Buku 25

PENGANTAR:

Hasil konversi image ke teks Jilid 21-23 sudah saya tayangkan. Mudah2an bisa mengobati kawan2 yg tidak bisa menikmati djvu. Editing paling mendasar sudah saya lakukan (merubah dj-j dan sejenisnya). Selanjutnya silahkan dikerjain rame-rame. Karena proses retypingnya sudah cukup terbantu, mohon satu orang bisa booking 20 halaman sehingga untuk satu jilid cukup 3 orang. Syukur kalau ada yang mau satu jilid sekaligus.

O ya, oleh karena itu bisa dibayangkan bahwa saya tidak akan mampu melakukan final proof secepat penayangan djvu. Jadi, tolong deh (please) yang edit-proof agar mengerjakannya secara penuh tanggung jawab dan tidak asal-asalan. Saya juga senang kalau ada yang bisa ikut melakukan final proof. Syukur kalau ybs ada YM sehingga bisa chat untuk mendiskusikan hal2 teknis proofing. Mas Eddy, saya kira sudah siap. Bisa kan, Mas Eddy?

Yang lain ada yang punya waktu luang dan keikhlasan?

Semoga menjadi lebih baik.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 14 Oktober 2008 at 00:03  Comments (19)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

19 KomentarTinggalkan komentar

  1. Buku 25.doc sudah diluncurkan melalui yahoo utk di upload.

  2. Luar biasa… tak berapa lama lagi 100,000 hits

  3. Ki Gede DD,
    Saya sdh bisa menikmati ADBM versi djvu. Saya punya waktu luang & keikhlasan. What can I do for this community & what should I do first (maksudnya, biar gak tumpang-tindih dg yg lain gitu)?

    Monggo, saya sendika dawuh… atau silakan japri step by step yg musti saya lakukan. Jangan sampai pengin membantu tp malah ngrepoti, krn ketidaktahuan saya.

    Salam,

    D2: Kalau mau ikutan retype (edit) silakan booking halaman di HALAMAN RETYPE NEW. Tabel akan say update sesering mungkin. Tapi lebih baik juga lihat komentar teman2 lain yg booking sehingga tidak tumpang tindih. Kalau mau mulai, Jilid 19 hanya kurang halaman 57-61. Silakan diretype. Bahan dasar bisa ambil file word hasil konvert.

  4. Mas DD,
    saya tidak punya program OCR bwt convert djvu ke doc. Tapi kalau sudah ada file doc hasil convert itu, saya sedia ngedit s/d proofread. Di mana file doc itu bisa diambil?

    wukir

  5. oops, sudah ketemu, mas DD.
    wukir

  6. Mas DD
    halaman 57-61; 7-16 (jilid 19) udah aku kirim ke imel mas DD, maaf t’lambat
    Salam

  7. jilid 25 hal 37-42

    “Tidak Ki Sanak, tidak dengan tiba-tiba. Aku telah datang lebih dahulu dari pasukan Pajang. Aku datang bersama angger Wuranta ini,” jawab Ki Tanu Metir sambil menunjuk Wuranta yang masih berdiri tegak ditempatnya.
    Prajurit itu mengerutkan keningnya. Beberapa orang yang lain saling berpandangan. Akhirnya hampir serempak mereka memandang Wuranta.
    “Ya, angger Wuranta telah datang lebih dahulu bersama aku, angger Agung Sedayu, adik Ki Untara, dan angger Swandaru Geni, anak muda yang gemuk itu.”
    “Apakah yang telah kalian lakukan?”
    Ki Tanu Metir tersenyum, “Tidak terlampau penting Ki Sanak. Hanya sekedar melcpaskan anak-anak panah sendaren. Bukankah angger juga mendcngarnya? Pasukan berkudalah yang mendengarnya dengan jelas. Apakah angger dari pasukan berkuda?”
    Prajurit itu menggeleng. Tetapi meskipun mereka bukan anggauta pasukan bcrkuda, namun mereka tahu benar, bahwa tanda-tanda yang memungkinkan mereka memasuki padepokan ini adalah panah sendaren. Tetapi mereka tidak tahu. siapakah yang telah melepaskan panah itu.
    Dalam pada itu Ki Tanu Metir berkata pula,”Nah. itulah Ki Sanak. Kenapa kami berada dipadepokan ini.”
    Prajurit yang tertua di antara mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mempercayai keterangan Ki Tanu Metir, sebab beberapa orang kawan-kawannya telah melihat orang itu menghadap Untara. Karena itu mereka kini mengerti pula bahwa Wuranta memang pernah melakukan seperti apa yang dikatakannya. Tetapi meskipun demikian, sikap anak muda Jati Anom itu telah terlanjur membuatnya kurang senang. Namun prajurit yang tertua itu berusaha menahan dirinya. Sebab kedua orang itu adalah orang-orang kepercayaan Untara.
    Tetapi yang aneh bagi mereka, betapa Wuranta bcrani, mengatakan, bahwa Untaralah yang harus datang kepadanya.
    Sejenak para prajurit itu saling berdiam diri. Ki Tanu Metirpun berdiri saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengharap bahwa keadaan akan menjadi berangsur baik setelah mereka, para prajurit itu mengetahui dan mengenal Wuranta.
    Hati Ki Tanu Metirpun menjadi lega ketika prajurit yang tertua itu berkata,”Baiklah Kiai, apabila demikian, maka kami tidak. akan keberatan membiarkan kalian berada dipadepokan ini menurut kehendak kalian. Tetapi ingat, bahwa ada di antara kami yang belum mengenal kalian sama sekali. Karena itu, sebaiknya kalian tidak berada ditempat yang terlampau jauh dari banjar. Setiap saat kalian akan mendapat pertanyaan- pertanyaan yang serupa dan mungkin ada di antara kami, prajurit-prajurit Pajang yang sama sekaii tidak mengenal kalian, sehingga sikapnya pasti tidak akan menyenangkan, seperti sikap kami juga.”
    “Oh, tidak apa Ki Sanak. Kalian sedang melakukan kewajiban. Karena. itu maka sikap kalian dapat kita mengerti.”
    Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya,”Terima kasih atas pengertian kalian. Sekarang, kami akan meneruskan kcwajiban kami. Aku nasehatkan pcrgilah kebanjar, supaya kalian tidak menjumpai persoalan yang serupa.”
    “Terima kasih Ki Sanak,” jawab Ki Tanu Metir.
    Para prajurit itu pun kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir dan Wuranta berdua. Mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padepokan untuk melakukan pengawasan. Mungkin masih ada laskar Tambak Wedi yang tersembunyi, atau mungkin orang-orang Jipang.
    Sepcninggal para prajurit itu, maka bcrkatalah Ki Tanu Metir kepada Wuranta,”Marilah angger, kita pergi kebanjar padepokan ini. Disana Agung Sedayu, Swandaru dan Sekar Mirah sudah menunggumu.”
    Wuranta mengerutkan keningnya. Kemudian terdcngar suaranya bernada rendah,”Untuk apa mereka menunggu aku?”
    Ki Tanu Metir adalah seorang yang telah cukup umur. Pengenalannya atas perangai anak-anak muda cukup tajam. Ia mencoba untuk mengcrti apakah sebabnya maka tiba-tiba Wuranta bcrsikap aneh. Sejak didalam gubug Sekar Mirah, kemudian hilang tanpa pesan apapun.
    Namun Ki Tanu Metir tidak segera dapat mengerti dengan pasti, apakah sebabnya. Ia hanya dapat meraba-raba dan menerka. Tetapi dugaan Ki Tanu Metir atas persoalan yang sebenarnya masih sangat kabur.
    Sekali lagi Tanu Metir itu mengajak,”Angger Wuranta. Marilah kita pergi kebanjar. Kita harus nicnunjukkan diri kepada angger Untara. Agung Sedayu dan Swandaru sudah lama menunggu angger disana. Aku sudah mencari angger dimana-mana. Baru sekarang aku mcnemukan angger. Kemana angger selama ini dan kenapa angger pergi tanpa pesan apapun? Dada angger sedang terluka meskipun untuk sementara telah tidak mengalirkan darah lagi.”
    “Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam, “Tugasku yang berbahaya, yang harus aku pertaruhkan dengan nyawa telah selesai. Buat apa orang-orang Pajang dan Kiai memerlukan aku lagi?”
    “Ah, jangan begitu ngger. Semua orang menunggu angger.”

    Wuranta menggeleng,”Tidak. Mereka hanya memerlukan aku selagi mereka tidak dapat melakukan sesuatu pekerjaan. Aku bukan seorang prajurit dan bukan murid Kiai. Itulah sebabnya Kiai menunjuk aku untuk masuk kedalam api di Tambak Wedi ini. Seandainya aku tertangkap dan mati, maka baik Untara pun Kiai tidak kehilangan. Untara tidak kehilangan prajuritnya dan Kiai tidak kehilangan seorang murid. Bukankah begitu?”
    “Jangan beranggapan begitu ngger. Sama sekali terlintas didalam kepalaku perhitungan yang demikian. Secara kebetulan dan tiba-tiba aku menjumpai angger di Jati Anom. Aku telah mencoba memperhitungkan semua rencana sebaik-baiknya. Aku sama.sekali tidak berbuat dengan untung-untungan.”
    “Tetapi apa yang terjadi? Apakah Kiai mengetahui aku telah ditahan oleh Ki Tambak Wedi? Bahkan telah disediakan tiang gantungan diregol padepokan ini? Apa yang dapat Kiai lakukan dan apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang Pajang?”
    “Mereka telah datang ngger. Mereka telah masuk ke padepokan ini, Dan angger ternyata tidak naik ketiang gantungan itu.”
    “Tetapi sama sekali bukan karena orang-orang Pajang dan bukan pula karena Kiai dan murid-murid Kiai. Aku dapat melarikan diriku dari tempat aku ditawan karena kekuatanku sendiri, karena kesempatan yang aku dapatkan, bukan dari kalian. Nah, seandainya aku saat itu tidak dapat melarikan diri, seandainya aku mati maka tidak ada kemungkinan kalian dapat berbuat sesuatu.”
    “Angger Wuranta, sejak malam tadi aku sudah dipadepokan ini. Aku akan mengetahuinya seandainya hukuman mati itu dilaksanakan.”
    “Apa yang akan dapat Kiai lakukan seorang diri disini? Apa? Apakah Kiai juga akan membela kematianku dengan membunuh diri, melawan Ki Tambak Wedi? Kiai mampu mclawan seorang lawan seorang, tetapi melawan Ki Tambak Wedi dengan seluruh pengikutnya?”
    “Ternyata mereka berbentrokan sendiri ngger.”
    “Kcnapa mereka berbentrokan sendiri Kiai? Kenapa? Apakah hal itu dapat terjadi begitu saja tanpa sebab?”
    “Hal itu akan mungkin sekali ngger. Dua kekuatan yang dasarnya telah berbeda. Berbeda sumbernya dan berbeda tujuannya. Kalau di antara mereka terjadi persetujuan, maka itu hanyalah untuk sementara.”
    ”Omong kosong.”
    Ki Tanu Metir terperanjat mendengar jawaban Wuranta. Kini ia menjadi semakin tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah mengganggu anak muda itu? Dugaannya tentang sebab-sebab dari tindakan yang aneh itu justru menjadi kabur.
    “Jadi bagaimanakah ngger?” bertanya Ki Tanu Metir dengan dada berdebar-debar.
    “Pertempuran di antara mereka itu telah dibakar oleh suatu sebab. Sebab yang berhasil aku tumbuhkan. Seandainya Alap-alap Jalatunda tidak menjadi gila, apakah pertempuran itu dapat terjadi?”
    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Aku berhasil menumbuhkan pertentangan itu. Aku mengumpankan Alap-alap Jalatunda yang menjadi gila karena Sekar Mirah. Kegilaannya itulah yang telah membakar padepokan ini. Baru setelah padepokan ini hangus, pasukan Untara itu datang. Itupun karena aku pula. Karena aku datang ke Jati Anom. Memberitahukan keadaan padepokan ini. Kemudian membawa Aguag Sedayu dan Swanderu masuk. Nah, siapakah yang sebenarnya berhasil melakukan tugasnya? Aku, Untara, Agung Sedayu dan Swandaru atau Kiai? Sekarang, setelah semuanya selesai? Tak seorangpun lagi mcnghiraukan aku. Semuanya tidak memerlukan aku lagi. Mereka memamerkan kepandaian mereka bermain pedang. Kiai, aku memang bukan seorang prajurit. Aku memang tidak secakap Agung Sedayu dan tidak secepat para prajurit Pajang memainkan senjata. Tetapi aku juga mempunyai harga diri, Kiai. Setelah Agung Sedayu dapat bertemu dengan Sekar Mirah, maka keduanya sama sekali tidak mcnghiraukan aku lagi. Sekar Mirah yang sebelumnya hampir mati ketakutan itu, kemudian sama sekali iidak mau melihat aku, meskipun hanya dengan sebelah matanya. Mereka telah menemukan yang mereka cari. Kedatangan Agung Sedayu telah membuat gadis itu menjadi tamak dan besar kepala, seolah-olah semua orang lain didunia ini tidak berharga.”
    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia mencoba menangkap maksud yang sedalam-dalamnya dari kata-kata Wuranta. Dugaannya yang semula menjadi kabur kini menjadi semakin jelas kembali.
    “Coba, coba Kiai, sebutkan. Siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?”
    Ki Tanu Metir tidak segera menjawab.
    “Kini semua orang dipadepokan ini menghina Wuranta. Para prajurit itu, Sekar Mirah, Agung Sedayu dan semuanya.”
    Wuranta berhenti sejenak. Nafasnya menjadi terengah-engah dan wajahnya menjadi merah. Terasa betapa dadanya dihentak-hentak oleh dentang jantungnya yang semakin cepat.

    Ki Tanu Metir masih berdiam diri. Kini ia dapat meraba apakah yang telah mendorong Wuranta berbuat demikian. Hampir pasti. Meskipun demikian Ki Tanu Metir masih cukup berhati-hati untuk berbuat dan berkata sesuatu. Ternyata perasaan Wuranta terlampau peka, dan terlampau mudah tersentuh.
    Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Wuranta itu mengulangi pertanyaannya ”Siapa Kiai? Seharusnya Kiai dapat menyebutkan, siapa yang sebenarnya berhasil didalam tugasnya, sebab Kiai mengetahuinya sejak permulaan. Tidak seperti prajurit-prajurit Pajang itu. Begitu mereka datang, mereka menganggap dirinyalah yang paling bcrjasa. Seperti juga Agung Sedayu yang merasa, seolah-olah ialah yang telah membebaskan Sekar Mirah. Siapa? Coba scbutkan, apakah Kiai berani menyebutkannya karena Kiai guru Agung Sedayu barangkali?”
    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dengan nada yang berat tenang,”Ya, nggcr. Aku mengakui karena penglihatanku sendiri, bahwa angger Wurantalah yang telah membawa kita semuanya disini kepada kemenangan yang mutlak. Semua rencana dapat berlangsung sebaik-baiknya berkat keberanian dan ketrampilanmu ngger. Aku mengakui. Dan mudah-mudahan Untarapun akan mengakui.”
    “Tidak. Ia pasti tidak akan mengakui. la Senapati besar disini. Ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling penting. Dan ia merasa bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan kemenangan ini. Apalagi Agung Sedayu adalah adiknya. Pasti ia akan mcmbenarkan sikapnya dan menyalahkan aku.”
    “Kenapa? Kenapa Untara akan membenarkan sikap Agung Sedayu dan menyalahkan angger? Dalam hal apa? Apakah ada sesuatu persoalan di antara kalian berdua?”
    Pertanyaan itu mcngejutkan sekali bagi Wuranta. Sejenak ia terdiam.
    “Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir,”seandainya ada sesuatu persoalan yang mengecewakan angger Wuranta, katakanlah ngger. Aku adalah saksi yang akan mengatakan kepada siapapun juga, yang tidak mengakui angger sebagai seorang perintis yang telah membawa kita masuk kepadepokan ini. Apakah Agung Sedayu merasa dirinya yang paling berjasa dalam hal ini? Atau angger Untara sendiri? Katakanlah ngger. Aku adalah saksi yang masih hidup, bahwa pahlawan dari kemenangan ini adalah angger Wuranta. Semua orang harus mendengar dan mengakui bahwa karena jasa-jasa angger Wuranta, padepokan Tambak Wedi yang diperkuat oleh orang-orang Jipang dibawah pimpinan Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda ini dapat direbut dengan mudah. Sebab pasukan Pajang datang pada saat-saat orang-orang Tambak Wedi dan Jipang sudah tidak kuasa untuk melawannya, setelah mereka bcrtempur satu dengan yang lain. Bukankah begitu?”

  8. jilid 25 hal 43-46

    Ki Tanu Metir berhenti sesaat. Dipandanginya wajah Wuranta yang menjadi semakin lama semakin tegang. Mulutnya mengatub rapat-rapat dan giginya menggeretak.

    “Angger Wuranta, katakanlah ngger. Apakah Agung Sedayu telah berbuat suatu kesalahan? Meskipun ia muridku, tetapi apabila ia berbuat salah, maka aku wajib memberitahukan kesalahan ini kepadanya. Seandainya ia tidak menyadarinya, maka aku akan mencubitnya, supaya ia mengerti akan dirinya.”
    Kini Wurantalah yang terdiam.

    “Katakanlah ngger. Tidak ada orang lain yang dapat membanggakan dirinya disini, selain angger Wuranta. Tidak ada orang lain yang dapat merasa dirinya berjasa, selain angger Wuranta. Kalau ada orang lain, maka orang lain itu harus mendapat pengertian, bahwa pahlawan kemenangan ini adalah Wuranta, anak Jati Anom.”
    “Cukup, cukup,” Wuranta monotong kata-kata Ki Tanu Metir dan dengan terbata-bata ia meneruskan,”Bukan maksudku. Bukan maksudku.”
    Terdengar suara Ki Tanu Metir sareh,”Mungkin angger tidak bermaksud demikian, tetapi apakah kita semuanya akan mcngingkari kenyataan?”
    Wuranta mcnggigit bibirnya. Tiba-tiba dadanya serasa akan meledak mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Seperti terlempar kedalam suatu kesadaran tentang dirinya, Wuranta merasakan tusukan yang tajam dari kata-kata Ki Tanu Metir itu. Terasa seolah-olah selembar tabir yang hitam pekat didalam hatinya kini tersingkap. Dan dilihatnya dirinya sendiri dengan jelas. Dirinya sendiri yang kecil, yang kini berada di antara raksasa-raksasa yang mengerikan. Raksasa yang telah berhasil memecahkan pertahanan padepokan Tambak Wedi. Kembali terbayang dimatanya, betapa Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Tanu Metir bergulat melawan hantu lereng Merapi yang mengerikan, Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. Terbayang betapa Untara beserta pasukannya bertempur menghadapi sisa-sisa pasukan Tambak Wedi yang pada saat-saat terakhir masih sempat bergabung dengan sisa-sisa orang Jipang. Betapa Untara masih mengatur orang-orangnya, dan dirinya sendiri yang masih harus berhadapan melawan Sanakeling.
    Alangkah malunya. Alangkah malunya seandainya ia berkata tentang dirinya sendiri. Apakah semuanya ini dapat terjadi seandainya Untara tidak berhasil mengalahkan sisa-sisa pasukan Tambak Wedi dan Jipang? Apakah Sekar Mirah dapat bebas seperti yang terjadi seandainya Ki Tanu Metir, Agung Sedayu dan Swandaru tidak dapat bertahan melawan Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya?
    Ketika teringat oleh Wuranta akan kata-katanya sendiri, ”Coba. Coba Kiai, sebutkan, siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?” tiba-tiba Wuranta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Alangkah malunya.
    Ki Tanu Metir masih berdiri tegak dihadapannya. Dibiarkannya Wuranta menyadari dirinya. Dibiarkannya anak itu dihanyutkan oleh perasaannya yang tiba-tiba saja seolah-olah terbuka.
    Sejenak mereka saling berdiam diri. Awan dilangit yang kemerah-merahan mengalir ke utara dihembus oleh angin lereng yang lembab. Matahari telah menjadi semakin rendah, dan sebentar lagi hilang dibalik dedaunan disebelah barat. Sinarnya yang membara tersangkut dipunggung gunung dan diujung-ujung awan yang bertebaran dilangit.
    Dihalaman banjar padepokan Tambak Wedi dan sekitarnya, para prajurit Pajang dan sebagian orang-orang Tambak Wedi sendiri yang masih hidup dan tidak berbahaya masih sibuk menyingkirkan mereka yang terluka dan mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan.
    Ki Tanu Metirlah yang kemudian memecahkan kesenyapan itu,”Angger Wuranta. Marilah kita pergi ke banjar.”
    “Tidak. Tidak Kiai. Tidak ada gunanya.”
    “Tak akan ada orang yang tidak mcngakui hasil jerih payahmu ngger.”
    “Bukan itu. Bukan itu, Kiai. Justru aku menjadi malu sekali Ternyata Kiai telah menunjukkan kekeliruanku. Kiai menghadapkan sebuah cermin dimuka wajahku. Aku sangka bahwa aku adalah orang yang paling berjasa dipeperangan ini. Ternyata aku tidak lebih dari sehelai debu yang tidak berarti. Itu aku sadari sekarang Kiai.”
    “Jangan begitu ngger. Aku memang sudah menyangka bahwa kau sedang dihanyutkan oleh sebuah angan-angan yang aku masih belum tahu pasti. Tetapi seharusnya angger segera menemukan keseimbangan perasaan.”
    “Kiai, aku semula merasa sebagai orang yang paling berjasa, tetapi dilupakan karena pekerjaan telah selesai.”
    “Tidak ngger. Angger sama sekali tidak diabaikan.”
    “Ah, jangan menyenangkan hatiku Kiai,” sahut Wuranto, ”sebenarnyalah aku diabaikan.”
    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. la menjadi heran mendengar jawaban Wuranta yang menurut perasaannya agak bersimpang siur.
    “Bagaimanakah sebenarnya menurut tanggapanmu ngger. Aku menjadi agak bingung karenanya.”
    “Kiai, semula aku merasa sakit hati, bahwa aku diabaikan orang. Padahal aku merasa bahwa akulah yang paling berjasa diantara semua orang disini. Tetapi tenyata Kiai telah membuka hatiku. Aku sama sekali bukan seorang pahlawan. Karena itu, tidak sewajarnyalah bahwa aku menjadi sakit hati. Aku memang tidak berarti apa-apa disini. Aku hanya seorang pelaku yang tidak mempunyai bagian sama sekali dalam kemenangan ini. Bukankan begitu Kiai?”
    Ki Tanu Metirlah kini yang meraba dadanya. Ternyata perasaan Wuranta, yang selama ini mencoba menutup-nutupi kekurangannya dan kekecewaan dengan tingkah laku yang aneh-aneh itu terbanting terlampau dalam. Kini tampaklah peraasaan yang sebenarnya bergelut didalam dada anak itu. Rendah diri, disamping segala macam kekecewaan. Apalagi ketika ia melihat kenyataan bahwa Agung Sedayu yang dikenalnya sebagai seorang penakut dan pengecut dimasa kanak-kanaknya, kini ternyata terlampau jauh di atas jangkauannya. Maka hatinya menjadi terpecah-pecah tidak keruan. Agung Sedayu bagi Wuranta, menjadi sebab dari segala macam kepahitan yang kini dialaminya.
    K Tanu Metir kini sudah hampir pasti, bahwa soalnya berkisar disekitar Sekar Mirah.
    Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang perempuan memang kadang-kadang dapat menyebabkan lautan menjadi kering, dan gunung menjadi runtuh. Menurut dongeng, Candi Prambanan tercipta dalam satu malam karena seorang gadis, Rara Jonggrang. Bendungan yang melintasi lautan, mencapai Alengka, dibuat karena seorang wanita. Dewi Sinta. Keris mPu Gandring yang bertuah, yang kemudian menghisap darah beberapa orang, bahkan pembuatnya dan kemudian pemesannya sendiri, adalah karena seorang wanita, Ken Dedes yang ingin direnggutkan dari suaminya, Tunggul Ametung, oleh Ken Arok yang memesan keris itu kepada mPu Gandring.

    “O, tidak terlampau jauh,” berkata Ki Tanu Metir didalam hatinya, “Alap-alap Jalatunda mati karena Sekar Mirah, dan bahkan orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang bertempur satu sama lain karena Sekar Mirah ini pula. Dan kini apakah gadis itu masih akan menulis ceritera baru tentang dirinya dan tentang anak-anak muda yang mengenalnya.”
    Ketika cahaya yang kemerah-merahan dilangit menjadi semakin pudar, maka Ki Tanu Metirpun berkata, ”Marilah ngger. Jangan terlampau membiarkan diri hanyut dalam arus perasaan. Seharusnya angger mencoba mempergunakan pikiran untuk membuat keseimbangan. Nalar.”
    Wuranta menggeleng, “Sudahlah Kiai. Kiai tidak usah memikirkan aku. Aku akan kembali ke Jati Anom. Aku sudah puas dapat melakukan petunjuk-petunjuk Kiai. Aku sudah puas dengan keadaan sekarang ini.”
    Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Wuranta dengan tajamnya sehingga anak muda itu tiba-tiba melontarkan pandangan matanya jauh-jauh kepunggung Gunung Merapi yang masih diwarnai oleh sisa-sisa sinar Matahari yang kemerah-merahan.
    “Ikutlah aku. Angger harus berjiwa besar mcnghadapi setiap persoalan. Angger bukan anak kecil lagi.”
    Wuranta terdiam.
    “Angger adalah satu-satunya dari antara anak-anak muda Jati Anom yang telah berhasil mendahului pasukan Pajang masuk kedalam sarang yang berbahaya ini. Tengadahkan kepalamu. Pandanglah seluruh persoalan dengan dada terbuka. Sebagian dari tanggapan angger tentang diri angger benar. Angger adalah orang yang telah ikut berjasa dalam hal ini.”
    Tetapi Ki Tanu Metir terpaksa menahan hatinya ketika ia melihat Wuranta menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang dalam anak muda itu berkata, ”Terima kasih Kiai. Aku tidak usah pergi ke banjar. Pergilah Kiai sendiri menemui murid-murid Kiai dan kakang Untara. Aku akan kembali ke Jati Anom sekarang.”
    “Ah,” Ki Tanu Metir bcrdesah, “lihat, matahari telah turun kebalik Gunung. Sebentar lagi hari akan gelap.”
    “Aku kemarin mondar-mandir antara Jati Anom dan Tambak Wedi ini didalam gelap juga.”
    “Tetapi justru kali ini aku menjadi cemas, karena Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya terlepas dari tangan kita.”
    “Kiai cemas seandainya aku berjumpa dengan mereka?”
    “Ya ngger.”

  9. Wuranta……sedang bergelut dengan hati nuraninya.
    (maaf bukan Hati Nurani Rakyat lho…..!)

    • asmara membara…..membakar hati sang perJAKA Jati Anom,

      akankah cinta membuta mengalahkan hati nurani-nya….!!??
      nantikan kelanjutan digandok sebelah,

      • kelanjutan nopo to ki

        • nopo wae kerso…… 😀

          • nopo wae kerto eh karto ding 😉

            • 😀

              • eh kartu ding 😛

                • kArtu
                  sms…
                  😀

                  • sms jodo =D

                    • …bujaaann…!


                    • b
                      u
                      l
                      a
                      a
                      a
                      n
                      n

                      !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: