Buku 35

Tetapi rencana Ki Tambak Wedi ternyata jauh lebih besar dari kedua rencana yang akan saling mengisi itu. Bukan hanya sekedar rencana yang dipersiapkan untuk membunuh Argapati. Tetapi sementara itu, Sidanti pun telah sibuk bersama Argajaya. Sepeninggal Ki Tambak Wedi, maka Sidanti dan Argajaya telah menjalankan tugas masing-masing sesuai dengan kesatuan rencana Ki Tambak Wedi. Mereka menyiapkan sebagian besar dari kekuatannya. Menurut Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya malam itu juga harus dapat merebut padukuhan induk dari Tanah Perdikan Menoreh. Mereka sadar, bahwa seandainya benar-benar terjadi peperangan antara dua kekuatan yang ada di Menoreh, maka peperangan itu tidak akan dapat selesai sehari dua hari. Tetapi peperangan itu akan dapat menjadi jauh lebih cepat selesai, apabila pedukuhan induk segera dapat direbutnya. Pasukan Argapati yang telah kehilangan pimpinannya itu pasti akan pecah tercerai-berai, sehingga untuk membangun satu kekuatan yang utuh pasti akan sangat sulit.

“Apakah kita akan mulai sekarang paman?” bertanya Sidanti.

“Jangan terlampau tergesa-gesa. Kita mulai setelah purnama naik di atas cakrawala. Kita mengharap, bahwa Kakang Argapati sudah terikat dalam sebuah perang tanding dengan Ki Tambak Wedi, supaya Kakang Argapati tidak sempat mengetahui, apa yang terjadi sepeninggalnya. Seandainya seseorang pergi melaporkan
kepadanya atau tanda-tanda lainnya, maka itu akan berakibat terlampau jelek pula bagi Kakang Argapati. Dengan demikian, ia akan kehilangan pemusatan perhatiannya atas perang tandng itu, sehingga kematiannya pun akan menjadi lebih cepat.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang demikianlah maksud Ki Tambak Wedi. Malam ini juga, mereka harus mendapat kepastian, bahwa mereka akan berhasil menguasai Tanah Perdikan Menoreh, meskipun penyelesaiannya masih memerlukan waktu.

Tetapi bagi Sidanti, waktu rasa-rasanya berjalan terlampau lambat. Matahari yang telah hilang di balik pegunungan, masih saja meninggalkan sinar yang cerah di langit.

Namun kemuraman senja pun semakin lama menjadi semakin muram. Matahari menjadi semakin dalam terbenam, sehingga akirnya sisa-sisa sinarnya sama sekali sudah tidak lagi dapat menerangi lereng Bukit Menoreh.

“Kita harus bersiap Paman,” berkata Sidanti, “sebentar lagi purnama pasti akan naik.”

“Ya, kita akan bersiap.” jawab pamannya, “yang mula-mula harus berangkat adalah pasukan kecil, yang harus meyakinkan, bahwa Kakang Argapati pasti akan terbunuh di bawah Pucang Kembar.”

“Pasukan itu sudah lama siap.”

“Nah, lepaskanlah. Biarlah mereka berangkat.”

Sidanti pun segera memberikan perintah bagi pasukan kecil yang akan pergi ke Pucang Kembar. Pasukan yang mendapat tugas khusus. Apabila Ki Taimbak Wedi dan kedua orang kawannya tidak segera berhasil menyelesaikan Argapati, maka adalah menjadi tugas pasukan kecil itu untuk bertindak. Juga seandainya Argapati membawa beberapa orang pengawalnya, maka semuanya harus ditumpas.

Ketika pasukan kecil itu sudah berangkat, maka Sidanti segera membersiapkan induk pasukannya. Induk pasukannya inilah yang nanti harus langsung masuk ke pedukuhan induk dan mendudukinya. Meskipun peperangan masih akan berlangsung terus, namun dengan menduduki padukuhan induk, maka Sidiantti sudah mempunyai alas yang kuat menuju ke arah kemenangannya.

Pada saat Sidanti mempersiapkan pasukannya yang cukup kuat untuk langsung menusuk jantung Tanah Perdikan Menoreh, maka kuda yang membawa Argapati telah naik memanjat tebing, sebuah puntuk kecil lereng bukit. Di atas puntuk itu berdiri dua batang pohon pucang, sehingga puntuk itu disebut Pucang Kembar. Di bawah sepasang pohon pucang itu, terbentang sebuah dataran yang tidak terlampau luas, ditumbuhi oleh rumput-rumput liar dan pohon-pohon perdu yang rimbun.

Dibawah sepasang pohon pucang itulah, Argapati berjanji untuk menemui Ki Tambak Wedi dalam perang tanding, seperti yang pernah terjadi beberapa puluh tahun yang lampau.

Ketika kaki-kaki kudanya berderap di bawah sepasang pucang itu, hati Argapati berdesir. Hatinya telah dilanda oleh arus kenangan lama, seolah-olah terguncang dengan dahsyatnya di dalam dadanya. Dan kini ia sekali lagi akan melakukannya. Dengan orang yang sama dan di tempat yang sama.

Argapati kemudian meloncat turun dari punggung kudanya. Dituntunnya kudanya ke arah sebatang pohon perdu dan mengikatnya di sana. Kemudian perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya ke bawah sepasang pucang itu kembali.

“Aku tidak terlambat,” gumamnya perlahan sekali. Disapunya keadaan di sekitannya yang telah mulai suram dengan pandangan matanya. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Ki Tambak Wedi pun masih belum tampak olehnya.

Dengan tenangnya Ki Argapati menyandarkan dirinya pada sebatang dari sepasang pohon pucang itu. Perlahan-lahan tangannya mengangkat senjatanya dan melepas selosongnya, kemudian melipatnya. Namun ketika terasa olehnya lendean tombaknya, maka sekali lagi dadanya berdesir. Tiba-tiba saja, ia menyadari bahwa ia akan berkelahi dengan senjata yang kurang dikenalnya. Ia masih biasa mempergunakan tombak itu. Beratnya, sifat-sifatnya dan kebiasaannya.

“Mudah-mudahan aku dapat segera menyesuaikan diriku,” gumamnya pula perlahan-lahan.
Dan dengan perlahan-lahan pula, Ki Argapati membuka wrangka ujung tombaknya dan meletakkan wrangka itu di samping lipatan selongsongnya.

“Tajam tombak inipun cukup baik,” desisnya, “tidak jauh berbeda dengan ujung tombakku.” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kedua tombak itu memang tombak sipat kandel Tanaih Perdikan Menoreh, yang masing-masing dimiliki oleh kakak beradik, Argapati dan Argajaya. Tetapi ternyata Argajaya diam-diam telah menukarkan tombak itu, karena ia menganggap bahwa tombak Argapati lebih baik dari tombaknya sendiri.

Sambil menunggu Ki Tambak Wedi, Argapati mencoba –menimang-nimang tombaknya, supaya ia tidak salah hitung. Ia harus tahu pasti berapa banyak tenaga yang diperlukannya untuk mengayunkan tombak itu pada jarak tertentu.

Ketika Argapati menengadahkan wajahnya, dilihatnya warna yang merah kekuningan menyaput langit di ujung Timur.

“Purnama itu hampir naik,” tanpa sesadarnya ia berbicara kepada diri sendiri.

“Ya,” tiba-tiba terdengar sebuah jawaban, “purnama hampir naik.”

Argapati berpaling ke arah suara itu. Dilihatnya di atas sebongkah batu padas sesosok tubuh, berdiri di atas sepasang kakinya yang renggang. Tegak seperti sebatang tombak baja yang kokoh kuat tertancap dalam-dalam pada tanah yang keras berbatu-batu.

Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya. Segera ia mengenal, siapakah orang yang berdiri di atas sebongkah batu padas itu. Ki Tambak Wedi. Karena itu, maka katanya seperti acuh tidak acuh, “Hem, kau datang tepat pada saatnya.”

“Aku tidak pernah ingkar janji,” jawab Ki Tambak Wedi, “sebentar lagi purnama akan naik. Kita akan segera berhadapan seperti beberapa puluh tahun lampau. Berhadapan sebagai laki-laki jantan yang tahu akan harga dirinya.”

“Aku mengharap demikian.”

“Apakah kau datang seorang diri?” bertanya Ki Tembak Wedi.

Pertanyaan itu ternyata membuat Argapati menjadi heran. Dipandanginya Ki Tambak Wedi di dalam sinar yang temaram. Perlahan-lahan ia maju setapak sambil berkata, “Pertanyaan itu aneh sekali?”

“Kenapa aneh?” potong Ki Tambak Wedi.

“Tidak sepantasnya kita menyimpan pertanyaan itu di dalam hati kita. Aku pun tidak akan bertanya demikian. Kalau kita sudah kehilangan kepercayaan kepada diri masing-masing, maka kita sudah kehilangan sebagian dari kejantanan kita.” Ki Gede Menoreh terdiam sejenak, lalu tiba-tiba, “He, Ki Tambak Wedi. Meskipun hanya sepercik, apakah pernah tersirat di dalam hatimu untuk datang ke tempal ini bersama satu atau dua orang kawan yang meskipun hanya akan menjadi saksi? Sehingga kau dipengaruhi oleh pertanyaanmu itu?”

Pertanyaan itu telah mengguncangkan dada Ki Tambak Wedi. Serasa ujung tombak Argapat itu telah mematuk pusat dadanya. Ia tidak menyangka, bahwa pertanyaannya dapat menumbuhkan kecurigaan pada lawannya. Namun segera ia berusaha melepaskan kesan itu dari wajahnya. Kemuraman senja telah menolongnya untuk melindungi perubahan-perubahan pada kerut-kerut di keningnya.

“Pertanyaanmu itupun aneh Argapati. Selama Ki Tambak Wedi masih menyebut dirinya Ki Tambak Wedi, maka aku masih orang yang pernah kau hadapi beberapa puluh tahun di tempat ini.”

“Bagus,” sahut Argapati, “turunlah. Sebentar lagj cahaya di langit itu akan menjadi semakin cerah. Kemudian pada saatnya purnama akan segera naik. Marilah kita peringati masa-masa muda kita, sebagai Paguhan dan Arya Teja dengan cara ini. Loloskah senjatamu itu dari selongsongnya. Aku ingin melihat, betapa dahsyatnya senjata yang berujung rangkap itu.”

Terdengar suara tertawa perlahan-lahan, “Kau terlampau tergesa-gesa,” sahut Ki Tambak Wedi, “meskipun sesaat lagi purnama akan naik, tetapi malam masih panjang. Kau tidak akan kehabisan waktu untuk memeras keringatmu. Aku akan melayanimu. Kenapa kita harus tergesa-gesa dan memulainya tepat pada saat purnama itu nanti naik dari atas cakrawala?”

Sekali lagi Argapati menjadi terheran-heran. Pertanyaan di dalam dirinya menjadi semakin tajam menggores di jantungnya. Sikap Ki Tambak Wedi itu tidak dapat dimengertinya. Beberapa puluh tahun, ketika ia bertemu di tempat ini pula dengan Ki Tambak Wedi, maka orang itu sama sekali tidak terlampau bersabar hati seperti kini.

“Waktu itu telah cukup lama berlalu,” katanya di dalam hati, “sepanjang itu, adalah mungkin sekali seseorang mengalami perubahan tabiat dan sifatnya. Mungkin Ki Tambak Wedi mendapat pengalaman yang cukup banyak untuk merubah sifat-sifatnya itu. Kini ia menanggapi keadaan dengan hati yang mengendap.”

Meskipun demikian, Argapati itu menjawab juga, “Ki
Tambak Wedi. Aku memang tidak tergesa-gesa. Tetapi bukankah ancer-ancer waktu itu telah kita letakkan? Marilah kita mencoba menepatinya. Kita akan segera menyelesaikan pekerjaan kita. Bukankah masih ada pekerjaan lain yang menunggu?”

Terdengar suara tertawa Ki Tambak Wedi, “Apakah kau masih mengharap dapat keluar dari tempat ini?”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. “Tentu,” jawabnya, “di rumah anakku menunggu kedatanganku.”

Suara Ki Tambak Weda itu tiba-tiba meningga. Katanya, “ Seandainya kau dapat keluar dari tempat ini, belum tentu kau akan dapat bertemu lagi dengan anakmu.”

“Kenapa?” bertanya Argapati dengan herannya.

“Kedua kakak beradik seibu itu, berada dalam pertentangan yang tajam. Aku tidak tahu, apakah Sidanti dapat mengendalikan dirinya, supaya tidak segera bertindak. Tetapi jangan takut. Seandainya Sidanti malam ini barhasil menguasai Menoreh, puterimu, adik Sidanti itu, tidak akan mengalami cidera. Sidanti menyayanginya sebagai seorang adik, meskipun adiknya itu berpihak kepadamu. Tetapi sebagai seseorang yang bercita-cita, maka Sidanti harus bertindak, meskipun ia yakin bahwa kau pasti telah berjanji untuk menyerahkan tanah perdikan ini kepada gadismu itu.”

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Argapati. Ia sudah menduga, bahwa hal serupa itu akan terjadi. Sidanti pasti akan mempergunakan saat yang genting ini. Saat ia tidak dapat memimpin perlawanan langsung untuk menghadapinya.

Namun ia sadar pula, bahwa Ki Tambak Wedi sengaja mengatakan hal itu kepadanya, karena Ki Tambak Wedi berusaha untuk mempengaruhi perasaannya. Apabila perasaannya dikacaukan oleh berbagai macam persoalan, maka ia pasti tidak akan dapat mencurahkan segenap perhatiannya di dalam perlawanannya. Meskipun demikian sepercik kebimbangan membayang pada dinding hati Argapati.

“Kenapa kau diam saja?” bertanya Ki Tambak Wedi, “jangan hiraukan mereka. Biarlah hal itu diurus oleh anak-anak. Mereka sedang membuat permainan untuk diri mereka sendiri. Biarlah Sidanti dan Pandan Wangi bergurau dengan caranya. Dan marilah kita melakukan pekerjaan kita pula di sini.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian ia menjawab, “kau keliru Paguhan. Aku tidak membiarkan Pandan Wangi melakukan perlawanan, seandainya Sidanti benar-benar akan memulainya malam ini. Meskipun Pandan Wangi memiliki kemampuan bermain senjata, tetapi ia masih terlampau hijau. Aku menyerahkan pimpinan pasukan pengawal kepada seseorang, yang aku percaya akan dapat melakukan perlawanan sebaik-baiknya. Mungkin tenaga Pandan Wangi diperlukan, tetapi tidak menentukan cara perlawanan yang harus dilakukan.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia bertanya, “Siapa orang itu?”

Kini Argapati-lah yang tertawa. Perlahan-lahan sekali, “ Kau belum mengenalnya. Ia orang baru di Menoreh, tetapi ia bukan orang baru di dalam tata keprajuritan.”

“Siapa? Sebutkan namanya. Aku mengenal hampir setiap orang di sini.”

“Kau tidak perlu mengetahuinya. Biarlah itu diselesaikan oleh anak-anak. Marilah kita melakukan pekerjaan kita di sini.”

Terdengar Ki Tambak Wedi menggeram. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Tetapi tidak akan ada harapan lagi buatmu. Kau tidak akan dapat keluar dari tempat ini. Seandainya kau dapat juga melarikan diri, tetapi kau tidak mempunyai lagi tanah untuk berpijak.”

“Marilah kita tidak membicarakan hal-hal yang belum terjadi. Lihat, cahaya yang merah itu sudah semakin cerah. Turunkah. Kita akan segera mulai.”

Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab. Tetapi kini justru di dadanya tersimpan berbagai macam pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi di dalam pertempuran yang pasti akan segera berkobar. Siapakah yang telah diserahi pimpinan oleh Argapati itu?

“Huh, ia sekedar membesarkan hatinya sendiri,” katanya di dalam hati.

Karena Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab, maka Ki Argapati mendesaknya, “Turunlah. Kita tidak dapat bermain-main di atas padas itu. Terlampau sempit dan terjal.”

Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi ia tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia mencoba menduga-duga, apakah pasukan kecil yang telah dipersiapkan itu telah dilepaskan oleh Sidanti. Ia tidak ingin perkelahian akan berlangsung terlampau lama. Ia harus segera menyelesaikannya, kemudian ikut serta bersama Sidanti, menyelesakan rencananya untuk menduduki induk tanah perdikan malam itu juga.

“He, apakah kau tertidur?” desak Argapati.

“Hem,” sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram. Kemudian ia menjawab, “kau terlampau tergesa-gesa. Baiklah. Aku akan segera turun. Bersiaplah, supaya kita segera dapat mulai.”

“Aku sudah bersiap sejak aku datang ke tempat ini.”

Terdengar suara Ki Tambak Wedi tertawa hambar. Kemudian ia mulai melangkahkan kakinya setapak demi setapak menuruni padas yang terjal.

“He,” berkata Ki Argapati hampir berteriak, “apakah kau sudah pikun Paguhan. Seharusnya dengan sekali loncat kau sudah berada di atas tanah yang datar. Kenapa kau merangkak seperti bayi yang sedang berumur tiga bulan?”

Dada Ki Tambak Wedi berdesir mendengar sindiran Argapati. Sebenarnyalah bahwa betapapun curamnya puntuk padas itu, namun seorang Tambak Wedi tidak sepantasnya menuruninya setapak demi setapak sambil berpegangan erat-erat seperti anak-anak sedang turun dari pembaringan. Tetapi Ki Tambak Wedi tidak menyangka, bahwa parbuatannya itu mendapat pengamatan yang saksama dari lawannya. Ia tidak menyangka, bahwa usahanya untuk mengulur waktu itu dapat ditangkap oleh Argapati.

Meskipun demikian, Ki Tambak Wedi yang licik itu menjawab, “Ki Gede Menoreh, aku memang sudah tua. Aku sudah lama sekali tidak mengenali lagi setiap jengkal tanah di bawah Pucang Kembar ini, sehingga aku harus sangat berhati-hati.

Argapati mengerutkan keningnya. Keheranannya menjadi kian bertambah-tambah. Kelakuan Ki Tambak Wedi tampak semakin lama semakin tidak wajar. Dan ketidak- wajaran itu membuat Ki Argapati kadang-kadang tidak mengerti, apakah ia masih berhadapan dengan Ki Tambak Wedi beberapa puluh tahun yang lampau.

“Aku tidak boleh berprasangka,” ia mencoba menenteramkan hatinya yang mulai gelisah. Dalam keadaan itu, berbagai persoalan timbul terbenam di dalam dadanya. Tiba-tiba pada saat yang demikian, Ki Argapati menyadari keadaan yang sebenarnya di hadapi. Apakah artinya kejantanan kini bagi Ki Tambak Wedi. Ternyata ia lelah mengundang langsung kekuatan-kekuatan di luar tanah perdikan untuk mencampuri persoalan yang sedang berkecamuk di atas tanah ini. Tanpa menghiraukan akibatnya, Ki Tambak Wedi dan Sidanti telah membakar rumah sendiri.

“Apakah yang telah berbuat demikian itu masih juga mempunyai harga diri untuk berperang tanding dengan jujur?” Pertanyaan itu kini mengganggu perasaan Ki Argapati. Mamun sekali lagi ia mencoba mengusir prasangka itu. Tidak, Aku mengharap bahwa tidak terjadi kecurangan serupa itu.”

Tetapi Argapati masih melihat Ki Tambak Wedi turun perlahan-lahan. Kadang orang itu berhenti, kemudian berdiri menengadahkan wajahnya.

“Ki Tambak Wedi,” berkata Argapati, “lihat, bulan purnama telah naik. Beberapa puluh tahun yang lampau, kau sudah tidak dapat di ajak berbicara apa pun lagi. Begitu cahaya bulan menyentuh senjatamu, begitu kau menyerang seperti orang gila. Tetapi kenapa kau sekarang masih juga berdiri saja di situ?”

Ki Tambak Wedi tertawa. Jawabnya, “Kita sudah bukan anak-anak muda yang dibakar oleh nafsu kemudaan kita, Argapati. Kita bukan lagi anak-anak muda yang. mendambakan kasih di terang bulan purnama. Apakah artinya bagi kita kini? Cahaya bulan itu sudah terlampau banyak kita lihat dan kita rasai. Karena itu, kita tidak perlu lagi mengaguminya seperti pengantin batu. Biar sajalah bulan itu naik di langit yang biru. Ujung senjata kita tidak akan segera tumpul.”

Wayah Argapati menjadi semakin berkerut-marut. Kecurigaannya menjadi kian meruncing. Dengan demikian ia menjadi kian gelisah. Kenyataan-kenyataan yang di hadapinya telah membuatnya semakin curiga atas orang yang bergelar Ki Tambak Wedi itu. Meskipun demikian ia masih menahan dirinya. Kecurigaannya masih belum berpijak pada alasan yang jelas.

“Semuanya itu sekedar prasangka,” Argapati masih mencoba memulas perasaannya itu.

Tetapi ia masih melihat Ki Tambak Wedi berdiri di lambung puntuk padas itu. Sebenarnya tidak terlampau tinggi. Seorang anak tanggung pun akan dapat segera meloncat turun. Tetapi tampaknya Ki Tambak Wedi itu terlampau berhati-hati. Ki Tambak Wedi yang namanya telah menggemparkan udara di sekitar Gunung Merapi.

“Itu tidak mungkin,” berkata Argapati di dalam hatinya. Dan tumbuhlah kecurigaannya semakin tajam di dalam dadanya.

Ki Tambak Wedi itu mengangkat wajahnya sekali lagi seolah-olah ia sedang menikmati bulatnya bulan. Tetapi dalam pada itu didengarnya lama-lama suara burung kedasih. Lamat-lamat sekali. Tetapi cukup jelas. Ngelangut, seperti ratap seorang nenek kematian cucunya tercinta.

“Aku telah mendengar suara burung kedasih itu,” berkata Ki Tambak Wedi di dalam hatinya. Dan tiba-tiba saja ia menggeram sambil meloncat turun. Sama sekali tidak mengalami kesulitan, bahkan seandainya ia meloncat dari ujung seonggok batu padas itu.

“Kita akan segera mulai Argapati,” suaranya bernada berat dan datar.

Tetapi ternyata sikapnya itu telah menggetarkan dada Argapati. Seolah-olah ia mendapat suatu keyakinan, bahwa sebenarnya ia tidak hanya sekedar bercuriga. Tiba-tiba kini ia hampir pasti, bahwa ia tidak berhadapan dengan Paguhan beberapa puluh tahun yang lampau, tetapi ia kini berhadapan dengan seorang yang sangat licik.

Karena itu, betapa kemarahan telah menghentak dada Argapati. Selangkah ia maju sambil berkata dengan suara gemetar, “Paguhan. Jangan kau anggap aku anak-anak yang heran melihat tingkah lakumu. Aku kini tahu pasti, meskipun aku belum melihatnya. Tetapi seperti kau, akupun mempunyai telinga. Aku mendengar suara burung kedasih yang kau dengar itu pula. Aku menangkap perbedaan suara itu dengan.suara burung kedasih yang sebenarnya. Hampir setiap malam aku mendengar suara burung itu. Dan suara burung yang setiap malam aku dengar itu sama sekali tidak serupa dengan suara burung yang baru saja menggerakkanmu, meloncat turun dari batu padas itu.”

Tuduhan itu serasa seonggok bara yang menyentuh telinga Ki Tambak Wedi. Ternyata perasaan Argapati terlampau tajam, sehingga segera ia dapat mencium apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan. Ternyata Argapati kini sudah mengetahui hampir seluruhnya, apa yang tersembunji di balik gerumbul-gerumbul di dalam kesuraman malam terang bulan. Agaknya Argapati telah membayangkan, berapa orang sedang merangkak-rangkak mendekati Pucang Kembar. Dan orang-orang itu akan berbuat curang. Karena itu, maka Ki Tambak Wedi sudah tidak dapat berusaha untuk menyembunyikannya. Meskipun demikian, ia masih juga ingin menghadapi Argapati seorang lawan seorang lebih dahulu. Ia masih ingin melihat, betapa Ki Gede Menoreh kini meloncat jauh maju dari Arja Teja beberapa puluh tahun lampau.

Karena itu, maka Ki Tambak Wedi pun beberapa langkah meloncat mendekati Argapati sambil menarik senjatanya. Tetapi kini ia hanya membawa sebatang dari sepasang senjatanya yang mengerikan itu. Ketika ia sudah berdiri tegak beberapa langkah di hadapan Argapati, maka ia pun menggeram, “Argapati, apakah yang sebenarnya sedang kau ingatkan itu? Apakah kau sedang mimpi terlampau buruk, sehingga kau membayangkan seolah-olah di sekitar tempat ini bertebaran orang-orangku yang bertanda sandi suara burung kedasih? O, Kepala Tanah Perdikan yang malang. Ternyata kau telah dipengaruhi oleh kegelisahan dan kecemasan yang luar biasa, sehingga kau tidak lagi dapat membayangkan harapan untuk mendapatkan kemenangan, setidak-tidaknya kesempatan untuk melarikan diri dari arena, sehingga kau berpikir yang bukan-bukan.”

Argapati mengerutkan keningnya. Terdengar suaranya dalam nada yang berat, “Mungkin aku memang bermimpi buruk Tambak Wedi. Mungkin pula pendengaranku salah. Mudah-mudahan kau masih dapat bersikap jantan seperti Paguhan beberapa tahun yang lampau.”

“Arja Teja,” berkata Ki Tambak Wedi, “kau ternyata sudah berputus asa sebelum kau berbuat sesuatu. Apabila memang demikian, maka sebaiknya kau urungkan niatmu untuk melakukan perang tanding. Kau hanya akan membuang waktu dan tenaga. Sebenarnya lebih baik bagimu untuk mati dengan tenang daripada dengan tusukan senjata di lambungmu. Apakah kau pernah berpikir demikian. Kalau kau setuju, marilah. Aku mempunyai sebutir racun yang sudah aku keringkan. Kalau kau bersedia menelannya, maka kau akan dapat berbaring di tanah dengan tenang. Kau akan menghembuskan nafasmu yang terakhir tanpa merasakan sakit, karena lambungmu sobek oleh senjata.”

Terasa dada Ki Argapati berdesir mendengar penghinaan itu. Namun dengan susah payah ia berhasil menahan dirinya. Bahkan kemudian terdengar suara tertawanya perlahan-lahan, “Terima kasih atas kebaikan hatimu, Tambak Wedi. Memang mati dengan menelan racun itu agaknya lebih menyenangkan daripada mati setelah memuntahkan darah dari luka di tubuh ini. Tetapi bagi seorang laki-laki, maka mati dengan senjata di tangan adalah suatu kebanggaan. Sudah tentu kita akan lebih berbangga, apabila kita untuk selamanya tidak pernah menyentuh senjata. Namun apabila keadaan memaksa seperti keadaanku kini, maka adalah paling nikmat untuk berjuang sekuat tenaga daripada membunuh diri.”

Ki Tambak Wedi menganggukkan kepalanya, tetapi wajahnya menjadi tegang. Katanya, “Hem, kau memang keras kepala Argapati. Sejak muda kau memang keras kepala. Baiklah. Marilah kita segera mulai. Agaknya perkembanganmu sepeninggalku telah merubah kau menjadi seorang yang mabuk berkelahi. Tak ada tanda-tanda sikap damaimu sama sekali. Sejak kau melihat aku, maka kau begitu tergesa-gesa untuk melakukan perkelahian.”

“Aku kira kau sudah menyimpan jawaban atas kata-katamu sendiri, Argapati. Aku tidak perlu menjawabnya.” Argapati berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia berkata, “Ki Tambak Wedi. Aku mempunyai usul yang barangkali baik buatmu. Suatu sikap damai yang barangkali sesuai dengan keinginanmu atasku.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya, sehingga alisnya yang tebal seakan-akan bertemu, “Apakah usulmu itu?” ia bertanya dengan ragu-ragu.

Ki Argapati tersenyum. Tetapi ujung tombaknya merendah setinggi dada. Katanya, “Marilah kita saling berbaik hati. Supaya kita masing-masing tidak lelah seperti kau inginkan. Aku harap kau terbaring di tanah, kemudian aku akan melakukannya perlahan-lahan sampai saatnya ujung tombakku menyentuh jantungmu.”

Ternyata darah Ki Tambak Wedi tiba-tiba saja telah mendidih, ia tidak mampu menahan dirinya lagi. Tiba-tiba ia berteriak nyaring. Tangannya bergetar secepat kilat, hampir-hampir tidak dapat dilihat oleh mata.

Tetapi yang berdiri di hadapannya adalah Argapati. Argapati telah memperhitungkan, bahwa hal itu akan dapat terjadi, sehingga begitu matanya yang tajam menangkap gerakan Ki Tambak Wedi, maka secepat itu pula ia memiringkan tubuhnya sambil menarik sebelah kakinya surut.

“He,” katanya, “kau sudah mulai Tambak Wedi.”

Dada Ki Tambak Wedi serasa akan meledak, ketika ia melihat sikap Argapati yang dengan mudah berhasil menghindari sambaran, gelang-gelang besinya yang meluncur sejengkal di depan dada.

“Alangkah tangkasnya kau sekarang,” Tambak Wedi menggeram.

“Jangan memuji. Marilah kita mulai dengan bersunguh-sungguh . Aku tidak akan melayani, apabila kau sekedar bermain lempar-lemparan. Bukankah kau menggenggam senjatamu yang dahsyat itu. Tetapi kenapa kau hanya membawa sebatang saja?”

“Aku menganggap bahwa terlampau berlebih-lebihan bagiku untuk membawa kedua-duanya,” sahut Tambak Wedi, “tetapi jangan banyak bicara. Kita akan segera mulai.”

Argapati tidak menjawab lagi. Selangkah ia maju. Kini keduanya lelah berhadapan dalam jarak yang lebih dekat. Ujung tombak Argapati mempergunakan sebatang Nenggalanya, namun setiap saat ia dapat melemparnya dengan gelang-gelang besi yang cukup banyak tersimpan di bawah kain panjangnya, bergantungan pada ikat pinggang yang khusus.

Sejenak mereka berdiri berhadapan. Dan sejenak kemudian Argapati lelah menjulurkan senjatanya. Kemudian dengan gerak yang sukar dipahami, keduanya segera terlibat dalam perkelahian yang seru. Pada benturan yang mula-mula, telah terdengar dentang kedua senjata itu dengan dahsyatnya, sehingga bunga-bunga api memercik seperti ribuan kunang-kunang yang berloncatan menghambur menjauhi kedua senjata itu.

Pada saat berikutnya, maka mereka bertempur seperti pergulatan sepajang angin pusaran. Kemudian saling berbenturan seperti prahara menghantam batu karang. Keduanya adalah orang-orang’ yang hampir mumpuni dalam olah kanuragan. Keduanya adalah orang-orang yang mempunyai banyak kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Senjata Ki Tambak Wedi mematuk-matuk seperti ribuan mulut ular yang berkerumun dari segala arah. Kedua tajamnya seakan-akan berubah menjadi beribu-ribu Nenggala yang bergerak bersama-sama. Ternyata Ki Tambak Wedi benar-benar seorang yang pilih tanding.
Kakinya melontar-lontarkan tubuhnya, seperti tidak berinjak di atas tanah.

Namun ternyata pula bahwa Argapati mampu mengimbanginya. Tombaknya berputar seperti baling-baling. Kadang-kadang menebas seperiti sehelai pedang, namun kemudian menusuk langsung ke pusat jantung. Tubuhnya seolah-olah menjadi ringan seperti kapas yang berputar-putar ditiup angin pusaran.

Di dalam perkelahian itu, kaki-kaki mereka telah menyapu bersih tetanaman liar di sekitar sepasang Pucang Kembar itu. Rerumputan dan batang-batang perdu menjadi rata, seolah-olah habis dibajak. Ujung-ujung senjata mereka telah menebas semua tumbuh-tumbuhan dan batang-batang kayu yang tumbuh di seputar tempat perkelahian.

Burung-burung liar yang bersarang di dekat Pucang Kembar itupun segera berterbangan. Mereka terkejut mendengar derak batang-batang yang patah, serta ranting-ranting yang berguncang seperti dilanda angin ribut. Sedang gelombang kedahsyatan perkelahian itu telah melanda binatang-binatang yang berkeliaran di sekitarnya, sehingga berlari-larian. Rusa, kijang-kijang di dalam gerumbul, dan bahkan macan-macan kumbang. Mereka segera menjauh dan bersembunyi di dalam lubang-lubang yang gelap di balik puntuk-puntuk padas.

Demikianlah, perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Seperti seekor harimau yang lapar, melawan seekor banteng terluka. Tangguh tanggon. Serangan-serangan mereka datang seperti petir di langit, dan benturan-benturan di antara mereka serasa akan meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan.

Tetapi yang pernah terjadi ternyata terulang kembali. Tidak ada di antara mereka yang segera mampu menguasai lawannya. Setelah sekian puluh tahun mereka berpisah, setelah mereka mengembangkan ilmu masing-masing, dengan cara masing-masing pula, kini mereka bertemu dalam keseimbangan yang serupa dengan beberapa paluh tahun yang lampau. Mereka tidak dapat menentukan siapakah yang akan menang di antara mereka. Yang dapat mereka lakukan adalah bertempur sebaik-baiknya. Setiap kelengahan dan kesalahan betapa pun kecilnya, akan mempunyai akibat yang sangat berbahaya.

Yang terasa di dalam perang tanding itu adalah, bahwa Ki Tambak Wedi hanya mempergunakan sebatang senjatanya. Senjata itu ternyata lebih pendek dari senjata Argapati. Keuntungan ini lah yang dipergunakan oleh Argapati sebaik-baiknya untuk menyerang lawannya dalam jangkauan panjang tombaknya. Namun Ki Tambak Wedi pun menyadari hal ilu pula. Karena itu, maka setiap kali ia memanfaatkan jarak di antara mereka untuk meluncurkan gelang-gelang besinya. Satu demi satu, di setiap kesempatan.

Dan beruntung pulalah Ki Tambak Wedi, bahwa tombak Argapati itu bukan tombaknya yang dipergunakan bertempur beberapa puluh tahun yang lampau. Tombak yang dipakai ini agak terlampau ringan bagi Argapati. Ayunan dan lontarannya agak kurang mantap. Apalagi ia masih harus menyesuaikan diri untuk beberapa saat.

Sementara itu, di rumahnya, Pandan Wangi selalu dalam keadaan gelisah. Ia menjadi terlampau berdebar-debar, ketika ia melihat purnama mulai merayap naik di atas cakrawala. Terbayang di dalam angan-angannya, ayahnya telah mulai melakukan perang tanding dengan Ki Tambak Wedi. Gadis itu menyadari, bahwa persoalan mereka yang lamalah yang sebenarnya telah mendorong keduanya untuk melakukan perang tanding. Seandainya di antara mereka tidak ada persoalan apa pun, maka perselisihan paham pada saat-saat itu tidak akan segera menyeret ke dalam suatu kancah perkelahian.

Bagaimanapun juga, Argapati tidak dapat segera menghapus kenyataan bahwa Sidanti sebenarnya bukan anaknya. Meskipun ia telah berusaha dengan, susah payah, meskipun dalam beberapa
puluh tahun, seolah-olah hal itu tidak berbekas, bahkan yang nampak pada Pandai Wangi, bahwa ayahnya telah berlaku sebaik-baiknya terhadap kakaknya, tetapi ungkapan kepahitan kenyataan itu betapa kecilnya akan segera mengangkat kembali luka di dalam hati ayahnya. Apalagi ayahnya harus mempertaruhkan tanah yang selama ini telah dibinanya.

Dalam kegelisahan dan kecemasan itu, Pandan Wangi duduk seperti sebuah patung yang mati. Tidak sepatah kata pun diucapkannya dan seoah-olah semua keadaan di sekitarnya tidak menarik perhatiannya.

Di luar rumahnya, di halaman, Wrahasta sedang sibuk mengatur para pengawal yang berada di bawah tanggung jawabnya. Dengan sepenuh hati, ia melakukan tugasnya untuk mengamankan halaman dan seluruh isi rumah itu, terutama Pandan Wangi. Dengan sepenuh hati, ia setiap kali memeriksa setiap sudut dan setiap kelompok. Tidak ada sejengkal dinding pun yang terlepas dari pengawasan para pengawal tanah perdikan yang bertugas di halaman.

Sedang di luar halaman, para peronda hilir mudik tidak henti-hentinya. Peronda-peronda yang berkeliaran di setiap pedukuhan, dan peronda-peronda yang nganglang dari pedukuhan yang satu kepeduhan yang lain di atas punggung kuda dengan senjata telajang. Setiap orang dari mereka selalu dilengakapi pula dengan senjata-senjata yang dapat dipergunakan untuk mengirimkan tanda dan sasmita. Panah-panah api dan panah-panah sendaren. Mereka tidak henti-hentinya menghubungi gardu-gardu peronda di setiap pedukuhan, dan kemudian melaporkannya ke banjar. Di banjar, Samekta duduk menghadapi lampu minyak yang berkerdipan ditiup angin malam. Sekali-sekali ia berdiri, berjalan hilir mudik di halaman. Kemudian duduk di antara para pengawal yang berjaga-jaga di gardu di regol halaman. Kadang-kadang ia pergi ke gandok, di mana telah berkumpul sepasukan pengawal yang siap untuk bertempur ke segenap medan di atas tanah perdikan ini. Pasukan itu adalah pasukan yang dipersiapkan untuk dikirim kemana pun yang memerlukannya, membantu setiap pasukan pengawal yang telah siap di setiap padukuhan, apalagi yang langsung berhadapan dengan padukuhan-padukuhan yang diperkirakan telah berada di bawah pengaruh Sidanti dan Argajaya.

Pasukan-pasukan sandi pun berkeliaran di segenap sudut dalam, samaran dan selimut masing-masing. Bahkan ada di antara mereka yang sama sekali tidak dapat di lihat oleh siapa pun, bertengger di atas batang pohon yang rimbun dan berdaun lebat.

Demikianlah, maka malam pun menjadi kian malam. Bulan yang bulat di langit merambat semakin tinggi. Lamat-lamat di kejauhan terdengar suara anjing-anjing liar menggonggong bersahut-sahutan.

Pandan Wangi masih saja duduk di pringgitan menghadapi mangkuk air jahe yang hangat. Tetapi sejak dihidangkan, mangkuk itu sama sekali belum disentuhnya. Apalagi makanan yang teronggok di hadapannya. Sama sekali tidak menarik perhatiannya.

Kerti pun terpaksa harus duduk sambil berdiam diri di hadap an momongannya. Hanya kadang-kadang saja ia berpaling memandangi dua orang kawannya yang duduk sebelah menyebelah. Tetapi kedua kawannya itupun menundukkan kepala mereka sambil mengembara di dalam angan-angan.

Yang dapat di lakukan oleh Kerti, berulang kali adalah menarik nafas dalam-dalam, untuk mengurangi ketegangan yang menyekat dadanya. Namun ia tidak berani lebih dahulu membawa Pandan Wangi ke dalam pembicaraan.

Tiba-tiba mereka yang duduk di pringgitan itu terkejut ketika pintu perlahan-lahan terbuka. Serentak mereka berpaling, dan mereka segera melihat Wrahasta berdiri di muka pintu.

“Oh,” desisnya, “maafkan apabila aku mengganggu.”
Kerut-merut. Tiba-tiba saja dadanya dijalari oleh kegelisahan yang lain menghadapi orang yang bertubuh raksasa ini. Ia masih dihinggapi oleh kebingungan dan keragu-raguan atas pertanyaan yang mengalir seperti banjir. Bahkan terasa bulu-bulu tengkuk gadis itu meremang. Ia telah membayangkan, bahwa Wrahasta itu pasti akan mendesaknya lagi supaya ia menjawab pertanyaan yang membingungkan itu.

Namun hatinya agak tenang, karena di dalam ruangan itu duduk pula Kerti dan dua erang pembantunya. Orang-orang tua itu lelah mendapat kepercayaan pula dari ayahnya, untuk mengawasi seisi rumah, dan terutama karena orang tua itu adalah pemomongnya. Dalam setiap perburuan, maka sebagian terbesar Kerti-lah yang mengawaninya dengan beberapa orang yang lain.

“Apakah aku boleh duduk?” bertanya Wrahasta yang masih berdiri di muka pintu.

“Oh,” Pandan Wangi tergagap, “silahkan.”

Wrahasta melangkah maju sambil bergumam, “Aku perlu melaporkan semua kegiatan di halaman rumah ini, Pandan Wangi.”

“Ya,” Pandan Wangi bergumam, “silahkan.”

Wrahasta pun kemudian duduk di samping Pandan Wangi. Sekali-sekali ditatapnya Kerti dengan sudut matanya.

“Semuanya telah aku persiapkan sebagaimana seharusnya, Pandan Wangi. Setiap saat tidak akan mengecewakan. Mudah-mudahan Paman Samekta berhasil menguasai keadaan di luar halaman, sehingga kami tidak perlu terlampau banyak berbuat.”

“Terima kasih,” sahut Pandan Wangi, “mudah-mudahan Kakang Sidanti tidak berbuat malam ini, sehingga Ayah besok akan dapat memimpin langsung pasukan pengawal tanah perdikan ini, apabila terjadi sesuatu.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mudah-mudahan,” katanya, “tetapi seandainya Sidanti mulai juga malam ini, aku tidak akan berkeberatan untuk melayaninya.”

“Terima kasih, Wrahasta,” jawab Pandan Wangi, “tetapi aku mengharap, supaya tidak terjadi sesuatu.”

“Kita boleh mengharap, Pandan Wangi, tetapi kita tidak tahu, apakah yang kini sedang dipikirkan oleh Sidanti. Karena itu, adalah sebaiknya kita bersiap menghadapi setiap kemungkinan.” Wrahasta berhenti sejenak. Ditatapnya sekali lagi Kerti dengan sudut matanya, lalu katanya pula, “Seharusnya, kau melihat sendiri kesiagaan pasukanmu di dalam halaman ini.”

Tanpa dikehendakinya sendiri, Kerti mengangkat wajahnya. Namun ketika tatapan matanya membentur mata Pandan Wangi yang suram, maka orang tua itupun segera berpaling. Namun dengan demikian hatinya menjadi berdebar. Segera teringat olehnya pesan Samekta, bahwa agaknya Pandan Wangi telah dirisaukan oleh sikap Wrahasta, justru dalam saat-saat yang menegangkan ini.

Kerti menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Pandan Wangi menjawab, “Aku percaya kepadamu, Wrahasta. Kau sudah cukup berpengalaman. Mudah-mudahan semuanya seperti yang kau katakan.”

“O, itu kurang bijaksana, Wangi. Ki Argapati selaki selalu mengawasi pasukannya langsung, apalagi dalam keadaan yang genting ini. Apakah kau tidak ingin berbuat seperti ayahmu? Kau akan mendapat banyak sekali keuntungan. Kau akan dapat melihat langsung semua persiapan. Kau akan mengetahui, bahwa tidak ada kelengahan di dalam barisanmu. Dan yang tidak kalah pentingnya, kau akan memberi mereka pengaruh yang dapat membesarkan hati_ mereka di dalam ketegangan yang semakin memuncak.”

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Ia dapat menerima alasan itu. Tetapi terasa sekali lagi bulu-bulu tengkuknya meremang. Ia takut akan di hadapkan lagi pada pertanyaan-pertsnyaan yang membuat hatinya semakin bingung, bahkan hatinya akan dapat menjadi gelap sama sekali. Ia akan dapat kehilangan akal, dan bertindak di luar kesadaran.”

Namun tiba-tiba Pandan Wangi mengankat dadanya. Dipandanginya Kerti dan dua orang kawannya. Maka katanya kemudian perlahan-lahan, “Paman, marilah kita melihat kesiagaan pasukan pengawal di halaman.”

(***)

From Kasdoelah’s Collection
Konvert: Jebeng
Retype: Abu Gaza
Proof: Eddypedo
Date: 10-29-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 Oktober 2008 at 07:13  Comments (18)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-35/trackback/

RSS feed for comments on this post.

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tinggal tunggu file kamin sun nya,..

  2. sampai sore ini belum ada perkembangan hihihi22xxx….. ditunggu dengan sabar …

  3. Poro Rawuh Sedoyo…
    silakan diunduh di halaman dua, Mas D2 sudah taruh file buku 35.dejavu dari tadi kok

    Buku 35.doc nya juga sudah dipaketkan ke mas D2.

  4. Matur Suwun Mas Jebeng

  5. wah sido muncul 35ne, usul yen iso rodo esuk metune, nuwun

  6. aku masih awam sama DJVU, tolong dong rekan2 bisa ajarin gimana cara donlodnya biar bisa baca file pdf.
    matur nuwun..

  7. Urun retype sd halaman 43. Dikirim ke Mas DD.

  8. Mas Bayu,
    harap baca box komentar di buku 19, ya terpaksa harus di baca komentar satu per satu ya…cara download dan baca format djvu.
    untuk program silahkan download di halaman download (di atas Ejaan “EYD”).
    Mudah-mudahan berhasil

  9. Mana nih file adbm-jilid-035.djvu? Udah semua halaman aku buka ternyata enggak ada juga. Minta donk…udah terlanjur ngumpulin adbm dalam bentuk djvu…asik..seperti baca buku aslinya.

  10. […] 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  11. gandok-35…….akhirnye cantrik sampe jua masuk siNI,

    • “SUGENG DALU KADANG PADEPOKAN ADBM”

      • “sugeng dalu kadang kala”

        • kadang sugeng kala dalu

          • kadang2 kala dalu sugeng 😀

            • khusus ki kartu wayahe kudu su+geng_pen+dowo

              • ..dowo-ne sakpiro Ki Addus ? 😀

                • mbok menawi tergantung permintaan ki kartu mawon.
                  mbok menawi lho ki 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: