Buku 31

SIDANTI masih saja diam mematung, dengan tanpa memandanginya Pandan Wangi mengulangi, “Marilah Kakang. Bilikmu telah tersedia. Aku juga telah menyediakan pakaian dan perlengkapan lainnya di dalam gledeg. Aku juga telah menyediakan pakaian untuk gurumu, Ki Tambak Wedi.”

Sidanti menganggukkan kepalanya. Tetapi terasa betapa canggungnya menghadapi adiknya. Ia masih saja terpengaruh oleh perbuatannya di rumah Ki Sentol. Kadang-kadang Sidanti merasa malu sendiri, apakah jadinya seandainya orang-orang Menoreh mengetahuinya, apa yang akan dilakukannya di rumah itu. Tetapi dengan menyembunyikan maksudnya yang sebenarnya, maka ia terperosok bersama-sama dengan paman dan gurunya, ke dalam suatu sikap yang tidak pula kalah sulitnya.

Sidanti terperanjat ketika tiba-tiba ia mendengar Pandan Wangi berkata perlahan sekali, “Apakah Kakang marah kepadaku?”

“Oh, tidak, tidak Wangi,” dengan serta merta Sidanti menyahut sambil melangkahi tlundak pintu gandok Kulon, “Kenapa aku marah?”

“Mungkin Kakang menganggap aku tidak sopan. Aku telah berani melawanmu.”

“Tidak, tidak. Sama sekali tidak. Kita tidak saling mengenal waktu itu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Terheran-heran ia memandangi wajah kakaknya. Tetapi justru dengan demikian tidak sepatah katapun yang diucapkannya.

Sidanti yang melihat keheranan pada sorot mata adiknya tiba-tiba menyadari kesalahannya. Dengan tergesa-gesa ia menyambung, “Maksudku, kau tidak mengenal aku pada waktu itu. Sedang aku memang sengaja mengganggumu.”

“Tetapi apakah Kakang mengetahui, bahwa aku sedikit banyak dapat bermain-main dengan pedang?”

“Tentu Pandan Wangi. Aku mengetahuinya.”

“Dari siapa Kakang tahu atau mendengarnya?”

Sejenak Sidanti terdiam. Betapa ia mengumpat di dalam hatinya. Ia tahu, bahwa Pandan Wangi sama sekali tidak berprasangka apa-apa, tetapi pertanyaannya membuatnya ia pening. Namun tiba-tiba diketemukanya jawabnya, “Bukankah kau berpakaian laki-laki, dan membawa sepasang pedang? Aku semula juga ragu-ragu Wangi, tetapi melihat langkahmu aku yakin, bahwa kau menyimpan ilmu di dalam dirimu. Nah, kemudian timbullah keinginanku untuk melihat, ilmu apakah yang kau simpan itu. Ternyata kau telah mendapat ilmu pedang dari perguruan Menoreh.”

“Ah,” Pandan Wangi menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sidanti yang telah berada di dalam gandok itupun kemudian bertanya, supaya ia tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkannya, “Di mana Guru harus beristirahat?”

“Di bilik itu juga Kakang.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian diayunkannya kakinya melangkah ke dalam bilik yang telah disediakan. Bilik itu pernah dikenalnya dahulu. Bahkan ia dahulu selalu tidur di dalam bilik itu juga. Tetapi kali ini bilik itupun tampak sangat asing baginya. Ia telah mengenal hampir setiap benda yang ada di dalam bilik itu. Sebuah pembaringan dari kayu yang lebar. Sebuah geledeg bambu. Sebuah ajug-ajug dari bambu pula dan sebuah peti kayu. Belum berubah seperti beberapa tahun yang lalu. Sebuah tikar yang putih terbentang di atas pembaringan. Mungkin hanya tikar inilah benda yang belum pernah dikenalnya. Meskipun dahulu di atas pembaringan ini terbentang pula sehelai tikar pandan yang putih, tetapi pasti bukan tikar yang kini terbentang itu.

“Bilik itu sudah dibersihkan Kakang. Bilik itu hampir tidak pernah dipergunakan. Hanya kadang-kadang saja Paman Argajaya tidur di tempat itu, apabila ia bermalam di rumah ini.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Tetapi ia masih belum menjawab.

“Bukankah Kakang terlampau lelah?”

Sidanti menarik nafas. Bukan tubuhnyalah yang sebenarnya terlampau lelah. Tetapi perasaannya. Pertanyaan-pertanyaan yang telah membuatnya pening, ternyata benar-benar membuatnya terlampau lelah.

Namun Sidanti itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab lirih, “Ya Wangi. Aku memang terlampau lelah setelah melakukan perjalanan yang panjang.”

Tetapi Sidanti tidak menyangka, bahwa jawabnya telah membuka kesempatan bagi Pandan Wangi untuk bertanya, agar suasana pertemuan itu tidak terlampau kaku, “Perjalanan itu tentu menyenangkan sekali bukan, Kakang? Lain kali aku ingin ikut pula di dalam perjalanan-perjalanan seperti itu. Pasti akan sangat banyak yang dapat dilihat. Tanah yang hijau subur. Kota yang yang bagus dan ramai. Mungkin juga istana-istana yang indah. Ah, kapan Kakang akan melakukannya lagi?”

Sidanti menggigit bibirnya. Tetapi ia terpaksa menjawab, “Aku tidak tahu Wangi. Mungkin setahun, mungkin dua tahun lagi.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika kakaknya Sidanti duduk di pembaringannya, maka Pandan Wangi pun duduk pula di ujung yang lain.

“Apakah Kakang juga berjumpa dengan gadis-gadis yang cantik? Ayah tadi mengatakan, bahwa mungkin Kakang akan mendengar pertanyaan serupa itu. Benarkah begitu?”

Dada Sidanti menjadi semakin berdebar-debar. Jantungnya serasa berdetak semakin keras. Apalagi ketika ia mendengar Pandan Wangi meneruskannyan, “Aku senang melihat gadis-gadis kota yang cantik. Bukan seperti aku.”

Tiba-tiba hampir tanpa disadarinya Sidanti menyahut, “Beruntunglah kau Pandan Wangi, bahwa kau hidup di daerah yang sederhana ini. Gadis-gadis cantik yang aku kenal, benar-benar menjemukan. Mereka biasanya terlampau menyadari kecantikannya. Dan mereka mempergunakan kecantikan itu untuk memuaskan diri mereka sendiri. Mereka dengan kecantikannya, berusaha menghancurkan orang lain. Bahkan tanpa mempedulikan akibat yang paling parah yang dapat terjadi. Pembunuhan.” Sidanti berhenti sejenak. Tiba-tiba wajahnya menjadi merah dan menegang.

Pandan Wangi yang melihat perubahan sikap kakaknya itu menjadi bingung. Ia tidak mengerti, apakah sebabnya kakaknya menjadi demikian tegang.

“Pandan Wangi,” terdengar suara Sidanti meninggi. “bukan saja gadis-gadis kota yang cantik. Tetapi gadis desa yang kecil, yang tidak berarti sama sekali pun, telah mempergunakan kecantikannya untuk kehancuran. Bukan untuk kebangunan.”

Pandan Wangi menjadi semakin bingung. Ia sama sekali tidak dapat menangkap maksud kata-kata kakaknya. Bahkan gadis itu menjadi gelisah. Apalagi ketika kemudian ia melihat Sidanti berdiri, “Pandan Wangi. Ingat, bahwa kecantikan seseorang bukan merupakan ukuran mutlak bagi seorang gadis. Kau harus mendengar sebuah contoh tentang gadis yang paling memuakkan, yang pernah aku jumpai. Namanya Sekar Mirah.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi pandangan matanya yang kosong terpancang ke wajah kakaknya yang tegang.

“Gadis itu telah membuat semuanya menjadi hancur.”

“Semuanya?“ Pandan Wangi bertanya, “apakah yang kau maksudkan, Kakang?”

Hampir Sidanti meneriakkan nama Padepokan Tambak Wedi. Hampir ia menyebut namanya sendiri. Untunglah segera ia menyadari dirinya. Dengan sekuat tenaga ditahankannya perasaannya. Dan dicobanya untuk berkata sareh, “Maksudku semuanya, setiap laki-laki yang telah mengenal dan bergaul dengan gadis itu.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Apakah yang akan dilakukannya, Kakang?”

“Ia mendekati setiap laki-laki yang baru dikenalnya dan dikaguminya. Gadis itu mengagumi keperkasaan dan keperwiraan. Ia senang melihat seorang laki-laki yang bersikap jantan. Tetapi setiap kali pandangannya selalu berubah-ubah.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya pula, “Sifat itu tentu kurang baik bukan, Kakang. Mungkin ia dapat menimbulkan salah paham di antara laki-laki yang mengenalnya itu.”

“Tentu.”

“Dan menimbulkan hal-hal yang tidak dikehendaki.”

“Ya.”

“Aku akan selalu teringat akan nasehat ayah dan almarhum ibu. Sekarang nasehatmu itu juga, Kakang. Untunglah, bahwa aku bukan gadis yang cantik. Setidak-tidaknya akan mengurangi kesempatan bagiku untuk berbuat seperti itu.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tidak Wangi. Kau juga cantik. Tetapi kau tidak perlu berbuat serupa itu.”

Wajah Pandan Wangi menjadi kemerah-merahan mendengar pujian kakaknya. Dahulu kakaknya memang selalu memujinya. Tetapi tangkapannya kini menjadi jauh berbeda, sehingga dengan demikian maka Pandan Wangi itu menundukan kepalanya.

“Pandan Wangi. Kau juga cantik. Tetapi ingatlah, bahwa kecantikanmu harus mendapat tempat yang baik.”

Pandan Wangi mengangguk kecil. Tetapi ia masih menundukkan kepalanya.

“Kecantikan yang tidak pada tempatnya, akan menjadi api yang dapat membakar apa saja yang berada di dekatnya. Seperti Sekar Mirah yang telah membakar kademangannya.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan ia bertanya, “Apakah yang telah terjadi dengan gadis yang benama Sekar Mirah itu, Kakang?”

“Karang abang,” sahut Sidanti. Terasa tekanan kata-katanya menjadi berat, seolah-olah ia sedang menumpahkan segala tekanan perasaannya karena gadis yang bernama Sekar Mirah itu, “Laki-laki saling berbunuhan. Gadis itu benar-benar seperti api yang liar.” Tetapi Sidanti tidak mengatakan bahwa ia telah menyiram dirinya sendiri dengan minyak, lalu mendekatkan dirinya itu pada api yang sedang menyala-nyala. Akibatnya, perasaannya terbakar menjadi abu.

Namun tanpa disangka-sangka, Pandan Wangi itu bergumam seperti kepada diri sendiri, “Tetapi salah laki-laki itu sendiri.”

Sidanti mengerutkan keningnya. “Kenapa?” ia bertanya.

“Kalau laki-laki itu tidak memperhatikannya, maka ia akan tidak dapat diperlakukan demikian.”

“Itu adalah kesukaannya. Dirayunya laki-laki itu, kemudian dihempaskannya.”

“Kalau aku menjadi laki-laki,” berkata Pandan Wangi, “aku tidak mau mendekatinya. Aku usir dia, seperti ia mengusir laki-laki yang lain apabila ia mendekati aku. Tetapi aku bukan laki-laki. Dan setiap laki-laki selalu melemparkan kesalahan kepada gadis-gadis, kepada perempuan.”

“He,” Sidanti terhenyak mendengar kata-kata Pandan Wangi.

“Ya, setiap laki-laki selalu melemparkan kesalahan kepada perempuan. Hampir dalam segala hal, laki-laki Sangkal Putung yang saling berbunuhan itupun melemparkan kesalahan sepenuhnya kepada Sekar Mirah itu. Aku belum mengenal dan melihat Sekar Mirah. Seandainya benar Sekar Mirah itu seorang gadis liar sekali pun, namun laki-laki yang dengan suka rela menyerahkan dirinya menjadi ayam aduan itupun bersalah pula. Apakah tidak begitu, Kakang?”

Dada Sidanti menjadi berdebar-debar. Tetapi ditahankannya perasaannya. Bahkan kemudian ia sadar, bahwa adiknya Pandan Wangi itupun seorang gadis pula.

“Kau salah paham, Pandan Wangi.”

Pandan Wangi tidak menjawab.

“Aku sama sekali tidak menyalahkan setiap gadis. Aku khusus menyebut Sekar Mirah. Sekar Mirah-lah yang salah. Bukan karena ia seorang perempuan.”

“Ya,” sahut Pandan Wangi, “maksudku pun mengatakan tentang Sekar Mirah dan peristiwa-peristiwa serupa. Sekar Mirah memang bersalah. Tetapi yang bersalah bukan saja Sekar Mirah, juga laki-laki Sangkal Putung itu. Apalagi yang berbunuh-bunuhan karenanya. Dunia tidak hanya seluas telapak tangan. Kenapa harus mengejar gadis seperti Sekar Mirah?”

Sidanti mengerutkan keningnya. Hampir-hampir ia terdorong oleh perasaannya. Untunglah, bahwa ia segera berusaha mengekang dirinya, betapa dadanya terasa seolah-olah terhimpit oleh batu hitam sebesar kerbau.
Dengan demikian, maka Sidanti terdiam untuk sesaat. Ia tidak menemukan kalimat yang dianggapnya baik untuk diucapkannya. Namun dengan demikian, maka terasa dadanya menjadi semakin pepat.

Untunglah, bahwa dalam saat yang demikian, Argajaya masuk ke dalam bilik itu. Sejenak ia terpaku di muka pintu. Ia merasakan suasana yang kurang baik di dalam bilik itu, sehingga hatinya pun menjadi berdebar-debar. Namun kemudian dipaksakannya bibirnya untuk tersenyum dan berkata, “Ha, apakah kau sedang mendengarkan ceritera perjalanan kakakmu?”

“Ya, Paman,” jawab Pandan Wangi.

“Apakah ceritera itu kurang menarik?”

“Tidak, Paman. Ceritera Kakang Sidanti sangat menarik.”

“Tetapi Pandan Wangi menjadi salah paham, Paman,” sahut Sidanti, “Aku berceritera, bahwa aku menjumpai seorang gadis bernama Sekar Mirah di Sangkal Putung. Gadis itu serupa benar dengan api. Memang gadis itu benar-benar seperti api. Setiap orang yang dekat, dibakarnya dengan wajahnya yang cantik, kemudian dibakarnya pula laki-laki lain, sehingga kadang-kadang dapat menimbulkan keributan, bahkan pernah terjadi pembunuhan karenanya. Tetapi Pandan Wangi salah paham. Ia menganggap bahwa laki-laki itupun bersalah pula, karena dengan suka rela membiarkan dirinya menjadi ayam aduan. Lebih dari itu, disangkanya aku selalu menyalahkan perempuan saja.”

Argajaya mengerutkan keningnya. Bahwa Sidanti telah berceritera tentang Sekar Mirah, agak menjadikannya cemas. Kalau Sidanti tidak pandai membawa dirinya, maka ia akan terseret ke dalam pembicaraan yang berbahaya.

Tetapi Argajaya itu kemudian tertawa, katanya, “Tidak. Pandan Wangi tidak salah paham. Ia adalah seorang gadis seperti Sekar Mirah. Tetapi sudah tentu Pandan Wangi tidak akan menjadi buas dan liar seperti Sekar Mirah.”

“Apakah paman juga mengenal Sekar Mirah?“ bertanya Pandan Wangi.

Argajaya mengangguk, “Ya, aku pun mengenal Sekar Mirah. Gadis itu adalah suatu contoh yang suram bagi kebanyakan gadis-gadis yang manja. Gadis-gaids yang bodoh, yang kurang pengalaman dan picik.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada Sidanti, maka dilihatnya wajah kakaknya masih tetap tegang. Tetapi ia sudah tidak bernafsu lagi untuk membantahnya. Sebenarnya ia tidak rela pula apabila ada seorang gadis seperti dirinya sendiri yang berkelakuan seperti gadis yang dikatakan oleh kakaknya Sidanti. Seandainya benar seorang gadis berbuat seperti itu, maka sudah sepantasnya kalau ia justru harus dijauhkan dari pergaulan. Tetapi ia tidak rela juga, apabila dalam setiap persoalan yang tumbuh karena gadis yang demikian, semua kesalahan ditumpahkan kepada gadis itu.

Karena Pandan Wangi tidak menjawab, maka Argajaya berkata selanjutnya, “Sudahlah Pandan Wangi, jangan kau pikirkan gadis itu. Kau cukup mengetahui, bahwa Sekar Mirah adalah sebuah lambang dari kehancuran.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Kau dapat memetik pengalaman daripadanya. Kalau umur gadis itu menjadi semakin tua, kalau wajahnya yang cantik telah mulai berkeriput, kalau senyumnya sudah tidak lagi semanis madu, maka barulah ia menyadari betapa ia telah tersisib dari dunia disekitarnya.”

(Gambar halaman 14)
“Nah sekarang biarlah kakakmu beristirahat. Ia sangat lelah.” Pandan Wangi bangkit dari pembaringan. Perlahan-lahan ia melangkah sambil, “Beristirahatlah Kakang. Aku akah pergi ke dapur.”

Sekali lagi Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Ia tidak akan dapat hidup lebih dari usia remajanya,” Argajaya meneruskan, “tetapi kau akan menjadi sangat berbeda. Kau telah menemukan saluran yang mapan pada jalan hidupmu. Sampai sisa umurmu yang terakhir, kau akan tetap berguna bagi orang lain dengan ilmu yang kau miliki.”

Wajah Pandan Wangi menjadi kemerah-merahan karenanya.

“Nah, sekarang biarlah kakakmu beristirahat. Ia sangat lelah.”
Pandan Wangi bangkit dari pembaringan. Perlahan-lahan ia melangkah sambil berkata, “Beristirahatlah Kakang. Aku akan pergi ke dapur.”

“Ah, kau pun harus beristirahat, Wangi. Bukankah sudah ada orang lain yang bekerja di dapur?” sahut Argajaya.

“Ada Paman, tetapi sudah menjadi kebiasaanku bekerja di dapur. Bukankah tidak baik, apabila seorang gadis tidak pernah menyentuh alat-alat dapur?” jawab Pandan Wangi.

Argajaya mengangguk sambil tersenyum, “Kau memang seorang gadis yang baik sekali Wangi.”

“Ah,” Pandan Wangi berdesah. Ketika ia sudah sampai di pintu bilik, sekali lagi ia berkata kepada kakaknya, “Beristirahatlah Kakang.”

“Terima kasih. Aku akan mandi saja dahulu.”

“Silahkan. Pakaian Kakang sudah aku sediakan.”
Pandan Wangi pun kemudian meninggalkan biliknya. Ia mengagumi pamannya sebagai seorang yang baik, sangat baik. Seorang yang tahu menghargainya. Di rumah, pamannya pun seorang yang baik, yang sangat memperhatikan anak-anaknya. Tetapi Pandan Wangi tidak tahu, apakah yang sudah dilakukan pamannya di luar rumahnya. Pandan Wangi tidak tahu, apa yang dipikirkan oleh orang yang dianggapnya sangat baik itu. Pandan Wangi tidak tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi atas paman dan kakaknya.

Ketika Pandan Wangi telah hilang di balik pintu yang memisahkan gandok dan jalur belakang rumah itu, yang akan tembus ke pringgitan di balik regol dalam, maka Argajaya segera mendekati Sidanti. Wajahnya tampak bersungguh-sungguh. Katanya lirih, “Sidanti, permainan ini harus segera berhenti. Kau harus segera sampai pada persoalanmu yang sebenarnya.”

“Ya, Paman. Aku pun merasakan siksaan yang menyesakkan dadaku karena ceritera khayal yang kita buat bersama-sama. Ceritera itu sama sekali tidak akan dapat menolong. Aku harus segera mengatakan apa yang sebenamya telah terjadi atasku, Paman, dan Guru. Aku harap ayah segera menyiapkan diri bersama pengawal Tanah Perdikan ini. Bukan itu saja, aku telah mengenal tanah ini dengan baik. Hampir setiap laki-laki sini adalah prajurit-prajurit yang baik seperti padepokan Tambak Wedi. Apalagi tanah perdikan ini jauh lebih luas dari padepokan Tambak Wedi.”

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Sayang, Tambak Wedi telah terlanjur pecah. Kalau belum, maka padepokan itu akan dapat dijadikan pancatan yang baik.”

“Kita akan dapat merebutnya, Paman.”

“Tidak banyak berarti. Kita sama sekali sudah tidak mempunyai kekuatan apapun di sana.”

“Lalu?”

“Aku tidak tahu, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh ayahmu. Kalau Menoreh ini memberontak dan memutuskan hubungan dengan Pajang, maka Pajang akan mendapat kesulitan. Tidak mudah untuk melakukan serangan menyeberangi hutan Mentaok dan Kali Praga. Kedua tempat itu akan dapat dijadikan tempat yang sangat baik untuk menunggu kedatangan prajurit-prajurit Pajang.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Apakah yang sudah dikatakan Guru kemudian sepeninggalku?”

“Ah,” desab pamannya, “aku tidak telaten. Ki Tambak Wedi dan Kakang Argapati hanya berbicara mengenai hal-hal yang sama sekali tidak penting. Hal-hal yang sama sekali tidak menyangkut persoalanmu. Ia berbicara tentang kemajuan ilmumu. Tentang terbunuhnya Tohpati dan tentang hal-hal lain, yang tidak berarti apa-apa bagimu.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tetapi apakah yang dapat lakukanya seandainya gurunya memang menghendaki demikian

“Nah, sekarang mandilah. Ki Tambak Wedi pun akan segera datang kemari. Aku akan berbicara dengan gurumu. Mudah-mudahan kita dapat mempengaruhi Kakang Argapati. Kakang Argapati sendiri termasuk orang yang disegani oleh orang-orang Pajang, termasuk Ki Gede Pemanahan.”

“Mudah-mudahan kita berhasil. Ayah akan menjadi panas dan menyatakan perang melawan Pajang selagi Pajang masih belum mampu tegak benar. Prambanan mungkin dapat diperhitungkan. Aku mengenal daerah itu agak banyak.”

Argajaya mengerutkan keningnya. Ia merasa lebih mengenal daerah Prambanan daripada Sidanti. Sidanti memang pernah melewati daerah itu. Tetapi ia pernah singgah di kademangan itu dan bahkan terlibat dalam suatu peristiwa yang memalukan. Karena itu maka Argajaya berkata, “Kau hanya mengenal Prambanan dari jarak yang tidak terlampau dekat. Kau mendengar ceritera tentang daerah itu dari beberapa orang, antara lain dari aku sendiri. Tetapi aku tidak dapat mengharap lagi apa-apa dari kademangan yang menyakitkan hati itu.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Belum tentu Paman. Mungkin masih ada satu dua orang yang Paman kenal, yang dapat dipengaruhi dengan cara yang lebih baik. Mungkin satu dua orang dapat dibawa ke tanah perdikan ini dan menunjukkan kepada mereka kekuatan yang besar, yang akan dapat mendukungnya membuat sesuatu gerakan di Prambanan. Paman dapat menjanjikan kedudukan yang baik kepadanya, bahkan mungkin kedudukan demang apabila demang yang lama itu sama sekali sudah tidak dapat lagi diajak berbicara. Satu dua orang itu akan menjadi inti dari gerakan-gerakan seterusnya di Prambanan sehingga akhirnya kita mendapat tempat yang baik untuk pancadan.”

“Hem,” Argajaya menarik nafas dalam-dalam, “kau lalu ingin mengarahkan gerakanmu lewat daerah Selatan. Kenapa kau tidak memperhitungkan jalan lain? Kita dapat melingkari lambung Gunung Merapi dibagian Selatan, langsung menuju ke Jati Anom.”

“Sangat berbahaya,” sahut Sidanti, “sangat berbahaya, karena di sana ada Untara.”

“Pasukan Untara tidak lebih besar dari pasukan Widura.”

“Tetapi Kiai Gringsing berada di kademangan itu.”

“Belum tentu. Mungkin Kiai Gringsing akan tetap tinggal di Sangkal Putung bersama orang yang bernama Sumangkar. Apakah kau sangka bahwa Agung Sedayu akan menetap di Jati Anom? Tidak. Dua orang murid Kiai Gringsing itu berasal dari Jati Anom dan Sangkal Putung. Tetapi karena di Sangkal Putung ada Sekar Mirah, maka kemungkinan yang terbesar, Kiai Gringsing bersama kedua muridnya akan berada di sana.”

Sidanti menekurkan kepalanya. Tetapi segera ia mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Argajaya berkata, “Sidanti, kau tidak dapat melepaskan arah perhitunganmu dari Sangkal Putung. Bukankah begitu?”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi terasa dadanya berdesir.

“Baru saja kau mengumpati gadis yang bernama Sekar Mirah dari Sangkal Putung. Lupakan gadis itu. Kalau kau berhasil melupakannya, maka kau akan dapat membuat perhitungan-perhitungan yang lebih tepat berdasarkan pertimbangan nalar.”

Sidanti tidak menjawab. Dibiarkannya pamannya berkata terus, “Nah, cobalah kau merenungkan. Kau pernah berada di dalam lingkungan keprajuritan pula.” Argajaya berhenti sejenak, lalu katanya merendah, “Tetapi semuanya sangat tergantung kepada ayahmu, Sidanti. Ayahmu adalah seorang yang mumpuni. Perhitungannya hampir tidak pernah salah.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dadanya menjadi semakin berdebar-debar, “Ya, semuanya tergantung kepada Ayah,” katanya di dalam hati.

“Sekarang, bukankah kau akan mandi?“ bertanya pamannya, “Pergilah mandi. Aku malam ini akan bermalam di sini, supaya aku dapat ikut dalam pembicaraan nanti.”

“Apakah Guru akan berbicara malam ini?”

”Mudah-mudahan. Mudah-mudahan kita tidak selalu digelisahkan oleh ceritera khayal yang menjemukan itu.”

Sidanti tidak menjawab. Segera ia berdiri dan berkata, “Aku akan mandi.”

Argajaya kemudian tinggal seorang diri di dalam bilik itu. Sekali-sekali ia berdiri dan berjalan mondar-mandir dalam kegelisahannya. Ia merasa ikut berkepentingan mengenai anak kakaknya itu. Kemanakannya itu harus dapat membalas sakit hatinya terhadap Untara, dan bahkan terhadap Pajang, karena Untara adalah seorang senapati yang mendapat kekuasaan langsung dari Panglima Wira Tamtama Pajang.

“Aku harus membela anak itu sekuat-kuat tenagaku,” desisnya, “aku adalah pamannya.”

Tetapi jauh di dalam dasar hatinya, Argajaya seolah-olah mendengar sebuah pertanyaan yang lamat-lamat, hampir-hampir tidak dapat menyentuh telinga batinnya, “Apakah benar demikian, he, Argajaya yang gagah berani? Apakah benar, sekedar karena dorongan hasratmu untuk membela kemenakanmu maka kau demikian bernafsu untuk berjuang melawan Pajang.”

Terasa sebuah desir yang tajam menyentuh jantungnya. Pertanyaan itu ternyata telah membuatnya gelisah. Namun justru dengan demikian, maka pertanyaan itu didengarnya lagi, “Apakah benar demikian? Kalau begitu kau adalah seorang yang paling baik di muka bumi. Tetapi apakah kau tidak mempunyai pamrih pribadi.”

”Tidak, tidak,” Argajaya menggeram. Tetapi ia tidak dapat menutup telinganya dari suara hatinya sendiri, “Argajaya, agaknya bukan karena hasratmu untuk membela Sidanti dan membalas sakit hatinya saja, kau bertekad untuk melawan Pajang. Tetapi pamrih pribadimulah yang akan membawa kau dalam kancah peperangan yang besar, yang justru mengancam keselamatan tanah perdikan ini.”

“Tidak, tidak,” sekali lagi Argajaya menggeram. Namun bagaimana ia dapat menipu dirinya sendiri? Bagaimana ia dapat menyembunyikan kata hatinya terhadap dirinya sendiri?

Seperti di hadapkan di muka cermin, Argajaya dapat melihat dengan jelas, apa yang tersembunyi di dalam dirinya. Pamrih yang telah mendorongnya untuk membakar Tanah Perdikan Menoreh dalam kancah peperangan yang dahsyat. Tanah perdikan yang selama ini diliputi oleh ketenangan dan kesibukan kerja melawan kekerasan alam pegunungan.

Argajaya yang keras hati itu terhenyak di atas amben bambu di dalam bilik itu. Dicobanya untuk melawan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian terasa semakin mengganggu perasaannya. Tetapi dengan demikian, maka ia menjadi semakin jelas melihat ke dalam dirinya sendiri. Kepada pamrih yang terpahat pada dinding hatinya. Ia adalah adik satu-satunya dari Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang besar. Tetapi ia bukan Kepala Tanah Perdikan itu. Meskipun ia mempunyai kekuasaan yang cukup besar, namun di atasnya adalah kakaknya, Argapati.

“Kalau Kakang Argapati berhasil memecah Pajang. Setidak-tidaknya mampu mempunyai kekuasaan yang sama dengan Pajang, karena Pajang tidak mampu mengalahkannya, maka Argapati pasti akan mengangkat dirinya sejajar dengan pimpinan tertinggi pemerintahan Pajang. Adiwijaya tidak akan selamanya puas dengan kedudukan Adipatinya. Sebentar lagi setelah lawan-lawannya satu demi satu disingkirkan, ia akan menjadi seorang yang paling berkuasa di Pajang dan sepanjang daerah Demak lama. Ia akan dapat berbuat sekehendak hatinya tanpa seorang pun dapat merintanginya. Sehingga dengan demikian, ia akan dengan mudahnya membuka jalan ke singgasana seorang Raja. Sultan Pajang.” Argajaya bergumam di hatinya.

Tiba-tiba Argajaya bangkit berdiri. Dihentikannya kakinya sambil menggeram, “Memang, memang aku mempunyai pamrih pribadi. Hanya orang-orang gila yang berbuat sesuatu tanpa pamrih pribadi. Dan aku bukan orang gila. Kalau Kakang Argapati kelak dapat menjadi seorang yang mempunyai kekuasaan menyamai Adiwijaya, kemudian menyebut dirinya Adipati, maka aku adalah orang yang kedua. Kakang Argapati tidak akan lagi mempunyai waktu untuk tanah perdikan ini. Sidanti, anak laki-lakinya tidak akan lagi mengharap tanah perdikan ini sebagai tanah warisan, karena kedudukan ayahnya. Maka tidak ada orang kedua dan ketiga selain Argajaya.” Argajaya itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, “Setelah itu, apa yang akan terjadi, entahlah. Apakah Argajaya akan berhenti di tempat itu?”

Tetapi Argajaya tidak berani meneruskan angan-angannya. Terdengar ia berdesis, “Terlampau jauh. Aku harus mendapatkan yang paling dekat dahulu. Kakang Argapati harus melawan Pajang. Harus memisahkan diri dari kekuasaan Adiwijaya. Kalau tidak mampu meremukkan Pajang, setidak-tidaknya melepaskan diri, dan berdiri dalam keadaan yang sama.”

Argajaya yang seolah-olah telah sampai pada puncak angan-angannya itu, kemudian menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia meletakkan dirinya perlahan-lahan duduk lagi di atas amben. Namun ia masih belum melepaskan sama sekali angan-angannya, ” Hem, bagaimana dengan para Bupati dan Adipati yang kini telah memihak Pajang?”

Pertanyaan itu dijawabnya sendiri. Mereka sudah bukan pejuang-pejuang yang gigih. Setelah mereka mampu melapisi tiang-tiang rumah mereka dengan emas, setelah mereka mampu mengukir tubuh mereka dengan intan berlian dan memenuhi bilik-bilik mereka dengan isteri-istri muda yang cantik, maka mereka adalah orang-orang yang paling jinak. Apabila Kakang Argapati mampu memecah kota Pajang, maka tidak sampai sepenginang mereka akan tunduk. Bukan karena keyakinan kebenaran mereka atas kemenangan Kakang Argapati, tetapi sekedar untuk menyelamatkan diri mereka, menyelamatkan harta benda mereka dan menyelamatkan isteri-isteri mereka yang muda-muda dan cantik. Sebab itulah yang kemudian sudah menjadi jalan hidup mereka.”

Argajaya menarik nafas sekali lagi. Semakin panjang. Ia menemukan kepuasan di dalam angan-angannya. Seolah-olah ia telah melakukannya. Seolah-olah kini ia telah menggenggam kemenangan. Kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang besar. Namun Argajaya sendiri melupakannya, bahwa arah perjuangannyapun serupa dengan para Bupati dan Adipati itu. Dengan kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang besar, ia akan dapat berbuat jauh lebih banyak dari apa yang dapat dilakukannya sekarang. Ia akan dapat melapisi tiang rumahnya dengan emas, ia akan dapat mengukir dirinya dengan intan berlian, dan kemudian mengisi bilik-bilik rumahnya dengan isteri-isteri yang cantik.

Argajaya yang sedang diselubungi oleh angan-angannya itu, terkejut ketika ia melihat seseorang melangkah masuk ke dalam bilik itu. Ketika ia mengangkat wajahnya terdengar orang itu mengeluh pendek.
“Marilah Kiai,” Argajaya mempersilahkan.

“Terima kasih, Ngger,” sahut orang itu yang ternyata adalah Ki Tambak Wedi, sambil duduk di samping Argajaya.

“Apakah Kiai sudah mengatakannya?” Argajaya seolah-olah tidak sabar lagi menunggu Ki Tambak Wedi meletakkan dirinya.

“Heh,” Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam, “ternyata aku terdorong terlampau jauh ke dalam ceritera khayal itu.”

“Kiai harus menghentikannya,” potong Argajaya.

“Aku menyadari, Ngger. Tetapi aku belum menemukan jalan.”

“Lalu, apakah Kiai akan membiarkan saja semuanya itu berlangsung tanpa ujung dan pangkal.”

“Tidak. Sudah tentu tidak.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi terlintas di kepalanya angan-angannya, “Adalah kebetulan sekali terjadi peristiwa ini atas Sidanti. Peristiwa ini akan dapat menjadi sebab untuk membakar hati Kakang Argapati. Tanpa sebab ini, sudah pasti Kakang Argapati tidak ingin melakukan perlawanan atas Pajang.”

Tetapi yang diucapkannya adalah sebuah pertanyaan, “Lalu apa yang sudah Kiai katakan tentang keadaan Sidanti yang sebenamya?”

Ki Tambak Wedi menggelengkan kepalanya, “Belum, Ngger. Aku belum mengatakan apa-apa.”

“Sama sekali belum? Bahkan dengan pengertian yang miring pun belum sama sekali?”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggelengkan kepalanya. Sorot matanya menembus daun pintu yang tidak terlalu rapat. Namun wajah yang sudah ditandai oleh umurnya yang semakin tua itu, menjadi tegang.

“Aku belum mendapat kesempatan sama sekali,“ desis Ki Tambak Wedi, “justru aku terdorong semakin jauh ke dalam ceritera yang menjemukan itu. Semakin rapat aku berusaha menutupi kebohongan yang sudah terlanjur diucapkan, maka aku pun menjadi semakin dalam terlibat ke dalam kebohongan baru.”

“Karena itu, Kiai harus segera menghentikannya,” potong Argajaya.
“Ya, aku sudah tahu, bahwa aku harus menghentikannya. Tetapi aku tidak dapat. Aku belum menemukan kesempatan itu.”

“Kalau Kiai bersungguh-sungguh, maka kesempatan itu pasti terbuka.”

“Ah, jangan menyalahkan aku saja, Ngger. Kita bersama-sama telah terdorong ke dalam suatu keadaan yang tidak kita ingini. Kita bersama-sama menyesali sikap Sidanti yang telah melibatkan kita ke dalam suatu keadaan yang sangat jelek ini. Dan kita bersama-sama ingin menghentikannya. Ingin memutuskan rantai yang seolah-olah menjadi semakin banyak meliliti tubuh kita. Tetapi aku sendiri belum menemukan kesempatan itu.”

“Kiai harus bersikap tegas. Tanpa menunggu lebih lama lagi, supaya Kiai tidak terperosok semakin dalam. Kiai harus sanggup mengatakan kepada kakang Argapati, bahwa semua itu hanya sekedar ceritera bohong belaka, untuk membohongi Pandan Wangi. Tetapi tidak demikian yang sebenarnya terjadi.”

“Seharusnya, ya seharusnya.”

“Kenapa seharusnya? Kenapa Kiai tidak berani melakukannya? Kesempatan yang baik telah Kiai lampaui, ketika Pandan Wangi meninggalkan pertemuan itu. Kiai dapat memutar haluan pembicaraan dengan serta-merta.”

“Jalan pikiranku tidak secepat itu, Ngger. Tetapi seandainya Angger mampu berpikir secepat itu, kenapa Angger tidak melakukannya atau setidak-tidaknya memberi aku isyarat untuk melakukannya? Bukankah Angger juga tinggal bersama Argapati beberapa lama sepeninggal Pandan Wangi dan bahkan sepeninggal Sidanti.”

Argajaya terdiam. Ia merasakan kebenaran kata-kata Ki Tambak Wedi. Justru pada saat itu ia pun masih ikut serta membuat ceritera-ceritera khayal yang menjemukan sekali.

“Kita sekarang sudah berdiri pada keadaan ini,” berkata Ki Tambak Wedi kemudian. “Kita jangan terpukau oleh keadaan yang baru saja lampau. Dengan keadaan kita sekarang ini, apakah kita masih mempunyai keberanian untuk mengatakannya kepada Argapati apa yang sebenarnya terjadi?”

Argajaya menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian nafsu yang telah membakar jantungnya, telah mendorongnya untuk berkata, “Harus. Harus. Kita harus berani mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin, bahwa Kiai mempunyai jiwa yang cukup besar, sebesar nama Kiai. Apalagi Kiai pasti mempunyai pengaruh yang cukup atas Kakang Argapati, ternyata dari kepercayaannya menyerahkan anak laki-laki satu-satunya kepada Kiai.”

“Ah,” orang tua itu mengeluh panjang, “Angger memuji seperti memuji kanak-kanak yang menolak untuk mengantar makanan kepada ayahnya di sawah. Dengan pujian-pijian, maka anak yang manja akan dengan senang melakukannya.”

“Tidak Kiai, tidak,” potong Argajaya dengan serta-merta, ”bukan maksudku. Tetapi sebenarnyalah, bahwa Kiai mempunyai pengaruh yang besar atas kakang Argapati. Kalau tidak, Sidanti pasti tidak akan diserahkan kepada Kiai.”

Wajah orang tua itu tiba-tiba terkulai jatuh di lantai. Sekali lagi ia mengeluh panjang. Dan Argajaya menjadi terheran-heran karenanya.

“Kenapa Kiai? Kiai tampaknya telah dibayangi oleh keragu-raguan. Sejak diperjalanan aku melihat keragu-raguan itu. Dan kini menjadi semakin nyata. Itukah yang telah mendorong Kiai untuk terus menerus berbohong kepada Kakang Argapati?”

Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu mengangguk lemah, “Mungkin, Ngger. Mungkin sekali.”

“Kenapa Kiai?”

Ki Tambak Wedi tidak menjawab.

“Apakah Kiai meragukan tanggapan Kakang Argapati atas semua kejadian di Sangkal Putung dan Jati Anom?”

“Mungkin.”

“Mungkin?“ Argajaya mengulangi, “jadi Kiai tidak yakin, bahwa itu adalah sebab utama kenapa Kiai menjadi ragu-ragu? Dengan demikian, Kiai pasti memperhitungkan ada sebab lain yang telah membuat Kiai ragu-ragu.”

Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia berkata, “Baiklah. Aku akan segera mengatakan kepada Argapati bahwa semua ceritera yang telah didengarnya itu adalah ceritera bohong semata-mata. Ceritera kanak-kanak untuk sekedar membuat Pandan Wangi dan orang-orang dari tanah ini tidak terkejut dan berbuat di luar dugaan.”

Argajaya mengerutkan keningnya. Seakan-akan menahan nafasnya yang berdesah lewat lubang hidungnya ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi berkata seterusnya, “Aku harus berani mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kerut merut di keningnya berangsur hilang. Perlahan-lahan ia berkata, “Demikianlah hendaknya Kiai. Tak ada jalan lain. Sakit hati itu harus dibalas. Bukan sekedar atas Untara dan Widura, apalagi Sutawijaya. Tetapi Pajang harus dipecah.”

“Ya,” Ki Tambak Wedi menganggukkan kepalanya. Tetapi kata-katanya terasa hambar dan tidak meyakinkan. Meskipun demikian Argajaya mengharap, bahwa sebenarnya demikianlah yang akan terjadi. Ia yakin bahwa kakaknya Argapati akan tersinggung sekali dengan peristiwa yang menimpa Sidanti dengan sedikit ramuan yang meyakinkan.

Sejenak mereka berdua dicengkam oleh kediaman. Ki Tambak Wedi duduk sambil meraba-raba kumisnya. Sedang Argajaya tepekur dalam-dalam. Namun angan-angannya membubung tinggi ke udara.

Mereka tersedar dari angan-angan masing-masing, ketika mereka mendengar langkah seseorang mendekati pintu bilik itu. Dan sejenak kemudian sesosok tubuh telah melangkah masuk. Orang itu adalah Sidanti.

“Oh,” Sidanti berdesis ketika ia melihat gurunya duduk di dalam bilik itu pula, “silahkan Guru untuk mandi. Pakaian untuk guru telah disediakan oleh Pandan Wangi.”

“Terima kasih,” jawab Ki Tambak Wedi. Tetapi ia belum beranjak dari tempatnya.

Sidanti tertegun sejenak. Namun kemudian dicobanya untuk tidak terpengaruh oleh sikap gurunya. Perlahan-lahan ia melangkah maju dan duduk di amben itu pula.

“Sidanti,” berkata Ki Tambak Wedi setelah Sidanti duduk, “aku sedang mencoba mengumpulkan keberanian untuk berkata berterus terang kepada ayahmu.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah yang meragukan, Guru?”

“Aku belum dapat menjajagi tanggapan ayahmu terhadap semua peristiwa yang terjadi.”

“Ah,” sahut Sidanti, “kenapa Guru ragu-ragu?”

“Hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi Kiai,” sambung Argajaya, “Sidanti adalah putera Kakang Argapati. Seandainya ia tidak berkenan atas kejadian yang berlangsung, seandainya Kakang tidak senang akan sikap Sidanti, namun Sidanti adalah puteranya. Persoalannya telah terlanjur terjadi. Apakah Kakang Argapati dapat berpangku tangan tanpa berbuat sesuatu? Aku, yang bukan ayahnya merasakan hinaan itu atas tanah ini. Atas seluruh Tanah Perdikan Menoreh, karena Sidanti adalah putera Kepala Tanah Perdikan ini.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi matanya sama sekali tidak memancarkan gairah dan nafsu untuk berbuat sesuatu.

Tetapi Ki Tainbak Wedi benar-benar telah mengherankan Argajaya dan Sidanti. Mereka tidak pernah melihat mata itu begitu suram. Mereka tidak pemah melihat wajah Ki Tambak Wedi begitu gelap dan dipenuhi oleh keragu-raguan. Yang selalu mereka lihat adalah, meskipun sudah dihiasi dengan kerut merut ketuaan, namun wajah itu selalu menyalakan nafsu yang melonjak-lonjak. Wajah itu selalu memancarkan gejolak di dalam dadanya, dan matanya selalu menyorotkan api yang seolah-olah ingin membakar masa depan.

“Seandainya Guru merasa bersalah,” berkata Sidanti di dalam hatinya, “apakah ia perlu menyesali kesalahannya sampai berlarut-larut? Ia dapat langsung berhadapan dengan Ayah, minta maaf atas kesalahan itu, namun kemudian menekannya untuk berbuat sesuatu.”

Tetapi seperti Argajaya, Sidanti masih tetap yakin, bahwa ayahnya pasti tidak akan tinggal diam saja. Tetapi ayahnya memang memerlukan api yang dapat membakar kemarahannya. Karena itu maka baik gurunya maupun pamannya harus dapat mengatakan apa yang telah terjadi itu dengan cara yang sebaik-baiknya.

Sidanti itu berpaling ketika ia mendengar gurunya berkata, “Tetapi aku memang sudah bertekad untuk mengatakan kepada ayahmu, Sidanti. Apa pun tanggapannya. Mudah-mudahan ia dapat mengerti dan seperti yang kita harapkan, ayahmu bersedia untuk berbuat sesuatu, berbuat untuk menebus sakit hati dan dendam yang menyala di dalam dada ini.”

Sidanti mendengar kata-kata yang panas penuh tekad untuk membalas dendam dan sakit hati, tetapi nada yang membawakan kata-kata itu sama sekali kurang meyakinkannya. Namun Sidanti tidak segera menyahut, dan dibiarkan gurunya berkata terus, “Nanti malam aku akan menemui ayahmu.”

“Baik, Kiai,“ sahut Argajaya dengan serta merta, “aku memang mengharap, bahwa malam ini semuanya dapat diselesaikan. Aku telah bermalam satu malam lagi di sini, betapa aku ingin segera bertemu dengan keluargaku. Aku ingin ikut serta meyakinkan Kakang Argapati, bahwa Menoreh harus berbuat sesuatu karena seorang puteranya telah dihinakan oleh orang-orang Pajang, justru putera Kepala Tanah Perdikannya.“

Tampaklah wajah Ki Tambak Wedi menjadi semakin berkerut merut. Dan tanpa disangka-sangka ia berkata, “Maaf, Ngger. Aku ingin bertemu dengan Argapati seorang diri. Aku harus berhadapan dengan kakakmu itu tanpa seorang pun yang hadir. Aku ingin mengatakan semua persoalan yang tidak perlu diketahui oleh oranglain.”

(Gambar halaman 26)
“Aku ingin mengatakan semua persoalan yang tidak perlu diketahui orang lain,” Jawaban itu ternyata telah mengejutkan Argajaya dan Sidanti, sehingga hamper bersamaan mereka bertanya, “Kenapa?”

Jawaban itu ternyata telah mengejutkan Argajaya dan Sidanti, sehingga hampir bersamaan mereka bertanya, “Kenapa?”

Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab. Tetapi ditatapnya wajah Sidanti seperti belum pernah dilihatnya, sehingga Sidanti terpaksa melontarkan pandangan matanya keluar bilik itu.

“Aku harap kalian dapat mengerti,” berkata Ki Tambak Wedi kemudian, “aku tidak ingin Argapati menjadi salah paham. Karena itu, aku harus berhati-hati. Nanti apabila persoalan ini telah benar-benar dipahami oleh Argapati, maka kalian akan mendapat kesempatan untuk mengatakan perasaan kalian. Tetapi sebelum itu, jangan membuatnya menjadi bingung.”

“Ah,” desah Argajaya, “Kakang Argapati bukan anak-anak yang lekas menjadi bingung. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mampu membuat pertimbangan-pertimbangan yang matang. Aku kira dalam pembicaraan antara orang-orang yang telah cukup dimatangkan oleh pengetahuan dan pengalaman, tidak akan dapat terjadi salah paham.”

“Mudah-mudahan. Mudah-mudahan tidak ada salah paham. Karena itu, biarlah aku saja yang mengatakannya. Dengan demikian, maka seperti yang kau katakan, Angger Argajaya, kami orang-orang tua yang telah kenyang makan pahit masamnya kehidupan, akan dapat berbicara tanpa salah paham.”

Ura-urat yang terbujur di kening Argajaya menjadi tegang. Sepercik warna merah membayang di matanya. Jawaban Ki Tambak Wedi itu benar-benar telah mengguncang perasaannya. Perasaannya sebagai seorang paman dan sebagai seorang yang mempunyai kedudukan yang cukup penting di Tanah Perdikan Menoreh.

Persoalan yang akan dibicarakan adalah persoalan Sidanti. persoalan kemanakannya, anak Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Sedang Argajaya adalah orang kedua di tanah perdikan ini. Kenapa Ki Tambak Wedi berkeras untuk menjauhkannya dari pembicaraan itu.

Ki Tambak Wedi yang mempunyai pengamatan yang cukup tajam, seolah-olah dapat mengerti apa yang sedang bergolak di dalam hati Argajaya itu. Sehingga karena itu, maka ia berkata, “Angger Argajaya jangan salah paham. Persoalan ini memang persoalan Sidanti, persoalan Menoreh dengan Pajang. Tetapi sebelum kita sampai pada persoalan itu, adalah persoalan Argapati dan Ki Tambak Wedi. Persoalan penyerahan Angger Sidanti, putera Argapati itu kepada Ki Tambak Wedi. Argapati sebagai seorang ayah, lepas dari segala macam sangkutan persoalan, dan Ki Tambak Wedi seseorang yang mendapat kepercayaan mengasuh Sidanti. Sebagai seorang yang menyimpan ilmu dari perguruan Tambak Wedi. Seseorang kepada seseorang. Hanya itu. Itulah yang harus aku pertanggung jawabkan lebih dahulu, sebelum aku sampai kepada persoalan lain yang menyangkut kemudian. Persoalan Sidanti dengan orang-orang Pajang. Persoalan Sidanti dengan Sekar Mirah, kemudian persoalan Sidanti dengan Untara. Hancurnya Tambak Wedi dan segala macam persoalan yang lain. Nah, dalam persoalan-persoalan inilah aku memang memerlukan seorang kawan untuk meyakinkan Argapati. Tetapi sebelum itu, persoalannya adalah persoalan Argapati dan Ki Tambak Wedi. Sebagai seorang yang memberikan kepercayaan dan yang menerima kepercayaan untuk mengasuh Sidanti.”

Urat-urat yang seolah-olah menjalar di kening Argajaya masih menegang. Tetapi penjelasan Ki Tambak Wedi itu ternyata agak mengendorkannya. Ia dapat mengerti beberapa bagian dari keterangan itu, meskipun masih ada beberapa masalah yang tidak dapat ditangkapnya. Namun dengan demikian, maka getar di dadanya menjadi semakin turun. Perlahan-lahan ia berpaling, dipandanginya wajah Sidanti dengan tajamnya, seolah-olah ia ingin bertanya, bagaimanakah tanggapan anak muda itu atas keterangan gurunya.

Tetapi Sidanti sama sekali tidak dapat memberikan tanggapan apapun. Justru ia menjadi bingung. Ia dengan tiba-tiba telah dicengkam oleh perasaan kecewa ketika gurunya mengatakan, bahwa tidak ada orang lain yang dapat ikut berbicara, selain Argapati dan Ki Tambak Wedi. Namun keterangan gurunya itu masuk pula di dalam akalnya. Adalah wajar, bahwa persoalan itu semata-mata adalah persoalan Argapati dan Ki Tambak Wedi. Seperti pada saat Argapati menyerahkannya kepada Ki Tambak Wedi, tidak ada seorang pun yang ikut mencampurinya. Tidak ada seorang pun yang membantu salah satu pihak untuk meyakinkan pihak yang lain. Dan lebih dari itu, tidak seorang pun yang tahu, apakah yang sebenarnya telah mereka bicarakan dalam penyerahan itu.
Dan sekarang, ketika Ki Tambak Wedi dihadapkan pada suatu persoalan yang pelik, yang tidak dapat di atasinya sendiri untuk menghadapi masa depan Sidanti, maka Ki Tambak Wedi memerlukan Argapati. Memerlukan ayah Sidanti itu sendiri.

Sebenarnya hal itu adalah hal yang wajar. Sangat wajar. Dan adalah wajar juga, kalau Ki Tambak Wedi ingin berbicara tanpa orang lain, dalam hal Sidanti ini.

Tetapi persoalan yang sekarang di hadapi oleh Ki Tambak Wedi bukan sekedar persoalan Sidanti pribadi. Bukan soal kegagalan Sidanti dalam usahanya menuntut ilmu dari perguruan Tambak Wedi. Bukan sekedar persoalan Sidanti yang malas dan tidak mempunyai ketekunan dalam usahanya menuntut ilmu. Tidak. Justru Sidanti adalah seorang murid yang baik, yang tekun dan dapat dibanggakan oleh gurunya.

Namun kegagalan Sidanti kali ini adalah kegagalannya dalam percaturan pergeseran pimpinan pemerintahan, meskipun hanya dalam satu segi. Persoalan yang menyangkut perselisihan antara Pajang dan Jipang. Antara Jipang dan Tambak Wedi, dan kemudian antara Pajang melawan Jipang dan Tambak Wedi bersama-sama. Persoalannya kemudian pasti akan menyangkut nama Sidanti sebagai seorang putera Menoreh dalam hubungannya keluar. Bukan sekedar masalah pribadinya yang gagal dalam ilmunya. Dan persoalan ini bukanlah sekedar persoalan Ki Tambak Wedi dan Argapati. Tetapi persoalan ini pasti akan menjadi persoalan antara Menoreh dan Pajang dalam keseluruhan.

Meskipun demikian, Argajaya dan Sidanti merasa, bahwa mereka tidak akan dapat memaksa Ki Tambak Wedi untuk membawa mereka dalam pembicaraan, sebelum Ki Tambak Wedi menganggap, bahwa persoalan salah paham telah dapat dilaluinya.

Dengan demikian maka Argajaya dan Sidanti tidak berusaha untuk mendesak orang tua itu. Namun mereka tidak dapat melepaskan keinginan mereka untuk mendengar dan ikut berbicara dalam masalah itu.

“Baiklah aku bersabar,” berkata Argajaya di dalam hatinya. “Apabila persoalannya telah menyangkut masalah Menoreh dan Pajang, maka Kakang Argapati pasti akan memanggil aku.”

Dan Sidanti pun agaknya berpikir demikian pula, “Apabila datang waktunya, Ayah pasti akan memanggil aku, dan aku akan dapat membakarnya untuk menyatakan perang terbuka melawan Pajang yang memang masih kisruh.”

Tetapi Sidanti tidak mengatakannya. Ia mengharap agar gurunya segera menemui ayahnya dan berbicara tentang persoalannya dengan sungguh-sungguh. Tidak lagi sambil bergurau, membuat ceritera khayal yang menjemukan dan menyesakkan nafas.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 21 Oktober 2008 at 01:36  Comments (31)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-31/trackback/

RSS feed for comments on this post.

31 KomentarTinggalkan komentar

  1. Setudju sadja . . . bagaimana baiknja menurut panitia.

  2. hihihi ..

  3. sedih deh….udah kecanduan nih om..

  4. Ayo,..ayo,…

  5. Ki sanak,
    waton dikandani carane nge-proof, aku saguh dadi pasukan proofing. Sendika dhawuh….

  6. Hasil proof sudah kukirim via email.

    -kris-

    D2: Sudah kami terima. Thanks

  7. Wah…, maaf komandan, tiba-tiba sama juragan saya disuruh cari rumput di tempat lain sehingga agak lambat. he he . . Sore inilah saya coba email sebagian. Sekarang belum saatnya, karena ada beberapa kesalahan yang perlu di edit.

  8. Jilid 29 bag. 1

    D2: Dihapus, karena sudah ada di Halaman Buku 29.

  9. Boss, dengan sangat menyesal nich, aku kecewa hari ini, gak bisa lanjutin mbacanya, habis dikamingson sih.. lanjut aja dech…pasti banyak yang seneng…

  10. Sekedar uneg2 :
    waktu yang dibutuhkan untuk proof dari doc dokumen kurang lebih 2 s.d. 3 jam atau lebih sedikit tergantung kualitas transfer ke doc nya.

    Jadi yang nge proof sebaiknya 2 orang (mudah memanagenya) adalah yang punya waktu setidak-tidaknya 24 Jam waktu proof yang diberikan sehingga selisih jilid versi htm dengan djvu hanya 2 jilid.

    sehingga relawan tinggal berhitung waktu 2 jam kosong dalam 24 jam kedepan. Pak/Bu Demang tidak begitu rikuh lagi nduding2 nya.

    kaya aku kira2 baiknya pakai nama siapa ya aragajaya, wuranto, sidanti, rudito atau yang lainnya???

  11. Saya mau sumbang saran: bagaimana kalau file djvu-nya dipublikasikan setelah satu atau dua buku sebelumnya selesai semuanja. Jadi misalnya file djvu buku 31 ini ditayangkan saja nanti setelah seluruh buku sampai buku 30 selesai retype/convert, proof dan versi teks-nya sudah ditayangkan seluruhnya. Mudah-mudahan dengan demikian yang sampai saat ini bau bisa merasa menyesal dan kecewa akan lebih termotivasi untuk ikut meramaikan retype, convert, dan proof. Ini hanya sekedar saran lho.

  12. saya cuman ikut mendukung saja, biar tidak selisih banyak antara djvu dengan text biasa.

    Namun sayang sekali saya tidak bisa ikut urun tenaga, karena kehidupan real saya

    Terimakasih

  13. Buku 31.doc sudah meluncur ke D2 ya…

    D2: Sudah. Tengkyu

  14. Dear ADMers,

    Kalau boleh sumbang saran. Sebaiknya jangan terpaku pada upaya convert ke doc saja karena ini nanti akan disesali karena buang waktu. Saya yakin dalam beberapa waktu yang singkat mendatang akan ada ADMer yang akan mampu mendapatkan cara proof reading yang lebih efisien dan cepat. Jadi sekali lagi saran saya jangan dihubungkan kecepatan transfer ke doc dengan versi djvu. Begitu bahan tersedia langsung posting.

    Saya belum tahu tehnik dan kecepatan bung DD memproof akhir, tetapi sebaiknya memang hrs dibantu dicarikan cara yang lebih efisien waktu, selain bantuan secara manual.
    Salam, GI.

  15. @Moderator. Urun retype s/d hal 41.

  16. Retype Buku 31 sudah komplit. Tolong keroyokan buku 29. Cegat dari belakang aja biar gak tumburan dg Mas GI

  17. buku 31 halaman 41 s/d 49 (minus gambar)

    “ Sidanti terpaksa meninggalkan lingkungan keprajuritan.”

    Kening Argapati tampak berkerut. Ia sudah menyangka bahwa itulah yang terjadi. Sidanti terpaksa meninggalkan lingkungan keprajuritan.

    Argapati itu berdesah. Tetapi ia masih belum menyahut.

    “ Kau jangan terkejut Argapati, bahwa persoalannya adalah anak-anak muda.”, Ki Tambak Wedi berhenti sejenak. Orang tua itu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat wajah Argajaya menjadi merah.

    “ Tetapi itu bukan sebab yang terutama, Argapati.”, sambung Ki Tambak Wedi kemudian dengan tergesa-gesa. “ Persoalan itu hanyalah sekedar pendorong dari sebab-sebab yang sebenarnya.”

    Argapati masih belum menjawab.

    “ Iri hati dan dengki telah menyebabkan Sidanti terpaksa meninggalkan kedudukannya yang kian hari kian bertambah baik.”

    Kini Argapati menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdesis,” Iri hati dan dengki adalah hambatan yang paling menjemukan bagi setiap kemajuan. Tetapi kenapa Sidanti harus meninggalkan lapangan yang telah dipilihnya itu?”

    “ Kalau kedengkian dan iri hati itu datang dari kawan-kawannya seangkatan, maka hal itu pasti akan dapat diatasinya. Hal yang demikian agaknya cukup dibiarkannya saja. Meskipun mungkin akan dapat juga menghambat kemajuannya, tetapi hal yang serupa itu tidak perlu dilayani,”. Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam, lalu,” Tetapi kedengkian dan iri hati itu datangnya justru dari pimpinan pasukan pajang di Sangkal Putung.”

    “ He?”, Argapati terkejut. “ Siapakah mereka itu?”

    “ Widura.”

    “ Widura?”, Argapati mengulangi.

    “ Dan Untara.”

    “ He”, Argapati benar-benar terkejut mendengar nama itu disebut,” Untara, Senapati Pajang yang mendapat kepercayaan di daerah Merapi dan sekitarnya?”

    Ki Tambak Wedi mengangguk. “ Ya.”

    Sekali lagi Ki Tambak Wedi melihat wajah Argapati menjadi semburat merah.

    “Ki Tambak Wedi,”, nada suara Argapati menjadi semakin berat,” apakah yang sudah mereka lakukan? Apakah kedengkian mereka disebabkan karena kemungkinan yang baik dari Sidanti di dalam lapangan keprajuritan, apakah disebabkan karena persoalan anak-anak muda seperti yang kau katakan?”

    “ Keduanya, Argapati.”, sahut Ki Tambak Wedi. “ Widura adalah pimpinan pasukan Pajang di Sangkal Putung.”

    “ Ya, aku telah mendengar.”

    “ Untara adalah kemenakan Widura itu.”

    Argapati mengangguk.

    “ Tetapi sumber yang paling memuakkan dari benturan di antara mereka adalah seorang anak muda yang bernama Agung Sedayu.”

    “ Siapakah Agung Sedayu itu?”

    “ Adik Untara.”

    “ Jadi juga kemenakan Widura?”

    “ Ya.”

    Terdengar Argapati menggeram,” Mereka adalah anak Ki Sadewa. Aku mengenal ayahnya meskipun tidak begitu rapat. Tetapi ayahnya bukan seorang yang dengki dan iri hati terhadap kemajuan orang lain. Lalu apakah yang sudah dilakukan oleh mereka atas Sidanti.”

    “ Agung Sedayu dan Sidanti ternyata mempunyai sangkutan hati yang sama.”

    “ Oh.”, Argapati menarik nafas dalam-dalam. Terbayang di dalam kepalanya apa yang sudah terjadi di antara mereka. Perlahan-lahan ia berkata,” Apakah kau akan mengatakan bahwa Widura dan Untara ternyata berpihak kepada Agung Sedayu dan bersama-sama berusaha menyingkirkan Sidanti.”

    “ Begitulah kira-kira yang terjadi Argapati.”

    “ Aku sudah berpesan mewantu-wantu. Jangan terlibat dalam persoalan yang pahit itu.”

    “ Tidak Argapati. Apa yang terjadi atas Sidanti dalam hubungannya dengan seorang gadis adalah wajar. Tetapi kedatangan Agung Sedayu telah merusakkan hubungan itu. Apalagi ketika Widura dan Untara turut campur.”

    “ Lalu apakah yang telah dilakukan oleh Sidanti? Menentang kedua pimpinannya itu?”

    “ Darah mudanya telah meluap.”

    “ Bodoh. Bodoh sekali. Seharusnya ia tidak berbuat sekasar itu. Kalau hal itu tidak terjadi, maka orang tua-tua ini pasti akan dapat menyelesaikannya. Mungkin Ki Tambak Wedi, mungkin pimpinan prajurit Pajang itu sendiri.”

    Ki Tambak Wedi terperanjat mendengar kata-kata Argapati. Ternyata Argapati menganggap bahwa sikap Sidanti itu adalah sikap yang salah. Argapati tidak menjadi kecewa atas Widura dan Untara, bahkan sebaliknya ia menyesali sikap Sidanti.

    Karena itu maka sejenak Ki Tambak Wedi terdiam. Ia mencoba mencari alasan yang lebih baik, yang dapat membakar hati Argapati.

    “Ki Tambak Wedi,”, berkata Argapati itu kemudian,” apakah kau tidak berusaha mencegah kesalahan yang telah dibuat oleh Sidanti?”

    “ Tentu Argapati. Sudah tentu aku berusaha mencari jalan yang sebaik-baiknya untuk memecahkan masalah itu. Aku temui satu demi satu kedua orang yang kebetulan mendapat kepercayaan atas para prajurit Pajang di Sangkal Putung itu.”

    Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak ia terdiam. Dibiarkannya Ki Tambak Wedi berkata terus,” Tetapi agaknya masalah bagi mereka yang sebenarnya bukanlah Agung Sedayu. Masalah yang sebenarnya adalah masalah kedengkian mereka.”

    Tampak kening Argapati menjadi berkerut. Dan Ki Tambak Wedi berkata selanjutnya,” Persoalan Agung Sedayu ternyata telah mereka pakai untuk melepaskan iri hati dan dengki mereka atas Sidanti.”

    “ Apa yang telah mereka lakukan atas Sidanti?”

    Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk mengekang gelora di dadanya. Ia harus berhati-hati supaya ia tidak berbuat kesalahan.

    “ Menyesal sekali Argapati,”, berkata Tambak Wedi,” bahwa Widura disetujui oleh Untara telah membuat darah kedua anak muda itu menjadi panas.”

    Kening Argapati menjadi semakin berkerut-merut.

    “ Meskipun tampaknya sangat baik, namun ternyata Widura telah membakar kedua anak muda itu dan menjerumuskannya ke dalam suatu pertentangan yang berbahaya.”

    “ Apa yang dilakukannya?”

    “ Widura menyelenggarakan sayembara memanah.”

    “ Untuk apa?”

    “ Untuk menentukan siapa yang berhak atas gadis itu.”

    “ Ah,”, wajah Argapati menjadi tegang,” apakah kau berkata sebenarnya, Ki Tambak Wedi?”

    “ Kenapa tidak? Aku berkata untuk kepentingan anakmu, Argapati.”

    “ Tetapi apakah hak Widura untuk menyelenggarakan sayembara itu? Kalau sayembara itu diadakan untuk memilih Senapati yang akan dijadikannya pembantunya melawan Tohpati, itu adalah kewajiban Widura. Tetapi persoalan gadis itu bukanlah wewenangnya. Apakah gadis itu sudah tidak berayah dan beribu?”

    “ Oh, gadis itu bernama Sekar Mirah. Ia adalah puteri Demang Sangkal Putung.”

    Argapati menjadi semakin tegang. Ditatapnya wajah Ki Tambak Wedi, seolah-olah ia ingin melihat apakah yang tergores di dalam kepala orang tua itu.

    Sejenak kemudian terdengar Argapati berdesis,” Kedengarannya aneh sekali Ki Tambak Wedi.”

    “ Itulah yang tidak dapat aku mengerti. Tetapi aku tidak dapat mencegahnya. Apalagi ketika perlombaan itu telah berlangsung. Widura sudah mengatur orang-orangnya untuk berlaku curang, sehingga di dalam sayembara itu Sidanti tidak dapat memenangkannya.”

    “ Lalu apa yang dilakukan oleh Sidanti?”

    “ Darah mudanya menyala tanpa dapat dikendalikan lagi. Ia terlibat dalam perang tanding. Bukan sekedar sayembara memanah.”

    Wajah Argapati menjadi semakin berkerut-merut.

    “ Keduanya adalah anak-anak muda. Agung Sedayu dan Sidanti.”, Ki Tambak Wedi meneruskan,” Tetapi sekali lagi mereka berbuat curang. Kali ini Untara sendiri yang telah melanggar sikap jantan. Dan sekali lagi Sidanti tidak dapat mengendalikan diri. Ketika Agung Sedayu sudah tidak berdaya melawan Sidanti, maka Sidanti harus berhadapan dengan Untara sendiri.”

    “ Oh,”, Argapati menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya,” dan kau tidak dapat mencegahnya?”

    “ Sulit sekali Argapati. Kalau kau melihat apa yang terjadi, maka kau tidak akan menyalahkan sikap Sidanti. Akupun hampir-hampir kehilangan akal dan berbuat di luar nalar.”

    Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya,” Lalu?”

    “ Ternyata yang terjadi kemudian sama sekali tidak terduga-duga sebelumnya.”, Ki Tambak Wedi berhenti sejenak. Dicobanya untuk menjajagi perasaan Argapati. Tetapi ia tidak menemukan kesan yang meyakinkan.

    “ Pertentangan itu menjadi berlarut-larut. Meskipun perkelahian yang pertama itu tampaknya berakhir tanpa menyakitkan hati kedua belah pihak, karena kepentingan mereka atas keselamatan Sangkal Putung dari sergapan Tohpati, sehingga mereka masih memerlukan Sidanti. Namun yang terjadi di hari-hari berikutnya adalah persoalan yang paling menyakitkan hati. Bagi Sidanti, perguruan Tambak Wedi dan bagi Tanah Perdikan Menoreh.”

    “ Ah,”, Argapati berdesah,” kenapa hal itu harus terjadi?”

    “ Sidanti disudutkan ke dalam suatu keadaan yang tidak dapat dihindarinya.”

    Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah seorang yang menyimpan perbendaharaan pengalaman yang seimbang dengan Ki Tambak Wedi. Ia adalah orang yang memiliki ketajaman penilaian atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dan keterangan-keterangan yang didengarnya. Meskipun ia keras hati, tetapi ia mempunyai pertimbangan yang kuat. Sebelum meletakkan keputusan dan menentukan sikap, maka ia mempertimbangkan setiap persoalan semasak-masaknya.

    Sejenak pringgitan itu dicengkam oleh kesepian. Yang terdengar hanya desah nafas mereka berkejaran lewat lubang-lubang hidung. Namun demikian, debar jantung kedua orang tua-tua itu menjadi semakin deras berdentangan di dalam dada mereka.

    Ki Tambak Wedi mengharap bahwa ia akan berhasil membakar hati Argapati. Ia mengharap bahwa Argapati akan bersedia membantunya menebus segala kekalahan. Lebih dari pada itu, apabila ia berhasil menggerakkan Argapati, maka ia akan membawanya ke singgasana Pajang.

    Tetapi Ki Tambak Wedi tidak dapat segera menangkap perasaan Argapati. Meskipun wajahnya menegang, namun ia tidak berhasil menangkap perasaan yang tersirat dari padanya.

    Sesaat kemudian terdengar Argapati bergumam,” Ki Tambak Wedi, aku tidak melihat apa yang terjadi. Tetapi aku menyesal bahwa pertentangan itu telah berlangsung. Baik antara Sidanti dan Agung Sedayu, maupun Sidanti dan Widura serta Untara.”

    “ Keadaan itu datang tanpa dapat dihindari oleh Sidanti.”, jawab Ki Tambak Wedi.

    “ Ah, aku rasa keadaan itu pasti ada permulaannya. Aku tidak tahu siapakah yang bersalah, tetapi bahwa Sidanti dan Agung Sedayu itu bersaing untuk mendapatkan seorang gadis, itu sudah tidak menyenangkan sekali. Aku tidak pedulikan Agung Sedayu, sebab ia bukan sanak bukan kadang. Apapun yang akan dilakukan, seandainya ia berbuat nista seperti orang yang paling hina sekalipun. Tetapi Sidanti adalah anakku. Ia harus mempunyai harga diri. Ia harus menempatkan dirinya sebagai seorang putera Kepala Tanah Perdikan. Ia harus menjadi seorang prajurit yang baik. Seorang prajurit yang harus menjadi tupa-tulada dari prajurit-prajurit yang lain.”

    “ Ya, ya. Aku mengerti.”, sahut Ki Tambak Wedi. “ Seharusnya memang demikian. Tetapi aku tidak banyak berdaya untuk menghindarkannya.”

    “ Kalau saja Sidanti tidak terkait gadis Sangkal Putung itu, maka semuanya tidak akan terjadi.”

    “ Kau salah Argapati. Soalnya bukan bersumber pada gadis itu. Sudah aku katakan. Soalnya adalah kedengkian dan iri hati. Seandainya tidak ada persoalan gadis itu sekalipun, namun Untara dan Widura pasti akan mencari sebab-sebab lain yang akan dapat dipergunakan untuk menyingkirkan Sidanti.”

    Argapati mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar Ki Tambak Wedi berkata terus,” Aku sudah mencoba menjajagi perasaan mereka. Di antara sekian banyak sebab dari kedengkian dan iri hati itu adalah kemajuan Sidanti. Mereka berusaha sekeras-kerasnya untuk menyembunyikan kemampuan Sidanti. Sebab apabila kemampuan Sidanti itu dapat dilihat oleh para pemimpin Wira Tamtama Pajang, maka keadaannya sama sekali tidak akan menguntungkan Untara dan Widura. Karena itu, mereka berdua, paman dan kemenakan itu, berusaha untuk menyingkirkannya. Apalagi apabila sampai pada suatu saat, Sidanti berhasil membunuh Tohpati, maka kedudukan Widura dan Untara pasti akan terdesak.”

    Tetapi Ki Tambak Wedi itu terperanjat ketika ia mendengar Argapati bertanya,” Apakah memang tersirat di kepala Sidanti untuk mendesak kedudukan kedua orang itu?”

    Sejenak Ki Tambak Wedi terbungkam. Di keningnya mengembun keringat yang dingin. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa tiba-tiba saja ia dihadapkan pada pertanyaan itu.

    “Ki Tambak Wedi,”, berkata Argapati seterusnya,” akupun pernah mengalami menjadi seorang prajurit. Senapati adalah jabatan yang memang diimpikan bagi setiap prajurit. Senapati perang dari segala tingkatan. Seandainya Sidanti ingin menjadi Senapatipun, maka hal itu adalah wajar. Sebab tanpa keinginan dan cita-cita itu, maka ia adalah seorang prajurit yang akan membeku saja di tempatnya. Ia akan tetap seorang prajurit sampai pada suatu saat ujung pedang lawannya membelah dadanya, atau sampai suatu saat ia harus mengundurkan diri karena umurnya. Tetapi aku tidak pernah merasakan suatu kecemasan bahwa seseorang akan mendesak kedudukanku. Seandainya ada prajuritku yang maju, maka sebaiknya diberi kesempatan. Bukan ditanggapi dengan iri dan dengki apabila prajurit itu berbuat dengan wajar. Tetapi bila seorang prajurit sengaja menjual jasa, dan membanggakan kelebihannya, memang kadang-kadang sikap yang demikian tidak menyenangkan atasannya. Nah, apakah Ki Tambak Wedi sudah melihat, apakah Sidanti tidak terdorong dalam sikap serupa itu, sehingga Widura dan Untara tidak menyenanginya?”

    “ Oh,”, Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam,” kau memang orang yang terlampau baik Argapati. Kau seorang yang keras hati, sekeras batu-batu padas di pegununganmu. Wajahmupun tampak begitu keras membatu. Tetapi kau terlampau hati-hati untuk mengambil sikap. Kau selalu berprasangka baik terhadap seseorang. Kau tidak pernah melihat kesalahan orang lain lebih dahulu dari kebaikannya. Namun jangan berbuat demikian terhadap Widura dan Untara. Jangan Argapati. Kau harus dapat menempatkan dirimu pada pihak yang seharusnya mendapat perlindunganmu.”

    Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya masih saja didera oleh keragu-raguan dan kebimbangan.

    Sejenak kemudian ia berkata,” Nah, seandainya demikian, lalu apakah sebab langsung yang telah mendorong Sidanti meninggalkan Sangkal Putung?”

    “ Aku membawanya ke Tambak Wedi.”

    “ Begitu saja?”

    “ Aku tidak mau melihat keadaan menjadi semakin parah. Aku tidak mau melihat Sidanti kehilangan segala-galanya. Kehilangan gadis itu, kehilangan kesempatan di dalam tugas-tugas keprajuritan, kehilangan harga diri, dan kehilangan keberanian untuk bersikap. Atau apabila terjadi sebaliknya, Sidanti menjadi bermata gelap dan berbuat di luar kendali.”

    Sekali lagi Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Tampaklah suatu bayangan yang buram di kepalanya. Betapapun ia mencoba mengerti keterangan Ki Tambak Wedi, namun setiap kali bayangan tentang Sidanti, Widura dan Untara, seolah-olah seperti asap yang tertiup angin. Pecah bertebaran, dan ia kehilangan gambaran tentang apa yang terjadi.

    “ Aku tidak dapat mengerti,”, desisnya di dalam hati,” bagaimana mungkin seorang Senapati seperti Untara menaruh kedengkian dan iri hati terhadap bawahannya. Terhadap Sidanti.”. Tetapi lalu dijawabnya sendiri,” Untara masih muda. Mungkin ia masih kurang bijaksana menanggapi keadaan, sehingga timbullah kedengkian dan iri hati itu.”

    Namun bagaimanapun juga Argapati masih dibelit oleh keragu-raguan dan kebimbangan.

    “ Apakah kau tidak dapat mengerti, Argapati?”, bertanya Ki Tambak Wedi.

    “ Aku sedang mencoba untuk mengerti.”, jawab Argapati dengan jujur.

    “ Kau memang terlampau baik dan jujur, sehingga kau tidak dapat membayangkan kedengkian dan iri hati orang lain. Sebab kau sendiri tidak pernah berbuat demikian atas orang lain.”

    “ Hem.”, Argapati menarik nafas dalam-dalam. “ Lalu seandainya kemudian aku meyakini kebenaran keteranganmu, lalu apakah yang sebaiknya aku lakukan menurut pertimbanganmu?”

    Detak jantung Ki Tambak Wedi menjadi semakin berdebar-debar. Ia merasa belum dapat meyakinkan Argapati. Namun ia harus berusaha membuat hati orang itu menjadi semakin panas. Ia harus dapat membakar perasaannya.

    “ Tetapi Argapati bukan Sidanti.”, gumam Ki Tambak Wedi di dalam hatinya. “ Argapati adalah orang yang matang dalam sikap dan perbuatan. Tetapi aku harus mencoba.”

    Maka dengan hati-hati, Ki Tambak Wedi berkata,” Argapati. Aku sebenarnya tidak dapat mengatakan apapun kepadamu tentang sikap yang sebaiknya kau ambil. Kau adalah seorang yang cukup matang menanggapi persoalan. Adalah wewenangmu untuk menentukan, sikap apakah yang sebaiknya kau ambil, tetapi aku percaya bahwa kau masih Argapati yang aku kenal dahulu. Seorang yang memiliki harga diri dan kejantanan.”

  18. buku 031 halaman 50 s/d 59

    Argapati mengerutkan keningnya. Lalu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata,” Persoalan ini bukan persoalan yang dapat diabaikan. Persoalannya tidak sekedar persoalan Sidanti dan Untara, tetapi akan menyangkut orang tua-tua ini pula.”

    “ Tentu, Argapati,”, Ki Tambak Wedi menyahut,” apalagi kalau Untara sengaja membuat laporan palsu. Maka penilaian orang-orang Pajang pasti akan berkisar kepadamu dan kepadaku.”

    Argapati mengangguk-angguk. “ Ya.”, katanya,” Pasti orang-orang tua inilah yang akan mendapat sorotan tajam dari para pemimpin Wira Tamtama Pajang.”

    “ Itulah sebabnya aku segera datang kepadamu.”

    Argapati tidak segera menjawab. Tetapi kerut-merut di dahinya menjadi semakin dalam.

    Dan terdengar Ki Tambak Wedi melanjutkan,” Dan untuk seterusnya kau harus berbuat sesuatu, Argapati.”

    “ Ya, aku menyadari. Sebagai orang tua aku harus berbuat sesuatu untuk kepentingan Sidanti.”

    Kini Ki Tambak Wedilah yang menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat titik-titik terang bahwa usahanya akan berhasil.

    Tetapi alangkah terperanjatnya ketika ia mendengar Argapati itu berkata,” Baiklah Ki Tambak Wedi. Apabila kau dan Sidanti nanti pada waktunya kembali ke Tambak Wedi, meskipun aku tidak mendesakmu untuk segera pergi dari Menoreh, bahkan apabila mungkin kau akan berada di sini untuk waktu yang cukup lama, namun maksudku, kelak apabila kau kembali, aku akan ikut beserta bersama Argajaya. Aku akan menemui Widura dan Untara. Aku ingin mendapat penjelasan akan sikapnya itu.”

    “ Ah,”, dengan serta-merta Ki Tambak Wedi memotong,” masihkah kau menganggap bahwa itu akan berguna bagimu dan bagi Sidanti?”

    “ Kenapa tidak? Aku akan menemuinya, Ki Tambak Wedi. Aku dan Untara berdiri pada tingkat yang sama. Aku tidak akan merendahkan diriku, mohon belas kasihan untuk kepentingan anakku. Tidak Ki Tambak Wedi. Bukankah kau tahu, bahwa ketika kau menganjurkan aku untuk menemui Ki Gede Pemanahan dan menitipkan Sidanti kepadanya, supaya Sidanti segera mendapat kedudukan yang baik, aku menolak. Aku tidak mau berbuat demikian. Sidanti harus menjadi seorang prajurit yang baik. Prajurit yang merayap dari tingkat yang paling rendah untuk mencapai tingkat yang setinggi-tingginya. Bukan karena ia anakku dan aku telah mengenal Ki Gede Pemanahan, meskipun tidak begitu rapat seperti aku mengenal kau. Kaupun telah mengenal Ki Gede Pemanahan pula. Tetapi hal itu tidak kita lakukan. Aku tidak mau. Meskipun tampaknya dengan demikian akan menguntungkan Sidanti, namun Sidanti akan kehilangan masa-masa yang akan dapat menempa dirinya sendiri. Ia akan kehilangan keprihatinan, karena dengan serta-merta ia berada di tingkat yang tinggi. Bukan karena hasil cucuran keringatnya sendiri, tetapi karena pengaruh orang lain, meskipun orang lain itu adalah ayahnya sendiri.”

    “ Aku tahu Argapati. Aku tahu betapa kau mencoba mendidik Sidanti untuk percaya kepada diri sendiri tanpa menggantungkan diri kepada orang lain. Tetapi kini masalahnya berbeda. Bukan sekedar harga diri. Bukan pula masalah yang dapat dibicarakan dengan wajar. Tetapi masalahnya adalah kedengkian dan iri hati. Nah, dapatkah kau mempersoalkan kedengkian dan iri hati? Tidak Argapati. Dengki dan iri hati tidak akan dapat dibicarakan. Tidak dapat dipersoalkan. Apalagi kedengkian dan iri hati itu telah dungkapkannya dalam tindakan yang paling menyakitkan hati. Tindakan yang tidak akan dapat dilupakan oleh Sidanti sepanjang umurnya.”

    Argapati tidak segera menjawab. Sejenak ia terdiam, seolah-olah sedang merenungkan kata-kata Ki Tambak Wedi itu. Dicobanya untuk mengerti dan mempercayainya. Tetapi setiap kali ia merasakan sesuatu yang menggelepar di dalam hatinya. Alangkah sulitnya bagi Argapati untuk dapat menelan keterangan itu.

    Argapati itu mengangguk ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi bertanya,” Apakah kau ragu-ragu Argapati?”

    “ Ya, aku memang ragu-ragu.”, jawab Argapati.

    “ Kau tidak mempercayai aku?”

    “ Bukan begitu Ki Tambak Wedi,”, sahut Argapati,” aku tidak meragukan kau. Tetapi aku meragukan tanggapan Sidanti atas kedua orang atasannya itu. Mungkin sikap Widura dan Untara yang keras, diterimanya dengan salah paham. Ia menyangka bahwa Widura dan Untara menyimpan kedengkian dan iri hati di dalam hati mereka.”

    “ Oh,”, Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya,” bukan hanya kau yang meragukan hal itu. Semula akupun meragukannya. Tetapi akhirnya aku yakin, bahwa keduanya memang dengki dan iri hati.”

    “ Ya,”, akhirnya Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya,” jalan yang paling baik bagiku adalah menemui Widura dan Unrata. Aku bukan anak-anak lagi seperti Sidanti yang menganggap perkelahian adalah jalan yang paling baik untuk menyelesaikan persoalan. Aku akan mengambil jalan yang paling baik bagi semua pihak.”

    “ Kalau kau mendengarkan nasehatku, Argapati”, berkata Ki Tambak Wedi,” jangan merendahkan dirimu. Kau hanya akan mendapat penghinaan yang menambah luka di hati.”

    “ Apakah mereka sudah gila?”, bertanya Argapati dengan serta merta.

    “ Mungkin istilah itulah yang paling tepat dipergunakan untuk menyebut kedua orang itu. Widura dan Untara.”

    “ Ah.”, Argapati berdesah. Sejenak ia terdiam. Namun kemudian ia bertanya,” Bagaimana yang baik menurut pertimbanganmu?”

    “ Argapati,”, berkata Ki Tambak Wedi dalam nada yang berat,” sebenarnya aku tidak sampai hati mengatakan kepadamu. Tetapi setelah aku pertimbangkan baik-baik, maka lebih baik kau mengerti setiap persoalan dengan baik dari pada sekedar permukaannya saja. Untuk seterusnya aku dan Sidanti tidak akan dapat kembali lagi ke padepokan Tambak Wedi.”

    “ He?”, Argapati mengerutkan keningnya. Keterangan itu telah mengejutkannya,” Kenapa?”

    “ Tambak Wedi telah pecah. Hancur lumat menjadi abu.”

    Argapati justru terdiam. Tetapi keningnya menjadi semakin berkerut-merut.

    “ Widura dan Untara ternyata telah menyusul Sidanti ke Tambak Wedi.”

    Tampaklah sesuatu memancar dari sepasang mata Argapati yang dalam. Sejenak dipandangnya wajah Ki Tambak Wedi dengan tajamnya. Namun kemudian dilemparkannya pandangan matanya itu ke arah nyala pelita di dinding. Begitu tajamnya ia memandang api yang sedang menggapai-gapai itu. Tanpa berkedip.

    Dada Ki Tambak Wedi menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar kekuatan yang tersimpan di dalam diri orang itu. Di dalam diri Ki Argapati. Seperti kelebihan yang tersimpan di dalam dirinya, yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan, sehingga orang menyebut bahwa Ki Tambak Wedi mampu menangkap angin. Seperti orang mengatakan bahwa perguruan Kedung Jati mempunyai rangkapan nyawa di dalam diri setiap muridnya. Maka hampir setiap mulut di Menoreh mengatakan, bahwa dengan sorot matanya, Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu mampu membakar setiap benda yang dikehendakinya, sehingga menjadi abu.

    Debar di dada Ki Tambak Wedi itu menjadi semakin keras ketika tiba-tiba ia melihat api pelita itu terguncang-guncang dengan kerasnya seolah-olah dihembus oleh angin yang bertiup dari arah sepasang mata Ki Gede Menoreh. Tetapi sejenak kemudian nyala pelita itu telah tegak kembali, seolah-olah menari dengan riangnya.

    Ki Tambak Wedi tersadar ketika ia mendengar Ki Gede Menoreh itu menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah sedang menikmati hasil pemusatan pikiran, dengan sengaja mengguncang nyala api pelita itu dengan pandangan matanya.

    “ Bukan main,”, berkata Ki Tambak Wedi di dalam hatinya,” begitu besar perbawa pada dirinya, sehingga aku telah dicemaskan oleh permainannya. Hem.”, Ki Tambak Wedilah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia sekali lagi memandang api pelita itu, maka dilihatnya sekali lagi api pelita itu berguncang, meskipun Ki Gede Menoreh tidak sedang memandanginya. Terasa angin yang lembut mengalir mengusap kening Ki Tambak Wedi yang basah oleh keringat.

    “ Setan alas.”, Ki Tambak Wedi itu mengumpat di dalam hatinya. “ Aku tidak dapat membedakan lagi, apakah yang telah mengguncangkan nyala api itu. Tetapi tadi aku tidak merasakan usapan angin yang dapat menggerakkan nyala pelita itu.”

    Sejenak kemudian keduanya masih saling berdiam diri. Ketegangan terasa semakin memuncak. Dan sejenak kemudian terdengar suara Argapati dalam nada yang berat dan dalam,” Apakah keadaan Sidanti sudah sedemikian parahnya sehingga kau harus mengorbankan padepokanmu?”

    Ki Tambak Wedi menganggukkan kepalanya,” Ya. Aku telah mengorbankannya untuk mencoba mempertahankan Sidanti. Untunglah bahwa Sidanti berhasil melepaskan dirinya. Kalau tidak, ia pasti akan dijadikan pangewan-ewan. Ia akan dihinakan jauh lebih menyakitkan hati dari pada sisa-sisa orang Jipang yang dapat ditangkap oleh Widura dan Untara.”

    Sekali lagi Argapati terhenyak dalam kediamannya. Sekali lagi ia merenungkan kata-kata Ki Tambak Wedi. Namun terasa ketegangan di dalam ruangan itupun semakin bertambah-tambah.

    “ Argapati,”, berkata Ki Tambak Wedi kemudian,” aku telah melakukan segala macam usaha. Usahaku yang terakhir adalah menyelamatkan Sidanti. Seterusnya aku hanya dapat mengadu kepadamu. Anak itu memerlukan perlindunganmu.”

    Wajah Argapati menjadi semakin tegang. Terbayanglah suatu peristiwa yang sama sekali tidak di sangka-sangkanya. Peristiwa yang telah menyeret Sidanti ke dalam suatu persoalan yang sulit. Yang mau tidak mau pasti akan menyangkut namanya kecuali nama Ki Tambak Wedi.

    Namun bagaimanapun juga Argapati tidak dapat mengusir kebimbangan yang mencengkam jantungnya. Dengan demikian maka terjadilah suatu pergolakan di dalam dadanya. Sentuhan terhadap Sidanti, yang setiap orang menyebutnya putera Kepala Tanah Perdikan Menoreh adalah sentuhan terhadapnya. Tetapi, apakah benar hal itu terjadi karena kedengkian dan iri hati? Bukan hanya sekedar karena salah paham yang berlarut-larut?

    Argapati menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi berkata,” Kau harus mengambil sikap, Argapati. Apapun yang telah terjadi di antara kita, tetapi kini nama Menoreh sedang mendapat perhatian di kalangan Wira Tamtama Pajang. Bukan karena kesalahan kita, bukan pula karena kesalahan Sidanti. Tetapi sayang, bahwa justru orang-orang seperti Widura dan Untaralah yang mendapat kekuasaan di Sangkal Putung dan daerah di sekitar gunung Merapi.”

    “ Hem,”, Argapati berdesah,” kenapa persoalan itu telah menjadi sedemikian jauh? Dan baru setelah semuanya tidak dapat dicegah kau datang kepadaku memberitahukannya? Sekarang aku sudah tersudut ke dalam suatu keadaan yang paling parah.”

    “ Aku minta maaf Argapati,”, desis Ki Tambak Wedi,” akupun sama sekali tidak menyangka bahwa hal itu akan terjadi. Tetapi semuanya telah terlanjur. Yang ada sekarang, yang harus diselesaikan, adalah keadaan kita kini.”

    “ Lalu apakah yang dapat aku lakukan untuk menyelesaikannya?”

    “ Aku hanya melihat satu jalan.”

    “ Jalan yang mana?”

    “ Argapati. Kita sudah terlanjur berada di tengah-tengah penyeberangan tanpa kita kehendaki. Kembali kita sudah terlanjur basah. Karena itu, maka biarlah kita berjalan terus. Apapun yang terjadi.”

    Argapati mengerutkan keningnya,” Maksudmu?”

    “ Kita tebus dengan darah.”

    Kerut-merut di kening Argapati menjadi semakin dalam,” Maksudmu, kita menggerakkan pasukan? Atau dengan berterus terang kita memberontak terhadap Pajang?”

    Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Argapati. Tetapi ia tidak dapat menangkap kesan yang meyakinkan. Karena itu dengan berhati-hati ia berkata,” Bukan maksud kita. Tetapi kita disudutkan ke dalam keadaan itu.”

    “ Ki Tambak Wedi,”, berkata Argapati datar,” Pajang kini sedang mencoba berdiri tegak setelah saling memukul di antara keluarga sendiri. Bahkan sampai kini menurut pendengaranku, masih saja tumbuh keributan di mana-mana. Beberapa orang Bupati tidak senang menerima Karebet di atas takhta, meskipun mereka masing-masing menyimpan pamrih pula. Nah, apakah kita juga akan menambah kekisruhan itu?”

    Ki Tambak Wedi mengangkat alisnya. Sejenak ia terdiam. Tetapi kemudian ia menjawab,” Aku berpikir sebaliknya, Argapati.”

    “ Maksudmu?”

    “ Pajanglah yang selalu membuat keributan di mana-mana. Pajanglah yang terlampau tamak. Kalau kau tahu sedikit saja tentang masa-masa muda anak yang bernama Karebet itu, maka kau akan segera mengerti, apakah yang sebenarnya sedang dilakukannya kini. Ternyata para perwira Wira Tamtama itupun telah mewarisi sikap dan sifat-sifat itu. Nah, apakah kau dapat mengerti?”

    Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,” Ya, aku mengerti. Bukankah maksudmu, mumpung Pajang belum tegak benar, kita mempergunakan kesempatan ini?”

    “ Begitulah.”

    “ Ki Tambak Wedi,”, berkata Argapati,” persoalan itu adalah persoalan hidup dan mati. Jangan menyeret Tanah Perdikan ini ke dalam keadaan yang tidak dapat kita yakini. Apabila masalahnya demikian, maka kita memerlukan waktu untuk memikirkannya.”

    “ Apakah kita harus menunggu sampai pasukan Pajang menyeberangi hutan Tambak Baya, Mentaok dan kali Praga?”

    “ Ah, jangan seperti anak kecil, Ki Tambak Wedi. Kau tahu bahwa untuk melakukannya, Pajangpun memerlukan waktu. Menyeberang hutan-hutan itu dan kali Praga dalam gelar perang, bukan mainan kanak-kanak. Kaupun pasti tahu, bahwa orang-orang Pajang tidak sebodoh itu, kecuali mereka akan membunuh diri.”

    “ Tetapi apakah kau tidak akan berbuat sesuatu?”

    “ Aku akan memilih jalan yang paling baik. Aku akan menemui langsung Ki Gede Pemanahan. Panglima Wira Tamtama itu. Ia harus menyadari bahwa di dalam pasukannya ada orang-orang seperti Widura dan Untara.”

    “ Oh,”, Ki Tambak Wedilah yang kemudian berdesah,” aku lupa mengatakan. Bahkan Pemanahan telah datang pula ke Sangkal Putung.”

    “ He?”, Argapati terkejut.

    “ Ya. Ia telah datang ke Sangkal Putung. Dan Panglima yang gila itu membenarkan sikap Widura dan Untara untuk memukul Tambak Wedi.”

    Wajah Argapati menjadi semakin tegang mendengar keterangan itu. Tanpa sesadarnya ia berkata,” Jadi apa yang dilakukan Untara dan Widura itu sudah setahu Pemanahan?”

    “ Ya.”

    Argapati terdiam sejenak. Tiba-tiba kepalanya menunduk dalam-dalam. Ki Tambak Wedi menyadari, betapa dada orang yang bertubuh tinggi kekar berdada bidang itu sedang dihantam oleh gelora perasaan yang luar biasa. Namun ia mengharap agar perkembangan persoalan di dalam diri Argapati itu mengarah kepada rencananya. Mudah-mudahan argapati menjadi marah dan mendendam. Meskipun tanah ini hanya sekedar Tanah Perdikan, bukan daerah Kabupaten atau Kadipaten yang besar, namun justru tanah ini Tanah Perdikan, maka Menoreh menjadi kuat. Menoreh tidak berada di dalam pengawasan yang terlampau ketat dari Pajang seperti daerah-daerah Kadepaten dan Kabupaten.

    Sekali lagi kedua orang tua itu terlontar ke dalam kesepian yang tegang. Argapati masih saja menundukkan kepalanya. Di kepala itu berkecamuk berbagai macam persoalan yang membuatnya menjadi pening. Kalau Ki Gede Pemanahan telah membenarkan sikap Widura dan Untara, maka mau tidak mau masalahnya pasti akan menjadi parah bagi Menoreh. Kalau Ki Gede Pemanahan telah membenarkan sikap Untara, dan bahkan telah datang pula ke Sangkal Putung, itu adalah suatu sikap yang pasti tidak dapat dihindarinya lagi.

    “ Mungkin benar kata Ki Tambak Wedi.”, berkata Argapati di dalam hatinya. “ Bahwa sebentar lagi pasukan Pajang akan menyeberangi alas Mentaok dan kali Praga. Bahwa sebentar lagi sepasukan prajurit segelar sepapan dalam gelar perang yang sempurna akan berbaris memasuki tanah perdikan ini. Apakah aku harus menyambut prajurit Pajang itu juga dalam gelar perang untuk mempertahankan Sidanti dan Ki Tambak Wedi?”

    Keragu-raguan yang dahsyat telah berkecamuk di dalam hati Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu. Berbagai pertimbangan dan perhitungan bersimpang siur di dalam kepalanya. Namun bagaimanapun juga ia masih belum berhasil mengusir kebimbangannya. Masih ada sepercik anggapan bahwa yang terjadi adalah semata-mata sebuah salah paham.

    Seandainya Untara dan Widura keblinger karena mereka melihat persoalannya itu dari sudut kepentingan mereka, dan kepentingan anak muda yang bernama Agung Sedayu, adik Untara dan kemenakan Widura itu, maka apakah Ki Gede Pemanahan dapat juga dengan mudahnya keblinger? Apakah Ki gede Pemanahan dan Ki Tambak Wedi sama sekali tidak dapat menemukan titik-titik persamaan sikap untuk menyelesaikan masalah itu? Apakah keduanya kini sudah menjadi pikun dan tidak mampu lagi melihat jalan yang sebaik-baiknya mereka tempuh untuk menyelesaikan peristiwa ini?

    Angin malam yang basah bertiup semakin kencang menyusup dari lubang pintu yang tidak terlampau rapat ditutup. Sentuhan di wajah-wajah mereka telah membangunkan mereka dari buaian angan-angan. Argapati yang kemudian mengangkat wajahnya berdesis,” Ki Tambak Wedi. Apakah dunia sekarang ini sudah demikian gelapnya sehingga orang-orang seperti Ki Gede Pemanahan dan Ki Tambak Wedi sudah tidak dapat melihat lagi jalan lain yang dapat ditempuh kecuali kekerasan? Aku tidak dapat mengerti, bahwa untuk persoalan yang kecil itu, maka Menoreh harus disudutkan ke dalam suatu persiapan untuk menghadapi perang.”

    Ki Tambak Wedi menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya,” Aku tidak tahu, pertimbangan apakah yang telah mendorong Pemanahan untuk membenarkan sikap Widura dan Untara. Mungkin Panglima itu telah dimakan fitnah, mungkin pula karena nafsu berperang yang berkobar-kobar di dalam dadanya. Setelah Jipang tidak mampu lagi membuat perlawanan yang berarti, maka Pemanahan dengan sengaja telah membuat lawan baru, supaya ia tidak kehilangan kedudukannya sebagai orang yang terpenting di Pajang. Apabila peperangan masih berkecamuk terus, maka Panglima Wira Tamtamalah yang seolah-oleh memegang tampuk pimpinan dalam pemerintahan. Patih Manca Negara hampir-hampir sudah tidak berarti lagi. Kekuasaan Pajang di dalam masa perang berada seluruhnya di tangan Pemanahan. Sedang apabila perang berakhir, maka Patih Manca Negara pasti akan segera tampil sebagai seorang ahli di dalam bidangnya.”

    Keterangan itu memang masuk akal. Tetapi adalah licik sekali apabila perhitungan Ki Tambak Wedi itu benar. Sedang menurut pengenalannya atas Ki Gede Pemanahan, maka hal itu tidak mungkin dilakukannya.

    Dalam kebimbangan itu Argapati menarik nafas dalam-dalam. Tanpa dikehendakinya sendiri, maka terpandanglah olehnya wajah Ki Tambak Wedi yang berkerut-merut. Wajah yang telah lama dikenalnya. Hidung yang mirip dengan paruh burung betet, mata yang tajam seolah-olah memancarkan perasaan yang aneh tidak teraba.

    Tiba-tiba terasa desir yang tajam tergores di dalam hati Argapati. Ia mengenal Ki Tambak Wedi tidak hanya baru sehari dua hari yang lalu. Ia mengenal Tambak Wedi sejak bertahun-tahun. Jauh lebih lama dari umur Sidanti itu sendiri. Karena itu, maka ia telah banyak sekali mengenal watak dan tabiatnya.

    Maka keragu-raguan di dalam hati Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu justru menjadi semakin tebal. Pengenalannya atas Ki Tambak Wedi sama sekali tidak mendorongnya untuk mempercayai keterangannya, justru sebaliknya.

    Karena itu, maka terdengar Ki Gede Menoreh itu bergumam,” Ki Tambak Wedi. Kalau demikian, maka aku harus segera bertindak. Aku harus mencegah keadaan ini menjadi semakin berlarut-larut.”

    “ Ya, ya.”, sahut Ki Tambak Wedi. “ Kau memang harus segera berbuat sesuatu, supaya kau tidak dilanda banjir sedang kau tertidur di tengah-tengah sungai.”

    Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih ingin mendengar keinginan Ki Tambak Wedi selanjutnya. Maka katanya,” Kalau demikian, apakah yang pertama-tama harus aku lakukan?”

    “ Kau harus menyiapkan dirimu Argapati.”

    “ Aku tahu maksudmu. Tetapi pertimbanganmu lebih jauh?”

    Ki Tambak Wedipun menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian dikatakannya juga apa yang telah tergores di dalam dadanya,” Argapati. Kau akan dapat menguasai suatu daerah yang luas di sebelah selatan.”

    “ Itu aku tahu.”

    “ Kemudian kau akan dapat memecah Pajang. Kau akan merebut seluruh kekuasaan yang kini di tangan Karebet itu.”

    “ Tak ada orang yang menerima aku di sana. Aku tidak akan mempunyai akar di dalam pemerintahan. Apalagi daerah pesisir lor, bang wetan dan bang kulon.”

    “ Kau keliru. Sebagian dari mereka tidak lagi berpegangan pada tujuan hidup yang mendasari pemerintahan mereka atas daerah-daerah itu. Asal mereka masih tetap berkuasa dan dapat menyalahgunakan kekuasaan mereka, maka mereka tidak akan berbuat apa-apa.”

    Argapati mengerutkan alisnya. Agaknya Ki Tambak Wedi sudah membuat pertimbangan-pertimbangan yang jauh. Orang tua itu agaknya telah memperhitungkan setiap kemungkinan yang akan terjadi. Ki Tambak Wedi memang mempunyai wawasan yang tajam. Perhitungannya tentang para Adipati itu memang masuk akal. Ki Gede Menorehpun telah mendengar pula, bahwa ada di antara mereka, para Adipati sudah tidak berpijak lagi pada kepentingan daerah mereka masing-masing. Para pemimpin pemerintahan dan para Senapati yang bertugas di daerah-daerahpun agaknya telah dijalari oleh penyakit yang serupa. Ada di antara mereka yang lebih senang melihat kepentingan sendiri dari pada kepentingan daerah dan tugas masing-masing.

    “ Hem”, gumam Argapati di dalam hatinya,” mengherankan bagiku. Kenapa Ki Tambak Wedi sudah membuat perhitungan sedemikian jauh sehingga ia yakin, bahwa setiap gerakan pasukan yang dapat memecah Pajang, akan dapat menguasai seluruh daerahnya? Tetapi seandainya demikian, apakah yang dapat aku lakukan?”

    Dalam kediamannya Ki Gede Menoreh mendengar Ki Tambak Wedi berkata,” Apakah kau sependapat, Argapati?”

  19. buku 031 halaman 60 s/d 69 ( minus gambar juga )

    “ Ki Tambak Wedi,”, jawab Argapati perlahan-lahan,” seandainya aku berhasil menguasai Pajang, lalu apakah gunanya bagiku? Para Adipati hanya mementingkan diri mereka sendiri. Mereka sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Pajang. Pajang tidak akan lebih dari sebuah nama yang kosong. Wilayahnya tidak lebih dari kota Pajang itu sendiri.”

    “ Perlahan-lahan Argapati. Perlahan-lahan kau akan dapat menguasai mereka.”

    “ Tidak Ki Tambak Wedi.”, tiba-tiba Argapati menggeleng. “ Aku tidak akan dapat menguasai mereka. Sebab pasti akan tumbuh orang lain yang mendendamku dan melakukan perbuatan yang sama. Merebut Pajang. Kalau ia mempunyai kekuatan yang lebih besar dari kekuatanku, maka peristiwa yang baru saja terjadi akan terulang. Terulang dan terulang kembali. Mereka yang merasa mempunyai kekuatan akan berbuat serupa. Para Adipati dan Senapati itu tidak akan berbuat apa-apa selain mengakui setiap orang yang sedang menguasai sekedar kota Pajang. Aku tidak ingin melihat hal yang serupa itu terjadi, Ki Tambak Wedi. Tidak.”

    Tampaklah wajah Ki Tambak Wedi menjadi merah. Sebersit goncangan perasaan telah memanjat sampai ke wajahnya. Jawaban Argapati telah menggetarkan jantungnya sehingga dengan serta-merta ia berkata,” Lalu apakah yang akan kau lakukan? Menghadap Ki Gede Pemanahan, Panglima yang tamak itu untuk minta belas kasihan?”

    Terasa sesuatu berdesir di dada Argapati. Meskipun ia tidak segera menjawab, tetapi pandangan matanya menyorotkan perasaannya yang berguncang. Berbagai pertimbangan telah bergolak di dalam dirinya. Pertimbangan masa lampau, pengenalannya atas Ki Tambak Wedi, Sidanti, Menoreh, Pemanahan dan semuanya. Terasa seolah-olah dunia di sekitarnya berputar mengelilinginya dengan segala macam persoalan. Tetapi yang paling parah menggores jantungnya adalah persoalannya sendiri. Persoalan yang dihadapkan kepadanya oleh Ki Tambak Wedi. Dengan melontarkan Sidanti sebagai pokok persoalan, ia dihadapkan pada pilihan yang pahit.

    Arapati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia bergumam,” Apapun yang kau katakan, Ki Tambak Wedi, tetapi aku akan memilih jalan itu. Aku akan menemui Ki Gede Pemanahan. Kalau aku tidak dapat memecahkan masalahnya, maka apa boleh buat. Mungkin aku menerima pendapatmu. Mungkin aku akan memukul tanda perang dengan tanganku sendiri. Akulah yang akan berdiri sebagai Senapati tertinggi, yang akan berdiri menjadi paruh gelar pasukanku. Mudah-mudahan di dalam peperangan itupun aku akan bertemu lagi dengan Ki Gede Pemanahan atau Adipati Pajang sendiri.”

    Debar di dada Ki Tambak Wedi menjadi semakin keras berdentangan memukul dinding jantungnya. Dengan nada yang tinggi ia berkata,” Kalau aku Argapati, maka aku tidak akan mau merendahkan diri seperti itu. Tidak ada lagi pembicaraan yang dapat menolong keadaan. Aku sudah bicara. Bicara sampai bibirku hampir terlepas dari mulutku. Tetapi yang aku terima hanya penghinaan. Penghinaan atas anakmu, Sidanti dan aku, gurunya, juga kau ayahnya.”, Ki Tambak Wedi berhenti sejenak, lalu,” He, apakah kau tidak memperhitungkan, bahwa kedengkian itu tidak saja datang dari Widura dan Untara saja? Tetapi juga dari Ki Gede Pemanahan sendiri? Bukankah kau pernah mendengar, bahwa Pemanahan bertempur melawan Adipati Jipang bukan karena kesetiaannya kepada Pajang dan kepada Karebet? Tidak. Sama sekali tidak. Anak Sela yang menurut ceritera mampu menangkap petir itu bertempur karena janji yang diterimanya. Ia akan mendapat Tanah Mentaok yang kini masih berwujud hutan belukar. Ha, apakah kau mempertimbangkannya pula bahwa Menoreh akan dapat menjadi penghalang berkembangnya hutan itu untuk menjadi tempat yang ramai? Argapati, dengarlah kata-kataku. Semuanya terjadi karena pamrih. Kraton Pajangpun kini sudah menjadi ajang memperebutkan pamrih pribadi. Adipati Adiwijaya berusaha keras membunuh Arya Penangsang karena perempuan yang diperlihatkan oleh Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa tanpa mengenakan pakaian sama sekali itu. Pemanahan dan Penjawi karena tanah Mentaok dan tanah Pati. Nah, apalagi? Bukankah kau sampai saat ini belum menyatakan diri dengan resmi, di mana kau berdiri sepeninggal Demak?”

    Argapati tidak segera menjawab. Tetapi darahnya serasa semakin cepat mengalir. Dalam pada itu perputaran waktu di dalam dadanya berjalan semakin cepat. Masa demi masa. Waktu demi waktu, hilir mudik berurutan. Ketika ia sampai pada masa kini, maka ia dihadapkan pada suatu pilihan yang sulit. Ia harus berbuat sesuatu untuk Sidanti. Ya, untuk Sidanti. Menurut Ki Tambak Wedi, tidak ada jalan yang lebih baik dari peperangan. Mempertaruhkan Tanah Perdikan Menoreh yang selama ini dibinanya. Mengorbankan beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang untuk Sidanti. Sidanti. Nama itu semakin keras terngiang di telinganya. Namun semakin keras nama itu mendengung, maka semakin deraslah arus darah di pembuluhnya. Dan tiba-tiba saja Argapati itu berkata lantang,” Tidak. Tidak.”

    Kata-kata itu telah benar-benar menghantam dada Ki Tambak Wedi seperti runtuhnya batu-batu di atas bukit Menoreh menimpa dirinya. Sejenak ia mematung, namun sorot matanya seolah-olah menyala memandang Ki Gede Menoreh yang kini menengadahkan dadanya.

    Sejenak ketegangan di ruang itu menjadi semakin tajam. Dalam kediaman mereka, terasa bahwa dada masing-masing telah dipepati oleh desakan perasaan yang seolah-olah tidak terbendung lagi.

    Di luar, angin malam yang sejuk berhembus mengguncang dedaunan. Suara gemerisik sentuhan ranting-ranting yang berderak-derak, seakan-akan bisikan-bisikan yang mendebarkan jantung terdengar dari alam lain. Semakin lama semakin keras. Sedang nyala pelita yang redup di regol halaman dan di pendapa berguncang pula, menggeliat, seperti dihembus hantu.

    Beberapa orang Menoreh telah duduk-duduk di regol halaman. Satu dua orang berada di tangga pendapa. Mereka ingin bertemu dengan Sidanti dan Argajaya, yang menurut pendengaran mereka, baru saja melakukan perjalanan yang panjang, jauh, dan penuh dengan bermacam-macam pengalaman. Pengalaman-pengalaman yang aneh, yang mencemaskan, yang mendebarkan tetapi juga yang mentertawakan. Dan mereka itu ingin mendengarnya. Apalagi mereka, terutama anak-anak muda yang sebaya dengan Sidanti, kawan bermain di masa kanak-kanak, setelah sekian lama tidak bertemu, mereka ingin melihat bagaimanakah keadaan anak muda itu kini. Anak muda kebanggaan Tanah Perdikan Menoreh.

    Tetapi kesempatan itu tidak kunjung datang. Mereka melihat bahwa pintu masuk ke dalam pringgitan belum tertutup rapat. Tetapi mereka tidak melihat bahwa di dalam pringgitan itu duduk beberapa orang yang bercakap-cakap, atau pintu pringgitan itu terbuka dan seseorang mempersilahkan mereka masuk.

    “ Mungkin Sidanti masih terlampau lelah.”, desis seseorang yang duduk di atas tangga pendapa.

    “ Mungkin.”

    Tetapi mereka terkejut ketika mereka mendengar suara yang agak keras meloncat dari pringgitan. Tetapi suara itu tidak begitu jelas bagi mereka.

    Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka tidak dapat menerka, apa yang telah terjadi. Mereka tidak dapat menduga sama sekali, bahwa di pringgitan itu sedang berlangsung suatu pembicaraan yang tegang.

    Dalam pada itu Sidanti dan Argajayapun hampir-hampir tidak sabar menunggu kedatangan Ki Tambak Wedi. Mereka hampir tidak sabar lagi duduk-duduk dengan tegangnya di dalam bilik mereka. Bilik yang terasa terlampau panas dan sesak. Tetapi mereka tidak berani melanggar pesan Ki Tambak Wedi, supaya rencana mereka tidak rusak karenanya. Mereka hanya dapat mengharap mudah-mudahan Argapati dapat mengerti dan melakukan seperti yang mereka kehendaki.

    Di pringgitan, Argapati dan Ki Tambak Wedi masih saja duduk berdiam diri. Keringat yang dingin mengalir membasahi pakaian mereka. Kedua orang tua-tua yang penuh dengan pengalaman, pengetahuan dan ketajaman pandangan itu, tiba-tiba seolah-olah membeku. Mereka kehilangan pilihan kata-kata untuk meneruskan pembicaraan yang semakin lama menjadi semakin tegang. Namun justru karena mereka saling berdiam diri itu, maka keteganganpun menjadi semakin memuncak.

    Tiba-tiba dalam keheningan yang panas itu Ki Tambak Wedi berkata lambat,” Apakah maksudmu sebenarnya Argapati? Apakah kau akan ingkar dari tanggung jawabmu sebagai seorang ayah?”

    Argapati mengerutkan keningnya. Jawabnya,” Tidak. Bukan karena aku akan ingkar. Tetapi justru sebaliknya. Aku harus mengetahui keadaan sebenarnya. Aku harus mengatakan benar bagi yang benar, dan aku harus mengatakan salah bagi yang salah menurut keyakinanku. Aku bukan seorang pengecut yang takut melihat kesalahan melekat di tubuh sendiri. Tetapi aku juga bukan pengecut untuk mempertahankan kebenaran yang aku yakini, meskipun harus aku tebus dengan nyawa sekalipun. Itulah pendirianku. Juga pendirianku atas Sidanti. Kalau Sidanti bersalah, maka ia memang wajib mendapat peringatan supaya kesalaha itu tidak terulang kembali. Tetapi kalau Sidanti benar seperti katamu, maka Pajang akan menjadi karang abang. Aku tidak takut seandainya ada seratus Pemanahan, seratus Penjawi, seratus Adiwijaya dan kekuatan apapun yang ada di belakang mereka.”

    “ Aku tahu Argapati,”, jawab Ki Tambak Wedi,” jelasnya kau tidak percaya kepadaku.”

    “ Bukan maksudku.”

    “ Tetapi kau masih memerlukan mendengar keterangan dari orang lain. Dan orang itu adalah Pemanahan.”

    “ Ya.”

    Terdengar gigi Ki Tambak Wedi gemeretak. Tetapi ia mendengar pula ketika Argapati berkata,” Kalau kau percaya, bukan maksudku untuk tidak mempercayaimu. Tetapi aku menyangka, bahwa telah timbul salah paham. Kalau salah paham itu dapat diperkecil, maka kemungkinan-kemungkinan yang lainpun akan dapat ditemukan.”

    “ Tidak. Kau hanya sekedar menutupi ketidakpercayaanmu kepadaku, Argapati. Kau mungkin masih terpengaruh oleh pengenalanmu atasku dahulu. Tetapi karena kau sudah mempercayakan Sidanti kepadaku, seharusnya kau bersikap lain.”

    “ Apakah aku masih harus menjawabnya?”

    “ Mungkin tidak. Aku semakin yakin, bahwa kau masih terpengaruh oleh keadaan itu. Kalau demikian, maka apakah gunanya persetujuan yang telah kita buat, seakan-akan kita sudah tidak mempunyai persoalan lagi? Tetapi ternyata kau tidak jujur. Kau tidak memenuhi persetujuan itu sebulat hatimu. Kini dalam keadaan yang paling sulit yang dialami Sidanti, kau akan ingkar. Bukankah itu sikap pengecut?”

    Wajah Argapati menjadi merah. Dalam cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan, wajah itu seakan-akan membara. Dengan suara bergetar ia berkata,” Jangan kau sebut-sebut lagi Ki Tambak Wedi. Aku sudah mencoba melupakan semuanya yang telah terjadi. Aku menganggap tidak pernah ada persoalan di antara kita.”

    Wajah Ki Tambak Wedi menjadi semakin tegang. Ditatapnya mata Argapati seolah-olah ingin melihat langsung ke dalam kepalanya. Tetapi kini Argapati tidak menundukkan kepalanya. Matanya yang tajam memancar seperti mata seekor harimau di dalam gelap. Kumis kebiru-biruan.

    “ Setan.”, Ki Tambak Wedi mengumpat di dalam hatinya. Meskipun matanya sendiri setajam mata burung hantu, tetapi ia terpaksa berpaling. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kekecilan hatinya. Maka katanya,” Kau benar-benar licik, Argapati.”

    “ Aku tidak bermaksud tidak baik.”, sahut Argapati. “ Aku bermaksud untuk menempatkan persoalannya di tempat yang sewajarnya. Aku tidak ingin mengajari Sidanti mengambil keputusan yang tergesa-gesa dalam menanggapi persoalan-persoalan yang penting, supaya ia tidak terperosok ke dalam kesalahan yang berbahaya.”

    “ Ah,”, potong Ki Tambak Wedi,” kau dapat saja menyusun seribu macam alasan.”

    “ Ki Tambak Wedi,”, berkata Argapati kemudian,” aku adalah Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Aku bukan sekedar Argapati seorang diri, atau setidak-tidaknya bersama Sidanti. Tetapi setiap keputusan yang aku ambil adalah keputusan yang mengikat seluruh Tanah Perdikan ini.”

    “ Aku sudah tahu. Itulah yang aku kehendaki. Seluruh Tanah ini bangkit dari tidur yang terlampau nyenyak. Hari depanmu dan hari depan tanah ini akan bertambah baik.”

    “ Atau sebaliknya.”

    “ Kau memang pengecut.”

    “ Tidak.”, tiba-tiba suara Argapati menjadi keras. “ Aku tidak akan melakukannya tanpa menilai semua persoalan sebaik-baiknya. Aku harus tahu benar, apakah yang sedang aku hadapi. Tidak membabi buta.”

    “ Katakan, tegasnya kau tidak percaya kepadaku.”

    “ Ki Tambak Wedi, jangan memaksaku berkata demikian.”

    “ Kenapa kau takut berkata demikian? Katakanlah. Kau tidak percaya kepadaku.”

    Argapati terdiam. Mulutnya terkatub rapat-rapat.

    “ Putuskan sekarang. Kau mau menggerakkan pasukanmu untuk memukul Sangkal Putung dan kemudian Pajang, untuk menangkap atau membunuh sama sekali Widura dan Untara kemudian merampas Sekar Mirah untuk anakmu, dan yang terakhir membunuh Adiwijaya atau tidak?”

    Sebuah gelora yang dahsyat melanda dada Argapati. Kini ia didesak ke dalam pilihan yang pahit. Tetapi sikap Ki Tambak Wedi benar-benar tidak menyenangkannya sehingga pertimbangannya menjadi kabur. Ia didesak oleh harga diri, sebagai seorang ayah dan sebagai seorang kepala Tanah Perdikan. Ia adalah Kepala Tanah Perdikan Menoreh dan ia adalah ayah Sidanti. Karena itu maka ia, Argapatilah yang berhak menentukan segala keputusan atas pertimbangannya.

    Maka setelah terdiam sejenak, terdengarlah jawabnya dan tegas,” Tidak. Aku tidak akan tergesa-gesa mengambil keputusan.”

    Terdengar gigi Ki Tambak Wedi gemeretak. Ia sudah tidak melihat lagi kemungkinan untuk dapat membujuk Argapati. Ia kenal tabiat Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu. Karena itu maka harga dirinyapun segera merentul ke permukaan wajahnya. Dengan kepala tengadah ia berkata,” Baik. Baiklah Argapati. Kalau kau ingkar akan kewajibanmu, biarlah aku akan berusaha melepaskan Sidanti dari himpitan perasaan yang akan membunuhnya perlahan-lahan.”

    “ Aku tidak akan ingkar. Tetapi aku akan berbuat menurut pertimbanganku.”

    “ Tidak perlu. Kau tidak perlu berbuat apa-apa. Akulah yang akan berbuat sesuatu.”

    Wajah Argapati menjadi berkerut-merut,” Maksudmu?”

    “ Selama ini Sidanti ada padaku. Ada dalam asuhanku. Akulah yang paling mengetahui apa yang terjadi atasnya dan apakah yang dirasakannya. Sidanti harus mendapat pelepasan. Akulah yang akan melakukannya. Ia tidak perlu berada di rumah ini.”

    “ Ki Tambak Wedi, apakah kau sudah gila? Biarlah Sidanti di sini. Aku adalah ayahnya. Akulah yang berhak menentukan sikap atasnya dan memberikan petunjuk kepadanya menurut seleraku.”

    “ Tidak. Akulah yang berhak atasnya. Ia akan aku bawa pergi. Pergi dari tempat pengecut ini.”

    “ Tidak. Sudah aku katakan. Biarlah aku mengurusnya dan menentukan keputusan.”

    “ Kau tidak punya hak apa-apa, Argapati. Kau kini sudah tidak lebih dari seorang tua yang sudah mati di dalam hidupmu. Kau sudah tidak mempunyai cita-cita lagi, sudah tidak mempunyai gairah perjuangan, tidak mempunyai harapan yang lebih baik di hari mendatang, meskipun untuk kepentingan anakmu. Tidak, kau sudah mati. Bagaimana Sidanti akan berkembang di tangan orang mati?”

    “ Tamban Wedi!”

    Tetapi Ki Tambak Wedi sudah tidak mempedulikannya. Dengan suara yang dalam, yang seolah-olah bergulung saja di dalam perutnya ia berkata,” Aku akan pergi. Sidanti akan aku bawa. Ia sudah cukup dewasa. Aku tidak perlu lagi menipunya dengan segala macam ceritera cengeng itu.”

    “ Tambak Wedi. Kau benar-benar sudah gila.”

    Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Tetapi ia kemudian melangkah meninggalkan Argapati.

    Akhirnya Argapatipun berdiri pula. Diikutinya Ki Tambak Wedi keluar dari pringgitan. Tetapi Argapati itu menjadi bimbang. Apakah yang sebaiknya dilakukan. Di halaman itu dilihatnya beberapa orang duduk sambil berbicara di antara mereka. Ketika mereka melihat Ki Tambak Wedi keluar dengan tergesa-gesa, maka merekapun menjadi terkejut karenanya.

    “ Kau tinggal di sini Tambak Wedi, aku masih akan berbicara.”, berkata Argapati.

    “ Tidak ada yang dibicarakan Argapati.”, desis Ki Tambak Wedi,” Semua sudah jelas bagiku.”

    Dada Argapati bergetar mendengar jawaban Ki Tambak Wedi itu. Terdengar ia berdesis lambat. Ditahankannya perasaannya sekuat-kuatnya. Di sekitarnya banyak orang-orang yang melihatnya. Sehingga karena itu ia harus menahan dirinya.

    Seandainya, ya, seandainya hal itu terjadi beberapa puluh tahun yang lampau, maka dengan serta-merta Ki Tambak Wedi itu pasti akan diterkamnya. Argapati pasti tidak akan menunggu sekejappun lagi. Darahnya sudah cukup mendidih, dan hatinya sudah cukup membara.

    Tetapi kini ia berdiri sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan. Ia berdiri di pendapa, yang di sekitarnya terdapat banyak orang dari Tanah Perdikannya.

    “ Apa kata mereka kalau aku tiba-tiba saja bertempur melawan Ki Tambak Wedi di rumah ini?”

    Terdengar Argapati menggeram. Dan yang diucapkannya ketika Ki Tambak Wedi semakin jauh,” Tambak Wedi. Apapun yang terjadi adalah persoalan kita, persoalan orang tua-tua. Jangan kau siksa anak-anak itu dengan ceriteramu yang bodoh.”

    Ki Tambak Wedi yang sudah hampir sampai di gandok terhenti sejenak. Ia memutar tubuhnya dan menghadap kepada Ki Gede Menoreh,” Itu urusanku Argapati. Kalau kau tidak senang, terserah kepadamu.”

    “ Bukan soalku, senang atau tidak senang. Tetapi justru untuk kepentingan anak itu sendiri.”

    “ Anak itu sudah cukup dewasa. Aku harus mengajarinya melihat kenyataan.”

    “ Tetapi kenyataan-kenyataan yang gila itu tidak perlu kau ungkapkan supaya anak itu tidak menjadi gila seperti kau.”

    “ Itu bukan urusanmu.”

    Betapa Argapati mencoba menahan diri, tetapi terdengar juga giginya gemeretak. Diusapnya dadanya dengan tangannya, seakan-akan menahan dada itu supaya tidak meledak.

    Beberapa orang yang berada di halaman rumah itu menjadi terheran-heran. Apakah sebenarnya yang sudah terjadi? Mereka saling berpandangan dan saling bertanya lewat sorot mata mereka. Tetapi tidak seorangpun yang berani mengucapkan pertanyaan yang menggelegak di dalam dada mereka.

    Ki Tambak Wedi kemudian dengan tergesa-gesa masuk ke dalam gandok. Di muka pintu hampir saja ia membentur Sidanti dan Argajaya yang ingin meloncat keluar karena mereka mendengar suara Ki Tambak Wedi yang keras dan suara Argapati di pendapa.

    “ Apa yang terjadi guru?”, bertanya Sidanti dengan serta-merta. “ Apakah terjadi salah paham itu?”

    Ki Tambak Wedi melihat kecemasan membayang di wajah Sidanti dan Argajaya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya,” Ya. Argapati benar-benar telah menjadi gila.”

    “ Oh, lalu?”, Sidanti menjadi semakin cemas.

    “ Kita pergi dari rumah terkutuk ini.”

  20. mas DD, buku 31 versi doc belum diluncurkan ya? kapan nih?

  21. sabar ya ohm yudho..
    masih dalam proses proofing

    salam

  22. ohm…

    yg bagian akir dah kelar, tapi saya ga bisa kirim via email… yahoo lagi ngadat… ga tau tuh knapa??

  23. Saya baru membaca dari sekian judul dan semuanya seolah menjadi nyata. Dulu, ketika kecil, saya tak sempat membaca dengan tuntas saat dimuat di Kedaulatan Rakyat karena tak pernah bisa berlangganan koran. Maklum, orang udik, anak pegunungan. Yang menariknya, saya adalah anak dari bagian Pegunungan Menoreh itu sendiri. Ketika saya membaca bagian demi bagian, sejak kisah diawali dari Jati Anom sampai sekarang tiba di Perdikan Menoreh, saya sedikit banyak bisa membayangkan tempat-tempat itu. Saya hanya mengandaikan bahwa cerita dimulai dari wilayah yang sekarang disebut dengan Klaten dan nanti akan bergerak ke arah Kota Gede (calon ibukota Mataram, bekas hutan Mentaok), ke Kulon Progo, menyebarangi Kali Progo melalui Klepu dan menuju ke wilayah Kecamatan Nanggulan, Kecamatan Girimulyo, dan sekitarnya. Bagi saya…itulah Perdikan Menoreh yang sekarang. Fantastis…! Sebuah bayangan yang tak begitu jauh dari masa kecil saya. Melanglang dari dusun ke dusun saat Idul Fitri di baris-baris perbukitan berbatu. Ya…Menoreh itu!

    D2: Apa lokasi2 tsb bisa disket pada peta, Broer? BarangX ada yg mau napak tilas. Saya tau Jati Anom (Jatinom?) di Klaten sekarang, terus Prambanan, terus Kota Gede (nggak nyangka ya dulunya Alas Mentaok gung liwang-liwung).

    • ..barang kali….siapa yang tahu ?.. 😀

      • barang kali…..??????
        wah mpun mesti pating krampul.

        harak inggih mekaten to Ki Menggung…???

  24. lagu pengiring episode ini :

    “jalan gelap yang kau tempuh…….penuh lubang dan mendaki….”

    • 🙄 lubang 🙄

      • rumput ILALANG turut juga menuTUPi….jalan INI,

        • tapi setelah setiap hari menjelajah meskipun memejamkan mata ki ndul sebagai daripada apa namanya menyataken kepada atas petunjuk daripada apa namanya bapak presiden mbleh heheheee


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: