Buku 27

BAB III.

MELINTAS HUTAN MENTAOK

AWAN YANG PUTIH kemerah-merahan mengapung di langit. Matahari yang telah perlahan-lahan turun ke punggung Gunung Merapi. Sinarnya semakin lama menjadi semakin pudar. Burung-burung seriti terbang bergumpal-gumpal mengitari sebatang pohon beringin. Ratusan, bahkan ribuan, sehingga seolah-olah mendung yang gelap mengambang di langit.

Lamat-lamat terdengar kentongan di gardu, di pintu gerbang padepokan Tambak Wedi, memecah keheningan senja. Suaranya mengumandang memenuhi lereng Gunung Merapi. Bertalu-talu seperti dibunyikan berulang kali.

Seorang prajurit muda yang berdiri di depan gardu di samping regol padepokan itu berbisik kepada kawannya, “Besok kita turun ke Jati Anom.”

“Ya,” sahut kawannya yang masih muda pula, “suasana yang tegang selama ini akan berakhir. Kita akan terlepas dari cara hidup yang keras dan kasar ini.”

“Di Jati Anom akan diselenggarakan sekedar keramaian untuk menyatakan kegembiraan hati atas kemenangan kita. Dengan hancurnya Tambak Wedi, maka seolah-olah di bagian Selatan ini telah tidak ada lagi gangguan apa pun bagi Pajang.”

Tiba-tiba kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi kita akan segera ditarik dan dikirim ke pesisir Utara. Kita harus berkelahi lagi melawan orang-orang pesisir.”

Kawannya menggelengkan kepalanya, “Tidak. Peperangan di pesisir pun sudah semakin tipis. Tidak banyak lagi perlawanan yang harus dihadapi oleh Pajang. Setidak-tidaknya kita akan mendapatkan beberapa hari libur, pulang ke rumah dan berada di lingkungan keluarga. Anak dan isteri, meskipun kita kelak harus bertempur lagi.”

“Pekerjaan kita memang berkelahi,” sahut prajurit muda yang pertama. “Kita adalah orang-orang yang dibentuk untuk berkelahi.”

“Ya, kita memang telah menyatakan diri kita sebagai seorang prajurit. Pekerjaan prajurit adalah bertempur. Meskipun demikian kita adalah manusia, yang suatu ketika ingin hidup seperti kebiasaan hidup manusia. Berkeluarga, bercakap-cakap dengan isteri dan bermain-main dengan anak-anak.”

Tiba-tiba keduanya terperanjat ketika di belakang mereka terdengar suara, “Siapa yang berkata bahwa prajurit itu pekerjaannya berkelahi dan bertempur?”

“Oh, Ki Lurah,” desis kedua prajurit itu hampir bersamaan. Ternyata di belakang mereka berdiri seorang lurah Wira Tamtama.

“Habis, apakah yang harus kita lakukan, Ki Lurah?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit itu.

Lurah Wira Tamtama itu tersenyum. Namun ia bertanya pula, “Apabila peperangan ini telah selesai, sisa-sisa orang-orang yang berkeras kepala, bekas pengikut Arya Penangsang telah habis dan tidak ada lagi pertentangan di seluruh wilayah Pajang, lalu kita para prajurit harus mencari persoalan baru supaya kita tidak menjadi seorang penganggur?”

“Ah,” desah salah seorang prajurit muda itu.

“Coba katakan,” bertanya lurah Wira Tamtama itu, “apa yang harus kita kerjakan?”

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Bukankah jumlah prajurit akan berangsur-angsur dikurangi, dan kita akan kehilangan pekerjaan kita?”

Lurah Wira Tamtama itu tersenyum, “Dan kau akan menjadi sakit hati karenanya?”

Kedua prajurit muda itu terdiam. Sekali lagi mereka saling berpandangan.

“Coba katakan, apakah niatmu ketika kau pertama kali memasuki lapangan ini.”

Keduanya tidak segera menjawab.

“Apakah kalian hanya sekedar ingin mendapat lapangan pekerjaan supaya kalian tidak menjadi penganggur? Hanya itu?”

Kini keduanya menggeleng, “Tidak, Ki Lurah. Aku memasuki lapangan ini oleh suatu dorongan yang kuat.”

“Katakanlah sifat dorongan itu. Supaya kau tidak mati kelaparan? Atau supaya kau menjadi seorang yang ditakuti oleh tetangga-tetanggamu karena kau membawa senjata di lambung? Atau supaya kau mudah untuk mendapatkan yang kau ingini? Karena kau prajurit, maka kau melamar gadis tetanggamu. Apabila gadis itu menolak segera kau mengancamnya, bahwa sekelompok kawan-kawanmu akan datang dan menangkap orang tua gadis itu. Begitu? Atau kepentingan lain, supaya kau dapat mengambil kambing, kerbau atau apa saja kepunyaan tetanggamu yang kau ingini karena kau prajurit?”

“Tentu tidak, Ki Lurah. Tentu tidak. Aku bukan seorang yang gila seperti itu. Seandainya ada seorang prajurit yang hanya didorong oleh nafsunya yang demikian, maka ia telah menodai Wira Tamtama.”

“Bagus,” potong lurah Wira Tamtama. “Lalu dorongan apa yang telah memaksamu masuk ke dalam lingkungan keprajuritan.”

Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya, “Aku tidak tahu Ki. Tetapi keinginanku menjadi seorang prajurit demikian besarnya. Aku ingin karena aku melihat prajurit-prajurit yang lebih dahulu daripadaku. Mereka telah banyak sekali berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak.”

Lurah Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Bagus. Bagus. Kau hanya tidak pandai mengatakan. Dorongan yang demikian itu lahir karena sifat-sifat ksatria yang ada di dalam dirimu. Kau ingin mengabdikan diri untuk kepentingan lingkunganmu, untuk kepentingan negara dan tanah tumpah darah. Ingat, menjadi seorang prajurit adalah menyerahkan diri dalam pengabdian. Ini adalah landasan pertama yang harus ada di dalam dada setiap prajurit.”

Kedua prajurit yang mendengarkan kata-kata lurah Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang mereka pun merasakan arti dari kata-kata itu, tetapi mereka tidak pandai untuk mengatakannya.

“Nah,” lurah Wira Tamtama itu meneruskan, “bukankah dengan demikian tugas seorang prajurit tidak hanya berkelahi, bertempur dan berperang? Tidak setiap kali mencari persoalan supaya ada kerja yang dilakukannya?”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Banyak sekali yang harus dilakukan,” sambung lurah itu pula, “Apabila terjadi kerusuhan, kejahatan dan sebagainya, maka prajurit pun harus berbuat untuk melindungi rakyat yang lemah. Tetapi itu pun masih dapat disebut berkelahi atau bertempur. Yang lain misalnya, apabila ada bencana. Bencana alam atau bencana apa pun, maka pengabdian prajurit harus ditunjukkannya juga. Masa-masa yang sulit. Kekeringan air atau malahan banjir.”

“Ya,” kedua prajurit itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.”

“Itu adalah kewajiban-kewajiban lahiriah yang tampak oleh mata kita,” berkata lurah Wira Tamtama itu pula. “Yang lebih penting dari itu adalah menanamkan keyakinan, bahwa prajurit adalah pengabdian. Maka semua tindak-tanduk bahkan angan-angannya pun akan selalu berlandaskan pada keyakinan itu. Pengabdian. Bukan sebaliknya dari itu.”

“Ya, ya, Ki Lurah,” berkata salah seorang prajurit itu, “sekarang aku tahu bagaimana mengatakannya. Tetapi demikian itulah yang membersit di dalam dadaku sebelum aku memasuki prajurit.”

“Sebelum memasuki dunia keprajuritan? Lalu, sesudah itu, maka keyakinanmu justru berubah?”

“Tidak, tidak. Bukan maksudku. Aku pun masih tetap memegang keyakinan itu.”

“Bagus,” lurah Wira Tamtama itu berdesis. “Aku percaya kepada kalian. Nah, sebenarnya, bahwa besok kalian akan turun ke Jati Anom. Tetapi tidak seluruhnya. Sebagian dari kalian masih harus tetap berjaga-jaga di padepokan ini. Meskipun kemenangan kalian dapat disebut mutlak, tetapi otak dari padepokan ini ternyata dapat melepaskan diri.”

Kedua prajurit itu menarik nafas dalam-dalam, “Siapakah yang akan tinggal di sini?”

“Sepertiga dari seluruh pasukan akan tinggal di sini.”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalian akan menerima perintah nanti malam. Siapakah yang besok akan turun ke Jati Anom dan siapa yang tinggal. Tidak banyak bedanya. Yang tinggal di sini pun pasti akan mendapat bagian dari keramaian yang akan diselenggarakan di Jati Anom. Kalau tidak salah, maka ada lima ekor lembu yang tersedia buat kalian di sini.”

Kedua prajurit itu tidak menjawab. Tetapi kepala mereka terangguk-angguk kecil.

Dan lurah prajurit itu berkata pula, “Sepertiga dari kalian akan tinggal di sini, sepertiga di Jati Anom dan sepertiga dari kalian diperkenankan untuk pulang ke rumah masing-masing untuk waktu-waktu tertentu. Demikian bergiliran, sehingga kalian pasti akan segera mendapat giliran pula. Perintah yang serupa akan diberikan juga kepada pasukan di Sangkal Putung. Sepertiga dari mereka akan bergiliran, kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.”

Kedua prajurit itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, lakukanlah tugasmu baik-baik,” berkata lurah Wira Tamtama itu kemudian, “meskipun seolah-olah kalian sudah tidak berhadapan dengan bahaya, tetapi jangan lengah. Kalau datang waktunya kalian bertugas di regol padepokan ini, maka tugas itu harus kalian lakukan dengan baik. Suatu saat, kalian masih akan mendapat tugas yang cukup berat. Membawa para tawanan ke Pajang.”

“Ya, Ki Lurah,” jawab kedua prajurit itu hampir bersamaan.

Lurah Wira Tamtama itu pun segera meninggalkan gardu itu. Perlahan-lahan ia berjalan menyusur jalan padepokan untuk melihat gardu-gardu yang lain.

Perlahan-lahan pula, maka malam pun turun menyelubungi lereng gunung Merapi. Cahaya kemerah-merahan di puncak gunung itu pun semakin lama menjadi semakin pudar. Asapnya yang putih kemerahan mengepul seolah-olah ingin menggapai bintang yang mulai bermunculan satu demi satu.

Beberapa buah obor mulai dipasang di gardu-gardu, di perapatan dan di jalan-jalan padepokan yang masih dianggap belum aman sama sekali.

Dan malam pun menjadi semakin malam. Sehelai-sehelai kabut yang tipis mengalir menyentuh padepokan yang seakan-akan sedang lelap dalam tidur yang nyenyak.

Padepokan itu terbangun, ketika ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan. Dari ujung ke ujung terdengar betapa riuhnya, menyongsong warna fajar yang membayang di ujung Timur.

Ketika fajar kemudian menjadi semakin terang, dan semua prajurit telah menunaikan kewajiban masing-masing, maka mereka pun segera bersiap-siap untuk turun ke Jati Anom. Sepertiga dari mereka masih harus tinggal di padepokan itu, menjaga orang-orang Jipang dan Tambak Wedi yang terpaksa diperlakukan sebagai tawanan. Beberapa orang perwira akan tinggal pula di padepokan itu, untuk menjaga setiap kemungkinan, seandainya Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya datang kembali.

“Perintah segera akan disebarkan,” berkata Untara kepada para perwira itu. “Beberapa orang prajurit akan segara pergi ke Sangkal Putung, sebagian akan pergi ke Prambanan dan Pangrantunan. Para prajurit di Prambanan harus mengawasi setiap gerakan yang mencurigakan. Apalagi apabila mereka melihat gerakan yang datang dari seberang hutan Mentaok. Dari Mentaok misalnya, apabila dendam Sidanti benar-benar tidak terkendali.”

Para perwira itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari bahaya yang dapat timbul apabila Sidanti benar-benar datang membawa pasukan dari seberang Hutan Mentaok. Tetapi kekuatan itu pasti sudah tidak akan sedahsyat apabila mereka bergabung dengan kekuatan sisa-sisa orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi.

“Untunglah, bahwa kekuatan-kekuatan yang dapat membantunya di sini sudah tidak ada lagi,” desis salah seorang perwira.

“Ya,” sahut Untara, “aku mempunyai perhitungan, bahwa Sidanti tidak akan berani datang membawa pasukannya apabila perhitungannya masih jernih. Tetapi apabila Sidanti dan Ki Tambak Wedi itu sudah menjadi mata gelap, serta mereka berhasil menghasut Argapati, maka kemungkinan itu akan dapat terjadi.”

“Ya,” para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi apakah dengan demikian tidak berarti suatu pemberontakan yang terang-terangan melawan Pajang, yang akibatnya akan dapat membuat Tanah Perdikan Menoreh itu menjadi parah?”

“Pemberontakan itu memang sudah dimulai dari Tambak Wedi ini,” sahut Untara. “Tetapi meskipun demikian, aku tidak yakin, bahwa Argapati memiliki sifat-sifat seperti Tambak Wedi. Aku kira Argapati telah salah memilih guru buat puteranya, yang sebenarnya memiliki bekal yang kuat di dalam dirinya.”

“Mungkin,” sahut salah seorang perwira, “tetapi menilik sikap Argajaya, maka Argapati pasti setidak-tidaknya memiliki sifat serupa.”

“Mudah-mudahan tidak. Argapati bukan keturunan seorang pemberontak. Ia seorang yang baik, yang berjasa bagi Demak.”

Para perwira itu terdiam. Dan Untara meneruskan, “Tetapi semua kemungkinan dapat terjadi. Kuwajiban kita adalah siaga menghadapi setiap kemungkinan, tanpa melepaskan kewaspadaan sama sekali.”

Sekali lagi para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian, maka sampailah saatnya pasukan Pajang yang berada di padepokan itu sebagian turun ke Jati Anom. Untara sendiri memimpin langsung pasukannya. Di antara pasukan yang turun ke Jati Anom itu, terdapat beberapa orang yang bukan prajurit-prajurit Wira Tamtama. Di bagian depan, di sisi Untara sendiri berjalan Wuranta. Langkahnya yang lemah, serta kepalanya yang menunduk, membayangkan perasaannya yang belum tenang benar. Sekali-sekali ia menengadahkan wajahnya dan melihat batu-batu yang berserakan di sebelah-menyebelah jalan yang dilaluinya, namun kepala itu kemudian tunduk lagi.

“Kita pulang ke kampung halaman,” desis Untara ya berjalan di sampingnya.

Wuranta berpaling, Jawabnya, “Sesudah mengalami masa yang menggoncangkan hati.”

Untara tersenyum. Katanya, “Pengalaman yang tidak akan dapat dilupakan. Tetapi pengalaman adalah pelajaran yang baik buat seseorang. Ia akan dapat menggurui kita di saat-saat mendatang, supaya kita menjadi lebih berhati-hati dan lebih cermat memperhitungkan keadaan dengan nalar.”

Wuranta tidak menjawab. Dianggukkannya kepalanya perlahan. Tetapi kemudian ia bertanya, “Kau tidak berkuda?”

Untara menggeleng, “Tidak.”

“Apakah sebagian dari kuda-kuda yang dibawa oleh para prajurit itu akan ditinggalkan di padepokan Tambak Wedi.”

“Ya, hanya sebagian saja yang aku bawa kembali ke Jati Anom. Di sini kuda-kuda itu diperlukan. Apabila terjadi sesuatu, maka beberapa orang harus dengan cepat menyampaikan kabar itu ke Jati Anom.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah tidak bertanya lagi. Ketika ia memandang ke kejauhan, maka dilihatnya sebuah dataran yang lepas menghijau jauh di bawah kakinya. Hutan yang tidak terlampau lebat, kemudian tanah yang coklat kehijauan. Jati Anom.

Pasukan itu pun menjalar menurut jalan kecil yang berkelok-kelok di sepanjang lereng Gunung Merapi, seperti seekor ular raksasa yang turun dari puncak gunung yang sedang terbakar.

Dan ujung Gunung Merapi itu pun sebenarnya sedang memerah seperti bara. Sinar matahari pagi telah mewarnai puncak Merapi itu dengan warna darah.

Di belakang pasukan yang meluncur lambat, berjalan Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Beberapa langkah di belakang mereka adalah Ki Tanu Metir. Mereka seolah-olah terpisah dari pasukan Wira Tamtama yang berjalan dalam barisan di hadapan mereka. Meskipun di lambung kedua anak-anak muda itu tergantung juga pedang, tetapi keduanya langsung dapat dibedakan dari para prajurit Wira Tamtama itu.

“Aku sebenarnya segera ingin pulang ke Sangkal Putung, Kakang,” berkata Sekar Mirah kepada Swandaru.

“Aku juga, Mirah. Sebenarnya aku gembira mendengar Kakang Agung Sedayu mengajak kita segera meninggalkan padepokan ini apa pun alasannya. Tetapi ternyata kita masih harus merayap di belakang barisan ini.”

“Dan kita masih harus menunggu keramaian di Jati Anom berakhir. Apakah sebenarnya yang akan diadakan di dalam keramaian itu? Makan bersama atau wayang beber atau tayub?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya, “Aku pun tidak tahu. Tetapi maksudnya adalah, sekedar melepaskan ketegangan yang selama ini telah mencengkam hati kita masing-masing.”

“Tetapi aku belum terlepas dari ketegangan itu sebelum aku bertemu dengan ibu dan ayahku,” bantah Sekar Mirah.

“Ya, aku tahu, Mirah. Tetapi ini adalah sekedar sopan-santun untuk menunjukkan terima kasih kita. Maksud Kakang Untara adalah baik. Supaya kita ikut bergembira di dalam keramaian itu. Kegembiraan yang pasti akan berkesan di hati kita, terutama kau, Mirah, setelah kau terlepas dari tangan iblis-iblis itu.”

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah kakaknya yang gemuk. Tetapi Swandaru itu sedang memandangi gerumbul-gerumbul liar di sebelah jalan yang sedang mereka lalui. Bahkan seolah-olah tidak mendengar kata-kata Agung Sedayu.

Tetapi baik Sekar Mirah maupun Swandaru, bertanya di dalam hatinya, “Kenapa Kakang Agung Sedayu kemarin dulu malam menjadi seperti orang bingung dan hampir-hampir membawa kami ke Sangkal Putung?”

Tetapi keduanya tidak mengucapkan pertanyaan itu. Keduanya menyimpannya di dalam hatinya.

Pasukan Pajang itu berjalan semakin lama semakin menurun. Jalan menjadi semakin berkelok-kelok, menyusup di antara batu-batu besar yang menjorok, seolah-olah menghadang di jalan yang akan mereka lalui.

Perjalanan itu berlangsung dengan lancar. Tidak ada sesuatu yang menghalangi mereka, sehingga mereka pada saatnya sampai ke Jati Anom dengan selamat.

Ki Demang Jati Anom menjadi sibuk menerima pasukan Pajang itu. Beberapa anak-anak muda menyambut pasukan itu dengan wajah berseri-seri. Apalagi ketika mereka melihat Untara dan Wuranta. Maka tanpa menghiraukan tata barisan lagi langsung mereka mendapatkan mereka.

“Kalian adalah anak-anak muda Jati Anom yang luar biasa,” berkata mereka sambil mengguncang-guncang lengan Untara dan Wuranta.

Untara sama sekali tidak ingin mengecewakan mereka, sehingga diserahkannya barisan Wira Tamtama Pajang itu kepada perwira bawahannya untuk mengaturnya. Sementara itu, ia melayani kawan-kawannya semasa kanak-anak yang mengerumuninya bersama Wuranta.

Kepada Wuranta, anak-anak muda itu berkata, “Maafkan kami Wuranta. Kami tidak tahu apa yang sedang kau lakukan saat itu. Aku sangka kau terbujuk oleh orang-orang Tambak Wedi. Ternyata kau adalah seorang pahlawan bagi Jati Anom.”

“Ah,” Wuranta berdesah, tetapi ia tidak menjawab.

Salah seorang dari anak muda Jati Anom itu berkata, “Kademangan ini telah dipersiapkan untuk menyambut kalian berdua. Untara dan Wuranta. Kalian berdua adalah anak-anak dari kademangan ini, dan kalian berdualah yang telah berhasil memusnahkan musuh kita itu.”

“Terima kasih,” Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai seorang senapati, maka yang dilakukan itu adalah sebagian dari kewajibannya. Tetapi sekali lagi Untara tidak mau mengecewakan kawan-kawannya semasa kecil.

“Marilah, marilah,” ajak anak-anak muda itu, “kami sudah menyediakan jamuan khusus buat kalian berdua di kademangan.”

“Terima kasih,” sahut Untara, “aku akan berada di antara anak buahku.”

“Mereka pun telah mendapat sambutan secukupnya. Tetapi kami, kawan-kawan bermain semasa kanak-anak ingin menyambutmu secara khusus, sebelum sambutan resmi besok malam diadakan di pendapa kademangan.”

“Terima kasih,” jawab Untara dan Wuranta hampir bersamaan.

“Jangan kecewakan kami.”

Untara akhirnya tidak dapat menolak lagi. Dilingkari oleh anak-anak muda Jati Anom, mereka berdua dibawa langsung ke gandok sebelah Timur kademangan.

Ketika mereka masuk ke dalamnya, maka mereka pun segera tertegun. Ternyata di gandok itu telah tersedia makanan yang berlimpah-limpah. Nasi putih, beberapa buah ingkung ayam, dan lauk pauk beraneka rupa.

“Kami-lah yang memasaknya,” berkata salah seorang anak muda Jati Anom.

“Kau?” bertanya Untara.

“Maksudku, anak-anak muda dan gadis-gadis. Kami masak khusus untuk kalian berdua, sedang perempuan-perempuan yang lain masak untuk para prajurit.”

Dada Untara menjadi berdebar-debar. Sambutan itu tidak disangka-sangkanya. Apalagi Wuranta. Terasa kerongkongannya justru menjadi kering.

“Mungkin masakan ini tidak seenak masakan yang disuguhkan bagi para prajurit. Tetapi aku kira inilah yang paling kami banggakan. Ini adalah ungkapan dari kegembiraan dan terima kasih kami, karena kalian berdua telah membebaskan kami dari ketakutan.”
“Bukan kami berdua. Bukan aku dan Wuranta,” sahut Untara, “tetapi seluruh pasukan yang ada di sini, bahkan seluruh rakyat di Jati Anom.”

“Apa yang telah kami lakukan selain mengungsi?” bertanya salah seorang anak muda itu.

“Kalian telah mengungsi. Kalian tidak bersedia membantu orang-orang Sidanti dan orang-orang Sanakeling, itu adalah bantuan yang besar sekali bagi kami.”

“Ah,” desis salah seorang dari mereka, “pujian itu berlebih-lebihan. Tetapi baiklah, kami senang mendengarnya, Sekarang, marilah. Makanlah. Kalian pasti sedang lapar dan haus.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Wuranta. Katanya, “Kita tidak dapat menolak, Wuranta.”

Sentuhan-sentuhan di dada Wuranta masih terasa mendebarkan jantungnya. Perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya, “Kita tidak dapat menolak.”

Mereka pun kemudian duduk di antara anak-anak muda itu. Terdengar di sana-sini suara mereka tertawa. Sementara itu para prajurit pun telah di tempatkan di tempat yang telah disediakan. Pendapa, gandok yang sebelah, dan beberapa rumah di sekitar kademangan itu.

Tetapi karena kesibukan masing-masing, maka baik Untara maupun perwira yang diserahinya, tidak ingat lagi bahwa di antara mereka terdapat Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah.

Sehingga dengan demikian, ketika para prajurit Pajang telah mendapat tempatnya masing-masing, maka Ki Tanu Metir, kedua muridnya, dan Sekar Mirah itu masih berada di halaman kademangan.

Sejenak mereka berdiri termangu-manggu. Prajurit-prajurit Pajang yang berada di halaman itu semakin lama menjadi semakin tipis, karena masing-masing segera pergi ke pondok yang telah disediakan untuk beristirahat.

“Kemanakah kita pergi?” bertanya Sekar Mirah kepada kakaknya.

Swandaru tidak menjawab, tetapi ia berpaling memandangi Agung Sedayu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, namun ia pun tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu.

Karena Swandaru dan Agung Sedayu tidak menjawab, maka Sekar Mirah berkata pula, “Apakah kita memang tidak masuk hitungan, Kakang?”

“Ah,” Ki Tanu Metir-lah yang menyahut, “jangan berpikir begitu, Ngger. Suasana di kademangan ini masih berada dalam keadaan perang. Sehingga semua perhatian bercurah kepada para prajurit dan kelengkapannya. Tetapi aku yakin, bahwa mereka sama sekali tidak bermaksud apa-apa terhadap kita. Ini adalah suatu kekhilafan yang tidak disengaja saja.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Dan kita harus berdiri saja di sini menunggu seseorang mempersilahkan kita?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Ia melihat beberapa orang perwira sibuk mengurus para prajurit itu serta beberapa pimpinan kademangan mengatur tempat dan perlengkapannya.

“Marilah kita duduk di gardu itu sebentar. Di sini semakin lama menjadi semakin panas.”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya, “Aku akan tetap berdiri di sini sampai seseorang mempersilahkan aku.”

(***)

From Kasdoelah’s Collection
Retype-Editing: Gaza and Raharga
Editing-Proof Reading: Eddy S & DD
Date: 10-21-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 17 Oktober 2008 at 04:41  Comments (10)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-27/trackback/

RSS feed for comments on this post.

10 KomentarTinggalkan komentar

  1. makasih mas ..

  2. Sederek MODERATOR, mau urun hasil editan sampai hal 40, di upload disini atau dikirim ke mana ya ? Maturnuwun infonya.

    D2: Kalau sebanyak itu, dikirim ke imel saja Pak. Imelku dikirim setelah pesan2 berikut.

  3. banyak burung hantunya ya …. tapi baguslah tikus2 jadi habis. Oke lanjut kang, semangat terusss …..

  4. ” Pekerjaan kita memang berkelahi ” sahut prajurit muda yang pertama, ” Kita adalah orang orang yang dibentuk untuk berkelahi ”

    hikksss, persis kaya Ki Menggung, senengane berkelahi karo Ni Sinden.

    • ki gembleh melawan koncone ni sinden beken 🙄

      • wah…..nglawan tukang ngendhange…???

        • kulo keBAGian peran menapa Ki…..!!??

          tukang ngebuK gong njih purun…..pokok-e kulo manut
          kemawon.

          • gong putihan nopo gong kuningan ki gund ?

            • gong kali gong,
              bekerja sama dengan baek.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: