Buku 35

“Bohong!” bentak Pandan Wangi, “Kau kira aku dapat mempercayainya? Aku tidak dapat melupakan saat kita bertemu di tengah jalan, ketika aku kembali dari Kakang Sidanti. Beberapa orang liar yang tak dikenal berjalan menyusulku. Kau berada di tempat itu juga pada waktu itu. Mustahil bahwa kau bukan tidak kehilangan kambing-kambingmu, atau bahkan nyawamu, kalau kau salah seorang dari mereka. Aku tahu, bahwa waktu itu kau sengaja menghambat perjalanannku, supaya orang yang tidak aku kenal itu dapat menangkapku.”

Gupita menjadi semakin heran mendengar kata-kata Pandan Wangi yang mengalir seperti banjir itu. Dipandanginya saja wajah gadis itu dengan mulut ternganga.

“Nah, apakah kau masih akan ingkar?” bertanya Pandan Wangi.

Wajah gembala itu menjadi tegang, sejenak kemudian menjadi pucat dan berubah lagi menjadi kemerah-merahan.

“Jangan ingkar!” Pandan Wangi membentak pula.

Kini gembala ilu menjadi gemetar. Tergagap ia mencoba
Menjelaskan, “Aku benar-benar seorang gembala yang sedang menggembala kambing-kambingku di sini. Aku tidak berbuat lain, dan aku sama sekali bukan petugas sandi dari Sidanti.”

“Coba katakan kepadaku, Gupita,” berkata Pandan Wangi, “kenapa kau terlepas dari tangan orang-orang liar yang waktu itu mendatangi kau sepeninggalku?”

Gupita tampak menjadi semakin gugup, “Aku tidak tahu, kenapa mereka membiarkan aku. Mereka hanya bertanya, apa kerjaku di sana waktu itu. Mereka bertanya, apakah aku petugas sandi dari Ki Argapati. Tetapi aku menjawab, bahwa aku hanyalah seorang gembala. Lalu salah seorang dari mereka menampar mukaku seningga aku jatuh ke dalam parit. Seterusnya, mereka pergi. Dan bukankah aku bukan petugas sandi dari Ki Argapati dan bukan pula dari Sidanti?”

“Bohong!” potong Pandan Wangi. Namun terasa sesuatu yang aneh semakin mencengkam jantungnya. Gembala itu benar-benar memiliki kelainan dari gembala-gembala di Tanah Perdikan Menoreh. Dan kelainan itu telah mendebarkan jantung Pandan Wangi semakin cepat. Tatapan matanya seolah-olah telah mengguncang seluruh isi dadanya.

Tetapi Pandan Wangi mencoba menolak pengaruh yang tidak dikenalnya itu. Sambil menggeretakkan giginya, ia menunjuk ke arah kejauhan. Sejenak kemudian ia menggeram, “Pergi! Pergi kau dari tempat ini supaya kau tidak menjegal. Bawalah kambing-kambingmu sejauh-jauhnya dari induk padukuhan Menoreh, sebelum kami bertindak atasmu. Menurut penilaian kami, kau pantas dicurigai dalam keadaan serupa ini. Tidak ada seorang gembala pun yang berani menggembalakan kambing-kambingnya di tempat terbuka seperti kau. Mereka hanya mencoba menggembala di pategalan-pategalan yang berada di ujung-ujung padesan.”

“Tetapi, tetapi,” suara gembala itu semakin tergagap, bukankah aku juga menggembala di ujung padesan. Aku berani menggembala di sekitar tempat ini, justru aku tahu, bahwa tempat ini pasti aman karena dekat dengan gardu peronda.”

“Tetapi kau kemarin menggembala di seberang bulak ini.”

“Pengalaman yang kemarinlah yang memaksa aku untuk
menggembala di sini.”

“Bohong! Bohong!” Pandan Wangi tiba-tiba berteriak. Tangannya masih menunjuk ke kejauhan dan mulutnya berkata, “Pergi, cepat, selagi kau masih mendapat kesempatan. Apabila kesempatan itu tidak ada lagi, maka sikap kami akan sangat berlainan. Mungkin kau dapat kami tangkap dan kami bawa kepada pimpinan pengawal tanah ini.”

“Jangan, jangan,” gembala itu kini berjongkok dan kemudian berdiri pada lututnya, “aku jangan ditangkap. Aku akan pulang kepada ayahku yang sudah tua.”

“Kalau kau akan pulang, cepat, pulanglah sekarang.”

“Baik. Baik. Aku akan pulang sekarang,” jawab gembala itu sambil tertatih-tatih berdiri. Selangkah-selangkah ia berjalan meninggalkan Pandan Wangi, menghampiri kambingnya yang sedang diikati. Namun tiba-tiba langkahnya tertegun, karena Pandan Wangi memanggilnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Pandan Wangi sedang berjongkok memungut serulingnya yang agaknya terjatuh.

Gupita terpaku sejenak di tempatnya. Sejak pertemuannya kemarin, ia masih belum sempat memandangi wajah gadis itu, seperti saat ia berjengkok mengambil serulingnya. Wajah yang tegang itu tiba-tiba menjadi tenang. Ketika gadis itu mengangkat wajahnya, memandanginya dengan seruling di tangangannya, tampaklah betapa wajah itu memancar seperti bintang pagi.

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia menyadari dirinya, maka tiba-tiba ia pun berjongkok sambil berkata, “Itu serulingku.”

Pandan Wangi mengangguk perlahan. Ia tidak tahu, pengaruh apakah yang telah mencengkamnya. Tiba-tiba ia tidak dapat membentak lagi seakan-akan terpesona oleh seruling yang telah didengar, betapa merdu suaranya.

“Marilah,” desis Pandan Wangi, kemudian sambil mengacungkan seruling itu.

Gupita menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia bergeser maju sambil menjawab, “Terima kasih.”

Ketika Gupita menerima serulingnya, terasa tangan Pandan Wangi itu bergelar. Dan seolah-olah getar itu telah merambat sepanjang tangannya menyentuh dadanya.

“Terima kasih,” sekali lagi Gupita berdesis, “sekarang perkenankanlah aku pergi.”

Pandan Wangi mengangguk kecil. Tetapi tanpa sesadarnya, ia berkata, “Kau pandai meniup seruling.”

“Aku belajar sejak kecil. Sejak aku dapat membedakan tinggi rendah nada.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

“Sekarang aku akan pulang,” berkata Gupita kemudian, “kalau kalian berubah pendirian, maka aku tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk pergi meninggalkan tempat ini.”

Sekali lagi Pandan Wangi mengangguk. Tetapi ia masih saja berdiam diri.

“Bukankah aku harus pergi?”

Terasa dada Pandan Wangi menjedi berdebar-debar. Sejenak ia terpukau dalam kebingungan. Sesaat ia seakan-akan telah kehilangan akal. Namun tiba-tiba kesadarannya seakan-akan telah melonjak kembali di dalam dadanya. Tiba-tiba pula ia menggeretakkan gigi. Dengan tangkasnya ia meloncat berdiri sambil membentak, “Pergi. Pergi. Cepat. Kau membuat aku muak dengan solah tingkahmu yang bodoh itu.”

Gupita terkejut, melihat sikap yang tiba-tiba saja berubah.
Tetapi sejenak kemudian ia menyadari keadaannya. Sekali ia membungkukkan kepalanya dalam-dalam sambil bergumam, “Terima kasih atas kesempatan ini. Aku akan pulang kepada ayahku, dan mengatakan bahwa aku telah bertemu dengan puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh, yang bernama Pandan Wangi. Aku telah diberinya kesempatan untuk meninggalkan tempat ini, meskipun dengan tidak sengaja aku telah memasuki daerah terlarang.”

“Jangan banyak bicara. Cepat pergi. Kau terlampau memuakkan bagiku. Setiap gembala yang malas seperti kau, tidak akan banyak berarti bagi tanah ini.”

Gupita masih ingin menjawab. Tetapi Pandan Wangi telah mendahului membentaknya, “Jangan bicara lagi. Pergi sebelum aku memanggil para pengawal untuk menangkapmu.”

Gupita mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia membungkukkan kepalanya, kemudian melangkah surut. Dengan ragu-ragu ia memutar tubuhnya dan berjalan menghampiri kambingnya yang sedang diikatnya. Dengan tergesa-gesa ia melepas tali yang mengikat kambing itu pada sebatang pohon perdu. Kemudian dilecutkannya cambuknya dan digiringnya kambing-kambing itu pergi.
Tetapi belum lagi sepuluh langkah, maka diletakkan ujung serulingnya di mulutnya. Sejenak kemudian terdengarlah sebuah lagu yang melengking tinggi, seperti jerit seorang gadis yang kegirangan menyambut kekasih dari medan perang. Kemudian suara seruling itu berderai seperti gelak tertawa yang renyah.

“Diam. Diam kau!” teriak Pandan Wangi tanpa sebab.

Suara seruling itu membuat jantungnya seakan-akan berhenti bergetar. Dengan serta merta dipungutnya sebutir batu dan dilemparkannya kuat-kuat ke arah Gupita yang masih meniup serulingnya sambil melangkah menjauh. Tetapi suara serulingnya itu segera terputus, ketika sebuah batu jatuh tepat di sampingnya.

Ketika ia berpaling dilihatnya Pandan Wangi berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Tetapi Gupita tidak berani lagi berkata sepatah kata pun. Bahkan kemudian langkahnya pun dipercepat meninggalkan tempat itu. Namun dikejauhan sekali lagi ia berpaling. Ketika ia masih melihat Pandan Wangi berdiri di tempatnya, maka tiba-tiba diangkatnya cambuknya tinggi-tinggi. Cambuk itu berputar di udara seperti baling-balinh. Sejenak kemudian terdengarlah cambuk itu seolah-olah meledak di udara.

Letupan cambuk itu serasa memecahkan dada Pandan Wangi. Semula ia telah dicengkam keheranan, bahwa gembala itu dapat meledakkan cambuk sekeras itu. Tetapi kemudian, sebagai seorang yang memiliki ilmu yang cukup, segera Pandan Wangi menyadari, bahwa letupan cambuk itu bukan sekedar letupan biasa. Terasa sebuah tenaga yang terlampau kuat lelah membantu menggerakkan tangannya dan meledakkan cambuk itu.

Terasa darahnya menjadi semakin cepat mengalir. Kini baru disadarinya, bahwa sorot mata yang lain pada gembala itu, sama sekali bukan sorot mata yang jujur tetapi dungu. Kini baru disadarinya, bahwa pada sorot mata itu memancar sebuah kekuatan yang luar biasa.

Sejenak Pandan Wangi terpaku di tempatnya. Ia merasa bahwa bukan gembala itulah yang dungu, tetapi betapa bodohnya dirinya sendiri. Tetapi gembala itu sudah jauh. Gembala itu sudah tidak dilihatnya lagi.

Yang kemudaan merambat di dadanya adalah dugaan yang kuat, bahwa sebenarnyalah gembala itu seorang petugas sandi yang dikirim oleh kakaknya, Sidanti. Berbareng dengan itu, maka segera ingatannya terbang kepada ayahnya. Malam nanti, saat purnama naik. Ayahnya akan menjumpai Ki Tambak Wedi di bawah Pucang Kembar.

Dada Pandan Wangi menjadi semakin berdebar-debar. Menoreh benar-benar sedang disaput oleh asap yang tebal. Gelap. Masa depan dari tanah perdikan ini sama sekali tidak dapat diduga-duga. Mungkin Menoreh akan tetap tegak berdiri setelah mengalami goncangan yang dahsyat, tetapi mungkin Menoreh akan menjadi abu, terbakar oleh api perselisihan di antara mereka sendiri.

Tetapi Pandan Wangi tidak dapat berbuat sesuatu. Semuanya telah meluncur menuju ke puncak peristiwa ini. Malam nanti, saat purnama naik. Ki Gede Menoreh akan berhadapan dengan Ki Tambak Wedi. Baru setelah itu Ki Gede Menoreh akan menentukan sikap. Tetapi bagaimana kalau ia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi? Apalagi melakukan perlawanan’. Bahkan menyaksikan apa yang terjadi kemudian pun sudah tidak mungkin lagi.

Dalam kegelisahan itu, Pandan Wangi mendengar suara langkah di belakangnya. Ketika ia berpaling dilihatnya seseorang mendekatinya. Seorang pemimpin pengawal yang tadi berada di rumahnya berbicara dengan ayahnya.

“Pandan Wangi,” katanya, “Ki Gede Menoreh memanggilmu. Kau harus pulang sekarang.”

“Kenapa”?

Orang itu menjadi heran. Keadaan sudah sedemikian panasnya dan Pandan Wangi masih bertanya mengapa. Namun ia menjawab juga, “Ayahmu ingin berbicara dengan kau.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Kemudian dianggukkannya kepalanya sambil berkata, “Baiklah. Aku akan segera pulang.”

Dengan langkah yang malas, Pandan Wangi meninggalkan tempat itu. Sekali-sekali ia masih berpaling ke arah Gupita menghilang di balik dedaunan. Aneh sekali kesannya tentang gembala itu. Ia menyangka, bahwa gembala itu seorang petugas sandi dari kakaknya. Mungkin ia termasuk salah seorang dari orang-orang liar yang kini berada di Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi meskipun demikian, perasaannya mendapat sentuhan yang lain dari orang-orang liar yang lelah dijumpainya, dan bahkan mencegat perjalanannya. Kesannya kepada Gupita mempunyai corak tersendiri. Sorot matanya dan tingkah lakunya.

“Seandainya ia salah seorang dari mereka yang membantu kakang Sidanti, maka orang ini pasti golongan yang lain dari orang-orang yang telah mencegatku kemarin,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya. Namun kemudian ia sekali lagi menggeretakkan giginya sambil berdesis, “Buat apa aku mempersoalkannya dari mana ia datang? Kalau benar-benar ia berpihak kepada Kakang Sidanti, maka orang itu pun harus disingkirkan. Ia hanya akan mengotori tanah ini dengan tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab,” Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia berdesis, “Ia harus dilenyapkan. Tak ada orang lain yang pantas mempersoalkan tanah ini, selain orang-orang Menoreh sendiri. Tidak seorang pun dari para pengawal yang telah mengenalnya. Gupita. Nama itu pun asing bagi para pengawal. Seandainya benar-benar ia anak Menoreh, pasti salah seorang dari para pengawal itu mengenalnya atau setidak-tidaknya mendengar namanya.”

Tiba-tiba Pandan Wangi mempercepat langkahnya. Tiba-tiba saja ia ingin segera bertemu dengan ayahnya dan menceriterakan tentang seorang gembala yang aneh yang telah dijumpainya dua hari berturut-turut.

Ketika Pandan Wangi masuk ke pringgitan, ayahnya masih duduk bersama beberapa orang. Ketika ia membuka pintu, dilihatnya ayahnya itu berpaling. Tetapi sinar mata ayahnya telah mengejutkan hati Pandan Wangi. Mata itu tampaknya terlampau dalam, dan terlampau suram.

Sejenak Pandan Wangi berdiri termangau-mangu, sehingga ayahnya menyapainya, “Darimana kau, Wangi?”

“Dari ujung jalan di mulud desa, Ayah.”

“Kemarilah, Wangi,” suara ayahnya datar, dalam nada yang dalam sekali, “duduklah.”

Pandan Wangi pun kemudian duduk di hadapan ayahnya. Sejenak ia menundukkan kepalanya sambil berdiam diri. Ia menunggu ajahnya mendahului bertanya kepadanya. Tetapi ternyata ayahnya tidak bertanya lagi. Yang didengarnya adalah keterangan ayahnya tentang pembicaraan yang telah dibicarakannya dengan para pemimpin tanah perdikan ini dan para pemimpin pengawal.

“Pandan Wangi,” berkata ayahnya, “kau sudah cukup dewasa. Kau tidak boleh tetap pada angan-angan seorang gadis kecil yang sedang bermain-main. Tanah perdikan ini sekarang sedang dibakar oleh suasana yang semakin panas. Setiap saat dapat meledak peristiwa-peristiwa yang tidak kita kehendaki. Dan kau tahu, bahwa nanti malam aku telah mengikat janji dengan Ki Tambak Wedi. Janji itu harus aku tepati. Aku harus datang ke bawah Pucang Kembar, untuk membuat perhitungan pribadi. Meskipun persoalan yang berkembang kini adalah persoalan antara Menoreh dan Pajang, yang menyangkut diri kakakmu, Sidanti, tetapi masalah pribadilah yang telah meledakkan hati kami masing-masing, sehingga kami telah melontarkan janji tanpa dapat kami kendalikan lagi.”

Ayahnya berhenti sejenak. Sesaat ia berdiam diri sambil memandangi anyaman tikar di bawah kakinya. Sejenak kemudian, suaranya yang datar terdengar lagi mengambang, “Pandan Wangi. Semuanya akan mungkin terjadi. Tentang tanah ini dan tentang diriku sendiri. Karena itu, aku minta kalian selalu bersiaga. Mungkin Sidanti dan Argajaya akan menggunakan kesempatan selagi aku berada di bawah Pucang Kembar bersama Ki Tambak Wedi. Karena itu, selagi aku pergi, Pandan Wangi, kau harus tetap berada di rumah ini untuk memegang segenap pimpinan, bersama para pemimpin pengawal. Kau dapat mendengar nasehat mereka. Kau pertimbangkan, kemudian kau dapat mengambil keputusan yang kau anggap baik. Lakukanlah menurut kata hatimu, Kau tidak perlu menunggu aku lagi. Juga seandainya malam nanti ayah tidak kembali.”

“Ayah,” suara Pandan Wangi terpotong di kerongkongan.

“Sudah aku katakan. Kau bukan anak-anak lagi. Kau bukan seorang gadis yang sedang menunggu kekasih merantau. Kau adalah seorang puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang telah sanggup membawa sepasang pedang di kedua lambungnya. Nah, hatimu harus sesuai dengan sikapmu, dengan pedangmu dan dengan kedudukanmu sebagai seorang pewaris satu-satunya Tanah Perdika Menoreh. Apakah kau mengerti?”

Sejenak Pandan Wangi tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun, Tetapi gelora di hatinya justru menjadi semakin keras melanda dinding jantung. Pesan ayahnya itu terdengar olehnya, seolah-olah ayahnya minta diri kepadanya, untuk tidak kembali lagi. Memang kemungkinan yang demikian itu dapat terjadi di dalam perang tanding. Salah seorang akan terbunuh. Dan siapakah yang akan tertunuh itu, tidak seorang pun yang tahu.

Argapati melihat kecemasan di hati puterinya. Tetapi hal itu adalah hal yang wajar sekali. Namun ia harus mencoba memberinya sedikit pengharapan. Katanya, “Pandan Wangi. Sudah berulang kali aku katakan. Aku tidak akan menyerahkan leherku sukarela. Aku akan berlahan. Aku tahu, siapakah orang yang bergelar Tambak Wedi itu, sehingga aku dapat menduga, apakah yang akan terjadi kemudian. Meskipun demikian, semuanya terserah kepada kekuasaan Yang Tunggal. Namun sejauh mungkin kita memang harus berusaha.”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Tetapi tidak sepatah kata pun yang diucapkannya.

“Hadapilah hari depanmu dengan dada tengadah, Wangi,” berkata ayahnya kemudian, “semuanya akan dapat kau atasi, apabila kau berusaha sungguh-sungguh sambil berdoa kepada Yang Maha Esa.” Ayahnya berhenti sejenak, lalu, “sekarang biarlah aku beristirahat. Aku akan mencoba mengumpulkan tenaga dan kekuatanku. Aku juga akan berdoa supaya aku mendapat perlindungan. Aku tidak akan berbuat seperti saat ini, mengumpulkan para pemimpin dan memberimu terlampau banyak pesan, seandainya keadaan tanah ini tidak sedang panas seperti ini. Seandainya janji itu tidak kami ucapkan dalam kemelutnya asap perpecahan di tanah perdikan ini, maka aku tidak akan memberitahukannya kepada siapa pun juga. Tetapi kali ini tidak mungkin, sebab keadaan akan berkembang di luar kemungkinan aku tangani sendiri selagi aku sedang berada di bawah Pucang Kembar. Itulah sebabnya aku berpesan kepadamu dan kepada para pemimpin tanah perdikan ini dan para pemimpin pengawal. Tetapi kau tidak perlu menjadi cemas. Kau harus bersikap benar-benar seperti seorang putera Kepala Tanah Perdikan. Kalau kau menjumpai goncangan-goncangan perasaan, dan kau tenggelam di dalamnya, maka seluruh tanah ini akan tenggelam pula. Karena itu, kau harus tetap tabah. Kau harus mampu menguasai perasaanmu, supaya kau dapat berbuat sebaik-baiknya demi tanah yang kita pertahankan ini.”

Pandan Wangi masih menundukkan kepalanya. Ia masih tetap diam. Namun ia berjanji di dalam hatinya, akan melakukan segala pesan ayahnya.

“Wangi,” berkata ayahnya, “kau jangan pergi lagi. Kau harus selalu berada di rumah, supaya kau melihat aku meninggalkan rumah ini.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Dengan mata yang basah, dipandanginya wajah ayahnya yang suram. Dan ia mendengar ayahnya berkata, “Jangan kau basahi pipimu dengan air mata. Itu adalah tingkah laku seorang gadis manja. Kau bukan seorang gadis manja, dan kau bukan seorang gadis cengeng. Kau adalah seorang gadis dengan sepasang pedang di lambungmu.”

Sekali lagi Pandan Wangi tertunduk dalam-dalam. Ia tidak dapat memandangi wajah ayahnya. Terasa getaran yang asing menyentuh dinding hatinya.

Pandan Wangi itu masih mendengar beberapa nasehat ayahnya, sehingga akhirnya ayahnya merasa cukup. Maka katanya kemudian, “Sudahlah. Tinggallah kau di sini bersama para pemimpin tanah ini. Aku akan pergi ke dalam bilikku.”

Gadis itu menganggukkan kepalanya. Diawasinya saja ketika ayahnya kemudian melangkah meninggalkan pertemuan itu. Terasa matanya menjadi panas dan pandangannya menjadi kabur. Ayahnya seolah-olah melangkahkan kakinya masuk ke dalam asap putih yang tebal. Semakin lama menjadi semakin suram. Sehingga pada suatu saat ayahnya itu seolah-olah hilang dari pandangan matanya, tepat pada saat ayahnya melangkahi pintu, masuk ke ruang dalam.

Bersamaan dengan itu, terasa setitik air jatuh di pangkuannya. Baru disadarinya, bahwa air matanyalah yang telah menghalangi pandangannya. Bukan kabut yang putih dan bukan asap yang menelan tubuh ayahnya.

Dengan lengan bajunya, Pandan Wangi mengusap air matanya. Tetapi ketika kemudian disadarinya dirinya, di mana ia sedang berada, maka ia mencoba berjuang sekuat-kuatnya untuk tidak menangis.

Disekitarnya duduk beberapa orang pemimpin tanah perdikan dan pemimpin pengawal yang terpenting. Namun tidak seorangpun yang berbicara. Mereka tenggelam dalam kediaman, Masing-masing menundukkan kepala mereka.

Namun dengan-demikian, dada Pandan Wangi menjadi sesak. Kediaman itu terasa terlampau tegang menghimpit dadanya. Karena itu, maka ingin ia pergi meninggalkan ruangan itu, dan berjalan di luar untuk melepaskan diri dari kepengapan udara yang menyesikkan nafasnya.

Pandan Wangi menarik nafasnya dalam-dalam sambil mengedarkan pandangan matanya di sekitarnya. Dilihatnya beberapa orang tua duduk termenung. Beberapa orang pengawal dengan pedang di lambung. Seorang yang bertubuh raksasa, masih muda duduk tepekur. Bahkan agak mengantuk. Ketegangan suasana di pringgitan itu, seolah-olah sama sekadi tidak mempengaruhinya.

“Hem,” Pandan Wangi berdesah. Ia kenal anak muda yang bertubuh raksasa itu. Ia adalah seorang pemimpin pengawai yang mendapat kepercayaan dari ayahnya, dan dari pempinan-pimpinaa pengawal yang lain, karena ketrampilannya bermain senjata dan karena kekuatannya yang luar biasa. Tubuhnya yang tinggi besar, berdada bidang, memberi kesan yang meyakinkan, bahwa anak muda yang bernama Wrahasta itu adalah seorang pengawal yang baik.

Pandan Wangi yang dadanya menjadi semakin sesak itu, tiba-tiba bergumam, tidak ditujukan kepada siapapun, “Aku akan keluar sebentar. Aku akan berada di halaman.”

Anak muda yang bernama Wrahasta itu memandanginya. Kemudian katanya, “Jangan Pandan Wangi. Kau harus tetap berada di ruangan, ini seperti pesan Ki Gede Menoreh. Setiap saat semua persoalan akan dibicarakan di sini. Selama Ki Gede tidak ada, maka kaulah yang harus mengambil keputusan. Aku telah mendapat kepercayaan untuk melindungimu, dalam keadaan yang bagaimanapun juga, bersama beberapa orang pengawal yang lain.”

Dada Pandan Wangi berdesir. Agaknya ayahnya telah membuat persiapan yang matang, untuk menahannya supaya ia tidak pergi keluar padukuhan ini. Bahkan keluar halaman ini. Mungkin ayahnya benar-benar menghendaki agar ia tetap berada di rumah ini untuk memimpin perlawanan, apabila keadaan tiba-tiba saja memburuk selama ayahnya berada di bawah Pucang-Kembar. Tetapi mungkin pula ayahnya sama sekali tidak menghendaki, apabila pergi juga melihat apa yang terjadi di tempat yang telah di janjikan oleh ayahnya dan Ki Tambak Wedi itu.

Karena itu, sejenak Pandan Wangi berdiam diri. Ditatapnya wajah anak muda yang bertubuh raksasa itu. Tubuhnya memang meyakinkan, bahwa ia adalah seorang pengawal yang baik.

Tetapi untuk tetap berada di dalam ruangan itu, Pandan Wangi sama sekali tidak akan dapat betah. Terasa ruangan itu terlampau panas dan sesak. Meskipun sebenarnya bahwa dadanyalah yang terasa pepat.

“Aku akan keluar sebentar,” tiba-tiba Pandan Wangi mengulangi. Seolah-olah ia tidak mendengar kata-kata Wrahasta.

“Jangan,” Wrahasta pun mencegahnya pula, “kau tetap tinggal di sini seperti pesan ayahmu.”

“Ya, aku tidak akan pergi. Tetapi aku tidak tahan berada di dalam ruangan yang panas ini. Aku tidak akan keluar dari halaman ini, apabila memang Ayah menghendakinya. Setiap saat aku dapat dipanggil dan berbicara apa saja di dalam ruangan ini.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Sesaat ia berpaling kepada beberapa orang tua yang berada di dalam ruangan itu. “Bagaimanakah pertimbangan kalian?”

Seorang yang berjanggut putih berkata, “Apabila Angger Pandan Wangi tidak meninggalkan halaman, aku kira Ki Gede Menoreh pun tidak akan berkeberatan. Sebab setiap saat ada perkembangan keadaan Angger Pandan Wangi akan dapat diberitahukannya untuk membuat pertimbangan dan kemudian keputusan apa yang harus dilakukan.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah Pandan Wangi. Tetapi jangan keluar dari regol halaman. Selain itu, aku harus mengawasimu sesuai dengan kepercayaan Ki Gede Menoreh kepadaku.”

Tetapi Pandan Wangi menggelengkan kepalanya, “Tidak usah Wrahasta. Aku tidak akan disergap oleh musuh di dalam halaman ini. Seandainya, ya seandainya demikian, aku akan berteriak memanggilmu.”

“Tetapi aku harus melakukan pesan Ki Gede, Pandan Wangi. Aku harus mengawalmu disetiap keadaan.”

“Sudah tentu maksud Ayah, apabila aku berada di dalam bahaya. Tidak di halaman rumahku sendiri.”

Sekali lagi Wrahasta memandang berkeliling. Dan sekali lagi orang berjanggut putih itu berkata, “Pandan Wangi benar, Wrahasta. Ia memerlukan pengawalan hanya apabila keadaan sangat berbahaya baginya. Tidak di setiap keadaan seperti yang kau katakan, apalagi selama ia berada di halaman rumah ini.”

Wrahasta sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata, “Baiklah, tetapi jangan keluar dari halaman mi. Setiap petugas di regol halaman telah mendapat perintah itu.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian, ia merasa tidak lebih dari seorang tahanan daripada seorang wakil Kepala Tanah Perdikan, selagi ayahnya berhalangan melakukan tugasnya. Tetapi dengan demikian, dugaannya menjadi semal kuat, bahwa yang penting bagi ayahnya, bukan masalah pemecahan setiap masalah yang berkembang apabila ia harus tetap berada di rumah ini, tetapi supaya ia tidak pergi ke Pucang Kembar melihat pertempuran itu.

Sesaat kemudian, Pandan Wangi itupun meninggalkan ruangan yang dirasanya terlampau panas itu. Ketika kakinya melangh turun ke halaman, terasa udara yang sejuk menyusup ke dalam tubuhnya. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka dilihat matahari telah condong ke Barat.

Tiba-tiba saja dadanya berdebar kembali. Saat purnama tidak akan terlalu lama lagi. Begitu matahari tenggelam, maka datanglah saat yang mendebarkan jantung itu.

Dalam kegelisahannya, Pandan Wangi berjalan menyusuri sudut-sudut rumahnya. Ketika ia sampai di muka pintu dapur, dilihatnya beberapa orang perempuan lagi sibuk menyiapkan makan, lebih-sibuk dari hari-hari biasa.

Pandan Wangi terkejut, ketika seorang perempuan setengah umur menegurnya, “Kau belum makan, Wangi.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak merasa lapar. Karena itu, maka jawabnya, “Aku tidak makan.”

“Makanlah, supaya kau menjadi segar.”

Pandan Wangi menggeleng. Langkahnya kemudian diteruskannya menuju ke halaman belakang. Menyusup di antara tanaman di kebun. Pohon buah-buahan dan batang-batang perdu yang rimbun. Namun di halaman belakang itupun dilihatnya beberapa orang sedang berjaga-jaga di depan regol-regol butulan.

Panas udara telah membawa Pandan Wangi duduk di bawah sebatang pohon yang rimbun. Terasa angin yang sejuk mengusap tubuhnya yeng penat.

Tiba-tiba Pandan Wangi itu mengangkat kepalanya. Lamat-lamat ia mendengar suara seruling mengalun lirih, seakan-akan menyusur sepanjang silirnya angin. Suara seruling yang menyentuh-nyentuh dinding hatinya. Ia tidak tahu, pengaruh apakah yang telah mencengkamnya. Tetapi suara seruling itu telah mendebarkan jantungnya.

Perlahan-lahan Pandan Wangi berdiri. Ditangkapnya suara seruling itu selengkapnya. Nadanya yang meninggi, kemudian perlahan-lahan menurun, seperti debar dada seorang gadis yang menunggu kedatangan kekasih.

Tetapi sejenak kemudian, Pandan Wangi itu terkejut, ketika ia mendengar suara gemersik di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Wrahasta yang bertubuh raksasa itu telah berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Sejenak mereka saling memandang, namun sejenak kemudian, Pandan Wangi melemparkan tatapan matanya ke kejauhan, sambil bertanya, “Apakah Ayah memanggil aku?”

Perlahan-lahan anak muda yang bertubuh raksasa dan bernama Wrahasta itu menggelengkan kepalanya. Namun tatapan matanya masih saja melekat pada wajah Pandan Wangi, sehingga Pandan Wangi pun kemudian terpaksa menundukkan kepalanya.

“Tidak, Wangi,” jawab Wrahasta itu kemudian.

“Ayahmu tidak memanggilmu.”

“Kenapa kau menyusul aku? Apakah ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan?”

Wrahasta tampak ragu-ragu. Tanpa sesadarnya dilayangkannya pandangan matanya ke sekelilingnya. Namun ia tidak segera menjawab. Wajahnya tampak berkerut-merut, dan di keningnya mengembun beberapa titik keringat.

Pandan Wangi menjadi heran melihat sikap Wrahasta itu. Ia kenal betul kepadanya, karena anak muda itu terlampau sering berada di rumahnya. Sebagai seorang pengawal yang mendapat kepercayaan melampaui orang lain, maka setiap kali Wrahasta mendapat tugas-tugas dari ayahnya, sehingga dengan demikian, anak muda yang bertubuh raksasa itu sering benar berada di antara keluarganya. Tetapi ia tidak pernah melihat sikap yang begitu aneh dan kaku.

“Pandan Wangi,” berkata Wrahasta kemudian dengan suara gemetar, “memang ada hal yang harus kita bicarakan.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Maka jawabnya, “Baiklah. Aku akan segera kembali.”

“Tidak Wangi, Tidak. Aku tidak akan membicarakannya dengan orang lain, selain dengan kau sendiri.”

Pandan Wangi menjadi semakin heran. Apalagi ketika ia melihat keringat yang semakin banyak mengalir di kening Wrahasta yang tinggi besar dan berdada bidang itu.

“Kenapa tidak dengan orang lain?” bertanya Pandan
Wangi.

“Persoalan ini sama sekali bukan persoalan orang lain, Wangi. Tetapi persoalan ini adalah persoalan kita berdua. Hanya kita berdua.”

“Aku tidak mengerti,” desis Pandan Wangi kemudian, “aku tidak mempunyai persoalan dengan kau, Wrahasta.

“Mungkin. Mungkin kau merasa bahwa kau tidak mempunyai persoalan dengan aku. Tetapi aku lain, Wangi. Aku merasa mempunyai persoalan dengan kau,” Wrahasta berhenti sejenak. Wayahnya kini menjadi tegang dan nafasnya menjadi terengah-engah. Sejenak kemudian dilanjutkannya, “Persoalan ini tidak langsung menyangkut keadaan tanah perdikan di masa yang menegangkan ini. Tetapi mau tidak mau, persoalan ini akan sangat berpengaruh.”

“Apakah persoalan yang kau maksud itu?” bertanya Pandan Wangi.
“Wangi. Aku tidak tahu, kenapa ayahmu menyerahkan rumah ini dalam perlindunganku. Di tanah perdikan ini ada beberapa orang yang mendapat kepercayaan dari ayahmu selain aku. Tetapi Ki Gede justru menyerahkannya kepadaku.” Wrahasta itu berhenti sejenak, lalu, “Dan penyerahan itu telah membuat jantungku berdebar-debar. Sudah lama aku mengenal kau, Wangi. Tetapi aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk berbicara. Dan aku memang tidak sering berbicara. Namun dalam kediaman itu, aku telah menyimpan sesuatu di dalam hatiku Wangi. Apakah kau dapat menangkap maksudku?”

Kini terasa jantung Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Dalam keadaan serupa ini, ia mendengar persoalan yang lain sekali dengan persoalan yang selama ini membuat darahnya serasa bergolak. Sebagai seorang gadis yang lelah meningkat dewasa, Pandan Wangi segera dapat menangkap maksud Wrahasta. Tetapi sebagai seorang gadis yang belum pernah mendengar kata-kata serupa itu, maka bajunya telah dibasahi oleh keringat dingin, yang seolah-olah mengalir dari setiap lubang di kulitnya.

“Pandan Wangi,” Wrahasta berkata seterusnya, aku ingin mendengar tanggapanmu tentang perasaanku. Perasaanku sebagai seorang laki-laki terhadap seorang gadis. Aku mempunyai tangkapan, bahwa ayahmu sengaja mempertemukan kita di dalam keadaan yang sulit ini. Aku tahu benar, bahwa apa yang dipikirkannya semata-mata diperuntukkannya bagi tanah perdikan ini. Aku kira hal inipun telah dihubungkannya dengan kepentingan itu pula. Supaya aku selalu dapat melindungimu, tidak hanya sekedar di saat-saat yang kemelut ini, maka aku harap kau dapat menerimainya.”

Debar jantung Pandan Wangi menjadi semakin cepat berdentang, seolah-olah menggelepar di dalam dadanya. Sesaat ia tidak dapat mengucapkan kata-kata. Ia membeku, seperti sebatang tonggak mati. Namun keringatnya mengalir seperti terperas dari dalam tubuhnya.

“Aku ingin mendengar jawabmu, Wangi.”

Pandan Wangi masih belum mampu menjawab. Bahkan kemudian kepalanya menjadi semakin menunduk.

“Wangi. Jawablah, supaya aku dapat berbuat apa saja untukmu, dan untuk tanah perdikan ini. Hidup matiku akan aku serahkan sepenuhnya untuk kepentinganmu dan kepentingan tanah ini. Seandainya aku mati sebelum aku dapat memenuhi keinginan ini, tetapi apabila aku sudah mendengar kesanggupanmu, aku akan rela. Aku merasa bahwa aku berkorban untuk sesuatu yang paling berharga bagiku. Kau dan tanah ini.”

Terasa kini tubuh Pandan Wangi menjadi gemetar. Ia tidak menduga sama sekali, bahwa ia akan di hadapkan pada persoalan ini begitu tiba-tiba. Justru pada saat hatinya dicengkam oleh kegelisahan dan kecemasan tentang nasib ayahnya sebentar lagi. Sebentar lagi, apabila matahari tenggelam dan purnama naik. Pada saat itulah, akan terjadi suatu peristiwa yang dahsyat bagi keluarganya.

“Jawablah Wangi,” desak Wrahasta, “aku ingin mendengarnya, meskipun aku sudah dapat menduga sebelumnya. Kau pasti tidak akan ingkar dari keinginan ayabmu. Ingat, bahwa kau telah diserahkan kepadaku.”

Pandan Wangi kini menjadi semakin bingung. Persoalan yang begitu tiba-tiba di hadapkan kepadanya, menambah hatinya menjadi semakin pepat.

“Jawablah. Jawablah Wangi, meskipun hanya sepatah kata.”

Tubuh Pandan Wangi menjadi semakin gemetar mendengar desakan itu. Namun ia sadar, bahwa ia harus menjawab. Karena itu, maka setelah berjuang sejenak ia menjawab, “Tunggulah Wrahasta. Kita sedang menghadapi bahaya yang besar.”

Pandan Wangi menjadi semakin berdebar-debar melihat wajah Wrahasta menegang. Tampaklah kekecewaan yang sangat, memancar dari sepasang matanya, Sejenak ia berdiri mematung. Dipandanginya Pandan Wangi, seolah-olah hendak dilihatnya langsung ke dalam hatinya.

Sejenak keduanya terdiam. Terasa angin yang sejuk mengalir menyentuh dedaunan. Namun keduanya sama sekali tidak mengacuhkannya.

Baru ketika Wrahasta telah sempat mengatur perasaannya, maka terdengar ia berkata, “Pandan Wangi. Jangan membuat aku kecewa. Sebentar lagi aku harus menghadapi pekerjaan yang terlampau berat. Karena itu, berilah aku kekuatan, supaya aku tidak ragu-ragu mengangkat senjata. Aku tidak tahu, sampai di mana kemampuan Sidanti kini bermain dengan senjata. Tetapi apabila mungkin, aku akan mencobanya. Untuk kepentinganmu dan kepentingan tanah ini, mudah-mudahan aku dapat menghancurkannya.”

Dada Pandan Wangi berdesir mendengarnya. Ia tahu benar, betapa besar kemampuan kakaknya Sidanti dalam olah kanuragan. Dan ia dapat pula mengira-kirakan, sampai di mana kemampuan Wrahasta itu.

Tetapi Pandan Wangi sama sekali tidak menyatakannya. Ia tidak ingin mengecewakan Wrahasta dalam menilai diri. Tetapi sudah tentu ia tidak akan segera dapat menjawab pertanyaannya itu.

“Berjanjilah Wangi. Aku tidak terikat dan mengikatkan diri kepada waktu. Seandainya kau masih ingin hidup sebagai seorang gadis setahun, dua tahun, bahkan sepuluh tahun sekalipun. Aku akan tetap menunggumu. Yang ingin aku dengar sekarang adalah janji kesanggupanmu untuk hidup bersamaku kelak, seperti yang diharapkan oleh ayahmu.”

Wajah Pandan Wangi menjadi kemerah-merahan. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk, Perlahan-lahan ia menjawab, “Wrahasta, aku tidak akan dapat memutuskannya sendiri. Aku harus berbicara dengan Ayah lebih dahulu.”

“Wangi,” sahut Wrahasta, “apakah kau masih meragukan keinginan ayahmu? Kau harus tanggap akan sasmita yang telah diberikan. Dalam keadaan yang kalut ini, kau diserahkan kepadaku. Kepada perlindunganku, justru pada saat Ki Gede akan melakukan suatu pekerjaan yang sangat berbahaya.”

“Tetapi Ayah belum pernah mengatakannya kepadaku. Sama sekali belum. Bahkan menyinggung mengenai masalah itupun belum, yang selalu dikatakannya setiap hari adalah keadaan yang panas ini, yang setiap saat dapat membakar Tanah Perdikan Menoreh menjadi abu.”

“Justru saat ini adalah saat yang paling tepat bagi Ki Argapati untuk menyatakan keinginannya itu. Kita tidak menginginkan sesuatu terjadi atasnya, Wangi. Tetapi agaknya Ki Argapati sendiri tidak ingin kau kehilangan akal apabila terjadi sesuatu. Kau sudah di sandarkan pada sandaran yang dikehendaki. Dan aku akan mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya.”

“Berilah aku kesempatan berpikir, Wrahasta.”

“Waktunya telah datang sekarang. Sebentar lagi Ki Argapati akan pergi ke bawah Pucang Kembar itu.”

Pandan Wangi menjadi semakin terdesak. Ia sadar, bahwa Wrahasta adalah seorang pemimpin pasukan pengawal tanah perdikan yang berpengaruh. Terutama atas anak-anak mudanya. Saat ini sebagian dan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh telah dipengaruhi olen Sidanti, dan memihak kepadanya. Apabila Wrahasta ini menjadi kecewa, dan meninggalkan ayahnya, maka kekuatan ayahnya pasti akan menjadi semakin jauh berkurang. Sedang agaknya Sidanti sama sekali tidak lagi mengingat tanggung jawabnya atas tanah ini dengan mengundang orang-orang yang sama sekali tidak dikenal, untuk ikut serta mengeruhkan keadaan di Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam keragu-raguan yang mencengkam itu, lamat-lamat Pandan Wangi mendengar suara seruling di kejauhan. Melonjak, memekik tinggi, kemudian hilang dibawa angin dari Selatan. Sejenak kemudian, suara itu melengking dan menjerit.

Suara seruling itu seolah-olah seperti suara yang menggelora di dalam dadanya sendiri. Menjerit, kemudian pepat dan sama sekali kehilangan arah.

Karena Pandan Wangi masih juga membisu, maka terdengar Wrahasta mendesaknya, “Kenapa kau diam saja, Wangi? Matahari semakin lama menjadi semakin rendah. Kita akan kehabisan waktu.”

“Tidak. Kita tidak akan kehabisan waktu. Waktu masih terlampau panjang.”

“Wangi,” Wrahasta melangkah setapak maju. Dan tanpa disadarinya Pandan Wangi pun surut setapak.

“Aku ingin mendengar jawabmu sekarang.”

Pandan Wangi menjadi semakin bingung. Ingin ia berteriak keras-keras seperti suara seruling yang memekik-mekik di kejauhan. Ia kini benar-bener terdorong ke sudut yang paling sulit. Ia harus memilih. Sedang pilihan itu semuanya tidak menyenangkannya. Ia tidak dapat menolak dan mengecewakan Wrahasta. Tetapi ia masih belum sempat membuat pertimbangan-pertimbangan untuk menerima pernyataan itu. Ia masih belum sempat menjajagi hatinya, apakah ia dapat membuka perasaannya untuk anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Kesulitan itu telah membuat kepala Pandan Wangi menjadi pening. Apalagi ketika ia melihat matahari sudah menjadi semakin rendah. Hampir-hampir ia menangis seperti anak-anak yang kehilangan permainan.

(BERSAMBUMG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 Oktober 2008 at 07:13  Comments (18)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-35/trackback/

RSS feed for comments on this post.

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tinggal tunggu file kamin sun nya,..

  2. sampai sore ini belum ada perkembangan hihihi22xxx….. ditunggu dengan sabar …

  3. Poro Rawuh Sedoyo…
    silakan diunduh di halaman dua, Mas D2 sudah taruh file buku 35.dejavu dari tadi kok

    Buku 35.doc nya juga sudah dipaketkan ke mas D2.

  4. Matur Suwun Mas Jebeng

  5. wah sido muncul 35ne, usul yen iso rodo esuk metune, nuwun

  6. aku masih awam sama DJVU, tolong dong rekan2 bisa ajarin gimana cara donlodnya biar bisa baca file pdf.
    matur nuwun..

  7. Urun retype sd halaman 43. Dikirim ke Mas DD.

  8. Mas Bayu,
    harap baca box komentar di buku 19, ya terpaksa harus di baca komentar satu per satu ya…cara download dan baca format djvu.
    untuk program silahkan download di halaman download (di atas Ejaan “EYD”).
    Mudah-mudahan berhasil

  9. Mana nih file adbm-jilid-035.djvu? Udah semua halaman aku buka ternyata enggak ada juga. Minta donk…udah terlanjur ngumpulin adbm dalam bentuk djvu…asik..seperti baca buku aslinya.

  10. […] 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  11. gandok-35…….akhirnye cantrik sampe jua masuk siNI,

    • “SUGENG DALU KADANG PADEPOKAN ADBM”

      • “sugeng dalu kadang kala”

        • kadang sugeng kala dalu

          • kadang2 kala dalu sugeng 😀

            • khusus ki kartu wayahe kudu su+geng_pen+dowo

              • ..dowo-ne sakpiro Ki Addus ? 😀

                • mbok menawi tergantung permintaan ki kartu mawon.
                  mbok menawi lho ki 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: