Buku 25

“Tidak. Tidak Kiai. Tidak ada gunanya.”

“Tak akan ada orang yang tidak mengakui hasil jerih payahmu, Ngger.”

“Bukan itu. Bukan itu, Kiai. Justru aku menjadi malu sekali. Ternyata Kiai telah menunjukkan kekeliruanku. Kiai menghadapkan sebuah cermin di muka wajahku. Aku sangka bahwa aku adalah orang yang paling berjasa di peperangan ini. Ternyata aku tidak lebih dari sehelai debu yang tidak berarti, aku sadari sekarang, Kiai.”

“Jangan begitu, Ngger. Aku memang sudah menyangka bahwa kau sedang dihanyutkan oleh sebuah angan-angan yang aku masih belum tahu pasti. Tetapi seharusnya Angger segera menemukan keseimbangan perasaan.”

“Kiai, aku semula merasa sebagai orang yang paling berjasa, tetapi dilupakan karena pekerjaan telah selesai.”

“Tidak, Ngger. Angger sama sekali tidak diabaikan.”

“Ah, jangan menyenangkan hatiku, Kiai,” sahut Wuranto. “Sebenarnyalah aku diabaikan.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia menjadi heran mendengar jawaban Wuranta yang menurut perasaannya agak bersimpang siur.

“Bagaimanakah sebenamya menurut tanggapanmu, Ngger. Aku menjadi agak bingung karenanya.”

“Kiai, semula aku merasa sakit hati, bahwa aku diabaikan orang. Padahal aku merasa bahwa akulah yang paling berjasa di antara semua orang di sini. Tetapi ternyata Kiai telah membuka hatiku. Aku sama sekali bukan seorang pahlawan. Karena itu, tidak sewajarnyalah bahwa aku menjadi sakit hati. Aku memang tidak berarti apa-apa di sini. Aku hanya seorang pelaku yang tidak mempunyai bagian sama sekali dalam kemenangan ini. Bukankah begitu Kiai?”

Ki Tanu Metir-lah kini yang meraba dadanya. Ternyata perasaan Wuranta, yang selama ini mencoba menutup-nutupi kekurangannya dan kekecewaan dengan tingkah laku yang aneh-aneh itu terbanting terlampau dalam. Kini tampaklah perasaan yang sebenarnya bergelut di dalam dada anak itu. Rendah diri, di samping segala macam kekecewaan. Apalagi ketika ia melihat kenyataan bahwa Agung Sedayu yang dikenalnya sebagai seorang penakut dan pengecut di masa kanak-kanaknya, kini ternyata terlampau jauh di atas jangkauannya. Maka hatinya menjadi terpecah-pecah tidak keruan. Agung Sedayu bagi Wuranta, menjadi sebab dari segala macam kepahitan yang kini dialaminya.

Ki Tanu Metir kini sudah hampir pasti, bahwa soalnya berkisar di sekitar Sekar Mirah.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang perempuan memang kadang-kadang dapat menyebabkan lautan menjadi kering, dan gunung menjadi runtuh. Menurut dongeng, Candi Prambanan tercipta dalam satu malam karena seorang gadis, Rara Jonggrang. Bendungan yang melintasi lautan, mencapai Alengka, dibuat karena seorang wanita. Dewi Sinta. Keris mPu Gandring yang bertuah, yang kemudian menghisap darah beberapa orang, bahkan pembuatnya dan kemudian pemesannya sendiri, adalah karena seorang wanita, Ken Dedes yang ingin direnggutkan dari suaminya, Tunggul Ametung, oleh Ken Arok yang memesan keris itu kepada mPu Gandring.

“O, tidak terlampau jauh,” berkata Ki Tinu Metir di dalam hatinya. “Alap-alap Jalatunda mati karena Sekar Mirah, dan bahkan orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang bertempur satu sama lain karena Sekar Mirah ini pula. Dan kini apakah gadis itu masih akan menulis ceritera baru tentang dirinya dan tentang anak-anak muda yang mengenalnya.”

Ketika cahaya yang kemerah-merahan di langit menjadi semakin pudar, maka Ki Tanu Metir pun berkata, “Marilah, Ngger. Jangan terlampau membiarkan diri hanyut dalam arus perasaan, Seharusnya Angger mencoba mempergunakan pikiran untuk membuat keseimbangan. Nalar.”
Wuranta menggeleng, “Sudahlali Kiai. Kiai tidak usah memikirkan aku. Aku akan kembali ke Jati Anom. Aku sudah puas dapat melakukan petunjuk-petunjuk Kiai. Aku sudah puas dengan keadaan sekarang ini.”

Ki Tanu IMietir tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Wuranta dengan tajamnya sehingga anak muda itu melontarkan pandangan matanya jauh-jauh ke punggung Gunung Merapi yang masih diwarnai oleh sisa-sisa sinar Matahari yang kemerah-merahan.

“Ikutlah aku. Angger harus berjiwa besar menghadapi setiap persoalan. Angger bukan anak kecil lagi.”

Wuranta terdiam.

“Angger adalah satu-satunya dari antara anak-anak muda Jati Anom yang telah berhasil mendahului pasukan Pajang ke dalam sarang yang berbahaya ini. Tengadahkan kepalamu. Pandanglah seluruh persoalan dengan dada terbuka. Sebagian anggapan Angger tentang diri Angger benar. Angger adalah orang yang telah ikut berjasa dalam hal ini.”

Tetapi Ki Tanu Metir terpaksa menahan hatinya ketika ia melihat Wuranta menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang dalam anak muda itu berkata, “Terima kasih, Kiai. Aku tidak usah pergi ke banjar. Pergilah Kiai sendiri menemui murid-murid dan Kakang Untara. Aku akan kembali ke Jati Anom sekarang.”

“Ah,” Ki Tanu Metir berdesah, “lihat, matahari telah turun ke balik gunung. Sebentar lagi hari akan gelap.”

“Aku kemarin mondar-mandir antara Jati Anom dan Tambak Wedi ini di dalam gelap juga.”

“Tetapi justru kali ini aku menjadi cemas, karena Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya terlepas dari tangan kita.”

“Kiai cecnas seandainya aku berjumpa dengan mereka?”

“Ya, Ngger.”

“Kiai tidak perlu cemas. Aku sudah cukup dewasa untuk menjaga diriku sendiri. Tetapi seandainya aku akan mati juga, itu pun sudah menjadi garis hidupku.”

“Jangan, Ngger. Untara menunggumu. Ia ingin bertemu dengan Angger.”

“Kalau ia ingin menemui aku, aku persilahkan datang ke Jati Anom.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Wuranta telah kehilangan keseimbangannya lagi.

“Silahkan Kiai kembali ke banjar. Katakanlah kepada Kakang Untara bahwa aku telah kembali ke Jati Anom. Aku tidak berguna apa pun juga di sini.”

“Apakah maksud itu tidak dapat di ubah.”

“Maaf, Kiai.”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Ia tidak, berhasil mengajak Wuranta pergi ke banjar padepokan Tambak Wedi untuk bertemu dengan Untara, Agung Sedayu, dan Swandaru. Tetapi orang tua itu dapat mengerti juga perasaan yang golak di dalam dada Wuranta. Ia tidak ingin lagi bertemu dengan Sekar Mirah dan Agung Sedayu. Ia tidak mau menambah pedih luka di hatinya.

“Jadi bagaimana, Ngger?”

“Silahkan Kiai kembali ke banjar. Aku akan terus ke Jati Anom.”

“Beberapa puluh langkah lagi Angger sampai ke banjar itu.”

“Aku akan berbelok.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia berkata, “Lukamu, Ngger.”

“Sudah sembuh, Kiai.”

“Belum,” Ki Tanu Metir menggeleng, “besok aku akan memberimu obat lagi di Jati Anom. Obat itu baru sekedar memampat darah. Tetapi daya sembuhnya terlampau sedikit.”

“Terima kasih, Kiai. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”

“Ah, tentu. Kenapa tidak? Aku pun akan segera pergi ke Jati Anom. Aku pun tidak akan terlampau lama di sini.”

“Silahkanlah, Kiai.” Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sekarang, apakah Kiai masih akan pergi ke banjar?”

“Ya. aku akan pergi ke banjar.”

Dengan menyesal Kiai Gringsing kemudian meninggalkan Wuranta seorang diri. Menurut pertimbangannya, maka biarlah Wuranta menuruti kehendakaya sendiri lebih dahulu, selagi ia belum dapat berpikir dengan tenang. Karena itu, maka Ki Tanu Metir tidak ingin memaksa-maksanya lagi. Ia mengharap bahwa besok atau lusa Wuranta akan benar-benar dapat menemukan keseimbangannya.

Sepeninggal Ki Tanu Metir, Wuranta masih sejenak berdiri di tempatnya. Dilayangkannya pandangan matanya berkeliling. Dalam cahaya yang menjadi semakin merah, ia melihat beberapa orang masih saja sibuk di halaman banjar dan sekitarnya. Mereka masih menyingkirkan mayat dan orang-orang yang terluka. Satu-satu, dikumpulkan menurut keadaannya.

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa dikehendakinya. Baru kali ini ia melihat pepati sebanyak itu. Sejenak ia melupakan kepahitan hatinya sendiri.

Perlahan-lahan ia mengayunkan kakinya. Tetapi ia tidak berjalan ke halaman banjar. Ia membelok sepanjang dinding halaman yang agak rendah. Ketika ia meloncati dinding itu, maka ia berada di belakang banjar, berantara dua halaman. Namun di tempat itu ternyata orang pun sibuk pula mengumpulkan orang-orang yang terluka dan mayat yang bergelimpangan.

Ketika seorang prajurit hendak menegurnya maka prajurit yang lain berkata, “Bukankah ia anak Jati Anom?”

“Kau sudah mengenalnya?”

“Aku sudah mengenalnya. Kemarin malam ia berada Kademangan Jati Anom. Bukankah anak itu pula yang membawa kabar tentang keadaan di padepokan ini sehingga Ki Untara dapat membuat perhitungan yang tepat?”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya sehingga maksudnya, untuk menegur Wuranta diurungkan. Dibiarkannya anak muda itu berjalan dengan hati yang kosong di antara para prajurit Pajang yang sibuk.

Namun tanpa dikehendakinya pula, kadang-kadang Wuranta itu terhenti di antara orang-orang yang terluka. Ia masih mendengar beberapa orang merintih meskipun tubuhnya telah terbujur diam, tidak berbeda dengan mayat-mayat yang terbujur di sampingnya.

Ketika ia melihat seorang tua yang dengan lemahnya terbaring di bawah sebatang pohon kelor, hati Wuranta berdesir. Tubuh itu masih belum sempat di angkat dibawa ke banjar bersama orang-orang lain yang terluka. Tetapi Wuranta yakin bahwa orang itu masih hidup.

Perlahan-lahan ia mendekatinya. Dalam kesuraman cahaya matahari yang semakin redup ia melihat orang tua itu menyeringai menahan sakit.

Sejenak kemudian Wuranta telah berlutut di sampingnya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Kek, Kakek. Kau terluka?”

Orang tua yang terbaring itu lamat-lamat mendengar suara orang memanggilnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Betapa perasaan sakit menghentak-hentaknya, namun ia masih sempat melihat remang-remang seseorang berjongkok di sampingnya.

Kepala orang tua itu dijalari oleh sebuah perasaan yang aneh. Di dalam keadaan yang demikian, seseorang telah berjongkok di sampingnya sambil menegumya ramah sekali.

“Siapakah engkau?” desis orang tua itu.

“Aku, Kek, Wuranta.”

“O, kau, Ngger?” seleret warna merah membayang di wajah yang pucat itu. “Benarkah kau Angger-Wuranta?”

“Ya, Kek.”

“Oh,” orang tua itu terdiam. Matanya yang terbuka, itu terpejam. Tampak betapa wajah yang tua itu menahan penderitaan yang sangat berat.

Wuranta masih melihat darah yang meleleh dari luka di lambung orang tua itu. Luka yang parah.

“Kau terluka, Kakek?” bertanya Wuranta.

“Hem,” orang tua itu menarik nafas. Tetapi sejenak kemudian wajahnya menyeringai menahankan perasaan sakit. “Ya, Ngger aku terluka. Terlampau parah.”

“Prajurit-prajurit Pajang melukaimu?”

Orang tua itu mencoba menggeleng. “Tidak, Ngger. Aku tidak sempat berkelahi melawan orang-orang Pajang. Aku telah terluka karena ujung pedang orang-orang Jipang.”

“Oh,” Wuranta terhenyak di tempatnya. Alangkah sedihnya. Ujung pedang kawan sendiri yang tinggal bersama-sama di dalam satu lingkungan.

“Aku sudah kehabisan tenaga, Ngger.”

“Sebentar lagi orang-orang Pajang itu akan mencoba menolongmu, Kek.”

“He?” orang tua itu terkejut. “Tidak ngger. Mereka akan datang dan mencekik aku sama sekali. Bukankah sebagian dari kita mati karena ujung senjata orang-orang Pajang?”

“Tetapi aku melihat mereka menolong orang-orang yang terluka dari segala pihak. Termasuk orang-orang dari padepokan Tambak Wedi, bahkan orang-orang Jipang.”

Perlahan-lahan orang tua itu menggeleng. “Mereka tidak menolong, Ngger, mereka sekedar mengumpulkan orang-orang yang terluka dan yang mati. Besok kita bersama-sama akan dimasukkan dalam sebuah lubang yang besar, dan ditimbun dengan sampah dan tanah. Kita yang belum mati sekalipun akan dikubur pula bersama mayat-mayat itu.” Orang tua itu berhenti sejenak. Nafasnya menjadi semakin lambat, “Lebih baik mati bersama mereka, Ngger.”

“Tidak, Kek. Kakek akan sembuh. Dan hal yang demikian, tidak akan dilakukan oleh prajurit Pajang.”

Kakek yang terbaring itu terdiam. Sekali-sekali dibukanya matanya dan dilihatnya Wuranta duduk di sampingnya. “Angger Wuranta, bukankah Angger termasuk pihak Pajang itu pula? Nah, kalau demikian tolong, Ngger, bunuhlah aku sekali supaya aku tidak terkubur hidup-hidup besok apabila malam nanti aku tidak mati.”

“Ah, jangan begitu, Kek. Kakek akan sembuh. Luka Kakek akan mendapat perawatan.”

“Seandainya demikian, apabila aku sudah sembuh, maka aku akan digantung di alun-alun Pajang. Apalagi aku sudah menangkapmu, Ngger. Menangkap seorang petugas sandi dari Pajang.”

Wuranta menggelengkan kepalanya. “Tidak, Kek. Apa yang Kakek lakukan adalah tugas Kakek. Tetapi Kakek telah memberikan tempat tinggal lepas dari tangan Sidanti. Bukankah itu sebuah pertolongan yang paling berarti selagi aku melakukan tugasku? Kek, seandainya aku tidak dapat keluar dari rumah tahanan itu, maka akhir dari peristiwa ini pun akan berbeda.”

“Ah,” orang tua itu mengeluh, “bunuh sajalah aku, Ngger.”

“Tidak, Kek.”

“Tolong, supaya aku tidak terkubur hidup-hidup. Tetapi, sebelum itu, apakah kau mau menolong aku, Ngger?”

“Apa, Kek?”

“Apakah kau mau menyampaikan pesanku kepada nenekmu yang tua dan sakit-sakitan itu?”

“O, tentu, tentu.”

“Bawalah orang tua itu kemari, Ngger. Aku ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya. Nenekmu sudah terlalu tua dan sakit-sakitan saja. Kasihan perempuan itu.”

“Jadi, apakah aku harus memanggilnya kemari?”

“Ya,” desis orang tua itu “tetapi kalau para prajurit Pajang itu mengijinkannya.”

“Aku akan minta ijin itu untuk Kakek.”

“Terima kasih, Ngger,” orang tua itu menyeringai. sekali lagi “Lukaku parah. Umurku sudah tidak akan mencapai semalam ini. Tolong Ngger, panggillah nenekmu. Dan…” orang tua itu terhenti. Perlaban-lahan ia melanjutkan, “dan tolong, Ngger apabila mungkin, janganlah aku dibiarkan mati di sini lebih dahulu. Apakah aku dapat Angger sisihkan, ke emper rumah sebelah?”

“Tentu, Kek, tentu.”

“Tetapi apabila para prajurit Pajang mengijinkan, Ngger.”

Wuranta tidak menjawab. Dengan sigapnya ia berdiri. Lukanya sendiri sudah benar-benar tidak terasa olehnya. Tergesa-gesa ia mendekati seorang prajurit yang sedang mengawal kawan-kawannya dan orang-orang Tambak Wedi yang sedang sibuk mengangkat orang-orang yang terluka ke rumah di halaman itu, dan sebagian langsung dibawa ke banjar Padepokan.

“Apa Ki Sanak?” bertanya prajurit itu.

“Aku titip kakekku yang terluka itu.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. “Kakekmu?”

“Ya.”

Prajurit itu menjadi heran. Ia mengenal Wuranta sebagai anak Jati Anom, dan orang yang terluka itu adalah seorang dari padepokan Tambak Wedi yang masih belum sempat disisihkan. Sejenak prajurit itu berdiri kebingungan. Dipandanginya Wuranta dan kakek yang terbaring itu berganti-ganti.

“Benarkah ia kakekmu?” prajurit itu ingin menegaskan.

“Ya ia kakekku. Karena itu, tolong aku titipkan ia padamu. Biarlah kakek aku bawa ke emper rumah itu. Aku akan memanggil nenek sebentar.”

Prajurit itu masih berdiri kebingungan ketika Wuranta kemudian melangkah mengambil kakek tua itu dan mendukungnya ke emper rumah di halaman.

Tanpa minta ijin lagi, Wuranta pun kemudian meninggalkannya untuk menyusul nenek seperti pesan kakek tua yang terluka. Meskipun demikian, ketika ia lewat di muka prajurit itu ia masih berpesan “Tolong awasilah kakek itu.”

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Itu sama sekali bukan pekerjaannya. Meskipun demikian ia terpaksa mengawasinya juga. Ketika ada prajurit yang lain, yang akan membawa kakek tua itu ke dalam rumah, maka prajurit itu berkata, “Biarkan orang tua itu di sana.”

“Kenapa?”

“Wuranta, anak Jati Anom itu berpesan kepadaku, supaya orang tua yang katanya adalah kakeknya itu tetap di sana.”

“Tetapi semua orang yang terluka harus dikumpulkan supaya mereka segera mendapat pertolongan. Luka kakek tua itu agak parah.”

Prajurit yang sedang berjaga-jaga itu ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata, “Biarkan ia di situ. Kita tunggu saja Wuranta. Barangkali ia ingin berbuat sesuatu dengan kakeknya itu.”

Maka kakek tua itu pun ditinggalkannya. Beberapa orang yang lain pun kemudian diangkut pula masuk ke dalam rumah, sedang yang telah meninggal dikumpulkan pula menjadi satu di halaman untuk dikuburkan besok pagi.

Langit pun semakin lama menjadi semakin suram. Cahaya kemerah-merahan menjadi semakin redup dan kehitam-hitaman. Perlahan-lahan senja turun ke atas permukaan bumi.

Sesaat kemudian Wuranta itu datang kembali sambil memapah seorang perempuan tua. Hampir setua kakek yang sedang terluka di lambungnya.

“Dimanakah kakekmu itu, Ngger?” desis nenek itu.

“Di sana, Nek, di emper rumah itu.”

Tertatih-tatih di dalam papahan Wuranta nenek itu berjalan mendekati emper tempat kakek tua itu berbaring.

Hati Wuranta menjadi lega ketika ia masih melihat dalam keremangan senja kakek tua ini masih terbaring di emper. Namun kemudian hatinya berdesir ketika ia melihat kakek tua itu sama sekali diam, seolah-olah orang tua itu sudah tidak bernafas lagi.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka hati Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Perlahan-lahan dipapahhya perempuan tua itu semakin mendekat.

Perempuan tua itu pun kemudian berlutut di samping suaminya. Terdengar ia bergumam, tetapi tidak jelas, apa yang dikatakannya. Namun tiba-tiba terdengar ia memanggil, “Kek, Kakek.”

Laki-laki tua yang terbaring itu ternyata masih hidup. Ia masih mendengar suara isterinya. Betapa lemah tubuhnya, namun ia paksakan dirinya membuka mata. Lambat sekali ia menjawab, “Nenek, kaukah itu?”

“O,” nenek tua itu tidak dapat lagi menahan dirinya. Ditelungkupkannya kepalanya di atas tubuh suaminya yang telah menjadi semakin lemah.

“Lukaku parah, Nenek.”

“Akan aku obati, Kek.”

Perlahan-lahan laki-laki tua itu menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu. Tak ada obat yang dapat menyembuhkan lukaku. Darah sudah terlampau banyak mengalir, meskipun aku sendiri sudah mencoba menahan dengan sobekan kainku.”

“Tidak, Kakek, aku akan mengobatinya. Kau harus sembuh.”

Wuranta masih berdiri tegak seperti patung. Tiba-tiba ia teringat obat yang diberikan Ki Tanu Metir kepadanya. Obat itu dapat membantu sementara untuk menghentikan darah yang meleleh dari luka. Dan luka kakek itu masih saja meneteskan darah. Agaknya karena terlampau banyak darah yang keluar itulah maka kakek itu menjadi terlampau lemah. Ia sudah terluka sejak orang-orang Pajang memasuki padepokan ini. Hampir sehari ia terbaring dalam lukanya tanpa pertolongan kecuali atas usahanya sendiri. Meskipun, seandainya luka itu sendiri tidak terlampau parah, namun terlampau banyak darah yang mengalir pun akan dapat menyebabkan kematian. Karena itu, maka segera dicarinya bumbung kecil sisa obat yang dilumurkan luka di dadanya sendiri. Ketika ia menemukan obat itu, maka hatinya melonjak kegirangan.

“Kakek,” katanya terbata-bata, “aku mempunyai obat. Obat yang dapat menolong sementara memampatkan luka.”

Kakek yang terluka itu tidak segera menyahut, tetapi isterinyalah yang menjawab, “Benar, Ngger? Benarkah kau mempunyai obat itu.”

Tetapi alangkah kecewanya Wuranta ketika ternyata obat itu tinggal sedikit. Terlampau sedikit untuk mengobati luka lambung laki-laki tua itu. Meskipun demikian, obat yang sedikit itu dapat mengurangi penderitaannya dan dapat mengurangi darah yang menetes dari lukanya.

“Aku sudah cukup tua, Ngger. Luka-luka di tubuhku betapapun kecilnya agaknya terlampau sukar untuk diobati. Lukaku kali ini pun terlampau sukar untuk diharapkan akan dapat sembuh.”

“Tidak, Kek, kau akan sembuh,” desis isterinya.

“Adalah suatu kebahagiaan bagiku, bahwa aku masih cukup kuat menahan diri sampai sehari ini. Dengan demikian aku masih dapat bertemu dengan kau, Nek,” katanya semakin lambat.

Nenek tua, isteri laki-laki yang terluka itu merapatkan kepalanya di dada suaminya. Meskipun ia berusaha sekuat-kuat tenaganya, namun terasa air matanya meleleh membasahi dada yang bidang, namun sudah mulai berkeriput karena garis-garis ketuaan yang semakin banyak.

“Jangan menangis, Nek,” desis laki-laki itu.

“Tidak,” jawab isterinya “aku tidak menangis.”

Sekali lagi keduanya terdiam. Wuranta yang berjongkok di sampingnya setelah mencoba mengobati luka orang tua itu pun terdiam pula. Namun demikian perasaan iba dan haru menyentak-nyentak dadanya. Ia tidak dapat berbuat sesuatu meskipun ia melihat seorang laki-laki tua telah berada di ambang maut, di dalam pelukan isterinya yang telah tua pula.

“Apakah mereka tidak mempunyai anak?” bertanya Wuranta di dalam hatinya.

Wuranta mendekat ketika lamat-lamat ia mendengar, “Angger Wuranta.”

“Ya, Kakek,” jawab Wuranta.

“Apakah Hari memang sudah mulai gelap?”

“Ya, Kek. Senja telah hampir lampau.”

“O,” desisnya, “pandanganku telah menjadi gelap benar. Aku sudah tidak dapat melihat apa pun.”

Dada Wuranta menjadi berdebar-debar.

“Tidak, Kek,” tangis perempuan tua, isterinya, yang sudah tidak terbendung lagi, “kau akan sembuh. Aku tidak berani kau tinggalkan. Aku tidak mau hidup seorang diri.”

“Kau tidak akan hidup seorang diri, Nek,” jawabnya laki-laki itu perlahan sekali. “Angger Wuranta akan menemanimu. Bukankah begitu, Ngger?”

“Ya, ya Kek,” sahut Wuranta dengan serta-merta.

“Hem,” laki-laki tua itu mencoba menghela nafas dallam-dalam. “Ngger,” desisnya lambat sekali.

Wuranta berkisar semakin dekat. Dan dilihatnya lamat-lamat dalam keremangan senja laki-laki itu bergerak sedikit.

“Pagi tadi, Ngger,” katanya justru ketika aku sudah terbaring karena luka, aku dapat mengenali apa yang kau katakana, Ngger. Aku sudah merasakan betapa nikmatnya.”

“Apa, Kek?” bertanya Wuranta tergagap.

“Tadi pagi, ketika aku masih sanggup menahan tubuhku dengan tanganku, aku sudah dapat menikmati betapa cerahnya pagi. Saat-saat yang tidak pernah aku nikmati sebelumnya. Aku melihat betapa cahaya yang kehitam-hitaman berubah menjadi merah, kemudian kekuning-kuningan dan yang terakhir, ketika matahari muncul dari balik dedaunan, memancarlah cahaya yang putih cerah.”

“Ya, ya Kek. Pagi memang cerah.”

“Aku tidak pernah menikmatinya. Aku tidak pernah mendapat kesempatan itu. Tetapi kesempatan itu datang pagi ini. Pada hariku yang terakhir. “

“Bukan yang terakhir,” potong Wuranta.

Dada Wuranta berdesir ketika ia melihat laki-laki tua yang luka parah di lambungnya itu tersenyum. “Jangan menutup mata melihat kenyataan ini, Ngger. Tetapi kini, sejak aku melihat cerahnya pagi, aku merasa terlampau dekat dengan Nafas dari seluruh kehidupan. Aku merasa bahwa aku mendapatkan sesuatu, Ngger. Dan aku merasa menjadi semakin dekat.”

“Ya, Kek. Kau akan menjadi semakin dekat dengan Nafas segala kehidupan. Dan kau akan sembuh.”

“Bagiku sndah tidak ada bedanya, Ngger. Dan aku merasa bahwa hidupku di dunia ini sudah akan berakhir, berakhir hari ini. Tetapi aku sudah tidak perlu takut lagi. Aku sekarang sudah tahu ke mana aku harus pergi.”

Wuranta tidak menjawab. Tetapi hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Apakah laki-laki tua itu benar-benar akian mati? Alangkah sedih hati isterinya. Ternyata mereka hanya hidup berdua saja selama ini. Agaknya mereka benar-benar tidak mempunyai seorang anak pun.

Tiba-tiba Wuranta teringat kepada Ki Tanu Metir. Ki Tanu Metir seorang dukun yang baik. Seorang dukun yang berpengalaman mengobati segala macam penderitaan. Karena itu maka tiba-tiba ia berkata, “Kek, tahankanlah sebentar. Aku akan memanggil seorang dukun yang baik, yang akan bersedia menolongmu.”

“Siapa?”

“Ki Tanu Metir.”

“Orang manakah dukun itu?”

“Menurut pendengaran ia berasal dari Dukuh Pakuwon. Ia adalah seorang dukun kepercayaan Kakang Untara.

“Untara Senapati Pajang?”

“Ya, Kek.”

“Tak ada gunanya. Ia tidak akan bersedia mengoba aku.”

“Ia pasti bersedia. Baginya akan terbuka kemungkinan yang sama bagi semua penderita. Ia tidak memperhitungkan siapakah penderita itu. Tetapi setiap penderitaan harus mendapat pertolongan.”

“Sudah aku katakana, Ngger, apabila aku sembuh pun, aku pasti hanya akan naik ke tiang gantungan.”

“Tidak, tidak Kek. Aku akan menjadi tanggungan, sebab kakek telah menolong aku, melepaskan aku dari tangan Sidanti.” Wuranta tidak menunggu jawaban orang tua itu. Segera ia berdiri dan berkata kepada isteri laki-laki yang terluka itu, “Aku akan memanggilnya. Tunggulah disini, Nek. Berilah kakek harapan supaya ia dapat menahankan diri, sementara aku memanggil Ki Tanu Metir.”

Perempuan tua itu mengangguk lemah. Dari matanya masih saja meleleh butiran-butiran air mata yang bening.

Wuranta itu pun kemudian melangkah dengan tergesa-gesa. Ketika terlihat olehnya prajurit pengawal, maka ia berkata, “Jangan kau ganggu mereka.”

“Mereka harus segera dikumpulkan di antara orang-orang yeng terluka.” jawab prajurit itu.

Wuranta mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling dilihatnya nenek tua itu masih memeluk suaminya sambil menangis. Karena itu maka ia pun kamudian menjawab, “Jangan. Laki-laki itu jangan disentuh.”

“Kami mendapat perintah,” jawab prajurit itu.

“Khusus bagi laki-laki tua itu. Ia adalah kakekku. Aku sendirilah yang akan mengobatinya. Kemudian terserah kepadamu, apakah yang seharusnya kau lakukan terhadapnya.”

Prajurit itu terdiam sejenak. Kawan-kawannya yang mengumpulkan orang-orang yang terluka serta mengumpulkan mayat-mayat telah hampir selesai. Sebagian dari mereka kini sudah mulai memilih, memisahkan mayat-mayat orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang dari prajurit-prajurit Pajang. Mayat prajurit-prajurit Pajang yang gugur mereka kumpulkan semuanya di halaman banjar padepokan Tambak Wedi.

“Nah, tolong,” berkata Wuranta kemudian, “awasi kedua orang tua itu. Jangan diganggu dan jangan dipindahkan dahulu. Aku akan memanggil Ki Tanu Metir.”

Prajurit itu tidak sempat menjawab. Wuranta segera melangkahkan kakinya menuju ke banjar padepokan.

Namun sejenak langkahnya menjadi ragu-ragu. Ia tidak ingin bertemu dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Ia sudah menolak ajakan Ki Tanu Metir untuk pergi ke banjar.

“Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Kini ia berdiri selangkah dari dinding belakang banjar padepokan. Sekali lagi ia dicengkam oleh keragu-raguan.

“Tidak,” desisnya, “aku tidak akan pergi ke banjar itu. Aku tidak ingin bertemu dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Aku tidak ingin datang kepada Untara. Biarlah ia yang dahulu mencari aku. Tidak.”

Wuranta melangkah selangkah surut. Ketika ia memutar tubuhnya, maka terhalang kembali di ruang matanya, seorang laki-laki tua yang terbaring di emper rumah di halaman sebelah. Terbayang pula seorang perempuan tua yang menangisinya. Perempuan yang tidak sadia bersedih karena suaminya berada di ambang pintu maut, tetapi perempuan itu juga dicengkam oleh ketakutan pada hari-harinya sendiri. Hari-harinya yang mendatang.

Kini Wuranta itu berdiri seperti sebatang tonggak mati. Ia benar-benar berada di dalam keragu-raguan yang sangat. Apakah ia harus menemui Ki Tanu Metir di banjar untuk memintanya mengobati kakek tua yang terluka itu, atau tidak. Kalau tidak, maka laki-laki itu pasti akan mati, tetapi kalau ia melangkah terus ke banjar padepokan, maka hatinya pasti akan menjadi semakin pedih.

Dalam kebimbangan itu tiba-tiba Wuranta mendengar tangis seorang perempuan. Ia terkejut. Namun kemudian disadarinya bahwa tangis itu bukan tangis perempuan tua yang menangisi suaminya. Tangis itu datang dari banjar padepokan. Namun tangis itu telah mempertebal ingatannya tentang perempuan tua yang duduk bprsimpuh di samping suaminya yang telah berada di ujung maut.

Dengan demikian maka pergolakan perasaan di dada Wuranta menjadi semakin dahsyat, dibakar oleh kebimbangan. Sekali-sekali ia menggeram. Dan kemudian berdiri lesu dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

Senja semakin lama menjadi semakin kelam. Perlahan-lahan angin lereng yang silir bertiup mengusap tubuhnya.

Tiba-tiba Wuranta itu menggeretakkan giginya. Sambil mengepalkan tangannya ia menggeram, “Aku akan menemui Ki Tanu Metir. Persetan dengan Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan Untara. Aku akan berusaha menyelesaikan kedua orang tua itu.”

Wuranta itu kemudian telah membulatkan hatinya. Ia berhasil melepaskan tekanan perasaan tentang diri sendiri. Ia tidak dapat mengelakkan perasaannya tentang kedua suami isteri tua yang kini sedang disentuh oleh ketakutan dan kecemasan, apalagi atas tekanan jari-jari maut.

Dengan mengatupkan giginya rapat-rapat, Wuranta meloncati dinding halaman belakang banjar padepokan Tambak Wedi. Kemudian dengan tergesa-gesa ia melangkah menuju ke banjar. Ketika seseorang prajurit menegurnya, Wuranta sama sekali tidak mau berhenti.

“He tunggu,” berkata prajurit itu.

Wuranta mempercepat langkahnya. Sinar pelita dari pendapa banjar telah dilihatnya.

“Berhenti!” tegur prajurit itu.

Wuranta berjalan terus. Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke sisi banjar. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika prajurit yang lain tiba-tiba saja seolah-olah jatuh dari langit, telah berdiri di hadapannya. Dengan pedang telanjang prajurit itu berkata, “Kau tidak menurut perintah prajurit yang sedang berjaga-jaga di halaman belakang. Siapakah kau?”

Sebelum Wuranta menjawab, ia sempat melihat prajurit yang menegumya telah berdiri di sampingnya. Dengan muka merah prajurit itu membentak, “Apakah aku perlu menghentikanmu dengan kekerasan he?”

“Kalau itu yang kau anggap baik, maka lakukanlah,” sahut Wuranta.

Terdengar gigi prajurit itu beradu. “Siapa kau?” bentaknya.

Hati Wuranta yang sedang kalut itu menjadi terbakar kembali oleh perasaannya yang sudah hampir padam. Perasaan kecewa, marah, rendah diri dan bermacam-macam lagi, yang tersalur dalam ujud yang lain. Justru karena itu maka ia menjawab sambil menengadahkan wajahnya, “Bertanyalah kepada Untara, siapakah aku.”

Sejenak kedua prajurit yang menghentikannya itu saling berpandangan. Jawaban itu ternyata telah mempengaruhi perasaan mereka. Namun demikian mereka sedang berada di dalam kewajiban, sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Aku bertanya kepadamu. Tidak kepada Ki Untara. Siapakah kau?”

Dada Wuranta menjadi pepat. Serasa dada itu akan meledak. Niroun Ya tidak dapat berbuat lain dari meniebut namanya “Aku Wuranta, anak Jati Anom, Nah, kau dengar?”

Prajurit-prajurit Pajang itu mengerutkan kening mereka. Sejenak mereka saling berpandangan. Ternyata meskipun mereka termasuk di antara prajurit-prajurit Pajang yang belum pernah melihat Wuranta, namun mereka telah mendengar nama itu. Nama yang saat itu sering disebut-sebut oleh prajurit Pajang. Mereka mengenal Wuranta sebagai seorang anak Jati Anom yang dengan suka-rela membantu mereka, mengetahui keadaan padepokan Tambak Wedi.

Meskipun demikian sikap anak muda itu sama sekali tidak menyenangkan kedua prajurit itu. Bagaimanapun juga pentingnya kedudukan seseorang, namun mereka harus menyatakan diri sejelas-jelasnya kepada setiap petugas. Sehingga sikap Wturanta itu telah menimbulkan kebimbangan para prajurit itu.

“Nah, apakah kalian telah mendengar namaku?” tiba-tiba Wuranta berkata, “Sekarang aku akan bertemu Untara.”

“Ah,” salah seorang prajurit itu hampir-hampir tidak dapat mengendalikan dirinya, dan yang seorang menyambung, “Ki Sanak, siapa pun juga kau, bahkan Ki Untara sendiri, harus berhenti apabila seorang petugas menghentikannya di tempat semacam ini. Bahkan seandainya yang lewat ini Panglima Wira Tamtama sekalipun. Aku yakin bahwa mereka mengerti apa yang sedang kami lakukan dan apa yang harus mereka lakukan. Tetapi jangan menganggap kami tidak berarti. Kami tahu, bahwa kami tidak sepantasnya menyejajarkan diri dengan kau, Ki Sanak. Kami telah mendengar nama Wuranta dari Jati Anom, meskipun baru sekarang kami melihat wajah Ki Sanak. Namun sikap Ki Sanak dapat menumbuhkan kekecewaan di hati kami.”

“Terserahlah kepada kalian. Pandangan kalian terhadap aku sama sekali tidak merubah sikapku, sifatku dan watakku. Inilah Wuranta. Baik atau jelek, inilah keadaannya.”

Kedua prajurit itu sekali lagi saling berpandangan. Seandainya yang berdiri di depan mereka itu bukan Wuranta, anak Jati Anom yang mereka anggap telah membantu mereka menyelesaikan pekerjaan yang berat ini, maka sikap mereka akan lain. Mereka menyesal bahwa mereka telah lebih dahulu mendengar tentang Wuranta. Seandainya belum, maka tindakan yang mereka lakukan atas anak yang mereka anggap sombong itu tidak akan dapat disalahkan oleh siapa pun. Bahkan kedua pradiurit itu mengharap, mudah-mudahan Wuranta bertemu dengan orang-orang yang belum mengenalinya dan belum mendengar namanya.

Kedua prajurit itu sama sekali tidak menegurnya lagi. Bahkan ketika Wuranta berkata kepada mereka, “Aku akan berjalan terus. Tak ada kepentinganku dengan kalian,” kedua pradiurit itu bersikap acuh tak acuh sadia. Mereka memalingkan wajah-wajah mereka dan berjalan menjauhinya tanpa menjawab sepatah kata pun.

Melihat sikap keduanya justru Wuranta-lah yang tertegun sejenak. Tetapi ketika teringat olehnya laki-laki tua dan isterinya yang menunggunya, maka kemarahannya ditahankannya. Namun di dalam hati ia berkata, “Oh, kedua pradiurit itu belum mengenal Wuranta. Tanpa Wuranta mereka tidak berarti apa-apa lagi.”

Kemudian dengan tergesa-gesa Wuranta meninggalkan kedua pradiurit itu dengan wajah bersungut-sungut. “Aku tidak memerlukan kalian. Aku memerlukan Ki Tanu Metir.”

Tetapi ketika hatinya berdesis tentang orang tua itu, tentang dukun yang baik itu, maka kesadarannya kembali merayapi dadanya. Kesadaran tentang diri sendiri dan kesadaran tentang keadaan seluruhnya di dalam padepokan ini.”

“Oh,” desahnya. Tanpa dikehendakinya ia berpaling ke arah kedua prajurit itu. Di dalam dadanya menjalarlah perasaan sesal dan bahkan malu atas sikapnya sendiri. Namun kedua prajurit itu sudah tidak dilihatnya. Mereka telah hilang di dalam gelap.

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Terasa kepedihan yang sangat menyentuh dadanya.

Ketika ia menjadi semakin dekat dengan pendapa banjar padepokan maka hatinya menjadi kian berdebar-debar. Kini ia merasakan sekali lagi pertentangan di dalam dirinya. Apakah ia akan berjalan terus, atau mengurungkan niatnya. Betapa ia mencoba mempergunakan nalarnya, tetapi ia berniat untuk sama sekali tidak ingin bertemu dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

“O,” Wuranta mengeluh “alangkah kacaunya perasaanku. Aku akan dapat menjadi gila karenanya.”

Meskipun demikian ia melangkah maju. Kalau-kalau ia melihat seseorang. Kalau-kalau ia melihat Ki Tanu Metir.

Di muka pendapa banjar itu beberapa orang prajurit dan perwira Pajang masih sibuk dengan tugas masing-masing. Beberapa orang berjalan hilir-mudik. Yang lain berdiri berbicara di antara mereka.

Sedang di muka regol Wuranta melihat prajurit-prajurit yang sedang berjaga-jaga. Kalau mereka melihatanya, maka mereka pasti akan menanyakan kepadanya tentang dirinya seperti prajurit yang lain. “Aku harus bersikap baik,” desisnya. “Prajurit-prajurit itu tidak tahu-menahu tentang aku dan kesulitanku.”

Beberapa saat Wuranta masih berdiri di kegelapan. Ketika ia melihat orang yang sibuk memisahkan orang-orang yang terluka berat dan yang agak ringan digandok sebelah pendapa itu, maka dilihatnya orang tua yang dicarinya. Ternyata Ki Tanu Metir sebagai seorang dukun tidak dapat duduk diam di dalam pringgitan. Sebagai seorang dukun ia terdorong oleh panggilan hatinya untuk ikut serta meringankan penderitaan orang-orang yang terluka.

Demikian melihat Ki Tanu Metir, maka hati Wuranta sudah tidak tertahankan lagi. Dengan serta-merta ia berjalan mendekatinya. Beberapa orang prajurit dan perwira yang melihatnya sejenak tertegun diam. Namun kemudian seorang daripadanya bergerak untuk menyusulnya. Tetapi seorang perwira berkata, “Biarkan. Itu adalah Wuranta, anak Jati Anom.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 14 Oktober 2008 at 00:03  Comments (19)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

19 KomentarTinggalkan komentar

  1. Buku 25.doc sudah diluncurkan melalui yahoo utk di upload.

  2. Luar biasa… tak berapa lama lagi 100,000 hits

  3. Ki Gede DD,
    Saya sdh bisa menikmati ADBM versi djvu. Saya punya waktu luang & keikhlasan. What can I do for this community & what should I do first (maksudnya, biar gak tumpang-tindih dg yg lain gitu)?

    Monggo, saya sendika dawuh… atau silakan japri step by step yg musti saya lakukan. Jangan sampai pengin membantu tp malah ngrepoti, krn ketidaktahuan saya.

    Salam,

    D2: Kalau mau ikutan retype (edit) silakan booking halaman di HALAMAN RETYPE NEW. Tabel akan say update sesering mungkin. Tapi lebih baik juga lihat komentar teman2 lain yg booking sehingga tidak tumpang tindih. Kalau mau mulai, Jilid 19 hanya kurang halaman 57-61. Silakan diretype. Bahan dasar bisa ambil file word hasil konvert.

  4. Mas DD,
    saya tidak punya program OCR bwt convert djvu ke doc. Tapi kalau sudah ada file doc hasil convert itu, saya sedia ngedit s/d proofread. Di mana file doc itu bisa diambil?

    wukir

  5. oops, sudah ketemu, mas DD.
    wukir

  6. Mas DD
    halaman 57-61; 7-16 (jilid 19) udah aku kirim ke imel mas DD, maaf t’lambat
    Salam

  7. jilid 25 hal 37-42

    “Tidak Ki Sanak, tidak dengan tiba-tiba. Aku telah datang lebih dahulu dari pasukan Pajang. Aku datang bersama angger Wuranta ini,” jawab Ki Tanu Metir sambil menunjuk Wuranta yang masih berdiri tegak ditempatnya.
    Prajurit itu mengerutkan keningnya. Beberapa orang yang lain saling berpandangan. Akhirnya hampir serempak mereka memandang Wuranta.
    “Ya, angger Wuranta telah datang lebih dahulu bersama aku, angger Agung Sedayu, adik Ki Untara, dan angger Swandaru Geni, anak muda yang gemuk itu.”
    “Apakah yang telah kalian lakukan?”
    Ki Tanu Metir tersenyum, “Tidak terlampau penting Ki Sanak. Hanya sekedar melcpaskan anak-anak panah sendaren. Bukankah angger juga mendcngarnya? Pasukan berkudalah yang mendengarnya dengan jelas. Apakah angger dari pasukan berkuda?”
    Prajurit itu menggeleng. Tetapi meskipun mereka bukan anggauta pasukan bcrkuda, namun mereka tahu benar, bahwa tanda-tanda yang memungkinkan mereka memasuki padepokan ini adalah panah sendaren. Tetapi mereka tidak tahu. siapakah yang telah melepaskan panah itu.
    Dalam pada itu Ki Tanu Metir berkata pula,”Nah. itulah Ki Sanak. Kenapa kami berada dipadepokan ini.”
    Prajurit yang tertua di antara mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mempercayai keterangan Ki Tanu Metir, sebab beberapa orang kawan-kawannya telah melihat orang itu menghadap Untara. Karena itu mereka kini mengerti pula bahwa Wuranta memang pernah melakukan seperti apa yang dikatakannya. Tetapi meskipun demikian, sikap anak muda Jati Anom itu telah terlanjur membuatnya kurang senang. Namun prajurit yang tertua itu berusaha menahan dirinya. Sebab kedua orang itu adalah orang-orang kepercayaan Untara.
    Tetapi yang aneh bagi mereka, betapa Wuranta bcrani, mengatakan, bahwa Untaralah yang harus datang kepadanya.
    Sejenak para prajurit itu saling berdiam diri. Ki Tanu Metirpun berdiri saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengharap bahwa keadaan akan menjadi berangsur baik setelah mereka, para prajurit itu mengetahui dan mengenal Wuranta.
    Hati Ki Tanu Metirpun menjadi lega ketika prajurit yang tertua itu berkata,”Baiklah Kiai, apabila demikian, maka kami tidak. akan keberatan membiarkan kalian berada dipadepokan ini menurut kehendak kalian. Tetapi ingat, bahwa ada di antara kami yang belum mengenal kalian sama sekali. Karena itu, sebaiknya kalian tidak berada ditempat yang terlampau jauh dari banjar. Setiap saat kalian akan mendapat pertanyaan- pertanyaan yang serupa dan mungkin ada di antara kami, prajurit-prajurit Pajang yang sama sekaii tidak mengenal kalian, sehingga sikapnya pasti tidak akan menyenangkan, seperti sikap kami juga.”
    “Oh, tidak apa Ki Sanak. Kalian sedang melakukan kewajiban. Karena. itu maka sikap kalian dapat kita mengerti.”
    Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya,”Terima kasih atas pengertian kalian. Sekarang, kami akan meneruskan kcwajiban kami. Aku nasehatkan pcrgilah kebanjar, supaya kalian tidak menjumpai persoalan yang serupa.”
    “Terima kasih Ki Sanak,” jawab Ki Tanu Metir.
    Para prajurit itu pun kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir dan Wuranta berdua. Mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padepokan untuk melakukan pengawasan. Mungkin masih ada laskar Tambak Wedi yang tersembunyi, atau mungkin orang-orang Jipang.
    Sepcninggal para prajurit itu, maka bcrkatalah Ki Tanu Metir kepada Wuranta,”Marilah angger, kita pergi kebanjar padepokan ini. Disana Agung Sedayu, Swandaru dan Sekar Mirah sudah menunggumu.”
    Wuranta mengerutkan keningnya. Kemudian terdcngar suaranya bernada rendah,”Untuk apa mereka menunggu aku?”
    Ki Tanu Metir adalah seorang yang telah cukup umur. Pengenalannya atas perangai anak-anak muda cukup tajam. Ia mencoba untuk mengcrti apakah sebabnya maka tiba-tiba Wuranta bcrsikap aneh. Sejak didalam gubug Sekar Mirah, kemudian hilang tanpa pesan apapun.
    Namun Ki Tanu Metir tidak segera dapat mengerti dengan pasti, apakah sebabnya. Ia hanya dapat meraba-raba dan menerka. Tetapi dugaan Ki Tanu Metir atas persoalan yang sebenarnya masih sangat kabur.
    Sekali lagi Tanu Metir itu mengajak,”Angger Wuranta. Marilah kita pergi kebanjar. Kita harus nicnunjukkan diri kepada angger Untara. Agung Sedayu dan Swandaru sudah lama menunggu angger disana. Aku sudah mencari angger dimana-mana. Baru sekarang aku mcnemukan angger. Kemana angger selama ini dan kenapa angger pergi tanpa pesan apapun? Dada angger sedang terluka meskipun untuk sementara telah tidak mengalirkan darah lagi.”
    “Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam, “Tugasku yang berbahaya, yang harus aku pertaruhkan dengan nyawa telah selesai. Buat apa orang-orang Pajang dan Kiai memerlukan aku lagi?”
    “Ah, jangan begitu ngger. Semua orang menunggu angger.”

    Wuranta menggeleng,”Tidak. Mereka hanya memerlukan aku selagi mereka tidak dapat melakukan sesuatu pekerjaan. Aku bukan seorang prajurit dan bukan murid Kiai. Itulah sebabnya Kiai menunjuk aku untuk masuk kedalam api di Tambak Wedi ini. Seandainya aku tertangkap dan mati, maka baik Untara pun Kiai tidak kehilangan. Untara tidak kehilangan prajuritnya dan Kiai tidak kehilangan seorang murid. Bukankah begitu?”
    “Jangan beranggapan begitu ngger. Sama sekali terlintas didalam kepalaku perhitungan yang demikian. Secara kebetulan dan tiba-tiba aku menjumpai angger di Jati Anom. Aku telah mencoba memperhitungkan semua rencana sebaik-baiknya. Aku sama.sekali tidak berbuat dengan untung-untungan.”
    “Tetapi apa yang terjadi? Apakah Kiai mengetahui aku telah ditahan oleh Ki Tambak Wedi? Bahkan telah disediakan tiang gantungan diregol padepokan ini? Apa yang dapat Kiai lakukan dan apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang Pajang?”
    “Mereka telah datang ngger. Mereka telah masuk ke padepokan ini, Dan angger ternyata tidak naik ketiang gantungan itu.”
    “Tetapi sama sekali bukan karena orang-orang Pajang dan bukan pula karena Kiai dan murid-murid Kiai. Aku dapat melarikan diriku dari tempat aku ditawan karena kekuatanku sendiri, karena kesempatan yang aku dapatkan, bukan dari kalian. Nah, seandainya aku saat itu tidak dapat melarikan diri, seandainya aku mati maka tidak ada kemungkinan kalian dapat berbuat sesuatu.”
    “Angger Wuranta, sejak malam tadi aku sudah dipadepokan ini. Aku akan mengetahuinya seandainya hukuman mati itu dilaksanakan.”
    “Apa yang akan dapat Kiai lakukan seorang diri disini? Apa? Apakah Kiai juga akan membela kematianku dengan membunuh diri, melawan Ki Tambak Wedi? Kiai mampu mclawan seorang lawan seorang, tetapi melawan Ki Tambak Wedi dengan seluruh pengikutnya?”
    “Ternyata mereka berbentrokan sendiri ngger.”
    “Kcnapa mereka berbentrokan sendiri Kiai? Kenapa? Apakah hal itu dapat terjadi begitu saja tanpa sebab?”
    “Hal itu akan mungkin sekali ngger. Dua kekuatan yang dasarnya telah berbeda. Berbeda sumbernya dan berbeda tujuannya. Kalau di antara mereka terjadi persetujuan, maka itu hanyalah untuk sementara.”
    ”Omong kosong.”
    Ki Tanu Metir terperanjat mendengar jawaban Wuranta. Kini ia menjadi semakin tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah mengganggu anak muda itu? Dugaannya tentang sebab-sebab dari tindakan yang aneh itu justru menjadi kabur.
    “Jadi bagaimanakah ngger?” bertanya Ki Tanu Metir dengan dada berdebar-debar.
    “Pertempuran di antara mereka itu telah dibakar oleh suatu sebab. Sebab yang berhasil aku tumbuhkan. Seandainya Alap-alap Jalatunda tidak menjadi gila, apakah pertempuran itu dapat terjadi?”
    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Aku berhasil menumbuhkan pertentangan itu. Aku mengumpankan Alap-alap Jalatunda yang menjadi gila karena Sekar Mirah. Kegilaannya itulah yang telah membakar padepokan ini. Baru setelah padepokan ini hangus, pasukan Untara itu datang. Itupun karena aku pula. Karena aku datang ke Jati Anom. Memberitahukan keadaan padepokan ini. Kemudian membawa Aguag Sedayu dan Swanderu masuk. Nah, siapakah yang sebenarnya berhasil melakukan tugasnya? Aku, Untara, Agung Sedayu dan Swandaru atau Kiai? Sekarang, setelah semuanya selesai? Tak seorangpun lagi mcnghiraukan aku. Semuanya tidak memerlukan aku lagi. Mereka memamerkan kepandaian mereka bermain pedang. Kiai, aku memang bukan seorang prajurit. Aku memang tidak secakap Agung Sedayu dan tidak secepat para prajurit Pajang memainkan senjata. Tetapi aku juga mempunyai harga diri, Kiai. Setelah Agung Sedayu dapat bertemu dengan Sekar Mirah, maka keduanya sama sekali tidak mcnghiraukan aku lagi. Sekar Mirah yang sebelumnya hampir mati ketakutan itu, kemudian sama sekali iidak mau melihat aku, meskipun hanya dengan sebelah matanya. Mereka telah menemukan yang mereka cari. Kedatangan Agung Sedayu telah membuat gadis itu menjadi tamak dan besar kepala, seolah-olah semua orang lain didunia ini tidak berharga.”
    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia mencoba menangkap maksud yang sedalam-dalamnya dari kata-kata Wuranta. Dugaannya yang semula menjadi kabur kini menjadi semakin jelas kembali.
    “Coba, coba Kiai, sebutkan. Siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?”
    Ki Tanu Metir tidak segera menjawab.
    “Kini semua orang dipadepokan ini menghina Wuranta. Para prajurit itu, Sekar Mirah, Agung Sedayu dan semuanya.”
    Wuranta berhenti sejenak. Nafasnya menjadi terengah-engah dan wajahnya menjadi merah. Terasa betapa dadanya dihentak-hentak oleh dentang jantungnya yang semakin cepat.

    Ki Tanu Metir masih berdiam diri. Kini ia dapat meraba apakah yang telah mendorong Wuranta berbuat demikian. Hampir pasti. Meskipun demikian Ki Tanu Metir masih cukup berhati-hati untuk berbuat dan berkata sesuatu. Ternyata perasaan Wuranta terlampau peka, dan terlampau mudah tersentuh.
    Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Wuranta itu mengulangi pertanyaannya ”Siapa Kiai? Seharusnya Kiai dapat menyebutkan, siapa yang sebenarnya berhasil didalam tugasnya, sebab Kiai mengetahuinya sejak permulaan. Tidak seperti prajurit-prajurit Pajang itu. Begitu mereka datang, mereka menganggap dirinyalah yang paling bcrjasa. Seperti juga Agung Sedayu yang merasa, seolah-olah ialah yang telah membebaskan Sekar Mirah. Siapa? Coba scbutkan, apakah Kiai berani menyebutkannya karena Kiai guru Agung Sedayu barangkali?”
    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dengan nada yang berat tenang,”Ya, nggcr. Aku mengakui karena penglihatanku sendiri, bahwa angger Wurantalah yang telah membawa kita semuanya disini kepada kemenangan yang mutlak. Semua rencana dapat berlangsung sebaik-baiknya berkat keberanian dan ketrampilanmu ngger. Aku mengakui. Dan mudah-mudahan Untarapun akan mengakui.”
    “Tidak. Ia pasti tidak akan mengakui. la Senapati besar disini. Ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling penting. Dan ia merasa bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan kemenangan ini. Apalagi Agung Sedayu adalah adiknya. Pasti ia akan mcmbenarkan sikapnya dan menyalahkan aku.”
    “Kenapa? Kenapa Untara akan membenarkan sikap Agung Sedayu dan menyalahkan angger? Dalam hal apa? Apakah ada sesuatu persoalan di antara kalian berdua?”
    Pertanyaan itu mcngejutkan sekali bagi Wuranta. Sejenak ia terdiam.
    “Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir,”seandainya ada sesuatu persoalan yang mengecewakan angger Wuranta, katakanlah ngger. Aku adalah saksi yang akan mengatakan kepada siapapun juga, yang tidak mengakui angger sebagai seorang perintis yang telah membawa kita masuk kepadepokan ini. Apakah Agung Sedayu merasa dirinya yang paling berjasa dalam hal ini? Atau angger Untara sendiri? Katakanlah ngger. Aku adalah saksi yang masih hidup, bahwa pahlawan dari kemenangan ini adalah angger Wuranta. Semua orang harus mendengar dan mengakui bahwa karena jasa-jasa angger Wuranta, padepokan Tambak Wedi yang diperkuat oleh orang-orang Jipang dibawah pimpinan Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda ini dapat direbut dengan mudah. Sebab pasukan Pajang datang pada saat-saat orang-orang Tambak Wedi dan Jipang sudah tidak kuasa untuk melawannya, setelah mereka bcrtempur satu dengan yang lain. Bukankah begitu?”

  8. jilid 25 hal 43-46

    Ki Tanu Metir berhenti sesaat. Dipandanginya wajah Wuranta yang menjadi semakin lama semakin tegang. Mulutnya mengatub rapat-rapat dan giginya menggeretak.

    “Angger Wuranta, katakanlah ngger. Apakah Agung Sedayu telah berbuat suatu kesalahan? Meskipun ia muridku, tetapi apabila ia berbuat salah, maka aku wajib memberitahukan kesalahan ini kepadanya. Seandainya ia tidak menyadarinya, maka aku akan mencubitnya, supaya ia mengerti akan dirinya.”
    Kini Wurantalah yang terdiam.

    “Katakanlah ngger. Tidak ada orang lain yang dapat membanggakan dirinya disini, selain angger Wuranta. Tidak ada orang lain yang dapat merasa dirinya berjasa, selain angger Wuranta. Kalau ada orang lain, maka orang lain itu harus mendapat pengertian, bahwa pahlawan kemenangan ini adalah Wuranta, anak Jati Anom.”
    “Cukup, cukup,” Wuranta monotong kata-kata Ki Tanu Metir dan dengan terbata-bata ia meneruskan,”Bukan maksudku. Bukan maksudku.”
    Terdengar suara Ki Tanu Metir sareh,”Mungkin angger tidak bermaksud demikian, tetapi apakah kita semuanya akan mcngingkari kenyataan?”
    Wuranta mcnggigit bibirnya. Tiba-tiba dadanya serasa akan meledak mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Seperti terlempar kedalam suatu kesadaran tentang dirinya, Wuranta merasakan tusukan yang tajam dari kata-kata Ki Tanu Metir itu. Terasa seolah-olah selembar tabir yang hitam pekat didalam hatinya kini tersingkap. Dan dilihatnya dirinya sendiri dengan jelas. Dirinya sendiri yang kecil, yang kini berada di antara raksasa-raksasa yang mengerikan. Raksasa yang telah berhasil memecahkan pertahanan padepokan Tambak Wedi. Kembali terbayang dimatanya, betapa Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Tanu Metir bergulat melawan hantu lereng Merapi yang mengerikan, Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. Terbayang betapa Untara beserta pasukannya bertempur menghadapi sisa-sisa pasukan Tambak Wedi yang pada saat-saat terakhir masih sempat bergabung dengan sisa-sisa orang Jipang. Betapa Untara masih mengatur orang-orangnya, dan dirinya sendiri yang masih harus berhadapan melawan Sanakeling.
    Alangkah malunya. Alangkah malunya seandainya ia berkata tentang dirinya sendiri. Apakah semuanya ini dapat terjadi seandainya Untara tidak berhasil mengalahkan sisa-sisa pasukan Tambak Wedi dan Jipang? Apakah Sekar Mirah dapat bebas seperti yang terjadi seandainya Ki Tanu Metir, Agung Sedayu dan Swandaru tidak dapat bertahan melawan Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya?
    Ketika teringat oleh Wuranta akan kata-katanya sendiri, ”Coba. Coba Kiai, sebutkan, siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?” tiba-tiba Wuranta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Alangkah malunya.
    Ki Tanu Metir masih berdiri tegak dihadapannya. Dibiarkannya Wuranta menyadari dirinya. Dibiarkannya anak itu dihanyutkan oleh perasaannya yang tiba-tiba saja seolah-olah terbuka.
    Sejenak mereka saling berdiam diri. Awan dilangit yang kemerah-merahan mengalir ke utara dihembus oleh angin lereng yang lembab. Matahari telah menjadi semakin rendah, dan sebentar lagi hilang dibalik dedaunan disebelah barat. Sinarnya yang membara tersangkut dipunggung gunung dan diujung-ujung awan yang bertebaran dilangit.
    Dihalaman banjar padepokan Tambak Wedi dan sekitarnya, para prajurit Pajang dan sebagian orang-orang Tambak Wedi sendiri yang masih hidup dan tidak berbahaya masih sibuk menyingkirkan mereka yang terluka dan mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan.
    Ki Tanu Metirlah yang kemudian memecahkan kesenyapan itu,”Angger Wuranta. Marilah kita pergi ke banjar.”
    “Tidak. Tidak Kiai. Tidak ada gunanya.”
    “Tak akan ada orang yang tidak mcngakui hasil jerih payahmu ngger.”
    “Bukan itu. Bukan itu, Kiai. Justru aku menjadi malu sekali Ternyata Kiai telah menunjukkan kekeliruanku. Kiai menghadapkan sebuah cermin dimuka wajahku. Aku sangka bahwa aku adalah orang yang paling berjasa dipeperangan ini. Ternyata aku tidak lebih dari sehelai debu yang tidak berarti. Itu aku sadari sekarang Kiai.”
    “Jangan begitu ngger. Aku memang sudah menyangka bahwa kau sedang dihanyutkan oleh sebuah angan-angan yang aku masih belum tahu pasti. Tetapi seharusnya angger segera menemukan keseimbangan perasaan.”
    “Kiai, aku semula merasa sebagai orang yang paling berjasa, tetapi dilupakan karena pekerjaan telah selesai.”
    “Tidak ngger. Angger sama sekali tidak diabaikan.”
    “Ah, jangan menyenangkan hatiku Kiai,” sahut Wuranto, ”sebenarnyalah aku diabaikan.”
    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. la menjadi heran mendengar jawaban Wuranta yang menurut perasaannya agak bersimpang siur.
    “Bagaimanakah sebenarnya menurut tanggapanmu ngger. Aku menjadi agak bingung karenanya.”
    “Kiai, semula aku merasa sakit hati, bahwa aku diabaikan orang. Padahal aku merasa bahwa akulah yang paling berjasa diantara semua orang disini. Tetapi tenyata Kiai telah membuka hatiku. Aku sama sekali bukan seorang pahlawan. Karena itu, tidak sewajarnyalah bahwa aku menjadi sakit hati. Aku memang tidak berarti apa-apa disini. Aku hanya seorang pelaku yang tidak mempunyai bagian sama sekali dalam kemenangan ini. Bukankan begitu Kiai?”
    Ki Tanu Metirlah kini yang meraba dadanya. Ternyata perasaan Wuranta, yang selama ini mencoba menutup-nutupi kekurangannya dan kekecewaan dengan tingkah laku yang aneh-aneh itu terbanting terlampau dalam. Kini tampaklah peraasaan yang sebenarnya bergelut didalam dada anak itu. Rendah diri, disamping segala macam kekecewaan. Apalagi ketika ia melihat kenyataan bahwa Agung Sedayu yang dikenalnya sebagai seorang penakut dan pengecut dimasa kanak-kanaknya, kini ternyata terlampau jauh di atas jangkauannya. Maka hatinya menjadi terpecah-pecah tidak keruan. Agung Sedayu bagi Wuranta, menjadi sebab dari segala macam kepahitan yang kini dialaminya.
    K Tanu Metir kini sudah hampir pasti, bahwa soalnya berkisar disekitar Sekar Mirah.
    Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang perempuan memang kadang-kadang dapat menyebabkan lautan menjadi kering, dan gunung menjadi runtuh. Menurut dongeng, Candi Prambanan tercipta dalam satu malam karena seorang gadis, Rara Jonggrang. Bendungan yang melintasi lautan, mencapai Alengka, dibuat karena seorang wanita. Dewi Sinta. Keris mPu Gandring yang bertuah, yang kemudian menghisap darah beberapa orang, bahkan pembuatnya dan kemudian pemesannya sendiri, adalah karena seorang wanita, Ken Dedes yang ingin direnggutkan dari suaminya, Tunggul Ametung, oleh Ken Arok yang memesan keris itu kepada mPu Gandring.

    “O, tidak terlampau jauh,” berkata Ki Tanu Metir didalam hatinya, “Alap-alap Jalatunda mati karena Sekar Mirah, dan bahkan orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang bertempur satu sama lain karena Sekar Mirah ini pula. Dan kini apakah gadis itu masih akan menulis ceritera baru tentang dirinya dan tentang anak-anak muda yang mengenalnya.”
    Ketika cahaya yang kemerah-merahan dilangit menjadi semakin pudar, maka Ki Tanu Metirpun berkata, ”Marilah ngger. Jangan terlampau membiarkan diri hanyut dalam arus perasaan. Seharusnya angger mencoba mempergunakan pikiran untuk membuat keseimbangan. Nalar.”
    Wuranta menggeleng, “Sudahlah Kiai. Kiai tidak usah memikirkan aku. Aku akan kembali ke Jati Anom. Aku sudah puas dapat melakukan petunjuk-petunjuk Kiai. Aku sudah puas dengan keadaan sekarang ini.”
    Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Wuranta dengan tajamnya sehingga anak muda itu tiba-tiba melontarkan pandangan matanya jauh-jauh kepunggung Gunung Merapi yang masih diwarnai oleh sisa-sisa sinar Matahari yang kemerah-merahan.
    “Ikutlah aku. Angger harus berjiwa besar mcnghadapi setiap persoalan. Angger bukan anak kecil lagi.”
    Wuranta terdiam.
    “Angger adalah satu-satunya dari antara anak-anak muda Jati Anom yang telah berhasil mendahului pasukan Pajang masuk kedalam sarang yang berbahaya ini. Tengadahkan kepalamu. Pandanglah seluruh persoalan dengan dada terbuka. Sebagian dari tanggapan angger tentang diri angger benar. Angger adalah orang yang telah ikut berjasa dalam hal ini.”
    Tetapi Ki Tanu Metir terpaksa menahan hatinya ketika ia melihat Wuranta menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang dalam anak muda itu berkata, ”Terima kasih Kiai. Aku tidak usah pergi ke banjar. Pergilah Kiai sendiri menemui murid-murid Kiai dan kakang Untara. Aku akan kembali ke Jati Anom sekarang.”
    “Ah,” Ki Tanu Metir bcrdesah, “lihat, matahari telah turun kebalik Gunung. Sebentar lagi hari akan gelap.”
    “Aku kemarin mondar-mandir antara Jati Anom dan Tambak Wedi ini didalam gelap juga.”
    “Tetapi justru kali ini aku menjadi cemas, karena Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya terlepas dari tangan kita.”
    “Kiai cemas seandainya aku berjumpa dengan mereka?”
    “Ya ngger.”

  9. Wuranta……sedang bergelut dengan hati nuraninya.
    (maaf bukan Hati Nurani Rakyat lho…..!)

    • asmara membara…..membakar hati sang perJAKA Jati Anom,

      akankah cinta membuta mengalahkan hati nurani-nya….!!??
      nantikan kelanjutan digandok sebelah,

      • kelanjutan nopo to ki

        • nopo wae kerso…… 😀

          • nopo wae kerto eh karto ding 😉

            • 😀

              • eh kartu ding 😛

                • kArtu
                  sms…
                  😀

                  • sms jodo =D

                    • …bujaaann…!


                    • b
                      u
                      l
                      a
                      a
                      a
                      n
                      n

                      !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: