Buku 23

MAKA katanya kemudian, “Alap-alap Jalatunda, aku tidak dapat mengerti maksud kata-katamu. Bukankah dengan demikian persoalan kita akan menjadi berkepanjangan? Kau harus berbuat sesuatu supaya kita untuk seterusnya tidak terganggu lagi. Baik oleh Sidanti maupun oleh orang-orang lain.”

“Sekar Mirah,” jawab Alap-alap Jalatunda, “kalau aku dapat datang kemari tanpa diketahui oleh seorang pun, maka pasti tak akan ada yang mengganggu kita, seperti saat ini pula. Tak akan ada seorang pun yang akan mengganggu kita, apa pun yang akan kita lakukan.”

“Tetapi lambat laun pasti akan ada yang mengetahuinya pula. Apabila kau sering datang kemari. Karena itu, apakah kita tidak lebih baik menempuh suatu cara yang lain, yang tidak akan mendapat gangguan apa pun lagi?”

“Apalagi yang harus kita lakukan? Cara yang mana lagi yang harus kita pilih? Kalau tidak ada orang yang mengganggu kita, maka kita tidak usah memikirkan cara yang mana pun juga.”

Akhirnya Sekar Mirah tidak dapat lagi menahan diri ia ingin Alap-alap Jalatunda mengerti maksudnya. Namun agaknya pembicaraan itu menjadi bersimpang-siur. Karena itu maka Sekar Mirah berkata berterus terang. “Begini maksudku Alap-alap Jalatunda. Kita tidak akan dapat berhubungan hanya sekedar bertemu selama kau mendatangi pondokku. Berbicara dan menyusun harapan-harapan saja. Marilah kita hadapi masa depan kita dengan bersungguh-sungguh. Kalau kau benar mengingini aku, maka lakukanlah usaha yang langsung dapat membuka jalan bagi persoalan itu. Bukankah kau masih harus datang kepada kedua ayah-bundaku untuk melamarku? Kemudian kita tentukan hari perkawinan kita. Setelah itu, maka kita akan dapat mencari perlindungan kepada orang-orang yang kita anggap mengerti persoalan kita. Maka semua perbuatanmu, semua yang telah kau lakukan pasti akan dilupakan orang. Akulah yang akan menanggung semuanya. Sehingga persoalan kita sekarang adalah, bagaimana kita berdua dapat menghadap ayah dan ibuku di Sangkal Pulung untuk membicarakan keputusan kita ini.”

Alap-alap Jalatunda mendengar kata-kata Sekar Mirah itu seperti mendengar gemelegarnya Gunung Merapi yang akan meledak. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat, tetapi sesaat kemudian menjadi kemerah-merahan. Sejenak ia terbungkam, tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun. Diingatnya pula pertanyaan Wuranta yang serupa, bagaimana ia akan mengawini Sekar Mirah. Tetapi hal itu sama sekali tidak ada di dalam benaknya.

“Sekar Mirah,” berkata Alap-alap Jalatunda kemudian dengan suara yang bergetar. Kepalanya menjadi semakin pening. Pening karena kata-kata Sekar Mirah itu dan pening karena pengaruh tuak yang semakin mencengkam jantungnya. “Kenapa kau mencari cara yang terlampau sulit itu? Aku tidak akan mempedulikan apakah ayahmu sependapat atau tidak. Marilah kita nikmati pertemuan kita ini. Dengan bersusah payah aku berusaha memasuki pondokmu ini. Karena itu jangan pikirkan orang yang tidak ada. Yang ada di dalam ruangan ini adalah Sekar Mirah dan Alap-alap Jalatunda. Kita adalah orang-orang yang kesepian, dan kini kita telah bertemu tanpa seorang pun yang akan mengganggu kita, apa pun yang akan kita lakukan.”

Tanah tempatnya berpijak serasa berguncang dengan dahsyatnya ketika Sekar Mirah mendengar dan menangkap maksud Alap-alap Jalatunda. Anak muda yang berdiri dihadapannya itu kini tampak seperti seekor serigala buas yang siap untuk menerkamnya. Karena itu maka tubuh Sekar Mirah menjadi semakin menggigil karenanya. Wajahnya menjadi merah padam dan jantungnya menjadi semakin berdebar-debar.

Untunglah bahwa gadis itu tetap menyadari dirinya. Menyadari bahwa pondoknya telah kemasukan seekor serigala yang buas dan liar. Sedang dirinya sendiri tak ubahnya seperti seekor anak kambing yang lemah.

“Aku harus mempergunakan otakku,” berkata Sekar Mirah di dalam batinya. Ia tidak mau menyerah dalam keputus-asaan.

Apa pun yang dapat dilakukan, akan dilakukannya untuk menyelamatkan dirinya.

Karena Sekar Mirah tidak segera menyahut, maka berkatalah Alap-alap Jalatunda yang menjadi semakin buas, “Mirah. Apa lagi yang kita tunggu?”

Alap-alap Jalatunda itu maju selangkah, dan dengan kaki gemetar Sekar Mirah surut selangkah.

“Kemarilah Mirah,” desis Alap-alap Jalatunda. Tengkuk Sekar Mirah meremang mendengar panggilan itu.

Bahkan ia menjadi semakin jauh surut. Namun Alap-alap Jalatunda itu menjadi semakin mendekat.

“He, kenapa kau menjauh?” bertanya Alap-alap Jalatunda yang kepalanya menjadi semakin pening dan matanya menjadi semakin merah dan liar. “Bukankah kau menunggu kedatanganku? Kini aku telah datang? Aku telah datang memenuhi janji.”

Sekar Mirah menjadi semakin ketakutan melihat wajah yang liar itu. Ia menyesal bahwa ia telah bermain-main dengan seekor serigala. Kini serigala itu telah siap untuk menerkamnya.

Ketika Alap-alap Jalatunda itu melangkah semakin maju, maka Sekar Mirah itu pun menjadi semakin surut. Tetapi akhirnya Sekar Mirah tidak dapat mundur lagi ketika tubuhnya telah melekat dinding biliknya.

Hati gadis itu telah hampir menjadi pepat. Tetapi Sekar Mirah masih mencoba untuk bertahan dengan caranya.

“Mirah. Kenapa kau berdiri di situ?” bertanya Álap-alap Jalatunda. “Apakah kau akan masuk ke dalam bilikmu?”

Pertanyaan itu benar-benar hampir merontokkan segenap nalar dan perasaannya. Namun Sekar Mirah masih berusaha untuk yang terakhir kalinya. Dengan mengumpulkan segenap kekuatannyai gadis itu tiba-tiba tersenyum dan berkata, “Alap-alap Jalatunda. Kau memang terlampau tergesa-gesa. Kenapa? Apakah kau sangka bahwa hari hampir kiamat?”

Alap-alap Jalatunda terdiam. Dipandangnya wajah Sekar Mirah yang sedang tersenyum itu. Terpancarlah keheranan pada sorot matanya yang liar.

Dan terdengarlah suara Sekar Mirah, “Duduklah. Bukankah kita dapat bercakap-cakap dengan baik?”

“Waktuku tidak banyak Mirah. Aku harus segera kembali ke banjar para pemimpin padepokan ini. Aku adalah seorang panglima sebuah pasukan yang besar. Pasukan Jipang. Sehingga karena itu tanggung jawabku pun besar pula. Nah, jangan terlampau banyak tingkah. Kau harus membantu aku, supaya aku tidak terlambat apabila ada pembicaraan-pembicaraan yang penting di banjar nanti.”

Dada Sekar Mirah menjadi semakin terguncang-guncang mendengar jawaban-jawaban Alap-alap Jalatunda. Tetapi ia masih mencoba terus. Sekar Mirah yakin, bahwa ia tidak akan dapat membebaskan dirinya apabila Alap-alap Jalatunda memilih jalan kekerasan. Meskipun besok ia dapat mengatakan kepada Sidanti atau kepada orang lain, dan Alap-alap itu digantungnya, tetapi apa yang hilang daripadanya tak akan diketemukan lagi sepanjang hidupnya. Karena itu ia tidak boleh kehilangan akal. Sehingga Sekar Mirah itu masih saja tersenyum untuk melunakkan hati Alap-alap Jalatunda, supaya serigala itu tidak segera menerkamnya.

Tetapi senyum Sekar Mirah itu telah membuat Alap-alap Jalatunda menjadi semakin gila. Pengaruh tuak di kepalanya, serta nafsunya yang hampir tak terkendali telah membuat ia menjadi mata gelap.

“Alap-alap Jalatunda,” berkata Sekar Mirah, “jangan terlampau kasar, supaya Sidanti tidak mengetahui apa yang terjadi di pondok ini. Setidak-tidaknya pengawas-pengawasnya yang sering berkeliaran di sini. Kita harus berhati-hati dan kita harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan.”

“Persetan dengan Sidanti,”sahut Alap-alap Jalatunda. Anak muda itu sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan apa pun juga. Yang tampak di matanya kini adalah Sekar Mirah itu saja.

“Kita tidak dapat menempuh jalan seperti yang kau kehendaki,” sambung Sekar Mirah. “Dengan demikian kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Kita akan selalu dikejar-kejar oleh waktu seperti sekarang ini. Tetapi apabila kita kelak menjadi suami isteri, maka hidup kita akan tenteram. Kau dapat hidup dengan tenang. Dan aku dapat melayanimu dengan tenteram pula.”

“Persetan semuanya itu.”

Dada Sekar Mirah berdesir. Namun Ia masih berkata lebih lanjut, “Kau hanya terburu oleh nafsu-nafsu sesat. Tetapi kau tidak membayangkan suatu masa yang panjang. Alap-alap Jalatunda. Ingatlah masa depanmu. Marilah kita pergi ke orang tuaku. Kau akan mendapat tempat yang baik di Kademangan Sangkal Putung.”

Alap-alap Jalatunda itu terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Sekar Mrah dengan mata yang membara. Tampaklah mulutnya berkomat-kamit. Sekar Mirah menunggu jawabannya dengan penuh harap. Tetapi gadis itu hampir menjadi pingsan ketika ia mendengar Alap-alap itu berkata, “Kau akan membujukku, memperalat aku, dan kemudian menjebakku he? Aku bukan seorang yang gila Mirah.”

Sekar Mirah itu pun kemudian berdiri saja seperti patung. Mulutnya serasa tersumbat dan darahnya serasa berhenti mengalir. Ditatapnya saja wajah Alap-alap Jalatunda seperti menatap wajah hantu yang akan menghisap darahnya. Dan sebenarnyalah Alap-alap Jalatunda itu akan menghisap mahkota hidupnya. Lebih baik ia mati dihisap darahnya oleh iblis pemakan darah daripada maksud Alap-alap Jalatunda yang kini berdiri di hadapannya.

Dan Alap-alap Jalatunda itu agaknya benar-benar telah menjadi mata gelap. Selangkah ia maju sambil menggeram, “Sekar Mirah. Kau sangka aku tidak tahu maksudmu itu? Kau pura-pura mengajakku menghadap kepada ayah bundamu. Tetapi belum lagi aku sampai ke Sangkal Pulung, maka leherku pasti akan sudah dijerat. Kau pasti akan memberi kesempatan kepada ayahmu atau kepada siapa saja. mungkin kakakmu yang gemuk itu, untuk bersama-sama mengeroyokku seperti rampogan matian di alun-alun.”

Dada Sekar MSrah serasa akan pecah karenanya. Ia. kini melihat Alap-alap Jalatunda melangkah semakin dekat dan mulutnya masih saja bergumam, “Bagiku Mirah, tak ada jalan lain daripada mendapatkan kau sekarang. Tak pernah ada perempuan yang menolak kedatanganku atau setidak-tidaknya menunda keinginanku. Nyai Lasem, Nyai Pinan, semuanya, dan kini kau. Kau tidak akan dapat menghindar lagi. Perempuan-perempuan justru mengejarku dan memegangi ujung bajuku apabila aku akan pergi. Kau pun harus berbuat demikian.”

Wajah Sekar Mirah kini telah menjadi pucat seperti mayat. Tetapi ia masih juga menyadari bahwa ia tidak seharusnya menyerah dalam keputus-asaan. Dengan memeras keberaniannya ia berkata gemetar, “Alap-alap Jalatunda. Urungkan niatmu.”

“Tak ada yang dapat menahan Alap-alap Jalatunda.”

“Aku akan dapat berteriak memanggil para pengawal. Aku tahu bahwa di halaman di depan rumah ini tinggal para pengawas yang bertugas mengawasi aku.”

“Kalau kau mencoba berteriak, aku cekik kau sampai pingsan. Dan kau tidak akan banyak tingkah lagi.”

“Sidanti akan mengetahui apa yang terjadi kalau kau tidak mengurungkan niatmu. Dan kau akan digantung besok.”

“Persetan Sidanti!” Alap-alap Jalatunda yang sudah bermata gelap dan menjadi kian pening karena pengaruh tuak di kepalanya itu sama sekali sudah tidak dapat berpikir bening. Apalagi ketika sekali lagi ditatapnya wajah Sekar Mirah yang pucat itu tampaknya menjadi kian kuning semburat kemerah-merahan karena cahaya pelita yang menggapai-gapai oleh sentuhan angin. Katanya selanjutnya, “Sidanti tidak akan berani berbuat apa pun atasku. Kini pasukan Untara sudah berada di depan hidung kita.Ia memerlukan anak-buahku. Apakah kira-kira yang akan dilakukan atasku meskipun ia melihat apa yang terjadi sekarang ini? Tidak. Ia tidak akan berani berbuat sesuatu. Ia akan menyesal sepanjang hidupnya, bahwa ia berbuat sebagai seorang banci. Dan aku tidak akan melupakan kemenanganku saat ini. Sekar Mirah. Jangan banyak solah. Kau tidak akan dapat melawan aku dan berteriak memanggil para pengawas. Apalagi menipu aku untuk melarikan kau dari tempat jahanam ini dan kemudian menjerat leherku sendiri.”
Sekar Mirah kini merasa bahwa ia telah berdiri diujung bara api yang menyala. Sebentar lagi ia akan hangus terbakar. Tetapi ia tidak akan dapat menyerahkan diri tanpa berbuat sesuatu. Karena itu tiba-tiba Sekar Mirah pun bergeser setapak.

Alap-alap Jalatunda benar-benar menjadi seolah-olah gila. Mulutnya kemudian bergerak-gerak dan terdengarlah ia tertawa perlahan-lahan seperti iblis yang tertawa melihat sesosok mayat terkapar di hadapannya.

“Akan lari kemana kau Sekar Mirah?”

Sekar Mirah masih mempunyai secercah harapan, meskipun sangat tipisnya. Ia akan dapat berteriak dan para pengawas pun pasti akan datang menengoknya.

Tiba-tiba saja di kejauhan terdengar kentongan berbunyi. Empat pukulan sebelum nada dara muluk diulang dua kali.

Alap-alap Jalatunda yang hampir gila itu masih mendengar tanda itu. Itu adalah tanda bahwa para pemimpin padepokan harus segera berkumpul termasuk para pemimpin laskar Jipang yang berada di padepokan itu.

“Setan!” geramnya. “Apa lagi yang akan diperbuat oleh iblis tua itu.”

Sekar Mirah yang mendengar suara kentongan itu merasa bahwa serigala itu akan mengurungkan niatnya. “Mudah-mudahan suara kentongan itu merupakan suatu pertanda yang memaksa Alap-alap yang liar ini pergi meninggalkan aku,” desisnya di dalam hati. Dan dengan luka di hatinya ia berdoa, “Semoga Tuhan menyelamatkan aku dari tangan anak muda yang gila ini.”

Tetapi kembali harapannya seakan-akan lenyap dihembus oleh angin malam yang kencang ketika tiba-tiba Alap-alap Jalatunda itu berkata, “Persetan dengan segala pertemuan. Aku tidak perlu mengunjunginya. Biarlah semuanya diselesaikan oleh Sanakeling. Aku akan menyelesaikan urusanku sendiri.” Kemudian ia menggeram seperti seekor serigala lapar, “Mirah. Jangan menunda-nunda lagi. Kau dengar waktuku tidak terlampau banyak.”

Sekar Mirah itu kini hampir-hampir menjadi putus-asa. Satu-satunya kemungkinan yang dapat dilakukan adalah berteriak. Kini ia benar-benar kehilangan rasa takutnya seandainya ia akan dibunuh sekalipun. Sebab mati baginya akan lebih baik dari apa yang dapat terjadi saat itu.

Karena itu, maka dengan segenap tenaga yang ada padanya, maka gadis itu telah mencoba untuk berteriak.

Tetapi malang baginya. Ternyata Alap-alap Jalatunda adalah seorang prajurit muda yang lincah. Dengan kecepatan yang sukar dimengerti oleh Sekar Mirah, tiba-tiba saja tangan Alap-alap Jalatunda telah menyentuh mulutnya. Alangkah terkejutnya gadis itu, sehingga suaranya tertahan karenanya. Bahkan demikian terkejut cemas dan takut bercampur baur, Sekar Mirah itu seakan-akan telah kehilangan segenap tenaganya, sehingga ia tidak mendengar bahwa di kejauhan suara kentongan masih juga mengumandang memenuhi padepokan.

Bukan saja Sekar Mirah yang tidak lagi mendengar suara kentongan itu, tetapi Alap-alap Jalatunda pun kini sudah tidak mendengar lagi. Ia sama sekali tidak menghiraukan panggilan Sanakeling atau Sidanti lewat suara kentongan itu. Baginya lebih penting menerkam mangsanya daripada datang memenuhi panggilan itu.

Sekar Mirah pun kemudian benar-benar menjadi putus asa. Tak ada lagi cara yang dapat ditempuhnya untuk membebaskan dirinya. Apabila ia akan berusaha berteriak, maka secepat itu pula Alap-alap Jalatunda akan berhasil membungkam mulutuya.

Tiba-tiba terbersitlah di dalam dada Sekar Mirah itu suatu cara yang masih dapat dilakukannya. Yaitu mati. Satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari tangan Alap-alap itu adalah mati.

Justru karena itu maka timbullah kembali keberanian di dalam dada gadis itu. Keberanian di dalam keputus-asaan. Sehingga dengan demikian tiba-tiba gadis cantik itu menggeram.

Alap-alap Jalatunda melihat sikap Sekar Mirah yang tiba-tiba menjadi garang. Tetapi ia adalah seorang prajurit. Apalagi Sekar Mirah, sedang seorang laki-laki yang menggenggam senjata di tangannya pun dapat dilumpuhkannya.

Perlahan-lahan Alap-alap Jalatunda itu melangkah maju. Dibiarkannya Sekar Mirah menjadi bertambah garang. Bahkan ketika ia telah menjadi semakin dekat, maka Sekar Mirah itu mncoba menerkam wajahnya dengan kuku-kukunya.

Alap-alap Jalatunda tertawa sambil menarik kepalanya.

Tangan Sekar Mirah itu terayun tidak lebih setebal daun di hadapan wajah Alap-alap Jalatunda yang justru menjadi semakin liar. Dan dengan buasnya, Alap-alap Jalatunda itu pun kemudian menangkap tangan Sekar Mirah dan memutar gadis itu sehingga membelakanginya.

Sekar Mirah mengerahkan segenap kekuatannya untuk melepaskan dirinya. Tetapi tangan Alap-alap Jalatunda benar-benar telah menjepitnya seperti sebuah kancing besi. Ketika Sekar Mirah sekali lagi akan berteriak, maka suaranya hilang di dalam mulutnya, karena Alap-alap Jalatunda itu telah membungkamnya dengan telapak tangannya.

Kemudian Sekar Mirah benar-benar tidak akan dapat berbuat sesuatu lagi. Bahkan bunuh diri pun ia sudah tidak mampu. Alap-alap Jalatunda yang buas itu benar-benar telah dapat menguasainya dengan kekuatan yang berlipat-lipat dari kekuatan Sekar Mirah.

Namun Alap-alap Jalatunda itu tidak menyadari, bahwa sepasang mata telah mengintipnya dari balik dinding di belakang rumah itu dengan tajamnya, setajam ujung mata keris berlipat tujuh.

Dengan darah yang mendidih, orang yang mengintip ke dalam pondok itu mengikuti saja apa yang telah terjadi. Dibiarkannya kebuasan Alap-alap Jalatunda itu memuncak. Dengan demikian maka orang itu akan kehilangan segenap kewaspadaannya dan tidak akan melihatnya apabila ia memasuki pondok itu lewat jalan yang tadi dilalui oleh Alap-alap Jalatunda itu sendiri.

Kini ia melihat bahwa Sekar Mirah sudah tidak berdaya lagi. Maka ia tidak akan dapat membiarkannya. Ia tidak ingin terlambat dan menemukan Sekar Mirah telah kehilangan. Karena itu, maka perlahan-lahan ia merayap mendekati sudut rumah yang dindingnya sudah terbuka. Tetapi orang itu tertegun ketika telinganya mendengar sesuatu di muka pondok itu.

Baik orang yang mengintip di belakang dinding itu, maupun Alap-alap Jalatunda dan bahkan Sekar Mirah terkejut bukan kepalang ketika tiba-tiba saja pondok itu berderak dengan kerasnya, sehingga seluruh rumah kecil itu bergetar. Sejenak kemudian terdengar pintu itu terbuka dan sesosok tubuh yang tegap berdiri tegak di muka pintu, seperti sebuah tonggak yang kokoh kuat bertiang besi. Dari sepasang matanya memancar sinar kemerahan yang seakan-akan membakar wajah Alap-alap Jalatunda yang berdiri kaku tegang.

Dengan suara bergetar maka orang yaug berdiri di muka pintu menggeram, “Kau Alap-alap kerdil.”

Sejenak Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Tetapi sorot matanya pun kemudian memancarkan api kemarahan.

“Apakah kau sudah menjadi gila?” sambung orang yang berdiri di muka pintu.

“Kenapa kau menggangguku, Sidanti?” sahut Alap-alap Jalatunda tidak kalah garangnya.

Dada Sidanti hampir meledak mendengar kata-kata Alap-alap yang lapar itu. Tetapi ia menjawab, “Perbuatanmu adalah perbuatan yang paling biadab yang pernah kau lakukan.”

Perlahan-lahan Alap-alap Jalatunda melapaskan Sekar Mirah. Demikian gadis itu terlepas dari tangannya, maka gadis itu pun segera terjatuh di tanah. Meskipun Sekar Mirah tidak pingsan, tetapi otot bayunya seakan-akan telah dilolosi. Namun kedatangan Sidanti itu sedikit memberinya harapan. Meskipun kalau ia kemudian lepas dari tangan Alap-alap itu, maka suatu ketika Sidanti sendiri akan menerkamnya pula. Tetapi ia masih mempunyai waktu.

Kini Sidanti dan Alap-alap Jalatunda telah berdiri berhadapan, tetapi Alap-alap Jalatunda menyadari bahwa Sidanti tidak seorang diri. Tetapi Sidanti agaknya telah membawa beberapa orang laskarnya bersamanya.

“Sidanti, aku masih ingin memberimu peringatan. Tinggalkan tempat ini. Jangan kau ganggu aku.”

Terdengar gigi Sidanti gemeretak. Katanya, “Apakah aku harus membiarkan kebiadabanmu itu tanpa berbuat sesuatu.”

“Jangan terkejut, bahwa Sekar Mirah telah memilih aku dari padamu.”

“Tutup mulutmu!” teriak Sidanti, “aku tidak percaya. Kau pasti tidak usah mempergunakan kekerasan apabila demikian.”

“Persetan dengan mulutmu! Seandainyai demikian, maka apakah yang akan kau lakukan? Ayo, majulah bersama semua orang-orangmu yang kau bawa sekarang. Aku tidak akan gentar. Aku tidak akan lari. bahkan saat inilah yang aku tunggu-tunggu. Kapan aku dapat membalas sakit hatiku, pada saat aku mendengar apa yang telah kau lakukan atas Kakang Plasa Ireng.”

Wajah Sidanti menjadi merah padam mendengar sindiran itu. Terdengar giginya gemeretak, tetapi justru mulutnya serasa terkunci untuk sesaat. Sehingga Alap-alap Jalatunda masih berkata terus, “Kau menganggap perbuatanku ini sebagai suatu kebiadaban. Lalu katakan, apa yang pernah kau perbuat atas Kakang Plasa Ireng. Bukankah itu juga kebiadaban yang lebih biadab dari tindakanku kali ini. Aku hanya dapat dianggap melanggar pagar kesusilaan. Tetapi kau telah melanggar pagar perikemanusiaan. Menurut aku, maka kemanusiaan lebih berharga dari kesusilaan.”

“Persetan!” jawab Sidanti berteriak keras sekali. “Pendirianmu itu benar-benar pendirian seorang yang telah menjadi gila. Kau sangka apa yang kau lakukan ini bukan suatu pelanggaran kemanusiaan. Kau akan merenggut sesuatu yang paling berharga dari Sekar Mirah. Gadis itu akan menderita sepanjang hidupnya. Ia akan merasa tidak berharga lagi. Dan bagi seorang gadis akan lebih baik mati bunuh diri daripada hidup dalam keadaannya.”

Terdengar Alap-alap Jalatunda itu tertawa terbahak-bahak. Kepalanya kini benar-benar telah dicengkam oleh pengaruh tuak. Jawabnya, “O, Sidanti. Kau merasa tanganmu bersih sebersih tangan bayi. Siapakah yang membawa domba itu ke kandang serigala? Bukan salah serigala kalau ada kesempatan menerkam anak domba yang manis ini.”

Kembali terdengar gigi Sidanti gemeretak. Sejenak ia terbungkam tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun.

Sepasang mata dibalik dinding di belakang rumah itu mengikuti semua peristiwa itu dengan saksama. Dilihatnya raksasa-raksasa padepokan ini berkumpul di pondok yang kecil itu.

Orang itu bergumam dalam hatinya, “Untung Sidanti itu tidak terlambat. Aku pergi lama kemudian sesudah ia meninggalkan pondoknya. Tetapi kenapa baru sekarang ia hadir di sini? Ah, sebagai seorang pemimpin mungkin ia memerlukan singgah di tempat-tempat tertentu.”

Suasana rumah itu untuk sesaat dicengkam oleh kesepian yang mengerikan. Wajah-wajah yang berada dipondok itu menjadi semakin lama semakin tegang.

Apalagi ketika seorang yang tegap bersenjata sebatang tombak pendek melangkah masuk sambil berkata, “Apa yang kau tunggu Sidanti. Sebaiknya kau binasakan monyet itu.”

“Ha, kau akan ikut serta pendatang dari Menoreh. Meskipun kau bernama Argajaya, tetapi kau sama sekali tidak dapat menakut-nakuti anak-anak sekalipun. Soal ini adalah soal antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda. Persoalan ini adalah persoalan seorang gadis, kau tahu. Nah, sebaiknya kau minggir saja. Meskipun seandainya kau akan turut serta, maka aku pun bersedia melayanimu berdua.”

“Setan alas!” teriak Argajaya yang hampir saja meloncat sambil berteriak. “Aku sendiri mampu membunuhmu.”

Alap-alap Jalatunda mundur setapak. Tetapi Argajaya itu tidak jadi meloncat maju. Di antara orang-orang yang berdiri di muka pintu datanglah seorang yang acuh tidak acuh saja melihat semua peristiwa itu. ia berjalan sambil mulutnya mengunyah segumpal daging rusa muda. Dengan seenaknya ia masuk ke dalam gubug itu, kemudian bersandar dinding di dekat Alap-alap Jalatunda berdiri.

Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi semakin tegang melihat kehadirannya. Ia sama sekali tidak mengetahui, apakah maksud kedatangannya, karena wajahnya yang hitam itu sama sekali tidak menunjukkan kesan suatu apa.

Baru sejenak kemudian orang itu berkata, “Kau ulangi lagi peristiwa yang serupa Alap-alap yang malang. Dahulu kepalamu hampir melesat dipukul oleh Tohpati ketika kau membawa Nyai Pinan ke dalam pondokmu. Sekarang kau terpaksa berhadapan dengan Sidanti.”

Alap-alap Jalatunda menggeram, tetapi ia tidak segera menjawab.

“Aku tahu bahwa ilmumu maju dengan pesat tanpa bimbingan seorang guru pun. Tetapi kau tidak akan mampu melawan kedua orang itu bersama-sama.” Kemudian kepada Argajaya orang itu berkata, “Kakang Argajaya. Biarkan saja persoalan anak-anak muda ini. Kita yang sudah lebih tua sebaiknya tidak usah turut campur.”

Wajah Argajaya menjadi merah pula. Jawabnya. “Tetapi ia telah menghina Sidanti.”

“Biarlah Sidanti yang menyelesaikannya. Tidak baik akibatnya seandainya kita yang tua-tua ini akan turut serta.”

“Apakah kau akan membela orangmu yang berbuat gila itu?”

Sanakeling, orang yang sedang mengunyah daging rusa muda itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Kalau ia harus bertanggung jawab secara jantan, maka aku akan membiarkannya. Tetapi kau pun jangan mencampuri urusannya. Kau adalah seorang pendatang seperti kami di padepokan ini.”

Dada Argajaya hampir meledak mendengar kata-kata Sanakeling itu. Hampir-hampir ia berteriak menjawab kata-kata Sanakeling. Tetapi tiba-tiba terdengar sebuah panggilan yang mencengkam segenap jantung orang-orang yang berdiri di tempat itu, “Sidanti.”

Sidanti berpaling. Ia melihat Ki Tambak Wedi tergesa-gesa memasuki tempat itu. Dengan wajah yang merah padam ia bertanya, “Apakah yang telah terjadi?”

Sidanti mengatakan dengan singkat apa yang telah dilihatnya, dan Ki Tambak Wedi pun menggeram pula. “Perempuan ini adalah biang keladi dari kegagalan rencanaku. Supaya tidak ada persoalan lagi di antara kita dan kita dapat meneruskan rencana penyerangan ke Jati Anom maka sebaiknya perempuan ini dibunuh saja. Besok fajar kita datang ke Jati Anom dan melemparkan mayatnya di hadapan pasukan Untara.”

Semua wajah yang mendengar kata-kata itu tampak berkerut-merut. Hampir tak masuk di dalam akal mereka, bahwa Ki TambaK Wedi telah mengucapkan kata-kata itu. Namun justru dengan demikian maka mereka berdiri tegang tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun. Sedang Sekar Mirah yang masih terduduk dengan lemahnya di tanah, tiba-tiba menengadahkan wajahnya. Dalam keputus-asaan ia bahkan mampu menyahut, “Bagus. Itu adalah keputusan yang paling baik buat aku.”

Tetapi agaknya Sidanti berpendirian lain. Sejak lama ia terpikat oleh gadis itu, yang kemudian dengan susah payah diambilnya dari Sangkal Putung. Tetapi sekarang gurunya mengambil suatu sikap yang terlampau keras. Karena itu maka katanya, “Guru. aku memerlukan gadis itu.”

“Buat apa kau inginkan gadis Sangkal Putung itu?” bertanya gurunya.

“Bukankah guru menyetujui pula pada saat aku mengambilnya?”

“Aku mempunyai kepentingan lain dengan gadis itu. Dengan gadis itu di sini, maka Untara tidak akan berani dengan serta-merta saja menghancurkan padepokan ini, meskipun ia membawa pasukan seluruh prajurit Pajang.”

“Kenapa ia akan dibunuh?” bertanya Sidanti. “Apabila gadis itu sudah mati, maka Untara tidak akan terpengaruh oleh gadis yang sudah mati itu.”

“Ternyata pasukan Untara sama sekali tidak berarti bagi kita di sini. Kalau kalian tidak menjadi gila karena gadis itu, maka pada saat fajar nanti menyingsing maka kalian pasti sudah akan menghancurkan pasukan Untara di Jati Anom.”

“Guru,” berkata Sidanti kemudian, “aku mohon gadis ini dihidupi. Aku ingin mengambilnya sebagai seorang isteri. Kalau Sidanti kelak menggantikan kedudukan ayahanda Argapati di pegunungan Menoreh, maka ia akan menjadi seorang isteri yang kajen keringan. Aku sama sekali tidak berhasrat mempermainkannya seperti Alap-alap yang gila ini.”

“Persetan dengan keinginanmu!” potong Alap-alap Jalatunda. “Aku tidak peduli apakah ia akan kau ambil sebagai isterimu atau kau bunuh sekali. Aku hanya akan mengambilnya yang aku ingini daripadanya.”

“Diam!” teriak Sidanti dengan kemarahan yang meluap-luap.

“Seharusnya kau diam saja,” berkata Ki Tambak Wedi kepada Alap-alap Jalatunda.

“Itu tidak adil,” tiba-tiba terdengar Sanakeling yang berdiri bersandar dinding sambil melipat tangan di dadanya. “Persoalan ini adalah persoalan Sidanti dan Alap-alap Jalatuda. Kalau Sidanti dapat dan boleh menyatakan pendiriannya, maka Alap-alap Jalatunda pun harus mendapat kesempatan yang serupa.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Tetapi ia adalah seorang yang cukup memiliki perhitungan. Karena itu, betapa hatinya menjadi marah mendengar bantahan Sanakeling, tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu atasnya, karena di belakang Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda itu berdiri sepasukan laskar yang kuat.

“Aku pun ingin bersikap adil,” tiba-tiba Sidanti menggeram, “karena itu guru, serahkan persoalan ini kepadaku dan kepada Alap-alap Jalatunda.”

“Bagus!” sahut Alap-alap Jalatunda lantang. “Itu adalah sikap jantan. Kita melakukan perang tanding, Kalau aku mati dalam perkelahian ini, maka aku merasa puas, karena taruhanya cukup berharga bagiku. Bukankah taruhan dari perang tanding itu nanti adalah Sekar Mirah? Kalau kau menang Sidanti, maka Sekar Mirah menjadi milikmu. Apakah ia akan kau peristeri atau apa saja, sekehendak hatimu. Tetapi kalau aku menang, maka kau tidak boleh mencampuri lagi urusanku dengan gadis itu. Apakah yang akan aku lakukan.”

“Aku terima tantanganmu,” sahut Sidanti tidak kalah lantangnya.

Namun kemudian ruang yang tidak terlalu luas itu digetarkan oleh teriakan Sekar Mirah, “Tidak, tidak!”

Gadis itu pun tiba-tiba berdiri. Seperti orang gila ia berlari kearah Ki Tambak Wedi. Dengan serta-merta Sekar Mirah berpegang baju orang tua itu sambil berteriak-teriak, “Kiai, Kiai. Apakah kau pemimpin orang-orang ini? Kalau demikian, tolong Kiai, perintahkan saja mereka membunuh aku, supaya persoalan ini tidak berlarut-larut. Aku tidak mau jatuh ketangan kedua-duanya. Aku ingin mati saja Kiai. Karena itu bunuh saja aku.”

Sejenak Ki Tambak Wedi diam mematung. Namun kemudian perlahan-lahan didorongnya Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah tidak mau melepaskan baju Ki Tambak Wedi, sehingga orang tua itu berkata, “Lepaskan bajuku. Lepaskan!”

Tetapi Sekar Mirah tidak mendengar kata-kata itu. ia masih saja berteriak-teriak seperti orang kesurupan.

“Lepaskan!” bentak Ki Tambak Wedi kemudian. Sekar Mirah terkejut mendengar bentakan itu. Tiba-tiba ia menyadari keadaannya. Ketika kemudian Ki Tambak Wedi mendorongnya perlahan-lahan, maka Sekar Mirah itu kembali terduduk di tanah.

Sejenak ruangan itu dicengkam oleh kesenyapan. Orang yang mengintip di belakang rumah itu pun terpaksa menahan nafasnya, supaya Ki Tambak Wedi, yang bertelinga setajam telinga serigala itu tidak mendengarnya. Agaknya orang itu mampu menyesuaikan dirinya dengan keadaan, meskipun ia tidak berani berbuat apa-apa. Jangankan setelah kehadiran Ki Tambak Wedi. Terhadap Sidanti dan Alap-alap Jalatunda pun ia harus memperhitungkan seribu satu macam pertimbangan.

Namun orang itu menyadari pula, bahwa di depan rumah itu menjadi semakin banyak orang berkumpul. Baik ia orang padepokan itu sendiri, maupun orang-orang dari laskar Sanakeling. Sehingga di luar gubug itu pun telah dirayapi pula ketegangan seperti yang terjadi di dalamnya.

Ki Tambak Wedi, pemimpin dari padepokan itu menjadi pening melihat keadaan berkembang demikian buruknya. Sedangkan di hadapan hidung mereka telah berkumpul orang-orang Pajang yang sebentar lagi akan dimusnahkan. Tetapi kalau keadaan tidak segera dapat diatasi, maka rencananya pasti akan tertunda.

Karena itu bagaimanapun juga, Ki Tambak Wedi mencoba berusaha untuk meredakan keadaan. Maka katanya, “Baiklah. Kalau kalian telah sependapat untuk melakukan perang tanding, maka baiklah dilakukan lain kali. Sekarang, kita akan melakukan rencana yang telah kita susun. Kita harus turun ke Jati Anom dengan segenap kekuatan. Kita hancurkan pasukan Uutara yang tidak seberapa kuat itu.”

Kesenyapan yang tegang kembali mencengkam ruangan yang tidak terlampau luas itu, Sidanti dan Alap-alap Jalatunda berdiri berhadapan dengan wajah yang membara. Sedang Sanakeling masih saja berdiri sambil melipat tangan di dadanya. Di lambung kirinya tergantung sebilah pedang, sedang di lambung kanannya tergantung sebuah bindi. Di sisi lain Argajaya berdiri tegak meremas-remas tangkai tombak pendeknya.

“Kenapa kalian berdiri saja seperti patung!” bentak Tambak Wedi. “Tinggalkan tempat ini. Siapkan pasukan kalian dan kita akan segera turun ke Jati Anom. Kita masih mempunyai waktu. Kita akan sampai ke Jati Anom sebelum fajar. Setelah beristirahat sebentar kita akan melanda Kademangan itu tepat pada saat matahari terbit.”

Tetapi Alap-alap Jalatunda dan Sidanti belum juga beranjak dari tempatnya, sehingga sekali lagi Ki Tambak Wedi berteriak, “He apakah kalian telah menjadi tuli!”

Kedua orang yang sedang berdiri berhadapan itu benar-benar seperti patung yang mati. Mereka tidak beringsut sama sekali. Bahkan berkedip pun tidak.

Yang berkata kemudian adalah Argajaya, “Urusan ini harus diselesaikan dahulu Kiai. Kalau tidak, maka hubungan mereka di garis perang pun akan dapat mengganggu kelancaran seluruh pasukan.”

“Tidak,” potong Ki Tambak Wedi, “setiap prajurit pasti tahu menempatkan diri. Persoalan pribadi akan disimpan lebih dahulu sebelum persoalan kita bersama dapat diselesaikan. Persoalan Jati Anom bukan persoalan yang dapat diabaikan. Kalau kita kehilangan waktu ini, maka kita akan menyesal sepanjang hidup kita. Karena itu, maka tinggalkan urusan kalian. Kita akan segera berangkat.”

Sanakeling mengerutkan keningnya melihat sikap Argajaya. Karena itu maka ia menyahut, “Aku sependapat, dengan tamu kita yang terhormat itu. Pasukanku tidak akan bergerak sebelum persoalan ini selesai.”

“Tidak, Tidak!” Ki Tambak Wedi benar-benar menjadi marah. Tetapi Sanakeling yang masih saja berdiri dalam sikapnya, tahu benar, bahwa Ki Tambak Wedi saat ini sedang memerlukannya. Memerlukan pasukannya untuk membantu menghancurkan Jati Anom, atau kalau Untara mengambil sikap lebih dahulu, Ki Tambak Wedi memerlukannya untuk mempertahankan padepokan ini.

Melihat sikap Sanakeling dada Argajaya hampir meledak karenanya, seperti juga dada Ki Tambak Wedi. Tetapi Ki Tambak Wedi terpaksa menahan segenap kemarahan itu di dadanya sehingga dada itu menjadi panas sepanas bara.

“Tak akan ada bedanya kalau serangan kita atas Jati Anom itu kita tunda sehari,” berkata Sanakeling.

“Kau seorang prajurit, Ngger,” berkata Ki Tambak Wedi yang tiba-tiba menjadi lunak. “Kau pasti tahu. bahwa satu hari dalam kesempatan seperti ini adalah penting sekali. Jangankan satu hari, sedang sekejap pun di dalam perhitungan tata peperangan akan sangat besar sekali artinya.”

“Kiai benar,” sahut Sanakeling, “tetapi bagi sebuah pasukan yang utuh bulat. Sedang tak ada tanda-tanda pada lawan kita akan mendapat perubahan yang berarti, bukankah begitu? Bahkan seandainya besok datang sepasukan yang kuat dari Pajang, maka kita akan dapat menyusun perhitungan baru. Tetapi menilik keadaan Pajang sekarang, maka apa yang diberikan oleh Karebet kepada Untara itu sudah tidak akan dapat ditambah dengan segera.”

“Kau memperingan persoalan, Ngger,” sahut Ki Tambak Wedi. “Apa pun yang sedang dilakukan oleh Karebet dan Pemanahan, tetapi semakin cepat pekerjaan kita selesai, maka kita pun akan segera melakukan rencana kita berikutnya.”

“Kenapa Kiai berkeberatan memenuhi permintaannya,” potong Argajaya yang wajahnya benar-benar semerah bara. “Beri malam ini kesempatan untuk melakukan perang tanding. Setelah itu apabila kita masih mempunyai kesempatan, kita pergi ke Jati Anom. Kalau tidak, kita tunda serangan kita dengan satu hari.”

Terdengar Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi ia merasa bahwa betapa sulitnya mengatasi keadaan ini. Ia menyesal bahwa ia dahulu mengijinkan Sidanti mengambil perempuan itu dari Sangkal Putung. Ternyata perempuan itu kini telah menumbuhkan kesulitan baginya dan bagi rencananya.

Sejenak Ki Tambak Wedi itu terdiam. Dipandanginya Sidanti dan Alap-alap Jalatunda berganti-ganti. Orang tua itu tahu, bahwa Alap-alap Jalatunda selama ini telah mesu diri, melatih berbagai macam ilmu yang telah dimilikinya dengan berbagai macam cara dan alat. Pasir, batang-batang kayu di tepian, batu-batu, dan melatih kecepatan bergerak. Tetapi menurut penilaian Ki Tambak Wedi, betapa kemajuan yang dicapai oleh Alap-alap Jalatunda, namun ia masih belum akan dapat menyusul Sidanti. Karena itu sebenarnya Ki Tambak Wedi tidak akan mencemaskan nasib muridnya. Meskipun demikian, ia masih juga mencemaskan sikap orang-orang Jipang yang lain. Seandainya Alap-alap Jalatunda itu terbunuh dalam perang tanding, apakah mereka tidak akan membelanya? Harapan Ki Tambak Wedi hanyalah terletalak pada Sanakeling. Menilik sikapnya maka Sanakeling dapat dipercayanya, bahwa ia akan membiarkan perang tanding itu berlangsung dengan jujur dan dalam sikap jantan.

Karena itu, maka setelah tidak diketemukan lagi jalan lain, serta menurut penilikannya di Jati Anom, tidak ada tanda-tanda bahwa akan segera datang perubahan yang berarti, maka akhirnya Ki Tambak Wedi pun dengan hati yang berat berkata, “Baiklah, kalau itu menjadi pilihan kalian. Tetapi ketahuilah, bahwa siapa pun yang kalah dan siapa pun yang menang, maka kita akan kehilangan satu tenaga yang sangat kita perlukan. Karena itu, untuk menghindari hal yang demikian, maka aku menentukan ketetapan, bahwa perang tanding itu berlangsung sampai salah seorang tidak lagi mampu melawan. Tetapi tidak sampai mati. Aku harap kebesaran jiwa kalian dan kejujuran kalian sebagai seorang prajurit jantan.”

Meskipun tanpa berjanji, tetapi hampir bersamaan Sidanti dan Alap-alap Jalatunda terpaling. Wajah-wajah mereka menyatakan, bahwa mereka tidak senang mendengar keputusan Ki Tambak Wedi itu. Bagi mereka, perang tanding hanya dapat diakhiri dengan maut. Sehingga tanpa sesadarnya Sidanti menyahut, “Guru, itu tidak lazim bagi sebuah perang tanding.”

“Aku tidak peduli. Tetapi aku, tetua padepokan ini berhak membuat ketetapan sendiri yang sesuai dengan keadaan di padepokan ini. Satu kematian dari kau berdua, adalah pasti merugikan. Karena itu, maka aku tidak ingin kekuatan kita berkurang dengan sebuah kematian yang sia-sia,” jawab Ki Tambak Wedi.

“Kematian ini bukan kematian yang sia-sia,” potong Alap-alap Jalatunda. “Tetapi kematian ini adalah kematian jantan. Karena itu biarlah kami saling membunuh dengan sikap jantan.”

“Tutup mulutmu!” Ki Tambak Wedi membentak keras sekali sehingga semua yang mendengarnya menjadi terkejut karenanya. Bahkan orang yang sedang bersembunyi di belakang dinding rumah itu pun terkejut pula. “Semua harus tunduk kepadaku. Kalau tidak, aku dapat berbuat apa saja sekehendak hatiku di sini. Tak ada orang yang dapat melawan kekuasaan Ki Tambak Wedi. Aku dapat membunuh seratus limapuluh orang sekaligus dan membunuh seribu orang tidak lebih dari satu malam. Ayo, kalau memang kita sudah ingin meninggalkan tujuan kita. Kalau kita sudah tidak mempedulikan lagi kepada pasukan Untara. Ayo, kita melakukan perang tanding, bunuh-bunuhan di antara kita. Aku cukup seorang diri, dan kalian semuanya di satu pihak. Aku akan berkelahi sampai aku menjadi bangkai. Tetapi di antara kalian yang hidup akan menjadi saksi, berapa banyaknya mayat akan bertimbun di samping mayatku.”

Pengaruh kata-kata orang tua itu ternyata tajam sekali. Sidanti dan Alap-alap Jalatunda tidak lagi berani mengucapkan sepatah kata pun. Sedang Sanakeling, meskipun masih saja berdiri bersandar dinding sambil melipat tangannya, namun ia pun berdiam diri menunggu perkembangan keadaan.

Dengan demikian maka ruangan itu kembali menjadi sunyi. Sinar pelita yang redup bergerak-gerak oleh sentuhan angin malam dari lubang pintu yang menganga.

Karena tidak ada seorang pun yang bersuara, maka berkata pula Ki Tambak Wedi, “Ayo, sekarang, sediakanlah arena. Kita akan mulai dengan perang tanding. Kita akan segera melihat, siapakah yang kalah dan siapakah yang menang. Kemudian perempuan ini tidak akan menimbulkan keonaran lagi.”

Ki Tambak Wedi tidak lagi menunggu sebuah jawaban. Segera ia beranjak dari tempatnya, melangkah ke arah pintu. Tak seorang pun yang menghalanginya. Bahkan beberapa orang segera menyibak memberinya jalan. Di muka pintu orang tua itu berhenti sejenak, sambil berpaling ia berkata, “Arena itu berada di halaman banjar pimpinan padepokan ini. Para pemimpin akan menjadi saksi dan semua orang harus menyaksikannya, selain yang sedang meronda. Setelah itu, apabila masih saja timbul persoalan maka aku sendirilah yang akan membunuhnya.”

Orang-orang di sekitarnya kemudian melihat orang tua itu melangkah dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu hilang di dalam gelapnya malam.

Sepeninggal Ki Tambak Wedi, maka Sidanti pun segera pergi pula sambil berkata, “Aku tunggu kau Alap-alap cengeng.”

“Persetan!” sahut Alap-alap Jalatunda.

Langkah Sidanti terhenti. Hampir-hampir ia melangkah kembali kalau Sanakeling tidak berkata, “Bukan di sinilah arena yang ditentukan oleh Ki Tambak Wedi.”

Sidanti menggeram mendengar kata-kata Sanakeling itu. Dipandanginya wajahnya yang hitam-kelam. Namun Sanakeling sendiri tampaknya seperti acuh tak acuh saja menanggapinya.

Alangkah panasnya hati Sidanti. Namun ia tidak dapat membantah lagi, bahwa memang bukan di ruangan itulah arena yang sudah ditentukan.

Dengan hati yang bergelora ia meneruskan langkahnya diiringi oleh pamannya dan kemudian orang-orang di luar pintu ruangan itu. Alap-alap Jalatunda pun kemudian melangkah keluar bersama Sanakeling yang bergumam, “Kau memang bodoh Alap-alap kerdil. Kau terlampau percaya kepada latihanmu di pinggir kali itu. Dua kali kau terlibat dalam persoalan dengan perempuan, dalam keadaan yang serupa. Kau memang tidak dapat menyamakannya dengan perempuan jalanan yang kau jumpai di mana-mana.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Oktober 2008 at 21:23  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-23/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pemikiran saya 100% sama… memang tidak mungkin memuaskan setiap orang, tp seperti yang sudah pernah saya katakan, tepa selira harus tetep langgeng…
    apa lagi, ADBM ini kita pahami bukan hanya cerita silat belaka… tetapi pelajaran budi pekerti yang wajib kita wariskan ke anak cucu kita…
    apalagi sudah sangat terasa.. bahwa pergeseran budaya yang makin mendewakan emosional.. bukan penalaran..
    bahkan ini yang menjadi acuan begawan marketin Hermawan Kertajaya dengan teorinya marketing in venus..
    semua kemunduran bangsa ini, memang karena mental manusianya… mudah-mudahan dari kelompok kecil kita ini kita bisa membuat perubahan yang berarti…
    Salam Hangat

  2. Mas DD, ini sekedar pendapat saya saja.

    Secara pribadi saya ingin sekali setiap hari ada upload file djvu, sehingga bisa segera mengikuti sambungan cerita berikutnya sampai dengan jilid terakhir.

    Jika kita menginginkan cita-cita luhur adanya proyek “retype” dan keinginan untuk memberikan legacy yang bernilai kepada generasi yang akan datang tetap berkesinambungan, namun mengingat bahwa retype ini sukarela, maka dikhawatirkan gap antara upload djvu dengan file retype akan semakin panjang dan orang akan semakin malas untuk retype. Sehingga dikhawatirkan proyek retype akan terbengkalai.

    Bagaimana kalau dibuat semacam komitmen, tidak akan upload file djvu jilid berikutnya sebelum jilid sebelumnya sudah di retype semuanya, sehingga yang menginginkan cerita sambungannya akan berusaha melakukan retype?

    Sekedar usul saja lho mas, mudah-mudahan tidak membuat marah bagi yang menginginkan segera adanya upload file djvu jilid berikutnya.

    D2: Usul yg baik. Saya se7.

  3. mas DD seperti yg sdh tak bayangkan bahwa akhirnya adbm ini hanya akan menjadi bacaan sebagaian kelompok saja,sementara yg lainnya seperti sy hanya bs menonton saja atau pindah ke warung sebelah,,,dg format yg skrg ssh bg yg tdk bs membaca melalui djvu, menunggu retype pun semakin membingunggkan karena yg sdh di retype lgsg bermunculan di box coment secara acak,,btw memang kadang untuk kemajuan itu musti ada yg dikorbankan ya….,btw lg…pepatah yg berbunyi alon alon asal klakon tu sdh gak jaman lg ya….,,,saya si ttp dtg kesini walau cm tuk bc coment2 yg semakin rame,,hitsnya jg san soyo akeh nampaknya…

  4. Bung DD, mungkin ndak ya retype dilakukan oleh tenaga profesional? maksud saya kita “bantingan” meng”honor” retyper. Kalau 1 edisi (100 buku) bisa 1-2 bulan retype, tampaknya mungkin apabila retypenya dilakukan setiap hari. Ada ndak ya kawan-kawan yg kerjaannya profesional retyper? Bung Rizal kok ilang

  5. Mas DD,
    Saja mengikuti adbm sejak di blognya mas Rizal. Saya mengikuti lebih sering lewat PDA ketimbang Notebook. Kerepotan kawan2 yg aktif meneruskan adbm sampai ke blog ini juga saya ikuti. Tapi mohon maaf saya nggak bisa ikut rame2 berjuang.
    Saya lihat banyak kawan2 pembaca yg dropout nggak bisa mengikuti karena perubahan format ke DjVu. Karena memang format tsb belum populer seperti pdf. Saya usul, untuk mengakomodir kawan2 yg nggak bisa baca DjVu, format yg dipakai pdf saja yg lebih populer. Kalau ukuran file lebih besar bisa di pecah jadi beberapa. Mudah2an bisa menolong sebagian kawan2 yg ketinggalan. Terimakasih dan selamat berkarya sosial.
    Salam, HH

  6. Saya mendukung usulan Bung TT (lah, setalah ada bung DD, kemudian bung TT, nanti akan ada bung AA, bung BB, bung CC, dll :-)), apakah memungkinkan dibuat account khusus?
    Para adbm-er dapat memberikan donasi ke account tsb, kemudian donasi tsb dipakai untuk “honor” bagi para retyper professional. Sementara retyper sukarela juga masih tetap dapat menyumbangkan hasil retype-nya.
    wah, maunya kerja sosial, kayaknya malah makin membuat bung DD semakin ribet ya…:-)

  7. Salam Mas D2..
    Kayaknya bisa dimengerti kenapa Bung Rizal ga nerusin ADBM di blog lama. terbayang ga kalo di retype bisa makan waktu 8 tahun!!???. Lha emang cuma ngurusin ADBM doang??..Angkat jempol dengan terobosan Mas D2 dengan format DJVU nya…,(konon itu juga “cuman” 1 tahun bisa tamat). Bisa dibayangin, Mas D2 dalam kerja rutinnya selalu dibayangi ADBM yg mesti buru2 dikebut.., wah ga kebayang deh kalo saya yg mesti spt mas D2.., angkat 2 jempol demi memuaskan orang lain.

    Masalah format.., ga usah berkeluh kesah.., apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi kalo kembali hrs retype dlm format PDF…, duh.., kasian mas D2 nya dong!…Awalnya saya juga gaptek DJVu tapi kan ada petunjuk2…, ikutin aja…, dan ternyata jauh lebih nyaman dan cepat, dan sangat membatu meringakan kerjaan gratis Mas D2.
    Percaya deh.., apapun medianya, PC,PDA dsb.., cepat atau lambat akan ikut ngikutin teknolgi.
    Jadi menurut saya… teruskan saja format DJVu nya..,bisa lebih cepat, dan membantu meringankan kerjaan MasD2..maaf saya sendiri ga bisa bantu apa2 selain nimbrung baca.

    Buat rekan2 di padepokan Tambak wedi, ini sedkit gambaran aja.., dengan DJVu reader yg kisanak baca adalah hasil scanning dari asli bukunya.., mgkin agak gagap dengan Ejaan Lama, tapi ga masalah.., malah lucu hehehe..

    “…pada achirnya , semua kebidjaksanaan saja serahkan kembali kepada mas D2…, mana jang kira2 tidak merepotkan, dan tidak menyita waktu Mas D2 itu jang terbaik menurut saja…. saja sudah sangat beruntung sekali ada orang seperti Mas D2 jang mau berbagi, untuk itu saja tidak mau merepotkan.., terima kasih banjak ja Mas D2…, tjukup sekian kiranja”

  8. @ Para nayaka ADBMers (DD)..
    Klu saya seperti mas Dewo, semula ya agak gagap dan glagepan dng format Djvu, tapi setelah ikuti JUKNIS-nya, ya lancar-lancar saja..Pertimbangannya ya cuma satu, yaitu kejar tayang, jng hanya “alon2 waton kelakon” tapi harus “yo klakon yo maton”

    Klu ada yg mau kerja profesional (dng honor misalnya) spt usul TT silahkan saja, tapi mbokiyao yang mau kerja gratisan juga diberi “tempat”, dng kesempatan itu, merupakan salah satu wahana sosial yang mgkin nggak bisa disalurkan ke tampat lain. Untuk itu saya tetap mendukung kerja retype relawan, tapi hrs tetap mengutamakan kualitas..

  9. Saya tidak yakin kalau hanya retype saja, meskipun dikerjakan oleh 100 orang, bisa diselesaikan dalam waktu 5-6 tahun mengingat bakal berubahnya komitmen dan prioritas banyak orang. Sebaiknya konsentrasi ke scan & upload saja, tidak usah meniru NSSInya gadjahsora yg hanya 4%nya ADBM. Kalau 2 buku per minggu atau 3 buku per 2 minggu, maka dalam 1 tahun sisa 373 sudah selesai (?!)
    Djvu bisa diconvert ke pdf hitam putih hanya dengan tambahan 20% djvu’s file size. Saya sudah coba, hanya tidak bisa upload di website.
    Dengan gotong royong barisan ke 2 bisa membantu mereka yg tidak bisa baca djvu, baik itu melalui japri atau tambahan blog lain.

  10. Alhamdulillah,
    sebagai adbm-er turut berbahagia sudah mulai banyak yang bisa menikmati enak dan nyamannya format djvu. Terima kasih atas usaha keras Mas DD.

    Kembali Juknis (maaf Mas DD, saya mengulangi juknis):
    ambil program dari download.

    Saya pribadi memilih STDU viewer.
    program yang didownload akan tertulis :stduviewer.
    Windows biasanya menyembunyikan extention. Untuk membukanya:
    Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    Setelah tanda thick (centang) dihilangkan maka file yang didownload akan tampak:
    stduviewer.doc
    stduviewer.doc kemudian di rename (klik kanan>rename), diubah menjadi
    stduviewer.exe
    saat mengubah extention file akan muncul tulisan

    If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    kemudian stduviewer.exe diinstal.

    atau kalo gak mau ribet ganti extention download langsung dari sini:
    http://www.download25.com/install/stdu-viewer.html

    Setelah STDUViewer diinstal harap tidak terkejut jika nanti seluruh file pdf yang biasanya dibuka dengan program adobe akan muncul sebagai file yang akan dibuka sebagai stuviewer. Jika tetap menginginkan file pdf tetap sebagai file yang bisa dibuka dengan adobe mungkin jangan instal stduviewer tetapi instal WinDJview saja, caranya sama dengan di atas.

    Nah, sekarang tiba saat saat yang ditunggu.
    download adbm-jilid-023.pdf yang sudah dipost Mas DD.
    file yang didownload di komputer akan muncul sebagai adbm-jilid-023.pdf

    Jika extentionnya masih di sembunyikan oleh windows maka filenya hanya tertulis adbm-jilid-023 dengan icon adobe, sehingga extentionnya harus dibuka dengan cara Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    adbm-jilid-023.pdf kemudian di klik kanan>rename diubah menjadi adbm-jilid-023.djvu
    pada saat mengubah extention file akan muncul tulisan: If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    Setelah dibuka, atur zoom (50%-500%) sesuai dengan keinginan berapa besarnya huruf dan layar untuk membaca adbm.

    Sudah deh, bisa menikmati adbm sambil makan ubi goreng.

  11. Catatan tambahan Juknis:

    Untuk komputer kantor, biasanya ada peraturan tidak boleh instal software tertentu karena issue copyright, network security, beban kerja local network, dll.

    Namun WinDJview atau stdviewer adalah freeware.
    Bisa download langsung Windjview di sini:
    http://www.softpedia.com/get/Office-tools/Other-Office-Tools/WinDjView.shtml

    Freeware, adalah software yang bebas dipakai, jadi kantor tidak perlu khawatir dengan issue copyright. Program ini juga tidak akan menimbulkan beban local network serta issue security, sehingga orang dari departemen IT mudah-mudahan tidak keberatan jika kita instal program ini di komputer kantor (malah orang-orang staf IT akan berterima kasih barangkali karena mereka juga pengin ikut menikmati adbm :-).

  12. Saya adalah seorang yg sebaya dg Widura dan lumayan gaptek. Kalo 3 langkah saya adalah:

    A. Download & install “Windjview” (dari salah satu dari sekian banyak hasil search di google)

    B. Masuk website tercinta (adbm)-> klik buku (misal) 22-> ke halaman yg mas DD tulis “full version djvu”->klik kanan link “adbm-buku-022”->save as copy….->taruh di folder yg sdh disiapkan.

    C. Buka/jalankan “Windjview”, open file->pilih file DAN ganti Files of type ke “All Files”. Sudah..!!!

    …yg disampaikan anakmas Dewo tidak salah,…apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi itu (mestinya) nggak lama kok. Jaman dulu kita pakai program WS & Lotus123, lantas beralih ke MS-office ya cuma sebentar kagoknya….

    Dg menikmati ejaan lama plus mirang-miringnya hasil scan, justru menambah heroiknya perjuangan kita dalam meraih cita2, spt membaca guratan2 gambar silat Agung Sedayu di rontal… he.. he.. bercanda..

    Maturnuwun sanget kagem anakmas DD lan sanak kadang ingkang sampun ikhlas sharing harta karun menika.

    Salam

  13. Dear bung Dede & ADBMers,
    Saya ucapkan terima kasih atas upaya bung Dede & team untuk memosting ADMDeJavu (selanjutnya saya singkat ADMD). Untuk membagi kebahagiaan membaca ADMD yang cukup cepat penayangannya, saya ingin memeberikan pengalaman saya mendapatkan viewer (alat baca) ADMD yang gratis, freeware, dan menurut saya paling gampang, agar teman2 yang belum dapat akses dapat ikut serta menikmatinya.

    1. Dari google, cari (search) dengan mnegetik: “download djvu viewer”. Dari situ anda akan diantar ke web: LizardTech.
    2. Saya sendiri mengambil (klik pilihan kedua) yaitu:
    http://www.djvuzone.org/download/index.html
    3. Paling kanan atas akan muncul pilihan DJVU Plug-in. Klik dua kali.. dan download mulai, jangan lupa install sekalian. Setelah instalasi, di desktop anda akan muncul kotak Djvu Viewer.

    Sampai tahap ini saya harap belum muncul kesulitan, tetapi kalau masih, silakan post comment nanti saya atau teman2 lain bantu.

    4. Untuk download bacaan ADMD, kita buka ADMCadangan, dan buka/klik nomor buku yang akan dibaca (mis. buku 23). Pada setiap buku ada halaman (pages). Biasanya bacaan dalam format djvu ada di halaman 1 atau 2. Right click (klik kanan) bahan tersebut, akan muncul pilihan “save link as”. Kalau andapilih option tersebut bahan bacaan akan tersimpan di desktop anda (atau tempat lain yang anda tentukan).

    5. Untuk membaca ADMD dengan nomor tertentu, kita seret (drag) bacaan yang sudah didownload ke djvu vIewer di desktop.

    Selamat mencoba.
    GI

    NB. Di lokasi saya djvu belum populer. Nampaknya ini format yang dipromosikan oleh WordPress (yang juga belum populer). Saya sedang mencoba mencari software untuk transfer djvu ke pdf. Saya sudah coba tiga cara: (1) dengan mengattach “cutewriter” untuk kemudian print ke pdf, (2) tranfer langsung via UDC (Universal Document Converter), (3) transfer via IrfanView. Ketiganya belum berhasil. Mungkin ada teman lain yang pernah mencoba salah satu dari yg tsb di atas.

  14. Buku 23 halaman 77

    … (dari halaman 76) Berada di sarang lawan. Apapun yang terjadi harus kita tanggungkan.”

    Sejenak Swandaru memandangi wajah Agung Sedayu. Dan sesaat kemudian ia berkata, “Ia adalah pendapat yang paling baik. Mari kita masuk.”

    “Aku sudah mempunyai jalan yang paling baik untuk memasuki rumah itu.” Berkata Wuranta. “Jangan lewat pintu depan. Sidanti masih menempatkan satu dua pengawas di sekitar tempat ini. Biasanya di rumah di muka rumah ini.” Berkata Wuranta

    Agung Sedayu dan Swandaru memandanginya sejenak. ”Jalan manakah yang kau maksud?”

    ”Aku kira jalan yang telah di pergunakan oleh Alap-alap Jalatunda.” jawab Wuranta. ”Lihatlah sudut rumah itu.”

    Karena cahaya pagi telah memercik keatas padepokan Tambak Wedi itu pula, maka segera mereka melihat bahwa sudut rumah itu telah terbuka.

    ”Hem..” Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menjadi tergesa-gesa untuk segera menemui adiknya. Maka katanya, ”Marilah. Apalagi yang kita tunggu? Kalau sebentar lagi Sidanti datang kemari, biarlah aku menyambutnya.”

    Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kalimat itu telah menumbuhkan kekaguman di hati Wuranta. Katanya di dalam hati, ”Anak muda putra Ki Demang Sangkal Putung ini agaknya seorang anak muda yang pilih tanding. Kebenciannya kepada Sidanti sampai ke ujung ubun-ubun. Dan agaknya ia mampu mengimbanginya.” Tetapi Wuranta itu tidak mengucapkan sepatah katapun.

    Mereka bertigapun kemudian pergi ke sudut rumah. Perlahan-lahan Swandaru merenggangkan dinding.

    ”Dinding ini memang sudah terbuka.” bisiknya perlahan-lahan.

    ”Masuklah.” sahut Agung Sedayu.

    Dengan hati-hati Swandaru yang gemuk itupun merangkak masuk. Tetapi agaknya jalan itu terlalu sempit baginya, sehingga anak yang gemuk itu sedikit mengalami kesulitan.

    ”Tolong, tariklah dinding ini. Bajuku terkait.” desis Swandaru.

  15. Bung GI,

    Aku nyoba pakai DJVULibre, bisa untuk export ke pdf, jpg, atau format lain. Percobaan export ADBM_jilid_19.djvu yang ukurannya 1.2 MB ke format pdf, ukurannya menjadi 24.7 MB.

    -kris-

    D2: Ada cara “mubeng jok-teng” Mas Kris. Halaman djvu dikopi blok dan disimpan sbg image (JPG). Lalu dikonvert sebagaimana sebelumnya. Cuma ya harus mengkopi tiap halaman menjadi file JPG. Satu lagi, mungkin BD telah mengurangi resolusinya (terlihat dari gambar ilustrasi yang pecah) shg mungkin hasil konversinya kurang memuaskan. Tapi mungkin bisa dicoba. Hasil konversinya bisa ditayangkan di boks koment jilid ybs. Mungkin ada kawan yg mau ntlateni ketimbang retype

  16. buku 23.doc nya di attach di page 1? bukan di page 2?

    D2: Tx, nanti aku pindah

  17. Ngedownload djvu2nya tuh di mana ya ? Gw cari2 gak ketemu.

  18. Kalo cara ubah pdf ke djvu gimana ya??
    Ada yg tau ga? Kalo ada tolong email ke s1au_y3n@yahoo.com ya…
    thx ya…^^

  19. Assalamu’alaikum ww

    dengan ini perkenankalah saya mengenalkan diri :
    nama : Sumartono, lahir di Jogyakarta
    saya ikut seneng bisa ikutan baca serial yang sangat menarik ini, sewaktu kecil gak pernah bias beli bukunya.
    Saya sangat berterimakasih pada penyelenggara situs ini.
    semoga rezekinya ndlidir tur akeh. Amin
    sebetulnya saya pingin sekali ikutan nyumbang tenaga sebagai cheker gitu lho, untuk meminimize kesalahan ketik, saya juga bisa ketik dengan blind system. mohon maaf bila kurang berkenan dihati.
    demikianlah, salam perkenalan dari saya, sekali lagi mohon maaf dan thousand thanks.
    wassalam,

    $$ salam kenal Ki. selamat datang di padepokan.

  20. Alap alap Jalatunda mati
    dicubles pedange Sidanti
    mbah_man,,,,,,lanjutane ADBM pundi..???
    para cantrik wes pada ngenteni….!!!!!

    • hayo kanca2 pada ANTRI ning sini…..!!??

    • KI Gembleh, terusan adbm di gandhok gagak Seta

      • mari tak inguk sing onok mung nyi dwani mita thok til je mbah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: