Buku 23

Perkelahian itu sendiri kini benar-benar telah mencapai puncaknya pula. Alap-alap Jalatunda telah memeras segenap kemampuan dan tenaga yang ada padanya. Sedang pada saat itu Sidanti jusrtru telah menemukan suatu kepastian, bahwa ia akan segera memenangkan perang tanding itu. Terasa bahwa Alap-alap Jalatunda telah menumpahkan segenap kemungkinan yang ada padanya. Dan karena itu maka ia telah kehilangan perhitungan tentang waktu. Tentang daya tahannya menghadapi waktu yang sengaja diperpanjang oleh Sidanti supaya murid Tambak Wedi itu mendapat suatu keyakinan bahwa saatnya telah datang untuk mengakhiri perkelahian tanpa kesulitan. Dan waktu itu kini telah menjadi semakin dekat.

Dalam ketegangan itu Ki Tanu Metir berbisik, “Angger, lihatlah, langit telah memerah di Timur.”

“Hampir fajar, Kiai,” desis Agung Sedayu.

“Apakah kira-kira Angger Untara telah datang?”

“Aku rasa sudah, Kiai. Kedatangan Kakang Untara tidak akan terpaut lama dengan kedatanganku.”

“Baiklah. Berikanlah panah itu kepadaku. Kita akan sampai pada saat yang menentukan. Kalau aku salah hitung, maka sebaiknya Angger Untara kembali ke Jati Anom. Dan kalian harus segera pergi mengambil Sekar Mirah. Setelah memberi tanda-tanda kepada Angger Untara, aku akan segera melindungi kalian apabila ada bahaya yang mengancam.”

Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta merasakan ketegangan dalam pesan Ki Tanu Metir. Ternyata orang tua itu benar-benar sedang menghadapi saat yang menentukan, apakah rencananya dapat berjalan atau gagal sama sekali. Tetapi setidak-tidaknya usaha menyelamatkan Sekar Mirah akan dijalankan, betapapun besar bahayanya.

Panah sendaren dan busurnya segera diberikan oleh Agung Sedayu kepada Ki Tanu Metir. Ki Tanu Metir-lah yang nanti akan memberikan tanda-tanda itu kepada Agung Sedayu.

Ketika mereka melihat arena perkelahian, maka jelaslah kini bahwa Alap-alap Jalatunda telah menjadi semakin terdesak. Meskipun dari jarak yang agak jauh, tetapi kemampuan mereka mengenal tata perkelahian cukup memberi mereka pengertian apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Sesaat lagi ngger. Sesaat lagi kita akan melihat apa yang akan terjadi. Dan sesaat kemudian akan kita lihat, apakah aku tidak akan mendapat marah dari Angger Untara.”

Dalam saat-saat terakhir itu, maka Ki Tambak Wedi tampak menjadi tegang lagi. Kini ia tidak saja berdiri memperhatikan setiap gerak kedua anak muda di dalam arena itu, tetapi kini ia bergeser semakin dekat.

Ketika cahaya merah di Timur menjadi semakin jelas, maka Alap-alap Jalatunda pun menjadi semakin payah. Ternyata dalam perkelahian yang terjadi itu, ia telah memeras segenap kemampuan yang ada padanya, sehingga dalam waktu yang singkat ia seakan-akan telah kehabisan tenaga. Pada saat itu keadaan Sidanti masih cukup baik. Tenaganya masih segar dan perhitungannya atas kelemahan Alap-alap Jalatunda menjadi semakin masak.

Sanakeling pun ternyata melihat keadaan itu. Wajahnya yang hitam menjadi semakin tegang. Kini ia berdiri terbungkuk-bungkuk di dalam lingkaran orang-orang yang melihat perkelahian itu seperti Ki Tambak Wedi. Seakan-akan apa yang dilihatnya itu tidak begitu jelas di matanya. Namun sebenarnya, dadanya telah dipenuhi oleh kecemasan yang memuncak. Kalau Sidanti tidak dapat mengendalikan dirinya, maka Alap-alap Jalalunda itu akan mengalami nasib yang sangat jelek.

Maka setiap wajah orang-orang yang melihat perkelahian itu kini menjadi kian tegang. Mereka menyadari bahwa perkelahian itu sudah akan sampai pada akhirnya. Meskipun Alap-alap Jalatunda masih tetap dalam perlawanan yang cukup, tetapi setiap kali ia selalu terdesak. Luka-luka di tubuhnya pun menjadi kian banyak. Goresan-goresan pedang Sidanti telah membuat tubuhnya berwarna darah. Tetapi tubuh Sidanti sendiri juga telah diwarnai oleh darahnya yang menetes dari luka-lukanya. Dan darah itu telah membuat Sidanti menjadi buas dan liar, seperti Alap-alap- Jalatunda itu pula.

Dan itulah yang dicemaskan oleh Ki Tambak Wedi. Betapapun ia memihak muridnya di dalam hati, tetapi orang tua itu masih selalu mengingat kepentingan yang jauh lebih besar daripada seorang Sekar Mirah. Kepentingan yang selama ini selalu diperhitungkan dan diotak-atik. Karena itulah maka ia menjadi cemas melihat perkembangan keadaan. Melihat mata muridnya yang menjadi semerah darah yang menetes dari luka-lukanya. Agaknya Sidanti itu telah melupakan pesan-pesannya, bahwa perang tanding itu diakhiri apabila salah seorang telah terluka dan telah jelas tidak dapat memberikan perlawanan, sehingga kemenangan telah dapat ditentukan pada pihak yang lain.

Tetapi dalam keadaan serupa itu, apakah mereka yang berkelahi masih dapat mengingat peraturan yang dibuatnya itu?

Semakin jelas cahaya fajar memancar dari balik dedaunan di Timur, maka Sidanti pun menjadi semakin bernafsu. Kini ia telah sampai pada suatu saat, untuk memenangkan perang tanding itu. Karena itulah maka ia pun menjadi semakin garang. Sedang Alap-alap Jalatunda pun agaknya merasa, bahwa kesempatan baginya menjadi semakin tipis. Namun dengan demikian, maka hatinya menjadi bulat untuk mempertahankan dirinya tanpa mengenal surut sebelum nyawanya loncat dari tubuhnya.

Karena itu, pada saat-saat terakhir, seolah-olah kekuatan Alap-alap Jalatunda yang telah surut itu tumbuh kembali. Tandangnya benar-benar mengejutkan. Sidanti sama sekali tidak menduga, bahwa ketika perkelahian itu justru hampir berakhir karena Alap-alap Jalatunda sudah kehabisan tenaga, maka anak muda itu tiba-tiba melenting secepat bilalang menyerangnya. Begitu cepat dan begitu garang. Pedangnya menebas dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dimengerti, bahwa seseorang mampu berbuat demikian. Serangan yang tidak disangka-sangka itu telah membuat Sidanti menjadi bingung. Agaknya Alap-alap Jalatunda mengerahkan segenap sisa-sisa tenaganya dalam keputus-asaan. Dan bentuk daripadanya sungguh-sungguh di luar dugaan.

Bukan saja Sidanti yang terkejut melihat serangan itu. Ki Tambak Wedi yang berada di belakang Sidanti pun menjadi terkejut pula. Tak masuk di akalnya bahwa Alap-alap Jalatunda telah berbuat sedemikian cepat dan mengejutkan.

Ki Tanu Metir dan ketiga anak-anak muda yang melihat perkelahian itu pun menahan nafasnya. Bahkan terdengar Ki Tanu Metir berdesis karena gejolak perasaannya. Serangan Alap-alap Jalatunda itu benar-benar mengejutkan dan di luar perhitungan.

Akibat dari serangan itu bagi Sidanti pun tidak terduga pula. Dalam kebingungan Sidanti hanya mampu berusaha menangkis kilatan pedang yang menyambarnya. Tetapi ia tidak menyangka bahwa kekuatan yang terlontar pada sambaran pedang itu pun luar biasa pula. Karena itulah, maka tangkisan Sidanti terdorong oleh kekuatan tenaga Alap-alap Jalatunda. Dan Sidanti tidak mampu untuk menghindar lagi. Pedang Alap-alap Jalatunda itu menyambar pundaknya.

Terdengar Sidanti mengeluh pendek. Setiap mulut di arena itu pun berdesis melihat kejadian yang sama sekali tidak terduga-duga itu. Mereka tidak lagi berkedip ketika mereka melihat darah mengalir dari pundak yang menganga karena luka.

Betapa cemas hati Ki Tambak Wedi melihat muridnya terluka. Kalau Sidanti kemudian tidak dapat memperbaiki keadaannya, dan pedang Alap-alap Jalatunda itu sekali lagi mengenainya, maka kemungkinan terbesar bagi muridnya adalah, kalah di dalam perang tanding itu. Dan akibat dari kekalahan ini akan panjang sekali. Akibat dari kekalahan yang dirasakan sebagai suatu penghinaan ini pasti akan membekas di hati Sidanti sepanjang hidupnya. Mungkin Sidanti akan kehilangan segala gairah hidup di masa mendatang karena Sekar Mirah juga akan lepas dari tangannya. Namun berlawanan daripada itu, maka Sidanti akan dapat menjadi seorang iblis yang kehilangan bentuk-bentuk kemanusiaannya sama sekali. Ia akan menjadi seorang yang paling berbahaya. Seorang yang kehilangan tujuan hidupnya selain dendam. Dan dendam itu akan dibawanya kemana ia pergi dan ditumpahkannya kepada siapa saja yang dijumpainya.

Karena itu maka wajah Ki Tambak Wedi pun menjadi semakin tegang. Otot-otot di wajahnya seakan-akan mencuat ke luar dari keningnya.

Apalagi ketika sekali lagi ia melihat Alap-alap Jalatunda mengayunkan pedangnya. Anak muda itu agaknya tidak mau melepaskan kesempatan yang ada pada saat itu. Dalam keputus-asaan ia melihat lawannya terluka. Dalam saat-saat yang tidak disangka-sangkanya ia melihat darah Sidanti meleleh dari luka yang menganga di pundaknya. Dengan demikian maka nafsunya menjadi melonjak kembali. Kesempatan terakhir itu akan dipergunakannya sebaik-baiknya. Mengakhiri perkelahian dengan mengakhiri hidup Sidanti yang memuakkan baginya itu.

Tetapi ternyata membunuh Sidanti tidak semudah yang disangkanya. Tidak seperti yang dibayangkan oleh Alap-alap Jalatunda dalam saat-saat ia berputus-asa, dalam saat-saat otaknya sudah mulai kabur.

Ketika pedangnya terayun sederas ayunannya yang pertama, maka Sidanti sudah menyadari kesalahannya, bahwa ia menganggap Alap-alap Jalatunda sudah tidak berdaya sama sekali. Karena itu, sebelum ia siap benar menghadapinya, maka tiba-tiba ia melontar mundur sejauh-jauhnya. Itulah yang segera dapat dilakukan menghadapi Alap-alap Jalatunda yang seakan-akan menjadi gila. Ketika Ki Tambak Wedi melihat sikap dan geraknya itu, maka perlahan-lahan ia berdesis, “Bagus, Sidanti.”

Ternyata Alap-alap Jalatunda sudah tidak mampu lagi membuat perhitungan yang baik. Kali ini ayunannya sama sekali tidak menyentuh apa pun juga, sedang tenaga yang dilontarkan lewat ayunan itu adalah segenap tenaga yang masih tersisa padanya. Sehingga ketika ayunan itu tidak mengenai lawannya, Alap-alap Jalatunda terseret oleh kekuatan tenagannya sendiri. Sejenak ia terhuyung-huyung. Dengan susah payah ia mencoba mempertahankan keseimbangan badannya. Tetapi ternyata tenaganya telah terkuras habis dalam gerak-geraknya yang terakhir. Karena itulah maka kemudian anak muda yang sedang dilanda oleh nafsu yang tidak terkendali itu tidak lagi mampu bertahan dalam keseimbangan. Sesaat kemudian orang-orang yang mengerumuni arena itu melihat Alap-alap Jalatunda itu terdorong ke samping lalu terjerembab jatuh di tanah.

Sidanti yang telah berhasil membuat jarak beberapa langkah dari Alap-alap Jalatunda menggeram. Ia melihat Alap-alap Jalatunda itu terjatuh. Ketika terasa pundaknya menjadi pedih, maka hatinya pun menjadi terbakar karenanya. Kemarahannya yang telah memuncak, bukan saja karena pundaknya terluka, tetapi juga karena Alap-alap Jalatunda telah mencoba untuk merampas Sekar Mirah dari tangannya, maka kini seakan-akan meledak dengan dahsyatnya.

Gelora di dalam dada Sidanti sudah tidak tertahan lagi. Giginya terdengar gemeretak. Matanya menjadi semerah darah yang memercik dari lukanya. Tangannya yang menggenggam pedang itu pun kemudian menjadi gemetar.

Ketika sekali lagi ia melihat Alap-alap Jalatunda yang sedang tertatih-tatih mencoba untuk berdiri itu, nyala yang membakar dadanya telah berkobar menghanguskan perasaannya. Yang terdengar kemudian adalah Sidanti itu berteriak nyaring. Seperti seekor harimau lapar, ia menerkam lawannya dengan ujung pedangnya.

Setiap dada mereka yang melihat gerak Sidanti itu terasa berdesir. Kemudian jantung mereka seolah-olah berhenti mengalir. Mereka terpukau oleh suatu kejadian yang begitu dahsyat dan mengerikan.

Mereka tersadar ketika mereka mendengar Ki Tambak Wedi berteriak nyaring, “Sidanti, hentikan. Hentikan!”

Tetapi suara itu seolah-olah tidak didengar oleh anak muda yang sedang mengamuk itu. Luka di pundaknya ternyata telah menjadikannya bermata gelap, ia lupa segala-galanya. Lupa kepada peraturan yang dibuat oleh gurunya. Lupa akan kepentingan-kepentingan lain yang lebih besar daripada yang kini sedang dipertengkarkan. Lupa kepada semua usaha yang telah dirintis oleh gurunya selama ini.

Alap-alap Jalatunda bagi Sidanti saat itu adalah iblis yang harus dilenyapkan. Iblis yang telah melukai tangannya cukup parah. Bahkan hampir-hampir merenggut jiwanya pula. Apalagi iblis itu telah mencoba merampas Sekar Mirah dengan kekerasan. Karena itu, maka tidak ada yang lebih baik baginya daripada membinasakannya.

Betapa gurunya berteriak mencegahnya, namun semuanya sudah terjadi. Sidanti yang sedang dibakar oleh kemarahan itu pun mampu bergerak secepat Alap-alap Jalatunda. Bahkan ternyata sisa-sisa kekuatan Sidanti masih cukup banyak, sehingga tumpahan sisa-sisa tenaga itu pun lebih dahsyat pula.

Sekali lagi mereka mendengar Ki Tambak Wedi berteriak, “Sidanti, apakah kau gila?”

Sidanti tidak juga mendengar. Bahkan dalam kegelapan pikiran karena kemarahan yang memuncak, maka kebuasan anak muda itu tumbuh kembali. Seperti pada saat ia berhasil membunuh Plasa Ireng, maka kini diulanginya perbuatannya itu. Alap-alap Jalatunda sama sekali tidak berdaya ketika Sidanti menerkamnya. Ujung pedangnya yang tajam berkilat-kilat langsung menghunjam ke dadanya. Alap-alap Jalatunda yang sedang tertatih-tatih berdiri itu mengaduh pendek. Beberapa langkah ia terdorong oleh kekuatan Sidanti yang ditumpahkannya di ujung pedangnya. Kemudian anak muda itu pun terbanting jatuh di tanah. Darah yang merah menyembur dari luka di dadanya itu. Namun sekejap matanya masih memancarkan dendam tiada terhingga. Sekali tubuh itu menggeliat lalu kemudian diam untuk selamanya.

Tetapi agaknya Sidanti tidak puas dengan tusukan yang langsung menghunjam jantung lawannya. Sekali lagi pedang itu ditariknya, dan sekali lagi pedang itu menghunjam ke tubuh lawannya. Ketika untuk ketiga kalinya ia ingin menusuk tubuh yang tidak berdaya itu, terasa badannya terdorong ke samping oleh suatu kekuatan yang luar biasa, sehingga hampir-hampir ia jatuh terjerambab. Sambil berteriak tinggi ia memperbaiki keseimbangannya. Hampir-hampir ia meloncat menyerang. Tetapi niatnya itu diurungkannya. Betapapun hatinya menjadi gelap pekat, tetapi ketika ia melihat gurunya berdiri di hadapannya, maka Sidanti itu pun tegak seperti patung di tempatnya.

“Ternyata kau benar-benar gila, Sidanti,” teriak Ki Tambak Wedi.

Tetapi sebelum Sidanti menjawab, maka terdengar orang lain berteriak nyaring, “Omong kosong! Kalian, guru dan murid, ternyata telah merencanakan hal ini. Kalian telah dengan sengaja melakukan pembunuhan yang direncanakan.”

Dada Ki Tambak Wedi bergetar mendengar teriakan itu. Ketika ia berpaling, dilihatnya wajah yang hitam itu seolah-olah membara memancarkan kemarahan tiada taranya. Sambil menuding Ki Tambak Wedi dengan pedangnya ia berkata, “Satu-satu kau akan menghilangkan pemimpin-pemimpin prajurit Jipang. Kali ini Alap-alap Jalatunda. Tetapi lain kali aku, supaya kau dapat berbuat menurut kehendakmu atas pasukanmu. Tidak. Aku bukan budak kalian. Kami prajurit Jipang bukan budak-budak orang Tambak Wedi. Kalian jangan mimpi memperalat kami untuk tujuan-tujuan kalian yang memuakkan itu.”

Betapa kemarahan melanda dada Ki Tambak Wedi yang tua itu, tetapi sekali lagi ia masih mencoba menyabarkan diri. Ia tidak dapat melupakan bahwa Untara telah berada di Jati Anom.

“Sanakeling,” katanya, “aku minta maaf atas kesalahan Sidanti. Aku berjanji untuk membuat perhitungan atas perbuatannya ini.”

“Tidak ada lain kecuali Sidanti harus dibunuh seperti Alap-alap Jalatunda. Dibunuh tanpa mengenal perikemanusiaan. Ia pula yang telah membunuh Plasa Ireng dan menggores-gores punggungnya dengan senjatanya silang-menyilang selagi orang itu telah mati. Kini Alap-alap Jalatunda yang tidak berdaya dan telah ditusuk oleh pedangnya tepat di dada, masih juga tidak memberinya kepuasan. Lihat, Ki Tambak Wedi. Lihat luka di tubuh Alap-alap Jalatunda itu. Betapapun gila anak muda itu, tetapi Alap-alap Jalatunda adalah kawan seperjuanganku sejak masa Adipati Jipang, Aria Penangsang. Sekarang anak itu dibunuhnya dengan semena-mena.”

“Sanakeling,” berkata Ki Tambak Wedi, “peristiwa ini tidak berlangsung begitu saja. Peristwa ini terjadi karena suatu sebab. Menilik dari sebab itu, maka Alap-alap Jalatunda pun mempunyai kesalahan pula sehingga perang tanding ini pun tidak dapat dihindari.”

“Tetapi kau telah membuat peraturan untuk perang tanding ini, Kiai. Ternyata kau curang dengan peraturanmu. Kalau Alap-alap Jalatunda menang, kau masih sempat menyelamatkan muridmu, tetapi kalau muridmu menang, maka akibatnya adalah seperti yang kita lihat sekarang. Kalau kau benar-benar ingin mencegah, Kiai, maka kau pasti dapat menggagalkan pembunuhan ini.”

“Jangan berprasangka begitu jelek Sanakeling,” jawab Ki tambak Wedi, “kau tahu, aku berdiri pada jarak yang cukup jauh dari Sidanti. Aku juga sudah berusaha, tetapi …”

“Aku bukan anak-anak yang dapat kau tipu dengan jawaban itu,” jawab Sanakeling.

Gelora di dalam dada Ki Tambak Wedi menjadi semakin keras, tetapi dengan sekuat tenaga ia masih berusaha menyabarkan diri. ia masih selalu mengingat kepentingan yang selama ini telah diperhitungkannya baik-baik.

Tetapi tiba-tiba terdengar dari belakangnya, Sidanti berteriak, “Guru, jangan dibiarkan orang itu mengigau sesuka hatinya. Serahkan orang itu kepadaku pula.”

Mendengar teriakan Sidanti itu, maka wajah Senakeling yang telah menjadi kemerah-merahan itu semakin menegang. Sejenak dipandanginya anak muda yang bernama Sidanti dengan penuh kebencian. Dan tiba-tiba Sanakeling itu tanpa diduga-duga melenting ke arah Sidanti dengan pedang terjulur lurus.

samping oleh kekuatan yang tak dapat dilawannya. Dalam pada itu Ki Tambak Wedi pun telah berdiri di hadapannya.

“Tunggu dulu,” katanya.

“Setan itu harus dibinasakan!” teriak Sanakeling tidak kalah kerasnya dari suara Sidanti. “Ia menjadi semakin memuakkan bagiku.”

“Ayo, lakukanlah kalau kau mampu,” jawab Sidanti lantang, “aku tidak akan lari dari arena.”

“Tutup mulutmu!” kini Ki Tambak Wedi-lah yang berteriak sambil berpaling ke arah Sidanti. “Kau telah menghancurkan segala rencana yang telah aku susun berminggu-minggu. Kau menganggap bahwa perempuan keparat itu lebih penting dari segala-galanya.”

“Minggir kau tua bangka,” yang berteriak adalah Sanakeling tidak kalah kerasnya dari suara teriakan Tambak Wedi. Ternyata orang itu pun telah kehilangan nalar jernihnya. Kemarahan yang telah membakar jantungnya, ternyata tidak dapat diredakannya.

“Sanakeling,” wajah Ki Tambak Wedi pun telah mulai berkerut-merut, “aku sudah menahan diri sekian lama supaya aku tidak terseret dalam arus kemarahan yang tidak bermanfaat sama sekali ini selain akan menghancurkan diri kita sendiri. Tetapi kau pun harus menyadari bahwa ketelanjuran ini jangan menjadi sebab bagi kita untuk menikam dada sendiri.”

“Ternyata kau masih juga ingin melindungi muridmu itu?” bentak Sanakeling tanpa mengenal takut.

“Sanakeling,” suara Ki Tambak Wedi menjadi semakin keras dan bergetar. Betapa ia masih mencoba menahan dirinya sekuat-kuat tenaganya. “Aku peringatkan sekali lagi. Hentikan tuduhan itu. Kita bicara dengan baik, supaya kita dapat memecahkan persoalan dengan baik pula.”

“Tak ada yang dibicarakan. Hanya ada satu pilihan bagimu, Ki Tambak Wedi. Serahkan Sidanti kepadaku. Aku akan membunuhnya dan membelah dadanya. Aku ingin melihat jantung dan hati yang tersimpan di dalam dada itu. Jantung dan hati anak itu pasti ditumbuhi bulu-bulu seperti jantung dan hati iblis.”

Betapapun kesabaran yang dipaksakan di dalam dada Ki Tambak Wedi, namun akhirnya wajahnya menjadi merah pula seperti warna langit di ujung Timur menjelang fajar. Warna merah di langit menjadi semakin nyata, dan warna merah wajah Ki Tambak Wedi pun menjadi semakin menyala.

“Minggir!” teriak Sanakeling kemudian dengan penuh nafsu.

“Aku tidak akan minggir,” jawab Ki Tambak Wedi, “aku akan tetap menghalangi setiap tindakan lebih lanjut.”

Sejenak Sanakeling terdiam. Dipandanginya wajah Ki Tambak Wedi dengan tajamnya. Tiba-tiba ia menyadari dengan siapa yang sedang berbicara. Orang tua itu, Ki Tambak Wedi, memang tidak akan dapat digertaknya, apalagi ditakut-takutinya. Meskipun demikian hasratnya untuk membunuh Sidanti tidak juga dapat disingkirkanhya dari hatinya.

Dalam pada itu terdengar Sidanti berkata, “Guru, kenapa guru menghalanginya. Biarlah Sanakeling mencoba, apakah Sidanti mampu melawannya atau tidak.”

“Diam!” teriak Ki Tambak Wedi keras sekali. “Diam, diam kau!”

Namun nyala di dada Sanakeling telah menjadi semakin dahsyat membakar hangus jantungnya dan mendidihkan darahnya. Ia tidak lagi mau mundur. Sidanti harus mati.

“Kiai,” berkata Sanakeling, “aku pun tidak akan minggir. Aku pun tidak akan mengurungkan niatku. Aku tetap dalam pendirianku untuk membunuh Sidanti. Nyawa Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda akan selalu menuntut kepadaku, seandainya aku tidak berhasil membunuhnya dengan tanganku.”

Tubuh Sidanti menjadi gemetar karenanya. Tetapi ia tidak berani berteriak lagi. Namun demikian ia melangkah beberapa langkah maju dengan pedang yang berwarna darah di dalam genggamannya.

Ki Tambak Wedi hampir-hampir tidak dapat menahan tangannya lagi. Hampir-hampir mulut Sanakeling ditamparnya. Tetapi niat itu diurungkan. Namun orang tua itu menggeram, “Lalu apa maumu? Aku akan tetap berdiri di sini. Apakah kau akan menyerang aku?”

Sekali lagi Sanakeling terdiam untuk sejenak. Tanpa sesadarnya ia memandang berkeliling. Hati Sanakeling itu pun bergelora ketika ia melihat orangnya, prajurit-prajurit Jipang berdiri tegak di satu sisi di luar arena. Tangan-tangan mereka telah melekat di hulu pedang masing-masing. Ketika Sanakeling melihat wajah-wajah itu di bawah cahaya obor dan cahaya fajar, maka wajah-wajah itu tampak seperti wajah-wajah yang berlumuran darah merah.

Hati Sanakeling pun menjadi semakin dahsyat diamuk oleh dendam dan kebencian. Kini ia berdiri di antara anak buahnya yang ternyata setia kepadanya. Anak buah yang telah dipisahkannya dari Sumangkar yang lemah dan menyerah. Anak buahnya yang ada padanya adalah anak buahnya yang dapat dianggapnya prajurit-prajurit pilihan. Kehadirannya di Tambak Wedi bukanlah untuk menghambakan diri dan menjadikan diri mereka alat untuk kepentingan Sidanti. Tidak. Sanakeling merasa bahwa ia masih tetap senapati, pengganti Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

Dengan demikian maka ia tidak lagi berhasil membendung gelora di dalam dadanya. Ketika, terpandang olehnya sekali lagi wajah Ki Tambak Wedi yang berkerut-merut, bermata tajam setajam mata burung hantu dan berhidung seperti paruh itu, serta kemudian dilihatnya wajah Sidanti yang licik dan bengis, maka Sanakeling itu pun melangkah beberapa langkah mundur. Namun tiba-tiba pedangnya bergetar, dan terdengar suitan nyaring melontar dari mulutnya. Suitan aba-aba yang diberikan oleh seorang senapati, kepada prajuritnya yang telah bersiap menunggu perintahnya.

Orang Jipang yang berdiri mengitari arena, yang selama itu terpaku di tempatnya, seperti wajah lautan yang tenang dengan tiba-tiba telah bergejolak seperti tersentuh badai. Dengan tangkasnya mereka berloncatan dengan senjata terhunus.

Mereka itu adalah prajurit-prajurit yang telah cukup berpengalaman. Dengan demikian maka segera mereka dapat menyesuaikan diri dengan kehendak pimpinannya. Dalam waktu yang singkat mereka telah menemukan bentuk kelompok-kelompok masing-masing. Dan sesuai dengan bunyi aba-aba yang diberikan oleh Sanakeling, maka mereka pun segera bergerak.

Tetapi Sidanti pun adalah bekas seorang prajurit yang mengenal tata gelar olah peperangan dalam kelompok yang besar. Ia tidak saja mampu berkelahi perseorangan, tetapi ia pun mampu menguasai orang-orangnya. Karena itu ketika ia mendengar Sanakeling memberikan aba-abanya kepada orang-orangnya, maka Sidanti pun segera berteriak nyaring menyiapkan orang-orangnya untuk menanggapi keadaan.

Ternyata orang-orang Tambak Wedi pun tanggap akan segala sasmita dan perintah yang diberikan Sidanti. Mereka pun segera bergerak dan bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Ki Tambak Wedi melihat peristiwa itu dengan hati yang bergelora. Keadaan telah menjadi semakin buruk, dan kedua belah pihak pun telah terbagi dalam lingkungan masing-masing, bertebaran di halaman sampai ke jalan-jalan di sepanjang pedukuhan itu. Kalau benar-benar terjadi benturan antara mereka, maka perkelahian akan berlangsung di mana-mana. Di halaman banjar ini, di halaman di sekitarnya, di sepanjang jalan dan di mana saja kedua pihak itu akan bertemu. Dengan demikian maka korban akan tidak terhitung lagi jumlahnya. Dan yang paling menyedihkan bagi Ki Tambak Wedi adalah, rencana yang telah disusunnya selama ini ternyata akan gagal.

Karena itu maka seperti orang kesurupan ia berdiri di antara kedua belah pihak yang telah siap untuk bertempur. Dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi ia berteriak, “Hentikan, hentikan!”

Tetapi Sanakeling dan Sidanti sudah tidak mendengar lagi teriakan itu. Sejenak kemudian terdengar Sanakeling memekikkan perintah untuk maju, dan sekejap kemudian yang terdengar adalah teriakan Sidanti.

“Hentikan! Hentikan!” teriak Ki Tambak Wedi. “Sanakeling, tarik orang-orangmu. Kau sadar bahwa aku dapat membunuhmu dalam sekejap?”

Tetapi Sanakeling kini sudah tidak berdiri sendiri. Beberapa orang berdiri di sekitarnya dalam suatu kelompok yang rapi. Susunan yang teratur dari suatu sikap perang prajurit-prajurit yang berpengalaman. Dari kelompoknya Sanakeling berteriak, “Jangan menakut-nakuti, Tambak Wedi. Ayo, cobalah sekarang membunuh Sanakeling. Senapati Jipang yang berkuasa sejak meninggalnya Kakang Raden Tohpati yang bergelar Macan Kepatuhan.”

Dada Ki Tambak Wedi bergetar dahsyat sekali mendengar jawaban itu. Di belakangnya ia melihat Sidanti pun telah bersiap pula dengan seluruh kekuatan Tambak Wedi.

Namun Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa orang-orang Jipang mempunyai pengalaman yang lebih baik. Mereka adalah bekas-bekas prajurit Wira Tamtama yang terlatih dan berpengalaman dalam perang-perang yang besar dan bahkan mereka telah membiasakan diri pula perang dalam keadaan yang paling dahsyat sekalipun. Selama mereka berkeliaran sepeninggal Arya Jipang, maka keadaan mereka telah menjadi semakin parah, dan mereka pun menjadi semakin garang menghadapi lawan-lawannya. Tetapi meskipun demikian mereka hanya mempunyai seorang pemimpin yang cukup tangguh, Sanakeling. Sedang di pihaknya ada beberapa orang yang dapat dipercaya. Sidanti, Argajaya dan apabila tidak terelakkan lagi, adalah Ki Tambak Wedi sendiri.

Ketika sekali lagi Ki Tambak Wedi mendengar Sanakeling berteriak, maka habislah harapannya untuk melerai pertengkaran itu, dan habis pulalah kesabarannya. Perkelahian antara mereka sudah tidak terelakkan lagi. Meskipun Ki Tambak Wedi itu menyesali perbuatan Sidanti bukan alang-kepalang, namun setelah keadaan menjadi sedemikian, ia tidak dapat mengingkarinya. Ia harus melibatkan diri dan ikut dalam perkelahian itu.

Demikianlah maka sesaat lagi ketika sinar fajar telah menjadi kekuning-kuningan, maka kedua pihak itu pun kehilangan segala macam pertimbangan. Kedua belah pihak telah masak untuk bertempur karena keadaan mereka sehari-hari. Setiap kali mereka merasa saling iri hati, saling mengejek, dan saling menyindir. Kini mereka tidak lagi perlu mengejek dan menyindir, tetapi pedang-pedang mereka segera dapat berbicara.

Pertempuran pun segera berkobar di dalam halaman banjar desa yang tidak begitu luas itu. Sebagian lagi berkelahi di halaman di sekitar banjar itu. Bahkan di jalan-jalan dan di mana saja kedua belah pihak dapat bertemu. Ternyata menghadapi keadaan yang demikian, prajurit-prajurit Jipang segera dapat menyusun diri dalam lingkungan masing-masing. Mereka mampu membuat semacam gelar-gelar kecil meskipun tidak sempurna. Sergapan-sergapan yang tiba-tiba dari arah yang tidak diduga-duga membuat orang-orang Tambak Wedi agak menjadi bingung.

Namun sejenak kemudian Ki Tambak Wedi sendiri terjun ke dalam pertempuran itu sambil berteriak, “Sanakeling. Menyerahlah sebelum orang-orangmu habis binasa di padepokan ini.”

Sanakeling melihat Tambak Wedi itu langsung menyerangnya. Tetapi ia telah cukup mempersiapkan diri menyambut serangan itu. Tidak seorang diri, tetapi sekelompok prajurit-prajurit pilihan. Sepuluh orang bersama-sama dalam satu lingkaran menyongsong hadirnya hantu dari lereng Merapi itu. Sepuluh ujung pedang terjulur lurus ke arah Ki Tambak Wedi yang meloncat menyerang Sanakeling, sehingga serangan itu pun terpaksa diurungkannya.

Dalam pada itu Sidanti pun segera melihat keadaan. Ia tidak perlu berada di dekat gurunya. Ia harus mempengaruhi daerah pertempuran yang lain, seperti juga Argajaya segera meloncat menjauhi Ki Tambak Wedi.

Pada sebatang pohon di luar halaman banjar itu, Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta mengamati keadaan dengan hati yang berdebar-debar. Mereka kini melihat orang-orang Jipang dan orang-orang padepokan Tambak Wedi telah bergumul dalam pertempuran-pertempuran yang seru. Sidanti dan Argajaya telah mengambil tempatnya masing-masing, sedang Ki Tambak Wedi masih saja tetap berada di halaman banjar berhadapan dengan Sanakeling. Tetapi lingkaran perkelahian itu menjadi semakin ribut ketika beberapa orang telah berada di sekitar Sanakeling pula untuk bersama-sama melawan Ki Tambak Wedi.

Sejenak orang-orang yang berada di atas pohon itu melihat perkembangan keadaan. Namun kemudian Ki Tanu Metir itu pun berkata, “Marilah kita turun. Perkelahian itu sebentar lagi akan menebar sampai kemari. Apabila kita masih tetap berada di sini, maka kita tidak akan sempat turun.”

Mereka berempat pun segera turun dengan hati-hati. Apalagi cahaya merah fajar telah menjadi kuning keputih-putihan. Sejenak lagi matahari pasti sudah akan menjenguk di atas ujung-ujung pepohonan.

Demikian sibuk orang-orang Jipang dan padepokan Tambak Wedi berkelahi, sehingga mereka tidak melihat orang-orang yang meloncat turun dari pohon itu. Mereka masing-masing hanya melihat ujung pedang lawan yang terarah ke dada masing-masing.

“Perkelahian ini benar-benar seimbang. Orang-orang Jipang mempunyai beberapa kelebihan, tetapi orang-orang Tambak Wedi pun mempunyai kelebihannya sendiri. Mungkin perkelahian ini akan memakan waktu yang lama, namun korban pun akan berhamburan seperti babatan alang-alang.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengerutkan keningnya, sedang tengkuk Wuranta terasa meremang. Ia belum pernah menyaksikan sendiri perkelahian yang hiruk-pikuk seperti yang terjadi saat itu.

Dalam pada itu Agung Sedayupun bertanya, “Lalu apa yang harus kita lakukan, Kiai?”

“Kalian bertiga pergi ke tempat Sekar Mirah. Aku akan tetap di sini melihat keadaan. Apabila keadaan telah memungkinkan, aku akan memberi tanda kepada Angger Untara. Aku harap mereka telah siap di mulut padepokan ini. Dan mudah-mudahan sebentar lagi pasukannya yang berjalan kaki telah sampai pula di sini.”

Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini mereka baru jelas akan perhitungan Ki Tanu Metir. Ternyata perhitungannya kini telah mendekati kebenaran. Orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi saling bertempur sendiri. Ketiga anak muda itu dapat membayangkan, bagaimanakah akhir dari peristiwa ini. Untara akan hadir sebagai pihak ketiga. Dan pertempuran akan menjadi semakin kisruh. Hanya prajurit-prajurit Pajang cukup berpengalaman sajalah yang akan dapat menyesuaikan dirinya dalam keadaan yang demikian.

“Apakah Kiai akan segera memberikan tanda itu?”

“O, jangan tergesa-gesa, Ngger. Kita menunggu kekuatan yang ada di padepokan ini berkurang. Sebentar lagi maka orang-orang Jipang dan orang-orang padepokan ini akan sudah menjadi jauh susut. Dalam pertempuran serupa ini, maka korban akan cepat sekali berjatuhan,”

Agung Sedayu tidak menjawab. Yang menyahut kemudian adalah Swandaru, “Biarlah, kita biarkan saja mereka menumpas diri mereka sendiri.”

“Hal itu memang mungkin sekali terjadi, Ngger. Orang yang terakhir akan berdiri di atas timbunan bangkai kawan dan lawan. Tetapi jangan dibiarkan hal itu terjadi. Apabila menurut perhitungan Angger Untara sudah mampu mengatasi keadaan, maka biarlah ia menghentikan pertempuran ini. Biarlah mereka tidak berlarut-larut saling membantai dengan luapan dendam tiada taranya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dipandanginya gurunya dengan pertanyaan yang memancar dari matanya.

“Kalau kita biarkan hal ini terjadi, Ngger, itu adalah karena terpaksa harus kita lakukan. Sebenarnya kita sama sekali tidak menghendaki. Tetapi, jalan lain tidak kita ketemukan untuk segera dapat menyelesaikan persoalan ini, sehingga mereka yang terlampau bernafsu dalam kepentingan sendiri, terpaksa kita korbankan. Tetapi pembunuhan yang mengerikan seterusnya sedapat mungkin harus dicegah.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar keterangan gurunya, sedang Wuranta menekurkan wajahnya. Tetapi Swandaru masih saja belum mengerti. Dalam persoalan seperti ini, maka apabila terjadi pembunuhan, bukankah itu salah mereka yang saling berbunuhan itu sendiri? Namun Swandaru itu tidak bertanya lagi. Disadarinya bahwa waktu sudah menjadi kian sempit.

“Nah, sekarang pergilah kalian ke tempat Sekar Mirah. Aku tetap di sini untuk pada waktunya memanggil Angger Untara.”

“Baiklah, Kiai,” sahut ketiga anak-anak muda itu bersamaan.

Dan mereka pun kemudian meninggalkan halaman itu dengan hati-hati. Mereka berjalan di sepanjang halaman, meloncati dinding-dinding batu dan berlindung di balik rimbunnya rumpun-rumpun bambu liar. Tetapi cahaya pagi semakin lama menjadi semakin terang.

Sekali-sekali mereka mendengar derap orang berlari-lari, sehingga mereka terpaksa mengendapkan diri mereka. Orang-orang itu adalah orang-orang padepokan Tambak Wedi yang terlambat datang ke banjar desa karena tugas-tugas mereka. Ketika mereka mengetahui bahwa perkelahian telah berkobar dari kawan-kawan mereka yang sengaja berkeliling padepokan untuk memberitahukan tentang hal itu, maka mereka pun meninggalkan tugas-tugas mereka dan berlari-lari pergi ke banjar desa untuk segera melibatkan diri dalam perkelahian yang semakin lama menjadi semakin hiruk-pikuk.

Ketika ketiga anak-anak muda itu meloncat masuk ke halaman belakang rumah yang diperuntukkan bagi Sekar Mirah, maka hati mereka menjadi berdebar-debar. Sesaat mereka tertegun. Dengan berbisik Swandaru bertanya, “Lalu, apakah yang akan kita lakukan atas Sekar Mirah. Apakah anak itu kita ambil dan kita bawa ke luar?”

“Jangan,” sahut Agung Sedayu, “kita menunggu Ki Tanu Metir. Selama ini kita awasi saja rumah itu, untuk menjaga keselamatannya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia agaknya masih ragu-ragu. Apakah dengan menunggu Ki Tanu Metir, mereka tidak akan terlambat. Bagaimanakah seandainya kemudian Sidanti memerintahkan atau ia sendiri datang bersama orang-orangnya untuk mengambil gadis itu.

Agung Sedayu agaknya melihat keragu-raguan itu. Maka katanya pula, “Kita tidak tahu pasti maksud Ki Tanu Metir. Bukankah Ki Tanu Metir berkata, bahwa kita akan membawa Sekar Mirah lewat jalan yang aman dan lapang, hanya apabila terpaksa kita akan mencobanya lewat urung-urung itu.

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih juga ragu-ragu tetapi ia tidak memaksanya, tetapi ia kemudian berkata, “Kalau demikian, marilah kita mendekat, supaya kita melihat apa yang terjadi di dalam gubug kecil itu.”

Agung Sedayu tidak berkeberatan dengan pendapat Swandaru itu. Sebenarnya ia pun terlampau mencemaskan nasib gadis itu. Maka jawabnya, “Marilah. Kita menungguinya di belakang rumah. Bukankah begitu, Kakang Wuranta?”

“Marilah,” sahut Wuranta sambil menganggukkan kepalanya.

Ketiganya pun kemudian merayap semakin dekat. Mereka kemudian duduk di belakang serumpun perdu. Tetapi hati mereka sama sekali tidak tenteram ketika mereka masih juga mendengar gadis itu menangis.

“Semalam suntuk ia menangis,” desis Wuranta.

“Kasihan,” sahut Swandaru, “anak itu anak bengal. Setiap kali aku selalu bertengkar dan berkelahi di rumah. Tetapi aku menjadi sangat beriba hati melihatnya kini.”

“Apakah salahnya kalau kita masuk?” tiba-tiba Agung Sedayu berbisik. “Kita berada di dalam. Kita sudah terlanjur berada di sarang lawan. Apa pun yang terjadi harus kita tanggungkan.”

Sejenak Swandaru memandangi wajah Agung Sedayu. Dan sesaat kemudian ia berkata, “Itu adalah pendapat yang paling baik. Mari kita masuk.”

“Aku sudah mempunyai jalan yang paling baik untuk memasuki rumah itu,” berkata Wuranta. “Jangan lewat pintu depan. Sidanti pasti masih menempatkan satu dua pengawas di sekitar tempat ini. Biasanya di rumah di muka rumah ini,” berkata Wuranta.

Agung Sedayu dan Swandaru memandanginya sejenak, “Jalan manakah yang kau maksud?”

“Aku kira jalan yang telah dipergunakan oleh Alap-alap Jalatunda,” jawab Wuranta. “Lihatlah sudut rumah itu.”

Karena cahaya pagi telah memercik ke atas padepokan Tambak Wedi itu pula, maka segera mereka melihat bahwa sudut rumah itu telah terbuka.

“Hem,” Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menjadi tergesa-gesa untuk segera menemui adiknya. Maka katanya, “Marilah. Apalagi yang kita tunggu? Kalau sebentar lagi Sidanti datang kemari, biarlah aku menyambutnya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kalimat itu telah menumbuhkan kekaguman di hati Wuranta. Katanya di dalam hati, “Anak muda putera Ki Demang Sangkal Putung ini agaknya seorang anak muda yang pilih tanding. Kebenciannya kepada Sidanti sampai ke ujung ubun-ubun. Dan agaknya ia mampu mengimbanginya.” Tetapi Wuranta itu tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Mereka bertiga pun kemudian pergi ke sudut rumah. Perlahan-lahan Swandaru merenggangkan dinding.

“Dinding ini memang sudah terbuka,” bisiknya perlahan-lahan.

“Masuklah,” sahut Agung Sedayu.

Dengan hati-hati Swandaru yang gemuk itu pun merangkak masuk. Tetapi agaknya jalan itu terlalu sempit baginya, sehingga anak yang gemuk itu mendapatkan sedikit kesulitan.

“Tolong, tariklah dinding ini. Bajuku terkait,” desis Swandaru.

Tetapi ternyata kata-katanya itu telah mengejutkan Sekar Mirah yang sedang terisak-isak. Ketika ia bangkit dan memandangi sudut rumah itu, dilihatnya sesosok bayangan merangkak masuk. Maka tanpa sesadarnya gadis itu pun menjerit sekuat-kuat tenaganya. Ia menjadi sangat ketakutan dan ngeri. Terasa seakan-akan Alap-alap Jalatunda atau Sidanti-lah yang datang itu.

“He,” Swandaru pun terkejut sehingga ia pun berkata lantang, “Kenapa kau berteriak Mirah.”

Bukan kepalang terkejut gadis itu mendengar suara yang sudah dikenalnya baik-baik. Suara yang selalu mengganggunya di Kademangan Sangkal Putung. Suara yang selalu mengejeknya dan memarahinya setiap saat. Tetapi dalam keadaan serupa itu, maka suara itu seakan-akan suara panggilan dari dunia yang lepas bebas, panggilan dari kampung halaman.

Begitu besar pengaruh suara itu, sehingga justru sekali lagi Sekar Mirah berteriak, “Kakang, Kakang Swandaru.”

“Hus, anak bodoh,” bentak Swandaru, “jangan berteriak-teriak.”

Tetapi Sekar Mirah tidak mendengarnya. Dengan penuh luapan perasaan ia berkata, “Kau datang Kakang. Bukankah kau akan mengambil aku dan membawa aku kepada ayah dan ibu kembali?”

“Ya, ya,” potong Swandaru, “tetapi jangan berteriak-teriak.” Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “Kakang, tolong, bajuku terkait. Anak gila itu malahan berteriak-teriak saja. Kalau aku dekat, aku bungkam mulutnya.”

Dengan tergesa-gesa dan tangan gemetar Agung Sedayu menarik dinding bambu di sudut rumah itu. Dengan demikian maka kini Swandaru dapat merangkak masuk. Ketika ia berdiri dan berjalan mendekati Sekar Mirah, maka Sekar Mirah pun segera mengenalnya pula. Anak yang gemuk bulat itu. Maka dengan serta-merta Sekar Mirah pun berlari, menubruk dan memeluknya seperti kanak-anak yang manja. Sambil menangis sejadi-jadinya ia berkata, “Kakang, Kakang, bawa aku kembali. Bawa aku kembali kepada ayah dan ibu.”

Sesaat Swandaru tidak dapat mengucapkan kata-kata. Dibiarkannya Sekar Mirah menangis di dadanya. Bahkan terasa matanya pun menjadi pedih.

Sejenak kedua kakak beradik itu tenggelam dalam keadaan yang demikian. Mereka sama sekali tidak mengucapkan kata-kata, tetapi isak Sekar Mirah melontarkan harapan untuk dapat menikmati masa depannya yang masih panjang. Masa depan yang cerah. Gadis itu merasa bahwa seolah-olah mereka telah berada kembali di Kademangan Sangkal Putung, di rumah ayah dan ibunya.

Tetapi gadis itu terkejut ketika ia mendengar dinding di sudut rumah itu berderik. Ketika ia berpaling, ia melihat sesosok bayangan yang lain sedang memasuki rumah itu.

“Kakang,” katanya, “siapakah orang itu?”

Tetapi Swandaru tidak perlu menjawab. Orang yang merangkak itu kini telah berdiri. Dalam keremangan pagi dalam gubug yang tertutup itu, Sekar Mirah melihat seorang anak muda berdiri di hadapannya. Sekali lagi anak itu terkejut seperti pada saat ia melihat kakaknya masuk.

“Jadi, kau tidak sendiri kakang?” Swandaru menggeleng.

“Bukankah itu Kakang Agung Sedayu?”

Swandaru mengangguk. “Ya,” gumamnya.

“Oh,” tiba-tiba Sekar Mirah itu melepaskan kakaknya. Ia ingin meloncat untuk mendapatkan Agung Sedayu. Tetapi langkahnya tertegun karena tangannya ditahan oleh Swandaru. Sekar Mirah mencoba untuk menarik tangannya, tetapi pegangan Swandaru cukup kuat, sehingga tangan itu tidak terlepas dari pegangannya.

Baru sesaat kemudian Sekar Mirah menyadari kegadisannya. Wajahnya tiba-tiba menjadi kemerah-merahan. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Dan kembali ia menyembunyikan wajahnya di dada kakaknya. Ia merasa bersyukur bahwa kakaknya telah menahannya, sehingga ia tidak merasa malu untuk seterusnya, apabila ia bertemu dengan Agung Sedayu.

Agung Sedayu sendiri menundukkan wajahnya pula. Anak muda itu benar-benar telah membeku. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang harus dikatakan. Karena itu ia berdiri saja seperti patung.

Di belakang Agung Sedayu, Wuranta telah berdiri pula di dalam rumah itu. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Ia merasa aneh untuk mengenali dirinya sendiri. Ketika ia melihat sikap Sekar Mirah terhadap Agung Sedayu, meskipun Swandaru tidak melepaskannya, namun ia menangkap hubungan yang lain antara keduanya. Hubungan bukan saja hubungan karena keadaan yang menyentak seperti saat itu. Tetapi hubungan yang telah cukup lama dan bukan hanya sekedar sentuhan yang baru-baru saja pada permukaan pandangan. Tetapi hubungan itu adalah hubungan yang telah menghunjam dalam-dalam di dalam dada masing-masing.

(–***–)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Oktober 2008 at 21:23  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-23/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pemikiran saya 100% sama… memang tidak mungkin memuaskan setiap orang, tp seperti yang sudah pernah saya katakan, tepa selira harus tetep langgeng…
    apa lagi, ADBM ini kita pahami bukan hanya cerita silat belaka… tetapi pelajaran budi pekerti yang wajib kita wariskan ke anak cucu kita…
    apalagi sudah sangat terasa.. bahwa pergeseran budaya yang makin mendewakan emosional.. bukan penalaran..
    bahkan ini yang menjadi acuan begawan marketin Hermawan Kertajaya dengan teorinya marketing in venus..
    semua kemunduran bangsa ini, memang karena mental manusianya… mudah-mudahan dari kelompok kecil kita ini kita bisa membuat perubahan yang berarti…
    Salam Hangat

  2. Mas DD, ini sekedar pendapat saya saja.

    Secara pribadi saya ingin sekali setiap hari ada upload file djvu, sehingga bisa segera mengikuti sambungan cerita berikutnya sampai dengan jilid terakhir.

    Jika kita menginginkan cita-cita luhur adanya proyek “retype” dan keinginan untuk memberikan legacy yang bernilai kepada generasi yang akan datang tetap berkesinambungan, namun mengingat bahwa retype ini sukarela, maka dikhawatirkan gap antara upload djvu dengan file retype akan semakin panjang dan orang akan semakin malas untuk retype. Sehingga dikhawatirkan proyek retype akan terbengkalai.

    Bagaimana kalau dibuat semacam komitmen, tidak akan upload file djvu jilid berikutnya sebelum jilid sebelumnya sudah di retype semuanya, sehingga yang menginginkan cerita sambungannya akan berusaha melakukan retype?

    Sekedar usul saja lho mas, mudah-mudahan tidak membuat marah bagi yang menginginkan segera adanya upload file djvu jilid berikutnya.

    D2: Usul yg baik. Saya se7.

  3. mas DD seperti yg sdh tak bayangkan bahwa akhirnya adbm ini hanya akan menjadi bacaan sebagaian kelompok saja,sementara yg lainnya seperti sy hanya bs menonton saja atau pindah ke warung sebelah,,,dg format yg skrg ssh bg yg tdk bs membaca melalui djvu, menunggu retype pun semakin membingunggkan karena yg sdh di retype lgsg bermunculan di box coment secara acak,,btw memang kadang untuk kemajuan itu musti ada yg dikorbankan ya….,btw lg…pepatah yg berbunyi alon alon asal klakon tu sdh gak jaman lg ya….,,,saya si ttp dtg kesini walau cm tuk bc coment2 yg semakin rame,,hitsnya jg san soyo akeh nampaknya…

  4. Bung DD, mungkin ndak ya retype dilakukan oleh tenaga profesional? maksud saya kita “bantingan” meng”honor” retyper. Kalau 1 edisi (100 buku) bisa 1-2 bulan retype, tampaknya mungkin apabila retypenya dilakukan setiap hari. Ada ndak ya kawan-kawan yg kerjaannya profesional retyper? Bung Rizal kok ilang

  5. Mas DD,
    Saja mengikuti adbm sejak di blognya mas Rizal. Saya mengikuti lebih sering lewat PDA ketimbang Notebook. Kerepotan kawan2 yg aktif meneruskan adbm sampai ke blog ini juga saya ikuti. Tapi mohon maaf saya nggak bisa ikut rame2 berjuang.
    Saya lihat banyak kawan2 pembaca yg dropout nggak bisa mengikuti karena perubahan format ke DjVu. Karena memang format tsb belum populer seperti pdf. Saya usul, untuk mengakomodir kawan2 yg nggak bisa baca DjVu, format yg dipakai pdf saja yg lebih populer. Kalau ukuran file lebih besar bisa di pecah jadi beberapa. Mudah2an bisa menolong sebagian kawan2 yg ketinggalan. Terimakasih dan selamat berkarya sosial.
    Salam, HH

  6. Saya mendukung usulan Bung TT (lah, setalah ada bung DD, kemudian bung TT, nanti akan ada bung AA, bung BB, bung CC, dll :-)), apakah memungkinkan dibuat account khusus?
    Para adbm-er dapat memberikan donasi ke account tsb, kemudian donasi tsb dipakai untuk “honor” bagi para retyper professional. Sementara retyper sukarela juga masih tetap dapat menyumbangkan hasil retype-nya.
    wah, maunya kerja sosial, kayaknya malah makin membuat bung DD semakin ribet ya…:-)

  7. Salam Mas D2..
    Kayaknya bisa dimengerti kenapa Bung Rizal ga nerusin ADBM di blog lama. terbayang ga kalo di retype bisa makan waktu 8 tahun!!???. Lha emang cuma ngurusin ADBM doang??..Angkat jempol dengan terobosan Mas D2 dengan format DJVU nya…,(konon itu juga “cuman” 1 tahun bisa tamat). Bisa dibayangin, Mas D2 dalam kerja rutinnya selalu dibayangi ADBM yg mesti buru2 dikebut.., wah ga kebayang deh kalo saya yg mesti spt mas D2.., angkat 2 jempol demi memuaskan orang lain.

    Masalah format.., ga usah berkeluh kesah.., apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi kalo kembali hrs retype dlm format PDF…, duh.., kasian mas D2 nya dong!…Awalnya saya juga gaptek DJVu tapi kan ada petunjuk2…, ikutin aja…, dan ternyata jauh lebih nyaman dan cepat, dan sangat membatu meringakan kerjaan gratis Mas D2.
    Percaya deh.., apapun medianya, PC,PDA dsb.., cepat atau lambat akan ikut ngikutin teknolgi.
    Jadi menurut saya… teruskan saja format DJVu nya..,bisa lebih cepat, dan membantu meringankan kerjaan MasD2..maaf saya sendiri ga bisa bantu apa2 selain nimbrung baca.

    Buat rekan2 di padepokan Tambak wedi, ini sedkit gambaran aja.., dengan DJVu reader yg kisanak baca adalah hasil scanning dari asli bukunya.., mgkin agak gagap dengan Ejaan Lama, tapi ga masalah.., malah lucu hehehe..

    “…pada achirnya , semua kebidjaksanaan saja serahkan kembali kepada mas D2…, mana jang kira2 tidak merepotkan, dan tidak menyita waktu Mas D2 itu jang terbaik menurut saja…. saja sudah sangat beruntung sekali ada orang seperti Mas D2 jang mau berbagi, untuk itu saja tidak mau merepotkan.., terima kasih banjak ja Mas D2…, tjukup sekian kiranja”

  8. @ Para nayaka ADBMers (DD)..
    Klu saya seperti mas Dewo, semula ya agak gagap dan glagepan dng format Djvu, tapi setelah ikuti JUKNIS-nya, ya lancar-lancar saja..Pertimbangannya ya cuma satu, yaitu kejar tayang, jng hanya “alon2 waton kelakon” tapi harus “yo klakon yo maton”

    Klu ada yg mau kerja profesional (dng honor misalnya) spt usul TT silahkan saja, tapi mbokiyao yang mau kerja gratisan juga diberi “tempat”, dng kesempatan itu, merupakan salah satu wahana sosial yang mgkin nggak bisa disalurkan ke tampat lain. Untuk itu saya tetap mendukung kerja retype relawan, tapi hrs tetap mengutamakan kualitas..

  9. Saya tidak yakin kalau hanya retype saja, meskipun dikerjakan oleh 100 orang, bisa diselesaikan dalam waktu 5-6 tahun mengingat bakal berubahnya komitmen dan prioritas banyak orang. Sebaiknya konsentrasi ke scan & upload saja, tidak usah meniru NSSInya gadjahsora yg hanya 4%nya ADBM. Kalau 2 buku per minggu atau 3 buku per 2 minggu, maka dalam 1 tahun sisa 373 sudah selesai (?!)
    Djvu bisa diconvert ke pdf hitam putih hanya dengan tambahan 20% djvu’s file size. Saya sudah coba, hanya tidak bisa upload di website.
    Dengan gotong royong barisan ke 2 bisa membantu mereka yg tidak bisa baca djvu, baik itu melalui japri atau tambahan blog lain.

  10. Alhamdulillah,
    sebagai adbm-er turut berbahagia sudah mulai banyak yang bisa menikmati enak dan nyamannya format djvu. Terima kasih atas usaha keras Mas DD.

    Kembali Juknis (maaf Mas DD, saya mengulangi juknis):
    ambil program dari download.

    Saya pribadi memilih STDU viewer.
    program yang didownload akan tertulis :stduviewer.
    Windows biasanya menyembunyikan extention. Untuk membukanya:
    Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    Setelah tanda thick (centang) dihilangkan maka file yang didownload akan tampak:
    stduviewer.doc
    stduviewer.doc kemudian di rename (klik kanan>rename), diubah menjadi
    stduviewer.exe
    saat mengubah extention file akan muncul tulisan

    If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    kemudian stduviewer.exe diinstal.

    atau kalo gak mau ribet ganti extention download langsung dari sini:
    http://www.download25.com/install/stdu-viewer.html

    Setelah STDUViewer diinstal harap tidak terkejut jika nanti seluruh file pdf yang biasanya dibuka dengan program adobe akan muncul sebagai file yang akan dibuka sebagai stuviewer. Jika tetap menginginkan file pdf tetap sebagai file yang bisa dibuka dengan adobe mungkin jangan instal stduviewer tetapi instal WinDJview saja, caranya sama dengan di atas.

    Nah, sekarang tiba saat saat yang ditunggu.
    download adbm-jilid-023.pdf yang sudah dipost Mas DD.
    file yang didownload di komputer akan muncul sebagai adbm-jilid-023.pdf

    Jika extentionnya masih di sembunyikan oleh windows maka filenya hanya tertulis adbm-jilid-023 dengan icon adobe, sehingga extentionnya harus dibuka dengan cara Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    adbm-jilid-023.pdf kemudian di klik kanan>rename diubah menjadi adbm-jilid-023.djvu
    pada saat mengubah extention file akan muncul tulisan: If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    Setelah dibuka, atur zoom (50%-500%) sesuai dengan keinginan berapa besarnya huruf dan layar untuk membaca adbm.

    Sudah deh, bisa menikmati adbm sambil makan ubi goreng.

  11. Catatan tambahan Juknis:

    Untuk komputer kantor, biasanya ada peraturan tidak boleh instal software tertentu karena issue copyright, network security, beban kerja local network, dll.

    Namun WinDJview atau stdviewer adalah freeware.
    Bisa download langsung Windjview di sini:
    http://www.softpedia.com/get/Office-tools/Other-Office-Tools/WinDjView.shtml

    Freeware, adalah software yang bebas dipakai, jadi kantor tidak perlu khawatir dengan issue copyright. Program ini juga tidak akan menimbulkan beban local network serta issue security, sehingga orang dari departemen IT mudah-mudahan tidak keberatan jika kita instal program ini di komputer kantor (malah orang-orang staf IT akan berterima kasih barangkali karena mereka juga pengin ikut menikmati adbm :-).

  12. Saya adalah seorang yg sebaya dg Widura dan lumayan gaptek. Kalo 3 langkah saya adalah:

    A. Download & install “Windjview” (dari salah satu dari sekian banyak hasil search di google)

    B. Masuk website tercinta (adbm)-> klik buku (misal) 22-> ke halaman yg mas DD tulis “full version djvu”->klik kanan link “adbm-buku-022”->save as copy….->taruh di folder yg sdh disiapkan.

    C. Buka/jalankan “Windjview”, open file->pilih file DAN ganti Files of type ke “All Files”. Sudah..!!!

    …yg disampaikan anakmas Dewo tidak salah,…apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi itu (mestinya) nggak lama kok. Jaman dulu kita pakai program WS & Lotus123, lantas beralih ke MS-office ya cuma sebentar kagoknya….

    Dg menikmati ejaan lama plus mirang-miringnya hasil scan, justru menambah heroiknya perjuangan kita dalam meraih cita2, spt membaca guratan2 gambar silat Agung Sedayu di rontal… he.. he.. bercanda..

    Maturnuwun sanget kagem anakmas DD lan sanak kadang ingkang sampun ikhlas sharing harta karun menika.

    Salam

  13. Dear bung Dede & ADBMers,
    Saya ucapkan terima kasih atas upaya bung Dede & team untuk memosting ADMDeJavu (selanjutnya saya singkat ADMD). Untuk membagi kebahagiaan membaca ADMD yang cukup cepat penayangannya, saya ingin memeberikan pengalaman saya mendapatkan viewer (alat baca) ADMD yang gratis, freeware, dan menurut saya paling gampang, agar teman2 yang belum dapat akses dapat ikut serta menikmatinya.

    1. Dari google, cari (search) dengan mnegetik: “download djvu viewer”. Dari situ anda akan diantar ke web: LizardTech.
    2. Saya sendiri mengambil (klik pilihan kedua) yaitu:
    http://www.djvuzone.org/download/index.html
    3. Paling kanan atas akan muncul pilihan DJVU Plug-in. Klik dua kali.. dan download mulai, jangan lupa install sekalian. Setelah instalasi, di desktop anda akan muncul kotak Djvu Viewer.

    Sampai tahap ini saya harap belum muncul kesulitan, tetapi kalau masih, silakan post comment nanti saya atau teman2 lain bantu.

    4. Untuk download bacaan ADMD, kita buka ADMCadangan, dan buka/klik nomor buku yang akan dibaca (mis. buku 23). Pada setiap buku ada halaman (pages). Biasanya bacaan dalam format djvu ada di halaman 1 atau 2. Right click (klik kanan) bahan tersebut, akan muncul pilihan “save link as”. Kalau andapilih option tersebut bahan bacaan akan tersimpan di desktop anda (atau tempat lain yang anda tentukan).

    5. Untuk membaca ADMD dengan nomor tertentu, kita seret (drag) bacaan yang sudah didownload ke djvu vIewer di desktop.

    Selamat mencoba.
    GI

    NB. Di lokasi saya djvu belum populer. Nampaknya ini format yang dipromosikan oleh WordPress (yang juga belum populer). Saya sedang mencoba mencari software untuk transfer djvu ke pdf. Saya sudah coba tiga cara: (1) dengan mengattach “cutewriter” untuk kemudian print ke pdf, (2) tranfer langsung via UDC (Universal Document Converter), (3) transfer via IrfanView. Ketiganya belum berhasil. Mungkin ada teman lain yang pernah mencoba salah satu dari yg tsb di atas.

  14. Buku 23 halaman 77

    … (dari halaman 76) Berada di sarang lawan. Apapun yang terjadi harus kita tanggungkan.”

    Sejenak Swandaru memandangi wajah Agung Sedayu. Dan sesaat kemudian ia berkata, “Ia adalah pendapat yang paling baik. Mari kita masuk.”

    “Aku sudah mempunyai jalan yang paling baik untuk memasuki rumah itu.” Berkata Wuranta. “Jangan lewat pintu depan. Sidanti masih menempatkan satu dua pengawas di sekitar tempat ini. Biasanya di rumah di muka rumah ini.” Berkata Wuranta

    Agung Sedayu dan Swandaru memandanginya sejenak. ”Jalan manakah yang kau maksud?”

    ”Aku kira jalan yang telah di pergunakan oleh Alap-alap Jalatunda.” jawab Wuranta. ”Lihatlah sudut rumah itu.”

    Karena cahaya pagi telah memercik keatas padepokan Tambak Wedi itu pula, maka segera mereka melihat bahwa sudut rumah itu telah terbuka.

    ”Hem..” Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menjadi tergesa-gesa untuk segera menemui adiknya. Maka katanya, ”Marilah. Apalagi yang kita tunggu? Kalau sebentar lagi Sidanti datang kemari, biarlah aku menyambutnya.”

    Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kalimat itu telah menumbuhkan kekaguman di hati Wuranta. Katanya di dalam hati, ”Anak muda putra Ki Demang Sangkal Putung ini agaknya seorang anak muda yang pilih tanding. Kebenciannya kepada Sidanti sampai ke ujung ubun-ubun. Dan agaknya ia mampu mengimbanginya.” Tetapi Wuranta itu tidak mengucapkan sepatah katapun.

    Mereka bertigapun kemudian pergi ke sudut rumah. Perlahan-lahan Swandaru merenggangkan dinding.

    ”Dinding ini memang sudah terbuka.” bisiknya perlahan-lahan.

    ”Masuklah.” sahut Agung Sedayu.

    Dengan hati-hati Swandaru yang gemuk itupun merangkak masuk. Tetapi agaknya jalan itu terlalu sempit baginya, sehingga anak yang gemuk itu sedikit mengalami kesulitan.

    ”Tolong, tariklah dinding ini. Bajuku terkait.” desis Swandaru.

  15. Bung GI,

    Aku nyoba pakai DJVULibre, bisa untuk export ke pdf, jpg, atau format lain. Percobaan export ADBM_jilid_19.djvu yang ukurannya 1.2 MB ke format pdf, ukurannya menjadi 24.7 MB.

    -kris-

    D2: Ada cara “mubeng jok-teng” Mas Kris. Halaman djvu dikopi blok dan disimpan sbg image (JPG). Lalu dikonvert sebagaimana sebelumnya. Cuma ya harus mengkopi tiap halaman menjadi file JPG. Satu lagi, mungkin BD telah mengurangi resolusinya (terlihat dari gambar ilustrasi yang pecah) shg mungkin hasil konversinya kurang memuaskan. Tapi mungkin bisa dicoba. Hasil konversinya bisa ditayangkan di boks koment jilid ybs. Mungkin ada kawan yg mau ntlateni ketimbang retype

  16. buku 23.doc nya di attach di page 1? bukan di page 2?

    D2: Tx, nanti aku pindah

  17. Ngedownload djvu2nya tuh di mana ya ? Gw cari2 gak ketemu.

  18. Kalo cara ubah pdf ke djvu gimana ya??
    Ada yg tau ga? Kalo ada tolong email ke s1au_y3n@yahoo.com ya…
    thx ya…^^

  19. Assalamu’alaikum ww

    dengan ini perkenankalah saya mengenalkan diri :
    nama : Sumartono, lahir di Jogyakarta
    saya ikut seneng bisa ikutan baca serial yang sangat menarik ini, sewaktu kecil gak pernah bias beli bukunya.
    Saya sangat berterimakasih pada penyelenggara situs ini.
    semoga rezekinya ndlidir tur akeh. Amin
    sebetulnya saya pingin sekali ikutan nyumbang tenaga sebagai cheker gitu lho, untuk meminimize kesalahan ketik, saya juga bisa ketik dengan blind system. mohon maaf bila kurang berkenan dihati.
    demikianlah, salam perkenalan dari saya, sekali lagi mohon maaf dan thousand thanks.
    wassalam,

    $$ salam kenal Ki. selamat datang di padepokan.

  20. Alap alap Jalatunda mati
    dicubles pedange Sidanti
    mbah_man,,,,,,lanjutane ADBM pundi..???
    para cantrik wes pada ngenteni….!!!!!

    • hayo kanca2 pada ANTRI ning sini…..!!??

    • KI Gembleh, terusan adbm di gandhok gagak Seta

      • mari tak inguk sing onok mung nyi dwani mita thok til je mbah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: