Buku 19

Sutawijaya menarik nafas. Jawaban orang itu sama sekali tidak meyakinkannya. Memang kemungkinan yang paling dekat adalah, Daruka sekedar mencoba menyelamatkan dirinya. Tetapi meskipun demikian Sutawijaya ingin mencobanya. Katanya, “Daruka. Apakah kau benar orang yang paling ditakuti di hutan Tambak Baya dan Mentaok ini?”

Daruka kembali menjadi ragu-ragu. Tetapi ia menjawab, “Ya. Demikianlah kata orang.”

“Ketahuilah Daruka. Kau memang seharusnya dimusnahkan dari hutan ini. Tak ada cara yang lebih baik daripada membunuhmu dan memenggal lehermu untuk ditanjir di mulut hutan ini.”

“Tetapi,” wajah Daruka tiba-tiba menjadi pucat.

“Apakah yang lebih baik menurut pendapatmu?” bertanya Sutawijaya.

Daruka menjadi makin pucat.

“Apakah kau mempunyai cara yang lebih baik daripada ditanjir di mulut hutan untuk mengabarkan bahwa orang-orang yang ingin menyeberangi hutan ini tidak perlu takut lagi kepada Daruka?

“Tetapi, tetapi, bukankah aku udah menyerah?”

“Kau menyerah di hadapanku. Apabila aku pergi, maka tak ada lagi yang kau takuti.”

“Aku tidak akan ingkar. Aku menyerah.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kembali ia bergumam seperti kepada diri sendiri, “Mustahil. Mustahil orang semacam Daruka ini dapat dipercaya. Mulutnya baru dapat dipercaya apabila ia sudah tidak dapat berkata sepatah kata pun lagi.”

Tiba-tiba Daruka yang kekar itu menjadi gemetar. “Jangan kau bunuh aku. Aku kira tidak akan banyak gunanya. Bukan hanya aku sendiri perampok dan penyamun di hutan ini.”

“He,” bentak Sutawijaya, “kau ingin hidup karena bukan hanya kau endiri perampok di dalam hutan ini?”

Adalah menggelikan sekali tampaknya bahwa seorang yang bertubuh segagah Daruka dapat menjadi gemetar dan ketakutan. Wajahnya kini benar-benar menjadi seputih kapas. Sekali lagi ia merengek seperti kanak-kanak yang melihat bapanya menggenggam cemeti.

“Ampun, Tuan. Ampun.”

Sutawijaya memandanginya dengan tajamnya. Kemudian memandang beberapa anak buah Daruka. Aneh. Mereka pun menjadi gemetar dan ketakutan. Wajah-wajah mereka pun menjadi seputih kapas.

“Hem,” desah Sutawijaya, “aku sangka kalian tidak mengenal takut, meskipun berhadapan dengan maut.”

“Tuan,” berkata Daruka, “kami bukan seorang prajurit. Kami berkelahi sekedar untuk mendapat makan. Sedang prajurit bertempur untuk kewajiban. Karena itu, maka mungkin Tuan sebagai seorang prajurit tidak takut mati dalam kewajiban Tuan. Tetapi kami ingin bahwa kami tidak mati hanya karena kami sedang mencari sesuap nasi.”

Betapa tegang hati Sutawijaya, namun ia harus tertawa di dalam hati mendengar kata-kata Daruka.

“Karena itu, Tuan,” Daruka meneruskan, “kami mohon ampun.”

“Daruka,” sahut Sutawijaya, “mungkin kau sekarang menyadari bahwa seakan-akan tidaklah seimbang kesalahanmu dengan hukuman mati itu, karena kau hanya sekedar mencari makan untuk hidupmu. Tetapi bagaimana dengan para pengawal itu? bukankah mereka pun bekerja sekedar untuk mendapatkan upah yang berarti sekedar untuk mendapatkan sesuap nasi juga? Apakah sudah selayaknya bahwa kau berkeras hati untuk mencarinya dan kemudian membunuh mereka karena mereka telah melawan anak buahmu dan mengalahkannya?”

“Aku tidak akan membunuh mereka, Tuan. Tidak.”

“Untuk apa kau cari mereka?”

“Kami hanya akan mencari siapakah yang telah mencelakai orang-orangku.”

“Ya, untuk apa?” bentak Sutawijaya.

Orang yang botak itu menundukkan kepalanya.

“Daruka,” berkata Sutawijaya kemudian.

Daruka mengangkat wajahnya.

“Wajahmu seram. Tubuhmu pun cukup mengerikan. Kau memang pantas bernama Daruka, seorang yang menakutkan di hutan Tambak Baya dan Mentaok. Seorang yang paling ditakuti oleh gerombolan-gerombolan lain di alas ini.”

Daruka tidak menjawab. Ia tidak tahu, apakah maksud Sutawijaya sebenarnya.

“Apakah kau sudah benar-benar menyerah?”

“Ya, Tuan,” sahut Daruka serta-merta.

“Dan menyesal?”

“Ya, Tuan.”

Daruka, dengarlah baik-baik,” berkata Sutawijaya bersungguh-sungguh. “Kau dengar bahwa sebentar lagi hutan ini akan dibuka menjadi sebuah negeri?”

“Ya, Tuan.”

“Nah, dengan demikian maka setiap kotoran yang ada di dalam hutan ini harus dibersihkan lebih dahulu. Panglima Wira Tamtama yang akan memiliki hutan ini tidak mau melihat orang-orang semacam kau ini tinggal di dalam hutan ini.”

“Aku akan pergi, Tuan.”

“He,” Sutawijaya membelalakkan matanya, “begitu mudahnya? Kau menyamun dan merampok. Setelah kau tertangkap begitu saja kau pergi? Tidak. Kaupun pasti akan menyamun dan merampok di tempat lain sebab kau tidak punya pekerjaan tertentu.”

“Tidak, Tuan. Aku akan mencoba mencari tanah pertanian dengan anak buahku. Aku akan hidup bercocok tanam bersama dengan mereka.”

“Sementara ini kau tidak akan dapat melakukannya. Kau adalah seorang yang biasa hidup dengan berkelahi,” jawab Sutawijaya. “Apalagi kau tertangkap saat kau melakukan perlawanan. Lain halnya kalau kau menyerah sebelum aku menarik pedang dari sarungnya.”

“Ampun, Tuan.”

“Kau harus dihukum.”

“Tetapi aku minta diampuni, Tuan. Aku masih belum ingin mati.”

“Orang-orang yang kau rampok dank au bunuh pun belum ingin mati.”

Daruka terdiam. Beberapa titik keringat dingin menetes pada pundaknya. Tubuh yang gemetar itu menjadi kian menggigil.

“Daruka,” berkata Sutawijaya seterusnya, “kau harus menerima hukuman. Kalau kau benar menyesal atas segala tingkah lakumu, maka kau harus dapat memenuhi beberapa syarat supaya kau tidak dihukum mati.”

Daruka mengangkat wajahnya. Tampaklah sebersit harapan di dalam wajahnya. “Apakah syarat itu, Tuan?”

“Tetapi jangan mencoba melepaskan diri dari tanganku dan tangan Wira Tamtama.”

“Tidak, Tuan.”

“Tidak aka nada gunanya. Aku akan selalu dapat mengawasimu dan menangkap kau setiap saat. Kau tidak dapat mengalahkan aku, apalagi para pemimpin Wira Tamtama lainnya.”

“Ya, Tuan.”

“Nah, dengarlah syarat itu. dalam waktu yang dekat, sebe lum hutan ini mulai dibuka, maka kau harus sudah menyelesaikan syarat itu. kau harus mampu menangkap semua orang yang menjadi penyamun dan perampok di dalam hutan ini. Kau dan orang-orangmu harus mampu menumpas semuanya. Tetapi ingat. Aku tidak memerintahkan kepadamu untuk menumpas orang-orangnya, tetapi perbuatannya. Apakah kau dapat mengerti? Hanya apabila perlu kau boleh mempergunakan pedangmu. Kau mengerti?”

Wajah Daruka yang telah memutih kapas itu kini mulai dialiri oleh darahnya kembali. Ditatapnya wajah Sutawijaya seakan-akan ia ingin mendengar ketegasan dari kata-katanya.

“Apakah yang harus kau lakukan?”

“Membinasakan setiap gerombolan yang ada di hutan ini.”

“Tetapi jangan berlaku seperti apa yang pernah kau lakukan. Ingat, alangkah ngerinya menghadapi maut. Kau sendiri telah melupakan kejantanan dan kesombonganmu ketika kau sudah mulai dijamah oleh bahaya maut itu.”

“Kau dengar kata-kataku?” bertanya Sutawijaya.

“Ya, Tuan. Aku mendengar,” jawab Daruka.

“Kau mengerti?”

Daruka termangu-mangu sebentar. Tiba-tiba ia mengangguk. “Ya, Tuan aku mengerti.”

Daruka mengerutkan keningnya.

“Kau merasa tidak seimbang bahwa kau harus mati karena sesuap nasi. Demikian pula orang-orang lain. Gerombolan-gerombolan yang lain. Tundukkan mereka, kalau mungkin tanpa pepati. Bawalah mereka memilih tanah yang paling baik di seluruh hutan Mentaok. Bukalah hutan itu, kalian akan mendapat hak untuk bertempat tinggal di sana kelak apabila tempat ini menjadi ramai. Kau mengerti?”

“Ya, aku mengerti,” sahut Daruka sambil mengangguk lemah. Ia tahu benar apa yang harus dilakukan. Mengalahkan gerombolan-gerombolan yang ada di hutan ini sejauh mungkin tanpa melukai kulit mereka. Apakah ia mampu berbuat seperti anak muda itu? tetapi Daruka tidak lagi bertanya.

“Nah, lakukan perintahku baik-baik. Dengan demikian kau telah menyelamatkan dirimu sendiri. Memberi harapan kepada kedamaian hatimu sendiri di masa-masa mendatang. Apakah apabila otot-ototmu telah menjadi rapuk dimakan umur, kau masih juga merasa orang yang paling ditakuti di hutan ini? Dan apakah kau masih merasa mampu mencari sesuap nasi dengan pedang di genggaman?”

“Ya, Tuan,” Daruka mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mulai hari ini kau sudah dapat melakukan pekerjaanmu. Tetapi ingat, jangan mencoba melepaskan diri dari pengawasan Wira Tamtama. Kalau kau lancing kali ini, maka hukumanmu bukan sekedar dipancung di alun-alun, tetapi kau akan dirampog setelah kau diadu melawan harumau di alun-alun. Kalau kau juga tidak mati, maka kau akan dihukum picis. Kau dengar?”

Meskipun Daruka selama ini tidak pernah ngeri mendengar nama harimau, namun diadu dengan harimau di alun-alun untuk mengganti rampogan adalah tidak menyenangkan sama sekali. Apabila ia masih hidup maka hukuman picis telah menunggu. Adalah tidak menyenangkan mati di celah-celah gigi harimau atau mati tersayat-sayat dalam menjalani hukuman picis.

Karena itu maka ia tidak mempunyai pilihan lain dari bertempur melawan setiap gerombolan yang ada di hutan Tambak Baya dan Mentaok. Hampir setiap gerombolan telah dikenalnya dengan baik. Dan tak seorang pun yang perlu dicemaskannya apabila mereka berhadapan beradu dada.

“Nah, apakah kau sanggup melakukan?” bertanya Sutawijaya.

Daruka tersentak mendengar pertanyaan itu. dengan serta-merta ia menjawab, “Ya, Tuan. Aku sanggup.”

“Bagus,” berkata Sutawijaya pula. “Pergilah. Lakukan perintah ini. Tetapi kau jangan berbuat semena-mena dan menyalahgunakan perintahku. Aku tidak memerintahkan kepadamu untuk mengadakan pembantaian dan pembunuhan besar-besaran. Kalau mungkin selesaikan dengan pembicaraan. Kau dapat menceriterakan kepada mereka apa yang kau alami. Kau dapat memberitahukan bahwa sebentar lagi sepasukan Wira Tamtama akan menjelajah seluruh isi hutan ini.”

“Ya, ya aku mengerti, Tuan,” sahut Daruka.

“Kalau demikian, pergilah. Bawa orang-orangmu. Apakah orang-orangmu hanya sebanyak dua belas orang ini?”

“Tidak, Tuan. Aku mempunyai lebih dari duapuluh lima kawan. Aku mengharap mereka dapat mengerti apa yang harus aku lakukan. Dan aku harap mereka dapat membantuku.”

“Bagus,” desis Sutawijaya, “sekarang pergilah. Di Cupu watu, Nglipura, Mangir, Menoreh, tersebar prajurit-prajurit Wira Tamtama. Kalau kau ingkar, maka kau pasti akan menyesal.”

“Tidak, Tuan. Aku tidak akan ingkar. Berkelahi melawan gerombolan yang ada di hutan ini bagiku adalah jauh lebih ringan daripada berkelahi melawan Wira Tamtama seperti Tuan.”

Sutawijaya tersenyum di dalam hati. Kemudian sekali lagi ia berkata, “Pergilah. Kumpulkan orang-orangmu, dan mulailah melakukan pekerjaanmu itu.”

“Baik, Tuan. Kami, seluruh orang-orangku mengucapkan beribu terima kasih atas kesempatan yang Tuan berikan kepada kami.”

“Jaga kepercayaan ini baik-baik.”

“Ya, Tuan.”

Sejenak kemudian Daruka beserta orang-orangnya pun segera meninggalkan mereka. Satu-satu mereka menghilang ke dalam semak-semak. Satu dua di antara mereka masih juga berpaling memandangi wajah anak-anak muda itu. tetapi segera mereka membuang pandangan mata ketika mereka melihat Swandaru yang gemuk mencibirkan bibirnya.

“Mudah-mudahan usaha ini berhasil,” gumam Sutawijaya.

“Anakmas cukup cerdik,” sahut Kiai Gringsing. “Aku kira Daruka benar-benar ketakutan. Ia pasti akan melakukan perintah itu. mudah-mudahan ia berhasil. Nanti Anakmas akan membuka hutan ini dengan tenteram. Orang-orang yang berdatangan tidak lagi takut mendapat gangguan dari para penyamun dan perampok. Untuk membasmi mereka dengan cepat, alangkah sulitnya. Sekarang Anakmas mendapat alat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pekerjaan itu. dan pasti hasilnya pun akan lebih baik daripada Anakmas mengerahkan sepasukan Wira Tamtama.”

Sutawijaya tersenyum. “Mudah-mudahan, Kiai,” katanya.

Swandaru yang masih berdiri di tempatnya menyahut, “Aku tidak dapat mempercayai mereka sepenuhnya. Kalau Daruka sendiri mungkin benar-benar telah jera, tetapi aku tidak yakin melihat wajah-wajah dari anak buahnya.”

Sutawijaya masih saja memandangi semak-semak di mana Daruka dan orang-orangnya menghilang. Sejenak ia terdiam. Tetapi yang menjawab perkataan Swandaru adalah Kiai Gringsing, “Tidak, Swandaru. Gerombolan perampok dan penyamun merasa jauh lebih takut kepada pimpinannya daripada prajurit yang manapun juga. Seorang pemimpin perampok atau penyamun dapat saja menghukum mati anggotanya setiap saat dikehendaki. Tanpa banyak pertimbangan dan tanpa banyak pertanggungan jawab. Seorang yang dianggapnya berkhianat atau kurang baik melakukan pekerjaannya, akan dapat mengakibatkan kepalanya terlepas. Kalau kemudian ternyata bahwa tuduhan yang diberikan kepadanya itu keliru, maka pimpinannya cukup bergumam ‘Oh, ternyata keliru,’ tetapi yang mati itu tetap juga mati. Dengan demikian, maka setiap anggota perampok atau penyamun atau sebangsanya akan berusaha untuk mentaati dan menyenangkan hati pemimpinnya.”

Swandaru mengangguk-anggukan kepalanya. Apa yang ditemuinya kali ini benar-benar memberinya banyak pengalaman. Meskipun hanya berpapasan, tetapi ia melihat beberapa orang pengywal yang benar-benar telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi orang lain meurut kesanggupannya. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya mempunyai tanggungjawab yang tinggi atas pekerjaan yang mereka pilih. Kemudian Swandaru itu melihat sebuah gerombolan perampok dan penyamun. Dengan demikian, maka ia telah mendapat sedikit gambaran apa yang sebenarnya tersimpan di gutan2 yang besar dan lebat seperti hutan Mentaok dan Tambak Baya ini.

Bagi Sutawijaya, apa yang dilihat itu pun telah memberikan petunjuk kepadanya, apakah yang kelak akan dihadapinya. Mungkin Daruka dapat melakukan sebagian dari tugasnya, tetapi mungkin uga ia akan menemui kegagalan. Seandainya Daruka benar-benar ingin melakukan tugasnya, maka yang dihadapinya bukan saja satu atau dua gerombolan, yang tidak begitu banyak mempunyai perbedaan kekuatan. Mungkin gerombolan yang lain dapat bergabung satu sama lain untuk bersama-sama mengadapi gerombolan Daruka atau bahkan memusnahkan gerombolan Daruka ini.

Sejenak mereka saling berdiam diri tenggelam dalam angan-angan masing-masing. Yang mula-mula memecah kesenyapan itu adalah Kiai Gringsing, “Bagaimana, Ngger. Apakah kita akan berjalan terus?”

“Kita sudah sampai di sini Kiai, apakah salahnya kalau kita berjalan terus?“ jawab Sutawijaya.

“Kita tidak akan menemukan apa-apa lagi. Alas Mentaok hampir tak akan ada bedanya dengan hutan ini. Kita hanya dapat melihat pohon-pohon raksasa. Akar-akaran dan batang-batang yang merambat. Daun-daun yang mengandung racun yang sangat gatal, sejenis semut yang disebut semut Salaka, tetapi yang kini sudah hampir punah. Harimau yang garang dan kijang yang bertanduk panjang. Apa lagi?”

“Apakah sama sekali tidak ada daerah yang didiami orang Kiai?”

“Tentu saja tidak di tengah-tengah Alas Mentaok. Kalau Angger berjalan terus menembus sisi yang lain dari Alas Mentaok maka Angger akan sampai di daerah yang berpenduduk. Daerah Nglipura, Pliridan yang masih terlampau dekat dengan hutan ini, sebelum kita sampai di hutan Mentaok yang menjorok ke Selatan di daerah Beringan dan Pacetokan. Tetapi menurut pengelihatanku saat-saat terahir daerah ini sudah ditinggalkan oleh penduduknya karena gangguan para penjahat. Kemudian agak jauh ke Selatan Angger akan menemui daerah yang sudah agak ramai, Mangir.”

“Apakah daerah itu juga termasuk daerah Mentaok?”

Kiai Gringsing mengerutkan keninya. Tetapi kemudian ia menggeleng, “Aku tidak tahu, Ngger. Meskipun daerah itu dahulu juga termasuk daerah yang tunduk kepada Sultan Demak. Apakah daerah itu kemudian akan tunduk juga kepada Adipati Pajang untuk seterusnya termasuk tanah yang akan dihadiahkan kepada ayahanda Ki Gede Pemanahan, aku tidak tahu.”

Sutawijaya berpikir sejenak. Tiba-tiba ia berkata, “Aku ingin melihat daerah itu, Kiai.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Katanya, “Angger memrlukan waktu yang lama. Apalagi dedatangan angger belum tentu akan mendapat sambutan yang baik. Kita belum tahu, bagaimana tanggapan Mangir atas Pajang dan atas Alas Mentaok.”

“Karena itu aku ingin menemuinya. Siapakan yang memerintah Mangir? Seorang Demang?”

“Mangir adalah sebuah Tanah Perdikan, Ngger. Seperti daerah-daerah di Bukit Menoreh. Perdikan yang dikukuhkan oleh pengakuan Sultan Trenggana.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tanah itu tanah perdikan. Tiba-tiba dadanya menjadi berdebar-debar. Di samping tanah yang akan diterimanya, terletak sebuah tanah perdikan yang sudah menjadi ramai. Apakah tanah itu mengakui kekuasaan Pajang atas penyerahan kekuasaan daerah itu kepada Ki Gede Pemanahan? Lalu bagaimanahkah sifat dan bentuk Tanah Mentaok kelak?

Kiai Gringsing yang tua itu seakan-akan dapat membaca perasaan Sutawijaya. Maka katanya, “Anakmas. Jangan terlampau pagi merisaukan tanah ini. Apakah Angger kini sedang dijalari oleh kecemasan tentang Mangir itu? Apakah tidak ada bahaya yang dapat datang dari tanah itu selagi Angger membuka Tanah Mentaok ini? Bukankah Angger berpikir tentang itu?”

“Ya Kiai.”

“Lupakanlah. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Memang Mangir adalah tanah perdikan yang perllu mendapat perhatian, Tetapi tidak sekarang. Sekarang sebaiknya kita kembali ke Sangkal Putung.”
Sutawijaya menarik nafas. Mangir akan dapat menumbuhkan persoalan kelak. Kemudian dipalingkannya wajahnya kepada kedua kawan-kawannya yang perhatiannya agaknya tertarik kepada pohon-pohon raksasa dan jenis burung2 liar yang terbang hilir mudik dari dahan ke dahan.

“Bagaimana dengan kita?” bertanya Sutawijaya kepada kedua anak muda itu
Agung Sedayu dan Swandaru tidak segera menjawab. Bahkan sejenak mereka saling berpandangn. Tetapi keduanya ternyata saling berdiam diri.

Meskipun Swandaru merasa banyak mendapatkan pengalaman dalam perjalanan itu, dan meskipun sebenarnya ia masih ingin menjelajahin tempat-tempat yang selama ini belum pernah dilihatnya, namun ia ingat juga kepada kademangannya. Kademangan yang selama ini dipertahankannya dengan pengorbanan yang tidak kecil. Bahkan nyawa dari beberapa orang telah pula dikorbankan.

Sedang Agung Sedayu pun mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang lain pula. Ia menjadi cemas, apakah kakaknya Untara membenarkannya. Kalau terjadi sesuatu atas Sangkal Putung dan para prajurit Pajang, bahkan atas kakaknya Untara dan pamannya Widura, maka ia tidak dapat melihatnya. Ia akan dapat dipersalahkan, bahwa ia telah meninggalkan kuwajibannya.

Tetapi mereka berdua tidak inin mendahului pendapat Sutawijaya. Mereka telah terlanjur berjanji ingin pergi bersamanya ke Alas Mentaok. Sehingga karena itu, maka dibiarkannya Sutawijaya itu sendiri menjawab pertanyaannya.

“Bagaimana, Ngger?” bertanya Kiai Gringsing kemudian. “Aku harap Angger mempertimbangkannya. Meskipun Angger sampai juga di Alas Mentaok, maka yang akan Angger lihat adalah serupa ini juga. Pohon-pohon besar dan rimbun, gerumbul-gerumbul perdu yang pepat. Pohon-pohon yang merambat, yang tidak berduri dan yang berduri. Batu-batu padas yang kotor dan jamur-jamur dari segala macam jenis. Kemladean dan beberapa macam anggrek. Angger tidak akan dapat melihat dengen jelas, manakah batas-batas yang memisahkan Alas Mentaok dan Alas Tambak Baya. Mungkin sebuah padang rumput yang sempit yang masuk dalam sebuah lekukan hutan ini dapat dianggap sebagai batas tersebut. Tetapi di dalam hutan, maka batas itu tidak akan nampak.”

Sutawijaya menjadi bimbang. Ia menyadari, betapa hangatnya keadaan Sangkal Putung kini. Apalagi apabila ayahnya telah pergi meniggalkan kademangan itu. Maka Sangkal Putung akan mengalami saat yang paling lemah tanpa adanya Agung Sedayu, Swandaru dan lebih-lebih Kiai Gringsing. Sedang apa yang akan dilihatnya pun tidak akan jauh berbeda dari apa yang dilihatnya sekarang. Bruntunglah bahwa ia telah bertemu dengan gerombolan terkuat dari Alas Mentaok, Daruka, yang dapat memberinya beberapa macam gambaran tentang Alas Mentaok yan liar. Liar wajah dan isinya.

Ketika Agung Sedayu dan Swandaru tidak juga menjawab, maka terdengar Sutawijaya itu berdesis “Baiklah, Kiai. Aku telah puas melihat sebagian saja dari Alas Mentaok. Bagian yang bernama Tambak Baya. Aku mengerti, bahwa Sangkal Putung kini benar-benar dalam keadaan yang sulit apabila Ki Tambak Wedi mengambil kesempatan menyerangnya. Karena itu, baiklah kita kembali.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus,” desisnya, “ternyata Angger cukup bijaksana. Sejak saat ini kita akan memerlukan waktu sedikitnya dua malam untuk mencapai Sangkal Putung kembali. Hari ini telah lebih dari separo kita lampaui untuk bermain-main dengan Daruka dan kawan-kawannya. Kita masih memrlukan waktu lagi unuk memberi kesempatan Swandaru memburu makan malamnya nanti.”

Swandaru menggigit bibirnya, sedang kedua kawannya tertawa perlahan-lahan.

“Kalau begitu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kita segera kembali ke Sangkal Putung. Jangan kita lalui kembali Kademangan Prambanan. Kita pasti akan terhambat pula desikitnya satu malam. Kita tidak akan sampai hati menyakiti perasaan mereka apabila kita menolak permintaan mereka untuk bermalam di kademangan itu.”

“Baik, Kiai,” sahut Sutawijaya.

“Kita berusaha mencari jalan lain pula. Mungkin Argajaya membuat persiapan yang baik untuk menyambut kedatangan kita di Sangkal Putung. Karena itu, biarlah kita mencoba menghindarinya.”

“Kenapa tidak kita penggl saja lehernya, Kiai?” potong Swandaru.

“Leher yang melekat ditubuh Argajaya bukanlah leher ayam. Ia pasti akan mempertahankan lehernya. Bahkan tidak seorang diri. Mungkin bersama Sidanti, Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan bahkan mungkin pula Ki Tambak Wedi. Nah, kalau demikian apakah bukan lehermu yang meremang?”

Swandaru tersenyum. Kedua kawannya pun tersenyum pula.

“Nah, marilah. Kita harus mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Nudah-mudahan tidak terjadi sesuatu dengan Sangkal Putung.”

Tetapi dengan demikian, kata-kata Kiai Gringsing yang terakhir itu telah membuat jantung Swandaru menjadi berdebar-debar. Agung Sedayu pun merasa cemas pula. Apakah sebenarnya yang paling mencemaskan baginya? Agung Sedayu sendiri kadang-kadang menjadi ragu-ragu. Untara barangkali? Untara adalah kakaknya. Untara adalah seorang senapati. Seorang yang memimpin sepasukan prajurit yang kuat. Kenapa ia mesti mencemaskannya? Sangkal Putung barangkali? Kademangan itu? Agung Sedayu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau menelusur lebih jauh, apakah sebabnya kecemasannya tentang Sangkal Putung menjadi kian memuncak.

Keempatnya kini telah berjalan kembali kearah yang berlawanan dari jalan yang telh ditumpunya. Tiba-tiba saja mereka merasa bahwa merka telah terlampu lama meninggalkan Sangkal Putung. Sutawijaya pun merasa, bahwa ayahnya pasti tidak terlampau senang kepadanya karena kepergiannya yang tanpa pamit itu.

Demikianlah maka mereka berusaha tanpa berjanji, berjalan secepat-cepatnya untuk mencapai Sangkal Putung. Mereka paling sedikit masih memrlukan dua malam satu hari diperjalanan. Kalau saja tidak ada rintangan apapun, kalau saja mereka tidak berjumpa dengan orang-orang Prambanan yang akan meminta mereka untuk singgah, kalau saja mereka tidak bertemu dengan Argajaya dan Sidanti.

Sebagin dari harapan mereka itu pun terjadi. Mereka setelah bermalam satu malam, dapat melampaui Prambanan tanpa dilihat oleh seorang pun sehingga mereka tidak perlu singgah. Bahkan mereka berusaha untuk sampai ke Sangkal Putung hari itu juga meskipun larut malam atau bahkan sampai fajar. Seolah-olah mereka mendapat suatu firasat, bahwa memang terjadi sesuatu di Sangkal Putung.

Kiai Gringsing agaknya melihat kegelisahan dihati ketiga anak-anak muda itu. Maka untuk menenangkan mereka orang tua itu berkata, “Anakmas bertiga. Kenapa Anakmas menjadi sedemikian tergesa-gesa sperti dikejar hantu?”

Ketiga anak-anak muda itu terkejut mendengar kata-kata Kiai Gringsing. Sejenak mereka saling berdiam diri, tetapi sejenak kemudian mereka tersenyum.

“Bukankah Kiai ingin segera sampai ke kademanan itu? Kita harus berjalan siang dan malam.”

“Tetapi tidak seperti dikejar hantu. Aku melihat kalian berjalan meloncat-loncat. Perjalanan kita cukum jauh. Kalau anak mas berjalan seperti itu, maka kita pasti akan kelelahan sebelum kita sampai ke Sangkal Putung.”

Kembali anak-anak muda itu tersenyum. Yang menjawab kemudian adalah Swandaru, “Jadi apakah lebih baik kita berjalan perlahan-lahan? Mungkin aku akan mendapat banyak waktu untuk mendapatkan binatang buruan. Bahkan mungkin aku akan dapat membawa oleh-oleh buat ayah dan ibu dirumah.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Tidak terlampau cepat, tetapi tidak terlalu lambat. Sedang.”

Ketiga anak-anak muda itu tidak menjawab lagi. Tetapi kini mereka tidak lagi meloncat-loncat seperti orang yang ketakutan.

Ketika malam datang, maka Sangkal Putung sudah tidak terlalu jauh lagi. Meskipun mereka masih berada dihutan yang tidak begitu lebat, namun mereka bertekad untuk berjalan terus.

“Bukankah kita sudah sampai dihutan tempat orang-orang Jipang dahulu berkemah?” gumam Agung Sedayu.

“Ya,” sahut Kiai Gringsing.

“Kalau begitu kita tidak usah bermalam lagi,” berkata Swandaru. “Kita berjalan terus, meskipun perutku terlampau kosong. Justru karena itu aku harus segera sampai dirumah. Mungkin masih ada sisa nasi di dapur.”

“Kalau tidak?” potong Sutawijaya.

“Aku akan berburu.”

“Di mana kau akan berburu?”

“Di kandang ayam,” jawab Swandaru.

Yang mendengar jawaban itu tertawa. Swandaru pun tertawa pula meskipun sekali-sekali ia harus menyerigai karena kakinya terantuk kayu atau batu-batu padas.

Tetapi mereka berempat benar-benar tidak ingin berhenti berjalan.
Kiai Gringsing membiarkan saja anak-anak muda itu mengambil sikap. Namun tampak juga, bahwa anak-anak muda itu telah mulai dirayapi oleh perasaan lelah. Meskipun demikian, tak seorang pun yang ingin berhenti dijalan. Sebelum fajar mereka harus sudah sampai di Sangkal Putung. Yang dapat mereka lakukan hanyalah memperlambat perjalanan untuk mengurangi kelelahan mereka. Tetapi tidak untuk berhenti.

Meskipun demikian, meskipun mereka berjalan malam hari, namun mereka tidak menempuh jalan yang terpendek. Mereka masih juga memperhitungkan Argajaya dan Sidanti. Argajaya itu dua hari yang lalu pasti sudah bertemu dengan Sidanti. Paman Sidanti itu pasti sudah banyak berceritera, dan Sidantipun telah banyak bercerita pula. Karena itu, maka dendam mereka pasti akan berganda. Gurunya Ki Tambak Wedi pasti tidak pula akan tinggal diam. Karena itu, maka mereka harus menghindari kemungkinan itu, kemungkinan bertemu dengan Sidanti, meskipun Swandaru sama sekali tidak ingin melakukannya.

Ternyata sedikit lewat tengah malam mereka telah mendekati Kademangan Sangkal Putung. Mereka telah sampai disebuah padang rumput yang tidak begitu luas. Karena itu mereka harus berjalan agak labih cepat. Sebab di padang rumput, maka bayangan mereka pasti akan lebih mudah dilihat oleh siapapun, meskipun mereka telah bergeser beberapa puluh langkah dari jalan yang terdekat.

Semakin dekat dengan mereka Kademangan Sangkal Putung, maka hati mereka pun menjadi berdebar-debar. Mereka tidak melihat sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Mereka tidak melihat kelainan daripada biasanya. Kalau terjadi sesuatu atas Kademangan itu, maka mereka pasti melihat suatu perubahan apapun. Mereka masih melihat lampu-lampu yang sinarnya kadang-kadang meloncat dari celah-celah dinding rumah. Di mulut lorong mereka masih melihat sebuah pelita yang menyala.
Tiba-tiba Swandaru memperlambat jalannya sambil menarik nafas dalam-dalam. “Hem, ternyata Sangkal Putung tidak mengalami sesuatu.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab “Begitulah agaknya.”

“Kalau begitu, sejak kini aku akan berjalan lambat-lambat. Bukankah kita tidak perlu tergesa-gesa.”

“Ah, kau”, sahut Agung Sedayu, “akulah kini yang tergesa-gesa. Bukankah kau masih ingin berburu?”

Swandaru tertawa. Tetapi tiba-tiba ia menguap. “Aku tidak terlalu lelah tetapi aku mengantuk.”

Namun mereka tidak lagi merasa gelisah. Apalagi ketika mereka sudah memasuki padesan. Namun agaknya Swandaru ingin mengejutkan orang-orang di kademangan, karena itu katanya, “Marilah kita tidak melalui jalan. Kita membuat kejutan bagi orang-orang kademangan.”

Kedua kawan-kawannya tidak membantah. Kiai Gringsing pun menuruti saja kemauan muridnya yang aneh itu. Tetapi ketika mereka memasuki halaman kademangan lewat belakang, mereka benar-benar terperanjat. Ternyata kademangan itu benar-benar tidak seperti biasanya. Bahkan lamat-lamat Swandaru mendengar tangis perempuan. Tangis ibunya.

Mereka berempat itu pun tertegun sejenak. Suara tangis yang lamat-lamat itu masih mereka dengar. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun tak seorang pun yang tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi.

Menilik tanda-tanda yang mereka jumpai di sepanjang jalan, mereka sama sekali tidak melihat bekas-bekas keributan. Dari tempat mereka menyelinap di antara pepohonan sambil meloncat-loncat di antara dinding-dinding halaman, mereka melihat gardu-gardu peronda masih juga seperti biasanya. Memang mereka melihat kesiapsiagaan yang agak lebih ketat dari kebiasaan. Tetapi mereka menyangka bahwa keadaan sekedar meningkat menjadi lebih genting, tetapi belum terlambat.

Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini.

“Agaknya memang telah terjadi sesuatu,” bisik Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk, “Ya.”

“Tetapi tidak ada tanda-tanda yang kita temui,” sahut Sutawijaya.

Mereka pun kemudian terdiam. Ketika mereka berpaling kepada Kiai Gringsing, orang tua itu pun sedang termenung.

“Bagaimana Kiai?”

Kiai Gringsing menggeleng, “Aku tidak tahu. Marilah kita lihat.”

“Sebenarnya aku ingin bermain-main. Aku ingin mengejutkan orang-orang kademangan. Diam-diam aku ingin tidur, sehingga besok pagi mereka pasti terkejut melihat kami di pendapa, atau di gandok wetan. Tetapi agaknya kita harus berbuat lain.”

“Agaknya kita tidak sedang menghadapi persoalan yang dapat dibawa untuk bergurau,” gumam Kiai Gringsing. “Marilah jangan terlampau lama.”

Ketiga anak-anak muda itu pun kemudian mengikuti langkah Kiai Gringsing. Mereka tidak lagi berkata apa pun. Kiai Gringsing benar-benar sedang berpikir. Kalau saja Kiai Gringsing menjadi gelisah, maka persoalan yang mereka hadapi pasti bukan sekedar persoalan yang ringan.

Memang sekali-kali Swandaru hanya menganggap bahwa ibunya pasti sedang sakit gigi. Sebab baik di setiap sudut penjagaan maupun di halaman itu sendiri mereka tidak melihat kekhususan yang mencolok. Tetapi anggapan itu tidak diyakininya sendiri. Setiap kali dadanya terasa berdesir, semakin lama menjadi semakin tajam.

Mereka berhenti ketika mereka melihat dua orang berjalan di bagian belakang halaman itu. Supaya tidak menimbulkan kegaduhan maka merekapun berhenti dan menyelinap di balik pepohonan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat begitu terlalu lama, sebab kedua orang itu ternyata menuju ke tempat yang agak terlindung. Pada saat itulah baru mereka mengetahui, bahwa di sudut yang gelap itu ternyata telah diadakan sebuah penjagaan.

Penjagaan di tempat itu tidak pernah ada sebelumnya. Penjagaan di bagian belakang ini berada di samping regol yang telah ditutup mati hanya malam hari apabila keadaan mengkhawatirkan. Sedang penjagaan yang biasa terdapat di tikungan, di gardu perondan. Sekarang di tempat itu ternyata ada sebuah penjagaan sehingga dengan demikian mereka dapat menduga sesuatu benar-benar telah terjadi.
Tiba-tiba Swandaru menjadi tidak bersabar lagi. Dengan terbata-bata ia berbisik, “Kiai, aku akan melihat apakah yang telah terjadi.”

“Tunggu,” cegah Kiai Gringsing. “Jangan mengejutkan para penjaga yang sedang dalam kesiapsiagaan penuh. Kalau mereka melihat kita berempat, maka meka pasti menyangka bahwa mereka menghadapi bahaya. Dengan demikian, maka kegaduhan pasti akan timbul. Karena itu, biarlah aku sendiri menemui mereka dan mengatakan bahwa kalian telah kembali.”

“Baik Kiai,” sahut Swandaru tidak sabar.

Kiai Gringsing pun kemudian melangkah maju. Perlahan-lahan dan hati-hati. Ternyata para penjaga itu pun belum melihatnya.

Untuk menghindari kesalah-pahaman, maka Kiai Grinsing itu pun terbatuk-batuk kecil. Sehingga dari tempat yang terlindung ia mendengar seseorang menyapanya, “He, siapakah itu?”

“Aku, Tanu Metir.”

“Oh,” terdengar seseorang berdesah. “Kenapa Kiai bearda di situ?”

Kiai Grinsing tidak segera menjawab. Bahkan ia masih juga terbatuk-batuk.(***)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 9 Oktober 2008 at 05:27  Comments (76)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-19/trackback/

RSS feed for comments on this post.

76 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wah piye ki, program opo maneh dejavu iku mas, bedo ra karo microsof reader, iso gawat ki rek ra iso neruske moco ADBM, kadung kedanan je. Rodo kuatir ki aku mas. Soale aku ra nduwe program iku. Piye yo…maklum gaptek.

    D2: Jangan khawatir. Hampir sama dengan Adobe Reader koq.

  2. D, aku gak bisa buka adbm-jilid-019.pdf; baik pake djvu atau pun reader yang lain. ada yang gak beres di file-nya?

    D2: Ubah ekstensinya ke .djvu dulu.

  3. CARA BUKA FILE:

    Karena blog kita tidak memberi kesempatan kita untuk aplod file djvu, maka file itu saya ubah ekstensinya dengan pdf (ekstensi lain spt jpg, tiff, dll juga bisa aja), hanya semata2 agar file itu bisa diaplod.

    File harus disave dulu ke komputer Anda. Lalu ubah ekstensi .pdf menjadi .djvu. Jadi adbm-jilid-019.pdf diubah menjadi adbm-jilid-019.djvu dengan cara mengganti .pdf menjadi .djvu

    Lalu buka deh dengan djvu reader.

    O ya, pastikan Anda menginstal djvu reader yang bisa diperoleh di blog ini (check di halaman Download)

    DD

  4. D, makasih. akhirnya aku bisa buka buku 19. aku bersedia retype hal 1-10 dulu. salam

    D2: Thanks juga. Siapa halaman berikutnya?

  5. kasian deh gue…,selama ini hanya bs bc lewat hp,,sekarang gak bisa baca2 lg….

    D2: Tentu masih bisa baca, Mas. Karena konversi ke teks tetap dikerjakan. Tetapi ya itu, tidak secepat penayangan image. Jadi, yang mau baca teks silakan bersabar.

  6. Lha … rak tenen to..??? Aku dah nduga-nduga ..wah kok enuakk tenan gratis menikmati ajo-ojo….. eee lah kok tenan…

    D2: Ojo2 piye Mas Panji? Jangan bikin orang salah tafsir lho.

  7. Mas, aku kok gk bisa download file pdf nya itu ya..
    link yg “adbm-jilid-019”, kalau di klik gk keluar pilihan save… malah pengumuman file not found..
    Gimana ya Mas, untuk ngesavenya?

    • untuk mengklik sebaiknya cemeti dipegang dengan cara terbalik dan gagangnya yang digunakan untuk ndudul link yang bersangkutan, lebih jelasnya bisa menghubungi ki ndul

  8. Sudah ketemu Mas caranya.. harus klik kanan dulu terus save link as…
    btw… ini hasil scanenan tooh Mas.. apakah tidak akan di retipe lg seperti sebelumnya… kok sepertinya lebih enak baca lewat blok ini, dari pada model dejavu gini..

    D2: Proses retype tetap berjalan. Silakan saja yang mau berpartisipasi. Sehalaman2 gak apa2. Hasilnya langsung aja dishout di boks komentar ini. Nanti admin akan mengumpulkannya untuk ditayangkan sebagaimana sebelumnya. Asal jelas aja Jilid berapa halaman berapa.

  9. DD… kalo udah langsun tampil gini rasanya kurang semangat retypenya. sebaiknya hanya pasukan retype saja yg di kasih bahan mentah, seperti kemarin.
    saya rasa kalo pake cara yg sekarang pasukan retypenya lambat laun akan berkurang.
    sebab yg mau ditampilin udah dibaca orang-orang dulu..

    saya daptar retype 10 halaman.
    halaman mana yg belum ada petugasnya ?

    D2: Saya yakin yang ikut retype justru makin banyak. Silakan pilih halaman mana saja. Saya berharap ke depan ada cara yg efisien, semacam wiki yg bisa diedit. Ada usul?

    trim’s

  10. iya ni ms DD…,klo boleh usul mbok kembali sj ke prosedur semula,, sy ko kuatir ni mengarah ke aborsi seperti yg pernah mas sampaikan…,btw ngapunten sing katah,,cm bs kasih comment thok gak bs bantu,,dan smoga aja si tetep langgeng…

    • justru yang penting tu commentnya, masalah mbantu kan sudah ada ki ndul

  11. iya ni ms DD…,klo boleh usul mbok kembali sj ke prosedur semula,, sy ko kuatir ni mengarah ke aborsi seperti yg pernah mas sampaikan…,btw ngapunten sing katah,,cm bs kasih comment thok gak bs bantu,,dan smoga aja si tetep langgeng..
    maturnuwun

  12. Sedikit urun informasi nggih…,
    berdasarkan pengalam pribadi (karena gaptek nih), setelah download adbm-jilid-019.pdf, windows otomatis mengenali sebagai file adobe, setelah diubah extention menjadi djvu tetap tidak bisa dibuka. Setelah dicheck ternyata filenya menjadi adbm-jilid-019.djvu.pdf..weleh..weleh..
    mengubahnya melalui windows explorer>tools>Folders Option>View>HIdes extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan)…
    Jika belum jelas silakan buka di http://www.mediacollege.com/microsoft/windows/extension-change.html

    selamat menikmati adbm…salam buat pecinta adbm dari Melbourne…(yang sempat kebat kebit saat membaca ..perlu nunggu 8 tahun untuk baca seluruh jilid adbm dg format retype..)

  13. cara ubah pdf ke djvu gimana??

    • dikasih pewarna aja kan langsung brubah

  14. udah bisa, thx ABDMnya

  15. He eh mas D2, kembali seperti semula saja lah, biar aku bisa langsung baca he…he….tapi ya monggo kerso soalnya saya kan cuma numpang baca, ngapunten sing katah ugi.

  16. DD ini halaman terakhir buku 19

    Jangan di bagian belakang ini berada di samping regol yang telah ditutup mati hanya malam hari apabila keadaan mengkhawatirkan. Sedang penjagaan yang biasa terdapat di tikungan, di gardu, peronda. Sekarang di tempat itu ternyata ada sebuah penjagaan sehingga dengan demikian mereka dapat menduga sesuatu benar-benar telah terjadi.

    Tiba-tiba Swandaru menjadi tidak bersabar lagi. Dengan terbata-bata ia berbisik, ”Kiai, aku akan melihat apakah yang telah terjadi.”
    ”Tunggu.” Cegah Kiai Gringsing. ”Jangan mengejutkan para penjaga yang sedang dalam kesiapsiagaan penuh. Kalau mereka melihat kita berempat, maka meka pasti menyangka bahwa mereka menghadapi bahaya. Dengan demikian, maka kegaduhan pasti akan timbul. Karena itu, biarlah aku sendiri menemui mereka dan mengatakan bahwa kalian telah kembali.”

    ”Baik Kiai..” sahut Swandaru tidak sabar.

    Kiai Gringsingpun kemudian melangkah maju. Perlahan-lahan dan hati-hati. Ternyata para penjaga itupun belum melihatnya.

    Untuk menghindari kesalah pahaman, maka Kiai Grinsing itupun terbatuk-batuk kecil. Sehingga dari tempat yang terlindung ia mendengar seseorang menyapanya, ”He, Siapakah itu ?”

    ”Ah..Aku Tanu Metir”

    ”Oh.” terdengar seseorang berdesah, ”Kenapa Kiai bearda di situ?”

    Kiai Grinsing tidak segera menjawab. Bahkan ia masih juga terbatuk-batuk

    • pergantian musim rawan flu ..

  17. wah sedih rasanya ndak bisa mbaca kelanjutannya, aku dah coba buka pakai adobe reader tetep aja ndak bisa, padahal aku juga sudah coba download tapi hasilnya ya tetep.
    Hik…hiks say good bay.

    D2: Kasihan… Jangan buka pake adobe, Sen. Ini adalah file djvu, jadi buka pake djvu reader. Udah instal, kan? (ambil tuh di halaman download). Sebelum dibuka, ubah ekstensinya menjadi djvu. Caranya lihat komentar orang lain di bawah.

  18. kok berubah… kenapa ga seperti yang dulu2, tinggal buka langsung baca ato di blog-nya bos rizal yang sekarang entah kemana ….

    D2: Sekarang kan tinggal simpan, baca… beda dikit doang.

  19. usul mas dd
    saya cocok jg cara ini krn emang cepet dan gampang klo ikutan retype. Tapi gimana kalo ditaruh di halaman download aja , jadi yang di halaman utama tetep yang hasil retype.

  20. Halaman 78 jilid 19
    —–
    Semakin dekat dengan mereka Kademangan Sangkal Putung, maka hati merekapun menjadi berdebar-debar. Mereka tidak melihat sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Mereka tidak melihat kelainan daripada biasanya. Kalau terjadi sesuatu atas Kademangan itu, maka mereka pasti melihat suatu perubahan apapun. Mereka masih melihat lampu-lampu yang sinarnya kadang-kadang meloncat dari celah-celah dinding rumah. Di mulut lorong mereka masih melihat sebuah pelita yang menyala.

    Tiba-tiba Swandaru memperlambat jalannya sambil menarik nafas dalam-dalam. “Hem, Ternyata Sangkal Putung tidak mengalami sesuatu”.

    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab “Begitulah agaknya”.

    “Kalau begitu, sejak kini aku akan berjalan lambat-lambat. Bukankah kita tidak perlu tergesa-gesa”.

    “Ah kau”, sahut Agung Sedayu, “akulah kini yang tergesa-gesa. Bukankah kau masih ingin berburu?”

    Swandaru tertawa. Tetapi tiba-tiba ia menguap. “Aku tidak terlalu lelah tetapi aku mengantuk”.

    Namun mereka tidak lagi merasa gelisah. Apalagi ketika mereka sudah memasuki padesan. Namun agaknya Swandaru ingin mengejutkan orang-orang di Kademangan, karena itu katanya, “Marilah kita tidak melalui jalan. Kita membuat kejutan bagi orang-orang Kademangan”.

    Kedua kawan-kawannya tidak membantah. Kiai Gringsingpun menuruti saja kemauan muridnya yang aneh itu. Tetapi ketika mereka memasuki halaman Kademangan lewat belakang, mereka benar-benar terperanjat. Ternyata Kademangan itu benar-benar tidak seperti biasanya. Bahkan lamat-lamat Swandaru mendengar tangis perempuan. Tangis ibunya.

    Mereka berempat itupun tertegun sejenak. Suara tangis yang lamat-lamat itu masih mereka dengar. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun tak seorangpun yang tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi.

    Menilik tanda-tanda yang mereka jumpai disepanjang jalan, mereka sama sekali tidak melihat bekas-bekas keributan. Dari tempat mereka menyelinap di antara pepohonan sambil meloncat-loncat di antara dinding-dinding halaman, mereka melihat gardu-gardu peronda masih juga seperti biasanya. Memang mereka melihat kesiapsiagaan yang agak lebih ketat dari kebiasaan. Tetapi mereka menyangka bahwa keadaan sekedar meningkat menjadi lebih genting, tetapi belum

  21. ini buku 19 halaman 79

    (dari halaman 78)…Terlambat.

    Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini ….. (dst. Udah diambil Ki Demang)

  22. Halaman 79 jilid 19
    —————-

    terlambat.

    Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini.

    “Agaknya memang telah terjadi sesuatu” bisik Swandaru.

    Agung Sedayu mengangguk, “Ya”.

    “Tetapi tidak ada tanda-tanda yang kita temui” sahut Sutawijaya.

    Merekapun kemudian terdiam. Ketika mereka berpaling kepada Kiai Gringsing, orang tua itupun sedang termenung.

    “Bagaimana Kiai?”

    Kiai Gringsing menggeleng, “Aku tidak tahu. Marilah kita lihat.”

    “Sebenarnya aku ingin bermain-main. Aku ingin mengejutkan orang-orang di Kademangan. Diam-diam aku ingin tidur, sehingga besok page mereka pasti terkejut melihat kami di pendapa atau di gandok wetan. Tetapi agaknya kita harus berbuat lain.”

    “Agaknya kita tidak sedang menghadapi persoalan yang dapat dibawa untuk bergurau” gumam Kiai Gringsing, “marilah jangan terlampau lama.”

    Ketiga anak-anak muda itupun kemudian mengikuti langkah Kiai Gringsing. Mereka tidak agi berkata apapun. Kiai Gringsing benar-benar sedang berpikir. Kalau saja Kiai Gringsing menjadi gelisah, maka persoalan yang mereka hadapi pasti bukan sekedar persoalan yang ringan.

    Memang sekali-sekali Swandaru hanya menganggap bahwa ibunya pasti sedang sakit gigi. Sebab baik di setiap sudut penjagaan maupun di halaman itu sendiri mereka tidak melihat kekhususan yang menyolok. Tetapi anggapan itu tidak diyakininya sendiri. Setiap kali dadanya terasa berdesir, semakin lama menjadi semakin tajam.

    Mereka terhenti ketika mereka melihat dua orang berjalan di bagian belakang halaman itu. Supaya tidak menimbulkan kegaduhan maka merekapun berhenti dan menyelinap di balik pepohonan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat begitu terlalu lama, sebab kedua orang itu ternyata menuju ke tempat yang agak terlindung. Pada saat itulah baru mereka mengetahui, bahwa yang di sudut yang gelap itu ternyata telah diadakan suatu penjagaan.

    Penjagaan di tempat itu tidak pernah ada sebelumnya. Penjagaan …

  23. nyuwun ngapunten..
    mau usul nyeleneh nih (untuk mempercepat retype)..

    gimana kalo situs ini dijadikan situs berbayar 😦
    maksudnya bayarnya pake retype. jadi siapa yg mau akses situs secara penuh harus retype dulu.
    Tapi untuk memberikan kesempatan yg luas bagi semua orang untuk dapat mengagumi karya besar ini, dibuka akses terbatas.
    Kamsudnya begini.. misalnya yg udah di retype jilid 1-20, maka yg tidak retype hanya bisa akses jilid 1-15. kalo retype nambah jadi 1-30, maka yg tidak retype hanya bisa buka 1-23.
    trus untuk mengapresiasi peran serta pasukan retype, juga diberikan hak akses pada image.

    nyuwun ngapunten lho

    D2: Gimana kalau kolaborasi retyping, dimana bahan yg sedng diretype bisa diedit oleh pengunjung dan yg sudah kelar diboyong ke halaman buku? Cuma belum tahu teknisnya. Ada usul?

  24. wah.. wah.. seru jg nih.. selalu ada pro n kontra.. tp gk apa-apa, malah bagus, bebas berpendapat, semua punya hak yang sama, yg penting tetep jaga semangat tepa selira ya Mas-mas..
    Aku sendiri setuju dg usulannya Mas DD,.. lebih enak begini, n selajutnya klo sudah di retipe baru di tayangkan online…
    Aku jg salut sama Mas DD, saya pikir Mas sudah pikirkan matang-matang bgimana bagus nya… jadi apapun hasilnya ya nanti kita liat aja gimana.. namanya jg rencana..
    Mengenai klo dibikin kya wiki.. semua orang bisa urun rembuk itu mesti hati-hati lho Mas.. soalnya kita kan tetep mau jaga keorisinilan karya SH.M ini…
    sepertinya tetap harus Mas DD tau team Master untuk finalisasinya.

  25. hmm… aku sih nangkep idenya Mas DD.. aku usul… gimana kalo ada 2 sesi utama di blok ini… satu yg sudah final.. dan satu lagi yang untuk gotong royong ngolah.. n bisa dibuat kya wiki gitu…
    masalahnya aku sendiri sebenernya jg gk ngerti teknisnya blog…

  26. sepertinya di wp bisa deh dibuat hak akses beda-beda. bahan image di upload, (dg terpisah-pisah 5 halaman) trus yg bagian retype bisa edit bahan tersebut dibawah image. begitu kelar, bagian si admin utk nge”publish” sehingga bisa dibaca umum. (menangkap ide mas yuwana said ttg 2 sesi)
    jadi kolaborasinya tetap di sini aja..
    piye mas dd dan mas nindityo?

    D2: Aku setuju. Bagaimana kalau Mas Mbodo buatkan halaman contoh (Misal untuk buku 19). Nanti halaman image bisa aku siapkan.

  27. wah…,nampaknya sdh pd berbulat tekad untuk ganti djvu ni….,iyalah…smoga tambah sukses aja wis…, cm sayang ya…sekarang hanya bs diakses melalui komputer…,da yg tau gak gmn caranya agar bs di bc pakai hp…,hiiks…atau cm sy aja x ya yg bcnya pakai hp…jelek lg….

    • saya malah pake kalkulator 😀 tapi cakep loh

  28. aku pakai linux. bisa nggak ya djvu ini di download.

    • bisa, pake aja evince (jika pake gnome biasanya evince dah terpasang, jika belum ya install dulu dong), bisa juga pake djview ato jika mau yang bisa buat ngedit djvu pake aja djvusmooth

  29. Wah.. paling banyak respon di halaman 19 dst.. matur nuwun, kebetulan aku coba sekali dan OK.. eh tapi dipandu sm anakku nding.. Mumet..!
    Salut, memang hrs belajar terus meski estewe..
    Salam

  30. oops sorry,
    moderator saya dah setor tuh buku 19 halaman 52-56, tapi tak kirim ke “RETYPE (IN PROGRESS)”

    D2: Gpp. Tx

  31. tolong dibantu, setelah di dowmload stdu viewer tetap tidak bisa buka https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu. mau save file apanya yang harus disave. terima kasih

    D2: Klik kanan, save as. Untuk membukanya, ganti ekstensi pdf menjadi djvu.

  32. terima kasih mas dhe dhe, btw setelah diganti sekarang muncul perngatan kesalahan dipilih don’t send eh malah hilang kenapa ya ?
    terima kasih

  33. Maaf lahir batin buat semua adbm’ers. Sorry telat ngucapinnya, baru sempat setelah mudik dan jauh dari koneksi internet.

    to bro DD: bisa ngga kalo file djvu-nya juga di upload di tempat lain selain di file section-nya wordpress? misal di rapidshare, megaupload or 4shared? sepertinya bandwidth dowload dari WP terlalu kecil, jadi agak lama downloadnya. cuma usul aja lho.

    thanks.

  34. Saya berharap bisa baca lagi seperti model yg dulu karena bacanya pakai hp. Saya dikampung untuk ke warnet jauh dan mahal klo pakai hp murah dan efisien, jadhi tolong kembali ke format awal 😥

  35. Wah mas, sy blm bisa jg buka yg “adbm-jilid-019”
    Coba klik (https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.pdf) ditunggu lama gak ada penampakan apa2.
    Trus diganti (https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu) metu tulisan ngene “404 — File not found”
    Padahal wis donlod DJView.
    Opone sing salah mas

    D2: Yang model konvensional kan udah lengkap diaplod…

  36. Mas DD, sekedar info, Buku 19 kayaknya kurang di halaman depan, belum masuk tuw disini…(hal 7-10 di buku asli)… mungkin udah ada yg ngeproof tapi kelewat n belum ditayangin….trims

  37. tambahan juga: hal 32 – 34 buku asli juga kelewat… thanks

  38. nuwun sewu keparenga kulo matur menawi cariosipun sajakipun kapunggel ing bab tarungipun Danang Sutowijoyo mangsah Daruko nyuwun priso sababipun
    Matur sembah sewu nuwun
    Ki Ageng Penataran .

  39. Lega, bisa baca cerita Jawa lagi. Thank to ALL

  40. Gimana nih cara download versi djvu-nya? Aku cari2 yang ketemu kok cuman versi retype. Aku suka format djvu karena bisa nostalgia seakan-akan pegang buku aslinya yg dulu pernah aku baca. Aku sendiri masih menyimpan buku aslinya cuman sudah ada yang ilang lumayan banyak. Saran: Kalau bisa download versi djvu-nya ada yang dibikin 100 buku perbundel. Jadi dengan 4 kali download bisa kesedot semua. Thanks…!

    • Versi DJVU clue-nya bisa didapat via poro cantrik.

  41. Clue-nya bisa didapat via komentar poro cantrik.

    • Mampir njihh Ki Truno……Sugeng enjing !

  42. aku gak bisa donlot DjVu reader. padahal dah ngeklik dari forum download di blog ini. tapi koq yo ra gelem mbuka. piye iki?????

  43. Hikksss,
    mau nemu lading, neng gagange ana tulisan :
    Ya-suku, Da-nglegena
    Pa- pepet layar, Ma-nglegena, Na-nglegena.

    Apa kagungane Ki Menggung ya….????

    • nemu nang endi ki, tak melu leles 😀

      • ndek pinggiran lendhut benter Ki.

        • Ki Gembleh kados pundi kabaripun?
          Kula nggih saking tlatah lendut benter lho.
          menawi badhe tilik gandhok gagak seta, kula sampun nyobi nglanjutakaen ADBM wonten ing “terusan ADBM” gagak seta.
          monggo Ki, menawi badhe mampir, kula tenggo.
          matur suwun
          mbah_man

          • sugeng ndalu mbah mandaraka,
            nuwun sewu (seket ewu nggeh mboten nolak) nderek tangled, tindak terusan adbm nika nitih andong jurusan pundi ?
            mbok diparingi edres lengkap rt/rw-ne to mbah

  44. matur nuwun Ki Patih
    mbah_man_daraka
    tak nyusul numpak bison……werrrrrr…..

    • waduuuh ditinggal ijen ngeneki piye jal

      • sugeng enjing Ki Abdus Syakuur.
        badhe tindak gandhok terusan adbm saking mriki nggih saget, klik mawon Gandhok Gagak Seta, mangke sampun saget pinanggih gandhok terusan adbm.
        menawi saking daleme mbah google, diketik mawon terusan adbm, mange muncul “terusan Adbm gagak seta” langsung mawon mlebet, mentrik ipun ayu2 lan kenes2 hehehe

  45. Test…..

    .Ji.Nem.Ji.Nem .Mo.Lu… 😐

    • wis isok ki 😀

      • tes…..tes-teeeeeeessss,

        nuwun sewu, cantrik dherek tes-tes……teeeeesssss

        • hep,

          lancar…..ra no rintangan……!!!!

          • tumut

            mo nem ji ro ro nem ro , ji ji ro ji ji ro ji

            siip lah …..

            • iling pak raden …
              sol do iwak kebo …
              re mi fa sol iwak …

              • botol …..

                • kwkwkwkkkk temanggung udane deres

                  • wah mesakke sing dho diudani niku , maksude sing ra nggowo payung ….

  46. raiso…. jadi males nih ! (mutung mode ON)

    • Lho..lho..kenapa nih… 🙂
      anak macan koq lutung..eh..mutung 😀

      • Ra nganggo sarung ayake ??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: