Buku 23

PENGANTAR:

Jika ADBM mania mengikuti diskusi kawan2 mengenai persoalan utama dalam proses siberisasi ADBM, maka mestinya dapat dimafhumi bahwa “kecepatan” merupakan faktor paling menentukan. Dengan kecepatan 1 buku perminggu (BPM) maka diperlukan waktu hampir 8 tahun(!) untuk menayangkan seluruh ADBM yang mencapai 396 jilid. Ya, delapan tahun! Delapan tahun bukanlah waktu yang affordable untuk pekerjaan ini. Bahkan seandainya kecepatan naik menjadi 2 BPM pun, 4 tahun tetap masih belum reasonable. Oleh karena itu, saya kira dapat dimaklumi bahwa format penayangan sekarang yang menggunakan file djvu merupakan jalan keluar yang mrantasi. Tetapi, kami juga menyadari bahwa tidak ada satu cara yang bisa memuaskan semua-muanya, satu per satu. Beberapa kawan mungkin menjadi tidak bisa menikmatinya karena satu dan lain hal (dan ini memang sudah terbukti). Meskipun itu bukan kesalahan kami, saya perlu mohon maaf atas ketidaknyamanan tersebut.

Tadinya kami berandai-andai, bahwa dengan cara ini pula maka ibarat pepatah “sekali mendayung, 2-3 (atau bahkan 10) pulau terlampaui”. Selain waktu penayangan yang jauh lebih singkat (1 tahun mungkin), maka proyek penulisan ulang juga masih bisa dijalankan, bahkan mungkin dengan keterlibatan relawan yang makin banyak. Angan-angan itu hampir terwujud karena memang keduanya berjalan. Juga muncul beberapa relawan baru. Hanya saja perjalanan keduanya tidak seiring sejalan. Penayangan ADBM dengan format djvu bisa 7 BPM, sedangkan retypenya 1 BPM pun masih menjadi pertanyaan. Beberapa relawan menyarankan saya untuk menjadwalkan saja retyping pada para editor sebagimana sebelumnya kami lakukan. Tetapi saya sendiri merasa berada di suatu posisi yang “unconfortable”. Memang kami sendiri mengalami perubahan suasana. Dulu para editor-retyper sangat bergairah. Mungkin karena sebuah kesadaran bahwa hanya dengan begitulah ADBM bisa dihadirkan. Sekarang suasana itu tampaknya bergeser. Sebagian mungkin bertanya buat apa ditulis lagi? Sebagian mungkin berpendapat bahwa retyping itu “perlu” tetapi tidak “penting”. Saya sendiri berpendapat retyping itu “perlu” dan “penting”. Tetapi saya menjadi tidak enak untuk menunjuk beberapa orang melakukan retyping. Saya menginginkan bahwa ADBM adalah milik kita, bukan milik sekelompok komunitas. Oleh karena itu, saya mengharapkan keterlibatan yang lebih luas dari ADBM mania. Jadi bagi yang punya kesanggupan dan kemauan, silakan booking halaman aja deh, biar sama2 enak. Sekedar mengingatkan, bahwa ini adalah mahakarya yang penting untuk diwariskan ke anak cucu negeri ini.

Begitulah. Mohon maaf kalau saya berpanjang-panjang mengantarkan jilid 23.

(DD)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Oktober 2008 at 21:23  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-23/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pemikiran saya 100% sama… memang tidak mungkin memuaskan setiap orang, tp seperti yang sudah pernah saya katakan, tepa selira harus tetep langgeng…
    apa lagi, ADBM ini kita pahami bukan hanya cerita silat belaka… tetapi pelajaran budi pekerti yang wajib kita wariskan ke anak cucu kita…
    apalagi sudah sangat terasa.. bahwa pergeseran budaya yang makin mendewakan emosional.. bukan penalaran..
    bahkan ini yang menjadi acuan begawan marketin Hermawan Kertajaya dengan teorinya marketing in venus..
    semua kemunduran bangsa ini, memang karena mental manusianya… mudah-mudahan dari kelompok kecil kita ini kita bisa membuat perubahan yang berarti…
    Salam Hangat

  2. Mas DD, ini sekedar pendapat saya saja.

    Secara pribadi saya ingin sekali setiap hari ada upload file djvu, sehingga bisa segera mengikuti sambungan cerita berikutnya sampai dengan jilid terakhir.

    Jika kita menginginkan cita-cita luhur adanya proyek “retype” dan keinginan untuk memberikan legacy yang bernilai kepada generasi yang akan datang tetap berkesinambungan, namun mengingat bahwa retype ini sukarela, maka dikhawatirkan gap antara upload djvu dengan file retype akan semakin panjang dan orang akan semakin malas untuk retype. Sehingga dikhawatirkan proyek retype akan terbengkalai.

    Bagaimana kalau dibuat semacam komitmen, tidak akan upload file djvu jilid berikutnya sebelum jilid sebelumnya sudah di retype semuanya, sehingga yang menginginkan cerita sambungannya akan berusaha melakukan retype?

    Sekedar usul saja lho mas, mudah-mudahan tidak membuat marah bagi yang menginginkan segera adanya upload file djvu jilid berikutnya.

    D2: Usul yg baik. Saya se7.

  3. mas DD seperti yg sdh tak bayangkan bahwa akhirnya adbm ini hanya akan menjadi bacaan sebagaian kelompok saja,sementara yg lainnya seperti sy hanya bs menonton saja atau pindah ke warung sebelah,,,dg format yg skrg ssh bg yg tdk bs membaca melalui djvu, menunggu retype pun semakin membingunggkan karena yg sdh di retype lgsg bermunculan di box coment secara acak,,btw memang kadang untuk kemajuan itu musti ada yg dikorbankan ya….,btw lg…pepatah yg berbunyi alon alon asal klakon tu sdh gak jaman lg ya….,,,saya si ttp dtg kesini walau cm tuk bc coment2 yg semakin rame,,hitsnya jg san soyo akeh nampaknya…

  4. Bung DD, mungkin ndak ya retype dilakukan oleh tenaga profesional? maksud saya kita “bantingan” meng”honor” retyper. Kalau 1 edisi (100 buku) bisa 1-2 bulan retype, tampaknya mungkin apabila retypenya dilakukan setiap hari. Ada ndak ya kawan-kawan yg kerjaannya profesional retyper? Bung Rizal kok ilang

  5. Mas DD,
    Saja mengikuti adbm sejak di blognya mas Rizal. Saya mengikuti lebih sering lewat PDA ketimbang Notebook. Kerepotan kawan2 yg aktif meneruskan adbm sampai ke blog ini juga saya ikuti. Tapi mohon maaf saya nggak bisa ikut rame2 berjuang.
    Saya lihat banyak kawan2 pembaca yg dropout nggak bisa mengikuti karena perubahan format ke DjVu. Karena memang format tsb belum populer seperti pdf. Saya usul, untuk mengakomodir kawan2 yg nggak bisa baca DjVu, format yg dipakai pdf saja yg lebih populer. Kalau ukuran file lebih besar bisa di pecah jadi beberapa. Mudah2an bisa menolong sebagian kawan2 yg ketinggalan. Terimakasih dan selamat berkarya sosial.
    Salam, HH

  6. Saya mendukung usulan Bung TT (lah, setalah ada bung DD, kemudian bung TT, nanti akan ada bung AA, bung BB, bung CC, dll :-)), apakah memungkinkan dibuat account khusus?
    Para adbm-er dapat memberikan donasi ke account tsb, kemudian donasi tsb dipakai untuk “honor” bagi para retyper professional. Sementara retyper sukarela juga masih tetap dapat menyumbangkan hasil retype-nya.
    wah, maunya kerja sosial, kayaknya malah makin membuat bung DD semakin ribet ya…:-)

  7. Salam Mas D2..
    Kayaknya bisa dimengerti kenapa Bung Rizal ga nerusin ADBM di blog lama. terbayang ga kalo di retype bisa makan waktu 8 tahun!!???. Lha emang cuma ngurusin ADBM doang??..Angkat jempol dengan terobosan Mas D2 dengan format DJVU nya…,(konon itu juga “cuman” 1 tahun bisa tamat). Bisa dibayangin, Mas D2 dalam kerja rutinnya selalu dibayangi ADBM yg mesti buru2 dikebut.., wah ga kebayang deh kalo saya yg mesti spt mas D2.., angkat 2 jempol demi memuaskan orang lain.

    Masalah format.., ga usah berkeluh kesah.., apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi kalo kembali hrs retype dlm format PDF…, duh.., kasian mas D2 nya dong!…Awalnya saya juga gaptek DJVu tapi kan ada petunjuk2…, ikutin aja…, dan ternyata jauh lebih nyaman dan cepat, dan sangat membatu meringakan kerjaan gratis Mas D2.
    Percaya deh.., apapun medianya, PC,PDA dsb.., cepat atau lambat akan ikut ngikutin teknolgi.
    Jadi menurut saya… teruskan saja format DJVu nya..,bisa lebih cepat, dan membantu meringankan kerjaan MasD2..maaf saya sendiri ga bisa bantu apa2 selain nimbrung baca.

    Buat rekan2 di padepokan Tambak wedi, ini sedkit gambaran aja.., dengan DJVu reader yg kisanak baca adalah hasil scanning dari asli bukunya.., mgkin agak gagap dengan Ejaan Lama, tapi ga masalah.., malah lucu hehehe..

    “…pada achirnya , semua kebidjaksanaan saja serahkan kembali kepada mas D2…, mana jang kira2 tidak merepotkan, dan tidak menyita waktu Mas D2 itu jang terbaik menurut saja…. saja sudah sangat beruntung sekali ada orang seperti Mas D2 jang mau berbagi, untuk itu saja tidak mau merepotkan.., terima kasih banjak ja Mas D2…, tjukup sekian kiranja”

  8. @ Para nayaka ADBMers (DD)..
    Klu saya seperti mas Dewo, semula ya agak gagap dan glagepan dng format Djvu, tapi setelah ikuti JUKNIS-nya, ya lancar-lancar saja..Pertimbangannya ya cuma satu, yaitu kejar tayang, jng hanya “alon2 waton kelakon” tapi harus “yo klakon yo maton”

    Klu ada yg mau kerja profesional (dng honor misalnya) spt usul TT silahkan saja, tapi mbokiyao yang mau kerja gratisan juga diberi “tempat”, dng kesempatan itu, merupakan salah satu wahana sosial yang mgkin nggak bisa disalurkan ke tampat lain. Untuk itu saya tetap mendukung kerja retype relawan, tapi hrs tetap mengutamakan kualitas..

  9. Saya tidak yakin kalau hanya retype saja, meskipun dikerjakan oleh 100 orang, bisa diselesaikan dalam waktu 5-6 tahun mengingat bakal berubahnya komitmen dan prioritas banyak orang. Sebaiknya konsentrasi ke scan & upload saja, tidak usah meniru NSSInya gadjahsora yg hanya 4%nya ADBM. Kalau 2 buku per minggu atau 3 buku per 2 minggu, maka dalam 1 tahun sisa 373 sudah selesai (?!)
    Djvu bisa diconvert ke pdf hitam putih hanya dengan tambahan 20% djvu’s file size. Saya sudah coba, hanya tidak bisa upload di website.
    Dengan gotong royong barisan ke 2 bisa membantu mereka yg tidak bisa baca djvu, baik itu melalui japri atau tambahan blog lain.

  10. Alhamdulillah,
    sebagai adbm-er turut berbahagia sudah mulai banyak yang bisa menikmati enak dan nyamannya format djvu. Terima kasih atas usaha keras Mas DD.

    Kembali Juknis (maaf Mas DD, saya mengulangi juknis):
    ambil program dari download.

    Saya pribadi memilih STDU viewer.
    program yang didownload akan tertulis :stduviewer.
    Windows biasanya menyembunyikan extention. Untuk membukanya:
    Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    Setelah tanda thick (centang) dihilangkan maka file yang didownload akan tampak:
    stduviewer.doc
    stduviewer.doc kemudian di rename (klik kanan>rename), diubah menjadi
    stduviewer.exe
    saat mengubah extention file akan muncul tulisan

    If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    kemudian stduviewer.exe diinstal.

    atau kalo gak mau ribet ganti extention download langsung dari sini:
    http://www.download25.com/install/stdu-viewer.html

    Setelah STDUViewer diinstal harap tidak terkejut jika nanti seluruh file pdf yang biasanya dibuka dengan program adobe akan muncul sebagai file yang akan dibuka sebagai stuviewer. Jika tetap menginginkan file pdf tetap sebagai file yang bisa dibuka dengan adobe mungkin jangan instal stduviewer tetapi instal WinDJview saja, caranya sama dengan di atas.

    Nah, sekarang tiba saat saat yang ditunggu.
    download adbm-jilid-023.pdf yang sudah dipost Mas DD.
    file yang didownload di komputer akan muncul sebagai adbm-jilid-023.pdf

    Jika extentionnya masih di sembunyikan oleh windows maka filenya hanya tertulis adbm-jilid-023 dengan icon adobe, sehingga extentionnya harus dibuka dengan cara Windows explorer>tools>Folders Option>View>Hides extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan).

    adbm-jilid-023.pdf kemudian di klik kanan>rename diubah menjadi adbm-jilid-023.djvu
    pada saat mengubah extention file akan muncul tulisan: If you change a file extention, the file may become unusable. Are you sure you want to change it? klik YES

    Setelah dibuka, atur zoom (50%-500%) sesuai dengan keinginan berapa besarnya huruf dan layar untuk membaca adbm.

    Sudah deh, bisa menikmati adbm sambil makan ubi goreng.

  11. Catatan tambahan Juknis:

    Untuk komputer kantor, biasanya ada peraturan tidak boleh instal software tertentu karena issue copyright, network security, beban kerja local network, dll.

    Namun WinDJview atau stdviewer adalah freeware.
    Bisa download langsung Windjview di sini:
    http://www.softpedia.com/get/Office-tools/Other-Office-Tools/WinDjView.shtml

    Freeware, adalah software yang bebas dipakai, jadi kantor tidak perlu khawatir dengan issue copyright. Program ini juga tidak akan menimbulkan beban local network serta issue security, sehingga orang dari departemen IT mudah-mudahan tidak keberatan jika kita instal program ini di komputer kantor (malah orang-orang staf IT akan berterima kasih barangkali karena mereka juga pengin ikut menikmati adbm :-).

  12. Saya adalah seorang yg sebaya dg Widura dan lumayan gaptek. Kalo 3 langkah saya adalah:

    A. Download & install “Windjview” (dari salah satu dari sekian banyak hasil search di google)

    B. Masuk website tercinta (adbm)-> klik buku (misal) 22-> ke halaman yg mas DD tulis “full version djvu”->klik kanan link “adbm-buku-022”->save as copy….->taruh di folder yg sdh disiapkan.

    C. Buka/jalankan “Windjview”, open file->pilih file DAN ganti Files of type ke “All Files”. Sudah..!!!

    …yg disampaikan anakmas Dewo tidak salah,…apapun yg baru awalnya selalu dibayangi ketakutan ga bisa ngikutin…, tapi itu (mestinya) nggak lama kok. Jaman dulu kita pakai program WS & Lotus123, lantas beralih ke MS-office ya cuma sebentar kagoknya….

    Dg menikmati ejaan lama plus mirang-miringnya hasil scan, justru menambah heroiknya perjuangan kita dalam meraih cita2, spt membaca guratan2 gambar silat Agung Sedayu di rontal… he.. he.. bercanda..

    Maturnuwun sanget kagem anakmas DD lan sanak kadang ingkang sampun ikhlas sharing harta karun menika.

    Salam

  13. Dear bung Dede & ADBMers,
    Saya ucapkan terima kasih atas upaya bung Dede & team untuk memosting ADMDeJavu (selanjutnya saya singkat ADMD). Untuk membagi kebahagiaan membaca ADMD yang cukup cepat penayangannya, saya ingin memeberikan pengalaman saya mendapatkan viewer (alat baca) ADMD yang gratis, freeware, dan menurut saya paling gampang, agar teman2 yang belum dapat akses dapat ikut serta menikmatinya.

    1. Dari google, cari (search) dengan mnegetik: “download djvu viewer”. Dari situ anda akan diantar ke web: LizardTech.
    2. Saya sendiri mengambil (klik pilihan kedua) yaitu:
    http://www.djvuzone.org/download/index.html
    3. Paling kanan atas akan muncul pilihan DJVU Plug-in. Klik dua kali.. dan download mulai, jangan lupa install sekalian. Setelah instalasi, di desktop anda akan muncul kotak Djvu Viewer.

    Sampai tahap ini saya harap belum muncul kesulitan, tetapi kalau masih, silakan post comment nanti saya atau teman2 lain bantu.

    4. Untuk download bacaan ADMD, kita buka ADMCadangan, dan buka/klik nomor buku yang akan dibaca (mis. buku 23). Pada setiap buku ada halaman (pages). Biasanya bacaan dalam format djvu ada di halaman 1 atau 2. Right click (klik kanan) bahan tersebut, akan muncul pilihan “save link as”. Kalau andapilih option tersebut bahan bacaan akan tersimpan di desktop anda (atau tempat lain yang anda tentukan).

    5. Untuk membaca ADMD dengan nomor tertentu, kita seret (drag) bacaan yang sudah didownload ke djvu vIewer di desktop.

    Selamat mencoba.
    GI

    NB. Di lokasi saya djvu belum populer. Nampaknya ini format yang dipromosikan oleh WordPress (yang juga belum populer). Saya sedang mencoba mencari software untuk transfer djvu ke pdf. Saya sudah coba tiga cara: (1) dengan mengattach “cutewriter” untuk kemudian print ke pdf, (2) tranfer langsung via UDC (Universal Document Converter), (3) transfer via IrfanView. Ketiganya belum berhasil. Mungkin ada teman lain yang pernah mencoba salah satu dari yg tsb di atas.

  14. Buku 23 halaman 77

    … (dari halaman 76) Berada di sarang lawan. Apapun yang terjadi harus kita tanggungkan.”

    Sejenak Swandaru memandangi wajah Agung Sedayu. Dan sesaat kemudian ia berkata, “Ia adalah pendapat yang paling baik. Mari kita masuk.”

    “Aku sudah mempunyai jalan yang paling baik untuk memasuki rumah itu.” Berkata Wuranta. “Jangan lewat pintu depan. Sidanti masih menempatkan satu dua pengawas di sekitar tempat ini. Biasanya di rumah di muka rumah ini.” Berkata Wuranta

    Agung Sedayu dan Swandaru memandanginya sejenak. ”Jalan manakah yang kau maksud?”

    ”Aku kira jalan yang telah di pergunakan oleh Alap-alap Jalatunda.” jawab Wuranta. ”Lihatlah sudut rumah itu.”

    Karena cahaya pagi telah memercik keatas padepokan Tambak Wedi itu pula, maka segera mereka melihat bahwa sudut rumah itu telah terbuka.

    ”Hem..” Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menjadi tergesa-gesa untuk segera menemui adiknya. Maka katanya, ”Marilah. Apalagi yang kita tunggu? Kalau sebentar lagi Sidanti datang kemari, biarlah aku menyambutnya.”

    Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kalimat itu telah menumbuhkan kekaguman di hati Wuranta. Katanya di dalam hati, ”Anak muda putra Ki Demang Sangkal Putung ini agaknya seorang anak muda yang pilih tanding. Kebenciannya kepada Sidanti sampai ke ujung ubun-ubun. Dan agaknya ia mampu mengimbanginya.” Tetapi Wuranta itu tidak mengucapkan sepatah katapun.

    Mereka bertigapun kemudian pergi ke sudut rumah. Perlahan-lahan Swandaru merenggangkan dinding.

    ”Dinding ini memang sudah terbuka.” bisiknya perlahan-lahan.

    ”Masuklah.” sahut Agung Sedayu.

    Dengan hati-hati Swandaru yang gemuk itupun merangkak masuk. Tetapi agaknya jalan itu terlalu sempit baginya, sehingga anak yang gemuk itu sedikit mengalami kesulitan.

    ”Tolong, tariklah dinding ini. Bajuku terkait.” desis Swandaru.

  15. Bung GI,

    Aku nyoba pakai DJVULibre, bisa untuk export ke pdf, jpg, atau format lain. Percobaan export ADBM_jilid_19.djvu yang ukurannya 1.2 MB ke format pdf, ukurannya menjadi 24.7 MB.

    -kris-

    D2: Ada cara “mubeng jok-teng” Mas Kris. Halaman djvu dikopi blok dan disimpan sbg image (JPG). Lalu dikonvert sebagaimana sebelumnya. Cuma ya harus mengkopi tiap halaman menjadi file JPG. Satu lagi, mungkin BD telah mengurangi resolusinya (terlihat dari gambar ilustrasi yang pecah) shg mungkin hasil konversinya kurang memuaskan. Tapi mungkin bisa dicoba. Hasil konversinya bisa ditayangkan di boks koment jilid ybs. Mungkin ada kawan yg mau ntlateni ketimbang retype

  16. buku 23.doc nya di attach di page 1? bukan di page 2?

    D2: Tx, nanti aku pindah

  17. Ngedownload djvu2nya tuh di mana ya ? Gw cari2 gak ketemu.

  18. Kalo cara ubah pdf ke djvu gimana ya??
    Ada yg tau ga? Kalo ada tolong email ke s1au_y3n@yahoo.com ya…
    thx ya…^^

  19. Assalamu’alaikum ww

    dengan ini perkenankalah saya mengenalkan diri :
    nama : Sumartono, lahir di Jogyakarta
    saya ikut seneng bisa ikutan baca serial yang sangat menarik ini, sewaktu kecil gak pernah bias beli bukunya.
    Saya sangat berterimakasih pada penyelenggara situs ini.
    semoga rezekinya ndlidir tur akeh. Amin
    sebetulnya saya pingin sekali ikutan nyumbang tenaga sebagai cheker gitu lho, untuk meminimize kesalahan ketik, saya juga bisa ketik dengan blind system. mohon maaf bila kurang berkenan dihati.
    demikianlah, salam perkenalan dari saya, sekali lagi mohon maaf dan thousand thanks.
    wassalam,

    $$ salam kenal Ki. selamat datang di padepokan.

  20. Alap alap Jalatunda mati
    dicubles pedange Sidanti
    mbah_man,,,,,,lanjutane ADBM pundi..???
    para cantrik wes pada ngenteni….!!!!!

    • hayo kanca2 pada ANTRI ning sini…..!!??

    • KI Gembleh, terusan adbm di gandhok gagak Seta

      • mari tak inguk sing onok mung nyi dwani mita thok til je mbah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: