Buku 25

Prajurit itu berhenti, dan dibiarkannya Wuranta mendekati Ki Tanu Metir yang sedang sibuk.

Ki Tanu Metir berpaling ketika ia merasa pundaknya digamit oleh seseorang. Ternyata yang berdiri di belakangnya adalah Wuranta, sehingga dengan serta-merta orang tua itu berkata, “He, kaukah itu, Ngger? Aku senang sekali melihat kau merubah pendirianmu. Ternyata kau mau datang ke banjar ini. Marilah, Swandaru dan Agung Sedayu berada di dalam banjar.”

“Maaf, Kiai,” sahut Wuranta, “aku tidak akan menemui siapa pun di sini kecuali Kiai.”

“Aku?”

“Ya.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Wajahnya memancarkan pertanyaan yang bergelut di dalam hatinya.

“Aku memerlukan Kiai.”

“O, barangkali Angger ingin mendapatkan obat bagi luka Angger itu? Apakah luka itu berdarah lagi?”

“Lukaku sudah sembuh, Kiai. Aku sudah tidak merasakan sakit sama sekali. Tetapi aku memerlukan Kiai untuk seorang kakek yang terluka.”

“Siapakah orang itu?”

“Seorang laki-laki tua dari Tambak Wedi ini.”

“Kenapa?”

“Orang itu terluka di lambungnya, Kiai. Lukanya cukup berat. Aku ingin minta Kiai mengobatinya.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Aku juga sedang mengobati luka-luka, Ngger. Orang Pajang, orang Jipang, dan orang Tambak Wedi.”

“Luka itu terlampau berat Kiai. Luka itu sangat membabayakan jiwanya. Jiwa orang tua itu.”

“Ya,” Ki Tanu Metir berdesah “di sini pun orang-orang yang terluka itu segera memerlukan pertolongan. Jiwa mereka juga terancam. Karena itu, Ngger, mari silahkan duduk di dalam. Angger Untara aku kira sudah berada di dalam pula bersama Swandaru dan Agung Sedayu. Nanti sesudah aku menolong orang-orang di sini bersama beberapa orang yang bertugas, aku akan pergi bersama Angger.”

“Tidak, Kiai. Aku harap Kiai pergi sekarang. Di sini telah banyak orang yang merawat orang-orang yang terluka. Apabila Kiai telah meninggalkan obat bagi mereka, maka Kiai akan dapat meninggalkan mereka.”

“Aku belum memberikan obat apa-apa, Ngger. Aku masih belum sempat membuat. Yang ada adalah obat persediaan dari pasukan Pajang sendiri. Yang dibuat oleh para dukun di Pajang itulah yang kami pergunakan sekarang. Di tempat-tempat lain, obat-obat semacam ini pula yang dipergunakan, sehingga laki-laki tua yang Angger maksud itu pasti akan mendapat perawatan yang serupa oleh petugas-petugas di tempat itu, meskipun ia seorang dari Tambak Wedi.”

“Tidak, Kiai. Ia sama sekali belum mendapat perawatan. Lukanya parah. Mungkin orang itu kehabisan darah. Aku telah mencoba mengobati lukanya dengan sisa obat yang Kiai berikan kepadaku. Tetapi obat itu tinggal sedikit, sehingga tidak begitu bermanfaat lagi bagi lukanya.”

“Maaf, Ngger, nanti aku akan datang. Di sini orang-orang yang terluka parah, dan segera harus mendapat pertolongan terlampau, banyak. Aku akan menolong mereka, dan kemudian aku akan pergi kepada laki-laki tua yang Angger maksud.”

“Kiai,” Wuranta mulai menjadi cemas, “kalau Kiai tidak segera datang, laki-laki tua itu pasti akan mati. Laki-laki itu adalah laki-laki yang lelah menolongku. Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin menginjakkan kakiku di banjar ini, bertemu dengan para prajurit yang selalu marah-marah dan merendahkan aku. Aku tidak ingin bercermin atas kekerdilanku. Tetapi aku terpaksa, Kiai, karena aku memikirkan orang itu. Aku korbankan perasaan tentang diriku sendiri, karena aku tidak sampai hati melihat orang tua itu menderita. Kiai, apabila laki-laki itu tidak memberi kesempatan aku lari dari tahanan Sidanti, maka akhir dari peperangan ini pun akan berbeda, sebab aku tidak akan sempat memberitahukan kepada Kiai apa yang telah terjadi. Dan aku tidak akan dapat memenuhi perintah Kiai untuk pergi ke Jati Anom. Mungkin aku pernah menceriterakannya kepada Kiai, bahwa seorang kakek yang pernah memberikan tempat kepadaku tinggal di padepokan ini, dan kemudian mendapat perintah untuk menangkap aku, tetapi kemudian memberi jalan kepadaku untuk melarikan diri.”

“Ya, ya Ngger, kau pernah mengatakannya.”

“Nah laki-laki tua itulah yang kini terluka. Bahkan keadaannya telah menjadi terlampau gawat. Aku mencegah ketika beberapa orang akan mengambilnya dan mengumpulkannya dengan orang-orang yang lain, sebab aku berpengharapan bahwa aku akan dapat berusaha untuk setidak-tidaknya membalas budi, memanggil Kiai kepadanya. Sebab aku sendiri memang terlampau dungu untuk berbuat sesuatu.”

Ki Tanu Metir menarik nafas. Alisnya yang telah satu-dua ditumbuhi rambut-rambut yang berwarna putih tampak bergerak-gerak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia kemudian berkata, “Apakah Angger ingin aku datang kepadanya sekarang?”

“Ya.”

Ki Tanu Melir terdiam sesaat. Ia dapat membayangkan perasaan Wuranta. Anak muda itu sama sekali sudah tidak ingin datang ke banjar ini karena perasaannya yang tidak menemukan keseimbangan. Sikapnya sebagai seorang anak muda yang masih terlampau banyak dipengaruhi oleh darah mudanya. Tetapi perasaan itu telah dikorbankan karena seorang laki-laki tua yang terluka.

Namun orang tua yang terluka itu ternyata telah menolong jiwa Wuranta, dan memungkinkan Wuranta melakukan tugas-tugas terakhirnya menjelang benturan antara orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi.

Karena itu, maka Ki Tanu Metir itu kemudian menjawab, “Baiklah, Ngger, aku pergi bersamamu. Tetapi apakah angger, tidak ingin singgah sebentar di banjar ini untuk bertemu dengan Angger Untara, Swandaru, dan Agung Sedayu? Mungkin ada sesuatu yang ingin mereka katakan kepadamu?”

Tetapi Wuranta itu menggeleng sambil berkata, “Tidak, Kiai. Orang yang luka itu segera memerlukan pertolongan.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian diselesaikannya pekerjaannya atas seorang yang terluka, yang sudah terlanjur dimulainya. Kemudian kepada salah seorang prajurit Pajang yang bertugas menolong para korban itu Ki Tanu Metir berkata, “Angger, aku akan pergi sebentar. Ada orang terluka yang sangat memerlukan aku.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Di sekitarnya terbaring banyak sekali orang-orang yang terluka. Tetapi seseorang yang terluka telah menunggu orang tua itu.

Agaknya Ki Tanu Metir dapat meraba apa yang tersirat di dalam hati prajurit itu. Maka ia menjelaskannya, “Angger, agaknya orang-orang yang terbaring di sini akan segera mendapat perawatan dari para prajurit yang bertugas untuk itu, sedang orang yang dikatakan oleh Angger Wuranta ini adalah seorang yang terbaring di halaman, yang tidak akan segera ditolong oleh para petugas. Maka aku akan mencoba menolongnya apabila mungkin.”

“Kenapa orang itu tidak dibawa kemari, atau dikumpulkan di tempat terdekat? Dengan demikian maka ia pun akan mendapat pertolongan serupa dengan yang lain.”

Sebelum Ki Tanu Metir menjawab, maka Wuranta telah mendahului, “Apa pedulimu? Orang yang terluka itu sama sekali bukan urusanmu. Sedang pekerjaan ini adalah pekerjaanmu, bukan pekerjaan Ki Tanu Metir.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Dengan dada yang bergelora ia berkata, “Siapa kau?”

Sebelum Wuranta menjawab, Ki Tanu Metir telah mendahului, “Angger Wuranta. Namanya Angger Wuranta. Bukankah begitu?”

Ketika Wuranta memandangi wajah Ki Tanu Metir yang dalam namun penuh dengan ketenangan yang serasa menghunjam jantungnya, tiba-tiba Wuranta menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata, “Maaf, maaf.”

Prajurit itu mendengar suara Wuranta yang lambat itu. Tumbuhlah keheranan di dadanya. Apakah gerangan yang telah terjadi atas anak muda yang bernama Wuranta itu? Tetapi prajurit yang sehari-hari memang bertugas mengurusi orang-orang yang terluka itu mencoba untuk memahami sikap, sifat, dan keadaan orang-orang di dalam peperangan. Mereka kadang-kadang menjadi seorang yang aneh. Pemarah, kasar, dan kadang-kadang tidak dapat dipahami.

“Nah,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “maaf, Ngger. Aku akan pergi bersama Angger Wuranta sejenak. Aku akan segera kembali dan membantu Angger menolong orang-orang yang terluka. Apabila aku tidak segera datang, maka aku telah melakukannya pula di tempat yang lain. Bagiku sama saja, di sini, di rumah sebelah, di halaman dan di mana saja aku menjumpai orang-orang yang terluka.”

“Baiklah, Kiai,” sahut prajurit itu. Tetapi sekali lagi ia mencoba memandangi wajah Wuranta yang tunduk. Wajah itu membawa seribu macam kesan yang campur-baur. Dan prajurit yang bertugas menolong orang-orang yang terluka itu tidak dapat menebak, apakah yang sedang bergulat di dalam dada Wuranta sebenarnya.

Sesaat kemudian Ki Tanu Metir itu pun telah mengikuti Wuranta turun ke halaman. Para prajurit dan perwira yang masih berada di halaman dan yang berjalan hilir mudik di pendapa, melihat mereka berdua berjalan melintasi halaman banjar. “Mereka sama sekali tidak singgah untuk menemui Untara atau Swandaru atau Agung Sedayu. Bahkan mereka berjalan tergesa-gesa seperti takut kemalaman.”

Wuranta membawa Ki Tanu Metir berjalan lewat jalan yang dilalumya. Melintasi kebun dan halaman-halaman di belakang. Sekali mereka berpapasan dengan prajurit yang menghentikan Wuranta ketika ia pergi kebanjar. Prajurit itu segera memalingkan wajahnya dan berjalan menjauh. Tampaklah dalam sikapnya, betapa ia merasa tersinggung atas kata-kata Wuranta.

Semakin dekat dengan tempat kakek yang terbaring luka, Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Senja kini telah menjadi semakin malam. Di sana-sini tampak sinar obor yang dipasang oleh para prajurit Pajang. Tidak saja di rumah-rumah yang dipergunakan, tetapi juga di halaman-halaman.

Di dalam keremangan cahaya obor, Wuranta tidak dapat segera melihat, apakah laki-laki tua yang ditinggalkannya masih terbaring di tempatnya.

Ketika ditemui prajurit yang berjalan hilir-mudik mengawal halaman itu, terbata-bata Wuranta bertanya, “Apakah kakek masih di tempatnya?”

“Masih. Tetapi tidak seorang pun yang merawatnya, sebab ia tidak berada di tempat yang telah disediakan. Aku mencegah para petugas yang akan mengambil mereka seperti yang kau pesankan.”

“Terima kasih,” desis Wuranta sambil meloncat ke emper tempat laki-laki tua itu terbaring. Ketika ia berdiri beberapa langkah lagi, maka ia masih melihat bayangan kehitam-hitaman di dalam cahaya yang terlampau lemah dari obor di kejauhan.

“Kakek,” Wuranta tidak sabar sampai ia berdiri di dekat orang yang terbaring itu.

“Kakek,” Wuranta mengulang, tetapi tidak ada jawaban.

Akhirnya Wuranta berdua bersama Ki Tanu Metir telah berdiri di samping kedua tubuh itu. Wuranta masih melihat nenek itu memeluk suaminya dan meletakkan kepalanya di dada laki-laki yang terbaring itu.

“Kakek,” panggil Wuranta perlahan-lahan. Tak ada jawaban.

“Nenek,” panggilnya pula. Tidak juga ada jawaban. Hati Wuranta menjadi berdebar-debar. Sejenak ia berpaling kepada Ki Tanu Metir yang berdiri di sampingnya.

“Inilah, Kiai, suami isteri yang aku katakan. Kakek terluka di lambungnya.”

Perlahan-lahan Ki Tanu Metir berjongkok di samping kedua orang itu. Orang yang telah cukup berpengalaman itu sama sekali tidak menyentuhnya. Perlahan-lahan ia menggelengkan kepalanya sambil berdesis dalam sekali, “Kita telah terlambat, Ngger.”

Kata-kata Ki Tanu Metir itu terdengar seperti ledakan petir yang menyambar tengkuk Wuranta. Sejenak ia berdiri mematung, sedang mulutnya terkatup rapat-rapat. Tanpa berkedip ia memandang Ki Tanu Metir dengan sorot mata yang aneh.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. “Keduanya telah meninggal, Ngger.”

“Kiai,” hanya itu yang terlontar dari mulut Wuranta.

“Ya,” Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak Wuranta masih mematung. Namun tiba-tiba ia berjongkok di samping mayat kedua suami isteri itu. Seperti orang yang kehilangan akal Wuranta. Menggoncang-goncangnya dan memanggil-manggilnya, “Kakek, Kakek.”

Tetapi kakek tua itu sama sekali tidak menjawab. Bahkan bergerak pun tidak.

Wuranta masih juga tidak percaya pada penglihatannya. Kini ia menggoncang nenek tua yang seolah-olah sedang menangisi suaminya dengan meletakkan kepalanya di dada laki-laki itu.

“Nenek, Nenek,” panggil Wuranta. Nenek tua itu pun tidak menjawab.

Terasa dada Wurantu seakan-akan menjadi pecah karenanya. Nafasnya terengah-engah dan urat-urat di keningnya menegang.

“Kiai, apakah mereka berdua telah benar-benar meninggal?”

“Ya, Ngger, keduanya telah meninggal.”

“Oh, apakah Kiai tidak dapat berbuat apa-apa. Kenapa Kiai hanya diam saja?”

“Apakah yang harus aku lakukan? Terhadap mereka aku tidak kuasa berbuat apa-apa.”

“Tidak, Kiai. Mereka belum meninggal. Aku meninggalkan mereka di sini belum begitu lama. Mereka berdua masih hidup dan mereka masih bercakap-cakap.”

“Mungkin, Ngger, tetapi sekarang mereka telah meninggal.”

“Berbuatlah sesuatu, Kiai, berbuatlah sesuatu.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada yang berat ia menjawab, “Sayang, tidak ada seorang manusia pun yang mampu berbuat sesuatu atas mereka.”

“Oh, bohong, bohong. Kiai tidak mau menolongnya karena ia bukan prajurit Pajang, bukan orang Sangkal Putung dan bukan pula pembantu Untara. Orang itu adalah orang Tambak Wedi.”

“Anakmas Wuranta,” desis Ki Tanu Metir “aku tidak pernah membedakan orang mana pun juga dan dalam keadaan apa pun juga. Apabila orang itu terluka, apalagi dalam keadaan parah, maka aku wajib menolongnya. Tetapi aku, dan siapa pun juga, tidak akan dapat berbuat sesuatu atas orang ini. Mereka telah meninggal dunia.”

“Oh,” kata-kata Wuranta terputus. Dan tanpa disangka-sangka oleh Ki Tanu Metir maka Wuranta itu pun terisak. Anak muda itu menangis. Ia merasa kehilangan seorang yang telah menolongnya. Seorang yang baik, yang paling baik yang pernah dikenalnya. Yang tidak merendahkannya, baik dengan kata-kata mau pun dengan perbuatan. Wuranta yang merasa dirinya tidak berharga di mata orang-orang Pajang setelah pertempuran berakhir, sama sekali merasa tidak merapunyai seorang kawan pun di padepokan Tambak Wedi. Kakek tua itu pasti akan menjadi orang yang baik untuk mengawaninya. Terhadap kakek tua dari Tambak Wedi yang telah dikalahkan itu, Wuranta sama sekali tidak merasa dirinya terlampau rendah.

Tetapi kakek tua itu kini telah mati.

Ki Tanu Metir kini berdiri termangu-mangu melihat sikap Wuranta. Ia menangisi laki-laki tua dari Tambak Wedi itu. Ki Tanu Metir pun merasa iba dan terharu melihat suami isteri yang meninggal bersama-sama. Ia dapat menduga, bahwa isterinya menjadi sangat terkejut melihat suaminya meninggal, kemudian karena kejutan perasaan itu, kejutan yang tidak tertahankan oleh jantungnya yang lemah, maka ia pun meninggal juga.

Tetapi bahwa Wuranta sampai menangis, ternyata benar-benar telah menyentuh perasaannya.

“Mungkin Angger Wuranta merasa berhutang budi kepadanya,” berkata Ki Tanu Metir di dalam hatinya. “Laki-laki tua itu adalah orang yang telah menolongnya, membebaskannya dari tangan Sidanti. Mungkin, ya mungkin. Anak mas Wuranta belum sempat membalas budi itu, dan laki-laki itu telah meninggal bersama isterinya.”

Ki Tanu Metir itu terperanjat ketika ia melihat tiba-tiba Wuranta berdiri. Dengan gigi gemeretak ia menggeram, “Kiai, lihat. Inilah salah satu wajah dari tindakan prajurit Pajang atas Tambak Wedi. Suami isteri yang telah lanjut, mati bersama-sama. Alangkah mengerikan.”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Hanya keningnya sajalah yang berkerut.

“Apakah Kiai tidak terharu melihatnya? Mungkin Kiai telah terlalu sering melihat kematian. Justru Kiai adalah seorang dukun. Seperti seorang pande besi menghadapi sepotong besi merah saja agaknya. Kiai menghadapi orang-orang sakit. Kalau Kiai berhasil demikianlah yang Kiai kehendaki, seperti pande sedang membuat pedang. Kalau pedang itu gagal, maka Kiai tidak begitu menyesal karenanya. Bagi Kiai kegagalan itu adalah suatu keadaan yang wajar dan terlampau biasa. Tetapi sepotong besi akan dapat dibakar untuk kedua kalinya, meskipun untuk alat-alat yang lain. Sedang kematian adalah jauh berbeda daripadanya. Kiai harus menyesal sekali, Kiai harus terharu dan berduka cita. Apakah hati Kiai telah membeku karena terlampau sering melihat kematian? Dan kegagalan yang demikian adalah suatu peristiwa yang wajar tanpa suatu kesan apa pun di hati Kiai?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Dibiarkannya saja anggapan anak muda itu atas dirinya. Kalau ia membantah, maka hati anak muda itu akan menjadi semakin terbakar. Meskipun demikian ia terpaksa bertanya kepada Wuranta, “Apakah prajurit Pajang yang telah membunuhnya?”

Pertanyaan itu membuat Wuranta terdiam sesaat. Dahinya yang mengkilat oleh keringat tampak berkerut-merut. Ditatapnya wajah Ki Tanu Metir dengan tajamnya. Namun ketika pandangan mata mereka bertemu, cepat-cepat Wuranta berpaling.

Tetapi untuk menutupi kekecilan diri segera ia berkata lantang, “Apakah bedanya? Siapapun yang telah membunuh kakek tua ini, namun ini adalah akibat dari peperangan.”

“Ya, peperangan memang selalu berakibat buruk. Tetapi siapakah yang telah membunuhnya? Prajurit Pajang?”

Akhirnya Wuranta terpaksa menggeleng lemah, “Tidak, Kiai. Kakek dibunuh oleh orang-orang Jipang dalam perselisihan yang terjadi sebelum prajurit Pajang datang.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi yang membunuh laki-laki tua itu sama sekali bukan prajurit Pajang?”

“Apa bedanya?” tiba-tiba nada suara Wuranta meninggi. “Apa bedanya Kiai? Di halaman ini, di halaman banjar dan sekitarnya, bertebaran mayat orang-orang Tambak Wedi. Mereka sebagian mati karena ujung senjata orang-orang Pajang. Meskipun orang-orang Pajang tidak membunuh kakek tua ini, tetapi orang-orang lain dibunuhnya. Orang-orang lain yang beranak dan beristeri pula. Mereka mati meninggalkan anak dan isterinya dalam penderitaan dan kesedihan.” Wuranta berhenti sejenak. Wajahnya tampak semerah tembaga dalam keremangan cahaya obor di kejauhan. “Kiai, aku menyesali bahwa aku telah melakukan pekerjaan yang Kiai rencanakan. Pekerjaan itu hampir membunuhku. Ketika aku terlepas dari maut maka akibat dari pekerjaaaku adalah ini,” Wuranta menunjuk laki-laki tua itu beserta isterinya. “Bukan saja sepasang suami isteri, tetapi berpuluh-puluh. Sebaiknya aku tidak melakukannya, dan pepati ini pasti akan terhindar. Aku tidak usah turut campur segala macam persoalan di dalam padepokan ini. Seandainya aku diam saja, tidak memberitahukan kepada orang-orang Sidanti, bahwa Alap-alap Jalatunda memasuki rumah tempat Sidanti menyimpan Sekar Mirah, maka orang-orang Jipang tidak akan saling membunuh dengan orang-orang Tambak Wedi.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, “Lalu Angger akan membiarkan saja tingkah laku Alap-alap Jalatunda itu?”

“Apa peduliku. Korban dari peristiwa itu hanyalah seorang gadis saja. Sekar Mirah. Tetapi sekarang? Korban berjatuhan tidak terbilang.”

“Tidak akan jauh berbeda, Ngger. Sekar Mirah akan mengatakan kepada Sidanti apa yang terjadi. Dan pertempuran antara mereka tidak akan terhindar.”

“Belum pasti. Kalau Alap-alap Jalatunda membunuh Sekar Mirah, maka rahasia itu akan tetap tidak terbuka.”

Dada Ki Tanu Metir berdesir mendengar kata-kata Wuranta, bahkan seluruh bulu-bulunya meremang. Sejenak orang tua itu terdiam. Sesuatu bergelora di dalam hatinya. Dahsyat sekali. Tetapi wajah orang tua itu sama sekali tidak membayangkan perasaannya. Dengan susah payah, Ki Tanu Metir mencoba untuk menyembunyikan getar jantungnya. Apalagi ketika Wuranta berkata, “Kiai, ternyata apa yang telah aku lakukan dengan hampir saja mengorbankan nyawaku, dan sekarang ternyata lelah menelan berpuluh jiwa di dalam peperangan ini hanyalah sekedar menyenangkan hati Agung Sedayu.”

“Ah,” terloncat suatu desah yang serta-merta dari mulut Ki Tanu Metir. Tetapi orang itu kemudian mencoba untuk diam.

“Lalu, apakah yang sebenarnya terjadi?” bertanya Wuranta. “Apakah Kiai dapat mengatakan lain daripada itu?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, ya Ngger. Angger benar. Peperangan ini telah membunuh berpuluh-puluh korban dari segala pihak. Terutama orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi. Ya, seandainya Sekar Mirah dikorbankan, maka keadaannya akan lain sekali, Ngger. Orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi tidak akan mengalami nasib sepahit ini.”

“Nah, bukankah Kiai mengakui?”

“Ya, ya Ngger. Aku sependapat,” Ki Tanu Metir terdiam sejenak, lalu ia meneruskan, “Tetapi, bagaimanakah kalau yang menjadi korban itu orang-orang Jati Anom? Apakah kira-kira akan menjadi lebih baik?”

Wuranta terkejut mendengar pertanyaan itu sehingga hampir-hampir ia terlonjak. Dengan sorot mata yang aneh ditatapnya wajah Ki Tanu Metir. Namun sekali lagi Wuranta melontarkan pandangan matanya jauh-jauh ketika pandangan mata mereka beradu.

“Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir, “peristiwa seperti yang dialami oleh Sekar Mirah akan dapat saja terjadi atas gadis-gadis Jati Anom. Seandainya benar terjadi demikian, dan gadis itu adalah adik Angger Wuranta, maka Angger pasti akan berpendapat lain. Tetapi adalah kebetulan sekali bahwa Angger Wuranta, anak Jati Anom, dapat membantu kami. Persoalannya tidak hanya sekedar Sekar Mirah, tetapi, bagaimanakah kalau kemudian orang-orang Jipang dan Tambak Wedi menjadi semakin kuat, dan dengan serta-merta sebagian dari mereka menduduki Jati Anom? Selama ini mereka hanya sekedar mendatangi kademangan itu, karena mereka tidak cukup kuat untuk mendudukinya dengan membagi pasukan. Tetapi suatu ketika maka sebadian dari mereka akan mengalir ke Timur, seperti bendungan yang penuh dan melimpah, menggenangi kademangan Jati Anom. Apabila anak-anak muda dan setiap laki-laki Jati Anom kemudian melakukan perlawanan setelah menghimpun diri, maka apa yang kita lihat sekarang adalah gambaran dari apa yang terjadi. Tetapi yang bergelimpangan di halaman, di jalan-jalan dan bahkan kakek-kakek tua dan nenek-nenek tua yang menjadi korban, adalah orang-orang Jati Anom. Orang-orang Tambak Wedi dan orang Jipang akan berada di pendapa kademangan, bertolak pinggang sambil memanggil setiap perempuan dan gadis-gadis cantik untuk memenuhi panggilan nafsu mereka beserta pasukan mereka. Begitu? Semua itu akan dapat terjadi. Dan aku sengaja tidak menyebut-nyebut nama Untara, Senapati Pajang yang mencoba dengan caranya membebaskan Sangkal Pulung dan kini Jati Anom dari bahaya orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi yang tamak.”

Wuranta berdiri tegak seperti patung batu. Setiap kata yang diucapkan oleh Ki Tanu Metir terasa bagaikan jarum yang langsung menusuk jantungnya. Pedih, namun Wuranta tidak dapa menghindarkan diri dari pengakuan atas kebenaran dari kata-kata itu. Bahkan sekali lagi hatinya yang gelap dan kehilangan keseimbangan itu dapat terbuka. Ia melihat di dalam angan-angannya. peristiwa yang mengerikan itu terjadi atas Jati Anom.

Kepala Wuranta itu pun kemudian tertunduk dalam-dalam. Pedih hatinya menjadi semakin pedih. Tetapi ia merasakan kebenaran dari kata-kata itu.

Wuranta melihat betapa besar kesalahan yang telah dilakukan. Namun yang tidak diharapkan oleh Ki Tanu Metir, Wuranta yang kecil itu ternyata merasa semakin kecil.

Dengan kata-kata yang hampir tidak sempat meloncat dari mulutnya Wuranta berkata, “Ya, Kiai. Aku merasakan kebenaran kata-kata Kiai. Kini semakin nyata bagiku, alangkah cupet budiku. Alangkah kerdilnya jiwaku. Aku tidak pantas berada di antara murid-murid Kiai, di antara orang-orang Pajang, bahkan di antara anak-anak muda Jati Anom sendiri. Meskipun baru terbatas pada angan-angan, namun aku telah berkhianat kepada murid-murid Kiai, kepada para prajurit Pajang dan kepada kampung halaman. Karena itu, maka aku tidak pantas lagi berada di antara mereka.”

“Angger Wuranta,” Ki Tanu Metir memotong kata-kata itu, “apakah maksud Angger?”

“Kesalahanku tidak dapat dimaafkan Kiai. Karena itu lebih baik bagiku untuk meninggalkan mereka yang telah aku khianati di dalam angan-angan. Kalau angan-angan itu terwujud dalam tindakan, alangkah mudahnya. Aku dapat segera dihukum mati. Tetapi pengkhianatan yang aku lakukan, baru aku sendirilah yang melihatnya, sehingga aku sajalah yang dapat menghukumnya.”

“Apakah yang akan Angger lakukan?”

“Pergi, Kiai. Kesalahanku telah bertimbun-timbun. Bahkan aku pula yang telah menyebabkan kematian kakek tua ini. Seandainya aku tidak menahannya karena aku ingin memanggil Kiai dan berbuat jasa kepada orang tua itu, maka aku kira pertolongan baginya tidak akan begitu lambat.”

“Ah,” Ki Tanu Metir berdesah “Angger terlampau perasa. Suatu goncangan telah mengejutkan perasaan Angger, sehingga Angger kehilangan keseimbangan. Dengarlah, Ngger, beberapa kali aku katakan, Angger kehilangan keseimbangan. Dalam keadaan demikian, janganlah Angger mencoba mengambil keputusan mengenai masalah yang penting.”

“Tidak, Kiai, aku tidak kehilangan keseimbangan. Mungkin sebelum aku mendengar keterangan Kiai tentang persoalan yang sedang aku hadapi. Tetapi sekarang aku telah mendapat keyakinan tentang diriku. Supaya aku tidak kehilangan keseimbangan lagi di antara orang-orang Sangkal Putung, para prajurit Pajang dan bahkan orang-orang Jati Anom sendiri, maka sebaiknya aku meninggalkan mereka.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin mengenal anak muda yang sedang dihadapinya. Anak muda yang sedang kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Anak muda yang sedang mengalami goncangan jiwa yang dahsyat.

“Anakmas Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir mencoba untuk menggugah kebanggaan atas diri sendiri, “memang kita harus menghargai setiap sumbangan bagi terbebasnya padepokan ini dari tangan orang-orang Jipang dan Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. Tetapi dari sekian banyak kebanggaan ini, maka Angger Wuranta-lah yang seharusnya paling berbangga atas segala hasil usaha dan perjuangannya.”

“Kiai mengulangi lagi hal itu? Kiai, hatiku telah berkeriput menjadi semenir. Apakah aku harus berkata dalam kegilaan seperti yang pernah aku ucapkan bahwa tanpa Wuranta padepokan ini tidak akan dapat dilepaskan dari tangan mereka.”

“Tidak, Ngger, juga bukan itu maksudku. Sekarang aku akan berkata wajar, seperti juga Angger sekarang memerlukan kewajaran. Memang Angger bukan satu-satunya pahlawan yang dapat merebut padepokan. Semuanya mempunyai sumbangan yang serupa, dan semuanya telah mempertaruhkan nyawa masing-masing. Bukankah begitu? Tetapi Angger masih mempunyai kebanggaan yang tidak dipunyai oleh orang lain, atau setidak-tidaknya lebih besar dari orang lain. Agung Sedayu mempertaruhkan nyawanya karena ia mempunyai pamrih yang jelas. Ia akan mendapatkan sesuatu setelah padepokan ini bedah. Seperti juga Swandaru berbuat demikian, karena ia ingin membebaskan adiknya. Sedang Angger Untara membawa pasukannya, bahkan para prajurit Pajang, bertempur dan mempertaruhkan nyawa mereka karena kewajiban. Kewajiban seorang satria. Nah, di sinilah kelebihan Angger. Angger dengan sukarela melakukan perjuangan ini. Angger tidak berkepentingan langsung dengan orang-seorang di dalam padepokan ini. Angger tidak mempunyai seorang adik atau saudara yang lain di dalam padepokan ini. Dan Angger bukan seorang prajurit. Inilah kelebihan Angger. Dan Angger harus berbangga karenanya. Angger tidak perlu merasa diri Angger terlampau kecil. Dalam bidang yang Angger lakukan, maka Angger adalah seorang yang besar, seperti Untara di dalam bidangnya. Ternyata tidak seorang pun dari pasukan sandi yang berhasil masuk. Pasukan sandi yang disusun oleh Untara, dan terlatih pula. Mereka hanya berbasil mendekati dan melihat padepokan ini dari luar. Tetapi Angger dapat masuk ke dalamnya, meskipun harus bertaruh nyawa. Nah, Angger harus melihat semuanya ini dengan wajar. Angger tidak boleh berkecil hati. Dan Angger tidak perlu merasa diri Angger terlampau kecil. Apalagi apabila Angger mengambil keputusan untuk meninggalkan Jati Anom.” Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Dibiarkannya kata-katanya mengendap di dalam hati anak muda itu.

Karena Wuranta tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir meneruskan, “Nah, lihatlah ke depan, ke hari depan yang terang bagimu dan bagi Jati Anom.”

Wuranta tidak menjawab. Tetapi terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Masa depannya dan masa depan Jati Anom memang masih cukup panjang Selama ini ia sudah mulai menginjakkan kakinya bagi pembinaan masa depan itu. Masa depannya dan masa depan Jati Anom. Bahkan sebelum padepokan Tambak Wedi menyatakan dirinya lepas dari kekuasaan Pajang, maka Wuranta telah mencbba untuk membentuk Jati Anom siap mesyongsong masa depannya.

Tetapi yang terjadi terlampau cepat. Sebelum Jati Anom sempat berbuat sesuatu mereka telah dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak mungkin ditanggulangi. Sidanti, Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, bahkan kemudian Argajaya dan Ki Tambak Wedi sendiri, selalu menakut-nakuti kademangan yang belum berhasil menyusun diri itu, sehingga sebagian dari mereka terpaksa menyingkir dan menghimpun kekuatan di luar kademangan mereka. Anak muda Jati Anom yang dapat dibanggakan, Untara, ternyata memikul tugas terlampau berat untuk dapat membagi dirinya. Namun kini Untara itu berada di dalam lingkungannya kembali. Jati Anom dan anak-anak muda kawan bermain semasa kanak-anak. Tetapi kedudukan Untara telah membuat jarak antara anak-anak mada kawannya bermain semasa kanak-anak dengan dirinya. Jarak yang sebenamya tidak dikehendakinya sendiri.

Namun kesadaran, itu telah berhasil mencegah Wuranta semakin dalam terseret arus perasaannya. Terbayang kembali segalanya yang pernah dilakukannya. Terbayang kembali bagaimana Ki Tanu Metir mendorongnya untuk masuk ke dalam padepokan ini.

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun terbersit kata-kata di dalam hatinya, “Melarikan diri temyata memang bukan suatu penyelesaian. Apakah yang akan aku lakukan di pelarian itu? Tetapi untuk terus-menerus menyiksa diri adalah terlampau sakit.”

Angin malam berhembus menyapu lereng Merapi. Terasa digin mulai menyusup tulang. Di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menggonggong bersahut-sahutan. Seolah-olah mereka telah mencium bau darah yang sedang mengalir di padepokan Tambak Wedi.

Lamat-lamat suara burung hantu mengetuk hati. Sayu, seperti rintihan mereka yang sedang terluka.

Dalam kesepian itu Wuranta mampu melihat ke dalam dirinya sendiri. Meskipun ia menjadi ngeri melihat kenyataan itu, tetapi yang tampak padanya adalah terlampau jelas. Adalah terlalu dibuat-buat apabila ia merasa seolah-olah orang-orang Pajang kini mengesampingkannya bahkan merendahkan dan mengabaikannya setelah semuanya rampung dengan baik. Adalah terlalu dicari-cari apabila ia mengatakan bahwa Umara kini merasa dirinya terlampau besar sehingga tidak sempat lagi menemuinya.

Wuranta memejamkan matanya ketika mau tidak mau ia harus menghadapi pengakuan diri, bahwa alasan sebenarnya adalah hatinya yang pecah karena hubungan yang dilihatnya telah terjalin antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah, hatinya yang semakin parah ketika ia melihat kenyataan betapa jauhnya jarak antara dirinya dengan Agung Sedayu. Ia tidak akan dapat menyamainya dalam pacuan di segenap bidang. Berpacu merebut hati Sekar Mirah dan berpacu sebagai anak muda Jati Anom dihadapkan pada lawan-lawannya, meskipun ia tidak pernah berhasil melupakan, bahwa di masa kanak-kanak mereka, Agung Sedayu adalah seorang penakut yang cengeng.

Wuranta terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Bagaimana, Ngger? Kenapa Angger diam saja?”

“Oh,” Wuranta kini mengangkat wajahnya. Dalam keremangan cahaya obor yang kemerah-merahan, dilihatnya wajah Ki Tanu Metir yang sareh lunak. Betapa dalam dan lapangnya hati orang tua itu. Kesabarannya hampir tidak terbatas, seperti luasnya lautan tanpa tepi. Justru karena itu, maka kembali wajah Wuranta tertunduk. Tetapi kini ia menjawab, “Aku dapat mengerti, Kiai. Sekali lagi aku merasakan kekerdilan diri.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia mendengar kata-kata tiu diucapkan dengan wajar. Meskipun kata-kata itu searti, tetapi tidak senada.

“Jadi, apakah Angger tetap pada keputusan Angger itu?”

Wuranta ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Tidak Kiai. Aku tidak akan melarikan diri dari kepahitan ini.”

“Bagus,” dengan serta-merta Ki Tanu Metir menyahut sambil menepuk bahu anak muda itu. “Ternyata Angger Wuranta benar-benar berhati jantan.”

“Jangan memuji, Kiai. Hatiku telah luluh menjadi debu.”

“Tetapi aku masih melihat bara yang menyala di dalam dada Angger Wuranta, bukan sekedar debu. Nah, karena itu, marilah kita pergi ke banjar padepokan. Di sana Angger akan bertemu dengan Untara, Agung Sedayu, dan Swandaru dalam keadaan yang wajar.”

“Terima kasih, Kiai. Aku tidak akan lari, tetapi aku tidak akan pergi ke banjar.”

Sekali lagi dahi Ki Tanu Metir berkerut-merut. Tetapi ia merasakan perbedaan arti yaag tersirat dalam kalimat itu. Karena itu maka ia segera mengerti, betapapun juga Wuranta masih belum dapat melepaskan perasaannya. Tetapi itu pun masih dapat dianggapnya wajar.

“Kiai,” berkata Wuranta seterusnya, “aku masih harus menunggu jenazah kedua suami isteri ini.”

“Oh,” sahut KiTanu Metir, “bukankah jenazah ini dapat diserahkan kepada mereka yang berkewajiban.”

Ki Tanu Metir terkejut ketika wajah Wuranta itu tiba-tiba saja menegang. Namun hanya sebentar. Kali ini anak muda itu berhasil menguasai dirinya dan tidak lagi terseret oleh perasaannya tanpa pertimbangan. Katanya, “Kiai, aku tidak dapat menganggap suami isteri ini seperti orang-orang lain di padepokan ini. Pada laki-laki tua ini terdapat kekhususan. Setidak-tidaknya ia tidak dapat dianggap bersalah sebesar orang-orang Tambak Wedi yang lain. Tanpa orang tua ini, maka segalanya akan menjadi berbeda.”

“O, baik, baiklah,” Ki Tanu Metir cepat-cepat memotongnya. “Aku minta maaf atas kealpaan ini. Aku kira Untara pun tidak akan berkeberatan sama sekali.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa segala sesuatu yang dilakukan di sini harus mendapat ijin dahulu dari Untara atau orang yang dikuasakannya. Dalam hal laki-laki tua itu pun, ia tidak akan dapat berbuat sekehendak hatinya. Pengkhususan pemakaman orang itu pun harus mendapat ijin dahulu.

Tetapi hatinya pasti tidak akan rela, apabila laki-laki tua itu akan dianggap sama saja dengan orang-orang Tambak Wedi yang lain. Orang tua itu setidak-tidaknya harus mendapat kehormatan seperti para prajurit Pajang yang gugur di peperangan ini.

Karena itu maka Wuranta itu pun kemudian berkata, “Kiai, aku harap Kiai akan menyampaikan kepada Kakang Untara, bahwa aku minta laki-laki tua ini mendapat perhatian khusus, sesuai dengan jasa semasa hidupnya atas Pajang, meskipun seandainya ia tidak sengaja berbuat demikian.”

“Kita dapat pergi bersama, Ngger,” jawab Kiai Gringsing. “Angger Untara akan menjadi lebih banyak memperhatikan pendapat Angger sendiri daripada pendapatku.”

“Terima kasih, Kiai,” sahut Wuranta. “Malam ini aku akan menunggui mayat suami isteri ini di sini.”

“Bukankah sudah ada orang yang berkewajiban.”

“Biarlah, Kiai, aku akan menemaninya.”

Ki Tanu Metir tidak akan dapat memaksanya. Namun terasa bahwa Wuranta telah mulai menemukan kesadaran tentang dirinya, meskipun ia masih tetap merasa rendah diri. Tetapi ia tidak menjadi liar dan meledak-ledak mencari saluran untuk menyembunyikan kekecilannya.

“Jadi Angger akan tetap di sini?”

“Ya, Kiai, aku akan berkata kepada prajurit yang bertugas itu, bahwa aku akan menunggui mayat ini sampai besok. Sampai dikuburkan.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mencemaskan Wuranta lagi, kalau-kalau ia akan pergi tanpa pamit. Ia merasa menipunyai kewajiban atas laki-laki tua itu suami isteri. Dan kewajiban itu pasti akan mengikatnya.

“Baiklah, Anakmas,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “aku akan mencoba menyampaikannya kepada Angger Untara. Mudah-mudahan Angger Untara dapat mengerti.”

“Terima kasih, Kiai.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian meninggalkan Wuranta seorang diri menunggui mayat suami isteri itu. Anak muda itu tidak sampai hati untuk mengangkat nenek tua yang masih saja membeku di dada suaminya. Ketika terlihat oleh Wuranta prajurit yang mengawal tempat itu lewat beberapa langkah dari regol halaman, maka Wuranta pun mendekatinya.

“Bagaimana?” bertanya prajurit itu “Apakah dukun itu dapat mengobatinya?”

“Terlambat. Keduanya sudah meninggal.”

“Keduanya?” prajurit itu terkejut.

“Ya keduanya,” sahut Wuranta.

“Kenapa perempuan itu mati juga?”

“Aku tidak tahu. Mungkin ia terkejut atau terlalu sedih ketika ia melihat suaminya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tetapi perempuan itu memang sudah sakit-sakitan saja. Dadanya sering menjadi berdebar-debar dan tubuhnya seolah-olah menjadi lumpuh. Agaknya kejutan yang dialaminya kali ini tidak tertahankan lagi. Dan ia meninggal pula bersama suaminya.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berdesah, “Aku tidak mendekatinya. Kau melarang setiap orang untuk berbuat sesuatu. Seandainya kau biarkan saja kakek tua itu, maka ia pasti sudah mendapat pertolongan sementara. Mungkin ia akan mati juga, tetapi usaha untuk menolongnya sempat dilakukan. Tidak terlambat. Agaknya kau tidak percaya kepada para prajurit yang bertugas untuk itu, atau mungkin kau menyangka bahwa karena laki-laki itu orang dari padepokan Tambak Wedi, maka prajurit Pajang akan mencekiknya.”

Belum lagi Wuranta menjawab, maka datanglah dua orang prajurit yang sedang bertugas berkeliling. Ternyata kedua prajurit itu adalah prajurit yang telah bertengkar dengan Wuranta. Dengan nada yang tinggi salah seorang dari mereka bertanya, “Ada apa dengan anak Jati Anom itu? Apakah kau sedang diperintahkanya memanggil Untara?”

Prajurit yang sedang mengawal tempat itu menjawab, “Tidak. Tetapi ia tidak percaya kepada para prajurit Pajang. Laki-laki yang terluka itu dibiarkannya tanpa pertolongan apa pun sampai ia mati.”

“Kenapa?”

“Anak muda ini ingin memanggil dukun pribadinya.”

Kedua prajurit yang baru datang itu tertawa dengan pandangan yang menyakitkan hati. Mereka menatap wajah Wuranta yang kemerah-merahan oleh sinar obor di kejauhan.

Terasa dada Wuranta itu bergolak. Hampir-hampir saja ia menjadi kambuh dan mengangkat wajahnya sambil menepuk dada, “Inilah pahlawan yang telah memecah pertahanan Tambak Wedi. Tetapi kali ini tidak, Wuranta tidak berteriak menyebut namanya. Namun perlahan-lahan ia berkata, “Maafkan aku Ki Sanak. Aku telah kehilangan keseimbangan. Mungkin aku telah menyakitkan hati kalian. Mungkin ada kata-kataku atau sikapku yang kasar.”

Prajurit-prajurit itu justru terkejut mendengar pengakuan itu. Terasa keikhlasan memancar dalam kata-kata anak muda itu. Terasa bahwa penyesalan itu mendalam sampai ke tulang sungsumnya.

Sejenak para prajurit itu terdiam. Ketika sekali lagi mereka mencoba menatap wajah Wuranta, maka anak muda itu telah menundukkan wajahnya.

Keempat orang itu kemudian berdiri saja seperti patung. Mereka merasakan kebekuan sikap di antara mereka. Tidak seorang pun yang segera dapat mulai berbuat sesuatu.

(***10-19-2008***)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 14 Oktober 2008 at 00:03  Comments (19)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

19 KomentarTinggalkan komentar

  1. Buku 25.doc sudah diluncurkan melalui yahoo utk di upload.

  2. Luar biasa… tak berapa lama lagi 100,000 hits

  3. Ki Gede DD,
    Saya sdh bisa menikmati ADBM versi djvu. Saya punya waktu luang & keikhlasan. What can I do for this community & what should I do first (maksudnya, biar gak tumpang-tindih dg yg lain gitu)?

    Monggo, saya sendika dawuh… atau silakan japri step by step yg musti saya lakukan. Jangan sampai pengin membantu tp malah ngrepoti, krn ketidaktahuan saya.

    Salam,

    D2: Kalau mau ikutan retype (edit) silakan booking halaman di HALAMAN RETYPE NEW. Tabel akan say update sesering mungkin. Tapi lebih baik juga lihat komentar teman2 lain yg booking sehingga tidak tumpang tindih. Kalau mau mulai, Jilid 19 hanya kurang halaman 57-61. Silakan diretype. Bahan dasar bisa ambil file word hasil konvert.

  4. Mas DD,
    saya tidak punya program OCR bwt convert djvu ke doc. Tapi kalau sudah ada file doc hasil convert itu, saya sedia ngedit s/d proofread. Di mana file doc itu bisa diambil?

    wukir

  5. oops, sudah ketemu, mas DD.
    wukir

  6. Mas DD
    halaman 57-61; 7-16 (jilid 19) udah aku kirim ke imel mas DD, maaf t’lambat
    Salam

  7. jilid 25 hal 37-42

    “Tidak Ki Sanak, tidak dengan tiba-tiba. Aku telah datang lebih dahulu dari pasukan Pajang. Aku datang bersama angger Wuranta ini,” jawab Ki Tanu Metir sambil menunjuk Wuranta yang masih berdiri tegak ditempatnya.
    Prajurit itu mengerutkan keningnya. Beberapa orang yang lain saling berpandangan. Akhirnya hampir serempak mereka memandang Wuranta.
    “Ya, angger Wuranta telah datang lebih dahulu bersama aku, angger Agung Sedayu, adik Ki Untara, dan angger Swandaru Geni, anak muda yang gemuk itu.”
    “Apakah yang telah kalian lakukan?”
    Ki Tanu Metir tersenyum, “Tidak terlampau penting Ki Sanak. Hanya sekedar melcpaskan anak-anak panah sendaren. Bukankah angger juga mendcngarnya? Pasukan berkudalah yang mendengarnya dengan jelas. Apakah angger dari pasukan berkuda?”
    Prajurit itu menggeleng. Tetapi meskipun mereka bukan anggauta pasukan bcrkuda, namun mereka tahu benar, bahwa tanda-tanda yang memungkinkan mereka memasuki padepokan ini adalah panah sendaren. Tetapi mereka tidak tahu. siapakah yang telah melepaskan panah itu.
    Dalam pada itu Ki Tanu Metir berkata pula,”Nah. itulah Ki Sanak. Kenapa kami berada dipadepokan ini.”
    Prajurit yang tertua di antara mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mempercayai keterangan Ki Tanu Metir, sebab beberapa orang kawan-kawannya telah melihat orang itu menghadap Untara. Karena itu mereka kini mengerti pula bahwa Wuranta memang pernah melakukan seperti apa yang dikatakannya. Tetapi meskipun demikian, sikap anak muda Jati Anom itu telah terlanjur membuatnya kurang senang. Namun prajurit yang tertua itu berusaha menahan dirinya. Sebab kedua orang itu adalah orang-orang kepercayaan Untara.
    Tetapi yang aneh bagi mereka, betapa Wuranta bcrani, mengatakan, bahwa Untaralah yang harus datang kepadanya.
    Sejenak para prajurit itu saling berdiam diri. Ki Tanu Metirpun berdiri saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengharap bahwa keadaan akan menjadi berangsur baik setelah mereka, para prajurit itu mengetahui dan mengenal Wuranta.
    Hati Ki Tanu Metirpun menjadi lega ketika prajurit yang tertua itu berkata,”Baiklah Kiai, apabila demikian, maka kami tidak. akan keberatan membiarkan kalian berada dipadepokan ini menurut kehendak kalian. Tetapi ingat, bahwa ada di antara kami yang belum mengenal kalian sama sekali. Karena itu, sebaiknya kalian tidak berada ditempat yang terlampau jauh dari banjar. Setiap saat kalian akan mendapat pertanyaan- pertanyaan yang serupa dan mungkin ada di antara kami, prajurit-prajurit Pajang yang sama sekaii tidak mengenal kalian, sehingga sikapnya pasti tidak akan menyenangkan, seperti sikap kami juga.”
    “Oh, tidak apa Ki Sanak. Kalian sedang melakukan kewajiban. Karena. itu maka sikap kalian dapat kita mengerti.”
    Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya,”Terima kasih atas pengertian kalian. Sekarang, kami akan meneruskan kcwajiban kami. Aku nasehatkan pcrgilah kebanjar, supaya kalian tidak menjumpai persoalan yang serupa.”
    “Terima kasih Ki Sanak,” jawab Ki Tanu Metir.
    Para prajurit itu pun kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir dan Wuranta berdua. Mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padepokan untuk melakukan pengawasan. Mungkin masih ada laskar Tambak Wedi yang tersembunyi, atau mungkin orang-orang Jipang.
    Sepcninggal para prajurit itu, maka bcrkatalah Ki Tanu Metir kepada Wuranta,”Marilah angger, kita pergi kebanjar padepokan ini. Disana Agung Sedayu, Swandaru dan Sekar Mirah sudah menunggumu.”
    Wuranta mengerutkan keningnya. Kemudian terdcngar suaranya bernada rendah,”Untuk apa mereka menunggu aku?”
    Ki Tanu Metir adalah seorang yang telah cukup umur. Pengenalannya atas perangai anak-anak muda cukup tajam. Ia mencoba untuk mengcrti apakah sebabnya maka tiba-tiba Wuranta bcrsikap aneh. Sejak didalam gubug Sekar Mirah, kemudian hilang tanpa pesan apapun.
    Namun Ki Tanu Metir tidak segera dapat mengerti dengan pasti, apakah sebabnya. Ia hanya dapat meraba-raba dan menerka. Tetapi dugaan Ki Tanu Metir atas persoalan yang sebenarnya masih sangat kabur.
    Sekali lagi Tanu Metir itu mengajak,”Angger Wuranta. Marilah kita pergi kebanjar. Kita harus nicnunjukkan diri kepada angger Untara. Agung Sedayu dan Swandaru sudah lama menunggu angger disana. Aku sudah mencari angger dimana-mana. Baru sekarang aku mcnemukan angger. Kemana angger selama ini dan kenapa angger pergi tanpa pesan apapun? Dada angger sedang terluka meskipun untuk sementara telah tidak mengalirkan darah lagi.”
    “Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam, “Tugasku yang berbahaya, yang harus aku pertaruhkan dengan nyawa telah selesai. Buat apa orang-orang Pajang dan Kiai memerlukan aku lagi?”
    “Ah, jangan begitu ngger. Semua orang menunggu angger.”

    Wuranta menggeleng,”Tidak. Mereka hanya memerlukan aku selagi mereka tidak dapat melakukan sesuatu pekerjaan. Aku bukan seorang prajurit dan bukan murid Kiai. Itulah sebabnya Kiai menunjuk aku untuk masuk kedalam api di Tambak Wedi ini. Seandainya aku tertangkap dan mati, maka baik Untara pun Kiai tidak kehilangan. Untara tidak kehilangan prajuritnya dan Kiai tidak kehilangan seorang murid. Bukankah begitu?”
    “Jangan beranggapan begitu ngger. Sama sekali terlintas didalam kepalaku perhitungan yang demikian. Secara kebetulan dan tiba-tiba aku menjumpai angger di Jati Anom. Aku telah mencoba memperhitungkan semua rencana sebaik-baiknya. Aku sama.sekali tidak berbuat dengan untung-untungan.”
    “Tetapi apa yang terjadi? Apakah Kiai mengetahui aku telah ditahan oleh Ki Tambak Wedi? Bahkan telah disediakan tiang gantungan diregol padepokan ini? Apa yang dapat Kiai lakukan dan apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang Pajang?”
    “Mereka telah datang ngger. Mereka telah masuk ke padepokan ini, Dan angger ternyata tidak naik ketiang gantungan itu.”
    “Tetapi sama sekali bukan karena orang-orang Pajang dan bukan pula karena Kiai dan murid-murid Kiai. Aku dapat melarikan diriku dari tempat aku ditawan karena kekuatanku sendiri, karena kesempatan yang aku dapatkan, bukan dari kalian. Nah, seandainya aku saat itu tidak dapat melarikan diri, seandainya aku mati maka tidak ada kemungkinan kalian dapat berbuat sesuatu.”
    “Angger Wuranta, sejak malam tadi aku sudah dipadepokan ini. Aku akan mengetahuinya seandainya hukuman mati itu dilaksanakan.”
    “Apa yang akan dapat Kiai lakukan seorang diri disini? Apa? Apakah Kiai juga akan membela kematianku dengan membunuh diri, melawan Ki Tambak Wedi? Kiai mampu mclawan seorang lawan seorang, tetapi melawan Ki Tambak Wedi dengan seluruh pengikutnya?”
    “Ternyata mereka berbentrokan sendiri ngger.”
    “Kcnapa mereka berbentrokan sendiri Kiai? Kenapa? Apakah hal itu dapat terjadi begitu saja tanpa sebab?”
    “Hal itu akan mungkin sekali ngger. Dua kekuatan yang dasarnya telah berbeda. Berbeda sumbernya dan berbeda tujuannya. Kalau di antara mereka terjadi persetujuan, maka itu hanyalah untuk sementara.”
    ”Omong kosong.”
    Ki Tanu Metir terperanjat mendengar jawaban Wuranta. Kini ia menjadi semakin tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah mengganggu anak muda itu? Dugaannya tentang sebab-sebab dari tindakan yang aneh itu justru menjadi kabur.
    “Jadi bagaimanakah ngger?” bertanya Ki Tanu Metir dengan dada berdebar-debar.
    “Pertempuran di antara mereka itu telah dibakar oleh suatu sebab. Sebab yang berhasil aku tumbuhkan. Seandainya Alap-alap Jalatunda tidak menjadi gila, apakah pertempuran itu dapat terjadi?”
    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Aku berhasil menumbuhkan pertentangan itu. Aku mengumpankan Alap-alap Jalatunda yang menjadi gila karena Sekar Mirah. Kegilaannya itulah yang telah membakar padepokan ini. Baru setelah padepokan ini hangus, pasukan Untara itu datang. Itupun karena aku pula. Karena aku datang ke Jati Anom. Memberitahukan keadaan padepokan ini. Kemudian membawa Aguag Sedayu dan Swanderu masuk. Nah, siapakah yang sebenarnya berhasil melakukan tugasnya? Aku, Untara, Agung Sedayu dan Swandaru atau Kiai? Sekarang, setelah semuanya selesai? Tak seorangpun lagi mcnghiraukan aku. Semuanya tidak memerlukan aku lagi. Mereka memamerkan kepandaian mereka bermain pedang. Kiai, aku memang bukan seorang prajurit. Aku memang tidak secakap Agung Sedayu dan tidak secepat para prajurit Pajang memainkan senjata. Tetapi aku juga mempunyai harga diri, Kiai. Setelah Agung Sedayu dapat bertemu dengan Sekar Mirah, maka keduanya sama sekali tidak mcnghiraukan aku lagi. Sekar Mirah yang sebelumnya hampir mati ketakutan itu, kemudian sama sekali iidak mau melihat aku, meskipun hanya dengan sebelah matanya. Mereka telah menemukan yang mereka cari. Kedatangan Agung Sedayu telah membuat gadis itu menjadi tamak dan besar kepala, seolah-olah semua orang lain didunia ini tidak berharga.”
    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia mencoba menangkap maksud yang sedalam-dalamnya dari kata-kata Wuranta. Dugaannya yang semula menjadi kabur kini menjadi semakin jelas kembali.
    “Coba, coba Kiai, sebutkan. Siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?”
    Ki Tanu Metir tidak segera menjawab.
    “Kini semua orang dipadepokan ini menghina Wuranta. Para prajurit itu, Sekar Mirah, Agung Sedayu dan semuanya.”
    Wuranta berhenti sejenak. Nafasnya menjadi terengah-engah dan wajahnya menjadi merah. Terasa betapa dadanya dihentak-hentak oleh dentang jantungnya yang semakin cepat.

    Ki Tanu Metir masih berdiam diri. Kini ia dapat meraba apakah yang telah mendorong Wuranta berbuat demikian. Hampir pasti. Meskipun demikian Ki Tanu Metir masih cukup berhati-hati untuk berbuat dan berkata sesuatu. Ternyata perasaan Wuranta terlampau peka, dan terlampau mudah tersentuh.
    Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Wuranta itu mengulangi pertanyaannya ”Siapa Kiai? Seharusnya Kiai dapat menyebutkan, siapa yang sebenarnya berhasil didalam tugasnya, sebab Kiai mengetahuinya sejak permulaan. Tidak seperti prajurit-prajurit Pajang itu. Begitu mereka datang, mereka menganggap dirinyalah yang paling bcrjasa. Seperti juga Agung Sedayu yang merasa, seolah-olah ialah yang telah membebaskan Sekar Mirah. Siapa? Coba scbutkan, apakah Kiai berani menyebutkannya karena Kiai guru Agung Sedayu barangkali?”
    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dengan nada yang berat tenang,”Ya, nggcr. Aku mengakui karena penglihatanku sendiri, bahwa angger Wurantalah yang telah membawa kita semuanya disini kepada kemenangan yang mutlak. Semua rencana dapat berlangsung sebaik-baiknya berkat keberanian dan ketrampilanmu ngger. Aku mengakui. Dan mudah-mudahan Untarapun akan mengakui.”
    “Tidak. Ia pasti tidak akan mengakui. la Senapati besar disini. Ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling penting. Dan ia merasa bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan kemenangan ini. Apalagi Agung Sedayu adalah adiknya. Pasti ia akan mcmbenarkan sikapnya dan menyalahkan aku.”
    “Kenapa? Kenapa Untara akan membenarkan sikap Agung Sedayu dan menyalahkan angger? Dalam hal apa? Apakah ada sesuatu persoalan di antara kalian berdua?”
    Pertanyaan itu mcngejutkan sekali bagi Wuranta. Sejenak ia terdiam.
    “Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir,”seandainya ada sesuatu persoalan yang mengecewakan angger Wuranta, katakanlah ngger. Aku adalah saksi yang akan mengatakan kepada siapapun juga, yang tidak mengakui angger sebagai seorang perintis yang telah membawa kita masuk kepadepokan ini. Apakah Agung Sedayu merasa dirinya yang paling berjasa dalam hal ini? Atau angger Untara sendiri? Katakanlah ngger. Aku adalah saksi yang masih hidup, bahwa pahlawan dari kemenangan ini adalah angger Wuranta. Semua orang harus mendengar dan mengakui bahwa karena jasa-jasa angger Wuranta, padepokan Tambak Wedi yang diperkuat oleh orang-orang Jipang dibawah pimpinan Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda ini dapat direbut dengan mudah. Sebab pasukan Pajang datang pada saat-saat orang-orang Tambak Wedi dan Jipang sudah tidak kuasa untuk melawannya, setelah mereka bcrtempur satu dengan yang lain. Bukankah begitu?”

  8. jilid 25 hal 43-46

    Ki Tanu Metir berhenti sesaat. Dipandanginya wajah Wuranta yang menjadi semakin lama semakin tegang. Mulutnya mengatub rapat-rapat dan giginya menggeretak.

    “Angger Wuranta, katakanlah ngger. Apakah Agung Sedayu telah berbuat suatu kesalahan? Meskipun ia muridku, tetapi apabila ia berbuat salah, maka aku wajib memberitahukan kesalahan ini kepadanya. Seandainya ia tidak menyadarinya, maka aku akan mencubitnya, supaya ia mengerti akan dirinya.”
    Kini Wurantalah yang terdiam.

    “Katakanlah ngger. Tidak ada orang lain yang dapat membanggakan dirinya disini, selain angger Wuranta. Tidak ada orang lain yang dapat merasa dirinya berjasa, selain angger Wuranta. Kalau ada orang lain, maka orang lain itu harus mendapat pengertian, bahwa pahlawan kemenangan ini adalah Wuranta, anak Jati Anom.”
    “Cukup, cukup,” Wuranta monotong kata-kata Ki Tanu Metir dan dengan terbata-bata ia meneruskan,”Bukan maksudku. Bukan maksudku.”
    Terdengar suara Ki Tanu Metir sareh,”Mungkin angger tidak bermaksud demikian, tetapi apakah kita semuanya akan mcngingkari kenyataan?”
    Wuranta mcnggigit bibirnya. Tiba-tiba dadanya serasa akan meledak mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Seperti terlempar kedalam suatu kesadaran tentang dirinya, Wuranta merasakan tusukan yang tajam dari kata-kata Ki Tanu Metir itu. Terasa seolah-olah selembar tabir yang hitam pekat didalam hatinya kini tersingkap. Dan dilihatnya dirinya sendiri dengan jelas. Dirinya sendiri yang kecil, yang kini berada di antara raksasa-raksasa yang mengerikan. Raksasa yang telah berhasil memecahkan pertahanan padepokan Tambak Wedi. Kembali terbayang dimatanya, betapa Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Tanu Metir bergulat melawan hantu lereng Merapi yang mengerikan, Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. Terbayang betapa Untara beserta pasukannya bertempur menghadapi sisa-sisa pasukan Tambak Wedi yang pada saat-saat terakhir masih sempat bergabung dengan sisa-sisa orang Jipang. Betapa Untara masih mengatur orang-orangnya, dan dirinya sendiri yang masih harus berhadapan melawan Sanakeling.
    Alangkah malunya. Alangkah malunya seandainya ia berkata tentang dirinya sendiri. Apakah semuanya ini dapat terjadi seandainya Untara tidak berhasil mengalahkan sisa-sisa pasukan Tambak Wedi dan Jipang? Apakah Sekar Mirah dapat bebas seperti yang terjadi seandainya Ki Tanu Metir, Agung Sedayu dan Swandaru tidak dapat bertahan melawan Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya?
    Ketika teringat oleh Wuranta akan kata-katanya sendiri, ”Coba. Coba Kiai, sebutkan, siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?” tiba-tiba Wuranta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Alangkah malunya.
    Ki Tanu Metir masih berdiri tegak dihadapannya. Dibiarkannya Wuranta menyadari dirinya. Dibiarkannya anak itu dihanyutkan oleh perasaannya yang tiba-tiba saja seolah-olah terbuka.
    Sejenak mereka saling berdiam diri. Awan dilangit yang kemerah-merahan mengalir ke utara dihembus oleh angin lereng yang lembab. Matahari telah menjadi semakin rendah, dan sebentar lagi hilang dibalik dedaunan disebelah barat. Sinarnya yang membara tersangkut dipunggung gunung dan diujung-ujung awan yang bertebaran dilangit.
    Dihalaman banjar padepokan Tambak Wedi dan sekitarnya, para prajurit Pajang dan sebagian orang-orang Tambak Wedi sendiri yang masih hidup dan tidak berbahaya masih sibuk menyingkirkan mereka yang terluka dan mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan.
    Ki Tanu Metirlah yang kemudian memecahkan kesenyapan itu,”Angger Wuranta. Marilah kita pergi ke banjar.”
    “Tidak. Tidak Kiai. Tidak ada gunanya.”
    “Tak akan ada orang yang tidak mcngakui hasil jerih payahmu ngger.”
    “Bukan itu. Bukan itu, Kiai. Justru aku menjadi malu sekali Ternyata Kiai telah menunjukkan kekeliruanku. Kiai menghadapkan sebuah cermin dimuka wajahku. Aku sangka bahwa aku adalah orang yang paling berjasa dipeperangan ini. Ternyata aku tidak lebih dari sehelai debu yang tidak berarti. Itu aku sadari sekarang Kiai.”
    “Jangan begitu ngger. Aku memang sudah menyangka bahwa kau sedang dihanyutkan oleh sebuah angan-angan yang aku masih belum tahu pasti. Tetapi seharusnya angger segera menemukan keseimbangan perasaan.”
    “Kiai, aku semula merasa sebagai orang yang paling berjasa, tetapi dilupakan karena pekerjaan telah selesai.”
    “Tidak ngger. Angger sama sekali tidak diabaikan.”
    “Ah, jangan menyenangkan hatiku Kiai,” sahut Wuranto, ”sebenarnyalah aku diabaikan.”
    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. la menjadi heran mendengar jawaban Wuranta yang menurut perasaannya agak bersimpang siur.
    “Bagaimanakah sebenarnya menurut tanggapanmu ngger. Aku menjadi agak bingung karenanya.”
    “Kiai, semula aku merasa sakit hati, bahwa aku diabaikan orang. Padahal aku merasa bahwa akulah yang paling berjasa diantara semua orang disini. Tetapi tenyata Kiai telah membuka hatiku. Aku sama sekali bukan seorang pahlawan. Karena itu, tidak sewajarnyalah bahwa aku menjadi sakit hati. Aku memang tidak berarti apa-apa disini. Aku hanya seorang pelaku yang tidak mempunyai bagian sama sekali dalam kemenangan ini. Bukankan begitu Kiai?”
    Ki Tanu Metirlah kini yang meraba dadanya. Ternyata perasaan Wuranta, yang selama ini mencoba menutup-nutupi kekurangannya dan kekecewaan dengan tingkah laku yang aneh-aneh itu terbanting terlampau dalam. Kini tampaklah peraasaan yang sebenarnya bergelut didalam dada anak itu. Rendah diri, disamping segala macam kekecewaan. Apalagi ketika ia melihat kenyataan bahwa Agung Sedayu yang dikenalnya sebagai seorang penakut dan pengecut dimasa kanak-kanaknya, kini ternyata terlampau jauh di atas jangkauannya. Maka hatinya menjadi terpecah-pecah tidak keruan. Agung Sedayu bagi Wuranta, menjadi sebab dari segala macam kepahitan yang kini dialaminya.
    K Tanu Metir kini sudah hampir pasti, bahwa soalnya berkisar disekitar Sekar Mirah.
    Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang perempuan memang kadang-kadang dapat menyebabkan lautan menjadi kering, dan gunung menjadi runtuh. Menurut dongeng, Candi Prambanan tercipta dalam satu malam karena seorang gadis, Rara Jonggrang. Bendungan yang melintasi lautan, mencapai Alengka, dibuat karena seorang wanita. Dewi Sinta. Keris mPu Gandring yang bertuah, yang kemudian menghisap darah beberapa orang, bahkan pembuatnya dan kemudian pemesannya sendiri, adalah karena seorang wanita, Ken Dedes yang ingin direnggutkan dari suaminya, Tunggul Ametung, oleh Ken Arok yang memesan keris itu kepada mPu Gandring.

    “O, tidak terlampau jauh,” berkata Ki Tanu Metir didalam hatinya, “Alap-alap Jalatunda mati karena Sekar Mirah, dan bahkan orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang bertempur satu sama lain karena Sekar Mirah ini pula. Dan kini apakah gadis itu masih akan menulis ceritera baru tentang dirinya dan tentang anak-anak muda yang mengenalnya.”
    Ketika cahaya yang kemerah-merahan dilangit menjadi semakin pudar, maka Ki Tanu Metirpun berkata, ”Marilah ngger. Jangan terlampau membiarkan diri hanyut dalam arus perasaan. Seharusnya angger mencoba mempergunakan pikiran untuk membuat keseimbangan. Nalar.”
    Wuranta menggeleng, “Sudahlah Kiai. Kiai tidak usah memikirkan aku. Aku akan kembali ke Jati Anom. Aku sudah puas dapat melakukan petunjuk-petunjuk Kiai. Aku sudah puas dengan keadaan sekarang ini.”
    Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Wuranta dengan tajamnya sehingga anak muda itu tiba-tiba melontarkan pandangan matanya jauh-jauh kepunggung Gunung Merapi yang masih diwarnai oleh sisa-sisa sinar Matahari yang kemerah-merahan.
    “Ikutlah aku. Angger harus berjiwa besar mcnghadapi setiap persoalan. Angger bukan anak kecil lagi.”
    Wuranta terdiam.
    “Angger adalah satu-satunya dari antara anak-anak muda Jati Anom yang telah berhasil mendahului pasukan Pajang masuk kedalam sarang yang berbahaya ini. Tengadahkan kepalamu. Pandanglah seluruh persoalan dengan dada terbuka. Sebagian dari tanggapan angger tentang diri angger benar. Angger adalah orang yang telah ikut berjasa dalam hal ini.”
    Tetapi Ki Tanu Metir terpaksa menahan hatinya ketika ia melihat Wuranta menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang dalam anak muda itu berkata, ”Terima kasih Kiai. Aku tidak usah pergi ke banjar. Pergilah Kiai sendiri menemui murid-murid Kiai dan kakang Untara. Aku akan kembali ke Jati Anom sekarang.”
    “Ah,” Ki Tanu Metir bcrdesah, “lihat, matahari telah turun kebalik Gunung. Sebentar lagi hari akan gelap.”
    “Aku kemarin mondar-mandir antara Jati Anom dan Tambak Wedi ini didalam gelap juga.”
    “Tetapi justru kali ini aku menjadi cemas, karena Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya terlepas dari tangan kita.”
    “Kiai cemas seandainya aku berjumpa dengan mereka?”
    “Ya ngger.”

  9. Wuranta……sedang bergelut dengan hati nuraninya.
    (maaf bukan Hati Nurani Rakyat lho…..!)

    • asmara membara…..membakar hati sang perJAKA Jati Anom,

      akankah cinta membuta mengalahkan hati nurani-nya….!!??
      nantikan kelanjutan digandok sebelah,

      • kelanjutan nopo to ki

        • nopo wae kerso…… 😀

          • nopo wae kerto eh karto ding 😉

            • 😀

              • eh kartu ding 😛

                • kArtu
                  sms…
                  😀

                  • sms jodo =D

                    • …bujaaann…!


                    • b
                      u
                      l
                      a
                      a
                      a
                      n
                      n

                      !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: