datang kemari, Ngger, aku pasti sudah berangkat. Seandainya kini kedua pasukan itu sudah bertemu, aku pasti sudah ikut di dalam pertempuran itu.”

“Jadi Paman mencoba untuk membebankan kesalahan kepadaku seandainya terjadi sesuatu di peperangan itu.”

“Bukan maksudku, tetapi kedatanganmu dan keinginanmu untuk pergi ke medan peperangan itu menimbulkan soal baru bagiku.”

“Kalau begitu, sebaiknya aku pergi sendiri. Aku tidak usah pergi bersama Paman, atau berbicara apa pun dengan Paman.”

Debar di dada Samekta menjadi semakin tajam. Dengan tergesa-gesa ia memotong, “Tidak Ngger. Bukan begitu. Mungkin aku telah mengucapkan kata-kata yang tidak menyenangkan hatimu,” Samekta berhenti sejenak. Ia merasa bahwa umurnya telah jauh lebih tua, sehingga ia tidak boleh hanyut dalam kekerasan sikap masing-masing. “Kalau begitu baiklah, aku minta maaf.”

Pandan Wangi justru terbungkam mendengar kata-kata Samekta itu. Sejenak ia mematung, namun kemudian terdengar ia menarik nafas dalam-dalam.
“Tetapi Ngger,” berkata Samekta kemudian, “kalau Angger berkeras hati akan pergi ke garis peperangan, biarlah salah seorang dari kedua orang itu kembali untuk menyampaikan keputusan itu kepada Wrahasta, supaya ia tidak menjadi terlampau gelisah menunggumu.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian katanya kepada kedua pengawalnya, “Salah seorang dari kalian harus kembali, dan mengatakan kepada Wrahasta seperti yang telah aku katakan.”

Sekali lagi keduanya saling berpandangan. Tetapi sebelum mereka berkata sesuatu, Pandan Wangi telah berkata lebih dahulu, “Paman harus segera berangkat.”

“Oh,” desah Samekta, “baiklah kita akan segera berangkat.”

Samekta pun segera menyiapkan diri. Bersama beberapa orang pengawal tanah perdikan, Pandan Wangi dan seorang pengawalnya, mereka segera berangkat menyusul pasukan yang telah berangkat lebih dahulu.

Pasukan yang tinggal di banjar telah diserahkannya kepada pembantunya. Kepadanya telah diberikan pesan tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi. Kemungkinan bahwa Sidanti akan mempergunakan setiap kesempatan untuk menyusup masuk ke dalam induk tanah perdikan ini.

Tetapi satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Samekta adalah bahwa justru induk pasukan Sidanti-lah yang akan datang dari jurusan yang lain dari tanah perdikan ini. Pasukan yang telah siap untuk menghancurkan semua rintangan di sepanjang jalannya.

Sejenak kemudian terdengarlah derap kaki-kaki kuda menyelusur jalan pedukuhan, menuju kearah Barat sepasukan pengawal yang kuat yang telah lebih dahulu berangkat.

Sementara itu, pasukan pengawal yang telah berangkat lebih dahulu, berjalan menurut tiga jalur lorong kecil menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh para pengawas. Mereka akan menghadapi lawan mereka dari ketiga arah itu. Seandainya mereka harus bertempur dalam gelar yang baik, maka untuk menyusun gelar dari keadaan itu tidaklah terlampau sulit. Tetapi seandainya mereka di hadapkan pada perang brubuh, maka mereka tidak akan mudah terkurung dalam suatu lingkaran kekuatan lawan. Mereka akan menghadapi lawan mereka dalam garis yang cukup luas. Apalagi Samekta yakin, bahwa kekuatan pasukannya pasti melampaui kekuatan pasukan lawannya.

Setiap pemimpin kelompok pasukan pengawal itu telah mendapat petunjuk-petunjuk yang jelas, apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Dalam pada itu, pasukan Sidanti yang dipimpin oleh Ki Peda Sura pun menjadi semakin dekat. Jarak antara kedua pasukan itu susut dengan cepatnya. Hal itu disadari sepenuhnya oleh kedua pemimpinnya. Mereka masing-masing mengetahui, bahwa di hadapan mereka, pada jarak yang semakin pendek, lawan telah menanti.

Ki Peda Sura berhenti pada sebuah pedukuhan kecil yang dilampauinya. Di emper gardu peronda di mulut lorong yang memasuki padukuhan itu, sebuah pelita masih menyala. Di dalam gardu itu mereka masih menemukan beberapa buah mangkuk dan air hangat.

“Setan,” geram Ki Peda Sura, “iblis-iblis yang ada di dalam gardu ini sempat meloloskan diri.”

Beberapa orang mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Bukankah di padukuhan ini terdapat beberapa orang penghuni yang cukup mampu.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Peda Sura.

“Kami ingin melepaskan perasaan geram kami, karena kami telah kehilangan buruan kami.”

“Jangan sekarang!” bentak Ki Peda Sura, “kalian akan mendapat waktu untuk mencari harta benda di dalam rumah-rumah yang mungkin menyimpannya. Tetapi jangan dengan demikian kalian menjadi lengah. Sebentar lagi pasukan Argapati pasti akan datang menerkammu, selagi kau sibuk dengan urusanmu itu.”

“Apakah kita menunggu leher kita terpotong menjadi empat?”

“Kenapa?” bertanya Peda Sura.

“Kalau kita menunggu pasukan Argapati, kita akan kehabisan waktu. Kita akan menjadi umpan dan mati berkubur di kaki Bukit Menoreh ini.”

“Lalu apakah kepentinganmu datang kemari?” bertanya Peda Sura.

Orang itu tidak menjawab. Tetapi tampak kerut merut di keningnya menjadi semakin dalam.

“Kita datang kemari untuk membantu Sidanti berperang melawan ayahnya. Kelak kita akan mendapat imbalan dari jerih payah kita, sesuai dengan keadaan kita masing-masing. Tetapi selebihnya, kita akan mendapatkan atas usaha kita sendiri. Kita akan dilepaskan di dalam kandang domba. Kita tinggal memilih menurut selera kita masing-masing. Tetapi kita harus dapat membawa diri, supaya kita tidak saling berbenturan. Itulah sebabnya, maka kita harus mengekang diri kita sendiri, dan berusaha berbuat seadil-adilnya di antara kita.” Ki Peda Sura berhenti sejenak, lalu dengan suara lantang ia berkata, “Tetapi tidak sekarang. Kita jangan sampai mati tanpa mengadakan perlawanan, karena kita lengah. Rumah-rumah itu, dan rumah-rumah yang lain tidak akan dapat lari dari tempatnya.”

Tidak seorang pun yang menjawab, meskipun di antara orang-orang sewaan itu ada yang tidak sependapat. Tetapi mereka mengenal, siapakah Ki Peda Sura. Didalam pasukan itu ia tidak berdiri sendiri. Sebagian besar anak buahnya ada bersamanya. Dan orang-orang itu mengenal pula, siapakah sebenarnya Ki Peda Sura. Seorang yang ditakuti dan disegani oleh lingkungannya.

“Marilah kita tinggalkan padukuhan ini. Jangan dibangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak, supaya mereka tidak menghindar malam ini. Nanti, setelah Sidanti memasuki induk tanah perdikannya, yang dengan demikian menghisap segala kekuatan perlawanan Menoreh atas kita, maka kita akan mendapat kesempatan itu.”

Orang-orang sewaan di dalam pasukan itu masih saja berdiam diri. Meskipun wajah-wajah mereka menunjukkan kekecewaan, namun mereka tidak berani berbuat sesuatu. Mereka tidak berani menentang keputusan Ki Peda Sura, karena di dalam pasukan itu terdapat sebagian besar dari anak buahnya.

Kecuali anak buah Ki Peda Sura, maka pasukan Sidanti yang ikut di dalamnya yang terdiri dari orang-orang Menoreh, mereka tidak senang melihat sikap mereka. Namun jumlah mereka tidak terlampau banyak. Yang dapat mereka lakukan hanyalah berdiam diri, namun pada saatnya hal itu pasti akan mereka sampaikan kepada Sidanti dan Argajaya. Kini yang penting bagi mereka adalah menggilas kekuatan Argapati dan pengikut-pengikutnya.

Pasukan itupun kemudian bergerak maju menyusup padukuhan kecil itu, dan muncul kembali masuk ke dalam bulak yang tidak begilu panjang, Di hadapan mereka masih terdapat beberapa pedukuhan-pedukuhan kecil yang sepi.

“Kita harus berhati-hati,” berkata Ki Peda Sura. “Siapa tahu, bahwa di dalam pedesan-padesan itu bersembunyi pasukan Menoreh. Kita akan disergap dari dalam kegelapan, dan kita akan kehilangan kesempatan untuk melawan.”

“Lalu, apakah kita akan menunggu di sini?”

Peda Sura menggeleng, “Tidak. Kita akan maju. Tetapi kita tidak akan masuk ke dalam pedesan kecil itu lewat lorong ini. Kita akan melingkar melampaui sawah dan petegalan. Kita akan melihat dari sisi padesan itu, apakah di dalam padesan itu di tempatkan pasukan-pasukan Menoreh atau tidak. Kalau tidak, kita tidak akan singgah. Tetapi kalau di sana bersembunyi orang-orang Argapati, kita pancing mereka keluar. Kita akan bertempur di tempat yang terbuka. Cahaya bulan yang terang, akan banyak memberi keuntungan kepada kita. Mungkin jumlah kita lebih sedikit dari jumlah mereka, tetapi kita mempunyai kelebihan diri dalam perkelahian seorang lawan seorang. Karena itu, kita akan memilih perang tanpa gelar. Kalau kita harus memilih gelar, maka kita akan mempergunakan gelar Gelatik Neba, untuk seterusnya kita akan sampai juga kepada perang brubuh.”

Orang-orang di dalam pasukan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka memang tidak pernah memikirkan gelar apa pun yang akan mereka lakukan. Mereka berkelahi dengan cara mereka, dengan kebiasaan dan selera masing-masing. Cara itu tidak dimiliki oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun mereka mendapat latihan perlawanan seorang demi seorang, tetapi mereka bukan orang-orang yang berpengalaman berkelahi orang demi orang seperti orang-orang sewaan itu. Mereka tidak dapat berlaku kasar dan licik. Berbuat apa saja untuk memenangkan pertempuran.

Meskipun demikian, namun ternyata Ki Peda Sura cukup mengenal bentuk-bentuk perlawanan dalam gelar. Ia memiliki segala macam pengalaman perang dalam segala macam bentuknya. Perang dalam susunan gelar yang sempurna, sampai pada cara perang yang paling kasar dan liar sekalipun.

Demikianlah, maka pasukan Ki Peda Sura itu maju terus. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan induk tanah perdikan. Dua buah padukuhan telah dilampauinya. Tetapi di dalam kedua padukuhan itu sama sekali tidak dijumpainya pasukan Argapati, sehingga tumbuhlah keheranan di dalam hati Peda Sura.

“Apakah orang-orang Menoreh masih belum mengetahui gerakan pasukan ini?” bertanya Ki Peda Sura di dalam hatinya, namun kemudian dijawabnya sendiri, “Mustahil. Aku yakin bahwa petugas-petugas sandi telah melaporkan gerakan ini. Dan kami selanjutnya tinggal menunggu, di mana kami akan dijebak dan masuk perangkap.”

Meskipun demikian, Ki Peda Sura tidak menghentikan pasukannya. Tetapi ia menjadi semakin berhati-hati, ketika ia mendekati padesan berikutnya.

“Kita berhenti di sini,” desis Ki Peda Sura kemudian. Pasukannya pun kemudian berhenti. Beberapa orang pemimpin kelompok mendekatinya sambil bertanya, “Adakah sesuatu yang menarik perhatian?”

“Lihat,” berkata Peda Sura, “padesan itu justru terlampau gelap. Aku mengira, bahwa di dalam desa itu bersembunyi pasukan Argapati.”

Beberapa orang mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka bergumam, “Kita lebih baik segera berbuat sesuatu. Adalah menjemukan sekali, berjalan saja di sepanjang malam. Aku kira malam telah menjadi terlampau malam. Bahkan mungkin kita telah sampai ke tengah malam, melihat bulan yang telah berada di atas kepala ini.”

Peda Sura mengangguk-angguk. Dipandanginya padesan di hadapannya dengan tajamnya, seolah-olah ia ingin langsung memandangi, apa saja yang tersembunyi di balik bayang-bayang dedaunan yang kelam itu.

”Kita harus segera menemukan mereka,” berkata orang yang lain, “kita terlampau disiksa oleh ketegangan tanpa ujung. Kalau benar orang-orang Menoreh bertahan di desa itu, maka marilah kita langsung masuk, menyergap ke dalamnya. Aku tidak yakin, bahwa orang-orang Menoreh mampu mempergunakan pedangnya. Mereka hanya orang-orang yang terlampau banyak tingkah dan banyak bicara.”

Namun kata-kata itu terpotong oleh sebuah jawaban, “Kau jangan terlampau sombong. Kalau kau berbuat sedemikian gila, maka lehermu akan menjadi taruhan. Jangan menghina orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh.”

Orang yang berbicara pertama mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia bertanya, “Siapa yang menyahut kata-kataku itu? Apakah ia orang Menoreh juga.”

“Ya, aku adalah orang Menoreh,” dijawab orang itu.

“Nah, marilah kita lihat, apakah orang-orang dari Menoreh mampu menahan pedangku.”

“Cobalah.”

“Gila,” Ki Peda Sura hampir berteriak, “ternyata kalian termasuk bilangan orang-orang gila. Kalau kalian tidak mampu menahan diri dalam keadaan serupa ini, marilah kita batalkan saja niat kita untuk membantu Sidanti dalam perjuangannya. Kalian adalah orang-orang yang terlampau mementingkan diri sendiri dan pamrih-pamrih pribadi. Tetapi kalian harus menyadari, bahwa aku mendapat kekuasaan untuk memimpin pasukan ini. Aku mempunyai wewenang berbuat apa pun juga. Aku dapat membunuh kalian tanpa bertanggung jawab apa pun kepada siapa pun.”

Kedua orang yang berbantah itupun terdiam. Mereka menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan Ki Peda Sura. Berhadapan dengan orang yang benar-benar harus diperhitungkan sikap dan kata-katanya. Sebagian besar orang tahu, apa saja yang pernah dilakukan oleh Ki Peda Sura ini. Beberapa orang bahkan pernah melihat Ki Peda Sura itu membunuh seseorang sambil mengunyah jenang alot. Tangan kanannya memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, sedang dengan tangan kirinya ditusukkannya perlahan-lahan ujung pisau belati pada arah jantung seseorang yang sudah tidak berdaya tersandar pada dinding batu.

“Nah, kita akan memancing mereka,” berkata Ki Peda Sura kemudian, “aku ingin berkelahi di tempat terbuka. Aku ingin melihat setiap kali ujung senjataku menghunjam lambung lawan.”

“Apakah yang akan kita lakukan?” bertanya salah seorang pemimpin kelompoknya.

“Kita dekati desa itu. Tetapi beberapa puluh langkah daripadanya kita bergeser ke kiri. Kita akan masuk ke dalam pategalan itu. Pategalan itupun cukup rimbun untuk bersembunyi. Tetapi kita tidak akan bersembunyi. Kalau di dalam padesan itu ada pasukan Menoreh, mereka akan berusaha menyergap kita di dalam pategalan. Tetapi kita akan menyongsong mereka. Kita akan berkelahi di bawah terang bulan seperti yang sedang dilakukan oleh Ki Tambak Wedi di bawah Pucang Kembar.”

Beberapa orang mengerutkan keningnya. Cara itu kurang menguntungkan. Langkah yang pertama, masuk ke dalam pategalan itu dapat dipahami. Tetapi kemudian mereka tidak usah menyongsong lawan di tempat terbuka, mereka dapat menunggu orang-orang menoreh itu di bawah bayangan dedaunan di pategalan. Menyergap mereka selagi mereka melangkahkan kakinya masuk ke daerah kegelapan.

Tetapi orang lain bertanya, “Bagaimanakah seandainya mereka tidak memburu kita ke pategalan itu?”

“Kita akan maju mendekat. Kita akan menyergap mereka dari lambung, namun kemudian menarik mereka keluar dari padesan. Itulah sebabnya, maka hanya ujung pasukan kita sajalah yang akan mulai menyentuhkan senjatanya di padesan itu, kemudian kita membiarkan mereka mendesak kita. Berkelahi di dalam padesan atau pategalan sama sekali tidak menarik. Apalagi jumlah kita mungkin kalah. Pepohonan dan gerumbul-gerumbul dapat memberi banyak perlindungan bagi mereka yang licik, yang tidak berani bertempur beradu dada.”

Beberapa orang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Ki Peda Sura terlampau berbangga atas keperkasaannya. Ia tahu benar, bahwa Ki Argapati telah terikat dalam perkelahian melawan Ki Tambak Wedi. Bahkan menurut perhitungan mereka, Ki Argapati tidak akan dapat lagi keluar dari daerah Pucang Kembar itu. Karena itu, maka di atas Tanah Perdikan Menoreh, tidak akan ada lagi orang yang dapat melawannya.

Maka pasukan Ki Peda Sura itupun merayap maju. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan padukuhan kecil di hadapan mereka. Menurut perhitungan Ki Peda Sura, di situlah pasukan Menoreh akan bertahan. Mereka sudah pasti tidak akan bertahan di bibir padukuhan induk mereka. Sedang padukuhan di depan mereka itu, adalah padukuhan terakhir sebelum mereka memasuki induk Tanah Perdikan Menoreh. Sebuah pedukuhan yang besar dan ramai.

Ternyata perhitungan Ki Peda Sura itu tidak sisip. Di dalam padukuhan itu bersembunyi pasukan Menoreh. Bahkan Samekta dan Pandan Wangi pun telah sampai ke tempat itu pula. Mereka segera menghubungi para pemimpin kelompok dan memberikan beberapa petunjuk yang mereka perlukan.

Belum lagi Samekta selesai, maka datanglah seorang pengawas kepadanya sambil berkata, “Di depan kita berjalan sepasukan orang-orang Sidanti seperti yang telah dilaporkan lebih dahulu.”

“Apakah mereka menuju kemari?” bertanya Samekta.

“Ya, mereka menuju kemari.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan berjalan kaki ia pergi ke ujung lorong untuk melihat pasukan yang disebutkan olen pengawas itu.

“Hem,” desis Samekta, “pasukan itu agaknya ingin membunuh dirinya. Mereka langsung maju ke padukunan ini dalam iring-iringan seperti orang mengantar mayat ke kuburan.”

Pandan Wangi yang melihat bayangan-bayangan remang-remang di bawah sinar bulan yang cerah, mengerutkan keningnya. Pasukan itu agaknya memang tidak bersiap sama sekali. Mereka berjalan seenaknya, seolah-olah tidak melihat bahaya yang menunggu di hadapan mereka.

“Pasukan itu tidak terlampau besar,” gumam Samekta, “aku memang sudah menyangka, bahwa pasukan Sidanti tidak terlampau besar. Tetapi jumlah yang datang itu benar-benar di luar dugaanku. Jumlah itu terlampau sedikit bagi pasukanku.”

“Paman jangan terlalu menganggap diri terlampau kuat. Bukankah Paman sudah memperhitungkan pula, bahwa mungkin Kakang Sidanti menyisakan pasukannya untuk tujuan khusus.”

“Ya. Tetapi menghancurkan pasukan yang datang itu, apalagi apabila mereka memasuki padukuhan ini dengan cara itu, adalah pekerjaan yang terlampau ringan. Separo dari pasukanku akan dapat menyelesaikannya sebelum fajar. Apalagi seluruh pasukan ini.”

“Jangan memandang mereka terlampau rendah, Paman.”

“Tidak Ngger. Aku tidak memandang mereka terlampau rendah. Tetapi aku mendasarkan pada perhitungan. Perhitungan yang telah di alasi dengan pengalaman yang bertahun-tahun.”

“Paman Argajaya adalah orang yang cukup berpengalaman pula. Sedang Kakang Sidanti adalah bekas seorang prajurit yang baik.”

Samekta tidak menjawab. Tetapi dipandanginya bayangan di dalam cahaya bulan itu yang semakin lama menjadi semakin jelas. Mereka berjalan beriringan.

Samekta tersenyum melihat pasukan yang mendekat itu. Perlahan-lahan ia bergumam, “Aku tidak menyangka, bahwa pasukan Sidanti akan sedemikian lengah menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tetapi firasatnya terasa mengetuk hatinya, bahwa sesuatu akan terjadi atas tanah perdikan ini. Justru kebodohan yang berlebih-lebihan dari pasukan Sidanti itu membuatnya bercuriga.

Tiba-tiba dengan serta-merta ia berkata, “Paman, apakah Paman sendiri tidak lengah menghadapi pasukan itu? Sampai saat ini Paman belum membuat perintah apa-apa.”

“Oh,” peringatan itu telah membuat dada Samekta berdesir. Ia memang belum berbuat apa-apa justru karena ia menganggap lawannya terlampau kecil. Maka sejenak kemudian ia berkata kepada setiap pemimpin kelompok pasukannya, “Semua masuk ke dalam dinding halaman. Kita biarkan pasukan itu masuk ke lorong ini, kemudian kita sergap mereka setelah semuanya berada di dalam padukuhan. Aku akan memberikan aba-aba yang harus disambut oleh setiap pemimpin kelompok dan kemudian oleh setiap pengawal. Suara yang bersahut-sahutan akan membuat mereka semakin bingung.”

Setiap pemimpin kelompok tidak menunggu perintah itu diulangi. Segera mereka berloncatan ke pasukan masing-masing. Dan sebelum Pandan Wangi menyadari keadaan itu, semua pasukan telah hilang di balik dinding batu di sepanjang jalan padukuhan. Bahkan kuda Pandan Wangi pun sudah tidak tampak lagi di tempatnya.

Pandan Wangi menarik nafas. Pasukan Menoreh memang terlatih baik. Mereka dapat berbuat dengan cepat tanpa banyak menimbulkan keributan.

“Tetapi pasukan Kakang Sidanti yang terdiri dari orang-orang Menoreh pun akan sebaik itu pula,” gumam Pandan Wangi di dalam hatinya. Tetapi sebelum gadis itu sempat bertanya, maka dilihatnya pasukan yang sudah menjadi terlampau dekat di hadapan mereka itu berhenti.

“Mereka agaknya mulai menyusun diri,” berkata Samekta kepada Pandan Wangi.

“Ternyata mereka tidak sebodoh yang kita sangka.”

Samekta tidak menjawab. Tetapi matanya seakan-akan hendak meloncat dari pelupuknya ketika ia melihat pasukan itu bergeser. Ternyata mereka tidak maju lagi, tetapi mereka berjalan memintasi pematang. Namun sejenak kemudian Samekta tersenyum, “Biar saja mereka memilih lawan.”

Pandan Wangi tidak mengerti, apakah yang dimaksud oleh Samekta. Tetapi ia tidak bertanya. Beberapa langkah ia maju meskipun ia masih tetap terlindung oleh bayangan dedaunan yang rimbun.

“Kemana mereka akan pergi Paman?”

“Mungkin mereka melihat tanda-tanda, bahwa kita menunggu mereka di sini. Mungkin beberapa orang pengawas mereka berhasil mendekat tanpa setahu kita. Karena itu mereka merubah arah. Agaknya mereka akan berlindung untuk sementara di pategalan itu sambil menyusun pasukan mereka menjadi pasukan yang agak pantas untuk maju ke medan perang.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia melihat kesan yang aneh di wajah Samekta. Apalagi ketika ia bergumam, “Kita akan melihat, apa yang akan terjadi di pategalan itu.”

Sepercik pertanyaan menyala di wajah Pandan Wangi, meskipun tidak terucapkan, dan Samekta pun dapat menangkap pertanyaan itu. Katanya, “Marilah Ngger, kita maju beberapa langkah lagi. Kita menunggu, apa yang akan terjadi kemudian.”

“Paman tidak menyiapkan sesuatu untuk menyongsong perubahan tata gelar lawan?”

“Tentu Ngger. Aku akan berbuat sesuatu.”

Tiba-tiba terdengarlah suara suitan pendek dari mulut Samekta, tetapi kemudian berubah seperti suara derik angkup kering. Berturut-turut menusuk sepinya malam. Meskipun suara itu tidak terlampau keras, tetapi cukup dapat didengar oleh pemimpin-pemimpin kelompok pasukannya.

Sekejap kemudian, para pemimpin kelompok itu telah berkumpul. Dan dengan singkat Samekta memberitahukan, bahwa pasukan lawan telah menggeser arah dan pergi ke pategalan di sebelah.
“Oh,” pemimpin pengawal yang tertua di antara mereka bertanya, “lalu apakah yang harus kita lakukan?”

“Kita bersiap. Kita akan segera menyusul mereka.”

“Bagaimana dengan sayap kiri dari pasukan ini?”

“Pada saatnya kita panggil pemimpinnya dengan isyarat. Kemudian mereka harus bergeser dan menempati tempat ini. Kita akan pergi ke pategalan di sebelah.”

“Apakah sayap itu tidak akan ikut dalam pertempuran nanti.”

“Kita melihat perkembangan. Kalau kita tidak segera dapat mengatasi lawan kita, maka sayap itu kita bawa masuk ke dalam peperangan.”

“Apakah kita tidak akan menyusun gelar?”

“Kita lihat keadaan lawan. Tetapi bahwa mereka terperosok ke pategalan itu dalam keadaannya, maka rasa-rasanya kita tidak akan menyusun gelar. Kita akan terlibat dalam perang brubuh seperti yang sudah kita duga sebelumnya.”

“Lalu apakah yang akan kita lakukan dahulu?”

“Bersiap bersama pasukan masing-masing. Aku akan memberikan perintah kepada kalian, apabila datang saatnya kalian harus pergi ke pategalan itu.”

Para pemimpin kelompok itupun segera kembali ke dalam kelompok masing-masing. Tetapi sejenak kemudian, para pengawal sudah tidak lagi bersembunyi dan berlindung di balik pagar-pagar batu. Mereka kini bahkan telah meloncat kembali kelorong padukuhan itu.

“Aku tidak mengerti Paman,” gumam Pandan Wangi.

“Ini adalah pengalaman Angger yang pertama berada di medan. Angger harus mencoba menyesuaikan diri.” Samekta berhenti sebentar, lalu, “Tetapi maafkan Ngger, kalau aku kau anggap menyinggung perasaaanmu. Maksudku agar kau tidak terperosok ke dalam keadaan yang tidak kau mengerti sebelumnya.”

Sekali lagi Samekta berhenti, ia menjadi ragu-ragu untuk meneruskannya. Namun akhirnya ia berkata juga, “Angger Pandan Wangi. Aku mengharap bahwa, Angger mencoba menyesuaikan diri dengan peperangan yang bakal terjadi. Jangan langsung terjun ke dalam hiruk-pikuk perang brubuh. Angger akan melihat hal-hal yang mungkin belum pernah terbayangkan. Betapapun tangkasnya kau, namun kau adalah seorang gadis. Seorang perempuan. Kau akan sangat terpengaruh oleh penglihatanmu dalam perang semacam itu. Orang akan mudah sekali kehilangan kepribadian karena pengaruh dentang senjata. Apalagi orang-orang yang datang itu adalah orang-orang liar yang tidak mengenal peradaban.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengerti keterangan Samekta. Sebenarnyalah bahwa ia agak tersinggung pula. Seolah-olah Samekta masih saja menganggapnya anak-anak yang perlu selalu dilindungi. Tetapi ia tidak membiarkan perasaan itu berbicara. Karena itu maka ia pun bertanya, “Apakah maksud Paman Samekta dengan kehilangan kepribadian itu?”

“O, Ngger,” jawab Samekta, “mungkin kau pernah melihat darah mengalir dari luka. Mungkin kau bahkan pernah mengalami bertempur melawan enam orang laki-laki liar serupa itu. Tetapi kau belum pernah berada dalam perang brubuh. Orang-orang yang terlibat di dalamnya akan kehilangan otaknya. Yang berkuasa di dalam arena yang demikian adalah ujung senjata. Lebih dari itu. Setiap orang akan berusaha melepaskan kemarahan, dendam dan kebencian, sehingga tingkah lakunya jauh melampaui tingkah laku binatang yang paling buas sekalipun.”

Dada Pandan Wangi berdesir. Kini ia mengerti maksud Samekta. Tetapi ia sudah bertekad untuk mengenal bentuk peperangan dari dekat. Ia ingin mendapat pengalaman, apalagi apabila benar-benar ayahnya menganggap, bahwa ia sudah sepantasnya untuk mengganti kedudukan ayahnya itu. Kalau ia gagal pada pengenalannya atas bentuk peperangan yang pertama kali dan menjadi korban karenanya, maka itu adalah akibat yang wajar dari peperangan.

Karena itu maka katanya, “Terima kasih Paman. Aku akan berusaha untuk menyesuaikan diri. Tetapi aku akan tetap berada dalam pasukan ini.”

Samekta menarik nafas. Tetapi sebelum ia menjawab, ia mengangkat kepalanya. Lamat-lamat ia mendengar suara isyarat. Panah sendaren.

“Kita harus bersiap,” desisnya. Sekali lagi terdengar suara suitan dari mulut Samekta, kemudian berubah menjadi derik angkup kering. Dan sekali lagi para pemimpin kelompok berloncatan mendekatinya.

“Siapkan pasukan. Kita akan pergi ke pategalan.” Sekali lagi Pandan Wangi melihat para pemimpin kelompok itu seolah-olah lenyap ditelan gelap malam. Namun sekejap kemudian pasukan di padukuhan itu telah siap untuk menyergap lawannya. Kelompok demi kelompok. Sama sekali tidak tersusun dalam gelar yang sempurna.

Pandan Wangi terkejut, ketika tiba-tiba ia mendengar sorak bergeletar di pategalan sebelah. Sehingga dengan serta-merta ia bertanya, “Siapakah yang bersorak itu Paman?”

“Kedua pasukan itu telah bertemu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia masih belum mengerti, pasukan siapakah yang sudah bertemu itu. Karena itu dipandanginya Samekta dengan dahi yang berkerut merut.

Sementara itu, Peda Sura pun terkejut bukan buatan. Tanpa disangka-sangkanya, ketika ia merasa bahwa di hadapannya bersembunyi pasukan Menoreh, ia mencoba untuk menariknya keluar dengan caranya. Tetapi ternyata bahwa di dalam pategalan itupun dijumpainya pasukan Menoreh yang telah siap menunggunya.

Sorak yang meledak itu membuatnya sekejab menjadi bingung. Tetapi pengalamannya segera menempatkannya ke dalam keadaan yang mantap. Dengan lantangnya ia berteriak, “Tarik mereka keluar.”

Orang-orangnya yang telah terjebak itu, segera bergeser surut. Mereka berusaha untuk bertempur di luar pategalan yang dibayangi oleh dedaunan dan pohon-pohon buah-buahan yang rimbun.

Ternyata orang-orang Peda Sura adalah orang-orang yang memang cukup liar, namun cukup mempunyai pengalaman di dalam keliarannya. Segera mereka berkelahi dengan buasnya, sambil bergeser setapak demi setapak. Mereka pun berteriak-teriak tidak menentu, jauh lebih keras dari suara orang-orang Menoreh yang mengejutkan mereka untuk pertama kali.

Perkelahian yang terjadi kemudian adalah perkelahian yang kisruh. Bukan sekedar perang brubuh, tetapi benar-benar campuh seperti debu dalam putaran angin pusaran.

Di padesan sebelah Samekta telah menyiapkan pasukannya. Dengan isyarat pemimpin pasukan di sayap kiri telah datang kepadanya. Samekta segera memberinya beberapa pesan, dan memerintahkan pasukan di sayap kiri itu segera berada di tempat induk pasukan yang akan segera bergeser ke sayap kanan.

“Kalau keadaan memaksa, kalian akan mendapat isyarat untuk bertempur di sayap itu pula.”

“Ya,” jawab pemimpin sayap kiri itu, “kami akan selalu bersiap menghadapi setiap kemungkinan.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian berkata kepada setiap pemimpin kelompok, “Kita berangkat. Kelompok demi kelompok. Kita akan menghadapi perang brubuh yang tidak beraturan sama sekali.” Lalu kepada Pandan Wangi ia berkata, “pertimbangkan kata-kataku, Ngger.”

“Terima kasih Paman, tetapi aku ingin melihat, apa yang terjadi itu.”

Samekta menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara berat ia berkata pula, “Kalau kau berkeras hati Ngger, maka aku hanya dapat berpesan, berhati-hatilah. Berhati-hati sekali.”

“Terima kasih, Paman.”

Samekta pun kemudian bersiap dengan segenap pasukannya. Pemimpin pasukan sayap kiri telah pergi mengambil pasukannya. Sejenak kemudian, maka iring-iringan pasukan itu telah berada di tengah-tengah bulak pendek, menyeberang ke padukuhan itu.

“Pasukan itu telah datang. Marilah kita berangkat,” desis Samekta yang kemudian memberikan perintah kepada pemimpin-pemimpin kelompoknya untuk segera melibatkan diri ke dalam perang yang ribut itu.

Sejenak kemudian maka mengalirlah pasukan Samekta itu, keluar dari padukuhan tempat mereka berlindung. Di antara mereka terdapat Pandan Wangi yang berdebar-debar, tetapi ia sama sekali tidak ragu-ragu. Ia memang sudah bertekad bulat untuk pergi berperang.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 28 Oktober 2008 at 10:52  Comments (28)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-36/trackback/

RSS feed for comments on this post.

28 KomentarTinggalkan komentar

  1. Boleh deh saya mau retype dari hal 7 -45, tapi ndak bisa cepet ya, perlu waktu paling tidak 1 minggu, kirim aja file jpg-nya

    DD: Ada yg bisa lbh cepet? DJVU seminggu 5 buku, kalau teksnya seminggu 1/2 buku bisa ketinggalan jauh. Maunya ya seharmal sebuku.

  2. kirim file jpgnya aja

  3. convert dari jpg/image ke djvu pake djvusolo.
    wuih.. akhirnya berhasil juga 😀

  4. khusus buku 36 ini scan texnya agak kurang memenuhi syarat untuk diconvert ke doc, terlalu samar,kurang kontras.

    contoh sedikit hasil konvert ke doc, kalo kayak gini dianggap sudah cuku memenuhi syarat.. tak lanjutkan lagi.. tapi kalo tidak.. mending langsung di retype aja, gak perlu di konvert. (aku manut pasukan retype)

    ———————————————-
    “<— la *dth swaisaa.-ggfl bebcrapa crang tidak dikeoal kedatem Tanoh Perdikaa ini, Apakai tidak mungkin bahwa ia mcmbawa beberapa orang bersamanja dan be-rama.2 berkeiahi bersamanja melawan ajah dibawah Putjang Kembar. —
    Kerti menarik nafas dalani2. Kernungkinart :tu meinang da pat terdjadi. Sidauti tclb-h melakukaii apa sadja tanpa mengenai tanggung djcn\vab ivfliu’k mentjapai mai:sudn’|a. Diautaranja ora:ng2 jarg tidak dikenal .’tu, Maka lidak mustab-‘J apabila Ki Tambak Wedi meropercjuitakan tjara jang sama. Tetapi tiba2 orang tua itu luenggciengkan kepafanja — Tidak seoraugpuu jang bsrani meianggar perintah Ki Gedc Menoreh. —
    — Aku akan p«rgr’ painan. Aku lidafe akan menampakkan d.’.rl.ku. Aku akan bcrsemhiinji. Hanja apabiJa keadaan raemaksa Aku akan membarttu ajah. •—
    — Tidak nggrtj wmpat becteftja sesuatu nifi. jnfilca n»ntu b?l”k itu tc^h teftwtup. Keiti m^nnanakst bahtmia. D:pnn.-l?naHHa Icedua dennan npn’ifi ket>ema<:a.n. Tetapi k’rd-.in ka’wa.rwia itupun •jelpnokpn Tfonnlanjg. M/erckapun tidak tabu, apakab jaug sepan-tasnjn dilakuJcan.
    Per-Jahan2 Kerti meninggalkan pinf.u bilik Pandan Wasigi kembali kepn’nnnitan. Dc-rmcrsoalar dxfa’iam dirin.fa ia incr(*n«i-.o satrbH menundukkan kcoalani’a. Namiin kettemasan Fandan Wanoi ‘tu bcralasan. Mtin-cikfn Ki Tntmbak Wcdi berbuait Ijuranq. MuncrHii, munnkin sekali. Memanq tidak odfl salahnja apabfla «p«t<»orancr st&u d»in oranq pero’ mentnnokp.f.a. Tv»iitit sa-o-Ja .snmbil ber-sembnn:J2 poar Kf Aroapati tidak otcncjctahu’nja. Apabiln Kf Tambak \VVdI tid^k brrbu«t tjurang, jnaka orang2 boleh menampakkan dir jjj»,
    ————————————————

  5. Mas thebro,
    mosok di ketik ulang…nanti akan diposting konvert dari pdf ke word. Hasil konvert sudah dipaketkan ke Mas D2.
    Jadi tinggal edit..mudah2an nggak sampai seminggu…

  6. konvert file buku 36 yang didownload dari adbmcadangan memang agaknya agak memerlukan sedikit lebih banyak edit tapi tetap lebih baik daripada ketik ulang. Kelihatannya memang karena scannya yang jilid 36 ini agak lebih “light” dibanding scan sebelumnya.

    Mudah-mudahan untuk scan jilid berikutnya dapat dipertajam.

    KETIKA Kerti inengangkat wadjahuja, dilihalrja dahi Wr* hnsta berkerut merut. Bahkan Wrahasta itu berkata ter-hata2 ?-* Tetapi, tetapi ilu tidak perlu, Pandan Wangi. Aku atkao mcnga-%-almu bersama orang2 jang telah aku scdiakafi- —
    Tcrirna kasih Wrahasta. -Aku berterima kasih sekali. Tc Up biarlah paman KerU ikut bersamaku. Ia akan ikut meliha* pula kesia«jaan djhalaman ini. Ia akan dapat memberi aku naseha* apa jang hams aku lakukan. —
    — Itu tidak perlu sama sekali. Biarlah paman Kerti berada chdalam ruuiah. Bukankah tugasnja didalam rumah ini sadja. *—
    — O — Pandan Wangi bcrdesah didalam hatinja — aku bcnar2 dihadapkan pada keadaan jang lidak aku kchendaki. —
    Kctika kemudian Pandan Wangi duduk bec-sama2 dengan Kerti dau kedua kawannja, ia se-olah2 mendjad. bcku Kepalanja ‘extunduk dan wadjahnja mendjadi terlarapau suram,
    — Pandan Wangi — berkata Kcrti kemudian — sebaiknja kau memang hams beristirahat ngger. Mungkin kau terlampasi c’tegangkan oleh keadaan. Seandanja ada sesuatu jang penting.
    lah aku mengetuk piniu biiikmu. Meskipun kau pasti tidlak akan dapat tidur, tetapi se-tidak2nja kau akan mendapat kesegar an bam setelah kau berbar.ng beberapa saat. —
    Pandan Wangi menarik nafas dalam2. Sedjenak ia berpiicir Dan sedjenak kemudian ia berkata — Baiklah pa mail. Aku akan bciistirahat sebentar. Mungkin aku akan mendapat sed.kit kete nangan. Tetapi mungkin pula aku djustru mendjadi semakin U-gang. — Pandan Wangi berhenli sedjenak, lalu — Sebentar lagi i»ku mcDicrlukan laporan keadaan, didalam dan dJuar halaman

    Maka sedjenak kemudian Pandan Wong1, lelah becada di¬dalam biliknja. Dibaringkannja dfrnjn dipembaringannja untuik inuitjoba bcristirahat. Se-kal*2 dipedjamkannja matanja, nanuun ia lidak berhas.I untuk sekedjap sadja melupakan persoalan jang kini sedang membelit Tanah Pcrdikaiuija, ajahnja dan dirinia «cnd;n.
    — Hem — Pandan Wangi berdesah. Kepaianja terasa pe-n’ng. Sekali2 angan2nja terbang ke Putjang Kembar. Ia sekali tidak dapat membajangkan apa jang telah terdjadi. Tetapi s«tu hal jang sangat mengganggunja, adalah bahwa ia sama se kali tidak dapat mempertjajai K: Tambak Wedi.
    Ketika ia meHhat sikapnja, pada saat ia ditjegat oleh eiiau orang jang tidak dikenal, maka lumbuhlah berbaga> pertanjaan didalam dirinia. Apalagi setcloh ia mercnungkan semua tjeritera ajohnja, sikapnja dan kata2nja, la mendapat kesimpulan bahwa K> Tambak Wedi kini tidak dapat lagi dipertjaja.

  7. mas jebeng… minta info dikit.. njenengan convertnya pake apa ya… kayaknya lebih presisi, punyaku rodo lemah syahwat iki… klo scannya burem dikit.. ancur dah teksnya..

    makasih sebelumnya

  8. saya bisa convert jpg to pdf.. cepet.. kalo ke djvu belum pernah belajar dan coba.. tadi saya coba search, djvu solo harus belikah ke lizard?

    silakan kirim filenya ke saya.. email yang perta

  9. ternyata create djvu agak mudah.. saya bisa convert.. monggo dikirim filenya

  10. pake ABBYY Fine Reader 9.0 Professional edition
    Mas Gonas dapat download softwarenya kok
    silakan liat di box komentar buku 24.
    bisa download dari megaupload dan rapidshare, sudah saya upload fullversionnya di sana.
    selamat menikmati.

  11. trims infonya… dah mulai tak download..
    biasanya aku pake abbyy fine reader 5, bawaan scan umax astra 4100.

  12. Mas EDED.. kalo bisa file djvu jangan dibuat dalam bentuk file besar (lebih dari 3 Mb). Soalnya suami saya (ubaid) tidak bisa terima attachement dengan memory besar. Di laut dibatasi maksimum 3 Mb.
    Buku adbm-36 lebih dari 4 Mb, padahal biasanya kurang dari 2 Mb.
    Makasih atas perhatiannya.
    a/n Ubaid

  13. Mas EDED tadi tulisan suami disuruh saya forward ke Mas Ed..suami lg dilaut nunggu2 adbm 36 37 tp ga bisa saya kirim soalnya file nya kegedean katanya…tenkyu yah Mas

  14. ohm ohm semua.. yang lagi mengkonvert ke doc file

    coba deh diperbesar resolusinya sebelum mengkonvert, terutama pada bahan yang hasil scannya agak kabur.
    dan juga di setting font matching-nya pada ABBYY reader-nya.

    di bawah ini ada contoh (buku 36 hal 9 bag bawah)

    conto 1 (belum dirubah resolusinya)

    Seulah Pandan Wang meuha. idurul, ke»u,Lan diluilarnan rumennya m.ii.a larjun ngera kemeja kcpcauapj. Wrehajla iae-»««14 W teteu, !«„ iau-ra – Mahkan r-anuun VVang.. Aha afcnu trrai. drnauraao. ^u.p «au irwaniuluu aku telah atdia. —
    – lena» .. h Wrahaata – «J. .an Pandan WanoL Bcla IjCudcruug unlu.. rMu.-., Wranaal. ilu Uua* aeauauuaa hu r.panra,,. – «uap a«i ^ mungau rnranraiulLirj kau. –
    S””‘. aata WrahaaU a,end,aji bet-kilatj. N.rauu keum ™ ” – BcuUraiLauau. k^rrtiaaUaulah taiaaaa. lumah
    dtn leiswi. kepajafci, ie|Mm 0,Jnmu BIOp(li)J|Jk]111 pji, _
    ■ JW<n» kepadaam. Mudahim trjal
    teidjadl «auatu ,.mS dapat maag gunIjangkan Tanah uu. ._
    – jj^1^^”* **■ 1CMn “*P oieugjnaaapiaja. —
    – berisiiraaat. Aku ra rata dici. —
    Pandan Wat* ruekhat .nugkai, ,ang tejap dan bnt rwagaUraanj, mrJiJlt„, W[un idHU, WfJuluU
    sB a^rir^ar’ ^”,,aan icpidi rfrn tSkfisi* fc™udian ma”* m-
    ctrsauia heru dan dua 0raflg kaw^n,.i. la klah bcrnaj-J menu .rnoari duakan perUniaarJ Wrahmta jang pul akan rnuiam. Uihnja raendjadi Kmakiu binaung. N’araun itdwiU denqan iru .* meniadan, hahu/a salai, paham pada diri. raksasa itupun men’

    conto 2 (sudah diperbesar resolusinya)

    Seulah Pandan Wang ineiihal seluruh kegiatan dihalaaian romannya ma^a iapun segera ketnoaa kependapa. W rahasia me-iiganianijci sampai kepinlu, lalu kataaia — isJahkan Panuan Wangi. Aku akan berada dihaiaa;an. betiap kau memerlukan aku, dku leiah sedu. —
    •— Texuua kasih Wrahasia — djawab Pandan Wangi. Beta papua haimja ueyoia*. namun ia harus rxrs.Kap oaiX. uouxaa ui tjeuuerung unlu*. mcniuuai WronasUi nu uuuk Aeauaugan ha-r»panujd. — ociiup soal aku mungku memerlukan kau. —
    Sesaat mat:i Wrahasta mendjadi ber-kdat2. Namun kemu caon ia berkata — bccatuaualiali. l-‘erljajakainaa baiamau rumah
    di.n seisinja kepadaku seperu ajabmu niempertjaj3kan pula. —
    — Ja Wrahasta, aku penjaja kepadamu. Mudah2an tdak Uni jadi sesuatu jang dapat menggontjangkan Tanah mi. _
    — SeanUaiuja ada, kiia tcian siap aieughaaapinja. —
    — Ja. —
    — Silahkan beristirahat. Aku mata diri, —
    Pandan Wangi melihat tongkah jang tegap dan berai me ninggalkannja melintas, pendapa turun kcbalaman. Wrahasta aaaiah seorang jang memilikv kepertjajaan kepada diri sendin. Bahkan agak terlampau besar.
    Pandan Wangipun kemudian masuk kedalam pringgitan otrsama Kerti dan dua orang kawannja. Ia teluh berhas’i meng ..incan desakan pertanjaan2 Wrahasta jang past akan sunan-Lahnja mendjadi semakin bingung. Namun sedjalan dengan itu. ia menjadari, bahwa salah paham pada dlr1 raksasa itupun men-

  15. oke.. akan dicari cara supaya filenya gak lebih gedhe dari 4 Mb.

  16. DD… kirim ke aku deh, kalau menurut aku, daripada ngedit, mendingan ngetik ulang lho…lebih cepat, aku tunggu infonya… no berapa yg harus aku kerjakan. mumpung lagi nganggur.

    salam
    lurah basman

  17. versi kecil dah di upload.. untuk jilid 36 dan 37

  18. Urun retype sisanya sd hal 80. Dikirim ke imel Mas DD.

    D2: Sudah diterima. Sedang diproof oleh staf kami.

  19. Mas buku 36, hal 7-45, udah kelar, apa boleh saya posting disini atau via email ??? kalo email dikirim kemana ???
    Oh iya tambahan info kenapa saya perlu waktu agak lama untuk retype, soalnya waktunya sehari paling bisanya hanya 3 jam (komputer gantian), sungkan juga mau saya monopoli.

    D2: Teks Buku 36 dah terlanjur selesai diaplod, Bro.

  20. […] 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  21. terimakasih siapa pun yang telah membuat situs ini, saya jadi mengenal Agung Sedayu lebih baik, termasuk ekstrinsik Bapak S. H. Mintarja

  22. ikut menghaturkan,,

    terimakasih….siapa pun yang telah membuat situs ini, saya jadi mengenal si Sekar Merah dan si Pandanwangi lebih baik,
    termasuk intrinsik maupun ekstrinsik Bapak S. H. Mintarja

    • HADIR mendhisik-i pasukan “NAPAK TILAS” gandok2 awal
      ADBM……….genk DALU sadaya,

      • ki Karto, ki AS, ki Gembleh…….nuwun sewu cantrik
        nyrobot masuk duluan.

        • hardah ki tumeng

          • Rokok klobot saka Temanggung
            waduh…..Ki Menggung nyrobot.

            • hari ini ki mbleh sing ngrokok kloblot ya ?

              • halaaaah klobot kok dadi kloblot ki piyeeee
                (sopo sing nyenggol mbakyu “l” yo)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: