Buku 27

Tetapi untuk tetap berdiam diri, dan kemudian menuruti perintah kakaknya untuk tinggal di Jati Anom dan menjadi seorang prajurit, sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya. Ia tidak ingin tinggal di Jati Anom. Ia tidak ingin lagi selalu berada bersama-sama dengan kakaknya seperti pada masa kanak-kanaknya. Kini ia telah berani menghadapi kehidupan ini seorang diri. Ia telah berani tampil sebagai seorang laki-laki yang berpribadi.

Swandaru dan Sekar Mirah yang kemudian duduk di amben itu pula menjadi heran melihat keadaan Agung Sedayu. Mereka melihat anak muda itu pucat dan gelisah. Bahkan sekali-sekali menarik nafas dan berdesah. Tetapi Swandaru tidak ingin mendesaknya sekali lagi. Ia tahu, bahwa Agung Sedayu sedang kebingungan dan ia tidak ingin menambah anak muda itu menjadi semakin bingung.

Sejenak mereka bertiga saling berdiam diri. Meskipun Swan¬daru dan Sekar Mirah selalu memandangi Agung Sedayu yang ge¬lisah, tetapi mereka tidak bertanya sepatah katapun. Mereka hanya menyimpan keheranan dan kecemasannya di dalam dadanya.

Di luar gemersik dedaunan menjadi semakin keras ditiup angin lereng pegunungan yang mengalir dari Selatan. Dinginnya menembus dinding pondok yang tidak terlampau rapat, menyusup menyentuh kulit.

Sementara itu, dada Agung Sedayu masih saja bergolak. Dicarinya cara yang sebaik-baiknya untuk mengatakan keadaannya tanpa menyinggung perasaan kedua kakak beradik itu, seolah-olah mereka sama sekali sudah tidak diperlukan lagi di sini dan diusir untuk segera pergi kembali ke Sangkal Putung.

Sekali lagi Agung Sedayu berdesah. Kediamannya telah membuat ruangan itu semakin lama semakin tegang. Dan untuk melepaskan ketegangan itu tiba-tiba saja terloncat dari bibirnya pertanyaan, “Apakah kalian belum tidur?”

Kini Swandaru-lah yang menarik nafas dalam. Pertanyaan itu memang dapat mengurangi ketegangan perasaan masing-masing. Dengan menggelengkan kepalanya, Swandaru menjawab, “Belum, Kakang. Kami tidak segera dapat tidur.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia kehilangan pertanyaan yang akan diucapkannya. Karena itu, sejenak mereka terdorong di dalam kesenyapan kembali, dan kali ini menegangkan lagi.

Baru sejenak kemudian, Agung Sedayu dapat mengucapkan kata-kata, “Malam telah larut. Beristirahatlah.”

Swandaru mengangguk, “Kami sebenarnya juga ingin beristirahat, tetapi kegelisahan dan malam yang terlampau sepi ini membuat kami tidak dapat memejamkan mata.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Ia melihat pedang Swandaru tergantung di lambungnya. Hal itu telah mengatakan kepadanya, bahwa anak muda Sangkal Putung itu pun pasti benar-benar sedang digelisahkan oleh sepi malam yang telah membakar perasaannya.

Setelah sekian lama Agung Sedayu berusaha, maka ditemukannya kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya. Maka katanya, “Aku sudah dapat ijin dari Kakang Untara untuk meninggalkan padepokan ini.”

“He,” ternyata kalimatnya itu telah mengejutkan Swandaru dan Sekar Mirah, sehingga mereka pun bergeser mendekati. “Jadi, bagaimanakah maksudmu, Kakang? Apakah itu bararti kita tidak ada keberatan apa pun lagi untuk segera meninggalkan padepokan ini dan kembali ke Sangkal Putung?” bertanya Sekar Mirah.

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. Dengan susah payah ia kemudian menjawab, “Ya, begitulah.”

“Oh,” wajah Sekar Mirah segera berseri. “Jadi kita dapat segera pulang kepada ayah dan ibu? Kalau begitu, kita akan segera pulang ke Sangkal Putung. Bagaimana kalau sekarang?” Tetapi kata-katanya terputus ketika tiba-tiba diingatnya, bahwa menurut kedua anak-anak muda itu dan bahkan menurut Kiai Gringsing, Sidanti mungkin berkeliaran di sekitar tempat itu.

Swandaru dan Agung Sedayu pun tidak segera menyahut kata-kata Sekar Mirah itu. Bahkan sejenak mereka saling berpandangan di dalam kediaman mereka.

Sekar Mirah yang menjadi ngeri membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi apabila Sidanti mencegat perjalanan mereka, menggigit bibirnja. Sekali dipandanginya wajah kakaknya Swandaru dan sekali wajah Agung Sedayu. Seandainya Kiai Gringsing tidak pernah mengatakannya, maka Sekar Mirah tidak akan menjadi demikian ngeri.

Tetapi tiba-tiba, baik Sekar Mirah maupun Swandaru terkejut, ketika mereka mendengar Agung Sedayu berkata, “Kita memang dapat segera meninggalkan tempat ini. Bahkan sekarang pun dapat.”

Kini Swandaru dan Sekar Mirah-lah yang saling berpandangan. Tiba-tiba terasa suasana menjadi demikian tegangnya. Dengan gemetar Sekar Mirah bertanya, “Jadi kita benar-benar dapat kembali ke Sangkal Putung sekarang?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu pendek.

Dalam kegelapan, maka jalan inilah yang akan ditempuh oleh Agung Sedayu. Pergi meninggalkan padepokan ini dan meninggal¬kan kakaknya. Ia tidak ingin tinggal di Jati Anom, apalagi men¬jadi seorang prajurit. Karena itu, ia harus segera lari. Lari dari padepokan ini dan menjauhinya.

Tetapi sikap Agung Sedayu itu ternyata menimbulkan berbagai macam pertanyaan di dalam dada Swandaru. Semula Agung Sedayu menyatakan keberatannya untuk segera meninggalkan padepokan ini dengan berbagai alasan. Ketika Sekar Mirah mencoba memaksa untuk minta diantar segera ke Sangkal Putung, maka Agung Sedayu telah mencoba menahannya. Kemudian Kiai Gringsing pun menahan mereka itu pula. Kini tiba-tiba Agung Sedayu sendirilah yang seakan-akan ingin segera meninggalkan padepokan ini.

Swandaru yang hampir-hampir tidak pernah berpikir mengenai persoalan yang dapat membuatnya pening, kini mencoba menghubungkan sikap Agung Sedayu dan apa saja yang baru terjadi atasnya. Baru saja Agung Sedayu berlari-lari seperti orang yang sedang ketakutan dengan wajah yang pucat. Lalu tiba-tiba kini Agung Sedayu berkeinginan untuk segera mengantarkan Sekar Mirah ke Sangkal Putung.

Begitu tajamnya pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu perasaannya, sehingga ia tidak dapat lagi menahannya. Dengan nada datar ia bertanya, “Kakang, apakah hal itu tidak akan menimbulkan prasangka yang kurang baik?”

“Siapakah yang akan berprasangka?” bertanya Agung Sedayu. “Bukankah ayah dan ibumu, sudah sekian lamanya menunggu? Bagi mereka, kedatangan kalian semakin cepat akan menjadi semakin baik.”

“Ya,” sahut Sekar Mirah, “semakin cepat semakin baik.”

“Nah, bukankah kau juga sudah rindu kepada ayah ibumu?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Tentu,” sahut Sekar Mirah, “apabila sekarang kita memang dapat berangkat kembali ke Sangkal Putung, aku akan senang sekali.” Sekar Mirah itu terdiam sejenak, lalu tiba-tiba suaranya menjadi sangat perlahan-lahan, “Tetapi, bagaimana dengan Sidanti?”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “aku tidak takut dengan Sidanti. Aku dan kakakmu, Adi Swandaru akan menjagamu.”

“Bagaimana dengan Ki Tambak Wedi?”

Agung Sedayu terdiam mendengar pertanyaan itu. Ditatapnya wajah Swandaru yang bulat. Tetapi sepasang mata pada wajah itu memancarkan beribu macam pertanyaan yang bergelora di dalam dada anak muda yang gemuk itu.

“Kakang,” berkata Swandaru, “aku pun sebenarnya ingin segera pulang ke Sangkal Putung. Tetapi betapa tumpul otakku, namun aku merasakan sesuatu yang tidak wajar. Aku tidak tahu, apakah perasaanku yang tidak wajar, apakah memang sebenarnya sedang terjadi sesuatu atasmu. Aku masih belum tahu, apakah sebabnya kau berlari-lari di halaman. Dan sekarang aku pun masih belum tahu, apakah yang menyebabkan kau tergesa-gesa meninggalkan padepokan ini?”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan itu. Te¬tapi kemudian ia menyadari, bahwa pertanyaan yang demikian itu justru adalah pertanyaan yang wajar. Dicobanya untuk menahan gelora di dadanya. Dan dicobanya untuk memperhitungkan keadaan yang dihadapinya dengan tenang. Tetapi hatinya benar-benar menjadi pepat. Karena itu, sejenak ia berdiam diri saja. Direnunginya kini sudut ruangan itu dengan pandangan mata yang kosong.

Sekali lagi Swandaru melihat kebingungan yang mencengkam hati Agung Sedayu. Dan sekali lagi ia tidak ingin menambah hati anak muda itu menjadi semakin bingung. Karena itu, maka ia pun tidak mendesak lagi. Kini Swahdaru pun duduk merenung. Tanpa sesadarnya tangannya telah membelai hulu pedangnya yang dibuatnya dari gading.

Sedang Sekar Mirah pun menjadi bingung sendiri. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sebenarnya sedang dihadapi. Tetapi seperti juga Swandaru, ia pun merasakan pula sebuah sentuhan yang tidak sewajarnya pada perasaannya. Tetapi ia pun tidak bertanya sesuatu.

Namun sekali lagi Swandaru dan Sekar Mirah terkejut, ketika mereka mendengar Agung Sedayu bergumam lirih, “Tetapi aku harus segera meninggalkan padepokan ini.”

Ketika Swandaru dan Sekar Mirah berpaling kepadanya, Sedayu masih saja merenungi sudut ruangan itu.

Sejenak Swandaru masih tetap berdiam diri. Tetapi kini gejolak di dalam dadanya menjadi semakin tajam. Bahkan tiba-tiba tumbuhlah berbagai masalah di dalam dadanya. Dan seperti juga Agung Sedayu yang bergumam perlahan-lahan, maka Swandaru pun kemudian bertanya perlahan-lahan, seperti seseorang yang sedang bergumam, “Kakang, apakah sebenarnya yang telah terjadi? Apa¬kah kehadiran kami, aku dan Sekar Mirah di sini tidak dikehendaki? Dan apakah Kakang sedang mencoba menyingkirkan kami dengan cara yang tidak kami ketahui, supaya kami tidak tersinggung karenanya?”

Meskipun kata-kata Swandaru itu diucapkan perlahan-lahan, bahkan hampir tidak terdengar, tetapi Agung Sedayu terperanjat karena¬nya. Diangkatnya kepalanya, dipandanginya wajah anak muda yang gemuk itu. Setapak ia bergeser, dan hampir ia berteriak, “Darimana kau mengetahuinya?”

Untunglah, bahwa mulutnya segera dapat dikuasainya. Dan Agung Sedayu tidak mengucapkan kata-kata itu.

Sejenak Agung Sedayu berjuang untuk menenangkan hati¬nya. Ketika ia mendengar suara burung hantu di kejauhan, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Kau salah tafsir, Adi Swandaru,” desis Agung Sedayu. Namun suaranya bernada datar dan diwarnai oleh keragu-raguan hatinya.

Swandaru tidak segera menyahut.

“Tidak ada seorang pun yang berpendirian demikian di padepokan ini. Kalian di sini sama sekali tidak mengganggu siapa pun, sehingga karena itu, maka tidak seorang pun yang merasa berkeberatan atas kehadiranmu di sini.” Tetapi hati Agung Sedayu berkata lain. Ia tahu benar, bahwa kakaknya menghendaki agar Sekar Mirah segera meninggalkan padepokan ini. Lebih cepat lebih baik.

Besok atau lusa kakaknya akan menyelenggarakan sebuah pertemuan untuk menyatakan kebesaran hati para prajurit Pajang dan orang-orang Jati Anom, karena mereka telah berhasil menyelesaikan tugas-tugas mereka yang berat. Kemudian setelah itu, segera Sekar Mirah akan diantar ke Sangkal Putung oleh sepasukan prajurit, supaya gadis itu terpisah daripadanya, dan tidak lagi menimbulkan persoalan-persoalan di antara anak-anak muda.

Tetapi keringat dingin mulai mengalir di punggungnya ketika Swandaru bertanya, “Tetapi apakah sebabnya Kakang menjadi terlampau gelisah? Kakang berbuat sesuatu yang sama sekali tidak dapat aku mengerti, dan Kakang bersikap tidak wajar dalam tangkapanku. Mudah-mudahan aku keliru.”

Agung Sedayu memang tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Cemas, gelisah dan bingung. Ia tidak mau menuruti perintah kakaknya. Ia ingin lari malam ini meninggalkan padepokan Tambak Wedi.

“Tetapi tidak ada tujuan lain, selain Sangkal Putung,” katanya di dalam hati. “Untuk itu aku harus pergi bersama-sama dengan Swandaru dan Sekar Mirah. Tetapi bagaimana aku menjelaskan persoalan ini.”

Pengalaman Agung Sedayu yang sedikit, tidak dapat membuka banyak kemungkinan baginya. Ia tidak dapat perpikir untuk lari tidak ke Sangkal Putung. Lari entah ke mana. Mungkin ke daerah Pesisir Utara. Mungkin ke pantai Selatan, menyusur Pegunungan Kidul ke Barat atau ke Timur. Agung Sedayu tidak tahu betapa luasnya bumi. Karena itu, maka tidak ada angan-angannya untuk pergi ke Blambangan di ujung Timur atau ke Banten di ujung Barat. Yang ada di kepalanya Jati Amon dan Sangkal Putung. Kademangan Sangkal Putung, tempat tinggal Sekar Mirah dan Ka¬kaknya Swandaru Geni. Kadang-kadang tumbuh juga angan-angannya untuk pergi sejauh-jauhnya. Ke Mentaok atau ke daerah-daerah yang pernah disebut-sebut oleh Sutawijaja dan Kiai Gringsing. Mangir misalnya.

Tetapi di sana Agung Sedayu tidak akan dapat bertemu de¬ngan Sekar Mirah. Dan selama ia pergi, maka akan banyak sekali peristiwa yang dapat terjadi. Mungkin suatu ketika Wuranta akan pergi ke Sangkal Putung dan membuat hubungan pula dengan Sekar Mirah. Mungkin juga suatu ketika Sidanti akan dapat menculiknya lagi.

Karena itu, maka tidak ada pikiran lain yang ada padanya kemudian, selain pergi mengantarkan Sekar Mirah ke Sangkal Putung. Ia akan mengatakan persoalannya kepada pamannya Widura. Tidak sebagai seorang prajurit di bawah perintah kakaknya Untara, tetapi sebagai seorang paman. Ia mengharap, bahwa pengaruh pamannya akan dapat membantunya.

“Kalau perlu aku harus membuat tekanan terhadap Kakang Untara. Swandaru adalah pemimpin anak-anak muda Sangkal Putung. Sikapnya pasti akan berpengaruh terhadap kekuatan Pajang. Aku tidak peduli, apakah dengan demikian aku akan dianggap bersalah oleh Kakang Untara,” desisnya di dalam hatinya.

Tetapi Agung Sedayu itu terperanjat ketika Swandaru berkata, “Aku dan Sekar Mirah ingin penjelasan Kakang. Seandainya memang kehadiran kami di sini tidak dikehendaki, maka kami bersedia untuk meninggalkan tempat ini. Tidak usah menunggu besok. Tetapi malam ini. Aku dan Sekar Mirah tidak perlu takut terhadap Sidanti, bahkan Ki Tambak Wedi. Untuk pergi ke Sang-kal Putung ada seribu jalan. Dan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya tidak berada di seribu tempat. Kalau memang seharusnya kami berdua mati di tangan mereka, maka itu adalah akibat yang wajar yang tidak perlu disesali dalam keadaan serupa ini. Adalah kesalahan ayah dan ibu pula, bahwa mereka tidak mengirimkan sepasukan anak-anak muda untuk menjemput kami. Karena kami yakin, bahwa Sangkal Putung dapat membangun kekuatan pengawal-pengawal kademangan segelar sepapan. Dan sudah tentu kami berharap, bahwa kademangan kami akan dapat mempertahankan dirinya tanpa seorang prajurit Pajang pun di daerah kami kelak.”

“Kau salah paham, Adi,” sahut Agung Sedayu dengan serta-merta. Tetapi ia tidak segera menemukan kalimat-kalimat yang dapat meyakinkan Swandaru dan Sekar Mirah.

“Kalau demikian, maka apakah yang sebenarnya terjadi?”

Agung Sedayu menjadi semakin bingung. Akhirnya ia tidak dapat menemukan jawaban yang dianggapnya cukup baik dan beralasan, selain daripada dirinya sendiri. Maka katanja, “Ada perselisihan antara aku dan Kakang Untara.”

Swandaru mengerutkan alisnya, sedang Sekar Mirah menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hatinya.

“Apakah soalnya?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Terasa hatinya menjadi semakin tegang.

Swandaru dan Sekar Mirah pun menjadi tidak kalah tegangnya. Mereka menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Agung Sedayu. Kenapa kakak beradik itu tiba-tiba saja berselisih.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, dan karena desakan perasaan ingin tahu yang tidak dapat ditahankannya, maka Swandaru mendesaknya, “Apakah yang menyebabkan kalian berselisih?”

Agung Sedayu tidak dapat untuk terus menerus berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Karena itu, maka ketika ia tidak dapat mengelak lagi, maka dijawabnya saja sekenanya, “Kakang Untara ingin aku menjadi seorang prajurit seperti dirinya.”

“He,” Swandaru mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam. “Suatu kesempatan yang sangat baik bagimu, Kakang.”

Kini Agung Sedayu-lah yang terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa demikian tanggapan Swandaru tentang tawaran kakaknya padanya untuk menjadi seorang prajurit.

“Tetapi kenapa Kakang menjadi tampak cemas dan gelisah? Bahkan sampai berlari-lari?”

Pertanyaan itu memang terlampau sulit untuk dijawab. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berdiam diri lagi. Ia harus memberi penjelasan supaya tidak terjadi salah paham. Dan penjelasan itu harus disusunnya, dikarangkannya lebih dahulu.

Sorot mata Swandaru memancarkan ketidak-sabaran hatinya. Seolah-olah mata itu telah mendesaknya untuk mengatakan sesuatu.

Terdengar Agung Sedayu berdesah. Perlahan-lahan dan penuh kebimbangan ia menjawab, “Adi Swandaru. Ternyata aku berbeda pendirian dengan Kakang Untara. Aku tidak ingin menjadi seorang prajurit.”

“Ah,” dengan serta merta Swandaru menyahut, “mustahil. Mustahil seorang laki-laki yang mempunyai bekal yang cukup menolak kesempatan untuk menjadi Wira Tamtama. Kakang, kelak aku pun ingin menjadi seorang Wira Tamtama.”

Agung Sedayu mencoba menganggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin. Mungkin pada suatu ketika aku pun ingin untuk men¬jadi seorang prajurit Wira Tamtama. Tetapi tidak sekarang.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dari sela-sela bibirnya meluncur pertanyaanya, “Sekarang?”

“Ya. Kakang Untara ingin memaksaku untuk pergi ke Pajang dan langsung menghadap Ki Gede Pemanahan. Aku harus menunggu perintahnya untuk berbuat sesuatu, supaya aku mendapat kepercayaan dan langsung menjadi seorang prajurit Wira Tamtama yang terpandang.”

“Oh, kesempatan yang luar biasa,” tiba-tiba mata Swandaru menjadi berseri-seri. Kalau saja kesempatan itu ada juga buatnya maka ia akan menjadi sangat bergembira. Maka katanya , ”Ka¬kang, tolong katakan kepada Kakang Untara, bahwa aku pun ingin mendapat kesempatan yang serupa. Aku tidak harus mulai dari tataran yang paling rendah. Untuk itu, aku tidak terlampau berkeberatan, seandainya aku harus menjadi seorang prajurit yang paling bawah dalam keadaan yang wajar. Tetapi biasanya kesempatan untuk dapat merambat ketingkat yang lebih tinggi terlampau sulit. Tetapi justru syarat-syarat itu tidak pernah diperhatikan, yang diperhatikan adalah masalah-masalah lain. Hanya orang-orang yang terdekat dengan lurah-lurah Wira Tamtama sajalah yang mendapat perhatian mengenai kemampuan dan keprigelannya.”

Agung Sedayu menjadi semakin bingung mendengar jawaban Swandaru itu. Ternyata Swandaru justru tertarik kepada ceriteranya yang dengan susah payah disusunnya untuk melepaskan diri dari kebingungan. Tetapi ia kini terperosok ke dalam kebingungan yang baru.

“Nah, bagaimana Kakang?”

Tiba-tiba Agung Sedayu menengadahkan dadanya. Ia menemukan jawaban yang untuk sementara dapat membebaskannya dari ketegangan ini. Katanya, “Justru itulah yang aku tidak mau, Adi Swandaru.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Wajahnya yang bulat menjadi berkerut merut.

“Kenapa?” dengan ragu-ragu ia bertanya.

“Aku menyadari bahwa kesempatan yang diberikan oleh Ka¬kang Untara itu adalah kesempatan seperti yang kau katakan. Aku diterima menjadi seorang Wira Tamtama, bahkan mungkin se¬orang yang langsung mendapat kedudukan yang baik, bukan karena jasa-jasaku sebagai seorang prajurit. Hal itu dapat terjadi karena aku adalah adik Kakang Untara. Aku tidak mau. Aku tidak mau. Itulah sebabnya aku harus menghindarkan diri dari padepokan ini sebelum Kakang Untara memaksaku. Bagiku Adi Swandaru, lebih baik menjadi seorang prajurit yang memanjat tataran demi tataran, tetapi karena hasil keringatku sendiri daripada aku langsung mendapat kedudukan yang baik, tetapi hanya karena aku seorang adik dari Kakang Untara. Dari seorang senapati yang telah berjasa dapat menyelesaikan sisa-sisa orang-orang Jipang di bagian Selatan ini. Tetapi yang berjasa adalah Kakang Untara. Bukan aku. Seandainya mendapat wisuda seharusnya juga Kakang Untara, bukan aku.”

“Oh,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari mulutnya terdengar ia berdesis, “itukah sebabnya kau ingin meninggalkan padepokan ini?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “aku tidak mau. Aku akan pergi ke Sangkal Putung. Mungkin kelak aku ingin menjadi seorang prajurit di sana. Pada pasukan Paman Widura.”

“Tetapi Paman Widura adalah pamanmu pula Kakang. Kalau ternyata kau mendapat kesempatan, maka kau akan menyangka, bahwa kesempatan itu kau terima justru kau kemanakannya.”

Agung Sedayu terdiam. Pertanyaan ini tidak segera dapat dijawabnya. Sekali lagi ia mencoba memutar nalarnya untuk membebaskan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya menjadi pening.

Sekali lagi ruangan itu terdampar ke dalam kesenyapan yang tegang. Tubuh Agung Sedayu telah menjadi basah oleh keringat dingin yang seolah-olah diperas dari tubuhnya. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba menenteramkan hatinya.

Baru sejenak kemudian Agung Sedayu menjawab, “Mungkin aku mempunyai perasaan yang demikian pula, Adi Swandaru, tetapi pasti tidak akan terlampau tajam seperti saat ini. Apabila aku harus memenuhi perintah Kakang Untara dan menghadap Ki Gede Pemanahan, maka segera aku akan terlempar ke atas. Itu pasti tidak akan dapat memberi ketenteraman di hatiku. Apalagi aku tahu, bahwa prajurit-prajurit yang kemudian berada di bawahku ada¬lah orang-orang yang telah berjuang cukup lama dan mempunyai jasa yang cukup besar buat Pajang. Kemampuan dan pengalaman ada pula yang melampaui aku. Nah, aku tidak akan dapat melakukan tugas yang demikian.”

Agung Sedayu memandangi Swandaru Geni untuk mencoba menangkap kesan kata-katanya di hati adik seperguruannya itu. Dan ia melihat Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena itu, maka hati Agung Sedayu menjadi agak tenteram. Ia mengharap Swandaru dapat mempercayainya.

Dan dengan tiba-tiba saja Swandaru bertanya, “Jadi bagaimanakah maksudmu, Kakang? Apakah kau akan segera berangkat?”

Dada Agung Sedayu kini dihentak oleh kebimbangannya. Justru karena pertimbangan-pertimbangan yang kemudian tumbuh di dalam hatinya. Justru karena pertanyaan Sekar Mirah tentang Ki Tambak Wedi yang mungkin mereka temui di jalan.

“Kalau aku ingin lari dari persoalan ini, maka akulah yang seharusnya menjumpai akibat yang betapapun beratnya. Tidak sewajarnya aku menyeret kedua kakak beradik itu ke dalam bencana,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya. Tetapi hati itu seakan-akan diliputi oleh kegelapan. Itulah sebabnya maka pertimbangan-pertimbangannya menjadi kabur dan ragu-ragu.

“Kakang,” terdengar Swandaru meneruskan kata-katanya, “apabila kakang menghendaki kami ikut dengan Kakang berangkat saat ini juga, maka kami pasti tidak akan keberatan. Kami tahu bahwa kau sedang diamuk oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Mungkin aku dan Sekar Mirah kurang dapat memahami caramu berpikir dan mempertimbangkan persoalanmu, tetapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin membingungkan diriku sendiri dan menambah kau menjadi bingung. Sekarang bagaimana pertimbanganmu? Berangkat sekarang atau tidak? Kami akan mengikuti kau. Sebab tanpa kau di sini, maka kami akan menjadi orang asing. Ternyata prajurit-prajurit Pajang yang di sini, sebagian terbesar bukan prajurit-prajurit Pajang yang berada di Sangkal Putung. Hanya satu dua orang sajalah yang mengenal aku dan Sekar Mirah. Selainnya adalah orang asing bagiku, seperti aku juga orang asing bagi mereka. Karena itu, katakanlah keputusanmu. Aku dan Sekar Mirah tidak akan menolak. Kau bagi kami adalah orang terdekat di sini, selain Guru.”

Tetapi ternyata kata-kata Swandaru itu membuat Agung Sedayu semakin bingung. Ia kini benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dikatakan. Keringatnya menjadi semakin deras mengalir di punggung dan tengkuknya. Ia sudah terperosok semakin jauh ke dalam persoalan dan ceritera yang disusunnya, namun yang semakin membingungkannya sendiri.

Karena itu, maka ia pun sekali lagi terbungkam. Sekali-sekali tangannya meraba keningnya mengusap titik keringat yang menetes.

Swandaru melihat wajah Agung Sedayu yang pucat itu. Ia pun tiba-tiba menjadi bingung sendiri. Tetapi untuk mengurangi dan meredakan ketegangan perasaan Agung Sedayu, maka Swandaru tidak bertanya lagi.

Sekar Mirah yang duduk di dekat Swandaru pun menjadi ti¬dak kalah bingungnya. Ia tidak mengerti pendirian Agung Sedayu, tetapi ia merasakan bahwa ada sesuatu yang telah disembunyikan oleh anak muda itu. Dan yang disembunyikan itu menurut dugaan Sekar Mirah, pasti menyangkut dirinya dan kakaknya Swandaru. Namun Sekar Mirah pun tidak bertanya sesuatu. Seperti Swandaru, ia tidak ingin membuat Agung Sedayu bertambah bingung.

Tetapi keheningan dalam ruangan itu terasa semakin lama semakin tegang. Keringat di punggung, tengkuk, dan kening Agung Sedayu menjadi semakin deras mengalir.

Dalam ketegangan itu tiba-tiba mereka serentak mengangkat wajah-wajah mereka. Terdengar langkah-langkah kaki dekat sekali di luar dinding ruangan itu. Kemudian terdengar suara gemerisik mendekati pintu di sepanjang dinding rumah.

Agung Sedayu dan Swandaru tanpa berjanji segera meloncat berdiri. Tangan-tangan mereka melekat di hulu pedang, sedang Sekar Mirah pun telah berdiri pula di belakang Swandaru.

“Ah,” tiba-tiba mereka mendengar suara berdesah, “daerah ini kini adalah daerah yang aman. Kenapa kalian menjadi gelisah dan mudah sekali menjadi terkejut?”

Ketiga anak-anak rnuda itu menarik nafas dalam-dalam. Suara itu sudah amat mereka kenal. Suara Ki Tanu Metir.

Tergopoh-gopoh Swandaru melangkah ke pintu dan menarik selaraknya. Ketika pintu itu terbuka, mereka melihat Ki Tanu Metir berdiri sambil tersenyum, katanya, “Hanya kegelisahan di hati kalianlah yang telah membuat kalian menjadi cemas menanggapi setiap persoalan. Kalian menjadi terlampau mudah terkejut dan kadang-kadang bingung.”

Agung Sedayu dan Swandaru menundukkan kepalanya. Kata-kata gurunya terasa tepat menyentuh jantung mereka yang berdentangan.

“Duduklah. Sebaiknya kita bersikap wajar. Kenapa kalian menjadi gelisah, cemas dan bahkan pucat seperti melihat hantu?”

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi semakin tunduk. Perlahan-lahan mereka melangkah dan duduk kembali di atas amben bambu, sementara Ki Tanu Metir sendirilah yang menutup pintu.

Ketika pintu sudah tertutup rapat, maka Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah ke amben itu pula dan duduk di antara mereka. Di antara ketiga anak-anak muda yang sedang dicengkam oleh persoalan yang tidak begitu jelas.

Demikian Ki Tanu Metir duduk, ia bergumam, “Pintu itu tidak usah diselarak. Tidak akan ada orang yang masuk untuk kepentingan apa pun di malam begini. Di sini, dalam keadaan ini, pasti tidak ada pencuri, dan tidak akan ada orang-orang Jipang atau orang-orang Tambak Wedi yang akan datang.”

Ketiga anak-anak muda itu tidak menjawab. Sedang Swandaru dan Agung Sedayu menjadi semakin tunduk. Ia tahu benar maksud kata-kata gurunya.

“Di luar dinginnya bukan main,” desah gurunya itu. Tetapi tiba-tiba nada suaranya meninggi. “Tetapi kenapa kalian? Aku lihat baju kalian menjadi basah oleh keringat. Apakah udara di dalam rumah ini sangat panas?”

Masih belum ada yang menjawab.

“Aku kira di dalam ini pun cukup sejuk, meskipun tidak sedingin di luar,” Ki Tanu Metir berhenti sebentar. “He, apakah rumah ini beratap ijuk atau daun lalang? Memang kedua-duanya dapat menahan dingin. Apabila udara dingin, maka ruangan di sini tidak akan terlampau dingin. Tetapi apabila udara panas, ruangan ini akan menjadi cukup sejuk, tidak seperti dipanggang di atas bara.”

Belum ada jawaban.

“Aku tidak begitu memperhatikan. Apakah kalian melihatnya siang tadi?”

Swandaru dan Agung Sedayu mengangkat wajah-wajah mereka sejenak, tetapi wajah-wajah itu tertunduk kembali.

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. “Kalau begitu kalian seolah-olah mandi keringat bukan karena panasnya uda¬ra. Mungkin kalian sedang ketakutan. Begitu?”

Kini seperti berjanji keduanya menjawab, “Tidak, Guru.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya, mungkin kalian tidak sedang ketakutan. Tidak pula sedang kepanasan. Tetapi kenapa kalian gelisah? Ketika kalian mendengar suara kakiku berdesir di samping dinding rumah ini, kalian terkejut. Aku mendengar gerak kalian. Kalian segera berloncatan seperti ada seorang musuh yang mengintip. Aku pun kemudian mengintip. Dan aku melihat tangan kalian telah melekat di hulu pedang sebelum pintu itu terbuka. Nah, apakah yang sudah terjadi atas kalian sehingga kalian menjadi gelisah, dan bahkan seolah-olah ketakutan? Apakah ada persoalan yang membuat kalian cemas? Ancaman dari seseorang misalnya, atau tantangan dari orang yang kalian anggap jauh lebih tinggi ilmu tata beladirinya daripada kalian?”

Sejenak Agung Sedayu dan Swandaru berdiam diri. Namun kemudian hampir bersamaan mereka menggelengkan kepala mere¬ka, “Tidak, Guru.”

“Kalau begitu, apakah yang telah merisaukan hati kalian?”

Sekali lagi anak-anak muda itu terbungkam.

“Nah, aku tahu sekarang,” berkata Ki Tanu Metir sambil tersenyum, “yang merisaukan itu pasti kalian sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, sedang Swandaru mengerutkan keningnya. Mereka masih saja berdiam diri. Tetapi yang menjawab justru Sekar Mirah, “Ya, Kiai. Yang merisaukan kami adalah hati kami sendiri.”

Ki Tanu Metir tertawa perlahan, “Begitulah. Karena itu jangan kau turuti perasaan hati. Setiap persoalan pertimbangkan masak-masak dengan nalar, jangan semata-mata dengan perasaan. Dengan demikian kalian tidak akan dicemaskan oleh hal-hal yang sama sekali tidak perlu.”

Terdengar nafas Ajung Sedayu semakin cepat mengalir lewat lubang-lubang hidungnya. Terengah-engah, seolah-olah baru saja bergulat dengan hantu. Apalagi ketika gurunya berpaling kepadanya dan langsung bertanya, “Apakah yang membuat kau menjadi cemas?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab.

“Bukankah kau baru datang dari banjar padepokan menghadap kakakmu?”

“Ya, Guru. Aku memang baru saja menghadap Kakang Untara di banjar.”

“Hem,” Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya, “kalau begitu, pasti ada pembicaraan yang membuat kau bingung atau risau. Membuat kau kehilangan ketenangan dan pertimbangan. Begitu?”

Sejenak Agung Sedayu tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun bibirnya bergerak-gerak tetapi tidak terdengar jawaban dari mulutnya.

“Baiklah, mungkin pertanyaanku membuat kau semakin bingung,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “karena itu, sekarang tenangkanlah hatimu. Sebaiknya kau pergi tidur. Angger Swandaru dan Angger Sekar Mirah pun sebaiknya pergi tidur pula.”

Tetapi justru hal itu telah membuat hati Agung Sedayu semakin kisruh. Apabila ia harus pergi tidur, dan besok pagi-pagi ia masih berada di padepokan itu, maka ia akan mengatami kesulitan yang lebih besar. Ia harus meninggalkan pondokan itu. Ia harus bersama dengan kakaknya. Apakah yang akan dikatakannya kepada Swandaru dan Sekar Mirah? Tetapi yang lebih menggelisahkan lagi adalah, bahwa ia tidak boleh berhubungan dengan gadis itu. Ia tidak boleh pergi ke Sangkal Putung dan seterusnya ia harus menjadi seorang prajurit.

Sebenarnya menjadi seorang prajurit itu sendiri sama sekali tidak menakut-nakuti hati Agung Sedayu. Yang paling menggelisahkannya adalah kemungkinan, bahwa ia harus berpisah dengan Se¬kar Mirah. Agung Sedayu yang masih muda itu tidak tahu pasti, ikatan apakah yang ada di dalam hatinya. Ia tidak menyadari, apa¬kah yang telah membuatnya seperti kehilangan akal karena kemungkinan perpisahan itu.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab kata-kata gurunya, tetapi ia juga tidak beranjak dari tempatnya untuk pergi tidur di sudut amben itu juga. Bukan saja Agung Sedayu, tetapi Swandaru dan Sekar Mirah pun sama sekali tidak berkisar.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu, bahwa perasaan Agung Sedayu benar-benar sedang kacau. Ia tidak dapat lagi berpikir bening, dan ia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Usianya memang masih cukup muda dan pengalamannya pun masih belum cukup banyak.

Karena itu, maka Ki Tanu Metir tidak lagi sampai hati untuk membiarkan muridnya kehilangan akal. Meskipun agak sulit juga, namun ia berusaha untuk menolong melepaskannya dari kebingungan. Maka katanya, “Swandaru, tungguilah adikmu itu beristirahat. Biarlah aku bawa kakakmu Agung Sedayu berjalan-jalan sebentar. Mungkin dengan demikian, ia akan menjadi agak tenang.”

Swandaru yang telah dibingungkan oleh keadaan itu pula, begitu saja menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Silahkan, Guru.”

“Baiklah. Kalau dapat, tidurlah kalian berdua. Tidak akan ada apa-apa lagi di sini. Percayalah.”

“Ya, Guru,” jawab Swandaru. Meskipun demikian, ia tetap tidak mengerti akan persoalan yang dihadapinya.

Ki Tanu Metir pun kemudian membawa Agung Sedayu keluar lagi dari rumah itu. Oleh Swandaru, pintunya pun segera ditutup kembali. Ia menyuruh Sekar Mirah untuk mencoba berbaring dan apabila mungkin untuk tidur, supaya badannya menjadi agak segar.

“Apakah kau juga akan tidur, Kakang?”

“Tentu, aku juga akan tidur.”

Tetapi Swandaru tidak melepas pedangnya. Dicobanya juga berbaring di amben yang besar itu pula. Tetapi ternyata keduanya sama sekali tidak memejamkan matanya.

Sementara itu, Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu telah keluar dari halaman rumah itu. Mereka terhenti ketika mereka berpapasan dengan dua orang prajurit peronda.

“Siapa?” salah seorang dari prajurit itu menyapa.

Ki Tanu Metir terbatuk-batuk sedikit, kemudian jawabnya, “Aku Ngger, Tanu Metir.”

“O,” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “malam-malam, Kiai?”

“Berjalan-jalan, Ngger. Aku tidak dapat tidur.”

“Silahkan, Kiai,” sahut salah seorang prajurit itu, yang kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu.

Maka keduanya pun segera melangkahkan kaki mereka. Mereka berjalan menyusur jalan padepokan, kemudian berbelok ke jalan-jalan sempit yang sepi.

Tetapi Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu masih saja berdiam diri. Ki Tanu Metir belum bertanya sesuatu, dan Agung Sedayu tidak dapat mulai dengan sebuah percakapan apa pun.

Yang terdengar kemudian hanyalah desir kaki-kaki mereka di atas tanah yang keras. Sekali-sekali angin lereng yang dingin bertiup menggugurkan daun-daun kering dan menebarkannya di sepanjang jalan. Di kejauhan terdengar lamat-lamat suara burung kedasih yang sedih.

Baru sejenak kemudian terdengar Ki Tanu Metir berkata, “Aku mendengar percakapan kalian seluruhnya di pondok, Ngger.”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar kata-kata gurunya. Tetapi ia tidak segera dapat menyahut.

“Aku dapat mengerti, bahwa kau sedang dalam kebingungan. Tetapi aku menyangka, bahwa kau tidak berkata sebenarnya terhadap Angger Swandaru dan Sekar Mirah. Ada sesuatu yang kau sembunyikan atau bahkan apa yang kau katakan seluruhnya tidak benar.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Setelah sekian lama ia menahan kegelisahan di dalam dadanya, tiba-tiba ia merasa mendapat tempat untuk menumpahkannya. Ia hampir lupa, bahwa ia mempunyai seorang guru yang akan dapat memberinya nasehat, dan sekaligus tempat untuk meringankan beban yang menyesak di dadanya.

Karena itu, sebelum Ki Tanu Metir mengulangi pertanyaannya, Agung Sedayu segera menjawab, “Ya, Kiai. Aku telah berdusta. Aku tidak dapat mengatakan yang sebenarnya.”

“Ya, kau tidak dapat berkata sebenarnya. Apakah soalnya?”

Agung Sedayu pun segera menceriterakan pertemuannya dengan kakaknya dan Wuranta. Dikatakannya semua dari awal sampai akhir, sehingga ia menjadi terlampau bingung dan ingin meninggalkan padepokan malam ini juga.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia bergumam, “Aku sudah menyangka, bahwa suatu ketika Angger Untara akan sampai kepada keputusan itu. Beberapa kali telah disinggungnya, seakan-akan hubungan antara Angger Agung Sedayu dan Angger Sekar Mirah hanya akan menghambat kemajuan Angger Sedayu dan hanya akan menumbuhkan perselisihan saja. Tetapi Angger Untara ternyata kurang bijaksana menanggapi persoalan-persoalan yang demikian.”

Dan malam ternyata telah menjadi terlampau jauh, sehingga tiba-tiba saja mereka telah mendengar ayam jantan berkokok bersahutan. Seperti hantu yang takut kamanungsan, tiba-tiba Agung Sedayu menjadi semakin gelisah dan tanpa sesadarnya ia berkata, “Kiai, aku harus pergi sebelum pagi. Aku tidak dapat melakukan semua perintah Kakang Untara.”

“Yang mana yang tidak dapat kau lakukan, Ngger?“

Agung Sedayu tiba-tiba terdiam. Pertanyaan itu telah memaksanya untuk bertanya pula kepada diri sendiri, “Yang manakah yang tidak dapat dilakukannya?”

“Apakah kau memang tidak ingin menjadi seorang prajurit, atau ada persoalan lain yang lebih mengikat dari pada itu?”

Agung Sedayu tidak menjawab, tetapi kepalanya kini tertunduk dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar ketika di dalam dadanya bergolak pengakuan, bahwa yang paling memberati dadanya adalah perpisahan dengan Sekar Mirah itu. Tetapi ia tidak dapat mengatakan kepada Ki Tanu Metir dengan terbuka.

Sejenak keduanya terdiam. Angin yang berhembus terasa seolah-olah menjadi semakin dingin membelai tubuh mereka. Kokok ayam jantan pun menjadi semakin riuh pula. Ketika tanpa mereka sadari, mereka menengadahkan wajah mereka, maka tampaklah warna kemerah merahan di langit.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir-lah yang kemudian berkata, “Angger Sedayu, aku kira Angger Agung Sedayu kini telah benar-benar menjadi seorang laki-laki. Itulah sebabnya aku menduga, bahwa Angger tidak akan takut untuk menjadi seorang prajurit. Sebelum Angger menjadi prajurit, Angger telah berani terjun di medan-medan perang yang paling dahsyat. Angger telah ikut serta dalam peperangan di Sangkal Putung dan di padepokan ini. Tetapi, agaknya yang paling berat bagi Angger adalah keinginan Angger Untara, bahwa Angger harus memutuskan hubungan dengan Angger Sekar Mirah. Adakah begitu?”

Betapa dinginnya malam, namun baju Agung Sedayu telah dijalari oleh keringat yang mengalir dari punggungnya. Terbata-bata ia menjawab, “Ya, Kiai.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, “apakah Angger tidak dapat melakukannya untuk sementara? Bukankah di saat-saat mendatang kesempatan masih luas bagi Angger untuk dapat bertemu dan berhubungan dengan Angger Sekar Mirah?”

Pertanyaan itu tidak dapat segera dijawab oleh Agung Sedayu, perpisahan dengan Sekar Mirah terasa terlampau berat baginya. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh Untara hanya karena sekedar menyenangkan hati Wuranta. Maka hati Agung Sedayu menjadi semakin tidak rela. Meskipun ia tahu peranan apa yang telah dilakukan oleh Wuranta, seolah-olah kunci kemenangan peperangan di padepokan ini adalah di tangan anak muda Jati Anom itu, namun ia tidak akan dapat melepaskan segala macam unsur kemenangan yang lain. Itulah sebabnya, maka apabila kakaknya terlampau memberatkan keputusannya kepada Wuranta, adalah tidak adil baginya.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir itu pun melanjutkan, “Nah, aku kira kau berkeberatan bukan?”

Tanpa sesadarnya Agung Sedayu pun mengangguk.

Ki Tanu Metir yang tua itu dapat menangkap perasaan yang bergolak di dalam dada muridnya. Betapa sakit dan pedih. Justru dalam umurnya yang masih terlampau muda.

Tiba-tiba Agung Sedayu mendengar gurunya bergumam, “Angger Sedayu, biarlah aku mencoba menolongmu. Aku akan berusaha supaya kau dapat pergi ke Sangkal Putung bersama dengan Angger Swandaru dan Angger Sekar Mirah.”

“Kiai,” hanya itulah yang terloncat dari mulutnya.

“Ya, aku akan mencoba. Tetapi aku tidak tahu apakah usahaku akan berhasil. Meskipun dengan demikian, Angger Untara pasti akan membuat penilaian atas diriku dan dirimu, tetapi baiklah aku mencobanya. Tetapi untuk seterusnya, kau harus dapat membawa dirimu. Sebagian dari keinginan kakakmu harus dapat kau penuhi. Kau sebaiknya memang menjadi seorang prajurit.”
“Ya, Guru. Aku sama sekali tidak berkeberatan menjadi seorang prajurit. Tetapi tidak segera. Aku masih ingin mengantar Sekar Mirah kembali kepada ayah dan ibunya seperti yang pernah aku janjikan.”

“Baiklah. Sekarang Angger kembali saja ke pondok Angger. Aku akan pergi ke banjar untuk berbicara dengan Angger Untara. Aku akan berbicara dengan caraku. Mudah-mudahan Angger Untara dapat mengerti. Jangan cemas, bahwa kau akan terpaksa membunuh, karena dicegat oleh orang-orang yang keras kepala itu.”

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 17 Oktober 2008 at 04:41  Comments (10)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-27/trackback/

RSS feed for comments on this post.

10 KomentarTinggalkan komentar

  1. makasih mas ..

  2. Sederek MODERATOR, mau urun hasil editan sampai hal 40, di upload disini atau dikirim ke mana ya ? Maturnuwun infonya.

    D2: Kalau sebanyak itu, dikirim ke imel saja Pak. Imelku dikirim setelah pesan2 berikut.

  3. banyak burung hantunya ya …. tapi baguslah tikus2 jadi habis. Oke lanjut kang, semangat terusss …..

  4. ” Pekerjaan kita memang berkelahi ” sahut prajurit muda yang pertama, ” Kita adalah orang orang yang dibentuk untuk berkelahi ”

    hikksss, persis kaya Ki Menggung, senengane berkelahi karo Ni Sinden.

    • ki gembleh melawan koncone ni sinden beken 🙄

      • wah…..nglawan tukang ngendhange…???

        • kulo keBAGian peran menapa Ki…..!!??

          tukang ngebuK gong njih purun…..pokok-e kulo manut
          kemawon.

          • gong putihan nopo gong kuningan ki gund ?

            • gong kali gong,
              bekerja sama dengan baek.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: