Buku 23

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Tetapi ia sama sekali tidak menyesal menghadapi perang tanding ini. Kecuali kepalanya memang telah dicengkam oleh tuak, juga karena kebenciannya kepada Sidanti telah benar-benar memuncak.

Namun berbeda dengan Alap-alap Jalatunda, Sekar Mirah yang masih juga mendengar ucapan itu, hatinya menjadi semakin pedih. Ternyata dalam tanggapan Alap-alap Jalatunda, dirinya tidak lebih daripada perempuan-perempuan yang dijumpai orang itu di sepanjang jalan. Karena itu, maka tiba-tiba Sekar Murah itu jatuh tertelungkup. Wajahnya disembunyikannya di bawah telapak tangannya. Dan tangisnya meledak tanpa dapat dikendalikannya.

Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda tertegun sejenak. Sesaat mereka berpaling, tetapi ketika Alap-alap Jalatunda akan berbalik, berkatalah Sanakeling, “Kau masih harus melakukan perang tanding untuk dapat menjamahnya.”

Alap-alap Jalatunda mengangguk. Tetapi Sekar Mirah memekik tinggi. Dan tangisnya meledak-ledak semakin keras.

Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu pula diikuti oleh orang-orangnya. Dan pintu depan pun kemudian tertutup. Dua orang pengawas telah mendapat tugas untuk mengawasinya.

Ruangan itu pun kemudian menjadi lengang. Hanya tangis Sekar Mirahlah yang masih terdengar memenuhinya. Tetapi tangis itu pun seakan-akan hilang saja ditelan oleh gelapnya malam. Bahkan kedua pengawas itu pun berjalan menjauh, karena mereka tidak tahan mendengar tangis Sekar Mirah yang sama sekali tidak terkendali.

Tetapi di balik dinding belakang rumah itu, sepasang mata masih saja mengintai dari lubang-lubang dinding, melihat ke dalam ruangan yang lengang itu. Orang itu masih belum beranjak dari tempatnya. Bahkan seakan-akan ia tidak sampai hati untuk meninggalkan Sekar Mirah dalam keadaan itu.

Sekali-sekali orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba timbullah niatnya untuk mencoba masuk dan mencoba menghibur gadis itu supaya berhenti menangis dan tidak lagi terlampau mencemaskan dirinya.

Dengan hati-hati orang itu berdiri. Digesernya tubuhnya ke sudut rumah itu. Tidak dengan sengaja, maka dicobanya untuk melihat dinding di sudut rumah.

Orang itu melihat tali-tali pengikat dinding rumah itu telah diputuskan. Sehingga segera ia tahu cara Alap-alap Jalatunda masuk. “Hem,” ia bergumam lirih sekali, “dari sini Alap-alap itu masuk.”

Kemudaan bulat pulalah tekadnya untuk memasuki ruangan itu pula. Tak ada niat apa pun di dalam hatinya, selain meredakan kepedihan hati Sekar Mirah. Mungkin dengan kehadirannya, maka luka hati gadis itu dapat sedikit terobati, dan dengan kehadirannya, maka gadis itu tidak terlampau dalam dicengkam oleh ketakutan melihat masa-masa yang akan datang.

Perlahan-lahan dan hati-hati sekali ia mencoba menarik dinding bambu di sudut itu. Sedikit kekuatan yang diberikan, maka dinding itu telah menganga. Dan ia akan segera dapat masuk ke dalamnya.

Tetapi orang itu terperanjat bukan main, sehingga darahnya hampir berhenti mengalir. Tanpa diketahui sangkan-paran arah datangnya, tiba-tiba ia telah melihat sesosok tubuh berdiri di sampingnya. Karena itu, maka dengan serta-merta dilepaskannya dinding rumah itu. Selangkah ia meloncat surut sambil menarik pedangnya. Tetapi sebelum ia dapat berbuat sesuatu, maka pedang itu telah terlepas dari tangannya.

Orang itu seolah-olah membeku karenanya. Ia tidak dapat membayangkan, kekuatan dan ilmu apakah yang telah menggerakkan bayangan itu demikian cepatnya, merampas pedang hanya dalam waktu sekejap, dengan seolah-olah tanpa menggerakkan tubuhnya?

Sejenak orang itu tercenung memandangi bayangan yang hanya tampak kehitam-hitaman di dalam gelap malam.

Hatinya berdesir ketika bayangan itu kemudian berkata perlahan-lahan, “Kau memang berani, terlampau berani.”

Tanpa dikehendakinya sendiri orang itu pun menjawab perlahan-lahan, “Apa pedulimu? Tetapi siapakah kau?”

Terdengar suara tertawa lirih.

“Siapa?” orang itu mendesak.

“Untunglah bahwa Ki Tambak Wedi sedang ditegangkan oleh peristiwa yang dihadapinya, yang agaknya sangat memukul hatinya,” bayangan itu berkata seakan-akan tidak menghiraukan pertanyaan orang itu. “Kalau tidak, maka kau pasti sudah menjadi pengewan-ewan di sini, Ngger.”

“Siapa kau?” orang itu mendesak pula, dan ia pun seolah-olah tidak mendengar kata-kata bayangan itu.

“Inilah pedangmu,” berkata bayangan itu sambil memberikan pedang yang dirampasnya.

Orang itu merasa aneh. Tetapi ia merasa pula bahwa orang itu tidak bersikap bermusuhan terhadapnya. Ketika orang itu berkata seterusnya dalam nada yang berbeda, maka orang itu pun sekali lagi terperanjat, “Apakah kau tidak kenal aku, Ngger.”

Nada yang kini adalah nada yang pernah didengarnya. Bahkan sering didengarnya memberinya berbagai macam petunjuk, sehingga dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah Kiai ini Ki Tanu Metir?”

Terdengar bayangan itu tertawa. Suara tertawanya pun kini berbeda dari suara yang didengarnya tadi. “Ah,” desah orang itu, “Kiai mengganggu dan menakut-nakuti aku.”

“Tidak, Ngger,” jawab bayangan yang tidak lain adalah Ki Tanu Metir. “Aku berkata sebenarnya. Angger terlampau berani berbuat malam ini. Mungkin Angger kurang menyadari bahaya yang dapat menerkam Angger setiap saat. Tetapi aku tidak sempat memperingatkan Angger. Untunglah Ki Tambak Wedi benar-benar sedang dibingungkan oleh muridnya.”

“Bagaimana Kiai dapat masuk ke dalam sini?” bertanya orang itu.

“Kenapa Angger Wuranta malam ini tidak turun ke Jati Anom?” bertanya Ki Tanu Metir.

Orang itu, yang tidak lain adalah Wuranta, menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku hampir digantung Kiai. Kalau malam ini aku tidak dapat keluar dari padepokan ini, maka besok pagi, sesudah perang tanding itu selesai, orang-orang padepokan ini akan beramai-ramai memburuku dan menangkap aku seperti menangkap kelinci.”

“Kenapa?”

“Ki Tambak Wedi telah mengetahui segalanya. Bahkan Ki Tambak Wedi telah mengetahui, bahwa Adi Swandaru dan Agung Sedayu berada di rumahku. Tetapi Ki Tambak Wedi sama sekali tidak menyebut Kiai berada di sana pula.”

Orang tua yang terlindung dalam kegelapan itu tegak seperti patung. Tetapi terdengar nafasnya menjadi semakin cepat. Terasa hatinya menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan ia bertanya, “Jadi Ki Tambak Wedi sendiri telah melihat Jati Anom dan rumahmu?”

“Ya. Lalu sepulang dari Jati Anom agaknya para pemimpin padepokan ini mengambil keputusan untuk malam ini juga menyerang Jati Anom.”

“Ya, aku sudah mendengarnya tadi. Tetapi serangan itu tertunda karena peristiwa ini.”

“Ya, Kiai.”

“Kita berselisih jalan,” gumam Ki Tanu Metir. “Ki Tambak Wedi ke Jati Anom, dan aku datang ke mari. Mungkin Ki Tambak Wedi menempuh jalan yang sering kau lalui pula. Aku memang mengambil jalan lain. Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam.

Wuranta pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu sekarang, kenapa ketika Ki Tambak Wedi mengintip rumahnya, yang dijumpainya hanya Swandaru dan Agung Sedayu. Agaknya pada saat itu Ki Tanu Metir telah meninggalkan Jati Anom pula menuju ke padepokan ini.

Dan Wuranta itu pun kemudian bertanya pula, “Tetapi bagaimana Kiai dapat masuk ke dalam padepokan ini?”

Ki Tanu Metir tersenyum. Ia tidak segera menjawab pertanyaan itu, bahkan ia bertanya kepada Wuranta, “Angger. Apakah sebabnya Angger besok akan menjadi orang buruan di dalam padepokan ini? Apakah Ki Tambak Wedi dapat mengetahui hubungan Angger dengan orang-orang Jati Anom?”

“Ya, Kiai,” sahut Wuranta, “justru karena Adi Swandaru dan Agung Sedayu yang berada di rumahku. Sebelum itu Ki Tambak Wedi telah bertanya-tanya pula kepada Sidanti bagaimana saat-saat ia menemukan aku di Jati Anom. Dengan demikian maka Ki Tambak Wedi berkesimpulan bahwa aku harus digantung.”

“Tetapi kenapa Angger dapat datang ke halaman ini?”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Dipalingkannya wajahnya ke arah rumah tempat Sekar Mirah masih berbaring di lantai sambil menangis.

“Biarkan, Ngger. Tangis kadang-kadang dapat menjadi kawan yang baik bagi seorang wanita. Dan kali ini dapat menjadi kawan yang baik bagi kita, karena dengan demikian percakapan kita tidak didengar orang.”

Wuranta mengerutkan keningnya.

“Bukan maksudku membiarkannya dalam keadaan putus-asa, Ngger. Tetapi sementara ini, biarlah ia meringankan perasaannya dengan tangisnya.”

Wuranta masih tegak seperti patung.

“Sekarang, bagaimanakah kau dapat datang kemari? Apakah dengan keputusan Ki Tambak Wedi tentang dirimu, kau tidak mendapat pengawasan sama sekali?”

“Aku memang sudah ditahan Kiai,” jawab Wuranta. “Aku ditahan di dalam sebuah gubug dengan empat orang pengawal.”

“Lalu?”

“Salah seorang daripada mereka memberi aku kesempatan meninggalkan rumah itu.”

“He?” Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya.

“Orang itu adalah seorang tua tempat aku menumpang selama aku berada di padepokan ini. Agaknya ia senang mendengar sendau-gurauku tepat pada siang hari sebelum aku harus masuk ke dalam rumah itu. Orang itu pulalah yang menangkap aku dan membawa aku ke dalam tahanan. Orang itu pulalah yang sepanjang jalan berada di sisiku sambil berbisik, bahwa aku akan dapat melepaskan diri lewat atap yang ditunjukkan kepadaku, yang ternyata beberapa utas talinya telah diputuskannya. Dan aku diperingatkan adanya seorang pengawas di sudut belakang halaman.”

“Kau dapat memaanfaatkannya?”

“Ya, Kiai. Aku berhasil keluar dari atas atap itu dan diam-diam menerkam penjaga yang terkantuk-kantuk di halaman belakang. Pedang ini adalah pedang penjaga itu.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Kau memang mempunyai bakat yang kuat di dalam tubuhmu untuk menjadi seorang petugas sandi. Lalu bukankah dengan demikian kau harus keluar dari padepokan ini supaya kau selamat?”

“Ya Kiai. Orang tua yang memberi aku kesempatan itu berkata kepadaku, “Angger, aku hanya dapat memberi kau petunjuk sampai pada lubang di atap ini. Seterusnya, terserah kepadamu. Juga tentang penjaga yang berada di sudut halaman belakang, di bawah pohon ramin itu. Sayang, aku tidak dapat memberimu petunjuk, darimana kau harus keluar dari padepokan ini. Barangkali kau dapat melakukannya besok apabila pasukan padepokan ini sudah berangkat ke Jati Anom. Dengan demikian aku juga tidak berkhianat terhadap pimpinanku. Sebab apabila kau keluar dari padepokan malam ini, maka kau pasti akan menyampaikan kabar ini kepada orang-orang di Jati Anom.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya mendengar ceritera Wuranta. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Angger, kau memang harus segera turun ke Jati Anom sebelum orang-orang itu mencarimu. Kau akan membawa pesan yang harus kau sampaikan kepada Untara. Agung Sedayu dan Swandaru akan mempertemukan kau meskipun kesan tentang dirimu bagi beberapa orang Jati Anom kurang menyenangkan.”

“Tetapi bagaimana aku harus keluar, Kiai?”

Ki Tanu Metir terdiam sesaat. Tiba-tiba ia bertanya, “He, apakah sebabnya orang itu memberimu kesempatan? Apakah bukan sekedar suatu pancingan saja bagimu?”

“Aku rasa tidak, Kiai. Kemarin siang aku berbincang dengan orang itu tentang kesempatan untuk menikmati sinar matahari pagi. Ia berkata kepadaku sebelum aku dilepaskannya. ‘Aku sependapat dengan kau ngger. Aku memang tidak mendapat kesempatan menikmati cerahnya matahari hampir di sepanjang hidupku. Apalagi menikmati keagungan Penciptanya. Sampai setua ini aku adalah budak dari kerja duniawi melulu.’”

Sekali lagi Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hem, agaknya kau mampu juga menyentuh perasaannya yang paling dalam. Nah, Ngger. Sekarang dengarlah. Sebaiknya kau turun ke Jati Anom. Cepat, secepat-cepatnya. Pasukan Untara harus berada di ambang pintu padepokan ini sebelum fajar.”

“He,” Wuranta terkejut, “bagaimana mungkin, Kiai?”

“Keluarlah dari padepokan ini. Aku membawa kuda. Kau pergunakan kudaku. Demikian kau sampai di Jati Anom, maka Agung Sedayu dan Swandaru harus masuk kepadepokan ini secepat-cepatnya. Pasukan Untara yang sempat mendapatkan kuda, kuda yang dibawanya dari Pajang atau kuda yang dapat diambil di Jati Anom harus mendahului yang lain, sedang yang lain secepatnya pula harus menyusul. Aku akan memberi tanda dengan panah sendaren. Ingat, Agung Sedayu harus membawa panah sendaren. Aku atau anak itu harus menunggu di sini.”

“Lalu bagaimana dengan pesan selanjutnya buat Kakang Untara?”

“Ia harus sudah siap secepatnya. Aku mengharap keadaan akan berkembang dengan cepat tanpa dapat terkendali lagi. Aku akan memberikan tanda-tanda untuk setiap gerakan berikutnya.”

Tetapi Wuranta tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia masih saja berdiri memandangi wajah Ki Tanu Metir dengan sorot mata bertanya-tanya.

“Apakah masih ada yang ingin Angger tanyakan?”

“Ya, Kiai,” sahut Wuranta.

“Tentang apa?”

“Tentang pesan itu.”

“Pesan itu?” Ki Tanu Metirlah yang menjadi heran, tetapi kemudian ia menyadari bahwa pesannya terlampau singkat buat Wuranta, sehingga, ia masih perlu banyak penjelasan.

Demikianlah Ki Tanu Metir memberinya beberapa penjelasan tentang pesannya. Untara harus membawa seluruh pasukannya ke ambang pintu padepokan Tambak Wedi. Tetapi supaya sebagian dari mereka segera siap dipergunakan apabila perlu, maka mereka yang mendapatkan kuda harus berangkat lebih dahulu. Sedang yang lain harus segera menyusul.

“Kalau aku melepaskan tiga panah sendaren berturut-turut, ingat Ngger, tiga,” berkata Ki Tanu Metir seterusnya, “maka pasukan Untara harus bergerak memasuki padepokan ini. Tetapi kalau aku melepaskan dua panah sendaren berturut-turut beberapa kali, maka mereka harus mengurungkan niatnya dan kembali ke Jati Anom. Sedang apabila aku melepaskan lima panah sendaren berturut-turut beberapa kali, maka aku memberi tahukan bahwa keadaan Jati Anom gawat. Mereka harus bersiap sedia menyingkiri sergapan Ki Tambak Wedi dan menghindari benturan pasukan.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ki Tanu Metir berkata selanjutnya, “Nah, cepat ke Jati Anom, pakai kudaku.”

“Di mana kuda Kiai, dan dari mana aku akan keluar?”

Ki Tanu Metir tersenyum. Jawabnya, “Bukankah kau pernah berceritera tentang urung-urung sungai. Nah, aku masuk lewat urung-urung itu, Ngger. Aku menyelam sejenak, lalu muncul lagi di balik dinding padepokan ini.”

“Oh,” Wuranta berdesah.

“Apakah kau tidak dapat berenang?”

“Dapat, Kiai.”

“Dan apakah kau kira-kira dapat menyelam lewat, urung-urung yang pendek itu?”

“Ya, Kiai.”

“Nah, ambillah kudaku. Kudaku ada di bagian Selatan dari padepokan ini. Kau berjalan saja sepanjang pinggiran sungai. Kau akan menemukan kudaku terikat pada sebatang pohon turi.”

“Apakah Kiai masuk dari sebelah Selatan?”

“Tidak, sangat sulit untuk menentang arus sungai. Aku masuk lewat urung-urung Utara mengikuti arus.”

“Tetapi kenapa kuda Kiai berada di Selatan?”

“Aku siapkan kuda itu lebih dahulu, apabila setiap saat aku harus menghindarkan diri dari padepokan ini. Aku telah meneliti seluruh keadaan di sekitar padepokan ini.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, “Begitu hati-hati orang tua ini, sehingga semuanya telah diperhitungkannya dengan rapi. Dan kini ia harus pergi ke Jati Anom dengan kuda Ki Tanu Metir itu untuk menyampaikan pesannya kepada Untara.”

Sebelum Wuranta berangkat, Ki Tanu Metir masih berpesan, “Kau, dan juga Agung Sedayu dan Swandaru harus berbuat serupa itu pula, Ngger. Kalian nanti harus mengikat kuda-kuda kalian di bagian Selatan meskipun kalian, akan masuk lewat bagian Utara.”

“Baik, Kiai.”

“Nah, yang paling cepat harus sampai di sini adalah Agung Sedayu, Swandaru, dan kau, Ngger. Kalau aku tidak ada karena aku sedang melihat keadaan, maka kalian harus menunggu aku di sini.”

“Baik, Kiai.”

“Kalau keadaan berbahaya bagi kalian aku akan menungu di bawah pohon turi itu. Kecuali kalau aku ditangkap oleh Ki Tambak Wedi.”

Wuranta tersenyum. Jawabnya, “Aku akan segera pergi Kiai, mudah-mudahan aku dapat melakukan tugas ini.”

“Jangan kau pacu kudamu sebelum kau yakin bahwa derap kudamu tidak akan didengar oleh setiap orang di padepokan ini. Demikian pula apabila, kau nanti kembali beserta pasukan berkuda Angger Untara. Apabila mereka menyadari bahwa kau lolos maka keadaan akan dapat berubah dan berkembang ke arah yang tidak kita kehendaki.”

“Baik, Kiai.”

Wuranta itu pun kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir. Orang tua itu masih memberinya beberapa petunjuk dan pesan, kemudian sekali ia berkata, “Jangan kau cemaskan nasib gadis ini. Aku akan mencoba mempertanggungjawabkannya.”

Wuranta mengangguk. Lalu melangkahkan kakinya hilang di dalam gelap. Namun Wuranta itu harus berhati-hati. Ditempuhnya jalan-jalan yang sepi, yang tidak sering dilalui orang. Namun terasa padepokan itu amat sunyinya. Ketika ia memberanikan diri mendekati simpang-simpang empat di dalam padepokan itu ternyata tak seorang pun yang mengawalnya. Agaknya mereka sedang berkumpul di halaman banjar yang luar untuk dapat menyaksikan apa yang sedang terjadi di sana.

Ketika Wuranta sampai ke pinggir sungai, ia menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia adalah perenang yang baik sejak kanak-anak. Karena itu, maka disangkutkannya kainnya tinggi-tinggi dan betapapun dingin malam menggigit tubuhnya, namun Wuranta itu pun kemudian terjun juga menyelam. Sambil meraba-raba dinding padepokan menyelusur mengikuti arus sungai. Ternyata dinding itu tidak begitu tebal, dan sejenak kemudian ia telah rnuncul pula di seberang dinding di luar padepokan.

“Hem,” Wuranta itu menjadi basah kuyup. Terdengar giginya gemeretak karena dingin. “Segar juga mandi di malam buta.”

Sejenak kemudian Wuranta itu telah menemukan kuda Ki Tanu Metir di pinggir kali di belakang sebuah gerumbul terikat pada sebatang pohon turi yang tinggi. Hati-hati dipakainya kuda itu menuju ke Jati Anom. Tetapi selalu diingatnya pesan Ki Tanu Metir. Dihindarinya jalan yang lazim. Ia melingkar lewat sebuah lapangan perdu yang agak rimbun. Meskipun jalan tidak datar, tetapi Wuranta berhasil memotong arah dan agak jauh dari padepokan ia berhasil menemukan jalan yang harus dilalui. Ketika ia yakin bahwa ia sudah cukup jauh dari padepokan, maka segera ia berpacu seperti angin, meskipun jalan yang ditempuhnya kadang-kadang terjal, tetapi ia ingin segera sampai di Jati Anom untuk menyampaikan pesan Ki Tanu Metir kepada Untara.

Sepeninggal Wuranta, Ki Tanu Metir berdiri diam untuk sesaat. Dicobanya untuk mendengar tangis Sekar Mirah. Ternyata tangis itu masih saja berkepanjangan.

Sejenak orang tua itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian diputuskannya untuk membiarkan saja Sekar Mirah itu dalam keadannnya, supaya tidak menimbulkan kecurigaan pada para pengawasnya. Bahkan Ki Tanu Metir itu pun segera meninggalkan tempat itu dengan hati-hati untuk melihat apa yang sedang terjadi di padepokan ini.

Orang tua itu sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di dalam padepokan ini. Tetapi ia telah mengenal beberapa arah menurut petunjuk dan ceritera Wuranta. Sebagai seorang yang telah kenyang minum air di perantauan, maka Kiai Gringsing pun segera mampu menyesuaikan dirinya. Tetapi orang tua itu menyadari sepenuhnya, bahwa di dalam padepokan itu ada seorang yang sebaya dengan dirinya. Bukan saja sebaya umurnya, tetapi hampir segala-galanya. Itulah sebabnya maka ia harus berada di puncak kewaspadaan.

Perlahan-lahan orang itu menyusuri halaman demi halaman. Mengingati setiap pengamatannya atas sesuatu. Pohon-pohon yang cukup besar, rumah-rumah dan pagar-pagar. Dikenalinya setiap regol yang dijumpainya dan arah yang dapat ditempuhnya apabila ia menjumpai bahaya.

Akhirnya dari kejauhan Ki Tanu Metir itu melihat berpuluh-puluh obor yang ditancapkan di halaman. Itu adalah halaman banjar para pemimpin padepokan Tambak Wedi. Ternyata Sidanti dan Alap-alap Jalatunda tidak dapat menunda persoalannya sampai besok apabila matahari telah menyingsing. Mereka benar-benar ingin menyelesaikan persoalannya malam ini. Bahkan sekarang.

Dari kejauhan Kiai Gringsing melihat bahwa laskar padepokan itu benar-benar telah terbagi. Sebagian di sebelah sisi adalah laskar Tambak Wedi, sedang di sisi yang lain, yang tampaknya lebih sigap, adalah para prajurit Jipang. Tetapi kelebihan pada orang-orang Tambak Wedi adalah para pemimpinnya. Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya dan beberapa orang lagi. Mereka adalah orang-orang pilihan, yang mempunyai takaran yang cukup banyak bagi prajurit-prajurit biasa. Apalagi Ki Tambak Wedi sendiri.

Kiai Gringsing masih melihat beberapa orang mempersiapkan arena. Beberapa orang yang lain memasang obor-obor di tempat-tempat yang telah ditentukan. Perang tanding kali ini adalah benar-benar sebuah perang tanding yang sangat menarik.

Sambil melihat persiapan itu Kiai Gringsing masih saja selalu menghitung waktu. Wuranta itu benar-benar diharapkannya dapat menyampaikan pesannya. Kalau tidak, maka Untara akan banyak kehilangan kesempatan. Dan orang tua itu mengharap bahwa Wuranta akan jauh lebih cepat mencapai Jati Anom dengan kudanya. Menurut perhitungannya, maka pasukan Untara yang mendapatkan kuda akan segera datang pula. Sedang mereka yang berjalan akan menyusul. Mereka akan sampai di ambang pintu padepokan ini selambat-lambatnya pada saat fajar menyingsing. Sehingga sesaat sebelum fajar, ia sudah dapat mengharap pasukan berkuda Untara bergerak apabila diperlukan, sementara menunggu pasukannya yang lain.

“Mudah-mudahan aku tidak salah hitung,” gumam Kiai Gringsing di dalam hatinya, “dan mudah-mudahan perkelahian itu tidak segera selesai. Apabila demikian, maka aku akan mendapat kesulitan. Yang paling mungkin aku lakukan adalah melarikan Sekar Mirah, membenamkannya di bawah urung-urung kemudian membawanya bersembunyi di balik belukar. Hem.” Orang tua itu menarik nafas. Tampaklah ia tersenyum, tetapi sejenak kemudian wajahnya telah menjadi tegang kembali. Sebenarnyalah bahwa hatinya selalu gelisah dan berdebar-debar. Tanpa disadari ia telah menggerakkan sepasukan prajurit Pajang di bawah pimpinan senapati muda yang berkuasa di daerah sekitar Gunung Merapi.

“Kalau aku gagal, dan laporannya nanti didengar oleh Ki Gede Pemanahan, maka aku akan digantungnya,” desisnya kepada diri sendiri.

Kini Kiai Gringsing melihat persiapan hampir selesai. Obor-obor telah terpasang berkeliling. Dan sebagian dari laskar kedua pihak telah berada di sekitar arena itu pula.

Sementara itu Wuranta berpacu tanpa mengingat jalan yang dilaluinya. Sekali-sekali kudanya meloncati tempat-tempat yang terjal, dan sekali-sekali terpaksa mendaki sedikit untuk seterusnya berlari lagi menuruni tebing. Yang terpahat di dalam dadanya adalah, secepatnya menemui Agung Sedayu dan Swandaru untuk mempertemukannya dengan Untara.

Waktu yang diperlukan oleh Wuranta ternyata terlampau pendek. Kecepatan kudanya benar-benar mengagumkan dan Wuranta sendiri ternyata mampu menguasai kuda yang sedang berlari dalam kecepatan yang sangat tinggi. Dipilihnya jalan-jalan sempit dan memintas untuk menghindarkan diri dari para peronda dan memilih jarak terdekat.

Tanpa turun dari kudanya Wuranta memasuki halaman rumahnya, sehingga Agung Sedayu dan Swandaru menjadi sangat terkejut karenanya. Berloncatan mereka turun dari pembaringannya dan dengan tergesa-gesa pula berlari ke arah pintu dengan pedang masing-masing di tangan, meskipun belum mereka tarik dari sarungnya.

“Adi Agung Sedayu dan Swandaru,” berkata Wuranta dengan nafas terengah-engah, “marilah, ikut aku. Pertemukan aku dengan Kakang Untara.”

Swandaru dan Agung Sedayu tidak sgera menjawab. Suara itu adalah suara Wuranta. Perlahan-lahan Swandaru membuka pintu.

Sejenak mereka menatap wajah Wuranta yang tegang. Kemudian terdengar Agung Sedayu bertanya, “Apakah yang terjadi Kakang Wuranta?”

“Aku harus segera bertemu dengan Kakang Untara.”

“Adakah sesuatu yang penting?”

“Ya. Penting dan tergesa-gesa.”

Sejenak Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan. Kemudian bertanyalah Swandaru, “Apakah yang penting itu?”

“Nanti, nanti kau akan mendengarnya juga. Aku harus menghadap Kakang Untara, tetapi aku tidak berani seorang diri. Sebab ada kesan yang kurang baik tentang diriku.”

Belum lagi Swandaru menjawab, maka mereka pun segera dikejutkan oleh derap dua ekor kuda yang seolah-olah saja langsung meloncat di jalan di muka halaman itu. Ketika kuda-kuda itu telah berada tepat di muka regol, maka mereka pun berhenti. Salah seorang daripada mereka masuk dengan hati-hati ke halaman sambil berkata, “Siapa di situ? Aku melihat seekor kuda memasuki halaman ini. Tetapi terlampau cepat bagi kami yang hanya melihat dari kejauhan. Tetapi agaknya kuda dan penunggangnya masih berada di halaman.”

“Ya,” Agung Sedayulah yang menjawab, “yang datang adalah Kakang Wuranta.”

“He, Wuranta anak Jati Anom?”

“Ya.”

“O, kalau begitu aku berkepentingan dengan anak itu. Bukankah anak itu yang dikatakan selama ini berpihak kepada orang-orang di lereng Merapi, dari padepokan Ki Tambak Wedi.”

Dada Wuranta berdesir mendengar kata-kata itu. Hampir-hampir ia berteriak menjawabnya, tetapi segera disadarinya kedudukannya dan dipercayakannya dirinya kepada Agung Sedayu dan Swandaru.

“Akulah yang bertanggung jawab atasnya saat ini,” jawab Agung Sedayu.

“Kami adalah petugas ronda malam ini. Kamilah yang bertanggung jawab atas keamanan Jati Anom dan sekitarnya.”

“Tetapi aku mempunyai wewenang khusus dari Kakang Untara, senapati di daerah ini, meskipun aku bukan seorang prajurit.”

Kedua prajurit berkuda itu terdiam. Tetapi belum lagi mereka puas dengan jawaban itu, maka kemudian menyusul empat orang peronda datang berjalan kaki masuk kedalam regol halaman setelah sejenak bercakap-cakap dengan prajurit berkuda yang seorang di luar halaman.

“Aku juga melihat kuda itu. Aku ikuti arahnya. Ternyata ia telah berada di sini.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Kini ia pun tahu, betapa ketatnya penjagaan Kademangan Jati Anom yang tampaknya begitu lengang. Tetapi agaknya setiap jengkal tanah selalu mendapat pengawasan yang teliti.

Dalam pada itu pun Agung Sedayu berkata, “Berdasarkan wewenang khusus yang aku miliki, biarlah aku membawa Kakang Wuranta menghadap Kakang Untara.”

Para prajurit yang berada di regol halaman, itu sejenak saling berpandangan. Tetapi mereka harus mempercayai Agung Sedayu. Mereka mengenal anak itu sebagai adik Untara. Dan mereka pun telah mendengar apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu. Karena itu tidak ada alasan bagi mereka untuk mencurigainya.

Meskipun demikian para prajurit itu sejenak masih diselubungi oleh keragu-raguan, sehingga Agung Sedayu berkata, “Berikan kuda kalian. Aku dan Adi Swandaru akan mengantarkan Kakang Wuranta sekarang juga. Ada hal yang penting harus segera diketahui oleh Kakang Untara.”

Kedua prajurit berkuda itu tidak menjawab. Sesaat mereka saling berpandangan. Sementara itu Agung Sedayu telah melangkah di halaman mendekati kedua prajurit berkuda itu diikuti oleh Swandaru.

“Maaf, aku memerlukan kuda kalian untuk kepentingan Jati Anom dan Pajang.”

Kedua prajurit itu menjadi seperti orang yang sedang kebingungan. Prajurit itu tidak berbuat apa-apa ketika Agung Sedayu menarik kendali kudanya, dan bahkan prajurit itu pun meloncat turun tanpa disadarinya. Demikian prajurit yang seorang lagi. Dengan kepala kosong diserahkannya kudanya kepada Swandaru.

“Aku akan pergi ke kademangan,” berkata Agung Sedayu kepada prajurit-prajurit yang berdiri tegak mematung di halaman itu, “susullah kami ke sana. Mungkin kalian pun akan mendengar sesuatu yang penting itu.”

Agung Sedayu tidak menunggu prajurit itu menjawab. Segera ia berkata kepada Wuranta, “Mari Kakang, aku antarkan kau kepada Kakang Untara.”

Sejenak kemudian ketiga ekor kuda itu telah berlari dengan cepatnya menuju ke kademangan. Para prajurit yang melihatnya seolah-olah terpaku beku di tempatnya. Mereka memandangi kepulan debu yang putih yang sesaat kemudian telah lenyap dalam kegelapan malam.

Ketika kuda-kuda itu telah hilang dari pandangan mata mereka maka seolah-olah mereka pun baru menyadari keadaan mereka sehingga salah seorang berkata, “He, kenapa kita berdiri saja di sini. Mari kita lihat, apakah mereka benar-benar pergi ke kademangan.”

Seperti berloncatan berebut dahulu mereka pun segera melangkah pergi, meninggalkan halaman rumah Wuranta, pergi menyusul ketiga ekor kuda itu ke kademangan seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu.

Demikian Wuranta memasuki jalan induk kademangan bersama Agung Sedayu dan Swandaru, segera ia melihat, bahwa penjagaan di Jati Anom pun kini tidak kalah rapatnya dibanding dengan Padepokan Tambak Wedi. Bahkan ia sama sekali tidak dapat menilai, manakah yang lebih kuat di antara kedua pasukan itu. Namun agaknya mata Ki Tambak Wedi mempunyai ketajaman penglihatan yang jauh melampaui penglihatannya.

Karena Wuranta berjalan beriring dengan Agung Sedayu dan Swandaru maka ia tidak banyak mendapat pertanyaan. Bahkan untuk menghindari hal-hal yang dapat memperlambat perjalanan itu, maka Agung Sedayu dan Swandaru sama sekali tidak menyebut-nyebut nama Wuranta. Sebab nama itu mempunyai kesan yang tidak menyenangkan bagi orang-orang Jati Anom, terutama anak-anak mudanya dan bagi orang-orang Pajang yang telah mendengarnya. Wuranta adalah salah seorang yang mereka anggap telah hilang dari lingkungan mereka dan berada di dalam lingkungan lawan.

Tetapi ketika Wuranta memasuki halaman kademangan, maka suasana tiba-tiba menjadi tegang. Di halaman kademangan, Agung Sedayu dan Swandaru tidak lagi berhasil menyembunyikan anak muda itu dari pengamatan anak-anak muda Jati Anom yang berada di halaman kademangannya. Bahkan beberapa orang datang berlari-lari sambil bertanya, “Agung Sedayu, apakah kau telah berhasil menangkapnya?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi wajah Wuranta-lah yang menjadi merah padam. Ketika kuda-kuda mereka berhenti, maka segera mereka dikerumuni oleh beberapa anak muda dan prajurit Pajang. Wajah-wajah mereka menunjukkan pancaran kebencian bercampur-baur dengan teka-teki tentang kedatangan anak muda itu.

“Kita menghadap Kakang Untara,” desis Agung Sedayu. Wuranta tidak menyahut. Setelah mengikatkan kudanya pada tiang di halaman, maka ia pun segera berjalan rapat di belakang Agung Sedayu untuk menghindari hal-hal yang tidak dikehendaki. Namun demikian, Wuranta itu mengeluh di dalam hati sampai demikian dalam pengorbanan yang harus diberikan kepada kampung halamannya. Seandainya tak seorang pun sempat menerangkan apa yang senenarnya dilakukan, maka seandainya ia mati dibunuh anak muda sepadukuhannya, maka mayatnya pasti akan dilempar saja ke kali sebagai seorang pengkhianat. Tetapi kali ini ia masih menggantungkan diri kepada Agung Sedayu. Bukan soal hidup atau mati, tetapi soal kebersihan namanya itulah yang lebih penting baginya.

“Akan kau bawa ke mana anak itu?” tiba-tiba terdengar suara di antara mereka yang berdiri di seputar ketiga anak muda itu.

Agung Sedayu berpaling. Dilihatnya seorang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan, “Oh, kau Kakang Jawawi.”

“Ya, tetapi akan kau bawa ke mana anak itu?” Wuranta mengerutkan keningnya. Jawawi adalah salah seorang anak muda yang banyak mendapat kepercayaan di Jati Anom seperti dirinya. Dan ia sadar sesadar-sadarnya bahwa Jawawi pun telah menjadi salah paham memandang persoalannya.

“Akan aku bawa menghadap Kakang Untara.”

“Jangan,” berkata Jawawi. Matanya menjadi semakin tajam memancarkan kebencian, “Wuranta adalah anak Jati Anom. Persoalannya adalah persoalan kami. Bukan persoalan prajurit Pajang.”

Dada Agung Sedayu dan Swandaru berdesir. Apalagi Wuranta. Tetapi dalam keadaan ini, Wuranta mengambil sikap yang baginya paling menguntungkan. Diam.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Jawawi berkata terus sambil melangkah maju, “Adi Sedayu. Serahkan anak itu kepadaku, kepada anak-anak muda Jati Anom.”

“Jangan, Kakang,” sahut Agung Sedayu. “Yang mempunyai kekuasaan tertinggi di daerah ini sekarang adalah Kakang Untara. Kakang Untara adalah senapati yang mendapat kekuasaan dari Panglima Wira Tamtama.”

“Sekali lagi aku peringatkan,” potong Jawawi, “persoalan ini bukan persoalan prajurit Pajang. Persoalan ini adalah persoalan anak-anak muda Jati Anom.”

Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi sudah pasti bahwa ia tidak akan dapat menyerahkan Wuranta kepada Jawawi. Maka jawabnya, “Kakang, biarlah Kakang Untara. mengambil sikap. Kecuali Kakang Untara sedang mengemban tugas sebagai seorang senapati, ia pun seorang anak Jati Anom pula. Aku pulalah yang menemukan Kakang Wuranta. Aku pun anak Jati Anom. Nah, percayakanlah Kakang Wuranta kepadaku dan Kakang Untara. Kami akan memenuhi keinginanmu, karena kami pun anak-anak muda Jati Anom pula.”

Agung Sedayu tidak ingin persoalan ini menjadi berkepanjangan. Segera Ia berjalan maju menyibakkan orang-orang yang mengelilinginya. Wuranta pun mengikutinya, dekat-dekat di belakangnya. Sedang di belakang Wuranta berjalan Swandaru yang gemuk.

Beberapa orang tanpa menyadari, segera menyibak memberi mereka jalan. Tetapi agaknya Jawawi masih belum puas dengan keadaan itu, sehingga segera ia melangkah pula mengikuti Agung Sedayu sambil berkata, “Adi Agung Sedayu. Jangan membuat kami kecewa. Supaya kami tidak berbuat hal-hal yang tidak kalian inginkan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun tetap pada pendiriannya. Jawabnya, “Jangan memaksa, Kakang Jawawi. Supaya keadaan Jati Anom tidak menjadi bertambah kisruh hanya karena kau menuruti perasaanmu saja.”

Wajah Jawawi menjadi merah mendengar jawaban Agung Sedayu. Hampir-hampir ia membentaknya dan mencoba menahannya, seandainya pintu kademangan itu tiba-tiba tidak terbuka. Ketika mereka berpaling, mereka melihat di muka pintu itu berdiri Untara dan Ki Demang Jati Anom.

“Apa yang kalian ributkan?”

Sebelum Agung Sedayu menjawab, terdengar Jawawi mendahului, “Kami hanya ingin Wuranta diserahkan kepada kami. Tetapi Adi Agung Sedayu berkeberatan, sehingga kami terpaksa memaksanya.”

Untara mengerutkan keningnya. Ketika dilihat olehnya dalam keremangan malam, orang-orang berkerumun di halaman demikian tegangnya.

“Bawa anak itu kemari,” tiba-tiba terdengar suara Untara. Suara yang penuh memancarkan kewibawaan seorang pemimpin prajurit yang bertanggung jawab. “Aku mempunyai kekuasaan tidak terbatas di sini sebagai pengemban perintah dari Pajang.”

Tak ada seorang pun yang berani menentang kata-kata itu. Kecuali kata-kata itu mengandung ancaman, tetapi wibawanya seolah-olah memukau setiap hati orang yang mendengarnya. Karena itu ketika kemudian Agung Sedayu membawa Wuranta meninggalkan halaman dan menaiki pendapa kademangan langsung masuk ke pringgitan, orang-orang yang berada di halaman itu hanya memandangi mereka saja. Namun demikian, setelah Wuranta itu hilang di balik pintu pringgitan, terbersitlah kata-kata di antara mereka, bahwa mereka akan menunggu di halaman sampai Wuranta diserahkan kepada mereka. “Hanya kamilah yang berhak menghukumnya,” gumam mereka.

Di dalam pringgitan, Ki Demang Jati Anom memandangi Wuranta dengan hampir tak berkedip, seakan-akan baru pertama kali ini ia melihat. Sedang Wuranta yang merasakan tatapan mata itu, hanya menundukkan kepalanya saja. Ia masih tetap berpendirian, bahwa segala sesuatunya akan sangat tergantung kepada Agung Sedayu dan Swandaru.

“Duduklah Wuranta,” Untara mempersilahkan. Wuranta terperanjat mendengar suara Untara. Suara itu telah dikenalnya sejak beberapa puluh tahun yang lampau, selagi mereka masih kanak-anak. Wuranta telah mengenal Untara dalam permainan, dalam pergaulan yang lebih dewasa, sampai suatu ketika Untara itu meninggalkan Jati Anom mengabdikan diri kepada Adipati Pajang. Tetapi nada suara itu agak berbeda dengan nada suara Untara di masa-masa mudanya. Kini terasa bahwa kata-kata itu diucapkan bukan oleh seorang anak muda padesan seperti dirinya, tetapi nadanya adalah nada seorang pimpinan prajurit.

Wuranta itu pun kemudian duduk diapit-apit oleh Agung Sedayu dan Swandaru. Sekali-sekali anak muda Jati Anom itu mengangkat wajahnya pula, namun kemudian wajah itu pun tertunduk lagi.

“Kau baru datang dari padepokan Tambak Wedi, Wuranta?”

Wuranta mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya, Untara, eh, Tuan, eh.”

“Panggil namaku,” potong Untara.

“Ya, Kakang Untara.”

“Hem,” tiba-tiba terdengar Ki Demang Jati Anom menggeram. Ketika Wuranta beserta orang lain yang berada di dalam pringgitan itu berpaling kearahnya, maka tampaklah wajah itu menjadi tegang. Dengan kata-kata yang bergetar Ki Demang berkata, “Wuranta, ternyata kau sangat mengecewakan kami, orang-orang Jati Anom. Apakah sebabnya maka tiba-tiba saja kau telah berada di padepokan setan lereng Merapi itu? Apakah tanah ini, kampung halaman ini, kurang memberimu kepuasan? Kurang memberimu sandang pangan dan perlindungan?”

“Nanti dulu, Ki Demang,” potong Untara, “jangan tergesa-gesa menyatakan sikap. Aku ingin tahu, kenapa tiba-tiba saja ia menemui Agung Sedayu dan Swandaru.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Oktober 2008 at 21:23  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-23/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pemikiran saya 100% sama… memang tidak mungkin memuaskan setiap orang, tp seperti yang sudah pernah saya katakan, tepa selira harus tetep langgeng…
    apa lagi, ADBM ini kita pahami bukan hanya cerita silat belaka… tetapi pelajaran budi pekerti yang wajib kita wariskan ke anak cucu kita…
    apalagi sudah sangat terasa.. bahwa pergeseran budaya yang makin mendewakan emosional.. bukan penalaran..
    bahkan ini yang menjadi acuan begawan marketin Hermawan Kertajaya dengan teorinya marketing in venus..
    semua kemunduran bangsa ini, memang karena mental manusianya… mudah-mudahan dari kelompok kecil kita ini kita bisa membuat perubahan yang berarti…
    Salam Hangat

  2. Mas DD, ini sekedar pendapat saya saja.

    Secara pribadi saya ingin sekali setiap hari ada upload file djvu, sehingga bisa segera mengikuti sambungan cerita berikutnya sampai dengan jilid terakhir.

    Jika kita menginginkan cita-cita luhur adanya proyek “retype” dan keinginan untuk memberikan legacy yang bernilai kepada generasi yang akan datang tetap berkesinambungan, namun mengingat bahwa retype ini sukarela, maka dikhawatirkan gap antara upload djvu dengan file retype akan semakin panjang dan orang akan semakin malas untuk retype. Sehingga dikhawatirkan proyek retype akan terbengkalai.

    Bagaimana kalau dibuat semacam komitmen, tidak akan upload file djvu jilid berikutnya sebelum jilid sebelumnya sudah di retype semuanya, sehingga yang menginginkan cerita sambungannya akan berusaha melakukan retype?

    Sekedar usul saja lho mas, mudah-mudahan tidak membuat marah bagi yang menginginkan segera adanya upload file djvu jilid berikutnya.

    D2: Usul yg baik. Saya se7.

  3. mas DD seperti yg sdh tak bayangkan bahwa akhirnya adbm ini hanya akan menjadi bacaan sebagaian kelompok saja,sementara yg lainnya seperti sy hanya bs menonton saja atau pindah ke warung sebelah,,,dg format yg skrg ssh bg yg tdk bs membaca melalui djvu, menunggu retype pun semakin membingunggkan karena yg sdh di retype lgsg bermunculan di box coment secara acak,,btw memang kadang untuk kemajuan itu musti ada yg dikorbankan ya….,btw lg…pepatah yg berbunyi alon alon asal klakon tu sdh gak jaman lg ya….,,,saya si ttp dtg kesini walau cm tuk bc coment2 yg semakin rame,,hitsnya jg san soyo akeh nampaknya…

  4. Bung DD, mungkin ndak ya retype dilakukan oleh tenaga profesional? maksud saya kita “bantingan” meng”honor” retyper. Kalau 1 edisi (100 buku) bisa 1-2 bulan retype, tampaknya mungkin apabila retypenya dilakukan setiap hari. Ada ndak ya kawan-kawan yg kerjaannya profesional retyper? Bung Rizal kok ilang

  5. Mas DD,
    Saja mengikuti adbm sejak di blognya mas Rizal. Saya mengikuti lebih sering lewat PDA ketimbang Notebook. Kerepotan kawan2 yg aktif meneruskan adbm sampai ke blog ini juga saya ikuti. Tapi mohon maaf saya nggak bisa ikut rame2 berjuang.
    Saya lihat banyak kawan2 pembaca yg dropout nggak bisa mengikuti karena perubahan format ke DjVu. Karena memang format tsb belum populer seperti pdf. Saya usul, untuk mengakomodir kawan2 yg nggak bisa baca DjVu, format yg dipakai pdf saja yg lebih populer. Kalau ukuran file lebih besar bisa di pecah jadi beberapa. Mudah2an bisa menolong sebagian kawan2 yg ketinggalan. Terimakasih dan selamat berkarya sosial.
    Salam, HH

  6. Saya mendukung usulan Bung TT (lah, setalah ada bung DD, kemudian bung TT, nanti akan ada bung AA, bung BB, bung CC, dll :-)), apakah memungkinkan dibuat account khusus?
    Para adbm-er dapat memberikan donasi ke account tsb, kemudian donasi tsb dipakai untuk “honor” bagi para retyper professional. Sementara retyper sukarela juga masih tetap dapat menyumbangkan hasil retype-nya.
    wah, maunya kerja sosial, kayaknya malah makin membuat bung DD semakin ribet ya…:-)

  7. Salam Mas D2..
    Kayaknya bisa dimengerti kenapa Bung Rizal ga nerusin ADBM di blog lama. terbayang ga kalo di retype bisa makan waktu 8 tahun!!???. Lha emang cuma ngurusin ADBM doang??..Angkat jempol dengan terobosan Mas D2 dengan format DJVU nya…,(konon itu juga “cuman” 1 tahun bisa tamat). Bisa dibayangin, Mas D2 dalam kerja rutinnya selalu dibayangi ADBM yg mesti buru2 dikebut.., wah ga kebayang deh kalo saya yg mesti spt mas D2.., angkat 2 jempol demi memuaskan orang lain.

    Masalah format.., ga usah berkeluh kesah.., apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi kalo kembali hrs retype dlm format PDF…, duh.., kasian mas D2 nya dong!…Awalnya saya juga gaptek DJVu tapi kan ada petunjuk2…, ikutin aja…, dan ternyata jauh lebih nyaman dan cepat, dan sangat membatu meringakan kerjaan gratis Mas D2.
    Percaya deh.., apapun medianya, PC,PDA dsb.., cepat atau lambat akan ikut ngikutin teknolgi.
    Jadi menurut saya… teruskan saja format DJVu nya..,bisa lebih cepat, dan membantu meringankan kerjaan MasD2..maaf saya sendiri ga bisa bantu apa2 selain nimbrung baca.

    Buat rekan2 di padepokan Tambak wedi, ini sedkit gambaran aja.., dengan DJVu reader yg kisanak baca adalah hasil scanning dari asli bukunya.., mgkin agak gagap dengan Ejaan Lama, tapi ga masalah.., malah lucu hehehe..

    “…pada achirnya , semua kebidjaksanaan saja serahkan kembali kepada mas D2…, mana jang kira2 tidak merepotkan, dan tidak menyita waktu Mas D2 itu jang terbaik menurut saja…. saja sudah sangat beruntung sekali ada orang seperti Mas D2 jang mau berbagi, untuk itu saja tidak mau merepotkan.., terima kasih banjak ja Mas D2…, tjukup sekian kiranja”

  8. @ Para nayaka ADBMers (DD)..
    Klu saya seperti mas Dewo, semula ya agak gagap dan glagepan dng format Djvu, tapi setelah ikuti JUKNIS-nya, ya lancar-lancar saja..Pertimbangannya ya cuma satu, yaitu kejar tayang, jng hanya “alon2 waton kelakon” tapi harus “yo klakon yo maton”

    Klu ada yg mau kerja profesional (dng honor misalnya) spt usul TT silahkan saja, tapi mbokiyao yang mau kerja gratisan juga diberi “tempat”, dng kesempatan itu, merupakan salah satu wahana sosial yang mgkin nggak bisa disalurkan ke tampat lain. Untuk itu saya tetap mendukung kerja retype relawan, tapi hrs tetap mengutamakan kualitas..

  9. Saya tidak yakin kalau hanya retype saja, meskipun dikerjakan oleh 100 orang, bisa diselesaikan dalam waktu 5-6 tahun mengingat bakal berubahnya komitmen dan prioritas banyak orang. Sebaiknya konsentrasi ke scan & upload saja, tidak usah meniru NSSInya gadjahsora yg hanya 4%nya ADBM. Kalau 2 buku per minggu atau 3 buku per 2 minggu, maka dalam 1 tahun sisa 373 sudah selesai (?!)
    Djvu bisa diconvert ke pdf hitam putih hanya dengan tambahan 20% djvu’s file size. Saya sudah coba, hanya tidak bisa upload di website.
    Dengan gotong royong barisan ke 2 bisa membantu mereka yg tidak bisa baca djvu, baik itu melalui japri atau tambahan blog lain.

  10. Alhamdulillah,
    sebagai adbm-er turut berbahagia sudah mulai banyak yang bisa menikmati enak dan nyamannya format djvu. Terima kasih atas usaha keras Mas DD.

    Kembali Juknis (maaf Mas DD, saya mengulangi juknis):
    ambil program dari download.

    Saya pribadi memilih STDU viewer.
    program yang didownload akan tertulis :stduviewer.
    Windows biasanya menyembunyikan extention. Untuk membukanya:
    Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    Setelah tanda thick (centang) dihilangkan maka file yang didownload akan tampak:
    stduviewer.doc
    stduviewer.doc kemudian di rename (klik kanan>rename), diubah menjadi
    stduviewer.exe
    saat mengubah extention file akan muncul tulisan

    If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    kemudian stduviewer.exe diinstal.

    atau kalo gak mau ribet ganti extention download langsung dari sini:
    http://www.download25.com/install/stdu-viewer.html

    Setelah STDUViewer diinstal harap tidak terkejut jika nanti seluruh file pdf yang biasanya dibuka dengan program adobe akan muncul sebagai file yang akan dibuka sebagai stuviewer. Jika tetap menginginkan file pdf tetap sebagai file yang bisa dibuka dengan adobe mungkin jangan instal stduviewer tetapi instal WinDJview saja, caranya sama dengan di atas.

    Nah, sekarang tiba saat saat yang ditunggu.
    download adbm-jilid-023.pdf yang sudah dipost Mas DD.
    file yang didownload di komputer akan muncul sebagai adbm-jilid-023.pdf

    Jika extentionnya masih di sembunyikan oleh windows maka filenya hanya tertulis adbm-jilid-023 dengan icon adobe, sehingga extentionnya harus dibuka dengan cara Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    adbm-jilid-023.pdf kemudian di klik kanan>rename diubah menjadi adbm-jilid-023.djvu
    pada saat mengubah extention file akan muncul tulisan: If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    Setelah dibuka, atur zoom (50%-500%) sesuai dengan keinginan berapa besarnya huruf dan layar untuk membaca adbm.

    Sudah deh, bisa menikmati adbm sambil makan ubi goreng.

  11. Catatan tambahan Juknis:

    Untuk komputer kantor, biasanya ada peraturan tidak boleh instal software tertentu karena issue copyright, network security, beban kerja local network, dll.

    Namun WinDJview atau stdviewer adalah freeware.
    Bisa download langsung Windjview di sini:
    http://www.softpedia.com/get/Office-tools/Other-Office-Tools/WinDjView.shtml

    Freeware, adalah software yang bebas dipakai, jadi kantor tidak perlu khawatir dengan issue copyright. Program ini juga tidak akan menimbulkan beban local network serta issue security, sehingga orang dari departemen IT mudah-mudahan tidak keberatan jika kita instal program ini di komputer kantor (malah orang-orang staf IT akan berterima kasih barangkali karena mereka juga pengin ikut menikmati adbm :-).

  12. Saya adalah seorang yg sebaya dg Widura dan lumayan gaptek. Kalo 3 langkah saya adalah:

    A. Download & install “Windjview” (dari salah satu dari sekian banyak hasil search di google)

    B. Masuk website tercinta (adbm)-> klik buku (misal) 22-> ke halaman yg mas DD tulis “full version djvu”->klik kanan link “adbm-buku-022”->save as copy….->taruh di folder yg sdh disiapkan.

    C. Buka/jalankan “Windjview”, open file->pilih file DAN ganti Files of type ke “All Files”. Sudah..!!!

    …yg disampaikan anakmas Dewo tidak salah,…apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi itu (mestinya) nggak lama kok. Jaman dulu kita pakai program WS & Lotus123, lantas beralih ke MS-office ya cuma sebentar kagoknya….

    Dg menikmati ejaan lama plus mirang-miringnya hasil scan, justru menambah heroiknya perjuangan kita dalam meraih cita2, spt membaca guratan2 gambar silat Agung Sedayu di rontal… he.. he.. bercanda..

    Maturnuwun sanget kagem anakmas DD lan sanak kadang ingkang sampun ikhlas sharing harta karun menika.

    Salam

  13. Dear bung Dede & ADBMers,
    Saya ucapkan terima kasih atas upaya bung Dede & team untuk memosting ADMDeJavu (selanjutnya saya singkat ADMD). Untuk membagi kebahagiaan membaca ADMD yang cukup cepat penayangannya, saya ingin memeberikan pengalaman saya mendapatkan viewer (alat baca) ADMD yang gratis, freeware, dan menurut saya paling gampang, agar teman2 yang belum dapat akses dapat ikut serta menikmatinya.

    1. Dari google, cari (search) dengan mnegetik: “download djvu viewer”. Dari situ anda akan diantar ke web: LizardTech.
    2. Saya sendiri mengambil (klik pilihan kedua) yaitu:
    http://www.djvuzone.org/download/index.html
    3. Paling kanan atas akan muncul pilihan DJVU Plug-in. Klik dua kali.. dan download mulai, jangan lupa install sekalian. Setelah instalasi, di desktop anda akan muncul kotak Djvu Viewer.

    Sampai tahap ini saya harap belum muncul kesulitan, tetapi kalau masih, silakan post comment nanti saya atau teman2 lain bantu.

    4. Untuk download bacaan ADMD, kita buka ADMCadangan, dan buka/klik nomor buku yang akan dibaca (mis. buku 23). Pada setiap buku ada halaman (pages). Biasanya bacaan dalam format djvu ada di halaman 1 atau 2. Right click (klik kanan) bahan tersebut, akan muncul pilihan “save link as”. Kalau andapilih option tersebut bahan bacaan akan tersimpan di desktop anda (atau tempat lain yang anda tentukan).

    5. Untuk membaca ADMD dengan nomor tertentu, kita seret (drag) bacaan yang sudah didownload ke djvu vIewer di desktop.

    Selamat mencoba.
    GI

    NB. Di lokasi saya djvu belum populer. Nampaknya ini format yang dipromosikan oleh WordPress (yang juga belum populer). Saya sedang mencoba mencari software untuk transfer djvu ke pdf. Saya sudah coba tiga cara: (1) dengan mengattach “cutewriter” untuk kemudian print ke pdf, (2) tranfer langsung via UDC (Universal Document Converter), (3) transfer via IrfanView. Ketiganya belum berhasil. Mungkin ada teman lain yang pernah mencoba salah satu dari yg tsb di atas.

  14. Buku 23 halaman 77

    … (dari halaman 76) Berada di sarang lawan. Apapun yang terjadi harus kita tanggungkan.”

    Sejenak Swandaru memandangi wajah Agung Sedayu. Dan sesaat kemudian ia berkata, “Ia adalah pendapat yang paling baik. Mari kita masuk.”

    “Aku sudah mempunyai jalan yang paling baik untuk memasuki rumah itu.” Berkata Wuranta. “Jangan lewat pintu depan. Sidanti masih menempatkan satu dua pengawas di sekitar tempat ini. Biasanya di rumah di muka rumah ini.” Berkata Wuranta

    Agung Sedayu dan Swandaru memandanginya sejenak. ”Jalan manakah yang kau maksud?”

    ”Aku kira jalan yang telah di pergunakan oleh Alap-alap Jalatunda.” jawab Wuranta. ”Lihatlah sudut rumah itu.”

    Karena cahaya pagi telah memercik keatas padepokan Tambak Wedi itu pula, maka segera mereka melihat bahwa sudut rumah itu telah terbuka.

    ”Hem..” Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menjadi tergesa-gesa untuk segera menemui adiknya. Maka katanya, ”Marilah. Apalagi yang kita tunggu? Kalau sebentar lagi Sidanti datang kemari, biarlah aku menyambutnya.”

    Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kalimat itu telah menumbuhkan kekaguman di hati Wuranta. Katanya di dalam hati, ”Anak muda putra Ki Demang Sangkal Putung ini agaknya seorang anak muda yang pilih tanding. Kebenciannya kepada Sidanti sampai ke ujung ubun-ubun. Dan agaknya ia mampu mengimbanginya.” Tetapi Wuranta itu tidak mengucapkan sepatah katapun.

    Mereka bertigapun kemudian pergi ke sudut rumah. Perlahan-lahan Swandaru merenggangkan dinding.

    ”Dinding ini memang sudah terbuka.” bisiknya perlahan-lahan.

    ”Masuklah.” sahut Agung Sedayu.

    Dengan hati-hati Swandaru yang gemuk itupun merangkak masuk. Tetapi agaknya jalan itu terlalu sempit baginya, sehingga anak yang gemuk itu sedikit mengalami kesulitan.

    ”Tolong, tariklah dinding ini. Bajuku terkait.” desis Swandaru.

  15. Bung GI,

    Aku nyoba pakai DJVULibre, bisa untuk export ke pdf, jpg, atau format lain. Percobaan export ADBM_jilid_19.djvu yang ukurannya 1.2 MB ke format pdf, ukurannya menjadi 24.7 MB.

    -kris-

    D2: Ada cara “mubeng jok-teng” Mas Kris. Halaman djvu dikopi blok dan disimpan sbg image (JPG). Lalu dikonvert sebagaimana sebelumnya. Cuma ya harus mengkopi tiap halaman menjadi file JPG. Satu lagi, mungkin BD telah mengurangi resolusinya (terlihat dari gambar ilustrasi yang pecah) shg mungkin hasil konversinya kurang memuaskan. Tapi mungkin bisa dicoba. Hasil konversinya bisa ditayangkan di boks koment jilid ybs. Mungkin ada kawan yg mau ntlateni ketimbang retype

  16. buku 23.doc nya di attach di page 1? bukan di page 2?

    D2: Tx, nanti aku pindah

  17. Ngedownload djvu2nya tuh di mana ya ? Gw cari2 gak ketemu.

  18. Kalo cara ubah pdf ke djvu gimana ya??
    Ada yg tau ga? Kalo ada tolong email ke s1au_y3n@yahoo.com ya…
    thx ya…^^

  19. Assalamu’alaikum ww

    dengan ini perkenankalah saya mengenalkan diri :
    nama : Sumartono, lahir di Jogyakarta
    saya ikut seneng bisa ikutan baca serial yang sangat menarik ini, sewaktu kecil gak pernah bias beli bukunya.
    Saya sangat berterimakasih pada penyelenggara situs ini.
    semoga rezekinya ndlidir tur akeh. Amin
    sebetulnya saya pingin sekali ikutan nyumbang tenaga sebagai cheker gitu lho, untuk meminimize kesalahan ketik, saya juga bisa ketik dengan blind system. mohon maaf bila kurang berkenan dihati.
    demikianlah, salam perkenalan dari saya, sekali lagi mohon maaf dan thousand thanks.
    wassalam,

    $$ salam kenal Ki. selamat datang di padepokan.

  20. Alap alap Jalatunda mati
    dicubles pedange Sidanti
    mbah_man,,,,,,lanjutane ADBM pundi..???
    para cantrik wes pada ngenteni….!!!!!

    • hayo kanca2 pada ANTRI ning sini…..!!??

    • KI Gembleh, terusan adbm di gandhok gagak Seta

      • mari tak inguk sing onok mung nyi dwani mita thok til je mbah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: