Buku 19

“Bukan alas Mentaok,” sahut Kiai Gringsing. “Kita hampir sampai di tempat-tempat yang sering dipergunakan oleh para penyamun mencegat korbannya. Di sini ada beberapa gerombolan penyamun yang satu dengan yang lain saling bersaing. Hanya dalam waktu-waktu yang khusus sajalah mereka dapat menyatukan diri.”

“Siapakah yang paling kuat di antara mereka, Kiai?” bertanya Sutawijaya.

“Kekuatan mereka hampir seimbang. Kadang-kadang mereka menunggu lawan-lawan mereka itu lengah, dan menyerang mereka dengan tiba-tiba. Tetapi meskipun demikian, Darukalah yang paling disegani.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi anak muda itu tidak menjawab.

Belum lagi mereka maju terlampau jauh, maka mereka sampai di tempat yang agak lapang. Tidak terlampau banyak pohon-pohon perdu yang tumbuh dan akar-akar yang menyilang-lintang jalan. Tetapi Kiai Gringsing yang sudah penuh menyimpan pengalaman itu pun berkata,”Tempat ini adalah tempat yang paling baik untuk beristirahat, tetapi juga tempat yang paling berbahaya.”

“Kenapa?” bertanya Swandaru meskipun ia telah menduga apa yang dimaksud oleh gurunya.

“Banyak orang mempergunakan tempat ini untuk beristirahat. Tetapi tiba-tiba saja mereka disergap, sehingga akhirnya para pengawal selalu menjauhi tempat ini, dan membawa orang-orang yang dikawalnya beristirahat di tempat lain. Tetapi hampir tak ada gunanya. Hampir setiap kali para pengawal harus berkelahi. Tetapi apabila pengawalan cukup kuat, maka para penyamunlah yang membiarkannya lewat. Meskipun demikian, kadang-kadang para pengawal itu menyediakan semacam pajak bagi mereka. Ditinggalkannya beberapa macam barang, dan dengan demikian mereka tidak di ganggu.”

Ketiga anak-anak muda yang mendengarkannya itu mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi mereka tidak menjawab. Bahkan tiba-tiba saja mereka mempertajam pendengaran mereka, seakan-akan mereka mendengar desir di dedaunan yang kering.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian wajahnya telah menjadi tenang kembali. Bahkan ia masih berkata terus, “Para penyamun itu datang tanpa disangka-sangka. Tiba-tiba saja mereka telah mengepung korban-korbannya.”

Sutawijayalah yang kemudian bertanya, “Bagaimanakah kalau mereka yang tidak membawa sesuatu lewat hutan ini Kiai?”

“Biasanya mereka adalah para pedagang yang akan pergi ke Nglipura atau Mangir atau bahkan ada yang pergi ke Menoreh.”

“Jika demikian, apakah Argajaya itu lewat daerah ini pula?”

“Adalah suatu kemungkinan. Tetapi Argajaya pasti tidak akan memerlukan pengawalan.”

Mereka terdiam sejenak. Dalam kediaman itu mereka mendengar desir yang lembut, namun semakin jelas. Sejenak mereka saling berpandangan. Dengan isyarat, mereka segera mengerti, bahwa mereka kini telah terkepung. Tetapi dengan demikian justru Swandaru tampak bergembira.

Sejenak kemudian berkatalah Kiai Gringsing itu pula, “Tetapi para penyamun itu pasti akan dapat membedakan. Mereka yang lewat dengan barang-barang dagangan, dan mereka yang lewat dengan senjata di lambung.”

Tiba-tiba terdengar suara dari balik pepohonan, “Ya, kami dapat membedakan. Mereka yang lewat dengan senjata di lambung atau mereka yang pantas mendapat penghormatan karena memberi kami sekedar oleh-oleh.”

Sebenarnya mereka sama sekali tidak terkejut mendengar suara itu, tetapi Kiai Gringsing yang tua itu terlonjak kecil sambil berputar menghadap suara itu. “He, siapakah kalian?”

“Kau agaknya mengenal tempat ini terlampau baik kakek tua?” terdengar suara itu menyahut.

“Ya, aku sudah sering melewati tempati ini. Siapakah kau?”

“Aku sedang menunggu para pengawal yang telah melukai bebepapa orang-orangku. Aku ingin bertemu dengan mereka. Tetapi mereka tidak kunjung datang?”

“Tiga hari yang lalu?”

“Dua hari yang lalu.”

“Ya, dua hari yang lalu. Aku telah bertemu dengan mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka bertempur dengan orang-orangmu. Ternyata mereka mencari jalan lain, sebab mereka sudah menyangka bahwa pemimpin gerombolan yang dikalahkannya itu pasti akan marah.”

“He, mereka sudah melewati tempat ini?”

“Jalan lain. Mereka sudah keluar dari hutan ini.”

“Gila!” teriak suara itu. Dan tiba-tiba meloncatlah sesosok tubuh dari balik sebatang pohon yang cukup besar. “Kau bilang mereka sudah keluar dari hutan ini?”

Yang meloncat dari balik pohon itu adalah seorang yang bertubuh tinggi, kekar, berdada bidang dan berkepala botak. Kumis serta janggutnya yang jarang-jarang tumbuh satu dua disekitar bibirnya yang tebal. Di tangannya tergenggam sebilah pedang yang panjang.

Dengan kasarnya ia membentak kembali, “Kau bilang, para pengawal telah keluar dari hutan ini?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. “Ya” sahutnya. “Kemarin sore aku bertemu dengan mereka.”

Terdengar orang itu menggeram.

“Dimanakah rumah-rumah mereka itu?” bertanya orang itu.

Kiai Gringsing menggeleng lemah, “Aku tidak tahu.”

“Bohong, kau pasti kawan mereka.”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah ketiga anak-anak muda yang berjalan bersamanya itu. Yang kemudian menjawab adalah Agung Sedayu, “Kami sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan mereka.”

“Bohong! He, apakan orang tua ini ayahmu? Yang mengajarmu untuk berbohong?”

“Kami bertemu di perjalanan,” sambung Sutawijaya.

“Kau pasti mendapat tugas dari mereka untuk memata-matai kami. Kamu mungkin anak-anak mereka, atau cucu mereka, atau kemanakan mereka.”

“Atau tetangga mereka. Atau orang lain sama sekali,” Swandaru yang gemuk itu memotong.

Orang yang botak itu membelalakkan matanya. Dengan pedangnya ia menuding wajah Swandaru. “Jangan bergurau. Aku sedang kehilangan buruan. Yang datang kini adalah kalian, maka kalian akan menjadi sasaran kemarahan kami.”

“Kami bukan pengawal dan kami bukan pedagang. Kami datang mencari buruan kami pula,” berkata Swandaru.

“Siapakah buruan kalian?”

“Apa saja. Kijang, menjangan, bahkan kancil pun kami mau pula.”

Swandaru terkejut sehingga kata-katanya terputus ketika orang yang botak itu meloncat dan langsung menyerang mulut Swandaru dengan tangan kirinya. Ternyata orang itu mampu bergerak sangat cepat. Beruntunglah bahwa Swandaru tidak terlampau lengah. Ketika ia melihat orang itu mengerinyitkan dahinya, dan melihat jari tangannya bergetar, maka Swandaru pun menyadari kemungkinan yang ternyatat benar-benar terjadi. Dengan lincahnya ia meloncat kesamping menghindari sambaran tangan orang yang botak itu sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuh tubuhnya.

Orang yang botak itu semakin membelalakkan matanya. Sama sekali tidak diduganya bahwa anak yang gemuk itu mampu menghindari serangannya, sehingga dengan demikian maka terdengar orang itu menggeram semakin keras.

Swandaru yang meloncat beberapa langkah kesamping, kini berdiri sambil membelai pipinya. Dengan kerut-merut diwajahnya ia berkata, “Ternyata kau pemarah. Tetapi jangan menyerang lawan tanpa memberi kesempatan lawan itu bersiaga.”

“Kau menghina aku.”

“Sama sekali tidak. Aku berkata sebenarnya.”

“Aku tidak peduli, tetapi kalian telah membuat aku marah. Kini aku mempunyai suatu cara untuk memeras keterangan kalian tentang para pengawal. Kalu kalian tidak bersedia memberitahukan kepada kami dimana rumah-rumah mereka, maka kalian akan terpaksa mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan.”

“Kami tidak bersangkut paut dengan para pengawal itu, Ki Sanak,” Kiai Gringsing-lah yang kemudian menjawab. “Kami adalah pemburu yang hanya mengenal binatang-binatang buruan kami.”

“Omong kosong! Tak pernah ada pemburu masuk sampai begini dalam. Mereka biasanya selalu berada jauh di tepi-tepi hutan ini. Kau pasti orang-orang mereka. Meskipun kalian tidak bersedia membuka mulut sampai tubuh kalian lumat, namun kami pasti akan dapat menemukan rumah mereka. Kematian kalian itu pasti hanya akan sia-sia.”

Sutawijaya ahirnya tidak bersabar lagi. Selangkah ia maju dan berkata, “Jangan mengigau, Ki Sanak. Jangan menakut-nakuti kami dan jangan mencoba memeras keterangan kami. Sebutkan siapa namamu.”

Orang itu terkejut bukan buatan. Belum pernah ia melihat anak muda segarang anak yang memegang tombak pendek itu. Namun sejenak kemudian orang itu tertwa. Semakin lama semakin keras. Di sela-sela derai tertawanya itu ia berkata, “Tentu. Tentu kau berani bertolak pinggang dihadapanku, sebab kau belum tahu siapa aku. Nah, sebaiknya aku perkenalkan diriku supaya kalian menyadari, betapa kecil arti kalian bagiku, bagi raja hutan Tambak Baya dan Mentaok in. Namaku Daruka.”

Belum lagi orang itu berhenti tertawa, terdengar suara tertawa yang lain, sehingga dengan tiba-tiba suara orang itupun justru terputus. Suara itu adalah suara tertawa Swandaru.

“Gila!” teriak Daruka. “Apakah kau mendengar namaku?”

“Jangan kau sangka bahwa hanya kau yang dapat tertawa sedemikian kerasnya,” Sahut Swandaru. “Nah, ketahuilah, namaku Swandaru Geni. Gegedug anak-anak muda di seluruh Kademangan Sangkal Putung. Kau pernah mendengar namaku?”

Mata Daruka itu seakan-akan menyala dibakar oleh kemarahannya. Ternyata anak muda yang gemuk itu sama sekali tidak takut mendengar namanya, bahkan seolah-olah ditanggapinya nama yang menakutkan itu sambil bergurau saja. Tetapi bukan saja anak yang gemuk itu. Ketika ia memandang berkeliling, maka anak muda yang memegang tombak itupun sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun di wajahnya, sedang anak muda yang lain bahkan seolah-olah acuh tak acuh saja.

Kembali Daruka menggeram. Demikian kemarahannya membakar dadanya, maka terdengarlah ia bersuit nyaring. Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai Gringsing pun segera menyadari, bahwa Daruka sedang memanggil teman-temannya keluar dari persembunyiannya.

Dugaan Kiai Gringsing dan ketiga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu ternyata benar. Sejenak kemudian mereka melihat beberapa orang berloncatan mendekat dari balik pepohonan. Di tangan mereka tergenggam berbagai macam senjata. Ada yang menggenggam pedang seperti pedang pada lazimnya, ada yang memegang kelewang yang besar, ada yang membawa canggah, bahkan ada yang membawa trisula, tombak bercabang tiga.

Tanpa perintah siapapun, maka anak-anak muda itu dengan sendirinya merenggang dan menghadap kesegala arah. Seakan-akan mereka telah mengatur diri menghadapi serangan dari segala penjuru.

Daruka menggeram melihat sikap anak-anak muda itu. Kini ia yakin bahwa ia berhadapan dengan anak-anak muda yang bukan sekedar pandai berburu kijang atau menjangan atau babi hutan. Tetapi mereka adalah anak-anak muda yang mampu menghadap bahaya seperti yang kini sedang mengepungnya.

“Ternyata kalian cukup menggembirakan kami,” bergumam Daruka. “Kami tidak kecewa lagi kehilangan buruan kami. Kalian pasti telah diminta sraya oleh para pengawal itu. Kalian pasti mendapat upah sengaja untuk menghadapi kami.”

Yang menyahut adalah Swandaru, “Ya. Kami telah mendapat upah dari mereka untuk membinasakan kalian.”

“Hus!” Agung Sedayu memotong.

Tetapi yang terdengar adalah suara Daruka lantang, “Nah apa kataku. Betapa kalian mencoba memutar balik keadaan, tetapi kami yakin, bahwa dengan menangkap kalian dan memeras darah kalian, kami pasti akan mendapat keterangan tentang para pengawal itu.”

Kiai Gringsing dan Sutawijaya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Swandaru ternyata hanya menuruti kesenangannya sendiri. Tetapi perbuatannya itu benar-benar telah membakar kemarahan kepala penyamun itu.

Bahkan Swandaru itu berkata tanpa berpaling, karena kebetulan ia tidak menghadap ke arah Daruka yang berdiri berhadapan dengan Agung Sedayu. “Sekarang menyerahlah, supaya hukuman kalian diperingan.”

“Setan!” Daruka itu menggeram. “Ternyata anak yang gemuk itu merasa seperti jantan sendiri. Daruka hanya menyerah kepada maut. Ayo, kalau mau menangkap kami, tangkaplah.”

Sutawijaya-lah yang kini menjawab dengan tergesa-gesa supaya tidak didahului oleh Swandaru. “Begini Ki Sanak. Sebenarnya kami tidak bersangkut-paut langsund dengan kalian, tetapi kami ingin bahwa tak seorang pun terganggu di dalam perjalanan. Baik di Hutan Tambak Baya, maupun di Hutan Mentaok.”

“O, ternyata kau mengigau pula. Jauh lebih sumbang dari igauan anak yang gemuk itu. Tambak Baya adalah kerajaanku. Aku tidak akan pernah meniggalkannya selagi aku masih hidup.”

“Dengarlah dahulu Ki Sanak,” berkata Sutawijaya. Kini ia berputar setengah menghadap kearah Daruka. “Sebentar lagi Hutan Mentaok dan Tambak Baya akan menjadi sebuah negeri. Sebentar lagi akan berdatangan orang-orang yang akan membuka hutan ini. Nah, apakah katamu?.”

Daruka mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, tetapi kemudian ia berkata, “Oh, kau benar-benar seorang pemimpi. Aku tidak ingin mendengarkan igauanmu itu. Aku ingin mendengar kalian menunjukkan rumah beberapa orang pengawal yang telah melukai orang-orangku.”

“Kami adalah wakilnya,” teriak Swandaru.

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mendahului Daruka yang hampir berteriak pula. “Dengar kataku. Aku berkata sebenarnya. Tanah Mentaok dan Tambak Baya akan menjadi milik Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama di Pajang. Nah, apakah kekuatanmu dapat melampaui se-tidak2nya menyamai kekuatan Wira Tamtama Pajang.”

Sekali lagi Daruka mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi ia membentak, “Jawab pertanyaanku. Kalau kalian yang mewakilinya, maka nyawa kalianlah yang akan menjadi tebusannya.”

Kali ini Swandaru belum sempat menjawab, tetapi telah didahului oleh Sutawijaya, “Jangan mengancam. Kami telah siap untuk bertempur. Kami akan menghancurkan kalian sampai orang yang terakhir. Tetapi perkelahian bukanlah tujuan kami. Kalau kau mau mendengar, dengarkanlah. Kalian mempunyai kesempatan yang pertama di hutan Tambak Baya ini. Mulailah dengan membuka hutan ini sebelum banyak orang Iain berdatangan. Kalian akan dapat memilih tempat yang paling baik, yang paling subur dari segala tempat di hutan ini. Kelak, kalian pasti akan mendapat pengampunan akan segala macam kesalahan yang pernah kau lakukan di sini.”

“Setan alas!” potong Daruka “macam apa kata-katamu itu?”

“Jangan membantah dahulu. Aku adalah prajurit Wira Tamtama yang datang merintis jalan. Apakah kau tidak percaya. Berapa orang yang datang bersamamu? Kami seorang-seorang akan bernilai sepuluh kali orang-orangmu bahkan lebih daripada itu. Kami bukan sekedar pengawal upahan untuk mengantar orang-orang yang akan menyeberangi hutan Tambak Baya.”

Ketika Swandaru mendengar Sutawijaya bersungguh-sungguh, maka ia kini tidak mau lagi memotong, meskipun ia menahan kegelian di dalam dirinya.

Tetapi seperti yang telah disangka, Daruka tidak akan mudah percaya. Bahkan kemudian ia pun bersiap dengan pedangnya. Sekali ia memandang berkeliling.

Sutawijaya menarik nafas. Tetapi ia mempunyai rencana yang baik dengan orang ini. Dengan orang terkuat di hutan Tambak Baya ini. Karena itu, maka katanya, “Daruka, aku mendengar, bahwa kau adalah orang yang terkuat di antara para penyamun di hutan ini. Karena itu, maka kau sebenarnya dapat membantu kami, para prajurit Wira Tamtama. Kau dapat menebus dosa ini dengan perbuatan yang menguntungkan dirimu dan menguntungkan kami. Aku akan menanggungmu, bahwa kau kelak akan mendapat kedudukan yang baik. Bahkan mungkin kau akan dapat menjadi seorang bekel.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Sutawijaya. Tetapi lamat-lamat mereka dapat menerka maksud anak muda yang akan memiliki hutan Mentaok dan Tambak Baya itu. Apalagi Kiai Gringsing. Orang tua itu pun tersenyum di dalam hati sambil bergumam lirih, “Alangkah tajamnya otak putera Ki Gede Pemanahan ini,”

Tetapi agaknya Daruka sendiri merasa, bahwa Sutawijaya telah menghinanya. Sehingga karena itu maka sekali lagi ia menggeram sambil berkata, “Persetan ocehanmu. Apakah kau Panglima Wira Tamtama, apakah kau Adipati Pajang, aku tidak peduli. Aku adalah raja di sini. Semua harus tunduk kepada perintah dan kemauanku.”

“Kau mencoba menipuku. Bagaimana dengan gerombolan-gerombolan lain yang merasa dirinya raja pula di sini?

Wajah Daruka menjadi merah padam. Katanya, “Tak ada yang berani melawan Daruka. Semua gerombolan akan dapat aku binasakan satu demi satu kalau aku mau.”

Kenapa hal itu tidak kau lakukan? Ternyata kau tidak mampu berbuat demikian. Bahkan kadang-kadang anak buahmu sendiri dapat disergap dan dikalahkan.”

“Memang, mereka dapat berbuat demikian dengan licik. Tetapi Daruka belum pernah dengan sungguh-sungguh mencoba membinasakan mereka. Asal mereka tidak mengganggu secara langsung kerajaanku, maka aku tidak terlalu bernafsu membinasakan mereka. Orang-orangku masih aku perlukan untuk kepentingan lain.”

“Sekarang aku datang untuk menaklukkan kerajaanmu, atas nama Panglima Wira Tamtama di Pajaag,” sahut Sutawijaya.

Kesabaran Daruka kini telah sampai pada batasnya. Terdengar ia bersuit nyaring. Mendengar aba-aba itu beberapa orangnya segera mendesak maju dengan senjata-senjata mereka siap menembus tubuh lawannya.

Tetapi lawannya ternyata benar-benar di luar dugaan mereka. Dengan lincahnya Sutawijaya meloncat mendesak Agung Sedayu sambil berkata, “Serahkan orang ini kepadaku. Tolong, tundukkan orang-orangnya. Jangan kau binasakan mereka. Beri mereka kesempatan untuk hidup dan menyesali perbuatannya.

Segera Agung Sedayu dapat menangkap maksud itu. Swandaru yang gemuk dan hanya berbuat seenaknya sendiri itu pun dapat mengerti pula, sehingga betapa perasaannya sendiri melonjak-lonjak, namun ia mencoba mengekangnya.

Kiai Gringsing yang berada di antara anak-anak muda itu menjadi termangu-mangu. Tetapi terdengar Sutawijaya berkata, “Kiai, apakah Kiai sudi bermain-main dengan kami?”

Kiai Gringsing tersenyum. Sementara itu ia melihat ketiga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu sudah melibatkan diri dalam perkelahian melawan Daruka dan orang-orangnya. Sutawijaya sendirilah yang kini berhadapan dengan pemimpin gerombolan yang ditakuti oleh gerombolan-gerombolan Iain seisi hutan Tambak Baya dan Mentaok.

Demikianlah, maka segera terjadilah perkelahian yang riuh antara anak-anak muda dari Sangkal Putung bersama Kiai Gringsing, melawan gerombolan Daruka yang Iangsung dipimpin oleh kepala gerombolannya sendiri. Daruka, yang namanya menakutkan di segenap sudut Alas Mentaok dan Tambak Baya.

Tetapi kali ini yang dihadapinya bukan sekedar seorang pengawal dari padesan di ujung hutan. Tetapi yang dihadapinya adalah putera Panglima Wira Tamtama itu sendiri. Dengan demikian maka Daruka itu benar-benar terkejut. Hampir tidak kasat mata, maka tombak Sutawijaya telah memukul-mukul senjatanya.

“Gila,” geramnya. Meskipun anak muda itu membawa busur yang bersilang di punggungnya, serta endong panah dilambungnya, namun geraknya sama sekali tidak terganggu olehnya. Kelincahannya dan kecepatannya benar-benar mengagumkan kepala gerombolan yang garang itu.

Di sisi lain, Agung Sedayu telah memutar pedangnya pula, sedangkan di sisi yang lain lagi Swandaru berkelahi sambil tertawa. Kiai Gringsing yang tua itu pun tidak ketinggalan, tetapi karena ia tidak membawa pedang, maka ia berkelahi dengan tangannya.

Salah seorang gerombolan itu berteriak, “He, orang tua bangka. Apakah kau mau mati pula.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi begitu mulut orang itu terkatup, ia terkejut bukan buatan. Yang terasa olehnya adalah suatu dorongan yang keras. Hampir saja ia terlempar jatuh. Tetapi beruntuaglah ia segera mampu berpegangan sebatang perdu. Tetapi matanya tiba-tiba terbelalak ketika ia melihat senjatanya telah berpindah ke tangan orang tua itu.

“Terima kasih,” berkata Kiai Gringsing.

Swandaru tertawa melihat perbuatan gurunya. Katanya “Kiai, tolong, ambilkan pula bagiku.”

“Hus!” kembali terdengar Agung Sedayu berdesis. Tetapi Swaudaru itu justru tertawa berkepanjangan.

Orang-orang Daruka itu pun kemudian berdesakan maju bersama-sama, sehingga Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai Gringsing harus bertempur melawan beberapa orang bersama-sama. Hanya Daruka sendirilah yang justru membentak-bentak ketika beberapa orang mencoba membantunya.

“Pergi!” teriaknya. “Aku ingin membunuh anak ini dengan tanganku sendiri, tanpa kau ganggu sama sekali. “Namun Daruka sendiri tidak meyakini kata-katanya Apalagi ketika tiba-tiba tangannya menjadi pedih. Hampir saja senjatanya terlepas dari tangannya. Beruntunglah ia bahwa ia masih mampu mempertahankannya.

Dalam pada itu Sutawijaya pun bergumam di dalam hatinya, “Pantalah kalau orang ini ditakuti oleh gerombolan-gerombolan lain di hutan ini. Tandangnya cukup meyakinkan. Tetapi ia harus segera dapat dijinakkan. Aku harus memberi kesan kepadanya, bahwa apa yang dilakukan sama sekali tidak berarti bagiku.”

Dengan demikian, maka Sutawijaya pun segera memperketat serangannya. Bergulung-gulung seperti ombak menghantam tebing.

Adalah di luar dugaan Daruka, bahkan mimpipun tidak, bahwa akan dijumpainya lawan setangkas anak muda itu. Bahkan belum pernah ia berkelahi dengan orang yang memiliki ketangkasan, kelincahan, dan keperkasaan seperti lawannya kini. Dengan demikian maka ia bergumam di dalam hatinya, “Mungkin benar apa yang dikatakannya, bahwa ia adalah seorang prajurit Pajang.”

Tetapi kini ia sudah tidak mendapat kesempatan untuk menghindar.

Ketika sekali ia sempat melihat orang-orangnya, maka ia pun terkejut bukan buatan. Duabelas orang-orangnya itu sama sekali tidak mampu mendesak ketiga orang lawannya. Orang yang tua itu pun masih juga mampu berkelahi melawan beberapa orang-orangnya sekaligus.

Sejenak kemudian Daruka itu pun menjadi bingung. Ia tidak dapat mundur. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa ia beserta anak buahnya itu pasti tidak akan mampu melawan ketiga anak-anak muda itu beserta seorang tua bangka.

Maka jalan satu-satunya yang dapat dipilihnya untuk menyelamatkan diri adalah lari. Lari meninggalkan arena pertempuran itu. Bagi Daruka, maka nilai-nilai harga diri sama sekali tidak akan diperhitungkan. Bahkan mengorbankan anak buahnya pun termasuk kebiasaan pula baginya.

Demikian pula kali ini. Ketika tekanan lawannya menjadi semakin ketat, maka Daruka itu pun telah mencoba mencari jalan yang mungkin akan dapat dilaluinya untuk menyelamatkan diri.

Tetapi Sutawijaya melihat gelagat itu, Baginya untuk menjatuhkan kepala gerombolan yang paling ditakuti itu ternyata tidak terlampau sulit. Dengan demikian, ketika Daruka itu telah bersiap-siap untuk lari terdengar Sutawijaya bergumam, “Ayo, akan lari ke manakah kau? Apakah seorang yang namanya menggelegar di seluruh hutan Tambak Baya dan Mentaok ini akan tinggal-glanggang colong-playu. Apakah kau tidak malu terhadap dirimu sendiri, Daruka.”

Terdengar Daruka menggeram. Katanya, “Aku tidak pernah meninggalkan arena sebelum lawanku menjadi mayat atau aku sendiri yang mati.”

Kembali mereka dikejutkan oleh suara Swandaru tertawa terputus-putus. Sambil menggerakkan pedangnya ia berkata, “He Daruka. Apakah kau mengigau? Aku percaya bahwa kau belum pernah meninggalkan gelanggang dalam keadaan hidup. Jadi apa yang selalu kau lakukan adalah melarikan diri setelah kau mati.”

“Setan!” terdengar Daruka menggeram. Bahkan kemudian orang itu pun mengumpat tak habis-habisnya. Namun justru suara tertawa Swandaru menjadi semakin keras. Lawan-lawannya sama sekali tidak mampu berbuat apapun atasnya. Sambil tertawa dan berkelakar Swandaru telah membuat lawan-lawannya menjadi pening. Bahkan seorang dari antara mereka telah terluka.

Agung Sedayu terpaksa berkelahi melawan lima orang. Tetapi kelimanya pun tidak dapat mendeak anak muda itu, meskipun untuk melawannya, Agung Sedayu harus bekerja jauh lebih keras daripad Swandaru. Mungkin anak buah Daruka itu mencoba suatu cara untuk menjatuhkan lebih dahulu lawannya seorang demi seorang, untuk kemudian melenyapkan semuanya berturut-turut. Tetapi ternyata yang seorang itu pun tidak dapat dikalahkannya.

Sedang Kiai Gringsing yang tua itu pun harus berkelahi dengan beberapa orang pula. Dengan sekedar melayani dan mempertahankan dirinya, Kiai Gringsing sama sekali tidak banyak berbuat. Ia menunggu saja Sutawijaya mengalahkan lawannya, dan berbuat menurut rencananya.

Yang ditunggu Kiai Gringsing itu pasti segera akan terjadi. Sebab Daruka kini benar-benar kehilangan segala kesempatan. Apalagi kesempatan menyerang, kesempatan untuk mempertahankan dirinya pun telah hampir tidak dapat dilakukannya.

“Jangan lari,” gumam Sutawijaya ketika ia melihat Daruka selalu mencoba menarik diri.

“Aku bukan pengecut,” teriak Daruka

“Huh,” sahut Sutawijaya. “Jawabanmu lebih memalukan dari perbuatanmu. Apakah kau telah melupakan kata-katamu sendiri bahwa hanya mautlah yang dapat memaksamu untuk menyerah? Kenapa kau kini akan melarikan diri?”

“Setan tetakan!” mulut Daruka menghamburkan sumpah serapah tidak karuan. “Aku akan membunuhmu.”

Tetapi kata-katanya terputus. Tangkai tombak Sutawijaya tiba-tiba mengenai kepalanya yang botak, yang sama sekali tidak ditutupinya dengan ikat kepala.

Sekali lagi Daruka menyumpah-nyumpah semakin kotor. Namun sekali lagi kepalanya yang botak itu terpukul oleh tangkai tombak Sutawijaya.

“Aku baru mempergunakan tangkai tombakku,” berkata Sutawijaya. “Ayo, lebih baik menyerahlah. Aku tidak akan membunuhmu.”

Daruka membelalakkan matanya. Tetapi ia masih berkata, “Daruka hanya menyerah kepada maut.”

Kini bukan sekedar tangkai tombak Sutawijaya mengenai kepalanya, tetapi tiba-tiba pedang Daruka tergetar keras. Tangannya tiba-tiba terasa nyeri bukan buatan. Ketika ia mencoba memperbaiki genggamannya, sekali lagi pedangnya terasa tersentuh senjata lawannya. Kali ini ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Pedangnya terlontar beberapa langkah daripadanya dan jatuh tergolek di tanah yang lembab.

Daruka kini berdiri dengan gemetar. Kemarahannya masih mencengkam dadanya, tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ujung tombak Sutawijaya melekat di dadanya yang berbulu lebat.

“Apa katamu?” bertanya Sutawijaya.

Daruka menggeram. Tetapi ketika ujung tombak lawannya tertekan semakin keras, Daruka itu pun menyeringai.

“Apakah kau hanya menyerah terhadap maut?”

Daruka tidak menjawab. Sementara itu kawan-kawannya masih juga berkelahi. Namun ketika mereka melihat lurah mereka sudah tidak berdaya, maka hati mereka pun segera berkeriput.

Anak buah gerombolan itu belum pernah melihat lurahnya berdiri kaku tegang tanpa dapat berbuat apa-apa karena ujung senjata lawan yang melekat di tubuhnya. Apalagi ketika sambil tertawa Swandaru berkata, “Ayo, apa yang akan kalian lakukan. Lihat kepalamu telah menyerah.”

Dalam pada itu Sutawijaya pun berkata pula, “Ayo, lekas katakana apakah kau hanya menyerah terhadap maut?”

Daruka tidak juga segera menjawab. Tetapi ia menahan nafasnya ketika ujung tombak Sutawijaya menekan semakin keras.

“Kalau kau menyerah, maka perintahkan orang-orangmu berhenti melakukan perlawanan. Kalau tidak, maka satu persatu kalian akan aku penggal kepala kalian dan akan kutancapkan di ujung hutan ini sebagai pertanda bahwa Daruka kini sudah tidak menakutkan lagi.”

Terasa dada kepala penyamun yang menakutkan itu berdesir. Betapa tabah hatinya, namun ancaman itu mendirikan bulu kuduknya.

“Cepat!” bentak Sutawijaya. “Pilihlah. Menyerah atau mati. Kalau kau malu mengakui kekalahanmu, maka kau dapat memberi perintah saja kepada anak buahmu supaya menyerah.”

Daruka masih juga ragu-ragu. Namanya yang menakutkan selama ini telah menahannya untuk tidak segera melakukan perintah itu.

Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar sebuah pekik kesakitan. Ketika mereka berpaling, mereka melihat salah seorang yang berkelahi melawan Swandaru meloncat surut sambil memegangi lengannya yang berdarah.

“Nah,” berkata Sutawijaya, “lihat, seorang anak buahmu terluka. Apakah kau menunggu mereka terbunuh?”

Daruka itu masih ragu-ragu. Sekali dipandanginya wajah Sutawijaya dan sekali dilontarkannya pandangan matanya berkeliling kepada anak buahnya yang sedang berkelahi itu.

Tetapi sekali lagi terasa unung senjata Sutawijaya itu semakin menekan dadanya dan terdengar Sutawijaya membentak tidak sabar. “Cepat, atau kau benar ingin mati.”

“Tidak,” tiba-tiba Daruka itu menjawab terbata-bata.

“Cepat, perintahkan kepada orang-orangmu.”

“Baik. Baik,” berkata kepala gerombolan itu, yang kemudian berteriak dengan penuh kebimbangan, “Hentikan perlawanan!”

Beberapa orang Daruka yang sudah merasa, bahwa mereka tidak akan mampu melawan, tidak menunggu perintah itu terulang. Segera mereka berloncatan mundur menjauhi lawannya.

Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir pun segera menghentikan perkelahian pula. Mereka sama sekali tidak mengejar lawan-lawan mereka, dan membiarkannya berdiri termangu-mangu meskipun senjata mereka masih tetap di dalam genggaman.

“Nah,” berkata Sutawijaya, “sekarang jawablah pertanyaanku. Apakah kau menyerah atau tidak?”

Mulut Daruka kembali terbungkam. Hanya matanya sajalah yang berkeredipan seperti anak burung yang menunggu induknya.

“He, apa katamu?” bertanya Sutawijaya mengejut.

Daruka itu pun terperanjat sehingga terhenyak selangkah surut. Tetapi ujung tombak Sutawijaya masih mengikutinya.

“Jawab!” bentak Sutawijaya.

“Ya,” akhirnya Daruka menjawab penuh keragu-raguan.

“Kau ragu-ragu.”

“Ya.”

“He?”

“Oh, tidak,” Daruka itu tergagap.

“Sekarang katakana. Apakah kau menyerah atau tidak?”

“Ya, aku menyerah.”

“Nah. Ternyata harga dirimu masih kalah bernilai dari nyawamu. Apakah kau benar-benar menyerah?”

“Ya.”

“Aku dapat mempercayaimu?”

“Ya.”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 9 Oktober 2008 at 05:27  Comments (76)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-19/trackback/

RSS feed for comments on this post.

76 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wah piye ki, program opo maneh dejavu iku mas, bedo ra karo microsof reader, iso gawat ki rek ra iso neruske moco ADBM, kadung kedanan je. Rodo kuatir ki aku mas. Soale aku ra nduwe program iku. Piye yo…maklum gaptek.

    D2: Jangan khawatir. Hampir sama dengan Adobe Reader koq.

  2. D, aku gak bisa buka adbm-jilid-019.pdf; baik pake djvu atau pun reader yang lain. ada yang gak beres di file-nya?

    D2: Ubah ekstensinya ke .djvu dulu.

  3. CARA BUKA FILE:

    Karena blog kita tidak memberi kesempatan kita untuk aplod file djvu, maka file itu saya ubah ekstensinya dengan pdf (ekstensi lain spt jpg, tiff, dll juga bisa aja), hanya semata2 agar file itu bisa diaplod.

    File harus disave dulu ke komputer Anda. Lalu ubah ekstensi .pdf menjadi .djvu. Jadi adbm-jilid-019.pdf diubah menjadi adbm-jilid-019.djvu dengan cara mengganti .pdf menjadi .djvu

    Lalu buka deh dengan djvu reader.

    O ya, pastikan Anda menginstal djvu reader yang bisa diperoleh di blog ini (check di halaman Download)

    DD

  4. D, makasih. akhirnya aku bisa buka buku 19. aku bersedia retype hal 1-10 dulu. salam

    D2: Thanks juga. Siapa halaman berikutnya?

  5. kasian deh gue…,selama ini hanya bs bc lewat hp,,sekarang gak bisa baca2 lg….

    D2: Tentu masih bisa baca, Mas. Karena konversi ke teks tetap dikerjakan. Tetapi ya itu, tidak secepat penayangan image. Jadi, yang mau baca teks silakan bersabar.

  6. Lha … rak tenen to..??? Aku dah nduga-nduga ..wah kok enuakk tenan gratis menikmati ajo-ojo….. eee lah kok tenan…

    D2: Ojo2 piye Mas Panji? Jangan bikin orang salah tafsir lho.

  7. Mas, aku kok gk bisa download file pdf nya itu ya..
    link yg “adbm-jilid-019”, kalau di klik gk keluar pilihan save… malah pengumuman file not found..
    Gimana ya Mas, untuk ngesavenya?

    • untuk mengklik sebaiknya cemeti dipegang dengan cara terbalik dan gagangnya yang digunakan untuk ndudul link yang bersangkutan, lebih jelasnya bisa menghubungi ki ndul

  8. Sudah ketemu Mas caranya.. harus klik kanan dulu terus save link as…
    btw… ini hasil scanenan tooh Mas.. apakah tidak akan di retipe lg seperti sebelumnya… kok sepertinya lebih enak baca lewat blok ini, dari pada model dejavu gini..

    D2: Proses retype tetap berjalan. Silakan saja yang mau berpartisipasi. Sehalaman2 gak apa2. Hasilnya langsung aja dishout di boks komentar ini. Nanti admin akan mengumpulkannya untuk ditayangkan sebagaimana sebelumnya. Asal jelas aja Jilid berapa halaman berapa.

  9. DD… kalo udah langsun tampil gini rasanya kurang semangat retypenya. sebaiknya hanya pasukan retype saja yg di kasih bahan mentah, seperti kemarin.
    saya rasa kalo pake cara yg sekarang pasukan retypenya lambat laun akan berkurang.
    sebab yg mau ditampilin udah dibaca orang-orang dulu..

    saya daptar retype 10 halaman.
    halaman mana yg belum ada petugasnya ?

    D2: Saya yakin yang ikut retype justru makin banyak. Silakan pilih halaman mana saja. Saya berharap ke depan ada cara yg efisien, semacam wiki yg bisa diedit. Ada usul?

    trim’s

  10. iya ni ms DD…,klo boleh usul mbok kembali sj ke prosedur semula,, sy ko kuatir ni mengarah ke aborsi seperti yg pernah mas sampaikan…,btw ngapunten sing katah,,cm bs kasih comment thok gak bs bantu,,dan smoga aja si tetep langgeng…

    • justru yang penting tu commentnya, masalah mbantu kan sudah ada ki ndul

  11. iya ni ms DD…,klo boleh usul mbok kembali sj ke prosedur semula,, sy ko kuatir ni mengarah ke aborsi seperti yg pernah mas sampaikan…,btw ngapunten sing katah,,cm bs kasih comment thok gak bs bantu,,dan smoga aja si tetep langgeng..
    maturnuwun

  12. Sedikit urun informasi nggih…,
    berdasarkan pengalam pribadi (karena gaptek nih), setelah download adbm-jilid-019.pdf, windows otomatis mengenali sebagai file adobe, setelah diubah extention menjadi djvu tetap tidak bisa dibuka. Setelah dicheck ternyata filenya menjadi adbm-jilid-019.djvu.pdf..weleh..weleh..
    mengubahnya melalui windows explorer>tools>Folders Option>View>HIdes extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan)…
    Jika belum jelas silakan buka di http://www.mediacollege.com/microsoft/windows/extension-change.html

    selamat menikmati adbm…salam buat pecinta adbm dari Melbourne…(yang sempat kebat kebit saat membaca ..perlu nunggu 8 tahun untuk baca seluruh jilid adbm dg format retype..)

  13. cara ubah pdf ke djvu gimana??

    • dikasih pewarna aja kan langsung brubah

  14. udah bisa, thx ABDMnya

  15. He eh mas D2, kembali seperti semula saja lah, biar aku bisa langsung baca he…he….tapi ya monggo kerso soalnya saya kan cuma numpang baca, ngapunten sing katah ugi.

  16. DD ini halaman terakhir buku 19

    Jangan di bagian belakang ini berada di samping regol yang telah ditutup mati hanya malam hari apabila keadaan mengkhawatirkan. Sedang penjagaan yang biasa terdapat di tikungan, di gardu, peronda. Sekarang di tempat itu ternyata ada sebuah penjagaan sehingga dengan demikian mereka dapat menduga sesuatu benar-benar telah terjadi.

    Tiba-tiba Swandaru menjadi tidak bersabar lagi. Dengan terbata-bata ia berbisik, ”Kiai, aku akan melihat apakah yang telah terjadi.”
    ”Tunggu.” Cegah Kiai Gringsing. ”Jangan mengejutkan para penjaga yang sedang dalam kesiapsiagaan penuh. Kalau mereka melihat kita berempat, maka meka pasti menyangka bahwa mereka menghadapi bahaya. Dengan demikian, maka kegaduhan pasti akan timbul. Karena itu, biarlah aku sendiri menemui mereka dan mengatakan bahwa kalian telah kembali.”

    ”Baik Kiai..” sahut Swandaru tidak sabar.

    Kiai Gringsingpun kemudian melangkah maju. Perlahan-lahan dan hati-hati. Ternyata para penjaga itupun belum melihatnya.

    Untuk menghindari kesalah pahaman, maka Kiai Grinsing itupun terbatuk-batuk kecil. Sehingga dari tempat yang terlindung ia mendengar seseorang menyapanya, ”He, Siapakah itu ?”

    ”Ah..Aku Tanu Metir”

    ”Oh.” terdengar seseorang berdesah, ”Kenapa Kiai bearda di situ?”

    Kiai Grinsing tidak segera menjawab. Bahkan ia masih juga terbatuk-batuk

    • pergantian musim rawan flu ..

  17. wah sedih rasanya ndak bisa mbaca kelanjutannya, aku dah coba buka pakai adobe reader tetep aja ndak bisa, padahal aku juga sudah coba download tapi hasilnya ya tetep.
    Hik…hiks say good bay.

    D2: Kasihan… Jangan buka pake adobe, Sen. Ini adalah file djvu, jadi buka pake djvu reader. Udah instal, kan? (ambil tuh di halaman download). Sebelum dibuka, ubah ekstensinya menjadi djvu. Caranya lihat komentar orang lain di bawah.

  18. kok berubah… kenapa ga seperti yang dulu2, tinggal buka langsung baca ato di blog-nya bos rizal yang sekarang entah kemana ….

    D2: Sekarang kan tinggal simpan, baca… beda dikit doang.

  19. usul mas dd
    saya cocok jg cara ini krn emang cepet dan gampang klo ikutan retype. Tapi gimana kalo ditaruh di halaman download aja , jadi yang di halaman utama tetep yang hasil retype.

  20. Halaman 78 jilid 19
    —–
    Semakin dekat dengan mereka Kademangan Sangkal Putung, maka hati merekapun menjadi berdebar-debar. Mereka tidak melihat sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Mereka tidak melihat kelainan daripada biasanya. Kalau terjadi sesuatu atas Kademangan itu, maka mereka pasti melihat suatu perubahan apapun. Mereka masih melihat lampu-lampu yang sinarnya kadang-kadang meloncat dari celah-celah dinding rumah. Di mulut lorong mereka masih melihat sebuah pelita yang menyala.

    Tiba-tiba Swandaru memperlambat jalannya sambil menarik nafas dalam-dalam. “Hem, Ternyata Sangkal Putung tidak mengalami sesuatu”.

    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab “Begitulah agaknya”.

    “Kalau begitu, sejak kini aku akan berjalan lambat-lambat. Bukankah kita tidak perlu tergesa-gesa”.

    “Ah kau”, sahut Agung Sedayu, “akulah kini yang tergesa-gesa. Bukankah kau masih ingin berburu?”

    Swandaru tertawa. Tetapi tiba-tiba ia menguap. “Aku tidak terlalu lelah tetapi aku mengantuk”.

    Namun mereka tidak lagi merasa gelisah. Apalagi ketika mereka sudah memasuki padesan. Namun agaknya Swandaru ingin mengejutkan orang-orang di Kademangan, karena itu katanya, “Marilah kita tidak melalui jalan. Kita membuat kejutan bagi orang-orang Kademangan”.

    Kedua kawan-kawannya tidak membantah. Kiai Gringsingpun menuruti saja kemauan muridnya yang aneh itu. Tetapi ketika mereka memasuki halaman Kademangan lewat belakang, mereka benar-benar terperanjat. Ternyata Kademangan itu benar-benar tidak seperti biasanya. Bahkan lamat-lamat Swandaru mendengar tangis perempuan. Tangis ibunya.

    Mereka berempat itupun tertegun sejenak. Suara tangis yang lamat-lamat itu masih mereka dengar. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun tak seorangpun yang tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi.

    Menilik tanda-tanda yang mereka jumpai disepanjang jalan, mereka sama sekali tidak melihat bekas-bekas keributan. Dari tempat mereka menyelinap di antara pepohonan sambil meloncat-loncat di antara dinding-dinding halaman, mereka melihat gardu-gardu peronda masih juga seperti biasanya. Memang mereka melihat kesiapsiagaan yang agak lebih ketat dari kebiasaan. Tetapi mereka menyangka bahwa keadaan sekedar meningkat menjadi lebih genting, tetapi belum

  21. ini buku 19 halaman 79

    (dari halaman 78)…Terlambat.

    Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini ….. (dst. Udah diambil Ki Demang)

  22. Halaman 79 jilid 19
    —————-

    terlambat.

    Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini.

    “Agaknya memang telah terjadi sesuatu” bisik Swandaru.

    Agung Sedayu mengangguk, “Ya”.

    “Tetapi tidak ada tanda-tanda yang kita temui” sahut Sutawijaya.

    Merekapun kemudian terdiam. Ketika mereka berpaling kepada Kiai Gringsing, orang tua itupun sedang termenung.

    “Bagaimana Kiai?”

    Kiai Gringsing menggeleng, “Aku tidak tahu. Marilah kita lihat.”

    “Sebenarnya aku ingin bermain-main. Aku ingin mengejutkan orang-orang di Kademangan. Diam-diam aku ingin tidur, sehingga besok page mereka pasti terkejut melihat kami di pendapa atau di gandok wetan. Tetapi agaknya kita harus berbuat lain.”

    “Agaknya kita tidak sedang menghadapi persoalan yang dapat dibawa untuk bergurau” gumam Kiai Gringsing, “marilah jangan terlampau lama.”

    Ketiga anak-anak muda itupun kemudian mengikuti langkah Kiai Gringsing. Mereka tidak agi berkata apapun. Kiai Gringsing benar-benar sedang berpikir. Kalau saja Kiai Gringsing menjadi gelisah, maka persoalan yang mereka hadapi pasti bukan sekedar persoalan yang ringan.

    Memang sekali-sekali Swandaru hanya menganggap bahwa ibunya pasti sedang sakit gigi. Sebab baik di setiap sudut penjagaan maupun di halaman itu sendiri mereka tidak melihat kekhususan yang menyolok. Tetapi anggapan itu tidak diyakininya sendiri. Setiap kali dadanya terasa berdesir, semakin lama menjadi semakin tajam.

    Mereka terhenti ketika mereka melihat dua orang berjalan di bagian belakang halaman itu. Supaya tidak menimbulkan kegaduhan maka merekapun berhenti dan menyelinap di balik pepohonan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat begitu terlalu lama, sebab kedua orang itu ternyata menuju ke tempat yang agak terlindung. Pada saat itulah baru mereka mengetahui, bahwa yang di sudut yang gelap itu ternyata telah diadakan suatu penjagaan.

    Penjagaan di tempat itu tidak pernah ada sebelumnya. Penjagaan …

  23. nyuwun ngapunten..
    mau usul nyeleneh nih (untuk mempercepat retype)..

    gimana kalo situs ini dijadikan situs berbayar 😦
    maksudnya bayarnya pake retype. jadi siapa yg mau akses situs secara penuh harus retype dulu.
    Tapi untuk memberikan kesempatan yg luas bagi semua orang untuk dapat mengagumi karya besar ini, dibuka akses terbatas.
    Kamsudnya begini.. misalnya yg udah di retype jilid 1-20, maka yg tidak retype hanya bisa akses jilid 1-15. kalo retype nambah jadi 1-30, maka yg tidak retype hanya bisa buka 1-23.
    trus untuk mengapresiasi peran serta pasukan retype, juga diberikan hak akses pada image.

    nyuwun ngapunten lho

    D2: Gimana kalau kolaborasi retyping, dimana bahan yg sedng diretype bisa diedit oleh pengunjung dan yg sudah kelar diboyong ke halaman buku? Cuma belum tahu teknisnya. Ada usul?

  24. wah.. wah.. seru jg nih.. selalu ada pro n kontra.. tp gk apa-apa, malah bagus, bebas berpendapat, semua punya hak yang sama, yg penting tetep jaga semangat tepa selira ya Mas-mas..
    Aku sendiri setuju dg usulannya Mas DD,.. lebih enak begini, n selajutnya klo sudah di retipe baru di tayangkan online…
    Aku jg salut sama Mas DD, saya pikir Mas sudah pikirkan matang-matang bgimana bagus nya… jadi apapun hasilnya ya nanti kita liat aja gimana.. namanya jg rencana..
    Mengenai klo dibikin kya wiki.. semua orang bisa urun rembuk itu mesti hati-hati lho Mas.. soalnya kita kan tetep mau jaga keorisinilan karya SH.M ini…
    sepertinya tetap harus Mas DD tau team Master untuk finalisasinya.

  25. hmm… aku sih nangkep idenya Mas DD.. aku usul… gimana kalo ada 2 sesi utama di blok ini… satu yg sudah final.. dan satu lagi yang untuk gotong royong ngolah.. n bisa dibuat kya wiki gitu…
    masalahnya aku sendiri sebenernya jg gk ngerti teknisnya blog…

  26. sepertinya di wp bisa deh dibuat hak akses beda-beda. bahan image di upload, (dg terpisah-pisah 5 halaman) trus yg bagian retype bisa edit bahan tersebut dibawah image. begitu kelar, bagian si admin utk nge”publish” sehingga bisa dibaca umum. (menangkap ide mas yuwana said ttg 2 sesi)
    jadi kolaborasinya tetap di sini aja..
    piye mas dd dan mas nindityo?

    D2: Aku setuju. Bagaimana kalau Mas Mbodo buatkan halaman contoh (Misal untuk buku 19). Nanti halaman image bisa aku siapkan.

  27. wah…,nampaknya sdh pd berbulat tekad untuk ganti djvu ni….,iyalah…smoga tambah sukses aja wis…, cm sayang ya…sekarang hanya bs diakses melalui komputer…,da yg tau gak gmn caranya agar bs di bc pakai hp…,hiiks…atau cm sy aja x ya yg bcnya pakai hp…jelek lg….

    • saya malah pake kalkulator 😀 tapi cakep loh

  28. aku pakai linux. bisa nggak ya djvu ini di download.

    • bisa, pake aja evince (jika pake gnome biasanya evince dah terpasang, jika belum ya install dulu dong), bisa juga pake djview ato jika mau yang bisa buat ngedit djvu pake aja djvusmooth

  29. Wah.. paling banyak respon di halaman 19 dst.. matur nuwun, kebetulan aku coba sekali dan OK.. eh tapi dipandu sm anakku nding.. Mumet..!
    Salut, memang hrs belajar terus meski estewe..
    Salam

  30. oops sorry,
    moderator saya dah setor tuh buku 19 halaman 52-56, tapi tak kirim ke “RETYPE (IN PROGRESS)”

    D2: Gpp. Tx

  31. tolong dibantu, setelah di dowmload stdu viewer tetap tidak bisa buka https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu. mau save file apanya yang harus disave. terima kasih

    D2: Klik kanan, save as. Untuk membukanya, ganti ekstensi pdf menjadi djvu.

  32. terima kasih mas dhe dhe, btw setelah diganti sekarang muncul perngatan kesalahan dipilih don’t send eh malah hilang kenapa ya ?
    terima kasih

  33. Maaf lahir batin buat semua adbm’ers. Sorry telat ngucapinnya, baru sempat setelah mudik dan jauh dari koneksi internet.

    to bro DD: bisa ngga kalo file djvu-nya juga di upload di tempat lain selain di file section-nya wordpress? misal di rapidshare, megaupload or 4shared? sepertinya bandwidth dowload dari WP terlalu kecil, jadi agak lama downloadnya. cuma usul aja lho.

    thanks.

  34. Saya berharap bisa baca lagi seperti model yg dulu karena bacanya pakai hp. Saya dikampung untuk ke warnet jauh dan mahal klo pakai hp murah dan efisien, jadhi tolong kembali ke format awal 😥

  35. Wah mas, sy blm bisa jg buka yg “adbm-jilid-019”
    Coba klik (https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.pdf) ditunggu lama gak ada penampakan apa2.
    Trus diganti (https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu) metu tulisan ngene “404 — File not found”
    Padahal wis donlod DJView.
    Opone sing salah mas

    D2: Yang model konvensional kan udah lengkap diaplod…

  36. Mas DD, sekedar info, Buku 19 kayaknya kurang di halaman depan, belum masuk tuw disini…(hal 7-10 di buku asli)… mungkin udah ada yg ngeproof tapi kelewat n belum ditayangin….trims

  37. tambahan juga: hal 32 – 34 buku asli juga kelewat… thanks

  38. nuwun sewu keparenga kulo matur menawi cariosipun sajakipun kapunggel ing bab tarungipun Danang Sutowijoyo mangsah Daruko nyuwun priso sababipun
    Matur sembah sewu nuwun
    Ki Ageng Penataran .

  39. Lega, bisa baca cerita Jawa lagi. Thank to ALL

  40. Gimana nih cara download versi djvu-nya? Aku cari2 yang ketemu kok cuman versi retype. Aku suka format djvu karena bisa nostalgia seakan-akan pegang buku aslinya yg dulu pernah aku baca. Aku sendiri masih menyimpan buku aslinya cuman sudah ada yang ilang lumayan banyak. Saran: Kalau bisa download versi djvu-nya ada yang dibikin 100 buku perbundel. Jadi dengan 4 kali download bisa kesedot semua. Thanks…!

    • Versi DJVU clue-nya bisa didapat via poro cantrik.

  41. Clue-nya bisa didapat via komentar poro cantrik.

    • Mampir njihh Ki Truno……Sugeng enjing !

  42. aku gak bisa donlot DjVu reader. padahal dah ngeklik dari forum download di blog ini. tapi koq yo ra gelem mbuka. piye iki?????

  43. Hikksss,
    mau nemu lading, neng gagange ana tulisan :
    Ya-suku, Da-nglegena
    Pa- pepet layar, Ma-nglegena, Na-nglegena.

    Apa kagungane Ki Menggung ya….????

    • nemu nang endi ki, tak melu leles 😀

      • ndek pinggiran lendhut benter Ki.

        • Ki Gembleh kados pundi kabaripun?
          Kula nggih saking tlatah lendut benter lho.
          menawi badhe tilik gandhok gagak seta, kula sampun nyobi nglanjutakaen ADBM wonten ing “terusan ADBM” gagak seta.
          monggo Ki, menawi badhe mampir, kula tenggo.
          matur suwun
          mbah_man

          • sugeng ndalu mbah mandaraka,
            nuwun sewu (seket ewu nggeh mboten nolak) nderek tangled, tindak terusan adbm nika nitih andong jurusan pundi ?
            mbok diparingi edres lengkap rt/rw-ne to mbah

  44. matur nuwun Ki Patih
    mbah_man_daraka
    tak nyusul numpak bison……werrrrrr…..

    • waduuuh ditinggal ijen ngeneki piye jal

      • sugeng enjing Ki Abdus Syakuur.
        badhe tindak gandhok terusan adbm saking mriki nggih saget, klik mawon Gandhok Gagak Seta, mangke sampun saget pinanggih gandhok terusan adbm.
        menawi saking daleme mbah google, diketik mawon terusan adbm, mange muncul “terusan Adbm gagak seta” langsung mawon mlebet, mentrik ipun ayu2 lan kenes2 hehehe

  45. Test…..

    .Ji.Nem.Ji.Nem .Mo.Lu… 😐

    • wis isok ki 😀

      • tes…..tes-teeeeeeessss,

        nuwun sewu, cantrik dherek tes-tes……teeeeesssss

        • hep,

          lancar…..ra no rintangan……!!!!

          • tumut

            mo nem ji ro ro nem ro , ji ji ro ji ji ro ji

            siip lah …..

            • iling pak raden …
              sol do iwak kebo …
              re mi fa sol iwak …

              • botol …..

                • kwkwkwkkkk temanggung udane deres

                  • wah mesakke sing dho diudani niku , maksude sing ra nggowo payung ….

  46. raiso…. jadi males nih ! (mutung mode ON)

    • Lho..lho..kenapa nih… 🙂
      anak macan koq lutung..eh..mutung 😀

      • Ra nganggo sarung ayake ??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: