Buku 32

“Baik. Dua hari yang akan datang, tepat pada saat purnama naik, aku telah berada di bawah Pucang Kembar.”

Paguhan tidak menyawab. Dengan wajah yang tegang ia memandangi Rara Wulan yang terbaring di pembaringan di bilik sebelah lewat lubang pintu lereg yang tidak tertutup.

Sejenak kemudian dengan langkah tergesa-gesa ditinggalkannya rumah itu. Langkahnya panjang dan cepat. Tanpa berpaling lagi ia turun dari pendapa dan melintasi halaman rumah Arya Teja. Sejenak kemudian ia telah hilang di balik regol.

Arya Teja masih berdiri di tempatnya seakan-akan sebuah patung. Dadanya bergelora seperti sedang terbakar. Sama sekali tidak disangka-sangkanya, bahwa orang yang telah mendorongnya ke dalam kepahitan hidup itu adalah Paguhan, kawan yang terlampau dekat yang selama ini dianggapnya sebagai seorang anak muda yang baik.

Tetapi ternyata yang terjadi adalah neraka yang paling terkutuk, sehingga tanpa sesadarnya ia menggeram, “Dua hari lagi. Kalau Paguhan tidak ingkar, maka aku atau anak itu yang akan mati.”

Arya Teja tersadar ketika ia melihat bibinya masuk ke dalam bilik itu. Dilihatnya wajah yang tua itu telah basah pula oleh air matanya. Sejenak orang itu berdiri termangu-mangu, namun kemudian, ia melangkah mendekati kemanakannya sambil bertanya, “Kau telah bersepakat untuk melakukan perang tanding?”

Arya Teja menganggukkan kepalanya, “Ya bibi. Nanti apabila purnama penuh naik. Aku dan Paguhan akan melakukannya di bawah Pucang Kembar.”

Bibinya termenung sejenak. Lalu katanya, “Aku tidak mengerti bahwa kau lebih senang memilih jalan itu daripada cara yang lain.”

“Aku tidak melihat cara yang lain itu,” sahut Arya Teja.

Bibinya terdiam. Langkahnya yang berat telah membawanya ke atas amben bambu. Sambil menarik nafas dalam-dalam diletakkannya dirinya duduk di atas amben itu.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Arya Teja masih berdiri kaku dengan keris di tangan.

“Isterimu sudah sadar,” berkata bibinya kemudian “tetapi ia mengalami kejutan yang luar biasa.”

Arya Teja acuh tak acuh saja mendengar keterangan bibinya tentang Rara Wulan. Seandainya perempuan itu mati sekalipun ia tidak akan berkeberatan.

“Ia menyeyali segala dosanya,” berkata bibinya lebih lanjut.

Arya Teja masih berdiam diri.

“Arya,” berkata bibinya, “aku berpendapat bahwa Rara Wulan bukanlah seorang perempuan yang jahat. Penyesalan yang paling dalam telah mendorongnya untuk berputus-asa. Ia merasa bahwa hidupnya sama sekali sudah tidak berarti lagi. Kesalahannya itu lelah menyebabkannya malu melihat sinar matahari.”

“Oh,” Arya Teja menggeram, “sebuah permainan yang sangat baik. Ternyata Rara Wulan dapat memainkan peranannya dengan sempurna, sehingga Bibi menjadi iba kepadanya. Tetapi apakah aku harus menerima penghinaan itu?”

“Arya Teja. Kau harus tahu, apakah sebabnya hal yang serupa itu dapat terjadi? Kau tidak boleh melihat persoalan itu hanya sepotong. Sepotong yang membuatmu menjatuhkan hukuman yang paling berat atas isterimu. Kau harus melihat keseluruhan dari persoalannya. Peristiwa yang mendahuluinya dan yang kemudian mendorongnya melakukan perbuatan itu.”

“Bibi, Rara Wulan dan Paguhan dapat saja menyusun seribu macam alasan. Tetapi akibatnya sama saja buatku. Aku menerima sampah yang telah dilemparkan oleh Paguhan ke pawuhan. Bibi, aku tidak dapat. Aku tidak dapat menerimanya.”

Bibinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya, Ngger. Aku tahu dan aku dapat mengerti perasaanmu. Tetapi kau harus mempertimbangkan hal-hal yang dapat meringankan dosa isterimu. Sebagai manusia ia dapat dilibat oleh nafsu tang tidak dimengertinya sendiri. Tetapi yang terpenting kau ketahui, bahwa ia menyesali apa yang telah terjadi sampai ke pusat hatinya. Menyesal dan bertaubat.”

“Apakah artinya sesal itu baginya? Seandainya ia tidak bertaubat sekalipun, ia tidak akan dapat mengulanginya lagi. Ia tidak akan mendapatkan masa-masa gadisnya dan melakukan hal yang serupa. Bahkan seandainya itu dikehendakinya sendiri.”

Bibinya menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seorang yang telah lanjut usia, ia dapat mengerti perasaan yang bergolak di dalam dada kemanakannya. Itulah sebabnya, ia kemudian berdiam diri sambil menebah dada. Dalam keadaan yang demikian Arya Teja pasti sulit untuk diajak berbicara.

“Aku masih mempunyai waktu dua hari lagi sebelum purnama naik. Mudah-mudahan aku dapat mengurungkan cara penyelesaian yang mengerikan itu,” berkata bibinya di dalam hati. “Penyelesaian yang demikian tidak akan dapat memberikan ketenteraman hidup bagi yang memenangkannya. Hubungan dengan Rara Wulan tidak akan terselesaikan. Bagi Rara Wulan, penyelesaian itu adalah cara yang akan menyiksanya sepanjang hidupnya. Siapa pun yang kalah, ia merasa kehilangan. Kalau Arya Teja yang kalah, dan mati dalam perkelahian itu, ia akan kehilangan suaminya. Tetapi, kalau Arya Teja berhasil memenangkannya, dan Paguhan terbunuh, maka bayi di dalam kandungan itu akan kehilangan bapanya.”

Tetapi bibi Arya Teja itu tidak dapat berbuat apa-apa pada saat itu. Arya Teja sama sekali tidak dapat diajaknya berbicara. Kemanakannya itu sedang dikuasai oleh gejolak perasaan yang dahsyat sekali.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Ruangan itu menjadi sepi, tetapi terasa ketegangan telah menyesak di dada masing-masing. Lamat-lamat mereka masih mendengar isak tangis Rara Wulan di bilik sebelah ditunggui oleh pelayannya.

Dalam kesepian itu terdengar suara bibi Arya Teja, “Arya Teja, sarungkanlah kerismu. Kau tidak memerlukannya sekarang.”

Arya Teja menarik nafas. Perlahan-lahan tangannya seolah-olah telah digerakkan oleh kekuatan yang tidak dimengertinya menyarungkan kerisnya pada wrangkanya.

“Beristirahatlah dan cobalah merenungkan apa yang telah terjadi dengan tenang. Jangan diburu oleh nafsu yang bergejolak di dalam dirimu.”

“Akulah yang telah menjadi korban nafsu itu, Bibi.”

Bibinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah, Ngger. Meskipun demikian apakah salahnya kalau kau mencoba melihat persoalan ini dari segala segi. Segi yang memberatkan namun juga segi-segi lain, yang dapat meringankan dorongan kemarahanmu.”

“Tidak ada yang perlu aku pertimbangkan lagi. Aku sudah memutuskan. Dua hari lagi, saat purnama naik, aku akan membuat penyelesaian secara jantan.”

Mereka pun kemudian terdiam pula. Ketika udara di dalam bilik itu terasa semakin sesak, maka Arya Teja pun segera melangkah ke luar.

Saat-saat berikutnya adalah saat yang paling menegangkan, seolah-olah waktu berjalan terlampau lamban.

Arya Teja seakan-akan merasakan bahwa rumahnya telah menjadi tempat yang paling menyiksanya. Siang dan malam ia seakan dipanggang di atas bara api. Ia sama sekali tidak mau lagi masuk ke dalam ruang dalam rumahnya. Ia selalu berada di pendapa atau di pringgitan saja.

Di dalam rumah itu Rara Wulan ditunggui oleh bibi Arya Teja. Perempuan tua itu tidak sampai hati untuk meninggalkannya dalam keadaan yang demikian. Selain Rara Wulan selalu dihantui oleh kesalahannya sendiri, bibi Arya Teja itu mencemaskannya pula apabila tiba-tiba saja perempuan itu membunuh dirinya. Karena itu, ia tidak mau meninggalkannya.

Apabila malam kemudian tiba, Arya Teja selalu memandangi bulan yang mengapung di langit. Meskipun ujudnya telah hampir bulat, namun malam purnama masih harus ditunggunya. Dan menunggu kesempatan itu adalah pekerjaan yang paling menyakitkan hati.

Di hari kedua Arya Teja benar-benar telah kehilangan kesabaran. Sebelum matahari merendah di ujung barat, anak muda itu telah mempersiapkan dirinya. Diambilnya senjatanya yang selama ini telah disimpan di atas geledegnya. Sebuah tombak pendek pemberian ayahnya sebagai sipat kandel dalam kembaranya mengabdikan dirinya kepada pimpinan kerajaan di Demak.

Arya Teja terkejut ketika ia mendengar suara bibinya memanggilnya, “Arya Teja, apakah selama dua hari ini kau tidak menemukan cara lain yang lebih baik daripada cara-cara orang biadab itu?”

Arya Teja mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya dengan nada yang dalam, “Tidak, Bibi. Aku tidak memikirkan cara yang lain yang dapat aku lakukan.”

“Sebaiknya kau mempergunakan mulutmu saja, Ngger. Tidak mempergunakan senjata itu.”

“Senjata ini lebih baik daripada mulutku, Bibi. Dengan senjata ini semuanya akan segera selesai.”

“Tidak. Persoalannya tidak dapat diselesaikan. Tetapi persoalan itu membeku karena salah satu pihak terbunuh karenanya”

“Dan dengan demikian maka tidak akan ada persoalan lagi.”

“Kau membohongi dirimu sendiri, Arya. Persoalan itu akan bergolak di dalam dadamu. Justru lebih dahsyat dan lebih sulit untuk kau selesaikan.”

Arya Teja menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak, Bibi. Aku tidak memikirkan jalan lain.”

Bibi Arya Teja menjadi semakin gelisah. Dicobanya sekali lagi untuk menjelaskan keadaan Rara Wulan. “Arya Teja. Kau harus berjiwa besar menghadapi persoalan itu. Rara Wulan adalah seorang manusia biasa yang dapat melakukan kekhilafan. Seperti kau, pasti pada suatu waktu melakukannya. Aku, ayahmu, dan ibumu. Bahkan semua orang. Kini isterimu telah benar-benar menyesali kekhilafan itu. Apakah tidak ada terbersit di dalam hatimu untuk memaafkannya? Ia telah cukup tersiksa. Kelembutan sikapmu selama ini benar-benar membuat Rara Wulan semakin merasa berdosa.” Bibinya itu berhenti sejenak, lalu, “Apalagi apabila kau bersedia memaafkan kesalahannya, Ngger. Maka tidak ada hukuman lang lebih berat lagi bagi Rara Wulan daripada menerima maafmu.”

Arya Teja tidak menyahut. Kata-kata bibinya itu terasa menyentuh hatinya. Namun kemudian teringat olehnya janji yang telah diucapkannya, “Pada saat purnama naik, di bawah Pucang kembar.”

“Tidak,” Arya Teja itu tiba-tiba menggeram. “Tidak, Bibi. Aku adalah seorang laki-laki. Aku sudah mengucapkan janji untuk melakukan perang tanding. Tidak ada yang dapat mengurungkan niat itu.”

“Kau tidak mau mendengarkan nasehatku, Arya. Bagaimanakah kira-kira apabila ayah dan ibumu mendengar hal ini.”

“Ayah dan ibu pasti akan membenarkan sikapku. Aku adalah anak laki-laki yang diharapkan bersikap jantan.”

Bibinya menggelengkan kepalanya, “Aku kira tidak, Arya.”

“Seandainya tidak, aku tidak akan mengurungkan janji itu. Hari ini adalah hari yang kedua. Nanti apabila purnama naik, aku harus sudah berada di bawah Pucang Kembar.”

Bibinya mengelus dadanya. Tidak ada cara lagi untuk membujuk kemenakannya yang keras hati itu. Apabila nanti malam tiba, maka di bawah Pucang Kembar itu akan terjadi pepati. Besok, setiap orang pasti akan memperkatakannya apa yang terjadi. Apakah mereka akan menemukan mayat Paguhan atau mayat Arya Teja. Namun keduanya adalah anak-anak muda yang memiliki kelebihan dari anak-anak muda sebayanya.

Perempuan tua itu kemudian menundukkan kepalanya. Arya Teja adalah anak muda yang keras hati. Ia mengenal anak itu sejak dilahirkan oleh ibunya. Keras hati, nakal namun bertanggung jawab. Harga dirinya tampak jelas sejak ia masih kanak kanak. Pada saat ia menginjak dewasa, maka tampaklah bahwa Arya Teja akan dapat memenuhi kekudangan orang tuanya. Berbeda dengan adiknya. Adiknya pun nakal seperti Arya Teja. Tetapi adiknya kurang bertanggung jawab dan agak manja, sehingga perkembangan wataknya pun berbeda pula.

Dan kini Arya Teja itu sedang mengalami badai di dalam hidupnya sebagai seorang anak muda.

Selapis air tergenang di mata perempuan tua itu. Dan ia terkejut ketika ia mendengar suara Arya Teja, “Maafkan aku, Bibi. Kali ini aku tidak dapat memenuhi permintaan Bibi.”

Bibinya tidak menjawab. Tetapi terasa sesuatu menyekat kerongkongannya. Apakah yang akan terjadi atas tanah Menoreh seandainya Arya Teja malam nanti terbunuh oleh lawannya, meskipun ia mati secara jantan?

Bibi Arya Teja itu mengangkat wajahnya ketika kemenakannya berkata, “Bibi, matahari telah menjadi rendah, hampir sampai ke punggung pegunungan itu. Aku minta doa Bibi, semoga, aku dapat kembali ke rumah ini.”

Bibinya mengangguk, meskipun ia berkata di dalam hatinya, “Lalu, apa yang akan kau temui di rumah ini adalah bagian dari kepedihan hati itu pula Arya.”

Tetapi, bibinya tidak menyatakannya. Disimpannya saja kata-kata itu di dalam hatinya. Ia tidak mengharap Arya Teja menjadi semakin mendendam lawannya.

“Anak itu bukan seorang yang ganas,” berkata bibinya di dalam hatinya, “mudah-mudahan demikianlah sikapnya terhadap lawannya apabila ia berhasil menguasainya.” Namun kemudian dada, perempuan itu berdesir. “Bagaimanakah yang akan terjadi seandainya Arya Teja kalah dalam perang tanding itu?”

Mata perempuan tua itu menjadi semakin basah.

“Sudahlah, Bibi,” terdengar suara Arya Teja berat, “jangan hiraukan aku lagi. Apa pun yang akan aku lakukan dan apa pun yang akan terjadi. Aku mohon maaf apabila aku telah melukai hati Bibi.”

Bibinya tidak menjawab.

“Perkenankan aku pergi sekarang. Aku harus berada di bawah Pucang Kembar itu sebelum purnama naik.”

Sebuah anggukan kecil menggerakkan kepala perempuan tua itu. Terdengar suaranya lirih seolah-olah tersangkut di kerongkongan, “Hati-hatilah, Arya.”

“Terima kasih, Bibi. Aku masih ingin melihat matahari terbit besok pagi.”

Bibinya tidak menyahut. Ditatapnya wajah kemenakannya dalam-dalam. Ketika kemenakannya itu kemudian melangkah meninggalkannya, maka perempuan itu tidak dapat menahan perasaannya lagi. Menangis. Justru karena itu, ia lupa kepada perempuan yang selama ini dijaganya. Kini ia sedang bergulat dengan perasaan sendiri. Perlahan-lahan ia pergi ke bilik kemenakannya dan meletakkannya dirinya, duduk di atas amben bambu yang dibentangi oleh sehelai tikar pandan.

Arya Teja itu bukan anaknya sendiri, tetapi anak adik perempuannya. Namun anak muda itu terlampau dekat dengannya, seperti anak sendiri. Bahkan Arya Teja lebih banyak menyatakan perasaannya kepada bibinya daripada kepada ibunya. Karena itu, maka kepergian Arya Teja kali ini benar-benar menyedihkannya.

“Apakah anak itu akan kembali?” desisnya.

Perempuan tua itu menangis di dalam bilik kemenakannya Angan-angannya mengembara sampai ke dunia yang terlampau asing baginya. Tetapi ia merasa bahwa kesepian telah mengintainya dan siap untuk menerkamnya .

“Apakah aku harus memberitahukannya kepada orang tua Arya Teja?” pertanyaan itu sekali-kali menyentuh hatinya. Tetapi ia tidak berani mengambil sikap apa pun. Apakah hal itu akan menguntungkan, atau bahkan sebaliknya? Bagaimanakah apabila orang tua Arya Teja itu mengambil sikap sendiri, dan mengurungkan perkelahian itu dengan kekerasan pula terhadap Paguhan. Dengan demikian maka perasaan Arya Teja yang sedang terbakar itu akan tersinggung pula. Karena itu, maka yang dapat dilakukannya adalah menangis dalam kebimbangan dan keragu-raguan.

Sementara itu, Arya Teja berjalan dengan kepala tunduk menyusuri jalan-jalan padukuhannya. Di tangan kanannya tergenggam sebatang tombak pendek, pusaka pemberian ayahnya yang selama ini selalu menemaninya di dalam keadaan yang paling sulit. Di dalam masa pengabdiannya kepada Demak, sehingga ia mendapat anugerah Tanah Perdikan yang lebih sempurna bagi Menoreh.

Beberapa orang yang menyaksikannya bertanya-tanya di dalam hati mereka, “Kemanakah Arya Teja itu akan pergi? Langkahnya tampak tergesa-gesa sedang tangannya menjinjing senjata.”

Tetapi, tidak seorang pun yang bertanya kepadanya. Bahkan, orang-orang yang ditemuinya di perjalanannya, bahkan hampir bersentuhan, tidak dihiraukannya. Di dalam kepalanya bergolaklah persoalan tentang dirinya dan isterinya, dalam hubungannya dengan laki-laki yang bernama Paguhan. Semakin tajam ia menyoroti persoalan itu, maka kemarahannya pun menjadi semakin membakar jantungnya. Sehingga langkahnya menjadi semakin cepat pula. Ia ingin segera sampai ke bawah Pucang Kembar. Di sana ia telah mengikat janji untuk menyelesaikan masalahnya secara jantan.

Namun sekali-sekali terngiang pula kata-kata bibinya, “Tidak ada hukuman yang lebih berat bagi Rara Wulan daripada menerima maafmu.”

Dada Arya Teja itu terasa berdesir. Tetapi semuanya segera terusir seperti asap dihembus angin yang kencang. Kemarahannya selalu menyapu semua perasaan lain yang tumbuh di dalam hatinya.

Semakin dekat Arya Teja dengan sepasang pohon pucang yang tumbuh di lereng pebukitan, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Langkahnya terasa terlampau lamban. Ingin ia meloncat dan langsung berdiri di bawah Pucang Kembar sambil memutar tombaknya. Ia ingin segera mendapat keputusan.

Meskipun Arya Teja menjadi hampir tidak sabar lagi, namun akhirnya ia sampai juga di bawah Pucang Kembar itu. Ketikia menengadahkan wajahnya ke langit, dilibatnya warna-warna merah terbentang dari ujung sampai ke ujung. Matahari telah menjadi semakin rendah bertengger di atas pegunungan.

“Hem,” desisnya “aku masih harus menunggu. Apa matahari itu tenggelam, maka sebentar kemudian purnama akan naik. Dan aku harus membuat perhitungan terakhir.”

Dengan gelisahnya Arya Teja berjalan mondar-mandir di tanah berumput yang membentang di bawah Pucang Kembar itu. Semakin rendah matahari di langit, Arya Teja pun menjadi semakin kehilangan kesabarannya.

Tetapi Paguhan masih juga belum menampakkan dirinya.

“Mudah-mudahan ia tidak ingkar janji,” desis Arya Teja. “Kalau Paguhan tidak datang pada saat purnama naik, maka aku akan mencarinya kemana pun, sampai ke ujung bumi. Aku tidak mau membatalkannya lagi.”

Arya Teja mencoba menyabarkan dirinya. Matahari masih tampak tepat di punggung bukit. Perlahan-lahan sinarnya menjadi kian pudar Warna-warna merah di langit pun menjadi semakin suram. Sedang angin senja yang lemah berhembus membelai daun sepasang pucang yang ikut terguncang-guncang dengan gelisahnya.

Arya Teja berdiri tegak seperti patung di antara kedua batang Pucang Kembar itu menghadap ke Barat. Ditengadahkan wajahnya memandang matahari yang hampir tenggelam, seolah-olah dihitungnya waktu yang diperlukan oleh matahari itu untuk menyembunyikan dirinya di balik bukit.

Cahaya kemerah-merahan yang semakin gelap hinggap di wajah Arya Teja. Perpaduan antara warna senja yang hampir kelam dan wajah Arya Teja sendiri yang tegang, memancarkan suasana yang mendebarkan jantung.

Dengan sorot mata yang tajam, Arya Teja seolah-olah ingin mendorong agar matahari menjadi semakin cepat tenggelam. Kesabarannya kian lama sudah menjadi kian menipis.

Ketika matahari kemudian hilang di balik pegunungan, Arya Teja menarik nafas dalam-dalam. Alam di sekitarnya menjadi samar-samar. Pepohonan yang hijau tampak menjadi hitam seperti bayangan hantu yang berdiri memutari bentangan tanah berumput di bawah pohon Pucang Kembar itu.

Wajah Arya Teja yang gelap menjadi semakin gelap. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, dan berdiri tegak menghadap ke Timur. Tatapan matanya yang tajam kini hinggap pada cakrawala di ujung langit. Di sanalah nanti pada saatnya purnama akan naik.

Arya Teja menjadi hampir tidak bersabar lagi. Langit yang menjadi semakin kelam kini mulai diwarnai oleh cahaya yang ke kuning-kuningan. Cahaya purnama yang memancar seolah-olah dari bawah bumi. Purnama yang sebentar lagi akan naik dan mengapung di langit yang bersih.

“Tidak ada sepenginang lagi, purnama akan naik,” anak muda itu berdesis. Dadanya kini menengadah, seakan-akan menantang cahaya purnama yang pertama kali akan mematuknya.

“Paguhan harus sudah berada di tempat ini,” katanya di dalam hati.

Belum lagi ia sempat mengedarkan pandangan matanya, terasa dadanya berdesir. Ia mendengar langkah halus di rerumputan di sampingnya. Tetapi Arya Teja tidak berpaling. Ia masih tetap berdiri tegak dengan kaki renggang, menanti bulan yang sudah mulai terbit. Seleret warna kuning menyembul dari balik kaki langit, di sebelah Timur. Cahayanya yang kuning dengan serta-merta menguak kehitaman yang membentang menyelubungi bumi. Semakin lama menjadi semakin terang. Meskipun tidak secerah sinar matahari, namun cahaya bulan memiliki wataknya sendiri.

Arya Teja masih memandang purnama yang tepat naik. Ia mendengar telapak kaki semakin dekat kepadanya. Tanpa berpaling ia bergumam, “Kau datang tepat pada waktunya, Paguhan.”

“Ya,” terdengar jawaban dalam nada yang berat, “aku tidak mempunyai waktu sebanyak waktumu yang kau sia-siakan di bawah Pucang Kembar ini dalam kegelisahan. Aku datang tepat pada waktunya, dan segera akan pergi tepat pada waktu yang aku kehendaki pula.”

Dada Arya Teja berdesir mendengar jawaban itu. Tetapi ia masih menghadap ke arah bulan yang semakin terang. Dilihatnya sehelai awan yang putih mengalir ke utara, kemudian buyar ditiup angin yang kencang.

Arya Teja menarik nafas dalam-dalam. Tidak terasa olehnya betapa sejuknya angin malam di daerah terbuka, karena hatinya yang membara.

Perlahan-lahan ia berpaling. Dilihatnya Paguhan berdiri tegak di sisi sebatang dari sepasang pucang itu. Dalam cahaya bulan yang kekuning-kuningan tampaklah wajahnya seolah-olah memancarkan api dari dalam dadanya.

“Kau terlampau sombong, Paguhan,” Arya Teja menggeram.

“Terserah menurut penilaianmu, Arya. Aku sebenarnya tidak ingin melakukan pembunuhan. Apalagi atas suami Rara Wulan. Tetapi kau terlampau keras hati. Karena itu, apa boleh buat.”

“Apakah kau yakin bahwa kau akan dapat membunuhku?”

“Tidak ada seorang pun yang dapat lepas dari tanganku.”

“Hem, kau memang terlampau sombong.”

“Jangankan kau, Arya, bawalah serta ayah dan kakekmu. Aku akan membunuh mereka bersama-sama.”

Terdengar Arya Teja menggeram.

“Jangan sakit hati mendengar kata-kataku,” berkata Paguhan “sebentar lagi kau harus melihat kenyataan itu.”

“Agaknya karena kau terlampau yakin akan dirimu sendiri, kau telah melakukan perbuatan terkutuk itu.”

“Hampir tidak ada hubungannya,” sahut Paguhan. “Kau sendiri harus mengakui kesalahanmu. Kau tinggalkan gadis bakal isterimu itu dalam waktu yang tidak terbatas. Dalam kesempatan itulah, ia mencari tempat untuk melepaskan kesepiannya. Tetapi aku bukan seorang pengecut, Arya. Kaulah pengecut itu. Seandainya kau tidak mengikatnya jauh-jauh sebelum waktunya, maka aku akan mengawininya. Tetapi pembicaraan antara orang tuamu dan orang tua Rara Wulan agaknya terlampau mengikat, sehingga terpaksa perkawinanmu itu berlangsung. Tetapi bukan salahku dan bukan salah Rara Wulan kalau kau tidak mendapatkan isterimu itu seperti yang kau kehendaki.”

Terasa darah Arya Teja mendidih di dalam jantungnya. Kata-kata Paguhan benar-benar merupakan penghinaan yang tiada taranya. Justru karena itu, maka mulutnya menjadi seolah-olah terbungkam. Meskipun bibirnya tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah kata pun yang melontar.

”Sekarang kau menepuk dada sebagai Laki-laki jantan,” Paguhan meneruskannya. “Arya, jangan kau sangka bahwa karena kau baru saja menerima anugerah dari Demak, yang akan menempatkan kau sebagai Kepala Tanah Perdikan Menoreh, tidak ada seorang pun di tanah ini yang dapat mengimbangimu. Bukankah kita bersama-sama pergi berguru pada saat itu, meskipun pada orang yang berbeda? Nah, seterusnya kau tenggelamkan dirimu pada tugas-tugasmu. Tetapi aku masih selalu meningkatkan ilmuku. Sekarang, kita mendapat kesempatan untuk memperbandingkan, siapakah yang lebih baik di antara kita. Tetapi, sekali lagi kau harus melihat kenyataan, meskipun untuk saat terakhir dalam hidupmu. Sepeninggalmu, Rara Wulan adalah isteriku. Anak itu adalah anakku.”

Terdengar gigi Arya Teja gemeretak, seperti gemerak di dalam jantungnya. Semakin lama semakin keras. Wajahnya yang membara menjadi semakin merah seperti saga.

Dengan susah payah, ia mencoba menyabarkan perasaannya, supaya ia tidak kehilangan pengamatan diri dalam perkelahian yang akan terjadi.

Sejenak kemudian terdengar suara Arya Teja terbata-bata, “Apa pun menurut perasaan dan penilaianmu atas persoalan ini, Paguhan, tetapi kita telah menentukan, bagaimana kita akan menyelesaikannya. Nah, jangan banyak berbicara lagi. Marilah kita lihat, siapakah yang akan dapat keluar dri daerah ini. Siapakah yang besok masih dapat menyebut bahwa malam ini kita telah berkelahi di bawah Pucang Kembar.”

“Huh,” ujung-ujung bibir Paguhan tergerak, “kau memang seorang pemimpi. Baiklah, semakin cepat memang semakin baik. Ayo, apakah kau telah bersiap? Besok orang-orang Menoreh akan menemukan bangkaimu di sini. Mungkin tinggal kerangkamu saja yang akan diketemukan orang, karena anjing-anjing liar itu.”

Seadainya Arya Teja tidak berhasil menahan dirinya, ia akar benar-benar jatuh ke dalam pengaruh kemarahannya, sehingga ia akan kehilangan kejernihan berpikir. Apabila demikian, maka keadaannya pasti akan sangat berbahaya, sebab ia berhadapan dengan seorang yang sebenarnya memang pilih tanding.

“Nah, apa katamu Arya Teja? Kenapa kau berdiri saja seperti patung? Apakah kau menyesal bahwa kau telah mengambil keputusan untuk melakukan penyelesaian dengan cara ini?”

Hampir saja Arya Teja meloncat menyerang Paguhan. Tetapi ia masih sempat menahan diri sekuat-kuatnya. Justru kini ia sadar, bahwa Paguhan memang sedang memancing kemarahannya. Sebab kemarahan yang meluap-luap, akan membuatnya kehilangan perhitungan. Kesadaran itulah yang justru menahan Arya Teja untuk tetap berdiri di tempatnya, meskipun dadanya seakan-akan hampir meledak. Bahkan ia masih dapat mengucapkan kata-kata, “Ayolah Paguhan. Apakah kau hanya pandai berbicara tanpa ujung pangkal tetapi tidak pandai menggenggam senjata? Kita sudah tidak perlu berbicara lagi. Apakah besok bangkaiku atau bangkaimu yang akan menjadi makanan anjing-anjing liar, marilah kita tentukan dengan perbuatan. Tidak dengan kata-kata.”

Dada Arya Teja berdesir ketika ia mendengar Paguhan justru tertawa. “Kau agaknya menjadi ngeri membayangkan apa yang akan terjadi atasmu. Jangan takut. Bukankah kau seorang laki-laki jantan yang telah membawa nama cemerlang di dalam pengabdianmu kepada Demak? Kau tidak perlu takut mati.”

“Apakah kau sedang mencoba membuat aku marah dan kehilangan akal?” sahut Arya Teja. “Paguhan, aku sudah bukan anak-anak lagi yang mudah kau bakar dengan kata-kata penghinaan. Kau akan menjadi salah hitung. Sebaiknya kita berhadapan sebagai orang laki-laki, tanpa banyak usaha untuk mengalahkan lawan dengan licik seperti yang sedang kau lakukan. Kau tidak perlu membuat aku marah, karena sebenarnya aku memang sedang marah Tetapi kemarahanku bukan kemarahan anak-anak lagi.”

Dada Paguhan berdesir mendengar kata-kata Arya Teja. Hampir-hampir ia sendirilah yang jatuh ke dalam perangkapnya sendiri. Hampir-hampir ia kehilangan pengamatan diri. Tetapi sejenak kemudian ia pun menyadari keadaannya.

Sekali, lagi ia tertawa dan berkata, “Kau selalu berprasangka jelek. Baiklah, aku tidak akan berbicara lagi tentang kemungkinan yang akan terjadi, supaya kau tidak menjadi ketakutan. Marilah ita bersiap untuk menentukan siapakah di antara kita yang akan dapat keluar dari daerah ini.”

Arya Teja sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk berbicara. Namun kini ia telah menemukan kemantapan diri. Ia tidak boleh terpancing dengan cara apa pun juga, supaya ia dapat melakukan perlawanan dengan wajar.

Perlahan-lahan ia mengangkat tombaknya, dan perlahan-lahan ujung tombaknya merunduk setinggi dada. Tombak itu adalah tombak yang jarang sekali dipergunakannya. Namun kali ini ia akan berhadapan dengan seorang yang dianggapnya mempunyai beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang lain, sehingga tombak itulah yang dibawanya untuk menemaninya melawan Paguhan yang telah berkhianat terhadap persahabatan mereka.

Paguhan yang menyadari bahwa ia tidak dapat lagi membakar hati Arya Teja, segera bersiap pula. Dari selongsong putihnya, ia mengambil sepasang senjata yang dahsyat sekali. Sepasang nenggala, yang bermata dua, di pangkal dan di ujungnya.

Dada Arya Teja berdesir melihat sepasang senjata yana mengerikan itu. Senjata yang khusus dimiliki oleh Paguhan dari gurunya. Sepasang senjata di kedua tangannya itu berarti empat ujung yang tajamnya melampaui senjata-senjata biasa.

“Apakah kau heran melihat senjataku,” terdengar suara Paguhan datar.

Arya Teja menggeleng. “Tidak. Kau pernah memperlihatkan kepadaku.”

“Oh,” Paguhan mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku memang pernah memperlihatkan kepadamu. Tetapi kau belum pernah melihat bagaimana aku mempergunakannya.”

“Aku ingin segera melihatnya, karena itu jangan banyak berbicara.”

Sekali lagi dada Paguhan berdesir. Tetapi sekali lagi ia bertahan untuk tidak masuk ke dalam perangkapnya sendiri.

Sejenak kemudian, kedua anak muda itu telah berdiri berhadapan dengan senjata di tangan masing-masing. Paguhan dengan sepasang senjata yang khusus, sedang Arya Teja menggenggam tombak pendeknya dengan kedua tangannya. Ujung tombak itu kini menjadi semakin merendah. Setapak ia maju mendekati Paguhan. Matanya yang tajam menyambar kedua senjata itu berganti-ganti, namun kemudian ditatapnya mata Paguhan yang semakin membara.

Arya Teja sadar bahwa ia tidak akan dapat mengikuti sepasang senjata itu dengan matanya. Keduanya pasti akan bergerak dengan arah dan irama yang berbeda. Tetapi Arya Teja tidak akan dapat ditipu lagi oleh arah pandangan mata Paguhan. Pengalamannya telah cukup luas menghadapi segala macam senjata. Juga jenis-jenis senjata berpasangan.

Bulan yang bulat telah memanjat langit semakin tinggi. Cahayanya yang kekuning-kuningan memancar mewarnai dedaunan yang hijau gelap. Satu-satu kelelawar berterbangan di dalam kesenyapan langit yang cerah.

Arya Teja dan Paguhan telah berdiri berhadapan. Senjata-senjata mereka telah bergetar. Beberapa langkah mereka bergeser. Tetapi, tatapan mata mereka seolah-olah terpaku kepada lawan. Mereka tidak boleh lengah sekejap pun.

Ketika di kejauhan terdengar anjing liar menyalak bersahut-sahutan, maka anak-anak muda itu sudah tidak dapat menahan diri lagi. Setapak mereka mendekat, dan tiba-tiba terdengar Paguhan berteriak nyaring. Sebuah loncatan yang hampir tidak tertangkap oleh mata, telah membuka sebuah serangan yang langsung mengarah kepada lawannya. Tetapi Arya Teja telah bersiap sepenuhnya. Dengan lincahnya ia bergeser menghindar. Selangkah ia surut, namun kemudian tombaknya terjulur lurus mematuk lambung lawannya.

Terdengar sebuah dencingan yang keras. Kedua senjata anak-anak muda itu beradu. Terasa getaran yang tajam merambat dari ujung senjata masing-masing ke telapak tangan mereka. Dan getaran itu ternyata telah menggetarkan jantung mereka. Sehingga mereka masing-masing berdesah di dalam hati, “Alangkah dahsyat tenaganya.”

Dengan demikian kedua anak-anak muda yang sedang berkelahi itu dapat mengukur, betapa besar kekuatan lawan. Mereka menyadari bahwa mereka masing-masing tidak lebih kuat dari lawan mereka.

Paguhan yang bersenjata rangkap itu bertempur seperti seekor naga berkepala empat. Mematuk dan menyergap dari segenap penjuru. Sepasang senjatanya itu seakan-akan telah berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan mata nenggala yang mengerikan

Tetapi lawannya adalah seorang anak muda yang cukup matang mempergunakan tombaknya. Tombak bertangkai pendek di tangan Arya Teja itu berputar bergulung-gulung seperti asap yang melindungi dirinya. Asap yang menyebarkan racun yang terlampau tajam. Sentuhan asap itu akan berakibat terlampau parah bagi lawannya.

Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi kian lama kian sengit. Bukan saja karena keduanya adalah anak-anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ternyata mereka telah dibakar pula oleh dendam dan kebencian, sakit hati dan harga diri yang berlebih-lebihan. Mereka sudah tidak dapat berpikir lain kecuali membinasakan lawan masing-masing atau mati terkapar sebagai laki-laki jantan di bawah Pucang Kembar itu.

Ketika angin yang kencang bertiup dari utara, maka sepasang pucang itupun terayun-ayun seakan-akan ikut serta menari, menarikan tarian maut, seperti yang sedang terjadi di atas bentangan berumput di bawahnya.

Dalam kilauan cahaya bulan yang memantul dari ujung-ujung senjata yang bergerak-gerak itu, kadang-kadang terpercik bunga-bunga api yang meloncat karena benturan dua kekuatan yang tiada taranya.

Sementara itu, di rumah Arya Teja, bibinya masih duduk sambil mengusap air matanya dengan ujung bajunya. Ia tidak berpaling sama sekali ketika seorang pelayan menyalakan lampu di dalam bilik yang sudah menjadi gelap itu.

Bayangan-bayangan yang paling mengerikan telah menganggu angan-angannya. Segala kemungkinan dapat terjadi atas kemanakannya itu.

Bibi Arya Teja itu perlahan-lahan berdiri. Ia tidak mau datang kepada Rara Wulan dalam keadaannya. Ia tidak mau memberikan kesan tentang kecemasan yeng merayapi hatinya atas Arya Teja. Karena itu, maka bibi Arya Teja itu tidak segera pergi ke bilik Rara Wulan yang tertutup. Ia pergi dahulu ke perigi untuk mencuci mukanya.

Hati perempuan tua itu berdesir ketika ia melihat bulan yang bulat mengapung di langit. Sejenak dipandanginya bulan yang terang itu. Dilihatnya bayangan yang kehitam-hitaman di dalam warna yang kuning cerah. Namun angan-angannya yang dilukisi oleh kecemasannya tentang kemanakannya telah membuat gambaran yang mengerikan pada wajah bulan itu. Seakan-akan dilihatnya, di dalam bulatan bulan purnama, sesosok tubuh terbaring diam. Semakin lama menjadi semakin jelas. Seorang anak muda. Dan bahkan kemudian seakan-akan perempuan tua itu melihat warna wajah anak muda itu.

Perempuan itu terkejut ketika terloncat dari bibimya desah, “Arya Teja.”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Bayangan itu menjadi semakin samar. Hilanglah kemudian gambarannya tentang Arya Teja. Yang dilihatnya kemudian adalah ceritera tentang seekor kucing Candramawa dan seorang bidadari yang cantik duduk di bawah sebatang pohon beringin putih.

“Hem,” orang tua itu berdesah. Kakinya yang sudah berkeriput oleh umurnya itu digerakkannya kembali melangkah ke perigi. Dalam kesenyapan malam terdengarlah gerit senggot timba seakan sedang merintih.

Perempuan tua itu mencuci mukanya. Dicobanya untuk menghilangkan segala macam kesan yang dapat menimbulkan kecemasan kepada Rara Wulan yang sedang berputus asa.

“Aku harus membuat hatinya menjadi tenteram. Ia akan mendengar berita yang lebih menyayat hatinya besok pagi apabila seseorang telah menemukan sesosok tubuh terkapar di bawah sepasang Pucang Kembar itu. Siapa pun orang itu.”

Sambil mengusap mukanya yang basah dengan ujung kain panjangnya, perempuan itu berjalan tertatih-tatih menuju ke bilik Rara Wulan yang masih tertutup rapat.

Ketika perempuan itu sudah masuk ke dalam rumah, maka pintu lereg di butulan belakang pun segera ditutupnya rapat-rapat, supaya angin yang dingin tidak menyusup masuk ke dalam. Dibenahinya rambutnya yang kusut, sambil berjalan perlahan-lahan menuju ke bilik Rara Wulan.

Dengan hati-hati bibi Arya Teja itu mendorong daun pintu bilik itu ke samping, supaya seandainya Rara Wulan masih tidur kelelahan, tidak menjadi terkejut karenanya.

Tetapi bibi Arya Teja itu mengerutkan keningnya. Ketika pintu itu sudah separo terbuka, dan pembaringan Rara Wulan itu sudah tampak di bagian bawahnya, perempuan tua itu tidak segera melihat Rara Wulan.

“Oh, agaknya ia sudah bangun,” desisnya.

Dengan hati-hati perempuan itu menjengukkan kepalanya. Tetapi keningnya menjadi semakin berkerut. Ternyata bilik itu telah kosong.

“Kemanakah perempuan itu?” desis bibi Arya Teja. “Ah, mungkin ia baru keluar sebentar. Ke dapur atau ke belakang.”

Bibi Arya Teja itu kemudian melangkah masuk. Dibiarkannya pintu tetap terbuka, supaya kehadirannya tidak mengejutkan Rara Wulan seandainya ia masuk kembali ke dalam biliknya.

Dengan hati-hati pula bibi Arya Teja membenahi pembaringan Rara Wulan. Dilipatnya kain yang masih berserak-serakan. Ditebahinya pembaringan itu dengan sapu lidi, dan tikar yang berkerut pun diluruskannya.

“Kemana perempuan ini,” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Betapa ia mencoba menenangkan hatinya, namun kegelisahan yang semakin dalam telah mencengkam jantungnya. Akhirnya perempuan tua itu melangkah ke luar. Dicarinya Rara Wulan ke segenap ruangan di dalam rumah itu, tetapi ia tidak menemukannya.

“Wulan,” akhirnya ia memanggil, “Wulan, dimana kau?”

Tetapi tidak ada jawaban. Suara perempuan tua itu membentur dinding-dinding bambu dan lenyap dalam kesenyapan malam.

Bibi Arya Teja itu pun segera pergi ke ruang belakang. Kepada seorang pelayan ia bertanya, “Apakah kau melihat Rara Wulan?”

“Oh,” pelayan itu menjawab, “ia berada di dalam biliknya”

“Tidak. Ia tidak ada di dalam biliknya.”

“O ya, ia sudah dipindahkan ke bilik sebelah. Mungkin sedang tidur. Bilik itu telah diberi lampu pula.”

“Ia tidak ada pula di dalam bilik itu. Seluruh ruangan di dalam rumah itu telah aku cari, tetapi ia tidak ada di dalam.”

Pelayan itu mengerutkan dahinya. “Tetapi ia ada di dalam,” desisnya.

Pelayan yang lain yang mendengar percakapan itu segera mendekat pula dan berkata, “Rara Wulan sedang tidur ketika aku memasang lampu di dalam biliknya.”

“Ya, tetapi ia sudah bangun dan tidak ada di dalam bilik itu.”

Pelayan itu menggigit bibirnya. “Aku tidak melihat ia pergi ke belakang”

“Biarlah aku mencarinya sebentar. Mungkin Rara Wulan ingin menyejukkan hatinya di petamanan atau di kebun belakang,” berkata salah seorang dari pelayan itu.

“Carilah, carilah di mana saja sampai ketemu,” berkata bibi Arya Teja. “Rara Wulan sedang dibayangi oleh kegelapan hati.”

“Kenapa Rara Wulan itu tampaknya selalu bersedih?” bertanya pelayannya yang lain.

“Aku tidak tahu,” jawah bibi Arya Teja, “itu adalah persoalan Rara Wulan dengan suaminya. Sekarang carilah, dan ajaklah ia masuk ke dalam biliknya. Ia sedang sakit, sehingga angin malam akan menyebabkan tubuhnya menjadi semakin tidak enak.”

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 22 Oktober 2008 at 05:43  Comments (11)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-32/trackback/

RSS feed for comments on this post.

11 KomentarTinggalkan komentar

  1. buku 32 kok gak bisa dibuka.
    “404-file not found”
    mo tak bantu convert ke doc

    D2: Sudah diperbaiki. Coba cek lagi

  2. oke… dah bisa, dah ada convertan doc-nya, tak nunggu buku selanjutnya aja. trims

  3. convertannya agak susah diedit… mungkin banyak yang kesulitan, soalnya tiap diperbesar fontnya tulisannya menumpuk. bagi rekan-rekan yang masih kesulitan… sebenarnya cukup diganti spasinya dengan satu spasi aja… nanti teksnya gak numpuk lagi.

    ni aku kirim yang udah gak numpuk lagi

    D2: Sudah saya ganti dg yg teksnya gak numpuk. Thanks.

  4. ohm…

    yg bagian depan dah kelar
    tapi lom bisa dikirim
    yahoo ngadat lagi.. susah mau aplod attachnya

    salam…

  5. buku 32 sudah selesai dan dikirim ke DD

    D2: Thanks. Lagi diproof

    • ..nderek Thanks…Ki Arema 😀

  6. ohm…

    yg kedua dah kelar… tapi seperti tadi.. lom bisa ke kirim..
    gimana ohm?? … tapi masih saya coba terus

    salam

  7. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.

    Kekerasan hati dan emosi Arya Teja dan Paguhan luntur dihadapan orang yang dicintai.

    • kekerasan hati ki mbleh melunak di hadapan mbak astuti ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: