Buku 33

DADA kedua laki-laki itu berdesis tajam. Sejenak mereka merasa terjebak dalam suatu keputusan yang tidak mereka kehendaki sehingga hati mereka melonjak. Tetapi ketika terpandang oleh mereka tubuh Rara Wulan yang terbujur di tanah itu, maka mereka, menjadi ragu-ragu. Karena itu mereka masih berdiri saja tanpa bergeser setapak pun.

Perempuan tua itu terdiam sejenak. Namun tiba-tiba ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata, ”Terima kasih. Terima kasih, bahwa kalian berdua telah mengambil keputusan yang bijaksana. Ternyata betapa kerasnya hati kalian, namun kalian adalah manusia yang berperasaan. Kalian masih mempunyai kesadaran diri dalam kemanusiaan kalian yang utuh. Ternyata kalian benar-benar telah mengambil keputusan, bahwa persoalan kalian telah selesai sampai disini.”

Sesuatu menggelepar di dalam dada kedua laki-laki itu. Tetapi tidak sesuatu yang mereka lakukan. Mereka kemudian mendengar perempuan itu berkata, “Kalian adalah laki-laki jantan, yang menghadapi maut dengan dada tengadah, apabila kalian telah mengucapkannya dengan lidah kalian, bahwa kalian bertekad untuk saling membunuh. Tetapi keputusan kalian kini adalah jauh lebih berharga. Kalian tidak mengucapkannya dengan lidah kalian, tetapi kalian mengucapkannya di dalam hati. Janji di dalam diri bagi laki-laki tidak akan berubah lagi, seperti janji di dalam hati kalian saat ini. Menurut pendapatku kalian tidak perlu merasa tersinggung kejantanan kalian, karena ternyata kalian telah berbuat kejantanan yang jauh lebih berharga bagi kemanusiaan dari pada saling berbunuh-bunuhan tanpa arti.”

Kedua laki-laki itu seolah-olah telah terikat oleh suatu pesona tanpa dapat mereka atasi. Mereka seolah-olah tidak mampu melawan kata-kata perempuan tua yang berdiri di sisi tubuh Rara Wulan yang terkapar di atas tanah.

“Baiklah. Aku menghargai keputusan kalian. Semua persoalan telah selesai. Semua persoalan yang telah terjadi harus dilupakan. Aku tahu, bahwa persoalan itu sendiri memang tidak dapat berhenti, sebab anak di dalam kandnngan itu akan menjadi besar dan akan lahir. Kelahiran anak itu adalah kelanjutan dan persoalan yang telah terjadi. Tetapi aku mengharap bahwa kalian terikat oleh putusan jantan kalian yang baru saja kalian ucapkan di dalam hati, bahwa kalian menganggap semua persoalan telah selesai. Kalian harus mempunyai jiwa besar menghadapi kenyataan ini. Kenyataan yang tidak akan terhapus, meskipun disiram dengan darah dan dipertaruhkan dengan tiga buah nyawa.”

Bibi Arya Teja berhenti sejenak. Dipandanginya kedua laki-laki yang berdiri tegak itu berganti-ganti. Dibiarkannya kedua laki-laki itu sejenak memandang ke dalam hati masing-masing.

Sekali lagi suasana di bawah Pucang Kembar itu dicengkam oleh kesenyapan. Tetapi wajah-wajah yang tegang itu masih juga tegang. Senjata-senjata di dalam genggaman itu masih juga tercengkam kuat-kuat.

Namun hati mereka, kedua laki-laki yang menggenggam senjata itu, ternyata sudah tidak sekeras batu akik. Terasa sesuatu menjalari urat nadi mereka. Semakin lama semakin tebal tergores di dinding hati.

Penyesalan.

Mereka tidak tahu benar, apakah yang mereka sesalkan sebenarnya. Tetapi mereka kini melihat, bahwa sebaiknya apa yang terjadi itu tidak pernah mereka lakukan. Paguhan yang keras hati dan keras kepala, lambat-laun melihat, bahwa akibat dari perbuatannya sama sekali tidak diduga-duganya. Apalagi apabila dilihatnya tubuh Rara Wulan terbaring diam di atas rerumputan.

“Aku dapat tidak mempedulikan apa yang terjadi atas diriku karena aku memang tidak pernah memperhitungkannya, tetapi ternyata Rara Wulan mengalami goncangan perasaan terlampau berat,” desis Paguhan di dalam hatinya.

Sedang Arya Teja pun menyesal pula. Setelah ia mengikat gadis itu dalam pembicaraan, maka gadis itu ditinggalkannya terlampau lama sehingga hal yang sama sekali tidak diinginkannya itu terjadi. Seandainya ia tidak mengikat gadis itu dalam pembicaraan seperti yang telah dibicarakan oleh orang-orang tua mereka, maka tidak akan ada persoalan bagi Rara Wulan. Gadis itu dapat segera kawin dengan Paguhan. Tetapi semua itu telah terlanjur. Setitik noda telah melekat di tubuh Rara Wulan. Noda yang tidak akan terhapuskan sepanjang hidupnya.

“Apakah aku cukup kuat untuk dapat melupakannya?” pertanyaan itu membersit di dalam dada Arya Teja.

Kedua laki-laki itu terkejut ketika mereka mendengar perempuan tua yang berdiri disamping Rara Wulan itu berkata, “Kenapa kalian diam saja seperti sedang kehilangan akal?”

Sesaat Paguhan dan Arya Teja saling berpandangan. Tetapi sorot mata mereka sudah tidak lagi memancarkan api yang menyala di dalam dada mereka. Namun mereka masih tetap terbungkam.

”Apakah kalian tidak dapat berbicara sepatah kata pun?”

Masih tidak ada jawaban.

“Dika demikian, maka biarlah aku yang berbicara. Kalau kalian menolak, maka kalian harus segera menyatakannya.“ perempuan itu diam sebentar, lalu, “Persoalan kalian telah selesai. Rara Wulan adalah isteri Arya Teja. Anak di dalam kandungan ini anak Arya Teja.”

Terasa dada kedua laki-laki itu berguncang. Tetapi mereka tidak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka benar-benar seperti sedang dicengkam oleh sebuah pesona yang tidak dapat mereka atasi. Mereka masih berdiri diam ternganga-nganga ketika mereka mendengar perempuan tua itu berkata, “Semua persoalan yang pernah terjadi dianggap tidak pernah ada. Tetapi persoalan yang akan datang pun tidak boleh ada. Arya Teja harus menerima keputusan ini dengan jiwa besar, dan Angger Paguhan harus melepaskan semua kepentingan dengan Rara Wulan dengan jiwa yang besar pula.”

Kedua laki-laki itu berdiri saja tegak di tempatnya bagaikan patung batu. Diam. Hanya senjata-senjata mereka sajalah yang kemudian tertunduk lesu. Seperti hati-hati mereka yang menjadi lesu pula. Mereka seakan-akan tidak lagi mempunyai gairah apa pun untuk ikut serta menentukan hari depan mereka sendiri.

Dan kedua laki-laki itu menggerakkan kepalanya ketika mereka mendengar bibi Arya Teja itu berkata, ”Nah, Arya Teja dan Angger Paguhan. Kalian tidak menyanggah sepatah kata pun. Berarti kalian telah berjanji bahwa kata-kataku itu seakan-akan telah anger ucapkan berdua sebagai janji di dalam hati. Janji jantan yang tidak akan dapat diganggu gugat lagi.”

Kedua laki-laki itu masih membatu.

“Nah, kalau demikian, maka marilah kita kembali ke dalam persoalan yang wajar.” Perempuan tua itu berhenti sebentar, lalu, “Arya Teja. Kini kau harus menyadari, bahwa isterimu sedang pingsan di sini. Kau tidak boleh membiarkannya, supaya nyawanya dapat tertolong bersama nyawa yang sedang dikandungnya.”

Terasa perasaan Arya Teja tersentak. Sebersit penolakan menyentuh hatinya. Tetapi ia tidak pernah dapat mengucapkan penolakan itu.

“Kenapa kau diam saja?” bertanya bibinya. “Bawalah isterimu pulang. Tidak ada seorang pun yang tahu akan persoalan kalian. Pelayan-pelayan dirumahmu pun tidak mengetahuinya. Kalian berdua harus merahasiakan persoalan ini, untuk kepentingan anak yang masih berada di dalam kandungan itu, sebagai pemenuhan janji kalian.”

Sesaat mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Kedua laki-laki itu seakan-akan membeku di tempatnya.”

“He, kenapa kalianl diam saja? Arya Teja, berbuatlah sesuatu supaya isterimu selamat.”

Sebuah keragu-raguan yang tajam telah menggores dinding hati Arya Teja. Ia tahu, banwa keadaan Rara Wulan dapat membahayakannya. Tetapi terasa kakinya menjadi seberat timah untuk digerakkan.

“Arya Teja,” suara bibinya menjadi semakin keras, “kemarilah. Berbuatlah sesuatu, jangan mimpi.”

Sebuah pergolakan terjadi di dalam hati Arya Teja. Ia masih saja dicengkam oleh keraguan. Meskipun hatinya sudah mulai cair, namun ia masih belum dapat melepaskan diri dari kungkungan perasaannya. Ia tahu benar, bahwa perempuan itu telah bernoda. Ia tahu, dan ia tidak dapat menghapus pengetahuannya tentang itu.

Tetapi tiba-tiba dadanya tergetar ketika ia mendengar suara Paguhan lemah, tanpa diduga-duganya. “Arya Teja, apakah aku kau ijinkan melakukannya untukmu. Aku tidak ingin melihat Rara Wulan membeku di sini.”

Terasa sebuah singgungan yang tajam menyentuh jantung Arya Teja. Tiba-tiba ia menggeram. “Aku dapat melakukannya sendiri, Paguhan.”

“Maaf, bukan maksudku menyinggung perasaanmu. Aku ingin berbuat sesuatu. Aku menyesal bahwa hal yang serupa ini telah terjadi pada Rara Wulan.”

Sekali lagi dada Arya Teja tergetar. Tetapi ia mendapat kesan yang lain dari kata-kata Paguhan itu. Ia merasakan penyesalan yang jujur terpancar dari padanya. Sehingga justru karena itu sejenak ia mematung tanpa dapat menjawab kata-kata itu.

Namun segera ia seakan-akan terbangun dari mimpinya ketika ia mendengar kata-kata Paguhan, “Apakah kau mengijinkan Arya Teja? Mudah-mudahan Rara Wulan dapat diselamatkan.”

Arya Teja menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia adalah orang yang paling kecewa atas persoalan itu. Kecewa bahwa ia dihadapkan pada peristiwa yang tanpa pilihan. Maju tahu (takut?), mundur hancur.

Tetapi ia harus berbuat sesuatu. Ia harus menelan segala kepahitan yang dihadapinya. Kepahitan yang tidak akan dapat dihapuskannya. Yang dapat dilakukan adalah melupakannya. Melupakan sesuatu yang telah terjadi. Sebenarnya telah terjadi.

Perlahan-lahan Arya Teja melangkahkan kakinya, betapa ia harus menekan perasaanya. Ia harus menyentuh perempuan itu. Perempuan yang sudah bernoda.

Ketika ia berpaling, dilihatnya Paguhan masih berdiri tegak di tempatnya. Sorot matanya benar-benar membayangkan penyesalan. Tetapi Paguhan tidak mengalami akibat apa pun yang langsung menyertai hidupnya kemudian. Tidak setiap hari ia dihadapkan pada kekecewaan yang harus dilupakan. Ia cukup menyesali perbuatannya. Apabila penyesalan itu jujur, ia tidak akan mengulanginya. Tetapi bagaimana dengan noda yang telah melekat pada keluarganya? Pada isterinya yang setiap hari akan selalu membayanginya?

Terdengar Arya Teja menarik nafas. Dalam sekali, sedalam kepedihan yang menghunjam di hatinya.

Tetapi kali ini Arya Teja tidak dapat berbuat lain. Rara Wulan tidak akan dapat dibiarkannya begitu saja. Meskipun jauh di dasar hatinya kadang-kadang terbersit keinginan untuk membiarkan saja Rara Wulan itu mati, namun kemanusiaan yang melapisi pandangan hidupnya tidak membenarkannya. Karena itu betapa hatinya serasa seperti digores ujung senjata yang paling tajam, diangkatnya juga Rara Wulan itu dan dipapahnya pulang ke rumah. Meskipun demikian, di sepanjang jalan kadang-kadang timbul juga pertanyaan di dalam hatinya, “Kenapa aku harus mengalami peristiwa ini? Dosa apakah yang pernah aku lakukan atau dilakukan oleh keluargaku?”

Sebagai manusia maka peristiwa itu benar-benar telah mengguncangkan keseimbangannya. Pada saat-saat permulaan ia melangkahkan kakinya pada dunianya yang baru, setelah ditinggalkannya dunianya yang lama, ia harus mewarnai dunia kekeluargaannya itu dengan noda yang paling kotor. Dan ia tidak dapat melepaskannya.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang penuh dengan penderitaan. Rara Wulan tidak dapat melepaskan dirinya dari perasaan bersalah. Kadang-kadang masih meledak ungkapan-ungkapan penyesalannya yang tidak terkendali, sehingga hampir-hampir ia berbasil membunuh dirinya. Tetapi bibi Arya Teja dengan sabar selalu menasehatinya. Selalu memberinya petunjuk-petunjuk.

“Tetapi aku tidak akan dapat menahan penderitaan ini, Bibi,“ berkata Rara Wulan pada suatu saat. “Kandunganku selalu memberikan bayangan yang mengerikan. Kandungan yang selalu berada bersamaku ini, selalu mengatakan kepadaku, bahwa aku adalah manusia yang paling rendah di dunia. Aku mengharap, bahwa Kakang Arya Teja memberi aku hukuman yang paling berat. Membunuh aku atau apa pun yang diinginkannya. Tetapi dengan caranya, maka aku tidak akan dapat menanggungkannya. Hukuman ini jauh lebih berat dari hukuman apa pun juga. Tidak sepatasnya aku dimaafkannya. Dan maafnya adalah siksaan yang tidak tertanggungkan.”

Bibi Arya Teja mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya sareh, “Wulan, apakah kau benar-benar merasa bersalah.”

“Ya, Bibi, dan aku bersedia menerima hukumannya.”

“Kenapa kau masih juga merasa berkeberatan, Wulan. Hukumanmu telah ditentukan. Kau dimaafkan. Memang hukuman itu adalah hukuman yang paling berat bagimu. Tetapi kau rela menanggungkannya. Tidak sepantasnya kau mencari jalan yang paling dekat untuk menghindarinya. Mati. Tidak sepantasnya hukuman itu menyangkut bayi di dalam kandunganmu yang tidak ikut bersalah.”

“Tetapi kelahirannya yang tidak dikehendaki itu, buatnya tersiksa pula di sepanjang hidupnya kelak.”

Bibi Arya Teja menggelengkan kepalanya. “Tidak Wulan. Kalau kau menerima semuanya ini dengan ikhlas, Arya Teja pun melakukannya dengan ikhlas dan jujur, dan Paguhan menyesali perbuatannya sepenuh hati, maka tidak akan ada persoalan lagi di antara kalian. Kalian harus bersikap wajar, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan pada orang-orang lain yang tidak tahu persoalannya.”

Rara Wulan setiap kali hanya dapat menganggukkan kepalanya sambil menangis. Tetapi ia selalu bertanya-tanya, sampai di mana kesediaan Arya Teja untuk memaafkannya?

Hari-hari merayap melintasi pekan dan bulan. Saat-saat yang mendebarkan menjadi semakan dekat. Kelahiran bayi di dalam kandungan Rara Wulan.

Meskipun Arya Teja dan Rara Wulan, atas nasehat dan petunjuk yang terus-menerus dengan kesabaran hampir tanpa batas dari bibinya, berusaha berlaku dan berbuat wajar, namun mereka masih belum dapat menghapuskan tirai yang seakan-akan masih terbentang di antara mereka. Tirai yang harus mereka lupakan. Tetapi mereka menyadari, bahwa tirai itu pernah terbentang di antara mereka.

Ketika saat itu tiba, maka hampir-hampir perasaan Arya Teja meledak tanpa dapat dikendalikan. Tetapi setiap kali bibinya selalu membujuknya, menekan dan mengendalikannya dengan segala macam cara, agar Arya Teja dapat menerima kenyataan itu, meskipun perempuan tua itu sadar, betapa pahit hati Arya Teja yang masih muda itu. Sehingga akhirnya, Arya Teja tidak dapat menghindarkan diri. Menerima kelahiran anak Rara Wulan itu sebagai anaknya sendiri. Seorang anak laki-laki, yang diberinya nama Sidanti.

Kelahiran Sidanti mendapat sambutan yang hangat dari setiap orang di Menoreh. Mereka merasa ikut bergembira, bahwa Airya Teja telah mendapatkan, seorang putera. Mereka sama sekali tidak tahu, apakah yang sebenarnya tersimpan di dalam hati Arya Teja dan Rara Wulan. Hati yang sebenarnya telah retak dan sulit untuk dipertautkan kembali.

Meskipun demikian, betapa pahit perasaan mereka, mereka mencoba menerima segala cara tetangga-tetangga memberi selamat kepada mereka. Setiap malam pendapa rumahnya selalu dipenuhi oteh para tetangga yang baik, yang ingin ikut serta menyatakan kegembiraan hati.

Perempuan-perempuan sibuk membantu di dapur, menyelenggarakan jamuan untuk setiap malam. Sebagian yang lain menunggu bayi laki-laki itu berganti-ganti. Di pendapa terdengar setiap malam kidung kegembiraan dilagukan oleh setiap tamu berganti-ganti. Kidung kegembiraan menyambut kedatangan anak laki-laki Arya Teja. Kidung yang berisi doa agar bayi itu selamat untuk seterusnya, dijauhkan dari bahaya.

Namun ada juga tamu-tamu perenpuan yang berbisik di antara mereka, “Bayi ini lahir sebelum waktunya. Lihat tubuhnya tampak lemah sekali. Tetapi suara tangisnya terlampau kuat.”

Perempuan yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Ya, ibunya sakit-sakitan saja. Selama mengandung anak ini, hampir tidak pernah ia sempat melihat sinar matahari di luar bilik. Bahkan anak ini hampir-hampir membawa nyawa ibunya.”

“Ya,” desis yang lain. “Arya Teja belum genap sepuluh bulan kawin.”

Dan perempuan-perempuan itu bersepakat, bahwa kelahiran Sidanti agak terlampau cepat. Apalagi Sidanti tampak terlampau lemah pada saat lahirnya, karena selama ia di dalam kandungan, ibunya selalu dikejar oleh siksaan batin.

Namun di dalam pertumbuhannya, Sidanti menjadi anak laki-laki yang cukup kuat dan tangkas. Nakalnya bukan main. Kesehatannya berangsur menjadi baik. Bahkan anak itu seolah-olah tida pernah disinggahi penyakit.

Tetapi bagaimanapun juga, bayangan wajah Paguhan tercetak juga di wajah anak laki-laki itu. Bagaimanapun juga Arya Teja ingin melupakanya, tetapi setiap kali ia melihat Sidanti maka setiap kali ia selalu teringat, bahwa anak laki-laki itu mencerminkan darah yang menitik di dalam urat nadinya. Sehingga betapapun juga apa yang telah terjadi itu selalu membayangi siang dan malam.

Bibi Arya Teja yang menjadi semakin tua melihat kepedihan itu. Perempuan tua itu pun melihat, bahwa Sidanti benar-benar telah dilahirkan dalam ujud yang hampir serupa dengan Paguhan. Dan perempuan tua itu menyadari, betapa anak itu dapat menjadi pagar yang membatasi Arya Teja dan Rara Wulan sebagai suami isteri.

Karena itu maka perempuan tua itu mencoba untuk mencari jalan yang baik tanpa menimbulkan banyak persoalan. Maka diambilnya anak itu, dan dibawanya ke rumahnya.

“Anak itu sepantasnya berada di rumahku,“ berkata orang tua Arya Teja. “Biarlah kami setiap hari dapat mendukung cucu kami.”

“Ah,“ jawab bibi Arya Teja, “kalian tidak merasa kesepian di rumah. Kalian masih mempunyai kawan untuk bercakap. Tetapi aku tinggal seorang diri. Biarlah Sidanti tinggal bersamaku untuk beberapa tari.“

Tetapi yang dikatakan beberapa hari itu ternyata terlampau panjang. Hanya kadang-kadang saja Sidanti tinggal bersama ibunya, tetapi kemudian kembali kerumah neneknya ke rumah bibi Arya Teja.

Namun ternyata dengan demikian Sidanti menjadi manja. Bibi Arya Teja yang tahu benar tentang keadaan anak itu, terlampau menaruh belas kasihan, sehingga anak itu hampir tidak pernah dikecewakannya. Semua kehendaknya selalu diberinya, dan semua keinginannya selalu dipenuhinya.

Pengangkatan. Arya Teja menjadi Kepala Perdikan Menoreh, seperti yang telah dijanjikan, setelah ayahnya merasa terlampau lelah untuk memerintah, mempengaruhi kehidupan Sidanti pula. Ia merasa, bahwa ia adalah putera Kepala Tanah Perdikan yang besar. Ayahnya ternyata mempunyai kedudukan yang lebih besar dari kakek yang digantikannya. Kakeknya bukan seorang Kepala Tanah Perdikan, tetapi ayahnya selain mendapat wisuda menggantikan kakeknya, juga mendapat anugerah khusus.
Demikianlah anak laki-laki itu tumbuh menjadi anak yang semakin besar. Padanya tampak semakin jelas, kelebihan-kelebihannya dari anak anak sebayanya. Keberaniannya, kecerdasannya dan kecepatannya untuk menerima petunjuk-petunjuk tentang berbagai macam hal. Namun, kemanjaannya pun tumbuh sejalan dengan pertumbuhan badannya.

Anak itulah yang bernama Sidanti. Sidanti anak Rara Wula, dari keturunan seorang laki-laki yang bernama Paguhan, yang kemudian bergelar Ki Tambak Wedi.

Malam yang gelap menjadi semakin kelam. Angin yang silir bertiup menggoyangkan dedaunan. Lamat-lamat terdengar burung kedasih seolah-olah meneriakkan kepedihan hati.

Seleret bulan muda bertengger di langit yang hitam di antara bintang gemintang yang cerah. Desau angin malam menyapu wajah Tanah Perdikan Menoreh yang lelap dalam tidurnya.

Tetapi bergolaklah sepasang dada, yang telah mendengar ceritera tentang Arya Teja dan Paguhan. Sepasang dada anak muda yang merasa dirinya bersaudara seayah dan seibu. Namun ternyata hanya seibu saja, tetapi tidak seayah.

Sidanti sendiri mendengarkan ceritera itu dengan hati yang tegang. Melampaui ketegangan hatinya pada saat-saat ia menghadapi lawan di medan perang, atau menghadapi lawan bertanding di dalam perang tanding seorang lawan seorang. Sejenak hatinya terasa gelap. Namun kemudian terungkatlah perasaan yang meledak di dalam dadanya. Tiba-tiba ia meloncat berdiri. Dengan mata yang merah menyala ia menunjuk wajah gurunya dan sekaligus ayahnya. Dengan suara lantang ia berkata terputus-putus oleh gelora di dalam dadanya, “Kau, kau, kau menodai nama baik ibuku. Kau telah membuat aku menjadi orang yang paling terkutuk.“ Bibir Sidanti masih bergetar, tetapi kerongkongannya serasa telah tersumbat.

Selangkah daripadanya Argajaya duduk mematung. Sejenak ta tidak dapat berbuat apa pun juga selain berdesah. Dadanya terasa berdeburan seakan-akan ingin meledak, Arya Teja adalah kakaknya yang kemudian bernama Argapati bergelar Ki Gede Menoreh. Ternyata laki-laki yang bernama Paguhan dan kemudian bergelar Ki Tambak Wedi adalah seorang yang telah merusak perasaan kakaknya dan iparnya. Ia telah menaburkan benih yang akan tumbuh menjadi rerungkudan yang penuh dengan duri-duri yang tajam.

Tetapi Argajaya tidak dapat segera berbuat sesuatu. Diawasinya saja Sidanti yang berdiri beberapa langkah di hadapan gurunya dengan tubuh gemetar.

Ki Tambak Wedi masih duduk dengan tenang di tempatunya. Namun wajahnya tampak menjadi suram, sesuram hatinya. Dipandanginya wajah Sidanti yang menegang. Bibirnya yang bergerak, tetapi tidak sepatah kata pun yang dapat dikatakannya lagi.

“Duduklah, Sidanti,“ berkata Ki Tambak Wedi.

Sidanti masih berdiri. Matanya masih menyala. Dan bahkan ia berkata terbata-bata, “Itu, itulah sebabnya.” Tetapi kata-katanya terputus.

“Apakah yang disebabkan dan apakah yang menyebabkan,“ bertanya gurunya.

“Sekar Mirah,“ terlompat dari sela-sela bibir Sidanti.

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih saja duduk di tempatnya. Katanya, “Aku mengerti maksudmu Sidanti. Kau ingin mengatakan, bahwa segala macam kegagalanmu itu adalah akibat dari dosa-dosa yang pernah aku lakukan bersama ibumu.“ Ki Tambak Wedi berhenti sejenak, lalu, “Mungkin kau benar. Tetapi itu tidak mutlak. Sebenarnya aku menyesali apa yang telah terjadi. Penyesalan itu tidak sekedar terucapkan di antara bibirku. Tetapi penyesalan itu langsung menghunjam ke pusat jantung.” Sekali lagi Ki Tambak Wedi berhenti. Ditariknya nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Lalu dilanjutkannya, “Kau tahu Sidanti, bahwa untuk seterusnya aku tidak pernah dapat terpikat oleh perempuan. Perempuan yang bagaimanapun juga. Setiap kali aku teringat akan dosa dan noda yang pernah aku lekatkan di tubuh ibumu. Dan setiap kali aku dikejar oleh penyesalan. Aku mencoba melupakannya dengan cara apa pun. Dengan cara yang paling kotor sekalipun. Aku mencoba menganggap bahwa aku tidak pernah berdosa. Aku datangi perempuan-perempuan yang dengan sukarela menyerahkan dirinya. Tetapi setiap kali aku selalu melarikan diriku daripadanya karena perasaan bersalah itu tidak pernah dapat aku lupakan. Dan akhimya aku terdampar di padepokan Tambak Wedi. Aku mencoba menenteramkan diriku dengan cara yang lain. Aku menyibukkan diri dengan ilmuku, dengan segala macam kerja yang semula tidak berarti. Aku menjadi semakin gairah, ketika aku mendapat kesempatan menuntunmu karena bibi Arya Teja yang kemudian bernama Argapati itu menjadi semakin tua dan tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Ia menyarankan agar anak itu, tidak menimbulkan persoalan apa pun kelak. Tetapi agaknya keluarga Argapati tidak dapat menerimamu. Aku tahu bahwa Argapati berusaha untuk dapat menjadi seorang ayah yang baik. Tetapi perasaannya setiap kali terungkat. Akhirnya kami bersama-sama menemukan suatu cara. Kau tetap dianggap sebagai anak Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh dengan segala macam hak dan kuwajiban. Tetapi kau diserahkan kepadaku di padepokan Tambak Wedi sebagai seorang murid. Kami masing-masing berjanji bahwa tidak ada orang lain yang tahu kecuali kami berempat. Aku, ibumu, Argapati dan bibinya. Kini dua di antara mereka telah meninggal. Bibi Argapati dan ibumu.“

Wajah Sidanti masih membara semerah soga. Matanya memancarkan perasaan yang bergolak di dalam dirinya. Tubuhnya yang gemetar masih belum beranjak dari tempatnya.

“Duduklah, Sidanti.“

Sidanti masih tetap berdiri.

“Duduklah.”

Wajah Sidanti masih membara.

“Kita sudah terlibat dalam persoalan itu,“ berkata gurunya. “Argapati ingkar janji menurut penilaianku. Bagaimana penilaianmu, Sidanti?”

Sidanti tidak menjawab. Tanpa sesadarnya ia berpaling kepada pamannya yang masih duduk dengan tegangnya.
Sidanti merasakannya betapa dadanya menjadi pepat dan pikirannya menjadi gelap.

“Jangan menyalahkan aku lagi, Sidanti,“ berkata Ki Tambak Wedi masih dalam keadaannya. Tenang walaupun suram. “Aku sudah cukup tersiksa oleh kesalahanku itu. Seandainya ibumu masih ada, maka aku akan pasrah, apa pun yang akan kau lakukan seandainya kau merasa aku menjadi sumber bencana yang menimpa dirimu. Tetapi kini keadaannya sudah lain. Ibumu sudah tidak ada. Tidak ada lagi orang yang memberati perasaanku. Aku menjadi seakan-akan terbebas dari sebuah belenggu yang selama ini mengikatnya.

Sidanti masih membeku. Tetapi wajah Argajaya menjadi semakin tegang. Ia kini tahu benar persoalannya. Persoalan itu berpusar pada persoalan antara kakaknya Argapati dan Ki Tambak Wedi. Ia tidak dapat menyalahkan kakaknya Argapati apabila tidak segera menerima tawaran Ki Tambak Wedi untuk membantu Sidanti, madeg kraman melawan pemerintahan Pajang. Sedang Sidanti itu sama sekali tidak ada sentuhan darah dengan kakaknya itu.

Meskipun demikian Argapati tidak segera berbuat sesuatu. Ia tahu benar, siapakah Ki Tambak Wedi itu. Dan ia belum tahu, apakah yang akan terjadi dengan Sidanti.

Argajaya yang licik itu sengaja tidak segera menyatakan sikapnya, meskipun sikap itu telah ada di dalam dadanya. Ia menunggu apakah yang akan terjadi. Peristiwa apakah yang akan berkembang kemudian. Dengan demikian maka Argajaya masih juga tetap diam di tempatnya. Ditahankannya perasaannya, agar tidak meluap ke luar sehingga menimbulkan akibat yang tidak dikehendakinya.

Sidanti sendiri masih saja membeku di tempatnya. Seakan-akan anak muda itu telah kehilangan akalnya. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Darahnya yang meluap-luap tiba-tiba serasa berhenti mengalir. Yang berada di hadapannya itu adalah bukan sekedar gurunya, tetapi ia adalah ayahnya, meskipun karena perbuatannya ibunya menjadi tersiksa sepanjang hidupnya.

Dengan ceritera itu, maka barulah ia kini mengetahui sebabnya, kenapa kelakuan ibunya selama ini terasa terlampau berlebih-lebihan. Kesetiaannya, kesediaannya untuk melakukan apa saja sesuai dengan keinginan suaminya dan, betapa ia menghormati Argapati, meskipun Argapati sendiri sama sekali tidak menunjukkan keinginannya untuk berbuat sewenang-wenang. Ternyata kesediaan itu tidak tumbuh dari dasar hatinya, tetapi semuanya itu terdorong oleh suatu keinginan untuk menebus dosa dan hutang budi

Sejenak Sidanti mencoba membayangkan apa yang telah terjadi di dalam lingkungan keluarga Argapati. Namun bayangan itu semakin lama menjadi semakin kabur.

Lamat-lamat ia mencoba mengenali kembali Argapati, ibunya dan adiknya Pandan Wangi. Tetapi dalam gejolak perasaannya, ia tidak berhasil untuk meneropong sebaik-baiknya keadaan keluarga itu. Termasuk dirinya sendiri.

Sidanti terperanjat ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi berkata, “Duduklah, Sidanti.“

Sidanti masih mematung.

“Apakah kau masih tetap berpendapat bahwa aku telah berkhianat terhadap ibumu?”

Tidak ada jawaban.

“Seandainya benar demikian, apakah yang dapat kau lakukan sekarang? Argapati sudah menyatakan sikapnya. Ia tidak dapat melindungimu dari telunjuk orang-orang Pajang. Dan itu adalah wajar sekali, karena sejak semula Argapati tidak ikhlas menerima kau sebagai anaknya. Ia hanya menginginkan ibumu. Bukan kau.“

Terasa sebuah desir yang tajam tergores di dalam dadanya. Seandainya saat itu Argapati ada diruangan itu, maka ia pasti akan menunjuk kedua-duanya, Argapati dan Ki Tambak Wedi, sambil berteriak, “Kalian adalah pengkhianat-pengkhianat yang paling jahat.”

Tetapi yang didengarnya adalah suara Ki Tambak Wedi, “Duduklah, Sidanti. Buatlah pertimbangan-pertimbangan yang baik.”

Sidanti sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Otaknya serasa menjadi pepat, dan ia tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang dilakukan dan apa yang sebaiknya harus dilakukan.

Ternyata Ki Tambak Wedi membiarkannya saja dalam sikapnya itu. Perlahan-lahan ia berpaling kepada Argajaya sambil berkata, “Itulah yang sebenarnya telah terjadi atas diriku dan kakakmu Argapati. Sekarang terserah kepadamu, di mana kau akan berdiri. Tetapi kau harus ingat, bahwa kau bersama-sama kami telah terlibat dalam persoalan yang serupa. Melawan orang-orang Pajang. Sedang kakakmu Argapati sama sekali tidak ingin berbuat apa-apa. Baginya kedudukan ternyata jauh lebih penting dari apa pun juga. Dari adiknya sendiri dan dari seseorang yang telah diakuinya sebagai anaknya.”

Argajaya pun tidak segera menjawab. Ia masih berdiam diri sambil menunggu perkembangan dari keadaan Sidanti.

“Bagaimanakah pendapatmu?” bertanya Ki Tambak Wedi kemudian.

Argajaya masih juga berdiam diri, meskipun hatinya bergelora. Bagaimanapun juga Argapati adalah kakaknya. Meskipun dalam banyak persoalan ia tidak sependapat dengan kakaknnya, bahwa di dalam saat yang paling genting sekalipun kakaknya tidak bersedia melindunginya, tetapi Argapati adalah kakaknya.

Apabila di dalam persoalan ini ia harus memilih, maka ia harus membuat pertimbangan semasak-masaknya. Ternyata Sidanti sama sekali tidak ada persambungan darah dengan dirinya. Sidanti bukan putera Argapati.

Karena Argajaya juga tidak segera menjawab, maka Ki Tambak Wedi itu bergumam, “Memang keadaan, ini sama sekali pasti tidak pernah kalian duga-duga sebelumnya. Tetapi bagi kalian, terutama Sidanti, yang masih cukup muda, cobalah memandang ke hari depan. Jangan terpukau kepada masa lampau, betapapun indahnya, atau betapapun buruknya. Yang penting, bagaimanakah yang akan datang. Nah, apakah kau sudah mulai membuat pertimbangan-pertimbangan bagi masa datang?”

Tak ada jawaban.

“Sidanti,” berkata Tambak Wedi itu pula, “aku telah berbuat apa saja buat hari depan itu. Hari depanmu. Karena aku akan merasa ikut menikmati, apa yang akan kau dapatkan. Justru karena kau anakku. Aku mengharap bahwa Argapati pun akan berbuat demikian. Aku mengharap ia jujur menerima kau sebagai anaknya. Tetapi ternyata aku keliru. Argapati sama sekali tidak bersungguh-sungguh. Ia memberikan kau kepadaku bukan sekedar pemecahan masalah tetapi benar-benar ingin menyingkirkan kau dari Menoreh. Nah, apakah kau tidak merasakannya?” Ki Tambak Wedi itu berhenti sejenak, lalu, “Sekarang, kau sudah cukup dewasa. Pertimbangkan olehmu, mana yang baik dan mana yang tidak baik.”

Ketika Ki Tambak Wedi terdiam, maka ruangan itu menjadi terlampau sepi. Kesepian yang mencengkam sampai ke pusat jantung.

Namun di dalam dada Sidanti terjadilah pergolakan yang terlampau dahsyat. Benturan-benturan perasaan yang sangat membingungkannya. Keluarga yang memeluknya sejak kanak-kanak, tanpa diduga-duganya kini pecah berserakan seperti belanga yang jatuh menghantam batu. Sedak kecil ia merasakan bahwa ia berada di dalam satu lingkungan yang baik, di dalam satu keluarga yang menyenangkan. Baginya Argapati adalah ayahnya. Ia tidak pernah merasakan, bahkan segelugut kolang-kaling terbelah tujuh ia tidak akan menyangka, bahwa Argapati itu bukan ayah kandungnya.

Tetapi tiba-tiba kini ia dibenturkan pada suatu kenyataan. Meskipun kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu. Namun menurut pertimbangannya, hal yang demikian itu, sudah pasti bukan hanya sekedar dongengan. Seandainya Ki Tambak Wedi berbohong, maka ia adalah pembohong yang paling besar pada jamannya.

Dengan demikian maka Sidanti tidak segera dapat menemukan sikap. Dalam keragu-raguan, dipandanginya pamannya Argajaya yang masih juga berdiam diri.

Tetapi ketika terpandang olehnya wajah Argajaya, sekali lagi dada Sidanti berdesir. Orang itu ternyata sama sekali bukan pamannya. Bahkan bukan sanak bukan kadangnya. Argajaya adalah adik Argapati yang telah dikecewakan oleh gurunya, oleh ayahnya. Apakah dengan demikian ia dapat mengharapkan Argajaya itu berada di pihaknya, seandainya ia memilih berdiri di sebelaah Ki Tambak Wedi.

Gelora di dalam dada Sidanti itu menjadi kian bergemuruh. Di dalam angan-angannya berloncatanlah berbagai kenangan masa harapannya. Ia mencoba melihat kembali apakah yang pernah dilakukan oleh Argapati untuknya dan apa yang telah dilakukan oleh Ki Tambak Wedi. Dua wajah yang membayang di pelupuk matanya. Ia kini harus memilih satu di antara dua. Dan kenyataan ini terasa benar-benar pahit.

Namun ia harus menentukan sikap. Ia tidak dapat selalu bergantungan di dunia angan-angannya tanpa berjejak di atas kenyataan. Dan ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu.

Betapa Argapati baginya adalah seorang ayah yang baik, yang sabar dan ramah, tetapi kenyataan telah memisahkannya. Argapati sama sekali bukan seorang yang sabar dan ramah. Justru karena Argapati tidak dapat menghapus kenangannya atas peristiwa kelahiran Sidanti, maka dipaksakannya dirinya berbuat sebaik-baiknya.

Sekali lagi Sidanti terperanjat ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi berkata, “Duduklah. Pikirkanlah dengan baik. Kau harus membuat pertimbangan-pertimbangan yang matang.”

Kali ini Sidanti benar-benar terhisap oleh pengaruh yang tidak dikenalnya. Perlahan-lahan ia meletakkan dirinya, duduk di sebelah gurunya.

”Kau harus bersikap dewasa. Jangan seperti kanak-kanak yang bingung karena kehilangan barang mainan,” berkata gurunya.

Sidanti masih berdiam diri. Dua wajah yang sama-sama dikenalnya dengan baik masih terbayang. Tetapi bagi mata hati Sidanti, wajah Argapati semakin lama menjadi semakin kabur.

“Sikap Argapati selama ini bukanlah sikap yang jujur,“ berkata Ki Tambak Wedi. “Ia ingin dianggap dirinya seorang yang baik, yang berjiwa besar dan yang dengan lapang dada memaafkan orang lain. Tetapi ia telah merendam dendam dan kebencian di dalam dadanya, yang setiap saat akan meledak dengan dahsyatnya. Ia berbuat begitu baik kepadamu sama sekali bukan untuk kepentinganmu, tetapi ia berbuat untuk kepentingannya sendiri.“

Sidanti mengerutkan keningnya. Bayangan wajah Argapati semakin lama menjadi semakin suram.

Seperti yang dialaminya selama ia berada di Tambak Wedi, gurunya yang ternyata juga ayahnya itu telah berbuat apa saja untuknya. Ia telah mendorongnya untuk berusaha naik ke tangga yang lebih tinggi di dalam tata keprajuritan. Meskipun usaha itu tidak berhasil, tetapi ia telah terlampau banyak berbuat untuknya. Apa saja. Sehingga yang terakhir dikorbankannya padepokannya, Tambak Wedi.

Neraca di dalam hati Sidanti semakin lama menjadi semak miring. Apalagi yang kini berada di sisinya adalah Ki Tambak Wedi itu sendiri sehingga dengan demikian, maka pengaruh kehadirannya, ternyata ikut menentukan pilihan yang harus dijatuhkannya. Tetapi tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan di dalam hatinya. Seandainya ia berpihak kepada, Ki Tambak Wedi, apakah yang kemudian dapat dilakukan olehnya? Kepala Tanah Perdikan Menoreh adalah Argapati. Argapati dapat memerintahkan apa saja yang dikehendakinya atas orang-orang Menoreh. Argapati dapat memerintahkan untuk menangkapnya bersama-sama Ki Tambak Wedi.

Namun pertanyaan itu tidak diucapkannya. Ditempat itu hadir pula Argajaya, adik Argapati, sehingga pembicaraan mengenai hal itu tidak akan dapat dilakukannya dengan baik.

Tetapi agaknya Ki Tambak Wedi dapat menduga-duga hatinya. Keragu-raguan yang membayang di wajahnya. Karena itu maka Ki Tambak Wedi itu berkata berterus-terang, “Bagiku tidak ada pilihan lain daripada memenuhi perjanjian itu di bawah Pucang Kembar, pada saat purnama naik seperti yang pernah terjadi dahulu. Aku mengharap bahwa kali ini aku dapat membunuhnya.” Ki Tambak Wedi berhenti sejenak, diperhatikannya wajah Argajaya yang menjadi semakin tegang. Dan ia berkata seterusnya, “Seandainya tidak, maka aku pun tidak akan bersedia mati tanpa arti. Kalau aku tidak dapat membuat penyelesaian macam itu, maka aku harus berbuat banyak. Aku harus melakukan perlawanan atas kekuasaan Argapati di bukit Menoreh ini, sebelum aku dapat mempergunakan seluruh kekuatan yang ada di sini. Kau adalah pewaris yang syah meskipun kau bukan anaknya. Setiap hidung tahu, bahwa kau kelak akan mewarisi tanah ini. Itulah sebabnya agaknya Argapati menjerumuskan kau ke dalam bencana.” Ki Tambak Wedi sekali lagi berhenti berbicara. Sekali lagi diperhatikannya wajah Argajaya. Lalu, “Kau tidak usah mencemaskan apa yang terjadi seandainya Argapati terbunuh olehku kelak. Tidak ada orang yang tahu, persoalan apa yang terjadi. Apabila seseorang mendengar perjanjian ini di halaman rumah Argapati, mereka pun tidak akan jelas menangkap maksudnya. Sepeninggal Argapati, maka kaulah yang akan menjadi kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Wajah Argajaya tiba-tiba menjadi merah menyala. Ia kini tidak dapat mengendalikan diri lagi, sehingga meloncat kata-katanya, “Itu adalah cara yang licik. Kiai, aku adalah adik Argapati. Setelah aku tahu, bahwa Argapati tidak berputerakan Sidanti, maka akulah yang lebih berhak atas tanah ini seandainya Kakang Argapati tidak ada lagi.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menggelengkan lemah. “Tidak, Ngger. Kalau Sidanti disisihkan dari urutan pewaris tanah ini, maka di dalam rumah Argapati masih ada lagi seorang gadis yang cukup garang, Pandan Wangi. Apabila Sidanti disingkirkan, maka Pandan Wangi adalah satu-satunya pewaris tanah ini. Suaminyalah yang kelak akan dapat menyebut dirinya. Ki Gede Menoreh.”

Sekali lagi warna merah membersit diwajah Argajaya. Kata-kata Ki Tambak Wedi itu tepat mengenai sasarannya. Demikianlah agaknya apabila Sidanti tidak lagi dapat menduduki jabatan Argapati, maka PandanWangi-lah yang kelak akan berhak atas kedudukan itu.
Dengan demikian, maka Argajaya itu pun tidak segera dapat berkata sesuatu, meskipun terasa dadanya menjadi terlampau pepat.

Ruangan itu sejenak menjadi sunyi. Mereka mencoba untuk melihat dari seginya masing-masing, apakah yang sebenarnya sedang mereka hadapi. Tetapi putaran dari segi pandangan mereka, terutama adalah kepentingan mereka sendiri. Kepentingan diri pribadi. Sidanti yang kecewa mendengar kenyataan tentang dirinya, mencoba untuk menemukan imbangan dari kekecewaannya itu. Justru ia ingin menjadi seorang yang jauh lebih besar dari kenyataan yang dihadapinya. Menurut Ki Tambak Wedi, Sidanti ternyata bukan putera Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh, meskipun hak atas tanah ini kelak akan diwarisinya. Namun itu bukan karena ia sebenarnya berhak, tetapi hal itu dapat terjadi sekedar karena belas kasihan Argapati kepadanya, kepada ibunya. (BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 23 Oktober 2008 at 11:11  Comments (21)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-33/trackback/

RSS feed for comments on this post.

21 KomentarTinggalkan komentar

  1. covertan-nya dah diperbaiki biar gak tumpuk..
    langsung ke emailnya D2

    D2: Dah diterima. Tx

  2. lanjut trus….

    sukra : gak sangka temen kostku ini suka adbm. kirain cuma suka bibi Lung dan Yoko, pendekar rajawali sakti di indosiar. 😀

  3. bravo mas D2…dan rekan2 adbm…
    hits udah diatas 100.000…..
    semakin banyak yg nengok….
    semakin banyak yg suka….
    …….
    tetap sehat dan tetap semangat..
    saya doakan selalu!!!!

  4. tetap semangat mas D2.

    Ditunggu file djvu seri selanjutnya.
    Sudah sakau nih…

    thanks

  5. Mas D2,
    Alhamdulillah, pasukan konvert agaknya sudah ada di mana mana, baik di Sangkal Putung, Prambanan, Menoreh, Alas mentaok maupun Tambak Boyo.
    Tadi aku sempat ke pringgitan adbm dan ke pendopo http://sh-mintardja.co.cc/ sambil menunggu buku 34.

    Di adbm buku 30, yang sudah di upload baru sampai halaman 37, adakah tenaga yang bisa saya sumbangkan agar proses upload lebih cepat? Mungkin proof read atau apa saja?

    Mas Melben, saya ke pendopo http://sh-mintardja.co.cc/, terus cek buku 30 dst kok sepertinya suwung ya…apa sementara belum dapat diteruskan?

    D2: Sudah selesai ampai buku 31

  6. 2 hari gak ada lenjutannya jadi sepi soalnya dah kecanduan nich

  7. wah buku 34 lom ada ya

  8. buku 033 halaman 39 s/d 60

    Pelayan-pelayannya yang berdiri di luar pintu menjadi heran. Mereka mendengar Pandan Wangi menangis. Mereka mendengar seakan-akan Pandan Wangi itu berbantah dengan ayahnya. Tetapi mereka tidak mendengarnya dengan jelas. Mereka tidak mengerti apakah sebenarnya yang ……… dst sudah dipindahkan ke halaman utama. (DD)

  9. buku 033 halaman 61 s/d 73

    Memang kadang-kadang tumbuh pertentangan di dalam dirinya. Apakah ia akan membiarkan Menoreh ditelan oleh kesulitan yang lebih parah, dengan taruhan yang lebih mahal sekedar memenuhi harga diri pribadinya?

    “Tidak. Saat purnama aku segera datang. Hanya tinggal beberapa hari lagi. Selain itu, akupun akan sudah siap untuk bertindak serentak. Sekali pukul, Ki Tambak Wedi harus hancur. Kalau tidak, maka keadaan akan menjadi lebih parah lagi.” kata Argapati di dalam hati.

    Maka yang dilakukan oleh Argapati kemudian adalah mempersiapkan pasukan pengawal sejauh-jauhnya. Kepada para pemimpin Tanah Perdikan, Argapati memerintahkan untuk melakukan perlawanan atas kabar yang tersiar. Mereka harus tegas-tegas mengatakan, bahwa pada saatnya apabila orang-orang yang sesat itu tidak segera kembali ke jalan yang lurus, Argapati akan melakukan tindakan yang keras kepada mereka.

    Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh harus menarik garis yang jelas, di manakah orang-orang yang melakukan perlawanan itu menempatkan dirinya. Sejak saat itu, peronda-peronda harus berada dalam kesiapsiagaan penuh setiap saat. Gardu peronda harus segera dilengkapi dengan alat-alat untuk tengara setiap gerakan yang mencurigakan.

    “Kita tidak dapat melakukannya dengan bersembunyi-sembunyi lagi,” berkata Argapati, “kita terpaksa melakukannya dengan terbuka justru untuk menenteramkan hati rakyat, bahwa kitapun telah bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan yang tidak kita kehendaki. Sementara itu setiap cara untuk menempuh jalan lain masih harus kita usahakan agar Menoreh tidak terjerumus ke dalam api yang dapat membakar seluruh bukit ini, menjadi karang abang tanpa arti.”

    Ternyata setiap pemimpin Tanah Perdikan Menoreh dan setiap pengawal yang masih setia kepada Argajaya telah melakukan perintah itu dengan baik. Di tempat-tempat tertentu telah ditempatkan satuan-satuan pengawal yang dapat bertindak setiap saat. Tetapi para pemimpin itupun tidak dapat menutup mata dari kenyataan bahwa sebagian dari merekapun telah terpengaruh oleh berbagai macam janji dan harapan yang diberikan oleh Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. Mereka tidak segan-segan untuk melontarkan segala macam fitnah yang paling keji sekalipun, untuk membangkitkan kebencian rakyat kepada Ki Gede Menoreh.

    “Aku tidak menyangka bahwa hal ini dapat terjadi.” berkata Ki Argapati kepada Pandan Wangi ketika mereka duduk-duduk berdua di pringgitan rumahnya. “Ternyata benih yang ditaburkan oleh Ki Tambak Wedi itu telah tumbuh menjadi sebatang pohon berduri yang meracuni tanah ini.”

    Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi tekadnya telah bulat, untuk berbuat apa saja di samping ayahnya sebagai Kepala Tanah Perdikan.

    “Pandan Wangi,” berkata ayahnya, “ilmumu ternyata telah menjadi jauh sekali maju. Kau tidak boleh berhenti. Setiap malam kau masih harus melakukannya tanpa dilihat orang lain supaya tempat latihan kita itu tidak menjadi sasaran tindakan licik Ki Tambak Wedi dan pengikut-pengikutnya.”

    Pandan Wangi mengangguk.

    “Malam nanti aku akan sampai kepada puncak unsur-unsur gerak yang menjiwai seluruh perguruan Menoreh. Kau sudah saatnya untuk menerimanya. Aku mempunyai perhitungan, dengan demikian, kau akan berada lebih tinggi di dalam tataran ilmumu dari Sidanti yang saat ini pasti tidak sempat melakukan latihan-latihan yang berarti. Tetapi aku telah menyisihkan waktu untuk itu. Untuk kepentinganmu. Seandainya terpaksa terjadi sesuatu atas Tanah Perdikan ini, maka kau akan mampu melindungi dirimu sendiri dari bencana.”

    Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ternyata bahwa ayahnya telah sampai pada suatu kemungkinan baginya untuk melakukan perlawanan atas Sidanti, kakaknya. Meskipun Sidanti bukan putera Ki Gede Menoreh, tetapi Sidanti itu telah dilahirkan pula oleh Rara Wulan, ibunya.

    Terasa desir yang tajam tergores di dinding hatinya. Tetapi Pandan Wangi mencoba menggeretakkan giginya untuk mengusir perasaan yang mengganggu dirinya itu. Ia ingin berdiri di tempat yang telah dipilihnya menurut nalarnya. Ia tidak mau terombang-ambing oleh perasaannya yang kadang-kadang kehilangan keseimbangan.

    Tetapi betapapun juga ia berusaha, namun setiap kali terngiang di telinganya, “Sidanti adalah kakakmu seibu. Kakak yang dengan sayang membawamu bermain-main di masa kanak-kanak.”

    “Kami bukan kanak-kanak lagi.” Pandan Wangi mencoba menahan gelora perasaannya. Namun ia tidak dapat menahan ketika setitik-setitik air membasahi pelupuk matanya.

    Ayahnya menyadari betapa beratnya bagi Pandan Wangi untuk memilih sikap. Tetapi adalah kewajibannya untuk mencoba menunjukkan arah. Seperti seseorang yang berdiri di simpang jalan, yang sama-sama menuju ke dalam kesulitan, maka Pandan Wangi harus memilih salah satu di antaranya. Salah satu yang paling baik betapapun sulitnya.

    Ketika kemudian malam tiba, yang semakin lama menjadi semakin dalam, maka Ki Argapati dan Pandan Wangi telah berada di sebuah tanah lapang sempit yang sepi. Tempat yang mereka pilih untuk menempa satu-satunya anak yang akan dapat meneruskan hadirnya Tanah Perdikan Menoreh apabila Sidanti sama sekali sudah tidak menghiraukan lagi peringatan-peringatan yang diberikan oleh Ki Argapati.

    Angin yang silir telah mengusap tubuh-tubuh yang basah oleh keringat. Pandan Wangi telah mencoba untuk mencurahkan segenap kemampuan yang ada padanya supaya ia tidak mengecewakan ayahnya yang sedang dikalutkan oleh kakak seibunya.

    Ternyata harapan Ki Argapati yang ditumpahkan kepada puterinya itu tidak sia-sia. Pandan Wangi kini sedang berada di dalam latihan yang paling sulit. Keringatnya telah membasahi seluruh wajah kulitnya, dari ujung kakinya sampai ke ujung rambutnya. Terasa getaran-getaran yang semakin cepat mengalir di segenap otot berbaju, bahkan terasa seolah-olah bergetar di seluruh bagian tubuhnya, menyelusuri segenap tulang sungsumnya.

    Getaran-getaran itulah sumber pancaran ilmu yang harus dipelajarinya, diluluhkan dengan getar di dalam dirinya, dan kemudian akan terpancar dalam satu bentuk yang dahsyat. Dengan getaran-getaran yang harus dikenali bentuk dan wataknya, Pandan Wangi akan mampu membangunkan segenap tenaga cadangan di dalam dirinya seperti yang dikehendakinya, yang kadang-kadang di dalam ujudnya hampir-hampir tidak dapat digapai oleh akal. Tetapi sebenarnyalah bahwa sumber kekuatan itu telah ada di dalam diri, lahir bersama-sama dengan kelahiran dirinya dari Sumber Yang Esa. Kekuatan itu sama sekali bukanlah hasil buatan manusia, bukan karena kepandaian dan kemampuan manusia menciptakan kekuatan dan kelebihan di dalam dirinya dari orang-orang lain, tetapi manusia hanya dapat mengenali dan mempergunakannya, yang sebelumnya memang telah ada di dalam diri. Sesuai dengan sumbernya, maka tidak ada lain, bahwa tenaga cadangan dan setiap pancaran kekuatan, hendaknya dipergunakan menurut arah yang telah ditentukan. Untuk kepentingan kasih sesama, dan untuk kepentingan Sumber itu sendiri dalam segala macam tuntutannya.

    Tetapi ternyata bahwa di dalam diri manusia terdapat pengenalan yang kadang-kadang sesat dari arah pancaran Sumbernya. Sesat dan tidak ingin menemukan jalan kembali. Dibangkitkannya kekuatan di dalam diri manusia dengan landasan yang samar, dan bahkan dengan landasan yang kelam dan hitam. Untuk tujuan yang kelam dan hitam pula, sehingga manusia yang demikian semakin lama akan menjadi semakin jauh terseret.

    Ternyata Pandan Wangi benar-benar tidak mengecewakan ayahnya. Ketika keringatnya seolah-olah telah terperas habis dari dalam tubuhnya, maka sampailah ia pada puncak ilmu yang diturunkan ayahnya kepadanya. Unsur gerak yang merampas segenap kekuatan lahir dan batinnya. Menemukannya dalam pengaruh yang kurang dikenalnya. Tetapi kemudian dimengertinya, bahwa yang kurang dikenalinya itu adalah dirinya sendiri dalam bentuknya yang paling wajar. Tanpa pulasan lahiriah dan bahkan seakan-akan tidak mengenal wadagnya sendiri. Hakekat dari kekuatan manusiawi yang tersimpan di dalam diri, dalam pancaran pribadi yang lengkap.

    Ketika getaran itu terasa mencengkam seluruh tubuhnya, maka Pandan Wangi merasakan betapa sulitnya ia melawan kehendak di dalam dirinya. Seolah-olah suatu kekuatan yang dahsyat telah menyeretnya ke dalam suatu keadaan yang tidak dimengertinya. Tetapi Pandan Wangi tetap bertahan. Ia mencoba untuk tetap sadar dan mendengar kata-kata petunjuk ayahnya. Ia mendengar kata demi kata meskipun seolah-olah semakin lama menjadi semakin jauh. Dipusatkannya inderanya untuk tetap mendengar suara itu.

    Kini Pandan Wangi justru tidak bergerak sama sekali. Ia berdiri tegak dengan kaki rapat. Tangannya disilangkan di dadanya, sedang senjatanya, sepasang pedang, mencuat di depan pundaknya. Didengarnya petunjuk-petunjuk ayahnya, untuk melakukan unsur-unsur gerak yang paling sulit dari ilmunya. Tetapi Pandan Wangi sudah tidak bergerak dengan wadagnya. Dipusatkan inderanya, didengarkannya petunjuk-petunjuk ayahnya meskipun ia sudah tidak dapat melihat lagi, di mana ayahnya berdiri karena matanya sedang terpejam, dan ia tidak tahu lagi dari mana arah suara itu menyentuh lubang telinganya.

    Namun meskipun demikian, Pandan Wangi merasakan, bahwa ia telah melakukan gerak itu. Gerak yang justru paling sempurna. Gerak yang telah memeras segenap kemampuan batinnya.

    Seakin lama suara ayahnya itupun menjadi semakin samar. Ia tinggal harus melakukan satu unsur gerak. Yang terakhir. Terasa dadanya berguncang dahsyat sekali ketika ia merasa membenturkan kekuatannya itu dengan kekuatan ayahnya. Dilontarkannya kekuatan terakhirnya dalam unsur gerak terakhir.

    Pandan Wangi hanya merasakan dunia ini kemudian menjadi gelap. Terlampau gelap sehingga kemudian ia tidak melihat dan mendengar apapun lagi. Pingsan.

    Argapati menarik nafas dalam-dalam. Diusapnya keringat yang mengalir di keningnya. Kemudian didekatinya puterinya yang terbaring diam di atas rerumputan yang basah oleh embun. Perlahan-lahan ia berjongkok di sampingnya. Dirabanya kening Pandan Wangi, kemudian tangannya dan dadanya. Nafas dan darahnya terasa terlampau cepat mengalir.

    “Agak terlampau berat baginya,” desis ayahnya, “tetapi ia mampu menyelesaikannya sampai unsur yang terakhir dari ilmu perguruan Menoreh.” Ketika angin silir mengusap dahinya, Ki Gede Menoreh menengadahkan wajahnya. Di langit bintang berkeredipan memenuhi Jajar yang biru kehitam-hitaman. Bulan yang belum bulat telah bertengger di punggung bukit di sebelah barat.

    Ketika angin silir mengusap dahinya, Ki Gede Menoreh menengadahkan wajahnya. Di langit bintang gemintang berkeredipan memenuhi layar yang biru kehitam-hitaman. Bulan yang belum bulat telah bertengger di punggung bukit sebelah barat.

    Sejenak dibiarkannya Pandan Wangi terbaring. Argapati yakin bahwa puterinya itu tidak mengalami cidera apapun kecuali kelelahan dan pemusatan indera yang berlebih-lebihan. Sesudah itu ia pasti akan mendapati dirinya sebagai seorang gadis yang telah memiliki bekal yang cukup untuk menempuh kehidupan yang betapapun sulitnya.

    Argapati mengerutkan keningnya ketika ia melihat Pandan Wangi menarik nafas perlahan-lahan. Kemudian dibukanya matanya perlahan-lahan pula. Yang pertama-tama diucapkannya adalah, “Ayah.”

    “Bangunlah, Wangi. Kau telah berhasil.”

    Perlahan-lahan sekali Pandan Wangi mencoba menggerakkan tangannya, kemudian kakinya. Berkali-kali ia menarik nafas dalam-dalam. Terasa tubuhnya masih nyeri dan sendi-sendi tulangnya terlampau lemah.

    “Kekuatanmu akan segera pulih kembali, bahkan dengan kemungkinan yang jauh lebih baik dari keadaanmu sebelumnya.”

    Perlahan-lahan Pandan Wangi mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya sebelum ia jatuh pingsan. Latihan yang terlampau berat dan yang terakhir, pemusatan indera untuk menangkap unsur gerak yang paling sulit dari ilmunya. Meskipun ia kemudian pingsan, tetapi ia sudah menyelesaikan apa yang seharusnya dilakukannya. Ia mendengar petunjuk-petunjuk ayahnya sampai kalimat yang terakhir.

    Tetapi ia adalah seorang gadis. Secara alami ia mempunyai perbedaan dengan seorang anak laki-laki muda. Itulah sebabnya, maka baginya latihan itu menjadi terlampau berat, meskipun ia kemudian berhasil menyelesaikannya.

    Pandan Wangi itupun kemudian bangkit dari duduk di depan ayahnya. Nafasnya masih terasa berkejaran dan darahnya masih terlampau cepat mengalir. Jantungnya seakan-akan berdetak lebih cepat dari biasanya.

    “Berdirilah Wangi.” berkata ayahnya.

    Perlahan-lahan Pandan Wangi mencoba berdiri. Betapa lemahnya sendi tulangnya, namun ia kemudian tegak di atas kedua kakinya.

    “Ambillah pedangmu.”

    Pandan Wangi menyadari bahwa kedua senjatanya itu ternyata telah terlepas dari tangannya. Perlahan-lahan ia membungkukkan badannya. Punggungnya masih terasa terlampau penat. Diraihnya kedua pedangnya dan kemudian disarungkannya di lambungnya.

    “Kau telah selesai Wangi.” berkata ayahnya yang kemudian berdiri di sampingnya. “Tetapi sama sekali bukan berarti bahwa kau telah menjadi sempurna. Kau baru dapat menyelesaikan latihan-latihan untuk menguasai unsur-unsur gerak itu sendiri. Tetapi kau masih harus mengembangkannya dalam waktu-waktu yang akan datang. Kau harus dapat mempergunakan, memilih dan menggabungkan unsur yang telah kau kuasai itu untuk menanggapi keadaan yang berbeda-beda. Nah, untuk itu kau memerlukan pengalaman. Tetapi dasar pengetahuanmu kini sama sekali pasti tidak akan kalah lagi dari Sidanti, meskipun kau sudah pasti kalah dalam pengalaman.”

    Pandan Wangi masih berdiri tegak sambil berdiam diri. Berbagai macam perasaan bergelut di dalam dirinya. Sekali lagi ia merasakan desir yang tajam menggores hatinya. Sidanti itu adalah kakaknya. Memang tidak ada pertalian apapun antara ayahnya dan Sidanti meskipun selama ini Sidanti benar-benar ditempatkan pada tempat yang baik di dalam keluarganya. Tidak seorangpun yang merasakan sikap yang kurang baik dari ayahnya terhadap anak muda itu. Namun ternyata ayahnya tidak dapat melupakannya sama sekali apa yang telah terjadi itu. Ternyata, ketika ayahnya dihadapkan pada suatu persoalan, maka perasaan itu meledak tanpa dapat ditahan-tahankan lagi. Bahkan dengan serta-merta ayahnya telah menempatkannya langsung berhadapan dengan kakaknya.

    Tetapi baginya, Sidanti adalah saudara yang dilahirkan dari ibu yang sama. Dan betapapun juga, samar-samar terbayang di wajah Sidanti garis-garis wajah ibunya, meskipun kakaknya itu jauh lebih serupa dengan Ki Tambak Wedi.

    Pandan Wangi itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar ayahnya berkata, “Marilah kita pulang, Wangi. Hari telah terlampau jauh malam. Bahkan mungkin sebentar lagi fajar memancar di timur. Kau perlu beristirahat.”

    Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lemahnya. Ketika ia memandang ke barat, maka bulan sudah tidak dilihatnya lagi. Bulan yang masih belum bulat.

    Tetapi dada Pandan Wangi berdesir karenanya. Sekilas teringat olehnya, janji ayahnya dengan Ki Tambak Wedi. Pada saat purnama naik. Dan purnama itu semakin lama menjadi semakin dekat. Beberapa hari lagi. Dan beberapa hari lagi itu adalah hari yang sangat menegangkan baginya, bagi keluarga Tanah Perdikan menoreh. Hari itu akan mempunyai banyak sekali kemungkinan. Di antaranya adalah, perubahan yang mendadak di atas Tanah Perdikan ini. Bahkan tanah ini akan dapat dibakar oleh api yang dahsyat, dan memusnahkan segala macam bentuk dan peradaban.

    Dapat terjadi, saling membunuh di antara tetangga-tetangga dan di antara sanak kadang. Dapat pula terjadi pembantaian besar-besaran di antara mereka yang berbeda pendirian.

    Bulu kuduk Pandan Wangi terasa meremang. Mengerikan sekali ternyata kedatangan Sidanti dan Tambak Wedi di atas bukit Menoreh sama sekali tidak membawa kesentausaan. Tetapi yang dibawanya adalah bencana. Apakah bencana itu harus terjadi?

    Dan sekali lagi Pandan Wangi mendengar ayahnya berkata, “Marilah kita pulang, Wangi. Kau perlu beristirahat. Kemudian kita perlu segera mempertimbangkan perkembangan-perkembangan terakhir yang terlampau cepat terjadi.”

    Pandan Wangi yang kelelahan itupun kemudian melangkah perlahan-lahan bersama ayahnya, meninggalkan lapangan sempit itu, pulang ke rumahnya. Ketika mereka memasuki jalan padukuhan induk dari Tanah Perdikan Menoreh, terdengar suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan merambat dari kandang ke kandang, menyongsong cahaya yang kemerah-merahan di langit sebelah timur.

    “Fajar.” desis Argapati.

    Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Dipandanginya fajar yang mulai memancar. Sebentar lagi matahari akan naik di hari yang baru.

    “Kau masih sempat beristirahat meskipun hanya sekejap,” berkata Argapati, “aku akan pergi ke belakang, membersihkan diri.”

    Pandan Wangi mengangguk. Tetapi ia berkata, “Aku akan kesiangan bangun apabila aku jatuh tertidur, ayah.”

    “Meskipun kau tidak tidur, tetapi beristirahatlah.”

    “Baik ayah.” sahut Pandan Wangi.

    “Hari-hari mendatang, pekerjaan kita akan bertambah banyak. Jauh lebih banyak dari yang kita duga semula.”

    Pandan Wangi tidak menjawab, tetapi dianggukkannya kepalanya.

    Ketika mereka memasuki regol halaman rumahnya, para peronda memandangi mereka dengan penuh keheranan. Tetapi tidak seorangpun yang bertanya, dari manakah ayah dan anak itu semalam-malaman.

    Argapati dan Pandan Wangipun sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk terlampau banyak berbicara. Mereka hanya menganggukkan kepala mereka kepada para peronda yang masih ada di dalam gardunya sambil bergumam, “Apakah kalian baik-baik?”

    “Ya Ki Gede. Tidak ada apa-apa semalaman di rumah ini.”

    “Terima kasih.”

    Ki Gede Menoreh itupun sama sekali tidak berhenti. Langkahnya yang lemah membawanya langsung ke belakang, ke perigi. Sedang Pandan Wangi langsung masuk ke dalam biliknya, menyiapkan pakaian-pakaian untuk mengganti pakaiannya yang kotor sesudah mandi.

    Ketika fajar menyingsing, pada saat sinarnya yang kekuning-kuningan menyentuh ujung pepohonan, seorang pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu dengan tergesa-gesa datang menemui Ki Argapati yang baru saja selesai, dan duduk-duduk di pringgitan seorang diri menghadapi minuman hangat.

    “Maaf Ki Gede, aku datang terlampau pagi.”

    Ki Argapati mengerutkan keningnya. Terlintas di dalam hatinya, sesuatu yang kurang wajar pasti telah terjadi, sehinga salah seorang pemimpin pengawal ini dengan tergesa-gesa menemuinya.

    “Duduklah.” Argapati mempersilahkan.

    Dengan nafas terengah-engah pemimpin pengawal itu duduk di hadapan Ki Argapati. Belum lagi debar jantungnya mereda, ia sudah mulai berbicara, “Ki Gede. Kita benar-benar berada di dalam kesulitan.”

    Argapati mengerutkan keningnya. Dengan sareh ia bertanya, “Apakah yang sudah terjadi?”

    “Sidanti dan Ki Argajaya benar-benar telah tersesat.” berkata orang itu pula, “Mereka telah kehilangan sama sekali kecintaan mereka kepada tanah kelahiran ini.”

    “Apakah yang telah mereka lakukan?” bertanya Ki Gede Menoreh seterusnya.

    Pemimpin pengawal itu menggeser setapak maju. Katanya, “Beberapa orang pengawal dan bahkan beberapa pemimpin pengawal melihat beberapa orang tidak dikenal di dalam lingkungan Tanah Perdikan ini. Mereka telah membuat hubungan dengan Ki Argajaya dan Sidanti.”

    Sepercik warna merah menjalar di wajah Argapati. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa tindakan adiknya dan anak muda yang telah diakunya sebagai anaknya itu akan menjadi sedemikian jauh. Namun kemudian Argapati itu teringat, bahwa di dalam lingkungan mereka terdapat Ki Tambak Wedi. Meskipun Ki Tambak Wedi pernah tinggal di atas tanah ini, tetapi sudah terlampau lama ia meninggalkannya, dan menjadikan dirinya seorang yang paling berkuasa di padepokannya, padepokan Tambak Wedi. Dengan demikian, maka kecintaannya kepada tanah inipun pasti tidak dapat dipertanggungjawabkan. Betapapun juga, Argajaya dan Sidanti pasti masih mempunyai kesadaran, bahwa di sinilah mereka dilahirkan, dibesarkan dan di sini pulalah mereka telah meneguk air di saat haus dan menelan makanan di saat lapar. Tanah inilah yang telah memberikan segala-galanya kepada mereka. Apakah dengan demikian mereka akan sampai hati menghubungi orang-orang yang tidak dikenal untuk ikut serta merusak tanah ini? Untuk ikut serta menitikkan darah orang-orang Menoreh yang kini sedang diamuk oleh perpecahan yang semakin meruncing?

    Sejenak Argapati terdiam. Ia tidak segera dapat mengucapkan kata-kata.

    Pringgitan itupun menjadi sunyi untuk sesaat. Kemudian terdengar Argapati menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah, “Bencana benar-benar akan menimpa tanah ini. Apakah orang-orang yang tidak dikenal itu telah dapat dipastikan, akan ikut campur di dalam persoalan antara aku dan Sidanti yang telah dinyalakan oleh Ki Tambak Wedi?”

    “Kami mempunyai penilaian yang demikian, Ki Gede. Dua orang dari orang-orang itu telah berada di rumah Ki Argajaya pula.”

    “Apakah kau kenal mereka, atau setidak-tidaknya dapat menduga dari manakah mereka datang atau dari lingkungan apa?”

    “Ki Gede, menurut perhitunganku dan beberapa kawan, mereka ternyata dapat digolongkan orang-orang yang kurang mendapat tempat di dalam lingkungan orang yang baik-baik. Mereka datang diantar oleh Ki Prastawa.”

    “Oh.” Ki Argapati tiba-tiba menjadi tegang. “Orang itu telah melibatkan dirinya pula.”

    “Bagaimanakah penilaian Ki Gede tentang orang itu?”

    “Ia adalah seorang yang paling senang melihat benturan-benturan yang dapat terjadi di tanah ini. Ia adalah seorang penjudi yang tidak saja melakukan kegiatannya di tanah ini, tetapi ia telah mendatangi tempat-tempat judi, sabung ayam dan tempat lain semacamnya sampai ke tempat-tempat yang jauh. Orang-orang itu pasti dibawanya dari lingkungannya. Bahkan tidak mustahil bahwa orang-orang jahat untuk membuat tanah ini menjadi karang abang.”

    Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Penilaian itu tepat seperti penilaiannya. Orang itu bukannya orang yang bermaksud baik. Tetapi ia akan mempergunakan kesempatan yang jelek ini untuk kepentingannya sendiri.

    Karena itu maka ia bertanya, “Ki Gede, sudah tentu Ki Prastawa akan mengambil keuntungan dari persoalan ini. Tetapi keuntungan apakah yang diinginkannya? Apakah yang didapatnya dari kekisruhan yang dapat timbul di Tanah Perdikan ini?”

    Ki Gede Menoreh mengerutkan dahinya. Tampaklah betapa ia menahan gelora hatinya. Jawabnya perlahan-lahan, “Orang-orang semacam itu kadang-kadang tidak mempunyai landasan berpikir tertentu. Ia hanya ingin terjadi sesuatu. Mungkin perubahan pimpinan atas Tanah Perdikan ini yang diharapkannya dapat memberikan keleluasaan bergerak baginya dan bagi lingkungannya. Tetapi seandainya yang dibawanya itu adalah orang-orang yang diangkatnya dari dunia yang hitam, maka akibat dari padanya adalah parah sekali. Setiap kesempatan dapat dipergunakan oleh mereka untuk menumbuhkan malapetaka. Mungkin perampokan, perampasan dan sebagainya.”

    “Hem” pemimpin pengawal itu menggeram, “Ki Gede, mumpung masih belum berlarut-larut, aku kira Ki Gede harus berbuat sesuatu.”

    Ki Gede Menoreh tidak segera menyahut. Perhitungannya memang berkata demikian. Tetapi apakah ia akan dapat melihat pertumpahan darah terjadi di atas Tanah Perdikan ini? Tanah yang dibinanya sejak bertahun-tahun. Hampir sepanjang umurnya diberikannya untuk membuat tanah ini menjadi Tanah Perdikan yang baik.

    Tetapi kini ia dihadapkan kepada pilihan yang sulit. Bahkan ia terdorong kepada suatu pikiran di kepalanya, “Bagaimanakah apabila aku serahkan saja pimpinan atas tanah ini kepada Sidanti? Betapapun juga jeleknya, ia adalah orang yang dilahirkan di tanah ini. Ia adalah seorang yang merasa dirinya mampu dan berhak pula. Dengan demikian akan terhindarkan segala macam pertumpahan darah dan keributan di atas tanah ini.”

    Namun kemudian ia menggerakkan giginya. Desisnya di dalam hati, “Aku akan berkhianat atas tanah ini apabila aku biarkan Sidanti merebut pimpinan. Ia akan dikendalikan oleh Ki Tambak Wedi dan orang-orang yang kelak akan mempengaruhinya dengan kekuatan masing-masing. Orang-orang yang memiliki kekuatan karena kekayaannya, orang-orang yang dapat memberinya kepuasan lahiriah, dan mungkin juga orang-orang yang merasa hidupnya terlampau sulit dan mengharapkan perubahan keadaan. Bagi tanah ini dan bagi diri mereka. Campur baur dari kepentingan-kepentingan yang berbeda namun menempatkan harapan pada keadaan yang sama itulah yang akan membakar tanah ini menjadi abu.”

    “Bagaimana Ki Gede?” bertanya pemimpin pengawal itu.

    Wajah Ki Gede Menoreh tampak ragu-ragu. Ia masih dikuasai oleh perasaannya yang kadang-kadang belum sejalan dengan pikirannya.

    Kejantanan yang mengikatnya dalam janji dengan Ki Tambak Wedi mempengaruhinya pula.

    “Tunggulah.” desis Ki Gede Menoreh.

    Wajah orang itu menjadi kecewa. Perlahan-lahan ia berkata, “Ki Gede, apakah kita menunggu banjir bandang yang akan memecah Tanah Perdikan ini menjadi berkeping-keping?”

    Ki Argapati terdiam sejenak. Ia dapat memahami pendapat pengawal yang setia itu. Tetapi ia kemudian menjawab, “Aku perhatikan pendapatmu. Tunggulah, hari ini aku akan mengambil sikap. Aku akan memanggil kalian untuk menentukan setiap tindakan yang akan kita ambil.”

    Pemimpin pengawal itu menundukkan kepalanya. Ki Argapati dikenalnya sebagai seorang yang keras hati. Tetapi ketika ia dihadapkan pada kekisruhan yang terjadi di tanah sendiri, maka terasa ia selalu diselubungi oleh keragu-raguan.

    “Lakukanlah tugasmu baik-baik. Aku sendiri akan melihat keadaan dengan seksama.”

    Pemimpin pengawal itu menjenguk lemah, “Baiklah Ki Gede. Aku menunggu perintah.”

    Sepeninggal orang itu, Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Keningnya tampak berkerut-merut. Di dalam dadanya terjadi suatu pergolakan yang dahsyat, yang mendorongnya ke dalam suatu keadaan yang tidak menentu.

    Namun tiba-tiba Ki Argapati itu teringat kepada puterinya, Pandan Wangi. Satu-satunya keluarga yang dapat diajaknya berbincang. Pandan Wangilah yang kelak diharapkan akan dapat menegakkan Tanah Perdikan ini menjadi Tanah Perdikan yang jauh lebih baik dari keadaannya kini.

    Karena itu, maka Ki Argapati itu segera berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan ke bilik Pandan Wangi. Perlahan-lahan pula ia mengetuk pintunya yang masih tertutup sambil memanggil namanya, “Pandan Wangi.”

    Tidak ada jawaban. Ki Argapati menyangka bahwa Pandan Wangi masih terlampau lelah. Mungkin ia tertidur setelah menyiapkan minuman paginya.

    “Wangi.” ia mengulangi.

    Masih belum ada jawaban.

    Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. “Ia terlampau letih.” desisnya.

    Kini Ki Gede Menoreh tidak memanggilnya lagi. Perlahan-lahan didorongnya daun pintu leregan itu ke samping. Perlahan-lahan sekali supaya puterinya tidak terkejut.

    Tetapi Ki Gedelah yang kemudian terkejut. Ternyata bilik itu telah kosong.

    “Ke manakah anak ini?” desisinya.

    Ki Argapati itupun kemudian pergi ke belakang. Ditanyakannya kepada pelayan-pelayannya, apakah mereka melihat Pandan Wangi.

    Tetapi pelayan-pelayan itu menggeleng sambil menjawab, “Tidak Ki Gede, kami tidak melihatnya.”

    Sepercik kecemasan merambat di hati Argapati. Karena itu maka kemudian disusurinya halaman rumahnya. Kalau-kalau Pandan Wangi sedang berada di halaman, atau sedang berada di kebun belakang.

    “Apakah Ki Gede sedang mencari Pandan Wangi?” bertanya seorang pelayan tua.

    “Ya.” sahut Ki Gede.

    “Ia mengenakan pakaian berburunya. Mungkin ia pergi.”

    Jantung Ki Argapati berdesir mendengarnya. Terkilas di dalam angan-angan Argapati, bahwa sudah pasti Pandan Wangi tidak akan pergi berburu. Tetapi Ki Argapati tidak segera dapat menentukan, kemanakah puterinya itu pergi. Karena itu maka sejenak kemudian ia bertanya, “Apakah kau tahu ke mana ia pergi?”

    “Sudah tentu ia akan pergi berburu.” jawab pelayan tua itu.

    “Apakah ia membawa busur dan anak panah?”

    Pelayan tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia menjawab agak ragu-ragu, “Tidak. Aku kira ia tidak membawa busur dan anak panah.”

    Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ia tidak akan pergi berburu.”

    “Lalu kemanakah ia akan pergi?”

    Argapati tidak segera menjawab, tetapi tampak keningnya menjadi berkerut-merut.

    “Apakah Pandan Wangi pergi berkuda?” ia bertanya.

    “Ya, ia pergi berkuda.”

    “Mungkin para penjaga di regol depan mengetahuinya.” gumam Ki Argapati.

    “Tidak, Ki Gede, Pandan Wangi tidak lewat regol depan. Tetapi ia membuka pintu butulan. Akulah yang disuruhnya menutup.”

    Argapati mengerutkan keningnya. Meskipun ia terkejut mendengar keterangan itu, tetapi ia mencoba untuk tidak memberikan kesan apapun. Perlahan-lahan ia mengangguk-angguk, kemudian ia bertanya, “Kemanakah ia pergi, ke utara atau ke selatan?”

    Pelayan tua itu mengingat-ingat sebentar. Kemudian katanya, “Mungkin ia pergi ke selatan. Aku tidak begitu menaruh perhatian. Begitu ia keluar dari regol, aku segera menutupnya.”

  10. buku 033 halaman 074 s/d 80

    “Anak nakal.” desis Argapati.

    “Apakah Pandan Wangi tidak minta ijin lebih dahulu kepada Ki Gede?”

    Ki Gede Menoreh itu tidak menyahut.

    “Bukankah biasanya Pandan Wangi mendapat ijin dari Ki Gede untuk pergi berburu?”

    Ki Gede hanya mengangguk saja. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Aku tidak pernah melepaskannya seorang diri meskipun ia hanya pergi berburu. Apalagi dalam keadaan serupa ini.”
    “Hem” Ki Argapati itu berdesah, sedang pelayan tua itu memandanginya dengan heran. Ia melihat kegelisahan pada wajah Argapati betapapun ia mencoba menyembunyikannya. Tetapi pelayan tua itu sama sekali tidak tahu apakah yang sebenarnya digelisahkannya. Bukankah Pandan Wangi itu pergi di siang hari? Pelayan tua itu sama sekali tidak tahu, betapa ketegangan yang kemelut menyelubungi udara Tanah Perdikan Menoreh. Apabila Argapati tidak berhasil mengatasinya dengan cara yang diinginkannya, maka api akan segera menyala.

    Dalam keadaan demikian, Pandan Wangi pergi seorang diri. Berbagai macam persoalan telah menggelegak di dalam dadanya. Bahkan kemudian keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya ketika terlintas di dalam hatinya, “Apakah Pandan Wangi memilih kakaknya daripada ayahnya?”

    “Tidak.” Argapati mencoba membantahnya di dalam hati, “Mustahil hal itu dilakukannya.”

    Tetapi Argapati tidak mengucapkan sepatah katapun. Dengan kepala tunduk ia melangkah masuk ke dalam rumah. Sedang pelayan tua itu masih berdiri termangu-mangu di tempatnya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia bergumam, “Hem, apakah Pandan Wangi pergi tanpa pamit setelah ayahnya melarangnya?”

    Dengan hati yang gelisah Argapati duduk kembali di pringgitan. Dicobanya menenangkan hatinya dengan meneguk minuman paginya yang telah menjadi dingin. Tetapi debar di jantungnya justru menjadi semakin tajam.

    “Anak itu pasti pergi ke rumah pamannya.” desis Argapati seorang diri. Arah yang diambilnya adalah arah yang menuju ke rumah Argajaya. “Aku tidak tahu, apakah maksudnya. Dalam keadaan yang panas ini, perjalanan yang pendek itu dapat berbahaya baginya.”

    Tetapi Argapati tidak dapat segera pergi menyusulnya. Ia merasa segan untuk datang ke rumah itu, seolah-olah ia memerlukan menemui orang-orang yang selama ini telah membuat kekisruhan di dalam wilayahnya. Dengan demikian, maka bagi mereka yang melihat kehadirannya ke rumah itu akan dapat memberikan tanggapan yang bermacam-macam, seolah-olah ia telah merendahkan dirinya, memohon kepada Sidanti untuk melepaskan tuntutannya.

    “Tetapi bagaimana dengan Pandan Wangi?” desisnya.

    Tiba-tiba Argapati itu meloncat berdiri. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pendapa dan memanggil seorang penjaga regol halamannya.

    “Panggil pemimpin pengawal.” ia menggeram.

    Perintah itu tidak perlu diulanginya. Segera penjaga regol itu pergi memenuhinya, memanggil pemimpin pengawal.

    Kepadanya, Argapati memberitahukan bahwa Pandan Wangi telah pergi. Menurut pertimbangannya ia pergi ke rumah Argajaya.

    “Apakah kepentingannya?” bertanya pemimpin pengawal itu.

    “Aku tidak tahu. Tetapi aku yakin bahwa Pandan Wangi ingin membantuku memecahkan kesulitan ini. Mungkin ia ingin menemui kakaknya dan mencoba mempengaruhinya. Namun aku mengkhawatirkannya. Aku tidak yakin bahwa ia berhasil, meskipun seandainya demikian aku akan sangat berterima kasih kepadanya. Tetapi seandainya Sidanti mengambil sikap-sikap yang tidak mencerminkan persaudaraannya, misalnya menahannya dan tidak diberikan kesempatan kepadanya untuk kembali ke rumah ini dengan kekerasan, maka kita harus bertindak. Aku menunggu sampai tengah hari. Apabila tengah hari Pandan Wangi tidak kembali, kau harus menyusulnya. Kau minta Pandan Wangi. Kalau tidak diberikannya, aku tidak tahu akibat apa yang dapat terjadi. Pasukanmu harus bersiap menghadapi setiap kemungkinan.”

    Wajah pemimpin pengawal itu menjadi tegang. Tetapi kemudian matanya memancarkan api yang seolah-olah telah membakar jantungnya. Dengan tegas ia berkata, “Aku akan melakukannya. Aku dan pasukan pengawal Tanah Perdikan ini sudah siap melakukan apa saja. Aku kira memang tidak ada jalan lain selain perang. Kalau Pandan Wangi mengusahakan jalan lain, itu pasti hanya akan sia-sia saja, meskipun aku ikut mengharap, mudah-mudahan ada juga pengaruhnya.”

    Argapati melihat pancaran perasaan pemimpin pengawal itu. Agaknya ia sudah menjadi jemu melihat perkembangan keadaan yang seakan-akan tidak menentu. Tetapi kegelisahan dan kecemasan telah merayapi hampir setiap hati di dalam dada orang-orang menoreh. Sehingga bentuk kehidupan sehari-hari telah berubah sama sekali. Pasar-pasar menjadi semakin sepi, dan sawah-sawah tidak lagi terpelihara sewajarnya. Sebagian dari setiap laki-laki di Menoreh telah mengelompokkan diri mereka dengan orang-orang yang mempunyai persamaan sikap dan pandangan.

    Menoreh telah terpecah dari dalam.

    Ketika pemimpin pengawal itu kemudian meninggalkan rumah Ki Gede Menoreh, maka Ki Gede itu berpesan, “Datanglah sebelum tengah hari kemari, setelah kau selesai dengan segala bentuk persiapanmu. Kau akan mendapat kepastian, apakah Pandan Wangi telah kembali atau belum. Jangan kau bunyikan tengara untuk mempersiapkan pasukanmu, supaya orang-orang yang tidak mengerti masalahnya menjadi bingung dan ketakutan.”

    “Baik.” sahut pengawal itu meskipun ia tidak sependapat sepenuhnya. Sebenarnya ia ingin langusng membunyikan tengara, memanggil mereka yang masih cukup kuat untuk mengangkat senjata, kemudian langsung menghancurkan Sidanti dan Argajaya.

    Tetapi pengawal itu menyadari, bahwa dengan demikian akan terjadi pergolakan yang dahsyat dan mengerikan. Campur baur antara lawan dan kawan akan membuat Tanah Perdikan ini merah oleh darah sesama.

    Sepeninggal pengawal itu, Argapati masih saja selalu diliputi oleh kegelisahan. Tanpa disengajanya ia memasuki bilik Pandan Wangi. Hatinya berdesir ketika ia tidak melihat sepasang pedang puterinya itu tergantung di tempatnya.

    “Anak itu bersenjata.” desisnya. Dan Argapati semakin yakin bahwa Pandan Wangi pergi ke rumah pamannya karena ia masih melihat busur dan anak panahnya berada di atas pembaringannya, tergantung di dinding.

    Dalam kegelisahannya, Argapati itu merasa bahwa hari merangkak terlampau lamban. Matahari seolah-olah terpancang saja di tempatnya, tanpa bergerak sama sekali. Bayangan-bayangan matahari yang lolos dari lubang-lubang dinding masih tampak terlampau condong.

    “Hem” Ki Gede Menoreh itu berdesah. Dan sekali lagi tanpa disadarinya ia pergi ke biliknya sendiri. Perlahan-lahan ia pergi ke geledeg di sudut biliknya. Beberapa saat ia berdiri termangu-mangu. Namun kemudian tangannya itu bergerak meraih sebuah selongsong kain putih.

    Argapati menarik nafas dalam-dalam.

    Perlahan-lahan dengan tangan gemetar dibukanya selongsong itu. Perlahan-lahan ditariknya sebatang tombak pendek dari dalamnya. Tombak pendek yang disimpannya beberapa lama, namun tiba-tiba kini begitu menarik perhatiannya, dan seolah-olah telah menghisapnya untuk membukanya.

    Ki Argapati mengerutkan keningnya. Ia melihat sesuatu yang agak lain pada tombaknya. Maka dengan serta-merta tangannya meraih wrangkanya. Dan ketika wrangkanya telah terbuka, dadanya berdesir tajam sekali. Tombak itu bukan tombaknya sendiri.

    Argapati menggeretakkan giginya. Wrangka itu adalah wrangka tombaknya. Selongsong itu adalah selongsong tombaknya. Tangkai itupun memang tidak banyak berbeda dengan tangkai tombaknya. Seandainya ia tidak merabanya, maka ia tidak akan segera dapat melihat perbedaannya. Tetapi jelas tombak itu bukan miliknya. Tombak itu agaknya adalah tombak Argajaya.

    “Hem” Ki Gede Menoreh menggeram. Ternyata adiknya benar-benar tidak tahu diri. Tombak itu telah dipertukarkannya. Tombaknya yang selama ini menjadi kawan di dalam segala keadaan, sebagai seorang prajurit, kemudian sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan. Tiba-tiba tombak itu kini lenyap. Hilang.

    Tetapi Argapati dapat menduga, siapakah yang telah mengambilnya. Adiknya sendiri, Argajaya, dan menukarnya dengan tombaknya sendiri.

    “Kapankah ia masuk ke dalam bilik ini?” Argapati menggeram. Tetapi hal itu mungkin sekali terjadi. Rumah itu seolah-olah sudah menjadi rumah Argajaya sendiri. Ia berada di dalam rumah itu seperti ia berada di dalam rumahnya. Argapati sama sekali tidak berprasangka apapun terhadap adiknya, sebelum peristiwa yang memilukan terjadi atas Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan seandainya benar Argajaya yang telah melakukannya, tetapi tidak terjadi hal seperti ini, maka hatinyapun tidak akan menjadi terlampau marah.

    Tetapi ternyata tombaknya telah ditukarnya.

    Dengan kesal Argapati menyarungkan tombak itu kembali. Dimasukkannya pula ke dalam selongsong dan meletakkannya di atas geledegnya.

    “Argajaya benar-benar telah menempatkan dirinya di seberang.” desisnya. “Apakah aku masih harus merasa terikat oleh kasih sayang seorang saudara tua di saat-saat begini? Aku sudah tua, Argajayapun telah menambat ke usia tuanya. Harapan di masa datang kini tergantung kepada anakku. Kepada Pandan Wangi. Pandan Wangilah yang harus diselamatkan dari bencana. Bukan Argajaya, dan bahkan bukan diriku sendiri. Apalagi Sidanti.”

    Wajah Argapati tiba-tiba menegang. Argajaya agaknya telah menukar tombak itu tidak baru kemarin. Tetapi sudah agak lama terjadi. Sekilas teringat olehnya perjanjian yang dibuatnya dengan Ki Tambak Wedi. Sepercik ingatan tentang peristiwa yang jarang terjadi di bawah Pucang Kembar beberapa puluh tahun yang lalu telah menyala pula di hatinya.

    Tetapi tombak itu sudah tidak ada lagi di tangannya. Tomabk yang masih akan dipergunakan sekali lagi untuk melawan senjata Tambak Wedi yang megerikan itu. Sepasang nenggala yang masing-masing mempunyai mata tajam rangkap. Tetapi Argapati tidak mengerti, bahwa sepasang nenggala itupun sudah tidak utuh lagi. Satu dari padanya ternyata telah tertinggal di Sangkal Putung.

    Sementara itu, Pandan Wangi sedang berpacu di atas kudanya menuju ke rumah pamannya seperti yang diduga oleh ayahnya. Ia sendiri tidak tahu, dorongan apakah yang memaksanya untuk pergi menemui kakaknya. Ia menyadari, bahwa ayahnya pasti tidak akan mengijinkannya. Karena itu, maka ia pergi tanpa minta ijin dahulu kepadanya. Keinginannya untuk bertemu dan berbicara dengan Sidanti tidak dapat ditahan-tahankannya lagi. Berbicara kepada seorang kakak, meskipun kini ia tahu bahwa Sidanti bukanlah kakaknya seayah.

    Tetapi bukan saja karena ia ingin berbicara dengan kakaknya, bukan saja karena ada sesuatu yang telah mengikatnya dengan Sidanti betapapun keadaan anak itu, karena mereka seibu, namun lebih dari pada itu. Pandan Wangi telah dilanda oleh kecemasan melihat nasib tanah kelahirannya. Tanah Perdikan Menoreh yang diancam oleh bahaya yang justru meledak dari dalam.

    “Aku harus menemui kakang Sidanti dan paman Argajaya.” katanya di dalam hati, “aku harus berbicara dan mencoba mengurungkan niat mereka. Seandainya kakang Sidanti tahu, bahwa ayah bukan ayahnya pula, namun seharusnya ia tidak mengorbankan tanah ini untuk kepentingannya sendiri.”

    Sekali-kali Pandan Wangi menggeretakkan giginya melihat keadaan yang menyedihkan. Jalan-jalan menjadi sepi dan pintu-pintu rumah tertutup rapat-rapat. Tanah ini seolah-olah sedang dilanda oleh bahaya yang akan menelan seluruh isinya menjadi abu.

    Dengan demikian maka hasratnya untuk berbicara dengan kakak dan pamannya menjadi semakin kuat di dalam hatinya.

    Di perjalanan kadang-kadang Pandan Wangi bertemu juga orang berjalan dengan tergesa-gesa. Satu-satu membawa beberapa macam barang yang akan dipertukarkan dengan kebutuhan-kebutuhan lain, karena pasar menjadi sepi. Ketika orang-orang itu mendengar derap kudanya, maka dengan tergesa-gesa mereka menyusup masuk ke regol halaman yang terdekat dan bersembunyi di balik dinding halaman.

    “Tanah ini menjadi sepi sesepi pekuburan.” desis Pandan Wangi.

    Tetapi derap kuda Pandan Wangi seolah-olah telah menggetarkan seluruh Tanah Perdikan yang sedang dihantui oleh perpecahan yang semakin lama semakin tajam.

    Semakin dekat dengan rumah pamannya, hati Pandan Wangi menjadi semakin berdebar-debar. Seolah-olah ia tidak sabar lagi untuk segera meloncat dan menemui mereka. Bahkan sekali-kali ia berpaling. Seandainya ayahnya atau orang-orang yang diperintahkan olehnya menyusul perjalanannya dan membawanya kembali sebelum ia bertemu dengan Sidanti dan pamannya Argajaya, maka ia akan berkeberatan.

    Tetapi tiba-tiba dada Pandan Wangi itu berdesir. Di tikungan di hadapannya, dilihatnya beberapa orang sedang berdiri bertebaran. Mereka agaknya sedang asyik bercakap-cakap, berkelakar atau apa saja.

    “Siapakah mereka itu?” pertanyaan itu tumbuh di dada Pandan Wangi.

    Ternyata bahwa derap kaki-kaki kudanya telah menarik perhatian orang-orang itu. Serentak mereka berloncatan justru ke tengah jalan. Beberapa orang bertolak pinggang dan yang lain meraba hulu pedangnya.

    “Enam atau tujuh orang.” desis Pandan Wangi, “Mungkin mereka para pengawal Tanah Perdikan yang sudah dipengaruhi oleh kakang Sidanti.”

    Tetapi Pandan Wangi tidak menghentikan langkah kudanya. Ia akan memberi penjelasan, bahwa ia hanya sekedar ingin bertemu saja dengan Sidanti dan Ki Argajaya.

    “Mudah-mudahan mereka dapat mengerti.” gumamnya sambil memacu kudanya.

    Tetapi dada Pandan Wangi itu berdesir semakin tajam. Semakin dekat, maka semakin jelas baginya, bahwa agaknya orang-orang itu bukan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.

    “Siapakah mereka itu?” pertanyaan itu sekali lagi menyentuh dadanya, “Apakah mereka orang-orang yang tidak kami kenal yang berusaha ikut serta membuat keadaan semakin kisruh, supaya mereka mendapat kesempatan untuk mengail di air keruh?”

    Tanpa disengaja, Pandan Wangi menarik kendali kudanya, sehingga derap larinya menjadi susut. Dengan hati-hati Pandan Wangi mencoba untuk menilai keadaan. Tetapi bagaimanapun juga ia tidak ingin kembali sebelum bertemu dengan kakaknya. Dengan demikian maka tekadnya menjadi bulat, untuk meneruskan perjalanannya. Rumah pamannya sudah tidak begitu jauh lagi dari tikungan itu. Meskipun demikian, Pandan Wangi harus berwaspada. Segala macam peristiwa dapat saja terjadi dalam keadaan yang kisruh ini.

    Orang-orang yang berada di tikungan masih berdiri di tengah jalan. Mereka sengaja menghadang kuda Pandan Wangi. Dengan berbagai macam sikap yang mengancam, mereka kini melangkah perlahan-lahan menyongsong kuda yang semakin dekat itu.

    Tiba-tiba salah seorang dari mereka melangkah ke paling depan. Sambil mengangkat tangannya ia berseru, “Berhenti!”

    Pandan Wangi terpaksa menghentikan kudanya. Kini perlahan-lahan ia maju.

    “Siapa kau?” bertanya orang itu. Dan orang itu sama sekali belum pernah dilihatnya. Orang itu terasa asing dan mendebarkan hati.

    Tetapi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka Pandan Wangi menjawab, “Aku, Pandan Wangi.”

    Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia berpaling memandangi kawan-kawannya yang berdiri di belakangnya. Tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya orang itu tertawa terbahak-bahak.

    Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Sikap itu benar-benar sikap yang tidak menyenangkan. Meskipun demikian ia masih mencoba menahan hati dan duduk diam di atas pungung kudanya.

    “Aku sudah menduga,” berkata orang itu, “bahwa kau adalah seorang perempuan sejak aku melihatmu dari kejauhan. Tetapi aku tidak menduga bahwa kau sedemikian cantiknya.”

    “Benar-benar memuakkan.” desis Pandan Wangi di dalam hatinya. Tetapi ia masih berdiam diri.

    “Kenapa kau pergi seorang diri dalam keadaan begini? Apakah kau tidak pernah mendengar berita, bahwa di Tanah Perdikan ini akan menyala api yang dapat membakar hangus seluruh isi dan penghuninya?”

  11. […] 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  12. Kok persis intrik politik jaman saiki ya….????
    Kalau ada perseteruan antar kelompok politik mesti melibatkan kelompok orang2 yang terbiasa melanggar paugeran.

    • wah ki mbleh mulai merambah ranah politik jeh

      • Yang cepat dapat, yang lambat…..ketinggalan 😀

        • jare mbah mandraka yang lambat di depan, yang cepat di depannya 😛

          • ..asal gak cepat….didalam ! 😀

            • ki kartu ki lho jiaaaan

              • jiaaan…. 😀

                • he…
                  he…
                  he…

                  lambat
                  di dalam
                  yang
                  penting
                  selamat

                  • s
                    e
                    l
                    a
                    m
                    a
                    t

                    d
                    i

                    d
                    a
                    l
                    a
                    m

                    y
                    a
                    n
                    g

                    p
                    e
                    n
                    t
                    i
                    n
                    g

                    l
                    a
                    m
                    b
                    a
                    t

                    .
                    .
                    .

                    😀

                  • melamBAT….semakin DALAM.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: