Buku 25

Ketika seorang prajurit lewat dekat di belakangnya, Agung Sedayu berpaling. Tetapi prajurit itu berjalan terus. Namun demikian Agung Sedayu menjadi tersadar akan keadaannya. Dengan langkah yang berat ia naik ke atas pendapa. Dipandanginya beberapa sosok jenazah yang terbaring di sebelah-menyebelah. Ketika ia sempat memandang ke gandok kiri, ia melihat beberapa orang yang terluka dibawa masuk ke dalamnya.

“Mereka yang terluka dirawat di gandok kiri,” desisnya di dalam hati.

Dengan dada yang berdebar-debar Agung Sedayu melangkah terus, berjalan di antara tubuh-tubuh yang diam membeku. Kadang-kadang Agung Sedayu masih melihat darah yang meleleh dari tubuh-tubuh yang diam itu.

Tiba-tiba terasa bulu-bulu tengkuknya meremang. Ia kini bukan Agung Sedayu yang dahulu, yang menjadi pingsan melihat darah. Tetapi meskipun demikian, ia masih juga menjadi ngeri melihat mayat yang berjajar-jajar.

Demikian ia membuka pintu pendapa, maka dilihatnya Ki Tanu Metir dan Swandaru berpaling, bahkan Sekar Mirah menjadi terkejut karenanya.

“Marilah,” Ki Tanu Metir mempersilahkan.

Selangkah Agung Sedayu memasuki pringgitan. Terasa kesepian seolah-olah mencekiknya sehingga ia menjadi susah untuk bernafas. Dengan sorot mata yang aneh ia memandangi seluruh sudut pringgitan itu. Tetapi yang dilihatnya tidak ada lain kecuali Ki Tanu Metir, Swandaru dan Sekar Mirah.

Hati anak muda itu berdesir ketika ia memandangi dinding disisisi barat dari pringgitan itu. Warna merah menyala seperti akan membakar rumah itu. Ternyata matahari telah menjadi semakin rendah, dan bahkan telah menyinggung punggung gunung.

Dengan demikian pringgitan itu telah menjadi agak suram. Warna-warna dindingnya yang kelabu menjadi semakin gelap. Sedang di luar pintu mayat berjajar sebelah-menyebelah.

“Duduklah, Ngger,” suara Ki Tanu Metir itu tidak terlampau keras, tetapi Agung Sedayu terperanjat karenanya.

“Ya, ya Kiai,” jawabnya patah-patah.

Agung Sedayu itu pun kemudian duduk pula di antara mereka. Meskipun demikian ia masih saja memandangi berkeliling. Sarang laba-laba melekat di hampir setiap sudut. Debu pada dinding dan lumut yang hijau bertebaran di lantai, menjadi pertanda bahwa banjar ini kurang mendapat perawatan.

“Apakah yang ditanyakan Angger Untara kepadamu?” pertanyaan Ki Tanu Metir itu sekali lagi mengejutkan Agung Sedayu.

“Oh,” anak muda itu berdesah, “tidak apa-apa. Kakang Untara hanya menanyakan kemana aku selama ini.”

“Kau katakan apa yang terjadi?” bertanya gurunya lanjut.

“Ya.”

“Apa katanya?”

“Tidak apa-apa, Kiai,” jawab Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah ia akan menemui kita,” bertanya Swandaru kemudian.

“Ya, setelah pekerjaannya selesai.”

Swandaru terdiam. Kembali ruangan itu menjadi sunyi. Sekali-sekali terdengar beberapa orang lewat di sebelah pringgitan di sisi gandok. Terasa bahwa di halaman banjar itu terjadi bukan yang luar biasa.

“Angger berdua,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “bukankah kita ingin mencari Angger Wuranta di halaman banjar ini? Apabila kita tetap berada di sini, maka kita tidak akan dapat menemukannya.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Sebaiknya kita mencarinya guru, tetapi aku merasa sikap Kakang Wuranta menjadi aneh. Aku tidak mengerti.”

Sekar Mirah yang mendengar kata-kata itu segera menunduk wajahnya. Pada wajah itu terbersit sicercah warna merah. Tetapi tak seorang pun yang dapat melihatnya.

“Marilah kita cari,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “mumpung belum gelap.”

“Marilah,” jawab Agung Sedayu.

Kepada Sekar Mirah Ki Tanu Metir berkata, “Kau tinggal di sini sebentar, Nini. Kami akan mencari Angger Wuranta yang terluka itu.”

Tiba-tiba Sekar Mirah meraih tangan kakaknya sambil berkata, “Kakang Swandaru tetap di sini. Aku takut.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin ikut serta mencari Wuranta di antara para prajurit Pajang, Tetapi ia tidak sanpai hati meninggalkan Sekar Mirah sendiri dalam ketakutan. Apalagi kemudian pringgitan itu menjadi kian suram.

“Kalau begitu,” desis Ki Tanu Metir, “biarlah kalian tetap di sini mengawani Sekar Mirah. Aku akan mencari sendiri. Mungkin aku akan dapat minta tolong kepada para prajurit Pajang.”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Namun Ki Tanu Metir menyambung, “Tinggallah di sini. Mungkin ada sesuatu yang kalian dapat melakukannya. Sebab Nini Sekar Mirah tidak berani tinggal sendiri di tempat yang lembab dan asing ini.”

Perlahan-lahan Agung Sedayu menjawab, “Silahkan, Kiai.”

“Nah tinggallah di sini sampai aku kembali. Jangan pergi ke mana pun juga supaya aku tidak harus bergantian mencari kalian sesudah aku menemukan Angger Wuranta.”

“Baik, Kiai,” jawab mereka hampir bersamaan.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian pergi meninggalkan pringgitan itu. Di luar ia bertemu dengan Untara, dan mengatakan maksudnya.

“Wuranta tidak ada di antara kalian?” bertanya anak muda itu.

“Tidak, Ngger,” sahut Ki Tanu Metir.

Mendengar jawaban Ki Tanu Metir Untara mengerutkan keningnya. Ia memang belum melihat Wuranta sejak ia memasuki padepokan ini. Ternyata kini Ki Tanu Metir pun sedang mencarinya. Sekilas terbersit kecemasan di dalam hatinya sehingga senapati itu berdesis, “Apakah Wuranta menemui bencana di dalam perang campuh ini?”

“Aku kira tidak, Ngger. Ia bersamaku pada saat aku harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi, tetapi anak muda itu terlukadi dadanya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Lalu ke manakah ia pergi?”

“Tak kami ketahui. Ia tidak berkata kepada siapa pun juga, kemana dan kenapa ia begitu saja pergi meninggalkan Sekar Mirah di dalam gubug itu, sedang kami, aku, Angger Agung Sedayu, dan Angger Swandaru sedang mengejar Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya.”

“Aneh,” desis Untara, “apakah ada sesuatu yang menarik hatinya sehingga ia terpaksa pergi meninggalkan Kiai?”

“Aku tidak tahu,” jawab Kiai Gringsing. “Karena itu sekarang aku akan mencarinya. Sokurlah apabila tidak terjadi sesuatu. Aku mencemaskannya karena dadanya terluka. Mungkin juga ada hal-hal yang tidak kita kehendaki yang terjadi atasnya. Mungkin ia bertemu dengan prajurit Pajang yang belum mengealnya dan tiba-tiba mencurigainya.”

“Ia akan dapat memberikan penjelasan.”

“Kalau ia sempat memberikan penjelasan itu. Dalam keadaan yang kisruh, kesalah-pahaman dapat saja terjadi di mana-mana. Kadang-kadang seseorang sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang diri sendiri. Bahkan seseorang harus menyatakan dirinya seperti orang lain menghendakinya. Seorang yang belum mengenal Wuranta akan dapat memaksanya dengan kekerasansupaya Wuranta menyatakan dirinya sebagai seorang dari padepokan Tambak Wedi. Kemudian pengakuan yang dipaksakan akan menjadi alasan untuk berbuat lebih jauh lagi.”

“Ah,” Untara berdesis, “prajurit Pajang tidak akan berbuat demikian.”

“Para Senapati dan para perwira yang bertanggung jawab mungkin tidak menghendakinya. Tetapi orang-orang yang sedang terlibat dalam pertentangan dan ketegangan, mungkin dapat berbuat meskipun ia seorang yang cukup matang. Di dalam pertempuran serupa ini, Ngger, salah paham, kecurigaan dan kebencian menguasai setiap hati. Dari prajurit yang paling rendah sampai tingkat yang tertinggi. Mungkin Angger sendiri. Meskipun demikian, masih juga tergantung pada nilai batin seseorang. Bekal rokhaniah di samping bekal jasmaniah, sangat berpengaruh di medan-medan perang.”

“Hem,” Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengangguk, “Ya, Kiai benar. Aku tidak akan selak.”

“Ah, jangan begitu, Ngger. Aku tidak bermaksud menuduh. Aku hanya mengatakan keadaan umum yang terjadi di medan perang.”

Untara masih mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku mengerti maksud Kiai. Aku ingin menjaga agar prajurit-prajuritku tidak melakukannya, atau setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan itu sejauh-jauhnya.”

“Baiklah, Ngger. Bagiku, sepanjang pengalamanku, prajurit Pajang di bawah pimpinan Angger Untara ternyata mempunyai nilai rokhaniah yang tinggi di samping kenyataan lahiriah yang mengagumkan.”

“Kiai memuji.”

“Tidak, Ngger. Aku berkata sebenarnya meskipun tidak dapat diingkari bahwa prajurit Pajang pun terdiri dari manusia-manusia yang masih dapat berbuat salah. Karena itulah aku akan mencari Angger Wuranta.”

“Baiklah, Kiai.”

“Apakah Angger tidak akan bertemu dengan adikmu itu?”

“Ya, ya Kiai. Nanti sesudah pekerjaanku selesai. Sebentar lagi kami juga akan beristirahat. Kami harus makan. Nah, Kiai jangan terlampau lama, supaya pada saatnya Kiai dapat makan bersama kami di pringgitan.”

“Baik, Ngger, baik,” sahut Ki Tanu Metir sambil menganggukkan kepalanya. “Sekarang perkenankanlah aku pergi.”

“Silahkan, Kiai.”

Maka sejenak kemudian Ki Tanu Metir itu melangkah perlahan-lahan meninggalkan Untara yang segera melanjutkan pekerjaannya.

Sementara itu, Wuranta yang sedang dicari oleh Ki Tanu Metir, berjalan dengan langkah yang lemah di sepanjang pagar halaman. Kadang-kadang dilompatinya pagar yang satu dan dimasuki halaman sebelah. Lalu ditelusurinya pagar yang lain-lain lagi. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi yang ada di dalam kepalanya adalah meninggalkan rumah tempat tinggal Sekar Mirah itu.

Ia sudah tidak betah lagi melihat semua yang terjadi. Baginya, apa yang dilihatnya itu seolah-olah merupakan cermin yang menunjukkan segala macam kekurangannya, kekerdilannya, dan segala macam kelemahannya, dihadapkan pada keadaan seperti yang sedang terjadi. Keadaan yang dikuasai oleh kekerasan dan senjata. Sedang ia sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu. Apalagi apabila ia melihat betapa Agung Sedayu dengan lincahnya mampu berhadapan dengan Sidanti, maka terasa kekecilan diri menjadi semakin tajam.

Maka ketika terpandang olehnya wajah Sekar Mirah yang tunduk, hatinya seakan-akan meledak, pecah berserakan. Itulah sebabnya maka tanpa setahu seorang pun, ia melangkah meninggalkan sumah itu. Meninggalkan Sekar Mirah, meninggalkan Agung Sedayu yang sedang bertempur dan meninggalkan orang-orang lain di rumah itu yang seolah-olah memandangnya dengan penuh penghinaan.

Dan kini ia berjalan tanpa tujuan, asal saja menjauhi rumah yang telah menyiksanya itu.

Tetapi tanpa dikehendakinya sendiri, langkah Wuranta itu pun menjadi semakin dekat dengan banjar padepokan Tambak Wedi. Beberapa halaman lagi ia akan sampai ke daerah yang penuh dengan noda-noda darah.

Ia terhenti ketika ia melihat tidak terlampau jauh lagi, para prajurit Pajang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan mengusung orang-orang yang terluka.

Dada Wuranta menjadi berdebar-debar karenanya. Namun ada sesuatu yang mendorongnya untuk berjalan lebih dekat. Ia tidak mengerti kenapa ia ingin melihat apa yang telah terjadi di halaman di sekitar banjar. Agaknya kesibukan di sekitar banjar itulah yang telah menariknya melangkah semakin dekat.

Ketika beberapa orang prajurit Pajang melihatnya, maka mereka segera mendekatinya. Salah seorang dari mereka segera bertanya kepadanya tentang dirinya. Katanya, “Siapakah kau, dan apakah keperluanmu?”

Dada Wuranta berdesir mendengar pertanyaan itu. Dipandanginya prajurit Pajang itu dengan tajamnya. Luka di dadanya kini seolah-olah sudah tidak terasa lagi, tetapi luka di hatinya masih juga terasa alangkah pedihnya. Pertanyaan itu telah mengungkat kembali perasaan yang baru saja telah menyiksanya. Kekerdilan diri, seolah-olah ia sama sekali tidak mempunyai arti apa pun di hadapan orang-orang Pajang itu. Padahal, ia telah cukup memberikan sumbangan, sehingga kemenangan Untara ini mungkin terjadi.

Karena Wuranta tidak menjawab, maka prajurit itu mengulangi pertanyaannya, “Siapakah kau? Agaknya kau terluka di dadamu. Di lambungmu tergantung wrangka pedang, meskipun tidak dengan pedangnya. Apakah kau orang Tambak Wedi?”

Hati Wuranta menjadi semakin sakit. Karena itu maka tiba-tiba ia ingin melepaskan himpitan perasaannya. Jawabnya, “Apakah kalian belum pernah mengenal aku?”

“Siapa?”

“Aku Wuranta, anak Jati Anom.”

Para prajurit itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Kami tidak membawa laskar Jati Anom. Yang datang ke Tambak Wedi adalah seluruhnya pasukan dari Pajang.”

Wuranta kini tidak dapat menahan dirinya lagi. Perasaan yang bergelut di dadanya tiba-tiba saja ingin meledak. Perasaan rendah diri yang mencengkamnya, telah memaksanya untuk berbuat hal-hal yang berlebih-lebihan seperti pada saat ia menyerang Sidanti. Dengan dada tengadah ia berkata, “Apakah kalian belum tahu bahwa akulah yang memungkinkan kalian memasuki padepokan ini? Tanpa aku, kalian telah dihancurkan oleh pasukan Tambak Wedi sebelum kalian sempat mendekati regol padepokan ini.”

Beberapa orang prajurit Pajang itu saling berpandangan. Namun jawaban itu tidak menyenangkan hati mereka. Prajurit tertua di antara mereka segera melangkah maju dan bertanya, “He Wuranta. Bukankah namamu Wuranta, menurut pengakuanmu? Apakah yang telah kau lakukan sehingga kau dapat mengatakan kepada kami bahwa kau telah memungkinkan kami memasuki padepokan ini?”

“Hanya para pemimpinmu yang tahu siapakah Wuranta.”

Sekali lagi para prajurit itu saling berpandangan. Dan prajurit yang tertua itu bertanya sekali lagi, “Siapakah para pemimpin yang kau maksud?”

Sejenak Wuranta terdiam. Ia belum banyak mengenal nama-nama para pemimpin prajurit Pajang. Tetapi satu, justru yang tertinggi telah dikenalnya. Karena itu maka kemudian ia menjawab, “Untara. Untara. Untara mengenal aku dengan baik.”

Dada para prajurit itu berdesir. Tetapi tidaklah mustahil bahwa orang ini langsung berhubungan dengan Untara. Hal itu memang pernah juga dilakukan oleh Untara. Mempergunakan orang-orang dalam tugas-tugas sandi. Dan orang-orang itu yang mengenal hanyalah Untara sendiri.

Tetapi para prajurit Pajang itu tidak akan dapat melepaskan kecurigaannya, sehingga prajurit yang tertua itu berkata, “Baiklah, Ki Sanak. Seandainya kau benar petugas sandi yang hanya dikenal oleh Ki Untara, maka marilah Ki Sanak aku bawa langsung menghadap Ki Untara.”

Hati Wuranta yang sedang melonjak-lonjak karena tekanan-tekanan perasaan itu kini menjadi kian bergolak. Ia merasa sama sekali tidak mendapat kepercayaan para prajurit itu. Dengan wajah tegang ia berkata, “Aku akan dapat menghadapnya sendiri. Apakah ini berarti bahwa kalian akan menangkap aku?”

Prajurit itu menggeleng, “Tidak, Ki Sanak. Tetapi dalam peperangan kita harus berhati-hati.”

“Tidak,” jawab Wuranta “aku akan menghadap sendiri. Aku orang bebas. Bahkan akulah yang telah raemungkinkan kalian memasuki padepokan ini. Sekarang kalian akan menangkap aku.”

“Kami tidak dapat melihat suatu bukti apa pun tentang kata-katamu, Ki Sanak. Karena itu, maka satu-satunya cara yang dapat kami tempuh adalah membawa Ki Sanak menghadap Ki Untara. Nah, Ki Untara akan dapat berkata sesuatu kepada kami tentang Ki Sanak. Sebab seperti yang Ki Sanak katakan, salah seorang dari para pemimpin Pajang yang telah mengenal Ki Sanak dengan baik adalah Ki Untara.”

Wajah Wuranta menjadi merah. Ia merasa alasan-alasannya tidak didengar sama sekali oleh prajurit-prajurit Pajang itu. Karena itu maka katanya, “Biarkanlah aku berbuat menurut kehendakku. Nanti aku akan datang kepadanya, atau Kakang Untara akan mencari aku untuk mengucapkan terima kasih kepadaku. Sekarang kalau kalian tidak percaya kepadaku, nah pergilah, bertanyalah kepada Ki Untara, siapakah anak muda Jati Anom yang bernama Wuranta.”

Prajurit-prajurit itulah yang kini tersinggung mendengar jawaban Wuranta yang aneh itu. Justru dengan demikian maka nafsu mereka untuk membawa Wuranta menjadi semakin besar. Bukan karena kecurigaan mereka, tetapi karena mereka merasa kuwajiban mereka seolah-olah dianggap kurang berarti. Bahkan pemimpin mereka, senapati mereka pun telah diremehkan oleh anak muda yang menyebut dirinya bernama Wuranta itu.

Dengan demikian maka wajah para prajurit itu menjadi semakin tegang. Hati mereka yang panas terbakar oleh pertempuran yang baru saja terjadi masih juga belum padam. Karena itu maka sikap Wuranta agaknya telah menyalakan api yang masih tersimpan di dalam hati mereka.

Maka sejenak kemudian prajurit yang tertua di antara, reka itu berkata, “Kalau demikian Ki Sanak, maka kami akan memaksamu. Kami adalah prajurit-prajurit Pajang yang berada di dalam lingkungan lawan. Karena itu setiap orang yang bukan berasal dari kami harus kami curigai. Termasuk kau.”

Wajah Wuranta yang merah menjadi semakin menyala. Kemarahannya kini telah memuncak. Ia merasa seolah-olah orang Pajang itu sama sekali tidak mengenal terima kasih. Seperti juga Agung Sedayu.

Sebelum semuanya ini terjadi, ia adalah umpan yang pertama kali dilontarkan ke dalam sarang serigala ini. Ia adalah oyang yang pertama kali harus berhadapan dengan Sidanti bahkan Ki Tambak Wedi. Hampir saja lehernya dijerat di tiang gantungan. Tetapi kini, setelah serauanya selesai, maka ia seolah-olah tidak dibutuhkan.

Setelah Sekar Mirah bertemu dengan Agung Sedayu, maka kehadirannya sama sekali tidak dihiraukannya. Bahkan yang pertama-tama dilontarkan kepadanya adalah penghinaan. Kemudian dengan sombongnya Agung Sedayu memamerkan kelebihan-kelebihannya padanya.

Dan kini, prajurit-prajurit Pajang itu juga ingin menangkapnya. Membawanya kepada Untara sebagai seorang tawanan.

Tiba-tiba Wuranta tidak dapat menahan desakan di dalam rongga dadanya. Dengan lantang ia berteriak, “He orang-orang Pajang. Jangan terlampau sombong. Tak seorang pun di antara kalian yang berani memasuki padepokan ini selagi Tambak Wedi, Sidanti, beserta Sanakeling masih mampu menggenggam senjata mereka. Tak seorang pun dari kalian, termasuk Agung Sedayu adik Untara itu, yang berani menghadapi Sidanti dan Sanakeling pada saat-saat mereka masih bersatu tujuan. Kini aku berhasil memisahkan mereka karena permainanku. Dengan mengumpankan Alap-alap Jalatunda aku berhasil mengadu dua kekuatan yan ada di Padepokan ini. Kekuatan Jipang dan kekuatan Tambak Wedi. Baru setelah keduanya hancur kalian berani masuk. Sekarang kalian menyombongkan diri akan menangkap Wuranta. Nah, lakukanlah. Lakukanlah setelah Wuranta menjadi mayat. Apa yang aku lakukan sebelum ini memang sudah harus bertaruh nyawa. Pagi ini seharusnya aku sudah mati di tiang gantungan apabila aku tidak berhasil melarikan diri. Umurku ini adalah umur yang berlebihan. Karena itu, ayo, bunuhlah aku. Aku tidak akan melawan. Tetapi jangan mimpi membawa Wuranta hidup-hidup kepada Untara.”

Darah para prajurit-prajurit Pajang itu segera mendidih. Mereka lidak tahu apa yang telah dilakukan oleh Wuranta. Karena itu maka yeng termuda di antara mereka segera melangkah maju. Untunglah bahwa yang tertua masih juga dapat menahan diri. Digamitnya prajurit yang masih muda itu sambil berkata, “Biarlah aku yang menyelesaikannya.”

“Bagus, ayo, selesaikan bersama-sama. Aku tidak akan lari. Aku sudah bersedia untuk mati. Aku sudah hidup lebih lama sesiang ini.”

Ketika prajurit yang tertua itu melangkah maju, ia melihat Wuranta berdiri tegak sambil menengadahkan dada. Tetapi tidak lampak tanda-tanda bahwa anak muda itu akan melawannya.

“Apakah kau memerlukan pedang?” bertanya prajurit tertua itu. “Bukankah kau ingin melawan?”

Wuranta menggeleng. “Aku tidak perlu melawan kalian. Tak ada artinya”

Prajurit-prajurit Pajang mengerutkan kening mereka. Ada di antara mereka yang mengartikan kata-kata Wuranta itu sebagai suat penghinaan, seolah-olah para prajurit Pajang itu tidak berarti buat dilawannya, tetapi ada pula yang melihat keanehan sikap Wuranta itu. Ternyata ia benar-benar tidak bersiap untuk melawan.

Prajurit yang tertua di antara mereka itu menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia berkata, “Kau membingungkan kami.”

“Bukan maksudku,” jawab Wuranta “kau sendirilah yang membuat dirimu bingung.”

“Apakah kau termasuk salah seorang prajurit Tambak Wedi yang berusaha membunuh diri dengan cara itu.”

Pertanyaan itu telah menggoncangkan dada Wuranta. kemarahannya yang sudah memuncak seolah-olah kini meluap lewat ubun-ubunnya. Namun dengan demikian maka anak muda itu justru terdiam. Tetapi tubuh dan bibirnya menjadi bergetar secepat getar jantungnya.

Sejenak mereka yang sedang dicengkam oleh ketegangan itu saling berdiam diri, tetapi mata mereka menyorotkan kemarahan yang hampir-hampir tidak terkendali.

Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang di belakang pagar dinding batu, di antara dedaunan yang rimbun. “Kalian ternyata telah menjadi salah paham.”

Dengan serta-merta maka mereka segera berpaling. Dari antara dedaunan yang rimbun itu, maka meloncatlah seorang tua dengan cekatan. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

“Siapakah Ki Sanak?” bertanya salah seorang dari para prajurit itu. Ternyata prajurit itu juga belum mengenal Ki Tanu Metir.

Ki Tanu Metir tersenyum, tetapi hatinya menjadi cemas juga. Apabila para prajurit itu belum mengenalnya, maka keadaannya tidak akan berbeda. Seperti juga Wuranta, maka para prajurit itu pasti ingin membawanya kepada Umara.

“Apakah kalian belum mengenal aku?” bertanya Ki Tanu Metir itu.

Prajurit yang bertanya kepadanya itu menjawab, “Aku tidak mengenalmu.”

Ki Tamu Metir mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia melangkah maju. Diamatinya prajurit yang menjawab pertanyaannya itu. Seorang prajurit muda yang gagah, bertubuh tinggi dan berdada bidang. Di lambungnya tergantung sehelai pedang yang panjang.

Tetapi Ki Tanu Metir semakin dicemaskan oleh sikap para prajurit itu. Apakah yang harus dilakukan seandainya mereka bersikap keras kepadanya seperti kepada Wuranta.

“Aku tidak boleh melawan,” katanya di dalam hati “Mereka melakukan kuwajiban. Tetapi bagaimana dengan Angger Wuranta itu seandainya ia pun berkeras hati untuk tidak mau tunduk kepada para prajurit itu?”

Dalam keceraasan itu tiba-tiba ia mendengar salah seorang dari para prajurit itu berkata, “He, bukankah orang tua itu yang tadi berjalan bersama dua orang anak muda dan seorang gadis yang diantar oleh beberapa orang prajurit?”

Kawan-kawannya berpaling ke arahnya. Lalu seorang yang lain berkata, “Ya, aku pernah melihat orang tua itu. Apakah Kiai yang bernama Ki Tanu Mtetir?”

Dada Ki Tanu Metir menjadi lega. Ternyata ada di antara mereka yang sudah mengenalnya. Dengan demikian maka pekerjaannya menjadi bertambah ringan.

“Ya, ya, Ki Sanak, akulah yang bernama Ki Tanu Metir. Dari siapa Angger mengetahuinya?”

“Aku pernah melihat Kiai sekali di Jati Anom, ketika Kiai bersama adik Ki Untara dan anak muda yang gemuk itu, yang tadi juga berjalan bersama Kiai menemui Ki Untara.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa pendek, “Ya, itulah aku.”

“Kenapa tiba-tiba saja Kiai sudah berada di sini pula?”

“Tidak, Ki Sanak, tidak dengan tiba-tiba. Aku telah datang lebih dahulu dari pasukan Pajang. Aku datang bersama Angger Wuranta ini,” jawab Ki Tanu Metir sambil menunjuk Wuranta yang masih berdiri tegak di tempatnya.

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Beberapa orang yang lain saling berpandangan. Akhirnya hampir serempak mereka memandang Wuranta.

“Ya. Angger Wuranta telah datang lebih dahulu bersama aku, Angger Agung Sedayu, adik Ki Untara, dan Angger Swandaru Geni, anak muda yang gemuk itu.”

“Apakah yang telah kalian lakukan?”

Ki Tanu Metir tersenyum, “Tidak terlampau penting Ki Sanak. Hanya sekedar melepaskan anak-anak panah sendaren. Bukankah Angger juga mendengarnya? Pasukan berkudalah yang mendengarnya dengan jelas. Apakah Angger dari pasukan berkuda?”

“Prajurit itu menggeleng. Tetapi meskipun mereka bukan anggauta pasukan berkuda, namun mereka tahu benar, bahwa tanda-tanda yang memungkinkan mereka memasuki padepokan ini adalah panah sendaren. Tetapi mereka tidak tahu, siapakah yang telah melepaskan panah itu.

Dalam pada itu Ki Tanu Metir berkata pula, “Nah, itulah, Ki Sanak. Kenapa kami berada di padepokan ini.”

Prajurit yang tertua di antara mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mempercayai keterangan Ki Tanu Metir, sebab beberapa orang kawan-kawannya telah melihat orang itu menghadap Untara. Karena itu mereka kini mengerti pula bahwa Wuranta memang pernah melakukan seperti apa yang dikatakannya. Tetapi meskipun demikian, sikap anak muda Jati Anom itu telah terlanjur membuatnya kurang senang. Namun prajurit yang tertua itu berusaha menahan dirinya. Sebab kedua orang itu adalah orang-orang kepercayaan Untara.

Tetapi yang aneh bagi mereka, betapa Wuranta berani mengatakan, bahwa Untara-lah yang harus datang kepadanya.

Sejenak para prajurit itu saling berdiam diri. Ki Tanu metir pun berdiri saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengharap bahwa keadaan akan menjadi berangsur baik setelah mereka, para prajurit itu mengetahui dan mengenal Wuranta.

Hati Ki Tanu Metir pun menjadi lega ketika prajurit yang tertua itu berkata, “Baiklah, Kiai, apabila demikian, maka kami tidak akan keberatan membiarkan kalian berada di padepokan ini menurut kehendak kalian. Tetapi ingat, bahwa ada di antara kami yang belum mengenal kalian sama sekali. Karena itu, sebaiknys kalian tidak berada di tempat yang terlampau jauh dari banjar. Setiap saat kalian akan mendapat pertanyaan-pertanyaan yang serupa, dan mungkin ada di antara kami, prajurit-prajurit Pajang yang sama sekali tidak mengenal kalian, sehingga sikapnya pasti tidak akan menyenangkan, seperti sikap kami juga.”

“Oh, tidak apa, Ki Sanak. Kalian sedang melakukan kewajiban. Karena, itu maka sikap kalian dapat kita mengerti.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya “Terima kasih atas pengerlian kalian. Sekarang, kami akan meneruskan kewajiban kami. Aku nasehatkan pergilah ke banjar, supaya kalian tidak menjumpai persoalan yang serupa.”

“Terima kasih, Ki Sanak,” jawab Ki Tanu Metir. Para prajurit itu pun kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir dan Wuranta berdua. Mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padepokan untuk melakukan pengawasan. Mungkin masih ada laskar Tambak Wedi yang tersembunyi, atau mungkin orang-orang Jipanng. Sepeninggal para prajurit itu, maka berkatalah Ki Tanu Metir kepada Wuranta, “Marilah, Ngger, kita pergi ke banjar padepokan ini. Di sana Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah sudah menunggumu.”

Wuranta mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar suaranya bernada rendah, “Untuk apa mereka menunggu aku?”

Ki Tanu Metir adalah seorang yang telah cukup umur. Pengenalannya atas perangai anak-anak muda cukup tajam. Ia mencoba untuk mengerti, apakah sebabnya maka tiba-tiba Wuranta bersikap aneh. Sejak di dalam gubug Sekar Mirah, kemudian hilang tanpa pesan apa pun.

Namun Ki Tanu Metir tidak segera dapat mengerti dengan pasti, apakah sebabnya. Ia hanya dapat meraba-raba dan menerka. Tetapi dugaan Ki Tanu Metir atas persoalan yang sebenarnya masih sangat kabur.

Sekali lagi Tanu Metir itu mengajak, “Angger Wuranta. Marilah kita pergi ke banjar. Kita harus menunjukkan diri kepada Angger Untara. Agung Sedayu dan Swandaru sudah lama menunggu Angger di sana. Aku sudah mencari Angger di mana-mana. Baru sekarang aku menemukan Angger. Kemana Angger selama ini dan kenapa Angger pergi tanpa pesan apa pun? Dada Angger sedang terluka meskipun untuk sementara telah tidak mengalirkan darah lagi.”

“Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam, “tugasku yang lerbahaya, yang harus aku pertaruhkan dengan nyawa telah selesai. Buat apa orang-orang Pajang dan Kiai memerlukan aku lagi?”

“Ah, jangan begitu, Ngger. Semua orang menunggu Angger.”

Wuranta menggeleng, “Tidak. Mereka hanya memerlukan aku selagi mereka tidak dapat melakukan sesuatu pekerjaan. Aku bukan seorang prajurit dan bukan murid Kiai. Itulah sebabnya Kiai menunjuk aku untuk masuk ke dalam api di Tambak Wedi ini. Seandainya aku tertangkap dan mati, maka baik Untara maupun Kiai tidak kehilangan. Untara tidak kehilangan prajuritnya dan Kiai tidak kehilangan seorang murid. Bukankah begitu?”

“Jangan beranggapan begitu, Ngger. Sama sekali tidak terlintas di dalam kepalaku perhitungan yang demikian. Secara kebetulan dan tiba-tiba aku menjumpai Angger di Jati Anom. Aku telah mencoba memperhitungkan semua rencana sebaik-baiknya. Aku sama sekali tidak berbuat dengan untung-untungan.”

“Tetapi apa yang terjadi? Apakah Kiai mengetahui aku telah ditahan oleh Ki Tambak Wedi? Bahkan telah disediakan tiang gantungan di regol padepokan ini? Apa yang dapat Kiai lakukan dan apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang Pajang?”

“Mereka telah datang, Ngger. Mereka telah masuk ke padepokan ini. Dan Angger ternyata tidak naik ke tiang gantungan itu.”

“Tetapi sama sekali bukan karena orang-orang Pajang dan bukan pula karena Kiai dan murid-murid Kiai. Aku dapat melarikan diriku dari tempat aku ditawan karena kekuatanku sendiri, karena kesempatan yang aku dapatkan, bukan dari kalian. Nah, seandainya aku saat itu tidak dapat melarikan diri, seandainya aku mati, maka tidak ada kemungkinan kalian dapat berbuat sesuatu.”

“Angger Wuranta, sejak malam tadi aku sudah di padepokan ini. Aku akan mengetahuinya seandainya hukuman mati itu dilaksanakan.”

“Apa yang akan dapat Kiai lakukan seorang diri di sini? Apa? Apakah Kiai juga akan membela kematianku dengan membunuh diri, melawan Ki Tambak Wedi? Kiai mampu melawan seorang lawan seorang, tetapi melawan Ki Tambak Wedi dengan seluruh pengikutnya?”

“Ternyata mereka berbentrokan sendiri, Ngger.”

“Kenapa mereka berbentrokan sendiri Kiai? Kenapa? Apakah hal itu dapat terjadi begitu saja tanpa sebab?”

“Hal itu akan mungkin sekali, Ngger. Dua kekuatan yang dasarnya telah berbeda. Berbeda sumbernya dan berbeda tujuannya. Kalau di antara mereka terjadi persetujuan, maka itu hanyalah untuk sementara.”

“Omong kosong!”

Ki Tanu Metir terperanjat mendengar jawaban Wuranta. Kini ia menjadi semakin tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah mengganggu anak muda itu? Dugaannya tentang sebab-sebab dari tindakan-tindakan yang aneh itu justru menjadi kabur.

“Jadi bagaimanakah, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir dengan dada berdebar-debar.

“Pertempuran di antara mereka itu telah dibakar oleh suatu sebab. Sebab yang berhasil aku tumbuhkan. Seandainya Alap-alap Jsuatunda tidak menjadi gila, apakah pertempuran itu dapat terjadi?”

Ki Tamu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku berhasil menumbuhkan pertentangan itu. Aku mengumpankan Alap-alap Jalatunda yang menjadi gila karena Sekar Mirah. Kegilaannya itulah yang telah membakar padepokan ini. Baru setelah padepokan ini hangus, pasukan Untara itu datang. Itu pun karena aku pula. Karena aku datang ke Jati Anom. Memberitahukan keadaan padepokan ini. Kemudian membawa Agung Sedayu dan Swandaru masuk. Nah, siapakah yang sebenarnya berhasil melakukan tugasnya? Aku, Untara, Agung Sedayu dan Swandaru atau Kiai? Sekarang, setelah semuanya selesai? Tak seorang pun lagi menghiraukan aku. Semuanya tidak memerlukan aku lagi. Mereka memamerkan kepandaian mereka bermain pedang. Kiai, aku memang bukan seorang prajurit. Aku memang tidak secakap Agung Sedayu dan tidak secepat para prajurit Pajang memainkan senjata. Tetapi aku juga mempunyai harga diri, Kiai. Setelah Agung Sedayu dapat bertemu dengan Sekar Mirah, maka keduanya sama sekali tidak menghiraukan aku lagi. Sekar Mirah yang sebelumnya hampir mati ketakutan itu, kemudian sama sekali tidak mau melihat aku, meskipun hanya dengan sebelah matanya. Mereka telah menemukan yang mereka cari. Kedatangan Agung Sedayu telah membuat gadis itu menjadi tamak dan besar kepala, seolah-olah semua orang lain di dunia ini tidak berharga.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia mencoba menangkap maksud yang sedalam-dalamnya dari kata-kata Wuranta. Dugaannya yang semula menjadi kabur kini menjadi semakin jelas kembali.

“Coba, coba Kiai, sebutkan. Siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab.

“Kini semua orang di padepokan ini menghina Wuranta. Para prajurit itu, Sekar Mirah, Agung Sedayu, dan semuanya.”

Wuranta berhenti sejenak. Nafasnya menjadi terengah-engah dan wajahnya menjadi merah. Terasa betapa dadanya dihentak-hentak oleh dentang jantungnya yang semakin cepat.

Ki Tanu Metir masih berdiam diri. Kini ia dapat meraba, apakah yang telah mendorong Wuranta berbuat demikian. Hampir pasti. Meskipun demikian Ki Tanu Metir masih cukup berhati-hati untuk berbuat dan berkata sesuatu. Ternyata perasaan Wuranta terlampau peka, dan terlampau mudah tersentuh.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Wuranta itu mengulangi pertanyaannya, “Siapa Kiai? Seharusnya Kiai dapat menyebutkan, siapa yang sebenarnya berhasil di dalam tugasnya, sebab Kiai mengetahuinya sejak permulaan. Tidak seperti prajurit-prajurit Pajang itu. Begitu mereka datang, mereka menganggap dirinyalah yang paling berjasa. Seperti juga Agung Sedayu yang merasa, seolah-olah ialah yang telah membebaskan Sekar Mirah. Siapa? Coba sebutkan, apakah Kiai berani menyebutkannya karena Kiai guru Agung Sedayu barangkali?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dengan nada yang berat tenang, “Ya, Ngger. Aku meugakui karena penglihatanku sendiri, bahwa Angger Wuranta-lah yang telah membawa kita semuanya di sini kepada kemenangan yang mutlak. Semua rencana dapat berlangsung sebaik-baiknya berkat keberanian dan ketrampilanmu, Ngger. Aku mengakui. Dan mudah-mudahan Untara pun akan mengakui.”

“Tidak. Ia pasti tidak akan mengakui. Ia Senapati besar di sini. Ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling penting. Dan ia merasa bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan kemenangan ini. Apalagi Agung Sedayu adalah adiknya. Pasti ia akan membenarkan sikapnya dan menyalahkan aku.”

“Kenapa? Kenapa Untara akan membenarkan sikap Agung Sedayu dan menyalahkan Angger? Dalam hal apa? Apakah ada sesuatu persoalan di antara kalian berdua?”

Pertanyaan itu mengejutkan sekali bagi Wuranta. Sejenak ia terdiam.

“Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir “seandainya ada sesuatu persoalan yang mengecewakan Angger Wuranta, katakanlah, Ngger. Aku adalah saksi yang akan mengatakan kepada siapa pun juga, yang tidak mengakui Angger sebagai seorang perintis yang telah membawa kita masuk ke padepokan ini! Apakah Agung Sedayu merasa dirinya yang paling berjasa dalam hal ini? Atau Angger Untara sendiri? Katakanlah, Ngger. Aku adalah saksi yang masih hidup, bahwa pahlawan dari kemenangan ini adalah Angger Wuranta. Semua orang harus mendengar dan mengakui, bahwa karena jasa-jasa Angger Wuranta, padepokan Tambak Wedi yang diperkuat oleh orang-orang Jipang di bawah pimpinan Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda ini dapat direbut dengan mudah. Sebab pasukan Pajang datang pada saat-saat orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang sudah tidak kuasa untuk melawannya, setelah mereka bertempur satu dengan yang lain. Bukankah begitu?”

Ki Tanu Metir berhenti sesaat. Dipandanginya wajah Wuranta yang menjadi semakin lama semakin tegang. Mulutnya mengatup rapat-rapat dan giginya menggeretak.

“Angger Wuranta, katakanlah, Ngger. Apakah Agung Sedayu telah berbuat suatu kesalahan? Meskipun ia muridku, tetapi apabila ia berbuat salah, maka aku wajib memberitahukan kesalahan itu kepadanya. Seandainya ia tidak menyadarinya, maka aku akan mencubitnya, supaya ia mengerti akan dirinya.”

Kini Wuranta-lah yang terdiam.

“Katakanlah, Ngger. Tidak ada orang lain yang dapat membanggakan dirinya di sini, selain Angger Wuranta. Tidak ada orang lain yang dapat merasa dirinya berjasa, selain Angger Wuranta. Kalau ada orang lain, maka orang lain itu harus mendapat pengertian, bahwa pahlawan kemenangan ini adalah Wuranta, anak Jati Anom.”

“Cukup, cukup,” Wuranta memotong kata-kata Ki Tanu Metir dan dengan terbata-bata ia meneruskan, “Bukan maksudku. Bukan maksudku.”

Terdengar suara Ki Tanu Metir sareh, “Mungkin Angger tidak bermaksud demikian, tetapi apakah kita semuanya akan mengingkari kenyataan?”

Wuranta menggigit bibirnya. Tiba-tiba dadanya serasa akan meledak mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Seperti terlempar ke dalam suatu kesadaran tentang dirinya, Wuranta merasakan tusukan yang tajam dari kata-kata Ki Tanu Metir itu. Terasa seolah-olah selembar tabir yang hitam pekat di dalam hatinya kini tersingkap. Dan dilihatnya dirinya sendiri dengan jelas. Dirinya sendiri yang kecil, yang kini berada di antara raksasa-raksasa yang mengerikan. Raksasa-raksasa Pajang telah berhasil memecahkan pertahanan padepokan Tambak Wedi. Kembali terbayang di matanya, betapa Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir bergulat melawan hantu lereng Merapi yang mengerikan, Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya. Terbayang betapa Untara berserta pasukannya bertempur menghadapi sisa-sisa pasukan Tambak Wedi yang pada saat-saat terakhir masih sempat bergabung dengan sisa-sisa orang Jipang. Betapa Untara masih harus mengatur orang-orangnya, dan dirinya sendiri yang masih harus berhadapan melawan Sanakeling.

Alangkah malunya. Alangkah malunya seandainya ia berkata tentang dirinya sendiri. Apakah semuanya ini dapat terjadi seandainya Untara tidak berhasil mengalahkan sisa-sisa pasukan Tambak Wedi dan Jipang? Apakah Sekar Mirah dapat bebas seperti yang terjadi seandainya Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, dan Swandaru tidak dapat bertahan melawan Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya?

Ketika teringat oleh Wuranta akan kata-katanya sendiri “Coba. Coba Kiai, sebutkan, siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah. Siapa?” tiba-tiba Wuranta menutup wajahnya dengan kedua telapak taagannya. Alangkah malunya.

Ki Tanu Metir masih berdiri tegak di hadapannya. Dibiarkannya Wuranta menyadari dirinya. Dibiarkannya anak itu dihanyutkan oleh perasaannya yang tiba-tiba saja seolah-olah terbuka.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Awan di langit yang kemerah-merahan mengalir ke Utara dihembus oleh angin lereng lembab. Matahari telah menjadi semakin rendah, dan sebentar lagi hilang di balik dedaunan di sebelah Barat. Sinarnya yang membara tersangkut di punggung gunung dan di ujung-ujung awan yang bertebaran dilangit.

Di halaman banjar padepokan Tambak Wedi dan sekitarnya para prajurit Pajang dan sebagian orang-orang Tambak Wedi sendiri yang masih hidup dan tidak berbahaya masih sibuk menyingkirkan mereka yang terluka dan mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan.

Ki Tanu Metir-lah yang kemudian memecahkan kesenyapan itu. “Angger Wuranta. Marilah kita pergi ke banjar.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 14 Oktober 2008 at 00:03  Comments (19)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

19 KomentarTinggalkan komentar

  1. Buku 25.doc sudah diluncurkan melalui yahoo utk di upload.

  2. Luar biasa… tak berapa lama lagi 100,000 hits

  3. Ki Gede DD,
    Saya sdh bisa menikmati ADBM versi djvu. Saya punya waktu luang & keikhlasan. What can I do for this community & what should I do first (maksudnya, biar gak tumpang-tindih dg yg lain gitu)?

    Monggo, saya sendika dawuh… atau silakan japri step by step yg musti saya lakukan. Jangan sampai pengin membantu tp malah ngrepoti, krn ketidaktahuan saya.

    Salam,

    D2: Kalau mau ikutan retype (edit) silakan booking halaman di HALAMAN RETYPE NEW. Tabel akan say update sesering mungkin. Tapi lebih baik juga lihat komentar teman2 lain yg booking sehingga tidak tumpang tindih. Kalau mau mulai, Jilid 19 hanya kurang halaman 57-61. Silakan diretype. Bahan dasar bisa ambil file word hasil konvert.

  4. Mas DD,
    saya tidak punya program OCR bwt convert djvu ke doc. Tapi kalau sudah ada file doc hasil convert itu, saya sedia ngedit s/d proofread. Di mana file doc itu bisa diambil?

    wukir

  5. oops, sudah ketemu, mas DD.
    wukir

  6. Mas DD
    halaman 57-61; 7-16 (jilid 19) udah aku kirim ke imel mas DD, maaf t’lambat
    Salam

  7. jilid 25 hal 37-42

    “Tidak Ki Sanak, tidak dengan tiba-tiba. Aku telah datang lebih dahulu dari pasukan Pajang. Aku datang bersama angger Wuranta ini,” jawab Ki Tanu Metir sambil menunjuk Wuranta yang masih berdiri tegak ditempatnya.
    Prajurit itu mengerutkan keningnya. Beberapa orang yang lain saling berpandangan. Akhirnya hampir serempak mereka memandang Wuranta.
    “Ya, angger Wuranta telah datang lebih dahulu bersama aku, angger Agung Sedayu, adik Ki Untara, dan angger Swandaru Geni, anak muda yang gemuk itu.”
    “Apakah yang telah kalian lakukan?”
    Ki Tanu Metir tersenyum, “Tidak terlampau penting Ki Sanak. Hanya sekedar melcpaskan anak-anak panah sendaren. Bukankah angger juga mendcngarnya? Pasukan berkudalah yang mendengarnya dengan jelas. Apakah angger dari pasukan berkuda?”
    Prajurit itu menggeleng. Tetapi meskipun mereka bukan anggauta pasukan bcrkuda, namun mereka tahu benar, bahwa tanda-tanda yang memungkinkan mereka memasuki padepokan ini adalah panah sendaren. Tetapi mereka tidak tahu. siapakah yang telah melepaskan panah itu.
    Dalam pada itu Ki Tanu Metir berkata pula,”Nah. itulah Ki Sanak. Kenapa kami berada dipadepokan ini.”
    Prajurit yang tertua di antara mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mempercayai keterangan Ki Tanu Metir, sebab beberapa orang kawan-kawannya telah melihat orang itu menghadap Untara. Karena itu mereka kini mengerti pula bahwa Wuranta memang pernah melakukan seperti apa yang dikatakannya. Tetapi meskipun demikian, sikap anak muda Jati Anom itu telah terlanjur membuatnya kurang senang. Namun prajurit yang tertua itu berusaha menahan dirinya. Sebab kedua orang itu adalah orang-orang kepercayaan Untara.
    Tetapi yang aneh bagi mereka, betapa Wuranta bcrani, mengatakan, bahwa Untaralah yang harus datang kepadanya.
    Sejenak para prajurit itu saling berdiam diri. Ki Tanu Metirpun berdiri saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengharap bahwa keadaan akan menjadi berangsur baik setelah mereka, para prajurit itu mengetahui dan mengenal Wuranta.
    Hati Ki Tanu Metirpun menjadi lega ketika prajurit yang tertua itu berkata,”Baiklah Kiai, apabila demikian, maka kami tidak. akan keberatan membiarkan kalian berada dipadepokan ini menurut kehendak kalian. Tetapi ingat, bahwa ada di antara kami yang belum mengenal kalian sama sekali. Karena itu, sebaiknya kalian tidak berada ditempat yang terlampau jauh dari banjar. Setiap saat kalian akan mendapat pertanyaan- pertanyaan yang serupa dan mungkin ada di antara kami, prajurit-prajurit Pajang yang sama sekaii tidak mengenal kalian, sehingga sikapnya pasti tidak akan menyenangkan, seperti sikap kami juga.”
    “Oh, tidak apa Ki Sanak. Kalian sedang melakukan kewajiban. Karena. itu maka sikap kalian dapat kita mengerti.”
    Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya,”Terima kasih atas pengertian kalian. Sekarang, kami akan meneruskan kcwajiban kami. Aku nasehatkan pcrgilah kebanjar, supaya kalian tidak menjumpai persoalan yang serupa.”
    “Terima kasih Ki Sanak,” jawab Ki Tanu Metir.
    Para prajurit itu pun kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir dan Wuranta berdua. Mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padepokan untuk melakukan pengawasan. Mungkin masih ada laskar Tambak Wedi yang tersembunyi, atau mungkin orang-orang Jipang.
    Sepcninggal para prajurit itu, maka bcrkatalah Ki Tanu Metir kepada Wuranta,”Marilah angger, kita pergi kebanjar padepokan ini. Disana Agung Sedayu, Swandaru dan Sekar Mirah sudah menunggumu.”
    Wuranta mengerutkan keningnya. Kemudian terdcngar suaranya bernada rendah,”Untuk apa mereka menunggu aku?”
    Ki Tanu Metir adalah seorang yang telah cukup umur. Pengenalannya atas perangai anak-anak muda cukup tajam. Ia mencoba untuk mengcrti apakah sebabnya maka tiba-tiba Wuranta bcrsikap aneh. Sejak didalam gubug Sekar Mirah, kemudian hilang tanpa pesan apapun.
    Namun Ki Tanu Metir tidak segera dapat mengerti dengan pasti, apakah sebabnya. Ia hanya dapat meraba-raba dan menerka. Tetapi dugaan Ki Tanu Metir atas persoalan yang sebenarnya masih sangat kabur.
    Sekali lagi Tanu Metir itu mengajak,”Angger Wuranta. Marilah kita pergi kebanjar. Kita harus nicnunjukkan diri kepada angger Untara. Agung Sedayu dan Swandaru sudah lama menunggu angger disana. Aku sudah mencari angger dimana-mana. Baru sekarang aku mcnemukan angger. Kemana angger selama ini dan kenapa angger pergi tanpa pesan apapun? Dada angger sedang terluka meskipun untuk sementara telah tidak mengalirkan darah lagi.”
    “Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam, “Tugasku yang berbahaya, yang harus aku pertaruhkan dengan nyawa telah selesai. Buat apa orang-orang Pajang dan Kiai memerlukan aku lagi?”
    “Ah, jangan begitu ngger. Semua orang menunggu angger.”

    Wuranta menggeleng,”Tidak. Mereka hanya memerlukan aku selagi mereka tidak dapat melakukan sesuatu pekerjaan. Aku bukan seorang prajurit dan bukan murid Kiai. Itulah sebabnya Kiai menunjuk aku untuk masuk kedalam api di Tambak Wedi ini. Seandainya aku tertangkap dan mati, maka baik Untara pun Kiai tidak kehilangan. Untara tidak kehilangan prajuritnya dan Kiai tidak kehilangan seorang murid. Bukankah begitu?”
    “Jangan beranggapan begitu ngger. Sama sekali terlintas didalam kepalaku perhitungan yang demikian. Secara kebetulan dan tiba-tiba aku menjumpai angger di Jati Anom. Aku telah mencoba memperhitungkan semua rencana sebaik-baiknya. Aku sama.sekali tidak berbuat dengan untung-untungan.”
    “Tetapi apa yang terjadi? Apakah Kiai mengetahui aku telah ditahan oleh Ki Tambak Wedi? Bahkan telah disediakan tiang gantungan diregol padepokan ini? Apa yang dapat Kiai lakukan dan apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang Pajang?”
    “Mereka telah datang ngger. Mereka telah masuk ke padepokan ini, Dan angger ternyata tidak naik ketiang gantungan itu.”
    “Tetapi sama sekali bukan karena orang-orang Pajang dan bukan pula karena Kiai dan murid-murid Kiai. Aku dapat melarikan diriku dari tempat aku ditawan karena kekuatanku sendiri, karena kesempatan yang aku dapatkan, bukan dari kalian. Nah, seandainya aku saat itu tidak dapat melarikan diri, seandainya aku mati maka tidak ada kemungkinan kalian dapat berbuat sesuatu.”
    “Angger Wuranta, sejak malam tadi aku sudah dipadepokan ini. Aku akan mengetahuinya seandainya hukuman mati itu dilaksanakan.”
    “Apa yang akan dapat Kiai lakukan seorang diri disini? Apa? Apakah Kiai juga akan membela kematianku dengan membunuh diri, melawan Ki Tambak Wedi? Kiai mampu mclawan seorang lawan seorang, tetapi melawan Ki Tambak Wedi dengan seluruh pengikutnya?”
    “Ternyata mereka berbentrokan sendiri ngger.”
    “Kcnapa mereka berbentrokan sendiri Kiai? Kenapa? Apakah hal itu dapat terjadi begitu saja tanpa sebab?”
    “Hal itu akan mungkin sekali ngger. Dua kekuatan yang dasarnya telah berbeda. Berbeda sumbernya dan berbeda tujuannya. Kalau di antara mereka terjadi persetujuan, maka itu hanyalah untuk sementara.”
    ”Omong kosong.”
    Ki Tanu Metir terperanjat mendengar jawaban Wuranta. Kini ia menjadi semakin tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah mengganggu anak muda itu? Dugaannya tentang sebab-sebab dari tindakan yang aneh itu justru menjadi kabur.
    “Jadi bagaimanakah ngger?” bertanya Ki Tanu Metir dengan dada berdebar-debar.
    “Pertempuran di antara mereka itu telah dibakar oleh suatu sebab. Sebab yang berhasil aku tumbuhkan. Seandainya Alap-alap Jalatunda tidak menjadi gila, apakah pertempuran itu dapat terjadi?”
    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Aku berhasil menumbuhkan pertentangan itu. Aku mengumpankan Alap-alap Jalatunda yang menjadi gila karena Sekar Mirah. Kegilaannya itulah yang telah membakar padepokan ini. Baru setelah padepokan ini hangus, pasukan Untara itu datang. Itupun karena aku pula. Karena aku datang ke Jati Anom. Memberitahukan keadaan padepokan ini. Kemudian membawa Aguag Sedayu dan Swanderu masuk. Nah, siapakah yang sebenarnya berhasil melakukan tugasnya? Aku, Untara, Agung Sedayu dan Swandaru atau Kiai? Sekarang, setelah semuanya selesai? Tak seorangpun lagi mcnghiraukan aku. Semuanya tidak memerlukan aku lagi. Mereka memamerkan kepandaian mereka bermain pedang. Kiai, aku memang bukan seorang prajurit. Aku memang tidak secakap Agung Sedayu dan tidak secepat para prajurit Pajang memainkan senjata. Tetapi aku juga mempunyai harga diri, Kiai. Setelah Agung Sedayu dapat bertemu dengan Sekar Mirah, maka keduanya sama sekali tidak mcnghiraukan aku lagi. Sekar Mirah yang sebelumnya hampir mati ketakutan itu, kemudian sama sekali iidak mau melihat aku, meskipun hanya dengan sebelah matanya. Mereka telah menemukan yang mereka cari. Kedatangan Agung Sedayu telah membuat gadis itu menjadi tamak dan besar kepala, seolah-olah semua orang lain didunia ini tidak berharga.”
    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia mencoba menangkap maksud yang sedalam-dalamnya dari kata-kata Wuranta. Dugaannya yang semula menjadi kabur kini menjadi semakin jelas kembali.
    “Coba, coba Kiai, sebutkan. Siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?”
    Ki Tanu Metir tidak segera menjawab.
    “Kini semua orang dipadepokan ini menghina Wuranta. Para prajurit itu, Sekar Mirah, Agung Sedayu dan semuanya.”
    Wuranta berhenti sejenak. Nafasnya menjadi terengah-engah dan wajahnya menjadi merah. Terasa betapa dadanya dihentak-hentak oleh dentang jantungnya yang semakin cepat.

    Ki Tanu Metir masih berdiam diri. Kini ia dapat meraba apakah yang telah mendorong Wuranta berbuat demikian. Hampir pasti. Meskipun demikian Ki Tanu Metir masih cukup berhati-hati untuk berbuat dan berkata sesuatu. Ternyata perasaan Wuranta terlampau peka, dan terlampau mudah tersentuh.
    Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Wuranta itu mengulangi pertanyaannya ”Siapa Kiai? Seharusnya Kiai dapat menyebutkan, siapa yang sebenarnya berhasil didalam tugasnya, sebab Kiai mengetahuinya sejak permulaan. Tidak seperti prajurit-prajurit Pajang itu. Begitu mereka datang, mereka menganggap dirinyalah yang paling bcrjasa. Seperti juga Agung Sedayu yang merasa, seolah-olah ialah yang telah membebaskan Sekar Mirah. Siapa? Coba scbutkan, apakah Kiai berani menyebutkannya karena Kiai guru Agung Sedayu barangkali?”
    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dengan nada yang berat tenang,”Ya, nggcr. Aku mengakui karena penglihatanku sendiri, bahwa angger Wurantalah yang telah membawa kita semuanya disini kepada kemenangan yang mutlak. Semua rencana dapat berlangsung sebaik-baiknya berkat keberanian dan ketrampilanmu ngger. Aku mengakui. Dan mudah-mudahan Untarapun akan mengakui.”
    “Tidak. Ia pasti tidak akan mengakui. la Senapati besar disini. Ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling penting. Dan ia merasa bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan kemenangan ini. Apalagi Agung Sedayu adalah adiknya. Pasti ia akan mcmbenarkan sikapnya dan menyalahkan aku.”
    “Kenapa? Kenapa Untara akan membenarkan sikap Agung Sedayu dan menyalahkan angger? Dalam hal apa? Apakah ada sesuatu persoalan di antara kalian berdua?”
    Pertanyaan itu mcngejutkan sekali bagi Wuranta. Sejenak ia terdiam.
    “Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir,”seandainya ada sesuatu persoalan yang mengecewakan angger Wuranta, katakanlah ngger. Aku adalah saksi yang akan mengatakan kepada siapapun juga, yang tidak mengakui angger sebagai seorang perintis yang telah membawa kita masuk kepadepokan ini. Apakah Agung Sedayu merasa dirinya yang paling berjasa dalam hal ini? Atau angger Untara sendiri? Katakanlah ngger. Aku adalah saksi yang masih hidup, bahwa pahlawan dari kemenangan ini adalah angger Wuranta. Semua orang harus mendengar dan mengakui bahwa karena jasa-jasa angger Wuranta, padepokan Tambak Wedi yang diperkuat oleh orang-orang Jipang dibawah pimpinan Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda ini dapat direbut dengan mudah. Sebab pasukan Pajang datang pada saat-saat orang-orang Tambak Wedi dan Jipang sudah tidak kuasa untuk melawannya, setelah mereka bcrtempur satu dengan yang lain. Bukankah begitu?”

  8. jilid 25 hal 43-46

    Ki Tanu Metir berhenti sesaat. Dipandanginya wajah Wuranta yang menjadi semakin lama semakin tegang. Mulutnya mengatub rapat-rapat dan giginya menggeretak.

    “Angger Wuranta, katakanlah ngger. Apakah Agung Sedayu telah berbuat suatu kesalahan? Meskipun ia muridku, tetapi apabila ia berbuat salah, maka aku wajib memberitahukan kesalahan ini kepadanya. Seandainya ia tidak menyadarinya, maka aku akan mencubitnya, supaya ia mengerti akan dirinya.”
    Kini Wurantalah yang terdiam.

    “Katakanlah ngger. Tidak ada orang lain yang dapat membanggakan dirinya disini, selain angger Wuranta. Tidak ada orang lain yang dapat merasa dirinya berjasa, selain angger Wuranta. Kalau ada orang lain, maka orang lain itu harus mendapat pengertian, bahwa pahlawan kemenangan ini adalah Wuranta, anak Jati Anom.”
    “Cukup, cukup,” Wuranta monotong kata-kata Ki Tanu Metir dan dengan terbata-bata ia meneruskan,”Bukan maksudku. Bukan maksudku.”
    Terdengar suara Ki Tanu Metir sareh,”Mungkin angger tidak bermaksud demikian, tetapi apakah kita semuanya akan mcngingkari kenyataan?”
    Wuranta mcnggigit bibirnya. Tiba-tiba dadanya serasa akan meledak mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Seperti terlempar kedalam suatu kesadaran tentang dirinya, Wuranta merasakan tusukan yang tajam dari kata-kata Ki Tanu Metir itu. Terasa seolah-olah selembar tabir yang hitam pekat didalam hatinya kini tersingkap. Dan dilihatnya dirinya sendiri dengan jelas. Dirinya sendiri yang kecil, yang kini berada di antara raksasa-raksasa yang mengerikan. Raksasa yang telah berhasil memecahkan pertahanan padepokan Tambak Wedi. Kembali terbayang dimatanya, betapa Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Tanu Metir bergulat melawan hantu lereng Merapi yang mengerikan, Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. Terbayang betapa Untara beserta pasukannya bertempur menghadapi sisa-sisa pasukan Tambak Wedi yang pada saat-saat terakhir masih sempat bergabung dengan sisa-sisa orang Jipang. Betapa Untara masih mengatur orang-orangnya, dan dirinya sendiri yang masih harus berhadapan melawan Sanakeling.
    Alangkah malunya. Alangkah malunya seandainya ia berkata tentang dirinya sendiri. Apakah semuanya ini dapat terjadi seandainya Untara tidak berhasil mengalahkan sisa-sisa pasukan Tambak Wedi dan Jipang? Apakah Sekar Mirah dapat bebas seperti yang terjadi seandainya Ki Tanu Metir, Agung Sedayu dan Swandaru tidak dapat bertahan melawan Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya?
    Ketika teringat oleh Wuranta akan kata-katanya sendiri, ”Coba. Coba Kiai, sebutkan, siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?” tiba-tiba Wuranta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Alangkah malunya.
    Ki Tanu Metir masih berdiri tegak dihadapannya. Dibiarkannya Wuranta menyadari dirinya. Dibiarkannya anak itu dihanyutkan oleh perasaannya yang tiba-tiba saja seolah-olah terbuka.
    Sejenak mereka saling berdiam diri. Awan dilangit yang kemerah-merahan mengalir ke utara dihembus oleh angin lereng yang lembab. Matahari telah menjadi semakin rendah, dan sebentar lagi hilang dibalik dedaunan disebelah barat. Sinarnya yang membara tersangkut dipunggung gunung dan diujung-ujung awan yang bertebaran dilangit.
    Dihalaman banjar padepokan Tambak Wedi dan sekitarnya, para prajurit Pajang dan sebagian orang-orang Tambak Wedi sendiri yang masih hidup dan tidak berbahaya masih sibuk menyingkirkan mereka yang terluka dan mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan.
    Ki Tanu Metirlah yang kemudian memecahkan kesenyapan itu,”Angger Wuranta. Marilah kita pergi ke banjar.”
    “Tidak. Tidak Kiai. Tidak ada gunanya.”
    “Tak akan ada orang yang tidak mcngakui hasil jerih payahmu ngger.”
    “Bukan itu. Bukan itu, Kiai. Justru aku menjadi malu sekali Ternyata Kiai telah menunjukkan kekeliruanku. Kiai menghadapkan sebuah cermin dimuka wajahku. Aku sangka bahwa aku adalah orang yang paling berjasa dipeperangan ini. Ternyata aku tidak lebih dari sehelai debu yang tidak berarti. Itu aku sadari sekarang Kiai.”
    “Jangan begitu ngger. Aku memang sudah menyangka bahwa kau sedang dihanyutkan oleh sebuah angan-angan yang aku masih belum tahu pasti. Tetapi seharusnya angger segera menemukan keseimbangan perasaan.”
    “Kiai, aku semula merasa sebagai orang yang paling berjasa, tetapi dilupakan karena pekerjaan telah selesai.”
    “Tidak ngger. Angger sama sekali tidak diabaikan.”
    “Ah, jangan menyenangkan hatiku Kiai,” sahut Wuranto, ”sebenarnyalah aku diabaikan.”
    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. la menjadi heran mendengar jawaban Wuranta yang menurut perasaannya agak bersimpang siur.
    “Bagaimanakah sebenarnya menurut tanggapanmu ngger. Aku menjadi agak bingung karenanya.”
    “Kiai, semula aku merasa sakit hati, bahwa aku diabaikan orang. Padahal aku merasa bahwa akulah yang paling berjasa diantara semua orang disini. Tetapi tenyata Kiai telah membuka hatiku. Aku sama sekali bukan seorang pahlawan. Karena itu, tidak sewajarnyalah bahwa aku menjadi sakit hati. Aku memang tidak berarti apa-apa disini. Aku hanya seorang pelaku yang tidak mempunyai bagian sama sekali dalam kemenangan ini. Bukankan begitu Kiai?”
    Ki Tanu Metirlah kini yang meraba dadanya. Ternyata perasaan Wuranta, yang selama ini mencoba menutup-nutupi kekurangannya dan kekecewaan dengan tingkah laku yang aneh-aneh itu terbanting terlampau dalam. Kini tampaklah peraasaan yang sebenarnya bergelut didalam dada anak itu. Rendah diri, disamping segala macam kekecewaan. Apalagi ketika ia melihat kenyataan bahwa Agung Sedayu yang dikenalnya sebagai seorang penakut dan pengecut dimasa kanak-kanaknya, kini ternyata terlampau jauh di atas jangkauannya. Maka hatinya menjadi terpecah-pecah tidak keruan. Agung Sedayu bagi Wuranta, menjadi sebab dari segala macam kepahitan yang kini dialaminya.
    K Tanu Metir kini sudah hampir pasti, bahwa soalnya berkisar disekitar Sekar Mirah.
    Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang perempuan memang kadang-kadang dapat menyebabkan lautan menjadi kering, dan gunung menjadi runtuh. Menurut dongeng, Candi Prambanan tercipta dalam satu malam karena seorang gadis, Rara Jonggrang. Bendungan yang melintasi lautan, mencapai Alengka, dibuat karena seorang wanita. Dewi Sinta. Keris mPu Gandring yang bertuah, yang kemudian menghisap darah beberapa orang, bahkan pembuatnya dan kemudian pemesannya sendiri, adalah karena seorang wanita, Ken Dedes yang ingin direnggutkan dari suaminya, Tunggul Ametung, oleh Ken Arok yang memesan keris itu kepada mPu Gandring.

    “O, tidak terlampau jauh,” berkata Ki Tanu Metir didalam hatinya, “Alap-alap Jalatunda mati karena Sekar Mirah, dan bahkan orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang bertempur satu sama lain karena Sekar Mirah ini pula. Dan kini apakah gadis itu masih akan menulis ceritera baru tentang dirinya dan tentang anak-anak muda yang mengenalnya.”
    Ketika cahaya yang kemerah-merahan dilangit menjadi semakin pudar, maka Ki Tanu Metirpun berkata, ”Marilah ngger. Jangan terlampau membiarkan diri hanyut dalam arus perasaan. Seharusnya angger mencoba mempergunakan pikiran untuk membuat keseimbangan. Nalar.”
    Wuranta menggeleng, “Sudahlah Kiai. Kiai tidak usah memikirkan aku. Aku akan kembali ke Jati Anom. Aku sudah puas dapat melakukan petunjuk-petunjuk Kiai. Aku sudah puas dengan keadaan sekarang ini.”
    Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Wuranta dengan tajamnya sehingga anak muda itu tiba-tiba melontarkan pandangan matanya jauh-jauh kepunggung Gunung Merapi yang masih diwarnai oleh sisa-sisa sinar Matahari yang kemerah-merahan.
    “Ikutlah aku. Angger harus berjiwa besar mcnghadapi setiap persoalan. Angger bukan anak kecil lagi.”
    Wuranta terdiam.
    “Angger adalah satu-satunya dari antara anak-anak muda Jati Anom yang telah berhasil mendahului pasukan Pajang masuk kedalam sarang yang berbahaya ini. Tengadahkan kepalamu. Pandanglah seluruh persoalan dengan dada terbuka. Sebagian dari tanggapan angger tentang diri angger benar. Angger adalah orang yang telah ikut berjasa dalam hal ini.”
    Tetapi Ki Tanu Metir terpaksa menahan hatinya ketika ia melihat Wuranta menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang dalam anak muda itu berkata, ”Terima kasih Kiai. Aku tidak usah pergi ke banjar. Pergilah Kiai sendiri menemui murid-murid Kiai dan kakang Untara. Aku akan kembali ke Jati Anom sekarang.”
    “Ah,” Ki Tanu Metir bcrdesah, “lihat, matahari telah turun kebalik Gunung. Sebentar lagi hari akan gelap.”
    “Aku kemarin mondar-mandir antara Jati Anom dan Tambak Wedi ini didalam gelap juga.”
    “Tetapi justru kali ini aku menjadi cemas, karena Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya terlepas dari tangan kita.”
    “Kiai cemas seandainya aku berjumpa dengan mereka?”
    “Ya ngger.”

  9. Wuranta……sedang bergelut dengan hati nuraninya.
    (maaf bukan Hati Nurani Rakyat lho…..!)

    • asmara membara…..membakar hati sang perJAKA Jati Anom,

      akankah cinta membuta mengalahkan hati nurani-nya….!!??
      nantikan kelanjutan digandok sebelah,

      • kelanjutan nopo to ki

        • nopo wae kerso…… 😀

          • nopo wae kerto eh karto ding 😉

            • 😀

              • eh kartu ding 😛

                • kArtu
                  sms…
                  😀

                  • sms jodo =D

                    • …bujaaann…!


                    • b
                      u
                      l
                      a
                      a
                      a
                      n
                      n

                      !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: