Buku 28

Gadis itu kemudian membayangkan tentang dirinya sendiri. Seandainya ia mampu berbuat sesuatu. Seandainya ia tidak hanya seorang gadis yang lemah dan tidak dapat berbuat apa pun.

Terbayanglah di dalam ingatannya cerita-cerita tentang masa-masa lampau. Dongeng-dongeng yang pernah didengarnya tentang beberapa orang puteri. Di dalam ceritera wayang yang terkenal, pernah juga didengarnya tentang seorang Srikandi dan Larasati. Keduanya adalah puteri-puteri prajurit yang pilih tanding. Bahkan di dalam perang besar Baratayuda, Srikandi pernah menjadi senapati perang dan dalam masa jabatannya itulah Senapati Besar Astina yang dikagumi terbunuh. Bisma. Meskipun kematiannya itu ditangisi oleh kedua pihak yang berperang. Kurawa dan Pendawa.

“Apakah pada jaman ini tidak mungkin seorang wanita memegang busur dan anak panah seperti Srikandi?” pertanyaan itu menggetarkan hatinya.

“Tentu mungkin,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “dan aku akan berusaha untuk dapat menjadi seorang wanita yang demikian. Aku harus dapat menjaga diriku sendiri. Kalau suatu ketika Sidanti kembali ke Sangkal Putung, aku tidak akan menjadi barang rebutan antara Sidanti dan orang-orang Sangkal Putung, Kakang Swandaru dan mungkin Kakang Agung Sedayu.”

Sekar Mirah itu menengadahkan kepalanya, seolah-olah ia sudah mendapat keputusan untuk memulai dengan langkahnya. Menjadi seorang gadis yang mampu menjaga diri sendiri.

“Tetapi kepada siapa aku harus berguru supaya aku mendapat tuntunan olah kanuragan?” pertanyaan itu mengusik hatinya.

Tanpa disengaja ia memandangi Ki Tanu Metir yang berkuda beberapa langkah di mukanya. Dipandanginya punggung orang tua itu yang berselimutkan kain gringsing. Kain ciri yang selalu dipakainya meskipun sudah mulai tampak keputih-putihanan.

Tiba-tiba Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. “Orang tua itu sedang sibuk dengan Kakang Swandaru dan Kakang Agung Sedayu. Aku tidak yakin kalau ia mau menerimaku pula di dalam lingkungannya. Aku sama sekali belum mengenal ilmu apa pun dalam olah kanuragan. Aku harus mulai dari permulaan. Lalu ditambahkannya keterangan di dalam hatinya itu ‘tetapi seandainya ayah dan ibu mengijinkannya’.”

Dan dicobanya untuk meyakinkan Dirinya, “Ayah dan ibu pasti tidak akan berkebetatan. Setiap saat aku terancam bahaya, karena aku kira Sidanti tidak akan berhenti sekian. Mungkin ia akan kembali di saat-saat orang Sangkal Putung sudah hampir melupakannya. Seandainya aku tidak mampu menjaga diriku, maka akan terulanglah peristiwa itu. Dan Sidanti tentu tidak akan sesabar beberapa saat yang lampau.”

Sementara itu matahari di langit merayap semakin lama semakin tinggi. Sinarnya yang cerah telah mulai menggatalkan kulit. Angin yang berhembus dari Selatan menghalau debu-debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda yang berjalan dalam iring-iringan itu. Beberapa prajurit yang ikut serta di dalamnya hampir tidak mengucapkan kata-kata sama sekali. Satu dua di antara mereka bercakap-cakap, tetapi kemudian terdiam. Memang tidak banyak yang mereka perbincangkan.

Ketika mereka melampaui sebuah tikungan yang tajam di antara gerumbul-gerumbul yang liar terdengar Agung Sedayu berdesis, “Bukankah menerobos jalan kecil ini kita akan sampai ke Dukuh Pakuwon Kiai?”

Ki Tanu Metir tersenyum. Dipandanginya jalan simpang yang sempit itu. Katanya, “Sebenarnya aku telah merindukan rumahku yang hampir roboh itu. Tetapi aku agaknya masih belum sempat. Lain kali, aku akan menengok, apakah pohon kates yang aku tanam sudah mulai berbuah.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kenangannya mulai menjelajahi kembali masa-masa yang pernah dilampauinya. Ia hampir pingsan ketakutan ketika ia bertemu dengan Alap-alap Jalatunda di daerah ini. Apalagi ketika kemudian kakaknya menyuruhnya berangkat sendiri ke Sangkal Putung untuk menemui pamannya. Seandainya kakaknya tidak mengancam untuk membunuhnya, maka ia pun pasti tidak akan berani berangkat.

Agung Sedayu itu tersadar ketika ia mendengar Ki Tanu Metir bertanya, “Kita akan menempuh jalan yang mana, Ngger? Apakah kita akan lewat Kali Asat dan melalui tikungan Randu Alas? Barangkali Angger masih ingin bertemu dengan sahabat Angger di sana, Gendruwo bermata Satu?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah.

Swandaru yang tidak tahu maksud Kiai Gringsing tiba-tiba menyahut, “Terlampau jauh, Kiai. Kita tidak akan melalui Kali Asat.”

Perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Sangkal Putung. Jarak, antara kedua kademangan itu memang tidak terlampau jauh. Tetapi kekalutan yang timbul di daerah itu, orang-orang Jipang yang berkeliaran, apalagi kimudian setelah Tohpati mengambil tempat di hutan-hutan yang tidak terlampau lebat di sebelah Barat Sangkal Putung, maka kedua kademangan itu seakan-akan telah dipisahkan oleh lautan. Perjalanan dari kademangan yang satu ke kademangan yang lain terasa terlampau menakutkan. Padukuhan-padukuhan kecil yang berada di antara kedua kademangan itu pun menjadi semakin kecil. Bahkan penduduknya kadang-kadang merasa tidak mendapat perlindungan sama sekali, sehingga pada saat-saat itu mereka tidak akan dapat menolak apabila orang-orang Jipang, seperti Alap-alap Jalatunda, Pande Besi Sendang Gabus yang terbunuh oleh Untara, Plasa Ireng yang kemudian dibunuh oleh Sidanti, dan Sanakeling yang sudah terbunuh pula beserta anak buah mereka, datang untuk mengambil persediaan makanan mereka yang memang sudah terlampau tipis. Orang-orang Jipang itu mengambil apa saja yang dapat mereka ambil, sebelum mereka berhasil merebut pusat lumbung makanan dan kekayaan di daerah Selatan, Sangkal Putung.

Tetapi, dalam keadaan kini maka jarak antara kedua kademangan itu terasa terlampau dekat. Belum lagi matahari melampaui puncak langit, maka mereka sudah menjadi semakin dekat dengan Sangkal Putung.

Sekar Mirah hampir-hampir tidak sabar lagi menunggu jarak yang sudah kian pendek itu. Seandainya ia mampu ia pasti akan meloncat langsung ke halaman rumahnya berlari mendapatkan ayahnya dan memeluk ibunya.

Tetapi ia masih harus tetap berada di punggung kudanya.

Beberapa saat kemudian mereka telah masuk ke daerah Kademangan Sangkal Putung. Mereka telah berada di tengah-tengah bulak persawahan. Bulak yang beberapa saat yang lampau jarang-jarang sekali disentuh tangan karena keadaan, tetapi kini sawah-sawah itu telah mulai tampak dibasahi oleh air. Sebentar lagi sawah-sawah itu pasti akan menjadi hijau kembali, apabila orang-orang Sangkal Putung telah yakin, bahwa tidak akan ada gangguan lagi yang bakal datang ke kademangan mereka. Agaknya beberapa orang telah mulai memperbaiki parit-parit dan mengalirkan air ke sawah-sawah yang selama ini tidak sempat ditanaminya.

Semakin dekat dengan induk kademangan, maka sawah-sawah telah menjadi hijau. Sawah-sawah itu masih tetap selalu digarap meskipun dalam keadaan yang kalut, karena sawah-sawah itu terletak tidak terlampau jauh dari induk kademangan.

Melihat induk kademangan yang terbentang di hadapannya, dada Sekar Mirah menjadi berdebar-debar. Beberapa lama ia tidak melihat wajah kampung halamannya, terasa seakan-akan sudah bertahun-tahun. Apalagi apabila diingatnya, bahwa hampir saja ia terjerumus ke dalam jurang yang terlampau dalam. Dan ia yakin bahwa ia pasti tidak akan bangkit kembali.”

Kademangan Sangkal Putung yang terbentang itu, seolah-olah seperti seorang raksasa yang baru berbaring diam. Warnanya yang hijau segar langsung terasa menyentuh hati.

Ketika Sekar Mirah melihat ujung daun nyiur yang bargerak-gerak disentuh angin, seolah-o1ah melambai menyambut kedatangannya, terasa kerongkongannya menjadi pepat. Ada sesuatu ingin meledak di dadanya. Mata gadis itu pun kemudian menjadi pedih. Bukan oleh debu yang menyentuhnya, tetapi kenangan yang ngeri dan harapan bagi masa mendatang, bercampur baur di dalam hatinya

Ki Tanu Metir yang berkuda di depan bersama Agung Sedayu pun merasakan, seolah-olah kademangan itu benar-benar telah siap menyambut kedatangan mereka

Tetapi dahi orang tua itu pun kemudian berkerut ketika dilihatnya debu mengepul di kejauhan.

Ternyata tidak hanya Ki Tanu Metir sajalah yang tertarik melihat debu yang keputih-purihan itu. Agung Sedayu, Swandaru, dan prajurit pun memperhatikannya dengan penuh perhatian.

“Orang-orang berkuda, Kiai,” desis Agung Sedayu. Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira mereka adalah para peronda dari Sangkal Putung.”

“Tetapi agaknya tidak hanya dua tiga orang. Mereka kira-kira terdiri dari lima enam orang, Kiai?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Beberapa saat kemudian orang-orang berkuda itu menjadi semakin jelas. Ketika mereka muncul dari balik tanaman yang rimbun, tampaklah bahwa mereka berjumlah lima orang.

“Mereka memang peronda dari Sangkal Putung,” berkata Ki Tanu Metir kemudian.

“Mungkin,” sahut Agung Sedayu. Tetapi matanya hampir tidak berkedip melekat pada bintik-bintik yang berpacu menyongsong mereka.

Sejenak kemudian mereka melihat kelima orang itu berhenti sejenak. Kemudian tiga di antara mereka meneruskan perjalanan kearah Ki Tanu Metir dan iring-iringanya.

“Kenapa sebagian dari mereka berhenti Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

“Suatu sikap hati-hati. Ketiga orang itu harus melihat siapa yang datang. Kalau yang datang ini berbahaya bagi mereka, maka kedua orang yang berhenti itu sempat memberikan laporan atau tanda-tanda sandi kepada induk pasukannya, sementara yang lain sedang menghadapi bahaya itu”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia bertanya, “Apakah mereka mencurigai kita? Maksudku, mereka mencurigai iring-iringan yang belum mereka ketahui ini?”

“Mungkin.”

“Kalau demikian maka ada sesuatu yang penting terjadi di sini,” berkata Agung Sedayu.

“Sangkal Putung belum mendengar secara pasti bahwa Tambak Wedi sudah jatuh.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi karena Jati Anom dan Sangkal Putung sebenarnya tidak terlampau jauh, maka adalah suatu kemungkinan bahwa Widura telah mendengar berita tentang Tambak Wedi.

“Apakah Kakang Untara tidak segera mengirimkan utusan ke Sangkal Putung untuk memberitahukan keadaan Tambak Wedi?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku kira belum. Kita adalah utusan-utusan itu. Dan kitalah yang akan memberitahukan kepada pamanmu Widura, bahwa Tambak Wedi telah jatuh. Seandainya Angger Untara mengirimkan utusan, maka angger Untara pasti tidak yakin bahwa utusannya akan segera sampai. Apabila mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi, maka utusan itu pasti akan menjadi korban. Mungkin Angger Untara mempunyai perhitungan lain pula, supaya Sangkal Putung tetap berada dalam kewaspadaan dan tidak menjadi lengah. Sebab masih banyak sekali kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin masih ada satu dua orang Sanakeling yang terlepas dari kehancuran justru karena mereka berkeliaran di daerah ini pada saat Tambak Wedi jatuh. Atau mungkin hal-hal lain menurut pertimbangan Angger Untara.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia memandang lurus-lurus ke depan kepada tiga orang prajurit yang sudah menjadi semakin dekat.

Demikian para prajurit itu mengenali Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, serta prajurit-prajurit Pajang yang mengantarkan mereka, maka terdengar salah seorang dari mereka berteriak gembira, “He, kaukah itu, Kiai?”

“Ya, iniah aku,” sahut Ki Tanu Metir.

“Dengan Adi Sekar Mirah?”

“Ya,” jawab Ki Tanu Metir pula.

“Syukurlah. Ibunya selalu menangis.”

Mendengar kata-kata prajurit itu, Sekar Mirah yang berkuda di samping kakaknya tiba-tiba memotong, “Apakah ibuku selalu menangis saja?”

Prajurit itu menjadi ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, “Ya, tetapi setiap orang di Sangkal Putung yakin, bahwa kau akan dapat dibebaskan.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Ia semakin ingin cepat-cepat sampai. Tetapi ia tidak cukup pandai untuk berpacu. Karena itu maka ia menjadi gelisah. Serasa ingin ia meloncati jarak yang sudah menjadi semakin pendek.

Yang bertanya kemudian adalah Ki Tanu Metir, “Kalian agaknya terlampau hati-hati menghadapi keadaan. Kalian tinggalkan kedua kawan kalian. Bukankah dengan demikian kalian memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang berbahaya.”

Salah seorang dari ketiga prajurit itu mengangguk, “Ya. Kami memang sedang gelisah.”

“Kenapa?”

Prajurit itu tidak segera menjawab. Mereka bertiga menganggukkan kepala mereka kepada prajurit-prajurit Pajang yang datang dari Jati Anom.

Perwira yang memimpin rombongan kecil itu pun maju mendekati prajurit Sangkal Putung itu sambil bertanya, “Apakah yang telah menggelisahkan kalian di SangKal Putung?”

Prajurit-prajurit itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian berkata, “Marilah. Kami antar kalian untuk menemui Ki Widura.”

“Kami akan menemuinya,” sahut perwira itu, “tetapi apa yang menggelisahkan itu?”

Prajurit itu berpaling kepada kawan-kawannya. Tetapi kawan-kawannya tidak dapat memberikan kesan apa pun kepadanya.

“Berkatalah,” perintah perwira itu.

“Baiklah,” sahut prajurit yang datang dari Sangkal Putung. “Kami telah kehilangan beberapa orang peronda.”

“He,” perwira itu terkejut. Ki Tanu Metir pun mengerutkan keningnya, sedang wajah Agung Sedayu dan Swandaru menjadi tegang karenanya.

Para prajurit yang datang dari Jati Anom pun pegera mengerumuni ketiga orang prajurit itu sambil bertany-tanya di dalam hati, apakah yang sudah terjadi di Sangkal Putung.

Dalam pada itu salah seorang prajurit yang datang dari Sangkal Putung itu berkata, “Marilah, aku ceriterakan sambil berjalan ke Sangkal Putung. Kedua kawan-kawanku yang menunggu itu supaya tidak menjadi salah paham, dan dengan serta-merta meluncurkan panah sendaren.”

Perwira Pajang itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah, marilah kita teruskan perjalanan ini.” Kepada Ki Tanu Metir ia berkata pula, “Marilah, Kiai.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya pula sambil menyahut, “Marilah.”

Iring-iringan itu kemudian meneruskan perjalanan mereka ke Sangkal Putung bersama ketiga prajurit Pajang yang sedang meronda itu.

Perwira yang datang dari Jati Anom itu kemudian bertanya, “Kesiap-siagaan kalian ternyata cukup tinggi, sehingga kedua kawan-kawanmu itu perlu mempergunakan panah sendaren.”

“Ya, bahaya yang mengancam kami pun cukup berat.”

“Katakan, apa yang telah terjadi.”

Prajurit-prajurit itu menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Sejak empat lima hari ini kami menjadi gelisah. Beberapa orang peronda kami hilang di luar induk kademangan.”

“Bagaimana mereka dapat hilang?”

“Itu yang tidak dapat kami ketahui. Beberapa dari mereka dapat kami ketemukan mayatnya. Tetapi ada juga yang belum.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling memandangi wajah Ki Tanu Metir yang kini berkuda di belakangnya.

“Bagaimana pendapat, Kiai?” bertanya perwira itu. “Apakah ini ada hubungannya dengan jatuhnya Tambak Wedi dan lenyapnya para pemimpinnya?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak dapat disangsikan lagi, Ngger.”

“Memang Kakang Widura masih belum tahu tentang peristiwa di Tambak Wedi,” gumam perwira itu. Lalu kepada Ki Tanu Metir ia berkata pula, “Kiai, selain mengantarkan Kiai dan anak-anak muda ini, aku pun mendapat tugas khusus dari Kakang Untara.”

“Tugas apa itu, Ngger?”

“Menyampaikan pesan Kakang Untara tentang Tambak Wedi.”

“Aku memang sudah menyangka, tetapi aku tidak bertanya kepadamu. Apabila nanti Angger Widura telah mendengar laporanmu, maka ia pasti akan mampu memperhitungkan keadaan. Kita pun telah dapat menduga, siapa yang melakukan hal itu.”

Tiba-tiba Swandaru memotong, “Tambak Wedi. Pasti Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya.”

Hampir semua orang berpaling kepadanya. Dan hampir semua orang menganggukkan kepalanya. Hanya para prajurt dari Sangkal Putung sajalah yang saling berpandangan. Mereka tidak tahu alasan dari dugaan Swandaru yang tampaknya disetujui oleh semua orang dalam iring-iringan itu.

“Kenapa Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya?” bertanya salah seorang prajurit itu.

“Tak ada orang lain. Hal ini pula yang harus aku sampaikan kepada Ki Widura nanti,” sahut perwira itu. Lalu ia bertanya pula, “Berapa orang yang telah hilang dan terbunuh?”

“Delapan orang,” sahut salah seorang dari mereka.

“Delapan orang?” perwira itu mengulangi hampir bersamaan dengan Swandaru dan Agung Sedayu. Berkata perwira itu lebih lanjut, “Sudah terlampau banyak. Jumlah itu harus dihentikan.”

“Itulah sebabnya kami kini meronda dengan cara ini supaya korban tidak bertambah-tambah.”

”Lima orang prajurit tidak akan dapat melawan Ki Tambak Wedi bertiga,” berkata perwira yang datang dari Jati Anom itu.

“Itulah sebabnya kami harus memberitahukan kepada pasukan peronda induk di mulut kademangan itu, dengan panah sendaren. Peronda berkuda pasti akan segera datang.”

“Berapa orang?” bertanya perwira itu.

“Sepuluh orang. Kalau perlu dapat ditambah lagi.”

“Sepuluh orang itu pun hanya akan menambah jumlah kematian. Duapuluh lima orang, barulah memadai buat ketiga iblis yang sedang putus asa itu,” geram perwira itu pula.

Prajurit-prajurit dari Sangkal Putung itu tidak menyahut. Mereka masih belum tahu pasti apa yang sudah terjadi.

Sementara itu kedua kawannya yang menunggu di kejauhan menjadi termangu-mangu. Ketika mereka melihat ketiga kawannya dikerumuni oleh orang-orang yang ditemui, maka hati mereka menjadi bedebar-debar. Mereka telah menyiapkan busur-busur mereka untuk setiap saat dapat melepaskan panah-panah sendaren sebelum mereka datang membantu ketiga kawan-kawannya itu.

Tetapi kemudian mereka melihat iring-iringan itu meneruskan perjalanan dan tidak ada sesuatu yang terjadi. Meskipun demikian mereka masih tetap ragu-ragu. Busur mereka masih tetap berada di tangan, bahkan kemudian anak panah sendaren mereka telah mereka pasang pula, siap untuk meluncur di udara.

Baru ketika mereka dapat melihat dengan jelas, siapa yang datang bersama dengan ketiga kawan-kawannya itulah, maka mereka menjadi berlega hati. Hampir bersamaan mereka menarik nafas dalam-dalam untuk melepaskan ketegangan yang baru saja mencengkam mereka.

“Ki Tanu Metir,” desis yang seorang.

“Ya,” sahut yang lain. “Bukankah gadis itu Sekar Mirah?”

Prajurit yang lain mengerutkan dahinya, “Ya, itulah Sekar Mirah yang hilang itu. Tetapi justru ia menjadi bertambah cantik.”

Kawannya mengerutkan dahinya, tetapi ia tidak segera menyahut. Diamatinya iring-iringan yang semakin dekat itu. Dan dilihatnya iring-iringan yang semakin dekat itu. Dan dilihatnya pula kemudian Agung Sedayu, Swandaru, dan beberapa orang prajurit Pajang di bawah pimpinan seorang perwiranya.

“Hem, mereka cukup hati-hati,” desis salah seorang dari kedua prajurit itu. “Agaknya mereka mengetahui keadaan di sini sehingga iring-iringan itu cukup kuat apabila mereka menghadapi bahaya di sepanjang perjalanan.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi yang dikatakannya, “Memang gadis itu agak kurus meskipun hanya beberapa hari saja ia meninggalkan rumahnya.”

“Hus,” desis yang lain, “apakah kau sudah bersedia berperang tanding dengan Sidanti? Bukankah gadis itu hilang diambil Sidanti?”

“Kenapa aku harus perang tanding?”

”Bukankah Sidanti menginginkan Sekar Mirah itu pula.”

“Biar sajalah Sidanti menginginkannya. Tetapi aku tidak.”

“Kenapa kau selalu memujinya?”

“Aku hanya memuji. Aku senang melihat sesuatu yang baik, yang cantik, yang tampan. Apakah kau tidak?”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya, aku juga tertarik kepada semua yang baik.”

“Nah, bukankah kalau kau melihat sesuatu yang indah kau akan memujinya? Melihat Gunung Merapi yang biru kemerah-merahan di ujungnya itu, atau melihat air terjun yang tinggi, atau melihat padi yang menguning menggelombang dibuai angin yang silir, atau taman bunga yang sedang berkembang, atau ……..”

“Cukup. Contoh yang kau ucapkan sudah terlampau panjang.”

“Belum. Masih kurang satu, seorang gadis yang secantik Sekar Mirah?”

“Ya.”

“Apakah kau lebih senang melihat titah yang gemuk bulat dan selalu memberengut itu?”

“Tentu tidak.”

“Nah, itulah sebabnya aku memujinya. Gadis itu memang cantik.”

“Kau memang cukup cakap.”

“Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik.”

Prajurit yang seorang mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia pun tersenyum. Ia sebenarnya masih ingin berbicara banyak, tetapi iring-iringan itu sudah terlampau dekat. Karena itu mereka pun menepi untuk memberi kesempatan mereka lewat.

Ketika iring-iringan itu berjalan di depan kedua prajurit itu, mereka pun menganggukkan kepala mereka, memberi hormat kepada mereka yang lewat, terutama kepada perwira prajurit Pajang yang ada di dalam iring-iringan itu pula.

Ketika iring-iringan in. sudah melampaui mereka, maka mereka pun menempatkan diri mereka di ujung belakang. Sejenak mereka terdiam diri, tetapi yang seorang segera mulai berbicara lagi. Katanya, “Nah, apakah kau masih juga tidak percaya bahwa gadis itu memang cantik. Lihatlah punggungnya, lehernya, rambutnya yang meskipun agak kusut.”

Kawannya berpaling. Alisnya tampak berkerut. Katanya sambil mengangkat panah sendarennya, “Lihat, mulutmu ternyata tidak berbeda dengan sendaren ini. Kalau sudah mulai mengiang, maka ia tidak akan berhenti sebelum jatuh di tanah.”

Sekali lagi prajurit yang satu itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum pula.

“Ah,” katanya, “sebaiknya panah dan busur-busur ini disingkirkan saja. Bukankah sudah pasti tidak akan terpakai lagi.”

“Apakah akan kau buang saja.”

Yang lain menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut.
Meskipun demikian, mulut lorong Kademangan Sangkal Putung sudah menjadi semakin jelas, seperti mulut goa yang selalu menganga. Namun dengan demikian hati Sekar Mirah menjadi semakin berdebar-debar. Terasa seolah-olah kudanya berjalan semakin lambat. Tetapi ia tidak berani mempercepat, karena ia belum terlampau biasa berkuda.
Kini iring-iringan itu pun akhimya memasuki mulut lorong itu pula. Satu-satu berurutan seperti ditelan oleh mulut seekor ular raksasa. Sejenak kemudian maka mereka itu pun telah hilang ke dalam induk Kademangan Sangkal Putung.
Sekar Mirah yang gelisah menjadi hampir tidak sabar menunggu kudanya memasuki halaman rumahnya. Setiap kali ia lihat orang-orang berlari-larian ke luar dari rumahnya sambil menyebut namanya. Gadis-gadis kawannya bermain berteriak-teriak memanggil namanya, sedang anak-anak muda saling berbisik di antara mereka, “Itu Sekar Mirah. Ternyata adik Untara telah berhasil membebaskannya.”

Sekar Mirah sendiri hampir tidak dapat menahan perasaan harunya. Tetapi ia tidak mau berhenti di antara kawan-kawan gadisnya. Ia ingin segera pulang. Ia ingin segera menyatakan diri kepada ibunya, bahwa ia masih Sekar Mirah yang dulu. Sekar Mirah seperti saat meninggalkan Sangkal Putung.

Kabar tentang Sekar Miiah itu segera sampai ke kademangan mendahului Sekar Mirah sendiri. Beberapa orang berlari-larian meloncat pagar-pagar batu menyampaikan kabar kedatangan Sekar itu kepada ayah ibunya.

Sesaat kademangan itu dicengkam oleh perasaan haru dan tegang. Widura yang berada di kademangan itu menjadi berdebar-debar pula.

Namun tiba-tiba mereka terpaksa menyusul ibu Sekar Mirah yang tidak dapat menahan hati, berlari-larian turun tangga pendapa menyongsong anak gadisnya yang kembali pulang.

Meskipun Ki Demang memanggilnya untuk menunggu saja di halaman, namun Nyai Demang sama sekali sudah tidak menghiraukannya. Dengan mata yang basah dan rambut terurai Nyai Demang berlari melintasi halaman. Beberapa orang prajurit yang melihathya berdiri saja termangu-mangu, tanpa dapat berbuat apa pun, meskipun mereka tahu, bahwa Ki Demang sedang memanggil-manggil isterinya itu.

Tetapi ternyata Nyai Demang tidak perlu berlari-larian terlampau jauh. Tiba-tiba, ia melihat iring-iringan muncul di regol halaman.

Ketika dilihatnya Sekar Mirah yang kemudian berada di paling depan bersama kakaknya Swandaru, maka tiba-tiba perempuan itu pun menjerit tinggi menyebut nama anaknya yang pernah hilang itu

Sekar Mirah pun segera melihat ibunya berlari-larian menyongsongnya. Ia kini tidak lagi dapat menahan hatinya. Dengan serta-merta ia meloncat turun dari kudanya. Tetapi karena terlampau tergesa-gesa dan kurang dapat membawakan diri, maka gadis itu terjatuh di tanah.

“Mirah,” Swandaru mencoba mencegahnya. Tetapi terlambat. Gadis itu telah jatuh menelungkup.

Hampir bersamaan Swandaru dan Agung Sedayu meloncat dari punggung kudanya pula, disusul oleh Ki Tanu Metir dan para prajurit. Dengan cekatan Swandaru menolong adiknya, mengangkat dan memapahnya berdiri.

“Mirah,” sekali lagi terdengar pekik ibunya.

Ternyata Sekar Mirah tidak dapat merasakan sakit pada tubuhnya sendiri. Tiba-tiba ia pun meronta dan melepaskan diri dari tangan kakaknya, langsung berlari kepada ibunya.

Keduanya pun kemudian berpelukan. Keduanya melepaskan tekanan-tekanan perasaan yang berdesakan di dalam dada masing-masing, sehingga meledaklah tangis yang mengharukan.

Swandaru, Agung Sedayu, Ki Tanu Metir, Widura, dan Ki Demang sendiri dan orang-orang lain yang menyaksikan, berdiri saja termangu-mangu. Dibiarkannya kedua perempuan ibu dan anak itu melepaskan perasaannya.
Sejenak halaman kademangan itu seolah-olah dicengkam oleh suasana yang tegang. Yang terdengar hanyalah suara tangis Nyai Demang Sangkal Putung dan anaknya Sekar Mirah.

Sesaat kemudian, ketika tangis mereka sudah menurun, maka berkatalah Ki Demang Sangkal Putung dengan nada yang dalam, “Nyai, bawalah anakmu itu masuk.”

Keduauya tidak menyahut. Keduanya tidak mengucapkan kata-kata sepatah kata pun, kecuali tangis mereka. Tetapi titik-titik air mata mereka telah menyatakan perasaan mereka sampai tuntas. Melampaui kata-kata yang beribu-ribu jumlahnya.
“Nyai,” sekali lagi terdengar suara Ki Demang Sangkal Putung, “bawalah anakmu masuk. Mungkin ia lelah, dan mungkin ia lapar.”

Nyai Demang menganggukkan kepalanya. Kemudian dibimbingnya Sekar Mirah masuk ke dalam rumah, melintasi pendapa, kemudian pringgitan dan langsung dibawanya ke ruang dalam.

Ketika Sekar Mirah telah dibimbing masuk, maka barulah orang-orang yang berada di halaman itu mulai bergerak. Mereka mulai berbisik-bisik dan bercakap-cakap di antara mereka. Beberapa orang prajurit sedang mempercakapkan kawan-kawan mereka yang datang dari Jati Anom bersama dengan Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, dan Swandaru dipimpin oleh seorang perwira.

Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, dan Swandaru mulai mengangkat kepala mereka, memandang berkeliling. Dipandanginya wajah-wajah yang sudah lama ditinggalkannya. Beberapa orang yang akrab dengan mereka segera mendekatinya dan bercakap-cakap dengan asyiknya. Hudaya, Sonya, dan beberapa orang lain. Jagabaya Sangkal Putung dan anak-anak muda yang lain.
Tetapi Ki Tanu Metir, Agung. Sedayu, dan Swandaru itu pun terkejut ketika kemudian seorang laki-laki berdiri di hadapan mereka sambil tersenyum. Rambutnya yang telah mulai memutih serta kerut-merut di dahinya menyatakan bahwa sudah melampaui setengah abad ia menghuni dunia ini.

“Kau, Adi,” desis Ki Tanu Metir itu.

“Ya, Kakang Tanu Metir. Aku. sekarang berada di kademangan ini.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sejenak kemudian ia berkata, “Syukurlah. Apakah kau sudah dibebaskan dari setiap persoalan?”

“Aku tidak tahu, Kakang. Tetapi aku mendapat kesempatan dan kepercayaan membantu Angger Widura di sini.”

Ki Tanu Metir masih mengangguk-anggukan kepalanya, Ketika ia berpaling dan memandangi wajah Widura, maka Widura itu pun menganggukkan kepalanya pula.

“Sudah berapa lama kau berada di tempat ini?” bertanya Ki Tanu Metir.

Tetapi sebelum ia menjawab, maka berkatalah Widura, “Marilah. Aku persilahkan Kiai masuk.”

“Marilah,” sambung Ki Demang. “Ah, maafkan. Aku hampir kehilangan akal ketika aku melihat gadisku kembali.”

Mereka pun segera masuk ke pringgitan. Ki Tanu Metir dengan kawannya berbicara, Agung Sedayu, Swandaru. Ki Demang Sangkal Putung, Widura, dan perwira yang datang dari Jati Anom, beserta beberapa orang lain.

Ketika mereka duduk di dalam pringgitan itu, mereka masih mendengar isak Nyai Demaug dan Sekar Mirah. Mereka mendengar pula beberapa perempuan bertanya-tanya tidak henti-hentinya, seperti berpuluh-puluh burung sedang berkicau bersama-sama.

Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Demang pun kemudian berkata, “Tidak ada kesenangan melampaui kesenanganku hari ini, Ngger. Ternyata anakku itu dapat aku ketemukan kembali.”

Tak ada yang menyahut, tetapi hampir semuanya menganggukkan kepala mereka.

“Aku harus mengadakan keramaian untuk menyambut anakku itu,” berkata Ki Demang kemudian. Tetapi Widura yang duduk di sampingnya agaknya mempunyai pendapat lain.

Sebagai seorang perwira yang memimpin prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung ia mempunyai pertimbangan-pertimbangan tentang keamanan dan keselamatan daerahnya. Keramaian dalam keadaan ini agaknya masih belum dapat disetujui oleh Widura.

Meskipun demikian Widura tidak segera memotong kata-kata Ki Demang yang dilanjutkannya, “Aku akan memotong kerbau dan sapi berapa saja diperlukan untuk menjamu seluruh penduduk Kademangan Sangkal Putung dan para prajurit yang berada di sini. Kegembiraan ini bukan saja kegembiraan buat keluargaku, tetapi juga kegembiraan seluruh rakyat Sangkal Putung. Meskipun kita tidak dapat menangani pembebasan Sekar Mirah itu sendiri, tetapi dengan demikian Sangkal Putung telah terlepas dari aib yang akan dapat menodai sepanjang umur kita, bahkan akan selalu dikenang oleh anak cucu kita bahwa kita pernah kehilangan seorang gadis tanpa berbuat sesuatu. Tetapi sekarang, atas bantuan beberapa pihak, Sekar Mirah telah terbebaskan. Aku harus menyatakan kegembiraan itu. Sebagai pernyataan terima kasihku, terutama kepada Yang Maha Kuasa, yang telah memperkenankan semuanya itu tenjadi.”

Dibiarkannya Ki Demang melimpahkan segala perasaannya. Widura mengerti, bahwa perasaan yang demikian itu tidak akan dapat ditahan-tahankannya. Apabila pelepasan perasaannya itu terdapat dikendalikan.

Tetapi agaknya Ki Demang telah merasa puas melepaskan kata-kata yang menyesak di dadanya. Orang tua itu pun kemudian terdiam.

Sejenak ruangan itu menjadi sepi, seperti sedang dijamah hantu. Masing-masing duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang di ruang dalam masih terdengar isak tangis Nyai Demang dan Sekar Mirah. Bahkan beberapa perempuan yang lain dan pelayan Sekar Mirah yang gemuk itu pun menangis pula. Lebih keras dari Sekar Mirah sendiri.

“Untung, bukan aku yang diambilnya,” tangis pelayan yang gemuk itu. “Seandainya aku maka aku pasti telah mati membeku.”

“Siapa yang mengambilmu itu?” bertanya suara yang lain.

“Seandainya, ya, seandainya saja yang diambil Sidanti itu aku, maka aku pasti akan mati di tengah jalan, selama aku dibawa ke sarang hantu itu.”

“Buat apa Sidanti mengambilmu?” terdengar suara lain pula.

Tiba-tiba perempuan yang gemuk itu. Menyadari dirinya. Sekar Mirah diambil karena kecantikannya. Karena itu maka jawabnya, “Tidak. Sidanti tidak akan mengambil aku. Tetapi seandainya orang lain pun yang mengambil, aku akan mati pula.”

“Tidak ada orang yang berpikir begitu gila untuk mengambilmu,” teriak Swandaru jengkel dari pringgitan. “Orang itu harus membawa gerobak untuk mengangkutmu.”

Pelayan yang gemuk itu terkejut. Ia tidak menyangka bahwa suaranya itu didengar oleh orang-orang yang duduk di pringgitan. Dengan demikian maka mulutnya pun segera terkatup. Bukan saja ia tidak berani berbicara lagi, tetapi tengisnya pun tiba-tiba terdiam pula.
Dan sejenak kemudian barulah Widura berkata, “Ki Demang. Aku akan senang sekali ikut menyelenggarakan keramaian itu. Para prajurit pun pasti akan senang sekali menerima rangsum yang jauh lebih baik dari rangsumnya sehari-hari. Apalagi apabila Ki Demang menyelenggarakan wayang beber semalam suntuk. Alangkah senangnya. Tetapi Ki Demang, aku kira kita harus mempertimbangkan waktu. Kapan saja keramaian itu dapat diadakan, sesudah kita pasti bahwa keramaian itu tidak akan terganggu.”

Wajah Ki Demang tiba-tiba menjadi berkerut-merut, Perlahan-lahan ia bergumam, “Ya, ya. Benar. Aku melupakan keadaan terakhir di kademangan ini. Setelah beberapa saat kami bebas dari ketakutan dan kegelisahan, tiba-tiba suasana yang demikian itu kini dimulai lagi.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Ya. Itu harus dipertimbangkan. Tamu-tamu kita ini pun harus tahu keadaan kita di sini.”

“Aku sudah mendengar,” sahut perwira yang datang dari Jati Anom.

“Dari siapa kau mendengarnya?”

“Dari para peronda yang aku temui di luar induk kademangan.”

“Begitulah keadaan kami di sini,” berkata Widura. “Aku sudah berusaha untuk mencari sebab dari kematian dan hilangnya beberapa orang peronda. Tetapi aku belum menemukannya.”

“Kau akan segera mengerti,” sahut perwira itu. “Aku ingin mendapat kesempatan untuk menyampaikan pesan Ki Untara kepadamu, Kakang Widura.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada orang lain di sini. Katakanlah.”

Perwira itu menebarkan pandangan matanya berkeliling. Seolah-olah ingin mengenal setiap orang yang ada di dalam pringgitan itu. Kemudian dipandanginya pintu yang terbuka, yang menghubungkan ruangan itu dengan ruangan dalam.

“Apakah perempuan-perempuan itu tidak boleh mendengarnya?” bertanya Ki Demang Sangkal Putung.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Sebenarnya tidak ada keberatannya, tetapi apakah berita ini dapat membuat mereka gelisah dan orang-orang di seluruh kademangan ini menjadi gelisah, itulah soalnya.”

“Tutuplah pintu itu, Swandaru,” berkata Ki Demang. “Kalau Angger berbicara tidak terlampau keras mereka tidak akan mendengar.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sama sekali bukan rahasia,” katanya. Tetapi ia terdiam lagi. Memandanginya seorang yang rambutnya sudah memutih yang duduk di samping Ki Tanu Metir.

Rasa-rasanya ia pernah melihat orang itu, tetapi perwira itu tidak dapat lagi mengingatnya, kapan dan di mana. Sejak ia datang ke Sangkal Putung untuk menggabungkan diri pada Untara, maka ia tidak melihat orang itu.

“Apakah ia orang kademangan ini yang pada saat aku singgah di sini sebelum aku berangkat ke Jati Anom kebetulan tidak ikut menemui prajurit-prajurit Pajang di sini?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Tetapi kemudian dibantahnya sendiri, “Bukan, pasti bukan. Ia bukan sekedar orang kademangan. ini. Sorot matanya adalah sorot mata yang terlampau tajam dan dalam.”

Agaknya Widura melihat keragu-raguan perwira itu, sehingga dengan demikian maka ia perlu bertanya kepada perwira itu, “Apakah kau belum pernah melihatnya?”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan dijawabnya dengan jujur, “Aku merasa pernah mengenalnya, tetapi di mana dan kapan aku tidak ingat lagi.”

“Aku kira kau memang pernah melihatnya. Di Jipang barangkali?”

Perwira itu mencoba mengingat-ingat. Sebelum pecah perang yang sama-sama tidak dikehendaki itu, antara Pajang dan Jipang, ia memang pernah pergi ke Kadipaten Jipang, menjadi salah seorang pengawal Ki Gede Pemanahan.

“Apakah orang ini orang Jipang, dan kenapa ia berada di sini?” pertanyaan itu tumbuh pula di dalam hatinya. “Sayang aku tidak sempat melihat orang-orang Jipang yang menyerah sebelum aku bertugas di sini itu. Mungkin orang ini salah seorang daripadanya.”

Orang tua yang sedang dipercakapkan itu sendiri hanya tersenyum-senyum saja. Sekali ia menengadahkan wajahnya dan sekali-sekali kepalanya ditundukkannya.

“Kau masih. belum ingat?” bertanya Widura.

Perwira itu menggelengkan kepalanya, “Belum.”

“Nah, Kiai. Cobalah memperkenalkan dirimu kepada utusan Untara ini. Sebab kelak Untara-lah yang akan menerima Kiai di sini secara resmi.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dalam nada yang datar, “Ya, Ngger. Aku memang termasuk salah seorang dari Kadipaten Jipang. Mungkin Angger memang pernah melihat aku.”

Perwira ilu mengangguk-angguk pula.

“Seperti barangkali Angger pernah juga melihat Ki Tambak Wedi di Kepatihan Jipang, karena Ki Tambak Wedi pun termasuk salah seorang kawan dari Ki Patih Mantahun.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dari keterangan itu ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang tua ini pun adalah salah seorang kawan Ki Patih Mantahun. Patih yang hampir-hampir tidak ada lawannya itu. Untunglah bahwa Pajang juga memiliki orang-orang yang mampu mengimbangi kekuatan dan kesaktian ki Patih Mantahun.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 17 Oktober 2008 at 04:38  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-28/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. jilid 30 dan 40 boleh deh .. booking dulu

  2. “Bahkan kemarin saya mendapat kiriman hasil retyping Jilid 23-25 komplit dari Adhimas RAHARGA.”

    berhubung jilid 25 ternyata sudah diretype komplit, maka kaplingan saya beberapa waktu yang lalu [retype hal 27-36] otomatis batal. salam.

  3. Bravo….ADBM
    malu rasanya diriku… cuman jadi pembaca saja.
    aku siap bantu mengconvert djvu ke doc untuk jilid 28… (hari ini bisa jadi), klo dah jadi tak kirim kemana?

    D2: Kirim ke imelku. Cek imel Anda setelah pesan2 berikut.

  4. Kang D2

    konvertan jilid 28 dah tak emailke

  5. Mas EDED,
    saya ada jilid 1-10 yang dulu dikirim mas rizal, lengkap dengan gambar ilustrasi dalam buku, tapi tanpa cover. Apa jilid ini sudah selesai dikerjakan teman2? jika sudah ya syukur banget, tapi jika belum akan saya upload.
    Dimana ya bisa download software converter djvu to text?
    Aku cari di google search engine, adanya yang shareware mulu. saya maunya yang gratisan
    tetap semangat
    suwun

    EDED: Jilid 1-10 yg ada disini juga cuma kopi-paste dari blognya Mas Rizal. Ilustrasinya kurang lengkap memang. Tolong Mas Ubaid cek dulu perbedaannya. Kalau signifikan, boleh nanti filenya dikirim ke imelku. Yang punya konverter djvu itu Rakamas JEBENG. Gimana Mas JEBENG?

  6. Mas Said, dapat software djvu to word dari mana? Bagi dong

  7. ohm….
    spertinya ada sedikit yang kurang sreg di hati saya ohm. barusan saya tengok di penayangan buku/jilid 20, kok ga ada gambar atau ilustrasinya ohm (gambar alur cerita bukan gambar covernya), padahal dengan adanya gambar itu, kita bisa membayangkan kejadian atau keadaan di masa lampau… meskipun ini hanya sebuah cerita.. selain itu kita juga bisa menghargai sebuah karya lukis orang yang melukisnya…
    sepertinya kurang lengkap ohm kalo ga ditampilkan ilustrasinya…

    maap lho ohm… ini sekedar uneg2 ing ati..

    salam

    D2: Dari file DJVU, gambar ilustrasinya menjadi sangat kabur. Jadi saya tunda gambarnya. Saya sadang berusahan mendapatkan gambar2 itu yang bagus. Kalau nggak dapat ya pa boleh buat.

  8. Untuk Bung Ubaid dan adbm-er lain jika ingin download software converter djvu ke text liat di komentar adbm buku 24

  9. Sederek MODERATOR, mau urun lagi hasil editan sampai hal 41, tolong cek email panjenengan

    D2: Sudah kami terima Anakmas Gaza. Suwun. Jilid 27 gak diteruskan aja???

  10. mulai jilid 19 dst dan sudah dijadikan text, sisipan gambar disetiap jilid sekarang tidak ditampakkan. Saya kira lebih bagus ditampakkan, menambah daya imajinasi peristiwa yang sesungguhnya terjadi disetiap jilid.

  11. @Moderator
    Yang dimaksud dengan PROOFING itu proses yang gimana sih ?
    Retype jilid 28 selanjutnya sudah selesai belum ? Klo belum bisa saya kirim sisanya.
    Maturnuwun info dan penjelasannya.

    D2: Jawaban dikirim ke imel Anda. Lanjutan Buku 28, kalau sudah diretype, boleh dikirim ke imel, tetapi kalau belum tidak usah diretype lagi.

  12. Sesuai janji, proof buku 28 sudah dikirim ke DD. Mohon komentar kualitasnya untuk perbaikan ke depan.

    D2: Sudah saya terima. Komentar akan dikirim, ASAP.

  13. DD: Teks Buku 28 sudah selesai diaplod. Silahkan bergeser ke jilid 32 atau 33

    AGUNG SEDAYU menarik nafas dalam-dalam. “Dengar Mirah Kau akan kepanasan. Sebaiknya kita duduk sebentar digardu itu. Aku dapat mengurus apa yang harus kita lakukan. Aku akan mencari Kakang Untara.”
    “Tidak perlu, Kakang. Kita tamu di sini. Kita tidak perlu mencari orang untuk mempersilahkan kita. Kalau kita tetap di sini dan tetap tidak seorang pun yang mempersilahkan kita, maka lebih baik kita kembali hari ini ke Sangkal Putung. Ayahkupun seorang Demang seperti pemimpin tertinggi Kademangan ini.”
    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya perlahan-lahan dan hati-hati “Angger Sekar Mirah. Jangan merajuk. Suasana peperangan adalah seperti ini. Kedatangan Angger Agung Sedayu di Sangkal Putung juga disambut dengan perang tanding. Hal-hal serupa ini memang sering terjadi. Dan kitalah yang harus menyesuaikan diri.”
    “Tetapi sama sekali bukan permintaan kita untuk datang minta perlindungan ke Jati Anom. Kehadiran kita di sini sama sekali bukan atas kehendak kita sendiri.”
    “Ya Ngger, Angger benar. Tetapi sebaiknya kita juga dapat mengerti“ Ki Tanu Metir itu berhenti seyenak. Dan bukankah Angger Agung Sedayu di sini sama sekali bukan tamu? Ia adalah salah seorang dari tuan rumah. Angger Agung Sedayu dapat mempersilahkan kita, setidak-tidaknya singgah sebentar dirumahnya.”
    “Oh“ Agung Sedayu seolah-olah tersedar dari angan-angannya ”baiklah. Marilah, aku persilahkan Kiai dan adi Swandaru serta Sekar Mirah untuk singgah dirumah.
    Swandaru berdiri saya seperti patung. Hatinya memang dibingungkau oleh keadaan disekitarnya. Ia dapat mengerti keterangan Ki Tanu Metir, tetapi ia merasa seperti yang dirasakan oleh adiknya.
    Sesaat mereka menjadi termangu-mangu. Sekar Mirah sama sekali tidak beringsut dari tempatnya, disamping pagar halaman Kademangan, di bawah sebatang pohon nyiur.
    “Marilah, rumahku tidak begitu jauh.” Agung Sedayu mempersilahkan sekali lagi. Tak ada jawaban. Sekar Mirah sama sekali tidak berkisar. Bahkan berpalingpun tidak. Sedang Swandaru masih juga berdiri termangu-mangu.
    Agung Sedayu kemudian menjadi gelisah. Setiap kali dipandanginya wajah gurunya yang berkerut-merut. Tetapi agaknya Ki Tanu Metirpun belum menemukan sikap yang sebaik-baiknya menghadapi keadaan.
    Dalam ketegangan itu tiba-tiba terdengar seseorang menyapa “He, Agung Sedayu. Kenapa kau berdiri saya di situ?”
    Agung Sedayu berpaling. Dilihatnya seorang anak muda berjalan menemuinya.
    “Untara berada digandok Wetan berkata anak muda itu.”
    Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku datang bersama tamu-tamu ini.”
    Anak muda itu memandangi mereka satu demi satu. Swandaru dan Ki Tanu Metir serasa pernah dilihatnya. Tetapi gadis ini sama sekali belum.
    “Kenapa tidak kau persilahkan mereka masuk?“ berkata anak muda itu.
    “Kalianlah yang harus mempersilahkannya.“
    Pemuda itu menjadi ragu-ragu sejenak. Lalu katanya “Marilah kegandok Wetan. Disana akan kalian temui Untara dan anak-anak muda yang lain.”
    “Apakah mereka sedang berunding, atau membicarakan hal yang penting?”
    “Tidak, kami, anak-anak muda Jati Anom sedang menjamunya sebagai pernyataan terima kasih kami. Marilah.”
    Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah Sekar Mirah yang menjadi kemerah-merahan karena panas matahari yang serasa membakar halaman itu.
    Tetapi Agung Sedayu tidak segera mengajaknya memenuhi permintaan anak muda Jati Anom yang mempersilahkan mereka. Ia masih ragu-ragu melihat wajah Sekar Mirah yang seakan-akan acuh tidak acuh.
    Ki Tanu Metir melihat keragu-raguan itu. Orang tua itu mengangguk-angguk kecil. Disini ia melihat berbagai perangai anak-anak muda yang berbeda-beda. Yang diantaranya tanpa sengaja telah menyinggung perasaan masing-masing.
    Orang tua itu melihat watak Untara sebagai seorang Senapati muda. Seakan-akan anak itu memamg dilahirkan untuk menjadi seorang Senapati yang keras dan mengikat diri dalam kuwajibannya. Setiap saat dikaitkannya dengan pendiriannya sebagai seorang Senapati.
    Adiknya, meskipun perkembangan sifatnya telah membentuk menjadi seorang Agung Sedayu yang sekarang, tetapi ia masih selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Anak itu belum dapat meyakini dirinya dalam suatu pendirian. Ia masih selalu memerlukan orang lain untuk memperkuat pendapatnya. Ia masih memerlukan orang lain untuk memperbincangkan setiap pikirannya. Pengaruh kakaknya sebagai seorang anak laki-laki yang jantan.
    Sedang muridnya yang lain, Swandaru adalah seorang yang hampir tidak mengacuhkan apapun kecuali kesenangannya sendiri. Meskipun demikian, anak muda itu kadang-kadang berhasil juga melihat suasana dalam menentukan langkahnya. Namun setiap kali sifat-sifatnya itu lepas juga dalam peledakan-peledakan yang sering terlampau aneh, terlampau berpusar pada kepentingan dan selera sendiri.
    Sedang Sekar Mirah adalah seorang gadis yang tinggi hati. Kehidupannya sebagai seorang putri Demang yang kaya didaerah yang kaya telah membuatnya terlampau manja. Meskipun gadis itu bukan gadis yang hanya duduk menghias diri, bahkan gadis itu tidak segan-segan pula melakukan pekerjaan-pekerjaan yang cukup berat dirumahnya, tetapi semuanya itu didorong oleh kehendak untuk memimpin gadis-gadis dan perempuan-perempuan didalam Kademangan itu. Ia ingin memberikan contoh yang baik bagi mereka, apakah yang harus mereka lakukan. Namun setiap sentuhan perasaan telah membuatnya merajuk dan murung.
    ”Hem“ Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali ia harus menilai keseimbangan sifat-sifat itu. Setiap kali ia harus melihat dan melengkapi pengamatannya atas anak-anak muda itu sungguh-sungguh. Agung Sedayu dan Swandaru. Keduanya adalah murid-muridnya.
    Atas keduanya ia harus melihat dengan jelas. Sifat, watak, kebiasaan dan kesenangan masing-masing.
    “Sekian lama aku berada di antara mereka” berkata orang tua itu didalam hatinya “tetapi aku belum menemukan pribadi-pribadi mereka selengkapnya.“
    Dalam pada itu sekali lagi mereka mendengar anak muda Jati Anom mempersilahkan “He, Agung Sedayu, kenapa kau justru termenung. Mariiah. Ajak tamu-tamumu masuk kegandok wetan. Untara dan Wuranta berada di sana pula.”
    Sekali lagi Agung Sedayu berpaling memandangi wajah Sekar Mirah. Ia ragu-ragu untuk mengucapkan kata-kata, karena Sekar Mirah masih juga bersikap acuh tak acuh.
    Ketika Agung Sedayu memandangi wajah Swandaru, dilihatnya keragu-raguan memancar pula pada sorot matanya. Tetapi anak yang gemuk itu tidak terlampau membingungkannya seperti Sekar Mirah.
    Untara dan Wuranta menunggumu “berkata anak muda Jati Anom itu pula.
    Nama Wuranta telah nienggetarkan dada Agung Sedayu. Tetapi ia lebih terpengaruh oleh keadaan Sekar Mirah kini.
    Ki Tanu Metir melihat kegelisahan didalam dada Agung Sedayu kemudian mencoba untuk nienolongnya. Katanya “Marilah Ngger. Kita sudah dipersilahkan. Adalah lebih baik bagi kita untuk menerimanya. Kita adalah tamu-tamu yang baik.”
    “Anak muda itu tidak mempersilahkan kita Kiai “bisik Sekar Mirah, yang berdiri tepat disamping Ki Tanu Metir.
    “Kenapa?“
    “Ia hanya mengatakan bahwa Untara mencari adiknya. Itu saja. Adalah kebetulan sekali kalau kita berdiri disini bersama-sama dengan Kakang Agung Sedayu. Adalah sekedar sopan santun saja ia mempersilahkan kita pula.”
    “Tidak ngger. Tentu tidak. Angger Untara tahu pasti bahwa kita berada di antara mereka. Kita bersama-sama dengan Angger Agung Sedayu. Mungkin anak muda itu belum mengenal kita. Yang dikenalnya baru nama Agung Sedayu.”
    Anak muda Jati Anom itu berdiri saya dengan mulut ternganga. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dipercakapkan oleh gadis dan orang tua tamu-tamu Agung Sedayu itu. Satu dua ia mendengar desis gadis itu, tetapi ia tidak jelas mendengar seluruh kalimatnya.
    Tanpa prasangka apapun anak muda itu bertanya “Bagaimana Kiai?”
    “Oh“ Ki Tanu Metir mengangkat wajahnya yang berkerut-merut “Tidak apa-apa anakmas. Kita akan berterima kasih. Kita akan segera pergi kegandok wetan.”
    “Terima kasih. Mereka akan bergembira melihat kalian.”
    “Marilah, marilah kita kegandok wetan” berkata Ki Tanu Metir itu kemudian sambil melangkahkan kakinya.
    “Silahkan, silahkan berkata anak muda Jati Anom itu. Tetapi agaknya ia akan pergi kearah yang lain. Cepat Ki Tanu Metir melangkah kesampingnya sambil menggandengnya. Katanya ”Bukankah Angger akan menunjukkan kepada kami, dimanakah letak gandok wetan itu.”
    Anak muda Jati Anom itu tidak dapat berbuat lain daripada mengayunkan kakinya kegandok wetan. Sementara itu Agung Sedayu yang ragu-ragu, memandangi Sekar Mirah dan Swandaru berganti-ganti. Perlahan-lahan ia berkata “Marilah adi Swandaru, marilah Mirah.”
    Ternyata Swandaru dapat merasakan kegelisahan dan kebingungan Agung Sedayu. Meskipun sebersit perasaan sesal meloncat pula didalam hatinya atas perlakuan terhadap mereka, namun, Ia berkata pula kepada adiknya “Marilah Mirah. Kita harus menjadi tamu yang baik di Kademangan ini. Supaya hubungan antara Kademangan ini dan Kademangan kita kelak akan bertambah baik.”
    Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dan Swandaru mendesaknya lagi ”Penilaian orang-orang Jati Anom atas kita adalah penilaian mereka terhadap Sangkal Putung.
    ”Karena itu kita harus mempunyai harga diri.”
    “Tetapi kita harus mencerminkan keramahan Kademangan kita?.”
    Sekar Mirah tidak dapat menolak lagi. Dengan langkah yang berat ia berjalan dibelakang Agung Sedayu, bersama-sama dengan kakaknya. Beberapa langkah dihadapan mereka adalah Ki Tanu Metir yang berjalan bersama anak muda Jati Anom yang mempersilahkan mereka kemudian masuk kegandok.
    Anak-anak muda, Untara dan Wuranta yang berada digandok itu, ternyata sedang menikmati makanan yang dihidangkan kepada mereka. Sekali-sekali terdengar gelak tertawa mereka. Agaknya mereka sedang benar-benar bergembira. Mereka berkelakar dan bertanya tentangnya banyak masalah kepada Untara dan Wuranta. Dalam keadaan yang demikian, Wuranta dapat sejenak melupakan perasaannya sendiri. Ia kini tengah berada diantara kawan-kawannya bermain dan bekerja. Itulah sebabnya maka ia dapat berceritera dengan lancar. Bahkan kadang-kadang menggelikan, sehingga kawan-kawannya menjadi tertawa tergelak-gelak.
    Tetapi suara tertawa itu terputus ketika mereka mendengar langkah kepintu. Sejenak kemudian meteka melihat seorang anak muda masuk sambil mempersilahkan tamu-tamu mereka.
    ”Siapa?“ bertanya salah seoraag yang sudah duduk didalam.
    “Agung Sedayu“ jawab anak muda yang baru masuk itu.
    “He“ yang bertanya itu terkejut “Agung Sedayu? Marilah. Marilah. Kita hampir lupa kepadamu Sedayu, disini kami sedang mendengarkan cerita Wuranta tentang padepokan Tambak Wedi.”
    Agung Sedayu yang kemudian menjulurkan kepalanya mengerutkan keningnya. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya kawan-kawannya tengah berkumpul digandok itu bersama kakaknya dan Wuranta.
    Namun tiba-tiba dadanya berdesir. Kini ia melihat Wuranta dengan sudut pandangan yang berbeda. Persoalan antara mereka berdua telah menjauhkan mereka. Seolah-olah masing-masing menjadi segan dan malas untuk saling bertemu. Meskipun ia telah mendengar dari Kiai Gringsing, betapa Wuranta telah menyadari dirinya, tetapi masih juga terasa sesuatu yang berdesir didalam dadanya.
    Agung Sedayu itu terperanjat ketika tiba-tiba seseoraug menariknya masuk kedalam sambil berkata “Ha, inilah anak itu. Kau telah menggemparkan Jati Anom, Sedayu. Kita mengenal kau sejak anak-anak. Tiba-tiba kita melihat kau kini menjadi seorang raksasa yang perkasa. Bakankah begitu?”
    “Ah.”
    “Ceriterita tentang kau telah tersebar. Aku tidak tahu, siapakah sumber cerita itu. Kau kini benar-benar seorang laki-laki melampaui kami.”
    Sebelum Agung Sedayu menyahut, terdengar orang berkata “Ya, kami telah mendengar tentang kau Sedayu. Kalau begitu maka sambutan kali ini kami tujukan kepadamu juga. Marilah, kenapa baru sekarang kau datang kemari? Untunglah kami masih mempunyai ingkung ayam yang masih utuh. Marilah.”
    Tetapi Agung Sedayu tidak sendiri. Ketika Untara melihatnya, maka dahinyapun berkerut. Baru saat itu ia ingat kepada adiknya. “Kemana selama ini kau Sedayu?” bertanya Untara.
    “Dihalaman Kakang“ jawab Agung Sedayu seadanya.
    Untara mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak memperhatikan jawaban itu lagi. Tak ada tempat didalam hatinya untuk mengerti bahwa seseorang sedang merajuk.
    “Masuklah” katanya kemudian”dimana yang lain”.
    “Inilah Kakang.”
    Untara kemudian terpaksa berdiri dan melangkah kepintu. Diluar pintu dilihatnya Ki Tanu Metir, Swandaru dan Sekar Mirah.
    “Marilah Kiai “ katanya mempersilahkan ”marilah adi Swandaru dan Sekar Mirah.”
    Ketiganya menganggukkan kepala mereka.
    “Aku takut kehilangan kau Ngger“ berkata Ki Tana Metir sambil tersenyum.
    Sekali lagi Untara mengerutkan keningnya. Kini ia menjawab dengan jujur “Maaf. Aku lupa kepada kalian. Bagitu aku masuk kehalaman ini, maka aku telah diseret oleh anak-anak muda ini kegandok wetan. Sekarang marilah. Kami masih menyediakan makanan untuk Kalian.”
    Merekapun kemudian masuk kegandok itu. Mereka ikut duduk diantara anak-anak muda Jati Anom, Untara dan Wuranta.
    Sejenak kemudian maka kembali anak-anak muda Jati Aaom ribut dengan berbagai pertanyaan. Kini pusat perhatian mereka adalah Agung Sedayu. Mereka telah mendengar sedikit tentang anak muda yang mereka kenal sebagai penakut itu, kini tiba-tiba telah menggenggam keberanian yang mentakjubkan.
    Namun terasa bahwa suasana digandok itu menjadi semakin kaku. Wuranta sudah tidak banyak lagi berbicara, dan Agung Sedayupun hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu seperlunya. Sekali-sekali ia tersenyum, namun kemudian iapun terdiam pula. Untunglah bahwa Ki Tanu Metir telah berhasil menengahi keadaan. Ia mencoba untuk mengisi kekosongan itu dengan berbagai macam cerita, yang justru lucu-lucu sehingga gelak tertawa mulai menggetarkan gandok itu pula.
    Namun dalam suasasana yang demikian itu, keringat dingin mengalir dipunggung Wuranta. Terasa ruangan itu terlampau menyiksanya. Wajah Sekar Mirah itu serasa sebagai duri yang menusuk-nusuk hatinya. Sejenak dikenangnya masa-masa ia pertama sekali bertemu dengan gadis itu. Gadis itu tersenyum kepadanya dan Alap-Alap Jalatunda, serta berkata-kata dengan ramahnya. Kemudian pada saat ia menerima pesan Alap-alap Jalatunda untuk disampaikan kepada gadis itu, maka senyum gadis itu seakan-akan telah meremas jantungnya. Hampir tidak masuk diakalnya, bahwa pada saat itu Sekar Mirah berkata kepadanya tentang Alap-alap Jalatunda ”Aku menunggunya.”
    “Ternyata gadis itu pun mampu berpura-pura“ desisnya didalam hati ”Agaknya ia telah menyusun rencana sebaik-baiknya, menjebak Alap-alap Jalatunda untuk melarikannya dari padepokan itu, dan menjerumuskannya kedalam Kademangan Sangkal Putung. Tetapi betapapun juga gadis itu telah membuat aku hampir kehilangan akal dan keseimbangan.”
    Tetapi ternyata wajah itu kini sama sekali tidak membayangkan senyum. Bahkan wajah Sekar Mirah tampak berkerut-merut. Agaknya ada sesuatu yang tidak menyenangkah hatinya.
    “Apakah ia tidak senang melihat kehadiranku disini “pertanyaan itu sekilas menyambar hati Wuranta. Tetapi ia tidak mendapat jawabnya.
    Gandok itu sejenak kemudian menjadi sunyi. Anak-anak muda Jati Anom, Untara dan yang lain-lain lagi sedang melanjutkan menyuapi mulut-mulut mereka. Sedang Agung Sedayu, Swandara, Sekar Mirah dan Kiai Gringsing dipersilahkan pula oleh mereka untuk makan. Namun dengan kehadiran beberapa orang tamu itu, mereka kini tidak lagi makan sambil berkelakar.
    Hari itu terasa oleh Sekar Mirah menjadi terlampau panjang. Ketika kemudian malam datang perlahan-lahan seolah-olah turun dari ujung Gunung Merapi, maka Agung Sedayu mendapat ijin dari kakaknya untuk membawa tamu-tamunya bermalam dirumahnya.
    ”Kita masih menunggu sehari dan semalam besok “gumam Sekar Mirah “aku tidak sabar lagi. Hari-hari terakhir ini terasa sangat menyiksa. Aku ingin segera pulang.”
    “Beberapa hari kita menunggu untuk malam besok ngger” sahut Ki Tanu Metir “dan kini tinggal sehari dan semalam. Kita sebaiknya menunggunya.”
    Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi tampaklah wajahnya menjadi semakin suram. Namun Ki Tanu Metirpun dapat mengerti pula. Betapa perasaan rindu mengamuk didalam dada gadis itu kapada ibu dan ayahnya.
    Betapa lambatnya, tetapi akhirnya malam itu terlampaui juga. Malam yang mendatang, Jati Anom disegarkan dengan berbagai macam kata-kata sanjungan terhadap mereka yang dianggap telah berhasil memunpas lawan-lawan mereka yang bersarang dipadepokan Tambak Wedi.
    Ternyata malam itu benar-benar telah melepaskan segenap ketegangan bagi para prajurit Pajang. Mereka tertawa gembira dalam kelakar mereka dengan kawan-kawan mereka. Mereka menjadi terpesona melihat gerak tari anak-anak gadis Jati Anom meskipun tidak sebaik penari-penari Pajang. Mereka bersorak-sorak dan berteriak-berteriak seperti anak-anak kecil. Sejenak mreka melupakan keadaan diri mereka masing-masing.
    Tetapi malam yang riuh itu sama sekali tidak memikat hati Sekar Mirah. Namun ditahannya perasaannya itu didalam hati. Kali ini ia duduk menonton tidak bersama-sama kakaknya, Agung Sedayu dan Ki Tanu Metir, tetapi ia duduk bersama-sama dengan perempuan-perempuan Kademangan. Isteri pemimpin-pemimpin Kademangan.
    Lebih menjemukan lagi bagi Sekar Mirah, bahwa setiap kali ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh perempuan-perempuan itu. Beraneka macam. Dari yang paling mudah sehingga yang paling sulit untuk dijawab.
    Ketika pertunjukan itu hampir selesai ditengah malam, serta mereka telah menyelesaikan pula acara makan bersama, maka malam yang menyenangkan itu mendekati pada akhirnya.
    Sementara itu, para penjaga digardu-gardu masih tetap pada tugas masing-masing meskipun mereka mengmmpat-umpat. Suara gamelan yang menggelitik telinga mereka membuat mereka ingin meloncat meninggalkan gardunya dan berlari kekademangan. Tetapi mereka diikat oleh kuwajiban.
    Namun kejengkelan mereka terhibur ketika beberapa orang gadis datang kegardu-gardu itu sambil membawa ancak berisi makanan. Dengan ramah gadis itu memberikan ancak-ancak itu kepada para penjaga.
    “He nduk, apakah kalian pergi tanpa pengantar?”
    “Apakah yang kami takutkan?“ jawab gadis-gadis itu.
    ”Bagaimana kalau hantu-hantu lereng Merapi itu menyusup kedalam kademangan ini dan menyergap kalian didalam gelap.
    “Kami akam berteriak.”
    “Kalau mulut kalian disumbat?”
    “Salah seorang dari kami pasti sempat berteriak, Dengan demikian kalian akan berlari-lari menolong kami.”
    “Tidak mau, aku dan kawan-kawanku tidak akan menolong kalian.”
    “Kenapa?”
    “Apa upahnya?“ bertanya seorang prajurit muda.
    “Apa saya yang kau ingini“ jawab gadis yang gemuk.
    “Oh“ prajurit muda itu menarik nafas dala-dalam “aku tidak ingin apa-apa, supaya aku tidak menjadi pingsan memikirkannya.”
    Kawan-kawannya tertawa. Meskipun ditahankannya, tetapi gadis-gadis itu tertawa pula.
    Akhirnya malam yang gembira itu berakhir pula. Namun malam itu sama sekali tidak berkesan apa-apa bagi Sekar Mirah, sebab ia selalu dicengkam oleh kerinduannya kepada ayah dan ibuny di Sangkal Putung.
    Bahkan malam itu terasa jauh lebih panjang dari malam-malam yang dirasanya sudah terlampau panjang.
    Ketika semuanya sudah selesai, maka Sekar Mirah dengan tergesa-gesa kembali kerumah Agung Sedayu bersama dengan Ki Tanu Metir, Swandaru dan Agung Sedayu. Seolah-olah ia ingin mempercepat agar malam inipun lekas berakhir. Besok jika fajar menyingsing, maka akan berangkat dari Kademangan Jati Anom kembali pulang kepada ayah bunda di Sangkal Putung.
    Demikianlah ketika fajar telah mengembang, maka cepat-cepat Sekar Mirah pergi keperigi. Tetapi Swandaru berkata kepadanya “Mirah, semalam suntuk kau tidak dapat memejamkan mata. Bahkan malam-malam sebelum inipun kau selalu kurang tidur. Karena itu kau jangan mandi.“
    Sekar Mirah mengangguk. Tetapi ia pergi juga keperigi untuk mandi.
    Sementara itu Agung. Sedayu telah pergi ke Kademangan. Ia ingin menyampaikan kepada kakaknya, bahwa nanti Ki Tanu Melir, Swandaru dan Sekar Mirah akan datang untuk minta diri.
    “Mereka akan pergi ke Sangkal Putung hari ini.“ berkata Agung Sedayu.
    Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja terasa sesuatu bergetar didadanya. Terasa bahwa pada saat-saat terakhir Ki Tanu Metir banyak tidak menyetujui sikapnya tentang berbagai hal. Sebenarnya Untara sama sekali tidak ingin untuk menyakiti hati orang tua itu, atau setidak-tidaknya niembuatnya kurang senang.
    Tetapi Untarapun tidak ingin melepaskan beberapa pendiriannya Bahkan masalah Agung Sedayu itu pun sebenamya tidak diterimanya sepenuh hati.
    ”Baiklah“ berkata Untara itu kemudian “aku akan menerimanya. Aku akan menyiapkan pengawalan bagi Sekar Mirah.
    “Kami akan mengantarkan Sekar Mirah bertiga kakang.”
    “Aku tahu“ sahut Untara “aku bahwa kaupun akan pergi juga ke Sangkal Putung seperti katamu dan Ki Tanu Metir. Tetapi aku tidak mau menanggung akibat yang pahit bagi kalian dan Sekar Mirah. Aku tidak yakin bahwa Ki Tambak Wedi telah meninggalkan daerah ini, dan aku tidak yakin bahwa tidak ada satu dua orang yang masih mengikutinya. Karena itu, maka aku akan menyediakan sejumlah prajurit untuk mengikuti kalian sampai ke Sangkal Putung.”
    Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab kakaknya sudah berkata pula “Jangan terlampau sombong. Aku tahu, bahwa prajurit-prajurit itu akan memperkeci arti perjuanganmu membebaskan Sekar Mirah. Dengan demikian kau tidak datang menyerahkan Sekar Mirah dengan tanganmu sendiri, tetapi seolah-olah kau telah mendapat bantuan dari prajurit-prajurit itu, sehingga bukan kau seorang sajalah pahlawan yang mengagumkan dimata Ki Demang Sangkal Putung.”
    Terasa dada Aguag Sedayu berdentangan ia menyadari bahwa kakaknya kini benar-benar tidak dapat menerima hubungan yang terjadi antara dirinya deng Sekar Mirah. Alasan-alasan yang semula hanya sekedar dikemukakan untuk melerai keadaan yang kurang baik antara dirinya dan Wuranta ternyata kemudian telah diyakini kebenarannya oleh kakaknya. Agaknya ia dapat menerma pendapat Ki Tanu Metir tidak sebulat hatinya.
    Tetapi ia tidak dapat membantah. Perlahan-lahan ia menjawab “Baiklah Kakang.” Akan aku minta pertimbangan Ki Tanu Metir.“
    “Kau beritahukan saya keputusan ini kepada Ki Tanu Metir.”
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Baik Kakang.”
    Agung Sedayupun kemudian kembali kerumahnya untuk menjemput Swandaru, Sekar Mirah dan Ki Tanu Metir. Ternyata gadis itu hampir-hampir tidak sabar menunggunya.
    “Kenapa kita masih harus singgah di Kademangan?“ bertanya Sekar Mirah.
    “Kita minta diri kepada Kakang Untara“ jawab Agung Sedayu.
    Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi alisnya menjadi berkerut. Hai itu bagi Sekar Mirah hanya akan membuang waktu saya.
    “Kakang Untara akan menyediakan pengawalan“ berkata Agung Sedayu pula.
    Ki Tanu Metir berpaling kepadanya “Apakah pengawalan itu perlu sekali?“ desisnya.
    “Menurut Kakang Untara hal itu perlu dilakukan, karena Kakang Untara masih mempertimbangkan kemungkinan, bahwa ada orang-orang Jipang dan Tambak Wedi yang masih berkeliaran dan bergabung dengan Ki Tambak Wedi.”
    Kiai Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Baiklah, kita akan berterima kasih.”
    Mereka berempatpun kemudian pergi ke Kademangan. Mereka menemui Untara, Ki Demang Jati Anom dan para pemimpin prajurit Pajang dan Kademangan itu yang lain.
    Ki Tanu Metirpun kemudian minta diri kepada mereka, dan dengan berat orang-orang kademangan itu terpaksa melepasnya. Mereka menyadari bahwa orang tua yang selalu trrsenyum-senyum itu adalah satu-satunya orang diantara mereka yang hanya seorang diri dapat mengimbangi Ki Tambak Wedi. Tetapi kesan kepergian Swandaru, Sekar Mirah dan Agung Sedayu hampir-hampir tidak menyentuh perasaan mereka. Hal yang demikian adalah hal yang wajar dan tidak menumbuhkan banyak persoalan di antara mereka.
    Namun ada di antara mereka, orang-orang yang berada di Kademangan itu merasa hatinya seolah-olah terpecah-belah. Meskipun ia tidak mengucapkan sepatah apapun, namun tampak pada bintik-bintik keringat dikeningnya, bahwa ia sedang menahan hati. Bahkan sebelum pertemuan itu selesai sebelum Kiai Tanu Metir yang minta diri itu meninggalkan ruangan, maka anak muda itu, Wuranta telah berdiri dan melangkah keluar lewat tangga samping.
    Melihat kepergian Wuranta, Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu bergerak didalam dadanya. Debar jantungnya menjadi bertambah cepat.
    Tetapi ia tidak berbuat sesuatu. Dicobanya untuk menentetamkan hatinya. Meskipun demikian terasa keringatnya menjadi semakin deras membasahi bajunya.
    Ki Tanu Metir temyata tertarik juga melihat sikap Wuranta. Tetapi seperti Agung Sedayu, iapun sama sekali tidak bertanya tentang anak muda itu.
    Ketika Ki Tanu Metir, Swandaru dan Sekar Mirah sudah selesai dengan kata-katanya, minta diri kepada setiap orang diruangan itu, dan kemudian Agung Sedayu dengan kata-kata yang lambat tertahan dan bernada datar, maka merekapun meninggalkan ruangan itu, diantar oleh Untara sampai kehalaman. Ternyata dihalaman itu telah bersiap beberapa orang prajurit untuk mengantar mereka yang akan kembali ke Sangkal Putung.
    Sejenak kemudian maka rombongan itu pun berangkat dengan ucapan selamat jalan dari Untara dan para pemimpin yang lain. Meskipun Sekar Mirah tidak biasa berkuda, namun kali ini ia memberanikan diri, naik seekor kuda yang paling jinak. Disampingnya kakaknya Swandaru menjaganya agar ia tidak menjadi cemas apabila kudanya berjalan terlampau cepat.
    “Dalam waktu yang dekat, akupun akan pergi ke Sangkal Putang“ berkata Untara.
    Kami menunggu kalian, Ngger“ sahut Ki Tanu Metir.
    “Aku ingin bertemu dengan paman Widura. Tetapi sebelumitu, sampaikan salamku dalam jabatanku kepada pamau Widura. Paman harus telap berhati-hati menghadapi keadaan yang tampaknya sudah menjadi bertambah baik. Dan sampaikan baktiku sebagai kemanakannya kepada paman“ berkata Untara kepada Agung Sedayu.
    “Baik Kakang“ jawab Agung Sedayu.
    “Jaga dirimu baik-baik“ berkata Untara “hari depanmu masih sangat panjaug. Kalau kau sia-siakan hari-harimu kini, maka kau pasti akan menyesal dihari tuamu.”
    “Baik Kakang“ sahut Agung Sedayu pula.
    “Aku akan selalu mengawasimu.”
    Agung Sedayu menganggukkan kepalanya.
    Kepada Ki Tanu Metir Untara kemudian berkata “Aku titipkan adikku yang keras kepala itu Kiai. Mudah-mudahan Kiai akan dapat berhsasil, membawanya kejalan yang lurus menjelang hari depannya.”
    ”Mudah-mudahan Ngger. Aku akan berusaha sebaik-baiknya.“ Dan kepada Swandaru Untara berkata “Sampaikan salamku kepada Ki Demagg Sangkal Putung. Pajang sangat berterima kasih kepadanya. Sangkal Putung ternyata telah berjasa sekali bagi keutuhan wilayah Pajang didaerah Selatan ini.”
    “Ya, Kakang. Akan aku sampaikan kepada ayah“ jawab Swandaru.
    Ketika pesan-pesan Untara sudah selesai, maka rombongan itu pun bergerak meninggalkan halaman Kademangan Jati Anom.
    Demikian mereka keluar dari halaman Kademaugan itu, mereka merasakan betapa cerahnya sinar matahari. Apalagi Sekar Mirah. Ia merasa bahwa ia benar-benar telah terlepas dari suatu lingkungan yang mengerikan. Kini ia berada dalam perjalanan kembali kepada ayah dan ibunya.
    Ketika iring-iringan itu hampir sampai kemulut lorong Kademangan, maka tiba-tiba Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Diujung lorong itu dilihatnya Wuranta berdiri tegak seperti sebatang tonggak.
    Tanpa disengaja Agung Sedayu berpaling memandangi Ki Tanu Metir yang justru dalam saat yang bersamaan, Ki Tanu Metirpun sedang berpaling kepadanya.
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sorot matanya seolah-olah minta pertimbangan kepada gurunya, apa yang harus dilakukannya. Tetapi ia tidak menangkap kesan apapun pada wajah orang tua itu.
    Ketika iring-iringan itu sampai beberapa langkah dihadapan Wuranta, maka Ki Tanu Metir yang berkuda dipaling depan, memperlambat langkah kudanya. Dengan sebuah senyum ia menganggukkan kepalanya “Kau di sini Angger Wuranta?“ bertanya orang tua itu.
    “Ya Kiai“ sahut Wuranta dengan nada yang dalam aku ingin bertemu dengan adi Agung Sedayu.”
    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ketika ia memandangi wajah Agung Sedayu, anak muda itu sedang memandanginya pula.
    Agung Sedayu melihat gurunya itu mengangguk kecil. Karena itu maka didorongnya kudanya beberapa langkah maju mendekati Wuranta.
    “Maaf Kiai“ berkata Wuranta “aku hanya ingin bertemu dengan Agung Sedayu.“
    Sekali lagi Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi ia mengangguk kecil. Tetapi tampak jelas diwajahnya pertanyaan yang membersit dari dadanya. Agung Sedayu menangkap percikan isyarat, supaya ia berhati-hati.
    “Baiklah“ berkata orang tua itu kemudian.”Kami akan berjalanmendahului.”
    Swandaru menjadi agak ragu-ragu karenanya. Maka katanya “Apkah aku akan menemani Kakang Agung Sedayu di sini Kiai.”
    Kiai Gringsing menggeleng “Tinggalkan ia sendiri.”
    Dengan bimbang akhirnya Swandarupun berlalu. Namun ia masih sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Wuranta dan pernyataan terima kasih. Hampir-hampir Wuranta tidak dapat menjawab ketika Sekar Mirahpun kemudian mengucapkan pernyataan terma kasihnya pula kepadanya.
    “Aku mengharap suatu ketika kau akan dapat berkunjung ke Sangkal Putung Kakang Wuranta“ berkata Sekar Mirah yang sudah menemukan kegembiraannya kembali setelah ia mulai dengan perjalanan pulang itu.
    “Ya, ya“ Wuranta menjadi tergagap ,”aku akan datang.”
    “Tetapi tidak dengan Alap-alap Jalatunda“ sambung Sekar Mirah tanpa prasangka apapun.
    Wajah Wuranta tiba-tiba menjadi merah. Tetapi hanya sejenak. Dengan sekuat tenaganya ia mencoba menguasai perasaannya yang mudah sekali tersentuh.
    Dipaksakannya bibirnya bergerak dan menjawab “Mudah-mudahan aku tidak akan bertemu lagi dengan anak itu.”
    “Bagainiana kalau hantu jadi-jadiannya mendatangimu?“ Sekar Mirah mencoba bergurau.
    Namun Wuranta tidak segera dapat menanggapinya. Bahkan terasa dadanya menjadi semakin pedih. Betapa sulitnya ia menjawab “Mudah-mudahan tidak.”
    “Nah” berkata Sekar Mirah kemudian “aku minta diri. Aku berterima kasih sekali kepadamu Kakang Wuranta. Maaf, bahwa aku pernah menyangka kau benar-benar seorang sahabat yang baik dari Alap-alap Jalatunda. Datanglah ke Kademangan. Aku akan memperkenalkan kau kepada ayah.”
    Wuranta mengangguk kaku. Tetapi kening Agung Sedayu menjadi berkerut.
    “Terima kasih. Mudah-mudahan aku dapat memenuhinya“ sahut Wuranta sendat.
    Dalam pada itu Kiai Gringsing seorang yang telah berusia cukup untuk melihat gelagat wajah seseorang, segera berkata “Marilah. Mumpung masih pagi.”
    Iring-iringan itu kemudian bergerak pula, hanya Agung Sedayu sayalah yang kemudian tinggal bersama Wuranta.
    Ketika iring-iringan itu menjadi semakin jauh, maka Agung Sedayupun segera meloncat turun. Meskipun ia tampaknya bersikap wajar, namun ia berada dalam kesiagaan penuh. Ia tidak akan dapat ditipu dengan gerak jasmaniah seandainya Wuranta ingin berbuat sesuatu karena jarak ilmu mereka terlampau jauh. Tetapi Agung Sedayu harus tetap berwaspada seandainya Wuranta mempunyai cara-cara yang lain.
    Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun tampak betapa wajah-wajah mereka menjadi tegang.
    Baru sesaat kemudian, setelah menelan ludahnya beberapa kali Wuranta baru berhasil berkata “Agung Sedayu. Aku menemuimu hanya untuk minta maaf. Mudah-mudahan kau melupakannya.”
    Masih banyak sekali kata-kata yang tersimpan didalam hatinya, Masih bertumpuk-tumpuk kalimat-kalimat yang ingin diucapkannya. Tetapi tiba-tiba mulut Wuranta seolah-olah tersumbat terlampau rapat. Meskipun bibirnya bergerak-gerak namun tidak sepatah katapun yang dapat dilontarkannya.
    Dada Agung Sedayu berdesir. Kalimat itu terlampau pendek. Tetapi langsung menyentuh perasaan anak muda itu. Meskipun ia tidak mendengar kata-kata lebih banyak lagi yang diucapkan oleh Wuranta, namun dari sorot matanya ia dapat membaca apa saja yang tersirat didalam hatinya.
    Sejenak Agung Sedayupun menjadi terdiam. la tidak segera menemukan kata-kata untuk menjawabnya. Sehingga seperti juga Wuranta, maka Agung Sedayupun sulit untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang seakan-akan berdesakan didalam dadanya.
    Akhirnya, terpatah-patah ia menjawab “Marilah kita lupakan Kakang.”
    Hanya itulah yang dapat diucapkan oleh Agung Sedayu. Namun meskipun demikian, meskipun tidak banyak kalimat-kalimat yang mereka diucapkan, tetapi didalam tekanan kata-kata mereka seakan-akan telah tercurah seluruh perasaan mereka.
    Kini sekali lagi mereka berdiri berhadapan sambil berdiam diri. Terasa dada mereka menjadi tegang dan bahkan serasa penuh dengan desakan-desakan yang ingin meloncat keluar. Tetapi tidak sepatah katapun yang mereka terucapkan. Hanya lewat sorot mata mereka sajalah mereka dapat merasakan perasaan masing-masing.
    Baru sejenak kemudian terloncat kata-kata dari mulut Wuranta untuk melepaskan ketegangan didadanya “Selamat jalan Agung Sedayu. Mudah-mudahan kita masing-masing mendapat perlindungan dari Tuhan.“
    “Terima kasih Kakang“ suara Agung Sedayu terlampau dalam.
    Perlahan-lahan Agung Sedayu melangkah kekudanya. Perlahan pula ia meloncat kepunggungnya.
    Sekali lagi ia berkata “Terima kasih Kakang. Aku akan meneruskan perjalanan.“
    Wuranta tidak menjawab, tetapi kepalanya terangguk pelahan-lahan.
    Sejenak kemudian kuda Agung Sedayu itupun bergerak perlahan-lahan. Tetapi semakin lama semakin cepat. Kemudian dengan sebuah sentuhan pada perut kuda itu, maka kuda itupun meloncat dengan cepatnya menyusul iring-iringan yang sudah agak jauh dihadapan mereka. Tetapi bagi Agung Sedayu, bukan iring-iringan itulah yang telah memaksanya untuk berpacu. la ingin secepatnya menjauhi Jati Anom. Tempat ia dilahirkan, tetapi yang memberinya persoalan yang cukup berat dalam usianya yang masih terlampau muda.
    Wuranta memandangi kuda itu berlari semakin kentyang. Matanya hampir tidak berkedip meskipun terasa pedih karena debu yang putih yang dilemparkan dari kaki-kaki kuda Agung Sedayu. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berguman lirih “Ariak itu luar biasa. Meskipun ia seorang penakut dimasa kanak-kanak, tetapi ia kini menjadi seorang kali-laki yang perkasa. Hampir aku merusak harapan bagi masa depannya karena kebodohanku.”
    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi terasa dadanya berdesir. Ia belum dapat melupakan wajah Sekar Mirah yang segar. Apalagi senyumnya yang seolah-olah langsung nienyentuh hati. Tetapi kini ia sudah dapat mengimbangi perasaannya itu dengan nalarnya.
    Sementara itu iring-iringan itu berjalan dengan kecepatan sedang meluncur mendekati Sangkal Putung. Sekali-sekali Ki Tanu Metir, Swandaru dan Sekar Mirah berpaling, untuk melihat apakah Agung Sedayu sudah menyusul mereka.
    Ternyata ada kekhawatiran juga dihati mereka tentang Agung Sedayu. Terutama Ki Tanu Metir. Orang tua itu tidak mencemaskan nasib Agung Sedayu sendiri, tetapi justru apabila Agung Sedayu terdorong oleh perasaannya, berbuat hal-hal yang tidak menguntungkannya.
    Tetapi seyenak kemudian mereka melihat debu yang putih mengepul keatas dibelakang mereka. Seekor kuda berlari kencang menyusul iring-iringan itu. Di atas punggung kuda itu adalah Agung Sedayu.
    Ketika Agung Sedayu menjadi semakin dekat, dan kemudian telah berada diantara mereka, maka dengan serta merta Swandaru bertanya “Apakah yang dikatakannya Kakang?”
    Agung Sedayu menjadi bingung. Sesaat ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Bahkan seperti seorang anak-anak yang ingin mendapat pertolongan dipandanginya gurunya.
    “Apakah Angger Wuranta mengucapkan selainat jalan kepada anakmas?“ bertanya Ki Tanu Metir itu kemudian.
    “Ya Kiai“ sahut Agung Sedayu asal saya menjawab.
    “Ya, aku sudah menyangka“ berkata Ki Tanu Metir “Ia pasti merasa kehilangan seorang kawan yang dapat mengerti tentang dirinya. Kita dianggapnya sebagai kawan-kawan yang berbuat sejak permulaan bersamauya.”
    ”Tetapi s-kapnya mengherankan. Aku melihat sesuatu yang tidak wajar padanya.” berkata Sekar Mirah.
    “Anak itu seorang pemalu“ jawab Ki Tanu Metir.
    “Tidak. Ia bukan seorang pemalu“ jawab Sekar Mirah.
    Mendengar jawaban itu Agung Sedayu mengerutkan keningnya. “Darimana kau tahu Mirah?“Agung Sedayu bertanya.
    Dan Sekar Mirah menjawab “Dipadepokan Tambak Wedi ia bersikap bukan sebagai seorang pemalu. Wurantalah yang pertama-tama menegurku sebelum Alap-alap Jalalunda, meskipun ia orang baru dipadepokan itu. Ia menjadi penghubung yang baik antara aku dan Alap-alap Jalatunda yang hampir saya menerkamku apabila Sidanti tidak segera datang.”
    Mereka yang mendengar kata-kata Sekar Mirah itu mengangguk-anggukkau kepala mereka. Mereka telah mendengar pula dari Wuranta. Dan soal itu pulalah yang telah uiembakar padepokan Tambak Wedi menjadi karang abang. Bentrokan antara orang-orang Jipang dan Tambak Wedi yang tidak dapat dihindarkan lagi.
    Sejenak kemudian mereka menjadi saling berdiam diri. Mereka terbenam didalam angan-angan masing-masing. Sekali-sekali Sekar Mirah mengerutkan lehernya apabila diingatnya apa yang telah terjadi dipadepokan Tambak Wedi.
    Seandainya, ya seandainya Alap-alap Jalatunda tidak dapat dicegah lagi, maka ia kini tidak lagi dapat berkuda bersama-sama dengan Swandaru dan Agung Sedayu. Mungkin ia telah membunuh dirinya dan tubuhnya telah hancur menjadi debu.
    Tiba-tiba Sekar Mirah itu menundukkan kepalanya. Kebesaran Yang Maha Kasih telah menyelamatkannya dengan cara yang hampir tidak dapat dimengertinya.
    Tetapi dalam pada itu terbersit pula pikiran dikepalanya ”Seandainya aku tidak selemah ini.”
    Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Ia bertanya pula didalam hatinya “Apakah aku hanya dapat menjadi tanggungan orang lain sepanjang hidupku?”
    Gadis itu kemudian membayangkan tentang dirinya sendiri. Seandainya ia mampu berbuat sesuatu. Seandainya ia tidak hanya seorang gadis yang lemah dan tidak dapat berbuat apapun.
    Terbayanglah didalam ingatannya cerita-cerita tentang masa-masa lampau. Dongeng-dongen yang pernah didengarnya tentang beberapa orang puteri. Didalam ceritera wayang yang terkenal, pernah juga didengarnya tentang seorang Srikandi dan Larasati. Keduanya adalah puteri-puteri prajurit yang pilih tanding. Bahkan didalam perang besar Baratayuda, Srikandi pernah menjadi Senapati perang dan dalam masa jabatannya itulah Senapati Besar Astina yang dikagumi terbunuh. Bisma. Meskipun kematiannya itu ditangisi oleh kedua pihak yang berperang. Kurawa dan Pendawa.
    “Apakah pada jaman ini tidak mungkin seorang wanita memegang busur dan anak panah seperti Srikandi?“ pertanyaan itu menggetarkan hatinya.
    “Tentu mungkin“ pertanyaan itu dijawabnya sendiri “dan aku akan berusaha untuk dapat menjadi seorang wanita yang demikian. Aku harus dapat menjaga diriku sendiri. Kalau suatu ketika Sidanti kembali ke Sangkal Putung, aku tidak akan menjadi barang rebutan antara Sidanti dan orang-orang Sangkal Putung, Kakang Swandaru dan mungkin Kakang Agung Sedayu.”
    Sekar Mirah itu menengadahkan kepalanya, seolah-olah ia sudah mendapat keputusan untuk memulai dengan langkahnya. Menjadi seorang gadis yang mampu menjaga diri sendiri.
    Tetapi kepada siapa aku harus berguru. supaya aku mendapat tuntunan olah kanuragan? pertanyaan itu mengusik hatinya?”
    Tanpa disengaja ia memandangi Ki Tanu Metir yang berkuda beberapa langkah dimukanya. Dipandanginya punggung orang tua itu yang berselimutkan kain gringsing. Kain ciri yang selalu dipakainya meskipun sudah mulai tampak keputih-putihan.
    Tiba-tiba Sekar Mirah menggelengkan kepalanya “Orang tua itu sedaug sibuk dengan Kakang Swandaru dan Kakang Agung Sedayu. Aku tidak yakin kalau ia mau menerimaku pula didalam lingkungannya. Aku sama sekali belum mengenal ilmu apapun dalam olah kanuragan. Aku harus mulai dari permulaan. Lalu ditambahkannya keterangan didalam hatinya itu. Tetapi seandainya ayah dan ibu mengijinkannya.
    Dan dicobanya untuk meyakinkan dirinya “Ayah dan ibu pasti tidak akan berkeberatan. Setiap saat aku terancam bahaya, karena aku kira Sidanti tidak akan berhenti sekian. Mungkin ia akan kembali disaat-saat orang Sangkal Putung sudah hampir melupakannya. Seandainya aku tidak mampu menjaga diriku, maka akan terulanglah peristiwa itu. Dan Sidanti tentu tidak akan sesabar beberapa saat yang lampau.”
    Sementara itu matahari dilangit merayap semakin lama semakin tinggi. Sinarnya yang cerah telah mulai menggatalkan kulit. Angin yang berhembus dari Selatan menghalau debu-debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda yang berjalan dalam iring-iringan itu. Beberapa prajurit yang ikut serta didalamnya hampir tidak mengucapkan kata-kata sama sekali. Satu dua di antara mereka bercakap-cakap, tetapi kemudian terdiam. Memang tidak banyak yang mereka perbincangkan.
    Ketika mereka melampaui sebuah tikungan yang tajam di antara gerumbul-gerumbul yang liar terdengar Agung Sedayu berdesis “Bukankah menerobos jalan kecil ini kita akan sampai ke Dukuh Pakuwon Kiai?”
    Ki Tanu Metir tersenyum. Dipandanginya jalan simpang yang sempit itu. Katanya ”Sebenarnya aku telah merindukan rumahku yang hampir roboh itu. Tetapi aku agaknya masih balum sempat. Lain kali aku akan menengoknya, apakah pohon kates yang aku tanam sudah mulai berbuah.”
    Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kenangannya mulai menjelajahi kembali masa-masa yang pernah dilampauinya. Ia hampir pingsan ketakutan ketika ia bertemu dengan Alap-alap Jalatunda didaerah ini. Apalagi ketika kemudian kakaknya menyuruhnya berangkat sendiri ke Sangkal Putung untuk menemui pamannya. Seandainya kakaknya tidak mengancam untuk membunuhnya, maka iapun pasti tidak akan berani berangkat.
    Agung Sedayu itu tersedar ketika ia mendengar Ki Tanu Metir bertanya “Kita akan menempuh jalan yang mana Ngger? Apakah kita akan lewat Kali Asat dan melalui tikungan Randu Alas? Barangkali Angger masih ingin bertemu dengan sahabat Angger di sana, Gendruwo bermata Satu?”
    “Ah“ Agung Sedayu berdesah.
    Swandaru yang tidak tahu maksud Kiai Gringsing tiba-tiba menyahut “Terlampau jauh Kiai. Kita tidak akan melalui Kali Asat.”
    Perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Sangkal Putung. Jarak, antara kedua Kademangan itu memang tidak terlampau jauh. Tetapi kekalutan yang timbul didaerah itu, orang-orang Jipang yang berkeliaran, apalagi kimudian setelah Tohpati mengambil tempat dihutan-hutan yang tidak terlampau lebat disebelah Barat Sangkal Putung, maka kedua Kademangan itu seakan-akan telah dipisahkan oleh hutan. Perjalanan dari Kademangan yang satu ke Kademangan yang lain terasa terlampau menakutkan. Padukuhan-padukuhan kecil yang berada di antara kedua Kademangan itu pun menjadi semakin kecil. Bahkan penduduknya kadang-kadang merasa tidak mendapat perlindungan sama sekali, sehingga pada saat-saat itu mereka tidak akan dapat menolak apabila orang-orang Jipang, seperti Alap-alap Jalatunda, Pande Besi Sendang Gabus yang terbunuh oleh Untara, Plasa Ireng yang kemudian dibunuh oleh Sidanti, dan Sanakeling yang sudah terbunuh pula beserta anak buah mereka, datang untuk inengambil persediaan makanan mereka yang memang sudah terlampau tipis. Orang-orang Jipang itu mengambil apa saya yang dapat mereka ambil, sebelum mereka berhasil merebut pusat lumbung makanan dan kekayaan didaerah Selatan. Sangkal Putung.

  14. KI Tambak Wedi mulai galau……….
    komen gak pernah, ngungak gak pernah…..
    terus maunya apa……????

    • berHARAP,

      Nyi SENOPATI berkenan HADIR ning gandok SINI ki….!!??

      • harak njih pada SETUJU toh Ki……??

        • nyuwun persetujuan ki kompor rumiyin to ki

          • he….he….he…..
            kalis nir ing Sandikala.

            • heheheee jik isuk ki mbleh, ganok candikala ….

      • Sukra disini… 😀
        Udah lama juga gak disapa Nyi Seno..
        kemana kemana dimana… #AyuTingTingStyle

        • ..gak disapa mungkin karena…..alamatnya palsu Ki.. 😀

        • iwak peyek ….iwak peyek…. sega jagung
          ngantek meyek meyek
          Ki Sukra mBoten parenk bingung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: