Buku 23

Ki Demang menelan ludahnya. Tetapi dadanya serasa menghentaki karena kecewa. Kecewa terhadap anak muda yang pernah dipercayainya.

“Wuranta,” berkata Untara kemudian, “apakah, kau membawa sesuatu berita atau pesan atau apa pun yang penting untukku dan untuk seluruh Jati Anom?”

Wuranta mengerutkan keningnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, maka terpandang olehnya wajah Ki Demang menjadi semakin tegang. Dengan serta-merta Demang Jati Anom itu bertanya, “Apakah artinya ini?”

Untara tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya telah memaksa Wuranta berkata, “Ya, Kakang. Aku membawa pesan Ki Tanu Metir untuk Kakang.”

Wajah Ki Demang Jati Anom menjadi semakin tegang karenanya. Dari sepasang matanya memancar sorot yang mengandung beribu macam pertanyaan.

Untara agaknya dapat menangkap pertanyaan-pertanyaan yang bergumul lewat pancaran mata Demang Jati Anom. Maka supaya pembicaraan seterusnya menjadi lancar maka ia berkata, “Wuranta, apakah pekerjaanmu dapat berjalan dengan baik?”

“Ya, Kakang Untara. Tetapi malam ini adalah malam terakhir bagi Wuranta di lereng Merapi, di padepokan Tambak Wedi. Seharusnya pagi ini aku sudah digantung di muka regol padepokan itu, karena ternyata Ki Tambak Wedi dapat mengetahui perananku.”

“Tetapi kau berhasil melepaskan dirimu.”

“Aku bertemu dengan Ki Tanu Metir.”

“Apakah Ki Tanu Metir ada di dalam padepokan itu?”

“Ya. Ki Tanu Metir telah berhasil masuk ke dalam padepokan setelah Ki Tanu Metir mendapat gambaran tentang daerah itu.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan singkat dikatakannya beberapa hal tentang anak muda yang bernama Wuranta itu. Akhirnya Untara berkata, “Ki Demang, sekarang ternyata peranan Wuranta telah berakhir. Ia tidak akan menjadi orang padepokan Tambak Wedi lagi. Beruntunglah ia berhasil melepaskan diri dan kembali ke Jati Anom. Kalau tidak, maka ia akan menjadi banten sedang mayatnya akan bergantungan di regol padepokan Ki Tambak Wedi.”

Sejenak Ki Demang Jati Anom itu tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Dengan ternganga-nganga dipandanginya wajah Wuranta yang tunduk berganti-ganti dengan wajah Untara yang tersenyum.

“Ki Demang, kau akan berbangga mempunyai seorang anak muda seperti Wuranta. Maafkanlah bahwa segalanya telah dirahasiakan, oleh Ki Tanu Metir, karena Ki Tanu Metir belum banyak mengenal orang-orang Jati Anom sendiri. Anggaplah itu sebagai suatu sikap berhati-hati daripadanya.”

“Oh,” Ki Demang menarik nafas dalam-dalam, setelah getar di dadanya mereda, gumamnya, “maafkan aku Wuranta. O, sungguh aku tidak menyangka bahwa demikianlah keadaan yang sebenarnya. Hem, ternyata telah kau pertaruhkan apa saja yang kau miliki untuk pekerjaanmu. Nyawa dan nama, sokurlah bahwa kau masih tetap hidup.”

“Tuhan melindunginya,” desis Agung Sedayu.

“Ya. ya, Tuhan telah melindunginya,” sahut Ki Demang. “Dan sekarang, apakah pesan yang kau bawa itu?”

“Kakang Untara,” berkata Wuranta kemudian, “pesan ini penting dan tergesa-gesa. Kalau mungkin maka sebelum fajar pasukan Kakang Untara harus sudah berada di ambang pintu padepokan Ki Tambak Wedi.”

“He,” Untara mengerutkan keningnya, “bagaimana mungkin?”

“Keadaan di padepokan Tambak Wedi berkembang terlampau cepat. Meskipun perhitungan Ki Tanu Metir mendasarkan pada persoalan di dalam padepokan itu sendiri, tetapi agaknya Ki Tanu Metir yakin bahwa kali ini Kakang akan dapat berhasil.”

Dahi Untara tampak berkerut-merut, sedang Ki Demang masih belum terlepas sama sekali dari debar jantungnya pada saat ia mengetahui kedudukan Wuranta sebenarnya. Ia masih saja serasa bermimpi melihat anak muda itu duduk di hadapannya sambil memberikan beberapa keterangan dan pesan dari orang yang bernama Ki Tanu Metir.

“Sebenarnya aku mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap Ki Tanu Metir,” gumam Untara.

“Aku melihat hal-hal yang tidak masuk di dalam nalarku,” sahut Wuranta.

“Meskipun demikian, tetapi menggerakkan pasukan demikian tergesa-gesa hampir tidak mungkin aku lakukan.”

“Menurut Ki Tanu Metir, maka pasukan berkudalah yang diperlukannya dahulu. Sedang pasukan yang lain dapat menyusul kemudian.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Senapati yang masih muda itu berpikir dan mencoba membayangkan apa yang sedang terjadi di padepokan Tambak Wedi.

“Apakah perang tanding itu akan sedemikian menarik bagi orang-orang Tambak Wedi dan orang Jipang?” bertanya Untara kemudian.

“Ya, Kakang,” jawab Wuranta.

“Sehingga mereka akan lengah dan tidak menyadari bahwa kita menyerang mereka dengan tiba-tiba? Seandainya demikian, maka apakah mereka tidak akan segera dapat menyusun diri dan melakukan perlawanan? Sedang kekuatan mereka berada di atas kekuatan kita, apalagi hanya sekedar prajurit-prajurit berkuda sebelum prajurit yang lain datang.”

Wuranta tidak segera menjawab. Agaknya ia menjadi ragu-ragu mendengar pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia berkata, “Aku kurang tahu Kakang. Ki Tanu Metir-lah yang membuat perhitungan berdasarkan pengamatannya dan laporan-laporan yang aku berikan setiap saat aku bertemu.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, “Baiklah, aku akan menyiapkan prajurit-prajurit berkuda. Mereka akan dapat mencapai padepokan Tambak Wedi sebelum fajar. Tetapi pasukan yang lain masih memerlukan waktu, sehingga kemungkinan, yang terbesar, mereka akan sampai sesudah matahari terbit.”

“Terserahlah kepadamu, Kakang. Aku hanya sekedar menyampaikan pesan itu. Kemudian aku harus segera kembali bersama Adi Agung Sedayu dan Swandaru. Kami harus memasuki padepokan dan berada di sekitar pondok tempat Sekar Mirah disembunyikan. Kami harus membawa panah sendaren sebagai tanda yang dimaksud oleh Ki Tambak Wedi, yang akan dilepaskan pada saatnya menurut pesannya.”

“Apakah perjalanan itu tidak terlampau berbahaya bagimu serta Agung Sedayu dan Adi Swandaru?”

“Tetapi kami harus kembali segera sebelum semuanya terjadi. Panah-panah itulah yang akan dipakai oleh Ki Tanu Metir untuk memberikan tanda kepada Kakang Untara.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kerut-merut di dahinya menyatakan betapa ia mencoba memecahkan persoalan yang sedang dihadapi.

Akhirnya pemimpin prajurit Pajang di Jati Anom itu berkata, “Baik. Aku akan memenuhi pesan Ki Tanu Metir. Aku akan segera mengumpulkan semua prajurit berkuda. Aku akan minta Ki Demang Sangkal Putung untuk meminjamkan kepada kami, berapa saja kuda yang ada di kademangan ini.”

“Nah. Begitulah Kakang. Mudah-mudahan semua dapat berjalan lancar. Mudah-mudahan rencana Ki Tanu Metir dapat terjadi. Aku hanya dapat membantu menurut kemampuan yang ada padaku. Tetapi apabila kali ini Kakang Untara berhasil, maka aku akan turut berhingga karenanya.”

“Baiklah Wuranta. Sekarang bagaimana dengan kau?”

“Aku akan mendahului bersama adi Agung Sedayu dan adi Swandaru.”

“Pergilah. Hati-hatilah dengan perjalanan yang berbahaya itu. Kalau kalian gagal memasuki padepokan itu dan menyerahkan anak-anak panah sendaren itu kepada Ki Tanu Metir, maka segalanya akan menjadi gagal pula.”

“Baiklah, Kakang. Aku akan berusaha untuk melakukan tugasku sebaik-baiknya”

“Aku mempunyai gambaran yang agak terang tentang peristiwa yang akan terjadi di padepokan itu. Aku dapat mengerti jalan pikiran Ki Tanu Metir. Dan aku sependapat pula. Karena itu, pergilah, dan lakukan tugasmu baik-baik.”

“Baiklah, Kakang,” sahut Wuranta. Kemudian kepada Agung Sedayu dan Swandaru ia berkata, “Marilah kita berangkat. Kita harus mendahului Kakang Untara seperti yang dimaksud oleh Ki Tanu Metir.”

Sebenamya Agung Sedayu dan Swandaru sudah tidak sabar lagi menunggu Wuranta dan Untara berbincang berkepanjangan. Karena itu ketika Wuranta mengajak mereka pergi, maka seperti berjanji mereka menyahut, “Marilah, aku sudah siap.”

Wuranta, Agung Sedayu, dan Swandaru itu pun segera minta diri kepada Untara dan Ki Demang Jati Anom, yang melepaskan mereka dengan hati yang berdebar-debar. Namun ketika mereka sudah sampai di ambang pintu, maka kembali mereka diganggu oleh kecemasan mereka menghadapi anak-anak muda Jati Anom. Karenanya maka langkah mereka pun tertegun sejenak.

“Kenapa?” bertanya Untara.

“Bagaimana dengan Jawawi? Ia salah terima melihat sikapku selama ini, Ki Demang,” berkata Wuranta kepada Ki Demang.

“Bukan hanya Jawawi, aku pun salah mengerti. Tetapi marilah, aku antar kalian keluar halaman. Sesudah itu, selamat jalan melakukan tugas kalian.”

Ki Demang-lah yang kemudian mendahului keluar dari pringgitan menemui anak-anak muda Jati Anom yang masih saja menunggu di halaman.

Ketika Ki Demang turun ke halaman, diikuti oleh Wuranta, Agung Sedayu, dan Swandaru kemudian Untara, maka yang pertama sekali menyambut adalah Jawawi. Katanya, “Nah, Ki Demang. Akhirnya anak itu jatuh juga ke tangan kita. Setelah beberapa hari ia menghantui kita dengan tingkah laku dan perbuatannya, maka sekarang ia tidak akan dapat lagi meninggalkan halaman kademangan ini.”

“Ya, ya Jawawi,” sahut Ki Demang, “demikianlah kiranya apabila dugaan kita atas anak ini benar.”

Jawawi mengerutkan keningnya. Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia masih melihat pedang tergantung di lambung Wuranta. Apakah ia masih berhak membawa pedang itu?

“Tetapi,” berkata Ki Demang seterusnya, “ternyata pimpinan prajurit Pajang masih memerlukannya. Untuk suatu keperluan maka kita belum dapat berbuat apa-apa atas anak muda ini. Biarlah ia kami serahkan saja kepada pimpinan prajurit Pajang di Jati Anom.”

Jawawi benar-benar tidak dapat mengerti pernyataan Ki Demang itu, sehingga beberapa langkah ia maju, “Ki Demang, kami tidak dapat mengerti penjelasan itu.”

“Jelasnya,” berkata Ki Demang, “kita belum dapat berbuat apa-apa atas Wuranta saat ini. Ia masih diperlukan oleh pimpinan prajurit Pajang. Ia harus pergi bersama Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru untuk suatu tugas. Nah, relakanlah, ia pergi. Sebenarnyalah Wuranta adalah seorang anak muda yang tidak seperti kalian sangka. Tetapi kali ini aku kekurangan waktu untuk memberi penjelasan yang berkepanjangan. Untuk kepentingan Jati Anom dan Pajang, biarlah Wuranta pergi. Nanti atau besok kalian akan mendengar, apakah, sebabnya maka kami tidak dapat berbuat apa-apa atasnya.”

“Ki Demang. Apakah sebenarnya yang akan dilakukannya? Kami menjadi bingung. Apakah kami harus mempergunakan kekerasan untuk menangkapnya?”

“Tidak perlu,” sahut Ki Demang, “kita tidak memerlukan kekerasan. Aku akan menjadi tanggungan apabila ia lari. Akulah yang akan kalian tangkap, dan akulah yang akan menggantikannya menerima tuduhan apa pun juga.”

Anak-anak muda Jati Anom saling berpandangan sejenak. Mata mereka memancarkan ketidak-relaan hati mereka menghadapi sikap Ki Demang. Tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Karena itu mereka hanya berdiri saja seperti patung ketika Ki Demang kemudian mempersilahkan Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta untuk segera pergi. “Silahkan. Silahkan melakukan tugas itu.”

“Baiklah Ki Demang,” sahut Agung Sedayu.

Mereka pun kemudian mengemasi kuda-kuda mereka. Dari seorang prajurit Agung Sedayu telah menerima seendong panah-panah sendaren yang akan dipergunakannya nanti untuk memberi tanda. Setelah menyilangkan busur dipunggungnya, maka mereka pun segera meloncat ke atas punggung kuda masing-masing dan kuda itu pun segera berlari secepat angin.

Di perjalanan mereka tidak menjumpai sandungan apa pun. Tak seorang pun peronda dari Tambak Wedi yang mereka jumpai. Agaknya mereka lebih senang atau mungkin lebih tegang menyaksikan arena yang berada di banjar pimpinan daripada melakukan tugas masing-masing.

Seperti pesan Ki Tanu Metir, maka mereka pun tidak menyembunyikan kuda-kuda mereka di arah Utara, darimana mereka masuk, tetapi kuda-kuda itu disembunyikan di arah Selatan, dari mana mereka nanti akan keluar.

Setelah mengikat kuda-kuda mereka di tempat yang rimbun, namun banyak ditumbuhi oleh rerumputan yang hijau, maka segera mereka berjalan tergesa-gesa, mengelilingi pagar tembok dari jarak yang cukup. Seperti pada saat Wuranta keluar dari padepokan itu, maka mereka pun kemudian akan memasuki padepokan itu dengan cara yang sama.

“Kita meloncat turun?” bertanya Swandaru perlahan-lahan.

“Ya,” sahut Wuranta.

“Berenang di bawah permukaan air?” Swandaru mendesak.

“Tidak hanya di bawah permukaan air, tetapi di bawah urung-urung dinding padepokan ini. Apakah kau dapat mengerti Adi?”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berdesis, “Dinginnya bukan main. Bagaimanakah kalau aku membeku di dalam urung-urung itu?”

Agung Sedayu tersenyum, katanya, “Aku akan menyeretmu.” Swandaru tertawa perlahan-lahan. Kemudian dicancutkannya kain panjangnya dan dilepasnya bajunya, diikatkan pada lambungnya.

“Marilah,” ajak Wuranta, “lihat aku.”

“Gelapnya bukan main,” desis Swandaru.

Sejenak kemudian Wuranta pun segera meloncat diikuti oleh Agung Sedayu. Sedang sejenak Swandaru masih ragu-ragu. Giginya beradu kedinginan. Tetapi ia tidak dapat berdiam diri saja di situ, sehingga sejenak kemudian ia pun meloncat pula, terjun ke dalam air.

Ketika Wuranta dan Agung Sedayu telah berada di tepian, maka Swandaru pun masih juga belum nampak. Kedua anak muda itu menjadi berdebar-debar dan cemas. Namun sejenak kemudian mereka melihat sebuah kepala tersembul agak jauh dari tepian.

“Uah,” Swandaru mengeluh begitu ia berdiri di pinggir kali, “kepalaku bengkak.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Terbentur urung-urung itu. Bukan main. Aku kira aku sudah berada di dalam. Ketika aku ingin mumbul kepermukaan air, tiba-tiba kepalaku membentur batu.”

“Latihan yang baik. Latihan apabila kepala itu nanti terbentur tangkai pedang prajurit-prajurit Tambak Wedi.”

Swandaru tertawa, sehingga Agung Sedayu terpaksa mencegahnya, “Hus. Jangan terlampau keras. Kita tidak berada di Kademangan Sangkal Putung atau Jati Anom. Tetapi kita berada di Padepokan Tambak Wedi.”

Swandaru menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tetapi kemudian ia berkata, “Kita tetap dalam pakaian basah kuyup.”

Agung Sedayu dan Wuranta tertawa. Mereka melihat Swandaru menggigil dan giginya beradu.

“Dinginnya bukan main,” keluhnya.

“Mungkin Ki Tambak Wedi menyediakan ganti pakaian, untukmu,” berkata Agung Sedayu.

Swandaru Geni itu pun tersenyum pula. Diraba-rabanya kepalanya yang terbentur urung-urung. Katanya, “Untung aku tidak pingsan di dalam air. Kalau aku pingsan, maka kalian tidak akan menemuiku lagi.”

“Tetapi kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu,” berkata Agung Sedayu kemudian. “Nah, tunjukkanlah, di mana tempat kita berjanji dengan Ki Tanu Metir.”

“Marilah,” sahut Wuranta.

Mereka pun segera melangkahkan kaki mereka. Dengan hati-hati mereka menyusuri tepian sungai, menuju ke tempat Sekar Mirah ditempatkan.

Tetapi tiba-tiba Agung Sedayu menggamit kedua kawannya sambil berdesis perlahan-lahan, “Aku mendengar orang bercakap-cakap.”

“Ya,” sahut Swandaru berbisik. Dan Wuranta pun menyahut pula, “Ya, aku juga mendengar.”

“Kita bersembunyi,” ajak Agung Sedayu, “supaya kita tidak terlampau sibuk nanti.”

Ketiganya pun kemudian segera bersembunyi. Sejenak kemudian suara orang bercakap-cakap itu pun menjadi semakin dekat.

“Marilah, agak cepat sedikit,” ajak salah seorang dari orang-orang yang bercakap-cakap itu, “aku ingin melihat akhir dari perang tanding yang dahsyat itu.”

“Bukan main,” sahut yang lain, “keduanya memang tanggon.”

“Sehari semalam perkelahian itu tidak akan selesai,” potong yang lain.

“Tidak,” berkata yang pertama, “aku masih melihat beberapa kelebihan dari Angger Sidanti. Mungkin Alap-alap yang gila itu tidak akan dapat bertahan sampai fajar.”

“Kau dapat memperhitungkan perkelahian itu? Aku tidak percaya,” sahut yang lain.

“Tetapi aku mendengar orang dari Menoreh itu bercakap-cakap.”

“Jadi bukan taksiranmu sendiri.”

Tak ada jawaban. Mereka pun semakin lama menjadi semakin jauh. Akhirnya percakapan mereka sudah tidak dapat ditangkap lagi oleh Agung Sedayu yang sedang bersembunyi.

Ketika prajurit-prajurit itu sudah menjadi semakin jauh, maka ketiga anak-anak muda itu pun meneruskan perjalanan mereka sambil bercakap berbisik-bisik.

“Agaknya perkelahian itu dahsyat sekali,” desis Swandaru.

“Aneh. Apakah Alap-alap Jalatunda menjadi jauh meloncat maju? Aku sangka jarak antara Alap-alap Jalatunda dan Sidanti agak terlampau jauh, sehingga perang tanding antara keduanya tidak akan makan waktu terlampau lama.”

“Menurut Alap-alap Jalatunda sendiri,” jawab Wuranta, “ia selalu melatih diri di tepian dengan pasir, batu-batu dau kayu-kayuan.”

“Betapapun tekunnya, tetapi berlatih seorang diri tidak akan dapat mendatangkan kemajuan yang sepesat itu,” sahut Swandaru.

“Hal itu mungkin saja terjadi, Adi,” berkata Agung Sedayu. Ia sendiri pernah mengalami. Bukan saja berlatih di tepian, tetapi berlatih di atas rontal. Membuat gambar gerakan-gerakan yang kemudian dicobanya. Dan Agung Sedayu itu meneruskan.

“Mungkin gurunya telah memberinya bekal bermacam-macam unsur gerak yang dapat dihubungkan yang satu dengan yang lain dalam satu susunan yang serasi, serta latihan-latihan jasmaniah untuk memperbesar kekuatan tenaga dan ketrampilan bergerak.”

Swandaru dan Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun mereka tidak mengerti seluruhnya, tetapi keterangan Agung Sedayu itu dapat masuk di dalam akal mereka.

Sejenak kemudian mereka telah menyelusur halaman menuju kepondok Sekar Mirah. Mereka harus sangat hati-hati. Wuranta menyadari bahwa Sidanti meletakkan beberapa orang pengawas di sekitar rumah itu.

Mereka terpaksa melingkar dan masuk ke halaman pondok Sekar Mirah lewat belakang. Sejenak mereka berdiam diri, memperhatikan suasana di sekitarnya.

Malam dengan tenangnya merayap ke ujungnya. Tetapi gelapnya masih saja sedemikian pekatnya, sehingga mereka hampir-hampir tidak dapat melihat apa pun di halaman itu selain bayangan-bayangan tetumbuhan yang hitam kelam.

“Marilah kita mendekat. Aku berjanji dengan Ki Tanu Metir tepat di belakang rumah, di sudut kiri.”

“Marilah,” desis Agung Sedayu. Mereka pun kemudian merayap mendekati pondok itu. Semakin lama semakin dekat, tiba-tiba Swandaru mengangkat wajahnya sambil berdesis. Anak itu masih menangis. Apakah semalaman ia menangis saja?”

Wuranta tidak menyahut. Tetapi mereka kini menjadi semakin dekat dengan sudut rumah itu.

Ketika mereka sampai di balik gerumbul-gerumbul yang rimbun dekat, di belakang rumah itu, maka mereka pun berhenti. Mereka harus menanti Ki Tanu Metir di tempat itu.

Tetapi Swandaru dan Agung Sedayu hampir-hampir tidak dapat menahan diri ketika mereka masih saja mendengar Sekar Mirah menangis terisak-isak. Dengan terbata-bata Swandaru berbisik, “Aku akan masuk. Aku tidak dapat membiarkan Sekar Mirah selalu kecemasan dan ketakutan.”

“Tetapi Ki Tanu Metir berpesan supaya kita menunggu.”

“Kenapa kita harus menunggu? Aku akan membawanya ke luar,” sahut Swandaru.

“Lewat urung-urung?” bertanya Wuranta.

“Apakah tidak ada jalan lain?”

“Ada. Di sana ada sebuah regol yang cukup besar. Tetapi di regol itu, orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang menyambut setiap orang yang akan lewat.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sadarlah ia kini, bahwa ia berada di suatu tempat yang tertutup rapat. Tidak mudah baginya untuk menerobos masuk dan keluar dari lingkungan itu. Meskipun barangkali dengan sedikit kesulitan, dinding padepokan yang tinggi itu dapat juga dipanjatnya, tetapi para peronda yang hilir mudik mungkin akan melihatnya.

Untuk sesaat mereka pun saling berdiam diri. Isak tangis Sekar Mirah masih juga mereka dengar. Semakin lama terasa semakin pedih di hati Swandaru dan Agung Sedayu. Ingin mereka segera meloncat masuk menolongnya dan membawanya lari. Tetapi hal itu ternyata berada di luar kemampuan mereka.

Belum lagi mereka dapat menenangkan diri mereka, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kehadiran sesosok tubuh dekat di belakang mereka. Namun segera mereka dapat mengenalnya. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

“Ha aku memang mengira kalau kalian telah menunggu aku di sini,” desisnya perlahan-lahan.

“Ya, Kiai,” sahut Wuranta.

“Bagus. Apakah kalian tidak lupa membawa panah sendaren?”

“Tidak, Kiai,” jawab Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir tersenyum melihat seendong panah dan busur yang menyilang di punggung Agung Sedayu.

“Di sini banyak dapat diketemukan busur,” berkata Ki Tanu Metir, “tetapi baik juga kau membawanya.”

Agung Sedayu tidak tahu maksud kata-kata Ki Tanu Metir itu, tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

“Sekarang, marilah kita melihat perang tanding yang berlangsung di banjar para pemimpin padepokan ini. Perang tanding antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda. Perang tanding yang benar-benar tanding. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Alap-alap Jalatunda mampu mengimbangi kekuatan Sidanti.”

“Apakah mereka benar-benar seimbang menurut penilaian Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi memang Sidanti mempunyai beberapa kelebihan. Meskipun perkelahian itu dapat berlangsung lama, namun kalau Sidanti tidak membuat kesalahan-kesalahan yang berarti, maka Alap-alap Jalatunda tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Tetapi kelengahan Sidanti itu masih mungkin saja terjadi, sebab Sidanti masih juga merasa mempunyai banyak kelebihan dari lawannya, sehingga beberapa kali hampir-hampir saja ia tergilas oleh amukan Alap-alap Jalatunda yang benar-benar seperti orang gila.”

“Menarik sekali,” desis Swandaru, “marilah kita melihat. Tetapi bagaimana dengan Sekar Mirah itu? Apakah tidak sebaiknya kita lepaskan dahulu dan kita bawa keluar dari padepokan ini?”

“Jalan masih belum terbuka. Aku kira sulit untuk membawanya lewat urung-urung seperti yang baru saja kau lalui.”

“Bagaimana jalan itu dapat terbuka?”

“Marilah kita mengharap bersama-sama. Tetapi apabila terpaksa dan jalan itu tidak juga terbuka, kita akan menempuh jalan yang paling berbahaya, keluar lewat urung-urung.”

“Tetapi bagaimana sekarang?”

“Biarlah kita tinggalkan saja gadis itu untuk sementara,” Swandaru dan Agung Sedayu tidak menyahut. Sebenamya mereka tidak sampai hati melihat gadis itu menangis terisak-isak dengan penuh ketakutan dan kecemasan akan nasibnya.

“Apakah setidak-tidaknya kita tidak memberitahukan kehadiran kita kepadanya?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

“Itu akan mempengaruhi sikapnya. Mungkin ia akan kehilangan segala akal dan nalarnya, sehingga justru akan menyulitkan. Mungkin gadis itu tidak lagi dapat mengekang perasaannya. Ia akan dapat berteriak-teriak minta supaya ia dilarikan atau untuk kepentingan yang lain. Tetapi dengan demikian maka tugas kita akan gagal.”

Agung Sedayu dan Swandaru dapat mengerti sepenuhnya keterangan gurunya. Karena itu mereka tidak mendesaknya.

“Marilah, kita lihat perkelahian itu,” gumam Ki Tanu Metir kemudian.

“Marilah,” jawab ketiga anak-anak muda itu hampir bersamaan.

Ketiganya pun kemudian dengan sangat hati-hati berjalan mengikuti Ki Tanu Metir menyusup diantara tanaman-tanaman di kebun dan halaman-halaman. Menyelinap di balik gerumbul-gerumbul liar dan rumpun-rumpun bambu yang rimbun. Sekali-sekali mereka harus meloncati dinding halaman yang tidak terlampau tinggi, tidak setinggi dinding padepokan ini.

Tak sepatah kata pun terucapkan dalam perjalanan yang pendek itu. Mereka saling berdiam diri dan berangan-angan. Tetapi mereka pun ingin segera sampai ke banjar para pemimpin padepokan untuk segera melihat apa yang terjadi di arena perang tanding antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.

“Angger Agung Sedayu,” berbisik Ki Tanu Metir, “kalau apa yang aku harapkan tidak terjadi, maka aku akan memberimu isyarat. Kau harus segera kembali ke tempat Sekar Mirah dan mencoba melarikannya lewat urung-urung itu. Memang pekerjaan ini berbahaya bagimu dan bagi Sekar Mirah, tetapi apabila tidak ada jalan lain maka hal ini harus dilakukan. Aku bersama Angger Swandaru dan Angger Wuranta akan mencoba melindungi, sampai kita akan mencapai kuda-kuda kita. Bukankah kalian membawa empat ekor-kuda?”

“Oh,” anak-anak muda itu saling berpandangan. Ternyata mereka lupa membawa seekor kuda kosong untuk Ki Tanu Metir.

“Apakah kalian lupa membawa seekor kuda untukku?”

“Ya, Kiai.”

Ki Tanu Metir tersenyum, “Tidak apa,” katanya, “aku akan ikut di atas kuda Angger Swandaru. Tetapi aku mengharap bahwa kita tidak akan memerlukannya, sebab kita akan melalui jalan yang lapang dan aman tanpa gangguan suatu apa pun.”

Setelah mereka melampaui beberapa halaman, memintasi jalan-jalan sempit dan gelap, meloncati dinding-dinding dan menyusup lewat rumpun-rumpun bambu yang lebat, maka akhirnya mereka melihat cahaya obor yang bersinar terang-benderang tidak terlampau jauh dari mereka.

Ki Tanu Metir yang berjalan paling depan pun berhenti sejenak. Perlahan-lahan ia berbisik, “Nah, itulah, Ngger. Itulah arena perang tanding yang agaknya masih cukup ramai.”

“Marilah kita melihat, Kiai,” ajak Swandaru.

“Hem, kita bukan orang padepokan Tambak Wedi. Apabila salah seorang dari mereka melihat kehadiran kita, maka perang tanding itu akan terhenti sejenak, dan mereka akan beramai-ramai mengejar kita seperti anak-anak sedang mengejar tupai. Karena itu, kita harus cukup berhati-hati.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Ya. Aku mengerti.”

“Kita hanya dapat melihat dari kejauhan. Beruntunglah bahwa perhatian Ki Tambak Wedi seluruhnya telah dirampas oleh perkelahian yang agaknya tidak diduganya. Ki Tambak Wedi benar-benar terkejut melihat tandang Alap-alap Jalatunda. Orang tua itu agaknya masih terlampau percaya kepada Sidanti. Dan kepercayaannya itu yang telah membuatnya lengah. Kini ia dihadapkan pada kenyataan, bahwa Alap-alap Jalatunda itu mampu menandingi muridnya. Kalau kepandaian mereka terpaut, maka perbedaan itu sama sekali tidak banyak dan tidak menentukan.”

Ketiga anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa mereka ingin melihat perang tanding itu, namun mereka tidak dapat berbuat sekehendak hati. Sebab nasib mereka pun kini sedang berada diujung duri.

Ki Tanu Metir itu kemudian berbisik lagi, “Kita akan mencoba untuk mendekat. Tetapi tidak terlampau dekat. Supaya kita dapat melihat dengan jelas, maka kita akan memanjat.”

Ketiganya bersama Ki Tanu Metir pun lalu mencoba merayap semakin dekat. Tetapi mereka selalu berusaha untuk tetap berada di balik bayangan dedaunan yang rimbun. Ketika mereka kemudian tidak mungkin lagi untuk berada di tempat yang lebih dekat, mereka lalu mencari pohon-pohon yang daunnya akan cukup memberi mereka perlindungan. Dari tempat itulah mereka melihat perang tanding yang sedang berlangsung.

Meskipun mereka tidak terlampau dekat, tetapi mereka dapat melihat cukup jelas. Mereka dapat melihat hampir setiap bagian dari unsur-unsur gerak yang dipergunakan oleh kedua belah pihak. Unsur-unsur gerak yang dipergunakan oleh Alap-alap Jalatunda unsur-unsur gerak yang dipergunakan oleh Sidanti. Mereka pun dapat melihat beberapa kelebihan Sidanti atas lawannya, tetapi kelebihan itu hampir tidak banyak berarti dibanding dengan tekad yang menyala-nyala di dalam dada Alap-alap Jalatunda. Nafsu yang menggila itu agaknya telah banyak merubah dirinya menjadi orang yang perkasa. Satu hal yang sangat menyulitkan adalah bahwa meskipun Alap-alap Jalatunda itu hampir-hampir menjadi benar-benar gila, tetapi otaknya agaknya masih tetap terang menghadapi senjata lawan.

Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta melihat perkelahian itu dengan tegangnya. Seolah-olah mereka sendirilah yang terlibat dalam sebuah perang tanding. Meskipun mereka tidak dapat memihak salah satu diantara mereka, tetapi kadang-kadang mereka, harus menahan nafas melihat gerak senjata kedua belah pihak.

“Kenapa Sidanti tidak mempergunakan senjata khususnya. Akhir-akhir ini Sidanti sering mempergunakan senjata rangkap. Pedang dan senjatanya yang mengerikan itu.” bertanya Agung Sedayu.

Ki Tahu Melir menggelengkan kepalanya, “Entahlah, tetapi agaknya Ki Tambak Wedi telah menentukan bahwa senjata mereka harus sejenis.”

Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Perhatian mereka benar-benar dicengkam oleh perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru. Alap-alap Jalatunda ternyata menjadi semakin lincah. Selama ia berada di Tambak Wedi, agaknya ia telah mempergunakan waktunya yang terluang sebaik-baiknya. Sedang Sidanti hampir tidak mendapat perubahan apa-apa. Tingkatan ilmunya pun masih juga seperti yang pernah dilihatnya. Hanya beberapa unsur gerak yang kini menjadi luluh dengan serasi seolah-olah menjadikannya semakin kaya dan cekatan.

Tetapi lebih daripada itu, nafsu dan tekad yang menyala-nyala di dalam dada Alap-alap Jalatunda agaknya telah menjadikannya seorang yang aneh. Kekuatannya seolah-olah menjadi berlipat ganda. Kecepatannya bergerak kadang-kadang ada di luar dugaan, bahwa Alap-alap Jalatunda mampu melakukannya. Pengaruh tidak tuak di kepalanya pun agaknya telah membuatnya seperti orang kesurupan.

Meskipun demikian, matanya masih juga melihat dengan jelas ujung senjata lawan. Alap-alap Jalatunda itu masih juga tidak kehilangan akal menghadapi saat-saat yang sulit karena serangan-serangan Sidanti.

Namun demikian, semakin lama perkelahian itu berlangsung, maka semakin jelaslah bagi mereka yang memiliki ilmu yang cukup, bahwa betapa Alap-alap Jalatunda itu maju pesat sekali, dan betapa ia berkelahi dengan penuh nafsu kemarahan serta pengaruh tuak di kepalanya, tetapi ia masih belum berhasil menyejajarkan diri dengan Sidanti.

Meskipun perkelahian itu agaknya masih tampak seimbang, tetapi Sidanti masih cukup cerdik untuk menyimpan tenaga yang pada saatnya akan dapat mengakhiri perkelahian itu. Dan inilah yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh Alap-alap Jalatunda.

Ia menganggap bahwa apa yang terjadi itu adalah puncak dari kekuatan, ilmu, kelincahan dan segala macam unsur dalam tata perkelahian. Tetapi ia tidak memperhitungkan, bahwa waktu pun akan turut menentukan akhir dari perkelahian itu.

Namun demikian, saat yang menegangkan itu sangat berbahaya pula bagi Sidanti. Kesalahan dan kelengahan akan segera mengakhiri perkelahian.

Sekejap demi sekejap perkelahian itu menjadi semakin dahsyat. Bahkan kini tubuh-tubuh mereka telah mulai dialiri oleh titik darah dari goresan-goresan ujung pedang pada tubuh mereka. Tetapi darah yang bercampur dengan keringat ternyata telah menjadikan mereka semakin buas.

Dengan demikian maka mereka, yang menyaksikan perkelahian itu pun menjadi semakin tegang. Wajah-wajah mereka menjadi keras dan mata mereka seakan-akan tidak berkedip lagi. Bahkan Ki Tambak Wedi pun kini menjadi semakin tegang pula. Mau tidak mau ia terpengaruh oleh keadaan kedua anak muda yang sedang berkelahi itu. Ia tidak dapat melepaskan diri dari hubungan pribadi antara dirinya dengan Sidanti, sebagai guru dan murid. Sehingga mau tidak mau, betapapun ia mencoba untuk berdiri di tengah-tengah, melepaskan diri dari persoalan yang sedang berlangsung itu, namun orang tua itu di dalam hatinya sudah berpihak kepada muridnya. Ia mengharap Sidanti memenangkan perkelahian itu, tetapi ia juga mengharap agar Alap-alap Jalatunda dan orang-orang Jipang tidak menjadi sakit hati. Demikian asyik ia melihat perkelahian itu, sehingga Ki Tambak Wedi tidak melihat apa yang terjadi di sekitarnya, apalagi melihat orang-orang Sangkal Putung dan Jati Anom, sedang wajah-wajah orang yang berada di sekitarnya pun tidak dilihatnya. Wajah-wajah yang memancarkan suatu sikap dalam menghadapi perang tanding itu. Orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi sendiri ternyata berbagi sikap. Mau tidak mau mereka memihak kepada kawan terdekat.

Sanakeling yang hitam itu pun kini tidak lagi acuh tak acuh melihat perkelahian itu. Wajahnya kini tampak menjadi bersungguh-sungguh. Dahinya berkerut-merut dan matanya bersinar, memancarkan kemarahan dan kejengkelan. Betapa ia menyesali tindakan Alap-alap Jalatunda, tetapi ia tidak rela apabila ia harus menyaksikan Alap-alap Jalatunda menjadi korban dalam perang tanding itu. Alap-alap Jalatunda adalah kawan yang telah lama berada dalam satu lingkaran pahit manisnya peperangan melawan Pajang. Meskipun untuk sementara mereka tidak berkumpul di dalam satu lingkungan karena Sanakeling berada di daerah Utara, namun akhirnya mereka bersama-sama mengalami masa yang paling pahit dalam perjuangan mereka. Perjuangan yang tidak berujung pangkal. Yaitu pada saat-saat matinya Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan. Kemudian keinginan Sumangkar untuk menyerahkan diri kepada Senapati Pajang yang masih muda, yang bernama Untara, yang kini berada di ujung hidung mereka lagi. Hubungan yang telah terjalin selama ini, hidup dalam satu lingkungan yang dibumbui oleh asin asamnya peperangan, telah menumbuhkan rasa setia-kawan yang dalam.

Tetapi ternyata sikap itu bukan sekedar sikap Sanakeling. Hampir setiap prajurit Jipang merasa, seolah-olah mereka sendirilah yang berada di dalam arena melawan Sidanti. Tanpa mereka sadari maka perkelahian itu telah mengingatkan mereka pada peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Terbunuhnya Plasa Ireng. Bukan saja terbunuh oleh ujung senjata di dadanya. Tetapi mayatnya pun kemudian mengalami perlakuan yang mengerikan. Dan itu dilakukan oleh Sidanti, yang kini berkelahi melawan Alap-alap Jalatunda.

Kenangan itu ternyata telah membuat orang-orang Jipang semakin benci dan muak melihat Sidanti yang lincah cekatan itu bertempur di dalam arena. Bahkan satu dua di antara mereka ada yang hampir-hampir tidak tahan lagi. Hampir-hampir mereka meloncat masuk ke dalam arena untuk bersama-sama melawan Sidanti yang bagi mereka sangat memuakkan karena sikapnya yang sombong. Sidanti merasa, bahwa ia adalah anak murid Ki Tambak Wedi yang menguasai padepokan ini. Sehingga seolah-olah semua orang di padepokan ini harus tunduk kepadanya. Kekuasaannya justru menjadi terlampau besar, melampaui kekuasaan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

Sementara orang-orang Jipang dan Tambak Wedi merasa berada di satu pihak dalam kepentingan yang sama, mereka dapat melupakan kebencian itu. Tetapi kini, kebencian, muak dan kejemuan seolah-olah telah mencengkam dada setiap orang Jipang.

Demikianlah perkelahian itu berlangsung terus. Tubuh Alap-alap Jalatunda kini telah menjadi basah kuyup. Basah oleh keringat dan titik darah dari luka-lukanya. Namun tubuh Sidanti pun tidak juga dapat menghindari sentuhan-sentuhan senjata lawannya, sehingga goresan-goresan pedang Alap-alap Jalatunda pun telah meneteskan darah anak Tambak Wedi itu pula.

Titik-titik keringat itu pun mengalir dari dahi Ki Tambak Wedi yang tua. Wajahnya sejenak menegang, tetapi kemudian semakin lama menjadi semakin kendor ketika ia melihat bahwa keadaan Sidanti menjadi semakin baik. Kini Sidanti mendapat waktu untuk mengatur pernafasannya. Meskipun ia masih harus berjuang sekuat-kuat tenaganya, tetapi orang tua yang bermata tajam setajam mata burung hantu itu mampu melihat, bahwa keadaan Sidanti sudah tidak berbahaya lagi.

Namun tidak demikian halnya deugan orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi. Mereka masih juga dicengkam oleh ketegangan yang justru menjadi semakin memuncak. Betapapun juga, akhimya mereka dapat melihat, bahwa kedudukan Sidanti masih lebih baik dari kedudukan Alap-alap Jalatunda.

Meskipun kerut-merut di wajah Ki Tambak Wedi sudah tidak sedalam semula, tetapi perhatiannya masih juga tersangkut seluruhnya pada perkelahian itu. Perkelahian itu menjadi begitu mengasyikkan baginya, seolah-olah ia mendapat kesempatan melihat muridnya berlatih dengan memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Dalam perkelahian itu ia sempat melihat kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Sidanti. Kemungkinan-kemungkinan yang baik yang dilepaskannya tanpa menyadari akibatnya. Dan unsur-unsur gerak yang masih belum matang dan serasi dalam hubungan keseluruhan.

Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta pun masih juga dicengkam oleh ketegangan. Meskipun Ki Tanu Metir pun kemudian melihat kelebihan Sidanti atas Alap-alap Jalatunda, namun ketegangan yang mencengkamnya mempunyai bentuk yang berbeda dengan apa yang terjadi atas Ki Tambak Wedi. Kini Ki Tanu Metir ditegangkan, bukan saja oleh perkelahian itu, tetapi terutama oleh rencananya. Perkelahian itu agaknya telah mendekati akhirnya. Apakah saat itu pasukan Untara, setidak-tidaknya mereka yang berkuda telah berada di luar padepokan ini? Seandainya mereka telah datang, mudah-mudahan para penjaga dan peronda tidak melihatmya. Dalam hal ini ia percaya kepada Untara, seorang pemimpin prajurit yang telah cukup berpengalaman.

Namun sebenarnya Ki Tanu Metir tidak perlu mencemaskan Untara kalau ia akan dapat dilihat oleh para peronda dan para penjaga. Sebab pada saat itu hampir, setiap orang di padepokan Tambak Wedi telah berada dan berkerumun di sekitar banjar para pemimpin padepokan itu. Sebagian besar berada pada lingkaran yang mengelilingi arena, namun sebagian yang lain berada di atas dinding-dinding halaman. Mereka melihat perkelahian itu dari atas dinding, dari pepohonan dan bahkan dari atap-atap rumah. Sedang mereka yang tidak mendapat kesempatan untuk melihat, berkumpul di jalan-jalan di muka banjar itu. Seolah-olah mereka berada pada suatu puncak ketegangan, pada saat-saat mereka berada dalam gelar perang yang telah berhadapan wajah dengan gelar lawan.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Oktober 2008 at 21:23  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-23/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pemikiran saya 100% sama… memang tidak mungkin memuaskan setiap orang, tp seperti yang sudah pernah saya katakan, tepa selira harus tetep langgeng…
    apa lagi, ADBM ini kita pahami bukan hanya cerita silat belaka… tetapi pelajaran budi pekerti yang wajib kita wariskan ke anak cucu kita…
    apalagi sudah sangat terasa.. bahwa pergeseran budaya yang makin mendewakan emosional.. bukan penalaran..
    bahkan ini yang menjadi acuan begawan marketin Hermawan Kertajaya dengan teorinya marketing in venus..
    semua kemunduran bangsa ini, memang karena mental manusianya… mudah-mudahan dari kelompok kecil kita ini kita bisa membuat perubahan yang berarti…
    Salam Hangat

  2. Mas DD, ini sekedar pendapat saya saja.

    Secara pribadi saya ingin sekali setiap hari ada upload file djvu, sehingga bisa segera mengikuti sambungan cerita berikutnya sampai dengan jilid terakhir.

    Jika kita menginginkan cita-cita luhur adanya proyek “retype” dan keinginan untuk memberikan legacy yang bernilai kepada generasi yang akan datang tetap berkesinambungan, namun mengingat bahwa retype ini sukarela, maka dikhawatirkan gap antara upload djvu dengan file retype akan semakin panjang dan orang akan semakin malas untuk retype. Sehingga dikhawatirkan proyek retype akan terbengkalai.

    Bagaimana kalau dibuat semacam komitmen, tidak akan upload file djvu jilid berikutnya sebelum jilid sebelumnya sudah di retype semuanya, sehingga yang menginginkan cerita sambungannya akan berusaha melakukan retype?

    Sekedar usul saja lho mas, mudah-mudahan tidak membuat marah bagi yang menginginkan segera adanya upload file djvu jilid berikutnya.

    D2: Usul yg baik. Saya se7.

  3. mas DD seperti yg sdh tak bayangkan bahwa akhirnya adbm ini hanya akan menjadi bacaan sebagaian kelompok saja,sementara yg lainnya seperti sy hanya bs menonton saja atau pindah ke warung sebelah,,,dg format yg skrg ssh bg yg tdk bs membaca melalui djvu, menunggu retype pun semakin membingunggkan karena yg sdh di retype lgsg bermunculan di box coment secara acak,,btw memang kadang untuk kemajuan itu musti ada yg dikorbankan ya….,btw lg…pepatah yg berbunyi alon alon asal klakon tu sdh gak jaman lg ya….,,,saya si ttp dtg kesini walau cm tuk bc coment2 yg semakin rame,,hitsnya jg san soyo akeh nampaknya…

  4. Bung DD, mungkin ndak ya retype dilakukan oleh tenaga profesional? maksud saya kita “bantingan” meng”honor” retyper. Kalau 1 edisi (100 buku) bisa 1-2 bulan retype, tampaknya mungkin apabila retypenya dilakukan setiap hari. Ada ndak ya kawan-kawan yg kerjaannya profesional retyper? Bung Rizal kok ilang

  5. Mas DD,
    Saja mengikuti adbm sejak di blognya mas Rizal. Saya mengikuti lebih sering lewat PDA ketimbang Notebook. Kerepotan kawan2 yg aktif meneruskan adbm sampai ke blog ini juga saya ikuti. Tapi mohon maaf saya nggak bisa ikut rame2 berjuang.
    Saya lihat banyak kawan2 pembaca yg dropout nggak bisa mengikuti karena perubahan format ke DjVu. Karena memang format tsb belum populer seperti pdf. Saya usul, untuk mengakomodir kawan2 yg nggak bisa baca DjVu, format yg dipakai pdf saja yg lebih populer. Kalau ukuran file lebih besar bisa di pecah jadi beberapa. Mudah2an bisa menolong sebagian kawan2 yg ketinggalan. Terimakasih dan selamat berkarya sosial.
    Salam, HH

  6. Saya mendukung usulan Bung TT (lah, setalah ada bung DD, kemudian bung TT, nanti akan ada bung AA, bung BB, bung CC, dll :-)), apakah memungkinkan dibuat account khusus?
    Para adbm-er dapat memberikan donasi ke account tsb, kemudian donasi tsb dipakai untuk “honor” bagi para retyper professional. Sementara retyper sukarela juga masih tetap dapat menyumbangkan hasil retype-nya.
    wah, maunya kerja sosial, kayaknya malah makin membuat bung DD semakin ribet ya…:-)

  7. Salam Mas D2..
    Kayaknya bisa dimengerti kenapa Bung Rizal ga nerusin ADBM di blog lama. terbayang ga kalo di retype bisa makan waktu 8 tahun!!???. Lha emang cuma ngurusin ADBM doang??..Angkat jempol dengan terobosan Mas D2 dengan format DJVU nya…,(konon itu juga “cuman” 1 tahun bisa tamat). Bisa dibayangin, Mas D2 dalam kerja rutinnya selalu dibayangi ADBM yg mesti buru2 dikebut.., wah ga kebayang deh kalo saya yg mesti spt mas D2.., angkat 2 jempol demi memuaskan orang lain.

    Masalah format.., ga usah berkeluh kesah.., apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi kalo kembali hrs retype dlm format PDF…, duh.., kasian mas D2 nya dong!…Awalnya saya juga gaptek DJVu tapi kan ada petunjuk2…, ikutin aja…, dan ternyata jauh lebih nyaman dan cepat, dan sangat membatu meringakan kerjaan gratis Mas D2.
    Percaya deh.., apapun medianya, PC,PDA dsb.., cepat atau lambat akan ikut ngikutin teknolgi.
    Jadi menurut saya… teruskan saja format DJVu nya..,bisa lebih cepat, dan membantu meringankan kerjaan MasD2..maaf saya sendiri ga bisa bantu apa2 selain nimbrung baca.

    Buat rekan2 di padepokan Tambak wedi, ini sedkit gambaran aja.., dengan DJVu reader yg kisanak baca adalah hasil scanning dari asli bukunya.., mgkin agak gagap dengan Ejaan Lama, tapi ga masalah.., malah lucu hehehe..

    “…pada achirnya , semua kebidjaksanaan saja serahkan kembali kepada mas D2…, mana jang kira2 tidak merepotkan, dan tidak menyita waktu Mas D2 itu jang terbaik menurut saja…. saja sudah sangat beruntung sekali ada orang seperti Mas D2 jang mau berbagi, untuk itu saja tidak mau merepotkan.., terima kasih banjak ja Mas D2…, tjukup sekian kiranja”

  8. @ Para nayaka ADBMers (DD)..
    Klu saya seperti mas Dewo, semula ya agak gagap dan glagepan dng format Djvu, tapi setelah ikuti JUKNIS-nya, ya lancar-lancar saja..Pertimbangannya ya cuma satu, yaitu kejar tayang, jng hanya “alon2 waton kelakon” tapi harus “yo klakon yo maton”

    Klu ada yg mau kerja profesional (dng honor misalnya) spt usul TT silahkan saja, tapi mbokiyao yang mau kerja gratisan juga diberi “tempat”, dng kesempatan itu, merupakan salah satu wahana sosial yang mgkin nggak bisa disalurkan ke tampat lain. Untuk itu saya tetap mendukung kerja retype relawan, tapi hrs tetap mengutamakan kualitas..

  9. Saya tidak yakin kalau hanya retype saja, meskipun dikerjakan oleh 100 orang, bisa diselesaikan dalam waktu 5-6 tahun mengingat bakal berubahnya komitmen dan prioritas banyak orang. Sebaiknya konsentrasi ke scan & upload saja, tidak usah meniru NSSInya gadjahsora yg hanya 4%nya ADBM. Kalau 2 buku per minggu atau 3 buku per 2 minggu, maka dalam 1 tahun sisa 373 sudah selesai (?!)
    Djvu bisa diconvert ke pdf hitam putih hanya dengan tambahan 20% djvu’s file size. Saya sudah coba, hanya tidak bisa upload di website.
    Dengan gotong royong barisan ke 2 bisa membantu mereka yg tidak bisa baca djvu, baik itu melalui japri atau tambahan blog lain.

  10. Alhamdulillah,
    sebagai adbm-er turut berbahagia sudah mulai banyak yang bisa menikmati enak dan nyamannya format djvu. Terima kasih atas usaha keras Mas DD.

    Kembali Juknis (maaf Mas DD, saya mengulangi juknis):
    ambil program dari download.

    Saya pribadi memilih STDU viewer.
    program yang didownload akan tertulis :stduviewer.
    Windows biasanya menyembunyikan extention. Untuk membukanya:
    Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    Setelah tanda thick (centang) dihilangkan maka file yang didownload akan tampak:
    stduviewer.doc
    stduviewer.doc kemudian di rename (klik kanan>rename), diubah menjadi
    stduviewer.exe
    saat mengubah extention file akan muncul tulisan

    If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    kemudian stduviewer.exe diinstal.

    atau kalo gak mau ribet ganti extention download langsung dari sini:
    http://www.download25.com/install/stdu-viewer.html

    Setelah STDUViewer diinstal harap tidak terkejut jika nanti seluruh file pdf yang biasanya dibuka dengan program adobe akan muncul sebagai file yang akan dibuka sebagai stuviewer. Jika tetap menginginkan file pdf tetap sebagai file yang bisa dibuka dengan adobe mungkin jangan instal stduviewer tetapi instal WinDJview saja, caranya sama dengan di atas.

    Nah, sekarang tiba saat saat yang ditunggu.
    download adbm-jilid-023.pdf yang sudah dipost Mas DD.
    file yang didownload di komputer akan muncul sebagai adbm-jilid-023.pdf

    Jika extentionnya masih di sembunyikan oleh windows maka filenya hanya tertulis adbm-jilid-023 dengan icon adobe, sehingga extentionnya harus dibuka dengan cara Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    adbm-jilid-023.pdf kemudian di klik kanan>rename diubah menjadi adbm-jilid-023.djvu
    pada saat mengubah extention file akan muncul tulisan: If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    Setelah dibuka, atur zoom (50%-500%) sesuai dengan keinginan berapa besarnya huruf dan layar untuk membaca adbm.

    Sudah deh, bisa menikmati adbm sambil makan ubi goreng.

  11. Catatan tambahan Juknis:

    Untuk komputer kantor, biasanya ada peraturan tidak boleh instal software tertentu karena issue copyright, network security, beban kerja local network, dll.

    Namun WinDJview atau stdviewer adalah freeware.
    Bisa download langsung Windjview di sini:
    http://www.softpedia.com/get/Office-tools/Other-Office-Tools/WinDjView.shtml

    Freeware, adalah software yang bebas dipakai, jadi kantor tidak perlu khawatir dengan issue copyright. Program ini juga tidak akan menimbulkan beban local network serta issue security, sehingga orang dari departemen IT mudah-mudahan tidak keberatan jika kita instal program ini di komputer kantor (malah orang-orang staf IT akan berterima kasih barangkali karena mereka juga pengin ikut menikmati adbm :-).

  12. Saya adalah seorang yg sebaya dg Widura dan lumayan gaptek. Kalo 3 langkah saya adalah:

    A. Download & install “Windjview” (dari salah satu dari sekian banyak hasil search di google)

    B. Masuk website tercinta (adbm)-> klik buku (misal) 22-> ke halaman yg mas DD tulis “full version djvu”->klik kanan link “adbm-buku-022”->save as copy….->taruh di folder yg sdh disiapkan.

    C. Buka/jalankan “Windjview”, open file->pilih file DAN ganti Files of type ke “All Files”. Sudah..!!!

    …yg disampaikan anakmas Dewo tidak salah,…apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi itu (mestinya) nggak lama kok. Jaman dulu kita pakai program WS & Lotus123, lantas beralih ke MS-office ya cuma sebentar kagoknya….

    Dg menikmati ejaan lama plus mirang-miringnya hasil scan, justru menambah heroiknya perjuangan kita dalam meraih cita2, spt membaca guratan2 gambar silat Agung Sedayu di rontal… he.. he.. bercanda..

    Maturnuwun sanget kagem anakmas DD lan sanak kadang ingkang sampun ikhlas sharing harta karun menika.

    Salam

  13. Dear bung Dede & ADBMers,
    Saya ucapkan terima kasih atas upaya bung Dede & team untuk memosting ADMDeJavu (selanjutnya saya singkat ADMD). Untuk membagi kebahagiaan membaca ADMD yang cukup cepat penayangannya, saya ingin memeberikan pengalaman saya mendapatkan viewer (alat baca) ADMD yang gratis, freeware, dan menurut saya paling gampang, agar teman2 yang belum dapat akses dapat ikut serta menikmatinya.

    1. Dari google, cari (search) dengan mnegetik: “download djvu viewer”. Dari situ anda akan diantar ke web: LizardTech.
    2. Saya sendiri mengambil (klik pilihan kedua) yaitu:
    http://www.djvuzone.org/download/index.html
    3. Paling kanan atas akan muncul pilihan DJVU Plug-in. Klik dua kali.. dan download mulai, jangan lupa install sekalian. Setelah instalasi, di desktop anda akan muncul kotak Djvu Viewer.

    Sampai tahap ini saya harap belum muncul kesulitan, tetapi kalau masih, silakan post comment nanti saya atau teman2 lain bantu.

    4. Untuk download bacaan ADMD, kita buka ADMCadangan, dan buka/klik nomor buku yang akan dibaca (mis. buku 23). Pada setiap buku ada halaman (pages). Biasanya bacaan dalam format djvu ada di halaman 1 atau 2. Right click (klik kanan) bahan tersebut, akan muncul pilihan “save link as”. Kalau andapilih option tersebut bahan bacaan akan tersimpan di desktop anda (atau tempat lain yang anda tentukan).

    5. Untuk membaca ADMD dengan nomor tertentu, kita seret (drag) bacaan yang sudah didownload ke djvu vIewer di desktop.

    Selamat mencoba.
    GI

    NB. Di lokasi saya djvu belum populer. Nampaknya ini format yang dipromosikan oleh WordPress (yang juga belum populer). Saya sedang mencoba mencari software untuk transfer djvu ke pdf. Saya sudah coba tiga cara: (1) dengan mengattach “cutewriter” untuk kemudian print ke pdf, (2) tranfer langsung via UDC (Universal Document Converter), (3) transfer via IrfanView. Ketiganya belum berhasil. Mungkin ada teman lain yang pernah mencoba salah satu dari yg tsb di atas.

  14. Buku 23 halaman 77

    … (dari halaman 76) Berada di sarang lawan. Apapun yang terjadi harus kita tanggungkan.”

    Sejenak Swandaru memandangi wajah Agung Sedayu. Dan sesaat kemudian ia berkata, “Ia adalah pendapat yang paling baik. Mari kita masuk.”

    “Aku sudah mempunyai jalan yang paling baik untuk memasuki rumah itu.” Berkata Wuranta. “Jangan lewat pintu depan. Sidanti masih menempatkan satu dua pengawas di sekitar tempat ini. Biasanya di rumah di muka rumah ini.” Berkata Wuranta

    Agung Sedayu dan Swandaru memandanginya sejenak. ”Jalan manakah yang kau maksud?”

    ”Aku kira jalan yang telah di pergunakan oleh Alap-alap Jalatunda.” jawab Wuranta. ”Lihatlah sudut rumah itu.”

    Karena cahaya pagi telah memercik keatas padepokan Tambak Wedi itu pula, maka segera mereka melihat bahwa sudut rumah itu telah terbuka.

    ”Hem..” Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menjadi tergesa-gesa untuk segera menemui adiknya. Maka katanya, ”Marilah. Apalagi yang kita tunggu? Kalau sebentar lagi Sidanti datang kemari, biarlah aku menyambutnya.”

    Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kalimat itu telah menumbuhkan kekaguman di hati Wuranta. Katanya di dalam hati, ”Anak muda putra Ki Demang Sangkal Putung ini agaknya seorang anak muda yang pilih tanding. Kebenciannya kepada Sidanti sampai ke ujung ubun-ubun. Dan agaknya ia mampu mengimbanginya.” Tetapi Wuranta itu tidak mengucapkan sepatah katapun.

    Mereka bertigapun kemudian pergi ke sudut rumah. Perlahan-lahan Swandaru merenggangkan dinding.

    ”Dinding ini memang sudah terbuka.” bisiknya perlahan-lahan.

    ”Masuklah.” sahut Agung Sedayu.

    Dengan hati-hati Swandaru yang gemuk itupun merangkak masuk. Tetapi agaknya jalan itu terlalu sempit baginya, sehingga anak yang gemuk itu sedikit mengalami kesulitan.

    ”Tolong, tariklah dinding ini. Bajuku terkait.” desis Swandaru.

  15. Bung GI,

    Aku nyoba pakai DJVULibre, bisa untuk export ke pdf, jpg, atau format lain. Percobaan export ADBM_jilid_19.djvu yang ukurannya 1.2 MB ke format pdf, ukurannya menjadi 24.7 MB.

    -kris-

    D2: Ada cara “mubeng jok-teng” Mas Kris. Halaman djvu dikopi blok dan disimpan sbg image (JPG). Lalu dikonvert sebagaimana sebelumnya. Cuma ya harus mengkopi tiap halaman menjadi file JPG. Satu lagi, mungkin BD telah mengurangi resolusinya (terlihat dari gambar ilustrasi yang pecah) shg mungkin hasil konversinya kurang memuaskan. Tapi mungkin bisa dicoba. Hasil konversinya bisa ditayangkan di boks koment jilid ybs. Mungkin ada kawan yg mau ntlateni ketimbang retype

  16. buku 23.doc nya di attach di page 1? bukan di page 2?

    D2: Tx, nanti aku pindah

  17. Ngedownload djvu2nya tuh di mana ya ? Gw cari2 gak ketemu.

  18. Kalo cara ubah pdf ke djvu gimana ya??
    Ada yg tau ga? Kalo ada tolong email ke s1au_y3n@yahoo.com ya…
    thx ya…^^

  19. Assalamu’alaikum ww

    dengan ini perkenankalah saya mengenalkan diri :
    nama : Sumartono, lahir di Jogyakarta
    saya ikut seneng bisa ikutan baca serial yang sangat menarik ini, sewaktu kecil gak pernah bias beli bukunya.
    Saya sangat berterimakasih pada penyelenggara situs ini.
    semoga rezekinya ndlidir tur akeh. Amin
    sebetulnya saya pingin sekali ikutan nyumbang tenaga sebagai cheker gitu lho, untuk meminimize kesalahan ketik, saya juga bisa ketik dengan blind system. mohon maaf bila kurang berkenan dihati.
    demikianlah, salam perkenalan dari saya, sekali lagi mohon maaf dan thousand thanks.
    wassalam,

    $$ salam kenal Ki. selamat datang di padepokan.

  20. Alap alap Jalatunda mati
    dicubles pedange Sidanti
    mbah_man,,,,,,lanjutane ADBM pundi..???
    para cantrik wes pada ngenteni….!!!!!

    • hayo kanca2 pada ANTRI ning sini…..!!??

    • KI Gembleh, terusan adbm di gandhok gagak Seta

      • mari tak inguk sing onok mung nyi dwani mita thok til je mbah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: