Buku 36

KETIKA KERTI mengangkat wajahnya, dilihatnya dahi Wrahasta berkerut merut. Bahkan Wrahasta itu berkata terbata-bata, “Tetapi, tetapi itu tidak perlu, Pandan Wangi. Aku akan mengantarmu bersama orang-orang yang telah aku sediakan.”

“Terima kasih Wrahasta. Aku berterima kasih sekali. Tetapi biarlah Paman Kerti ikut bersamaku. Ia akan ikut melihat pula kesiagaan di halaman ini. Ia akan dapat memberi aku nasehat apa yang harus aku lakukan.”

“Itu tidak perlu sama sekali. Biarlah Paman Kerti berada di dalam rumah. Bukankah tugasnya di dalam rumah ini saja.”

“O, kau aneh sekali Wrahasta. Apakah sebenarnya keberatanmu? Paman Kerti adalah pemomongku. Biar sajalah ia ikut bersama aku.”

“Tetapi bukan demikian perintah Ayahmu, Pandan Wangi. Akulah yang bertanggung jawab atas keselamatan seisi rumah ini, termasuk kau. Bukan Kerti. Karena itu, biarlah Paman Kerti duduk saja di sini. Kau tidak akan terlampau lama. Dan kita akan segera kembali ke pringgitan ini.”

Terasa debar di dada Pandan Wangi menjadi semakin keras. Agaknya Wrahasta benar-benar ingin mendapat kesempatan untuk mendesakkan pertanyaannya. Namun justru karena itu, maka Pandan Wangi menjadi semakin kecut untuk pergi sendiri tanpa Kerti dan kawan-kawannya. Karena itu maka katanya, “Wrahasta,aku akan pergi bersama Kerti dan kedua kawannya. Tidak ada keberatan yang dapat kau ajukan. Seandainya Ayah tidak berbuat demikian, inilah perbedaan antara Pandan Wangi dan ayahnya.”

“Ah,” Wrahasta berdesah. Tampak kekecewaan menjalar di wajahnya. Sejenak ia berdiam diri memandangi nyala pelita yang bergetar disentuh angin malam yang menyusup lubang pintu yang tidak tertutup rapat-rapat sekali.

Melihat kekecewaan itu, Pandan Wangi menjadi kian berdebar-debar. Bagaimanapun juga, ia malam ini sangat memerlukan Wrahasta dan pengaruhnya atas pasukan pengawal yang terutama terdiri dari anak-anak muda sebaya dengan raksasa itu. Seandainya ia berbuat kurang sepantasnya bagi tanah kelahirannya ini, maka keadaan akan kian menjadi kisruh.

Sesaat kemudian terdengar pengawal muda bertubuh raksasa itu berkata, “Baiklah Pandan Wangi. Silahkan pergi bersama Paman Kerti melihat-lihat pasukan pengawalmu.”

Sekilas Pandan Wangi memandang wajah Kerti yang tampaknya tidak memberikan kesan apa pun. Namun sebenarnya orang tua itu telah menahan perasaannya. Kini ia tahu benar arti pesan Samekta kepadanya. Sehingga dengan demikian, maka ia benar-benar ingin untuk pergi bersama Pandan Wangi.

Sejenak kemudian maka Pandan Wangi itupun segera berdiri bersama semua orang yang berada di pringgitan itu. Perlahan-lahan ia melangkah keluar lewat pendapa yang remang-remang. Beberapa orang yang berada di pendapa berpaling ke arahnya. Orang-orang tua yang wajib mendampingi Pandan Wangi di bidang pemerintahan dan para pengawal yang lain, yang sedangduduk-duduk beristirahat. Namun segera mereka mengerti kemana Pandan Wangi akan pergi.

Pandan Wangi pun kemudian turun ke halaman, melangkah dengan kepala tunduk memutari halaman rumahnya, halaman depan dan halaman belakang. Hanya kadang-kadang saja ia mengangkat kepalanya, menyapa beberapa orang yang sedang berjaga-jaga. Lalu sejenak kemudian kepalanya telah menunduk lagi, seperti sedang menghitung langkah kakinya.

Tetapi dengan demikian, Pandan Wangi tahu, bahwa tidak ada dinding yang tidak terawasi sejengkal pun.

“Aku benar-benar tidak dapat lepas dari pengawasan mereka,” katanya dalam hati.

Sebenarnyalah bahwa di dalam hatinya tersimpan hasrat untuk pergi tanpa diketahui oleh orang lain ke Pucang Kembar. Ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana. Apakah ayahnya kira-kira dapat memenangkan perang tanding itu, atau barangkali Ki Tambak Wedi berbuat curang.

“Hatiku selalu diganggu oleh kecemasan. Aku merasakan getar yang menggelisahkan,” desisnya di dalam hati. Tetapi sudah tentu bahwa orang-orang di halaman itu tidak akan membiarkannya pergi seperti pesan ayahnya. Tugas para pengawal itu selain bertahan apabila ada bahaya, tetapi juga mengawasinya juga, sehingga Pandan Wangi itu merasa dirinya sebagai wakil ayahnya, Kepala Tanah Perdikan, sekaligus seorang tawanan. Meskipun ia menyadari dan mengerti maksud ayahnya, namun hatinya semakin lama semakin gelisah. Apalagi apabila teringat olehnya pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Wrahasta.

Setelah Pandan Wangi melihat seluruh kegiatan di halaman rumahnya, maka ia pun segera kembali ke pendapa. Wrahasta mengantarnya sampai ke pintu, lalu katanya, “Silahkan Pandan Wangi. Aku akan berada di halaman. Setiap kau memerlukan aku. Aku telah sedia.”

“Terima kasih Wrahasta,” jawab Pandan Wangi. Betapa pun hatinya bergolak, namun ia harus bersikap baik. Bahkan ia cenderung untuk membuat Wrahasta itu tidak kehilangan harapannya. “Setiap saat aku mungkin memerlukan kau.”

Sesaat mata Wrahasta menjadi berkilat-kilat. Namun kemudian ia berkata, “Beristirahatlah. Percayakanlah halaman rumah dan seisinya kepadaku, seperti ayahmu mempercayakan pula.”

“Ya Wrahasta, aku percaya kepadamu. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang dapat menggoncangkan tanah ini.”

“Seandainya ada, kita siap menghadapinya.”

“Ya.”

“Silahkan beristirahat. Aku minta diri.”

Pandan Wangi melihat langkah yang tegap dan berat meninggalkannya, melintas pendapa turun ke halaman. Wrahasta adalah seorang yang memiliki kepercayaan kepada diri sendiri. Bahkan agak terlampau besar.

Pandan Wangi pun kemudian masuk ke dalam pringgitan bersama Kerti dan dua orang kawannya. Ia telah berhasil menghindari desakan pertanyaan-pertanyaan Wrahasta yang pasti akan menambahnya menjadi semakin bingung. Namun sejalan dengan itu, ia menyadari bahwa salah paham pada diri raksasa itupun jadi semakin dalam. Agaknya Wrahasta benar-benar menaruh harapan kepadanya.

“O,” Pandan Wangi berdesah di dalam hatinya, “aku benar-benar di hadapkan pada keadaan yang tidak aku kehendaki.”

Ketika kemudian Pandan Wangi duduk bersama-sama dengan Kerti dan kedua kawannya, ia seolah-olah menjadi beku. Kepalanya tertunduk dan wajahnya menjadi terlampau suram.

“Pandan Wangi,” berkata Kerti kemudian, “sebaiknya kau memang harus beristirahat, Ngger. Mungkin kau terlampau ditegangkan oleh keadaan. Seandainya ada sesuatu yang penting, biarlah aku mengetuk pintu bilikmu. Meskipun kau pasti tidak akan dapat tidur, tetapi setidak-tidaknya kau akan mendapat kesegaran baru setelah kau berbaring beberapa saat.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berpikir. Dan sejenak kemudian ia berkata, “Baiklah Paman. Aku akan beristirahat sebentar. Mungkin aku akan mendapat sedikit ketenangan. Tetapi mungkin pula aku justru menjadi semakin tegang.” Pandan Wangi berhenti sejenak, lalu, “Sebentar lagi aku memerlukan laporan keadaan, di dalam dan di luar halaman ini.”

Maka sejenak kemudian Pandan Wangi, telah berada di dalam biliknya. Dibaringkannya dirinya di pembaringannya untuk mencoba beristirahat. Sekali-sekali dipejamkannya matanya, namun ia tidak berhasil untuk sekejap saja melupakan persoalan yang kini sedang membelit tanah perdikannya, ayahnya, dan dirinya sendiri.

“Hem,“ Pandan Wangi berdesah. Kepalanya terasa pening. Sekali-sekali angan-angannya terbang ke Pucang Kembar. Ia sama sekali tidak dapat membayangkan apa yang telah terjadi. Tetapi satu hal yang sangat mengganggunya, adalah bahwa ia sama sekali tidak dapat mempercayai Ki Tambak Wedi.

Ketika ia melihat sikapnya, pada saat ia dicegat oleh enam orang yang tidak dikenal, maka tumbuhlah berbagai pertanyaan di dalam dirinya. Apalagi setelah ia merenungkan semua ceritera ayahnya, sikapnya dan kata-katanya, ia mendapat kesimpulan, bahwa Ki Tambak Wedi kini tidak dapat lagi dipercaya.

“Mungkin aku terlampau berprasangka,” gumamnya di dalam hati, “tetapi aku tidak dapat mengingkari kata hati ini. Mungkin aku sekedar dicemaskan oleh nasib ayahku kini.”

Pandan Wangi menggigit bibimya. Dicobanya mencari jalan agar ia dapat pergi ke Pucang Kembar. Tetapi ia sadar, bahwa apabila ayahnya mengetahuinya, maka akibatnya akan dapat membahayakan sekali.

“Aku akan minta Paman Kerti pergi untuk melihat-lihat apa yang kini terjadi di bawah Pucang Kembar.” desisnya. Namun kemudian, “Tetapi Wrahasta membuat aku menjadi ngeri. Paman Kerti harus tetap berada di sini.”

Pandan Wangi menjadi semakin bingung. Ia tidak berani memberi perintah langsung kepada seseorang atau siapa pun untuk pergi ke Pucang Kembar. Tidak seorang pun akan sanggup berangkat karena mereka takut kepada ayahnya. Ayahnya telah berpesan, tidak seorang pun boleh melihat apa yang telah terjadi. Ia tidak mau menodai namanya sendiri. Satu atau dua orang yang melihat perkelahian itu, akan dapat menumbuhkan kesan yang kurang baik pada Ki Argapati, seolah-olah Ki Argapati telah membawa satu atau dua orang pengawal.

Karena itu, juga mustahil baginya untuk memerintahkan seseorang atau dua orang untuk pergi.
Dengan demikian, maka justru ketegangan dan kegelisahan semakin mengamuk di dalam dirinya. Sehingga dadanya serasa berguncang-guncang dan jantungnya serasa akan meledak.

Tetapi tiba-tiba Pandan Wangi itu meloncat berdiri. Ia menemukan suatu cara untuk melaksanakan maksudnya. Perlahan-lahan ia melangkah keluar. Dan perlahan-lahan ia memanggil Kerti yang masih duduk di pringgitan.

“Paman, Paman Kerti.”

Kerti yang sedang terkantuk-kantuk terperanjat. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dan bersama kedua kawannya mendekati Pandan Wangi, “Ada apa Ngger?”

“Paman, kenapa aku tidak boleh keluar dari halaman rumah ini untuk pergi ke Pucang Kembar?”

“Jangan Ngger. Kau mempunyai tugas di sini. Tugas yang tidak dapat kau tinggalkan. Lebih daripada itu, kehadiranmu akan mengganggu ayahmu. Menurut penilaianku, Ki Tambak Wedi dan ayahmu memiliki kelebihannya masing-masing. Sekejap saja ayahmu lengah, atau perhatiannya terganggu, maka akibatnya akan berbahaya sekali baginya.”

“Tetapi bagaimanakah kalau Ki Tambak Wedi curang.”

“Apakah kira-kira bentuk kecurangannya itu?”

“Ia telah memanggil beberapa orang tidak dikenal ke dalam tanah perdikan ini. Apakah tidak mungkin bahwa ia membawa beberapa orang bersamanya dan beramai-ramai berkelahi bersamanya melawan Ayah di bawah Pucang Kembar.”

Kerti menarik nafas dalam-dalam. Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Sidanti telah melakukan apa saja tanpa mengenal tanggung jawab untuk mencapai maksudnya. Di antaranya orang-orang yang tidak dikenal itu. Maka tidak mustahil apabila Ki Tambak Wedi mempergunakan cara yang sama. Tetapi tiba-tiba orang tua itu menggelengkan kepalanya, “Tidak seorang pun yang berani melanggar perintah Ki Gede Menoreh.”

“Aku akan pergi, Paman. Aku tidak akan menampakkan diriku. Aku akan bersembunyi. Hanya apabila keadaan memaksa aku akan membantu Ayah.”

“Tidak Ngger, tidak.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Bagaimana apabila aku memaksa?”

“Jangan Ngger. Mungkin Angger akan berhasil. Tidak seorang pun yang dapat menahan Angger di sini, meskipun kami mempergunakan segala wewenang yang diberikan oleh Ki Gede Menoreh, sebab tidak seorang pun di sini yang mampu menahanmu, apalagi apabila Angger mempergunakan kekerasan. Namun demikian, aku minta jangan kau lakukan, Ngger. Untuk kepentinganmu dan kepentingan Ki Gede sendiri.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Kerut di keningnya menjadi semakin dalam. Tiba-tiba saja ia berbalik dan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam biliknya. Sebelum Kerti sempat bertanya sesuatu kepadanya, maka pintu bilik itu telah tertutup.

Kerti mengangkat bahunya. Dipandanginya kedua temannya dengan penuh kecemasan. Tetapi kedua kawannya itupun menggelengkan kepalanya. Mereka pun tidak tahu, apakah yang sepantasnya dilakukan.
Perlahan-lahan Kerti meninggalkan pintu bilik Pandan Wangi kembali ke pringgitan. Dengan penuh persoalan di dalam dirinya, ia merenung sambil menundukkan kepalanya. Namun kecemasan Pandan Wangi itu beralasan. Mungkin Ki Tambak Wedi berbuat curang. Mungkin, mungkin sekali. Memang tidak ada salahnya apabila seseorang atau dua orang pergi menengoknya. Tentu saja sambil bersembunyi-sembunyi, agar Ki Argapati tidak mengetahuinya. Apabila Ki Tambak Wedi tidak berbuat curang, maka orang-orang itu tidak boleh menampakkan dirinya.

Tetapi seperti orang disengat lebah. Kerti terlonjak berdiri dan langsung berlari ke bilik Pandan Wangi. Tanpa mengetuk pintu bilik itu langsung dibukanya, untuk melihat apakah Pandan Wangi masih ada di dalamnya.

Terasa dada Kerti akan meledak ketika ia tidak melihat Pandan Wangi di dalam biliknya. Dilihatnya setiap sudut, setiap lekuk dan bahkan di sisi gelodog bambu. Namun Pandan Wangi benar-benar tidak ada lagi di dalam bilik itu.

Dengan tergesa-gesa Kerti meloncat keluar. Di depan bilik itu, hampir ia berbenturan dengan kedua kawannya yang menyusulnya.

“Pandan Wangi tidak berada di biliknya,” desis orang tua itu.

“Apakah ia pergi?”

“Mungkin sekali. Lihatlah pintu belakang. Apakah pintu itu terbuka. Tetapi jangan membuat gaduh. Lakukanlah seolah tidak terjadi sesuatu.”

Kedua kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan mereka melangkah ke ruang dalam. Dilihatnya pintu belakang yang langsung menuju ke serambi yang berhadapan dengan dapur masih tertutup rapat.

“Salarak pintu itu masih di tempatnya.” desis yang seorang.

Yang lain menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Mungkin ia masih berada di dalam biliknya atau di dalam rumah ini.”

“Mungkin di bilik Ki Argapati.”

Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian mereka melangkah kembali. Mereka ingin melihat ke dalam bilik Ki Argapati. Mungkin Pandan Wangi ada di sana. Tetapi sekali lagi mereka hampir berbenturan dengan Kerti yang baru saja melangkahi pintu bilik Ki Gede dari dalam.

“Kosong,” desis Kerti.

Kedua kawannya mengerutkan keningnya. Namun seperti orang tersadar dari mimpinya, Kerti berkata, “Lihat pintu butulan samping.”

Ketiganya segera pergi ke pintu butulan. Pintu itupun masih tertutup rapat. Tetapi ketika Kerti merabanya, pintu itu bergerak setebal jari.

“Pintu ini sudah tidak terkancing.”

Kawannya meninting selarak pintu sambil berkata, “Inilah selaraknya.”

“Hem,” Kerti menarik nafas dalam-dalam. “Aku terlampau bodoh. Seharusnya sejak aku mendengar maksudnya untuk pergi ke Pucang Kembar, aku sudah dapat menduga, bahwa anak yang keras hati itu akan lari seperti yang pernah dilakukan. Ia pernah lari untuk menemui kakaknya. Padahal waktu itu Ki Argapati ada di rumah. Apalagi kini. Tidak seorang pun yang ditakutinya di dalam rumah ini. Bodoh sekali. Bodoh sekali. Aku menyadarinya setelah aku terlambat.”

“Itukah sebabnya kau terloncat dari tempat dudukmu?”

“Ya, itulah. Tetapi sudah terlambat.”

Kedua kawannya saling berpandangan. Tetapi mereka tidak mengerti apa yang sebaiknya mereka lakukan. Karena itu maka mereka pun kemudian terdiam sambil memandangi wajah Kerti yang pucat.

“Oh. kalau Pandan Wangi benar sampai ke Pucang Kembar, dan Ki Argapati mengetahuinya, alangkah besar akibatnya. Meskipun gadis itu menyadarinya juga, namun perasaannya yang melonjak-lonjak akan sangat sulit untuk dikendalikannya. Darah muda yang mengalir di dalam dirinya, justru darah Argapati yang keras hati, akan membuatnya kehilangan pengamatan diri.”

“Lalu apakah yang sebaiknya kami kerjakan?” bertanya salah seorang kawannya.

Kerti termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Marilah kita lihat dahulu, mungkin ia masih berada di halaman.”

Kedua kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Salah seorang dari mereka berkata, “Memang mustahil untuk keluar dari halaman rumah ini.”

Ketiganya pun kemudian berjalan keluar. Mereka mencoba untuk tidak terpengaruh oleh hilangnya Pandan Wangi. Mereka berjalan seperti tidak terjadi sesuatu.

Di luar pendapa mereka pun segera berpencar. Tanpa berkata apa pun, mereka mencari ke arah yang berbeda-beda.

Wrahasta yang duduk di gardu, di regol halaman melihat ketiga orang itu turun. Sejenak ia mengikuti dengan pandangan matanya yang tajam. Memang tumbuh pula pertanyaan di dalam dirinya, kenapa mereka kemudian pergi berpencaran. Namun karena sikap ketiga orang itu sama sekali tidak mencurigakannya, maka ia pun kemudian tidak mempedulikannya lagi.

Tetapi tiba-tiba teringat olehnya, Pandan Wangi, yang tidak pernah dapat dijumpainya sendian. Setiap kali Kerti selalu ada bersamanya. Karena itu, kepergian Kerti bersama kedua kawannya itu akan merupakan kesempatan baginya untuk bertemu dengan Pandan Wangi tanpa diganggu oleh siapa pun.

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan mempergunakan kesempatan itu? Namun agaknya hasratnya yang tidak tertahankan lagi untuk mendapat penjelasan dari Pandan Wangi telah mendesaknya. Sehingga karena itu, maka perlahan-lahan ia berdiri. Sesaat ia berdiri mematung di tempatnya. Kerti dan kedua kawannya tidak dilihatnya lagi, hilang di dalam baying-bayang pepohonan.

“Aku akan masuk,“” katanya di dalam hati, “banyak alasan yang dapat aku berikan, kenapa aku masuk.”

Wrahasta itupun kemudian membulatkan maksudnya. Kepada para penjaga di gardu ia berkata, “Aku akan menghadap Pandan Wangi. Ia setiap kali harus mendengar perkembangan keadaan.”

Kawan-kawannya tidak berprasangka apa pun. Tetapi salah seorang berkata, “Tidak ada perkembangan apa-apa.”

“Itulah yang akan aku katakan, bahwa sampai saat ini tidak ada perkembangan apa pun, supaya ia tidak bertambah gelisah.”

Wrahasta itupun kemudian melangkah perlahan-lahan ke pendapa. Ia masih melihat beberapa orang duduk-duduk sambil berbicara perlahan-lahan. Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang menaruh perhatian terhadap sikapnya.

Perlahan-lahan Wrahasta melintasi pendapa, membuka pintu pringgitan dan masuk ke dalamnya. Kemudian menutup pintu itu kembali. Namun di pringgitan itu sama sekali tidak dijumpainya seseorang. Pandan Wangi tidak ada di pringgitan.

“Hem,” ia berdesah, “aku harus bertemu sekarang. Tetapi di mana anak itu?”
Sejenak Wrahasta menjadi bimbang. Bahkan hampir-hampir ia melangkah keluar. Tetapi sekali lagi hasratnya untuk berbicara dengan Pandan Wangi mendesaknya lagi.

“Anak ini pasti tertidur,” densisnya perlahan-lahan sekali, “karena itulah, maka Kerti meninggalkannya.”

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar berada di dalam kebimbangan. Namun dalam pada itu di luar sadarnya ia melangkah ke pintu bilik Pandan Wangi yang separo tertutup.

Keragu-raguan semakin memuncak di dalam dadanya. Kini ia berdiri tegak di sisi pintu bilik itu dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Bahkan terasa tubuhnya menjadi gemetar. Jauh melampaui dari saat-saat ia berdiri di hadapan seorang lawan yang betapa pun dahsyatnya. Sekali-sekali disapunya seluruh ruangan itu dengan matanya. Kecemasan yang sangat, mencengkam dadanya. Bagaimanakah kata Kerti nanti apabila melihat sikapnya itu?

“Tetapi aku harus menemuinya,” katanya di dalam hati. “Sekarang.”

Dengan demikian, maka Wrahasta segera membulatkan tekadnya. Tetapi ia tidak mau mengejutkan Pandan Wangi. Apalagi membuat gadis itu memekik. Karena itu maka ia tidak mau langsung masuk ke dalam bilik itu. Perlahan-lahan mengetuk pintu sambil bergumam lirih, “Wangi. Pandan Wangi.”

Namun bilik itu terlampau sepi. Sehingga Wrahasta mengulanginya, “Pandan Wangi. Wangi.” Dan ketukan tangannya menjadi semakin keras.

Masih belum ada jawaban.

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Pandan Wangi adalah seorang gadis yang menurut pendengarannya mempunyai ilmu yang cukup, meskipun ia belum pernah menyaksikannya sendiri. Karena itu, maka pendengarannya pun pasti terlatih baik, meskipun ia sedang tidur. Mustahillah apabila gadis itu masih belum mendengar panggilannya.

“Hem,” ia berdesah, “terlampau sulit untuk mengetahui perasaan yang sesungguhnya. Aku hanya dapat berharap-harap cemas. Tetapi aku tidak dapat mendengar ia berkata setegas-tegasnya, ‘Ya’.”

Akhirnya Wrahasta tidak telaten menunggu. Beberapa kali ia telah mengulangi panggilannya. Tetapi sama sekali tidak ada jawaban.

“Ia pasti sudah mendengar suaraku,” katanya di dalam hati, “aku mengharap tidak akan mengejutkannya.”

Perlahan-lahan dan sangat hati-hati Wrahasta melangkah ke pintu. Ditolaknya daun pintu lereg itu ke samping, dan dijengukkannya kepalanya. Perlahan-lahan sekali sambil berdesis, “Maafkan aku Wangi.”

Tetapi tiba-tiba hatinya berguncang. Nafasnya terasa seakan-akan berhenti. Bilik itu ternyata kosong. Kosong sama sekali. Tidak ada seorang pun di dalamnya. Apalagi Pandan Wangi yang sedang tidur.

Jantung Wrahasta serasa akan meledak oleh kekecewaan. Bahkan hampir-hampir ia terlempar dalam kemarahan yang sangat. Tetapi kemudian orang yang bertubuh raksasa itu berusaha untuk mengendalikan dirinya.
“Salahku,” ia mencoba menghibur diri sendiri, “bukan salah Pandan Wangi dan bukan salah Kerti. Tidak seorang pun yang mengatakan kepadaku, bahwa Pandan Wangi sedang tidur di dalam biliknya. Tetapi dengan demikian di manakah anak itu sekarang? Apakah ia sedang berada di dapur, atau di pakiwan, atau di mana?”

Kegelisahan yang tajam telah tergores di dinding hatinya. Bahkan ia menjadi cemas tanpa disadari sebab-sebabnya.

“Ke manakah Kerti dan kedua kawannya itu?” baru kinilah tumbuh kecurigaan di hatinya. Karena itu, maka tergesa-gesa ia melangkah keluar dari ruangan itu, melintasi pendapa dan kemudian turun ke halaman. Kini ia berusaha untuk menemukannya Kerti dan bertanya tentang Pandan Wangi.

Tidak terlampau sulit untuk mencari Kerti di halaman itu. Kerti sedang berdiri disisi regol butulan. Meskipun Kerti tidak bertanya sesuatu, tetapi apabila orang-orang di regol butulan itu melihat seseorang keluar, lewat regol atau meloncat dinding, mereka pasti akan mengantarkannya. Tetapi ternyata orang-orang di regol halaman belakang itu tidak mengatakan sesuatu.

“Paman Kerti,” Wrahasta tidak dapat menahan dirinya lagi, “aku memerlukanmu sekarang.”

Kerti mengerutkan keningnya. Ia menjadi berdebar-debar melihat sikap Wrahasta. Apakah mungkin Wrahasta yang melepaskan Pandan Wangi keluar regol halaman?

“Cepatlah sedikit,” desak Wrahasta.

Kerti tidak menyahut. Tetapi segera diikutinya Wrahasta ke tempat yang agak terlindung.

“Apakah kau melihat Pandan Wangi?” bertanya Wrahasta langsung.

Kerti yang tua itu memandang wajah Wrahasta tajam-tajam, seolah-olah langsung ingin melihat ke dalam pusat dadanya. Sejenak kemudian perlahan-lahan ia bertanya, “Kenapa kau bertanya tentang Pandan Wangi?”

“Jangan mempersulit. Katakan di mana Pandan Wangi sekarang.”

“Jangan mendesak seperti itu, Wrahasta. Tetapi dengan demikian aku tahu bahwa kau telah mencarinya di dalam rumah dan kau tidak menemukannya. Bukankah begitu?”

Dada Wrahasta berdesir. Tetapi ia tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Sambil menganggukkan kepalanya ia menjawab, “Ya. Aku telah mencarinya.”

“Pada saat kau melihat aku dan kedua kawan-kawanku keluar dari rumah itu?”

“Ya.”

“Kenapa? Kenapa kau mempergunakan waktu itu untuk bertemu dengan Pandan Wangi? Justru pada saat aku pergi keluar?”

Wrahasta tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. Dengan demikian sejenak ia terdiam. Namun sejenak kemudian ia menjawab, “Kalau kau akan mempersoalkan hal itu, baiklah kita persoalkan kelak. Tetapi di mana Pandan Wangi sekarang?”

Kerti menarik nafas dalam-dalam. Maka dijawabnya dengan nada datar, yang meskipun perlahan-lahan, tetapi benar-benar telah menggoncangkan dada Wrahasta, “Pandan Wangi ternyata tidak ada di dalam rumah itu. Itulah sebabnya aku sekarang sedang mencarinya di halaman rumah ini.”

Sejenak Wrahasta membeku di tempatnya. Namun gemuruh di dadanya serasa akan memecahkan jantungnya. Bahkan serasa ia tidak yakin akan pendengarannya. Apakah benar Kerti berkata demikian? Bahwa Pandan Wangi tidak ada di dalam rumah?

Karena Wrahasta tidak segera berkata sesuatu, maka terdengar suara Kerti seolah-olah bergumam saja di dalam mulutnya, “Ia masuk ke dalam biliknya. Aku sangka ia ingin beristirahat atau apabila mungkin tidur. Tetapi ternyata ia lenyap seperti ditelan hantu. Tetapi menurut dugaankn, amatlah sulit untuk keluar dari halaman ini tanpa dilihat oleh seseorang.”

Terdengar Wrahasta menggeram. Kemudian jawabnya patah-patah, “Ya. Memang tidak mungkin keluar dari halaman rumah ini.”

“Marilah kita mencoba mencarinya. Tetapi tidak usah membuat gaduh. Biarlah mereka yang tidak tahu tidak menjadi ikut gelisah karenanya.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Marilah,” desisnya.

Kerti dan Wrahasta kemudian meninggalkan tempat itu ke arah yang berbeda-beda ,seperti kedua kawan Kerti yang lain. Mereka menyusup ke segenap sudut dan tempat-tempat yang terlindung. Bahkan kandang kuda pun mereka lihat pula, kalau-kalau Pandan Wangi baru sekedar bersembunyi sebelum mendapat kesempatan pergi.

Tetapi belum juga salah seorang dari mereka berhasil menemukan Pandan Wangi, sehingga mereka menjadi gelisah. Kerti yang kemudian berjalan di sepanjang dinding halaman, akhirnya menemukan juga tempat-tempat yang menurut penilaiannya cukup lemah. Satu dua penjaga ternyata duduk sambil terkantuk-kantuk.

“Apakah mungkin Pandan Wangi meloncat dinding halaman ini?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Namun akhirnya Kerti berkesimpulan, bahwa hal itu memang mungkin sekali dilakukan. Pandan Wangi bukan seorang gadis biasa. Bahkan ia berada di atas semua laki-laki di tanah perdikan itu dalam olah kanuragan, sehingga sangat mungkin baginya untuk mengelabuhi satu dua orang pengawas yang berjaga-jaga di seputar rumahnya.

Beberapa saat kemudian, Kerti, kedua kawannya, dan Wrahasta telah berkumpul di dalam pringgitan. Tampaklah wajah-wajah mereka menjadi tegang dan nafas mereka seakan-akan berkejaran lewat lubang hidung mereka karena kegelisahan.

“Kita ternyata tidak dapat menemukannya,” gumam Kerti seolah-olah kepada diri sendiri.

“Ya,” sahut Wrahasta, “anak itu seolah-olah hilang ditelan hantu.”

“Aku mencemaskannya apabila ia pergi ke Pucang Kembar,” berkata Kerti kemudian.

“Apakah ia bermaksud demikian?” bertanya Wrahasta.

“Ia selalu menyatakan keinginannya itu.”

“Kalau begitu, aku akan menyusulnya.”

“Jangan berbuat bodoh. Pikirkan lebih dahulu setiap tindakan,” sahut Kerti, “apakah sudah sepantasnya kau meninggalkan tanggung jawabmu atas halaman dan rumah ini.”

“Pandan Wangi termasuk sebagian, bahkan yang terbesar dari tanggung jawabku. Karena itu, sudah seharusnya aku mencarinya sampai ketemu.”

Kerti yang tua itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Jangan Wrahasta. Kau bertanggung jawab atas halaman ini seisinya. Kalau halaman ini kau tinggalkan dan malam ini juga Sidanti memasuki rumah ini, maka kesalahan terbesar terletak di bahumu. Sedang Pandan Wangi, serahkanlah ia kepadaku. Aku akan mencarinya dan membawanya kembali ke dalam rumah ini.”

Sejenak Wrahasta menahan nafasnya. Wajahnya menjadi semakin tegang. Ia mengerti maksud Kerti, tetapi perasaannya seolah-olah tidak dapat lagi dikekangnya. Ia menjadi terlampau cemas atas nasib Pandan Wangi.

“Jangan kau terlampau menuruti perasaanmu anak muda,” berkata Kerti kemudian, “aku tidak akan mencampuri persoalanmu, persoalan anak-anak muda. Tetapi kau harus dapat memisahkan kepentingan yang satu dengan yang lain. Persoalan yang menyangkut tanah perdikan ini dan persoalan pribadimu.”

“Oh,” Wrahasta berdesah, “darimana kau tahu, Paman?”

“Aku adalah orang tua. Aku dapat menangkap getar dalam dada anak-anak muda. Karena itu, dengarlah nasehatku. Kau tinggal di sini. Aku akan pergi. Aku tahu apa yang harus aku kerjakan. Aku akan pergi ke Pucang Kembar, tanpa mengganggu perang tanding itu. Sebab apabila Ki Gede Menoreh mengetahui kehadiranku, atau salah seorang dari kita, maka alangkah marahnya. Kalau aku terlambat, dan Pandan Wangi telah ada di sana pula, maka aku pun akan menerima akibat yang sama. Bahkan kehadiran Pandan Wangi apabila diketahui oleh ayahnya benar-benar merupakan bahaya yang pasti bagi Ki Gede.”

Wrahasta tidak segera menjawab. Perlahan-lahan kepalanya menunduk.

“Tinggallah kau di sini anak muda,”berkata Kerti kemudian, “kedua kawanku ini pun akan tinggal di sini pula. Setiap saat Sidanti dan Argajaya akan merayap memasuki induk tanah perdikan ini. Adalah menjadi kuwajibanmu untuk bertahan di sini.”

Wrahasta masih belum menjawab. Kepalanya kini benar-benar telah tertunduk dalam-dalam. Tampaklah ia sedang berpikir. Dicobanya untuk mengatasi gelora perasaannya, dan menempatkannya pada keadaan yang wajar. Wajar bagi seorang pemimpin pasukan pengawal yang mendapat perintah untuk bertanggung jawab atas halaman dan rumah ini.

“Apakah kau mengerti maksudku?” bertanya Kerti.

Perlahan-lahan Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya, aku mengerti. Tetapi apakah kau akan pergi seorang diri?”

“Aku akan singgah ke banjar. Aku akan menemui Samekta. Mungkin aku akan mendapat kawan yang baik dari banjar. Sebab kita sadar, siapakah yang kini sedang berada dan berperang tanding di bawah Pucang Kembar itu.”

Wrahasta mengangguk pula, “Baiklah. Aku akan tinggal di sini. Mudah-mudahan kau berhasil menemukan dan membawa anak itu kembali ke rumah ini.”

“Aku akan berusaha,” sahut Kerti, “nah, baiklah aku segera berangkat. Aku akan membawa kuda, supaya aku datang lebih cepat dari Pandan Wangi.”

Sesaat kemudian seekor kuda berderap lari meninggalkan halaman rumah Pandan Wangi. Suaranya gemeretak di atas jalan berbatu-batu, memecah sepinya malam. Semakin lama semakin jauh dan beberapa saat kemudian hilang dari pendengaran.

Wrahasta masih berdiri di regol halaman. Debar jantungnya masih terasa menghentak-hentak di dadanya. Ia telah dicengkam oleh kecemasan tentang hilangnya Pandan Wangi. Cemas bahwa ia untuk seterusnya tidak akan dapat mengharapkannya, dan cemas atas tanggung jawab yang di bebankan kepadanya.

Tetapi Wrahasta mencoba untuk menumpahkan segala harapannya kepada Kerti. Ia kenal orang tua itu. Ia tahu kemampuan yang tersimpan di dalam diri pemomong Pandan Wangi itu. Karena itu maka ia masih belum berputus asa.

Sementara itu Kerti memacu kudanya menyusup dalam keremangan malam. Sekali-sekali ditengadahkan wajahnya. Dilihatnya bulan yang bulat semakin meninggi. Seperti Pandan Wangi, terbayang di dalam angan-angannya, sebuah perkelahian antara hidup dan mati yang dahsyat telah terjadi di Pucang Kembar. Perkelahian antara dua orang yang pilih tanding.

“Hem,” orang tua itu menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ingin menghirup kesejukan malam sebanyak-banyaknya. “Pandan Wangi benar-benar anak yang keras hati. Mudah-mudahan aku tidak terlambat.”

Kerti pun mencoba memacu kudanya semakin cepat, supaya ia dapat mendahului Pandan Wangi. Kalau kedatangan Pandan Wangi itu diketahui oleh ayahnya, maka rusaklah perang tanding itu.

Ketika Kerti sampai dimuka halaman banjar, maka segera ia menarik kekang kudanya. Seorang penjaga regol mendekatinya dengan tombak menunduk, “Siapa?”

“Aku, Kerti. Apakah Samekta ada di dalam banjar?”

“O, kau Kiai, masuklah.”

Kerti segera memasuki halaman. Setelah kudanya diikatkannya pada sebatang kayu, maka dengan tergesa-gesa ia menemui Samekta yang duduk dengan beberapa orang pemimpin pengawal di pendapa.

“He, kau sendiri datang kemari?” bertanya Samekta.

Kerti mengangguk, “Ya,” jawabnya pendek.

“Kau nampak terlalu bersungguh-sungguh. Aku menjadi berdebar-debar.”

“Memang seharusnya kau menjadi berdebar-debar,” jawab Kerti yang masih juga sempat bergurau, “aku memang ingin melihat kau menjadi tegang, berdebar-debar dan cemas, supaya aku tidak dicengkam perasaan demikian seorang diri.”

“O, jadi kau memerlukan kawan dalam kebingungan? Baiklah. Aku akan menjadi tegang, berdebar-debar dan cemas. Tetapi aku harus tahu apakah sebabnya, maka kau menjadi demikian.”

“Dengarlah baik-baik. Berpeganganlah pada tiang, supaya kau tidak terjatuh dan pingsan.”

“Katakanlah. Aku sudah terlanjur cemas. Dadaku sudah berdebar-debar dan darahku serasa semakin cepat mengalir.”

“Baiklah,” jawab Kerti yang wajahnya kini menjadi bersungguh-sungguh, “Pandan Wangi ternyata tidak berada di rumahnya.”

“He,” Samekta tergeser secengkang, “kau berkata sebenarnya?”

“Hal ini benar-benar telah terjadi.”

Sejenak Samekta tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ditatapnya saja wajah Kerti, seakan-akan ingin melihat apa yang tersembunyi di balik wajah yang sudah mulai dilukai oleh kerut-merut itu.

“Apakah kau kurang percaya?”

Samekta tidak segera menjawab. Tetapi sejenak kemudiaa ia menggeleng, “Bukan. Bukan karena aku tidak percaya. Hal itu memang mungkin sekali terjadi. Apabila benar demikian, maka anak itu sudah lari untuk kedua kalinya dari rumahnya. Tetapi apakah kalian lengah mengawasinya.”

“Sudah tentu. Kalau tidak, ia tidak akan dapat keluar dari halaman.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Memang tidak perlu untuk mencari siapakah yang bersalah. Tetapi apakah kau dapat menduga, ke mana perginya? Yang terpenting sekarang adalah menemukannya, bukan mempersoalkan siapakah yang bertanggung jawab atas hilangnya itu.”

”Bagus. Ternyata pikiranmu masih cukup sehat,” sahut Kerti, yang kemudian menceriterakan apa yang dilihat dan didengarnya di dalam rumah Ki Argapati. Bagaimana sikap dan keinginan Pandan Wangi, sehingga pada suatu saat ia menemukan bilik itu kosong.

“Kalau begitu kita harus cepat pergi,” berkata Samekta, “tetapi apakah aku dapat meninggalkan banjar ini?”

“Bukan kau sendiri. Tetapi kau dapat menunjuk seseorang yang paling kau percaya untuk menemaniku.”

“Kau akan pergi?”

“Ya. Pekerjaan ini bukan pekerjaan sambilan. Aku harus menemukannya. Sedang kita tahu, di bawah Pucang Kembar itu kini sedang terjadi benturan yang dahsyat antara dua orang rakrasa yang perkasa.”

Samekta mengerutkan keningnya sambil mengangguk-angguk. Ia menyadari keadaan sepenuhnya. Karena itu maka dipilihnyalah dua orang pemimpin pengawal yang paling kuat di antara sekian banyak kawan-kawannya untuk pergi ke Pucang Kembar.

“Usahakan, supaya Ki Argapati tidak tahu apa yang terjadi. Kau harus menemukan Pandan Wangi sebelum Pandan Wangi berhasil mendekat. Kalau kau mempergunakan kuda, maka kau pasti akan jauh lebih cepat daripadanya, sehingga kau dapat mencegatnya sebelum ia naik ketebing itu.”

“Ya. Aku akan berangkat sekarang.”

“Pergilah.”

Kerti pun segera pergi bersama dua orang pemimpin pengawal yang terpilih. Mereka segera memacu kuda-kuda mereka seperti angin. Setiap kali mereka harus memperlambat derap kaki-kaki kuda itu di depan gardu-gardu peronda, untuk menjawab berbagal pertanyaan yang hampir bersamaan satu dengan lainnya. Namun betapa mereka menjadi jemu, mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Maka semakin lama ketiga orang itu menjadi semakin dekat dengan Pucang Kembar. Tetapi mereka masih belum menemukan atau melampaui Pandan Wangi, sehingga Kerti semakin lama menjadi semakin gelisah karenanya.

“Derap kuda kita agaknya telah mendorong Pandan Wangi untuk bersembunyi,” berkata Kerti perlahan-lahan.

“Ya. Beberapa puluh langkah di muka, suara derap kuda ini sudah terdengar. Mungkin sebentar lagi, semakin kita maju, maka Ki Argapati di bawah Pucang Kembar pun akan mendengarnya pula,” sahut salah seorang temannya.

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil memperlambat lari kudanya ia berkata, “Jangan terlampau cepat, supaya derap kaki-kaki kuda kita tidak terlampau keras.”

Ketiganya kemudian meneruskan perjalanan mereka dengan langkah-langkah yang lebih lamban. Kuda-kuda mereka berlari perlahan-lahan, sehingga sentuhan kaki-kaki kuda itu di atas tanah berbatu padas tidak meninmbulkan suara terlampau keras.

“Kita sudah terlampau dekat,” berkata Kerti beberapa saat kemudian. “lebih baik kita turun. Kita sembunyikan kuda kita, lalu kita mendekat dengan berjalan kaki. Kalau kita terlampau dekat, maka apabila kuda-kuda itu meringkik, rusaklah segala acara.”

Kawan-kawannya menyetujuinya, sehingga mereka bertigapun meneruskan perjalanan itu sambil berjalan kaki. Hati-hati dan dengan penuh kewaspadaan. Tangan-tangan mereka seolah-olah tidak terpisah lagi dari hulu pedang mereka. Sedang kawan Kerti yang seorang, yang bertubuh kecil, mempunyai beberapa bilah pisau di ikat pinggangnya yang lebar, selebar telapak tangan. Tangannya yang pendek itu terlampau cepat melepaskan pisau-pisaunya, dengan bidikan yang tepat. Ia hampir tidak pernah gagal mengenai sasarannya. Apalagi sasaran yang diam, sedang sasaran bergerak pun hampir pasti dapat dikuasainya.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 28 Oktober 2008 at 10:52  Comments (28)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-36/trackback/

RSS feed for comments on this post.

28 KomentarTinggalkan komentar

  1. Boleh deh saya mau retype dari hal 7 -45, tapi ndak bisa cepet ya, perlu waktu paling tidak 1 minggu, kirim aja file jpg-nya

    DD: Ada yg bisa lbh cepet? DJVU seminggu 5 buku, kalau teksnya seminggu 1/2 buku bisa ketinggalan jauh. Maunya ya seharmal sebuku.

  2. kirim file jpgnya aja

  3. convert dari jpg/image ke djvu pake djvusolo.
    wuih.. akhirnya berhasil juga 😀

  4. khusus buku 36 ini scan texnya agak kurang memenuhi syarat untuk diconvert ke doc, terlalu samar,kurang kontras.

    contoh sedikit hasil konvert ke doc, kalo kayak gini dianggap sudah cuku memenuhi syarat.. tak lanjutkan lagi.. tapi kalo tidak.. mending langsung di retype aja, gak perlu di konvert. (aku manut pasukan retype)

    ———————————————-
    “<— la *dth swaisaa.-ggfl bebcrapa crang tidak dikeoal kedatem Tanoh Perdikaa ini, Apakai tidak mungkin bahwa ia mcmbawa beberapa orang bersamanja dan be-rama.2 berkeiahi bersamanja melawan ajah dibawah Putjang Kembar. —
    Kerti menarik nafas dalani2. Kernungkinart :tu meinang da pat terdjadi. Sidauti tclb-h melakukaii apa sadja tanpa mengenai tanggung djcn\vab ivfliu’k mentjapai mai:sudn’|a. Diautaranja ora:ng2 jarg tidak dikenal .’tu, Maka lidak mustab-‘J apabila Ki Tambak Wedi meropercjuitakan tjara jang sama. Tetapi tiba2 orang tua itu luenggciengkan kepafanja — Tidak seoraugpuu jang bsrani meianggar perintah Ki Gedc Menoreh. —
    — Aku akan p«rgr’ painan. Aku lidafe akan menampakkan d.’.rl.ku. Aku akan bcrsemhiinji. Hanja apabiJa keadaan raemaksa Aku akan membarttu ajah. •—
    — Tidak nggrtj wmpat becteftja sesuatu nifi. jnfilca n»ntu b?l”k itu tc^h teftwtup. Keiti m^nnanakst bahtmia. D:pnn.-l?naHHa Icedua dennan npn’ifi ket>ema<:a.n. Tetapi k’rd-.in ka’wa.rwia itupun •jelpnokpn Tfonnlanjg. M/erckapun tidak tabu, apakab jaug sepan-tasnjn dilakuJcan.
    Per-Jahan2 Kerti meninggalkan pinf.u bilik Pandan Wasigi kembali kepn’nnnitan. Dc-rmcrsoalar dxfa’iam dirin.fa ia incr(*n«i-.o satrbH menundukkan kcoalani’a. Namiin kettemasan Fandan Wanoi ‘tu bcralasan. Mtin-cikfn Ki Tntmbak Wcdi berbuait Ijuranq. MuncrHii, munnkin sekali. Memanq tidak odfl salahnja apabfla «p«t<»orancr st&u d»in oranq pero’ mentnnokp.f.a. Tv»iitit sa-o-Ja .snmbil ber-sembnn:J2 poar Kf Aroapati tidak otcncjctahu’nja. Apabiln Kf Tambak \VVdI tid^k brrbu«t tjurang, jnaka orang2 boleh menampakkan dir jjj»,
    ————————————————

  5. Mas thebro,
    mosok di ketik ulang…nanti akan diposting konvert dari pdf ke word. Hasil konvert sudah dipaketkan ke Mas D2.
    Jadi tinggal edit..mudah2an nggak sampai seminggu…

  6. konvert file buku 36 yang didownload dari adbmcadangan memang agaknya agak memerlukan sedikit lebih banyak edit tapi tetap lebih baik daripada ketik ulang. Kelihatannya memang karena scannya yang jilid 36 ini agak lebih “light” dibanding scan sebelumnya.

    Mudah-mudahan untuk scan jilid berikutnya dapat dipertajam.

    KETIKA Kerti inengangkat wadjahuja, dilihalrja dahi Wr* hnsta berkerut merut. Bahkan Wrahasta itu berkata ter-hata2 ?-* Tetapi, tetapi ilu tidak perlu, Pandan Wangi. Aku atkao mcnga-%-almu bersama orang2 jang telah aku scdiakafi- —
    Tcrirna kasih Wrahasta. -Aku berterima kasih sekali. Tc Up biarlah paman KerU ikut bersamaku. Ia akan ikut meliha* pula kesia«jaan djhalaman ini. Ia akan dapat memberi aku naseha* apa jang hams aku lakukan. —
    — Itu tidak perlu sama sekali. Biarlah paman Kerti berada chdalam ruuiah. Bukankah tugasnja didalam rumah ini sadja. *—
    — O — Pandan Wangi bcrdesah didalam hatinja — aku bcnar2 dihadapkan pada keadaan jang lidak aku kchendaki. —
    Kctika kemudian Pandan Wangi duduk bec-sama2 dengan Kerti dau kedua kawannja, ia se-olah2 mendjad. bcku Kepalanja ‘extunduk dan wadjahnja mendjadi terlarapau suram,
    — Pandan Wangi — berkata Kcrti kemudian — sebaiknja kau memang hams beristirahat ngger. Mungkin kau terlampasi c’tegangkan oleh keadaan. Seandanja ada sesuatu jang penting.
    lah aku mengetuk piniu biiikmu. Meskipun kau pasti tidlak akan dapat tidur, tetapi se-tidak2nja kau akan mendapat kesegar an bam setelah kau berbar.ng beberapa saat. —
    Pandan Wangi menarik nafas dalam2. Sedjenak ia berpiicir Dan sedjenak kemudian ia berkata — Baiklah pa mail. Aku akan bciistirahat sebentar. Mungkin aku akan mendapat sed.kit kete nangan. Tetapi mungkin pula aku djustru mendjadi semakin U-gang. — Pandan Wangi berhenli sedjenak, lalu — Sebentar lagi i»ku mcDicrlukan laporan keadaan, didalam dan dJuar halaman

    Maka sedjenak kemudian Pandan Wong1, lelah becada di¬dalam biliknja. Dibaringkannja dfrnjn dipembaringannja untuik inuitjoba bcristirahat. Se-kal*2 dipedjamkannja matanja, nanuun ia lidak berhas.I untuk sekedjap sadja melupakan persoalan jang kini sedang membelit Tanah Pcrdikaiuija, ajahnja dan dirinia «cnd;n.
    — Hem — Pandan Wangi berdesah. Kepaianja terasa pe-n’ng. Sekali2 angan2nja terbang ke Putjang Kembar. Ia sekali tidak dapat membajangkan apa jang telah terdjadi. Tetapi s«tu hal jang sangat mengganggunja, adalah bahwa ia sama se kali tidak dapat mempertjajai K: Tambak Wedi.
    Ketika ia meHhat sikapnja, pada saat ia ditjegat oleh eiiau orang jang tidak dikenal, maka lumbuhlah berbaga> pertanjaan didalam dirinia. Apalagi setcloh ia mercnungkan semua tjeritera ajohnja, sikapnja dan kata2nja, la mendapat kesimpulan bahwa K> Tambak Wedi kini tidak dapat lagi dipertjaja.

  7. mas jebeng… minta info dikit.. njenengan convertnya pake apa ya… kayaknya lebih presisi, punyaku rodo lemah syahwat iki… klo scannya burem dikit.. ancur dah teksnya..

    makasih sebelumnya

  8. saya bisa convert jpg to pdf.. cepet.. kalo ke djvu belum pernah belajar dan coba.. tadi saya coba search, djvu solo harus belikah ke lizard?

    silakan kirim filenya ke saya.. email yang perta

  9. ternyata create djvu agak mudah.. saya bisa convert.. monggo dikirim filenya

  10. pake ABBYY Fine Reader 9.0 Professional edition
    Mas Gonas dapat download softwarenya kok
    silakan liat di box komentar buku 24.
    bisa download dari megaupload dan rapidshare, sudah saya upload fullversionnya di sana.
    selamat menikmati.

  11. trims infonya… dah mulai tak download..
    biasanya aku pake abbyy fine reader 5, bawaan scan umax astra 4100.

  12. Mas EDED.. kalo bisa file djvu jangan dibuat dalam bentuk file besar (lebih dari 3 Mb). Soalnya suami saya (ubaid) tidak bisa terima attachement dengan memory besar. Di laut dibatasi maksimum 3 Mb.
    Buku adbm-36 lebih dari 4 Mb, padahal biasanya kurang dari 2 Mb.
    Makasih atas perhatiannya.
    a/n Ubaid

  13. Mas EDED tadi tulisan suami disuruh saya forward ke Mas Ed..suami lg dilaut nunggu2 adbm 36 37 tp ga bisa saya kirim soalnya file nya kegedean katanya…tenkyu yah Mas

  14. ohm ohm semua.. yang lagi mengkonvert ke doc file

    coba deh diperbesar resolusinya sebelum mengkonvert, terutama pada bahan yang hasil scannya agak kabur.
    dan juga di setting font matching-nya pada ABBYY reader-nya.

    di bawah ini ada contoh (buku 36 hal 9 bag bawah)

    conto 1 (belum dirubah resolusinya)

    Seulah Pandan Wang meuha. idurul, ke»u,Lan diluilarnan rumennya m.ii.a larjun ngera kemeja kcpcauapj. Wrehajla iae-»««14 W teteu, !«„ iau-ra – Mahkan r-anuun VVang.. Aha afcnu trrai. drnauraao. ^u.p «au irwaniuluu aku telah atdia. —
    – lena» .. h Wrahaata – «J. .an Pandan WanoL Bcla IjCudcruug unlu.. rMu.-., Wranaal. ilu Uua* aeauauuaa hu r.panra,,. – «uap a«i ^ mungau rnranraiulLirj kau. –
    S””‘. aata WrahaaU a,end,aji bet-kilatj. N.rauu keum ™ ” – BcuUraiLauau. k^rrtiaaUaulah taiaaaa. lumah
    dtn leiswi. kepajafci, ie|Mm 0,Jnmu BIOp(li)J|Jk]111 pji, _
    ■ JW<n» kepadaam. Mudahim trjal
    teidjadl «auatu ,.mS dapat maag gunIjangkan Tanah uu. ._
    – jj^1^^”* **■ 1CMn “*P oieugjnaaapiaja. —
    – berisiiraaat. Aku ra rata dici. —
    Pandan Wat* ruekhat .nugkai, ,ang tejap dan bnt rwagaUraanj, mrJiJlt„, W[un idHU, WfJuluU
    sB a^rir^ar’ ^”,,aan icpidi rfrn tSkfisi* fc™udian ma”* m-
    ctrsauia heru dan dua 0raflg kaw^n,.i. la klah bcrnaj-J menu .rnoari duakan perUniaarJ Wrahmta jang pul akan rnuiam. Uihnja raendjadi Kmakiu binaung. N’araun itdwiU denqan iru .* meniadan, hahu/a salai, paham pada diri. raksasa itupun men’

    conto 2 (sudah diperbesar resolusinya)

    Seulah Pandan Wang ineiihal seluruh kegiatan dihalaaian romannya ma^a iapun segera ketnoaa kependapa. W rahasia me-iiganianijci sampai kepinlu, lalu kataaia — isJahkan Panuan Wangi. Aku akan berada dihaiaa;an. betiap kau memerlukan aku, dku leiah sedu. —
    •— Texuua kasih Wrahasia — djawab Pandan Wangi. Beta papua haimja ueyoia*. namun ia harus rxrs.Kap oaiX. uouxaa ui tjeuuerung unlu*. mcniuuai WronasUi nu uuuk Aeauaugan ha-r»panujd. — ociiup soal aku mungku memerlukan kau. —
    Sesaat mat:i Wrahasta mendjadi ber-kdat2. Namun kemu caon ia berkata — bccatuaualiali. l-‘erljajakainaa baiamau rumah
    di.n seisinja kepadaku seperu ajabmu niempertjaj3kan pula. —
    — Ja Wrahasta, aku penjaja kepadamu. Mudah2an tdak Uni jadi sesuatu jang dapat menggontjangkan Tanah mi. _
    — SeanUaiuja ada, kiia tcian siap aieughaaapinja. —
    — Ja. —
    — Silahkan beristirahat. Aku mata diri, —
    Pandan Wangi melihat tongkah jang tegap dan berai me ninggalkannja melintas, pendapa turun kcbalaman. Wrahasta aaaiah seorang jang memilikv kepertjajaan kepada diri sendin. Bahkan agak terlampau besar.
    Pandan Wangipun kemudian masuk kedalam pringgitan otrsama Kerti dan dua orang kawannja. Ia teluh berhas’i meng ..incan desakan pertanjaan2 Wrahasta jang past akan sunan-Lahnja mendjadi semakin bingung. Namun sedjalan dengan itu. ia menjadari, bahwa salah paham pada dlr1 raksasa itupun men-

  15. oke.. akan dicari cara supaya filenya gak lebih gedhe dari 4 Mb.

  16. DD… kirim ke aku deh, kalau menurut aku, daripada ngedit, mendingan ngetik ulang lho…lebih cepat, aku tunggu infonya… no berapa yg harus aku kerjakan. mumpung lagi nganggur.

    salam
    lurah basman

  17. versi kecil dah di upload.. untuk jilid 36 dan 37

  18. Urun retype sisanya sd hal 80. Dikirim ke imel Mas DD.

    D2: Sudah diterima. Sedang diproof oleh staf kami.

  19. Mas buku 36, hal 7-45, udah kelar, apa boleh saya posting disini atau via email ??? kalo email dikirim kemana ???
    Oh iya tambahan info kenapa saya perlu waktu agak lama untuk retype, soalnya waktunya sehari paling bisanya hanya 3 jam (komputer gantian), sungkan juga mau saya monopoli.

    D2: Teks Buku 36 dah terlanjur selesai diaplod, Bro.

  20. […] 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  21. terimakasih siapa pun yang telah membuat situs ini, saya jadi mengenal Agung Sedayu lebih baik, termasuk ekstrinsik Bapak S. H. Mintarja

  22. ikut menghaturkan,,

    terimakasih….siapa pun yang telah membuat situs ini, saya jadi mengenal si Sekar Merah dan si Pandanwangi lebih baik,
    termasuk intrinsik maupun ekstrinsik Bapak S. H. Mintarja

    • HADIR mendhisik-i pasukan “NAPAK TILAS” gandok2 awal
      ADBM……….genk DALU sadaya,

      • ki Karto, ki AS, ki Gembleh…….nuwun sewu cantrik
        nyrobot masuk duluan.

        • hardah ki tumeng

          • Rokok klobot saka Temanggung
            waduh…..Ki Menggung nyrobot.

            • hari ini ki mbleh sing ngrokok kloblot ya ?

              • halaaaah klobot kok dadi kloblot ki piyeeee
                (sopo sing nyenggol mbakyu “l” yo)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: