Buku 21

PENGUMUMAN:

Untuk menghindari overlaping, bagi relawan yang mau mengirimkan hasil retype silahkan masuk ke halaman RETYPE (IN PROGRESS).

Untuk ide, gagasan, kritik, dll, silahkan isi boks koment di halaman FORUM DISKUSI.

Thanks,

D2

Halaman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Oktober 2008 at 08:12  Comments (47)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-21/trackback/

RSS feed for comments on this post.

47 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wahhhh, cepet buanget ya jadinya kalo pake file djvu, terimakasih buanyaaaakkkkk…..

  2. Sebaiknya yang mau retype mem-booking dulu halaman yang akan dikerjakan serta kapan kira2 selesai, untuk menghindari overlap antar retypers.

    Aku sementara masih nyoba cari cara convert format djvu ke jpg. Omnipage v14 belum bisa ngerjain format djvu.

    -kris-

  3. @ DD
    Aku selalu siap retype aja..sementara masih glagepan bacanya nih..
    Salam

  4. ADBM Jilid 21 hal 77

    Wuranta mengerutkan keningnya. Bagaimana mungkin seseorang dapat hidup dalam keadaan demikian. Tetapi keadaan itu adalah keadaan yang dipaksakan atas gadis itu, sehingga betapapun juga, maka ia tidak akan dapat menolaknya.

    “Baiklah tuan”, berkata Wuranta kemudian, “kalau aku mendapat kesempatan, maka akupun ingin melihatnya”.

    “Marilah”, sahut Alap-Alap Jalatunda. Tetapi ia kemudian mengerutkan keningnya sambil berkata, “Kau ingin mencoba bermain api?”.

    “Oh,” kini Wurantalah yang tertawa, “aku hanya ingin melihatnya karena tuan mengajak. Percayalah bahwa aku tidak akan berani berbuat apapun selain memandanginya dari kejauhan. Betapapun cantiknya gadis itu, tetapi aku hanya akan mendapat kesempatan untuk memandanginya.”

    Sejenak Alap-Alap Jalatunda terdiam. Sekali ia berpaling memandangi wajah Wuranta dengan penuh kecurigaan. Tetapi kemudian ia berkata, “Jangan mencoba berbuat gila. Nyawamu berada di ujung rambutmu. Pedepokan ini bukan tanah nenek-moyangmu, dan kau belum menjadi seorang demang di Jati Anom.”

    Sekali lagi Wuranta tertawa. Katanya, “Tuan benar-benar seorang pencemburu. Kelak kalau tuan sudah beristri, maka tak seorangpun yang boleh memandangi istri tuan.”

    Kening Alap-Alap Jalatunda itupun menjadi semakin berkerut-merut. Sejenak ia terbungkam, tetapi kemudian iapun tersenyum dan berkata, “Mungkin kau benar Wuranta. Akupun tersenyum juga akhirnya mendengar kata-katamu itu.”

    Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka berjalan menyusur jalan padepokan yang tidak telampau lebar. Sekali-sekali mereka berpapasan dengan beberapa laki-laki bersenjata. Laki-laki yang berwajah keras dan kasar, berkumis tebal, berjambang dan berjanggut. Rambut mereka kadang-kadang tidak tersusun rapi, bahkan kadang-kadang begitu saja berjuntai di bawah ikat kepala.

    Bulu kuduk Wuranta kadang-kadang menjadi meremang. Laki-laki itu adalah laki-laki yang selama ini hidup dalam pengembaraan. Mereka seakan-akan tidak pernah mengecap kenikmatan hidup berumah-tangga. Bahkan sampai saat ini dan sampai kapan hal itu masih berlangsung terus.
    “Prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung dan yang akan datang di Jati Anom pun seakan-akan hidup dalam pengembaraan.” Gumam Wuranto dalam hatinya. Tetapi mereka memiliki

  5. ADBM Jilid 21 hal 78

    kebanggaan. Mereka memiliki harapan bagi masa depan yang jauh. Seandainya tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk anak keturunan mereka.
    Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia terperanjat ketika Alap-Alap Jalatunda menyapanya “He, kenapa kau?”
    Wuranta mencoba tersenyum, “Tidak apa-apa” jawabnya.
    “Apakah kau masih memikirkan gadis itu?”
    “Apakah tuan menyangka begitu?”
    Alap-Alap Jalatundapun tersenyum pula. Bahkan kemudian iapun mengumpat “Gila, kau”.
    Kembali mereka berdua saling berdiam diri. Langkah mereka satu-satu di atas jalan berbatu menumbuhkan suara gemerisik perlahan-lahan.
    Tiba-tiba Alap-Alap Jalatunda berhenti. Digamitnya Wuranta sambil berbisik, “He, apakah kau melihat seseorang berjalan lewat jalan samping itu?”
    Wurantapun segera berpaling memandang kearah pandang Alap-Alap Jalatunda. Tiba-tiba dilihatnya seorang gadis berjalan seorang diri menyelusur lorong sempit itu.
    “Itukah dia?” bertanya Wuranta.
    Alap-Alap Jalatunda mengangguk. “Ya, itulah Sekar Mirah.”
    “Kemana dia?”
    “Jalan itu menuju ke sungai”
    “Apakah gadis itu dapat pergi dengan bebas ke sungai? Apakah dengan demikian ia tidak berusaha melarikan diri?”
    “Apakah gadis itu kau sangka dapat meloncat dinding padepokan ini? Seandainya ia dapat maka para penjaga disekitar padepokan ini akan menangkapnya. Jangan pula dilupakan bahwa beberapa orang akan selalu mengawasinya.”
    “Dimana para pengawas itu?”
    “Mereka tidak semata-mata mengawasinya. Dan pengawasan itupun tidak akan terlampau ketat seperti seandainya yang ditahan itu Agung Sedayu.”
    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Alap-Alap Jalatunda itu dapat dimengertinya. Memang agaknya bagi seorang gadis, pasti akan amat sulit mencoba keluar dari dinding padepokan yang cukup tinggi seperti sebuah benteng yang sangat rapat. Bahkan disana-sini di dalam dinding itu tumbuh rumpun-rumpun bambu ori yang rapat.

  6. ADBM Jilid 21 hal 79

    Apalagi sungai itu mengalir membelah padepokan. Sehingga sungai itupun berada dalam lingkungan dinding-dinding padepokan itu pula.
    Meskipun demikian, ada sesuatu yang ingin diketahuinya, sehingga Wuranta itupun bertanya “Tuan, jika Sekar Mirah itu pergi ke sungai, apakah ia tidak akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri?”
    “Sungai itu berada di padepokan.”
    “Tetapi bukankah ia dapat menyusur aliran sungai itu, ke hulu atau ke udik, kemudian keluar dari dinding yang mengelilingi padepokan ini?”
    Alap-Alap Jalatunda menggeleng, katanya “Aku tidak tahu siapakah yang membuat padepokan ini. Tapi apa yang kau tanyakan itu agaknya telah dipikirkan pula oleh orang-orang yang membuatnya.”
    “Bagaimana?” bertanya Wuranta.
    “Diperbatasan sungai ini masuk dan keluar padepokan, dinding padepokan ini telah dibuat terlampau rendah kemudian digalinya dasar sungai seperti sebuah terowongan. Dengan demikian maka air akan menutup seluruh lubang masuk dan keluar dari padepokan ini. Tak ada selubang jarumpun berada di atas permukaan air. Apabila seseorang akan berusaha keluar atau masuk lewat sungai ini, maka ia harus menyelam untuk waktu yang cukup lama. Nah, apakah hal yang demikian itu akan dapat dilakukan oleh Sekar Mirah? Seorang yang cakap berenang dan menyelam pun akan ragu-ragu untuk melakukannya, sedandainya ia belum mengenal betul keadaan padepokan ini. Mereka pasti menyangka bahwa genangan air itu akan masuk kedalam pusaran.”
    Wuranta mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya ingin benar ia melihat ujung sungai itu pada sisi-sisi padepokan. Tetapi ia tidak dapat langsung mengutarakannya.
    Tiba-tiba Wuranta itu terperanjat ketika sekali lagi Alap-Alap Jalatunda menggamitnya sambil bertanya “He, gadis itu sudah hampir tidak tampak lagi.”
    “Lalu bagaimana maksud tuan?”
    “Aku selalu menunggunya di muka rumah yang diperuntukkan baginya pada saat-saat begini, apabila aku tidak sedang bertugas.”
    “Apakah tuan sudah mengenalnya?”

  7. ADBM Jilid 21 hal 80

    Alap-Alap Jalatunda menggelengkan kepalanya. “Aku tidak berani menegurnya.”
    “Takut kepada Sidanti?”
    “Persetan anak iblis itu. Kenapa aku takut kepadanya?”
    “Jadi, kepada siapa tuan takut?”
    “Aku tidak pernah merasa takut kepada Sidanti kini. Mungkin beberapa saat berselang aku ketakutan mendengar namanya. Tetapi aku sudah mencoba untuk mempersiapkan diri melawannya. Meskipun aku tidak berguru lagi kepada seseorang. Tetapi cara-cara yang pernah dipesankan kepadaku aku lakukan dengan baik dan teratur. Apalagi kini, aku mempunyai waktu yang cukup untuk meningkatkan ilmuku. Sedang Sidanti tidak pernah melakukannya.”
    “Jadi bagaimana?”

    ~~~ *** ~~~

  8. salam kenal, sy jg seorang penggemar buku2 silat. sy br beberapa bln berkenalan dengan ADBM, wah ternyata ADBM benar2 top abiez.

  9. Salam kenal, saya dulu salah satu pembaca ADBM.
    Senang ada serial ADBM online, bisa dibaca sewaktu2.
    Tapi kalau baca format djvu, saya sering pakai IrfanView http://www.irfanview.com/ dengan PlugIns-nya.
    Dengan IrfanView bisa save ke PDF, JPG dll.
    Semoga Mega Proyek ADBM ini bisa terus sampai buku terakhir.

    Salam

  10. ADBM Jilid 21 hal 62

    “Tetapi kau mengatakan bahwa Agung Sedayu hari ini masih di kademangan ini? Bertanya orang berkuda itu.
    “Aku kehilangan akal ketika orang itu mengancam akan membunuh anakku.”
    Orang-orang berkuda itu terdiam. Sejenak kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Dimanakah Agung Sedayu sekarang?”
    Perempuan itu ragu-ragu sejenak. Ia sama sekali belum mengenal laki-laki berkuda itu. Karena itu, maka ia tidak segera menjawab.
    “Kau mencurigai kami pula?” bertanya salah seorang dari mereka.
    Perempuan itu masih juga berdiam diri.
    “Adalah sewajarnya kau mencurigai kami. Tetapi biarlah kami mencoba mendapatkan kepercayaan darimu. Aku tahu dari Ki Untara tentang rumah ini. Bahwa ada seorang perempuan yang menunggui rumah ini. Aku mengetahui dari Ki Untara pula, bahwa Agung Sedayu datang ke rumah ini dengan kedua orang kawannya. Seorang bertubuh gemuk bernama Swandaru dan seorang lagi telah agak lanjut usia. Bukankah begitu?”
    Perempuan itu menganggukkan kepalanya.
    “Apakah kau masih ragu-ragu. Kalau kau mengenal kelengkapan prajurit, maka melihat pakaianku kau akan segera mengenal bahwa aku seorang prajurit.”
    Perempuan yang tidak banyak mengetahui seluk-beluk keprajuritan itu sama sekali tidak dapat segera membedakan pakaian seorang prajurit dan bukan. Tetapi keterangan orang itu tentang Agung Sedayu memberinya sedikit kepercayaan. Dalam tanggapannya, ia melihat beberapa perbedaan yang tidak dapat dikatakannya, antara orang-orang ini dan orang-orang lereng Merapi yang satu dua pernah dilihatnya berkeliaran di Jati Anom.
    “Jadi apakah tuan-tuan ini prajurit Pajang?”
    “Ya, aku adalah prajurit Pajang yang datang dari Sangkal Putung”
    Sejenak perempuan itu mematung. Diawasinya prajurit-prajurit Pajang itu dengan seksama seolah-olah hendak meyakinkan diri bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang tidak berbahaya.
    Para prajurit Pajang itupun sengaja berdiam diri. Dibiarkannya perempuan itu menilai diri mereka.
    Akhirnya perempuan itu berkata “Aku sendiri tidak tahu kemana angger Agung Sedayu pergi”
    Prajurit-prajurit itu mengerutkan kenignya. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi perempuan itu masih memberi keterangan

  11. ADBM Jilid 21 hal 63

    “Angger Agung Sedayu hanya meninggalkan sekeping papan, yang hanya boleh aku tunjukkan kepada orang-orang yang tidak mencurigakan”
    “He?” ketiga prajurit itu menjadi heran. Apakah arti papan itu bagi mereka?
    Mereka menjadi bertanya-tanya didalam hati ketika perempuan itu pergi dan mengambil sepotong papan bekas sebuah peti yang rusak. Di atas papan itu terlukis beberapa buah coretan dengan enjet, perlengkapan makan sirih.
    Tiba-tiba wajah para prajurit itu menjadi cerah. Adalah menjadi kebiasaan mereka untuk memberikan beberapa tanda arah apabila mereka sedang bepergian. Orang-orang yang berjalan kemudian akan mengenal kemana orang-orang yang terdahulu pergi. Tanda-tanda demikian hanyalah dikenal oleh kelompok-kelompok atau prajurit-prajurit dari satu lingkungan tertentu menurut perjanjian mereka masing-masing.
    Dan tanda yang dilukis dengan enjet itu jelas bagi mereka, arah yang ditempuh oleh Agung Sedayu.
    “Hem” desis salah seorang prajurit itu. “ternyata adi Agung Sedayu cukup berhati-hati. Tanda itu tidak akan dapat dikenal selain oleh prajurit Pajang khsusus yang berada di Sangkal Putung.”
    Perempuan itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Baiklah,” berkata prajurit-prajurit itu “kami akan menyusulnya. Mungkin ada sesuatu yang penting yang dapat kami perbincangkan dengan mereka.”
    “Silahkan” berkata perempuan itu.
    Sejenak kemudian para prajurit itu pun segera meninggalkan rumah Agung Sedayu mengikuti petunjuk pada lukisan enjet itu. Mereka menuju ke barat dan pada tempat yang ditentukan mereka membelok ke kiri. Beberapa langkah sekali lagi mereka membelok ke kiri dan sampailah mereka pada suatu regol tiga halaman dari ujung jalan. Regol itu adalah regol halaman rumah Wuranta.
    Mereka yang berada dalam rumah itu terkejut ketika mereka mendengar derap kaki kuda memasuki halaman. Dengan hati-hati Wuranta turun ke halaman belakang. Dari celah dedaunan dilihatnya tiga bayangan turun dari kuda-kuda mereka.
    Wuranta segera masuk kembali ke dalam rumahnya dan memberitahukan apa yang dilihatnya. Tiga orang berkuda kini berada di halaman depan.
    Sejenak Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Akulah yang akan melihatnya. Seandainya Alap-Alap

  12. ADBM Jilid 21 hal 64

    Jalatunda berada di halaman dan mengintai rumah ini maka ia tidak akan mengenal aku. Kalau ketiga orang yang datang itu justru atas petunjuk Alap-Alap Jalatunda, maka kita harus mengubah setiap rencana. Orang itu tidak akan kita lepaskan dan kita akan menghadapi jumlah yang lebih besar besuk.”
    Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Tetapi mereka berdiri tegang di muka pintu ketika Ki Tanu Metir dengan hati-hati keluar lewat pintu belakang.
    Orang tua itu adalah seorang yang memiliki beberapa kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya, maka ia berhasil mendekati ketiga penunggang kuda itu tanpa mereka ketahui.
    Dengan penuh perhatian Ki Tanu Metir melihat ketiganya mendekati pendapa.Perlahan-lahan mereka naik dan perlahan-lahan pula mereka mengetuk pintu.
    Tiba-tiba Kiai Gringsing menarik napas dalam-dalam. Menurut pengamatannya, ketiga orang itu adalah prajurit-prajurit dari Sangkal Putung. Karena itu, orang tua itupun segera mendekatinya.
    Kini, ketiga prajurit itulah yang terkejut, karena tiba-tiba saja mereka melihat sesosok tubuh telah berdiri diujung pendapa.
    Dengan serta merta mereka meraba hulu pedang masing-masing. Terdengar salah seorang bertanya “Siapa?”
    “Akulah yang bertanya” sahut Ki Tanu Metir “siapakah kalian bertiga?”
    Ketiga prajurit yang mendengar sapa itu menarik napas dalam-dalam. Suara itu pernah dikenalnya. Suara Ki Tanu Metir.
    “Oh,” desis salah seorang dari mereka “adakah itu Ki Tanu Metir?”
    “Ya”
    “Kami adalah prajurit-prajurit yang datang dari Sangkal Putung”
    “Pakaianmu telah memperkenalkan dirimu. Marilah masuk lewat pintu belakang.” Berkata Ki Tanu Metir perlahan-lahan.
    “Kenapa lewat pintu belakang?”
    “Rumah ini mungkin mendapat pengawasan dari orang-orang lereng Merapi. Tetapi menurut perhitunganku, orang-orang itu telah meninggalkan halaman ini. Masuklah, dan berbicaralah dengan Agung Sedayu. Aku mempunyai pekerjaan di sini. Aku harus meyakinkan diri, bahwa tak seorangpun yang melihat kehadiranmu di rumah ini supaya Wuranta menjadi korban kesalahan yang telah aku buat.”
    “Apakah yang telah kiai lakukan?”
    “Masuklah lewat pintu belakang”

  13. ADBM Jilid 21 hal 68

    “Hem” desah Wuranta “hampir fajar. Tetapi apabila benar kata Ki Tanu Metir bahwa Alap-Alap Jalatunda mengikutiku, maka ia akan dapat banyak berceritera. Ia akan dapat mengatakan bahwa aku telah berkelahi melawan seseorang. Kemudian ia akan dapat berceritera pula tentang tiga ekor kuda.”
    Perjalanan Wuranta menjadi kian mendaki. Ia telah sampai di lereng-lereng Gunung Merapi. Beberapa pedukuhan yang sepi telah dilampaui, dan kini ia telah melampaui hutan-hutan yang tidak begitu lebat. Meskipun demikian di dalam hutan itu masih juga berkeliaran harimau dan babi hutan. Tetapi yang paling mengerikan adalah gerombolan anjing-anjing liar yang jumlahnya tidak terhitung lagi.
    Sejenak kemudian maka ujung-ujung pepohonan telah menjadi kemerah-merahan pula. Disusul oleh warna kuning yang cerah.
    “Hari telah pagi.” Berkata Wuranta kepada diri sendiri.
    Namun dengan demikian ia dapat melihat dengan jelas segala sudut-sudut jalan menuju ke padepokan Tambak Wedi.
    Ketika ia menjadi semakin dekat, kembali dilihatnya beberapa pucuk senjata di belakang batu-batu besar, di tikungan-tikungan, dan di sisi-sisi jalan. Penjagaan yang ketat memagari padepokan itu. Penajagaan itu bukan saja untuk menjaga setiap kemungkinan, tetapi dengan demikian maka Ki Tambak Wedi tetap memelihara suasana dan keadaan perang. Penjagaan itu memberi pekerjaan bagi orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi yang berkeliaran dalam jumlah yang cukup besar. Tanpa penjagaan itu, maka mereka akan mempunyai terlampau banyak kesempatan untuk duduk termenung. Kesempatan untuk memikirkan diri sendiri dan kesempatan untuk bertengkar satu dengan yang lain. Tetapi kesiap-siagaan yang selalu dibangun oleh Ki Tambak Wedi dapat mencengkam seluruh perhatian mereka. Seolah-olah Untara dan prajurit-prajurit Pajang telah berada dimuka hidung mereka.
    Dengan demikian mereka tidak mendapat kesempatan untuk berpikir tentang diri sendiri, tentang kesulitan-kesulitan yang mereka alami dan tentang hari depan mereka yang gelap. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertengkar satu dengan yang lain berebut berbagai macam persoalan.
    Setiap orang yang berada dalam dipenjagaan itu memandangi Wuranta dengan curiga. Tetapi kemudian mereka membiarkannya lewat. Anak muda Jati Anom itu adalah anak muda yang kemarin dibawa oleh Sidanti, dan kemudian berjalan meninggalkan padepokan ini bersama Alap-Alap Jalatunda.

  14. ADBM Jilid 21 hal 69

    Matahari di atas cakrawalapun merayap semakin tinggi. Cahayanya yang menyangkut di ujung gunung merapi seakan-akan telah membakar puncak itu sehingga berwarna merah membara. Dalam pada itu maka padepokan Tambak Wedi itupun menjadi semakin dekat.
    Setelah melampaui beberapa lapis penjagaan maka akhirnya Wuranta sampai kejantung padepokan Tambak Wedi.
    Anak muda itu langsung menuju ke rumah yang kemarin pertama-tama dimasuki bersama Sidanti dan Alap-Alap Jalatunda.
    Dada Wuranta berdesir melihat Alap-Alap yang masih sangat muda itu. Matanya benar-benar seperti mata burung Alap-Alap. Anak itu tampaknya telah rapi benar. Agaknya ia telah sempat mandi dan membenahi pakaiannya. Tidak ada tanda-tanda bahwa semalam ia pergi mengikutinya ke Jati Anom.
    “Hem, kau Wuranta” sapa Sidanti.
    Sekali lagi dada Wuranta berdesir. Ia tidak tahu tanggapan Sidanti yang sebenarnya kepadanya pagi ini. Apakah murid Ki Tambak Wedi itu akan menerimanya dengan baik, atau telah disiapkannya tali gantungan untuknya.
    “Duduklah” berkata Sidanti itu pula mempersilakan Wuranta duduk bersamanya di atas sebuah tikar pandan yang putih.
    “Kau datang terlampau siang” berkata Sidanti.
    “Ya, tuan” sahut Wuranta. “Ada beberapa sebab yang menghambat kedatanganku.”
    “Minumlah, kemudian ceriterakanlah apa yang kau lihat di Jati Anom.”
    Wuranta menelan ludahnya. Seakanpakan ia sedang duduk dihadapan seorang jaksa yang sedang memeriksa perkaranya. Ia tidak tahu hukuman apakah yang kemudian akan dijatuhkan atasnya.
    Seteguk ia minum air hangat yang sudah terhidang dihadapannya. Diraihnya segumpa gula kelapa. Ia mencoba untuk menenangkan hatinya, tetapi ketika air hangat itu diangkatnya, maka ia merasa beberapa tetes tertumpah menyiram kakinya. Ternyata lengannya masih juga gemetar. Tetapi ketika lehernya telah menjadi basah, maka ia menjadi agak tenang.
    “Apakah perjalananmu menyenangkan? Berkata Sidanti tiba-tiba.

  15. ADBM Jilid 21 hal 71

    Wuranta menggeser duduknya, membetulkan pedangnya yang mencuat kebelakang. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, lalu jawabnya “Ya, tuan. Perjalanan kali ini benar-benar menyenangkan.”
    “Ceriterakanlah apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar?”
    “Aku tidak hanya sekedar melihat dan mendengar, tuan” jawab Wuranta “tetapi aku hampir mati diperjalanan.”
    “Kenapa?” Sidanti terkejut.
    Tetapi Wuranta melihat bahwa sebenarnya Sidanti hanya berpura-pura saja. “Alap-Alap itu pasti sudah berceritera tentang Ki Tanu Metir yang sudah mencegat perjalananku” katanya di dalam hati.
    Wuranta itupun kemudian berceritera tentang apa saja yang dilakukannya. Berkelahi dengan seseorang laki-laki yang tidak dikenalnya yang mencegat perjalanannya. Kemudian menggertak perempuan tua yang menunggui rumah Agung Sedayu dan yang terakhir tentang tiga orang penunggang kuda yang datang ke Jati Anom.
    Sidanti dan Alap-Alap Jalatunda mendengarkan dengan penuh minat. Seakan-akan apa yang didengarnya itu belum pernah diketahuinya lebih dahulu. Kadang-kadang wajah mereka berkerut-merut, kadang-kadang menjadi tegang.
    “Setan” desis Wuranta di dalam hatinya “mereka benar-benar licik.” Tetapi tiba-tiba ia menyadari keadaan dirinya sendiri. Dan akupun harus berbuat licik seperti mereka pula.
    Ketika Wuranta selesai berceritera maka Sidantipun kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. Dipandanginya Alap-Alap Jalatunda sekilas, lalu katanya “Kau benar-benar hebat. Siapakah kira-kira laki-laki yang menyerangmu?”
    Wuranta tidak segera menjawab. Iapun memandangi Alap-Alap Jalatunda sekilas, baru kemudian ia menjawab sambil menggeleng “Aku tidak tahu tuan. Sebenarnya aku ingin bertanya kepada tuan siapakah yang telah mencegat aku diperjalanan itu?”
    Sidanti mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia tersenyum “Kau menyangka bahwa aku telah memasang seseorang untuk mencegatmu? Apakah gunanya? Kalau aku ingin membunuhmu, sekarang aku dapat melakukannya”
    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.
    “Jadi, kau benar-benar tidak mengetahuinya?”
    “Benar tuan” jawab Wuranta.”maaf bahwa aku memang menyangka bahwa tuan ingin mengetahui sedikit tentang diriku dengan mengirimkan seseorang mencegat perjalananku, meskipun tuan tidak benar-benar ingin membunuhku.”

  16. Aku juga sudah retype dan submit ADBM jilid 21 hal 65 – 67 tapi lupa di bagian mana aku kirim. Mohon dicek.

    D2: Nyasar ke halaman RETYPE. Nanti saya kumpulin

  17. ADBM Jilid 21 hal 72

    “Memang masuk akal,” sahut Sidanti “tetapi aku tidak melakukannya.”
    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera mengucapkan sesuatu.
    Yang bertanya kemudian adalah Alap-Alap Jalatunda “Lalu bagaimana dengan tiga orang berkuda itu?”
    “Mereka hampir membunuhku” sahut Wuranta
    “Bohong” desis Alap-Alap Jalatunda “Apakah kau seorang anak muda yang pilih tanding dan dapat mengalahkan tiga orang prajurit Pajang?”
    Dada Wuranta berdesir mendengar pertanyaan itu. Sebenarnyalah bahwa ia tidak akan dapat melepaskan diri dari tiga orang prajurit Pajang seandainya mereka benar-benar ingin membunuhnya. Tetapi ceriteranya telah diucapkannya, bahwa ia melapaskan diri dari ketiganya.
    Tetapi tiba-tiba Wuranta itupun tersenyum. Wajahnya yang tegang menjadi kemerah-merahan. Beruntung bahwa ia segera dapat menguasai perasaannya.
    “Bagaimana?” desak Alap-Alap Jalatunda.
    “Aku memang dapat melepaskan diri dari mereka. Sebagaimana tuan lihat, aku selamat sampai di sini”
    “Apakah kau mampu melawan mereka bertiga?” bertanya Sidanti.
    Wuranta menggeleng. Senyumnya masih saja melekat di bibirnya.
    “Lalu bagaimana?” Alap-Alap Jalatunda hampir mebentak.
    Wuranta berusaha sekuat-kuatnya menguasai perasaannya. Sambil tersenyum ia menjawab “Sudah aku katakan, aku melepaskan diri dari mereka”
    “Sesudah kau bertempur melawan mereka, atau sesudah kau membunuh ketiganya?”
    Wuranta masih tersenyum. Perlahan-lahan ia menjawab “Justru sebelum mereka melihat aku”
    “Gila” Alap-Alap Jalatunda berteriak. Tetapi terdengar Sidanti tertawa terbahak-bahak.
    “Kau memang seorang pengecut. Seorang pengecut yang suka sekali membual”
    Wuranta tidak segera menjawab. Tetapi ia menjadi berlega hati ketika Sidanti mentertawakannya. Alap-Alap Jalatunda itupun tertawa pula sambil berkata “Sebenarnya kau cukup mampu untuk berkelahi. Kau dapat mengusir laki-laki yang menyerangmu. Tetapi kau benar-benar seorang pengecut”

  18. ADBM Jilid 21 hal 73

    Wuranta mengerutkan keningnya. Dengan serta merta ia bertanya “Darimana tuan tahu bahwa aku mampu berkelahi?”
    Kini Alap-Alap Jalatunda yang terbungkam. Sejenak ia menjadi bingung. Tetapi sejenak kemudian iapun menjawab “Bukankah kau sendiri mengatakannya bahwa kau mampu mengusir laki-laki yang tak kau kenal itu?”
    Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Wuranta bergumam “Apakah aku tadi berkata begitu?”
    “Ya, kau mengatakannya”
    “Dan tuan tidak menganggap bahwa kali ini akupun hanya membual saja?”
    Sekali lagi Sidanti tertawa. Katanya “Aku memerlukan seseorang seperti kau. Pengecut sekaligus pembual”
    Wurantapun tersenyum. Ia melihat beberapa orang kemudian masuk kedalam ruang itu pula. Wajah mereka diliputi oleh berbagai pertanyaan. Mereka melihat Sidanti tertawa berkepanjangan dan Alap-Alap Jalatundapun tertawa-tawa pula.
    “Apa yang kalian tertawakan?” bertanya Sanakeling.
    “Pengecut ini” jawab Sidanti. Kemudian ia berkata kepada Wuranta “Pergilah, kau boleh beristirahat. Kau akan mempunyai pekerjaan yang serupa untuk saat-saat mendatang. Tetapi apakah kau masih berani datang ke Jati Anom apalagi apabila ketiga prajurit itu mengetahui rumahmu?
    “Sejak lama Agung sedayu melihat rumahku. Mungkin ketiga prajurit itu adalah ‘sraya’ Agung Sedayu untuk menangkapku”
    “Jangan membual lagi” potong Sidanti “Agung Sedayu tidak memerlukan orang lain untuk memenggal lehermu.”
    “Tetapi ternyata ia tidak berani datang ke rumahku?”
    “Anak muda Jati Anom. Adik Untara itu segan mengotori tangannya dengan darah kelinci.
    Wajah Wuranta sesaat menjadi kemerah-merahan. Bagaimanapun juga sebagai seorang anak muda, ia merasa tersinggung oleh berbagai hinaan yang diucapkan oleh Sidanti berturut-turut. Tetapi segera ia menyadari kewajibannya, sehingga sekali lagi ia terpaksa menekan perasaannya.
    Wuranta terkejut ketika ia mendengar Sidanti bertanya “Apakah kau marah?”
    Wuranta memaksa dirinya untuk tersenyum. “Tidak tuan. Tetapi aku ingin suatu ketika dapat mengalahkan Agung sedayu”

  19. ADBM Jilid 21 hal 74

    Sidanti tertawa. Kemudian katanya “Pergilah. Kalau kau lelah, beristirahatlah.”
    “Baik tuan” sahut Wuranta “tetapi aku ingin menjelaskan kepada tuan, bahwa untuk seterusnya, meskipun pasukan Untara telah berada di sekitar Jati Anom, aku tidak takut untuk turun. Jati Anom adalah kampung halamanku. Kenapa aku menjadi takut pulang? Aku mengenal semua jalan-jalan dan lorong-lorong. Aku kenal segenap sudut-sudutnya, rumpun-rumpun bambu yang lebat dan tempat-tempat yang lain untuk bersembunyi.”
    “Aku sudah menyangka” potong Sidanti
    “Apa yang sudah tuan sangka?”
    “Ceriteramu pasti hanya berkisar pada tempat persembunyian, tempat untuk melarikan diri dan sebagainya. Kau tidak akan berceritera tentang kemungkinan yang lain, misalnya membinasakan mereka, mencegat mereka atau perbuatan-perbuatan serupa”
    Wuranta tersenyum, betapapun hatinya menjadi kecut.
    “Pergilah” berkata Sidanti “kau mendapat kesempatan untuk beristirahat, melihat-lihat tempat ini bersama Alap-Alap Jalatunda”
    Wuranta menganggukkan kepalanya. Ia melihat kewaspadaan pada sikap dan kata-kata Sidanti. Iapun menyadari bahwa Alap-Alap Jalatunda pasti mendapat tugas untuk mengawasinya selama ia berada di padepokan Tambak Wedi.
    Wuranta kemudian meninggalkan tempat itu. Di halaman ia sejenak menunggu Alap-Alap Jalatunda yang masih berada di dalam.
    “Bagaimana menurut pertimbanganmu, Alap-Alap Jalatunda?” bertanya Sidanti
    “Ia berkata sebenarnya”
    “Ya, aku juga percaya kepadanya. Bodoh, berterus-terang tetapi licik dan pembual”
    “Orang yang demikian dapat kita pergunakan untuk sementara. Tetapi sifat pembualnya adalah sifat yang berbahaya” sahut Sanakeling.
    “Ya, kita pergunakan untuk waktu yang tertentu. Akan datang saatnya, anak itu kita lemparkan ke dalam jurang. Tetapi sekarang ia akan bermanfaat. Nanti malam ia harus turun kembali ke Jati Anom melihat perkembangan daerah itu. Bagaimanakah dengan ketiga orang berkuda yang semalam datang ke kademangan itu” berkata Sidanti
    Alap-Alap Jalatunda mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi

  20. ADBM Jilid 21 hal 75

    Sambil bersungut-sungut ia bertanya “Apakah aku mendapat tugas untuk mengikutinya lagi?”
    Sidanti tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak. Nanti malam kau dapat tidur nyenyak di gubugmu”
    Alap-Alap Jalatunda tidak berkata sepatah katapun lagi. Ditinggalkannya ruangan itu langsung turun ke halaman. Ditemuinya Wuranta yang telah agak lama menunggunya.
    “Apakah kau mau tidur?” bertanya Alap-Alap Jalatunda.
    Wuranta menggelengkan kepalanya “Tidak, aku harus berprihatin supaya niatku dapat terlaksana”
    “Apakah niat itu?”
    “Sederhana” jawab Wuranta “menjadi demang dan beristri cantik”
    Tiba-tiba Alap-Alap Jalatunda itu tertawa terbahak-bahak. “O, dapurmu” katanya “seorang Demang harus orang yang berani”
    “Kelak aku akan menjadi orang yang berani juga”
    “Mudah-mudahan kau akan dapat menjadi seorang Demang” gumam Alap-Alap Jalatunda.
    “Dan beristri cantik, supaya aku dapat juga beranak seorang gadis yang cantik, seperti yang kau katakan”
    “Anak Demang Sangkal Putung itu?”
    “Kalau aku menjadi seorang Demang, maka pantaslah aku menjadi menantu seorang demang pula”
    “Huh” tiba-tiba Alap-Alap Jalatunda meludah “sebelum kau mimpi mendapatkan gadis itu, lehermu telah patah”
    “Kenapa?”
    “Kau berani melawan aku?”
    Wuranta tersenyum. “Jangan marah tuan. Aku belum pernah melihat gadis itu. Bagaimana aku dapat jatuh cinta kepadanya? Bukankah bukan hanya Demang Sangkal Putung saja yang beranak seorang gadis?”
    Alap-Alap Jalatunda menelan ludahnya
    “Tuan” tiba-tiba Wuranta berbisik, seakan-akan ia takut suaranya didengar orang lain. “Apakah gadis itu cantik?”
    Alap-Alap Jalatunda berpaling. Ditatapnya wajah Wuranta dengan tajamnya. Dengan nada yang datar ia menggeram “Kau benar menginginkannya?”
    “Ah, aku tidak gila tuan. Gadis itu adalah milik Sidanti. Bagaimana aku berani berangan-angan?”

  21. ADBM Jilid 21 hal 76

    “Omong kosong. Tak seorangpun yang memilikinya di sini. Siapa yang dahulu mendapatkannya, ialah yang memiliki, meskipun hanya sesaat, dan meskipun sesudah itu digantung, tetapi puaslah rasanya”
    Dada Wuranta berdesir mendengar kata-kata Alap-Alap Jalatunda itu, tetapi ia tidak menyahut.
    Tiba-tiba Alap-Alap itu berkata “Apakah kau ingin melihatnya?”
    “Bagaimana aku bisa meilhat tuan? Bukankah ia berada di dalam ruangan tertutup? Apakah aku dapat masuk kedalamnya?”
    Alap-Alap Jalatunda tertawa mendengar pertanyaan Wuranta. Katanya “Kau memang bodoh. Apakah seorang gadis yang disembunyikan itu siang malam berada di dalam biliknya? Apakah sekali-sekali ia tidak memerlukan air?”
    “Air untuk minum maksud tuan?” bertanya Wuranta
    “O” tertawa Alap-Alap Jalatunda semakin menjadi “seorang perempuan yang sudah dewasa tidak dapat berpisah dengan air. Tidak saja untuk minum, tetapi untuk mencuci misalnya”
    “O, ya, ya” cepat-cepat Wuranta menyahut.
    “Demikian juga Sekar Mirah. Ia tidak harus berada di dalam biliknya setiap saat. Gadis itu diperbolehkan keluar asalkan tidak terlampau jauh. Ke sumur atau ke ‘kali’ misalnya, lalu kemudian masuk kembali ke rumah yang khusus dipergunakan untuk menyimpannya. Tetapi ia tidak pernah terlepas dari pengawasan. Dan seandainya gadis itu mencoba untuk lari, maka meskipun ia berhasil meninggalkan halaman itu, maka ia tidak dapat keluar dari padepokan ini”
    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Jadi, bagaimanakah aku dapat melihatnya?”
    “Hampir setiap pagi ia mencuci pakaian yang ada padanya. Pakaian yang hanya selembar dua lembar itu, setelah ia mendapat pinjaman dari perempuan-perempuan di padepokan ini”
    “Kenapa setiap hari dicucinya?”
    “Aku rasa bukan karena pakaian itu menjadi kotor. Tetapi gadis itulah yang ingin keluar dari dalam bilik yang sempit itu. Mencuci baginya adalah alasan yang paling baik. Mungkin juga ke pakiwan atau bahkan ke sungai.”
    “Siapakah yang harus mengawasi gadis apabila ia pergi ke sungai?
    “Tentu saja para penjaga”

  22. ADBM Jilid 21 hal 17-36 selesai diedit. Disimpan pada SH Mintardja Wiki.
    wukir

    D2: Tolong aplod disini juga, Pak

  23. ADBM Jilid 21 hal 65

    Ketiganyapun kemudian berjalan lewat pintu belakang masuk ke dalam rumah. Sementara itu Kiai Gringsing tinggal di luar dan dengan kemampuan yang ada padanya, diselidikinya seluruh halaman rumah itu. Tetapi telinganya sama sekali tidak menangkap suara apapun. Ia tidak mendengar nafas seseorang, dan ia tidak melihat gerak-gerak yang mencurigakan.
    “Kalau Alap-Alap itu masih berada di sini, ia tidak akan luput dari pengawasanku” desis orang tua itu di dalam hatinya. Meskipun demikian, ia tidak puas dengan pengamatannya di halaman itu. Dengan gerak yang lincah secepat ‘tatit’ ia meloncat keluar halaman dan melihat setiap kemungkinan dengan penuh perhatian.
    Kiai Gringsing tidak mau menduga-duga, apakah Alap-Alap Jalatunda masih berada di tempat itu atau tidak. Ia harus dapat meyakinkan dirinya. Ia tidak mau mengorbankan Wuranta yang dengan tulus telah bersedia membatu mereka. Karena itu maka usahanya untuk meyakinkan diri itupun tidak terbatas disekitar halaman rumah Wuranta, tetapi ia berjalan cepat-cepat menyusur jalan menuju lereng Merapi.
    Akhirnya yang dicari oleh Ki Tanu Metir itu diketemukannya juga. Samar-samar ia melihat sebuah bayangan meninggalkan Jati Anom. Orang itu adalah Alap-Alap Jalatunda.
    “Hem” desah Ki Tanu Metir di dalam hatinya. “Menilik jarak yang telah ditempuh, agaknya orang ini telah pergi tanpa melihat kehadiran ketiga prajurit dari Pajang. Seandainya ia melihat juga, tetapi ia tidak tahu bahwa ketiganya telah masuk ke halaman rumah Wuranta.”
    Dengan demikian hati Ki Tanu Metir itupun menjadi tenteram. Ia tidak mencemaskan lagi nasib Wuranta besok apabila ia kembali ke lereng Merapi. Sebab apabila Alap-Alap Jalatunda melihat ketiga prajurit Pajang itu menemui Agung Sedayu di rumah Wuranta, maka mereka pasti tidak akan mempercayai lagi anak muda Jati Anom itu. Dengan demikian maka nasib Wuranta pun akan tersangkut di ujung pedang.
    Ketika Ki Tanu Metir itu kembali ke rumah Wuranta, maka dilihatnya ketiga prajurit Pajang itu sedang berbincang dengan asyiknya. Mereka agaknya sedang membicarakan masalah tentang Jati Anom.
    “Marilah Kiai” Agung Sedayu mempersilahkan. Dan duduklah Ki Tanu Metir kini diantara mereka.
    “Ki Untara minta aku melihat kademangan ini Kiai” berkata salah seorang prajurit-prajurit itu. Ia akan masuk besok bersama pasukannya.

  24. ADBM Jilid 21 hal 66

    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Wuranta ia berkata “Angger harus dapat menyesuaikan diri. Sebenarnya kami ingin segera mengetahui tempat Sekar Mirah disembunyikan, supaya kami dapat menempuh suatu cara yang cepat pula untuk membebaskannya. Kami ingin membebaskan gadis itu sebelum angger Untara memukul lereng Merapi dengan pasukannya.”
    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Selain daripada itu,” berkata Ki Tanu Metir “kita tidak boleh menunggu Sidanti menghubungi daerah asalnya. Kedatangan Argajaya akan dapat memberikan cara baru baginya dalam usahanya menentang Pajang. Argajaya akan dapat memberi nasihat kepada Sidanti untuk menghubungi ayahnya. Dan ayahnya pasti tidak akan keberatan mengirimkan sepasukan ‘segelar sepapan’ untuk kepentingan anaknya.”
    Wuranta masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi usaha yang harus dilakukan bukanlah usaha yang mudah. Ia tidak akan dapat langsung bertanya dimana Sekar Mirah. Tetapi ia akan dapat berbuat demikian lewat Alap-Alap Jalatunda yang sudah menceriterakan lebih dulu tentang gadis itu.
    Meskipun demikian ia tidak boleh tergesa-gesa melakukan pekerjaannya.
    Melihat wajah Wuranta yang tegang agaknya Ki Tanu Metir dapat meraba perasaannya, sehingga kemudian katanya “Angger, memang pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sukar dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Mudah-mudahan angger dapat melakukannya dengan baik.”
    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Aku akan coba Kiai. Tetapi sekarang aku tidak banyak mempunyai waktu lagi. Aku harus segera kembali ke lereng Merapi. Aku harus sampai pada saat fajar menyingsing. Tetapi agaknya aku akan terlambat. Mudah-mudahan keterlambatan sedikit itu tidak menjadi soal bagi pekerjaanku.”

  25. ADBM Jilid 21 hal 67

    “Mudah-mudahan ngger.” sahut Kiai Gringsing “Tetapi angger jangan kehilangan kewaspadaan. Katakan saja apa yang angger lihat disini. Angger melihat ketiga prajurit datang ke Jati Anom. Bahkan mereka datang ke rumah angger. Mungkin atas petunjuk Agung Sedayu. Untunglah angger dapat melarikan diri. Tetapi prajurit itu segera pergi.
    Wuranta mengangguk-anggukkkan kepalanya. Tetapi ia bertanya “Kenapa aku harus mengatakan kehadiran ketiga prajurit ini?”
    “Kalau laporanmu sama atau setidak-tidaknya mirip dengan laporan Alap-Alap jalatunda, maka kau pasti akan dapat kepercayaan lebih banyak.”
    “Tetapi apakah dengan demikian tidak akan merugikan ketiga prajurit ini Kiai?”
    “Apakah kerugiannya? Besok pasukan Untara datang. Berita itu pasti didengar oleh Sidanti. Ia pasti mempunyai orang-orang yang bertugas untuk mengawasi keadaan. Seperti kau, tetapi satu sama lain tidak saling diperkenalkan.”
    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kemudian iapun minta diri untuk segera kembali ke lereng Merapi. Ia akan berusaha datang tepat pada waktunya, ataupun kalau terlambat, maka kelambatannya tidak akan terlampau panjang.
    Kiai Gringsing dan kawan-kawanyapun kemudian melepaskan Wuranta itu pergi dengan berbagai pesan. Dada Kiai Gringsingpun kadang-kadang berdesir melihat langkah Wuranta meninggalkan halaman rumahnya. Ia menyadari betapa besar bahayanya pekerjaan yang kini sedang dilakukan oleh Wuranta itu.
    “Mudah-mudahan Tuhan melindunginya” desisnya di dalam hati. Dengan tergesa-gesa kemudian Wuranta berjalan meninggalkan Jati Anom. Ia ingin sampai ke padepokan Ki Tambak Wedi sebelum fajar. Tetapi menilik waktu yang seolah-olah berlari terlampau cepat, maka Wuranta itupun merasa bahwa kedatangannya pasti akan terlambat.
    “Tetapi keterlambatanku pasti tidak akan terlampau banyak” anak muda itu mencoba menenteramkan hatinya sendiri.
    Tanpa disengaja maka langkahnyapun menjadi kian cepat. Angin pegunungan yang bertiup perlahan-lahan telah memberinya kesegaran.
    Beberapa lama Wuranta diperjalanan, tidak dirasakannya. Tetapi tiba-tiba saja dilihatnya remang-remang pepohonan di sisi jalan. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya langit di sebelah timur telah diwarnai oleh cahaya fajar yang kemerah-merahan.

    D2: appreciate, Man.

  26. ADBM jilid 21 hal 46

    sejenak. Lalu terdengar suaranya kembali “Kenapa kau berjalan ke Jati Anom malam ini?”
    “Siapa kau?” bertanya Wuranta kemudian
    “Apakah kau tidak dapat mengenali aku?”
    “Siapa?”
    Kembali ia mendengar suara tertawa “Aneh, meskipun kau pandai juga bermain pedang, tetapi ingatanmu ternyata kurang baik. Kau baru saja melihatku pagi tadi bersama Agung Sedayu”
    “He” Wuranta menjadi semakin heran. Tetapi ketika ia meloncat surut, serangan orang tua itu menjadi semakin garang. Sekali lagi ia mendengar peringatan “Berkelahilah terus. Seseorang mengikutimu”
    “Siapa?” Wuranta berhenti bertanya lalu katanya “Maksudku siapa kau?”
    “Tanu Metir” jawab suara itu pendek
    “He” sekali lagi Wuranta menjadi heran. Ia mengenal dukun itu. Tetapi ia tidak menyangka bahwa orang tua itu mampu bergerak sedmikian lincahnya. Meskipun ia telah menduga bahwa Ki Tanu Metir memiliki beberapa kelebihan, tetapi bukan kelebihan jasmaniah. Namun ternyata bahwa orang tua itu mampu berkelahi melampaui anak-anak muda yang pernah dilihatnya.
    “Apakah benar kau dukun tua yang datang bersama Agung Sedayu?”
    “Kenapa aku berbohong? Bukankah kau masih dapat mengenali aku, setidak-tidaknya suaraku?”
    Wuranta terdiam. Tetapi ia berkelahi terus seperti permintaan lawannya yang mengaku bernama Ki Tanu Metir.
    “Ya. Ya. Aku mengenalmu”
    “Nah, ketahuilah bahwa seseorang mengikutimu, Alap-Alap Jalatunda”
    “He?”
    “Jangan terlampau keras”
    “Kenapa ia mengikuti aku?”
    “Aku tidak tahu. Tetapi apakah maksudmu datang kembali ke Jati Anom malam ini? Apakah hal itu tidak menimbulkan kecurigaan mereka? Bahkan Alap-Alap Jalatunda telah mengikutimu sampai di sini?”
    Wuranta masih berkelahi terus. Perlahan-lahan ia menjawab “Aku harus pergi ke Jati Anom atas perintah Sidanti. Aku harus melihat apa yang terjadi di kademangan itu dan apakah Agung Sedayu masih ada di Jati Anom?”
    Ki Tanu Metir terdiam sesaat. Sekali ia meloncat kesamping namun kemudian kakinya berputar hampir menyentuh lambung Wuranta.

  27. ADBM jilid 21 hal 47

    Wuranta mengumpat di dalam hati. Orang tua itu benar-benar diluar dugaannya. Apalagi serangannya seakan-akan bersungguh-sungguh sehingga apabila Wuranta lengah sesaat, maka tubuhnya pasti akan dikenai oleh serangan Ki Tanu Metir itu.
    Tetapi justru Wuranta mengetahui bahwa lawanya adalah Ki Tanu Metir, maka tendangannyapun menjadi ragu-ragu. Pedangnya tidak terayun-ayun dengan garangnya. Bahkan setiap kali ia menahan ayunan senjatannya itu
    “Jangan ragu-ragu” berkata Ki Tanu Metir “kalau kau ragu-ragu, maka mata Alap-Alap yang tajam itu pasti akan mengetahuinya.
    “Dimanakan ia sekarang?”
    “Tidak terlampau jauh. Karena itu jangan terlalu keras. Kita bisa berkisar ke tempat yang lebih lapang supaya ia tidak dapat mendekat”
    Demikian perkelahian itu berkisar ke tempat yang agak lapang. Kesempatan Alap-Alap Jalatunda untuk mendekati perkelahian itu menjadi semakin kecil. Karena itu, maka dikejauhan Alap-Alap Jalatunda hanya dapat mengumpat di dalam hatinya yang semakin ‘kisruh’. Sekali-sekali ia melihat Wuranta terdesak. Dalam keadaan yang demikian ia benar-benar menjadi bingung. Apakah ia akan membantunya atau tidak? Tetapi lawan Wuranta itu sudah jelas bukan Agung Sedayu dan bukan pula orang yang dikirim Sidanti.
    Sekali-sekali Alap-Alap Jalatunda itu menggertakkan giginya. Ingin ia meloncat dan ikut serta berkelahi dipihak manapun. Tetapi tugasnya telah mencegahnya berbuat demikian. Ia hanya dapat menilai dengan tegang kedua orang yang sedang berkelahi itu.
    Dalam kebingungan itu Alap-Alap Jalatunda berdiri saja seperti patung. Sekali-sekali dirabanya hulu pedangnya namun kemudian tangannya itu terkulai lemahnyna, tergantung disisi tubuhnya yang bersandar sebatang pohon tempatnya berlindung.
    Sementara itu Wuranta masih juga berkelahi melawan Ki Tanu Metir. Perlahan-lahan Wuranta mendengar Ki Tanu Metir berkata “Kau ternyata sedang dalam pengawasan. Mungkin Sidanti ingin membuktikan, apakah kau bukan sekedar seorang yang memancing kepercayaan seperti yang sebenarnya kau lakukan. Karena itu berhati-hatilah. Ternyata lereng Merapi itupun berisi

  28. ADBM jilid 21 hal 48

    orang-orang yang berotak terang meskipun kadang-kadang licik.

    “Jadi apa yang harus aku lakukan?” bertanya Wuranta

    “Pulanglah ke rumahmu. Aku, Agung Sedayu dan Swandaru berada di sana. Tetapi jangan terlampau cepat. Berilah kami kesempatan masuk ke rumah itu. Apakah Agung Sedayu sudah mengenal keluargamu sehingga ia dapat masuk dengan aman?”

    “Aku kira sudah. Yang ada dirumah hanyalah orang-orang tua. Tak ada orang lain lagi. Dan mereka pasti mengenalnya. Mungkin mereka lupa, tetapi mereka akan segera ingat kembali apabila Agung Sedayu menyebut dirinya”

    “Baik. Kami akan kesana. Kami akan menemuimu di rumahmu sehingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi orang yang mengikutinya”

    “Terima kasih atas peringatan itu Kiai. Kalau aku tidak mengetahui bahwa seseorang mengikuti aku, maka besok mungkin aku sudah digantung di pinggir jurang”

    “Suatu peringatan bagimu. Hati-hatilah untuk seterusnya”

    “Baik Kiai”

    “Sekarang bertempurlah sesungguhnya. Aku akan menghindar dan meninggalkan perkelahian ini. Ingat, jangan terlampau cepat, supaya aku mendapat waktu masuk lebih dahulu kerumahmu bersama Agung Sedayu”

    “Baik Kiai”

    “Mulailah”

    Wurantapun segera memutar pedangnya lebih cepat. Tetapi tenaganya telah benar-benar hampir habis. Ia harus mengerahkan sisa-sisa tenaga yang ada padanya untuk dapat bergerak lebih cepat.

    Alap-Alap Jalatunda yang melihat perkelahian itu dari kejauhan menjadi semakin cemas. la tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi. Ketika perkelahian itu berkisar ketempat yang agak lapang, maka bayangan keduanya menjadi tidak jelas. Tetapi dari jarak yang agak jauh itu, AIap-Alap Jalatunda hanya sekedar melihat dua buah bayangan yang melontar kesana-kemari. Sekali-sekali tampak sekilas sinar gemerlapnya pedang Wuranta memantulkan cahaya bintang gemintang di langit. Tetapi setelah itu maka kedua bayangan itupun seakan-akan menjadi lebur tak terpisahkan.

    Setiap kali Alap-Alap Jalatunda merasa bahwa Wuranta terdesak, hatinya menjadi berdebar-debar. la berdiri pada keadaan yang sulit.

    Tetapi ia melihat suatu perubahan pada perkelahian itu. Ia melihat salah seorang daripadanya terdorong beberapa langkah

  29. ADBM jilid 21 hal 49

    surut bahkan kemudian berguling beberapa kali untuk menghindari lawannya. Dalam pada itu, lawannya berusaha mengejarnya terus. Sebuah pedang terjulur lurus-lurus kedepan sedang lawannya terus-menerus menghindarinya.

    Alap-Alap Jalatunda menarik napas dalam-dalam. “Hem,” desahnya “ternyata Wuranta berhasil mengatasi kesulitan. Agaknya anak itu cakap juga bermain pedang”

    Pertempuran itu memang hampir sampai pada akhirnya. Wuranta dengan sisa-sisa tenaganya ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar sempat memenangkan perkelahian itu, dan Ki Tanu Metir pun mampu pula bermain dengan baiknya. Kali ini ia beperan sebagai seorang yang sedang didesak oleh lawannya. Sebagai seorang yang mencoba mengerahkan sisa-sisa kekuatannya untuk menyelamatkan diri dari sambaran pedang.

    Melihat saat-saat terakhir dari perkelahian itu Alap-Alap Jalatunda menahan nafasnya. Setiap kali Wuranta mendesak lawannya, Alap-Alap Jalatunda itu mengepalkan tinjunya. Seolah-olah ia ingin meloncat dan membantu menerkam lawan Wuranta itu. Tetapi hanya giginya sajalah yang terdengar gemeretak.

    Alap-Alap Jalatunda itu bersorak didalam hatinya ketika melihat lawan Wuranta itu meloncat surut beberapa langkah, kemudian dengan tergesa-gesa membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan anak muda Jati Anom itu.

    “Jangan lari” Alap-Alap Jalatunda mendengar lamat-lamat suara Wuranta

    “Jangan sombong” jawab orang yang lari itu “aku belum kalah”

    “Tunggu dan kita teruskan perkelahian ini”

    “Belum waktunya”

    “Pengecut”

    “Kau pembual yang besar kepala”

    “Siapakah kau he?” bertanya Wuranta

    Yang terdengar hanyalah suara tertawa. Lawan Wuranta itu tertawa dalam nada yang tinggi. Demikian tajamnya nada suara itu sehingga dada Alap-Alap Jalatunda serasa tertusuk beribu jarum. Apalagi Wuranta, kali ini ia benar-benar menderita di dalam dadanya, bukan sekedar sebuah permainan.

    Untunglah bahwa suara tertawa itu tidak terlampau lama. Suara tertawa yang aneh itu segera berhenti.

    Wuranta tidak mampu lagi berlari mengejar lawannya itu. Kini ia berdiri bersandar sebatang pohon dipinggir jalan. Tenaga

  30. ADBM jilid 21 hal 50

    nya benar-benar terkuras habis, apalagi isi dadanya serasa hancur tersayat-sayat oelh suara tertawa yang bernada tinggi dan tajam itu.
    “Hem” desahnya “siapakah sebenarnya orang yang bernama Ki Tanu Metir itu? Tanpa tenaganya ia dapat membunuh aku hanya dengan nada suaranya”
    Di tempat lain Alap-Alap Jalatundapun berdiri pula bersandar sebatang pohon sambil menahan dadanya dengan telapak tangannya.
    “Gila” geramnya. Tetapi ia tidak sepayah Wuranta. Tenaganya masih cukup kuat untuk menahan dirinya meskipun suara tertawa itu benar-benar seperti meremas ulu hati.
    “Hampir aku tidak percaya bahwa orang yang memiliki kekuatan seperti orang itu dapat dikalahkan oleh Wuranta. Suara tertawanya seakan-akan mempu merontokkan tulang-tulang iga. Aneh. Mungkin ia mempunyai kekuatan batin yang tinggi, tetapi kekuatan jasmaniahnya yang sangat kurang. Tetapi kenapa ia tidak berusaha mengalahkannya lawannya itu dengan kelebihannya itu?”
    Orang itu bagi Alap-Alap Jalatunda telah menimbulkan pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya. Tetapi dengan demikian ia mengenal bahwa di lereng Merapi ini ada seseorang yang aneh. Yang selama ini tidak pernah diperhitungkan. Orang itu bukan Agung Sedayu, bukan Untara, bukan Widura, bukan Sidanti dan bukan Ki Tambak Wedi.
    Ketika Alap-Alap Jalatunda telah terasa segar kembali, maka dijulurkannya kepalanya melihat apakah Wuranta sudah meneruskan perjalanannya. Tetapi anak muda Jati Anom itu ternyata kini malahan duduk di atas rerumputan kering bersandar pohon di sisi jalan. Tampaklah ia terlalu payah setelah berkelahi sekian lama melawan orang yang tidak dikenalnya.
    “O, anak itu hampir mati” gumam Alap-Alap Jalatunda di dalam hatinya “mudah-mudahan ia tidak mati karena jantungnya rontok. Apabila demikian Sidanti akan marah kepadaku. Akulah yang disangkanya membunuh anak itu. Tetapi kalau ia masih saja duduk di situ, maka perkerjaan ini pasti akan tertunda. Kalau anak itu sampai ke Jati Anom setelah terang, maka aku tidak akan dapat mengikutinya terus.
    Namun Alap-Alap Jalatunda masih mencoba menyabarkan diri “Biarlah ia sekedar bernafas”
    Wuranta yang duduk bersandar sebatang pohon itu sebenarnya memang sedang berusaha untuk memulihkan nafasnya yang tersengal-sengal. Tetapi ia juga sengaja beristirahat agak lama seperti pesan Ki Tanu Metir. Meskipun kemudian nafasnya telah

  31. ADBM jilid 21 hal 51

    agak teratur, tetapi ia masih saja duduk dengan tenangnya.
    “Mampuslah tikus cengeng” geram Alap-Alap Jalatunda yang hampir kehabisan kesabaran. Alangkah senangnya apabila ia diijinkan meloncati anak muda itu dan kemudian mencekik lehernya.
    Tetapi akhirnya Wuranta itu berdiri juga. Sekali ia menggeliat, kemudian memijit punggungnya dengan kedua tangannya.
    “Pemalas” Alap-Alap Jalatunda masih saja mengumpat-umpat seorang diri.
    Wuranta itu akhirnya melangkahkan kakinya juga. Perlahan-lahan. Bukan saja karena ia sengaja memperlambat perjalanannya, tetapi sebenarnyalah bahwa ia sendiri sedang kelelahan.
    Ketika menurut perhitungan Wuranta waktu yang diberikan kapada Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Tanu Metir telah cukup, maka barulah ia mempercepat langkahnya. Pedangnya kini telah menggantung di lambungnya.
    Namun dalam pada itu ia dapat juga berbangga kepada diri sendiri. Ternyata ia dapat juga bermain pedang, meskipun tidak terlampau baik.
    Langkah Wuranta itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Angin yang ‘silir’ telah menyegarkan tubuhnya. Selembar-selembar daun yang kuning berguguran di atas tanah yang basah oleh embun.
    Alap-Alap Jalatunda mengikutinya dengan berdebar-debar. Semakin dekat dengan Jati Anom hatinya menjadi semakin tegang. Alap-Alap Jalatunda sendiri tidak berusaha menyadari apakah sebabnya maka ia diganggu oleh kecemasan. Kalau sekali-sekali timbul gambaran Agung Sedayu di dalam benaknya, maka cepat-cepat ia menggeram “Persetan dengan anak itu. Bahkan aku ingin berjumpa langsung dengan Agung Sedayu supaya aku sempat membunuhnya dalam perang tanding sebagai laki-laki.
    Tetapi Alap-Alap Jalatunda tidak meyakini angan-angan itu. Agung Sedayu yang dibencinya itu masih merupakan seorang yang disegani.
    “Tetapi suatu kali dendamku akan aku lepaskan” Alap-Alap Jalatunda menggeram lagi.
    Perjalanan itupun semakin lama menjadi semakin dekat. Jati Anom kini telah berada dihadapan hidung mereka.
    Kini Alap-Alap Jalatunda tidak lagi dapat lengah barang sekejap. Ia tidak boleh kehilangan Wuranta. Pekerjaan untuk mengikutinya bukanlah pekerjaan yang mudah. Tetapi Alap-Alap Jalatunda itu cukup berpengalaman, sehingga ia tidak banyak

  32. ADBM jilid 21 hal 52

    menemui kesulitan. Apalagi Wuranta sendiri dengan sengaja membiarkan dirinya diawasi. Karena itulah pekerjaan Alap-Alap Jalatunda itu menjadi terasa lebih mudah.

    Alap-Alap Jalatunda menjadi berdebar-debar ketika Wuranta berjalan dengan perlahan-lahan langsung menuju ke rumah Agung Sedayu. Bahkan mulai timbullah kecurigaannya, bahwa anak itu bukanlah anak yang dapat dipercaya. Kalau demikian maka prasangka Sidanti atasnya benar-benar beralasan.

    “O, umurmu tidak lebih sampai besok” berkata Alap-Alap Jalatunda itu di dalam hatinya. Meskipun demikian ia tidak mau melepaskannya. Dengan hati-hati ia mengikuti anak itu sampai ke depan regol rumah Agung Sedayu.

    “Bukankah rumah itu rumah Agung Sedayu” berkata Alap-Alap Jalatunda di dalam hatinya. Alap-Alap itu pernah satu kali memasuki rumah itu bersama dengan Sidanti sebelumnya.

    Di muka regol Alap-Alap Jalatunda melihat Wuranta itu berhenti. Ketika Wuranta itu kemudian dengan hati-hati menjengukkan kepalanya di regol halaman, maka ia mulai menjadi ragu-ragu.

    “Kalau anak itu sengaja dikirim oleh Agung Sedayu, ia pasti tidak akan ragu-ragu lagi masuk kedalam halaman” desisnya kepada diri sendiri. Tetapi Wuranta itu tidak segera langsung masuk kedalam halaman. Karena itu maka keinginannya untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Wuranta itu menjadi semakin besar. Kini ia tidak dapat memastikan apakah Wuranta itu termasuk orangnya Agung Sedayu seperti yang disangka oleh Sidanti.

    Ketika Wuranta masuk, maka Alap-Alap Jalatunda segera mendesak maju. Ia tidak mau kehilangan anak muda Jati Anom itu. Dengan hati-hati pula diikutinya saja kemana anak muda itu pergi.

    Dengan berdebar-debar Alap-Alap Jalatunda melihat Wuranta pergi ke belakang. Dengan penuh perhatian dilihatnya Wuranta pergi ke sebuah bilik di bagian balakang rumah Agung Sedayu.

    Alap-Alap Jalatunda itu berhenti dan segera bersembunyi dibalik rumpun pisang ketika ia melihat Wurantapun berhenti. Anak muda itu segera melepas ikat kepalanya dan dengan ikat kepala itu ia menutup wajahnya. Dilepasnya pula bajunya dan diikatkannya di lambungnya.

    “Apakah yang akan dilakukannya?” bertanya Alap-Alap Jalatunda kepada diri sendiri. Tingkah laku Wuranta itu benar-benar menimbulkan keheranan dihatinya.

  33. ADBM jilid 21 hal 53

    Alap-Alap Jalatunda itu berkisar semakin dekat ketika ia melihat Wuranta perlahan-lahan mengetuk pintu bilik belakang rumah itu.

    “Siapa?” terdengar seorang perempuan bertanya.
    “Aku bibi”
    “Siapa?”
    “Aku”

    Perlahan-lahan terdengar amben bambu bergerit, disusul oleh langkah seorang perempuan mendekati pintu. Sejenak kemudian pintu itupun bergerit terbuka.

    Alangkah terkejutnya perempuan itu ketika tiba-tiba ia melihat ujung pedang tepat mengarah kedadanya. Hampir-hampir ia memekik, tetapi segera Wuranta membentak “Jangan membuat gaduh. Kalau kau berteriak, maka perutmu akan berlubang”

    Perempuan itu terdiam. Ia berdiri gemetar di muka pintu.
    “Jawab pertanyaanku” berkata Wuranta “Apakah Agung Sedayu masih ada di sini?”
    Dengan tergagap perempuan itu menjawab “Aku tidak tahu tuan”

    “Jangan bohong. Aku melihatnya sore tadi. Ayo katakan, apakah ia di rumah ini. Kalau tidak, maka kepala anakmu itu akan aku penggal”

    “Jangan tuan. Kalau tuan ingin membunuh, bunuh aku saja”

    “Itu adalah urusanku, apakah aku akan membunuhmu atau akan menggantung anakmu”

    “Anakku tidak bersalah apapun tuan” perempuan itu mulai menangis.

    “Kalau kau ingin anakmu selamat, jawab apakah siang ini Agung Sedayu masih di sini?”

    Perempuan itu ragu-ragu sejenak. Tetapi ujung pedang Wuranta menjadi semakin dekat dengan dadanya. “Ayo katakan. Atau kepala anakmu akan menggelinding di halaman ini?”

    “Jangan tuan”
    “Katakan sebelum aku kehabisan kesabaran”
    “Ya, siang tadi angger Agung Sedayu ada di rumah ini”
    “Apakah sekarang ia ada di rumah ini juga?”

    Perempuan itu terdiam. Kembali ia mejadi ragu-ragu untuk mejawab pertanyaan itu. Tetapi pedang itu hampir menyentuh dadanya.

    “Bagaimana? Apakah kau tidak dapat berbicara lebih cepat?”

  34. ADBM jilid 21 hal 55

    “Aku tidak tahu tuan. Aku tidak tahu”
    “Bohong. Jangan mencoba berbohong ya. Aku tidak banyak mempunyai waktu untuk bercakap-cakap tanpa arti. Atau kau menunggu aku marah dan kehilangan kesabaran sehingga anakmu mati?”

    “Tidak tuan. Tetapi sebenarnyalah aku tidak tahu apa-apa”

    Wuranta tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba ia melangkah maju sambil berkata “Minggir, aku akan mengambil anakmu yang sedang tidur itu”

    “Jangan tuan. Jangan”

    Mata Wuranta yang menyembul di atas ikat kepala yang menutupi wajahnya memancarkan sorot yang mengerikan. Terdengar ia menggeram sambil beringsut maju. “Minggi, minggir, atau kalian berdua aku bunuh bersama-sama”

    “Jangan tuan” rintih perempuan itu “kalau tuan ingin membunuh aku, bunuhlah, tetapi jangan anakku itu”

    “Persetan” sahut Wuranta “aku hanya akan menghidupimu kalau kau berkata sebenarnya. Ayo jawab di mana Agung Sedayu sekarang?”

    Perempuan itu terdiam.
    “Cepat katakan, apakah ia masih berada di sini?”
    Tubuh perempuan itu bergetar. Dengan suara parau ia menjawab penuh keragu-raguan. “Ya tuan. Angger Agung Sedayu masih berada di sini”

    Wuranta menarik nafas dalam-dalam. “Bagus” katanya “ternyata kau menjawab sebenarnya. Di mana ia sekarang? Apakah ia berada di dalam rumah, atau bersembunyi di atas kandang?”

    “Angger Agung Sedayu baru pergi tuan”
    “Cukup” potong Wuranta. Ia tidak mau mendengar perempuan itu menjelaskan kemana Agung Sedayu pergi atau bahkan mengatakan dengan siapa ia pergi.

    “Keteranganmu sudah cukup. Aku hanya ingin tahu apakah Agung Sedayu masih berada di Jati Anom. Ternyata anak itu benar-benar anak yang sombong. Siang tadi ia telah dilihat oleh kawan-kawanku dari lereng Merapi, tetapi ia merasa bahwa ia tidak perlu melarikan dirinya”

    Perempuan itu hanya berdiam diri.
    “Jangan kau katakan kepada Agung Sedayu, bahwa aku malam ini datang kemari. Kalau besok Agung Sedayu mendengar kedatanganku dan anak itu lari, maka anakmulah yang akan aku penggal lehernya”

  35. ADBM jilid hal 56

    “Tuan” perempuan itu hampir menjerit “bagaimanakah kalau angger Agung Sedayu itu dengan kehendaknya sendiri ingin pergi dari rumah ini meskipun aku tidak mengatakan sesuatu kepadanya?”

    “Mustahil. Kalau ia ingin pergi, maka ia akan pergi siang tadi. Tetapi sampai malam ini ia masih berada di rumah ini”

    “Tetapi anak muda itu sekarang ternyata telah pergi. Bagaimanakah kalau ia tidak kembali?”

    “Cukup, cukup. Sekarang masuklah. Tutup pintu ini. Aku akan melihat pintumu sepanjang malam”

    Perempuan itu masih saja menggigil di muka pintu rumahnya, sehingga sekali lagi Wuranta membentaknya “Masuk, cepat”

    Perempuan itu tidak dapat berbuat lain daripada menurut saja perintah itu. Dengan tubuh yang gemetar ia surut selangkah, dan dengan perlahan-lahan ia menutup pintu rumahnya.

    “Jangan kau buka lagi pintu rumahmu sampai besok, supaya kau tidak aku bunuh bersama anakmu”

    Tak terdengar jawab. Tetapi Wuranta mendengar suara perempuan itu menangis. Dan tangis perempuan itu telah menyentuh hati anak muda itu. Ia kenal benar siapakah perempuan penunggu rumah Agung Sedayu itu. Dan ia dapat merasakan betapa ketakutan telah melanda hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia sendiri sedang dalam keadaan yang mengkhawatirkan.

    Sesaat kemudian, dengan hati yang trenyuh Wuranta melangkahkan kakinya meninggalkan pintu bilik di belakang rumah itu sambil membetulkan baju dan ikat kepalanya. Sementara itu ia bergumam di dalam hatinya “Maafkan aku bibi. Aku telah membuat kau ketakutan”

    Wuranta tahu benar bahwa Alap-Alap Jalatunda pasti sedang mengawasinya. Karena itu, maka iapun harus tetap berhati-hati. Kini ia akan menuju ke rumahnya sendiri. Seperti pesan Kiai Gringsing yang dikenalnya dengan nama Ki Tanu Metir, maka Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Tanu Metir akan berada di rumah itu.

    Wurantapun kemudian dengan hati yang berdebar-debar meniggalkan halaman rumah Agung Sedayu. Ketika ia menginjakkan kakinya di atas jalan yang membelah pedukuhannya, maka sekali ia berpaling. Halaman rumah itu tampak gelap. Dan ia tidak melihat seorangpun di dalamnya. Tetapi ia yakin bahwa Alap-Alap

  36. ADBM jilid hal 57

    Jalatunda sedang mengintainya.

    Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya di atas jalan yang berbatu-batu. Selangkah demi selangkah. Suara gemerisik kakinya terdengar beruntun di tengah-tengah sepinya malam. Sekali-sakali angin yang kencang bertiup menggerakkan daun-daunan yang hijau. Tetapi sejenak kemudian sepi kembali.

    Akhirnya Wuranta itu sampai pula ke muka rumahnya. Sejenak ia ragu-ragu. Apakah Alap-Alap Jalatunda tidak akan mengintai rumahnya itu pula?” Tetapi mudah-mudahan orang itu tidak berhasil melihat ruangan-ruangan di dalam rumahnya dari celah-celah dinding.

    Perlahan-lahan ia melangkah masuk ke dalam halaman. Hatinya yang berdebar-debar selalu saja mengusik perasaannya. Tetapi ia melangkah terus.

    Wuranta tidak menuju ke pintu depan rumahnya. Anak muda itu berjalan di sisi pendapa dan membelok lewat disamping gandok. Kemudian perlahan-lahan ia mengetuk pintu belakang.

    “Siapa?” ia mendengar seseorang menyapa.
    “Wuranta” jawabnya

    Sejenak kemudian pintu itupun terbuka dan anak muda itu hilang ditelan kedalamnya.

    Alap-Alap Jalatunda yang selalu mengintainya menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa seolah-olah tugasnya telah selesai. Ia hanya mendapat kewajiban untuk melihat apakah Wuranta menemui Agung Sedayu atau tidak. Ternyata apa yang dilihatnya sama sekali tidak menumbuhkan kecurigaannya atas anak muda Jati Anom itu. Bahkan ia senang melihat cara anak muda itu mengetahui Agung Sedayu masih berada di rumahnya atau tidak. Karena itu, maka Alap-Alap Jalatunda merasa bahwa tidak ada lagi gunanya ia terlalu lama berada di Jati Anom.

    “Aku akan mendahuluinya” katanya di dalam hati “besok kalau Wuranta sampai padepokan Ki Tambak Wedi, aku harus sudah berada di sana supaya aku tidak mendapat kesan, bahwa malam ini aku telah mengikutinya. Mungkin ia masih akan singgah ke rumahnya sendiri. Biarlah, itu tidak penting bagi tugasku”

    Alap-Alap Jalatunda itupun segera melangkah dengan hati-hati untuk meninggalkan Jati Anom. Ia tidak memperhatikan apa yang terjadi seterusnya di rumah Wuranta. Dan ia sama sekali tidak tahu, bahwa Agung Sedayu dan kawan-kawannya telah menunggu Wuranta di dalam rumahnya untuk mendapatkan beberapa macam ceritera tentang lereng Gunung Merapi.

    “Tidak banyak yang dapat aku lihat sehari ini” berkata Wuranta.

  37. ADBM jilid hal 58

    “Waktumu hanya sedikit” sahut Ki Tanu Metir “tetapi tidak berarti bahwa kau telah gagal. Bukankah kau besok akan kembali lagi?”

    Tidak besok Kiai” jawab Wuranta “malam ini”

    Ki Tanu Metir, Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.
    Kemudian terdengar Agung Sedayu bertanya “Apakah kita akan pergi bersama Wuranta malam ini Kiai?”

    “Jangan” jawab Ki Tanu Metir “kita sama sekali belum mendapat gambaran bagaimana kita harus mendekati rumah tempat Sidanti menyembunyikan Sekar Mirah. Bagaimana cara kita memasuki padepokan Ki Tambak Wedi dan bahkan Wuranta belum melihat dimanakah rumah tempat Sekar Mirah itu berada”

    “Apakah kita masih harus menunggu lagi?” sahut Swandaru.
    “Ya” jawab Kiai Gringsing “kita harus lebih banyak mendapat petunjuk”
    “Kita menunggu sampai Sekar Mirah mengalami nasib yang paling buruk dalam hidupnya?” bertanya Agung Sedayu.

    Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, katanya “Tentu tidak. Tetapi kitapun tidak akan mempercepat nasib yang paling buruk itu menimpanya. Bukankah begitu? Kalau kita dengan tergesa-gesa melakukan usaha ini, dan akhirnya usaha kita dapat diketahui oleh mereka, bukankah itu hanya berarti mempercepat bencana yang menimpa Sekar Mirah?”

    “Waktu itu tidak dapat kita perkirakan. Mungkin hari ini Sekar Mirah telah kehilangan segala-galanya”

    “Tidak” tiba-tiba Wuranta menyela.
    “Apakah kau tahu?” bertanya Swandaru

    “Menurut Alap-Alap Jalantunda, Sidanti adalah seorang pengecut dihadapan gadis-gadis, sehingga Sidanti membiarkan saja Sekar Mirah sampai sekarang di dalam penyimpanan. Bahkan apabila ada kesempatan Alap-Alap Jalatunda itu sendirilah yang berbahaya bagi Sekar Mirah. Tetapi menurut keadaan yang aku lihat, Alap-Alap Jalatunda tidak akan dengan begitu saja berani menembus pengawasan Sidanti”

    Mereka kemudian terdiam sejenak. Persoalan yang mereka hadapi adalah persoalan yang benar-benar mendebarkan jantung. Bencana yang setiap saat dapat menimpa Sekar Mirah adalah bencana pula buat kedua anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu.

  38. ADBM jilid 21 hal 59

    Tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyataan yang mereka hadapi, bahwa Sekar Mirah kini berada di dalam lingkungan yang penuh dengan bahaya. Seolah-olah gadis itu berada di dalam suatu rumah yang dipagari dengan ujung tombak dan pedang.

    “Kita tidak boleh menuruti perasaan saja tanpa pertimbangan nalar ngger” berkata Ki Tanu Metir kemudian “dengan demikian kita akan dapat terjerumus kedalam suatu keadaan yang tidak kita kehendaki, sedang dengan demikian Sekar Mirahpun tidak akan dapat kita selamatkan”

    Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Mereka melihat segala macam kesulitan dan bahaya dengan darah yang mendidih. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
    Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Swandaru dan Agung Sedayu menggeram.

    “Angger Wuranta” berkata Ki Tanu Metir “angger telah mendapatkan suatu kesempatan yang baik. Mudah-mudahan kesempatan itu akan berkembang sehingga angger segera dapat melihat Sekar Mirah disembunyikan dan jalan yang akan dapat kita lalui. Ternyata angger dapat melakukan tugas angger sebaik-baiknya sehingga tidak anehlah bagi angger untuk mendapat kepercayaan yang lebih banyak lagi. Tetapi jangan kehilangan kewaspadaan. Untuk waktu yang agak lama maka angger pasti selalu didalam pengawasan Sidanti. Karena itu jangan sekali-kali datang ke rumah Agung Sedayu. Kalau angger mendapat kesempatan pulang ke Jati Anom, datang sajalah ke rumah angger dan meninggalkan pesan di sini”

    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari bahaya yang timbul apabila kali ini Ki Tanu Metir tidak memperingatkannya bahwa Alap-Alap Jalatunda sedang mengikutinya.

    Dalam pada itu Alap-Alap Jalatunda telah bersiap untuk meninggalkan Jati Anom. Ia melangkah perlahan-lahan menyusuri jalan kademangan. Diamat-amatinya regol demi regol seperti belum pernah dilihat sebelumnya. Dengan langkah yang ringan ia melintasi tikungan demi tikungan.

    Alap-Alap Jalatunda itu kemudian berhenti sejenak di simpang empat induk kademangan. Diawasinya jalan-jalan lurus dihadapannya dilang menyilang. Satu arah jalan itu akan sampai ke rumah Agung Sedayu sedang ketiga arah yang lain akan menebar ke segala bagian kademangan. Pada jalan itu kemudian bercabang-cabang jalan-jalan yang lebih kecil menyusup ke segenap sudut

  39. ADBM jilid 21 hal 59

    Sejenak Alap-Alap itu berdiri diam di sudut ‘perapatan’ itu. Disandarkannya tubuhnya pada dinding batu hampir setinggi ‘dedeg’ dan ‘pengawe’nya.

    Tetapi tiba-tiba Alap-Alap itu dikejutkan oleh derap kaki beberapa ekor kuda. Dengan sigapnya ia meloncat ke atas dinding batu dan bersembunyi di antara daun-daun pepohonan yang rimbun. Dengan hati yang berdebar-debar ia menunggu. Derap kaki kuda siapakah yang bergemeretak di sepanjang jalan kademangan dilarut malam ini?
    Tetapi Alap-Alap Jalatunda menjadi kecewa. Suara kaki-kaki kuda itu seakan-akan patah di tengah-tengah. Hilang dan tidak berderap di bawah tempatnya berlindung.

    “Setan” Alap-Alap Jalatunda mengumpat “siapakah yang berkuda dimalam begini?
    Tetapi suara derap kuda itu seakan-akan lenyap begitu saja. Yang didengar oleh Alap-Alap Jalatunda kemudian adalah desir angin malam terhempas di dedaunan dan dinding batu. Dikejauhan suara jengkerik bersahut-sahutan dengan derik bilalang.

    “Apakah aku mendengar derap kaki hantu ataukah telingaku yang telah menjadi rusak?” gumam Alap-Alap Jalatunda itu seorang diri.

    Tetapi ia yakin bahwa ia telah mendengar derap kaki kuda. Bahkan menurut perhitungannya, tidak hanya seekor kuda, tetapi paling sedikit tiga.

    Hati Alap-Alap Jalatunda menjadi tidak tenteram. Ia tidak dapat melupakan suara derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu maka hatinya mendesak semakin kuat untuk mencari, dimanakah kuda-kuda itu berhenti.

    Dengan hati-hati Alap-Alap Jalatunda itu kemudian meloncat turun kedalam halaman di sisi jalan. Halaman yang gelap oleh tanaman yang liar. Di sana-sini masih terdapat gerumbul-gerumbul dari rumpun-rumpun bambu.

    Alap-Alap Jalatunda itupun segera menyelusup di antara rumpun-rumpun bambu dan gerumbul-gerumbul di halaman. Terbungkuk-bungkuk ia berjalan ke arah suara kaki-kaki kuda itu menghilang. Tiba-tiba ia teringat bahwa arah itu adalah arah Untara.

    “Setan” desisnya “apakah mereka itu Agung Sedayu dengan kawan-kawannya atau bahkan Untara sendiri?”

    Keinginannya menjadi semakin mendesak. Dan ia menyuruk semakin cepat ke arah rumah Agung Sedayu. Seakan-akan ia mendapat kepastian bahwa kuda-kuda itu telah masuk kedalam halaman rumah itu

  40. ADBM jilid 21 hal 60

    Sejenak Alap-Alap itu berdiri diam di sudut ‘perapatan’ itu. Disandarkannya tubuhnya pada dinding batu hampir setinggi ‘dedeg’ dan ‘pengawe’nya.

    Tetapi tiba-tiba Alap-Alap itu dikejutkan oleh derap kaki beberapa ekor kuda. Dengan sigapnya ia meloncat ke atas dinding batu dan bersembunyi di antara daun-daun pepohonan yang rimbun. Dengan hati yang berdebar-debar ia menunggu. Derap kaki kuda siapakah yang bergemeretak di sepanjang jalan kademangan dilarut malam ini?
    Tetapi Alap-Alap Jalatunda menjadi kecewa. Suara kaki-kaki kuda itu seakan-akan patah di tengah-tengah. Hilang dan tidak berderap di bawah tempatnya berlindung.

    “Setan” Alap-Alap Jalatunda mengumpat “siapakah yang berkuda dimalam begini?
    Tetapi suara derap kuda itu seakan-akan lenyap begitu saja. Yang didengar oleh Alap-Alap Jalatunda kemudian adalah desir angin malam terhempas di dedaunan dan dinding batu. Dikejauhan suara jengkerik bersahut-sahutan dengan derik bilalang.

    “Apakah aku mendengar derap kaki hantu ataukah telingaku yang telah menjadi rusak?” gumam Alap-Alap Jalatunda itu seorang diri.

    Tetapi ia yakin bahwa ia telah mendengar derap kaki kuda. Bahkan menurut perhitungannya, tidak hanya seekor kuda, tetapi paling sedikit tiga.

    Hati Alap-Alap Jalatunda menjadi tidak tenteram. Ia tidak dapat melupakan suara derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu maka hatinya mendesak semakin kuat untuk mencari, dimanakah kuda-kuda itu berhenti.

    Dengan hati-hati Alap-Alap Jalatunda itu kemudian meloncat turun kedalam halaman di sisi jalan. Halaman yang gelap oleh tanaman yang liar. Di sana-sini masih terdapat gerumbul-gerumbul dari rumpun-rumpun bambu.

    Alap-Alap Jalatunda itupun segera menyelusup di antara rumpun-rumpun bambu dan gerumbul-gerumbul di halaman. Terbungkuk-bungkuk ia berjalan ke arah suara kaki-kaki kuda itu menghilang. Tiba-tiba ia teringat bahwa arah itu adalah arah Untara.

    “Setan” desisnya “apakah mereka itu Agung Sedayu dengan kawan-kawannya atau bahkan Untara sendiri?”

    Keinginannya menjadi semakin mendesak. Dan ia menyuruk semakin cepat ke arah rumah Agung Sedayu. Seakan-akan ia mendapat kepastian bahwa kuda-kuda itu telah masuk kedalam halaman rumah itu

  41. ADBM jilid 21 hal 61

    Ketika ia sampai di halaman di samping rumah Agung Sedayu maka iapun menjadi semakin hati-hati. Beberapa saat ia berdiri saja di bawah dinding dihalaman seberang. Diperhatikannya keadaan dengan seksama.

    Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia mendengar suara ringkik kuda di halaman rumah Agung Sedayu. Kemudian ia mendengar suara orang yang bercakap-cakap di dalam rumah. Tetapi ia tidak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan.

    “Demit itu agaknya” Alap-Alap itu mengumpat di dalam hati. “Agung Sedayu atau bukan, tetapi mereka ternyata lebih dari seorang. Kalau mereka bukan Agung Sedayu, maka sedikit-dikitnya rumah itu berisi empat orang bersama Agung Sedayu.

    Alap-Alap Jalatunda itu kemudian tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia beringsut meninggalkan halaman itu untuk kembali ke lereng Merapi. Setidak-tidaknya ia telah menyelesaikan tugasnya mengawasi Wuranta. Dan kini tanpa disengaja ia telah melihat beberapa ekor kuda masuk kedalam halaman rumah Agung Sedayu. Dengan demikian apabila mereka turun dari lereng Merapi, mereka harus memperhitungkan keadaan ini. Mereka tidak dapat turun seenaknya, berdua, bertiga atau bahkan seorang diri.
    Dengan sedikit keterangan itu Alap-Alap Jalatunda meninggalkan Jati Anom. Bahkan ia tahu apakah besuk Wuranta dapat juga membuat laporan tentang kuda-kuda itu.
    Karena itu maka Alap-Alap Jalatunda tidak sempat menilai apa yang terjadi sesudah itu di Jati Anom.

    Ternyata ketiga orang berkuda itu adalah utusan Untara. Mereka harus mendahului pasukannya yang segera akan sampai pula di Jati Anom besok. Mereka harus mengetahui apakah Jati Anom sudah siap menerima mereka. Apakah di Jati Anom tidak ada bahaya yang dapat mencelakakan pasukannya.

    Ketiga orang berkuda itu kemudian diterima oleh perempuan yang menunggui rumah Agung Sedayu. Diceriterakannya apa saja yang baru saja dialaminya. Diceriterakannya tentang seorang laki-laki yang wajahnya tertutup oleh ikat kepalanya tanpa baju dan mengancamnya dengan pedang.

    “Apakah orang itu kini mencari Agung Sedayu?” bertanya salah seorang dari orang-orang berkuda itu.

    “Aku tidak tahu” jawab perempuan itu “tetapi aku tidak mengatakan kemana Agung Sedayu pergi, dan orang itu tidak menanyakannya pula.

  42. link djvu-nya diumpetin dimana seh?? susah nian nyarinyo. kalo ada yg bisa bantu jilid 21-22 dll tulung dibantu ye…

    • Lho…inikan buku 11 tapi isinya 21…enak dobel ! 😀

      • tenane Ki…….asiik, coba tak tilik-i !!??

        • siap2 ning TKP……wush-wuuuuussshhhhh,

  43. buku ke 11 kog blom ada nih????..malah isine buku 21 !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: