Buku 27

“Terima kasih, Guru,” sahut Agung Sedayu.

“Nah, kalau begitu, kita berpisah sampai di sini. Aku akan pergi ke banjar. Kalau Angger Untara dapat mengerti, maka setidak-tidaknya perasaanmu menjadi agak tenang karenanya.”

Maka keduanya pun segera berpisah. Ki Tanu Metir pergi ke banjar dan Agung Sedayu kembali ke pondoknya.

Ketika ia sampai ke pintu rumah, maka ia masih mendengar Swandaru dan Sekar Mirah bercakap-cakap. Agaknya semalam suntuk mereka sama sekali tidak dapat tidur.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ki Tanu Metir pun telah sampai pula di banjar padepokan. Tetapi banjar itu masih terlampau sepi. Hanya para penjaganya sajalah yang masih tegak mondar-mandir di halaman, sedang sebagian yang lain duduk mengelilingi sebuah pelita di atas ajug-ajug yang tinggi di gardu peronda.

Ketika Ki Tanu Metir sampai di halaman, maka langit di ujung Timur telah menjadi semakin merah. Bayangan orang-orang yang sedang bertugas itu pun telah menjadi semakin jelas.

“Ah, Kiai,” desah salah seorang dari mereka, “masih terlampau pagi, Kiai sudah datang kemari.”

Ki Tanu Metir tersenyum. Jawabnya, “Aku takut kesiangan. Apakah Angger Untara ada?”

“Ada, Kiai, tetapi agaknya Ki Untara masih tidur. Semalam adiknya berada di sini sampai jauh malam, sehingga baru saja Ki Untara sempat beristirahat.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan menunggunya. Kalau begitu lebih baik aku duduk di gardu ini. Agaknya kalian baru saja mendapat minuman hangat.”

Para peronda itu tertawa, “Marilah, Kiai. Air sere dan jahe. Untuk mengusir dingin.”

Ki Tanu Metir pun kemudian duduk di antara mereka. Berbicara dengan para peronda itu. Bersenda-gurau dan berkelakar. Namun setiap kali teringat oleh orang tua itu, muridnya yang sedang bingung karena sikap kakaknya yang keras. Sikap seorang prajurit. Tetapi agaknya Untara sendiri belum pernah merasakan, betapa sulitnya untuk mengurai ikatan yang telah terlanjur membelit hati dari pertautan kasih antara dua orang remaja. Adalah berbahaya sekali untuk mengurainya dengan paksa dan kekerasan. Itulah sebabnya, ia harus menemui senapati muda yang hidupnya dicengkam oleh kepatuhan yang keras akan tugas-tugasnya.

Dengan tidak terasa, maka langit pun menjadi semakin lama semakin terang. Bintang gemintang satu-satu lenyap dari wajah yang biru membentang dari ujung ke ujung cakrawala.

Ki Tanu Metir yang tubuhnya telah dihangatkan oleh semangkuk air jahe, menggeliat. Dibenahinya kain gringsingnya. Kemudian perlahan-lahan turun dari gardu.

“Ke mana, Kiai?” bertanya salah seorang penjaga.

“Mungkin Angger Untara telah bangun,” jawab Ki Tanu Metir.

“Aku belum melihatnya. Biasanya, Ki Untara apabila bangun terus pergi ke sumur untuk membersihkan diri.”

“Tetapi hari telah pagi.”

“Agaknya ia terlambat bangun. Tidak seorang pun yang membangunkannya, karena setiap orang tahu, bahwa semalam ia hampir tidak tertidur.”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menggeliat. Katanya, “Biarlah, aku akan menunggunya di pringgitan.”

“Kalau begitu, silahkanlah, Kiai.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian berjalan melintasi halaman. Naik ke pendapa, kemudian masuk ke pringgitan.

Untara yang baru saja terbangun dari tidurnya terkejut melihai kehadiran Ki Tanu Metir begitu pagi.

“O, apakah Kiai semalam tidur di banjar ini?” bertanya Untara.

“Tidak, Ngger, semalam aku berjalan saja mengelilingi padepokan ini,”

“Dan sesudah itu Kiai langsung datang kemari?”

Ki Tanu Metir menggeleng, “Tidak, Ngger, aku sudah bertemu dengan Angger Agung Sedayu.”

Kening Untara segera berkerut. Anak muda yang berotak tajam itu segera dapat mengerti, bahwa kedatangan Ki Tanu Metir ini pasti berhubungan dengan adiknya, Agung Sedayu. Karena itu, maka hatinya pun menjadi berdebar-debar. Ternyata Agung Sedayu masih saja menjadi persoalan baginya. Agaknya anak itu telah menyampaikan persoalannya kepada gurunya, dan gurunya kini datang kepadanya untuk berusaha merubah sikapnya.

“Tidak,” katanya di dalam hati, “keputusanku tentang Agung Sedayu telah tetap. Ia harus menjadi seseorang yang cukup mempunyai pegangan. Ia harus mempunyai kedudukan yang baik sebelum ia tenggelam dalam hubungan dengan perempuan. Sekar Mirah tidak akan dapat menjadikannya seorang laki-laki yang baik. Hubungan itu hanya akan menghambat kemajuan-kemajuan yang seharusnya dapat dicapainya. Ia memiliki bekal yang cukup untuk memanjat ke tempat yang setinggi-tingginya. Ia kawan baik pula dari Adi Sutawijaya, yang pasti akan berpengaruh bagi kedudukannya.”

Untara itu tersadar ketika ia mendengar Ki Tanu Metir bertanya, “Apakah Angger akan membersihkan diri dahulu?”

“Oh,” Untara segera bangkit, “agaknya aku agak kesiangan.”

“Belum,” sahut Ki Tanu Metir.

Untara pun kemudian segera bangkit dan berjalan keluar untuk sesuci diri, bersama Ki Tanu Metir dan Wuranta.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah duduk berhadapan di atas bentangan tikar pandan. Wuranta yang telah selesai pula segera duduk di antara mereka.

“Kiai datang terlampau pagi,” bertanya Untara, “dan aku menjadi berdebar-debar karenanya. Mungkin ada sesuatu hal yang cukup penting yang akan Kiai katakan.”

“Ya,” jawab Ki Tanu Metir pendek.

Jawaban itu telah mengejutkan Untara dan bahkan Wuranta. Mereka tidak menyangka, bahwa jawaban Ki Tanu Metir akan terlampau pendek dan langsung. Apalagi ketika Ki Tanu Metir kemudian berkata, “Aku telah mendengar semuanya dari Angger Agung Sedayu tentang keputusan Angger Untara mengenai dirinya.”

Untara mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya masih juga berdebar-debar. Sudah dapat diduga sebelumnya, bahwa guru Agung Sedayu pasti akan selalu mencampuri urusannya dengan adiknya itu, seperti juga Ki Tanu Metir mencampuri urusan keprajuritan. Tetapi Untara tidak dapat menolak. Ki Tanu Metir telah terlampau banyak memberikan jasa-jasanya kepadanya, sejak peperangan-peperangan yang terjadi di Sangkal Putung. Bahkan sebelum itu. Ketika ia hampir mati di jalan ke Sangkal Putung dari Jati Anom, di dekat Macanan ia telah bertemu dengan Pande-besi Sendang Gabus, Alap-alap Jalatunda dan kawan-kawannya.

Seandainya Ki Tanu Metir tidak melindunginya saat itu, ia pasti sudah mati dicincang oleh Plasa Ireng, dan adiknya telah lumat oleh Alap-alap Jalatunda.

“Tetapi sebaiknya Ki Tanu Metir tidak mencampuri terlampau banyak persoalan keluargaku,” desisnya di dalam hati.

Karena Untara tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir itu berkata pula, “Dan adikmu, Angger Agung Sedayu, kini menjadi sangat bingung.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia bertanya, “Apakah yang dibingungkannya?”

“Perintahmu, Ngger.”

“Seharusnya Agung Sedayu tidak usah menjadi bingung. Semuanya telah jelas. Dan ketika aku bertanya kepadanya, ia mengiakannya. Semuanya telah dimengertinya.”

“Seharusnya Angger dapat mengerti, bahwa hal itu dilakukannya, karena ia begitu takut dan hormat kepada Angger sebagai seorang saudara tua pengganti ibu bapa. Tetapi perintah Angger telah menyudutkannya dalam suatu pertentangan perasaan yang hampir-hampir tidak dapat dipecahkanya.”

Dahi Untara menjadi berkerut-merut, karena debar di dadanya seolah-olah mengguncang jantungnya. Dan demikian derasnya getar di dadanya itu, sehingga ia bertanya, “Apakah Kiai tidak sependapat dengan perintahku kepada adikku itu.”

Ki Tanu Metir yang juga menyebut dirinya Kiai Gringsing itu tidak segera menjawab. Tetapi ditatapnya wajah Untara tajam-tajam. Seolah-olah ingin membaca apa yang tersirat di wajah anak muda Senapati Wira Tamtama, yang mendapat kekuasaan untuk menyelesaikan masalah orang-orang Jipang di daerah Selatan di sekitar Gunung Merapi.

Betapa besarnya nama Untara, dan betapa tangguhnya ia di medan-medan perang menghadapi lawannya, tetapi tatapan mata Ki Tanu Metir itu terasa terlampau tajam baginya, sehingga sesaat kemudian Senapati muda itu menggeser sudut pandangnya.

Tetapi jawaban Ki Tanu Metir telah mengejutkannya. Perlahan ia mendengar Ki Tanu Metir itu menjawab, “Aku sependapat dengan kau, Ngger.”

Sejenak Untara justru terbungkam. Ia tidak segera dapat mengucapkan kata-kata. Dan didengarnya Ki Tanu Metir itu berkata selanjutnya, “Tetapi, cara yang Angger tempuh, bagiku terlampau tajam, sehingga Angger sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Angger Agung Sedayu mencari jalan yang agak lapang bagi perasaannya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ketika debar jantungnya telah menjadi agak tenang, maka ia pun bertanya, “Jadi, bagaimanakah yang sebaiknya aku lakukan?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Untara berganti-ganti dengan wajah Wuranta yang tegang pula. Sesaat kemudian ia berkata, “Angger adalah seorang prajurit di medan perang. Angger terlampau biasa menjatuhkan perintah yang langsung tanpa aling-aling. Tetapi masalah Angger Agung Sedayu, agak berbeda dengan keadaan yang sering Angger hadapi. Seandainya Angger Agung Sedayu melakukan juga perintah Angger Untara, namun hatinya pasti akan terluka. Dan luka yang demikian itu akan sangat berbahaya, justru usianya yang masih terlampau muda.”

Untara mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah yang Kiai maksud? Apakah aku harus memutar balikkan kata-kataku sehingga malahan Agung Sedayu tidak tahu maksudnya.”

“Bukan begitu, Ngger,” jawab Ki Tanu Metir, “tetapi Angger memerlukan kebijaksanaan. Maksud Angger tercapai, tetapi hati adik Angger itu tidak terluka karenanya. Luka yang akan dapat menjadi cacat sepanjang hidupnya.”

“Ah, itu terlampau cengeng, Kiai,” sahut Untara, “apabila Agung Sedayu benar-benar seorang jantan, maka hal itu pasti tidak akan terjadi atasnya. Seorang yang berpikir cukup jauh, mempertimbangkan kepentingan-kepentingan yang jauh lebih besar dari yang terlampau kecil. Bukankah Kiai mencemaskan Agung Sedayu akan menjadi patah hati? Mungkin itu akan terjadi. Tetapi itu tidak akan lama. Ia seharusnya dapat mengatasinya. Ia harus bangkit dan melupakan hubungan itu. Dan ia harus menyadari bahwa hubungan itu hanya akan menghambat kemajuannya. Lahir dan batin. Dan ia akan berhenti sampai keadaannya yang sekarang. Kemudian, ia akan kehilangan masa depannya. Ia akan terhenti dan segera akan kawin. Menjadi seorang ayah, dan waktu-waktunya akan hilang di sawah dan ladang. Maka, apakah artinya masa mudanya itu baginya nanti? Mungkin ia akan dapat menjadi seorang Jagabaya. Setinggi-tingginya seorang Demang apabila beruntung. Tetapi tidak lebih dari itu.”

Kata-kata Untara terputus ketika tiba-tiba dilihatnya wajah Ki Tanu Metir berubah. Wajah yang telah dilukisi oleh kerut-merut ketuaannya itu tiba-tiba menjadi tegang. Tetapi hanya sesaat. Orang tua itu berusaha sekuat-kuatnya untuk menahan perasaannya. Dan sejenak kemudian orang tua itu tersenyum.

“Ternyata Angger memandang dunia ini hanya dari satu sudut,” berkata orang tua itu kemudian.

Untara mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Dibiarkannya orang tua itu meneruskannya, “Angger memandangnya dari sudut Angger sendiri.” Sekali lagi orang tua itu terhenti, lalu dilanjutkannya. “Aku pun hanya seorang dukun tua yang tidak berarti apa-apa, Ngger. Bahkan mungkin jauh di bawah arti seorang Jagabaya apalagi seorang Demang.”

“Ah,” Untara berdesah, “bukan maksudku, Kiai. Tetapi Kiai adalah seorang yang mumpuni di dalam bidang yang telah Kiai pilih. Kiai agaknya tidak menyia-nyiakan hari-hari Kiai di masa muda yang sangat berharga itu, sehingga Kiai mendapatkan kemampuan Kiai seperti sekarang. Tidak hanya di bidang pengobatan, tetapi ternyata Kiai adalah seorang yang berilmu hampir sempurna.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Seleret dikenangnya masa-masa mudanya. Tetapi sekali lagi ia mentoba mengekang perasaannya. Masa muda itu tidak begitu cerah baginya. Masa yang ingin sekali dapat dilupakannya. Tetapi kadang-kadang kenangan atas masa-masa itu membersit di hatinya.

“Masa-masa yang kelam,” desisnya. “Mudah-mudahan orang lain tidak akan mengalaminya.”

Tetapi ternyata kenangannya di masa muda yang seolah-olah selalu disembunyikannya itu, telah mendorongnya untuk lebih banyak berbuat untuk menyelamatkan perasaan muridnya, sehingga ia kemudian berkata, “Sudahlah, Ngger. Mungkin pendirian Angger itu pun dapat dibenarkan. Dengan demikian maka kesempatan Angger Agung Sedayu akan lebih luas terbuka. Tetapi apabila ia mampu mengatasi hambatan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri. Karena itu, Ngger, aku ingin maksud Angger itu tercapai dengan tidak usah menyakiti hatinya.”

“Maksud Kiai?”

“Angger tidak usah dengan tergesa-gesa melarangnya berhubungan dengan Angger Sekar Mirah.”

“Ah,” Untara berdesah, “itu adalah hambatan yang paling besar baginya.”

“Seandainya Angger mengingininya, tetapi jangan dilakukan dengan paksa. Angger harus mencari jalan sebaik-baiknya untuk melakukannya. Aku mengerti maksud Angger, tetapi aku tidak dapat sependapat dengan cara yang Angger tempuh.”

Dahi Untara menjadi berkerut-merut mendengar kata-kata Ki Tanu Metir itu. Seandainya yang berkata itu bukan Kiai Gringsing, yang telah banyak berjasa, tidak saja kepadanya; tetapi juga kepada pasukan Pajang di Sangkal Putung.

Dengan demikian maka dada Untara itu serasa menjadi pepat. Ia tidak segera dapat memilih jalan yang sebaik-baiknya untuk menentukan sikap.

Sejenak pringgitan banjar padepokan Tambak Wedi itu menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah desah nafas mereka yang sedang ditegangkan oleh persoalan yang mereka bicarakan.

Baru sejenak kemudian terdengar Untara bertanya, “Lalu cara yang manakah yang Kiai anggap sebaik-baiknya.”

“Aku mengharap agar Angger melakukannya dengan perlahan,” jawab Ki Tanu Metir.

“Mustahil dapat terjadi,” bantah Untara, “bahkan hubungan mereka akan menjadi semakin erat dan mendalam. Sesudah itu tidak ada jalan lagi untuk memisahkannya. Agung Sedayu tidak lagi dapat berpikir wajar. Seluruh hidupnya akan diikat oleh wanita itu. Badannya dan nyawanya. Kebanggaan baginya adalah mempertahankan perempuan itu. Dan anak itu tidak akan ingat lagi bahwa perjuangan masih jauh untuk mewujudkan Pajang yang besar dan kuat.”

“Aku akan melakukannya,” jawab Ki Tanu Metir tenang, namun cukup mengejutkan hati Untara, “aku akan mencoba membuat Angger Agung Sedayu menjadi seorang yang baik, yang berguna bagi negara dan tanah kelahiran. Aku tidak mempedulikannya, apakah ia masih akan tetap berhubungan dengan Sekar Mirah atau tidak. Seandainya ia terpisah dari padanya pun, maka adalah menjadi kodrat seorang laki-laki untuk memilih seorang perempuan menjadi kawan hidupnya. Tetapi apabila keinginan Angger Untara untuk membuat Angger Agung Sedayu seorang yang kuat dalam kedudukan dan kanuragan, maka serahkanlah kepadaku. Maksudku, Sekar Mirah tidak akan merintanginya atau menjadi penghalangnya, meskipun mereka masih tetap berhubungan. Seharusnya Angger dapat membaca tabiat dan sifat Angger Sekar Mirah. Kalau yang Angger Untara bicarakan adalah mengenai kedudukan, pangkat, jabatan dan apa lagi, maka Angger Sekar Mirah akan dapat menjadi pendorong yang baik. Tetapi kalau soalnya lain, maka harus diutarakan agar hal itu dapat terjadi perlahan-lahan tanpa melukai hatinya seperti yang telah aku katakan.”

Wajah Untara menjadi semakin tegang mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu, dan Kiai Gringsing ternyata masih melanjutkan. “Seandainya Angger ingin melihat Angger Agung Sedayu tidak lagi berhubungan dengan Angger Sekar Mirah pun, aku akan mencoba mengusahakannya pula, tetapi tidak dengan tiba-tiba.”

Ketegangan di dada Untara telah memuncak. Sehingga sejenak ia kehilangan penguasaan diri. Dengan gemetar ia berkata, “Kiai, biarlah aku mengatur jalan hidup Agung Sedayu. Aku adalah kakaknya, pengganti ibu bapa.”

Seleret membersitlah dari sepasang mata orang tua yang bening itu, sorot yang tajam, yang seolah-olah langsung menghunjam ke jantung Untara. Tetapi sesaat kemudian sepasang mata itu telah menjadi lunak kembali. Bahkan orang tua itu tersenyum sambil menjawab, “Maaf, Ngger. Kau adalah kakak Angger Agung Sedayu, kau adalah satu-satunya keluarganya yang tinggal. Tetapi sebaiknya Angger ingat bahwa aku adalah gurunya.”

Dada Untara berdesir mendengar jawaban Ki Tanu Metir itu. “Ya, orang tua itu adalah gurunya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk menguasainya dirinya yang seolah-olah telah terbakar oleh perasaan kecewanya terhadap sikap Ki Tanu Metir yang terlampau banyak mencampuri urusannya. Tetapi orang tua itu adalah gurunya. Wewenang seorang guru kadang-kadang melampaui wewenang orang tua sendiri terhadap seseorang. Seseorang kadang-kadang lebih taat mematuhi perintah gurunya dari pada orang tuanya. Dan Ki Tanu Metir itu adalah guru Agung Sedayu.

“Tetapi,” suatu pergolakan telah terjadi di dalam dada Untara, “aku mempunyai seribu pertimbangan untuk memisahkan Sekar Mirah dari Agung Sedayu. Kecuali untuk kepentingan Agung Sedayu sendiri, maka persoalannya dengan Wuranta pasti tidak akan dapat selesai dengan baik. Padahal keduanya adalah anak-anak Jati Anom. Perselisihan itu mau tidak mau pasti akan menyentuh namaku pula, apalagi apabila keduanya menjadi lupa diri. Sedang keduanya sama sekali tidak seimbang dalam olah kanuragan. Kalau Agung Sedayu kehilangan pengendalian diri, maka akibatnya akan memalukan sekali. Aku pun pasti akan terpercik pula karenanya.”

Tetapi Untara tidak dapat segera mengatakannya. Betapa hatinya bergolak, tetapi ia masih tetap menyadari, bahwa yang duduk itu adalah Ki Tanu Metir. Orang yang telah menyelamatkan jiwanya, dan jiwa adiknya, Agung Sedayu.

Itulah sebabnya, maka dada Untara itu seolah-olah akan meledak. Ia dihadapkan pada suatu persoalan yang baginya jauh lebih rumit dari persoalan Tohpati di Sangkal Putung. Bahkan ia mengeluh di dalam hatinya, “Seandainya tidak ada Sekar Mirah. Seandainya gadis itu tidak terlibat dalam persoalan antara Pajang dan sisa-sisa orang Jipang.”

Sekali lagi pringgitan itu dicengkam oleh kesepian. Tetapi betapa dada mereka dibakar oleh debar jantung masing-masing yang bergolak seperti kawah gunung Merapi.

Titik-titik keringat telah membasahi dahi mereka. Dan punggung mereka pun telah menjadi basah, seakan-akan mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan yang terlampau berat.

Tetapi ternyata dari kening Wuranta titik-titik keringat itu telah menetes satu-satu di atas tikar pandan yang telah menjadi kekuning-kuningan. Bibirnya tampak bergetar, secepat getar di dalam dadanya. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi serasa tersangkut di kerongkongan, sehingga dengan demikian, maka wajahnya pun menjadi semakin tegang.

Kiai Gringsing yang telah cukup banyak menyimpan pengalaman di dalam dadanya, dapat membaca betapa dada anak muda itu hampir retak karena tekanan perasaan yang tidak dapat dilimpahkannya keluar. Karena itu, maka sambil tersenyum ia berkata, “Angger Wuranta, agaknya Angger ingin mengatakan sesuatu. Tetapi Angger merasa terlampau berat untuk melepaskannya. Katakanlah, Ngger, supaya dadamu tidak menjadi pepat, dan kepalamu menjadi pening. Apakah yang kau katakan itu dapat kami mengerti atau tidak, itu adalah soal yang lain. Namun dengan demikian, dadamu pasti akan menjadi agak lapang karenanya.

Wuranta menelan ludahnya yang seolah-olah menyumbat kerongkongannya. Sekali dipandanginya dukun tua itu, dan sekali senapati muda yang bernama Untara itu. Namun tatapan mata mereka terlampau tajam baginya, sehingga anak muda Jati Anom itu menundukkan kepalanya. Tetapi terdengar suara lirih terputus-putus, “Ya, Kiai. Aku memang ingin mengatakan sesuatu.”

“Nah, katakanlah. Mungkin Angger dapat membantu melepaskan keruwetan ini,” sahut Ki Tanu Metir.

Tetapi dahi Untara menjadi semakin berkerut-merut. Apabila Wuranta menuntut supaya ia melaksanakan keputusannya, maka perasaannya pasti akan menjadi semakin kisruh. Ternyata Ki Tanu Metir mempunyai rencananya sendiri atas muridnya yang tidak sesuai dengan rencananya.

Persoalan itu adalah persoalan yang paling rumit yang membebani pikirannya. Persoalan Agung Sedayu dan Wuranta, yang berkisar di seputar gadis Sangkal Putung yang bernama Sekar Mirah, yang langsung atau tidak langsung telah menghancurkan Tambak Wedi karena pertentangan yang tumbuh di dalam tubuh padepokan ini karena gadis itu pula. Sehingga Sidanti dan Alap-alap Jalatunda lelah berkelahi, dan yang masing-masing telah menyeret orang-orangnya ke dalam perkelahian yang dahsyat itu.

“Pertentangan yang demikian itu masih akan terulang?” desisnya di dalam hati, “Apakah Agung Sedayu dan Wuranta akan menyeret pihak masing-masing pula untuk saling bertentangan?”

Untara menahan nafasnya ketika ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Silahkan Ngger, silahkan. Katakanlah.”

Wuranta menggigit bibirnya. Keringatnya semakin deras mengalir di keningnya. Dan bajunya pun menjadi semakin kuyup pula.

“Kiai,” terdengar suaranya lambat sekali, “aku minta maaf.”

Kiai Gringsing dan Untara menarik kening mereka. Kata-kata itu telah membuat mereka keheranan. Dan terdengarlah Kiai Gringsing bertanya, “Kenapa Angger minta maaf? Bukankah sudah seharusnya dalam suatu pembicaraan masing-masing pihak mengemukakan pendiriannya?”

Tetapi nafas Wuranta menjadi semakin deras mengalir. Sekali lagi ia berkata, “Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat kekisruhan ini.”

Ki Tanu Metir dan Untara menjadi semakin heran. Sejenak mereka justru terdiam memandangi wajah Wuranta yang telah dibasahi oleh keringatnya. Tetapi sejenak kemudian, Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sareh ia berkata, “Tenanglah, Ngger. Coba katakanlah, apakah yang sebenarnya tersimpan di hati Angger sejelas-jelasnya. Jangan ragu-ragu, dan jangan mencemaskan apa pun akibat dari kata-katamu.”

Wuranta masih menundukkan kepalanya. Bahkan tubuhnya menjadi gemetar oleh getaran di dalam dadanya.

“Untara,” katanya perlahan-lahan, “aku merasa bersalah, bahwa aku telah mengganggu ketenanganmu. Selama aku mendengar pembicaraanmu dengan Ki Tanu Metir, aku merasa bahwa aku telah berbuat kesalahan yang besar terhadap Agung Sedayu. Karena itu, maka jangan kau hiraukan aku lagi. Aku menyadari, bahwa tidak seharusnya aku melibatkan diri dalam hidupnya. Aku memang terlampau jauh tenggelam ke dalam suatu dunia mimpi yang memabukkan, sehingga aku telah melupakan tata pergaulan di antara kawan sendiri. Untara, seharusnya aku menjadi malu sekali bahwa hal ini telah terjadi. Karena itu, hanya kepadamu dan kepada Ki Tanu Metir aku mengaku. Pembicaraanmu yang terakhir ternyata telah membuka hatiku. Aku tidak berhak untuk mengganggu hubungan Agung Sedayu dengan Sekar Mirah. Aku telah merasakan betapa pahitnya kehilangan tanpa memilikinya. Apalagi Agung Sedayu. Agaknya hati mereka memang telah terpaut. Karena itu, lupakan saja aku. Jangan kau hiraukan aku lagi.”

“Wuranta,” terdengar suara Untara pun tiba-tiba menjadi bergetar. Tetapi Untara tidak meneruskan kata-katanya.

Sekali lagi pringgitan itu menjadi sepi. Sekali lagi nafas-nafas mereka terdengar memenuhi ruangan itu. Ki Tanu Metir yang tua mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali tangannya meraba-raba keningnya yang basah.

Dan sejenak kemudian, orang tua itu berkata perlahan, “Kau memang berjiwa besar, Ngger.”

“Ah,” Wuranta berdesah. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

“Hatimu yang telah terbuka itu pasti akan banyak sekali menolong kegelapan hati kita masing-masing,” berkata orang tua itu pula.

Tetapi Untara kemudian berkata, “Apakah aku akan membiarkan persoalan ini berlarut-larut?”

Ki Tanu Metir berpaling memandangi wajah Untara dengan kening yang berkerut, sedang Wuranta pun mengangkat kepalanya pula dan berkata, “Persoalan ini telah selesai Untara. Aku lelah mengakui segala kesalahan yang telah aku lakukan. Aku tidak akan mengganggu gugat lagi, apa pun yang akan kau lakukan atas Agung Sedayu. Tetapi janganlah Agung Sedayu kau korbankan hanya karena ketamakanku. Kalau terpaksa harus memutuskan hubungan, maka akulah yang sudah sewajarnya menarik diri, sebab aku belum pernah merasakan getaran apa pun yang menghubungkan hati kami. Hatikulah yang terlampau lemah. Mudah-mudahan, aku belum terlambat untuk mengakui kesalahanku ini.”

Sikap Wuranta itu sama sekali tidak diduga-duga sebelumnya oleh Untara dan Ki Tanu Metir. Karena itu, maka tanggapan mereka atas sikap Wuranta itu pun terasa aneh. Namun terbersit di hati mereka kebesaran jiwa anak muda Jati Anom itu, meskipun terlampau dicengkam oleh gelora perasaannya.

Ki Tanu Metir yang tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya. Di samping perasaan ibanya terhadap Wuranta, orang tua itu menjadi agak lapang pula dadanya. Dengan demikian ia mengharap, bahwa persoalan muridnya dengan demikian akan segera selesai. Untara tidak akan lagi diganggu oleh kemungkinan yang mencemaskannya. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat meretakkan hubungan antara anak-anak muda Jati Anom sendiri.

Untara yang dapat merasakan, betapa pahitnya perasaan Wuranta sejenak menjadi terdiam. Ia melihat betapa sakitnya hati Wuranta, tetapi ia merasakan juga, bahwa sikap Wuranta itu dilambari dengan keikhlasan yang dalam. Wuranta benar-benar telah menyatakan isi hatinya, bukan sekedar untuk memulas diri, basa-basi, atau semacam pameran keluhuran budi. Tetapi Wuranta benar-benar ikhlas menelan kepahitan yang dihadapinya. Setelah nalarnya mampu bekerja dengan bening, maka anak muda itu melihat betapa ia telah dikuasai oleh ketamakan dan kesombongan tiada taranya. Baru berapa hari ia mengenal Sekar Mirah. Ia tidak tahu perasaan apakah yang tersimpan di dalam dada gadis itu terhadap dirinya, maka ia telah merasa berhak untuk beriri-hati terhadap Agung Sedayu yang telah berkenalan jauh lebih lama dengan gadis Sangkal Putung itu, bahkan di antara keduanya telah terjalin hubungan yang betapapun lembutnya.

Namun meskipun demikian, Untara, Senapati Perang dari prajurit Wira Tamtama itu, tiba-tiba merasa terikat oleh keputusannya sendiri. Tiba-tiba ia merasa bahwa pendiriannya itu adalah pendirian yang sebaik-baiknya bagi adiknya.

Karena itu, maka tiba-tiba Untara itu pun berkata, “Aku dapat mengerti Wuranta. Aku berterima kasih kepadamu. Kau telah membantu kami untuk menentukan sikap kami terhadap Agung Sedayu.” Untara itu berhenti sejenak. Namun Ki Tanu Metir terkejut ketika Untara itu meneruskan, “Tetapi aku merasa, bahwa keputusanku adalah jalan yang sebaik-baiknya bagi Agung Sedayu. Bukan saja karena aku ingin melerai pertentangan yang ada di antara kalian, kau dan Agung Sedayu. Meskipun tidak tampak di dalam sikap dan tindak-tanduk, tetapi hanya tersimpan di dalam hati. Namun aku memang menganggap, bahwa sebaiknya Agung Sedayu menghindari rintangan-rintangan yang akan dipasangnya sendiri sepanjang perjalanan hidupnya.”

Ketika Untara berhenti berbicara, terdengar Ki Tanu Metir berdesah. Orang tua itu bergeser setapak maju sambil mengernyitkan alisnya.

“Hem,” orang tua itu menarik nafasnya dalam-dalam sehingga dadanya terangkat.

Untara melihat sikap Ki Tanu Metir dengan dada yang berdebar. Tetapi ia masih saja ingin meyakinkan orang tua itu, bahwa Agung Sedayu masih harus membentuk dan menyusun hari depannya sebaik-baiknya. Kalau pagi-pagi ia sudah tidak dapat melepaskan ikatan pinjung gadis Sangkal Putung itu, maka hari depannya pasti tidak akan dapat diharapkan. Ia tidak akan menjadi orang yang dibicarakan di istana Pajang. Mungkin ia akan dapat menjadi seorang gegedug, seorang yang dipandang pilih tanding suatu daerah, di suatu kademangan atau di suatu daerah tanah perdikan. Tetapi namanya tidak akan sempat disebut-sebut di dalam sidang-sidang agung di istana Pajang, karena tidak seorang pun yang dapat mengenalnya dengan pasti.

“Angger Untara,” berkata Ki Tanu Metir itu kemudian, “aku dapat mengerti perasaan Angger. Aku dapat mengerti kehendak yang sebaik-baiknya yang tersimpan di dalam hati Angger sebagai seorang kakak terhadap adik satu-satunya. Adalah sudah sewajarnya, apabila Angger Untara sebagai seorang saudara tua, seorang pengganti ibu bapa ingin melihat Angger Agung Sedayu menjadi seorang besar, seorang yang terpandang. Bahkan apabila mungkin menjadi seorang yang penting di dalam pemerintahan.-

“Angger Untara, aku kagum akan sikapmu itu. Seorang saudara tua yang benar-benar memikirkan nasib saudara satu-satunya, adiknya. Meskipun sikap ini sebenarnya tumbuh dari persoalan yang telah bergeser dari titik tumpuannya.”

Untara mengerutkan keningnya. Ia tahu benar arah pembicaraan Ki Tanu Metir. Ki Tanu Metir ternyata dapat mengerti maksudnya, tetapi orang tua itu tetap pada pendiriannya pula. Bahkan orang tua itu menganggap, bahwa keputusannya itu beralaskan persoalan yang mula-mula tidak seperti yang dinyatakannya sekarang.

“Tetapi,” Ki Tanu Metir meneruskan, “Angger tidak melihat hati Angger Agung Sedayu. Angger memandang dari satu segi, dan Angger tidak mencoba melihat dari celah-celah perasaan Angger Agung Sedayu itu. Meskipun maksud Angger itu baik dan Angger nyatakan dengan jujur, tetapi Angger kurang memberikan kesempatan kepada Angger Agung Sedayu untuk turut serta menentukan dirinya sendiri. Angger Untara dapat memberikan arah kepada Angger Agung Sedayu, tetapi jangan membunuh perkembangannya dengan cara yang keras. Sudah aku katakan, Ngger, akan mencoba membantu Angger Untara. Dan aku pun merasa bertanggung jawab pula atas Angger Agung Sedayu, karena aku adalah gurunya. Baik-buruk, hitam-putih anak muda itu, pertama-tama pasti diukur dengan kemampuan gurunya. Kalau ia gagal, akulah yang paling parah menanggungnya. Aku pasti akan menjadi tempat untuk melemparkan hinaan dan celaan. Akulah yang menanggung malu karenanya. Seorang guru yang tidak mampu membentuk muridnya menjadi seorang yang baik.-

“Karena itu, Ngger, percayakan ia kepadaku. Aku akan mengikutinya ke Sangkal Putung. Kemudian membawanya bersama Angger Swandaru untuk meninggalkan kademangan itu. Aku ingin memberi mereka sedikit pengalaman dalam perantauan.”

Jantung Untara serasa menjadi semakin cepat berdentang. Tetapi apa yang dikatakan oleh Ki Tanu Metir itu tidak dapat disangkalnya. Tanggung jawab atas Agung Sedayu memang lebih banyak akan dibebankan kepada gurunya daripada kepada kakaknya.

Karena itu maka Untara itu pun terdiam untuk beberapa saat. Tampaklah ketegangan di wajahnya menjadi semakin memuncak.

“Angger Untara,” terdengar Ki Tanu Metir meneruskan, “mudah-mudahan aku dapat membantu Angger, membuat Angger Agung Sedayu menjadi seorang yang Angger harapkan. Aku akan membentuknya sesuai dengan keadaannya dan mempersiapkannya menjadi seorang yang cukup memiliki bekal untuk menjadi seorang yang namanya akan disebut-sebut di istana Pajang.-

“Tentang Angger Sekar Mirah jangan kau hiraukan lagi. Aku mengharap, bahwa Angger Sekar Mirah tidak akan menjadi penghalang, tetapi justru akan menjadi seorang yang dapat mendorong Angger Agung Sedayu untuk meletakkan cita-citanya setinggi bintang di langit.”

Untara masih tetap berdiam diri. Kini di dalam dadanya terjadi pergolakan yang sengit. Ia merasa berat sekali untuk mencabut dan merubah sikapnya, namun ia dapat mengerti dan memahami pendirian Ki Tanu Metir.

Kini sejenak mereka yang berada di pringgitan itu saling berdiam diri. Untara mencoba mencari kemungkinan yang sebaik-baiknya yang dapat dilakukannya.

Akhirnya Senapati muda itu berkata, “Kiai, aku dapat mengerti pendirian Kiai. Tetapi aku juga tidak dapat melepaskan keinginanku, bahwa adikku akan menjadi orang yang mapan di hari depannya. Karena itu Kiai, apabila Kiai merasa, bahwa Kiai dapat membantu aku, menyelamatkan masa depan anak itu, maka aku dapat menyerahkannya kepada Kiai. Tetapi dengan jaminan bahwa Agung Sedayu tidak akan segera terikat dalam suatu ikatan yang dapat menutup kemungkinan-kemungkinan di masa datang.”

“Maksud Angger Untara, agar Angger Agung Sedayu tidak segera kawin sebelum memiliki cukup bekal untuk hidupnya. Begitu?” potong Ki Tanu Metir.

Untara menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk, “Ya, begitulah Kiai, dan tidak lagi mengalami kesulitan justru karena hubungannya dengan gadis itu.”

“Sebenarnya, perkawinan bukan suatu batas bagi perkembangan seseorang. Mungkin justru di dalam masa perkawinan itulah, seseorang mendapat dorongan untuk berbuat sesuatu,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi seandainya Angger menghendaki demikian, maka aku akan mengusahakannya. Aku akan membuatnya bersiap menghadapi masa depannya. Seandainya ia kelak menjadi seorang prajurit, biarlah ia menjadi seorang prajurit yang telah masak. Angger Agung Sedayu saat ini memang masih terlampau hijau. Ia masih banyak memerlukan pengalaman untuk mengikuti Angger Untara merayap ke tangga istana Pajang. Khususnya sebagai seorang prajurit Wira Tamtama.”

Sekali lagi Untara terbungkam. Ia tidak menemukan alasan untuk menyangkal pikiran Ki Tanu Metir itu. Karena itu, maka Untara itu pun kemudian berkata, “Baiklah, Kiai. Aku serahkan Agung Sedayu kepada Kiai. Tetapi ingat, aku sebagai kakaknya, pengganti ibu-bapa, ingin agar Agung Sedayu mendapat tempat di dalam lingkungan keprajuritan, di mana ia akan mendapat kesempatan untuk langsung mengabdikan diri kepada negerinya. Aku akan menyesal apabila kelak Agung Sedayu tidak lebih daripada seorang yang hanya dapat menakut-nakuti pencuri-pencuri ayam di padesan yang jauh dari pimpinan pemerintahan.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar, bahwa cita-cita Untara melambung tinggi ke awang-awang. Seperti cita-citanya sendiri dalam pengabdiannya terhadap negara dan tanah kelahirannya, ia pun mengharap adiknya akan turut serta di dalam pengabdian itu. Tetapi sebagai manusia, maka Untara tidak luput pula dari pamrih. Ia ingin adiknya menjadi seorang yang namanya disebut-sebut di dalam sidang-sidang di istana, seperti juga namanya sendiri selalu disebut-sebutnya.

“Baiklah, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir, “aku akan mencoba membantu perkembangan pribadinya, meskipun sebagian terbesar tergantung pada Angger Agung Sedayu sendiri. Aku akan mencoba menempuh jalan yang paling mudah bagi Angger Agung Sedayu. Kelak apabila datang saatnya, maka aku akan datang kembali membawa Angger Agung Sedayu. Aku akan menyerahkannya kepada Angger Untara. Seterusnya jalan akan lebih lapang bagi Angger Agung Sedayu, apabila ia bersama dengan Angger Untara.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan, Kiai. Semuanya terserah kepada Kiai.” Kemudian Untara itu berpaling kepada Wuranta, “Terima kasih akan kerelaanmu mengorbankan kepentinganmu sendiri, Wuranta. Kau telah membantu memecahkan persoalan ini.”

Wuranta mengangkat wajahnya. Kemudian ia berkata, “Aku seharusnya minta maaf langsung kepada Agung Sedayu, kepadamu, dan kepada Ki Tanu Metir. Tetapi aku tidak cukup berani untuk berhadapan dengan Agung Sedayu.”

“Kau cukup berjiwa besar, Ngger. Kau telah mengatakannya kepadaku dan Angger Untara. Itu sudah cukup. Aku akan menyampaikannya kepada Agung Sedayu,” sahut Ki Tanu Metir.

Wuranta tidak menjawab. Tetapi kepalanya ditundukkannya.

Dan terdengar Ki Tanu Metir berkata, “Kalau demikian, maka biarlah aku membawa anak-anak Sangkal Putung itu pulang ke rumahnya. Seterusnya aku akan membawa Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru untuk menambah pengalamannya yang masih terlampau sempit. Mungkin ada tempat-tempat yang perlu dikunjungi. Mungkin aku akan dapat memperkenalkannya dengan orang-orang yang namanya pernah tersebar di seluruh daerah Demak lama, dan yang kini seakan-akan mengasingkan dirinya.”

Untara tidak segera menjawab. Tetapi hatinya terasa berdesir juga. Terbayang di pelupuk matanya, adiknya yang masih muda itu akan memulai dengan sesuatu kehidupan yang baru baginya. Kehidupan yang asing sama sekali dari kehidupannya di masa kanak-kanaknya.

Dibayangkannya, di masa kanak-anak Agung Sedayu, hampir tidak pernah terpisah dari ujung selendang ibunya. Ke mana ibunya pergi, Agung Sedayu hampir pasti ikut bersamanya. Kalau sekali-sekali Agung Sedayu pergi juga dengan ayahnya, maka ibunya selalu berpesan bersungguh-sungguh, supaya anak itu nanti kembali dengan selamat kepadanya.

Kini Agung Sedayu yang hampir tidak pernah menjenguk keluar pagar itu, akan pergi dengan gurunya ke tempat yang tidak menentu. Merantau untuk menambah pengalaman dan menggembleng diri.

Untara tersadar ketika ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Angger Untara, aku kira tidak ada lagi kepentingan kami di sini. Karena itu, maka biarlah kami minta diri. Kami akan pergi ke Sangkal Putung untuk mengembalikan Sekar Mirah, kemudian mencoba membentuk Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru untuk menjadi seorang laki-laki dewasa.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak akan mencegah lagi, Kiai. Aku kali ini mempercayakannya kepada Kiai. Mudah-mudahan Kiai tidak gagal. Umur Agung Sedayu akan selalu merayap, dan tidak akan dapat diulang. Tetapi aku minta, Kiai tidak pergi meninggalkan padepokan ini, sekarang atau besok pagi. Aku ingin, kita bersama-sama yang telah berbuat sesuatu untuk menyelesailan pekerjaan ini, berkumpul bersama-sama untuk mengatakan kegembiraan hati kita dan untuk menyatakan terima-kasih kita kepada Tuhan yang telah memberikan jalan yang lapang kepada kita. Aku ingin kita semuanya sempat melepaskan ketegangan yang selama ini telah menghimpit hati kita, meskipun itu tidak berarti bahwa kita akan kehilangan kewaspadaan.”

“Ah,” sahut Ki Tanu Metir, “aku kira kami tidak perlu turut serta dalam kegembiraan itu. Bagi anak-anak Sangkal Putung itu, kegembiraan yang paling besar kini adalah kembali kepada ayah dan ibunya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia berkata, “Aku tahu, Kiai, tetapi biarlah kegembiraan kita menjadi lengkap. Hari itu tidak akan terlampau lama. Dua tiga hari kita akan menyelenggarakannya di Jati Anom, seperti yang telah aku katakan. Aku sudah mengirimkan beberapa orang untuk menemui Ki Demang di Jati Anom. Sayang, bahwa hari-hari yang kita rencanakan itu tidak dapat dilakukan besok atau lusa. Ki Demang memerlukan persiapan untuk itu, apalagi setelah Jati Anom dikacaukan oleh kehadiran orang-orang dari padepokan ini.

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah Angger Untara benar-benar ingin menahan kami.”

“Tentu, Kiai. Terutama Agung Sedayu. Aku harus melepaskannya dengan beberapa pesan yang mudah-mudahan berguna baginya. Sebab aku telah memberikan perintah lain kepadanya. Akulah yang akan memberitahukan perubahan itu, meskipun sebelumnya Kiai dapat mengatakan kepadanya. Tetapi ia harus mendengar dari mulutku, bahwa perubahan itu hanyalah sekedar perubahan cara yang harus ditempuhnya. Bukan masalahnya ia harus tetap menyadari betapa pentingnya membina hari depannya.”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Untara masih harus tetap menjaga kewibawaan dirinya di hadapan adiknya itu. Dan Ki Tanu Metir tidak akan dapat menyalahkannya. Maka jawabnya, “Kalau demikian, baiklah, Ngger. Aku akan memberikan beberapa penjelasan pendahuluan. Biarlah Angger Agung Sedayu datang sendiri kepada Angger Untara.”

“Baiklah, Kiai.”

“Kalau begitu, aku segera minta diri, Ngger. Aku akan kembali ke pondok, supaya aku tidak terlambat memberikan penerangan kepada adik Angger itu.”

Untara mengerutkan keningnya, “Kenapakah Agung Sedayu itu, Kiai?”

“Syarafnya menjadi tegang, hampir tidak dapat dikuasainya. Semalam ia tidak tidur sama sekali, dan hampir-hampir saja aku tidak dapat melihatnya lagi di padepokan ini.”

“Apa yang akan dilakukan?” tiba-tiba wajah Untara-lah yang menjadi tegang.

“Kalau aku tidak segera datang dan mendengar apa yang mereka bicarakan serta mencegahnya, maka semalam Angger Agung Sedayu telah membawa Angger Swandaru dan Angger Sekar Mirah ke Sangkal Putung.”

“Kenapa begitu?”

“Hal-hal serupa itulah yang harus Angger ketahui. Perasaannya tidak dapat menerima tekanan dari luar, tetapi ia tidak berani untuk berterus terang melawannya. Ia tidak berani menolak perintah Angger Untara, tetapi ia tidak dapat melakukan perintah itu. Maka diambilnya jalan ketiga yang mungkin akan dapat menjerumuskannya ke dalam bencana. Kalau mereka bertiga benar-benar meninggalkan padepokan ini, dan di ujung lereng tikungan di luar padepokan ini mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya, seandainya mereka masih berkeliaran di sini, maka mereka pasti akan menjadi endeg amun-amun.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dadanya menjadi berdebar-debar. Soal semacam ini baginya adalah soal yang baru. Hal yang demikian tidak pernah terjadi di kalangan keprajuritan. Tetapi Agung Sedayu hampir melakukannya.

“Jadikanlah hal ini suatu pengalaman,” berkata Ki Tanu Metir.

Betapa beratnya, namun akhirnya Untara menganggukkan kepalanya, “Ya, Kiai. Untunglah bahwa hal itu belum terjadi.”

Dalam pada itu, dengan nada yang dalam Wuranta berdesis, “Seandainya hal itu terjadi, dan seandainya mereka menemui bahaya di perjalanan, maka aku adalah salah satu penyebabnya. Dan aku pun pasti akan menyesal sepanjang hidupku.”

“Tetapi semuanya itu belum terjadi, Ngger. Semuanya masih belum terlambat.”

Wuranta tidak menyahut. Tetapi bintik-bintik keringat di keningnya masih menitik satu-satu. Sekali ia mengusap wajah yang basah dengan telapak tangannya. Namun wajah itu tidak juga menjadi kering.

“Sekarang,” berkata Ki Tanu Metir, “kabut yang menyelimuti Angger sekalian telah tersingkap. Mudah-mudahan hari-hari berikutnya menjadi cerah.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan, “Mudah-mudahan. Mudah-mudahan semuanya dapat terjadi seperti yang kita inginkan.”

“Tetapi kita tidak boleh menentukan, bahwa keinginan kita pasti akan terjadi, Ngger. Kita hanya dapat berusaha sejauh-jauh mungkin. Namun akhirnya semuanya terserah kepada Yang Maha Besar. Meskipun demikian, kita tidak dapat menunggu saja, dan keinginan kita itu akan terpenuhi dengan sendirinya. Kita harus memohon. Dan kesungguhan dari permohonan kita itu harus tercermin dari kesungguhan usaha kita. Kalau kita tidak bersungguh-sungguh berusaha, maka permohonan kita itu pun tidak bersungguh-sungguh pula, sehingga wajarlah bahwa hal itu tidak terjadi.”

“Aku mengerti, Kiai,” desis Untara.

“Tetapi kita harus percaya, bahwa usaha yang baik pasti akan dilindungi. Kepercayaan itulah yang terungkap sebagai kepercayaan kepada diri sendiri. Percaya kepada kesungguhan diri sendiri dan percaya bahwa kesungguhan itu adalah kesungguhan dari permohonan kita, yang pasti akan didengar oleh Yang Maha Kuasa.”

Untara mengangguk-angguk dan Wuranta pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Ketika Ki Tanu Metir berhenti berbicara, maka sekali lagi pringgitan itu menjadi sepi. Seolah-olah mereka sedang merenungkan kata-kata Ki Tanu-Metir itu.

Mereka terkejut ketika mereka melihat pintu pringgitan itu bergerak. Sebuah kepala tersembul dari luar dan dengan hati-hati orang itu bertanya, “Apakah aku boleh masuk masuk?”

“Untuk apa?” bertanya Untara.

“Makan telah tersedia.”

“Oh,” Untara menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Seolah-olah segenap ketegangan yang menyumbat dadanya selama ini telah dilepaskannya.

“Bawalah masuk,” katanya kemudian, “kita bertiga di sini.”

“Baik,” sahut orang itu.

Sejenak kemudian, orang itu pun hilang di balik pintu. Tetapi segera muncul kembali sambil menjinjing tiga bungkus nasi.

“Letakkanlah di situ,” berkata Untara.

Orang itu pun segera meletakkan ketiga bungkus nasi itu di atas gledeg bambu. Kemudian ia pun segera meninggalkan ruangan itu.

“Marilah, Kiai. Makan telah tersedia. Makanan medan perang nasi tanpa lauk pauk.”

Ki Tanu Metir tertawa. Katanya, “Di medan perang kita masih dapat mengharap rangsum makanan, Ngger. Tetapi di perantauan, kita harus mencarinya sendiri. Bukankah begitu?”

Untara pun tersenyum pula. “Ya, Kiai,” jawabnya. Kemudian kepada Wuranta ia berkata, “Marilah, Wuranta.”

Sejenak kemudian, maka ketiganya pun telah membuka bungkusan masing-masing. Nasi putih dengan sejumput serundeng yang terlalu kering. Sepotong kecil daging lembu dan sambal lombok merah.

“Alangkah nikmatnya,” desis Ki Tanu Metir, “semalam aku sama sekali tidak tidur. Karena itu, maka aku kini merasa sangat penat dan lapar. Nasi hangat ini benar-benar telah menghangatkan tubuhku.”

Untara tidak menyahut. Tetapi ia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika mereka telah selesai makan dan minum, maka Ki Tanu Metir pun segera minta diri. Katanya, “Ah, aku terlampau lama di sini. Aku telah minta diri untuk yang kesekian kalinya. Untunglah, bahwa aku tidak segera pergi. Jika demikian, maka aku tidak akan mendapat bagian nasi serundeng. Apalagi apabila nanti sampai di pondokan Angger Agung Sedayu, rangsum telah habis, dihabiskan oleh Angger Swandaru. Maka aku pun akan menjadi kelaparan. Sekarang, setelah aku kenyang, aku akan benar-benar minta diri, Ngger.”

“Silahkan, Kiai,” jawab Untara, “tetapi harapanku kali ini tergantung pada kebijaksanaan Kiai.”

“Ya, ya aku mengerti,” desis orang tua itu, “aku harus segera sampai kepada Angger Agung Sedayu. Aku takut kalau jantungnya menjadi terlampau tegang dan justru akan berhenti berdetak, atau karena hatinya terlampau gelap, ia telah melakukan rencananya semalam, pergi dari padepokan ini.”

“Silahkan, Kiai,” sahut Untara sambil mengerutkan keningnya.

Setelah minta diri pula kepada Wuranta, maka kali ini Ki Tanu Metir itu pun berdiri dan melangkah perlahan-lahan meninggalkan pringgitan, diantar oleh Untara dan Wuranta sampai ke muka pintu.

Ketika orang tua itu telah turun dari pendapa, maka terdengar Wuranta berdesis, “Aku menjadi malu sekali, Untara.”

“Tak seorang pun yang tahu. Kami yang mengetahui persoalanmu, aku dan Ki Tanu Metir, dapat memahami perasaanmu. Dan kami mengagumi kebesaran jiwamu.”

“Itu terlampau berlebih-lebihan.”

“Jangan kau pikirkan lagi. Semuanya telah selesai.”

“Kalau kau tetap pada pendirianmu untuk melarang Agung Sedayu mengantar Sekar Mirah ke Sangkal Putung, maka hatiku akan menjadi terlampau parah. Aku adalah sebab dari persoalan ini, meskipun kau menyebut alasan-alasan yang lain, tetapi sikapku yang gila selama ini adalah sebab yang terbesar dari keputusanmu.”

“Lupakan. Semuanya sudah selesai.”

“Aku akan mencoba melupakannya, Untara.”

Sesaat Untara tidak menyahut. Dipandangnya langkah Ki Tanu Metir yang ringan di halaman banjar padepokan. Sejenak orang tua itu berhenti di gardu peronda.

Untara tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Ki Tanu Metir dengan para penjaga di gardu itu, tetapi ia melihat Ki Tanu Metir itu tertawa.

“Sebenarnya orang tua itu adalah seorang periang,” berkata Untara di dalam hatinya.

Tanpa sesadarnya, ingatannya merayap kembali kepada masa yang telah dilampauinya. Pada saat-saat ia terluka dan bersembunyi di rumah dukun dari Pakuwon itu. Melihat sepintas, seseorang tidak akan menyangka, bahwa dukun dari Dukuh Pakuwon itu adalah seorang yang mampu mengimbangi kedahsyatan nama Ki Tambak Wedi, dan bahkan tidak akan berada di bawah tingkatan Ki Gede Pemanahan, seorang Panglima Wira Tamtama.

“Aneh,” pikir Untara, “orang ini seolah-olah sama sekali tidak mempunyai pamrih apapun dengan keadaan di sekitarnya. Ia berbuat seperti yang dikehendakinya. Kalau ia bersedia menghubungkan dirinya dengan kepentingan-kepentingan duniawi, maka ia tidak akan jauh dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat dibanggakan. Baik di dalam kedudukan maupun di dalam olah kanuragan.”

Dan keheranan itu semakin lama semakin dalam tergores di dinding hatinya. Untara itu mengenal nama-nama seperti Adiwijaya, Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, Ki Juru Mertani, Ki Mancanegara, Ki Wuragil, Arya Penangsang, Mantahun, Sumangkar, Ki Tambak Wedi dan yang lain-lain. Semuanya ada di dalam dunianya masing-masing. Semuanya memiliki pamrihnya sendiri-sendiri. Meskipun Ki Tambak Wedi tidak berada di dalam lingkungan istana mana pun, Demak, Pajang, atau Jipang. Juga tidak Cerbon dan Banten, namun ia justru terlampau dikuasai oleh pamrihnya sendiri.

“Mas Karebet itu pun didorong oleh pamrih-pamrih duniawi tertentu,” berkata Untara pula di dalam hatinya, “terutama setelah Demak menjadi kosong. Ditambah lagi dengan dua gadis yang dijanjikan oleh Kangjeng Ratu Kalinyamat.”

Tetapi orang ini benar-benar aneh. Ia tinggal di padukuhan yang kecil sebagai seorang dukun. Tidak lebih daripada itu.

Untara menarik nafas dalam-dalam.

Ia tersadar, ketika ia sudah tidak melihat lagi Ki Tanu Metir di halaman itu. Ternyata orang tua itu telah meninggalkan gardu.

Ketika Untara itu berpaling, ia masih melihat Wuranta berdiri di sampingnya.

“Oh,” Untara berdesis, “Marilah, duduklah.”

Wuranta tidak menjawab, tetapi diikutinya Untara melangkah kembali ke bentangan tikar pandan di pringgitan itu.

Sementara itu, Ki Tanu Metir berjalan tergesa-gesa ke pondok Agung Sedayu. Ia mencemaskan anak muda itu. Seandainya Agung Sedayu benar-benar tidak dapat menguasai perasaannya, maka ia akan dapat berbuat hal-hal yang tidak terduga-duga. Mungkin ia akan benar-benar membawa Swandaru dan Sekar Mirah segera pergi ke Sangkal Putung.

Tetapi orang tua itu menarik nafas dalam-dalam ketika ternyata Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah masih ditemuinya di pondoknya, meskipun agaknya Agung Sedayu sudah hampir tidak sabar lagi menantinya.

Belum lagi Ki Tanu Metir masuk ke dalam rumah, maka Agung Sedayu sudah menyongsongnya sambil bertanya, “Bagaimana, Guru. Apakah aku harus menjalani keputusan Kakang Untara itu?”

“Apakah aku tidak kau persilahkan masuk?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Oh,” Agung Sedayu menarik nafas. Tetapi ia benar-benar sudah tidak dapat menunggu lagi keterangan dari gurunya itu tertunda-tunda. Dengan tergesa-gesa ia berkata, “Marilah, Kiai. Silahkan duduk. Tetapi bagaimana dengan Kakang Untara?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah Agung Sedayu yang pucat, wajah-wajah Swandaru dan Sekar Mirah yang gelisah dan bingung.

Tiba-tiba orang tua itu berkata sareh, “Bukankah kalian telah dirisaukan oleh hati kalian sendiri?”

Hampir bersamaan ketiganya menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi Sekar Marah menyahut pertanyaan itu, “Ya, Kiai, kami memang sedang dirisaukan oleh hati kami sendiri.”

“Nah, kalau demikian, tenangkanlah hati kalian. Tidak ada alasan apa pun bagi kalian untuk menjadi risau.”

Sejenak Swandaru dan Agung Sedayu saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak menemukan kesan yang mencemaskan di wajah orang tua itu. Bahkan sejenak kemudian orang tua itu bertanya. “Apakah kalian telah mendapat rangsum?”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Pertanyaan itu sama sekali tidak diharapkannya. Tetapi ia menyahut, “Sudah, Kiai. Baru saja. Kami masih belum sempat memakannya.”

“Makanlah.”

“Kami belum lapar, Kiai,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi mungkin Angger Swandaru dan Sekar Mirah menjadi lapar.”

Keduanya bersama-sama menggelengkan kepala mereka, “Belum, Kiai.”

“Kalau begitu akulah yang lapar. Di banjar aku sudah mendapat makan, tetapi hanya satu bungkus. Berapa bungkus kalian mendapat rangsum?”

Sekali lagi Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mulutnya terpaksa juga menjawab, “Empat, Kiai. Kami minta satu untuk Kiai.”

“Bagus. Marilah kita makan. Kita merayakan akhir dari keadaan yang selama ini telah membuat kalian menjadi bingung. Kita akan sampai pada suatu keadaan yang baru. Suatu kehidupan yang lain dari yang pernah kalian tempuh selama ini.”

***

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 17 Oktober 2008 at 04:41  Comments (10)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-27/trackback/

RSS feed for comments on this post.

10 KomentarTinggalkan komentar

  1. makasih mas ..

  2. Sederek MODERATOR, mau urun hasil editan sampai hal 40, di upload disini atau dikirim ke mana ya ? Maturnuwun infonya.

    D2: Kalau sebanyak itu, dikirim ke imel saja Pak. Imelku dikirim setelah pesan2 berikut.

  3. banyak burung hantunya ya …. tapi baguslah tikus2 jadi habis. Oke lanjut kang, semangat terusss …..

  4. ” Pekerjaan kita memang berkelahi ” sahut prajurit muda yang pertama, ” Kita adalah orang orang yang dibentuk untuk berkelahi ”

    hikksss, persis kaya Ki Menggung, senengane berkelahi karo Ni Sinden.

    • ki gembleh melawan koncone ni sinden beken 🙄

      • wah…..nglawan tukang ngendhange…???

        • kulo keBAGian peran menapa Ki…..!!??

          tukang ngebuK gong njih purun…..pokok-e kulo manut
          kemawon.

          • gong putihan nopo gong kuningan ki gund ?

            • gong kali gong,
              bekerja sama dengan baek.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: