Buku 32

“Kau pucat, Wulan. Apakah kau masih pening dan akan muntah?” pertanyaan itu begitu saja meloncat dari mulut Arya Teja.

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi dada Arya Teja mulai bergetar lagi ketika ia melihat mata isterinya menjadi basah. Apalagi ketika sesaat kemudian isterinya mulai terisak.

Dada Arya Teja mulai menjadi pepat. Karena itu maka justru ia terdiam. Ia duduk saja seperti patung sambil memandang jauh menembus lubang pintu bilik itu.

Tetapi isak isterinya yang mengeras telah benar-benar mengganggunya. Setelah sejenak ia dicengkam oleh perasaan iba, maka kini ia kembali dilemparkan ke dalam kegelisahan yang sangat.

Sejenak ruangan itu menjadi hening. Namun isak Rara Wulan menjadi semakin keras.

Arya Teja itu terkejut ketika kemudian isterinya terbatuk-batuk dan mulai diganggu lagi oleh penyakitnya. Muntah-muntah.

Arya Teja segera berdiri. Dipanggilnya seorang pelayannya untuk mengambil pasir dan ditaburkannya di bawah pembaringan Wulan yang sedang muntah-muntah.

“Wulan,” dada Arya Teja mulai gemetar, “apakah sebenarnya penyakitmu itu?”

Ketika pertanyaan itu menyentuh telinganya, maka meledaklah tangis Rara Wulan yang sedang muntah-muntah itu. Tetapi oleh tekan¬an perasaan yang menghimpit jantungnya, maka justru ia ber¬henti muntah. Kini ia duduk sambil menangis sejadi-jadinya.

“Wulan,” Arya Teja menjadi semakin cemas, “apakah kau tidak dapat mengatakan, penyakit apakah yang sebenarnya sedang kau tanggungkan? Apakah kau sedang menderita sakit panas dingin? Apakah perutmu terasa mual ataukah sakit apa lagi?”

Tidak ada jawaban selain suara tangis isterinya.

“Oh,” Arya Teja menjadi semakin bingung. Ia berjalan mondar-mandir. Sekali-sekali dihentakkannya kakinya, namun kemudian diingatnya lagi pesan bibinya.

Tetapi ternyata bukan saja pesan bibinya itu yang teringat olehnya. Tetapi juga sikap bibinya yang mengherankan pada mulanya. Bibinya itu justru tertawa-tawa mendengar keterangannya tentang penyakit isterinya.

“Benarkah?” tiba-tiba pertanyaan itu meledak di kepalanya. Dengan dada yang bergelora Arya Teja mendekati isterinya.

Ditatapnya isterinya yang sedang menangis itu berlama-lama. Tetapi pertanyaan itu tidak juga terloncat dari mulutnya. Arya Teja tidak mempunyai cukup kekuatan untuk melontarkan pertanyaan itu. Ia mencemaskan keadaan isterinya dan keadaannya sendiri apabila ia mendengar jawaban isterinya itu, jika dugaan bibinya itu benar.

“Tetapi, apakah aku akan tinggal di dalam neraka ini untuk seterusnya?” ia mencoba menggeretakkan giginya. Tetapi hatinya kemudian menjadi luluh lagi.

“Wulan,” katanya perlahan-lahan, “tidurlah. Kau harus se¬gera sembuh. Kau tidak boleh selalu disiksa oleh duka dan air mata. Meskipun aku tidak tahu sebabnya, tetapi aku dapat merasakannya.”

Tiba-tiba Rara Wulan itu membanting dirinya bersimpuh di hadapan suaminya. Kata-kata yang lembut itu justru semakin menyiksanya. Dengan pilu ia meratap, “Bunuh saja aku, Kakang. Bunuhlah aku.”

Dada Arya Teja terguncang mendengar permintaan itu. Permintaan itu telah seribu kali didengarnya. Tetapi setelah ia mendengar dugaan bibinya tentang penyakit isterinya, maka tanggapannya menjadi lain. Karena itu, maka tiba-tiba giginya gemeretak dan matanya menjadi seakan-akan menyala.

Ditatapnya saja tubuh isterinya yang bersimpuh di hadapannya. Didengarnya suara tangisnya yang serak dan dilihatnya titik-titik air matanya yang menetes membasahi kakinya.

Dada Arya Teja itupun kemudian terasa bergolak semakin dahsyat. Bahkan serasa akan meledak karenanya. Berbagai macam prasangka telah mencengkam hatinya. Prasangka tentang isterinya, penyakitnya dan sikapnya.

Tiba-tiba saja terdengar Arya Teja itu menggeram, “Pasti. Pasti hal itu telah terjadi.”

Tetapi isterinya yang menangis itu tidak mendengar suaminya menggeram dan menggeretakkan giginya. Ia masih saja menangis dan bahkan diulanginya permintaannya, “Kakang, bunuh saya aku, Kakang, daripada hidupku akan tersiksa di sepanjang umur¬ku.”

Tubuh Arya Teja menjadi gemetar. Pertanyaan yang selama ini tersimpan di dadanya, tiba-tiba meledak tanpa dapat dikendalikannya lagi. Justru karena selama ini ia tidak mempunyai cukup kekuatan untuk melontarkannya, maka ledakannya ternyata men¬jadi sangat mengejutkan tidak terkendali.

Tiba-tiba tangan Arya Teja yang kokoh kuat itu mencengkam pundak isterinya, Rara Wulan. Diguncangnya tubuh isterinya itu sambil berteriak, “Wulan, Wulan. Katakan, katakan. Apakah kau sedang sakit?”

Rara Wulan terkejut sehingga tangisnya tertahan. Tetapi ketika ia menengadahkan wajahnya, hampir yang menjerit ketakutan. Dilihatnya wajah suaminya yang tegang, dan sepasang matanya yang membara. Ia belum pernah melihat wajah Arya Teja demikian menakutkan seperti saat ini.

“Katakan, Wulan. Apakah penyakitmu itu, he?”

Rara Wulan masih terbungkam. Tetapi kemudian ia menggigil ketakutan.

Dada Arya Teja yang serasa telah bengkah itu, benar-benar tidak dapat ditahankannya lagi. Sekali lagi meledaklah pertanyaannya yang serasa menghentikan arus darah Rara Wulan, “Wulan, apakah kau sedang mengandung, he?”

Sejenak Rara Wulan membeku di tempatnya. Wajahnya yang pucat kian menjadi pucat. Arya Teja yang sedang diamuk kegelisahan, kegelisahan, kecemasan dan kebingungan itu melihat Rara Wulan bergeser secengkang surut. Dilihatnya pula bibir perempuan itu bergerak-gerak, tapi tidak sepatah kata pun yang meluncur dari sela-sela mulutnya.

“Katakan, katakan. Apakah kau sedang mengandung?” Rara Wulan masih belum menjawab, tetapi wajahnya kian menjadi pucat seputih kapas.

“Katakan, katakan,” Arya Teja berteriak. Ketika Rara Wulan tidak segera menjawab, maka terdengar Arya Teja itu menjadi semakin keras berteriak, “Apakah kau sudah menjadi ibu, he? Ayo katakan!”

Arya Teja itu kemudian menghibaskan tangan Rara Wulan yang menggenggam kakinya erat-erat sehingga perempuan itu terdorong mundur.

“Kenapa kau diam saja, he? Katakan, ya atau tidak?”

Rara Wulan benar-benar terbungkam. Kini ia tertelungkup di lantai. Suara Arya Teja benar-benar seperti beribu-ribu petir yang menyambar-nyambar di atas kepalanya.

“Wulan,” berkata Arya Teja yang matanya menjadi semakin menyala, “selama ini aku memandangmu sebagai seorang bidadari yang bersih, yang putih tanpa setitik noda pun yang lekat di tubuhmu. Tetapi, katakan, apakah benar begitu?”

Arya Teja itu surut selangkah ketika tiba-tiba ia melihatnya bangkit. Rara Wulan yang sudah sampai ke puncak ketakutannya justru sudah tidak menangis lagi. Ia mencoba mengusap air matanya dengan ujung bajunya. Ketika ia sudah duduk, maka ditengadahkannya wajahnya.

“Kakang,” suara itu gemetar, “apakah aku harus menjawab pertanyaan itu?”

Arya Teja-lah yang kemudian terdiam sesaat. Hatinya yang bergolak menjadi semakin bergolak. Sekali lagi ia diterkam oleh ketakutan. Kalau isterinya itu nanti menjawab pertanyaanya, apakah jawabnya tidak akan membuatnya gila.

Tetapi sekali lagi perasaanya meledak, “Ya, kau harus menjawabnya. Kau tidak akan dapat ingkar lagi dari kenyataan.”

Wajah Rara Wulan yang pucat itu kini justru dijalari oleh warna darahnya. Semakin lama semakin merah. Dan dengan suaranya yang gemetar, terdengar jawabnya, “Kakang. Sudah aku katakan, bunuh saja aku. Aku memang sudah tidak sepantasnya menjadi isterimu karena aku memang sudah bernoda.”

Jawaban itu menyambar perasaan Arya Teja seperti guruh yang memecahkan jantungnya. Sejenak ia terhenyak dalam kebekuan seperti patung yang mati. Matanya memancarkan perasaan yang asing dan mulutnya terkatup rapat-rapat.

Dan Arya Teja yang membeku itu mendengar isterinya berkata, “Karena itu, Kakang, cara yang paling baik bagimu dan bagiku adalah, bunuhlah aku.”

Dunia ini serasa sudah tidak diinjaknya lagi. Arya Teja merasa dirinya seperti terbang menerawang dalam dunia yang asing. Bukan sekedar sebuah mimpi yang mengerikan, tetapi ia merasa bahwa ia terlempar dalam kesenyapan yang dahsyat. Semuanya seolah-olah menjadi semakin menjauh, menjauh daripadanya. Akhirnya dunianya yang selama ini dimilikinya, seolah-olah hilang. Hilang. Dan Arya Teja merasa dirinya berada dalam kekosongan yang paling dalam, dibakar oleh kesepian dan kebekuan yang paling dahsyat.

Arya Teja itu terhuyung-huyung surut sehingga tubuhnya tersandar pada dinding biliknya. Meskipun matanya masih terbuka, tetapi seolah-olah ia sudah tidak melihat lagi, meskipun telinganya masih ada, tetapi seolah-olah pepat dan tidak didengarnya apa pun.

Namun kemudian, api yang membara di dadanya bergolak menyala semakin dahsyat seperti api neraka. Perlahan-lahan api telah memanasi darahnya kembali. Perlahan-lahan Arya Teja itu jejakkan kakinya di dunia yang penuh murka, kemarahan dendam. Dunia yang dibakar oleh nafsu manusiawi yang menghancurkan. Sakit hati.

Dengan sorot mata yang aneh dipandanginya isterinya yang masih saja duduk di lantai. Isterinya dianggap akan dapat mendampinginya hidup dalam ketenteraman, tetapi ternyata telah menyeretnya ke dalam neraka yang paling pedih.

Dalam luapan perasaanya, Arya Teja itu melihat seakan Rara Wulan itu kini bukanlah perempuan yang selama ini telah didambakannya untuk menjadi isterinya. Wajah isterinya yang lembut dan sejuk itu, tiba-tiba telah berubah menjadi wajah hewan betina yang paling terkutuk. Wajah yang penuh dengan noda yang paling kotor yang pernah dilihatnya.

Sejenak Arya Teja mencoba menahan gejolak perasaannya, tetapi ternyata ia kemudian terseret oleh arus yang dahsyat yang mendamparkannya ke dalam suatu keadaan yang sama sekali tidak berdaya untuk melawan luapan sakit hatinya. Lupa diri.

Tiba-tiba Arya Teja itu menggeretakkan giginya. Dengan kaki yang gemetar ia selangkah maju mendekati isterinya yang masih duduk di lantai. Dengan wajah yang membara ia menggeram, “Setan betina kau Wulan! Tidak pantas kau hidup lagi di rumah ini. Karena itu, lebih baik aku memenuhi permintaanmu. Aku bunuh kau!”

Tangan Arya Teja yang gemetar tiba-tiba telah meraih hulu kerisnya. Keris pusaka yang selama ini hampir tidak pernah ditarik dari wrangkanya. Namun keris itu kini telah berada di tangannya. Keris yang seolah menyalakan api dendam yang membara di dadanya.

Rara Wulan melihat Arya Teja itu mengangkat kerisnya dengan wajah yang merah tegang. Sejenak suaminya itu memejamkan matanya, dan Rara Wulan yang sudah pasrah itupun memejamkan matanya pula.

Tetapi tiba-tiba Arya Teja tertegun sejenak. Gelora di dadanya terguncang semakin dahsyat ketika ia mendengar jerit seorang perempuan memanggil namanya, “Arya Teja. Apakah yang kau lakukan itu?”

Tubuh Arya Teja menjadi gemetar, dan keris ditangannya pun menjadi gemetar pula. Terasa pergelangan tangannya ditahan oleh jari-jari yang lembut. Meskipun tangan yang menahannya itu sama sekali tidak mempunyai tenaga, tetapi terasa bahwa tangannya seakan-akan tidak mampu lagi digerakkannya.

Dan Arya Teja mendengar lagi suara itu, “Arya Teja. Apakah yang kau lakukan itu?”

Perlahan-lahan Arya Teja membuka matanya. Di sampingnya berdiri seorang perempuan tua. Bibinya.

“Kenapa Bibi menahan aku?” terdengar suara Arya Teja gemetar.

“Kau telah membuat kesalahan yang akan kau sesali sepanjang hidupmu.”

“Aku tidak memerlukannya lagi, Bibi. Ia menodai perkawin¬an kami. Dan ia sendiri minta aku untuk membunuhnya.”

“Aku sudah menyangka, bahwa kau akan kehilangan akal. Itulah sebabnya hatiku sama sekali tidak tenteram ketika kau meninggal¬kan rumahku.”

“Ia akan menjadi hantu yang akan menyiksa hidupku, Bibi. Biarlah, biarlah aku lenyapkan saja perempuan itu, supaya aku terlepas dari neraka ini.”

“Aria Teja. Kau akan menyesal.”

“Tidak. Tidak. Aku tidak akan menyesal sama sekali. Lepaskan, Bibi. Biarlah aku membunuhnya. Kalau Bibi tidak sampai hati untuk menyaksikannya, tinggalkanlah kami di sini.”

“Jangan menjadi mata gelap, Ngger.”

Darah Arya Teja menjadi semakin menyala, ketika ia men¬dengar Rara Wulan menyahut, “Biar, Bibi. Biarlah Kakang Arya Teja membunuhku. Itu adalah penyelesaian yang baik, baik baginya dan bagiku sendiri.”

“Nah, bukankah Bibi mendengar?” suara Arya Teja meninggi. “Iblis itu menantangku. Lepaskan Bibi, biarlah aku membunuhnya. Apakah darahnya juga merah seperti darah manusia yang bersih.”

Tetapi bibinya tidak melepaskan tangan Arya Teja. Tangan laki-laki yang sedang dibakar oleh kemarahannya itu masih dipegangnya. Dengan cemasnya ia berkata, “Jangan, jangan Ngger. Jangan.”

Arya Teja telah benar-benar menjadi waringuten. Ia sudah tidak dapat lagi berpikir. Yang ada di dalam dirinya hanyalah api kemarahan dan sakit hati. Itulah sebabnya, maka tanpa dikehendakinya sendiri, didorongnya bibinya yang tua itu sehingga terhuyung-huyung beberapa langkah. Untunglah, bahwa tubuhnya yang lemah itu tersandar pada dinding sehingga ia tidak jatuh tertelentang.

Begitu tangan bibinya terlepas, maka dengan menggeram sekali lagi Arya Teja mengangkat kerisnya, “Kau harus mati. Kau harus mati.”

Tetapi ia masih mendengar suara bibinya melengking, “He, kau gila Arya Teja. Kau gila. Bunuhlah perempuan itu menurut kehendakmu, apalagi ia adalah isteri yang mengkhianatimu. Tetapi kau akan berdosa tujuh kali lipat karena kau membunuh juga nyawa yang sama sekali tidak berdosa. Bayi di dalam kandungan perempuan itu.”

Kata-kata bibinya itu meledak di telinga Arya Teja seperti seribu guruh. Dadanya terguncang dahsyat sekali, sehingga rasa-rasanya seluruh tulang rusuknya terpatahkan. Sejenak pandangan matanya menjadi gelap berkunang-kunang. Tubuhnya gemetar dan nalarnya seakan-akan ditaburi oleh kekelaman yang pekat.

Sekali lagi Arya Teja terhenyak ke dinding. Tubuhnya menjadi lemah, seolah-olah tulang-tulangnya dilolosi. Hampir-hampir ia sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.

Bibinya kini telah berdiri di hadapannya. Dipandanginya wajah kemanakannya yang kadang-kadang pucat namun kemudian merah membara.

“Ingatlah akan dirimu.”

Keringat dingin telah membasahi segenap tubuh Arya Teja. Dari ubun-ubunnya sampai ke ujung kakinya.

“Tidak sepantasnya kau berbuat begitu, Ngger,” berkata bibinya. “Kau adalah laki-laki, seperti ayahmu menginginkannya, bahwa kau adalah laki-laki jantan. Kau tidak dapat membunuh pe¬rempuan itu tanpa membunuh bayi yang sama sekali tidak berdosa. Tetapi kau dapat berbuat demikian terhadap orang yang menabur¬kan benih di ladangmu tanpa membunuh bayi itu.”

Kata-kata bibinya itu benar-benar telah menyentakkan perasaan Arya Teja. Tubuhnya yang seolah-olah sudah tidak berdaya itu, tiba-tiba tegak bagaikan tiang baja yang kokoh kuat tidak tergoyahkan. Kini matanya benar-benar mancarkan api yang menyala di dalam dadanya.

Terdengar gigi Arya Teja gemeretak. Terngiang kembali kata-kata bibinya itu, “Tetapi kau dapat berbuat demikian terhadap orang yang menaburkan benih di ladangmu tanpa membunuh bayi itu.”

Arya Teja menggeram. Terdengar suaranya parau, “Ya, Bibi. Aku mengerti.”

Selangkah Arya Teja maju mendekati isterinya. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Wulan, katakan. Katakan. Siapakah yang telah berbuat itu? Aku sadar kini, bahwa itu adalah peng¬hinaan yang sedalam-dalamnya bagi kejantananku. Orang itu ingin mencoba mengukur lebar dada Arya Teja yang sebentar lagi akan mendapat wisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan di Menoreh. Kalau aku belum menemukan orang itu Wulan, maka aku tidak akan dapat hidup dengan tenteram. Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi padaku. Membunuh atau dibunuh. Tetapi itu adalah sikap jantan.”

Rara Wulan yang sudah pasrah diri, yang justru seakan-akan sudah tidak lagi dibayangi oleh kecemasan, dan bahkan air matanya pun seolah-olah sudah kering, kini digoncangkan lagi oleh kege¬lisahan yang dahsyat. Terbayang di wajahnya, apa yang dapat terjadi apabila dua orang laki-laki jantan telah berhadapan.

“Wulan, katakan Wulan, supaya aku tidak jatuh ke dalam dosa yang paling nista, membunuh perempuan yang tidak berdaya dan membunuh bayi di dalam kandungannya. Bayi yang tidak berdosa sama sekali.

Pernyataan itu telah benar-benar menghentakkan dada Rara Wulan. Namun Rara Wulan itu mendengar bibi Arya Teja berkata, “Tidak ada gunanya, Arya Teja. Sikap itu memang sikap jan¬tan. Tetapi tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan cara itu. Aku memperingatkan kau akan hal itu, sekedar untuk mencegah kau menjadi kehilangan akal. Sikap itu jauh lebih baik daripada kau membunuh perempuan dan bayinya yang sama sekali tidak berdosa. Tetapi sikap itu sendiri bukan sikap yang paling baik.”

Mata Arya Teja yang menyala itu membayangkan keragu-raguan setelah ia mendengar kata-kata bibinya. Namun bibinya itu berkata terus, “Sikap yang demikian masih akan menumpahkan darah. Darah bukanlah penyelesaian yang paling baik.”

Tubuh Arya Teja menjadi gemetar. Sekali lagi terdengar suaranya yang parau, “Lalu apakah sebaiknya yang aku lakukan, Bibi?”

“Kau harus berjiwa besar, Arya Teja. Kau harus mem¬buat penyelesaian tanpa menitikkan darah. Kau harus bertemu dengan laki-laki itu. Kau atau orang itu yang seterusnya akan me¬miliki Rara Wulan. Sesudah itu, tidak ada lagi persoalan di antara kalian.

Darah Arya Teja menghentak-hentak di jantungnya. Dan ter¬dengar ia berkata terbata-bata, “Itu tidak mungkin, Bibi. Itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin melakukan kedua-duanya. Terus mengawini Rara Wulan dengan menelan pengghinaan dari seorang laki-laki tanpa berbuat sesuatu, seolah-olah aku bukan laki-laki, atau mele¬paskan Rara Wulan dengan menyandang hina dan malu, karena orang-orang Menoreh akan mengatakan, bahwa isteri kepala tanah perdikannya telah direbut orang tanpa berbuat sesuatu.”

Bibinya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Itu benar, Arya Teja. Tetapi bahwa Rara Wulan mengandung di luar perkawinannya denganmu itu sama sekali tidak diketahui orang.”

“Tetapi aku tahu, Bibi. Aku tahu, Wulan tahu dan laki-laki yang itu tahu pula.”

“Bukankah persoalan itu masih terbatas sekali? Kalau jiwamu cukup besar, Arya, kau lupakan saja apa yang telah terjadi. Tetapi laki-laki itu memang harus datang kepadamu, minta maaf dan untuk seterusnya tidak akan menyebut-nyebut anaknya yang masih dalam kadungan.”

“Hanya begitu, Bibi? Hanya cukup dengan permintaan maaf dan untuk seterusnya tidak akan mengusik anaknya?”

“Arya Teja. Peristiwa ini harus kau pandang dari segi yang lapang. Hubungan itu terjadi sebelum Rara Wulan menjadi isterimu. Kau tidak dapat mengatakan, bahwa laki-laki itu telah merampas hakmu seluruhnya, sebab pada saat itu terjadi, Rara Wulan masih belum isterimu.”

“Oh,” Arya Teja berdesah. Keringatnya menjadi sema¬kin banyak mengalir, “Tetapi aku telah terjebak dalam perangkap yang keji itu. Laki-laki itu ternyata pengecut. Kalau ia laki-laki jantan, maka ia akan bertanggung jawab dan tidak membiarkan Wulan menjadi isteri orang lain. Mungkin hal itu disengaja pula untuk menghindarkan diri dari keharusan bertanggung ja¬wab. Agaknya Wulan telah bersepakat pula menjerat leherku.”

“Tetapi aku menyesal,” tiba-tiba Rara Wulan memotong, “aku menyesal bahwa hal itu terjadi. Karena itu maka aku akan rela dibunuh. Nah, Kakang, kalau keputusanmu memang ingin membunuhku, kenapa kau akan membatalkannya?”

“Begitu, begitu yang kau maksud?” tiba-tiba darah Arya Teja meluap sekali lagi. Sehingga tanpa disadarinya ia melangkah maju dengan tangan gemetar. Kerisnya masih juga berada di dalam genggemannya.

“Jangan gila,” teriak bibinya, “kalian berdua memang gila.”

Sekali lagi Arya Teja tertegun, “Dengar kata-kataku!” ben¬tak bibinya. Ternyata pengaruhnya besar sekali atas Arya Teja, sehingga ia melangkah surut.

“Tidak patut kalian berbuat begitu,” berkata bibinya pula, “kalian harus menemukan penyelesaian sebaik-baiknya, sebagamana penyelesaian yang dituntut oleh manusia beradab.”

“Kami sama-sama laki-laki, Bibi. Itu adalah penyelesaian yang paling baik dan adil,” geram Arya Teja, “aku tidak melihat jalan lain. Sekarang sebutkan laki-laki itu, he?”

Rara Wulan masih terduduk diam. Pertanyaan yang demikian, benar-benar telah menguncangkan dadanya.

Seandainya ia menjawab berterus terang, maka ia yakin, pasti akan terjadi pertumpahan darah dan bahkan kematian se¬perti yang dikatakan oleh Arya Teja. Membunuh atau dibunuh. Rara Wulan tahu pula, bahwa laki-laki yang ditanyakan oleh Arya Teja itu pun pasti akan berkata begitu pula. Membunuh atau di¬bunuh.

Penyesalan yang paling dalam telah menyesak di dada Rara Wulan. Sebenarnya penyesalan itu datang sejak peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang seakan-akan berlangsung di luar sadarnya, pada saat iblis datang menghuni hatinya tanpa dapat dilawannya. Karena itu, maka tidak ada lain yang diharapkannya kini, selain mati. Mati. Bahkan telah timbul pula hasratnya untuk membunuh diri. Tetapi alangkah baiknya, apabila ia mati di tangan Arya Teja. Mungkin hal itu akan dapat memberi sedikit kepuasan kepada suaminya yang telah dikhianatinya itu.

Maka sejenak kemudian, terdengar Rara Wulan berkata, “Kakang, aku tidak akan mengatakan, siapakah laki-laki itu. Timpakan semua kesalahan kepadaku, karena memang akulah yang paling bersalah dalam hal ini. Semuanya tidak akan terjadi, seandainya aku tidak menyurukkan diriku sendiri ke dalam lumpur yang paling hina. Bagiku penyelesaian yang paling baik adalah bunuhlah aku.”

“Perempuan celaka!” potong bibi Arya Teja. “Kau benar-benar tidak tahu diri. Bunuhlah dirimu sendiri seandainya kau ingin. Tetapi tunggulah bayi di dalam perutmu itu lahir dan ber¬kesempatan hidup. Tak ada hak dari siapa pun juga untuk mem¬bunuh nyawa yang sama sekali tidak bersalah itu. Semua hukuman harus ditimpakan dan ditanggung oleh mereka yang berbuat salah, tetapi tidak pada nyawa itu.”

Seperti juga Arya Teja, maka hati Rara Wulan pun ter¬sentuh pula. Apalagi sebagai seorang perempuan yang langsung menyimpan nyawa itu di dalam dirinya. Karena itu, maka kini ke¬bingungan yang dahsyat telah melanda, jantungnya. Ia ingin ma¬ti, tetapi peringatan bibi Arya Teja telah membuatnya bimbang. Apabila semula ia telah pasrah tanpa ragu-ragu menghadapi saat-saat kematian yang memang sudah diharapkannya, tetapi kini ia mulai bimbang. Nyawa yang ada di dalam dirinya tidak hanya nyawanya sendiri saja. Tetapi ia pun sedang menyimpan nyawa bayi di dalam perutnya itu.

Dalam keheningan itu terasa, betapa udara bilik itu seperti dipanggang di atas api. Hening, tetapi tegang dan panas.

Sejenak kemudian terdengar suara Arya Teja parau, “Wulan. Jangan memperlambat persoalan. Katakan siapa laki-laki itu? Aku akan membuat penyelesaian.”

“Jangan dengan cara itu,” bibi Arya Teja berkata, “kau harus mendapatkan cara yang baik. Cara yang beradab. Ka¬lian bukan manusia-manusia liar yang hanya mengenal cara penyelesaian yang serupa itu, darah.”

Dada Arya Teja berdentangan mendengar kata-kata bibinya. Kalau semula bibinya berhasil meredakan maksudnya untuk membunuh Rara Wulan, tetapi kini nafsu Arya Teja untuk membuat perhitungan dengan laki-laki yang dianggapnya telah menghinanya itu sama sekali tidak surut. Bahkan dengan gemetar ia berkata, “Tidak ada pilihan lain, Bibi. Bukankah Bibi sendiri berkata, bahwa aku tidak sepantasnya membunuh Rara Wulan, tetapi aku dapat berbuat begitu kepada orang yang menaburkan benih di ladangku.”

“Tetapi bukan maksudku, Arya,” berkata bibinya, “aku hanya ingin mencegahmu membunuh Rara Wulan dan bayinya.”

“Itu adalah keputusanku,” geram Arya Teja. Lalu katanya kepada Rara Wulan, “Wulan, sebutkan nama itu. Sebutkan.”

Dada Arya Teja berdentang ketika ia melihat Rara Wulan menggelengkan kepalanya yang tunduk, “Aku tidak dapat mengatakannya, Kakang.”

“He,” mata Arya Teja kini seolah-olah menyala, “sebutkan! Sebutkan! Kau hanya menyebutkan saja nama itu. Penyelesaiannya ada di tanganku.”

Air mata Rara Wulan kini menderas lagi. Dan bahkan seolah-olah ia tidak dapat lagi bernafas oleh isaknya yang menyesak di dada. Tetapi sekali lagi ia menggelengkan kepalanya.

“Wulan. Wulan. Kau tidak mau menyebutkan he?” Arya Teja tiba-tiba berteriak penuh kemarahan. Dihentakkannya kakimu di lantai. Sambil menunjuk kepala isterinya dengan ujung kerisnya ia berkata, “Kau ternyata penghianat yang paling jahat. Kau sengaja menyembunyikan laki-laki di belakang pinjungmu. He, kalau aku laki-laki itu, maka alangkah malunya. Kalau aku menjadi laki-laki itu, akulah yang akan membunuh diri. Bukan sekedar bersembunyi dan bahkan mengorbankan nyawa seorang perempuan dan bayi di dalam kandungannya.”

Kata-kata itu serasa langsung menusuk jantung Rara Wulan. Bagaimanapun juga, penghinaan Arya Teja terhadap laki-laki yang pernah membuat sentuhan langsung di hatinya itu, membuatnya ber¬debar-debar. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa selain berdiam diri menutup mulutnya rapat-rapat. Perasaannya semuanya tertuang lewat air matanya.

“Wulan, apakah kau benar-benar sudah menjadi bisu he?” Arya Teja menjadi semakin marah dan berteriak-teriak.

“Arya Teja,” berkata bibinya, “hentakan perasaan di dadamu memang terlampau berat. Sekarang, marilah tinggalkan bilik ini, Ngger. Beristirahatlah. Kau akan menemukan ketenangan. Dalam ketenangan itulah kau baru mengambil sikap. Kalau sekarang kau menentukan cara penyelesaian itu, maka kau akan salah jalan. Kau sekarang tidak dikuasai oleh pikiran dan nalar, tetapi kau sedang dikuasai oleh perasaan. Perasaanmu yang lagi gelap.”

“Tidak, Bibi. Aku harus mendengarnya sekarang. Apakah aku akan bersikap sekarang, hal itu dapat dipikirkan kemudian. Tetapi nama itu harus aku dengar sekarang. Nama laki-laki licik yang hanya berani berperisai nyawa seorang perempuan, sehingga laki-laki betina itu tidak lebih dari seorang pengecut besar.”

Ternyata kata-kata itu telah menggugah sebuah hati. Betapa seseorang menahan diri, namun penghinaan itu tidak dapat dibiarkannya. Karena itu, maka seorang laki-laki yang selama ini mendengar¬kan pembicaraan itu dari balik dinding di luar rumah, tidak dapat lagi menahan gejolak perasaannya pula.

Sejak beberapa lama ia mendengarkan pembicaraan Arya Teja dan isterinya di dalam biliknya. Kadang-kadang ia terpaksa mena¬han nafasnya, namun kadang- kadang ia terpaksa menggeretakkan giginya.

Ia tidak mempedulikan satu dua orang pembantu di dalam rumah itu memperhatikannya dari kejauhan. Pembantu-pembantu rumah itu memang sudah mengenalnya, karena ia sering pula datang berkunjung menemui Arya Teja sebelum kawin dengan Rara Wulan.

Pembantu-pembantu yang melihatnya pun sama sekali tidak menegurnya. Mereka menyangka, bahwa orang itu akan berkunjung seperti biasa, tetapi ketika didengarnya Arya Teja sedang bertengkar dengan isterinya, maka ia menunggunya saja di luar. Sedang para pembantu itu tidak tahu apakah yang sebenarnya diperteng¬karkan. Mereka hanya mendengar suara Arya Teja hampir berteriak. Pembantu-pembantu itu menjadi ketakutan, karena sebelum itu me¬reka tidak pernah melihat atau mendengar Arya Teja bersikap kasar, meskipun kadang-kadang dapat juga bersikap keras.

Tetapi orang itu sebenarnya sama sekali tidak senang menunggu sampai pertengkaran itu reda. Pertengkaran itu sendiri telah membakar jantungnya dan mendidihkan darahnya. Ia-lah yang melihat Arya Teja berjalan dengan tergesa-gesa dan kemudian mengikutinya. Terasa ada sesuatu yang tidak wajar pada muda yang baru saja kawin itu.

Ternyata apa yang disangkanya itu benar-benar terjadi. Ia mendengar pertengkaran itu. Ia mendengar Arya Teja bahkan mengancam untuk membunuh isterinya, dan kini Arya Teja sedang mendesak Rara Wulan untuk menyebut nama laki-laki yang dianggapnya telah mengkhianatinya.

Dada orang itu menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar bahwa Rara Wulan berkeras hati untuk tidak menyebut nama laki-laki itu. Tetapi darahnya segera mendidih ketika ia mendengar penghinaan Arya Teja atas laki-laki itu.

“Hem, apakah aku akan berdiam diri saja?” desisnya di dalam hati.

Sebuah pergolakan telah terjadi di dadanya. Pergolakan yang semakin lama menjadi semakin dahsyat. Sejak Arya Teja menghunus kerisnya, ia telah berdiri dalam kebimbangan. Apakah ia akan turut mencampurinya? Tetapi sebelum ia mendapat keputusan, ia melihat bahwa bibi Arya Teja dengan tergesa-gesa memasuki rumah itu, dan ternyata perempuan itu telah berhasil mencegahnya, sehingga dengan demikian, ia tidak perlu mencampurinya. Tetapi ia tidak akan dapat terus menerus berdiam diri sambil mendengarkan penghinaan yang tiada berkeputusan.

Kini sekali lagi ia mendengar suara Arya Teja, “Kau tidak mau mengatakannya, Wulan? Baiklah. Simpanlah rahasia itu di dalam dirimu. Aku sudah tidak berkeinginan untuk membunuh lagi. Perbuatan itu hanya akan mengotori tanganku saja,” Arya Teja berhenti sejenak, lalu, “Besok aku akan membuat peryataan terbuka. Setiap orang akan mendengar apa yang telah terjadi atasmu, sampai saatnya seorang laki-laki berani menampilkan dirinya, dan mengaku bahwa ia telah melakukannya.”

Sebuah hentakan yang keras telah menggoncangkan dada Rara Wulan. Ancaman itu benar-benar telah membuat cemas dan ketakutan, sehingga terdengar suaranya terpatah-patah di sela tangis dan isaknya. “Oh, kau terlampau kejam, Kakang. Kenapa kau tidak mau membunuh aku saja daripada kau membuat aku malu tiada taranya.”

“Laki-laki itulah yang bersalah,” sahut Arya Teja, “kecuali kau bersedia menyebut namanya.”

Betapa hati Rara Wulan benar-benar tersiksa saat itu. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa kekhilafannya yang sesaat itu benar-benar telah mematahkan hari depannya, bahkan jauh lebih mengerikan daripada mati.

“Aku beri kau waktu,” berkata Arya Teja, “apabila sampai fajar besok kau belum juga mau mengatakannya, maka aku akan melakukannya. Aku akan membunyikan kentongan memanggil setiap orang di dalam padukuhan ini, yang sebentar lagi akan menjadi tanah perdikan yang sempurna. Aku akan sesorah dan mengatakan apa yang telah terjadi atas seorang perempuan yang bernama Rara Wulan.”

“Kakang,” Rara Wulan memekik.

Tetapi suara itu hilang ditimpa oleh suara Arya Teja yang lebih keras, “Sudah menjadi keputusanku.”

“Oh,” tangis Rara Wulan menjadi semakin keras. Kini kepalanya ditelungkupkan di lantai. Rambutnya yang hitam panjang berserakan dengan kusutnya.

Arya Teja masih berdiri tegak dengan sehelai keris di tangannya. Dadanya masih terasa membara dan sorot matanya masih memancarkan perasaannya yang bergolak. Sedang bibinya berdiri kebingungan tanpa dapat berbuat sesuatu. Arya Teja sama sekali tidak mau lagi mendengarkan nasehatnya.

Sebagai seorang perempuan, ia kemudian menjadi iba melihat Rara Wulan. Tanpa disadarinya ia melangkah maju. Dibelainya kepala perempuan itu sambil berkata, “Sudahlah, Wulan. Semuanya sudah terjadi. Tidak ada jalan untuk kembali. Tetapi jalan yang akan kau tempuh kelak, janganlah mengulangi apa yang telah terjadi, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Kini yang terjadi hanyalah akibat dari perbuatan yang sudah terlanjur itu. Memang pasti akan terasa pahit. Tetapi kalau kau sudah maju setapak lagi dan kau atasi kepahitan ini, kau mudah-mudahan akan mendapat ampun dari Yang Maha Kuasa dan mendapat hati yang terang.”

Tetapi Rara Wulan tidak menyahut. Bahkan tangisnya menjadi semakin keras.

Dalam saat yang demikian itulah, Arya Teja terperanjat. Ia mendengar langkah tergesa-gesa mendekati pintu bilik. Semakin lama semakin dekat. Sejenak kemudian dadanya berdesir tajam. Dilihatnya seorang laki-laki berdiri di ambang pintu. Seorang laki-laki yang memancarkan api kemarahan lewat matanya yang tajam, setajam mata burung hantu, seorang laki-laki yang hidungnya meleng¬kung seperti paruh burung betet, berkumis dan beralis tebal.

Bukan Aria Teja saja yang ternyata terkejut bukan buatan. Tetapi bibinya pun terkejut, ketika tiba-tiba saja ia melihat laki-laki itu. Ketika ia melihat mata yang seolah-olah memancarkan nyala api. Tetapi yang lebih terkejut lagi adalah Rara Wulan. Ketika ia mengangkat wajahnya, dan melihat laki-laki itu, maka darahnya serasa berhenti mengalir.

“Kau,” suara yang parau itu tersekat di kerongkongannya.

Laki-laki itu sama sekali tidak mengacuhkannya. Tetapi ia berdiri tegak seperti tiang-tiang rumah itu.

Arya Teja bergeser setapak. Mereka, kedua laki-laki itu kini berdiri berhadapan. Namun belum sepatah kata pun yang meluncur dari mulut-mulut mereka.

Meskipun demikian, mata merekalah yang seakan-akan berbicara. Arya Teja seolah-olah menangkap kata-kata itu. Dan telinga hatinya segera menterjemahkannya. Seakan-akan laki-laki itu berkata, “Aku¬lah yang telah berbuat.”

Arya Teja menggeram. Dari sela-sela bibirnya kemudian terucapkan sepatah kata, “Paguhan.”

Laki-laki yang berdiri di muka pintu itu masih belum menjawab. Tetapi kata-kata Arya Teja itu telah menyentuh dadanya setajam ujung keris yang masih digenggamnya.

Namun kedua laki-laki itu kemudian berpaling ketika mereka mendengar Rara Wulan berteriak, “Pergi, pergi kau iblis yang paling jahat! Pergi, pergi!”

Tetapi laki-laki yang bernama Paguhan itu tidak beranjak dari tempatnya.

“Pergi, pergi!” perempuan itu menjadi semakin berteriak-teriak. Dipukulkannya tinjunya bertubi-tubi pada lantai yang basah oleh air matanya, “Pergi, pergi kau!”

Paguhan masih berdiri tegak. Sejenak kemudian terdengar suaranya seakan-akan bergulung-gulung diperutnya, “Tidak, Wulan. Aku tidak akan pergi. Aku bukan laki-laki pengecut yang bersembunyi di balik pinjungmu. Aku adalah laki-laki yang mempunyai harga diri.”

“Bagus,” Arya Teja-lah yang menyahut, “aku hormati kau karena kejantanan itu. Kita adalah laki-laki yang masing-masing mem¬punyai harga diri.”

“Pergi, pergi!” Rara Wulan menjadi semakin memekik mekik.

“Tidak ada jalan lain,” berkata Arya Teja, “kau atau aku yang binasa.”

“Kau atau aku,” Paguhan itu mengulang, “bukankah itu jalan yang paling adil?”

“Ya.”

Dan pembicaraan itu terputus ketika Rara Wulan menjerit tinggi, “Pergi, pergi!” lalu tangisnya melonjak semakin keras. Dari sela-sela suara tangisnya terdengar kata-katanya, “Aku tidak mau melihat peristiwa itu terjadi. Akulah yang bersalah. Bunuhlah aku. Bunuhlah aku.” Suara Rara Wulan menjadi semakin meninggi. Tiba-tiba ia kemudian diam. Diam, Rara Wulan jatuh pingsan.

Bibi Arya Teja kemudian menjadi sibuk. Diusap-usapnya dahi perempuan itu. Sesaat kemudian ia berlari ke belakang mencari minyak kelapa untuk menggosok telinga dan dada Rara Wulan.

Arya Teja dan Paguhan masih berdiri di tempatnya. Mereka hanya mengikuti kebingungan bibi Arya Teja dengan mata mereka.

“Arya Teja,” berteriak bibinya, “apa kau menunggu sampai isterimu ini mati. Berbuatlah sesuatu. Berbuatlah sesuatu.”

Tetapi Arya Teja tidak beranjak dari tempatnya. Ia sama sekali tidak bergerak ketika ia melihat beberapa orang pelayannya berlari-lari menolong bibinya mengangkat Rara Wulan ke atas pembaringan di bilik yang lain. Namun hati para pelayan itu bergetar ketika mereka melihat di tangan Arya Teja tergenggam sehelai keris.

Tetapi para pelayan itu menjadi agak tenang, karena mereka tidak melihat setitik darah pun di tubuh Rara Wulan.

Dalam kesibukan itu, terdengar Paguhan berkata, “Arya Teja, aku menunggumu. Aku memang ingin membuat penyelesaian itu. Aku tunggu kau di bawah Pucang Kembar. Bulan hampir bulat di langit. Supaya kau mendapat kesempatan merawat isteri¬mu, maka aku memberimu waktu sampai purnama penuh.”

“Aku tidak memerlukan waktu itu. Aku tidak akan merawat siapa pun. Apalagi orang yang telah mengkhianati aku.”

“Terserah kepadamu. Tetapi aku akan berada di bawah Pucang Kembar pada saat purnama naik, dua hari yang akan da¬tang. Aku tidak dapat berbuat dalam suasana seperti ini. Aku ingin Wulan sembuh dan sehat.”

“Kalau kau mau mengurusnya, uruslah perempuan yang telah kau nodai itu. Aku tidak memerlukannya.”

“Masih belum waktunya Arya. Sesaat setelah aku membunuhmu di bawah Pucang Kembar, aku memang akan melakukannya.”

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 22 Oktober 2008 at 05:43  Comments (11)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-32/trackback/

RSS feed for comments on this post.

11 KomentarTinggalkan komentar

  1. buku 32 kok gak bisa dibuka.
    “404-file not found”
    mo tak bantu convert ke doc

    D2: Sudah diperbaiki. Coba cek lagi

  2. oke… dah bisa, dah ada convertan doc-nya, tak nunggu buku selanjutnya aja. trims

  3. convertannya agak susah diedit… mungkin banyak yang kesulitan, soalnya tiap diperbesar fontnya tulisannya menumpuk. bagi rekan-rekan yang masih kesulitan… sebenarnya cukup diganti spasinya dengan satu spasi aja… nanti teksnya gak numpuk lagi.

    ni aku kirim yang udah gak numpuk lagi

    D2: Sudah saya ganti dg yg teksnya gak numpuk. Thanks.

  4. ohm…

    yg bagian depan dah kelar
    tapi lom bisa dikirim
    yahoo ngadat lagi.. susah mau aplod attachnya

    salam…

  5. buku 32 sudah selesai dan dikirim ke DD

    D2: Thanks. Lagi diproof

    • ..nderek Thanks…Ki Arema 😀

  6. ohm…

    yg kedua dah kelar… tapi seperti tadi.. lom bisa ke kirim..
    gimana ohm?? … tapi masih saya coba terus

    salam

  7. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.

    Kekerasan hati dan emosi Arya Teja dan Paguhan luntur dihadapan orang yang dicintai.

    • kekerasan hati ki mbleh melunak di hadapan mbak astuti ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: