Buku 26

DALAM kediaman mereka, para prajurit itu bertanya-tanya di dalam hati, kenapa tiba-tiba saja sikap anak Jati Anom itu berubah. Anak muda itu tidak lagi menepuk dada sambil menyebut namanya, dan tidak lagi berkata tentang Untara. Sama sekali tidak ada lagi bekas kesombongannya pada pengakuannya yang ikhlas itu. Bahkan sikapnya yang menyakitkan hati, bahwa seolah-olah Untara, senapati mereka yang mereka hormati, harus juga dianggapnya terlampau remeh, dan seolah-olah dalam keadaan serupa itu harus datang kepadanya dan menyatakan terima kasih serta mohon maaf atas segala kesalahannya. Hal yang bagi para prajurit itu tidak akan mungkin sekali terjadi. Untara adalah seorang senapati yang menggenggam tanggung jawab atas wilayah di sekitar Gunung Merapi, bahkan di dataran yang membentang sampai ke pesisir kidul. Meskipun Untara juga anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Jati Anom, namun kedudukannya terlampau jauh terpaut dari anak muda yang bernama Wuranta itu. Seandainya pada masa-masa kecilnya mereka berkawan dan bermain bersama dalam satu lingkaran permainan, tetapi keadaan telah membentuk mereka di kedudukan mereka masing-masing.

Belum sempat salah seorang dari mereka dapat memecahkan kediaman itu, maka mereka pun dikejutkan oleh bayangan yang mendekati mereka. Tidak hanya seorang, tetapi lima orang. Mereka mendengar langkah mereka semakin lama semakin dekat, dan melihat mereka semakin jelas. Di dalam remang-remang cahaya obor di kejauhan mereka dapat memastikan bahwa sebagian dari mereka adalah prajurit-prajurit Pajang.

“Para perwira,” desah para prajurit hampir bersamaan. Mereka menyangka bahwa kelima orang itu adalah satu atau dua orang perwira bersama dengan para pengawalnya mengadakan peninjauan keliling. Melihat para prajurit yang sedang bertugas dan melihat orang-orang yang terluka atau terbunuh di peperangan. Adalah menjadi kebiasaan para perwira Pajang untuk melihat, bahkan menangani sendiri tugas-tugas yang berat dan sulit.

Ketika orang-orang yang datang itu menjadi semakin dekat, maka para prajurit itu pun berdiri berjajar, memberi mereka jalan, dan bersiap apabila mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan. Sedang Wuranta pun kemudian bergeser di belakang para prajurit itu. Ternyata kelima orang itu berjalan ke arah para prajurit itu, sehingga para prajurit itu pun terpaksa mempersiapkan diri mereka untuk menerima kunjungan para perwira. Sejenak mereka menebarkan pandangan mata mereka, untuk mengetahui di mana kawan-kawan mereka berada. Mungkin mereka harus membawa para perwira itu ke tempat-tempat perondan, ke tempat para prajurit mengumpulkan orang-orang yang terluka yang belum sempat dibawa ke pendapa banjar, bahkan mungkin melihat mayat-mayat yang sudah dikumpulkan untuk dikuburkan besok pagi.

Ketika terlihat oleh para prajurit itu mayat laki-laki tua beserta isterinya, maka mereka pun berpaling. Hanya sejenak. Ketika mereka melihat Wuranta di belakang mereka, maka mereka menganggap bahwa seharusnya Wuranta-lah yang wajib memberikan keterangannya.

Kelima orang itu menjadi semakin dekat. Hampir tidak percaya para prajurit itu menajamkan matanya, yang satu di antara mereka ternyata adalah Untara sendiri.

“Ki Untara,” salah seorang dari mereka berdesis.

“Oh,” sahut kawannya perlahan-lahan, “ya, Ki Untara sendiri.”

Ketiga prajurit itu kini berdiri tegak berjajar. Untara memang sering berbuat demikian. Meninjau keadaan langsung di tempat-tempat yang dianggapnya penting. Seperti kebiasaannya berdiri di ujung peperangan, maka ia pun selalu berada di dalam kesibukan akibat dari setiap peperangan, di antara para prajuritnya.

Para prajurit itu menganggukkan kepala mereka ketika Untara lewat di hadapan mereka.

Untara dan para pengawalnya pun menganggukkan kepala mereka pula. Namun tiba-tiba Untara itu menghentikan langkahnya. Ia berdiri di hadapan para prajurit itu. Dengan demikian maka para prajurit itu pun menjadi berdebar-debar.

Sejenak Untara hanya berdiri saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata yang dipandangnya bukan wajah-wajah prajurit yang berdiri tegak di hadapannya, tetapi orang yang berdiri di belakang mereka. Wuranta.

Para prajurit itu melihat arah pandangan mata Untara. Mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Apakah yang akan dilakukan oleh senapati itu? Apakah ia telah mendengar laporan bahwa Wuranta pernah merendahkannya? Dan apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Wuranta setelah ia berhadapan langsung dengan Untara yang namanya sering disebut-sebutnya.

Sejenak suasana dicengkam oleh kesepian. Untara berdiri saja di tempatnya, dan Wuranta seolah-olah menjadi beku.

Namun kemudian mereka melihat Untara itu mengerutkan keningnya sambil berdesis, “Wuranta, bukankah kau itu?”

Wuranta menjadi termangu-mangu. Bagaimana ia harus bersikap terhadap senapati itu di dalam suasana peperangan? Apakah ia harus bersikap seperti para prajurit itu dan menjawabnya seperti jawaban seorang prajurit pula?

Tetapi kata-kata Untara berikutnya telah mengejutkannya dan bahkan mengejutkan para prajurit yang berdiri tegak itu. Katanya, “Aku memang mencarimu Wuranta, sambil melihat-lihat keadaan.”

Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Apakah sebabnya Untara mencarinya? Tiba-tiba ia teringat akan sikapnya selama ini. Karena itu maka ia bertanya di dalam hatinya, seperti pertanyaan yang bergetar di dalam dada para prajurit itu “Apakah Untara telah benar-benar mendengar sikap Wuranta yang kadang-kadang merendahkannya sebagai seorang senapati, dan ia datang sendiri untuk mengambil tindakan terhadapnya?”

Wuranta yang berdiri tegak seperti para prajurit itu masih saja tegak seperti sebatang tonggak. Namun sejenak kemudian ia berhasil menguasai perasaannya yang tidak lagi melonjak-lonjak. Ia mencoba menenangkan dirinya dan berkata di dalam hati, “Mudah-mudahan aku tidak menjadi gila lagi di hadapan Untara sendiri.”

Para prajurit yang berdiri di muka Wuranta pun menjadi berdebar-debar pula. Tiba-tiba mereka merasa iba seandainya Untara marah dan mengambil sesuatu tindakan atas Wuranta. Pengakuan Wuranta yang ikhlas atas kesalahannya pada saat-saat terakhir telah menyingkirkan sama sekali kebencian para prajurit itu atasnya. Tetapi seandainya Untara sendiri yang datang mencarinya, dan kemudian berbuat sesuatu atasnya, maka tidak seorang pun dari mereka yang dapat menolongnya.

Sejenak kemudian terdengar Untara berkata pula “Wuranta, kemarilah.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam ketenangan kini ia dapat menanggapi persoalannya. Ia telah memutuskan untuk tidak bersikap sebagai seorang prajurit. Ia memang bukan seorang prajurit. Ia adalah anak Jati Anom, dan Untara adalah anak Jati Anom pula.

Perlahan-lahan ia melangkah maju, berjalan di sisi ketiga prajurit yang masih berdiri berjajar dengan tegapnya.

“Apakah kau memerlukan aku Untara?” bertanya Wuranta. Hati para prajurit itu pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Ya, aku memerlukanmu,” sahut Untara.

“Apakah ada sesuatu yang penting di antara kita?” bertanya Wuranta sareh.

“Tentu,” sahut Untara, “aku memang sengaja datang kepadamu karena aku dengar kau tidak ingin pergi ke banjar padepokan ini. Apakah memang begitu?”

Sejenak Wuranta menjadi ragu-ragu. Tetapi ia ingin berkata sejujurnya, seperti yang terjadi. Maka katanya, “Ya, aku memang tidak ingin pergi ke banjar padepokan. Dari manakah kau tahu?”

Ketiga prajurit itu masih saja diliputi oleh kecemasan. Apalagi ketika mereka melihat sikap Wuranta. Untara adalah senapati perang. Sedang Wuranta menanggapi seperti terhadap teman sepermainan. Meskipun seandainya dahulu memang demikian, tetapi keadaan kini harus sudah berbeda.

“Kenapa kau tidak mau pergi ke banjar?” bertanya Untara.

“Tidak apa-apa,” jawab Wuranta, “aku menunggui kakek tua yang meninggal bersama isterinya.”

“Ya, aku mendengar dari Ki Tanu Metir. Semuanya dikatakannya kepadaku tentang kau. Dan aku dapat mengerti kenapa kau tidak mau datang ke banjar.”

Wuranta mengerutkan keningnya. Apa sajakah yang telah dikatakan oleh Ki Tanu Metir itu tentang dirinya? Dan Wuranta mendengar Untara meneruskan, “Tetapi Ki Tanu Metir tidak mengatakannya kepada Agung Sedayu. Mungkin waktunya dianggapnya kurang tepat. Karena itu ketahuilah, bahwa Agung Sedayu menjadi bingung menanggapi sikapmu. Tetapi aku tidak bingung Wuranta. Aku mengerti, sebab Ki Tanu Metir mengatakan kepadaku. Juga tentang laki-laki tua itu.” Untara berhenti sejenak, lalu diteruskannya, “Aku datang kepadamu untuk mengucapkan terima kasih atas segala jasa-jasamu Wuranta. Dan aku minta kau datang ke banjar padepokan ini. Aku tahu apa yang kau rasakan. Bukan saja karena laki-laki tua seperti yang kau sebutkan.”

Sejenak Wuranta terbungkam. Tidak terlintas di dalam otaknya, bahwa benar-benar Untara telah datang kepadanya untuk mengucapkan terima kasih.

Apalagi ketiga prajurit yang kini berdiri di belakangnya. Mereka berdiri dengan mulut ternganga. Apa yang tidak mungkin baginya ternyata kini benar-benar telah terjadi. Bahwa senapati yang bernama Untara itu datang kepada Wuranta, anak Jati Anom untuk mengucapkan terima kasih.

Sejenak suasana menjadi sepi, yang terdengar hanyalah nafas Wuranta yang berdesah. Di kejauhan satu dua orang prajurit masih berkeliaran di dalam tugasnya.

“Wuranta,” terdengar Untara berkata “aku minta kepadamu, datanglah ke banjar padepokan ini. Hadapilah persoalanmu dengan jiwa yang besar. Aku adalah anak muda pula seperti kau, dan aku adalah kakak Agung Sedayu itu. Aku pun merasakan sesuatu di dalam diriku, justru karena aku seorang kakak, seorang yang lebih tua, yang sepantasnya telah melakukannya lebih dahulu. Tetapi kesibukanku ternyata tidak memberi aku kesempatan.”

Wuranta tidak segera menjawab. Ia masih diliputi oleh suatu perasaan yang aneh. Ia tiba-tiba saja dihadapkan pada suatu kenyataan yang diharapkannya terjadi di dalam kegelapan hati. Dalam kegelapan ia memang mengucapkan kata-kata itu, bahwa seharusnya Untara-lah yang datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih. Tetapi bahwa hal itu terjadi justru setelah hatinya menjadi tenang, malahan membuatnya menjadi termangu-mangu.

Namun ternyata sesuatu telah menyusup di dalam hati anak muda itu. Lamat-lamat tergores di dalam hatinya, suatu jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganggunya. “Apakah aku masih diperlukan oleh para prajurit Pajang? Dan apakah aku berhak ikut menikmati kemenangan ini?”

Kalau Untara, senapati tertinggi di daerah ini datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih, maka seharusnya ia dapat berbangga karenanya. Seharusnya ia merasa bahwa dirinya bukan sekedar sampah yang disisihkan, yang tidak lagi dapat dipergunakan.

“Wuranta,” berkata Untara kemudian, “aku pasti akan menyetujui permintaanmu tentang laki-laki tua yang kau maksud beserta isterinya. Aku dapat mengerti bahwa laki-laki itu pun mendapat penghargaan khusus. Tetapi biarlah para prajurit yang berkewajiban mengurusnya. Mereka akan tahu apa yang harus mereka lakukan,” Untara itu berhenti sejenak. “Nah, bagaimana?”

“Apakah yang harus aku lakukan?” bertanya Wuranta.

“Beristirahat di banjar padepokan. Besok pada saatnya kita bersama-sama pergi ke Jati Anom. Aku akan meninggalkan separo dari prajurit Pajang di padepokan ini dengan beberapa orang penghubung berkuda. Sedang aku sendiri akan tetap berada di Jati Anom.”

Wuranta masih saja tegak seperti patung. Ia justru menjadi bingung menghadapi peristiwa yang tiba-tiba dan tidak diduga sama sekali. Untara sendiri datang kepadanya dan minta ia beristirahat di banjar padepokan.

Kalau yang datang dan minta kepadanya itu Untara sudah tentu sangat sulitlah baginya untuk menolak. Tetapi perasaannya tidak cukup kuat untuk menerima permintaan itu dan hatinya pasti tidak akan cukup besar menghadapi Agung Sedayu dan Sekar Mirah yang berada di banjar itu pula.

Tetapi sejenak kemudian Untara berkata, “Wuranta, baiklah aku beritahukan bahwa aku telah menyetujui permintaan Sekar Mirah dan kedua anak-anak muda yang bersamanya, untuk berpindah tempat peristirahatan. Tidak di banjar itu. Tetapi mereka kini berada di rumah di sebelah banjar. Rumah yang tidak dipakai menyimpan orang-orang sakit apalagi mayat-mayat para prajurit yang terbunuh di peperangan. Di banjar padepokan Sekar Mirah selalu berada dalam ketakutan.”

Wuranta tiba-tiba mengangkat wajahnya. Jadi di banjar sudah tidak ada lagi Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan Swandaru. Tetapi kenapa Ki Tanu Metir tidak mengatakannya?

Agaknya Untara mengerti pertanyaan di dalam dada Wuranta, sehingga ia berkata, “Mereka meninggalkan banjar ketika Ki Tanu Metir pergi bersamamu. Bukankah kau juga pergi ke banjar tetapi kau tidak singgah di pringgitan?”

Wuranta mengangguk, “Ya, Untara. Aku memang pergi ke banjar untuk memanggil Ki Tanu Metir.”

“Tetapi kedatangan orang tua itu terlambat. Kakek yang kau maksud suami isteri itu telah meninggal. Bukankah begitu?”

“Ya, itulah mayat mereka.”

Untara berpaling. Dilihatnya dalam keremangan cahaya obor, seorang perempuan membeku di dada suaminya yang beku pula. Terasa dada Untara berdesir. Ia sudah melihat mayat di peperangan dalam keadaan yang paling mengerikan. Tetapi baru kali ini ia melihat seorang isteri mati memeluk suaminya yang mati pula. Mengharukan.

“Mereka akan mendapat perawatan yang sewajarnya. Aku mengerti, bahwa laki-laki tua itu turut menentukan saat-saat yang terakhir dari peperangan ini. Seandainya ia tidak berusaha memberi kau jalan maka keadaan akan menjadi berbeda. Jasanya tidak kalah dengan setiap orang prajurit Pajang. Jasanya hampir sebesar jasamu sendiri.”

“Ah,” Wuranta berdesah. Jasa laki-laki tua itu tidak kalah dengan jasa setiap prajurit Pajang. Tetapi jasa itu masih belum sebesar jasanya. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang senapati seperti Untara, senapati yang memimpin sendiri peperangan ini.

Wuranta justru menjadi terbungkam. Tetapi perlahan-lahan ia merasakan bahwa di dalam dadanya berkembang sebuah kebanggaan. Ia tidak perlu merasa dirinya terlampau rendah. Sehingga ia tidak perlu mencari cara yang aneh-aneh untuk menggelembungkan dirinya, menyembunyikan kekerdilannya.

Karena Wuranta tidak berkata sepatah kata pun, maka Untara meneruskan “Nah, marilah kita pergi ke banjar padepokan ini.”

Wuranta tidak dapat menolak lagi. Karena itu ia hanya dapat menganggukkan kepalanya dan berdesis, “Baiklah, Untara.”

“Besok atau lusa, apabila keadaan telah menjadi tenteram sebagian pasukanku akan kembali ke Jati Anom. Aku akan tetap berkedudukan di sana. Kita tidak perlu mencemaskan kekuatan orang-orang Jipang lagi di daerah ini. Juga orang-orang dari padepokan Tambak Wedi. Kita telah berhasil menyumbat mulut sarang mereka dan menangkap segenap isinya di dalam sarang ini, Mungkin masih ada satu dua kelompok kecil orang-orang Jipang yang keras kepala di-daerah-daerah lain. Tetapi itu pun pasti akan segera diselesaikan.”

Kemudian kepada para prajurit yang berdiri tegak di belakang Wuranta, Untara berkata, “Nah, kau sudah mendengar tentang laki-laki tua itu. Usahakan besok mayatnya berdua telah berada di banjar. Mayat itu akan dikuburkan bersama dengan orang-orang Pajang yang gugur. Mungkin kalian masih belum dapat merasakan jasa laki-laki tua itu, tetapi pada saatnya kalian akan mengetahuinya.”

Sejenak kemudian Untara dan para pengawalnya telah kembali ke banjar padepokan bersama Wuranta. Di banjar itu benar-benar tidak dijumpainya lagi Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, yang berada di sana tinggal beberapa orang perwira prajurit Pajang dan Ki Tanu Metir.

Ternyata sikap para perwira yang langsung mengerti tugas-tugas berat Wuranta agak berbeda dengan sikap para prajurit. Namun setelah Wuranta berhasil merenungkan dengan tenang, maka sumber dari sikap yang tidak menyenangkan dari para prajurit itu adalah dirinya sendiri. Usahanya untuk menutupi kekerdilannya, ternyata telah banyak menyinggung perasaan orang lain.

Para prajurit yang ditinggalkan oleh Wuranta di halaman di belakang halaman banjar padepokan, sejenak saling berpandangan. Salah seorang dari mereka kemudian berdesis, “He, ternyata kata-kata anak muda itu benar terjadi. Untaralah yang mencarinya dan mengucapkan terima kasih kepadanya.”

“Memang menurut pendengaranku, apa yang dilakukannya dapat menentukan penyelesaian ini.”

“Aku menyangka ia terlampau sombong. Tetapi aku menjadi heran, bahwa pada saat-saat terakhir ia seakan-akan mengakui kesalahannya, mengakui sikapnya yang tidak sewajarnya.”

“Ah,” desah prajurit yang lain, “kenapa hal itu kita risaukan. Biarlah para perwira mengurusnya. Urusan kita adalah, berkeliling padepokan, terutama di sekitar banjar.”

“Tetapi mayat kedua suami isteri itu?”

“Oh, biarlah mereka yang bertugas untuk itu. Kita beritahukan saja kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan.”

Ketika para prajurit itu kemudian melakukan tugas masing-masing, maka tempat itu pun menjadi sepi kembali.

Di dalam lingkungan para perwira yang sebagian besar dari mereka telah mengerti benar-benar akan peranannya, maka Wuranta merasa telah menemukan dirinya kembali. Betapa penyesalan dan kecewa melanda dadanya apabila diingatnya segala tindak tanduknya selama ini. Bahkan ia merasa heran sendiri, kenapa ia seakan-akan menjadi liar dan kehilangan pegangan.

Meskipun demikian setiap kali ia teringat akan Sekar Mirah maka hatinya masih terasa pahit. Gadis itu belum lama dikenalnya. Baru beberapa hari. Tetapi yang beberapa hari itu ternjata telah menjadikannya hampir gila.

Malampun menjadi semakin malam. Di kejauhan terdengar anjing-anjing liar berteriak-teriak berebut makan. Terasa betapa angin membawa bau darah menyentuh hidung mereka yang tajam. Sekali-sekali terdengar suara burung hantu dan burung kedasih seakan-akan sahut-menyahut, meneriakkan kepedihan yang ngelangut.

Sementara para prajurit yang bertugas masih saja sibuk hampir semalam suntuk, maka di sebuah rumah yang tidak begitu jauh dari banjar itu, Sekar Mirah duduk berpegangan tangan kakaknya. Meskipun ia sudah tidak lagi berada di antara mayat dan orang-orang yang terluka, namun ia masih diburu saja oleh takut dan ngeri.

“Kemanakah Ki Tanu Metir kini?” bertanya Swandaru kepada Agung Sedayu.

“Entahlah. Mungkin masih berada di banjar atau kemana. Mungkin guru sedang mencari Wuranta itu lagi. Atau mungkin kini sedang tidur nyenyak.”

Swandaru terdiam. Gurunya kadang-kadang tidak memberitahukan kemana ia pergi. Bahkan kadang-kadang sampai berhari-hari. Tetapi dalam suasana seperti ini, maka mereka seolah-olah selalu ingin berada bersamanya. Bukan karena perasaan takut bahwa tiba-tiba mereka harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi, tetapi perasaan sepi seakan-akan menghunjam dalam-dalam di jantung mereka.

Sesaat mereka saling berdiam diri. Namun dengan demikian maka terasa malam menjadi kian sepi. Kesepian itu ternyata tidak menyenangkan sekali, sehingga tanpa sesadarnya Agung Sedayu berbicara sekedar untuk menyentakkan perasaan sepi itu, “Apakah kita tidak akan tidur?”

Swandaru mengangkat wajahnya. Dipandanginya lampu minyak yang menyala berkeredipan. Kemudian Swandaru itu pun berkata kepada Sekar Mirah, “Mirah, tidurlah.”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku ngeri, Kakang.”

“Di sini tidak ada apa-apa, Mirah,” berkata kakaknya. “Di sini tidak seperti banjar padepokan yang penuh dengan orang-orang terluka. Di sini kita mendapat tempat yang baik. Agaknya pemilik rumah ini pun orang yang baik pula”

“Tetapi ia mendendam seperti orang-orang Tambak Wedi yang lain, Kakang. Siapa tahu,” Sekar Mirah berhenti sejenak sambil memandang berkeliling kalau-kalau ada orang lain di dalam ruangan itu. Ketika tidak dilihatnya seseorang maka ia berkata perlahan-lahan, “Siapa tahu bahwa ia akan mempergunakan setiap kesempatan untuk melepaskan dendamnya.”

“Tetapi tidak seorang pun dari rumah ini terbunuh. Suami perempuan itu ternyata hanya terluka, tidak terlampau parah. Dan sekarang laki-laki itu berada di banjar.”

“Itu sudah cukup membuat hatinya mendendam,” Agung Sedayu dan Swandaru kemudian berdiam diri. Mereka melihat wajah Sekar Mirah yang dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

“Kenapa kita tidak kembali saja ke Sangkal Putung, Kakang?” bertanya Sekar Mirah tiba-tiba.

“Ah, bukankah hari masih malam?” jawab kakaknya.

“Tetapi itu lebih baik daripada aku berada di sini. Aku tidak juga dapat tidur dikejar oleh perasaan takut dan ngeri.”

“Jalan masih cukup berbahaya, Mirah,” sahut Agung Sedayu.

“Bukankah orang-orang Jipang dan Tambak Wedi mutlak dihancurkan di sini.”

“Tetapi justru orang-orang yang terpenting dapat meloloskan diri. Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya.”

“Tetapi mereka pasti lari jauh-jauh. Mereka tidak akan berada di sekitar padepokan ini. Apalagi di jalan ke Sangkal Putung. Mereka pasti tidak akan menyangka bahwa kita akan berjalan malam ini.”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Kini pertimbangan-pertimbangannya datang kembali. Tidak seperti pada saat ia berangkat dari Sangkal Putung. Pada saat ia merasa kehilangan Sekar Mirah. Pada saat itu ia kehilangan sama sekali setiap pertimbangan apapun. Ia hanya ingin pergi dari Sangkal Putung segera untuk berusaha membebaskan Sekar Mirah. Tetapi kini, setelah Sekar Mirah itu bebas dari cengkeraman Sidanti, maka sifat-sifatnya telah datang kembali. Pertimbangan-pertimbangannya bermunculan dari bermacam-macam segi.

“Perjalanan yang demikian akan sangat berbahaya,” berkata Agung Sedayu.

“Bagiku perjalanan itu akan lebih baik. Aku tidak kehilangan waktu semalam ini. Daripada kita duduk tanpa arti di sini, bukankah lebih baik kita berjalan ke Sangkal Putung? Besok kita pasti sudah mencapai kademangan itu. Dan besok kita sudah dapat bersama dengan ayah dan ibu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Tetapi Sekar Mirah berkata terus, “Apakah yang kita dapatkan dengan duduk-duduk saja begini? Aku sudah terlampau rindu kepada ayah dan ibu. Ayah dan ibu pun pasti akan terlalu gelisah menunggu.”

Swandaru tidak menjawab dan Agung Sedayu pun berdiam diri. Tetapi pertimbangannya sama sekali tidak sejalan dengan keinginan Sekar Mirah itu.

“Bagaimana, Kakang?” bertanya Sekar Mirah. “Marila kita pulang sekarang.”

Swandaru pun menjadi bimbang. Sebenarnya ia juga ingin segera pulang ke Sangkal Putung. Ia akan segera berkata kepada ibunya, bahwa janjinya telah terpenuhi. Pulang dengan membawa Sekar Mirah. Dan ibunya pun pasti akan bergembira karenanya. Kalau ibunya masih saja menangis, maka ibunya akan menjadi tenang.

Dalam kebimbangan itu ia mendengar Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Kakang? Apakah tidak lebih baik kita pulang saja. Di sini kita sama sekali tidak berarti apa-apa. Mungkin orang-orang Pajang menganggap kita hanya memberati pekerjaan mereka saja.”

Akhirnya Agung Sedayu terpaksa mencegahnya. Katanya, “Jangan, Sekar Mirah. Aku kira kurang baik kiranya apabila kita tergesa-gesa kembali ke Sangkal Putung.”

“Ah,” Sekar Mirah berdesah, “sekehendakmulah kalau kau tidak akan pergi ke Sangkal Putung. Aku kira kau memang tidak akan pergi ke Sangkal Putung lagi. Kau sudah kembali ke kampung halamanmu, bersama kakakmu pula. Apa gunanya lagi kau pergi ke Sangkal Putung? Tetapi aku pasti harus pulang. Ayah dan ibuku menunggu aku. Mungkin ibuku selalu menangis dan ayahku tidak tenang bekerja. Karena itu aku akan segera kembali malam ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Selama ini ia tidak berpikir bahwa ia telah berada dekat dengan kampung halamannya. Kalau ia ingin kembali pulang, maka ia seharusnya pulang ke Jati Anom, ke rumah peninggalan ayahnya yang isinya telah hancur karena pokal Sidanti dan orang-orang Jipang. Tetapi selama ini ia seakan-akan merasa dirinya harus kembali ke Sangkal Putung. Ke tempat tugas pamannya, Widura.

Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu dihadapkan pada kebimbangannya sendiri. Apakah ia harus pergi ke Sangkal Putung atau ia akan tinggal di Jati Anom.

“Ayolah, Kakang Swandaru,” ajak Sekar Mirah, “kita pergi berdua. Di sini kita tidak mempunyai teman seorang pun kecuali kita berdua. Tetapi di Sangkal Putung setiap hidung adalah teman-teman kita yang baik, yang mengerti kesusahan dan kepedihan hati kita. Tetapi di sini kita seperti orang asing, yang dianggap mengganggu pekerjaan mereka saja.”

“Jangan berprasangka, Mirah,” sahut Agung Sedayu. “Tak seorang pun yang menganggap bahwa kita di sini hanya menambah pekerjaan orang-orang Pajang. Bukankah kita tidak mengganggu mereka. Kita dapat mengurus diri kita sendiri. Tetapi yang penting diperhatikan adalah kemungkinan yang akan kita temui di sepanjang jalan.”

“Kalau kau ingin tinggal di sini tinggallah,” potong Sekar Mirah.

“Aku datang bersama Adi Swandaru. Aku dan Adi Swandaru telah menyanggupkan diri kepada Ki Demang Sangkal Putung untuk mencarimu. Kalau kau diketemukan, maka sepantasnya bahwa kami berdualah yang harus menyerahkan kau kepada Ki Demang berdua.”

“Tidak perlu,” sahut Sekar Mirah, “kau tidak perlu pergi ke Sangkal Putung. Aku akan pulang bersama Kakang Swandaru. Kau hanya akan memperlambat perjalanan saja. Ternyata kau masih ingin tinggal di sini. Bahkan kau pasti masih ingin singgah di Jati Anom sehari atau dua hari.”

“Tidak Mirah. Aku tidak akan singgah di Jati Anom,” jawab Agung Sedayu. Tetapi ia menjadi heran mendengar jawaban itu, jawabannya sendiri. Dan sekali lagi ia menjadi bimbang, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung? Namun selanjutnya berkata, “Aku akan pergi ke Sangkal Putung mengantarkanmu. Tetapi jangan malam ini. Kita harus memperhitungkan setiap keadaan. Apalagi Kakang Untara pasti akan mencari kita. Sebab kita adalah sebagian dari tanggung jawabnya.”

“Bohong,” bantah Sekar Mirah. “Untara sama sekali tidak mempedulikan kita lagi. Apakah kita pergi, apakah kita tinggal di sini. Untara tidak akan mempertimbangkan. Bahkan orang-orangnya sajalah yang akan menggerutu karena mereka harus melihat kehadiran kita di sini.”

Agung Sedayu terdiam. Tetapi hatinya bergolak. Ia ingin membantah pendapat gadis itu, tetapi ia tidak ingin bertengkar. Sedang Swandaru yang kebingungan duduk saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kepalanya itu terasa pening.

Mereka terperanjat ketika mereka mendengar suara tertawa lirih. Kemudian terdengar pintu berderit. Perlahan-lahan seorang tua masuk ke dalam ruangan itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

“Hem,” orang tua itu berdesah, “memang bermacam-macam pikiran dan perasaan bergulat di dalam padepokan ini.”

Ketiga anak muda yang berada di dalam ruangan itu memandanginya sambil bertanya-tanya di dalam hati. Apakah yang dimaksud oleh Ki Tanu Metir itu?

“Baru saja aku melihat Angger Wuranta yang sedang digoncangkan oleh perasaannya. Ia mengalami persoalan jiwa yang ternyata menggoyahkan keseimbangannya.”

Ketika Ki Tanu Metir terdiam sejenak maka Agung Sedayu pun bertanya, “Apakah yang telah terjadi dengan Wuranta, Guru?”

“Sekarang tidak apa-apa. Angger Wuranta telah bersedia pergi ke banjar padepokan. Aku kira ia telah berhasil menguasai perasaannya.”

“Apakah yang telah menggoncangkan perasaan itu, Kiai?”

“Ah, entahlah. Mungkin salah mengerti, salah tafsir, tetapi mungkin juga karena ia tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapinya. Mula-mula Angger Wuranta merasa dirinya tidak mendapat perhatian dari pimpinan prajurit Pajang. Padahal ia merasa bahwa dialah yang telah membuka jalan masuk ke padepokan ini. Memang sebenarnyalah demikian. Tanpa Angger Wuranta maka semuanya akan menjadi lain. Mungkin sampai saat ini Angger Untara belum berhasil memasuki padepokan ini. Tetapi itu hanya perasaannya saja. Sebenarnya pimpinan prajurit Pajang menaruh perhatian terhadap semua unsur di dalam padepokan ini.”

Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Dicobanya untuk menangkap kesan kata-katanya pada wajah anak-anak muda itu. Tetapi yang ditangkapnya adalah berbagai pertanyaan yang memancar dari sorot mata mereka, seolah-olah mereka bertanya, “Apakah yang telah dilakukannya?”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan kata-katanya, “Hampir saja Angger Wuranta terjerumus ke dalam sikap yang tidak terpuji. Bahkan hampir mencelakakan dirinya. Sikapnya terhadap para prajurit Pajang terlampau kasar. Justru karena rasa rendah diri yang menjalari dadanya. Tetapi itu sudah lampau. Angger Wuranta telah menyadari keadaannya, bahwa orang-orang Pajang di sini mempunyai banyak sekali persoalan yang harus diselesaikan. Di antaranya adalah soal yang menyangkut Angger Wuranta itu sendiri.”

Ketiga anak-anak muda itu masih terdiam. Tetapi Sekar Mirah yang menundukkan wajahnya, tiba-tiba berkata, “Apakah Kiai menyindir aku?”

“Oh,” Ki Tanu Metir terperanjat. Tetapi kemudian ia tersenyum, “Jangan salah sangka, Ngger. Aku tidak ingin menyindir seseorang. Aku sudah mengatakan bahwa dalam keadaan serupa ini banyak sekali persoalan yang tumbuh dan bahkan berkembang di padepokan ini. Angger Wuranta adalah gambaran dari seorang anak muda yang kecewa. Aku tidak tahu apakah yang mengecewakannya. Kemudian seolah-olah ia membuat sebuah neraca. Neraca yang menimbang berat jasa dan penghargaan. Hampir ia berteriak “Jasaku tidak dihargai orang”. Untunglah bahwa hal itu belum terjadi. Nah, aku kira persoalan Angger agak berbeda, Angger sama sekali tidak ingin dihargai karena jasa-jasa Angger. Bukankah begitu?”

Sekar Mirah tidak menjawab.

“Mungkin padepokan ini terlampau sepi buat Angger Sekar Mirah. Mungkin tidak seramai Kademangan Sangkal Putung. Di sana Angger pasti akan dikerumuni oleh orang-orang Sangkal Putung, para pemimpin kademangan dan para pemimpin prajurit Pajang. Tetapi keadaan Sangkal Putung berbeda dengan keadaan di sini. Di Sangkal Putung orang-orang sudah tidak disibukkan oleh berbagai macam persoalan. Sedang di sini sangat berlainan.”

“Aku tahu. Aku tahu, Kiai,” potong Sekar Mirah. “Maksud Kiai ingin mengatakan bahwa aku terlampau manja. Bukankah begitu? Nah, buat apa aku bermanja-manja di sini. Itu pun salah satu sebab kenapa aku harus segera pulang ke Sangkal Putung.”

“Bukan begitu, Ngger,” sahut Kiai Gringsing, “meskipun dugaan Angger itu sebagian benar. Tetapi maksudku adalah, bahwa Angger telah cukup dewasa. Karena itu Angger seharusnya menghadapi setiap persoalan dengan sikap dewasa. Bukan sebagai seorang gadis kecil yang patah hati ditinggal kekasih. Lalu lari tanpa mempertimbangkan persoalan yang akan dihadapi di tengah jalan. Tetapi Angger tidak akan berbuat demikian. Angger adalah puteri seorang Demang yang cukup bijaksana. Karena itulah maka kebijaksanaan itu pasti juga Angger miliki. Juga pada Angger Swandaru yang setiap hari mengikuti cara Ki Demang melakukan tugasnya.” sekali lagi Ki Tanu Metir berhenti. Sekali lagi ia menunggu kesan yang terbayang di wajah anak-anak muda itu. Kemudian katanya, “Nah, kalau Angger sependapat, maka aku harap Angger tidak meninggalkan padepokan ini untuk sementara. Aku menyangka bahwa Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti masih berkeliaran di sekitar tempat ini. Setiap orang yang dijumpainya pasti akan menjadi korban pelepasan dendamnya. Nah, bayangkan apa yang akan dilakukan oleh Sidanti apabila Angger nanti bertemu dengan orang itu di tengah jalan.”

(……maaf ada yang putus di sini) Berdebarlah Sekar Mirah mendengar nama Sidanti. Sehingga tumbuhlah kecemasan yang menggores jantungnya yang berdebaran. Meskipun demikian gadis itu tidak menjawab sepatah kata pun. Namun bagi Ki Tanu Metir kediamannya adalah cukup jelas. Kediamannya itu adalah sebuah jawaban yang cukup tegas.

“Tenangkanlah hati kalian di sini. Hadapilah semuanya dengan sikap yang masak. Pengalaman yang telah terjadi seharusnya membuat kalian dewasa.”

Tak seorang pun yang menyahut. Dan sejenak kemudian, Ki Tanu Metir berkata, “Beristirahatlah, aku akan pergi ke banjar. Mungkin ada sesuatu yang harus aku kerjakan di sana, di antara orang-orang yang terluka. Aku datang hanya sekedar menengok kalian.”

Ketika Ki Tanu Metir meninggalkan mereka, maka untuk sesaat mereka masih tetap berdiam diri. Sekar Mirah menundukkan wajahnya dalam-dalam meskipun ia masih tetap berpegangan tangan kakaknya. Agung Sedayu melepaskan pandangan matanya menembus lubang pintu yang masih sedikit terbuka, sedang Swandaru sekali-sekali mengangguk-anggukkan kepalanya. Terngiang di telinganya kata-kata gurunya, “Pengalaman harus membuat kalian dewasa.”

Malam yang hitam pekat berjalan dengan tenangnya. Semakin lama semakin jauh. Bintang-bintang di langit bergeser sedikit demi sedikit ke Barat. Namun ketiga anak-anak muda itu masih saja duduk membeku.

Ternyata malam itu tidak seorang pun di antara mereka yang tertidur. Mereka sama sekali tidak dapat melepaskan kegelisahan dan kecemasan tentang bermacam-macam persoalan. Tetapi Sekar Mirah sudah tidak lagi mendesak kakaknya untuk meninggalkan padepokan itu mendahului ke Sangkal Putung. Setiap kali keinginan itu tumbuh di hatinya, maka terbayanglah wajah Sidanti yang sangat menakutkan baginya.

Sehari berikutnya mereka hampir tidak keluar dari rumah itu. Hanya Agung Sedayu sajalah yang pergi ke banjar sebentar untuk bertemu dengan kakaknya yang masih sangat sibuk. Sebenarnya anak muda itu ingin juga bertemu dengan Wuranta. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu bagaimanakah sikap Wuranta itu kini terhadapnya. Dan ia masih tetap mencari-cari jawab atas pertanyaannya yang mengganggunya selama ini tentang sikap anak muda itu.

Tetapi pada saat Agung Sedayu berada di banjar padepokan itu Wuranta sedang menunggui pemakaman kakek tua suami isteri yang telah menolongnya. Sesaat ia menunggu, namun Wuranta belum juga datang. Akhirnya keragu-raguannya telah mengurungkan niatnya itu, ia tidak menunggu Wuranta lagi, yang ditunggunya adalah kakaknya dan Ki Tanu Metir.

Beberapa saat kemudian Agung Sedayu melihat kakaknya bersama Ki Tanu Metir diiringi oleh beberapa perwira yang lain datang ke banjar itu. Tampak wajah-wajah mereka yang tegang dan bersungguh-sungguh sehingga Agung Sedayu tidak berani menegur kakaknya lebih dahulu. Ia menunggu saja sambil berdiri di bawah tangga pendapa padepokan itu. Terasa dadanya berdebar-debar. Ia memandang kakaknya kini jauh berbeda dengan saat-saat ia masih di Jati Anom. Justru setelah ia melihat pekerjaan dan tugas kakaknya, dan justru karena sikapnya sendiri yang bertambah dewasa. Kini serasa ada jarak yang membatasi antara dirinya dan kakaknya itu.

Ketika Untara sampai di tangga pendapa, ia berhenti sejenak. Dipersilahkannya para prajurit yang datang bersamanya untuk masuk lebih dahulu. Setelah menatap wajah Agung Sedayu agak lama, maka terdengar kakaknya bertanya, “Sudah lama kau menunggu aku?”

“Belum terlalu lama, Kakang,” jawab Agung Sedayu.

“Apa kerja kalian di pondok itu?” bertanya Untara pula. Agung Sedayu terkejut mendengar pertanyaan rtu. Dipandanginya wajah kakaknya, kemudian wajah gurunya.

“Kau tidak hadir pada upacara pemakaman prajurit-prajurit yang gugur dalam peperangan ini. Peperangan yang juga telah menyelamatkan gadis Sangkal Putung itu.”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar kata-kata kakaknya. Sejenak ia terdiam membeku. Hanya matanya saja yang berpindah-pindah dari kakaknya kepada gurunya.

“Seharusnya kau datang bersama Adi Swandaru untuk menunjukkan rasa terima kasihmu dan rakyat Sangkal Putung. Bahwa puteri Ki Demang itu sudah dibebaskan.”

Dada Agung Sedayu menjadi sesak mendengar teguran itu. Ia sama sekali tidak mengerti bahwa hari ini akan diselenggarakan pemakaman prajurit-prajurit yang gugur di peperangan ini. Karena itu maka dengan jujur ia berkata, “Aku sama sekali tidak tahu, Kakang, bahwa hari ini telah diselenggarakan pemakaman itu.”

“Kau tidak beranjak dari pondokmu sehari ini. Baru sekarang kau datang, setelah semuanya selesai. Kalau semalam atau pagi-pagi tadi kau datang, kau pasti akan mengetahuinya.”

Sekali lagi Agung Sedayu terdiam. Tetapi terasa dadanya bergetar semakin cepat. Kemudian dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Kalau aku tahu, maka aku pasti akan datang. Orang yang mengantarkan makananku pun tidak memberitahukan hal itu kepadaku. Dan….” kata-kata Agung Sedayu terputus. Tetapi matanya terlontar kepada gurunya yang berdiri di samping Untara.

“Bukan kami yang harus memberitahukan itu kepadamu,” jawab kakaknya, “tetapi kau yang harus datang bertanya tentang hal itu kepada kami.”

Wajah Agung Sedayu tiba-tiba menjadi tegang. Ia tidak dapat memahami sikap kakaknya. Perasaannya sama sekali tidak dapat menerima perlakuan itu. Tetapi ia berhadapan dengan kakaknya. Pertimbangannya cukup cermat untuk mencegah berbuat sesuatu yang tidak menguntungkannya.

“Semua orang hadir dalam upacara itu,” kakaknya meneruskan, “hanya kau dan Swandaru sajalah yang tidak.”

“Mungkin para prajurit selalu mendapat keterangan dan pemberitahuan tentang semua hal yang akan terjadi, Kakang, tapi kami tidak,” jawab Agung Sedayu sekenanya.

Tetapi ia terkejut ketika kakaknya menyahut, “Wuranta juga bukan seorang prajurit. Tetapi ia datang jaga dalam upacara itu. Meskipun anak muda itu termasuk salah seorang yang paling berjasa dalam peperangan ini, namun ia tidak bersikap acuh tak acuh. Ia tidak menunggu seorang utusan untuk memberitahukan kepadanya apa yang akan terjadi di padepokan ini. Ia datang sendiri dengan rendah hati dan bersikap wajar.”

Wajah Agung Sedayu menjadi merah. Ia benar-benar tidak mengerti akan sikap kakaknya. Sejak peperangan ini selesai, kakaknya telah marah-marah saja kepadanya. Ia dianggap bersalah karena ia tidak berada di dekat kakaknya ketika pertempuran berlangsung. Agaknya lepasnya Ki Tambak Wedi dan Sidanti telah membuatnya sangat kecewa. Tetapi bahwa kakaknya itu terus-menerus memarahinya itu benar-benar tidak dapat dimengertinya. Kemarin ia menganggap bahwa kakaknya telah merubah sikapnya. Namun tiba-tiba kini sikap itu diulanginya lagi.

Tetapi kali ini yang menjawab adalah Ki Tanu Metir, “Angger Untara, Angger terlampau letih. Angger diburu oleh tugas-tugas yang berat dan kekecewaan yang bertumpuk-tumpuk. Tetapi yang paling mengecewakan Angger adalah hilangnya Ki Tambak Wedi. Itulah sebabnya Angger mudah merasa tersinggung. Namun Angger Agung Sedayu pun tidak terlampau bersalah. Aku seharusnya memberitahukan kepadanya apa yang akan dilakukan di padepokan ini. Terutama upacara itu. Tetapi aku sengaja tidak berbuat demikian. Bahkan sekarang aku mengharap Angger Agung Sedayu segera kembali ke pondoknya.”

Wajah Untara yang tegang menjadi berkerut-merut, “Kenapa?” ia bertanya.

“Sama sekali bukan persoalan yang menyangkut masalah keprajuritan. Bukan pula masalah peperangan. Masalahnya terlampau kecil untuk disebutkan di sini. Tetapi masalah yang terlampau kecil itu pulalah yang telah mendorong Angger Untara semalam datang memanggil Wuranta.”

Kini dada Untara-lah yang berdebar. Di hadapannya berdiri Ki Tanu Metir, guru Agung Sedayu. Agaknya orang tua itu berusaha untuk menutupi kesalahan adiknya yang telah membuatnya sangat kecewa. Adik Senopati yang langsung menangani peperangan ini, tetapi ia adalah satu-satunya orang yang tidak hadir pada upacara penghormatan para prajurit yang gugur, selain kakak beradik dari Sangkal Putung itu.

Tetapi bagaimanapun juga Untara merasa segan terhadap orang tua ini. Dalam urutan tugasnya sebagai seorang Senapati di daerah ini, maka nama Ki Tanu Metir tidak dapat dilupakannya. Dalam tugas sandinya, di saat-saat Sangkal Putung berada di dalam bahaya, maka orang tua ini pulalah yang menyelamatkannya. Kalau ia tidak mendapat perlindungannya, maka dadanya pasti sudah dibelah oleh Plasa Ireng dan kawan-kawannya yang pada saat itu mencarinya karena petunjuk Alap-alap Jalatunda di dukuh Pakuwon. Dan kini, dalam tugasnya yang terberat, memecah padepokan Tambak Wedi, maka orang tua ini pulalah yang seakan-akan telah merintis jalan, dengan melepaskan Wuranta, mendahului segala tindakan-tindakannya.

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 15 Oktober 2008 at 10:24  Comments (28)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-26/trackback/

RSS feed for comments on this post.

28 KomentarTinggalkan komentar

  1. sangat salut dengan semangat untuk menghadirkan karya ini di dunia maya krn begitu panjangnya serial ini. Go go go maju terus !!!

  2. Dear DheDhe,

    Apakah file dengan extention djvu dapat diedit menggunakan msword, kalau bisa bagaimana caranya.

    Thanks
    Doyoks

    D2: Yg file word hasil konvert kan saya sertakan sbg “raw material”. Kalau mau edit enakan pake file word ini, gak usah ketik ulang.

  3. terus berjuang untuk melestarikan karya ini….apapun bentuk file-nya…
    terus menanti dengan sabar, seorang agung sedayu menjadi anak muda pilih tanding ….

  4. Aku coba bikin halaman 1 s/d 5 ya…..

  5. ini halaman 2 & 3, halaman 1 masih ada problem dikit…..

    —Para perwira — desah para pradjurit hasmpir bersamaan. Mereka- menjangka bahwa kelima orang itu adalah salu atau dua orang perwira bersama dengan para pengawalnja mengadakan penindjauan keliling. Melihat para pradjurit jang sedang bertugas, dan melihai orang2 jang terluka atau terbunuh dipeperangan. Adalah
    menjadi kebiasaan para perwira Padjang untuk melihat, bahkan menangani sendiri tugas2 jang berat dan sulit.
    Ketika orang2 jang datang itu mendjadi semakin dekat, maka para pradjurit itupun berdiri berdjadjar memberi mereka djalan, dan bersiap apabila mereka harus mendjawab pertanjaan2. Sedang Wurantapun kemudian bergeser dibelakang para pradjurit itu. Ternjata kelima orang itu berdjalan kearah para pradjurii itu, sehingga para pradjurit itupun terpaksa mempersiapkan diri mereka untuk menerima kundjungan para perwira. Sedjenak mereka menebarkan pandangan mata mereka, untuk mengetahui dimana kawan2 mereka berada. Mungkin mereka harus membawa para perwira itu ke-tempat2 perondan, ketempat para pradjurit mengumpulkan orang2 jang terluka jang belum sempat dibawa kependapa bandjar, bahkan mungkin melihat majat2 jang’ suddah dikumpulkan untuk dikuburkan besok pagi.
    Ketika terlihat oleh para pradjurit itu majat Iaki2 tua beserta isterinja, maka merekapun berpaling. Hanja sedjenak. Ketika mereeka melihat Wuranta dibelakang mereka, maka mereka menganggap bahwa seharusnja Wurantalah jang wadjib memberikan keteranganja
    Kelima orang itu mendjadi semakin dekat. Hampir tidak pertjaja para pradjurit itu menadjamkan matanja. Jang satu diantara ereka ternjata adalah Untara sendiri.
    —Ki Untara– salah scorang dari mereka berdesis
    — Oh- sahut kawannja per-lahan2 — ja, Ki Untara sendiri.

    Ketiga pradjurit itu kini berdiri tegak berdjadjar. Untara memang sering berbuat demikian. Menindjau keadaan Iangsung di- tempat2 jang dianggapnja penting. Seperti kebiasaannja berdiri diudjung peperangan, maka iapun selalu berada didalam kesibukan akibat dari setiap peperangan, diantara para pradjuritnja.
    Para pradjurit itu menganggukkan kepala mereka ketika Untara lewat dihadapan mereka.
    Untara dan para pengawalnjapun menganggukkan kepala mereka pula. Namun tiba2 Untara itu menghentikan langkahnja. Ia berdiri dihadapan para pradjurit itu. Dengan demikian maka para pradjurit itupun mendjadi ber-debar2.

    Sedjenak Untara hanja berdiri sadja tanpa mengutjapkaa sepatah katapun. Ternjata jang dipandangnja bukan wadjah2 pradjurit jang berdlri tegak dihadapannja, tetapi orang jang berdiri dibelakang mereka. Wuranta.
    Para pradjurit itu melihat arah pandangan mata Untara. Merekapun mendjadi semakin ber-debar2. Apakah jang akan dilakukan oleh Senapati itu ? Apakah Ia telah mendengar laporan bahwa Wuranta pernah merendahkanja ? Dan apakah kira2 jang akan dilakukan oleh Wuranta setelah ia berhadapan langsung dengan Untara jang namanja sering di-sebut2nja.
    Sedjenak suasana ditjengkam oleh kesepian. Untara berdiri sadja ditempainja, dan Wuranta se-olah2 mendjadi beku. Narnun kemudian mereka melihat Untara itu mengerutkan keningnja sambil berdesis — Wuranta, bukankah kau itu? —
    Wuranta mendjadi ter-mangu2. Bagaimana ia harus bersikap terhadap Senapati itu didalam suasana peperangan ? Apakah ia harus bersiap seperti para pradijurit itu dan mendjawabnja seperti djawaban seorang pradjurii pula?
    Tetapi kata2 Untara berikutnja telah mengledjutkannja dan bahkan mengedjutkan para pradjurit jang berdiri tegak itu, Katanja — Aku memang mentjarimu Wuranta, sambil me-lihat2 keadaan. —
    Wuranta mendjadi semakin ber-debar2. Apakah sebabnja Untara mentjarinja? Tiba2 ia teringat akan sikapnja selama ini. Karena itu maka ia berrtanja didalam hatinja, seperti pertanjaan jang bergetar didalam dada para pradjurit itu — Apakah Untara telah benar2 mendengar sikap Wuranta jang kadang2 merendahkannja sebagai scorang Senapati, dan ia datang sendiri untuk mengambil tindakan terhadapnja? —
    Wuranta jang berd:ri tegak seperti para pradjurit itu masih sadja tegak seperti sebatang tonggak, Namun sedjenak kemudian ia berhasil menguasai perasaannja jang tidak lagi me-londjak2. Ia mentjoba menenangkan d’rinja dan berkata didalam hati Mudah-mudahaii aku tidak mendjadi gila lagi dihadapan Untara sendiri.—
    Para pradjurit jang berdiri dimuka Wurantapun mendjadi ber-debar2 pula. Tiba2 mereka merasa iba seandainja Untara marah dan mengambil sesuatu tindakan atas Wuranta. Pengakuan Wutanta jang ichlas atas kesalahannja pada saat2 terachir telah
    menjingkirkan sama sekali kebentjian para pradjurit itu atasnja.
    Tetapi seandainja Untara sendri Jang datang mentjarinja, dan mudian berbuat sesuatu atasnja, maka tidak seorangpun dari mereka jang dapat menolongnja.

  6. Halaman [1]…………
    DALAM kediaman mereka, para pradjurit itu ber-tanja2 didalam hati, kenapa tiba2 sadja sikap anak Djati Anom itu berubah. Anak muda itu tidak lagi menepuk dada $ambil menjebut narnanja, dan tidak lagi berkata tentang Untara. Sama sekali tidak lagi bekas2 kesombonganja pada pengakuannja yang ichlas itu Bahkan sikap-
    nja jang menjakitkan hati, bahwa se-olah2 Untara, Senapati mereka jang mereka hormati, harus djuga dianggapnja terlampau remeh, dan se-olah2 dalam keadaan serupa itu harus datang kepadanja dan menjataikan terima kasih serta mohon maaf atas segala kesalahannja. Hal jang bagi para pradjurit itu tidak akan mungkin sekali terdjadi. Untara adalah seorang Senapati iang menggenggam tanggung djawab atas wilajah disekitar Gunung Merapi, bahkan didataran jang membentang sampai kepasisir kidul. Meskipun Untara djuga anak jang dilahirkan dan dibesarkan di Djati Anom, namun kedudukannja terlampau djauh terpaut dari anak muda jang bernama Wuranta itu. Seandainja pada masa2 ketjilnja mereka berkawan dan bermain bersama dalam satu lingkaran permainan tetapi keadaan telah membentuk mereka dikedudukan mereka.
    Belum sempat salah seorang dari mereka dapat memetjahkan kediaman itu, maka merekapun dikedjutkan oleh bajangan jang mendekat mereka. Tidak hanja seorang, tetapi lima orang. Mereka mendengar langkah mereka semakin lama semakin dekat, dan melihat mereka semaikin djelas. Didalam remang2 tjahaja obor dikedjauhan mereka dapat memastikan bahwa sebagian dan mereka adalah pradjurit2 Padjang.

    D2: Tolong pake ejaan baru, Mas.

  7. … duh maaf, saya pikir kita mau “mempertahankan nuansa” nya….
    Berikut halaman 4 & 5, mohon maaf kalau masih ada edjaan lama jang terlewat he… he….

    Halaman [4]
    Sejenak kemudian terdengar Untara berkata pula — Wuranta, ‘kemarilah. —
    Wuranta menarik nafas dalam2. Namun dalam ketenangan kini ia dapat menanggapi persoalannya. la telah memutuskan untuk tidak bersikap sebagai seorang prajurit la memang bukan seorang prajurit. Ia adalah anak Jati Anom, dan Untara adalah anak
    Jati Anom pula.
    Perlahan2 ia melangkah maju, berjalan disisi ketiga prajurit yang masih berdiri berjajar dengan tegapnya.
    — Apakah kau memerlukan aku Untara? — bertanya Wuranta.
    Hati para prajurit itupun menjadi semakin ber-debar2.
    — Ja, aku memerlukanmu — sahut Untara.
    — Apakah ada sesuatu yang penting diantara kita? — bertanya Wuranta sareh,
    — Tentu — sahut Untara — aku memang sengaja datang kepadamu karena aku dengar kau tidak ingin pergi kebanjar padepokan ini. Apakah memang begitu ? —
    Sejenak Wuranta menjadi ragu2. Tetapi ia ingin berkata sediujumja, seperti yang terjadi. Mlaka katanya —’ Ja, aku memang tidak ingin pergi kebanjar padepokan. Darimanakah kau tahu? — ”
    Ketiga prajurit itu masih saja diliputi oleh kecemasan. Apa lagi ketika mereka melihat sikap Wuranta. Untara adalah Senapati perang. Sedang Wuranta menanggapinya seperti terhadap teman sepermainan. Meskipun seandainya dahulu memang demikian tetapi keadaan kini hanus sudah berbeda-
    — Kenapa kau tidak man pergi kebanjar? — bertanya Untara.
    — Tidak apa2 — jawab Wuranta — aku menunggui kakek tua yang meninggal bersama isterinya. —
    — Ya, aku mendengar dari Ki Tanu Metir, Semuanya dikatakannya kepadaku tentang kau. Dan aku dapat mengerti kenapa kau tidak mau datang kebanjar. —
    Wuranta mengerutkan keningnya. Apa sajakah yang telah dikatakan oleh Ki Tanu Mctir itu tentang dirinya ? Dan Wuranta mendengar Untara meneruskan — Tetapi Ki Tanu Metir tidak mengatakannya kepada Agung Sedaju. Mungkin waktunya dianggapnya kurang tepat. Karena itu ketahuilah, bahwa Agung Sedaju menjadi bingung menanggapi sikapmu. Tetapi aku tidak bingung Wuranta. Aku mengerti, sebab Ki Tanu Metir mengatakan kepa daku, J’uga tentang Iaki2 tua itu. -‘.Untara berhenti sejenak. lalu diteruskannya — Aku datang kepadanm untuk mengucapkan

    Halaman [5]
    terima kasih atas segala jasa2mu Waranta. Dan aku minta, kau datang kebanjar padepokan ini. Aku tahu apa yang kau rasakan, Bukan saja karena Iaki2 tua seperti yang kau sebutkan. —
    Sejenak Wuianta terbungkam. Tidak terlintas didalam otaknya, bahwa benar2 Untara telah datang kepadanya untuk mengucapkan terima kasih.
    Apalagi ketiga prajurit yang kini berdiri dibelakangnya. Mereka berdiri dengan mulut ternganga, Apa yang tidak mungkin baginya ternyata kini benar2 telah terjadi. Bahwa Senapati yang bernama Untara itu datang kepada Wuranta, anak Jati Anom untuk
    mengucapkan terima kasih.
    Sejenak suasana menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah nafas Wuranta yang berdesah. Dikejauhan satu dua orang prajurit masih berkeliaran didalam tugasnya.
    — Wuranta — terdengar Untara berkata — aku minta kepadamu, datanglah kebanjar padepokan ini. Hadapilah persoalanmu dengan jiwa yang besar. Aku adalah anak muda pula seperti kau, dan aku adalah kakak Agung Sedaju itu. Akupun merasakan sesuatu didalam diriku, justru karena aku seorang kakak, seorang yang lebih tua, yang sepantasnya telah melakukannya lebih dahulu. Tetapi kesibukanku temjata tidak memberi aku kesempatan. —
    Wuranta tldak segera menjawab. la masii diliputi oleh suatu perasaan yang aneh. la tiba2 saja dibadapkan pada suatu kenyataan yang diharapkannya terjadi didalam kegelapan hati. Dalam kegelapan ia memang mengucapkan kata2 itu, bahwa seharusnya Untaralah yang datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih. Tetapi bahwa hal itu terjadi justru setelah hatinya menjadi tenang, malahan membuatnya menjadi ter-mangu2. Namun ternyata sesuatu telah menyusup didalam hati anak
    itu. Lamat2 tergores didalam hatinya, suatu jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganggunya *~ Apakah aku masih diperlukan oleh para prajurit Pajang ? Dan apakah aku berhak menikmati kemenangan ini ? Kalau Untara, Senapati tertinggi didaerah ini datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih, maka seharusnya ia dapat berbangga karenanya. Seharusnya ia merasa bahwa dirinya bukan sekedar sampah yang disisihkan, yang tidak lagi dapat dipergunakan.
    — Wuranta — berkata Untara kemudian — aku pasti akan menyetujui permintaanmu tentang laki2 tua yang kau maksud

  8. hehehe.. mas Didiek pake EYD dong.
    tuh petunjuknya ada di sebelah kanan.
    nanti ki tanu metir ngambeg lho

  9. Halaman [6]
    berserta Isterinya. Aku dapat mengerti bahwa laki2 itupun mendapat penghargaan khusus. Tetapi biarlah para prajurit yang berkuwajiban mengurusnya, Mereka akan tahu apa yang harus mereka lakukan. — Untara itu berhenti sejenak — Nah, sekarang bagaimana? —
    — Apakah yang harus aku lakukan? — bertanya Wuranta.
    ~ Beristirahat dibanyar padepokan. Besok pada saatnya kita ber-sama2 pergi ke Jati Anom. Aku akan meninggalkan separo dari prajurit Pajang dipadepokan ini dengan beberapa orang penghubung berkuda. Sedang aku sendiri akan tetap berada di Jati Anom. —
    Wuranta masih saja tegak seperti patung. Ia justru menjadi bingung menghadapi peeristiwa yang tiba2 dan tidak diduga sama sekali. Untara sendiri datang kepadanya dan minta supaya la beristirahat dibanjar padepokan.
    Kalau yang datang dan minta kepadanya itu Untara sendiri sudah lentu sangat sulitlah baginya untuk menolak. Tetapi perasaannya tidak cukup kuat untuk menerima permintaan itu dan hatinya pasti tidak akan cukup besar menghadapi Agung Sedayu Sekar Mirah yang berada dibanjar itu pula.
    Tetapi sejenak kemudlan Untara berkata — Wuranta, baiklah aku beritahukan bahwa aku telah menyetujui pemintaan Sekar mirah dan kedua anak2 muda yang bersamanya, untuk berpindah tempat peristirahatan. Tidak dibanjar itu. Tetapi mereka kini berada dirumah disebelah banjar. Rumah yang tidak dipakai untuk menyimpan orang2 sakit apalagi mayat2 para prajurit yang terbunuh dipeperangan. Dibanjar padepokan Sekar Mirah selalu berada dalam ketakutan. ~
    Wuranta tiba2 mengangkat wajahnya. Jadi dibanjar Itu sudah tidak ada lagi Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Swandaru? Tetapi kenapa Ki Tanu Metir tidak mengatakannya ?
    Agaknya Untara mengerti pertanyaan didalam dada Wuranta, sehingga ia berkata — Mereka meninggalkan, banjar ketika Ki Tanu Metir pergi bersamamu. Bukankah kau juga pergi banjar. tetapi kau tidak singgah dipringgitan? —
    Wuranta mengangguk — Ya Untara. Aku memang pergi ke banjar untuk memanggil Ki Tanu Metir. —
    — Tetapi kedatangan orang tua itu terlambat. Kakek yang kau maksud suam isteri telah meninggal. Bukankah begitu?
    — Ya, itulah mayat mereka. —

  10. halaman 7
    Untara berpaling. Dilihatnya dalam keremangan cahaya obor, seorang perempuan membeku didada suaminya yang beku puIa.Terasa dada Untara berdesir. la sudah melihat mayat dipeperangan dalam keadaan yang paling mengerikan. Tetapi baru
    kali ini ia melihat seorang isteri mati memeluk suaminya yang mati pula. Mengharukan.
    — Mereka akan mendapat perawatan yang sewajarnya. Aku mengerti, bahwa Iaki2 tua itu turut menentukan saat2 yang terakhir dari peperangan ini. Seandainya ia tidak berusaha memberi kau jalan, maka keadaan akan menjadi berbeda. Jasanya tidak kalah dengan setiap orang pradjurit Pajang. Jasanya hampir sebesar jasamu sendiri. ~-
    — Ah — Wuranta berdesah. Jasa Iaki2 tua itu tidak kalah dengan jasa setiap prajurit Pajang. Tetapi jasa itu masih belum sebesar jasanya. Kata2 itu diucapkan oleh seorang Senapati seperti Untara, Senapati jang memimpin sendiri peperangan ini
    Wuranta justru menjadi terbungkam. Tetapi perlahan-lahan ia merasakan bahwa didalam dadanya berkembang sebuah kebanggaan. la tidak perlu merasa dirinya terlampau rendah. Sehingga ia tidak perlu mencari cara yang aneh2 untuk menggelembungkan dirinya, menyembunyikan kekerdilannya.
    Karena Wuranta tidak berkata sepatah katapun, maka Untara meneruskan — Nah. marilah kita pergi kebandjar padepokan Ini. •—
    Wuranta tidak dapat menolak lagi. Karena itu ia hanya dapat menganggukkan kepalanya dan- berdesis — Baiklah Untara. —
    .—- Besok, atau lusa, apabila keadaan telah mendjadi tenteram, sebagian pasukanku akan kembali ke Jati Anom. Aku akan tetap berkedudukan disana. Kita tidak perlu mencemaskan kekuatan orang2 Jipang lagi didaerah ini. Juga orang2 dari padepokan Tambak Wedi. Kita telah berhasil menyumbat mulut sarang mereka dan menangkap segenap isinya didalam sarang ini. Mungkin masih ada satu dua kedompok kecil orang2 Jipang yang keras kepala di-daerah2 lain, Tetapi itupun pasti akan segera dtselesaikan. – Kemudian kepada para prajurit yang berdiri tegak dibelakang Wuranta. Untara berkata — Nah, kau sudah mendengar tentang Iaki-laki tua itu. Usahakan besok mayatnya berdua telah berada dibanjar. Mayat itu akan dikuburkan bersama dengan orang-orang Pajang yanq gugur. Mungkin kalian masih belum dapat merasa
    kan jasa Iaki2 tua itu, tetapi pada saatnya kalian akan mengetahuinya. —

  11. Halaman [8]
    Sejenak kemudian Untara dan para pengawalnja telah kembali kebanjar padepokan bersama Wuranta. Dibanjar itu benar-benar tidak dijumpainya lagi Agung Sedayu, Swandaru dan Sekar Mirah. Yang berada disana tinggal beberapa orang perwira prajurit Pajang dan Ki Tanu Metir.
    Ternyata sikap para perwira yang langsung mengerti tugas-tugas berat Wuranta agak berbeda dengan sikap para prajurit. Namun setelah Wuranta berhasil merenungkan dengan tenang, maka sumber dari sikap yang tidak menyenangkan dari para prajurit itu adalah dirinya sendiri. Usahanya untuk menutupi kekerdilannya, ternyata telah banyak menyinggung perasaan- orang lain.
    Para prajurit yang ditinggalkan oleh Wuranta dihalaman dbelakang halaman banjar -padepokan, sejenak saling berpandangan, Salah seorang dari mereka kemudian berdesis — He, ternyata kata-kata anak muda itu benar terjadi. Untaralah yang men-
    carinya dan mengucapkan terima kasih kepadanya. —
    — Memang menurut pendengaranku, apa yang dilakukannya dapat menentukan penyelesaian ini, —
    — Aku menyangka ia terlampau sombong. Tetapi aku menjadi heran, bahwa pada saat2 terakhir ia seakan-akan mengakui kesalahannya. Mengakui sikapnya yang tidak sewajarnya. —
    — Ah — desah. prajurit yang lain — kenapa hal itu kita risaukan. Biarlah para perwira mengurusnya. Urusan kita adalah berkeliling padepokan, terutama. disekitar banjar. —
    — Tetapi mayat kedua suarai isteri itu ? —
    — Oh, biarlah mereka. yang bertugas untuk itu. Kita beritahukan saja kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan. —
    Ketika para prajurit itu kemudian melakukan tugas masing-masing, maka tempat itupun menjadi sepi kembali.
    Didalam Iingikungan para perwira yang sebagian besar dari mereka lelah mengerti benar2 akan peranannya, maka Wuranta merasa telah menemukau dirinya kembali, Betapa penyesalan dan kecewa melanda dadanya apabila diingatnya segala tindak tanduknya selama ini. Bahkan ia merasa heran sendiri, kenapa ia seakan-akan menjadi liar dan. kehilangan pegangan.
    Meskipun demikian setiap kali ia teringat akan Sekar Mirah maka hatinya masih terasa pahit. Gadis itu belum lama dikenalnya. Baru beberapa hari. Telapi yang beberapa hari itu ternyata ielah menjadikannya hampir gila.

  12. Malampun menjadi semakin malam. Dikejauhan terdengar anjing-anjing liar berteriak-teriak berebut makan. Terasa betapa angin yang membawa bau darah menyentuh hidung mereka yang tajam.
    Sekali-kali terdengar suara burung bantu dan burung kedasih seakan-akan sahut-menyahut, meneriakkan kepedihan yang ngelangut.
    Sementara para prajurit yang bertugas masih saja sibuk hampir semalam suntuk, maka disebuah rumah yang tidak begitu jauh dari banjar itu, Sekar Mirah duduk perpegangan tangan kakaknya. Meskipun la sudah tidak lagi berada diantara mayat dan orang-orang yang terluka, namun ia masih diburu saja oleh perasaan takut dan ngeri.
    — Kemanakah Ki Tana Metir kini? — bertanja Swandwu kepada Agung Sedayu.
    ~- Entalah. Mungkln masih berada dibanjar atau kemana. Mungkin guru sedang mencari Wuranta itu lagi. Atau mungkin kini sedang tidur nyenyak, —
    Swandaru terdiam. Gurunya kadang-kadang tidak memberitahukan kemana ia pergi. Bahkan kadang-kadang sampai berhar-hari. Tetapi dalam suasana seperti ini, maka mereka seolah-olah selalu ingin berada bersamanya. Bukan karena perasaan takut bahwa tiba-tiba mereka harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi, tetapi perasaan sepi seakan-akan menghunjam dalam-dalam dijantung mereka.
    Sesaat mereka saling berdiam diri. Namun dengan demikian maka terasa malam menjadi kian sepi. Kesepian itu ternyata tidak menyenangkan sekali, sehingga tanpa sesadarnya Agung Sedayu berbicara sekedar untuk menyentakkan perasaan sepi itu ~ Apakah kita tidak akan tidur? —
    Swandaru mengangkat wajahnya. Dipandanginnya lampu minyak yang menyala berkeredipan. Kemudian’Swandaru itupun berkata kepada Sekar Mirah – Mirah, tidurlah. ~
    Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Jawabnya — ‘Aku ngeri kakang. —
    ‘ — Disini tidak ada apa-apa Mirah — berkata kakaknya — disini tidak seperti banjar padepokan jang penuh dengan orang-orang yang teluka. Disini kita mendapat tempat yang baik. Agaknya pemilik rumah inipun orang yang baik pula. *—
    — Tetapi ia mendendam seperti orang-orang Tambak Wedi yang lain kakang. Siapa tahu – Sekar Mirah berhentl sejenak sambil memandang berkeliling kalau-kalau ada orang lain didalam ruangan itu.
    Ketika tidak dilihatnya seseorang maka ia berkata perlahan-lahan — Siapa tahu bahwa ia akan mempergunakan setiap kesempataa untuk melepaskan dendamnya. —

  13. — Tetapi tidak seorangpun dari rumah ini terbunuh. Suami perempuan itu ternyata hanya terluka, tidak terlampau parah. Dan sekarang Iaki2 itu berada dibanjar. ~
    – Itu sudah cukup membuat hatinya mendendam. —
    Agung Sedayu dan Swandaru kemudian berdiam diri. Mereka melihat wajah Sekar Mirah yang dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.
    — Kenapa kita tidak kembali saja ke Sangkal Putung kakang? — bertanya Sekar Mirah tiba-tiba.
    — Ah Bukankah hari masih malam? — jawab kakaknya.
    — Tetapi itu lebih baik daripada aku berada disini. Aku tidak juga dapat tidur dikejar oleh perasaan takut dan ngeri. —
    — Jalan masih cukup berbahaya Mirah — sahut Agung Sedayu.
    — Bukankah orang-orang Jipang dan Tambak Wedi mutlak dihancurkan, disini—
    — Tetapi justru orang2 yang terpenting dapat meloloskan diri. Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. —
    — Tetapi mereka pasti lari jauh-jauh. Mereka tidak akan berada disekitar padepokan ini. Apalagi dijalan ke Sangkal Putung; Mereka pasli tidak akan menyangka bahwa kita akan berdjalan malani ini. —
    Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Kini pertimbangan- pertimbangannya datang kembali. Tidak seperti pada saat ia berangkat dari Sangkal Putung. Pada saat ia merasa kehilangan Sekar Mirah. Pada saat itu ia kehilangan sama sekali setiap pertimbangan apapun. Ia hanja ingin pergi dari Sangkal Putung segera untuk berusaha membebaskan Sekar Mirah. Tetapi kini, setelah Sekar Mirah itu bebas dari cengkeraman Sidanti, maka sifat-sifatnya lelah datang kembali. Pertimbangan- Pertimbangannya bermunculan dari bermacam-macam segi.
    — Perjalanan yang demikian akan sangai berbahaya — berkata Agung Sedayu.
    — Bagiku perjalanan itu akan lebih baik. Aku tidak kehilangan waktu semalam ini. Daripada kita duduk tanpa arti disini, bukankah lebih baik kita berjalan ke Sangkal Putung? Besok kita pasti sudah mencapai Kademangan itu. Dan besok kita sudah
    Dapat berttemu dengan ayah dan ibu. —
    Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu.
    Tetapi Sekar Mirah berkata terus – Apakah yang kita dapatkan dengan duduk-duduk saja begini? Aku sudah terlampau rindu kepada ayah dan ibu. Ayah dan ibupun pasti akan terlalu gelisah menunggu.

  14. waduh….
    Ternyata sudah dibikin versi word-nya ya? he… he…
    salam adbm

  15. Salam,
    Ini saya coba membantu lima halaman dari belakang (buku 26).
    GI

    Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Dicobanya untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau lagi membayangkannya, apalagi betapa yang akan terjadi seandainya gurunya tidak mencegahnya melakukan pembunuhan yang tidak terkendali itu.
    “Hem – Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam “aku harus memetik pelajaran daripadanya.” Tetapi ia tidak ingin bahwa peristiwanya itu sendiri selalu membayangi perasaannya.
    Sehingga dalam keragu-raguan ia bertanya kepada diri sendiri “Apakah aku perlu mengatakannya kepada kakang Untara?
    Agung Sedayu menggelengkan kepalanya “Tidak. Tidak perlu. Laporan itu akan datang dari para prajurit yang akan menangkap mereka. Aku tidak perlu berkata apapun tentang peristiwa itu.” Tetapi kemudian ia berkata pula di dalam hatinya “Tetapi jangan-jangan kakang Untara menganggap aku bersalah. Aku telah berbuat sendiri di daerah ini justru di luar wewenangku. Ah, biarlah aku mengatakannya. Salah atau benar, aku akan mengatakannya.”.
    Agung Sedayu itu pun kemudian melangkah terus. Kini ia mencoba memusatkan perhatiannya kepada kakaknya. Kepada kepentingan yang akan disampaikan kepadanya.
    Ketika beberapa puluh langkah daripadanya terpancar seberkas sinar obor, hati Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Sinar obor itu pastilah sinar obor yang dipasang di halaman banjar. Dan kakaknya telah menunggunya di banjar itu pula.
    “Apakah yang akan dikatakannya?“ gumamnya lambat. Agung Sedayu itu menggelengkan kepalanya “Tak seorangpun yang tahu selain kakang Untara sendiri. Mungkin guru, tetapi mungkin pula tidak.”
    Semakin dekat Agung Sedayu dengan banjar padepokan itu hatinya menjadi semakin berdebar-debar.
    Ketika kemudian ia berdiri di muka regol banjar padepokan itu, dua orang prajurit mendatanginya dan bertanya, “Siapa? – “Aku, Agung Sedayu“ sahut Agung Sedayu.
    Sinar obor yang kemerah-merahan jatuh di atas wajahnya, membuat kesan tersendiri pada kedua prajurit yang memandanginya dengan tajam. Tetapi sebelum keduanya bertanya lebih lanjut, Agung Sedayu telah mendahuluinya memberi penjelasan “Aku dipanggil oleh kakang Untara.”
    “Sekarang? – “Ya“ sahut Agung Sedayu.
    Kedua prajurit itu saling berpandangan. Dan salah seorang dari mereka berkata “Silahkanlah.”
    Agung Sedayu segera melangkah masuk ke halaman. Halaman banjar padepokan itu kini sudah tampak lebih bersih dan terang. Beberapa buah obor dipasang di sudut-sudut halaman dan sebuah lampu minyak yang cukup terang tergantung di tengah-tengah pendapa. Beberapa orang masih tampak duduk bercakap-cakap di pendapa itu Sedang beberapa orang yang Iain, yang terluka berbaring-baring sambil bercakap-cakap satu sama lain.
    Mereka memandangi Agung Sedayu ketika anak muda itu naik tangga dan berjalan di antara mereka, di tengah-tengah pendapa itu. Salah seorang yang telah mengenalnya dengan baik bertanya, “Apakah kau akan menemui kakakmu?“
    ”Ya “sahut Agung Sedayu.
    “Ia berada di pringgitan”.
    Agung Sedayu sebenarnya sudah tidak memerlukan keterangan itu lagi. Ia tahu pasti bahwa kakaknya berada di pringgitan. Mungkin dengan beberapa orang perwira pembantu-pembantunya. Mungkin bahkan sendiri sambil menunggunya. Tetapi Ia menjawab “Terima kasih.“
    Dengan dada yang semakin berdebar-debar ia melangkah menuju ke pintu pringgitan. Pintu leregan itu masih terbuka sedikit, Sepercik sinar di dalam pringgitan itu sempat meloncat ke luar.
    Hati-hati Agung Sedayu mendekati pintu. Kini ia sudah berada tepat di muka pintu. Tetapi keragu-raguannya ternyata membuat ia tertegun. Tanpa disengajanya ia berpaling, memandangi orang-orang yang berada di pendapa banjar itu.
    Agung Sedayu itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya orang yang sudah mengenalnya dan memberitahukan kepadanya bahwa Untara berada di pringgitan itu berbicara lagi, cukup keras “Buka saja. Pintu itu tidak pernah diselarak”.
    ” Terima kasih“ sekali lagi Agung Sedayu menjawab. Kini di tangannya telah memegang wengku pintu yang dibuat dari anyaman bambu wulung. Perlahan-lahan ia mendorong ke samping. Dan pintu itu pun terbuka.
    Dada Agung Sedayu berdesir. Di dalam pringgitan itu duduk hanya dua orang saja Kakaknya, Untara dan seorang lagi, Wuranta,
    “Masuklah“ terdengar suara kakaknya berat tetapi dingin. Sedingin angin pegunungan yang bertiup semakin kencang.
    “Terima kasih kakang“ sahut Agung Sedayu. Suaranyapun tiba-tiba bernada berat. Tetapi terasa sebuah getaran di dadanya terpercik di antara kata-katanya.
    Tetapi begitu ia melangkahkan kakinya, Agung Sedayu itu tertegun. Ia melihat Wuranta tiba-tiba berdiri dan berkata “Untara, aku akan keluar sebentar. Udara terlampau panas di pringgitan ini.”
    Terasa jantung Agung Sedayu menjadi semakin cepat berdentang. Ia sadar bahwa kehadirannyalah yang seolah-olah telah mengusir Wuranta dari pringgitan itu. Agaknya Wuranta benar-benar tidak dapat menemuinya.
    Dengan demikian maka teka-teki di dalam dada Agung Sedayu menjadi semakin kisruh. Panggilan kakaknya telah membingungkannya, dan kini ia menemukan suatu pertanyaan baru yang semakin membelit hati.
    “Apakah sebenarnya yang telah aku lakukan, sehingga aku terperosok dalam keadaan yang membingungkan ini? “ desis Agung Sedayu di dalam hatinya.
    Tetapi yang terdengar adalah suara Untara “Duduklah Wuranta.”
    “Aku akan keluar sebentar “sahut Wuranta sambil melangkah.
    Tetapi sekali lagi terdengar Untara berkata “Duduklah.” Wuranta menggeleng “Aku tidak betah duduk di dalam pringgitan yang panas ini.”
    “Di luar udara akan lebih panas lagi. Duduklah“ ulang Untara. Tetapi Wuranta masih juga melangkah, Namun langkahnyapun tertegun. Agung Sedayu masih berdiri tegak di muka pintu.
    “Wuranta“ Untara mengulanginya lagi “kemarilah dan duduklah. Dengar kata-kataku. Kemarilah kalian berdua. Duduk di sini. Aku perlu dengan kau berdua”.
    Nada kata-kata Untara serasa semakin berat, memberati hati kedua anak-anak muda itu. Ketika sekali lagi Untara memanggil, maka Wuranta tidak dapat lagi menolaknya – “Wuranta. Kemari. Duduklah di sini.”
    Dengan wajah yang tegang Wuranta itu pun melangkah kembali. Dengan dada yang berdebaran ia duduk di tempatnya. Sekali matanya menyambar Agung Sedayu yang masih berdiri tegak di muka pintu. Tetapi sesaat kemudian dilemparkannya pandangan matanya ke sudut ruangan.
    Agung Sedayu masih tegak di tempatnya. Di lambungnya tergantung sehelai pedang. Di wajahnya terpancar berbagai macam pertanyaan yang telah membingungkannya.
    “Jangan seperti hendak berkelahi Sedayu“ tiba-tiba suara kakaknya mengejutkan “duduklah”.
    .”Oh“ terdengar Agung Sedayu berdesah. “terima kasih kakang.”
    “Apakah kau akan pergi berperang?“ pertanyaan Untara terdengar begitu tajamnya menyentuh telinganya. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menjawab tegas “Tidak.”
    Untara bergeser. Ditatapnya wajah adiknya. Tetapi Agung Sedayu menundukkan kepalanya, Meskipun demikian jawaban Agung Sedayu itu terasa telah menggerakkan hati kakaknya. Dalam keadaan yang wajar. adiknya tidak akan menjawab. Apalagi jawaban sesingkat dan tegas itu.
    Tetapi Untara itu terdiam. Dipandanginya langkah Agung Sedayu mendekatinya dan kemudian duduk di sampingnya. Dijulurkannya pedangnya ke belakang.
    Sejenak mereka saling berdiam diri, dan pringgitan itu dijalari oleh suasana yang sepi tegang. Di kejauhan terdengar lamat-lamat suara burung hantu yang menggetarkan udara malam yang dingin.
    Sesaat kemudian Untara menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya adiknya dengan penuh pertanyaan. Tetapi sebelum Untara bertanya Agung Sedayu berkata “Aku bertemu dengan lima orang yang bersembunyi di balik rerungkudan. Mereka sengaja menjebak aku.”
    Untara masih terdiam, dan Agung Sedayu mengatakan dengan singkat apa yang dijumpainya di perjalanan ke banjar padepokan ini.
    Terasa jantung Untara menjadi semakin cepat bergetar. Ia merasakan suatu kebanggaan di dalam dirinya, bahwa Agung Sedayu telah berhasil menguasai diri dalam keadaan yang tiba-tiba itu dan dapat berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak ingin menunjukkan pengaruh perasaannya itu. Bahkan wajahnya seolah-olah tidak menunjukkan perubahan apapun. Meskipun demikian, Agung Sedayu menjadi agak berlega hati bahwa kakaknya tidak menyalahkannya lagi.
    Sekali lagi ruangan itu menjadi sepi. Baru sejenak kemudian Untara berkata kepada Wuranta tanpa mempersoalkan ceritera Agung Sedayu “Aku memang menunggu kesempatan semacam ini Wuranta.”
    Wuranta tidak menyahut, Tetapi wajahnyapun tunduk memandangi anyaman tikar yang didudukinya
    “Aku ingin setiap persoalan segera selesai. Aku tidak ingin kalian bersikap seperti anak-anak.”
    Tiba-tiba Wuranta mengangkat kepalanya. Sorot matanya menjadi tajam bercahaja. Dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya bergetar “Apakah maksudmu Untara?”
    Untara mengerutkan keningnya. Ia berhadapan dengan seorang anak muda perasa. Anak muda yang mudah tersinggung perasaannya. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Tetapi Untara tetap dalam pendiriannya, Ia ingin menyelesaikan persoalan ini.
    “Wuranta“ berkata Untara “tidak baik kau selalu dikejar oleh perasaanmu itu. Setiap kali kau selalu menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu sejak kau meningalkannya, ketika Agung Sedayu sedang berkelahi dan mengejar Sidanti. Sejak ini, maka anggaplah bahwa di antara kalian sudah tidak ada persoalan lagi, sehingga hubungan kalian menjadi wajar seperti sediakala. Agung Sedayu adalah anak Jati Anom seperti kau, seperti aku juga. Ia untuk seterusnya akan menetap pula di Jati Anom, Kalian akan selalu bertemu di jalan-jalan, di perapatan atau di gardu-gardu perondaan, Kalau hubungan kalian tidak dapat pulih kembali, maka akibatnya pula akan mempengaruhi seluruh anak-anak muda Jati Anom.
    Wajah Wuranta sesaat menjadi pucat. Keringat dinginnya mengalir membasahi pakaiannya. Namun justru karena itu maka ia pun terbungkam.
    Agung Sedayupun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sedang dihadapinya. Tetapi yang telah menyengat hatinya adalah kepastian kakaknya bahwa ia akan tinggal untuk seterusnya di Jati Anom. Dengan demikian maka segera ia menemukan kesimpulan, bahwa hal inilah yang akan dikatakan kakaknya kepadanya, disamping persoalan yang masih tidak jelas baginya, hubungannya dengan Wuranta yang menjadi semakin tegang
    “Aku dapat merasakan perasaan kalian —- berkata Untara seterusnya “tetapi aku tidak sependapat bahwa perasaan itu akan terlampau berkuasa di hati kalian. Kalian harus mengimbanginya dengan nalar dan pikiran, bahwa kalian adalah anak-anak muda Jati Anom. Bahkan kalian adalah harapan bagi kampung halaman. Kalian harus dapat menyingkirkan semua persoalan pribadi untuk kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Apakah kalian dapat mengerti maksudku?
    Wuranta masih terdiam. Keringatnya semakin banyak mengalir di seluruh wajah kulitnya.

  16. Mas DD & ADBM-ers.
    Sekali lagi maaf, saya dengan PD menuliskan halaman 1, halaman 2 dst…. ternyata dapat salah…. mulai dari sekarang saya akan menuliskan halaman, sesuai dengan halaman asli yang ada di buku…..
    berikut saya sampaikan halaman 18.

    Swandaru tidak menjawab dan Agung Sedayupun masih berdiam diri. Tetapi pertimbangannya sama sekali tidak sejalan dengan keinginan Sekar Mirah itu.
    “Bagaimana kakang ?” bertanya Sekar Mirah “marilah kita pulang sekarang.”
    Swandarupun menjadi bimbang. Sebenarnya ia juga ingin segera pulang ke Sangkal Putung. la akan segera berkata kepada ibunya, bahwa janjinya telah terpenuhi. Pulang dengan membawa Sekar Mirah. Dan ibunyapun pasti akan bergembira karenanya. Kalau ibunya masih saja menangis, maka ibunya akan menjadi tenang.
    Dalam kebimbangan itu ia mendengar Sekar Mirah mendesaknya “Bagaimana kakang? Apakah tidak lebih baik kita pulang saja. Disini kita sama sekali tidak berarti apa-apa. Mungkin orang-orang Pajang menganggap kita hanya memberati pekerjaan mereka saja.”
    Akhirnya Agung Sedayu terpaksa mencegahnya. Katanya ”Jangan Sekar Mirah. Aku kira kurang baik kiranya apabila kita tergesa-gesa kembali ke Sangkal Putung.”
    ”Ah” Sekar Mirah berdesah “sekehendakmulah kalau kau tidak akan pergi ke Sangkal Putung. Aku kira kau memang tidak akan pergi ke Sangkal Putung lagi. Kau sudah kembali ke kampung halamanmu, bersama kakakmu pula. Apa gunanya lagi kau pergi ke Sangkal Putung ? Tetapi aku pasti harus pulang. Ayah dan ibuku menunggu aku. Mungkin ibuku selalu menangis dan Ayahku tidak tenang bekerja. Karena itu aku akan segera kembali malam ini.”
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Selama ini ia tidak berpikir bahwa ia telah berada dekat dengan kampung halamannya. Kalau dia ingin kembali pulang, maka ia seharusnya pulang ke Jati Anom, kerumah peninggalan ajahnya jang isinya telah hancur karena pokal Sidanti dan orang-orang Jipang. Tetapi selama ini ia seakan-akan merasa dirinya harus kembali ke Sangkal Putung. Ketempat tugas pamannya, Widura.
    Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu dihadapkan pada kebimbangannya sendiri. Apakah ia harus pergi ke Sangkal Putung atau ia akan tinggal di Jati Anom.
    “Ayolah kakang Swandaru” ajak Sekar Mirah “kita pergi berdua. Disini kita tidak mempunyai teman seorangpun kecuali kita berdua. Tetapi di Sangkal Putung setiap hidung adalah teman-teman kita yang baik. Yang mengerti kesusahan dan kepedihan hati kita. Tetapi disini kita seperti orang asing, yang dianggap mengganggu pekerjaan mereka saja.”

  17. Halaman [19]
    ”Jangan berprasangka Mirah” sahut Agung Sedayu ”Tak seorangpun yang menganggap bahwa kita disini hanya menambah Pekerjaan orang Pajang. Bukankah kita tidak menaganggu mereka?. Kita dapat mengurus diri kita sendiri. Tetapi yang penting diperhatikan adalah kemungkinan yang akan kita temui di sepanjang jalan.”
    ”Kalau kau ingin tinggal disini, tinggalah” potong Sekar Mirah.
    ”Aku datang bersama adi Swandaru. Aku dan adi Swadaru telah menyanggupkan diri kepada Ki Demang Sangkal Putung untuk mencarimu. Kalau kau diketemukan, maka sepantasnya bahwa kami berdualah yang harus menyerahkan kau kepada Ki Demang berdua.”
    ”Tidak perlu” sahut Sekar Mirah ” kau tidak perlu pergi ke Sangkal Putung. Aku akan pulang bersama kakang Swandaru. Kau hanya akan memperlambat perjalanan saja. Ternjata kau masih ingin tinggal disini. Bahkan kau pasti masih ingin tinggal di Jati Anom sehari atau dua hari”.
    ”Tidak Mirah. Aku tidak akan singgah di Jati Anom” jawab Agung Sedayu. Tetapi ia menjadi heran mendengar jawaban itu, jawabannya sendiri. Dan sekali lagi ia menjadi bimbang, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung ? Namun mulutnya berkata ”aku akan pergi ke Sangkal Putung mengantarkanmu. Tetapi jangan malam ini. Kita harus memperhitungkan setiap keadaan. Apa lagi kakang Untara pasti akan mencari kita. Sebab kita adalah sebagian dari tanggung jawabnya.”
    ”Bohong” bantah Sekar Mirah ”Untara sama sekali tidak mempedulikan kita lagi. Apakah kita pergi, apakah kita tinggal disini. Untara tidak akan mempertimbangkan. Bahkan orang-orangnya sajalah yang akan menggerutu karena mereka harus melihat Kehadiran kita disini”.
    Agung Sedayu terdiam. Tetapi hatinya bergejolak. Ia ingin membantah pendapat gadis itu, tetapi ia tidak ingin bertengkar. Sedang Swandaru yang kebingungan duduk saja sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi kepalanya itu terasa pening.
    Mereka terperanjat ketika mereka mendengar suata tetrawa lirih. Kemudian terdengar pintu berderit. Perlahan-lahan seorang tua masuk kedalam ruangan itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
    Orang itu adalah Ki Tanu Metir.
    ”Hem” orang tua itu berdesah ”memang bermacam-macam pikiran dan perasaan bergulat didalam padepokan ini”.

  18. Ki Gede DD,
    hasil editan buku 26 sudah saya email. Mohon diperiksa. Kl ada kekurangan, let me know.

  19. Mas Oko,
    editannya bisa dilihat dimana ya???
    salam,

    D2: Mas Didik, Buku 26 sudah selesai retypenya.

  20. Halaman [20]
    Ketiga anak muda yang berada didalam ruangan itu memandanginya sambil bertanya-tanya didalam hati. Apakah yang dimaksud oleh Ki Tanu Metir itu ?
    “Baru saja aku melihat angger Wuranta yang sedang diguncangkan oleh perasaannya. Ia mengalami persoalan jiwa yang ternyata menggoyahkan keseimbangannya.”,
    Ketika Ki Tanu Metir terdiam sejenak maka Agung Sedayu pun bertanya ”Apakah yang telah terjadi dengan Wuranta, guru?”
    ”Sekarang tidak apa-apa. Angger Wuranta telah bersedia pergi ke banjar padepokan. Aku kira ia lelah berhasil menguasai perasaannya.”
    ”Apakah yang telah menggoncangkan perasaan itu Kiai?”
    “Ah, entahlah. Mungkin salah mengerti, salah tafsir tetapi mungkin juga karena ia tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapinya. Mula-mula angger Wuranta merasa dirinya tidak mendapat perhatian dan pimpinan prajurit Pajang. Padahal ia merasa bahwa ialah yang telah membuka jalan masuk kepadepokan ini. Memang sebenarnyalah demilkian. Tanpa angger Wuranta maka semuanya akan menjadi lain. Mungkin sampai saat ini angger Untara belum berhasil memasuki padepokan ini. Tetapi itu hanya perasaannya saja. Sebenarnya pimpinan prajurit Pajang menaruh perhatian terhadap semua unsur didalam padepokan ini”
    Ki Tanu Metir berhenti sedjenak. Dicobanya untuk menangkap kesan kata-katanya pada wajah anak2 muda itu. Tetapi yang ditangkapnya adalah berbagai pertanyan yang memancar dari sorot mata mereka, seolah-olah mereka bertanya ”Apakah yang telah dilakukanya?”
    Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan kata-katanya “Hampir saja angger Wuranta terjerumus dalam sikap yang tidak terpuji. Bahkan hampir mencelakakan dirinya. Sikapnya terhadap para prajurit Pajang terlampau kasar. Justru karena rasa rendah diri yang menjalari dadanya. Tetapi itu sudah lampau. Angger Wuranta telah menyadari keadaannya, bahwa orang-orang Pajang disini mempunyai banyak sekali persoalan yang harus diselesaikan. Diantaranya adalah soal yang menyangkut angger Wuranta itu sendiri.”
    Ketiga anak-anak muda itu masih terdiam. Tetapi Sekar Mirah yang menundukkan wajahnya, tiba-tiba berkata “Apakah Kiai menyindir aku?”

  21. Halaman [21]

    “Oh” Ki Tanu Metir terperanjat. Namun kemudian ia tetersenyum ”jangan salah sangka ngger. Aku tidak ingin menyidir seseorang. Aku sudah mengatakan bahwa dalam keadaan serupa ini banyak sekali persoalan yang tumbuh dan bahkan berkembang dipadepokan ini. Angger Wuranta adalah gambaran dari seorang anak muda yang kecewa. Aku tidak tahu apakah yang mengecewakannya. Kemudian seolah-olah ia membuat sebuah neraca. Neraca yang menimbang berat jasa dan penghargaan. Hampir ia berteriak ”Jasaku tidak dihargai orang.” Untunglah bahwa hal itu belum terjadi. Nah, aku kira persoalan angger agak berbeda. Angger sama sekali tidak ingin dihargai karena jasa-jasa angger. Bukankah begitu? “
    Sekai Mirah tidak menjawab.
    ”Mungkin padepokan ini terlampau sepi buat angger Sekar Mirah. Mungkin tidak seramai Kademangan Sangkal Putung. Di sana angger pasti akan dikerununi oleh orang-orang Sangkal Putung, para pemimpin Kademangan dan para pemimpin prajurit Pajang. Tetapi keadaan Sangkal Putung berbeda dengan keadaan disini.
    Di Sangkal Putung orang-orang sudah tidak disibukkan oleh berbagai macam persoalan. Sedang disini sangat berlainan. ”
    ” Aku tahu. Aku tahu Kiai ” potong Sekar Mirah ”Maksud Kiai ingin mengatakan bahwa aku terlampau manja. Bukankah begitu ? Nah, buat apa aku bermanja-manja disini. Itupun salah satu sebab kenapa aku harus segera pulang ke Sangkal Putung”
    ” Bukan begitu ngger.” sahut Kiai Gringsing ”meskipun dugaan angger itu sebagian benar. Tetapi maksudku adalah, bahwa angger telah cukup dewasa. Karena itu angger seharusnya menghadapi setiap persoalan dengan sikap dewasa. Bukan sebagai seorang gadis kecil yang patah hati ditinggal kekasih. Lalu lari tanpa mempertimbangkan persoalan yang akan dihadapi ditengah jalan. Tetapi angger tidak akan berbuat demikian, Angger adalah puteri seorang Demang yang cukup bijaksana. Karena itulah maka kebijaksanaan itu pasti juga angger miliki. Juga pada angger Swandaru yang setiap hari mengikuti cara Ki Demang melakukan tugasnya.” sekali lagi Ki Tanu Metir berhenti. Sekali lagi ia menunggu kesan yang terbayang diwajah anak-anak muda itu.
    Kemudian katanya ”Nah, kalau angger sependapat, maka aku harap angger tidak meninggalkan padepokan ini untuk sementara. Aku menyangka bahwa Ki Tambak Wedi, Argajaya dan Sidanti masih berkeliaran disekitar tempat ini. Setiap orang yang dijumpainya pasti akan menjadi korban pelepasan dendamnya. Nah, bayangkan, apa yang akan dilakukan oleh Sidanti apabila bertemu dengan orang itu ditengah jalan. ”

  22. Halaman [22]
    …… tolong di periksa kata-kata sebelum ini, karena tidak ter scan dengan baik……

    mendengar nama Sidanti, sehingga tumbuhlah kecemasan yang menggores jantungnya yang berdebaran. Meskipun demikian gadis itu tidak menjawab sepatah katapun. Namun bagi Ki Tanu Metir kediamannya adalah cukup jelas. Kediamannya itu adalah sebuah jawaban yang cukup tegas.
    ” Tenangkanlah hati kalian disini. Hadapilah semuanya dengan sikap yang masak. Pengalaman yang telah terjadi seharusnya membuat kalian dewasa.”
    Tak seorangpun yang menyahut. Dan sejenak kemudian Ki Tanu Metir berkata ” Beristirahatlah, Aku akan pergi kebanjar. Mungkin ada sesuatu jang harus aku kerjakan disana, diantara orang-orang yang terluka. Aku datang hanya sekedar menengok kalian.”
    Ketika Ki Tanu Metir meninggalkan mereka maka untuk sesaat mereka masih tetap berdiam diri. Sekar Mirah menundukkan wajahnya dalam-dalam meskipun ia masih tetap berpegangan tangan kakaknya. Agung Sedayu melepaskan pandangan matanya menembus lubang pintu yang masih sedikit terbuka, sedang Swandaru sekali-sekali mengangguk-anggukkan kepalanya. Terngiang ditelinganya kata-kata gurunya ”Pengalaman harus membuat kalian dewasa.”
    Malam yang hitam pekat berjalan dengan tenangnya. Semakin. lama semakin jauh. Bintang-bintang dilangit bergeser sedikit demi sedikit ke-Barat. Namun ketiga anak-anak muda itu masih saja duduk membeku.
    Ternyata malam itu tidak seorangpun diantara mereka yang tertidur. Mereka sama sekali tidak dapat melepaskaa kegelisahan dan kecemasan tentang bermacam-macam persoalan. Tetapi Sekar Mirah sudah tidak lagi mendesak kakaknya untuk meninggalkan padepokan itu mendahului ke Sangkal Putung. Setiap kali keinginan
    itu tumbuh dihatinya, maka terbayanglah wajah Sidanti yang sangat menakutkan baginya.
    Sehari berikutnya mereka hampir tidak keluar dari rumah itu. Hanya Agung Sedayu sajalah yang pergi kebanjar sebentar untuk bertemu dengan kakaknya yang masih sangat sibuk. Sebenarnya anak muda itu ingin juga bertemu dengan Wuranta. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. la tidak tahu bagaimanakah sikap Wuranta itu kini terhadapnya. Dan ia masih tetap mencari-cari jawab atas pertanyaannya yang mengganggunya selama ini tentang sikap anak muda itu.
    Tetapi pada saat Agung Sedau berada dibanjar padepokan itu Wuranta sedang menunggui pemakaman kakek tua suami isteri yang telah menolongnya.

  23. lama-lama saya jadi malu dan merasa kerdil, semangat pasukan pajang membangun ADBM ini memang luar biasa, sementara hari ini saya cuma memetik hasilnya, “terima kasih” para pendahulu.

  24. Soeltan Padjang menagih itoe Semangkin dan Prihatin,
    temtoe pada itoe zaman beloen ada istilah Apel Washington atawa Apel Malang..

    • apel mekintos sudah release belom ki ?

      • apel malam minggu……????!!!!!
        (menika karemanipun Ki Menggung KY)

        • ki menggung KY emang remenane aPEL-aPEL,

          aPElagi yang kinyis-kinyis……langsung sahuT.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: