Buku 26

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sebenarnya tidak perlu menunggu kau, Untara. Aku dapat kembali sendiri.”

“Jangan,” potong Untara. “Aku akan membuat sekedar pernyataan terima kasih. Hari ini aku akan memerintahkan beberapa orang prajurit untuk turun menemui Ki Demang Jati Anom. Setelah aku menentukan hari-hari yang pasti, maka aku akan memberitahukan hal itu lagi kepada Ki Demang.”

“Untuk apa?” bertanya Wuranta.

“Prajurit-prajuritku dan orang-orang Jati Anom yang sudah cukup lama mengalami ketegangan jiwa, perlu mendapat sedikit pelepasan. Aku yakin bahwa Jati Anom masih memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk itu.”

Wuranta tersenyum. Katanya, “Maksudmu, Jati Anom masih mampu menyelenggarakan keramaian?”

“Begitulah.”

“Mungkin masih. Tetapi selama ini hati kita terampas oleh kecemasan. Aku tidak tahu, apakah Ki Demang masih sanggup menyelenggarakannya.”

“Aku akan menanyakannya. Mungkin besok aku sudah dapat menemukan keputusan, kapan kita akan kembali.” Dan diluar sadarnya Untara meneruskan, “Anak-anak Sangkal Putung itu pun sudah tergesa-gesa pula ingin pulang ke kampung-halamannya.”

Mendengar kata-kata Untara itu Wuranta mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba menunduk. Dan ia tidak menyahut sama-sekali.

Untara melihat perubahan wajah itu, dan disadarinya keterlanjurannya. Dengan demikian maka ia ingin memperbaikinya katanya, “Mudah-mudahan Ki Demang Jati Anom masih menemukan kemungkinan itu.”

Tetapi Wuranta masih tetap menundukkan kepalanya. Namun terdengar ia bergumam, “Kalau anak-anak Sangkal Putung itu ingin segera kembali, apakah keberatannya? Biarlah mereka kembali ke kampung halaman mereka. Barangkali mereka memang sudah tidak mempunyai urusan apa pun di sini.”

“Ya,” sahut Untara, “mereka sudah tidak mempunyai urusan di sini. Karena itu biarlah mereka segera kembali. Tetapi aku belum tahu, kapan mereka ingin pergi ke Sangkal Putung.”

Sekali lagi Wuranta terdiam. Percakapan mereka kini sudah tidak selancar semula. Dan Untara menyesali keterlanjurannya, namun ia juga menyesali sikap Wuranta yang terlampau mudah tersinggung itu pula.

Bahkan di dalam hati Untara berkata, “Biarlah anak-anak Sangkal Putung itu segera saja kembali. Suasana di sini dan di Jati Anom harus tetap baik. Wuranta mempunyai pengaruh yang cukup di Kademangan Jati Anom. Apalagi setelah mereka mendengar apa yang sebenarnya telah dilakukannya. Maka apabila anak itu kecewa, anak-anak muda Jati Anom pun akan menjadi kecewa pula. Terhadapku, dan terhadap prajurit-prajurit Pajang pada umumnya, yang sementara masih memerlukan Jati Anom sebagai tempat kedudukan mereka.”

Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Masing-masing terdiam kaku. Di dalam kediaman itu Untara tiba-tiba berpikir tentang adiknya. Apakah anak itu akan tinggal bersamanya di Jati Anom, ataukah ia akan pergi ke Sangkal Putung?

“Tak ada yang akan dilakukannya di Sangkal Putung. Ia harus tetap berada di Jati Anom bersamaku. Aku akan dapat mendidiknya untuk menjadi seorang laki-laki,” berkata Untara di dalam hatinya. “Baru saja ia berhasil melepaskan diri dari kungkungan dunianya yang sempit dan penuh ketakutan, kini ia telah jatuh ke dalam dunia lain yang sama-sama mengikatnya seperti dunianya yang dulu. Tetapi ia kini terikat oleh perasaan-perasaan yang tidak ubahnya seperti seorang yang sakit ingatan. Seseorang yang terkungkung dalam dunia yang demikian, maka ia akan kehilangan pribadinya. Mungkin Ki Tanu Metir benar, bahwa orang-orang muda akan mengalaminya sesuai dengan kewajaran sifat manusia. Tetapi Agung Sedayu masih terlampau muda. Ia masih harus banyak berbuat dan bekerja untuk membentuk dirinya, sebelum ia terjerumus kedalam dunia lain, yang sebenarnya belum masanya dialaminya”

Terngiang di telinga Untara kata-kata Ki Tanu Metir, “Jangan kau salahkan anak-anak muda itu, Ngger. Perasaan yang demikian itu wajar bagi anak-anak muda.”

“Memang,” Untara membantah di dalam hatinya, “hal itu adalah hal yang wajar. Tetapi bagi mereka yang sudah cukup dewasa. Akan tetapi belum waktunya buat Agung Sedayu. Ia segera akan kehilangan kepribadiannya dan terjerumus dalam suatu keadaan yang berbahaya. Ia akan menjadi alat saja bagi gadis Sangkal Putung itu. Ia tidak akan dapat membedakan lagi apa yang sebaiknya dilakukau dan apa yang tidak. Aku harus menjaganya supaya ia tetap teguh akan kediriannya. Aku harus membantu membentuknya menjadi seorang anak yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Hal itu sudah tampak padanya. Benih-benih dari ayah ternyata hidup subur di dalam dirinya. Ia adalah seorang pembidik yang baik. Seorang yang cukup lincah dan tangguh. Kematangannya akan membuatnya pilih landing. Tetapi apabila sebelum waktu itu datang ia sudah jatuh ke dalam pengaruh seorang gadis, maka semuanya itu tidak akan dapat terwujud.”

Untara tersadar ketika ia mendengar beberapa orang minta ijin kepadanya untuk keluar dari pringgitan itu. Udara ternyata terlampau panas.

“O, silahkanlah,” sahut Untara.

Beberapa orang kemudian berdiri dan berjalan meninggalkannya. Wuranta pun kemudian minta ijin pula untuk keluar. Ia ingin melepaskan diri dari ketegangan yang tiba-tiba mencengkamnya setelah sekian lama dapat dihindarinya. Namun ia kini tidak lagi menjadi seolah-olah kehilangan akal. Ia berjalan di antara para perwira yang pergi keluar pringgitan dan bercakap-cakap di antara mereka. Dengan demikian maka hatinya menjadi agak tenang.

Akhirnya Untara sendiri merasa bahwa udara di dalam pringgitan itu terlampau panas. Ia kini sudah tidak begitu terikat oleh tugas-tugas yang terlampau banyak. Karena itu maka tiba-tiba ia ingin mengunjungi adiknya dan kedua anak-anak muda Sangkal Putung kakak beradik. Ia ingin tahu, apakah keinginan mereka, dan kapankah mereka akan kembali ke Sangkal Putung.

Dengan dua orang perwira bawahannya Untara pergi ke pondok tempat tinggal Agung Sedayu. Ditemuinya ketiga anak-anak muda di pondok itu sedang duduk di bawah sebatang pohon sawo di halaman.

“Hem,” Untara berdesah di dalam hatinya, “itulah kerja mereka di pondok ini. Duduk-duduk dengan malasnya. Ini mempunyai pengaruh yang jelek terhadap Agung Sedayu. Wajarlah apabila ia semakin dalam tenggelam di bawah pengaruh Sekar Mirah. Setiap hari mereka berkumpul tanpa mempunyai perhatian atas masalah-masalah yang penting selain masalah-masalah di dalam diri mereka sendiri.”

Ketika anak-anak muda itu melihat kedatangan Untara, bagaimanapun juga anggapannya terhadap senapati itu, namun dengan tergopoh-gopoh mereka menyambut kedatangannya. Dengan ramahnya Untara dipersilahkan untuk masuk ke dalam dan duduk di sebuah amben yang besar.

Tetapi dada Untara itu menjadi berdebar-debar tetika ia melihat sesosok tubuh terbaring dengan nyamannya diamben itu. Ternyata Ki Tanu Metir sedang tidur dengan nyenyaknya. Tetapi langkah mereka telah membangunkannya. Sambil menggeliat ia berkata, “Ah marilah, Ngger. Aku sedang tidur.”

Untara tidak menyahut. Dianggukkan kepalanya, kemudian bersama kedua kawannya ia duduk di amben yang besar itu, sementara Ki Tanu Metir telah bangun dan duduk pula di antara mereka. Kain yang dipakainya kali ini adalah kain gringsingnya, diselimutkan pada sebagian dari tubuhnya yang tidak berbaju.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Swandaru dan Sekar Mirah berganti-ganti, kemudian adiknya, Agung Sedayu.

“Bagaimanakah dengan kalian?” bertanya Untara tiba-tiba.

“Kami baik-baik saja di sini, Kakang,” Swandaru-lah yang menyahut.

Senapati muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia bertanya pula, “Apakah kalian kerasan di sini?”

Pertanyaan itu mengejutkan mereka, sudah tentu mereka tidak kerasan di tempat yang asing ini. Mereka lebih senang segera kembali ke Sangkal Putung.

Ternyata Ki Tanu Metir sempat menangkap maksud dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang mengejutkannya pula. Seharusnya Untara tidak langsung bertanya kepada kedua anak-anak muda itu.

“Apakah yang terjadi dengan Angger Wuranta?” bertanya Ki Tanu Metir di dalam hatinya. “Angger Untara adalah seorang senapati yang berpengalaman. Ia dapat memperhitungkan hampir tepat setiap gerakan lawan. Ia dapat melawan gelar yang bagaimanapun sulitnya. Tetapi ia bukan seorang yang mengerti perasaan anak-anak muda. Ia kurang bijaksana menanggapi persoalan ini. Angger Untara memandang segala persoalan dari kepentingan keprajuritan. Seperti tanggapannya terhadap Angger Agung Sedayu dan Wuranta. Persoalan yang langsung menyangkut pasukannyalah yang paling banyak mendapat perhatian.”

Karena itu selagi Swandaru dan Sekar Mirah masih bingung menanggapi pertanyaan Untara, maka Ki Tanu Metir-lah yang menyahut, “Sudah tentu tidak, Ngger. Kedua anak-anak muda ini, bahkan ketiganya sama sekali tidak kerasan berada di tempat ini. Bagi mereka lebih baik untuk segera kembali ke Sangkal Putung daripada berada di sini. Sudah tentu ayah bundanya menunggu mereka dengan cemasnya. Bahkan mereka telah menyatakan keinginan mereka untuk mendahuluinya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia beringsut maju dan hampir memotong kata-kata Kiai Gringsing, Kiai Gringsiug itu cepat-cepat melanjutkannya, “Tetapi hal itu tidak dapat dilakukannya, akulah yang melarangnya. Mereka harus mengerti bagaimana sikap yang sebaik-baiknya dilakukan. Mereka harus mengucapkan terima kasih kepada pasukan yang telah membebaskannya. Aku minta mereka menunggu, Ngger. Mereka akan pergi bersamamu ke Jati Anom, kemudian secara resmi mereka akan mohon diri untuk kembali ke Sangkal Putung.”

Wajah Untara tampak berkerut. Ia kehilangan kalimat untuk menjawab. Sebenarnya ia ingin berkata, bahwa tidak ada keberatannya seandainya kedua anak-anak muda itu ingin segera kembali ke Sangkal Putung, bahkan itulah yang diinginkannya. Tetapi Ki Tanu Metir telah melarang mereka. Bagi Untara semakin cepat Sekar Mirah pergi, akan semakin baik. Senapati itu mencemaskan kehadirannya sebagai seorang gadis yang cantik. Kecantikannya akan dapat mempengaruhi keadaan. Terutama adiknya. Bukan mustahil apabila kelak akan dapat menumbuhkan persoalan-persoalan baru. Sudah tentu Wuranta tidak akan segera dapat melupakannya. Bahkan seandainya diminta, ia bersedia menyediakan pengawal yang cukup kuat, yang akan dapat melindungi mereka berdua seandainya mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi di perjalanan.

Tetapi Ki Tanu Metir telah mendahului sikapnya. Karena itu maka Untara untuk sejenak tidak berkata sesuatu.

Yang berkata kemudian adalah Ki Tanu Metir, yang melihat wajah Untara berkerut-merut. Seolah-olah ia dapat menebak isi hati anak muda itu. Katanya, “Sebenarnya aku pun tidak kerasan pula berada di sini, Ngger. Aku pun ingin segera kembali ke Dukuh Pakuwon. Tetapi aku pun ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian, bahwa kalian telah membebaskan Sekar Mirah. Adik muridku yang muda ini.”

Dada Untara berdesir. Ternyata kini ia dapat merasakan sesuatu di dalam hatinya, tentang orang tua itu. Ada yang tidak diakui oleh Ki Tanu Metir. Mungkin sikapnya atas Agung Sedayu dan kini sikapnya atas Swandaru, yang keduanya adalah murid Ki Tanu Metir.

Untara masih tetap berdiam diri. Ki Tanu Metir baginya adalah seorang yang banyak sekali memberikan jasanya. Jauh lebih banyak dari apa yang dapat diberikan oleh Wuranta.

Karena itu maka Untara menjadi gelisah. Ia ingin mengatakan berterus terang kepada Ki Tanu Metir, bahwa perasaannya menangkap sesuatu yang tidak wajar pada orang tua itu. Tetapi itu tidak akan dapat diucapkannya di hadapan Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Karena itu, maka ia ingin segera mendapat penjelasan dari persoalannya. Kalau ia secepatnya pergi ke Jati Anom membawa mereka itu, maka persoalannya akan menjadi semakin jelas. Ia pun akan segera dapat melihat perkembangan keadaan adiknya. Ia sudah memutuskan, bahwa Agung Sedayu tidak boleh pergi ke Sangkal Putung. Ia tidak berkeberatan hubungan apa pun yang akan dilakukan dengan Sekar Mirah, tapi yang menurut penilaian Untara, Agung Sedayu masih harus membentuk dirinya. Ia akan dapat menjadi seorang yang pilih tanding. Kelak apabila dikehendaki, ia akan dapat menjadi seorang prajurit yang dapat melampaui kebanyakan prajurit. Adipati Adiwijaya pasti akan menghargainya. Dan adiknya itu pasti akan segera mendapat tempat yang baik di kalangan Wira Tamtama.

Terdesak oleh perasaannya yang bergolak itu, maka tiba-tiba Untara berkata, “Besok lusa kita akan pergi ke Jati Anom. Besok aku akan memberitahukannya kepada Ki Demang Jati Anom. Aku mengharap Jati Anom akan menyambut kita dengan resmi. Dalam kesempatan itu kita akan mengucapkan terima kepada orang-orang yang banyak berjasa kepada perjuangan ini.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia pun merasakan apa yang bergetar di hati senapati muda itu, tetapi orang tua itu sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun. Ia masih saja tersenyum-senyum dan berkata, “Semakin cepat semakin baik, Ngger.”

Untara mengangguk. “Ya, Kiai,” jawabnya pendek. Ternyata Untara kemudian tidak dapat menyampaikan maksudnya, bertanya tentang keinginan Swandaru dan Sekar Mirah. Bahkan kemudian ia mendapat kesan yang aneh pada orang yang bernama Ki Tanu Metir dan yang sering menyebut diri Kiai Gringsing. Bahkan kesannya terhadap Kiai Gringsing itu menjadi semakin menggetarkan dadanya, sehingga tumbuhlah pertanyaan di dalam kepalanya, “Siapakah sebenarnya orang ini? Apakah benar bahwa Ki Tanu Metir itu hanya sekedar seorang dukun tua di Dukuh Pakuwon, tidak lebih dan tidak kurang? Hubungan apakah yang pernah dijalin antara Kiai Gringsing ini dengan ayah dahulu?”

Pembicaraan itu pun kemudian menjadi terlampau canggung. Sejenak mereka saling berdiam diri. Masing-masing menundukkan kepalanya. Kedua perwira kawan Untara menjadi heran melihat sikap Untara yang seolah-olah dicengkam oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Untuk hal-hal yang tampaknya tidak penting itu sebenarnya ia akan dapat mengambil keputusan tanpa menghiraukan terlampau banyak persoalan. Tetapi pembicaraan yang pendek itu agaknya telah membuat Untara ragu-ragu dan membuat kedua kawannya berdebar-debar.

Dalam kecanggungan itulah maka Ki Tanu Metir telah mencoba membuka pembicaraan-pembicaraan yang tidak berarti. Ia bertanya tentang beberapa hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan Untara mendatangi adiknya dan kedua anak-anak muda kakak beradik dari Sangkal Putung itu.

Tetapi Untara tidak dapat terlampau lama duduk di amben bambu yang besar itu. Sejenak kemudian, ia pun minta diri.

“O, begitu tergesa-gesa, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Ya, Kiai, aku agak lelah. Aku ingin beristirahat sebentar.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Silahkan, Ngger.”

Untara pun kemudian turun dari amben itu dan melangkah keluar. Tetapi di muka pintu ia berhenti sejenak dan berkata, “Sedayu, aku memerlukanmu.”

Dahi Agung Sedayu berkerut. Tetapi ia menjawab, “Ya, Kakang, aku akan datang.”

“Datanglah ke banjar.”

Sebelum Agung Sedayu menjawab, Ki Tanu Metir telah mendahuluinya, “Tetapi apakah tidak lebih baik Angger Agung Sedayu tidak usah datang ke banjar hari ini?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Apakah artinya kata-kata gurunya itu, dan apakah keberatannya?

Untara pun terdiam sejenak. Ia segera menangkap maksud Ki Tanu Metir. Namun tiba-tiba Untara mempunyai pendirian lain. Segalanya harus cepat menjadi jelas. Ia tidak ingin bermain sembunyi-sembunyian. Itu akan menyulitkan pekerjaannya saja. Ia harus segera berterus terang. Ia harus segera mendapatkan pemecahan.

Ternyata Ki Tanu Metir dapat mengerti apa yang tersirat di balik tatapan mata Untara yang tajam. Orang tua itu dapat mengerti bahwa Untara sebagai seorang senapati pasti mempunyai cara tersendiri. Apalagi seorang senapati muda.

Orang tua itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau cara itu yang akan ditempuh oleh Untara, maka ia pun tidak akan dapat menghalangi. Karena itu maka kemudian ia berkata, “Kalau Angger menghendaki, maka Agung Sedayu pun pasti akan pergi ke sana.”

“Ya,” sahut Untara. “Ia harus pergi ke banjar. Nanti malam.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Untara kemudian pergi meninggalkan mereka. Swandaru memandangi ketiga perwira itu dengan wajah yang keheran-heranan. Tetapi yang bertanya adalah Sekar Mirah, “Apakah sebenarnya keperluan mereka kemari?”

Ki Tanu Metir berpaling. Ditatapnya wajah gadis itu. Ternyata perasaan gadis itu cukup tajam. Tetapi Ki Tanu Metir menjawab, “Ia hanya ingin melihat-lihat semua lingkungan tanggung jawabnya.”

Sekar Mirah terdiam, tetapi hatinya menangkap sesuatu yang lain seperti juga Swandaru Geni. Apalagi Agung Sedayu. Beberapa saat sebelumnya sikap kakaknya telah membuatnya berdebar-debar. Dan kini kakaknya langsung memanggilnya. Apakah kepergiannya atas pendapat Ki Tanu Metir dari banjar tidak menyenangkan hati kakaknya, sehingga kakaknya memerlukan datang memanggilnya? Kalau hanya itu, bukankah kakaknya dapat memerintahkan bawahannya untuk datang ke pondoknya ini.

Tetapi teka-teki itu sudah tentu tidak akan dapat dijawabnya, kecuali langsung bertanya kepada Untara. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu menemukan suatu sikap di dalam dirinya. Sikap yang selama ini belum pernah dimilikinya. Dengan tetap ia berkata di dalam hatinya, “Apapun yang akan terjadi, aku harus menghadapinya. Aku tidak punya pilihan lain. Mungkin aku sudah berbuat kesalahan di luar sadarku. Tetapi aku harus mendengar apakah salahku yang sebenarnya. Kalau sekedar ketidak-hadiranku dalam upacara itu saja, maka aku kira persoalannya sudah selesai. Aku sudah memenuhi perintah Kakang Untara untuk minta maaf kepadanya.”

Dengan demikian maka hati Agung Sedayu justru menjadi tenang. Anak muda yang seakan-akan sepanjang hidupnya hanya tergantung saja kepada kakaknya, kini tanpa dikehendakinya sendiri dan tanpa disangka-sangka sebelumnya justru menemukan sikap di dalam dirinya, pada saat-saat ia digelisahkan oleh sikap kakaknya, tempat ia bergantung selama ini.

Maka tanpa disadarinya, perlahan-lahan ia bergumam lirih, “Aku akan datang, dan aku akan bertanggung jawab, apa pun kesalahan yang telah aku lakukan.”

Agung Sedayu itu terkejut ketika ia mendengar kata-kata lembut di belakangnya, “Bagus. Kau memang harus datang, Ngger.”

Ketika Agung Sedayu berpaling, dadanya menjadi berdebar-debar. Ternyata gurunya berada di belakangnya dan mendengar gumamnya, sehingga gurunya itu menyahut kata-katanya.

Namun sejenak Agung Sedayu tidak dapat mengerti maksud gurunya yang sebenarnya. Dan kebimbangannya itu memancar lewat sorot matanya.

Ki Tanu Metir kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan diulanginya kata-katanya, “Kau memang harus berbuat demikian, Ngger.”

“Apakah maksud guru sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

“Kau sudah menjadi semakin dewasa. Kau harus menemukan bentuk dari kepribadianmu sendiri. Kau tidak boleh selalu dibebani oleh perasaan ragu-ragu dan terlalu bergantung kepada orang lain. Misalnya kepada kakakmu. Suatu ketika kau harus menemukan sikap sendiri. Kau pada suatu saat harus meyakini suatu pendirian. Pendirian itu adalah pendirianmu. Pendirianmu sendiri.”

Agung Sedayu menundukkan wajahnya. Ia kini mengerti maksud gurunya. Memang selama ini ia terlampau bergantung kepada kakaknya. Dalam segala hal ia seolah-olah terikat kepada keputusan Untara. Ia merasakan bahwa ia tidak sebebas Swandaru apalagi Sutawijaya. Keduanya dapat menentukan sikapnya tanpa terlampau banyak mempertimbangkan pendapat orang lain.

Namun demikian ia mendengar gurunya meneruskan, “Tetapi Ngger, ini tidak berarti bahwa kau harus memutuskan semua seakan seperti seekor kuda yang lepas dari kendali. Kau masih tetap seorang saudara muda Angger Untara. Kau masih tetap harus mendengarkan nasehatnya. Tetapi kau sendiri harus mempunyai landasan sikap. Sikap seorang yang dewasa. Tetapi juga tidak berarti bahwa kau harus menentang setiap pendapat kakakmu.”

Kini perlahan-lahan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ki Tanu Metir berkata selanjutnya, “Dalam keadaan yang memaksa kau sebenarnya sudah dapat bersikap. Pada saat Angger Sekar Mirah hilang dari Sangkal Putung, kau sudah bersikap. Tanpa menunggu persetujuan Angger Untara. Tetapi dalam saat-saat yang wajar, kau hanya dapat berbuat sesuatu apabila Angger Untara menentukan.”

Agung Sedayu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ia memandangi Sekar Mirah dan Swandaru yang telah masuk kembali ke dalam pondoknya.

“Nah, dengan bekal itu, pergilah menghadap Angger Untara. Namun jangan lepas dari keseimbangan. Kau tetap adiknya dan kau tetap di bawah pengaruhnya, apalagi Angger Untara adalah seorang senapati perang yang bertanggung jawab di daerah ini. Daerah medan perang yang masih kemelut, yang masih belum dingin benar. Dalam daerah yang demikian, maka dada setiap prajurit itu pun masih juga berasap. Sentuhan minyak setetes masih dapat mengobarkan api yang masih membara di dalam dada.”

Perlahan-lahan terdengar Agung Sedayu menyahut, “Ya, Guru, aku mengerti.”

Kini Ki Tanu Metir-lah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus. Tetapi hati-hatilah akan sikapmu itu.”

“Ya, Guru,” jawab Agung Sedayu.

“Nah, sekarang beristirahatlah. Kau dapat mengatur perasaanmu, supaya kau tidak terkejut menghadapi sesuatu yang baru di dalam dirimu. Setiap perubahan harus kau sadari. Dan kau mengerti, supaya kau tetap berada di dalam keseimbangan.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah pergi. Beberapa langkah ia tertegun, sambil berpaling ia berkata, “Aku akan pergi ke sungai. Kalau aku tidak segera kembali, maka pergilah pada saatnya ke banjar.”

Agung Sedayu mengangguk, “Ya, Guru.”

Ketika Ki Tanu Metir meneruskan langkah, terdengar Swandaru melangkah ke luar dan bertanya, “Kemanakah guru itu?”

“Ke sungai.”

“Kenapa?”

Agung Sedayu memandangi wajah adik seperguruannya ini. Tetapi kemudian ia tersenyum. “Mungkin ia akan mandi. Mungkin mencuci kain gringsingnya yang sudah mulai masem.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kelak, kalau aku sudah sampai di Sangkal Putung, aku akan minta kepada ayah, supaya ayah membeli sehelai kain gringsing yang baru. Kiai Gringsing itu pasti akan senang memakainya.”

Agung Sedayu tersenyum, “Mungkin. Tetapi mungkin tidak. Ia mempunyai cirri-ciri yang khusus pada kain gringsingnya itu.”

Swandaru menggeleng, “Tidak. Kain itu adalah kain gringsing biasa saja.”

“Aku akan membatik buatnya,” tiba-tiba Sekar Mirah menyela. “Kalau ada cirri-ciri kekhususannya, ia dapat memberitahukan. Dan aku dapat membuat cirri-ciri itu pada kain yang aku batik dengan tanganku sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia melangkah masuk ke dalam pondok.

“Aku akan beristirahat,” katanya, “apakah kalian tidak tidur?”

Keduanya menggeleng. Agung Sedayu pun tidak biasa tidur pada saat-saat seperti ini. Berbeda dengan Ki Tanu Metir. Ia tidur kapan saja ia inginkan, tetapi kadang-kadang semalam suntuk ia sama sekali tidak tidur.

Sebenarnya Agung Sedayu pun tidak ingin tidur. Ia ingin mengatur perasaannya seperti yang dikatakan oleh gurunya.

Ketika kemudian malam tiba, dan padepokan Tambak Wedi disaput oleh warna yang kelam, maka perlahan-lahan Agung Sedayu meninggalkan pondoknya.

“Kau akan pergi ke banjar?” bertanya Swandaru.
“Ya, Kakang Untara memanggil aku. Mungkin ada sesuatu yang dianggapnya penting.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tampaknya ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi ternyata ia berdiam diri saja.

Namun di luar dugaan Swandaru dan Agung Sedayu, tiba-tiba Sekar Mirah bertanya lirih, “Tetapi, bukankah kau akan kembali ke pondok ini, Kakang?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia menjawab, “Tentu Mirah. Aku tentu kembali ke mari.”

“Lalu, apakah Kakang Agung Sedayu akan kembali ke Jati Anom segera?”

“Ah, aku kira kita akan pergi bersama-sama.”

“Mungkin ada perintah lain dari Kakang Untara.”

Agung Sedayu terdiam. Hal yang demikian itu memang mungkin sekali. Tetapi apakah ia harus selalu tunduk saja kepada perintah kakaknya yang bertentangan dengan kehendaknya? Bukankah ia bukan seorang prajurit Pajang?

Karena Agung Sedayu tidak menjawab maka Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Kakang? Dan apakah kau akan pergi juga ke Sangkal Putung seperti katamu?”

Agung Sedayu masih berdiam diri. Pertanyaan itu telah membuat hatinya berdebar-debar. Sebelum itu, Sekar Mirah seolah-olah membiarkannya, seandainya ia ingin meninggalkan kedua anak-anak Sangkal Putung itu, bahkan tampaknya Sekar Mirah acuh tak acuh saja seandainya ia tidak lagi akan pergi ke Sangkal Putung. Namun dalam keadaan yang mendebarkan ini, Sekar Mirah bertanya kepadanya, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung.

“Bukankah kau mengatakan,” sambung Sekar Mirah, “bahwa kau bersama-sama dengan Kakang Swandaru sedang mencari aku, dan kau akan menyerahkan aku kepada ayah bundaku bersama dengan Kakang Swandaru?”

Debar di dada Agung Sedayu terasa menjadi semakin cepat. Kini ia tidak dapat berdiam diri saja. Maka dengan ragu-ragu ia menjawab, “Ya, Mirah. Aku akan pergi ke Sangkal Putung.”

Sekar Mirah menatap mata Agung Sedayu dengan tajamnya. Tiba-tiba dari mata itu memancar suatu perasaan yang aneh, bahkan mata itu seolah-olah menjadi basah.

Dan perlahan-lahan sekali Agung Sedayu mendengar suara Sekar Mirah di-sela-sela bibirnya yang bergerak-gerak lamban, “Aku dan Kakang Swandaru menunggumu, Kakang.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya. Dipandanginya kedua kakak beradik itu berganti-ganti. Terasa darahnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir. Maka jawabnya kemudian tersendat-sendat, “Ya, ya. Aku pasti akan kembali ke pondok ini dan aku akan mengantarkan kalian ke Sangkal Putung.”

Agung Sedayu itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka dengan perasaan yang aneh. Sekar Mirah masih berdiri saja sejenak di halaman sehingga Agung Sedayu itu hilang ditelan gelapnya malam.

Sekar Mirah itu tersadar ketika ia mendengar kakaknya berdesis di belakangnya, “Marilah kita masuk, Mirah. Malam terlampau dingin.”

Sekar Mirah mengangguk. Tetapi tiba-tiba gelap malam membuatnya ketakutan lagi. Dengan gemetar dipeganginya tangan kakaknya. Di dalam kegelapan itu terbayang kembali mayat yang bergelimpangan, membujur lintang di halaman, di jalan-jalan bahkan bersandar pagar-pagar batu.

“Kakang,” kata-katanya bergetar, dan pegangannya pada tangan kakaknya menjadi semakin erat, “aku takut Kakang, takut.”
“Apa yang kau takutkan?”

Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi wajahnya disembunyikannya di dada kakaknya.

“Marilah masuk, Mirah.”

Swandaru itu pun kemudian membimbing Sekar Mirah masuk ke dalam pondoknya, dan Sekar Mirah itu berjalan saja sambil memejamkan matanya.

Demikian mereka masuk kedalam pondok itu, maka Sekar Mirah pun segera berkata, “Tutuplah pintunya, Kakang.”

Swandaru pun segera menutup pintu. Sekar Mirah kini kembali menjadi ketakutan dan selalu berpegangan tangan kakaknya. Meskipun kemudian mereka telah duduk di atas amben besar di dalam pondok itu, dan ruangan itu diterangi oleh sebuah lampu minyak yang tersangkut di tiang, namun Sekar Mirah masih saja ngeri karena bayangan yang mengganggunya.

Perasaan ngeri itu ternyata mempengaruhi pula perasaan Swandaru Geni. Tetapi ia tidak menjadi ngeri dihantui oleh bayangan mayat yang bergelimpangan. Yang mendebarkan jantungnya adalah suasana yang dirasanya terlampau sepi. Tanpa disengajanya maka matanya hinggap pada pedangnya yang besar, bertangkai gading yang tergantung di dinding. Pedang itu tidak terlampau jauh dari padanya. Sekali loncat ia akan sudah dapat meraih senjata itu. Tetapi perasaannya telah memaksanya untuk berdiri sejenak.

“Kau akan kemana, Kakang?” bertanya Sekar Mirah yang masih berpegangan tangannya.

Swandaru Geni tidak menjawab. Tetapi ia bergeser sedikit dan meraih pedang itu.

“Apakah kau akan pergi?” bertanya adiknya.

Swandaru menggeleng, “Tidak.”

“Tetapi kenapa kau kenakan pedang itu di lambungmu?”

“Hanya sekedar untuk menenteramkan hati.”

“Kenapa, Kakang?” Sekar Mirah menjadi semakin cemas, “apakah ada sesuatu?”

“Tidak, tidak Mirah. Tidak ada apa-apa. Duduklah. Aku ingin membuat hatimu dan hatiku sendiri tenteram. Di samping senjata ini aku tidak akan mengenal takut lagi. Aku harap kau juga tidak lagi menjadi berdebar-debar dan ketakutan.”

Sekar Mirah terdiam. Keduanya kemudian duduk lagi. Tanpa dikehendaki, Sekar Mirah bermain-main dengan juntai pedang Swandaru yang berwarna kekuning-kuningan. Juntai yang diterimanya dari pemberian Sutawijaya.

Di luar malam menjadi semakin kelam. Derik cengkerik dan pekik bilalang bersahutan dengan lengking angkup nangka. Ngelangut. Di kejauhan sekali-sekali terdengar anjing liar menyalak dan menggonggong seakan-akan menangisi keluarganya yang hilang di peperangan.

Sekar Mirah duduk semakin merapat kakaknya. Kesepian malam membuatnya menjadi semakin ngeri. Tetapi dengan pedang di lambungnya Swandaru sudah tidak diganggu lagi oleh kecemasan.

Meskipun demikian setiap desir yang lemah sekalipun seakan-akan telah membuat telinga Swandaru bergerak.

Di dalam kegelapan malam itulah Agung Sedayu melangkah dengan hati yang berdebar-debar. Dilewatinya jalan padepokan Tambak Wedi yang sepi. Jalan yang belum begitu dikenalnya. Tetapi ia tahu benar arah yang harus diambilnya untuk sampai ke banjar padepokan.

Namun Agung Sedayu sama sekali tidak kehilangan kewaspadaan. Ia berjalan di daerah yang belum begitu dipahami. Dan daerah itu adalah daerah yang baru saja dilanda oleh pertempuran. Di ujung jalan ini kemarin berserakan mayat dan orang-orang yang terluka. Di halaman-halaman dan di kebun-kebun di sekitar banjar.

Tidak pula mustahil apabila di balik rimbunnya pepohonan itu masih ada satu dua orang yang bersembunyi, mengintai perjalanannya. Sisa-sisa orang Tambak Wedi atau orang Jipang yang berhasil bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul dan rerungkutan, atau di dalam kebun-kebun salak yang terbentang di sela-sela kebun-kebun bambu yang padat.

Gemerisik angin malam menggoyangkan dedaunan dan ranting kecil. Dingin malam di lereng pegunungan mulai terasa membelai kulit. Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Ia berjalan terus. Selangkah demi selangkah menembus gelapnya malam. Pedangnya tergantung di lambung kirinya. Bergerak-gerak seirama dengan langkah kakinya.

Meskipun jarak yang akan dilalui Agung Sedayu dari pondoknya ke banjar padepokan itu tidak jauh, tetapi di dalam jarak yang dekat itu menunggu berbagai kemungkinan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Dalam gelap malam Agung Sedayu melangkah terus, seperti hatinya yang sedang gelap pula. Kadang-kadang timbul niatnya untuk berbuat sekehendak hatinya tanpa menghiraukan apa pun yang akan dikatakan kakaknya nanti. Bahkan ia akan bersedia melakukan akibat yang bagaimana pun juga. Tetapi kemudian tumbuhlah sifat-sifatnya yang tidak dapat ditinggalkannya. Ragu-ragu.

Tiba-tiba langkah Agung Sedayu tertegun. Ia sudah melihai lamat-lamat nyala obor di halaman. Tetapi dekat, hanya beberapa langkah daripadanya, ia melihat bayangan hitam yang bergerak-gerak. Menilik sikapnya, bayangan itu pasti bukan prajurit Pajang.

Hati Agung Sedayu menjadi berdebar-debar dan curiga. Selangkah ia maju mendekati bayangan itu, tetapi bayangan itu pun kemudian menjauhinya selangkah pula.

Debar di dada Agung Sedayu menjadi semakin keras. Perlahan-lahan ia bertanya, “Siapa kau?”

Tetapi ia tidak mendengar jawaban. Sekilas angan-angannya meloncat kepada Wuranta. Apakah orang itu Wuranta? Lalu apakah maksudnya ia menungguku di kegelapan.

Agung Sedayu menggeleng lemah, “pasti bukan Wuranta.” Namun di dalam hatinya itu terdengar, “Mungkin. Ia sedang menungguku. Bukankah sikapnya pada saat-saat terakhir sangat membingungkan?”

Selangkah Agung Sedayu maju, dan selangkah orang itu menjauh. Segera Agung Sedayu mengerti, bahwa orang itu sedang memancingnya. Karena itu, maka ia menjadi semakin berhati-hati. Mungkin orang itu cukup berbahaya baginya.

Tetapi hati Agung Sedayu saat itu sedang disaput oleh kegelapan. Betapapun ia mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya dan dengan penuh kewaspadaan, namun tiba-tiba kemarahan, kejemuan, dan segala macam perasaan yang tidak menyenangkannya, serasa terungkat. Sekali terdengar anak muda itu menggeram. Lalu sekali lagi ia bertanya, “Siapa kau, he?”

Masih belum ada jawaban. Karena itu maka kemarahan di dada Agung Sedayu menjadi semakin membara, Ia merasa dipermainkan oleh bayangan yang tidak dikenalnya.

Agung Sedayu yang sedang pepat itu, sama sekali tidak sempat untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang jernih. Memang sekali terkilas di dalam hatinya sebuah pertanyaan “Apakah orang ini Ki Tambak Wedi yang berhasil kembali ke dalam padepokan ini?”

Tetapi pertanyaan yang demikian dijawabnya sendiri, “Tidak. Kalau orang ini yang bernama Ki Tambak Wedi, ia tidak memancing aku. Dengan sekali loncat ia sudah berhasil menerkam aku dan membuatku pingsan atau membunuhku sama sekali. Orang ini pasti bukan Ki Tambak Wedi.”

“Sidanti, Argajaya?”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia melihat bentuk bayangan dalam keremangan malam, maka ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, “Bukan keduanya,” desisnya.

“Aku tidak peduli apakah orang itu Sidanti, Argajaya, atau Tambak Wedi sekalipun,” geramnya kemudian.

Agung Sedayu kemudian benar-benar menjadi bermata gelap. Hatinya yang bingung karena persoalan-persoalan yang bertubi-tubi menggoda perasaannya telah membuatnya kehilangan pertimbangan. Sikap Wuranta yang tidak dimengertinya, sikap kakaknya, dan persoalan yang membuat hatinya menjadi kisruh.

Kini ia ingin menumpahkan segala macam perasaannya itu. Segala macam kejemuan, kejengkelan, kebingungan, dan apa saja.

Tiba-tiba Agung Sedayu menggeretakkan giginya. “Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Juga terhadap ini, aku tidak perlu berlari-lari melaporkannya kepada Kakang Untara. Aku hanya akan dimarahinya. Diejeknya dan barangkali dimaki-makinya. Apalagi kalau orang ini ternyata orang-orang yang berbahaya, yang kemudian berhasil melepaskan diri. Aku pasti dikiranya seorang pengecut yang hanya berani berbuat di antara orang-orang dapat melindungiku.”

Dengan serta-merta Agung Sedayu pun segera meloncat mengejar bayangan itu. Demikian tiba-tiba sehingga bayangan itu pun terkejut. Namun orang yang berada di dalam kegelapan itu masih mampu menghindarkan dirinya dan berlari membelok ke dalan lorong yang sempit.

Agung Sedayu sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Dikejarnya orang yang berlari itu. Ia sudah tidak lagi menghiraukan apa pun, meskipun mereka kemudian memasuki lorong-lorong yang makin sempit dan rimbun. Lorong-lorong yang jarang sekali dilalui oleh peronda-peronda prajurit Pajang.

Namun betapapun juga, naluri Agung Sedayu masih mencegahnya ketika bayangan itu meloncat masuk ke dalam sebuah kebun yang kosong. Kebun yang gelap pepat ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul liar, dan rumpun-rumpun bambu. Di sana-sini tumbuh pohon yang besar dan rimbun.

“Ia memancing aku masuk,” geram Agung Sedayu. Tapi ia kini dicengkam oleh keragu-raguan. Perlahan-lahan ia menenangkan diri, menjernihkan pikirannya. Kini ia mencoba untuk menduga, siapakah orang itu.

“Ada beberapa kemungkinan,” katanya di dalam hati, “tetapi kemungkinan bahwa orang itu satu di antara tiga, Sidanti, Argajaya, atau Ki Tambak Wedi sendiri adalah sangat tipis. Menurut pengamatanku, bentuk tubuh mereka agak berbeda. Sikap dan cara untuk melarikan diri pun berbeda pula. Agaknya Wuranta pun bukan pula. Yang paling mungkin adalah sisa-sisa orang Jipang atau orang-orang Tambak Wedi sendiri yang lolos dari tangan prajurit Pajang dan berhasil bersembunyi di dalam liarnya gerumbul-gerumbul dan rumpun-rumpun bambu itu.”

Agung Sedayu masih saja berhenti di tempatnya. Kini ia sudah tidak melihat bayangan itu lagi. Bayangan itu telah hilang ke dalam rimbunnya dedaunan. Tetapi Agung Sedayu kini telah melihat bahaya yang dapat tumbuh apabila ia masuk ke dalam halaman yang liar itu. Ia akan dengan mudahnya disergap dari segala penjuru. Ia tidak tahu, apakah orang itu hanya seorang diri, atau mempunyai kawan-kawan yang cukup banyak. Karena itu, maka ia masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Ketka ia masih saja tidak bergerak, ia melihat bayangan yang hitam itu muncul lagi di dalam kegelapan. Agung Sedayu melihat bayangan itu berdiri tegak dengan kaki renggang, seolah-olah siap untuk menyerangnya.

Selangkah Agung Sedayu surut. Kesadarannya telah memperingatkannya untuk berbuat lebih hati-hati. Dan tiba-tiba saja, maka di tangan Agung Sedayu itu telah tergenggam pedangnya.

Tetapi bayangan yang hitam itu masih berdiri diam. Agaknya ia sengaja menunggu Agung Sedayu menyerangnya. Tetapi Agung Sedayu pun masih tetap berdiri saja di tempatnya.

Ternyata bayangan itu tidak dapat bersabar lebih lama lagi. Sejenak kemudian terdengar suaranya berdesis, “He, prajurit Pajang. Kau memang terlampau berani datang seorang diri ke tempat ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar bayangan itu berkata lagi, “Menurut pengamatan kami, kau adalah seorang dari dua anak-anak muda yang menunggui gadis itu di pondoknya.”

“Nah, sekarang aku ingin minta tolong kepadamu, supaya kau memanggil seorang kawanmu itu dan gadis yang kau tunggui itu pula, supaya kau selamat.”

Terdengar gigi Agung Sedayu gemeretak.

“Kalau kau bersedia, marilah. Kami, beberapa orang, akan mengantarmu kepondok itu. Tetapi ingat, jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan jiwamu,” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Kami sebenarnya tidak berkepentingan sama sekali dengan kalian. Tetapi bersama-sama dengan kalian, kami akan dapat keluar dari neraka ini. Dengan kalian, maka para penjaga pintu regol tidak akan dapat banyak berbuat atas kami.”

Agung Sedayu menggeram. Kini ia sadar, siapakah yang dihadapinya. Mereka adalah orang-orang yang berhasil bersembunyi di dalam padepokan ini, di antara gerumbul-gerumbul liar dan rumpun-rumpun bambu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang pada saat pertempuran terjadi antara orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang, sedang bertugas meronda atau tugas apa pun, sehingga mereka tidak sempat menggabungkan dirinya ketika pasukan Pajang memasuki daerah ini.

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 15 Oktober 2008 at 10:24  Comments (28)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-26/trackback/

RSS feed for comments on this post.

28 KomentarTinggalkan komentar

  1. sangat salut dengan semangat untuk menghadirkan karya ini di dunia maya krn begitu panjangnya serial ini. Go go go maju terus !!!

  2. Dear DheDhe,

    Apakah file dengan extention djvu dapat diedit menggunakan msword, kalau bisa bagaimana caranya.

    Thanks
    Doyoks

    D2: Yg file word hasil konvert kan saya sertakan sbg “raw material”. Kalau mau edit enakan pake file word ini, gak usah ketik ulang.

  3. terus berjuang untuk melestarikan karya ini….apapun bentuk file-nya…
    terus menanti dengan sabar, seorang agung sedayu menjadi anak muda pilih tanding ….

  4. Aku coba bikin halaman 1 s/d 5 ya…..

  5. ini halaman 2 & 3, halaman 1 masih ada problem dikit…..

    —Para perwira — desah para pradjurit hasmpir bersamaan. Mereka- menjangka bahwa kelima orang itu adalah salu atau dua orang perwira bersama dengan para pengawalnja mengadakan penindjauan keliling. Melihat para pradjurit jang sedang bertugas, dan melihai orang2 jang terluka atau terbunuh dipeperangan. Adalah
    menjadi kebiasaan para perwira Padjang untuk melihat, bahkan menangani sendiri tugas2 jang berat dan sulit.
    Ketika orang2 jang datang itu mendjadi semakin dekat, maka para pradjurit itupun berdiri berdjadjar memberi mereka djalan, dan bersiap apabila mereka harus mendjawab pertanjaan2. Sedang Wurantapun kemudian bergeser dibelakang para pradjurit itu. Ternjata kelima orang itu berdjalan kearah para pradjurii itu, sehingga para pradjurit itupun terpaksa mempersiapkan diri mereka untuk menerima kundjungan para perwira. Sedjenak mereka menebarkan pandangan mata mereka, untuk mengetahui dimana kawan2 mereka berada. Mungkin mereka harus membawa para perwira itu ke-tempat2 perondan, ketempat para pradjurit mengumpulkan orang2 jang terluka jang belum sempat dibawa kependapa bandjar, bahkan mungkin melihat majat2 jang’ suddah dikumpulkan untuk dikuburkan besok pagi.
    Ketika terlihat oleh para pradjurit itu majat Iaki2 tua beserta isterinja, maka merekapun berpaling. Hanja sedjenak. Ketika mereeka melihat Wuranta dibelakang mereka, maka mereka menganggap bahwa seharusnja Wurantalah jang wadjib memberikan keteranganja
    Kelima orang itu mendjadi semakin dekat. Hampir tidak pertjaja para pradjurit itu menadjamkan matanja. Jang satu diantara ereka ternjata adalah Untara sendiri.
    —Ki Untara– salah scorang dari mereka berdesis
    — Oh- sahut kawannja per-lahan2 — ja, Ki Untara sendiri.

    Ketiga pradjurit itu kini berdiri tegak berdjadjar. Untara memang sering berbuat demikian. Menindjau keadaan Iangsung di- tempat2 jang dianggapnja penting. Seperti kebiasaannja berdiri diudjung peperangan, maka iapun selalu berada didalam kesibukan akibat dari setiap peperangan, diantara para pradjuritnja.
    Para pradjurit itu menganggukkan kepala mereka ketika Untara lewat dihadapan mereka.
    Untara dan para pengawalnjapun menganggukkan kepala mereka pula. Namun tiba2 Untara itu menghentikan langkahnja. Ia berdiri dihadapan para pradjurit itu. Dengan demikian maka para pradjurit itupun mendjadi ber-debar2.

    Sedjenak Untara hanja berdiri sadja tanpa mengutjapkaa sepatah katapun. Ternjata jang dipandangnja bukan wadjah2 pradjurit jang berdlri tegak dihadapannja, tetapi orang jang berdiri dibelakang mereka. Wuranta.
    Para pradjurit itu melihat arah pandangan mata Untara. Merekapun mendjadi semakin ber-debar2. Apakah jang akan dilakukan oleh Senapati itu ? Apakah Ia telah mendengar laporan bahwa Wuranta pernah merendahkanja ? Dan apakah kira2 jang akan dilakukan oleh Wuranta setelah ia berhadapan langsung dengan Untara jang namanja sering di-sebut2nja.
    Sedjenak suasana ditjengkam oleh kesepian. Untara berdiri sadja ditempainja, dan Wuranta se-olah2 mendjadi beku. Narnun kemudian mereka melihat Untara itu mengerutkan keningnja sambil berdesis — Wuranta, bukankah kau itu? —
    Wuranta mendjadi ter-mangu2. Bagaimana ia harus bersikap terhadap Senapati itu didalam suasana peperangan ? Apakah ia harus bersiap seperti para pradijurit itu dan mendjawabnja seperti djawaban seorang pradjurii pula?
    Tetapi kata2 Untara berikutnja telah mengledjutkannja dan bahkan mengedjutkan para pradjurit jang berdiri tegak itu, Katanja — Aku memang mentjarimu Wuranta, sambil me-lihat2 keadaan. —
    Wuranta mendjadi semakin ber-debar2. Apakah sebabnja Untara mentjarinja? Tiba2 ia teringat akan sikapnja selama ini. Karena itu maka ia berrtanja didalam hatinja, seperti pertanjaan jang bergetar didalam dada para pradjurit itu — Apakah Untara telah benar2 mendengar sikap Wuranta jang kadang2 merendahkannja sebagai scorang Senapati, dan ia datang sendiri untuk mengambil tindakan terhadapnja? —
    Wuranta jang berd:ri tegak seperti para pradjurit itu masih sadja tegak seperti sebatang tonggak, Namun sedjenak kemudian ia berhasil menguasai perasaannja jang tidak lagi me-londjak2. Ia mentjoba menenangkan d’rinja dan berkata didalam hati Mudah-mudahaii aku tidak mendjadi gila lagi dihadapan Untara sendiri.—
    Para pradjurit jang berdiri dimuka Wurantapun mendjadi ber-debar2 pula. Tiba2 mereka merasa iba seandainja Untara marah dan mengambil sesuatu tindakan atas Wuranta. Pengakuan Wutanta jang ichlas atas kesalahannja pada saat2 terachir telah
    menjingkirkan sama sekali kebentjian para pradjurit itu atasnja.
    Tetapi seandainja Untara sendri Jang datang mentjarinja, dan mudian berbuat sesuatu atasnja, maka tidak seorangpun dari mereka jang dapat menolongnja.

  6. Halaman [1]…………
    DALAM kediaman mereka, para pradjurit itu ber-tanja2 didalam hati, kenapa tiba2 sadja sikap anak Djati Anom itu berubah. Anak muda itu tidak lagi menepuk dada $ambil menjebut narnanja, dan tidak lagi berkata tentang Untara. Sama sekali tidak lagi bekas2 kesombonganja pada pengakuannja yang ichlas itu Bahkan sikap-
    nja jang menjakitkan hati, bahwa se-olah2 Untara, Senapati mereka jang mereka hormati, harus djuga dianggapnja terlampau remeh, dan se-olah2 dalam keadaan serupa itu harus datang kepadanja dan menjataikan terima kasih serta mohon maaf atas segala kesalahannja. Hal jang bagi para pradjurit itu tidak akan mungkin sekali terdjadi. Untara adalah seorang Senapati iang menggenggam tanggung djawab atas wilajah disekitar Gunung Merapi, bahkan didataran jang membentang sampai kepasisir kidul. Meskipun Untara djuga anak jang dilahirkan dan dibesarkan di Djati Anom, namun kedudukannja terlampau djauh terpaut dari anak muda jang bernama Wuranta itu. Seandainja pada masa2 ketjilnja mereka berkawan dan bermain bersama dalam satu lingkaran permainan tetapi keadaan telah membentuk mereka dikedudukan mereka.
    Belum sempat salah seorang dari mereka dapat memetjahkan kediaman itu, maka merekapun dikedjutkan oleh bajangan jang mendekat mereka. Tidak hanja seorang, tetapi lima orang. Mereka mendengar langkah mereka semakin lama semakin dekat, dan melihat mereka semaikin djelas. Didalam remang2 tjahaja obor dikedjauhan mereka dapat memastikan bahwa sebagian dan mereka adalah pradjurit2 Padjang.

    D2: Tolong pake ejaan baru, Mas.

  7. … duh maaf, saya pikir kita mau “mempertahankan nuansa” nya….
    Berikut halaman 4 & 5, mohon maaf kalau masih ada edjaan lama jang terlewat he… he….

    Halaman [4]
    Sejenak kemudian terdengar Untara berkata pula — Wuranta, ‘kemarilah. —
    Wuranta menarik nafas dalam2. Namun dalam ketenangan kini ia dapat menanggapi persoalannya. la telah memutuskan untuk tidak bersikap sebagai seorang prajurit la memang bukan seorang prajurit. Ia adalah anak Jati Anom, dan Untara adalah anak
    Jati Anom pula.
    Perlahan2 ia melangkah maju, berjalan disisi ketiga prajurit yang masih berdiri berjajar dengan tegapnya.
    — Apakah kau memerlukan aku Untara? — bertanya Wuranta.
    Hati para prajurit itupun menjadi semakin ber-debar2.
    — Ja, aku memerlukanmu — sahut Untara.
    — Apakah ada sesuatu yang penting diantara kita? — bertanya Wuranta sareh,
    — Tentu — sahut Untara — aku memang sengaja datang kepadamu karena aku dengar kau tidak ingin pergi kebanjar padepokan ini. Apakah memang begitu ? —
    Sejenak Wuranta menjadi ragu2. Tetapi ia ingin berkata sediujumja, seperti yang terjadi. Mlaka katanya —’ Ja, aku memang tidak ingin pergi kebanjar padepokan. Darimanakah kau tahu? — ”
    Ketiga prajurit itu masih saja diliputi oleh kecemasan. Apa lagi ketika mereka melihat sikap Wuranta. Untara adalah Senapati perang. Sedang Wuranta menanggapinya seperti terhadap teman sepermainan. Meskipun seandainya dahulu memang demikian tetapi keadaan kini hanus sudah berbeda-
    — Kenapa kau tidak man pergi kebanjar? — bertanya Untara.
    — Tidak apa2 — jawab Wuranta — aku menunggui kakek tua yang meninggal bersama isterinya. —
    — Ya, aku mendengar dari Ki Tanu Metir, Semuanya dikatakannya kepadaku tentang kau. Dan aku dapat mengerti kenapa kau tidak mau datang kebanjar. —
    Wuranta mengerutkan keningnya. Apa sajakah yang telah dikatakan oleh Ki Tanu Mctir itu tentang dirinya ? Dan Wuranta mendengar Untara meneruskan — Tetapi Ki Tanu Metir tidak mengatakannya kepada Agung Sedaju. Mungkin waktunya dianggapnya kurang tepat. Karena itu ketahuilah, bahwa Agung Sedaju menjadi bingung menanggapi sikapmu. Tetapi aku tidak bingung Wuranta. Aku mengerti, sebab Ki Tanu Metir mengatakan kepa daku, J’uga tentang Iaki2 tua itu. -‘.Untara berhenti sejenak. lalu diteruskannya — Aku datang kepadanm untuk mengucapkan

    Halaman [5]
    terima kasih atas segala jasa2mu Waranta. Dan aku minta, kau datang kebanjar padepokan ini. Aku tahu apa yang kau rasakan, Bukan saja karena Iaki2 tua seperti yang kau sebutkan. —
    Sejenak Wuianta terbungkam. Tidak terlintas didalam otaknya, bahwa benar2 Untara telah datang kepadanya untuk mengucapkan terima kasih.
    Apalagi ketiga prajurit yang kini berdiri dibelakangnya. Mereka berdiri dengan mulut ternganga, Apa yang tidak mungkin baginya ternyata kini benar2 telah terjadi. Bahwa Senapati yang bernama Untara itu datang kepada Wuranta, anak Jati Anom untuk
    mengucapkan terima kasih.
    Sejenak suasana menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah nafas Wuranta yang berdesah. Dikejauhan satu dua orang prajurit masih berkeliaran didalam tugasnya.
    — Wuranta — terdengar Untara berkata — aku minta kepadamu, datanglah kebanjar padepokan ini. Hadapilah persoalanmu dengan jiwa yang besar. Aku adalah anak muda pula seperti kau, dan aku adalah kakak Agung Sedaju itu. Akupun merasakan sesuatu didalam diriku, justru karena aku seorang kakak, seorang yang lebih tua, yang sepantasnya telah melakukannya lebih dahulu. Tetapi kesibukanku temjata tidak memberi aku kesempatan. —
    Wuranta tldak segera menjawab. la masii diliputi oleh suatu perasaan yang aneh. la tiba2 saja dibadapkan pada suatu kenyataan yang diharapkannya terjadi didalam kegelapan hati. Dalam kegelapan ia memang mengucapkan kata2 itu, bahwa seharusnya Untaralah yang datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih. Tetapi bahwa hal itu terjadi justru setelah hatinya menjadi tenang, malahan membuatnya menjadi ter-mangu2. Namun ternyata sesuatu telah menyusup didalam hati anak
    itu. Lamat2 tergores didalam hatinya, suatu jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganggunya *~ Apakah aku masih diperlukan oleh para prajurit Pajang ? Dan apakah aku berhak menikmati kemenangan ini ? Kalau Untara, Senapati tertinggi didaerah ini datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih, maka seharusnya ia dapat berbangga karenanya. Seharusnya ia merasa bahwa dirinya bukan sekedar sampah yang disisihkan, yang tidak lagi dapat dipergunakan.
    — Wuranta — berkata Untara kemudian — aku pasti akan menyetujui permintaanmu tentang laki2 tua yang kau maksud

  8. hehehe.. mas Didiek pake EYD dong.
    tuh petunjuknya ada di sebelah kanan.
    nanti ki tanu metir ngambeg lho

  9. Halaman [6]
    berserta Isterinya. Aku dapat mengerti bahwa laki2 itupun mendapat penghargaan khusus. Tetapi biarlah para prajurit yang berkuwajiban mengurusnya, Mereka akan tahu apa yang harus mereka lakukan. — Untara itu berhenti sejenak — Nah, sekarang bagaimana? —
    — Apakah yang harus aku lakukan? — bertanya Wuranta.
    ~ Beristirahat dibanyar padepokan. Besok pada saatnya kita ber-sama2 pergi ke Jati Anom. Aku akan meninggalkan separo dari prajurit Pajang dipadepokan ini dengan beberapa orang penghubung berkuda. Sedang aku sendiri akan tetap berada di Jati Anom. —
    Wuranta masih saja tegak seperti patung. Ia justru menjadi bingung menghadapi peeristiwa yang tiba2 dan tidak diduga sama sekali. Untara sendiri datang kepadanya dan minta supaya la beristirahat dibanjar padepokan.
    Kalau yang datang dan minta kepadanya itu Untara sendiri sudah lentu sangat sulitlah baginya untuk menolak. Tetapi perasaannya tidak cukup kuat untuk menerima permintaan itu dan hatinya pasti tidak akan cukup besar menghadapi Agung Sedayu Sekar Mirah yang berada dibanjar itu pula.
    Tetapi sejenak kemudlan Untara berkata — Wuranta, baiklah aku beritahukan bahwa aku telah menyetujui pemintaan Sekar mirah dan kedua anak2 muda yang bersamanya, untuk berpindah tempat peristirahatan. Tidak dibanjar itu. Tetapi mereka kini berada dirumah disebelah banjar. Rumah yang tidak dipakai untuk menyimpan orang2 sakit apalagi mayat2 para prajurit yang terbunuh dipeperangan. Dibanjar padepokan Sekar Mirah selalu berada dalam ketakutan. ~
    Wuranta tiba2 mengangkat wajahnya. Jadi dibanjar Itu sudah tidak ada lagi Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Swandaru? Tetapi kenapa Ki Tanu Metir tidak mengatakannya ?
    Agaknya Untara mengerti pertanyaan didalam dada Wuranta, sehingga ia berkata — Mereka meninggalkan, banjar ketika Ki Tanu Metir pergi bersamamu. Bukankah kau juga pergi banjar. tetapi kau tidak singgah dipringgitan? —
    Wuranta mengangguk — Ya Untara. Aku memang pergi ke banjar untuk memanggil Ki Tanu Metir. —
    — Tetapi kedatangan orang tua itu terlambat. Kakek yang kau maksud suam isteri telah meninggal. Bukankah begitu?
    — Ya, itulah mayat mereka. —

  10. halaman 7
    Untara berpaling. Dilihatnya dalam keremangan cahaya obor, seorang perempuan membeku didada suaminya yang beku puIa.Terasa dada Untara berdesir. la sudah melihat mayat dipeperangan dalam keadaan yang paling mengerikan. Tetapi baru
    kali ini ia melihat seorang isteri mati memeluk suaminya yang mati pula. Mengharukan.
    — Mereka akan mendapat perawatan yang sewajarnya. Aku mengerti, bahwa Iaki2 tua itu turut menentukan saat2 yang terakhir dari peperangan ini. Seandainya ia tidak berusaha memberi kau jalan, maka keadaan akan menjadi berbeda. Jasanya tidak kalah dengan setiap orang pradjurit Pajang. Jasanya hampir sebesar jasamu sendiri. ~-
    — Ah — Wuranta berdesah. Jasa Iaki2 tua itu tidak kalah dengan jasa setiap prajurit Pajang. Tetapi jasa itu masih belum sebesar jasanya. Kata2 itu diucapkan oleh seorang Senapati seperti Untara, Senapati jang memimpin sendiri peperangan ini
    Wuranta justru menjadi terbungkam. Tetapi perlahan-lahan ia merasakan bahwa didalam dadanya berkembang sebuah kebanggaan. la tidak perlu merasa dirinya terlampau rendah. Sehingga ia tidak perlu mencari cara yang aneh2 untuk menggelembungkan dirinya, menyembunyikan kekerdilannya.
    Karena Wuranta tidak berkata sepatah katapun, maka Untara meneruskan — Nah. marilah kita pergi kebandjar padepokan Ini. •—
    Wuranta tidak dapat menolak lagi. Karena itu ia hanya dapat menganggukkan kepalanya dan- berdesis — Baiklah Untara. —
    .—- Besok, atau lusa, apabila keadaan telah mendjadi tenteram, sebagian pasukanku akan kembali ke Jati Anom. Aku akan tetap berkedudukan disana. Kita tidak perlu mencemaskan kekuatan orang2 Jipang lagi didaerah ini. Juga orang2 dari padepokan Tambak Wedi. Kita telah berhasil menyumbat mulut sarang mereka dan menangkap segenap isinya didalam sarang ini. Mungkin masih ada satu dua kedompok kecil orang2 Jipang yang keras kepala di-daerah2 lain, Tetapi itupun pasti akan segera dtselesaikan. – Kemudian kepada para prajurit yang berdiri tegak dibelakang Wuranta. Untara berkata — Nah, kau sudah mendengar tentang Iaki-laki tua itu. Usahakan besok mayatnya berdua telah berada dibanjar. Mayat itu akan dikuburkan bersama dengan orang-orang Pajang yanq gugur. Mungkin kalian masih belum dapat merasa
    kan jasa Iaki2 tua itu, tetapi pada saatnya kalian akan mengetahuinya. —

  11. Halaman [8]
    Sejenak kemudian Untara dan para pengawalnja telah kembali kebanjar padepokan bersama Wuranta. Dibanjar itu benar-benar tidak dijumpainya lagi Agung Sedayu, Swandaru dan Sekar Mirah. Yang berada disana tinggal beberapa orang perwira prajurit Pajang dan Ki Tanu Metir.
    Ternyata sikap para perwira yang langsung mengerti tugas-tugas berat Wuranta agak berbeda dengan sikap para prajurit. Namun setelah Wuranta berhasil merenungkan dengan tenang, maka sumber dari sikap yang tidak menyenangkan dari para prajurit itu adalah dirinya sendiri. Usahanya untuk menutupi kekerdilannya, ternyata telah banyak menyinggung perasaan- orang lain.
    Para prajurit yang ditinggalkan oleh Wuranta dihalaman dbelakang halaman banjar -padepokan, sejenak saling berpandangan, Salah seorang dari mereka kemudian berdesis — He, ternyata kata-kata anak muda itu benar terjadi. Untaralah yang men-
    carinya dan mengucapkan terima kasih kepadanya. —
    — Memang menurut pendengaranku, apa yang dilakukannya dapat menentukan penyelesaian ini, —
    — Aku menyangka ia terlampau sombong. Tetapi aku menjadi heran, bahwa pada saat2 terakhir ia seakan-akan mengakui kesalahannya. Mengakui sikapnya yang tidak sewajarnya. —
    — Ah — desah. prajurit yang lain — kenapa hal itu kita risaukan. Biarlah para perwira mengurusnya. Urusan kita adalah berkeliling padepokan, terutama. disekitar banjar. —
    — Tetapi mayat kedua suarai isteri itu ? —
    — Oh, biarlah mereka. yang bertugas untuk itu. Kita beritahukan saja kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan. —
    Ketika para prajurit itu kemudian melakukan tugas masing-masing, maka tempat itupun menjadi sepi kembali.
    Didalam Iingikungan para perwira yang sebagian besar dari mereka lelah mengerti benar2 akan peranannya, maka Wuranta merasa telah menemukau dirinya kembali, Betapa penyesalan dan kecewa melanda dadanya apabila diingatnya segala tindak tanduknya selama ini. Bahkan ia merasa heran sendiri, kenapa ia seakan-akan menjadi liar dan. kehilangan pegangan.
    Meskipun demikian setiap kali ia teringat akan Sekar Mirah maka hatinya masih terasa pahit. Gadis itu belum lama dikenalnya. Baru beberapa hari. Telapi yang beberapa hari itu ternyata ielah menjadikannya hampir gila.

  12. Malampun menjadi semakin malam. Dikejauhan terdengar anjing-anjing liar berteriak-teriak berebut makan. Terasa betapa angin yang membawa bau darah menyentuh hidung mereka yang tajam.
    Sekali-kali terdengar suara burung bantu dan burung kedasih seakan-akan sahut-menyahut, meneriakkan kepedihan yang ngelangut.
    Sementara para prajurit yang bertugas masih saja sibuk hampir semalam suntuk, maka disebuah rumah yang tidak begitu jauh dari banjar itu, Sekar Mirah duduk perpegangan tangan kakaknya. Meskipun la sudah tidak lagi berada diantara mayat dan orang-orang yang terluka, namun ia masih diburu saja oleh perasaan takut dan ngeri.
    — Kemanakah Ki Tana Metir kini? — bertanja Swandwu kepada Agung Sedayu.
    ~- Entalah. Mungkln masih berada dibanjar atau kemana. Mungkin guru sedang mencari Wuranta itu lagi. Atau mungkin kini sedang tidur nyenyak, —
    Swandaru terdiam. Gurunya kadang-kadang tidak memberitahukan kemana ia pergi. Bahkan kadang-kadang sampai berhar-hari. Tetapi dalam suasana seperti ini, maka mereka seolah-olah selalu ingin berada bersamanya. Bukan karena perasaan takut bahwa tiba-tiba mereka harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi, tetapi perasaan sepi seakan-akan menghunjam dalam-dalam dijantung mereka.
    Sesaat mereka saling berdiam diri. Namun dengan demikian maka terasa malam menjadi kian sepi. Kesepian itu ternyata tidak menyenangkan sekali, sehingga tanpa sesadarnya Agung Sedayu berbicara sekedar untuk menyentakkan perasaan sepi itu ~ Apakah kita tidak akan tidur? —
    Swandaru mengangkat wajahnya. Dipandanginnya lampu minyak yang menyala berkeredipan. Kemudian’Swandaru itupun berkata kepada Sekar Mirah – Mirah, tidurlah. ~
    Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Jawabnya — ‘Aku ngeri kakang. —
    ‘ — Disini tidak ada apa-apa Mirah — berkata kakaknya — disini tidak seperti banjar padepokan jang penuh dengan orang-orang yang teluka. Disini kita mendapat tempat yang baik. Agaknya pemilik rumah inipun orang yang baik pula. *—
    — Tetapi ia mendendam seperti orang-orang Tambak Wedi yang lain kakang. Siapa tahu – Sekar Mirah berhentl sejenak sambil memandang berkeliling kalau-kalau ada orang lain didalam ruangan itu.
    Ketika tidak dilihatnya seseorang maka ia berkata perlahan-lahan — Siapa tahu bahwa ia akan mempergunakan setiap kesempataa untuk melepaskan dendamnya. —

  13. — Tetapi tidak seorangpun dari rumah ini terbunuh. Suami perempuan itu ternyata hanya terluka, tidak terlampau parah. Dan sekarang Iaki2 itu berada dibanjar. ~
    – Itu sudah cukup membuat hatinya mendendam. —
    Agung Sedayu dan Swandaru kemudian berdiam diri. Mereka melihat wajah Sekar Mirah yang dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.
    — Kenapa kita tidak kembali saja ke Sangkal Putung kakang? — bertanya Sekar Mirah tiba-tiba.
    — Ah Bukankah hari masih malam? — jawab kakaknya.
    — Tetapi itu lebih baik daripada aku berada disini. Aku tidak juga dapat tidur dikejar oleh perasaan takut dan ngeri. —
    — Jalan masih cukup berbahaya Mirah — sahut Agung Sedayu.
    — Bukankah orang-orang Jipang dan Tambak Wedi mutlak dihancurkan, disini—
    — Tetapi justru orang2 yang terpenting dapat meloloskan diri. Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. —
    — Tetapi mereka pasti lari jauh-jauh. Mereka tidak akan berada disekitar padepokan ini. Apalagi dijalan ke Sangkal Putung; Mereka pasli tidak akan menyangka bahwa kita akan berdjalan malani ini. —
    Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Kini pertimbangan- pertimbangannya datang kembali. Tidak seperti pada saat ia berangkat dari Sangkal Putung. Pada saat ia merasa kehilangan Sekar Mirah. Pada saat itu ia kehilangan sama sekali setiap pertimbangan apapun. Ia hanja ingin pergi dari Sangkal Putung segera untuk berusaha membebaskan Sekar Mirah. Tetapi kini, setelah Sekar Mirah itu bebas dari cengkeraman Sidanti, maka sifat-sifatnya lelah datang kembali. Pertimbangan- Pertimbangannya bermunculan dari bermacam-macam segi.
    — Perjalanan yang demikian akan sangai berbahaya — berkata Agung Sedayu.
    — Bagiku perjalanan itu akan lebih baik. Aku tidak kehilangan waktu semalam ini. Daripada kita duduk tanpa arti disini, bukankah lebih baik kita berjalan ke Sangkal Putung? Besok kita pasti sudah mencapai Kademangan itu. Dan besok kita sudah
    Dapat berttemu dengan ayah dan ibu. —
    Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu.
    Tetapi Sekar Mirah berkata terus – Apakah yang kita dapatkan dengan duduk-duduk saja begini? Aku sudah terlampau rindu kepada ayah dan ibu. Ayah dan ibupun pasti akan terlalu gelisah menunggu.

  14. waduh….
    Ternyata sudah dibikin versi word-nya ya? he… he…
    salam adbm

  15. Salam,
    Ini saya coba membantu lima halaman dari belakang (buku 26).
    GI

    Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Dicobanya untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau lagi membayangkannya, apalagi betapa yang akan terjadi seandainya gurunya tidak mencegahnya melakukan pembunuhan yang tidak terkendali itu.
    “Hem – Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam “aku harus memetik pelajaran daripadanya.” Tetapi ia tidak ingin bahwa peristiwanya itu sendiri selalu membayangi perasaannya.
    Sehingga dalam keragu-raguan ia bertanya kepada diri sendiri “Apakah aku perlu mengatakannya kepada kakang Untara?
    Agung Sedayu menggelengkan kepalanya “Tidak. Tidak perlu. Laporan itu akan datang dari para prajurit yang akan menangkap mereka. Aku tidak perlu berkata apapun tentang peristiwa itu.” Tetapi kemudian ia berkata pula di dalam hatinya “Tetapi jangan-jangan kakang Untara menganggap aku bersalah. Aku telah berbuat sendiri di daerah ini justru di luar wewenangku. Ah, biarlah aku mengatakannya. Salah atau benar, aku akan mengatakannya.”.
    Agung Sedayu itu pun kemudian melangkah terus. Kini ia mencoba memusatkan perhatiannya kepada kakaknya. Kepada kepentingan yang akan disampaikan kepadanya.
    Ketika beberapa puluh langkah daripadanya terpancar seberkas sinar obor, hati Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Sinar obor itu pastilah sinar obor yang dipasang di halaman banjar. Dan kakaknya telah menunggunya di banjar itu pula.
    “Apakah yang akan dikatakannya?“ gumamnya lambat. Agung Sedayu itu menggelengkan kepalanya “Tak seorangpun yang tahu selain kakang Untara sendiri. Mungkin guru, tetapi mungkin pula tidak.”
    Semakin dekat Agung Sedayu dengan banjar padepokan itu hatinya menjadi semakin berdebar-debar.
    Ketika kemudian ia berdiri di muka regol banjar padepokan itu, dua orang prajurit mendatanginya dan bertanya, “Siapa? – “Aku, Agung Sedayu“ sahut Agung Sedayu.
    Sinar obor yang kemerah-merahan jatuh di atas wajahnya, membuat kesan tersendiri pada kedua prajurit yang memandanginya dengan tajam. Tetapi sebelum keduanya bertanya lebih lanjut, Agung Sedayu telah mendahuluinya memberi penjelasan “Aku dipanggil oleh kakang Untara.”
    “Sekarang? – “Ya“ sahut Agung Sedayu.
    Kedua prajurit itu saling berpandangan. Dan salah seorang dari mereka berkata “Silahkanlah.”
    Agung Sedayu segera melangkah masuk ke halaman. Halaman banjar padepokan itu kini sudah tampak lebih bersih dan terang. Beberapa buah obor dipasang di sudut-sudut halaman dan sebuah lampu minyak yang cukup terang tergantung di tengah-tengah pendapa. Beberapa orang masih tampak duduk bercakap-cakap di pendapa itu Sedang beberapa orang yang Iain, yang terluka berbaring-baring sambil bercakap-cakap satu sama lain.
    Mereka memandangi Agung Sedayu ketika anak muda itu naik tangga dan berjalan di antara mereka, di tengah-tengah pendapa itu. Salah seorang yang telah mengenalnya dengan baik bertanya, “Apakah kau akan menemui kakakmu?“
    ”Ya “sahut Agung Sedayu.
    “Ia berada di pringgitan”.
    Agung Sedayu sebenarnya sudah tidak memerlukan keterangan itu lagi. Ia tahu pasti bahwa kakaknya berada di pringgitan. Mungkin dengan beberapa orang perwira pembantu-pembantunya. Mungkin bahkan sendiri sambil menunggunya. Tetapi Ia menjawab “Terima kasih.“
    Dengan dada yang semakin berdebar-debar ia melangkah menuju ke pintu pringgitan. Pintu leregan itu masih terbuka sedikit, Sepercik sinar di dalam pringgitan itu sempat meloncat ke luar.
    Hati-hati Agung Sedayu mendekati pintu. Kini ia sudah berada tepat di muka pintu. Tetapi keragu-raguannya ternyata membuat ia tertegun. Tanpa disengajanya ia berpaling, memandangi orang-orang yang berada di pendapa banjar itu.
    Agung Sedayu itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya orang yang sudah mengenalnya dan memberitahukan kepadanya bahwa Untara berada di pringgitan itu berbicara lagi, cukup keras “Buka saja. Pintu itu tidak pernah diselarak”.
    ” Terima kasih“ sekali lagi Agung Sedayu menjawab. Kini di tangannya telah memegang wengku pintu yang dibuat dari anyaman bambu wulung. Perlahan-lahan ia mendorong ke samping. Dan pintu itu pun terbuka.
    Dada Agung Sedayu berdesir. Di dalam pringgitan itu duduk hanya dua orang saja Kakaknya, Untara dan seorang lagi, Wuranta,
    “Masuklah“ terdengar suara kakaknya berat tetapi dingin. Sedingin angin pegunungan yang bertiup semakin kencang.
    “Terima kasih kakang“ sahut Agung Sedayu. Suaranyapun tiba-tiba bernada berat. Tetapi terasa sebuah getaran di dadanya terpercik di antara kata-katanya.
    Tetapi begitu ia melangkahkan kakinya, Agung Sedayu itu tertegun. Ia melihat Wuranta tiba-tiba berdiri dan berkata “Untara, aku akan keluar sebentar. Udara terlampau panas di pringgitan ini.”
    Terasa jantung Agung Sedayu menjadi semakin cepat berdentang. Ia sadar bahwa kehadirannyalah yang seolah-olah telah mengusir Wuranta dari pringgitan itu. Agaknya Wuranta benar-benar tidak dapat menemuinya.
    Dengan demikian maka teka-teki di dalam dada Agung Sedayu menjadi semakin kisruh. Panggilan kakaknya telah membingungkannya, dan kini ia menemukan suatu pertanyaan baru yang semakin membelit hati.
    “Apakah sebenarnya yang telah aku lakukan, sehingga aku terperosok dalam keadaan yang membingungkan ini? “ desis Agung Sedayu di dalam hatinya.
    Tetapi yang terdengar adalah suara Untara “Duduklah Wuranta.”
    “Aku akan keluar sebentar “sahut Wuranta sambil melangkah.
    Tetapi sekali lagi terdengar Untara berkata “Duduklah.” Wuranta menggeleng “Aku tidak betah duduk di dalam pringgitan yang panas ini.”
    “Di luar udara akan lebih panas lagi. Duduklah“ ulang Untara. Tetapi Wuranta masih juga melangkah, Namun langkahnyapun tertegun. Agung Sedayu masih berdiri tegak di muka pintu.
    “Wuranta“ Untara mengulanginya lagi “kemarilah dan duduklah. Dengar kata-kataku. Kemarilah kalian berdua. Duduk di sini. Aku perlu dengan kau berdua”.
    Nada kata-kata Untara serasa semakin berat, memberati hati kedua anak-anak muda itu. Ketika sekali lagi Untara memanggil, maka Wuranta tidak dapat lagi menolaknya – “Wuranta. Kemari. Duduklah di sini.”
    Dengan wajah yang tegang Wuranta itu pun melangkah kembali. Dengan dada yang berdebaran ia duduk di tempatnya. Sekali matanya menyambar Agung Sedayu yang masih berdiri tegak di muka pintu. Tetapi sesaat kemudian dilemparkannya pandangan matanya ke sudut ruangan.
    Agung Sedayu masih tegak di tempatnya. Di lambungnya tergantung sehelai pedang. Di wajahnya terpancar berbagai macam pertanyaan yang telah membingungkannya.
    “Jangan seperti hendak berkelahi Sedayu“ tiba-tiba suara kakaknya mengejutkan “duduklah”.
    .”Oh“ terdengar Agung Sedayu berdesah. “terima kasih kakang.”
    “Apakah kau akan pergi berperang?“ pertanyaan Untara terdengar begitu tajamnya menyentuh telinganya. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menjawab tegas “Tidak.”
    Untara bergeser. Ditatapnya wajah adiknya. Tetapi Agung Sedayu menundukkan kepalanya, Meskipun demikian jawaban Agung Sedayu itu terasa telah menggerakkan hati kakaknya. Dalam keadaan yang wajar. adiknya tidak akan menjawab. Apalagi jawaban sesingkat dan tegas itu.
    Tetapi Untara itu terdiam. Dipandanginya langkah Agung Sedayu mendekatinya dan kemudian duduk di sampingnya. Dijulurkannya pedangnya ke belakang.
    Sejenak mereka saling berdiam diri, dan pringgitan itu dijalari oleh suasana yang sepi tegang. Di kejauhan terdengar lamat-lamat suara burung hantu yang menggetarkan udara malam yang dingin.
    Sesaat kemudian Untara menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya adiknya dengan penuh pertanyaan. Tetapi sebelum Untara bertanya Agung Sedayu berkata “Aku bertemu dengan lima orang yang bersembunyi di balik rerungkudan. Mereka sengaja menjebak aku.”
    Untara masih terdiam, dan Agung Sedayu mengatakan dengan singkat apa yang dijumpainya di perjalanan ke banjar padepokan ini.
    Terasa jantung Untara menjadi semakin cepat bergetar. Ia merasakan suatu kebanggaan di dalam dirinya, bahwa Agung Sedayu telah berhasil menguasai diri dalam keadaan yang tiba-tiba itu dan dapat berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak ingin menunjukkan pengaruh perasaannya itu. Bahkan wajahnya seolah-olah tidak menunjukkan perubahan apapun. Meskipun demikian, Agung Sedayu menjadi agak berlega hati bahwa kakaknya tidak menyalahkannya lagi.
    Sekali lagi ruangan itu menjadi sepi. Baru sejenak kemudian Untara berkata kepada Wuranta tanpa mempersoalkan ceritera Agung Sedayu “Aku memang menunggu kesempatan semacam ini Wuranta.”
    Wuranta tidak menyahut, Tetapi wajahnyapun tunduk memandangi anyaman tikar yang didudukinya
    “Aku ingin setiap persoalan segera selesai. Aku tidak ingin kalian bersikap seperti anak-anak.”
    Tiba-tiba Wuranta mengangkat kepalanya. Sorot matanya menjadi tajam bercahaja. Dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya bergetar “Apakah maksudmu Untara?”
    Untara mengerutkan keningnya. Ia berhadapan dengan seorang anak muda perasa. Anak muda yang mudah tersinggung perasaannya. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Tetapi Untara tetap dalam pendiriannya, Ia ingin menyelesaikan persoalan ini.
    “Wuranta“ berkata Untara “tidak baik kau selalu dikejar oleh perasaanmu itu. Setiap kali kau selalu menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu sejak kau meningalkannya, ketika Agung Sedayu sedang berkelahi dan mengejar Sidanti. Sejak ini, maka anggaplah bahwa di antara kalian sudah tidak ada persoalan lagi, sehingga hubungan kalian menjadi wajar seperti sediakala. Agung Sedayu adalah anak Jati Anom seperti kau, seperti aku juga. Ia untuk seterusnya akan menetap pula di Jati Anom, Kalian akan selalu bertemu di jalan-jalan, di perapatan atau di gardu-gardu perondaan, Kalau hubungan kalian tidak dapat pulih kembali, maka akibatnya pula akan mempengaruhi seluruh anak-anak muda Jati Anom.
    Wajah Wuranta sesaat menjadi pucat. Keringat dinginnya mengalir membasahi pakaiannya. Namun justru karena itu maka ia pun terbungkam.
    Agung Sedayupun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sedang dihadapinya. Tetapi yang telah menyengat hatinya adalah kepastian kakaknya bahwa ia akan tinggal untuk seterusnya di Jati Anom. Dengan demikian maka segera ia menemukan kesimpulan, bahwa hal inilah yang akan dikatakan kakaknya kepadanya, disamping persoalan yang masih tidak jelas baginya, hubungannya dengan Wuranta yang menjadi semakin tegang
    “Aku dapat merasakan perasaan kalian —- berkata Untara seterusnya “tetapi aku tidak sependapat bahwa perasaan itu akan terlampau berkuasa di hati kalian. Kalian harus mengimbanginya dengan nalar dan pikiran, bahwa kalian adalah anak-anak muda Jati Anom. Bahkan kalian adalah harapan bagi kampung halaman. Kalian harus dapat menyingkirkan semua persoalan pribadi untuk kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Apakah kalian dapat mengerti maksudku?
    Wuranta masih terdiam. Keringatnya semakin banyak mengalir di seluruh wajah kulitnya.

  16. Mas DD & ADBM-ers.
    Sekali lagi maaf, saya dengan PD menuliskan halaman 1, halaman 2 dst…. ternyata dapat salah…. mulai dari sekarang saya akan menuliskan halaman, sesuai dengan halaman asli yang ada di buku…..
    berikut saya sampaikan halaman 18.

    Swandaru tidak menjawab dan Agung Sedayupun masih berdiam diri. Tetapi pertimbangannya sama sekali tidak sejalan dengan keinginan Sekar Mirah itu.
    “Bagaimana kakang ?” bertanya Sekar Mirah “marilah kita pulang sekarang.”
    Swandarupun menjadi bimbang. Sebenarnya ia juga ingin segera pulang ke Sangkal Putung. la akan segera berkata kepada ibunya, bahwa janjinya telah terpenuhi. Pulang dengan membawa Sekar Mirah. Dan ibunyapun pasti akan bergembira karenanya. Kalau ibunya masih saja menangis, maka ibunya akan menjadi tenang.
    Dalam kebimbangan itu ia mendengar Sekar Mirah mendesaknya “Bagaimana kakang? Apakah tidak lebih baik kita pulang saja. Disini kita sama sekali tidak berarti apa-apa. Mungkin orang-orang Pajang menganggap kita hanya memberati pekerjaan mereka saja.”
    Akhirnya Agung Sedayu terpaksa mencegahnya. Katanya ”Jangan Sekar Mirah. Aku kira kurang baik kiranya apabila kita tergesa-gesa kembali ke Sangkal Putung.”
    ”Ah” Sekar Mirah berdesah “sekehendakmulah kalau kau tidak akan pergi ke Sangkal Putung. Aku kira kau memang tidak akan pergi ke Sangkal Putung lagi. Kau sudah kembali ke kampung halamanmu, bersama kakakmu pula. Apa gunanya lagi kau pergi ke Sangkal Putung ? Tetapi aku pasti harus pulang. Ayah dan ibuku menunggu aku. Mungkin ibuku selalu menangis dan Ayahku tidak tenang bekerja. Karena itu aku akan segera kembali malam ini.”
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Selama ini ia tidak berpikir bahwa ia telah berada dekat dengan kampung halamannya. Kalau dia ingin kembali pulang, maka ia seharusnya pulang ke Jati Anom, kerumah peninggalan ajahnya jang isinya telah hancur karena pokal Sidanti dan orang-orang Jipang. Tetapi selama ini ia seakan-akan merasa dirinya harus kembali ke Sangkal Putung. Ketempat tugas pamannya, Widura.
    Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu dihadapkan pada kebimbangannya sendiri. Apakah ia harus pergi ke Sangkal Putung atau ia akan tinggal di Jati Anom.
    “Ayolah kakang Swandaru” ajak Sekar Mirah “kita pergi berdua. Disini kita tidak mempunyai teman seorangpun kecuali kita berdua. Tetapi di Sangkal Putung setiap hidung adalah teman-teman kita yang baik. Yang mengerti kesusahan dan kepedihan hati kita. Tetapi disini kita seperti orang asing, yang dianggap mengganggu pekerjaan mereka saja.”

  17. Halaman [19]
    ”Jangan berprasangka Mirah” sahut Agung Sedayu ”Tak seorangpun yang menganggap bahwa kita disini hanya menambah Pekerjaan orang Pajang. Bukankah kita tidak menaganggu mereka?. Kita dapat mengurus diri kita sendiri. Tetapi yang penting diperhatikan adalah kemungkinan yang akan kita temui di sepanjang jalan.”
    ”Kalau kau ingin tinggal disini, tinggalah” potong Sekar Mirah.
    ”Aku datang bersama adi Swandaru. Aku dan adi Swadaru telah menyanggupkan diri kepada Ki Demang Sangkal Putung untuk mencarimu. Kalau kau diketemukan, maka sepantasnya bahwa kami berdualah yang harus menyerahkan kau kepada Ki Demang berdua.”
    ”Tidak perlu” sahut Sekar Mirah ” kau tidak perlu pergi ke Sangkal Putung. Aku akan pulang bersama kakang Swandaru. Kau hanya akan memperlambat perjalanan saja. Ternjata kau masih ingin tinggal disini. Bahkan kau pasti masih ingin tinggal di Jati Anom sehari atau dua hari”.
    ”Tidak Mirah. Aku tidak akan singgah di Jati Anom” jawab Agung Sedayu. Tetapi ia menjadi heran mendengar jawaban itu, jawabannya sendiri. Dan sekali lagi ia menjadi bimbang, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung ? Namun mulutnya berkata ”aku akan pergi ke Sangkal Putung mengantarkanmu. Tetapi jangan malam ini. Kita harus memperhitungkan setiap keadaan. Apa lagi kakang Untara pasti akan mencari kita. Sebab kita adalah sebagian dari tanggung jawabnya.”
    ”Bohong” bantah Sekar Mirah ”Untara sama sekali tidak mempedulikan kita lagi. Apakah kita pergi, apakah kita tinggal disini. Untara tidak akan mempertimbangkan. Bahkan orang-orangnya sajalah yang akan menggerutu karena mereka harus melihat Kehadiran kita disini”.
    Agung Sedayu terdiam. Tetapi hatinya bergejolak. Ia ingin membantah pendapat gadis itu, tetapi ia tidak ingin bertengkar. Sedang Swandaru yang kebingungan duduk saja sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi kepalanya itu terasa pening.
    Mereka terperanjat ketika mereka mendengar suata tetrawa lirih. Kemudian terdengar pintu berderit. Perlahan-lahan seorang tua masuk kedalam ruangan itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
    Orang itu adalah Ki Tanu Metir.
    ”Hem” orang tua itu berdesah ”memang bermacam-macam pikiran dan perasaan bergulat didalam padepokan ini”.

  18. Ki Gede DD,
    hasil editan buku 26 sudah saya email. Mohon diperiksa. Kl ada kekurangan, let me know.

  19. Mas Oko,
    editannya bisa dilihat dimana ya???
    salam,

    D2: Mas Didik, Buku 26 sudah selesai retypenya.

  20. Halaman [20]
    Ketiga anak muda yang berada didalam ruangan itu memandanginya sambil bertanya-tanya didalam hati. Apakah yang dimaksud oleh Ki Tanu Metir itu ?
    “Baru saja aku melihat angger Wuranta yang sedang diguncangkan oleh perasaannya. Ia mengalami persoalan jiwa yang ternyata menggoyahkan keseimbangannya.”,
    Ketika Ki Tanu Metir terdiam sejenak maka Agung Sedayu pun bertanya ”Apakah yang telah terjadi dengan Wuranta, guru?”
    ”Sekarang tidak apa-apa. Angger Wuranta telah bersedia pergi ke banjar padepokan. Aku kira ia lelah berhasil menguasai perasaannya.”
    ”Apakah yang telah menggoncangkan perasaan itu Kiai?”
    “Ah, entahlah. Mungkin salah mengerti, salah tafsir tetapi mungkin juga karena ia tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapinya. Mula-mula angger Wuranta merasa dirinya tidak mendapat perhatian dan pimpinan prajurit Pajang. Padahal ia merasa bahwa ialah yang telah membuka jalan masuk kepadepokan ini. Memang sebenarnyalah demilkian. Tanpa angger Wuranta maka semuanya akan menjadi lain. Mungkin sampai saat ini angger Untara belum berhasil memasuki padepokan ini. Tetapi itu hanya perasaannya saja. Sebenarnya pimpinan prajurit Pajang menaruh perhatian terhadap semua unsur didalam padepokan ini”
    Ki Tanu Metir berhenti sedjenak. Dicobanya untuk menangkap kesan kata-katanya pada wajah anak2 muda itu. Tetapi yang ditangkapnya adalah berbagai pertanyan yang memancar dari sorot mata mereka, seolah-olah mereka bertanya ”Apakah yang telah dilakukanya?”
    Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan kata-katanya “Hampir saja angger Wuranta terjerumus dalam sikap yang tidak terpuji. Bahkan hampir mencelakakan dirinya. Sikapnya terhadap para prajurit Pajang terlampau kasar. Justru karena rasa rendah diri yang menjalari dadanya. Tetapi itu sudah lampau. Angger Wuranta telah menyadari keadaannya, bahwa orang-orang Pajang disini mempunyai banyak sekali persoalan yang harus diselesaikan. Diantaranya adalah soal yang menyangkut angger Wuranta itu sendiri.”
    Ketiga anak-anak muda itu masih terdiam. Tetapi Sekar Mirah yang menundukkan wajahnya, tiba-tiba berkata “Apakah Kiai menyindir aku?”

  21. Halaman [21]

    “Oh” Ki Tanu Metir terperanjat. Namun kemudian ia tetersenyum ”jangan salah sangka ngger. Aku tidak ingin menyidir seseorang. Aku sudah mengatakan bahwa dalam keadaan serupa ini banyak sekali persoalan yang tumbuh dan bahkan berkembang dipadepokan ini. Angger Wuranta adalah gambaran dari seorang anak muda yang kecewa. Aku tidak tahu apakah yang mengecewakannya. Kemudian seolah-olah ia membuat sebuah neraca. Neraca yang menimbang berat jasa dan penghargaan. Hampir ia berteriak ”Jasaku tidak dihargai orang.” Untunglah bahwa hal itu belum terjadi. Nah, aku kira persoalan angger agak berbeda. Angger sama sekali tidak ingin dihargai karena jasa-jasa angger. Bukankah begitu? “
    Sekai Mirah tidak menjawab.
    ”Mungkin padepokan ini terlampau sepi buat angger Sekar Mirah. Mungkin tidak seramai Kademangan Sangkal Putung. Di sana angger pasti akan dikerununi oleh orang-orang Sangkal Putung, para pemimpin Kademangan dan para pemimpin prajurit Pajang. Tetapi keadaan Sangkal Putung berbeda dengan keadaan disini.
    Di Sangkal Putung orang-orang sudah tidak disibukkan oleh berbagai macam persoalan. Sedang disini sangat berlainan. ”
    ” Aku tahu. Aku tahu Kiai ” potong Sekar Mirah ”Maksud Kiai ingin mengatakan bahwa aku terlampau manja. Bukankah begitu ? Nah, buat apa aku bermanja-manja disini. Itupun salah satu sebab kenapa aku harus segera pulang ke Sangkal Putung”
    ” Bukan begitu ngger.” sahut Kiai Gringsing ”meskipun dugaan angger itu sebagian benar. Tetapi maksudku adalah, bahwa angger telah cukup dewasa. Karena itu angger seharusnya menghadapi setiap persoalan dengan sikap dewasa. Bukan sebagai seorang gadis kecil yang patah hati ditinggal kekasih. Lalu lari tanpa mempertimbangkan persoalan yang akan dihadapi ditengah jalan. Tetapi angger tidak akan berbuat demikian, Angger adalah puteri seorang Demang yang cukup bijaksana. Karena itulah maka kebijaksanaan itu pasti juga angger miliki. Juga pada angger Swandaru yang setiap hari mengikuti cara Ki Demang melakukan tugasnya.” sekali lagi Ki Tanu Metir berhenti. Sekali lagi ia menunggu kesan yang terbayang diwajah anak-anak muda itu.
    Kemudian katanya ”Nah, kalau angger sependapat, maka aku harap angger tidak meninggalkan padepokan ini untuk sementara. Aku menyangka bahwa Ki Tambak Wedi, Argajaya dan Sidanti masih berkeliaran disekitar tempat ini. Setiap orang yang dijumpainya pasti akan menjadi korban pelepasan dendamnya. Nah, bayangkan, apa yang akan dilakukan oleh Sidanti apabila bertemu dengan orang itu ditengah jalan. ”

  22. Halaman [22]
    …… tolong di periksa kata-kata sebelum ini, karena tidak ter scan dengan baik……

    mendengar nama Sidanti, sehingga tumbuhlah kecemasan yang menggores jantungnya yang berdebaran. Meskipun demikian gadis itu tidak menjawab sepatah katapun. Namun bagi Ki Tanu Metir kediamannya adalah cukup jelas. Kediamannya itu adalah sebuah jawaban yang cukup tegas.
    ” Tenangkanlah hati kalian disini. Hadapilah semuanya dengan sikap yang masak. Pengalaman yang telah terjadi seharusnya membuat kalian dewasa.”
    Tak seorangpun yang menyahut. Dan sejenak kemudian Ki Tanu Metir berkata ” Beristirahatlah, Aku akan pergi kebanjar. Mungkin ada sesuatu jang harus aku kerjakan disana, diantara orang-orang yang terluka. Aku datang hanya sekedar menengok kalian.”
    Ketika Ki Tanu Metir meninggalkan mereka maka untuk sesaat mereka masih tetap berdiam diri. Sekar Mirah menundukkan wajahnya dalam-dalam meskipun ia masih tetap berpegangan tangan kakaknya. Agung Sedayu melepaskan pandangan matanya menembus lubang pintu yang masih sedikit terbuka, sedang Swandaru sekali-sekali mengangguk-anggukkan kepalanya. Terngiang ditelinganya kata-kata gurunya ”Pengalaman harus membuat kalian dewasa.”
    Malam yang hitam pekat berjalan dengan tenangnya. Semakin. lama semakin jauh. Bintang-bintang dilangit bergeser sedikit demi sedikit ke-Barat. Namun ketiga anak-anak muda itu masih saja duduk membeku.
    Ternyata malam itu tidak seorangpun diantara mereka yang tertidur. Mereka sama sekali tidak dapat melepaskaa kegelisahan dan kecemasan tentang bermacam-macam persoalan. Tetapi Sekar Mirah sudah tidak lagi mendesak kakaknya untuk meninggalkan padepokan itu mendahului ke Sangkal Putung. Setiap kali keinginan
    itu tumbuh dihatinya, maka terbayanglah wajah Sidanti yang sangat menakutkan baginya.
    Sehari berikutnya mereka hampir tidak keluar dari rumah itu. Hanya Agung Sedayu sajalah yang pergi kebanjar sebentar untuk bertemu dengan kakaknya yang masih sangat sibuk. Sebenarnya anak muda itu ingin juga bertemu dengan Wuranta. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. la tidak tahu bagaimanakah sikap Wuranta itu kini terhadapnya. Dan ia masih tetap mencari-cari jawab atas pertanyaannya yang mengganggunya selama ini tentang sikap anak muda itu.
    Tetapi pada saat Agung Sedau berada dibanjar padepokan itu Wuranta sedang menunggui pemakaman kakek tua suami isteri yang telah menolongnya.

  23. lama-lama saya jadi malu dan merasa kerdil, semangat pasukan pajang membangun ADBM ini memang luar biasa, sementara hari ini saya cuma memetik hasilnya, “terima kasih” para pendahulu.

  24. Soeltan Padjang menagih itoe Semangkin dan Prihatin,
    temtoe pada itoe zaman beloen ada istilah Apel Washington atawa Apel Malang..

    • apel mekintos sudah release belom ki ?

      • apel malam minggu……????!!!!!
        (menika karemanipun Ki Menggung KY)

        • ki menggung KY emang remenane aPEL-aPEL,

          aPElagi yang kinyis-kinyis……langsung sahuT.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: