Buku 26

Namun meskipun demikian ia tidak dapat melepaskan kedudukannya sebagai seorang senapati yang bertanggung jawab. Apalagi berhadapan dengan adiknya yang dianggapnya telah mengabaikan keharusan-keharusan yang harus dilakukannya di dalam lingkungan keadaan serupa itu.

“Kiai,” berkata Untara itu kemudian, “aku tidak tahu masalah yang Kiai maksudkan. Masalah-masalah kecil yang manakah yang mendorong Kiai untuk menyuruh Agung Sedayu segera kembali ke pondoknya, dan yang telah mendorong aku untuk memanggil Wuranta?”

“Ah,” Ki Tanu Metir berdesis, “bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, Ngger? Dan Angger bahkan telah berusaha untuk sekedar menyisihkan waktu yang sangat sempit ini untuk memanggil Wuranta dan membawanya kembali ke banjar ini? Aku rasa Angger melakukannya dengan pengertian bahwa Wuranta adalah seorang yang paling berjasa di dalam tugas Angger kali ini. Tetapi Wuranta itu tidak datang sendiri seperti yang Angger katakan. Apalagi dengan rendah hati.”

Wajah Untara menjadi merah mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu. Ternyata Kiai Gringsing kali ini benar-benar sedang berusaha untuk mengurangi kesalahan muridnya. Bahkan mempertentangkan kata-katanya tentang Wuranta.

“Nah,” Ki Tanu Metir meneruskan, “seharusnya Angger Untara dapat mengerti. Jangan salahkan Agung Sedayu. Dan sekarang aku tetap berpendapat bahwa sebaiknya Angger Agung Sedayu kembali ke pondoknya.”

Wajah Untara masih memerah dalam ketegangan. Tetapi keseganannya terhadap Kiai Gringsing telah menahannya untuk berbuat terlampau banyak. Namun perasaannya sama sekali tidak senang melihat sikap orang tua itu, yang dengan berterus terang telah melindungi kesalahan adiknya.

Senapati itu ingin adiknya bersikap sebagai seorang prajurit yang baik. Justru karena ia seorang senapati. Untara itu merasa bahwa setiap orang menganggap bahwa adiknya terlampau berat untuk meninggalkan gadis Sangkal Putung itu, sehingga ia tidak menghadiri upacara yang diadakannya hari ini. Sedang Untara merasa bahwa sikap gadis itu terlampau manja, sehingga ia terpaksa memerintahkan kepada bawahannya untuk mengusahakan tempat yang khusus baginya.

“Kiai,” berkata Untara itu kemudian, “tetapi bagaimanapun juga aku tidak dapat membenarkan sikap Agung Sedayu. Apakah Kiai tidak merasa malu, seandainya setiap orang di sini bertanya-tanya di dalam hatinya. Mereka masih dapat mengerti tentang keadaan Swandaru. Kalau anak itu tidak menghadiri upacara ini, maka sudah pasti adiknya tidak mau dan tidak berani ditinggalkannya. Tetapi bagaimana dengan Agung Sedayu yang menungguinya saja tanpa ada hubungan keluarga dengan gadis itu?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah. Tetapi ia tidak berani menyahut. Yang menjawab adalah Kiai Gringsing, “Itu adalah suatu pengorbanan baginya, Ngger. Justru suatu pengorbanan. Aku sengaja melakukannya.”

“Pengorbanan?” wajah Untara menjadi aneh.

“Ya.” Kemudian kepada Agung Sedayu orang tua itu berkata, “sekarang kembalilah ke pondokmu.”

Agung Sedayu menjadi bingung. Sejenak ia berdiri saja seperti patung, sehingga Ki Tanu Metir itu mengulangi, “Kembalilah ke pondokmu. Biarlah persoalanmu aku selesaikan dengan kakakmu.”

“Nanti dulu,” cegah Untara, “jangan pergi dulu. Kau harus minta maaf kepadaku, bahwa kau tidak hadir dalam upacara ini. Jangan kau sebut-sebut lagi alasan-alasan yang pasti hanya kau buat-buat saja saja bersama dengan kakak beradik itu.”

Kini wajah Ki Tanu Metir-lah yang berkerut. Tetapi sebelum ia berbicara Untara telah mendahului, “Ayo, bersikaplah jantan untuk mengakui kesalahan sendiri. Kalau kau tidak melihat kesalahanmu, maka seterusnya kau akan mengulangi kesalahan yang serupa. Aku adalah senapati di daerah ini.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Katanya lembut, “Lakukanlah, Ngger.”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Ia tidak mengerti benar kenapa kakaknya bersikap demikian keras terhadapnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada melakukan perintah itu. Katanya, “Baik, Kakang. Aku minta maaf. Mudah-mudahan aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Mungkin Kakang tersinggung karena kebodohanku bahwa aku tidak dapat menghadiri upacara yang Kakang anggap sebagai upacara yang penting. Dengan demikian maka aku telah menimbulkan kesan yang kurang baik. Tidak saja atas diriku sendiri, tetapi telah menyentuh kewibawaan Kakang di sini. Sebenarnya aku ingin memberikan banyak keterangan tentang hal itu, tetapi Kakang menganggap bahwa setiap alasan yang hanya dibuat-buat saja. Karena itu maka lebih baik bagiku untuk tidak mengucapkannya.”

Tiba-tiba wajah Untara yang tegang tampak mengendor. Ia melihat sikap adiknya dengan memelas. Adiknya yang sejak kecil pantas dikasihani karena sifat-sifatnya. Kini, ketika adiknya mulai tumbuh dan berkembang telah dipaksanya untuk berbuat demikian. Berbuat memelas seperti pada masa kanak-anaknya.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berusaha untuk tetap dalam sikapnya, sikap seorang senapati perang.

Karena itu maka Untara tidak menyatakan perasaannya. Disimpannya perasaan ibanya di dalam dadanya, bahkan ia mencoba untuk bersikap keras terhadap Agung Sedayu yang memang dianggapnya bersalah, mengabaikan keharusan-keharusan yang berlaku di dalam pasukannya, meskipun ia bukan seorang prajurit.

Dengan nada datar Untara itu berkata, “Nah, kau sudah minta maaf atas kesalahan itu. Karena itu maka kau jangan mengulangi kesalahan itu sekali lagi. Kau adalah orang yang berada di dalam lingkungan pasukanku, meskipun kau bukan seorang prajurit. Tetapi dalam keadaan serupa ini, maka peraturan keprajuritan berlaku atas semua orang, baik ia seorang prajurit maupun bagi mereka yang dengan suka rela menggabungkan diri dalam perjuangan ini untuk kepentingan Pajang.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya, Kakang, aku mengerti.”

“Nah, sekarang kau boleh kembali.”

Agung Sedayu memandang wajah kakaknya sejenak. Hampir saja ia bertanya, “Kembali kemana? Ke Jati Anom atau ke Sangkal Putung?”

Tetapi tiba-tiba Ki Tanu Metir menyahut, “Nah, Angger telah mendapat ijin untuk kembali. Kembalilah ke pondokmu. Tunggulah pesanku untuk selanjutnya.”

“Kenapa ia harus menunggu Kiai?” potong Untara. “Setiap kali ia harus datang ke banjar untuk melihat perkembangan keadaan.”

“Begitu maksudmu, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir.

Pertanyaan itu telah membuat Untara bertanya-tanya di dalam hatinya. Karena itu maka tiba-tiba ia terdiam sejenak. Tetapi sekali lagi ia berusaha untuk tetap bersikap sebagai seorang senapati. Maka jawabnya, “Ya. Aku menghendaki demikian.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik, baik. Begitulah. Tetapi sekarang Angger silahkan kembali ke pondok.”

Agung Sedayu merasa aneh atas permintaan Ki Tanu Metir itu. Bukan saja Agung Sedayu, tetapi Untara pun bertanya-tanya di dalam hatinya. Kenapa Ki Tanu Metir seakan-akan tergesa-gesa ingin menyingkirkan Agung Sedayu?

Sejenak kemudian Agung Sedayu minta diri kepada kakaknya dan gurunya untuk kembali ke pondoknya. Di sepanjang jalan berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam dadanya. Kadang-kadang ia merasa, bahwa sebaiknya ia pergi meninggalkan padepokan ini, ke Jati Anom atau ke Sangkal Putung saja sama sekali. Ia dapat membuta dan menuli atas semua anggapan orang-orang Pajang padepokan ini atasnya. Tetapi ia dapat memberi penjelasan kepada pamannya, Widura di Sangkal Putung.

“Apakah Kakang Untara tidak setuju melihat hubunganku dengan gadis Sangkal Putung itu?” Agung Sedayu bertanya-tanya di dalam hatinya.

“Mudah-mudahan paman Widura dapat memberinya penjelasan. Tidak sebagai seorang perwira bawahan Kakang Untara, tetapi sebagai seorang paman yang melihat dan mengerti keadaanku sejak aku berada di Sangkal Putung untuk pertama kalinya.”

Di pondoknya Agung Sedayu masih melihat Sekar Mirah tidak mau berpisah dari kakaknya karena kecemasan dan ketakukan yang selalu mengejarnya. Kadang-kadang keinginannya untuk segera kembali ke Sangkal Putung seakan-akan tidak dapat dicegahnya. Tetapi setiap kali ketakutannya kepada Sidanti dan Ki Tambak Wedi sengaja dibesar-besarkannya sendiri untuk membantu mencegah keinginannya itu. Seandainya yang berulang kali menyebut nama Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu hanya Agung Sedayu dan kakaknya Swandaru, maka ia pasti masih saja memaksa untuk kembali ke Sangkal Putung. Tetapi ternyata Ki Tanu Metir pun memperingatkannya pula. Dan ia mencoba untuk menganggap bahwa Ki Tanu Metir adalah orang yang paling dapat dipercaya.

Tiba-tiba saja pikiran Agung Sedayu meloncat kepada anak muda putera Ki Gede Pemanahan. Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh anak muda itu seandainya ia mengalami perlakuan seperti dirinya pada saat ini.

“Tetapi ia putera seorang panglima tertinggi Wira Tamtama,” desisnya, “bagaimanapun juga ia akan mendapatkan beberapa kelainan dari anak-anak muda yang lain.”

Tanpa disadarinya maka keinginannya untuk bertemu dengan Sutawijaya telah mengganggu perasaannya. Kekagumannya atas anak muda itu serasa kian menjadi-jadi.

“Apakah kau bertemu dengan Kakang Untara?” bertanya Swandaru Geni, seakan-akan telah membangunkannya.

“Ya, aku telah menemuinya di banjar padepokan.”

“Apa katanya tentang kita?” Sejenak Agung Sedayu menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian ia menjawab, “Tidak apa-apa. Ia hanya bertanya kenapa aku tidak hadir dalam upacara pemakaman pagi tadi.”

“O, apakah upacara itu telah dilakukan?”

“Sudah pagi tadi, meskipun belum seluruhnya. Tetapi upacara pelepasan para jenazah telah dilakukan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku masih melihat kesibukan di jalan-jalan di padepokan ini. Aku sangka bahwa upacara ini belum dilakukan hari ini. Jadi kita berdua tidak hadir dalam upacara itu?”

“Ya, karena kita tidak tahu.”

“Sayang,” desis Swandaru. “Hal ini dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atas kita bertiga.”

Agung Sedayu terdiam. Tetapi lalu ia menjawab, “Mudah-mudahan tidak.”

“Kau yakin?” desak Swandaru.

“Seandainya ada kesan itu, maka Ki Tanu Metir pasti akan memberikan penjelasan. Guru ada di banjar saat ini. Dan agaknya guru tidak menyalahkan aku. Bahkan ia mendesak supaya aku segera kembali ke pondok ini. Aku tidak tahu apakah maksudnya.”

Swandaru dan Sekar Mirah terdiam. Mereka tidak bertanya-tanya lagi. Tetapi terasa ada yang tersangkut di perasaan. Ada sesuatu yang tidak dimengertinya, tetapi membuat mereka gelisah. Sedang Agung Sedayu pun kemudian tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Bahkan kemudian ia berkata, “Beristirahatlah dengan baik. Mudah-mudahan pekerjaan Kakang Untara segera selesai. Kakang Untara tidak akan tinggal lama di padepokan ini.”

“Ya, menurut pendengaranku, Kakang Untara untuk sementara akan berkedudukan di Jati Anom.”

Mereka pun kemudian terdiam. Mereka duduk sambil menikmati pikiran masing-masing. Tetapi wajah-wajah mereka tampak menjadi tegang.

Sepeninggal Agung Sedayu, Untara dan Ki Tanu Metir masih berdiri di tangga banjar padepokan.

Tiba-tiba Ki Tanu Metir berdesis, “Kasihan anak itu.”

Untara mengerutkan keningnya. “Kenapa? Ia sudah menjadi semakin dewasa. Ia harus tahu kewajibannya. Anak itu terlampau manja di masa kanak-anaknya. Sekarang ia harus menyadari bahwa kemanjaannya itu sama sekali tidak menguntungkannya.”

Untara mengerutkan keningnya ketika Ki Tanu Metir menggeleng. “Tidak. Angger Agung Sedayu tidak terlampau manja. Tetapi ia adalah seorang penakut di masa kecilnya. Bahkan lebih dari itu. Ia adalah seorang pengecut. Kau ingat?”

Untara tidak menjawab Tetapi dadanya tersentuh mendengar sebutan itu bagi adiknya. Adik kandungnya.

“Kalau Angger Agung Sedayu itu seorang pengecut, maka ia memang perlu dikasihani.”

“Tetapi ia sekarang sudah tumbuh dan berkembang.”

“Itu hanya terjadi sesaat. Ia akan menjadi seorang pengecut untuk seterusnya. Ia tidak akan berani melihat bahaya yang cukup besar.”

“Kenapa, Kiai? Bukankah ia sekarang telah berani menghadapi lawan yang dahulu sangat ditakutinya? Sidanti.”

“Tetapi jiwanya tetap kerdil. Kalau jiwa itu sudah mulai mekar, maka Angger Untara sendiri telah menekannya. Dan ia akan tetap berjiwa kecil dan pengecut.”

Dada Untara berdesir mendengar kata Ki Tanu Metir yang langsung menyentuhnya. Sesaat ia terdiam. Dipandanginya wajah orang tua itu. Wajahnya itu tampaknya agak berbeda dengan wajah yang selalu dilihatnya. Wajah itu selalu tampak jernih dan seolah-olah selalu membayangkan senyum. Namun kini Untara melihat wajah itu terlampau bersungguh-sungguh.

“Ki Tanu Metir benar-benar tersinggung karena aku marah kepada muridnya, meskipun muridnya itu adalah adikku,” katanya di dalam hati.

Tetapi Ki Tanu Metir itu kemudian berkata, “Bukan saja Angger yang telah menekan jiwanya untuk tetap kerdil, tetapi aku pun telah mengorbankannya. Aku tidak dapat berbuat lain untuk kepuasan prajurit Pajang di Tambak Wedi dan untuk kepentingan anak-anak Jati Anom.”

Untara menjadi semakin tidak mengerti. Wajahnya menjadi semakin berkerut-merut. Tiba-tiba ia berkata berterus-terang, “Aku tidak mengerti Kiai.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berkata dengan wajah yang semakin tampak bersungguh-sungguh, “Aku sebenarnya sangat kasihan kepada adikmu, Angger. Sebagian dari kesalahannya sehingga Angger marah kepadanya, adalah kesalahanku. Aku sengaja menyimpannya di dalam gubug itu. Aku pula yang mendorong mereka untuk minta kepadamu tempat yang lain, tidak di banjar ini. Alasannya agaknya cukup kuat, karena Sekar Mirah selalu ketakutan di sini. Tetapi apakah Angger ingat alasan yang telah mendesak Angger meluangkan waktu Angger yang terlampau sempit ini untuk memanggil Wuranta?”

“Oh,” Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, “Wuranta mempunyai kedudukan yang lain dengan Agung Sedayu, Kiai. Wuranta menurut Kiai sendiri adalah orang yang berhasil menembus rapatnya dinding padepokan ini. Bukankah karena Wuranta ada di dalam padepokan ini maka semuanya dapat berlangsung dengan lancar? Bukankah menurut keterangan dan pengakuan Kiai sendiri, bahwa Kiai dapat masuk ke dalam padepokan ini juga karena petunjuk-petunjuk Wuranta. Itulah sebabnya maka Wuranta harus mendapat penghargaan yang sewajarnya. Para prajurit Pajang harus mendapat penjelasan sehingga mereka tidak memperlakukan Wuranta sekenanya. Meskipun sebagai seorang anak muda Wuranta tidak mampu melawan seorang prajurit pun dalam olah kanuragan, namun keprigelannya dalam bidang sandi perlu mendapat penghargaan.”

“Dan aku telah membantu Angger untuk menyatakan terima kasih itu kepada Angger Wuranta. Aku merasa kasihan, karena kejutan jiwanya Angger Wuranta menjadi rendah diri dan berbuat di luar kewajaran. Kini ia telah menemukan kepercayaan kepada diri sendiri karena Angger Untara sendiri telah menaruh perhatian atasnya, sehingga dengan demikian tidak seorang pun akan mengumpati para prajurit Pajang, bahwa seolah-olah setelah tidak diperlukan lagi, Wuranta langsung dilemparkan tanpa perhatian. Hal itu pasti akan menyakitkan hati anak-anak Jati Anom.”

“Ya, ya aku sudah mengerti. Karena itu betapa aku sibuk, aku perlukan datang mengambilnya.”

“Dan kelak membuat suatu upacara untuk mengucapkan terima kasih kepadanya bersama orang-orang Jati Anom.”

“Ya. Kita harus menjaga supaya ia tetap tenang dan cukup percaya pada diri sendiri. Bukankah seperti yang Kiai katakan, gadis Sangkal Putung itulah yang telah membuatnya hampir berputus asa. Dan itu adalah karena Agung Sedayu pula?”

“Ya. Itulah sebabnya Angger Agung Sedayu harus dikorbankan.”

“Bagaimana?” Untara menjadi semakin bingung.

“Bahwa ia pergi dari banjar, dan kemudian tidak selalu menampakkan dirinya itu berarti memberi kesempatan Angger Untara untuk menempatkan Angger Wuranta di tempat sewajarnya. Adapun kata orang terhadap Agung Sedayu yang tidak berperan apa pun di sini, itu tidak penting.”

Dada Untara menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Ki Tanu Metir itu. Ia menjadi semakin jelas arah percakapan yang diucapkan oleh Ki Tanu Metir dengan nada yang berat dan bersungguh-sungguh itu. Sejenak kemudian ia masih mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Dan aku sudah berusaha untuk melakukannya Aku sudah menyingkirkan Agung Sedayu dari banjar ini, supaya Wuranta tidak lagi berkeberatan datang kemari. Dan aku sengaja tidak memberitahukan upacara yang diadakan hari ini supaya Agung Sedayu tidak datang kemari, apalagi bersama Sekar Mirah. Apabila demikian maka ada kemungkinan bahwa Wuranta akan menyingkir dari banjar ini dan untuk seterusnya ia tidak akan datang kembali. Bahkan mungkin ia akan terus kembali ke Jati Anom sebelum Angger Untara sendiri kembali bersama sebagian dari pasukan Pajang di sini. Nah, Wuranta akan dapat mengatakan kekecewaannya kepada anak-anak muda Jati Anom. Ia dapat mengatakan hal-hal yang tidak benar atau setidak-tidaknya kurang tepat karena arus perasaannya yang kadang-kadang kurang dapat dikendalikan. Dengan demikian bukankah ada baiknya bagi Angger bahwa Angger Agung Sedayu tidak datang dalam upacara ini?”

“Oh,” dahi Untara menjadi berkerut-merut, “itu tidak jujur Kiai,” katanya dengan serta-merta.

“Kenapa?”

“Kiai tidak bersikap adil terhadap keduanya,” ternyata kata-kata Kiai Gringsing telah menyentuh hati Untara sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya sejak masa kanak-kanaknya. “Seharusnya Kiai memberitahukan dahulu kepadaku akan rencana itu. Aku telah bersikap terlampau kasar terhadap Agung Sedayu. Seharusnya Wuranta pun harus dapat menyadari dirinya. Persoalan-persoalan pribadi harus dapat disingkirkan di dalam masalah-masalah yang jauh lebih besar dan penting.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing. “Aku memang bersalah. Aku tidak memberitahukan dahulu kepada Angger Untara. Tetapi aku tidak sempat. Terlalu sulit untuk mendapat kesempatan berbicara dengan Angger karena pekerjaan Angger yang tidak ada hentinya. Namun Angger jangan mempersoalkannya dengan Angger Wuranta. Ternyata perasaan anak muda itu terlampau mudah tersinggung. Aku kira baru untuk pertama kalinya ia merasa tertarik kepada seorang gadis. Dan gadis itu adalah Sekar Mirah. Justru Sekar Mirah yang sudah terlanjur terikat oleh Angger Agung Sedayu. Tetapi Angger Untara jangan mengatakan kepada adik Angger itu, bahwa ia harus mementingkan persoalan-persoalan yang lebih besar dari persoalan-persoalan pribadinya. Misalnya hubungannya dengan Sekar Mirah dan hubungannya dengan kewajiban-kewajiban yang akan Angger berikan kepadanya. Hubungan yang demikian adalah wajar bagi anak-anak muda. Bahkan mungkin akan membuatnya agak aneh dan berbeda dari kebiasaan hidup sebelumnya. Mungkin ia menjadi berani menentang orang lain dan bersikap kurang menyenangkan. Apalagi di hadapan gadis itu sendiri. Hanya satu dua orang sajalah yang dapat berbuat seperti Angger Untara, mengesampingkan semua persoalan pribadi dan menenggelamkan diri dalam kuwajiban Angger sebagai seorang prajurit. Tetapi aku kira Angger Agung Sedayu tidak akan dapat berbuat demikian. Meskipun mungkin ia dapat menyingkirkan segala macam pamrih kebendaan yang lain, namun hal yang satu itu pun harus hidup di dalam hatinya. Dengan demikian maka pribadinya akan dapat mekar. Hidup Agung Sedayu di masa kanak-anaknya selalu berada di samping seorang perempuan. Ibunya. Itulah sebabnya Agung Sedayu memerlukan seorang perempuan untuk mengembangkannya. Berbeda dengan Angger Untara. Angger Untara sejak lahir seolah-olah telah menggenggam pedang. Dan pedang itu kini masih tetap di dalam genggaman. Pedang merupakan kawan hidup yang paling setia bagi Angger Untara.”

Wajah Untara yang tegang menjadi semakin tegang. Terasa ia benar-benar berbicara dengan seorang yang rambutnya telah memutih, yang memandang segi-segi kehidupan dari sudut-sudut yang tidak pernah dipikirkannya. Dengan demikian maka Untara tidak menjawab. Ia mencoba mencernakan kata-kata Ki Tanu Metir itu. Namun bagaimanapun juga ia merasakan bahwa hal ini tetap merupakan persoalan-persoalan yang harus ditanganinya dalam keadaan serupa ini. Persoalan-persoalan yang tumbuh di dalam masa-masa perjuangan yang berat. Di Sangkal Putung, Untara dan Widura harus menangani persoalan Sidanti yang terlampau tamak dan terlampau ingin cepat menginjakkan kakinya ke tingkat yang lebih tinggi. Di sini ia berhadapan dengan persoalan yang lain.

Ki Tanu Metir agaknya melihat perasaan yang berkecamuk di dalam dada Untara sehingga ia berkata, “Bukankah persoalan-persoalan yang demikian itu dapat tumbuh di mana-mana? Dan bukankah di setiap saat Angger dapat menemui seribu satu macam persoalan? Apalagi dalam saat-saat serupa ini. Di saat-saat anak-anak muda kehilangan sasaran untuk melepaskan ketegangan yang masih mencengkam dada masing-masing, setelah lawan terkalahkan. Kadang-kadang ketegangan-ketegangan itu tidak tersalur sewajarnya. Karena itulah maka Angger Untara harus berusaha untuk menyalurkannya, jangan membendung. Carilah keseimbangan dari keduanya. Mungkin hal ini akan sangat mengganggu Angger. Tetapi ini pun merupakan sebagian dari tanggung jawab Angger sebagai seorang pemimpin. Persoalan ini justru persoalan yang belum pernah Angger alami sendiri.”

Untara mengerutkan dahinya. Tetapi kali ini ia melihat Ki Tanu Metir tersenyum, “Karena itu, Ngger, lengkapilah pengalaman Angger dalam segala segi, supaya Angger tidak canggung menghadapi persoalan-persoalan yang demikian.”

“Ah,” Untara berdesah.

“Hal itu akan sangat berguna bagi Angger, pekerjaan Angger kini sudah jauh berkurang. Pajang telah hampir menemukan kemantapannya. Mudah-mudahan tidak ada persoalan lagi yang akan mengganggu. Mudah-mudahan Pajang berbuat bijaksana sehingga tidak menumbuhkan persoalan-persoalan baru lagi.”

Untara mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar Ki Tanu Metir bergumam, “Sebaiknya tidak saja daerah Pati, tetapi Mentaok pun harus segera diselesaikan, di samping Sidanti yang pasti akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, justru berhadapan dengan Mentaok.”

Untara tidak segera menjawab. Dicernakannya kata-kata itu baik-baik di dalam hatinya. Meskipun seakan-akan Ki Tanu Metir begitu saja mengatakannya, namun agaknya kalimat-kalimatnya mengandung suatu tuntutan terhadap pimpinan pemerintahan Pajang.

Ia tahu benar janji Adiwijaya kepada Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi. Apabila mereka dapat mengalahkan Arya Penangsang maka mereka akan mendapat tanah Pati dan bumi Mentaok. Meskipun yang memegang peranan penting dalam pertempuran yang terjadi antara kedua induk pasukan Pajang dan Jipang, yang langsung dipimpin oleh Arya Penangsang adalah Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, dengan mempergunakan tombak Kiai Pleret, namun Adiwijaya tidak akan mengingkari janjinya. Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi akan mendapat tanah yang telah dijanjikan kepada mereka, tapi saat ini yang baru diberikan adalah tanah Pati. Baru Ki Penjawi yang telah menerima tanah yang telah dijanjikan oleh Adiwijaya.

Kedua daerah yang dijanjikan untuk hadiah itu pun ternyata sangat berbeda keadaannya. Pati telah tumbuh menjadi sebuah kota yang semakin hari semakin ramai, tetapi bumi Mentaok masih berupa sebuah hutan yang ganas dan liar. Hutan yang isinya telah dilihat sendiri oleh Sutawijaya dan beberapa kali oleh Ki Gede Pemanahan sebagai seorang prajurit Wira Tamtama. Namun sampai saat terakhir, tanah yang masih berupa hutan itu pun belum juga diberikannya.

Tetapi persoalan itu adalah persoalan para pemimpin pemerintahan. Bukan persoalannya dan bukan persoalan Ki Tanu Metir.

“Apakah maksud Ki Tanu Metir mengungkapkan persoalan itu?” bertanya Untara di dalam hatinya.

Dalam kediamannya itu Untara mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Sudahlah, Ngger, silahkan. Para perwira mungkin telah menunggu Angger. Mungkin Angger perlu berislirahat atau ada persoalan-persoalan yang masih perlu Angger bicarakan.”

Untara menganggukkan kepalanya, “Baik, Kiai. Lalu Kiai sendiri akan pergi ke mana?”

“Ah, jangan hiraukan aku,” sahut Ki Tanu Metir sambil tersenyum. “Mungkin aku akan pergi kepada Angger Agung Sedayu atau berjalan-jalan ke mana saja.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia tidak dapat menahan diri lagi dan bertanya, “Tetapi apakah maksud Kiai mengatakan tentang tanah Pati dan bumi Mentaok?”

“Oh,” Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya, “tidak apa-apa, Ngger. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tetapi sebaiknya hal-hal semacam itu mendapat perhatian. Tidak seorang pun tahu maksud pimpinan pemerintahan Pajang sekarang. Kenapa Pati yang justru telah berupa menjadi tanah yang ramai telah diserahkan, tetapi bumi Mentaok yang masih harus banyak mendapat pembinaan masih belum. Setelah persoalan orang-orang Jipang ini selesai, maka kejanggalan ini akan sangat terasa. Ki Gede Pemanahan, yang selama ini masih sibuk dengan tugasnya, maka kini ia akan segera mendapat peluang untuk memikirkannya.”

“Ah,” desah Untara, “Ki Gede Pemanahan tidak akan memperhitungkan hal-hal serupa itu. Ia adalah seorang besar yang tidak menimbang betapa besar pengorbanannya. Ia tidak akan berpikir tentang masalah-masalah yang tidak penting seperti tanah Pari dan bumi Mentaok.”

Untara mengerutkan keningnya ketika ia melihat Ki Tanu Metir tersenyum. Orang tua itu menjawab, “Bagaimanakah persoalannya sehingga janji itu lahir? Janji tentang kedua daerah itu?”

Untara tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah Ki Tanu Metir yang selama ini dikenalnya sebagai seorang dukun yang baik dan seorang yang pilih tanding dalam olah kanuragan. Seorang yang juga mempergunakan nama Kiai Gringsing. Tetapi apakah Kiai Gringsing itu sudah cukup menyatakan dirinya dengan melepas kedoknya yang dipakainya untuk mengelabui Agung Sedayu, kemudian menyatakan dirinya bahwa Kiai Gringsing itu adalah Ki Tanu Metir? Tetapi siapakah Ki Tanu Metir itu sebenarnya? Ternyata orang itu terlampau banyak menaruh perhatian dan bahkan terlalu banyak mengerti tentang keadaan pemerintahan.

“Angger Untara,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “Aku kira Ki Gede Pemanahan tidak akan mengusik hal-hal yang telah dijanjikan itu seandainya tanah Pati pun tidak diserahkan. Dan kenapa Adiwijaya mempergunakan janji itu di dalam tindakannya? Bukankah sudah sewajarnya bahwa Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, dan para senapati seperti Angger Untara melakukan perintahnya walaupun tanpa janji apa pun?”

“Ya, ya Kiai,” potong Untara, “aku tahu.”

“Nah,” berkata Ki Tanu Metir “bukankah Adipati Pajang yang pasti akan menyebut dirinya kemudian Sultan Pajang itu juga mengharapkan janji atas kesanggupannya melenyapkan Arya Jipang.”

“Ah,” desah Untara, “apakah maksud Kiai sebenarnya?”

“Sudah aku katakan,” jawab Ki Tanu Metir, “tidak bermaksud apa-apa. Aku bukan orang penting. Aku bukan orang yang berwenang membicarakan. Tetapi aku ingin Pajang dapat tegak dengan mantap tanpa persoalan-persoalan apa pun yang dapat mengganggunya. Kalau Angger Untara dapat menolong memperingatkan Adipati Adiwijaya lewat siapa pun atas keterlambatannya, maka aku kira Pajang akan bersih dari segala gangguan dan Pajang akan sempat membangun dirinya.”

“Mudah-mudahan hal yang serupa itu tidak terjadi, Kiai. Jangan terlampau mencemaskannya. Orang-orang Pajang cukup besar jiwanya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan kecil semacam itu.”

Ki Tanu Metir tersenyum. “Tetapi bukankah Adipati Adiwijaya juga menuntut janji yang diberikan oleh Ratu Kalinyamat kepadanya?”

“Sudahlah Ngger. Aku terlampau banyak berbicara. Lihat Angger Wuranta datang. Apabila Angger telah memutuskan untuk kembali ke Jati Anom, harap Angger memberitahukan kepadaku.”

Untara mengangkat wajahnya, memandangi jalan yang membujur di hadapan banjar itu. Dilihatnya Wuranta berjalan bersama beberapa orang prajurit Pajang. Kini tampaklah mereka menjadi semakin akrab. Wuranta sudah tidak lagi kehilangan keseimbangan, meskipun setiap kali dadanya masih juga berdebar-debar dan gairahnya menghadapi masa depan seolah-olah akan patah. Namun ia sudah mampu menempatkan dirinya. Ia sudah dapat membeda-bedakan persoalan yang dihadapinya.

“Ia tidak akan datang apabila Angger Agung Sedayu masih di sini. Ia pasti akan meninggalkan halaman ini,” desis Ki Tanu Metir.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Anak itu terlampau perasa. Ia harus menyadari keadaannya dan tidak mudah dihempaskan ke dalam suatu perbuatan putus asa.”

“Perlahan-lahan, Ngger. Perlahan-lahan. Lambat-laun pengalamannya akan menuntunnya. Seperti Angger Agung Sedayu yang kini telah berhasil melepaskan diri dari kungkungan sifat-sifatnya di masa kanak-kanaknya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “Kiai sebenarnya aku masih ingin tahu, kenapa Kiai menaruh perhatian yang besar sekali terhadap Adipati Pajang.”

“Ah, sudahlah anggaplah itu hanya sekedar sendau gurau saja.”

“Tidak, Kiai,” sahut Untara, “ternyata Kiai tidak sekedar bergurau saja.”

“Lihat, Angger Wuranta telah memasuki halaman. Persilahkan ia masuk ke dalam pringgitan.”

Untara tidak mendapat kesempatan lagi untuk bertanya. Wuranta telah berdiri di hadapannya bersama beberapa orang prajurit.

“Masuklah,” Untara mempersilahkan.

Wuranta menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah masuk, sedang para prajurit segera pergi ke gandok kiri.

Ketika Wuranta telah hilang di balik pintu, Kiai Gringsing berkata, “Sudahlah, Ngger. Aku akan pergi. Angger sebenarnya tidak perlu merisaukan kata-kataku itu.”

“Aku perlu mengetahui, Kiai.”

Kiai Gringsing menggeleng, kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Nanti malam aku akan datang kemari. Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, biarlah tetap di dalam pondoknya. Besok atau lusa mereka akan ikut serta bersama-sama dengan Angger pergi ke Jati Anom. Kemudian mereka pasti akan segera kembali ke Sangkal Putung. Di Sangkal Putung orang tua mereka telah menunggu dengan cemas. Mudah-mudahan persoalan Sekar Mirah itu dapat diselesaikan dengan baik. Mudah-mudahan Wuranta tidak terluka karenanya, dan Agung Sedayu pun dapat mengerti pula keadaannya.”

“Hem,” Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Kiai Gringsing telah mendahului, “Jangan kau salahkan anak-anak muda itu. Perasaan yang demikian itu wajar bagi anak-anak muda.”

Untara hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudahlah, Ngger,” sekali lagi Kiai Gringsing minta diri.

“Silahkan, Kiai.”

Kiai Gringsing pun kemudian meninggalkan halaman padepokan itu. Namun sejenak Untara masih berdiri saja di tangga pendapa. Dicobanya untuk mengingat apa yang baru saja dilakukan. Tiba-tiba anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti kenapa Ki Tanu Metir seolah-olah menahan Agung Sedayu di pondoknya. Ternyata Ki Tanu Metir berusaha memberi kesempatan kepada Wuranta untuk menemukan dirinya kembali. Sebab menurut penilaiannya, Wuranta mempunyai jasa yang cukup besar bagi Pajang.

“Tetapi tanpa Ki Tanu Metir, Wuranta tidak akan dapat berbuat apa-apa,” desis Untara itu. “Anak muda itu hanya sekedar melakukan petunjuk-petunjuk orang tua itu, meskipun dalam saat-saat yang penting kecakapan berpikir Wuranta juga dapat menentukan. Tetapi keduanya memiliki jasanya yang seimbang. Sayang aku tidak dapat berbuat banyak terhadap orang tua itu. Aku tidak akan dapat mengucapkan terima kasih kepadanya. Setiap kali ia hanya tertawa saja, seolah-olah pernyataan terima kasih yang demikian itu hanya merupakan keharusan adat tata cara”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya di dalam hati, “Tetapi terhadap Wuranta aku akan dapat melakukannya. Aku harus menunjukkan kepada anak-anak muda Jati Anom, bahwa pasukan Pajang menyatakan terima kasihnya tidak terhingga kepada mereka, khususnya Wuranta. Mudah-mudahan Ki Tanu Metir pun kali ini mau menerima pernyataan resmi dari pada prajurit Pajang.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Untara melangkah naik ke pendapa. Namun tiba-tiba tersirat di dalam hatinya kata-kata Ki Tanu Metir, “Bukankah Adipati Adiwijaya juga menuntut janji yang diberikan oleh Ratu Kalinyamat kepadanya?”

“Hem,” Untara masih mengangguk-anggukkan kepalanya, “dari mana orang tua itu tahu bahwa Ratu Kalinyamat menjanjikan dua orang gadis cantik bagi Adipati Pajang yang kini telah menyebut dirinya Sultan Pajang?”

Sejenak angan-angan Untara meloncat kepada peristiwa itu, pada saat Adipati Adiwijaya menghadap kakanda Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa dengan bertelanjang tanpa mengenakan pakaian sama sekali selain rambutnya sendiri yang hitam lebat dan panjang.

Janji Ratu Kalinyamat telah membuat Adipati Adiwijaya menjadi bingung. Wajar kedua gadis itu selalu mengganggunya, sehingga dengan tergesa-gesa pula ia berkeinginan untuk menyelesailkan persoalan Arya Penangsang yang telah membunuh Sunan Prawata, Pangeran Hadiri, dan orang-orang yang tidak sependapat dengan pendiriannya. Dan ketergesa-gesaannya itulah yang menyebabkannya, maka ia pun segera menyatakan janjinya, meskipun tanpa janji apapun Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, apalagi Sutawijaya yang telah diangkat menjadi puteranya itu, pasti akan melakukannya. Ternyata ketergesa-gesaannya itu kini dapat menumbuhkan akibat, menurut panggraita Ki Tanu Metir.

Langkah Untara itu tiba-tiba tertegun. Seolah-olah ia belum puas mengenang semua yang pernah terjadi menjelang pecah perang antara Pajang dan Jipang. Dua kadipaten yang termasuk dalam lingkungan Kerajaan Demak. Tetapi setelah Demak kosong, maka kedua kadipaten ini terlibat dalam suatu pertentangan yang tidak dapat diselesaikan, selain dengan peperangan.

Untara masih berdiri di muka pintu yang memisahkan pringgitan dan pendapa banjar padepokan itu. Tangannya sudah melekat pada gawang pintu, tetapi ia masih belum mendorong pintu jtu. Di halaman ia melihat satu dua orang prajurit berjalan hilir-mudik. Sedang di pendapa itu sendiri ia masih melihat beberapa orang yang terluka duduk-duduk di antara mereka. Orang yang lukanya tidak terlampau parah.

“Itu adalah salah satu kelemahan dari Adipati Pajang,” Untara masih saja berbicara sendiri di dalam hatinya. Ia tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata para prajurit yang berada di pendapa itu memandanginya dengan heran. Tetapi Untara masih berbicara di dalam dirinya, “Adipati Adiwijaya tidak dapat menahan diri apabila ia melihat wanita-wanita cantik. Tetapi aku kira tindakaanya tentang kedua tanah yang dijanjikan itu tidak terlampau salah. Pati memang harus segera diserahkan. Tetapi aku rasa Mentaok tidak akan terlampau tergesa-gesa. Seandainya tanah itu jatuh ketangan Ki Gede Pemanahan sebagai tanah perdikan yang kini masih berupa hutan yang lebat dan liar, namun akhirnya daerah itu akan jatuh ketangan puteranya Mas Ngabei Loring Pasar. Sedangkan apabila tanah itu dibuka lebih dahulu, maka Ki Gede Pemanahan tidak perlu mencemaskannya, bahwa akhirnya tanah itu pasti akan jatuh ketangan Sutawijaya pula. Bahkan mungkin bukan sekedar daerah Mentaok sebagai tanah perdikan. Mungkin Sutawijaya akan menerima daerah yang jauh lebih luas, untuk mendirikan sebuah kadipaten baru.”

Untara terkejut-ketika tiba-tiba pintu itu terdorong ke samping. Ternyata seseorang telah membukanya dari dalam.

“Oh,” orang itu pun terkejut, tetapi keduanya kemudian tersenyum, “aku tidak tahu kalau Kakang Untara berdiri di situ.”

“Aku baru akan masuk,” sahut Untara.

“Silahkanlah,” orang itu mempersilahkan.

Untara kemudian masuk pula ke dalam pringgitan yang lembab. Disuruhnya beberapa orang untuk membuka genting supaya panas matahari dapat masuk dan memanaskan udara di dalam banjar itu.

“Ki Tambak Wedi tidak sempat membersihkan pringgitan ini,” gumam Untara. “Ia lebih senang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, membuat kisruh dan menuntun muridnya untuk berbuat seperti dirinya sendiri.”

Ketika kemudian kepada mereka dihidangkan makan dan minuman, maka mereka pun segera menikmatinya. Badan mereka yang lelah telah membuat mereka lapar dan haus, sehingga makanan yang dihidangkan itu menjadi sangat lezat terasa di lidah-lidah mereka.

Sambil makan ada-ada saja yang mereka percakapkan, dari yang paling menyeramkan sampai yang paling menggelikan dalam peperangan yang baru saja terjadi. Wuranta kini telah dapat ikut dalam percakapan itu dengan wajar. Ia sudah tidak terlalu mudah tersinggung, meskipun ada satu dua orang perwira di antara mereka yang sengaja menyebut-nyebut namanya. Bahkan anak muda Jati Anom yang telah berhasil menemukan dirinya sendiri itu hanya tersenyum saja. Ia kini merasa, bahwa kedudukanya sama sekali tidak berada di bawah para perwira itu di dalam perjuangan.

Tetapi selama itu Untara sendiri tidak terlampau banyak ikut berbicara. Angan-angannya kadang-kadang masih saja diganggu oleh keadaan yang bakal datang. Kadang-kadang ia ikut serta menyesalkan tindakan Adipati Pajang. Tetapi kadang-kadang ia menganggap bahwa tindakan itu cukup bijaksana.

“Kedua sudut pandangan itu mempunyai alasannya masing-masing,” katanya di dalam hati. “Tetapi apapun alasannya, maka tidak akan dapat dijadikan sebab untuk berbuat hal-hal yang tidak semestinya.”

Untara itu tersadar ketika ia mendengar Wuranta bertanya, “Untara, kapan aku mendapat kesempatan untuk kembali ke Jati Anom?”

“Aku juga sedang memikirkan,” jawab Untara. “Aku kira segera setelah semua persoalan aku selesaikan di sini. Aku sudah memutuskan bahwa aku akan membuat kedudukan untuk sementara di Jati Anom bersama separo dari seluruh pasukan. Sedang yang separo lagi mempunyai tugas di sini. Mengawasi dan menyelesaikan masalah-masalah harian yang akan timbul. Orang-orang yang menyerah memerlukan bimbingan, juga perempuan dan kanak-anak yang kehilangan suami dan ayah-ayah mereka. Sedangkan yang berbahaya akan aku kirimkan ke Pajang.”

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 15 Oktober 2008 at 10:24  Comments (28)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-26/trackback/

RSS feed for comments on this post.

28 KomentarTinggalkan komentar

  1. sangat salut dengan semangat untuk menghadirkan karya ini di dunia maya krn begitu panjangnya serial ini. Go go go maju terus !!!

  2. Dear DheDhe,

    Apakah file dengan extention djvu dapat diedit menggunakan msword, kalau bisa bagaimana caranya.

    Thanks
    Doyoks

    D2: Yg file word hasil konvert kan saya sertakan sbg “raw material”. Kalau mau edit enakan pake file word ini, gak usah ketik ulang.

  3. terus berjuang untuk melestarikan karya ini….apapun bentuk file-nya…
    terus menanti dengan sabar, seorang agung sedayu menjadi anak muda pilih tanding ….

  4. Aku coba bikin halaman 1 s/d 5 ya…..

  5. ini halaman 2 & 3, halaman 1 masih ada problem dikit…..

    —Para perwira — desah para pradjurit hasmpir bersamaan. Mereka- menjangka bahwa kelima orang itu adalah salu atau dua orang perwira bersama dengan para pengawalnja mengadakan penindjauan keliling. Melihat para pradjurit jang sedang bertugas, dan melihai orang2 jang terluka atau terbunuh dipeperangan. Adalah
    menjadi kebiasaan para perwira Padjang untuk melihat, bahkan menangani sendiri tugas2 jang berat dan sulit.
    Ketika orang2 jang datang itu mendjadi semakin dekat, maka para pradjurit itupun berdiri berdjadjar memberi mereka djalan, dan bersiap apabila mereka harus mendjawab pertanjaan2. Sedang Wurantapun kemudian bergeser dibelakang para pradjurit itu. Ternjata kelima orang itu berdjalan kearah para pradjurii itu, sehingga para pradjurit itupun terpaksa mempersiapkan diri mereka untuk menerima kundjungan para perwira. Sedjenak mereka menebarkan pandangan mata mereka, untuk mengetahui dimana kawan2 mereka berada. Mungkin mereka harus membawa para perwira itu ke-tempat2 perondan, ketempat para pradjurit mengumpulkan orang2 jang terluka jang belum sempat dibawa kependapa bandjar, bahkan mungkin melihat majat2 jang’ suddah dikumpulkan untuk dikuburkan besok pagi.
    Ketika terlihat oleh para pradjurit itu majat Iaki2 tua beserta isterinja, maka merekapun berpaling. Hanja sedjenak. Ketika mereeka melihat Wuranta dibelakang mereka, maka mereka menganggap bahwa seharusnja Wurantalah jang wadjib memberikan keteranganja
    Kelima orang itu mendjadi semakin dekat. Hampir tidak pertjaja para pradjurit itu menadjamkan matanja. Jang satu diantara ereka ternjata adalah Untara sendiri.
    —Ki Untara– salah scorang dari mereka berdesis
    — Oh- sahut kawannja per-lahan2 — ja, Ki Untara sendiri.

    Ketiga pradjurit itu kini berdiri tegak berdjadjar. Untara memang sering berbuat demikian. Menindjau keadaan Iangsung di- tempat2 jang dianggapnja penting. Seperti kebiasaannja berdiri diudjung peperangan, maka iapun selalu berada didalam kesibukan akibat dari setiap peperangan, diantara para pradjuritnja.
    Para pradjurit itu menganggukkan kepala mereka ketika Untara lewat dihadapan mereka.
    Untara dan para pengawalnjapun menganggukkan kepala mereka pula. Namun tiba2 Untara itu menghentikan langkahnja. Ia berdiri dihadapan para pradjurit itu. Dengan demikian maka para pradjurit itupun mendjadi ber-debar2.

    Sedjenak Untara hanja berdiri sadja tanpa mengutjapkaa sepatah katapun. Ternjata jang dipandangnja bukan wadjah2 pradjurit jang berdlri tegak dihadapannja, tetapi orang jang berdiri dibelakang mereka. Wuranta.
    Para pradjurit itu melihat arah pandangan mata Untara. Merekapun mendjadi semakin ber-debar2. Apakah jang akan dilakukan oleh Senapati itu ? Apakah Ia telah mendengar laporan bahwa Wuranta pernah merendahkanja ? Dan apakah kira2 jang akan dilakukan oleh Wuranta setelah ia berhadapan langsung dengan Untara jang namanja sering di-sebut2nja.
    Sedjenak suasana ditjengkam oleh kesepian. Untara berdiri sadja ditempainja, dan Wuranta se-olah2 mendjadi beku. Narnun kemudian mereka melihat Untara itu mengerutkan keningnja sambil berdesis — Wuranta, bukankah kau itu? —
    Wuranta mendjadi ter-mangu2. Bagaimana ia harus bersikap terhadap Senapati itu didalam suasana peperangan ? Apakah ia harus bersiap seperti para pradijurit itu dan mendjawabnja seperti djawaban seorang pradjurii pula?
    Tetapi kata2 Untara berikutnja telah mengledjutkannja dan bahkan mengedjutkan para pradjurit jang berdiri tegak itu, Katanja — Aku memang mentjarimu Wuranta, sambil me-lihat2 keadaan. —
    Wuranta mendjadi semakin ber-debar2. Apakah sebabnja Untara mentjarinja? Tiba2 ia teringat akan sikapnja selama ini. Karena itu maka ia berrtanja didalam hatinja, seperti pertanjaan jang bergetar didalam dada para pradjurit itu — Apakah Untara telah benar2 mendengar sikap Wuranta jang kadang2 merendahkannja sebagai scorang Senapati, dan ia datang sendiri untuk mengambil tindakan terhadapnja? —
    Wuranta jang berd:ri tegak seperti para pradjurit itu masih sadja tegak seperti sebatang tonggak, Namun sedjenak kemudian ia berhasil menguasai perasaannja jang tidak lagi me-londjak2. Ia mentjoba menenangkan d’rinja dan berkata didalam hati Mudah-mudahaii aku tidak mendjadi gila lagi dihadapan Untara sendiri.—
    Para pradjurit jang berdiri dimuka Wurantapun mendjadi ber-debar2 pula. Tiba2 mereka merasa iba seandainja Untara marah dan mengambil sesuatu tindakan atas Wuranta. Pengakuan Wutanta jang ichlas atas kesalahannja pada saat2 terachir telah
    menjingkirkan sama sekali kebentjian para pradjurit itu atasnja.
    Tetapi seandainja Untara sendri Jang datang mentjarinja, dan mudian berbuat sesuatu atasnja, maka tidak seorangpun dari mereka jang dapat menolongnja.

  6. Halaman [1]…………
    DALAM kediaman mereka, para pradjurit itu ber-tanja2 didalam hati, kenapa tiba2 sadja sikap anak Djati Anom itu berubah. Anak muda itu tidak lagi menepuk dada $ambil menjebut narnanja, dan tidak lagi berkata tentang Untara. Sama sekali tidak lagi bekas2 kesombonganja pada pengakuannja yang ichlas itu Bahkan sikap-
    nja jang menjakitkan hati, bahwa se-olah2 Untara, Senapati mereka jang mereka hormati, harus djuga dianggapnja terlampau remeh, dan se-olah2 dalam keadaan serupa itu harus datang kepadanja dan menjataikan terima kasih serta mohon maaf atas segala kesalahannja. Hal jang bagi para pradjurit itu tidak akan mungkin sekali terdjadi. Untara adalah seorang Senapati iang menggenggam tanggung djawab atas wilajah disekitar Gunung Merapi, bahkan didataran jang membentang sampai kepasisir kidul. Meskipun Untara djuga anak jang dilahirkan dan dibesarkan di Djati Anom, namun kedudukannja terlampau djauh terpaut dari anak muda jang bernama Wuranta itu. Seandainja pada masa2 ketjilnja mereka berkawan dan bermain bersama dalam satu lingkaran permainan tetapi keadaan telah membentuk mereka dikedudukan mereka.
    Belum sempat salah seorang dari mereka dapat memetjahkan kediaman itu, maka merekapun dikedjutkan oleh bajangan jang mendekat mereka. Tidak hanja seorang, tetapi lima orang. Mereka mendengar langkah mereka semakin lama semakin dekat, dan melihat mereka semaikin djelas. Didalam remang2 tjahaja obor dikedjauhan mereka dapat memastikan bahwa sebagian dan mereka adalah pradjurit2 Padjang.

    D2: Tolong pake ejaan baru, Mas.

  7. … duh maaf, saya pikir kita mau “mempertahankan nuansa” nya….
    Berikut halaman 4 & 5, mohon maaf kalau masih ada edjaan lama jang terlewat he… he….

    Halaman [4]
    Sejenak kemudian terdengar Untara berkata pula — Wuranta, ‘kemarilah. —
    Wuranta menarik nafas dalam2. Namun dalam ketenangan kini ia dapat menanggapi persoalannya. la telah memutuskan untuk tidak bersikap sebagai seorang prajurit la memang bukan seorang prajurit. Ia adalah anak Jati Anom, dan Untara adalah anak
    Jati Anom pula.
    Perlahan2 ia melangkah maju, berjalan disisi ketiga prajurit yang masih berdiri berjajar dengan tegapnya.
    — Apakah kau memerlukan aku Untara? — bertanya Wuranta.
    Hati para prajurit itupun menjadi semakin ber-debar2.
    — Ja, aku memerlukanmu — sahut Untara.
    — Apakah ada sesuatu yang penting diantara kita? — bertanya Wuranta sareh,
    — Tentu — sahut Untara — aku memang sengaja datang kepadamu karena aku dengar kau tidak ingin pergi kebanjar padepokan ini. Apakah memang begitu ? —
    Sejenak Wuranta menjadi ragu2. Tetapi ia ingin berkata sediujumja, seperti yang terjadi. Mlaka katanya —’ Ja, aku memang tidak ingin pergi kebanjar padepokan. Darimanakah kau tahu? — ”
    Ketiga prajurit itu masih saja diliputi oleh kecemasan. Apa lagi ketika mereka melihat sikap Wuranta. Untara adalah Senapati perang. Sedang Wuranta menanggapinya seperti terhadap teman sepermainan. Meskipun seandainya dahulu memang demikian tetapi keadaan kini hanus sudah berbeda-
    — Kenapa kau tidak man pergi kebanjar? — bertanya Untara.
    — Tidak apa2 — jawab Wuranta — aku menunggui kakek tua yang meninggal bersama isterinya. —
    — Ya, aku mendengar dari Ki Tanu Metir, Semuanya dikatakannya kepadaku tentang kau. Dan aku dapat mengerti kenapa kau tidak mau datang kebanjar. —
    Wuranta mengerutkan keningnya. Apa sajakah yang telah dikatakan oleh Ki Tanu Mctir itu tentang dirinya ? Dan Wuranta mendengar Untara meneruskan — Tetapi Ki Tanu Metir tidak mengatakannya kepada Agung Sedaju. Mungkin waktunya dianggapnya kurang tepat. Karena itu ketahuilah, bahwa Agung Sedaju menjadi bingung menanggapi sikapmu. Tetapi aku tidak bingung Wuranta. Aku mengerti, sebab Ki Tanu Metir mengatakan kepa daku, J’uga tentang Iaki2 tua itu. -‘.Untara berhenti sejenak. lalu diteruskannya — Aku datang kepadanm untuk mengucapkan

    Halaman [5]
    terima kasih atas segala jasa2mu Waranta. Dan aku minta, kau datang kebanjar padepokan ini. Aku tahu apa yang kau rasakan, Bukan saja karena Iaki2 tua seperti yang kau sebutkan. —
    Sejenak Wuianta terbungkam. Tidak terlintas didalam otaknya, bahwa benar2 Untara telah datang kepadanya untuk mengucapkan terima kasih.
    Apalagi ketiga prajurit yang kini berdiri dibelakangnya. Mereka berdiri dengan mulut ternganga, Apa yang tidak mungkin baginya ternyata kini benar2 telah terjadi. Bahwa Senapati yang bernama Untara itu datang kepada Wuranta, anak Jati Anom untuk
    mengucapkan terima kasih.
    Sejenak suasana menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah nafas Wuranta yang berdesah. Dikejauhan satu dua orang prajurit masih berkeliaran didalam tugasnya.
    — Wuranta — terdengar Untara berkata — aku minta kepadamu, datanglah kebanjar padepokan ini. Hadapilah persoalanmu dengan jiwa yang besar. Aku adalah anak muda pula seperti kau, dan aku adalah kakak Agung Sedaju itu. Akupun merasakan sesuatu didalam diriku, justru karena aku seorang kakak, seorang yang lebih tua, yang sepantasnya telah melakukannya lebih dahulu. Tetapi kesibukanku temjata tidak memberi aku kesempatan. —
    Wuranta tldak segera menjawab. la masii diliputi oleh suatu perasaan yang aneh. la tiba2 saja dibadapkan pada suatu kenyataan yang diharapkannya terjadi didalam kegelapan hati. Dalam kegelapan ia memang mengucapkan kata2 itu, bahwa seharusnya Untaralah yang datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih. Tetapi bahwa hal itu terjadi justru setelah hatinya menjadi tenang, malahan membuatnya menjadi ter-mangu2. Namun ternyata sesuatu telah menyusup didalam hati anak
    itu. Lamat2 tergores didalam hatinya, suatu jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganggunya *~ Apakah aku masih diperlukan oleh para prajurit Pajang ? Dan apakah aku berhak menikmati kemenangan ini ? Kalau Untara, Senapati tertinggi didaerah ini datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih, maka seharusnya ia dapat berbangga karenanya. Seharusnya ia merasa bahwa dirinya bukan sekedar sampah yang disisihkan, yang tidak lagi dapat dipergunakan.
    — Wuranta — berkata Untara kemudian — aku pasti akan menyetujui permintaanmu tentang laki2 tua yang kau maksud

  8. hehehe.. mas Didiek pake EYD dong.
    tuh petunjuknya ada di sebelah kanan.
    nanti ki tanu metir ngambeg lho

  9. Halaman [6]
    berserta Isterinya. Aku dapat mengerti bahwa laki2 itupun mendapat penghargaan khusus. Tetapi biarlah para prajurit yang berkuwajiban mengurusnya, Mereka akan tahu apa yang harus mereka lakukan. — Untara itu berhenti sejenak — Nah, sekarang bagaimana? —
    — Apakah yang harus aku lakukan? — bertanya Wuranta.
    ~ Beristirahat dibanyar padepokan. Besok pada saatnya kita ber-sama2 pergi ke Jati Anom. Aku akan meninggalkan separo dari prajurit Pajang dipadepokan ini dengan beberapa orang penghubung berkuda. Sedang aku sendiri akan tetap berada di Jati Anom. —
    Wuranta masih saja tegak seperti patung. Ia justru menjadi bingung menghadapi peeristiwa yang tiba2 dan tidak diduga sama sekali. Untara sendiri datang kepadanya dan minta supaya la beristirahat dibanjar padepokan.
    Kalau yang datang dan minta kepadanya itu Untara sendiri sudah lentu sangat sulitlah baginya untuk menolak. Tetapi perasaannya tidak cukup kuat untuk menerima permintaan itu dan hatinya pasti tidak akan cukup besar menghadapi Agung Sedayu Sekar Mirah yang berada dibanjar itu pula.
    Tetapi sejenak kemudlan Untara berkata — Wuranta, baiklah aku beritahukan bahwa aku telah menyetujui pemintaan Sekar mirah dan kedua anak2 muda yang bersamanya, untuk berpindah tempat peristirahatan. Tidak dibanjar itu. Tetapi mereka kini berada dirumah disebelah banjar. Rumah yang tidak dipakai untuk menyimpan orang2 sakit apalagi mayat2 para prajurit yang terbunuh dipeperangan. Dibanjar padepokan Sekar Mirah selalu berada dalam ketakutan. ~
    Wuranta tiba2 mengangkat wajahnya. Jadi dibanjar Itu sudah tidak ada lagi Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Swandaru? Tetapi kenapa Ki Tanu Metir tidak mengatakannya ?
    Agaknya Untara mengerti pertanyaan didalam dada Wuranta, sehingga ia berkata — Mereka meninggalkan, banjar ketika Ki Tanu Metir pergi bersamamu. Bukankah kau juga pergi banjar. tetapi kau tidak singgah dipringgitan? —
    Wuranta mengangguk — Ya Untara. Aku memang pergi ke banjar untuk memanggil Ki Tanu Metir. —
    — Tetapi kedatangan orang tua itu terlambat. Kakek yang kau maksud suam isteri telah meninggal. Bukankah begitu?
    — Ya, itulah mayat mereka. —

  10. halaman 7
    Untara berpaling. Dilihatnya dalam keremangan cahaya obor, seorang perempuan membeku didada suaminya yang beku puIa.Terasa dada Untara berdesir. la sudah melihat mayat dipeperangan dalam keadaan yang paling mengerikan. Tetapi baru
    kali ini ia melihat seorang isteri mati memeluk suaminya yang mati pula. Mengharukan.
    — Mereka akan mendapat perawatan yang sewajarnya. Aku mengerti, bahwa Iaki2 tua itu turut menentukan saat2 yang terakhir dari peperangan ini. Seandainya ia tidak berusaha memberi kau jalan, maka keadaan akan menjadi berbeda. Jasanya tidak kalah dengan setiap orang pradjurit Pajang. Jasanya hampir sebesar jasamu sendiri. ~-
    — Ah — Wuranta berdesah. Jasa Iaki2 tua itu tidak kalah dengan jasa setiap prajurit Pajang. Tetapi jasa itu masih belum sebesar jasanya. Kata2 itu diucapkan oleh seorang Senapati seperti Untara, Senapati jang memimpin sendiri peperangan ini
    Wuranta justru menjadi terbungkam. Tetapi perlahan-lahan ia merasakan bahwa didalam dadanya berkembang sebuah kebanggaan. la tidak perlu merasa dirinya terlampau rendah. Sehingga ia tidak perlu mencari cara yang aneh2 untuk menggelembungkan dirinya, menyembunyikan kekerdilannya.
    Karena Wuranta tidak berkata sepatah katapun, maka Untara meneruskan — Nah. marilah kita pergi kebandjar padepokan Ini. •—
    Wuranta tidak dapat menolak lagi. Karena itu ia hanya dapat menganggukkan kepalanya dan- berdesis — Baiklah Untara. —
    .—- Besok, atau lusa, apabila keadaan telah mendjadi tenteram, sebagian pasukanku akan kembali ke Jati Anom. Aku akan tetap berkedudukan disana. Kita tidak perlu mencemaskan kekuatan orang2 Jipang lagi didaerah ini. Juga orang2 dari padepokan Tambak Wedi. Kita telah berhasil menyumbat mulut sarang mereka dan menangkap segenap isinya didalam sarang ini. Mungkin masih ada satu dua kedompok kecil orang2 Jipang yang keras kepala di-daerah2 lain, Tetapi itupun pasti akan segera dtselesaikan. – Kemudian kepada para prajurit yang berdiri tegak dibelakang Wuranta. Untara berkata — Nah, kau sudah mendengar tentang Iaki-laki tua itu. Usahakan besok mayatnya berdua telah berada dibanjar. Mayat itu akan dikuburkan bersama dengan orang-orang Pajang yanq gugur. Mungkin kalian masih belum dapat merasa
    kan jasa Iaki2 tua itu, tetapi pada saatnya kalian akan mengetahuinya. —

  11. Halaman [8]
    Sejenak kemudian Untara dan para pengawalnja telah kembali kebanjar padepokan bersama Wuranta. Dibanjar itu benar-benar tidak dijumpainya lagi Agung Sedayu, Swandaru dan Sekar Mirah. Yang berada disana tinggal beberapa orang perwira prajurit Pajang dan Ki Tanu Metir.
    Ternyata sikap para perwira yang langsung mengerti tugas-tugas berat Wuranta agak berbeda dengan sikap para prajurit. Namun setelah Wuranta berhasil merenungkan dengan tenang, maka sumber dari sikap yang tidak menyenangkan dari para prajurit itu adalah dirinya sendiri. Usahanya untuk menutupi kekerdilannya, ternyata telah banyak menyinggung perasaan- orang lain.
    Para prajurit yang ditinggalkan oleh Wuranta dihalaman dbelakang halaman banjar -padepokan, sejenak saling berpandangan, Salah seorang dari mereka kemudian berdesis — He, ternyata kata-kata anak muda itu benar terjadi. Untaralah yang men-
    carinya dan mengucapkan terima kasih kepadanya. —
    — Memang menurut pendengaranku, apa yang dilakukannya dapat menentukan penyelesaian ini, —
    — Aku menyangka ia terlampau sombong. Tetapi aku menjadi heran, bahwa pada saat2 terakhir ia seakan-akan mengakui kesalahannya. Mengakui sikapnya yang tidak sewajarnya. —
    — Ah — desah. prajurit yang lain — kenapa hal itu kita risaukan. Biarlah para perwira mengurusnya. Urusan kita adalah berkeliling padepokan, terutama. disekitar banjar. —
    — Tetapi mayat kedua suarai isteri itu ? —
    — Oh, biarlah mereka. yang bertugas untuk itu. Kita beritahukan saja kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan. —
    Ketika para prajurit itu kemudian melakukan tugas masing-masing, maka tempat itupun menjadi sepi kembali.
    Didalam Iingikungan para perwira yang sebagian besar dari mereka lelah mengerti benar2 akan peranannya, maka Wuranta merasa telah menemukau dirinya kembali, Betapa penyesalan dan kecewa melanda dadanya apabila diingatnya segala tindak tanduknya selama ini. Bahkan ia merasa heran sendiri, kenapa ia seakan-akan menjadi liar dan. kehilangan pegangan.
    Meskipun demikian setiap kali ia teringat akan Sekar Mirah maka hatinya masih terasa pahit. Gadis itu belum lama dikenalnya. Baru beberapa hari. Telapi yang beberapa hari itu ternyata ielah menjadikannya hampir gila.

  12. Malampun menjadi semakin malam. Dikejauhan terdengar anjing-anjing liar berteriak-teriak berebut makan. Terasa betapa angin yang membawa bau darah menyentuh hidung mereka yang tajam.
    Sekali-kali terdengar suara burung bantu dan burung kedasih seakan-akan sahut-menyahut, meneriakkan kepedihan yang ngelangut.
    Sementara para prajurit yang bertugas masih saja sibuk hampir semalam suntuk, maka disebuah rumah yang tidak begitu jauh dari banjar itu, Sekar Mirah duduk perpegangan tangan kakaknya. Meskipun la sudah tidak lagi berada diantara mayat dan orang-orang yang terluka, namun ia masih diburu saja oleh perasaan takut dan ngeri.
    — Kemanakah Ki Tana Metir kini? — bertanja Swandwu kepada Agung Sedayu.
    ~- Entalah. Mungkln masih berada dibanjar atau kemana. Mungkin guru sedang mencari Wuranta itu lagi. Atau mungkin kini sedang tidur nyenyak, —
    Swandaru terdiam. Gurunya kadang-kadang tidak memberitahukan kemana ia pergi. Bahkan kadang-kadang sampai berhar-hari. Tetapi dalam suasana seperti ini, maka mereka seolah-olah selalu ingin berada bersamanya. Bukan karena perasaan takut bahwa tiba-tiba mereka harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi, tetapi perasaan sepi seakan-akan menghunjam dalam-dalam dijantung mereka.
    Sesaat mereka saling berdiam diri. Namun dengan demikian maka terasa malam menjadi kian sepi. Kesepian itu ternyata tidak menyenangkan sekali, sehingga tanpa sesadarnya Agung Sedayu berbicara sekedar untuk menyentakkan perasaan sepi itu ~ Apakah kita tidak akan tidur? —
    Swandaru mengangkat wajahnya. Dipandanginnya lampu minyak yang menyala berkeredipan. Kemudian’Swandaru itupun berkata kepada Sekar Mirah – Mirah, tidurlah. ~
    Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Jawabnya — ‘Aku ngeri kakang. —
    ‘ — Disini tidak ada apa-apa Mirah — berkata kakaknya — disini tidak seperti banjar padepokan jang penuh dengan orang-orang yang teluka. Disini kita mendapat tempat yang baik. Agaknya pemilik rumah inipun orang yang baik pula. *—
    — Tetapi ia mendendam seperti orang-orang Tambak Wedi yang lain kakang. Siapa tahu – Sekar Mirah berhentl sejenak sambil memandang berkeliling kalau-kalau ada orang lain didalam ruangan itu.
    Ketika tidak dilihatnya seseorang maka ia berkata perlahan-lahan — Siapa tahu bahwa ia akan mempergunakan setiap kesempataa untuk melepaskan dendamnya. —

  13. — Tetapi tidak seorangpun dari rumah ini terbunuh. Suami perempuan itu ternyata hanya terluka, tidak terlampau parah. Dan sekarang Iaki2 itu berada dibanjar. ~
    – Itu sudah cukup membuat hatinya mendendam. —
    Agung Sedayu dan Swandaru kemudian berdiam diri. Mereka melihat wajah Sekar Mirah yang dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.
    — Kenapa kita tidak kembali saja ke Sangkal Putung kakang? — bertanya Sekar Mirah tiba-tiba.
    — Ah Bukankah hari masih malam? — jawab kakaknya.
    — Tetapi itu lebih baik daripada aku berada disini. Aku tidak juga dapat tidur dikejar oleh perasaan takut dan ngeri. —
    — Jalan masih cukup berbahaya Mirah — sahut Agung Sedayu.
    — Bukankah orang-orang Jipang dan Tambak Wedi mutlak dihancurkan, disini—
    — Tetapi justru orang2 yang terpenting dapat meloloskan diri. Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. —
    — Tetapi mereka pasti lari jauh-jauh. Mereka tidak akan berada disekitar padepokan ini. Apalagi dijalan ke Sangkal Putung; Mereka pasli tidak akan menyangka bahwa kita akan berdjalan malani ini. —
    Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Kini pertimbangan- pertimbangannya datang kembali. Tidak seperti pada saat ia berangkat dari Sangkal Putung. Pada saat ia merasa kehilangan Sekar Mirah. Pada saat itu ia kehilangan sama sekali setiap pertimbangan apapun. Ia hanja ingin pergi dari Sangkal Putung segera untuk berusaha membebaskan Sekar Mirah. Tetapi kini, setelah Sekar Mirah itu bebas dari cengkeraman Sidanti, maka sifat-sifatnya lelah datang kembali. Pertimbangan- Pertimbangannya bermunculan dari bermacam-macam segi.
    — Perjalanan yang demikian akan sangai berbahaya — berkata Agung Sedayu.
    — Bagiku perjalanan itu akan lebih baik. Aku tidak kehilangan waktu semalam ini. Daripada kita duduk tanpa arti disini, bukankah lebih baik kita berjalan ke Sangkal Putung? Besok kita pasti sudah mencapai Kademangan itu. Dan besok kita sudah
    Dapat berttemu dengan ayah dan ibu. —
    Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu.
    Tetapi Sekar Mirah berkata terus – Apakah yang kita dapatkan dengan duduk-duduk saja begini? Aku sudah terlampau rindu kepada ayah dan ibu. Ayah dan ibupun pasti akan terlalu gelisah menunggu.

  14. waduh….
    Ternyata sudah dibikin versi word-nya ya? he… he…
    salam adbm

  15. Salam,
    Ini saya coba membantu lima halaman dari belakang (buku 26).
    GI

    Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Dicobanya untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau lagi membayangkannya, apalagi betapa yang akan terjadi seandainya gurunya tidak mencegahnya melakukan pembunuhan yang tidak terkendali itu.
    “Hem – Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam “aku harus memetik pelajaran daripadanya.” Tetapi ia tidak ingin bahwa peristiwanya itu sendiri selalu membayangi perasaannya.
    Sehingga dalam keragu-raguan ia bertanya kepada diri sendiri “Apakah aku perlu mengatakannya kepada kakang Untara?
    Agung Sedayu menggelengkan kepalanya “Tidak. Tidak perlu. Laporan itu akan datang dari para prajurit yang akan menangkap mereka. Aku tidak perlu berkata apapun tentang peristiwa itu.” Tetapi kemudian ia berkata pula di dalam hatinya “Tetapi jangan-jangan kakang Untara menganggap aku bersalah. Aku telah berbuat sendiri di daerah ini justru di luar wewenangku. Ah, biarlah aku mengatakannya. Salah atau benar, aku akan mengatakannya.”.
    Agung Sedayu itu pun kemudian melangkah terus. Kini ia mencoba memusatkan perhatiannya kepada kakaknya. Kepada kepentingan yang akan disampaikan kepadanya.
    Ketika beberapa puluh langkah daripadanya terpancar seberkas sinar obor, hati Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Sinar obor itu pastilah sinar obor yang dipasang di halaman banjar. Dan kakaknya telah menunggunya di banjar itu pula.
    “Apakah yang akan dikatakannya?“ gumamnya lambat. Agung Sedayu itu menggelengkan kepalanya “Tak seorangpun yang tahu selain kakang Untara sendiri. Mungkin guru, tetapi mungkin pula tidak.”
    Semakin dekat Agung Sedayu dengan banjar padepokan itu hatinya menjadi semakin berdebar-debar.
    Ketika kemudian ia berdiri di muka regol banjar padepokan itu, dua orang prajurit mendatanginya dan bertanya, “Siapa? – “Aku, Agung Sedayu“ sahut Agung Sedayu.
    Sinar obor yang kemerah-merahan jatuh di atas wajahnya, membuat kesan tersendiri pada kedua prajurit yang memandanginya dengan tajam. Tetapi sebelum keduanya bertanya lebih lanjut, Agung Sedayu telah mendahuluinya memberi penjelasan “Aku dipanggil oleh kakang Untara.”
    “Sekarang? – “Ya“ sahut Agung Sedayu.
    Kedua prajurit itu saling berpandangan. Dan salah seorang dari mereka berkata “Silahkanlah.”
    Agung Sedayu segera melangkah masuk ke halaman. Halaman banjar padepokan itu kini sudah tampak lebih bersih dan terang. Beberapa buah obor dipasang di sudut-sudut halaman dan sebuah lampu minyak yang cukup terang tergantung di tengah-tengah pendapa. Beberapa orang masih tampak duduk bercakap-cakap di pendapa itu Sedang beberapa orang yang Iain, yang terluka berbaring-baring sambil bercakap-cakap satu sama lain.
    Mereka memandangi Agung Sedayu ketika anak muda itu naik tangga dan berjalan di antara mereka, di tengah-tengah pendapa itu. Salah seorang yang telah mengenalnya dengan baik bertanya, “Apakah kau akan menemui kakakmu?“
    ”Ya “sahut Agung Sedayu.
    “Ia berada di pringgitan”.
    Agung Sedayu sebenarnya sudah tidak memerlukan keterangan itu lagi. Ia tahu pasti bahwa kakaknya berada di pringgitan. Mungkin dengan beberapa orang perwira pembantu-pembantunya. Mungkin bahkan sendiri sambil menunggunya. Tetapi Ia menjawab “Terima kasih.“
    Dengan dada yang semakin berdebar-debar ia melangkah menuju ke pintu pringgitan. Pintu leregan itu masih terbuka sedikit, Sepercik sinar di dalam pringgitan itu sempat meloncat ke luar.
    Hati-hati Agung Sedayu mendekati pintu. Kini ia sudah berada tepat di muka pintu. Tetapi keragu-raguannya ternyata membuat ia tertegun. Tanpa disengajanya ia berpaling, memandangi orang-orang yang berada di pendapa banjar itu.
    Agung Sedayu itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya orang yang sudah mengenalnya dan memberitahukan kepadanya bahwa Untara berada di pringgitan itu berbicara lagi, cukup keras “Buka saja. Pintu itu tidak pernah diselarak”.
    ” Terima kasih“ sekali lagi Agung Sedayu menjawab. Kini di tangannya telah memegang wengku pintu yang dibuat dari anyaman bambu wulung. Perlahan-lahan ia mendorong ke samping. Dan pintu itu pun terbuka.
    Dada Agung Sedayu berdesir. Di dalam pringgitan itu duduk hanya dua orang saja Kakaknya, Untara dan seorang lagi, Wuranta,
    “Masuklah“ terdengar suara kakaknya berat tetapi dingin. Sedingin angin pegunungan yang bertiup semakin kencang.
    “Terima kasih kakang“ sahut Agung Sedayu. Suaranyapun tiba-tiba bernada berat. Tetapi terasa sebuah getaran di dadanya terpercik di antara kata-katanya.
    Tetapi begitu ia melangkahkan kakinya, Agung Sedayu itu tertegun. Ia melihat Wuranta tiba-tiba berdiri dan berkata “Untara, aku akan keluar sebentar. Udara terlampau panas di pringgitan ini.”
    Terasa jantung Agung Sedayu menjadi semakin cepat berdentang. Ia sadar bahwa kehadirannyalah yang seolah-olah telah mengusir Wuranta dari pringgitan itu. Agaknya Wuranta benar-benar tidak dapat menemuinya.
    Dengan demikian maka teka-teki di dalam dada Agung Sedayu menjadi semakin kisruh. Panggilan kakaknya telah membingungkannya, dan kini ia menemukan suatu pertanyaan baru yang semakin membelit hati.
    “Apakah sebenarnya yang telah aku lakukan, sehingga aku terperosok dalam keadaan yang membingungkan ini? “ desis Agung Sedayu di dalam hatinya.
    Tetapi yang terdengar adalah suara Untara “Duduklah Wuranta.”
    “Aku akan keluar sebentar “sahut Wuranta sambil melangkah.
    Tetapi sekali lagi terdengar Untara berkata “Duduklah.” Wuranta menggeleng “Aku tidak betah duduk di dalam pringgitan yang panas ini.”
    “Di luar udara akan lebih panas lagi. Duduklah“ ulang Untara. Tetapi Wuranta masih juga melangkah, Namun langkahnyapun tertegun. Agung Sedayu masih berdiri tegak di muka pintu.
    “Wuranta“ Untara mengulanginya lagi “kemarilah dan duduklah. Dengar kata-kataku. Kemarilah kalian berdua. Duduk di sini. Aku perlu dengan kau berdua”.
    Nada kata-kata Untara serasa semakin berat, memberati hati kedua anak-anak muda itu. Ketika sekali lagi Untara memanggil, maka Wuranta tidak dapat lagi menolaknya – “Wuranta. Kemari. Duduklah di sini.”
    Dengan wajah yang tegang Wuranta itu pun melangkah kembali. Dengan dada yang berdebaran ia duduk di tempatnya. Sekali matanya menyambar Agung Sedayu yang masih berdiri tegak di muka pintu. Tetapi sesaat kemudian dilemparkannya pandangan matanya ke sudut ruangan.
    Agung Sedayu masih tegak di tempatnya. Di lambungnya tergantung sehelai pedang. Di wajahnya terpancar berbagai macam pertanyaan yang telah membingungkannya.
    “Jangan seperti hendak berkelahi Sedayu“ tiba-tiba suara kakaknya mengejutkan “duduklah”.
    .”Oh“ terdengar Agung Sedayu berdesah. “terima kasih kakang.”
    “Apakah kau akan pergi berperang?“ pertanyaan Untara terdengar begitu tajamnya menyentuh telinganya. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menjawab tegas “Tidak.”
    Untara bergeser. Ditatapnya wajah adiknya. Tetapi Agung Sedayu menundukkan kepalanya, Meskipun demikian jawaban Agung Sedayu itu terasa telah menggerakkan hati kakaknya. Dalam keadaan yang wajar. adiknya tidak akan menjawab. Apalagi jawaban sesingkat dan tegas itu.
    Tetapi Untara itu terdiam. Dipandanginya langkah Agung Sedayu mendekatinya dan kemudian duduk di sampingnya. Dijulurkannya pedangnya ke belakang.
    Sejenak mereka saling berdiam diri, dan pringgitan itu dijalari oleh suasana yang sepi tegang. Di kejauhan terdengar lamat-lamat suara burung hantu yang menggetarkan udara malam yang dingin.
    Sesaat kemudian Untara menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya adiknya dengan penuh pertanyaan. Tetapi sebelum Untara bertanya Agung Sedayu berkata “Aku bertemu dengan lima orang yang bersembunyi di balik rerungkudan. Mereka sengaja menjebak aku.”
    Untara masih terdiam, dan Agung Sedayu mengatakan dengan singkat apa yang dijumpainya di perjalanan ke banjar padepokan ini.
    Terasa jantung Untara menjadi semakin cepat bergetar. Ia merasakan suatu kebanggaan di dalam dirinya, bahwa Agung Sedayu telah berhasil menguasai diri dalam keadaan yang tiba-tiba itu dan dapat berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak ingin menunjukkan pengaruh perasaannya itu. Bahkan wajahnya seolah-olah tidak menunjukkan perubahan apapun. Meskipun demikian, Agung Sedayu menjadi agak berlega hati bahwa kakaknya tidak menyalahkannya lagi.
    Sekali lagi ruangan itu menjadi sepi. Baru sejenak kemudian Untara berkata kepada Wuranta tanpa mempersoalkan ceritera Agung Sedayu “Aku memang menunggu kesempatan semacam ini Wuranta.”
    Wuranta tidak menyahut, Tetapi wajahnyapun tunduk memandangi anyaman tikar yang didudukinya
    “Aku ingin setiap persoalan segera selesai. Aku tidak ingin kalian bersikap seperti anak-anak.”
    Tiba-tiba Wuranta mengangkat kepalanya. Sorot matanya menjadi tajam bercahaja. Dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya bergetar “Apakah maksudmu Untara?”
    Untara mengerutkan keningnya. Ia berhadapan dengan seorang anak muda perasa. Anak muda yang mudah tersinggung perasaannya. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Tetapi Untara tetap dalam pendiriannya, Ia ingin menyelesaikan persoalan ini.
    “Wuranta“ berkata Untara “tidak baik kau selalu dikejar oleh perasaanmu itu. Setiap kali kau selalu menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu sejak kau meningalkannya, ketika Agung Sedayu sedang berkelahi dan mengejar Sidanti. Sejak ini, maka anggaplah bahwa di antara kalian sudah tidak ada persoalan lagi, sehingga hubungan kalian menjadi wajar seperti sediakala. Agung Sedayu adalah anak Jati Anom seperti kau, seperti aku juga. Ia untuk seterusnya akan menetap pula di Jati Anom, Kalian akan selalu bertemu di jalan-jalan, di perapatan atau di gardu-gardu perondaan, Kalau hubungan kalian tidak dapat pulih kembali, maka akibatnya pula akan mempengaruhi seluruh anak-anak muda Jati Anom.
    Wajah Wuranta sesaat menjadi pucat. Keringat dinginnya mengalir membasahi pakaiannya. Namun justru karena itu maka ia pun terbungkam.
    Agung Sedayupun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sedang dihadapinya. Tetapi yang telah menyengat hatinya adalah kepastian kakaknya bahwa ia akan tinggal untuk seterusnya di Jati Anom. Dengan demikian maka segera ia menemukan kesimpulan, bahwa hal inilah yang akan dikatakan kakaknya kepadanya, disamping persoalan yang masih tidak jelas baginya, hubungannya dengan Wuranta yang menjadi semakin tegang
    “Aku dapat merasakan perasaan kalian —- berkata Untara seterusnya “tetapi aku tidak sependapat bahwa perasaan itu akan terlampau berkuasa di hati kalian. Kalian harus mengimbanginya dengan nalar dan pikiran, bahwa kalian adalah anak-anak muda Jati Anom. Bahkan kalian adalah harapan bagi kampung halaman. Kalian harus dapat menyingkirkan semua persoalan pribadi untuk kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Apakah kalian dapat mengerti maksudku?
    Wuranta masih terdiam. Keringatnya semakin banyak mengalir di seluruh wajah kulitnya.

  16. Mas DD & ADBM-ers.
    Sekali lagi maaf, saya dengan PD menuliskan halaman 1, halaman 2 dst…. ternyata dapat salah…. mulai dari sekarang saya akan menuliskan halaman, sesuai dengan halaman asli yang ada di buku…..
    berikut saya sampaikan halaman 18.

    Swandaru tidak menjawab dan Agung Sedayupun masih berdiam diri. Tetapi pertimbangannya sama sekali tidak sejalan dengan keinginan Sekar Mirah itu.
    “Bagaimana kakang ?” bertanya Sekar Mirah “marilah kita pulang sekarang.”
    Swandarupun menjadi bimbang. Sebenarnya ia juga ingin segera pulang ke Sangkal Putung. la akan segera berkata kepada ibunya, bahwa janjinya telah terpenuhi. Pulang dengan membawa Sekar Mirah. Dan ibunyapun pasti akan bergembira karenanya. Kalau ibunya masih saja menangis, maka ibunya akan menjadi tenang.
    Dalam kebimbangan itu ia mendengar Sekar Mirah mendesaknya “Bagaimana kakang? Apakah tidak lebih baik kita pulang saja. Disini kita sama sekali tidak berarti apa-apa. Mungkin orang-orang Pajang menganggap kita hanya memberati pekerjaan mereka saja.”
    Akhirnya Agung Sedayu terpaksa mencegahnya. Katanya ”Jangan Sekar Mirah. Aku kira kurang baik kiranya apabila kita tergesa-gesa kembali ke Sangkal Putung.”
    ”Ah” Sekar Mirah berdesah “sekehendakmulah kalau kau tidak akan pergi ke Sangkal Putung. Aku kira kau memang tidak akan pergi ke Sangkal Putung lagi. Kau sudah kembali ke kampung halamanmu, bersama kakakmu pula. Apa gunanya lagi kau pergi ke Sangkal Putung ? Tetapi aku pasti harus pulang. Ayah dan ibuku menunggu aku. Mungkin ibuku selalu menangis dan Ayahku tidak tenang bekerja. Karena itu aku akan segera kembali malam ini.”
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Selama ini ia tidak berpikir bahwa ia telah berada dekat dengan kampung halamannya. Kalau dia ingin kembali pulang, maka ia seharusnya pulang ke Jati Anom, kerumah peninggalan ajahnya jang isinya telah hancur karena pokal Sidanti dan orang-orang Jipang. Tetapi selama ini ia seakan-akan merasa dirinya harus kembali ke Sangkal Putung. Ketempat tugas pamannya, Widura.
    Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu dihadapkan pada kebimbangannya sendiri. Apakah ia harus pergi ke Sangkal Putung atau ia akan tinggal di Jati Anom.
    “Ayolah kakang Swandaru” ajak Sekar Mirah “kita pergi berdua. Disini kita tidak mempunyai teman seorangpun kecuali kita berdua. Tetapi di Sangkal Putung setiap hidung adalah teman-teman kita yang baik. Yang mengerti kesusahan dan kepedihan hati kita. Tetapi disini kita seperti orang asing, yang dianggap mengganggu pekerjaan mereka saja.”

  17. Halaman [19]
    ”Jangan berprasangka Mirah” sahut Agung Sedayu ”Tak seorangpun yang menganggap bahwa kita disini hanya menambah Pekerjaan orang Pajang. Bukankah kita tidak menaganggu mereka?. Kita dapat mengurus diri kita sendiri. Tetapi yang penting diperhatikan adalah kemungkinan yang akan kita temui di sepanjang jalan.”
    ”Kalau kau ingin tinggal disini, tinggalah” potong Sekar Mirah.
    ”Aku datang bersama adi Swandaru. Aku dan adi Swadaru telah menyanggupkan diri kepada Ki Demang Sangkal Putung untuk mencarimu. Kalau kau diketemukan, maka sepantasnya bahwa kami berdualah yang harus menyerahkan kau kepada Ki Demang berdua.”
    ”Tidak perlu” sahut Sekar Mirah ” kau tidak perlu pergi ke Sangkal Putung. Aku akan pulang bersama kakang Swandaru. Kau hanya akan memperlambat perjalanan saja. Ternjata kau masih ingin tinggal disini. Bahkan kau pasti masih ingin tinggal di Jati Anom sehari atau dua hari”.
    ”Tidak Mirah. Aku tidak akan singgah di Jati Anom” jawab Agung Sedayu. Tetapi ia menjadi heran mendengar jawaban itu, jawabannya sendiri. Dan sekali lagi ia menjadi bimbang, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung ? Namun mulutnya berkata ”aku akan pergi ke Sangkal Putung mengantarkanmu. Tetapi jangan malam ini. Kita harus memperhitungkan setiap keadaan. Apa lagi kakang Untara pasti akan mencari kita. Sebab kita adalah sebagian dari tanggung jawabnya.”
    ”Bohong” bantah Sekar Mirah ”Untara sama sekali tidak mempedulikan kita lagi. Apakah kita pergi, apakah kita tinggal disini. Untara tidak akan mempertimbangkan. Bahkan orang-orangnya sajalah yang akan menggerutu karena mereka harus melihat Kehadiran kita disini”.
    Agung Sedayu terdiam. Tetapi hatinya bergejolak. Ia ingin membantah pendapat gadis itu, tetapi ia tidak ingin bertengkar. Sedang Swandaru yang kebingungan duduk saja sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi kepalanya itu terasa pening.
    Mereka terperanjat ketika mereka mendengar suata tetrawa lirih. Kemudian terdengar pintu berderit. Perlahan-lahan seorang tua masuk kedalam ruangan itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
    Orang itu adalah Ki Tanu Metir.
    ”Hem” orang tua itu berdesah ”memang bermacam-macam pikiran dan perasaan bergulat didalam padepokan ini”.

  18. Ki Gede DD,
    hasil editan buku 26 sudah saya email. Mohon diperiksa. Kl ada kekurangan, let me know.

  19. Mas Oko,
    editannya bisa dilihat dimana ya???
    salam,

    D2: Mas Didik, Buku 26 sudah selesai retypenya.

  20. Halaman [20]
    Ketiga anak muda yang berada didalam ruangan itu memandanginya sambil bertanya-tanya didalam hati. Apakah yang dimaksud oleh Ki Tanu Metir itu ?
    “Baru saja aku melihat angger Wuranta yang sedang diguncangkan oleh perasaannya. Ia mengalami persoalan jiwa yang ternyata menggoyahkan keseimbangannya.”,
    Ketika Ki Tanu Metir terdiam sejenak maka Agung Sedayu pun bertanya ”Apakah yang telah terjadi dengan Wuranta, guru?”
    ”Sekarang tidak apa-apa. Angger Wuranta telah bersedia pergi ke banjar padepokan. Aku kira ia lelah berhasil menguasai perasaannya.”
    ”Apakah yang telah menggoncangkan perasaan itu Kiai?”
    “Ah, entahlah. Mungkin salah mengerti, salah tafsir tetapi mungkin juga karena ia tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapinya. Mula-mula angger Wuranta merasa dirinya tidak mendapat perhatian dan pimpinan prajurit Pajang. Padahal ia merasa bahwa ialah yang telah membuka jalan masuk kepadepokan ini. Memang sebenarnyalah demilkian. Tanpa angger Wuranta maka semuanya akan menjadi lain. Mungkin sampai saat ini angger Untara belum berhasil memasuki padepokan ini. Tetapi itu hanya perasaannya saja. Sebenarnya pimpinan prajurit Pajang menaruh perhatian terhadap semua unsur didalam padepokan ini”
    Ki Tanu Metir berhenti sedjenak. Dicobanya untuk menangkap kesan kata-katanya pada wajah anak2 muda itu. Tetapi yang ditangkapnya adalah berbagai pertanyan yang memancar dari sorot mata mereka, seolah-olah mereka bertanya ”Apakah yang telah dilakukanya?”
    Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan kata-katanya “Hampir saja angger Wuranta terjerumus dalam sikap yang tidak terpuji. Bahkan hampir mencelakakan dirinya. Sikapnya terhadap para prajurit Pajang terlampau kasar. Justru karena rasa rendah diri yang menjalari dadanya. Tetapi itu sudah lampau. Angger Wuranta telah menyadari keadaannya, bahwa orang-orang Pajang disini mempunyai banyak sekali persoalan yang harus diselesaikan. Diantaranya adalah soal yang menyangkut angger Wuranta itu sendiri.”
    Ketiga anak-anak muda itu masih terdiam. Tetapi Sekar Mirah yang menundukkan wajahnya, tiba-tiba berkata “Apakah Kiai menyindir aku?”

  21. Halaman [21]

    “Oh” Ki Tanu Metir terperanjat. Namun kemudian ia tetersenyum ”jangan salah sangka ngger. Aku tidak ingin menyidir seseorang. Aku sudah mengatakan bahwa dalam keadaan serupa ini banyak sekali persoalan yang tumbuh dan bahkan berkembang dipadepokan ini. Angger Wuranta adalah gambaran dari seorang anak muda yang kecewa. Aku tidak tahu apakah yang mengecewakannya. Kemudian seolah-olah ia membuat sebuah neraca. Neraca yang menimbang berat jasa dan penghargaan. Hampir ia berteriak ”Jasaku tidak dihargai orang.” Untunglah bahwa hal itu belum terjadi. Nah, aku kira persoalan angger agak berbeda. Angger sama sekali tidak ingin dihargai karena jasa-jasa angger. Bukankah begitu? “
    Sekai Mirah tidak menjawab.
    ”Mungkin padepokan ini terlampau sepi buat angger Sekar Mirah. Mungkin tidak seramai Kademangan Sangkal Putung. Di sana angger pasti akan dikerununi oleh orang-orang Sangkal Putung, para pemimpin Kademangan dan para pemimpin prajurit Pajang. Tetapi keadaan Sangkal Putung berbeda dengan keadaan disini.
    Di Sangkal Putung orang-orang sudah tidak disibukkan oleh berbagai macam persoalan. Sedang disini sangat berlainan. ”
    ” Aku tahu. Aku tahu Kiai ” potong Sekar Mirah ”Maksud Kiai ingin mengatakan bahwa aku terlampau manja. Bukankah begitu ? Nah, buat apa aku bermanja-manja disini. Itupun salah satu sebab kenapa aku harus segera pulang ke Sangkal Putung”
    ” Bukan begitu ngger.” sahut Kiai Gringsing ”meskipun dugaan angger itu sebagian benar. Tetapi maksudku adalah, bahwa angger telah cukup dewasa. Karena itu angger seharusnya menghadapi setiap persoalan dengan sikap dewasa. Bukan sebagai seorang gadis kecil yang patah hati ditinggal kekasih. Lalu lari tanpa mempertimbangkan persoalan yang akan dihadapi ditengah jalan. Tetapi angger tidak akan berbuat demikian, Angger adalah puteri seorang Demang yang cukup bijaksana. Karena itulah maka kebijaksanaan itu pasti juga angger miliki. Juga pada angger Swandaru yang setiap hari mengikuti cara Ki Demang melakukan tugasnya.” sekali lagi Ki Tanu Metir berhenti. Sekali lagi ia menunggu kesan yang terbayang diwajah anak-anak muda itu.
    Kemudian katanya ”Nah, kalau angger sependapat, maka aku harap angger tidak meninggalkan padepokan ini untuk sementara. Aku menyangka bahwa Ki Tambak Wedi, Argajaya dan Sidanti masih berkeliaran disekitar tempat ini. Setiap orang yang dijumpainya pasti akan menjadi korban pelepasan dendamnya. Nah, bayangkan, apa yang akan dilakukan oleh Sidanti apabila bertemu dengan orang itu ditengah jalan. ”

  22. Halaman [22]
    …… tolong di periksa kata-kata sebelum ini, karena tidak ter scan dengan baik……

    mendengar nama Sidanti, sehingga tumbuhlah kecemasan yang menggores jantungnya yang berdebaran. Meskipun demikian gadis itu tidak menjawab sepatah katapun. Namun bagi Ki Tanu Metir kediamannya adalah cukup jelas. Kediamannya itu adalah sebuah jawaban yang cukup tegas.
    ” Tenangkanlah hati kalian disini. Hadapilah semuanya dengan sikap yang masak. Pengalaman yang telah terjadi seharusnya membuat kalian dewasa.”
    Tak seorangpun yang menyahut. Dan sejenak kemudian Ki Tanu Metir berkata ” Beristirahatlah, Aku akan pergi kebanjar. Mungkin ada sesuatu jang harus aku kerjakan disana, diantara orang-orang yang terluka. Aku datang hanya sekedar menengok kalian.”
    Ketika Ki Tanu Metir meninggalkan mereka maka untuk sesaat mereka masih tetap berdiam diri. Sekar Mirah menundukkan wajahnya dalam-dalam meskipun ia masih tetap berpegangan tangan kakaknya. Agung Sedayu melepaskan pandangan matanya menembus lubang pintu yang masih sedikit terbuka, sedang Swandaru sekali-sekali mengangguk-anggukkan kepalanya. Terngiang ditelinganya kata-kata gurunya ”Pengalaman harus membuat kalian dewasa.”
    Malam yang hitam pekat berjalan dengan tenangnya. Semakin. lama semakin jauh. Bintang-bintang dilangit bergeser sedikit demi sedikit ke-Barat. Namun ketiga anak-anak muda itu masih saja duduk membeku.
    Ternyata malam itu tidak seorangpun diantara mereka yang tertidur. Mereka sama sekali tidak dapat melepaskaa kegelisahan dan kecemasan tentang bermacam-macam persoalan. Tetapi Sekar Mirah sudah tidak lagi mendesak kakaknya untuk meninggalkan padepokan itu mendahului ke Sangkal Putung. Setiap kali keinginan
    itu tumbuh dihatinya, maka terbayanglah wajah Sidanti yang sangat menakutkan baginya.
    Sehari berikutnya mereka hampir tidak keluar dari rumah itu. Hanya Agung Sedayu sajalah yang pergi kebanjar sebentar untuk bertemu dengan kakaknya yang masih sangat sibuk. Sebenarnya anak muda itu ingin juga bertemu dengan Wuranta. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. la tidak tahu bagaimanakah sikap Wuranta itu kini terhadapnya. Dan ia masih tetap mencari-cari jawab atas pertanyaannya yang mengganggunya selama ini tentang sikap anak muda itu.
    Tetapi pada saat Agung Sedau berada dibanjar padepokan itu Wuranta sedang menunggui pemakaman kakek tua suami isteri yang telah menolongnya.

  23. lama-lama saya jadi malu dan merasa kerdil, semangat pasukan pajang membangun ADBM ini memang luar biasa, sementara hari ini saya cuma memetik hasilnya, “terima kasih” para pendahulu.

  24. Soeltan Padjang menagih itoe Semangkin dan Prihatin,
    temtoe pada itoe zaman beloen ada istilah Apel Washington atawa Apel Malang..

    • apel mekintos sudah release belom ki ?

      • apel malam minggu……????!!!!!
        (menika karemanipun Ki Menggung KY)

        • ki menggung KY emang remenane aPEL-aPEL,

          aPElagi yang kinyis-kinyis……langsung sahuT.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: