Buku 36

Semakin dekat mereka dengan Pucang Kembar, mereka menjadi semakin berhati-hati. Mereka berjalan di antara semak-semak yang rimbun. Kemudian membungkuk-bungkuk dan berlari-lari kecil dari satu gerumbul kegerumbul yang lain.

Namun mereka sama sekali tidak menemukan Pandan Wangi. Mereka sama sekali tidak melihat tanda-tanda apapun tentang gadis itu. Sehingga dengan demikian, maka Kerti pun menjadi semakin berdebar-debar. Keringat dingin telah mengalir di segenap wajah kulitnya. Bajunya menjadi basah, dan di keningnya mengembun beberapa titik keringat.

Beberapa langkah lagi mereka menjadi semakin dekat. Dengan dada berdebar-debar mereka menjengukkan kepala mereka dari balik gerumbul-gerumbul yang rimbun. Terasalah desir yang tajam di dalam dada mereka, ketika remang-remang di kejauhan mereka melihat dua bayangan seperti endog pangamun-amun, bergetar di dalam keremangan cahaya rembulan yang bulat.

Sesaat mereka saling berpandangan. Meskipun tidak sepatah kata pun yang terucapkan, namun seolah-olah mereka saling dapat menangkap isi hati masing-masing.

Kerti dan kedua orang kawannya adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang cukup sebagai pengawal-pengawal tanah perdikan. Namun mereka seperti kanak-kanak yang baru pertama kalinya melihat seekor kuda berpacu. Mereka melihat bayangan yang seakan-akan melayang-layang itu dengan mulut ternganga. Alangkah dahsyatnya.

Namun sejenak kemudian, Kerti menyadari keadaannya. Dengan berbisik perlahan sekali ia berkata, “Kita tidak melihat Pandan Wangi di sini.”

“Mungkin ia berada di depan kita, semakin dekat dengan perkelahian itu.”

“Mungkin. Tetapi dengan demikian, sangat berbahaya baginya dan bagi Ki Argapati. Kalau kakinya menyentuh daun-daun kering itu, maka gemersik suaranya akan didengar oleh kedua orang yang luar biasa itu. Nah, kau pasti akan tahu akibatnya.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Sedang Kerti berbisik pula, “Tetapi mungkin Pandan Wangi belum sampai ke tempat ini.”

“Baiklah kita menunggu saja di sini. Tempat ini cukup jauh, meskipun lamat-lamat kita melihat bayangan mereka yang berkelahi,” sahut kawannya.

Kerti mengangguk sambil berdesis, “Kita sulit membedakan keduanya selain dari bentuk senjata mereka. Yang bertombak itu pasti Ki Argapati, sedang yang bersenjata lebih pendek itu adalah Ki Tambak Wedi.”

Demikianlah, maka mereka bertiga tetap berada di tempat itu, di balik sebuah gerumbul yang rimbun. Dengan sepenuh hati mereka mengikuti perkelahian antara kedua orang yang pilih tanding. Perkelahian yang te!ah sampai pada pucaknya dengan bertaruh nyawa. Seolah-olah mereka sedang melanjutkan perkelahian yang pernah terjadi di bawah Pucang Kembar itu pula beberapa puluh tahun yang lampau.

Sementara itu, Sidanti, dan Argajaya, sedang sibuk mengatur pasukannya. Mereka merasa, bahwa telah sampai saatnya, mereka berangkat untuk merebut induk Tanah Perdikan Menoreh.

“Kita akan memasuki padukuhaan induk itu dari Timur, Paman,” berkata Sidanti ketika pasukan mereka telah siap, “seperti pesan guru.”

“Ya,” sahut pamannya, “apakah pasukan yang akan memancing para pengawal itu telah siap pula.”

“Sudah. Aku sediakan sepasukan yang cukup kuat untuk bertahan beberapa lama, sementara pasukan induk kita masuk dari arah lain. Pasukan yang akan memancing perhatian itu akan datang dari arah Barat.”

“Bagus. Biarlah pasukan itu berangkat lebih dahulu.”

“Kita berangkat bersama-sama. Tetapi kita berpisah di jalan. Aku mengharap bahwa waktu yang kita perlukan tidak terpaut banyak. Kalau kita terlambat, pasukan yang datang dari Barat itu pasti sudah hancur lumat. Menurut pengamatan petugas-petugas sandi kita, pasukan pengawal Menoreh telah benar-benar dalam keadaan siaga.”

“Tetapi pasukan kita tidak berselisih banyak, Sidanti. Kekuatan kita pun cukup besar.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia adalah orang yang cukup berpengalaman. Namun ia kagum melihat ketangkasan Sidanti berpikir, merencanakan serangan atas padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Agaknya pengetahuan Sidanti selama ia menjadi prajurit, di alasi oleh darah Paguhan yang mengalir di dalam tubuhnya, menjadikannya seorang yang cerdas.

Maka sejenak kemudian Sidanti, Argajaya, dan kedua pasukannya telah siap. Setelah Sidanti memberi beberapa penjelasan kepada kedua pasukan itu, maka mereka itu pun segera berangkat. Pasukan yang pertama, yang sekedar memancing perlawanan pasukan-pasukan pengawal Menoren, telah diserahkan kepada seseorang yang dipercayanya, justru bukan orang Menoreh. Pasukan itu sebagian besar memang terdiri dari orang-orang yang tidak dikenal di tanan perdikan ini. Mereka terdiri dan orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai tanggung jawab apa pun. Mereka sekedar berkelahi untuk kepentingan pribadi masing-masing. Dengan berkelahi mereka mengharap mendapatkan keuntungan-keuntungan yang jauh lebih banyak daripada apabila mereka bekerja wajar. Tetapi mereka menyadari, bahwa taruhannya adalah leher mereka.

“Merampok pun aku harus mempertaruhkan kepala,” pikir salah seorang dari mereka, “kini aku mendapat kesempatan untuk melakukannya secara terbuka.”

“Kenapa kita dijadikan umpan di dalam gelar ini?” salah seorang dari mereka berdesis kepada kawannya.

Kawannya menggelengkan kepalanya, “Tidak. Pasukan induk itu akan segera menarik perhatian para pengawal. Kita akan mendapat banyak kesempatan. Kalau kita masuk ke induk tanah perdikan ini bersama Sidanti dan Argajaya, maka setiap gerak kita akan diawasinya. Tetapi dari jurusan ini, kita akan bebas melakukan apa saja yang kita kehendaki.”

“Tetapi tugas ini terlampau berat. Sebelum pasukan induk itu datang, kita akan bertempur melawan kekuatan yang jauh melampaui kekuatan kita.”

“Sidanti sudah berjanji, bahwa waktu yang diperlukannya tidak terpaut banyak.”

“Bagaimana kalau ia ingkar, justru menunggu sampai kita binasa?”

“Tidak ada gunanya kita membunuh diri. Kalau menurut pertimbangan kita, pekerjaan kita terlampau berat, kenapa kita tidak lari saja dan kemudian memukul sendiri Sidanti dari arah yang lain. Kita akan mendapat hadiah dari Ki Argapati, seperti apa yang dijanjikan Sidanti. Bahkan kalau kita sempat, biarlah kedua pasukan itu saling berhantam. Kita akan mengambil apa saja yang dapat kita ambil.”

Keduanya tertawa pendek. Pekerjaan yang mereka hadapi sama sekali lidak memerlukan tanggung jawab apa pun, selain menuggu upah yang dijanjikan oleh Sidanti, dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan sepanjang pertempuran itu berlangsung.

Demikianlah, maka kedua pasukan itu telah membelah gelap malam menyelusur jalan yang menuju ke induk Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi Sidanti tidak terlampau bodoh untuk menempuh jalan terdekat. Ia yakin, bahwa di sepanjang jalan terdekat itu, telah berhamburan petugas-petugas sandi dan pengawas-pengawas dari pasukan Ki Argapati. Karena itu, maka dipilihnya jalan yang lain. Jalan kecil yang agak melingkar. Namun menurut perhitungannya adalah jalan yana paling aman.

Semakin lama, maka pasukan itupun menjadi semakin dekat dengan induk tanah perdikan. Beberapa orang yang tinggal di rumah di pinggir jalan terkejut mendengar langkah kaki seperti air yang mengalir. Tidak henti-hentinya, seakan-akan tanpa ujung.

Tetapi di dalam rumah itu pada umumnya sudah tidak ada lagi seorang laki-laki pun. Mereka telah menempatkan diri mereka menurut keyakinan masing-masing. Sebagian dari mereka berada di banjar Tanah Perdikan Menoreh, dan sebagian lagi turut serta dalam arus pasukan Sidanti yang menelusur jalan kecil seperti seekor ular raksasa yang sedang bergerak perlahan-lahan.

Ketika pasukan itu telah sampai di tempat yang mereka tentukan, maka pasukan ini pun segera berhenti. Di tempat itulah pasukan akan berbagi. Sebagian akan membelok ke Barat dan akan masuk melalui padukuhan-padukuhan kecil di sebelah Barat induk tanah perdikan, dan yang lain akan menuju ke Timur, untuk seterusnya masuk ke pedukuhan induk dari arah yang berlawanan dari arah pasukan yang pertama.

“Aku percayakan pasukan ini kepadamu,” berkata Sidanti kepada pemimpin pasukan yang bertugas memancing dari arah Barat. Seorang yang datang dari seberang Kali Bogowanta, yang menamakan dirinya Ki Peda Sura. Meskipun namanya tidak begitu dikenal, namun ia adalah seorang yang berpengaruh. Ki Peda Sura adalah seorang yang mempunyai kekuatan tersendiri, karena ia datang ke tanah perdikan ini bersama beberapa orang anak buahnya, bahkan merupakan satu pasukan kecil tersendiri. Seperti orang-orang lain, maka Ki Peda Sura mendapat janji yang menyenangkan. Ia akan mendapat daerah yang subur di sisi Barat Tanah Perdikan Menoreh selama Sidanti memerintah tanah perdikan itu. Itulah sebabnya, maka ia berkeras hati untuk membantu dan memenangkan perlawanan Sidanti atas ayahnya, Ki Argapati, meskipun Ki Peda Sura telah mengenal Argapati pula.

“Selama Argapati berkuasa di Menoreh, aku tidak akan mendapat keuntungan apa-apa daripadanya,” katanya di dalam hati, “tetapi agaknya berbeda dengan Sidanti. Aku dapat mengharap banyak daripadanya. Ia tidak akan dapat ingkar janji sebab selain aku dan orang-orangku banyak sekali orang-orang yang telah dilibatkannya dalam pertengkaran ini. Kalau ia ingkar, maka selamanya tanah ini tidak akan dapat tenteram meskipun di sini ada Ki Tambak Wedi.”

Sesaat kemudian Ki Peda Sura telah membawa pasukannya membelok kearah Barat, menyusur sebuah pematang yang sempit. Mereka akan sampai pada sebuah jalan kecil untuk segera memasuki sebuah padesan kecil pula. Ki Peda Sura, meskipun bukan orang Menoreh, tetapi ia cukup mempunyai pengetahuan tentang daerah itu, sehingga ia menduga bahwa ia harus berhati-hati menghadapi peronda-peronda yang mungkin dipasang oleh Argapati di desa kecil itu.

Sedangkan Sidanti dan Argajaya bersama-sama berada di dalam induk pasukannya. Mereka akan memasuki induk tanah perdikannya dari arah yang berlawanan. Yang masuk ke rumah Argapati harus mendapat pengawasan sebaik-baiknya, sehingga Sidanti dan Argajaya berdua bersama-sama merasa perlu berada di induk pasukan itu.

“Rumah itu harus diselamatkan,” desis Sidanti, “isinya maupun bangunannya.”

“Ya,” sahut pamannya. “tidak boleh sehelai papan pun yang pecah pada rumah itu. Apalagi kehilangan harta milik. Orang-orang gila yang ikut dalam pasukan Peda Sura adalah perampok-perampok yang buas. Biar sajalah mereka akan dihancurkan oleh pasukan Argapati.”

“Jangan Paman. Kita masih memerlukan mereka untuk saat-saat mendatang.”

“Kalau kita sudah menduduki padukuhan induk, kita tidak lagi memerlukan mereka.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Jadi itukah alasannya, kenapa Paman tadi sebelum berangkat berpendapat bahwa pasukan itu harus berangkat lebih dahulu?”

Argajaya tidak segera menjawab.

“Jangan sekarang Paman,” berkata Sidanti kemudian, “seperti Guru berpesan, mereka kita manfaatkan sampai selesai.”

“Apabila kita sudah selesai, maka sulitlah bagi kita untuk menyingkirkan mereka.”

“Itu adalah tugas Guru. Tetapi aku kira tidak demikian. Kita dapat membuat persoalan sehingga mereka saling berkelahi, karena kita tahu kepentingan mereka di sini satu dengan yang lainnya berbeda, tetapi hakekatnya adalah sama. Mereka ingin merampok dan memiliki apa saja sebanyak-banyaknya.”

“Ya. Tetapi lebih lama mereka tinggal di sini, maka tanah ini akan menjadi semakin rusak.”

“Kita akan mempergunakan mereka sampai Argapati sama sekali tidak mampu lagi melawan kita. Baik Argapati sendiri apabila ia berhasil lolos dari tangan Guru, maupun orang-orangnya.”

“Tidak mungkin Sidanti. Tidak mungkin Kakang Argapati akan lolos dari tangan gurumu dan pembantu-pembantunya.”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi timbullah pertanyaan di dalam dirinya, “Kenapa Argajaya itu berpihak kepadaku? Tetapi dijawabnya sendiri, “Ah, biarlah itu diurus oleh Guru. Sudah tentu sikap itu mengandung pamrih, sebab Argapati adalah kakaknya sendiri.”

Namun terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Sampai saat terakhir, saat gurunya berceritera kepadanya, ia pun menganggap bahwa Argapati itu adalah ayahnya. Bahkan sikapnya sama sekali tidak berbeda terhadapnya dan terhadap Pandan Wangi. Dan kini, tiba-tiba saja ia harus memusuhinya. Melawan orang yang selama ini dianggapnya sebagai ayahnya.

Sidanti menarik nafas dalam-dalam. Ternyata pada akhirnya ia harus berpihak kepada ayahnya yang sebenarnya. Ki Tambak Wedi. Dan orang itupun terlampau baik kepadanya selama ini. Karena itu pula agaknya Ki Tambak Wedi memanjakannya jauh melampaui seorang murid biasa.

Sementara itu, pasukan Sidanti kedua-duanya menjadi semakin dekat, sehingga mereka harus berjalan lebih berhati-hati lagi. Baik Ki Peda Sura, maupun Sidanti, telah melepaskan beberapa orang yang harus berjalan mendahului pasukan-pasukan mereka yang sebenarnya.

Dalam pada itu, di rumah Ki Argapati, Wrahasta menjadi terlampau gelisah. Ia berjalan hilir mudik di halaman. Kadang-kadang ia masih berusaha mencari Pandan Wangi di sudut-sudut gelap di halaman, tetapi ia sama sekali tidak menemukannya.

“Hem,” desahnya, “anak itu memang anak yang terlampau keras hati. Tetapi ia sama sekali tidak menyadari, apakah yang sedang terjadi di dalam tanah perdikan ini. Ia tidak menyadari, betapa besarnya bahaya di sepanjang jalan dan bahaya yang menunggunya di bawah Pucang Kembar.”

Tetapi tiba-tiba Wrahasta itu terperanjat, ketika salah seorang kawan Kerti yang ditinggalkan berjalan-jalan tergesa-gesa menemuinya.

“Mengapa?” bertanya Wrahasta yang menjadi berdebar-debar karenanya.

“Wrahasta, ternyata Pandan Wangi ada di dalam rumahnya.”

“He,” Wrahasta itu hampir saja terlonjak, “kau gila. Apakah kau ingin membuat aku semakin bingung?”

“Ikutlah aku,” jawab orang itu pendek tanpa memperhatikan kata-kata Wrahasta. Orang itupun sama sekali tidak menunggu jawaban. Denqan tergesa-gesa ia berjalan mendahului, langsung menuju ke pringgitan. Sedang di belakangnya Wrahasta pun berjalan mengikutinya tanpa bertanya lagi.

Ketika mereka melampaui pintu pringgitan, dada Wrahasta benar-benar berguncang. Ia melihat Pandan Wangi itu duduk bersama seorang kawan Kerti yang tidak ikut bersamanya.

“Pandan Wangi,” Wrahasta berkata dengan serta merta, “permainan apakah yang sedang kau lakukan? Di manakah kau selama ini?”

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia berkata, “Duduklah, Wrahasta. Dengarlah baik-baik, apakah sebenarnya maksudku dengan permainan ini.”

Wrahasta tidak menyahut. Seolah-olah di luar sadarnya ia melangkah mendekati Pandan Wangi dan duduk di hadapannya bersama kawan Kerti yang seorang lagi.

“Wrahasta,” berkata Pandan Wangi, “aku memang sengaja bersembunyi, supaya kalian mencari aku. Aku memanjat pohon duku di halaman samping. Tidak seorang pun yang melihatku. Aku memang sengaja membuat kesan supaya Kerti menyangka aku pergi ke Pucang Kembar menyusul Ayah.”

“Apakah maksudmu Pandan Wangi? Apakah kau tidak sadar, bahwa permainan itu adalah permainan yang sangat berbahaya. Berbahaya bagi jiwa Kerti yang menyusulmu, dan berbahaya bagi Ki Argapati?”

“Mungkin demikian Wrahasta, tetapi mungkin sebaliknya. Aku mendapat firasat, bahwa Ki Tambak Wedi kali ini tidak akan berbuat dengan jantan dan jujur. Apabila Kerti mencari aku ke sana, maka setidak-tidaknya Ayah mempunyai seorang saksi, apa yang telah dilakukan oleh Ki Tambak Wedi.”

Getar jantung Wrahasta terasa semakin cepat berdentangan di rongga dadanya. Namun kecemasan yang sangat telah menguasai perasaannya. Ia tahu benar, apakah akibat yang dapat timbul, seandainya Ki Argapati mengetahui, bahwa seseorang telah meliht perkelahian itu. Maka katanya, “Apakah menurut pertimbanganmu saksi itu akan menguntungkan kedudukan Ki Argapati? Justru dengan hadirnya seorang saksi, maka pemusatan kemampuan Ki Argapati akan terganggu. Nah, kau dapat membayangkan, sedikit saja gangguan pada salah seorang dari mereka, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk melakukan perang tanding itu seterusnya”

Dada Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Memang kemungkinan yang demikian itupun dapat juga terjadi. Tetapi ia menjawab, “Wrahasta. Kerti tahu benar, bahwa hal yang serupa itu dapat terjadi. Tetapi aku pun percaya, bahwa Kerti bukan anak-anak lagi. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia datang ke Pucang Kembar sama sekali tidak dengan maksud untuk menarik sebagian dari pemusatan pikiran Ayah. Ia tahu hal itu, dan karena itu ia akan berhati-hati. Tetapi lebih daripada itu, aku merasa bahwa Ayah justru sedang diintai oleh bahaya yang tersembunyi. Wrahasta, aku tidak dapat mengatakan, tetapi firasatku berkata, Ki Tambak Wedi akan berbuat curang.”

“Maksudmu, Ki Tambak Wedi tidak datang seorang diri dalam gelanggang perkelahian itu?”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.
Wrahasta sejenak terdiam, sehingga suasana di dalam ruangan itu menjadi sepi. Sepi yang tegang. Masing-masing hanyut dalam arus angan-angan sendiri.

Dikejauhan terdengar suara burung-burung malam menggetarkan udara. Suaranya yang ngelangut serasa mengetuk hati yang sedang gelisah.

Didalam keheningan itu’ tiba-tiba bergetar derap suara kaki-kaki kuda membelah sepinya malam. Gemeretak di atas tanah berbatu-batu. Semakin lama menjadi semakin dekat. Sejenak kemudian suara suara derap kaki-kaki kuda itu berhenti. Namun sesaat berikutnya, derap itu telah bergetar di halaman.

“Siapakah itu?” bertanya Pandan Wangi.

Wrahasta menggelengkan kepalanya, “Mudah-mudahan bukan Kerti. Kalau kau berfirasat buruk atas Ki Tambak Wedi, sebaiknya memang Kerti akan dapat menyaksikannya. Tetapi ia seharusnya dapat membawa diri.”

“Lihatlah, siapakah orang yang baru datang.”

Wrahasta pun kemudian berdiri dan melangkah keluar. Tetapi ketika ia membuka pintu, hampir saja ia membentur seseorang yang dengan tergesa-gesa melangkah masuk.

“Oh, kau,” desis Wrahasta ketika ia melihat seorang pengawal yang dengan nafas terengah-engah berdiri di depan pintu. “Apakah ada sesuatu yang penting?”

“Ya. Aku akan menemui Pandan Wangi.”

“Masuklah.”

Orang itupun segera masuk, diikuti oleh beberapa orang pemimpin tanah perdikan yang sedang duduk-duduk di pendapa. Mereka melihat gelagat yang membuat jantung mereka menjadi berdebar-debar.

Ketika mereka telah duduk melingkar di atas tikar, maka orang yang baru saja datang itu segera berkata, “Aku mendapat tugas untuk menyampaikan berita kemari.”

“Ya,” sahut Pandan Wangi pendek.

“Beberapa orang petugas sandi telah melihat gerakan pasukan yang mendekati padukuhan induk ini”

Sederet warna merah membayang di wajah Pandan Wangi. Hampir-hampir ia tidak percaya akan pendengarannya. Seperti mimpi ia membayangkan, apakah mungkin kakaknya, Sidanti, yang bermain-main dengannya di masa-masa kecil itu benar-benar telah sampai hati menggerakkan pasukan untuk melawan ayahnya? Apakah mungkin, bahwa Sidanti yang tinggal di dalam rumah ini di masa kanak-kanaknya sebagai anak dari ibunya dan mendapat perlakuan tidak ubahnya seperti anak sendiri dari ayahnya, Ki Argapati, kini telah sampai hati melawan dengan kekerasan, dan bahkan dengan cara yang curang dan licik?

“Ki Tambak Wedi,” katanya di dalam hati, “ini pasti pokal Ki Tambak Wedi. Aku tidak percaya bahwa Kakang Sidanti akan berbuat demikian menurut hasratnya sendiri.” Namun tiba-tiba Pandan Wangi itu menjadi kecewa ketika di dalam hatinya itu pula ia menyadari, bahwa sebenarnyalah bahwa Sidanti adalah anak Ki Tambak Wedi. Darah yang mengalir di dalam tubuh kakaknya itu selain darah ibunya seperti yang juga mengalir di dalam dirinya adalah darah dari orang tua yang licik itu, yang di dalam masa mudanya telah berhubungan terlampau rapat dengan ibunya.

“Oh,” Pandan Wangi berdesah. Hampir saja ia memekikkan perasaan pedih di dalam hatinya. Namun untunglah bahwa segera ia menyadari kedudukannya kini. Ia adalah seorang yang kini sedang mewakili ayahnya, Kepala Tanah Perdikan Menoreh, meskipun ia seorang gadis.

Karena itu, maka Pandan Wangi segera berusaha menguasai perasaannya. Dengan nada yang datar ia bertanya, “Dari manakah gerakan itu datang?”

“Dari arah Barat. Sepasukan orang-orang yang tidak dikenal merayap mendekati padukuhan induk ini. Justru sebagian terbesar dari mereka bukan orang-orang Menoreh. Agaknya mereka akan menyerang dari arah Barat pula.”

“Apakah Paman Samekta telah mendapat laporan yang serupa?”

“Ya. Kawanku yang seorang telah menyampaikan berita ini kepada Ki Samekta.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada Wrahasta, “Orang ini belum tahu, apakah yang akan dilakukan oleh Paman Samekta, karena ia langsung menuju kemari. Aku harus mendengar gerakan yang akan dilakukan oleh Paman Samekta. Nah, kau dapat memerintahkan dua orang untuk menemuinya.”

“Orang yang datang bersamaku akan singgah kemari setelah bertemu dengan Ki Samekta,” potong orang itu.

“Biar sajalah. Tetapi aku minta Wrahasta mengirim orang ke sana segera.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Terasa kini bahwa gadis itu ternyata mempunyai pribadi yang kuat yang terpancar pada perbawanya atas dirinya.

Karena itu, maka tidak ada kesempatan lagi bagi Wrahasta untuk berbicara tentang bermacam-macam persoalan. Kata-kata Pandan Wangi tidak lebih dan tidak kurang dari suatu perintah. Perintah atas nama Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Wrahasta pun kemudian berdiri. Katanya sambil melangkah keluar, “Aku akan segera melakukannya. Aku akan mengirim dua orang untuk menemui Paman Samekta.”

Sejenak kemudian, maka di halaman terdengar derap kaki dua ekor kuda yang memecah sepinya malam, meluncur menyusup keluar regol. Dua orang telah dikirim oleh Wrahasta untuk menemui Samekta. Dan sejenak berikutnya, Wrahasla telah berada kembali di dalam pringgitan.

“Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Paman Samekta?” bertanya Pandan Wangi.

“Sudah tentu mengerahkan pasukan pengawal ke arah yang dikatakan itu,” sahut Wrahasta.

Tetapi Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Terlampau sederhana.”

Wrahasta heran mendengar tanggapan Pandan Wangi, sehingga ia bertanya, “Apakah maksudmu, Pandan Wangi?”

“Baiklah, kita tunggu kedua orang itu datang. Sekarang kau pun harus menyiapkan orang-orangmu di halaman ini, Wrahasta. Aku memperhitungkan, bahwa gerakan Kakang Sidanti tidak sesederhana itu. Datang dari arah Barat, kemudian menyerang dalam gelar yang sempurna di malam hari begini.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya di luar sadarnya. Pikiran itu memang dapat diterimanya. Justru karena itu, maka sekali lagi Wrahasta mengaguminya. Pandan Wangi adalah seorang gadis yang selama ini tidak pernah atau hampir tidak berminat untuk ikut serla di dalam kegatan-kegiatan ayahnya sebagai Kepala Tanah Perdikan. Hanya kadang-kadang ia ikut dalam pembicaraan-pembicaraan dan kadang-kadang sekali melihat para pengawal mengadakan latihan-latihan. Tetapi ternyata dalam keadaan ini, ia menunjukkan ketangkasannya berpikir.

“Pasukanmu harus kau atur sebaik-baiknya Wrahasta. Kita tidak tahu cara apa yang akan ditempuh oleh Kakang Sidanti dengan penasehatnya sekaligus gurunya yang licik itu. Mungkin ia akan mempergunakan cara yang licik pula.”

“Ya, aku mengerti, Pandan Wangi.”

“Jangan membiarkan dirimu didekap di dalam dinding halaman yang sempit ini. Tetapi kau harus berusaha agar mereka tidak dapat masuk lewat jalan manapun juga, seandainya Kakang Sidanti membuat pasukan yang khusus menembus langsung ke jantung tanah perdikan ini.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia benar-benar berada di bawah pengaruh puteri Kepala Tanah Perdikan itu. Sekali lagi Wrahasta berdiri dan melangkah keluar untuk mengatur orang-orangnya. Dinding halaman itu dirubahnya menjadi benteng yang kuat. Setiap sudut, bahkan setiap jengkal dinding dijadikannya tempat bertahan. Bahkan Wrahasta mempersiapkan pula senjata-senjata jarak jauh, untuk melawan arus apabila lawan datang terlampau banyak. Tetapi bulan di langit betapa pun terangnya, namun bayangan pepohonan akan menjadi tempat bersembunyi yang sebaik-baiknya bagi lawan yang akan menghindarkan diri dari bidikan anak panah.

Sejenak kemudian, lamat-lamat mereka telah mendengar derap kaki-kaki kuda yang datang mendekat. Dua orang yang diperintahkan oleh Wrahasta rnenemui Samekta di banjar desa telah kembali.

Mereka segera dibawa masuk ke pringgitan oleh Wrahasta, agar mereka dapat langsung berbicara dengan Pandan Wangi.

“Bagaimanakah sikap Paman Samekta?”

“Akan segera dikirim pasukan untuk menyongsong sergapan itu.”

“Berapa bagian dari kekuatan Paman Samekta yang berangkat.”

“Sebagian terbesar. Ki Samekta berhasrat untuk menghancurkan sama sekali pasukan itu, supaya untuk seterusnya tidak ada lagi kekuatan untuk mengganggu ketenangan tanah perdikan ini.”

“Apakah Paman Samekta menarik semua pasukan di padesan disekitar padukuhan induk ini?”

Sejenak orang itu terdiam. Kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Tidak dikatakannya.”

Pandan Wangi tampak berpikir sejenak. Tetapi ia tidak puas dengan tindakan Samekta itu, meskipun alasan-alasannya cukup kuat. Tetapi seperti yang terjadi dengan ayahnya, kali ini pun Pandan Wangi mempunyai firasat yang lain dari perhitungan Samekta itu. Sidanti tidak akan melakukan perang terbuka dengan beradu dada. Selain sifat-sifat licik gurunya, Sidantipun harus memperhitungkan, bahwa pasukannya tidak akan cukup kuat untuk melakukan perang dengan cara itu. Karena itu maka tiba-tiba ia berkata, “Aku akan menemui Paman Samekta.”

“Pandan Wangi,” tiba-tiba saja Wrahasta memotong, “kau tidak dapat meninggalkan halaman ini. Ini adalah rumah Kepala Tanah Perdikan. Dari sinilah kau harus mengatur kekuatan dan perlawananmu.”

“Paman Samekta yang mendapat tugas itu berada di banjar. Bagaimana aku dapat berbicara dengannya, apabila aku tidak pergi menemuinya, atau Paman Samekta pergi kemari? Tetapi karena tugas Paman Samekta yang berat, maka biarlah aku pergi ke banjar sekarang.”

“Pandan Wangi,” sekali lagi Wrahasta memotong, “jangan mengabaikan pesan Ki Gede Menoreh. Aku harus melidungimu di sini. Kau tidak boleh pergi.”

”Aku adalah wakil Ayah sekarang. Aku adalah Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Aku bukan tawananmu, Wrahasta.”

“Tetapi, tetapi,” wajah Wrahasta menjadi merah.

Tiba-tiba saja Pandan Wangi teringat akan sikap Wrahasta beberapa saat sebelum ayahnya pergi. Tersirat pula kembali di dalam hatinya, kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Wrahasta, apabila ia diterkam oleh kekecewaan. Karena itu, maka betapa pahitnya, Pandan Wangi itu kemudian berkata, “Lepaskan aku pergi kali ini, Wrahasta. Persoalan ini adalah persoalan Tanah Perdikan Menoreh. Kita akan menempatkan setiap persoalan yang lain pada waktu dan tempatnya sendiri. Kalau kau bersitegang, maka kau tidak akan dapat mengharap apa pun daripadaku. Tetapi kalau kau menurut perintahku, maka aku akan membuat pertimbangan-pertimbangan sebaik-baiknya. Kita dapat berbicara di kali lain.”

Terasa desir yang tajam tergores di dalam dada Wrahasta. Sejenak ia membeku di tempatnya sambil memandangi Pandan Wangi tajam-tajam. Berbagai macam perasaan bergolak di dalam dirinya. Ia menyadari tanggung jawabnya atas keamanan seluruh isi halaman rumah ini, termasuk Pandan Wangi seperti yang dipesankan oleh Ki Gede Menoreh. Tetapi kalau ia tidak mau melepaskan Pandan Wangi, maka kepentingan pribadinya atas gadis itu akan tertutup sama sekali.

Dalam pada itu, orang-orang lain yang mendengar pembicaraan mereka berdua hanya dapat memandang dengan mulut ternganga-nganga. Mereka sama sekali tidak mengerti ujung dan pangkal dari pembicaraan itu, sehingga dengan demikian, tidak dapat berbicara apa-apa.

Sedangkan Wrahasta sendiri, masih saja diselubungi oleh kebimbangan yang bahkan semakin memuncak. Ia melihat kepentingan yang bertentangan. Tanggung jawabnya, kepentingan pribadinya, dan kecemasannya tentang keselamatan Pandan Wangi apabila ia melepaskannya pergi.

“Bagaimana pertimbanganmu, Wrahasta,” bertanya Pandan Wangi kemudian.

Wrahasta terperanjat atas pertanyaan itu. Ia sama sekali belum siap untuk menjawabnya. Karena itu, maka dengan gelisah ia bergeser setapak. Dipandanginya Pandan Wangi dengan ragu-ragu.

“Wrahasta, sebenarnya tidak seharusnya aku minta ijin kepadamu. Yang wajib aku lakukan adalah memberitahukan, bahwa aku akan pergi ke banjar menemui Paman Samekta. Hanya itu, karena akulah kini Kepala Tanah Perdikan sampai Ayah datang.”

Dada Wrahasta semakin terguncang mendengar kata-kata itu. Tanpa dikehendakinya sendiri, diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya beberapa orang-orang tua duduk dengan wajah yang tegang penuh pertanyaan.

Namun kata-kata itu hampir tidak menyentuh perasaan Wrahasta. Apa pun yang dikatakan oleh Pandan Wangi, meskipun terlampau keras sekalipun, karena Pandan Wangi masih juga dipengaruhi oleh kemudaannya. Tetapi yang paling mendebarkan adalah tantangan Pandan Wangi mengenai masalah pribadinya yang membuat pertimbangannya menjadi sangat terpengaruh.

Sejenak kemudian, ternyata Wrahasta mencoba mencari alasan-alasan di dalam dirinya unluk membenarkan sikap Pandan Wangi pergi ke banjar menemui Samekta. Dengan demikian, maka Pandan Wangi akan bersedia untuk berbicara dengan dirinya mengenai masalah-masalah pribadi.

“Tetapi bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan anak itu,” katanya di dalam hati, “aku akan dimarahi oleh Ki Argapati dan lebih dari pada itu aku akan kehilangan.” Wrahasta menjadi semakin ragu-ragu. Namun terngiang kembali kata-kata Pandan Wangi. “Kalau kau bersitegang, maka kau tidak akan dapat mengharap apa pun daripadaku.”

“Hem,” Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk segera menemukan keputusan, apalagi setelah Pandan Wangi mendesaknya, “Bagaimana Wrahasta. Setiap saat harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Kalau kita membiarkan diri kita sendiri diombang-ambingkan oleh keragu-raguan, maka kita akan segera ditelan oleh pasukan Kakang Sidanti. Di ujung-ujung padukuhan dan bahkan sebentar lagi kita di sini.”

Tergagap Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, ya. Aku sadar Pandan Wangi. Tetapi pilihan yang kau hadapkan di mukaku sekarang ternyata terlampau sulit untuk dipecahkan. Tetapi apabila kau berkeras untuk pergi kepada Paman Samekta, dan tidak dapat aku cegah lagi, baiklah. Namun kau harus memperhitungkan setiap keadaan. Kau tidak dapat pergi tanpa pengawalan.”

“Baiklah,” sahut Pandan Wangi. Kemudian, “Aku akan membawa dua orang pengawal yang ditinggalkan oleh Kerti di sini.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya, Dipandanginya kemudian orang-orang yang berada disekitarnya. Orang-orang tua yang duduk mendengarkan pembicaraan itu dengan kepala pening.

”Bagaimana pendapat Paman-paman sekalian?” tiba-tiba Wrahasta bertanya kepada mereka.

Orang-orang tua itu tidak segera menjawab. Sejenak mereka saling berpandangan, dan sejenak kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Terserahlah kepada pertimbanganmu, Ngger. Didalam keadaan serupa ini, kau pasti lebih tahu tentang keadaan dan keharusan yang berlaku di tanah yang sedang dibakar oleh api kedengkian ini.”

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mendapatkan pertimbangan dari orang tua-tua itu. Namun ia sadar, bahwa ia harus segera bersikap. Maka katanya, “Baiklah Pandan Wangi. Kalau kau akan menemui Paman Samekta untuk membicarakan sesuatu, sebaiknya kau segera pergi sekarang bersama kedua pengawal ini. Tetapi apabila pembicaraan itu sudah selesai kau harus segera kembali. Kau sebaiknya setiap saat dapat ditemui di dalam rumah ini untuk segala macam kepentingan. Tetapi ingat, kau hanya pergi ke banjar. Tidak ke tempat lain. Kedua pengawal akan mencegahmu apabila kau mempunyai tujuan yang lain.”

“Baiklah, aku akan segera pergi dan segera pula kembali apabila pembicaraan sudah selesai,” desis Pandan Wangi, yang sejenak kemudian segera berdiri dan berkata selanjutnya, “Aku akan pergi berkuda.”

Beberapa orang segera menyiapkan tiga ekor kuda untuk Pandan Wangi dan dua orang pengawalnya. Dengan tergesa-gesa mereka meninggalkan halaman rumah itu, pergi ke banjar untuk menemui Samekta yang sedang mempersiapkan perlawanan.

Kedatangan Pandan Wangi di banjar itu ternyata telah mengejutkan Samekta, sehingga dengan serta-merta ia bertanya, “Kenapa kau pergi ke banjar, Pandan Wangi?”

“Aku perlu menemui, Paman, dalam saat yang meruncing serupa ini. Aku perlu bertanya dan mengetahui semua gerakan.”

“Aku akan memberikan laporan setiap saat lewat orang-orangku. Kalau kau memerlukan sekali bertemu dengan aku, Ngger, maka sebaiknya kau memanggil aku.”
Samekta berhenti sejenak, kemudian gumamnya kepada diri sendiri, “bagaimana dengan Wrahasta. Kenapa dilepaskannya Angger Pandan Wangi pergi?” Dan orang tua itu menjadi semakin heran, bahwa Wrahasta telah melepaskan Pandan Wangi pergi. Bukankah Wrahasta mempunyai kepentingan pribadi dengan gadis itu? Mustahil kalau Wrahasta melepaskannya meninggalkan daerah wewenangnya seperti yang diberikan oleh Ki Gede Menoreh. Sehingga tiba-tiba saja Samekta itu teringat sesuatu dan bertanya, “Apakah Angger Pandan Wangi meninggalkan halaman itu tanpa setahu Wrahasta? Oh bukankah Kerti memang sedang mencarimu ke Pucang Kembar?”

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Ditatapnya saja wajah Samekta yang keheran-heranan melihat kehadirannya. Tetapi Pandan Wangi dapat mengerti sepenuhnya perasaan orang tua itu. Kerti pasti singgah ke banjar ini sebelum ia pergi ke Pucang Kembar mencarinya.

Sejenak kemudian, barulah Pandan Wangi itu menjawab. “Ya Paman. Paman Kerti pasti mencariku ke Pucang Kembar. Apakah ia singgah kemari sebelum ia berangkat?”

“Ya. Ia singgah kemari dalam kegelisahan karena ia kehilangan kau, Ngger. Bersama dua orang ia pergi menyusulmu.”

“Jadi, Paman Kerti pergi bertiga?”

“Ya. Sebab pamanmu mengerti, siapakah yang sedang berada di bawah Pucang Kembar. Bukan berarti bahwa pamanmu Kerti merasa cukup kuat bersama dua orang kawannya itu, tetapi apabila ada sesuatu yang penting, maka mereka dapat berbincang.” Samekta berhenti sebentar, namun dalam keheranan itu ia bertanya, “Tetapi ternyata Angger sekarang masih berada di sini.”

Dengan singkat Pandan Wangi menceriterakan keadaannya. Kegelisahannya dan perhitungannya. Tetapi kalau tidak ditempuh cara itu, maka tidak seorang pun yang akan bersedia pergi ke Pucang Kembar.

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bergumam, “Tetapi aneh sekali bagiku. Sebenarnya Angger tidak perlu mempergunakan cara yang aneh-aneh itu. Ternyata sekarang Angger dapat meninggalkan halaman rumah itu pula. Kalau Angger pergunakan cara ini sejak semula, bukankah Angger sendiri dapat pergi ke Pucang Kembar?”

“Sebelum Kerti pergi, sebelum ada laporan tentang gerakan Kakang Sidanti, aku pasti tidak akan dapat keluar Paman. Aku tidak ubahnya seperti seorang tawanan.”

“Bukan maksudnya Ngger. Tetapi demi kebaikan semuanya dan atas perintah ayah, Ki Argapati.”

“Ya. Aku mengerti Paman, semuanya dapat aku mengerti. Yang kini akan aku persoalkan adalah mengenai gerakan Kakang Sidanti.”

Samekta menarik nafas. Kemudian katanya, “Duduklah. Kita berbicara tentang gerakan Sidanti itu.”

Mereka pun kemudian duduk di pringgitan banjar tanah perdikan itu. Di tengah-tengah lingkaran para pemimpin pengawal dari Pandan Wangi beserta kedua pengawalnya, sebuah lampu minyak berada di atas sebuah ajuk-ajuk pendek.

“Bukankah kau sudah mendapat laporan tentang gerakan itu dan sudah mendengar gerakan perlawanan yang aku lakukan?” bertanya Samekta sejenak kemudian setelah mereka duduk.

“Aku ingin mendengar langsung dari Paman. Dan apakah pasukan pengwal yang Paman persiapkan sudah mulai bergerak pula menyongsong pasukan Kakang Sidanti?”

“Sudah Ngger. Mereka sudah berangkat. Petugas-petugas sandi melihat gerakan itu menuju ke Barat. Sebagian besar dari pasukan pengawal telah aku kirim, supaya aku dapat menghancurkan mereka sama sekali. Supaya mereka besok atau lusa tidak bangkit lagi dan membuat kegaduhan-kegaduhan baru.”

“Aku mengerti Paman. Tetapi soalnya tidak sedemikian sederhana. Apakan Paman yakin, bahwa yang dilihat oleh petugas sandi itu seluruh pasukan Kakang Sidanti?”

“Tentu tidak Ngger. Tentu bukan seluruh pasukan. Mungkin Angger Sidanti akan mengambil kesempatan lain, pada saat pertempuran itu terjadi. Tetapi aku masih menyimpan beberapa bagian dari pasukan cadangan.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Apakah petugas sandi itu dapat mengatakan, siapa sajakah yang berada di dalam pasukan itu?”

Samekta menggelengkan kepalanya, “Tidak Ngger. Mereka tidak dapat mengatakan siapakah yang memimpin pasukan itu.”

“Lalu apakah sikap Paman seterusnya”

“Aku sebentar lagi akan menyusul pasukanku. Berkuda. Aku akan melihat sendiri benturan yang bakal terjadi itu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam diri. Dipandanginya kedua pengawalnya berganti-ganti. Lalu tiba-tiba ia bergumam, “Aku akan pergi juga bersamamu Paman.”

“He,” kata-kata itu ternyata telah mengejutkan semua orang yang mendengarnya. Beberapa pemimpin pengawal yang tingga di banjar, Samekta sendiri dan kedua pengawalnya.

“Jangan Ngger,” sahut Samekta kemudian, “jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan dirimu.”

“Kenapa aku tidak boleh berada di medan itu? Tidak seorang pun yang melarang, seandainya Kakang Sidanti menghendaki demikian. Bahkan setiap orang akan mengatakan, bahwa itu adalah kuwajibannya. Orang akan menertawakannya apabila ia justru ingkar, dan tidak mau terjun ke gelanggang.”

“O, persoalannya lain sekali Ngger. Angger Sidanti memang berkuwajiban. Tetapi tidak dengan kau.”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 28 Oktober 2008 at 10:52  Comments (28)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-36/trackback/

RSS feed for comments on this post.

28 KomentarTinggalkan komentar

  1. Boleh deh saya mau retype dari hal 7 -45, tapi ndak bisa cepet ya, perlu waktu paling tidak 1 minggu, kirim aja file jpg-nya

    DD: Ada yg bisa lbh cepet? DJVU seminggu 5 buku, kalau teksnya seminggu 1/2 buku bisa ketinggalan jauh. Maunya ya seharmal sebuku.

  2. kirim file jpgnya aja

  3. convert dari jpg/image ke djvu pake djvusolo.
    wuih.. akhirnya berhasil juga 😀

  4. khusus buku 36 ini scan texnya agak kurang memenuhi syarat untuk diconvert ke doc, terlalu samar,kurang kontras.

    contoh sedikit hasil konvert ke doc, kalo kayak gini dianggap sudah cuku memenuhi syarat.. tak lanjutkan lagi.. tapi kalo tidak.. mending langsung di retype aja, gak perlu di konvert. (aku manut pasukan retype)

    ———————————————-
    “<— la *dth swaisaa.-ggfl bebcrapa crang tidak dikeoal kedatem Tanoh Perdikaa ini, Apakai tidak mungkin bahwa ia mcmbawa beberapa orang bersamanja dan be-rama.2 berkeiahi bersamanja melawan ajah dibawah Putjang Kembar. —
    Kerti menarik nafas dalani2. Kernungkinart :tu meinang da pat terdjadi. Sidauti tclb-h melakukaii apa sadja tanpa mengenai tanggung djcn\vab ivfliu’k mentjapai mai:sudn’|a. Diautaranja ora:ng2 jarg tidak dikenal .’tu, Maka lidak mustab-‘J apabila Ki Tambak Wedi meropercjuitakan tjara jang sama. Tetapi tiba2 orang tua itu luenggciengkan kepafanja — Tidak seoraugpuu jang bsrani meianggar perintah Ki Gedc Menoreh. —
    — Aku akan p«rgr’ painan. Aku lidafe akan menampakkan d.’.rl.ku. Aku akan bcrsemhiinji. Hanja apabiJa keadaan raemaksa Aku akan membarttu ajah. •—
    — Tidak nggrtj wmpat becteftja sesuatu nifi. jnfilca n»ntu b?l”k itu tc^h teftwtup. Keiti m^nnanakst bahtmia. D:pnn.-l?naHHa Icedua dennan npn’ifi ket>ema<:a.n. Tetapi k’rd-.in ka’wa.rwia itupun •jelpnokpn Tfonnlanjg. M/erckapun tidak tabu, apakab jaug sepan-tasnjn dilakuJcan.
    Per-Jahan2 Kerti meninggalkan pinf.u bilik Pandan Wasigi kembali kepn’nnnitan. Dc-rmcrsoalar dxfa’iam dirin.fa ia incr(*n«i-.o satrbH menundukkan kcoalani’a. Namiin kettemasan Fandan Wanoi ‘tu bcralasan. Mtin-cikfn Ki Tntmbak Wcdi berbuait Ijuranq. MuncrHii, munnkin sekali. Memanq tidak odfl salahnja apabfla «p«t<»orancr st&u d»in oranq pero’ mentnnokp.f.a. Tv»iitit sa-o-Ja .snmbil ber-sembnn:J2 poar Kf Aroapati tidak otcncjctahu’nja. Apabiln Kf Tambak \VVdI tid^k brrbu«t tjurang, jnaka orang2 boleh menampakkan dir jjj»,
    ————————————————

  5. Mas thebro,
    mosok di ketik ulang…nanti akan diposting konvert dari pdf ke word. Hasil konvert sudah dipaketkan ke Mas D2.
    Jadi tinggal edit..mudah2an nggak sampai seminggu…

  6. konvert file buku 36 yang didownload dari adbmcadangan memang agaknya agak memerlukan sedikit lebih banyak edit tapi tetap lebih baik daripada ketik ulang. Kelihatannya memang karena scannya yang jilid 36 ini agak lebih “light” dibanding scan sebelumnya.

    Mudah-mudahan untuk scan jilid berikutnya dapat dipertajam.

    KETIKA Kerti inengangkat wadjahuja, dilihalrja dahi Wr* hnsta berkerut merut. Bahkan Wrahasta itu berkata ter-hata2 ?-* Tetapi, tetapi ilu tidak perlu, Pandan Wangi. Aku atkao mcnga-%-almu bersama orang2 jang telah aku scdiakafi- —
    Tcrirna kasih Wrahasta. -Aku berterima kasih sekali. Tc Up biarlah paman KerU ikut bersamaku. Ia akan ikut meliha* pula kesia«jaan djhalaman ini. Ia akan dapat memberi aku naseha* apa jang hams aku lakukan. —
    — Itu tidak perlu sama sekali. Biarlah paman Kerti berada chdalam ruuiah. Bukankah tugasnja didalam rumah ini sadja. *—
    — O — Pandan Wangi bcrdesah didalam hatinja — aku bcnar2 dihadapkan pada keadaan jang lidak aku kchendaki. —
    Kctika kemudian Pandan Wangi duduk bec-sama2 dengan Kerti dau kedua kawannja, ia se-olah2 mendjad. bcku Kepalanja ‘extunduk dan wadjahnja mendjadi terlarapau suram,
    — Pandan Wangi — berkata Kcrti kemudian — sebaiknja kau memang hams beristirahat ngger. Mungkin kau terlampasi c’tegangkan oleh keadaan. Seandanja ada sesuatu jang penting.
    lah aku mengetuk piniu biiikmu. Meskipun kau pasti tidlak akan dapat tidur, tetapi se-tidak2nja kau akan mendapat kesegar an bam setelah kau berbar.ng beberapa saat. —
    Pandan Wangi menarik nafas dalam2. Sedjenak ia berpiicir Dan sedjenak kemudian ia berkata — Baiklah pa mail. Aku akan bciistirahat sebentar. Mungkin aku akan mendapat sed.kit kete nangan. Tetapi mungkin pula aku djustru mendjadi semakin U-gang. — Pandan Wangi berhenli sedjenak, lalu — Sebentar lagi i»ku mcDicrlukan laporan keadaan, didalam dan dJuar halaman

    Maka sedjenak kemudian Pandan Wong1, lelah becada di¬dalam biliknja. Dibaringkannja dfrnjn dipembaringannja untuik inuitjoba bcristirahat. Se-kal*2 dipedjamkannja matanja, nanuun ia lidak berhas.I untuk sekedjap sadja melupakan persoalan jang kini sedang membelit Tanah Pcrdikaiuija, ajahnja dan dirinia «cnd;n.
    — Hem — Pandan Wangi berdesah. Kepaianja terasa pe-n’ng. Sekali2 angan2nja terbang ke Putjang Kembar. Ia sekali tidak dapat membajangkan apa jang telah terdjadi. Tetapi s«tu hal jang sangat mengganggunja, adalah bahwa ia sama se kali tidak dapat mempertjajai K: Tambak Wedi.
    Ketika ia meHhat sikapnja, pada saat ia ditjegat oleh eiiau orang jang tidak dikenal, maka lumbuhlah berbaga> pertanjaan didalam dirinia. Apalagi setcloh ia mercnungkan semua tjeritera ajohnja, sikapnja dan kata2nja, la mendapat kesimpulan bahwa K> Tambak Wedi kini tidak dapat lagi dipertjaja.

  7. mas jebeng… minta info dikit.. njenengan convertnya pake apa ya… kayaknya lebih presisi, punyaku rodo lemah syahwat iki… klo scannya burem dikit.. ancur dah teksnya..

    makasih sebelumnya

  8. saya bisa convert jpg to pdf.. cepet.. kalo ke djvu belum pernah belajar dan coba.. tadi saya coba search, djvu solo harus belikah ke lizard?

    silakan kirim filenya ke saya.. email yang perta

  9. ternyata create djvu agak mudah.. saya bisa convert.. monggo dikirim filenya

  10. pake ABBYY Fine Reader 9.0 Professional edition
    Mas Gonas dapat download softwarenya kok
    silakan liat di box komentar buku 24.
    bisa download dari megaupload dan rapidshare, sudah saya upload fullversionnya di sana.
    selamat menikmati.

  11. trims infonya… dah mulai tak download..
    biasanya aku pake abbyy fine reader 5, bawaan scan umax astra 4100.

  12. Mas EDED.. kalo bisa file djvu jangan dibuat dalam bentuk file besar (lebih dari 3 Mb). Soalnya suami saya (ubaid) tidak bisa terima attachement dengan memory besar. Di laut dibatasi maksimum 3 Mb.
    Buku adbm-36 lebih dari 4 Mb, padahal biasanya kurang dari 2 Mb.
    Makasih atas perhatiannya.
    a/n Ubaid

  13. Mas EDED tadi tulisan suami disuruh saya forward ke Mas Ed..suami lg dilaut nunggu2 adbm 36 37 tp ga bisa saya kirim soalnya file nya kegedean katanya…tenkyu yah Mas

  14. ohm ohm semua.. yang lagi mengkonvert ke doc file

    coba deh diperbesar resolusinya sebelum mengkonvert, terutama pada bahan yang hasil scannya agak kabur.
    dan juga di setting font matching-nya pada ABBYY reader-nya.

    di bawah ini ada contoh (buku 36 hal 9 bag bawah)

    conto 1 (belum dirubah resolusinya)

    Seulah Pandan Wang meuha. idurul, ke»u,Lan diluilarnan rumennya m.ii.a larjun ngera kemeja kcpcauapj. Wrehajla iae-»««14 W teteu, !«„ iau-ra – Mahkan r-anuun VVang.. Aha afcnu trrai. drnauraao. ^u.p «au irwaniuluu aku telah atdia. —
    – lena» .. h Wrahaata – «J. .an Pandan WanoL Bcla IjCudcruug unlu.. rMu.-., Wranaal. ilu Uua* aeauauuaa hu r.panra,,. – «uap a«i ^ mungau rnranraiulLirj kau. –
    S””‘. aata WrahaaU a,end,aji bet-kilatj. N.rauu keum ™ ” – BcuUraiLauau. k^rrtiaaUaulah taiaaaa. lumah
    dtn leiswi. kepajafci, ie|Mm 0,Jnmu BIOp(li)J|Jk]111 pji, _
    ■ JW<n» kepadaam. Mudahim trjal
    teidjadl «auatu ,.mS dapat maag gunIjangkan Tanah uu. ._
    – jj^1^^”* **■ 1CMn “*P oieugjnaaapiaja. —
    – berisiiraaat. Aku ra rata dici. —
    Pandan Wat* ruekhat .nugkai, ,ang tejap dan bnt rwagaUraanj, mrJiJlt„, W[un idHU, WfJuluU
    sB a^rir^ar’ ^”,,aan icpidi rfrn tSkfisi* fc™udian ma”* m-
    ctrsauia heru dan dua 0raflg kaw^n,.i. la klah bcrnaj-J menu .rnoari duakan perUniaarJ Wrahmta jang pul akan rnuiam. Uihnja raendjadi Kmakiu binaung. N’araun itdwiU denqan iru .* meniadan, hahu/a salai, paham pada diri. raksasa itupun men’

    conto 2 (sudah diperbesar resolusinya)

    Seulah Pandan Wang ineiihal seluruh kegiatan dihalaaian romannya ma^a iapun segera ketnoaa kependapa. W rahasia me-iiganianijci sampai kepinlu, lalu kataaia — isJahkan Panuan Wangi. Aku akan berada dihaiaa;an. betiap kau memerlukan aku, dku leiah sedu. —
    •— Texuua kasih Wrahasia — djawab Pandan Wangi. Beta papua haimja ueyoia*. namun ia harus rxrs.Kap oaiX. uouxaa ui tjeuuerung unlu*. mcniuuai WronasUi nu uuuk Aeauaugan ha-r»panujd. — ociiup soal aku mungku memerlukan kau. —
    Sesaat mat:i Wrahasta mendjadi ber-kdat2. Namun kemu caon ia berkata — bccatuaualiali. l-‘erljajakainaa baiamau rumah
    di.n seisinja kepadaku seperu ajabmu niempertjaj3kan pula. —
    — Ja Wrahasta, aku penjaja kepadamu. Mudah2an tdak Uni jadi sesuatu jang dapat menggontjangkan Tanah mi. _
    — SeanUaiuja ada, kiia tcian siap aieughaaapinja. —
    — Ja. —
    — Silahkan beristirahat. Aku mata diri, —
    Pandan Wangi melihat tongkah jang tegap dan berai me ninggalkannja melintas, pendapa turun kcbalaman. Wrahasta aaaiah seorang jang memilikv kepertjajaan kepada diri sendin. Bahkan agak terlampau besar.
    Pandan Wangipun kemudian masuk kedalam pringgitan otrsama Kerti dan dua orang kawannja. Ia teluh berhas’i meng ..incan desakan pertanjaan2 Wrahasta jang past akan sunan-Lahnja mendjadi semakin bingung. Namun sedjalan dengan itu. ia menjadari, bahwa salah paham pada dlr1 raksasa itupun men-

  15. oke.. akan dicari cara supaya filenya gak lebih gedhe dari 4 Mb.

  16. DD… kirim ke aku deh, kalau menurut aku, daripada ngedit, mendingan ngetik ulang lho…lebih cepat, aku tunggu infonya… no berapa yg harus aku kerjakan. mumpung lagi nganggur.

    salam
    lurah basman

  17. versi kecil dah di upload.. untuk jilid 36 dan 37

  18. Urun retype sisanya sd hal 80. Dikirim ke imel Mas DD.

    D2: Sudah diterima. Sedang diproof oleh staf kami.

  19. Mas buku 36, hal 7-45, udah kelar, apa boleh saya posting disini atau via email ??? kalo email dikirim kemana ???
    Oh iya tambahan info kenapa saya perlu waktu agak lama untuk retype, soalnya waktunya sehari paling bisanya hanya 3 jam (komputer gantian), sungkan juga mau saya monopoli.

    D2: Teks Buku 36 dah terlanjur selesai diaplod, Bro.

  20. […] 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  21. terimakasih siapa pun yang telah membuat situs ini, saya jadi mengenal Agung Sedayu lebih baik, termasuk ekstrinsik Bapak S. H. Mintarja

  22. ikut menghaturkan,,

    terimakasih….siapa pun yang telah membuat situs ini, saya jadi mengenal si Sekar Merah dan si Pandanwangi lebih baik,
    termasuk intrinsik maupun ekstrinsik Bapak S. H. Mintarja

    • HADIR mendhisik-i pasukan “NAPAK TILAS” gandok2 awal
      ADBM……….genk DALU sadaya,

      • ki Karto, ki AS, ki Gembleh…….nuwun sewu cantrik
        nyrobot masuk duluan.

        • hardah ki tumeng

          • Rokok klobot saka Temanggung
            waduh…..Ki Menggung nyrobot.

            • hari ini ki mbleh sing ngrokok kloblot ya ?

              • halaaaah klobot kok dadi kloblot ki piyeeee
                (sopo sing nyenggol mbakyu “l” yo)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: