Buku 30

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti sikap Widura, karena mau tidak mau pemimpin pasukan Pajang di Sangkal Putung itu kelak akan berkepentingan. Sumangkar bukannya tidak tahu hubungan yang ada antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Sebagai paman Agung Sedayu, Widura ingin mendapat gambaran yang baik bagi kemenakannya kelak. Karena itu, Sekar Mirah yang apabila tidak ada perubahan sikap dari kedua anak muda itu, akan menjadi menantu kemenakannya, diharapkannya akan menjadi seorang isteri yang baik, seorang ibu yang dapat mengerti tentang kedudukannya sebagai seorang ibu. Widura tahu benar sifat-sifat Agung Sedayu. Sifat yang Iebih banyak dipengaruhi oleh sifat-sifat kanak-kanak yang dekat dengan ibunya.

“Angger Widura,” berkata Sumangkar kemudian, “aku akan berusaha sejauh mungkin, bahwa ilmu tata bela diri yang akan dipelajarinya tidak menghilangkan sifat-sifat keibuannya. Angger benar, bahwa apabila seorang gadis telah kehilangan sifat-sifatnya, maka ia tidak akan dapat menjadi ibu yang baik kelak. Padahal hari depan dari Kademangan ini dan dari seluruh Pajang, terletak ditangan angkatan yang bakal datang. Dan angkatan yang bakal datang itu akan lahir dari ibu-ibu.”

“Tepat,” sahut Widura, “kalau ibu-ibu tidak lagi dapat berbuat seperti seorang ibu, maka apakah yang akan terjadi pada masa-masa mendatang? Bagaimanakah dengan anak-anak yang bakal dilahirkan? Meskipun tidak seluruhnya akan dibebankan pada pertanggungan jawab seorang ibu, tetapi orang yang terdekat dari kanak-kanak dimasa kecilnya adalah ibu. Ibulah yang pertama-tama meletakkan dasar kejiwaan pada kanak-kanak itu.”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi agak berlega hali karena ternyata Sumangkar dapat mengerti maksudnya, bahkan Widura pun telah menambah penjelasan sesuai dengan keinginannya.

“Mudah-mudahan Sekar Mirah tidak melepaskan diri dari tanggungjawab itu. Kelak, kalau ia menjadi seorang ibu, ia tidak hanya sekedar menjadi seorang ibu tanpa menghiraukan keibuannya. Apapun yang dapat dilakukan di luar dinding halaman rumahnya, tetapi yang terpenting adalah rumah itu bagi seorang ibu. Kita tidak akan dapat berbicara tentang angkatan mendatang tanpa berbicara tentang orang tua-tua yang mengisi angkatan kini. Kita tidak dapat berbicara tentang Sidanti tanpa berbicara tentang angkatan sebelumnya, Argapati, isterinya dan Ki Tambak Wedi. Dan kita tidak akan dapat berbicara tentang angkatan mendatang tanpa berbicara tenang anak-anak muda kini. Semakin tipis perhatian kita terhadap angkatan mendatang karena kesibukan kita dengan persoalan kita sendiri, maka semakin suramlah masa-masa mendatang itu,” gumam Widura seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri. Dan tiba-tiba saja mendesak didadanya kerinduannya kepada keluarganya. Apakah ia termasuk orang-orang yang tidak bertanggungjawab kepada masa datang karena tidak sempat mendidik anak-anaknya? Dalam melakukan kewajibannya sebagai seorang prajurit, maka ia Iebih banyak berada diluar rumahnya.

“Tetapi aku percaya kepada isteriku,” desis Widura di dalam hatinya. “Isteriku mengerti akan tugasku. Ia telah menempatkan dirinya benar-benar sebagai seorang isteri prajurit. Ia telah menyisihkan segala macam kesenangan diri, meskipun isteriku masih terhitung belum terlampau jauh dari masa-masa mudanya.”
Widura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tidak semua isteri dari mereka yang tidak sempat berada di lingkungan keluarganya berbuat baik. Isteri-isteri yang terlampau sering ditinggalkan oleh suaminya, karena tugas-tugasnya, dan kemudian isteri-istri itu tenggelam dalam kesibukan sendiri, maka anak-anak yang lahir dari keadaan yang demikian itu kadang-kadang kehilangan pengamatan. Dan anak-anak itu akan melakukan apa saja yang disenanginya. Baik atau buruk.

Demikianlah, maka Ki Demang Sangkal Putung telah mempercayakan Sekar Mirah kepada Sumangkar. Ki Demang Sangkal Putung suami isteri mengharap, bahwa Sumangkar akan benar-benar berhasil membuat anaknya menjadi seorang gadis yang mempunyai kecakapan yang baik untuk membela dirinya, tetapi tanpa melepaskan diri dari suasana kegadisannya.

Ternyata kepercayaan ini menjadi terlampau berat bagi Sumangkar. Apalagi pada dasarnya Sekar Mirah adalah seorang gadis yang terlampau manja, terlampau menghargai dirinya sendiri meIampaui orang Iain. Namun dengan sabar dan tekun Sumangkar menuntunnya.

Seperti yang dilakukan oleh Kiai Gringsing, Sumangkar setiap kali membawa Sekar Mirah ke Gunung Gowok yang kecil. Disamping puntuk itulah Sekar Mirah mulai menekuni ilmu yang diberikan oleh Sumangkar. Karena Sekar Mirah sama sekali belum mengenal ilmu semacam itu, maka Ki Sumangkar terpaksa menuntunnya dari permulaan sekali.

Tetapi Sekar Mirah benar-benar seorang gadis yang mentakjubkan. Tekadnya yang bulat telah banyak membantunya. Apapun yang harus dilakukan, dilakukannya dengan baik tanpa menghiraukan keadaan dirinya. Gadis itu seolah-olah tidak mengenal lelah. Tenaganya ternyata cukup kuat. Yang terpenting dari segalanya adalah kemauannya yang menyala-nyala.

Ia tidak mau untuk seterusnya selalu dihantui saja oleh Sidanti. Ia tidak mau bahwa pada suatu ketika ia akan diculik dan disembunyikan. Bahkan mungkin Sidanti yang telah kehilangan akal akan menjadi buas. Tidak saja menculik dan menyembunyikan, tetapi ia tidak mau membiarkan Sekar Mirah hilang lagi dari tangannya.

Itulah yang mendorong Sekar Mirah keras tanpa mengenal lelah. Kapan saja gurunya menyuruhnya. Dan apa saja yang harus dilakukannya. Hasratnya yang sangat besar telah membuatnya menjadi seorang murid yang sangat patuh. Seorang murid yang dengan tekun dan sebaik-baiknya melakukan perintah gurunya. Tetapi yang paling menarik bagi Sekar Mirah adalah latihan-latihan jasmaniah. Ia tidak begitu tertarik kepada nasehat-nasehat gurunya, meskipun tampaknya gadis itu mendengarkan dengan baik segala petuah Sumangkar.

Tetapi Sumangkar yang tua itupuh cukup tajam menangkap sikap muridnya. Karena itu ia tidak pernah mempergunakan waktu-waktu yang khusus untuk memberikan petunjuk kepada Sekar Mirah tentang jalan hidup yang harus ditempuhnya. Sebab jika demikian, maka Sekar Mirah menjadi gelisah. Ia ingin gurunya segera selesai dengan petunjuk-petunjuknya. Ia tergesa-gesa untuk segera mulai dengan latihan-latihan jasmaniah dan petunjuk-petunjuk tentang latihannya.

Sumangkar menyelipkan nasehat-nasehatnya justru pada saat Sekar Mirah sedang dibakar oleh gairah latihannya. Setiap kali, tidak jemu-jemunya. Setiap kali Sumangkar mempergunakan waktu-waktu yang sebaik-baiknya untuk kepentingan hari depan Sekar Mirah itu sendiri. Sumangkar tahu, bahwa kemauan yang keras dari gadis itu, selain karena sifatnya yang memang keras, juga karena dendam yang membakar dadanya. Dendam dan kecemasan, bahwa Sidanti akan datang lagi untuk mengambilnya. Tetapi bukan saja itu, bukan saja dendam dan kecemasan. Sekar Mirah juga diamuk oleh perasaan kecewanya terhadap Agung Sedayu. Agung Sedayu, orang yang telah berhasil menangkap hatinya, tetapi tidak bersikap seperti yang dikehendakinya. Ia ingin kelak menunjukkan kepada Agung Sedayu, bahwa meskipun ia bukan seorang laki-laki, tetapi ia akan dapat lebih bersikap jantan daripada Agung Sedayu yang seolah-olah selalu dibayangi oleh keragu-raguan dan kebimbangan.

Agung Sedayu yang diharapkannya itu ternyata tidak memberi kepuasan sikap kepadanya. Kepergiannya sama sekali tidak membayangkan tekadnya yang membaja untuk menangkap Sidanti, hidup atau mati. Bahkan yang diucapkannya adalah, “Mudah-mudahan aku selamat Mirah.”

“O ,” Sekar Mirah setiap kali berdesis, “kalau kau hanya ingin selamat Sedayu, baiklah kau tinggal di dapur, menanak atau mengupas kulit melinjo. Tetapi tidak bagi Iaki-laki jantan. Ia tidak hanya sekedar berbuat supaya selamat. Tetapi seorang laki-laki harus berteriak Iantang sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “Gunung akan aku runtuhkan, dan laut akan aku keringkan.” Tetapi Agung Sedayu tidak berkata demikian. Tidak.” Sekar Mirah kian kecewa karena angan-angannya sendiri, lalu, “Biarlah aku lah kelak yang akan berkata kepadanya : Akulah yang akan membawa kepala Sidanti kepadamu, kakang.”

Semula, Sumangkar yang tua itu memang dirambati oleh kecemasan melihat dendam yang membara dihati Sekar Mirah. Ternyata latihan-latihan dan hasratnya telah didorong oleh perasaannya itu. Tetapi Sumangkar akhirnya menemukan juga cara, setidak-tidaknya untuk mengurangi api dendam yang telah mendidihkan darah gadis Sangkal Putung itu. Betapapun Iambatnya.

Sementara itu, tiga sosok tubuh yang berjalan tertatih-tatih berada di dalam padatnya hutan Mentaok. Semakin lama semakin jauh. Wajah-wajah mereka yang tegang membayangkan dendam yang menyala di dalam dada mereka.

Mereka adalah Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti. Langkah mereka terasa terlampau berat, dan sekali-sekali Sidanti bergumam di dalam mulutnya, “Kenapa kita tidak bertemu dengan orang-orang gila yang sering menyamun di hutan ini ?”
“Untuk apa kau mencari mereka?” bertanya gurunya.
“Aku ingin melepaskan perasaan yang menekan dan hampir memecahkan dadaku.”
“Kau ingin membunuh, asal membunuh saja?
“Supaya aku tidak mati karena dadaku sendiri yang seolah-olah mencekik jalan pernafasanku.”

Gurunya tidak menjawab. Mereka masih berjalan maju perIahan-lahan karena jalan yang mereka Ialui adalah hutan yang padat, yang dipenuhi oleh bermacam-macam tumbuh-tumbuhanan yang paling besar hingga yang paling kecil. Yang merambat dan berduri yang roboh malang melintang.

“Perjalanan ini telah benar-benar menyiksaku guru,” desis Sidanti itu kemudian.
“Aku sudah berkata kepadamu, bahwa perjalanan yang kita lakukan sama sekali bukan perjalanan yang akan memberi harapan bagi kita. Bukankah aku pernah mengatakan, apakah tidak Iebih baik berbuat sesuatu, tanpa mengganggu ayahmu Argapati.”
“Bukan, bukan itu maksudku guru,” cepat-cepat Sidanti membantah. “Aku justru menjadi tersiksa karena perjalanan yang sepi. Aku tidak mendapat kesempatan untuk melepaskan perasaanku yang menyesak ini.”
Gurunya tidak menyahut. Dipandanginya kemladean yang menyangkut di cabang-cabang pepohonan. Kemladean yang menjadi semakin rimbun, tetapi batang-batang yang ditempelinya menjadi semakin keras.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi berdesis, “Bagaimana luka dipundakmu?”
“Sudah sembuh sama sekali guru. Bekasnya sudah hampir hilang sama sekali.”

Kemudian mereka terdiam. Argajaya sama sekali tidak bernafsu untuk ikut berbicara. Ia berjalan saja sambil menundukkan kepalanya. Tetapi meskipun demikian, hatinya tidak juga dapat melupakan dendam yang menyala. Kekalahannya yang terjadi berturut-turut benar-benar telah membuatnya mendendam sampai keujung ubun-ubun.

Tetapi mereka adalah laki-laki yang Iuar biasa. Laki-laki yang memiliki banyak kelebihan dari Iaki-laki Iain. Karena itu, maka betapapun lebatnya hutan Mentaok, namun mereka sama sekali tidak gentar. Bahkan Sidanti menjadi terlampau kecewa karena perjalanan itu dirasanya terlampau sepi dan menjemukan. Ia akan menjadi senang sekali seandainya mereka bertemu dengan sekelompok penyamun.
Namun mereka tidak menjumpainya.

Meskipun Ki Tambak Wedi dan Argajaya tidak berkata sesuatu, tetapi mereka menjadi heran pula, bahwa hulan ini serasa terlampau sepi. Biasanya, meskipun hanya sekali dua kali, mereka pasti bertemu dengan gerombolan-gerombolan penyamun yang selalu mengganggu diperjalanan.
Tetapi kali ini, sejak mereka memasuki hutan Tambak Baya serasa hutan-hutan ini menjadi sesepi tanah pekuburan.

“Kemanakah orang-orang yang biasanya berkeliaran di hutan-hutan ini? Daruka misalnya? Apakah mereka telah mati semuanya saling berkelahi diantara mereka?” desis Ki Tambak Wedi di dalam hatinya. Tetapi pertanyaan itu tidak dapat dicari jawabnya. Penyamun-penyamun yang paling kecilpun sama sekali tidak mereka jumpai pula diperjalanan itu.

Namun sejenak kemudian angan-angan Ki Tambak Wedi sudah tidak lagi terikat kepada hutan yang sedang dilaluinya. Berbeda dengan Sidanti, yang menyimpan harapan didalam dirinya. Semakin dekat dengan kampung halamannya, ia menjadi semakin segar. Tetapi kening Ki Tambak Wedi tampak semakin berkerut-merut. Banyak sekali persoalan yang bergulat didalam dirinya. Keragu-raguan, cemas, gelisah dan ketidaktentuan. Setiap kali teringat olehnya nama Argapati, maka setiap kali dadanya berdesir.

“Kita akan segera keluar dari hutan ini guru,” gumam Sidanti kemudian.
Seperti orang yang tersedar dari mimpi yang mencemaskan, Ki Tambak Wedi menyahut, “Ya, ya. Kita akan segera keluar dari hutan ini.”
“Kita akan segera dapat melepaskan diri dari siksaan dendam yang mencengkam dada kita,” Argajaya yang tidak banyak berbicara disepanjang perjalanan itu menyambung.
Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Tetapi wajahnya dilukisi oleh kebimbangan hatinya yang semakin dalam.
“Bukan demikian Kiai ?” bertanya Argajaya.
“Ya, ya, demikianlah hendaknya.”
“Apakah Kiai masih juga ragu-ragu”
Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab.
“Aku mengenal kakang Argapati luar dan dalamnya. Aku adalah adiknya. Kakang Argapati adalah seorang yang percaya kepada diri sendiri. Orang yang memiliki pengamatan yang tajam terhadap persoalan yang dihadapinya. Kalau Sidanti kelak mengatakan apa yang telah terjadi, dan Kiai membenarkannya, maka aku tidak akan ragu-ragu. Sidanti adalah putera satu-satunya bagi kakang Argapati. Ada seorang saudaranya, tetapi ia adalah seorang gadis. Dan kebanggaan kakang Argapati pasti tertumpah kepada Sidanti. Itulah sebabnya maka Sidanti diserahkannya kepada Kiai, karena kakang Argapati merasa bahwa Kiai lebih banyak menyimpan kemungkinan bagi Sidanti dihari depannya.”

Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Matanya yang tajam setajam mata burung hantu itu tiba-tiba meredup. Orang tua itu tidak berpaling kearah Argajaya dan muridnya. Tetapi matanya menatap kekejauhan, menembus sela-sela dedaunan yang rimbun. Dan hatinyalah yang menyahut tanpa diucapkannya. “Tidak. Kau tidak tahu Argapati seluruhnya, meskipun kau adiknya.”

Argajaya heran melihat sikap Ki Tambak Wedi. Kalau Argapati telah menyerahkan Sidanti ke dalam tangannya, berarti Argapati mempunyai kepercayaan yang besar kepadanya. Dari hal itu terjadi karena Argapati pasti sudah mengenal Ki Tambak Wedi dengan baik dan sebaliknya. Tetapi agaknya Ki Tambak Wedi kini sedang dicengkam oleh kebimbangan.

“Mungkin Ki Tambak Wedi merasa bahwa ia telah gagal membentuk Sidanti menjadi seorang yang berpangkat didalam tata keprajuritan Pajang,” berkata Argajaya di dalam hatinya, “tetapi hal itu sangat tergantung kepada banyak hal. Tidak dapat disalahkan kepada Ki Tambak Wedi sepenuhnya.”

Sejenak mereka kemudian saling berdiam diri. Kadang-kadang mreka diganggu oleh suara binatang-binatang hutan yang maraung dikejauhan. Tetapi sebagian besar dari mereka, binatang-binatang buas itu, keluar dari sarang mereka dimalam hari.

Dalam keheningan itu terdengar Sidanti bergumam. “Kalau kita sudah keluar dari hutan ini, maka kita akan berjalan lebih cepat. Tetapi sebelum kita masuk ke Menoreh, kita harus menjadi orang-orang yang pantas berjalan di tanah perdikan ayahku itu.”

“Kau akan mencari pakaian disepanjang jalan?” bertanya Argajaya.
“Ya, tidak hanya untuk aku sendiri, tetapi untuk guru dan paman juga.”

Argajaya tidak menyahut lagi sedang gurunyapun masih berdiam diri. Dengan pakaian mereka yang kumal itu ternyata mereka tidak terlampau banyak menarik perhatian orang. Hanya karena mereka membawa senjata yang agak tidak lazim dibawa oleh orang-orang padesan sajalah yang kadang-kadang membuat beberapa orang mengawasi mereka sampai beberapa langkah. Orang-orang padesan, hampir setiap orang, memang selalu membawa golok. Bukan saja senjata untuk menghadapi binatang-binatang buas yang memang sering datang ke sawah dan ladang mereka, tetapi juga untuk memotong dan menebas kayu. Golok atau parang itu selalu terselip di pinggang mereka di dalam wrangka yang sederhana.

Tetapi ketiga orang ini membawa senjata-senjata yang lain. Pedang, tombak pendek dan senjata yang disembunyikan di dalam selongsong kain putih.

Beberapa orang dapat mencoba menjawab pertanyaan yang bergelut di dalam dada mereka tentang ketiga orang itu. Mereka adalah pemburu-pemburu binatang hutan. Tetapi yang lain mencurigai mereka sebagai orang-orang jahat yang berkeliaran mencari sasaran yang baik.

Tetapi apabila mereka telah sampai dikampung halaman sendiri, maka pakaian yang kumal dan bernoda darah itu akan justru menjadi pembicaraan. Mungkin mereka membuat tanggapan-tanggapan kehendak mereka sendiri. Mungkin mereka mengagumi, tetapi mungkin mencurigai.

Perjalanan seterusnya di dalam hutan itu hampir tidak menjumpai persoalan-persoalan yang berarti. Mereka hanya menjumpai rintangan-rintangan alam yang ketat dan padat. Tetapi mereka tidak bertemu dengan penyamun atau perampok-perampok kecil. Tetapi justru membuat mereka menjadi heran.

Akhirnya mereka itupun keluar dari hutan itu. Harapan Sidanti untuk bertemu dengan seseorang atau segerombolan penyamun tidak terpenuhi sampai pohon yang terakhir mereka lampaui. Sidanti tidak mendapat tempat untuk menumpahkan kemarah yang terendam di dalam dada bersama dendam dan kebencian.

“Sidanti,” berkata gurunya ketika mereka telah berada sebuah lapangan perdu. “Aku tidak ingin mengecewakan kau. Tetapi aku juga tidak ingin perjalanan ini terganggu. Kau jangan mencari-cari persoalan saja disepanjang jalan. Kau dapat berbuat sesuka hatimu di hutan Mentaok terhadap gerombolan penyamun dan perampok. Tetapi kau tidak dapat berbuat demikian dengan orang-orang lain yang akan kau jumpai diperjalanan ini. Kita akan segera menginjak padesan dan pedukuhan. Beberapa Kademangan dan sudah ada yang mengenal kau, atau angger Argajaya sebagai putera dan adik Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Kala kau berbuat sesuka hatimu yang akan dapat menyakitkan hati mereka, maka berita itu akan segera tersebar sampai kepada orang Menoreh, mungkin akan sampai pula kepada keluargamu. Kepada ayahmu, Argapati.”
Sidanti mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Aku masih memerlukan pakaian tiga pengadeg guru. Buat aku, paman Argajaya, dan guru.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Pendapat ini memang ada benarnya. Ia tidak akan dapat masuk ke tlatah Menoreh dengan keadaannya. Karena itu maka ia tidak segera dapat menjawab.
“Bagaimana guru?”

Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam, Tetapi persoalan itu telah memukul dadanya seperti tangan-tangan yang keras dan kuat. Seorang yang mempunyai nama yang menakutkan dilereng Gunung Merapi terpaksa melakukan perampasan yang tidak berarti sekedar untuk berganti pakaian. Perbuatan itu tidak ubahnya dengan perbuaian pencuri-pencuri ayam yang takut kelaparan Tetapi keadaannya memang memerlukannya.

“Apakah tidak ada jalan lain Sidanti?”
“Membeli ? Atau menukarkan senjata kita?” sahut Sidanti yang hampir-hampir tenggelam dalam arus perasaannya.
“Hem,” Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Hampir-hampir ia membentak anak muda yang kasar itu. Tetapi ia sadar, bahwa Sidanti sedang dicengkam oleh kekecewaan yang bertubi-tubi. Karena itu maka anak itu akan dapat menjadi semakin berputus asa apabila ia ikut pula menyakitkan hatinya.

Sesaat kemudian orang tua itu bertanya, “Lalu cara apakah yang akan kau lakukan Sidanti, seperti caramu yang pernah kau perbuat untuk mendapatkan bajumu itu?”

“Aku akan berbuat baik guru, tetapi kalau orang itu menentang maksudku, maka aku akan berbuat dengan kekerasan.”
“Hem,” sekali lagi Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam.
“Aku tidak melihat cara lain,” gumam Sidanti.

Ki Tambak Wedi tidak menyahut lagi. Akhirnya ia tidak lagi mau memikirkannya. Kepalanya sendiri sudah cukup pening memikirkan apa yang akan terjadi nanti sesudah ia bertemu dengan Argapati. Pertemuan yang menggetarkan jantungnya. Banyak persoalan-persolan yang terpendam didalam dadanya. Tetapi apakah dengan kegagalan Sidanti ini, ia tidak akan menjadi semakin terdesak kedalam keadaan yang paling menyakitkan hati?

Mereka kemudian berjalan sambil berdiam diri. Masing-masing menyelusuri angan-angan sendiri. Tetapi ada kesamaan diantara mereka, kecewa, dendam, benci, dan kecemasan menghadapi masa datang.

Disepanjang jalan, Sidanti mencoba untuk menemukan rumah yang mungkin dapat dimasuknya. Rumah yang di dalamnya tersimpan pakaian yang diperlukan. Tetapi agaknya rumah yang bertebaran di padukuhan-padukuhan dan padesan-padesan kecil yang dilampauinya, tidak Iebih dari rumah-rumah petani yang kekurangan.

“Gila,” gumamnya, lalu, “apakah tidak ada seorangpun yang cukup mampu untuk menyimpan tiga pengadeg pakaian?“
Gurunya dan pamannya tidak menyahut. Betapapun juga perasaan mereka masih terlampau berat untuk melakukan perampasan yang hina itu.
“Aku sudah tidak peduli lagi,” geram Sidanti, “tetapi aku harus masuk ke tanah ayahku sebagai putera Kepala Daerah Tanah Perdikan Menoreh.”

Tetapi disepanjang perjalanan mereka, mereka benar-benar tidak menjumpainya. Padesan demi padesan, sehingga mereka telah menjadi semakin dekat dengan tlatah Menoreh.

“Gila,” Sidanti menjadi semakin jengkel. “Di depan kita terbentang hutan rindang. Hutan perburuan dari keluarga kita. Kalau aku belum mendapatkan pakaian, bagaimanakah kalau aku bertemu dengan keluarga Menoreh diperburuan itu.”
“Kalau demikian, tidak apa-apa,” sahut Argajaya, “adalah kebetulan sekali. Mereka akan dapat mengerti keadaan kita yang sebenarnya. Merekalah yang harus mencari pakaian untuk kita sebelum orang-orang Menoreh melihat kita. Kita masuk ke Tanah Perdikan kita sebagai seorang anggota keluarga kakang Argapati.”
“Tetapi apa kata ayah tentang kita?”
“Tidak apa-apa. Justru kakang Argapati akan mengerti yang sebenarnya telah terjadi dan mempercepat tindakan yang akan diambilnya.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih juga heran melihat gurunya berwajah semakin muram. Gurunya sama sekali tidak membayangkan harapan bahwa setelah mereka sampai di Menoreh maka mereka akan menemukan suatu kekuatan untuk melepaskan dendam yang membara di pusar jantung mereka. Bahkan semakin dekat dengan Pegunungan Menoreh, maka ia me jadi semakin diam dan penuh dengan kebimbangan.

Ternyata teka-teki itu telah menggelisahkan hati Sidanti pula. Namun Sidanti tidak akan dapat memaksa gurunya untuk mengatakan. la masih tetap menyangka bahwa gurunya merasa cemas tentang nasibnya, karena ternyata ia tidak dapat maju dalam keprajuritan Pajang, bahkan kini ia tersingkir sebagai buruan.
Satu-satu padesan telah mereka lampaui. Akhirnya mereka sampai ke hutan yang tidak begitu lebat. Hutan yang sengaja dipelihara untuk menjadi tempat berburu keluarga Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Sidanti mengenal daerah ini sebaik-baiknya. Ia sendiri sering melakukan perburuan di hutan ini dahulu, ketika ia masih terlampau muda, sebelum ia mengikuti gurunya ke padepokan Tambak Wedi. Meskipun itu telah bertahun-tahun lampau tetapi seolah-olah baru kemaren terjadi. Derap kaki-kaki kudanya dan beberapa orang pengiringnya memecah kesunyian butan ini. Beberapa ujung panah berterbangan mengejar binatang-binatang buruan yang berlari ketakutan.

“Hem,” Sidanti menarik nafas dalam-dalam. “Itu telah terjadi beberapa tahun yang lampau. Paman masih muda dan cekatan. Aku masih terlampau muda,” katanya didalam batin.

Sidanti menggigit bibirnya seperti kenangan yang menggigit jantungnya. “Menyenangkan sekali,” desisnya.
Namun kemudian Sidanti meninggalkan tanah perdikan ini. Meninggalkan ayahnya, tanah kelahiran dan kawan-kawan bermain lebih dari sepuluh tahun yang lampau.

Seolah-olah terngiang kembali pesan ayahnya ketika ia telah siap berangkat bersama gurunya ke padepokan Tambak Wedi, “Sidanti, kau adalah harapan masa depan dari Tanah Perdikan ini. Kau harus mampu membawa dirimu. Kau harus menurut segala petunjuk dan peperintah gurumu, supaya kau tidak tersesat jalan.”
“Ah,“ Sidanti mengeluh. Apa yang sudah terjadi atas dirinya? Siapakah yang bersalah? Sidanti sendiri, atau gurunya, atau kedua-duanya?

Sidanti tidak berani mencari jawab. Digeleng-gelengkannya kepalanya untuk mengusir kenangan yang mengejar-ngejarnya. Ia ingin berdiri diatas kenyataannya. Dan ia akan melangkah ke depan dari keadaan yang ada kini. Ia tidak dapat berangan-angan dan tidak dapat melangkah surut kebeberapa tahun yang lampau. Tidak. Ia harus maju, seperti majunya waktu.

Sidanti tersadar ketika ia mendengar Argajaya berkata, “Kita harus bermalam di jalan semalam lagi, Kiai.”
Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mungkin ngger. Tetapi kalau kita ingin berjalan tanpa diketahui orang, justru dimalam hari.”
Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya Kiai, dimalam hari kita dapat berjalan dengan aman, tanpa diketahui oleh siapapun juga. Sebelum fajar kita akan sudah sampai di rumah kakang Argapati.”
Tetapi tiba-tiba Sidanti itu memotong, “Tetapi aku tidak ingin masuk ke halaman rumah ayahku dengan keadaan serupa ini. Aku harus pantas menjadi seorang anak yang tidak memalukan orang tua. Mungkin para peronda melihat kita, dan mereka akan berbicara kepada orang-orang lain. Tidak sampai sehari semalam seluruh tanah perdikan akan berkata, “Sidanti datang ke rumahnya kembali sebagai seorang pengemis yang paling malang.” Tidak, aku tidak mau.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Merampas pakaian di tanah sendiri?”
“Aku dapat menyamar. Menutup mukaku dengan ikat kepala supaya aku tidak dikenal orang.”
“Mungkin karena kau sudah lama tidak berada di tanah ini. Tetapi bagaimana dengan aku?”
“Paman tidak perlu ikut. Biarlah aku lakukan sendiri.“
“Kau memang keras kepala Sidanti.” desis gurunya. Sidanti tidak menyahut. Tetapi gurunya menangkap sorot matanya. la tidak akan mengurungkan niatnya yang seolah-olah telah bulat, mencari pakaian yang baik untuk mereka bertiga.

“Bukan main anak ini,” desah Argajaya di dalam hatinya. Mereka telah berada di tlatah tanah sendiri. Bagaimana mungkin mereka dapat melakukannya. Apabila kemudian diketahui, bahwa yang melakukan itu adalah Sidanti, putera Argapati Kepala Tanah Perdikan Menoreh, lalu dimana Argapati harus menyembunyikan wajahnya.

Tetapi Sidanti benar-benar tidak mau mundur.

Ketika matahari menjadi semakin dalam terbenam di balik cakrawala, mereka telah sampai di ujung hutan itu. Sejenak lagi mereka akan keluar dan sampai ke padesan tlatah Menoreh. Padesan yang subur, yang diantara penghuninya ada beberapa orang yang cukup memberi kesempatan kepada Sidanti melakukan niatnya.

“Anak ini tidak dapat dicegah lagi,” desis Argajaya, “mudah-mudahan anak ini tidak melakukannya di rumah Kiai Sentol. Orang itu mengenal baik-baik siapakah aku. Aku sering singgah di rumahnya jika aku pergi berburu. Bahkan kakang Argapatipun tinggal di rumah itu pula untuk beristirahat setiap kali ia pergi berburu.”

“Kita berjalan terus guru,” desis Sidanti. Ia sudah tidak lagi banyak membuat pertimbangan-pertimbangan. Apalagi gurunya tidak sampai hati untuk menyakiti perasaan murid satu-satunya itu, sehingga dibiarkannya saja muridnya itu untuk menentukan sikapnya. “Semakin malam semakin baik. Aku akan mendapatkan pakaian itu. Siapa yang mencoba menentang, harus aku selesaikan.”
“Pakaian itu akan dikenal orang Sidanti. Bahwa pakaian itu milik seseorang. Apalagi kalau orang itu mencarinya dan orang Iain mengatakan bahwa pakaian itu dipakai oleh Sidanti, pamannya, dan gurunya,” desis Ki Tambak Wedi.
“Kita berjalan di malam hari. Sebelum pagi kita harus sudah sampai di rumah. Dan kita akan segera mengganti pakaian yang kita rampas itu, untuk dibakar.”

Ki Tambak Wedi hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban muridnya. Sidanti memang keras kepala. la benar-benar tidak mau masuk ke halaman rumahnya dengan pakaian yang tidak pantas. Harga dirinya telah memaksanya untuk berkeras kepala, meskipun cara yang akan ditempuhnya dapat justru berakibat sebaliknya. Tetapi gurunya tidak akan dapat mencegahnya. Karena itu, maka sekali lagi Tambak Wedi membiarkannya saja berbuat sesuka hatinya, seperti yang dikehendakinya. Sikap Ki Tambak Wedi yang demikian, yang berulang kali telah dilakukan, untuk menanggapi persoalan-persoalan yang kecil maupun yang besar yang dilakukan oleh Sidanti, ternyata menjadi pendorong bagi anak itu untuk menjadi semakin keras kepala.

Sejenak kemudian mereka terdiam. Hanya Iangkah-langkah mereka sajalah yang terdengar gemerisik di atas tanah berbatu-batu. Sekali-sekali angin malam yang dingln berhembus mengusap tubuh-tubuh mereka yang berkeringat.

“Daerah ini masih belum banyak berubah sejak saat terakhir aku menjenguk keluargaku beberapa tahun yang lalu,” desis Sidanti kemudian untuk menghilangkan ketegangan yang mencemkam jantungnya.
“Ya,” sahut pamannya, “belum banyak perubahan. Jalan ini masih juga berdebu. Padesan yang kita lalui adalah padesan seperti lima tahun yang lalu.”
Sidanti mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bergumam , “He, bukankah di ujung padesan ini ada sebuah rumah joglo yang besar dan baik?”

Dada Argajaya berdesir. Rumah joglo di ujung padesan ini adalah rumah Ki Sentol.
“Bukankah begitu pamam? Rumah itu cukup besar dan cukup bersih, sehingga isinyapun aku kira cukup banyak. He, bukankah kita pernah singgah dirumah itu pada saat-saat kita berburu dahulu?”
“Selalu Sidanti. Ayahmu selalu singgah di rumah itu apabila pergi berburu. Bahkan sekali-sekali bermalam pula disitu. Aku selalu singgah pula dirumah itu.”
Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba pula ia berdesis, “Aku akan mencari pakaian di rumah itu.”

“Sidanti,” dengan serta merta pamannya memotong, “jangan.”
“Kenapa?”
“Rumah itu selalu didatangi oleh keluarga ayahmu. Rumah itu seolah-olah telah menjadi pesanggrahan bagi keluarga kita apabila kita pergi berburu di hutan perburuan itu. Kau jangan menyakiti hatinya. Ia akan dapat menyampaikannya kepada kakang Argapati. Dan kau pasti tahu, bahwa kakang Argapati tidak senang kepada perbuatan-perbuatan yang demikian.”
“Tetapi orang itu tidak akan tahu siapa aku.”
“Jangan. Meskipun orang itu tidak tahu siapa kau karena kau dapat menutup wajahmu dengan ikat kepalamu misalnya atau dengan apapun, tetapi seandainya perbuatanmu itu tidak dapat diketahui orang meskipun lambat laun, maka kau pasti akan menyesal.”
“Bagalmana akan dapat diketahui paman? Sudahlah, jangan menjadi cemas. Aku tidak akan merampok apapun kecuali tiga pengadeg pakaian. Sesudah itu, kita akan berjalan dimalam hari. Kita masuk ke halaman rumah untuk menemui ayah sebagai orang-orang yang pantas menyebut dirinya keluarganya. Keluarga Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”
“Terserah kepadamu Sidanti. Tetapi jangan di rumah itu.”
“Aku tidak ingin kehilangan kesempatan kali ini, paman. Kalau aku melepaskannya, mungkin untuk waktu yang lama aku tidak akan menemukan rumah sebaik itu. Semakin dekat dengan rumahku, maka aku akan menjadi kian sulit. Orang-orang disitu akan menjadi semakin besar kemungkinannya untuk mengenal aku.”

Argajaya menarik nafas dalam? Anak ini memang keras kepala.
“Sidanti, kalau kau hanya ingin tiga pengadeg pakaian saja maka aku kira kau tidak perlu masuk ke rumah joglo di ujung padesan itu. Rumah-rumah di desa ini cukup baik dan kemungkinan kau menemukan pakaian itu cukup besar.”
“Tetapi pakaian-pakaian kumal seperti yang kita pakai ini. Tidak. Aku harus mendapat pakaian yang pantas dipakai oleh seorang putera Kepala Tanah Perdikan, pamannya, dan gurunya.”
“Terserahlah kepadamu. Aku tidak akan ikut serta.”
“Akan aku lakukan sendiri. Paman dan guru sebaiknya menunggu saja di tempat yang terlindung. Aku yakin orang itu tidak akan mengenal aku.”

Argajaya menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak ini memang anak bengal. Sejak kanak-kanak.
Rupanya Sidanti benar-benar akan melakukan maksudnya. Ketika mereka telah sampai di dekat rumah ujung jalan, yang terpancang di tengah-tengah halaman yang luas, ia berhenti. Kemudian dilepaskannya ikat kepalanya untuk menutupi wajahnya. PerIahan-lahan ia berdesis, “Tunggulah aku di luar desa ini paman. Aku akan membawa pakaian untuk paman dan guru. Aku akan masuk ke rumah ini untuk mencarinya.”
“Sidanti,” nada suara gurunya terlampau datar dan dalam. Sesuatu agaknya telah terlampau memberati hatinya. “Aku kira kau tidak hanya sekedar ingin masuk ke rumahmu sebagai seorang putera Argapati yang besar itu. Tetapi hatimu juga telah dikoyak oleh dendam yang tidak dapat kau tahankan lagi. Tetapi Sidanti. Aku pesan kepadamu, jangan berbuat-terlampau kasar. Tanah ini, adalah tanah ayahmu. Tanahmu sendiri. Dan kau telah sampai hati untuk menodainya. Kau telah terlampau mementingkan dirimu sendiri. Sidanti, jangan sampai kau terdorong oleh dendam di dalam dadamu sehingga kau kehilangan pengamatan diri dan berbuat sesuatu yang semakin menambah parah luka di dalam hati kita, supaya aku tidak kehilangan kesabaran dan bertindak sendiri atasmu yang keras kepala itu.”

Dada Sidanti berdentang mendengar ancamah gurunya itu. Sejenak wajahnya memerah seperti soga. Tetapi wajah itu kemudian menjadi pucat dan berkeringat. Ia sadar, bahwa gurunya telah hampir kehabisan kesabaran. Karena itu maka ia tidak berani membantahnya. Ia kenal benar sifat gurunya. Apabila ia kehilangan pengamatan diri, maka ia pasti benar-benar akan bertindak.

Karena Sidanti tidak segera menjawab, Ki Tambak Wedi menggeram, “Kau mengerti Sidanti?”
“Ya guru,” sahut anak muda itu.

Ki Tambak Wedi kemudian tidak berbicara lagi. Langkahnya menjadi semakin cepat, diikuti oleh Argajaya. Mereka seolah-olah tidak menghiraukan lagi, apa yang akan dilakukan oleh Sidanti.
Sidanti masih berdebar-debar mengingat kata-kata gurunya. Tetapi ia merasa, bahwa gurunya masih memberinya kesempatan. Karena itu, maka ia tidak mengikuti gurunya keluar dari desa. Ia tetap pada niatnya untuk mendapatkan pakaian, supaya ia pantas masuk ke dalam rumah ayahnya, Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang besar dan kaya.

Sidanti kemudian berdiri termangu-mangu di muka regol halaman yang luas itu. Sejenak ia masih melihat bayangan gurunya dan pamannya berjalan menjauh. Tetapi bayangan itu kemudian seolah-olah lenyap ditelan gelap.
“Mereka akan menunggu aku di luar desa ini,” gumam Sidanti.

Ketika kedua bayangan itu telah hilang, maka terasa dada Sidanti menjadi lapang. Seolah-olah ia sudah tidak terikat lagi kepada kedua orang itu. Kini ia merasa bebas untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya.
Sejenak ia berdiri tegak memandangi pintu regol halaman yang tertutup. Terasa dadanya diganggu oleh debar jantungnya yang menjadi semakin cepat. Tetapi sejenak kemudian ia sudah berhasil menguasai perasaannya.

Perlanan-lahan ia melangkah maju. Kini tubuhnya menjadi kemerah-merahan oleh sinar oncor yang terpasang di regol halaman. Namun terasa halaman itu terlampau sepi. la tidak melihat seorangpun yang berjalan di halaman. Sepi.

Dengan tangannya Sidanti menyentuh pintu regol. Ternyata pintu regol itu tidak dipalang dari dalam. Dengan hati-hati pintu itu didorongnya. Dan dengan hati-hati pula ia melangkah masuk.
Halaman rumah itu benar-benar sepi. Yang terdengar hanyalah gemerisik angin yang membelai dedaunan.

Sidanti merasa aneh. la adalah seorang yang hampir tidak pernah diganggu oleh perasaan takut. Tetapi kali ini merasakan sesuatu yang lain di dalam dirinya. Ia merasa seolah-olah diintai oleh sepasang mata yang selalu mengikutinya di dalam gelapnya malam.

“Aku diganggu oleh perasaanku,” katanya di dalam hati, “ini adalah akibat dari pesan guru dan keragu-raguan paman. Rumah ini adalah rumah Ki Sentol. Rumah seseorang yang telah mengenal keluargaku dengan baik. Tetapi kalau aku lampaui rumah ini, maka belum tentu aku akan menjumpai rumah seperti ini. Rumah yang menyimpan pakaian yang pantas untuk kami bertiga.”

Sidanti masih berdiri tegak ditempatnya. Kini ia menjadi ragu-ragu. Justru karena itu, maka perasaannya menjadi semakin mengganggunya. Seolah-olah di balik kegelapan itu benar-benar memancar sepasang mata yang tajam sedang mengawasinya.

“Gila,” geram Sidanti, “aku tidak takut. Biar seisi desa ini keluar dari rumahnya, mengeroyok aku bersama-sama, aku tidak akan takut.” Terdengar anak muda itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia mendengar suara di dalam dirinya. “Ya, kau akan mampu membunuh semua laki-laki seisi desa ini. Tetapi kalau masih ada yang hidup seorang saja di antara mereka. Dan mengenal bahwa kau adalah Sidanti, putera Kepala Tanah Perdikan ini, maka apakah kira-kira kata orang tentang dirimu, tentang Sidanti putera Ki Gede Menoreh yang perkasa, yang disegani oleh rakyatnya?”

Sidanti menggelengkan kepalanya. Ia mencoba mengusir perasaan yang membelit jantungnya. Ia ingin membebaskan dirinya dari kegelisahan dan kebimbangan.
“Aku harus dapat melakukannya. Aku bukan laki-laki cengeng. Aku hanya memerlukan pakaian itu. Tidak yang lain-lain.”

Sekali lagi Sidanti menggeretakkan giginya. Tiba-tiba ia melangkah. Tetapi tidak mendekati pendapa yang remang-remang oleh cahaya pelita yang redup. Dengan tergesa-gesa ia meloncat ke tempat yang gelap terlindung oleh dedaunan.
“Setan,” ia menggeram, ”kenapa aku bersembunyi. Aku harus naik ke pendapa. Mengetuk pintu dan berkata terus terang. Aku membutuhkan tiga pengadeg pakaian yang baik. Itu saja. Sidanti mencoba mengatur detak jantungnya. Disapunya halaman itu dengan sorot matanya. Ia tidak melihat sesuatu. Ya, matanya tidak melihat sesuatu. Tetapi perasaannya selalu memperingatkan kepadanya, bahwa sepasang mata sedang mengintainya.
“Siapa? Siapa?” giginya sekali Iagi bergemeretak.

Darahnya tersirap ketika tiba-tiba ia dikejutkan oleh ringkik kuda dikejauhan. Di dalam kandang, di belakang rumah.
“Gila,” ia menggeram pula, “suara kuda itu mengejutkan aku. Kalau sekali lagi ia meringkik, aku patahkan lehernya.” Tiba-tiba debar di dadanya semakin keras memukul dinding jantungnya. “Apakah Ki Sentol atau seseorang anggota keluarganya sedang berada di kandang kuda itu?”
“Tidak. Aku harus datang sebagai laki-laki. Aku harus mengetuk pintu dan berkata berterus terang.”

Sidanti kemudian membulatkan tekadnya. la tidak akan gentar menghadapi apapun. Dengan langkah yang berat ia berjalan ke pendapa. Tetapi meskipun demikian, ia seolah-olah merasa bahwa seseorang sedang memandangnya. Firasat itu biasanya tidak terlampau jauh menyimpang.

Dan sebenarnyalah bahwa sepasang mata yang tajam sedang memandanginya dari ujung gandok rumah itu, dari tempat yang gelap.

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 19 Oktober 2008 at 16:17  Comments (13)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-30/trackback/

RSS feed for comments on this post.

13 KomentarTinggalkan komentar

  1. Buku 30 dah di kapling .. jadi kalo mau bantuin edit ato proof di halaman lain aja.
    Tetapi jika terdapat kesalahan tulis mohon untuk disampaikan sehingga bisa diperbaiki segera.
    Makasih. 🙂

    D2: Bagi file doc-nya dong…?

  2. File doc sudah diluncurkan ke D2

    D2: Tx

  3. matur sembah nwun sangaet kulo saget ndherek maos jilid puniko

    • yang lain juga bisa dibaca kok Ki.
      Masuk ke halaman 1, 2, 3, 4, 5, atau 6 pada setiap jilid yang ada halaman-halaman tersebut.

  4. Di episode ini, paling cocok diiringi lagunya Kang Fals,
    antara kau, aku dan bekas pacarmu.
    “saat engkau tiba….di simpang jalan……”

    • pacar wutah yo ki mbleh

      • pacar kencing…eh..keling ! 😀

        • bablas tambak sari no

          • pacar senen
            pacar rebo
            pacar jum’at
            pacar minggu
            pacar nggenjing ada turun…..????

            • pacar nJohar
              pacar Karangayu
              pacar mBulu
              pacar Kobong
              pacar Peterongan
              pacar Gang Baru
              pacar Kagok
              pacar Karangjati

              wah….
              dadi kelingan
              Semarang no..??!!

              • dereng minggah kok kengken mandap to ki mbleh

  5. TES…..nyoba komen ning gandOK siNI,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: