Buku 19

Dalam pada itu Sutawijaya masih berdiri keheran-heranan. Orang yang datang itu belum begitu dikenalnya. Serasa ia pernah melihatnya sepintas tetapi di mana? Ataukah memang belum pernah ditemuinya orang ini? Namun menilik sebutan yang diucapkan oleh Agung Sedayu maka Sutawijaya pun segera dapat mengenalinya. Orang itu pasti guru Agung Sedayu dan Swandaru. Karena itu, maka ketika orang tua itu memandangnya Sutawijaya mengangguk hormat sambil berkata, “Maafkan Kiai, mungkin aku belum begitu mengenal Kiai sehingga aku tidak segera mengerti dengan siapa aku berhadapan.”

“Ya, ya. Angger memang belum mengenal aku dengan baik.”

“Bukankah Kiai guru Agung Sedayu dan Swandaru?”

“Ya, begitulah.”

Sekali lagi Sutawijaya menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Kiai Gringsing.”

“Demikianlah orang yang sudi menyebut aku. Ada pula yang memanggilku Ki Tanu Metir.”

Tiba-tiba suara Swandaru memotong pembicaraan mereka diseling suara tertawanya, “Kiai, kalau demikian maka aku tahu sekarang.”

Semua orang berpaling kepadanya. Tampaklah wajah Sutawijaya menjadi berkerut-merut, “Apa yang kau ketahui?”

Swandaru yang gemuk itu masih saja tertawa, sehingga tubuhnya terguncang-guncang.

“Apa yang kau ketahui?” bertanya Kiai Gringsing pula.

“Nah, aku tahu sekarang. Kenapa kita hampir menjadi gila pada waktu kita berada di bekas perkemahan Tohpati. Api perapian dan lincak bambu itu, pasti Kiai yang membuat dan memasangnya.”

Kiai Gringsing, Sutawijaya dan Agung Sedayu pun kemudian tertawa pula.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “pasti Kiai-lah yang telah membingungkan kami.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia masih saja tertawa.

“Kami menjadi ketakutan dan hampir mengurungkan niat kami,” berkata Sutawijaya.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Ternyata kalian tidak menjadi takut, tetapi kalian menjadi marah dan mengamuk.”

Ketiga anak-anak muda itu masih saja tertawa.

“Kalian agaknya memang tidak mengenal takut,” berkata Kiai Gringsing pula, “Aku melihat apa yang terjadi di Kademangan Prambanan semalam, dan pagi tadi di pinggir Kali Opak.”

Ketiga anak-anak muda itu dengan tiba-tiba berhenti tertawa. Mereka menjadi heran, bagaimana mungkin Kiai Gringsing dapat melihat apa yang terjadi pagi tadi. Tentang semalam, kemungkinan itu memang cukup banyak, tetapi pagi tadi, hampir setiap wajah di sekitar arena itu telah dilihatnya. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat wajah Kiai Gringsing itu.

Agaknya Kiai Gringsing mengerti gejolak perasaan anak-anak muda itu. Maka katanya, “Aku melihat apa yang terjadi di pinggir Kali Opak itu dari atas tebing. Aku berdiri di belakang semak-semak yang tidak terlampau rimbun. Namun karena agaknya kalian baru sibuk dengan Argajaya, maka kalian tidak melihat aku.”

Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi Kiai melihat kami berkelahi?” bertanya Sutawijaya.

“Menurut penglihatanku yang berkelahi hanyalah seorang saja, Anakmas Sutawijaya,” sahut Kiai Gringsing.

Sutawijaya tersenyum, “Ya Kiai. Meskipun kedua murid-murid Kiai itu pun sudah hampir pula berkelahi.”

“Aku kagum melihat sikap dan kesabaran Anakmas. Ternyata Anakmas berhasil menghindari pertumpahan darah. Aku tidak mendengar apa yang kalian percakapkan. Tetapi menilik sikap dan tingkah laku kalian dan orang-orang Prambanan, aku tahu bahwa Anakmas berhasil mencegah perkelahian itu dengan huruf-huruf yang tertera pada landean tombak Anakmas. Apakah pada landean itu tertulis nama Anakmas yang sebenarnya?”

“Ah,” desah Sutawijaya, “begitulah, Kiai.”

“Jarang-jarang anak muda yang dapat mengendalikan perasaannya seperti Anakmas. Aku melihat bagaimana Swandaru dan Agung Sedayu menarik tali busurnya. Aku menjadi berdebar-debar karenanya.”

“Ah, aku hanya menakut-nakuti mereka saja guru,” sahut Swandaru sambil tersenyum.

“Bagus,” jawab Kiai Gringsing. “Kalau demikian kalian telah berbuat sebaik-baiknya. Tetapi ternyata kalian kurang menyadari bahaya yang akan dapat timbul karenanya. Apakah kalian kini masih juga akan pergi ke alas Mentaok?”

Sejenak anak-anak muda itu saling berpandangan. Pertanyaan itu terdengar aneh di telinganya. Namun yang menjawab kemudian adalah Sutawijaya, “Ya, Kiai. Kami akan terus ke hutan Mentaok.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Anakmas. Apakah tidak sebaiknya Anakmas kembali saja ke Sangkal Putung?”

“Kenapa?” bertanya Sutawijaya.

“Jalan ke Mentaok terlampau sulit, Ngger,” jawab Kiai Gringsing.

“Tidak apa Kiai. Kami telah mendengar pula sebelumnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Tetapi wajahnya sama sekali tidak sejalan dengan anggukkan kepalanya. Katanya, “Anakmas. Mungkin Anakmas sudah bersedia untuk menempuh jalan yang bagaimanapun sulitnya. Mungkin Anakmas sudah bertekad akan mengatasi segala macam bahaya yang akan Angger jumpai di perjalanan. Tetapi bahaya sebenarnya bagi kalian bertiga tidak terletak di perjalanan Angger bertiga.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ia kurang dapat mengerti kata-kata Kiai Gringsing itu, sehingga sejenak ia tidak menyahut. Karena Sutawijaya tidak segera menyahut, maka Kiai Gringsing itu pun meneruskannya, “Mungkin di perjalanan ke Mentaok itu Angger tidak akan menjumpai kesulitan apa-apa. Mungkin satu dua Angger bertemu dengan penyamun atau perampok, tetapi mereka sama sekali tidak berarti bagi kalian bertiga. Tetapi dengan peristiwa yang telah terjadi di Prambanan itu, maka bahaya yang sebenarnya akan dapat terjadi di Sangkal Putung.”

Ketiga anak-anak muda itu pun saling berpandangan. Keterangan Kiai Gringsing itu masih belum begitu jelas bagi mereka, sehingga Sutawijayapun bertanya, “Kenapa Kiai, kenapa Sangkal Putung terancam bahaya?”

“Angger,” jawab Kiai Gringsing, “Argajaya yang telah Angger kalahkan di hadapan orang-orang Prambanan itu sudah tentu mendendam di hatinya. Bukankah Argajaya itu seorang utusan dari Kepala Tanah Perdikan yang bernama Argapati, dan Argapati itu ayah Sidanti? Nah. Argajaya pasti akan bertemu dengan Sidanti. Mereka berdua menyimpan dendam di dalam hati masing-masing kepada Angger dan juga kepada Agung Sedayu dan Swandaru. Nah, apakah kira-kira yang akan terjadi apabila mereka masing-masing bertemu dan berbicara tentang tiga orang anak muda Sangkal Putung seperti kalian?”

Sutawijaya pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu dan Swandaru pun mulai mengerti, apakah yang dimaksud oleh gurunya.

“Kiai,” berkata Sutawijaya, “meskipun mereka kemudian bertemu apakah kira-kira yang dapat mereka lakukan?”

“Banyak sekali, Ngger,” sahut Kiai Gringsing. “Salah satu kemungkinan yang dapat mereka lakukan adalah berusaha mencegat Angger bertiga, kelak jika Angger kembali dari Mentaok.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu dan Swandaru sejenak saling berpandangan. Kata-kata Kiai Gringsing itu masuk ke dalam akal mereka. Jarak antara Prambanan dan padukuhan Ki Tambak Wedi tidak melampaui jarak Prambanan dan alas Mentaok. Meskipun jaraknya terpaut, tetapi jalan ke alas Mentaok pasti akan lebih sulit. Apalagi apabila satu dua kali mereka akan bertemu dengan beberapa orang penyamun seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing.

Tetapi yang menjawab kemudian adalah Sutawijaya, “Benar Kiai, hal itu memang dapat terjadi. Tetapi apabila kami telah memperhitungkannya, maka kami akan mencari jalan lain kelak. Kami akan menempuh jalan yang sama sekali tidak diduga-duga oleh Ki Tambak Wedi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang, Angger akan dapat mencari jalan lain yang mungkin tidak diduga-duga oleh Ki Tambak Wedi. Tetapi jangan dikira, bahwa kemungkinan mencari jalan lain itu tidak diperhitungkan pula oleh Ki Tambak Wedi. Mungkin Ki Tambak Wedi tidak mencegat Angger di Prambanan, di hutan Tambak Baya atau di pedukuhan-pedukuhan lain seperti Cupu Watu atau Candi Sari, tetapi tanpa Angger duga-duga, Ki Tambak Wedi itu justru berada di muka hidung para peronda di Sangkal Putung, di sisi regol masuk ke dalam Kademangan itu.”

Sekali lagi Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling ke arah kedua kawannya, maka dilihatnya Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Memang,” katanya dalam hati, “kemungkinan itu dapat terjadi. Tetapi aku sudah menempuh separo jalan. Sayang sekali apabila aku terpaksa kembali sebelum aku melihat tanah Mentaok. Tanah yang kelak akan diterima oleh ayah dari Ramanda Adipati Pajang sebagai hadiah.”

Karena itu, maka Sutawijaya itu pun terdiam sejenak diamuk oleh kebimbangan. Ia dapat mengerti kata-kata Kiai Gringsing dan menyadari bahaya yang sedang mengancam. Tetapi ia tidak dapat melepaskan keinginannya untuk melihat hutan Mentaok.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Agung Sedayu dan Swandarupun menjadi berbimbang hati pula. Tetapi kepentingan mereka tentang tanah Mentaok tidak setajam Sutawijaya. Karena itu, maka merekapun tidak sedemikian bernafsu untuk meneruskan perjalanan. Meskipun demikian, karena mereka telah berjanji sejak mereka berangkat untuk pergi bersama, maka Agung Sedayu dan Swandaru menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Sutawijaya.

Kiai Gringsing melihat kebimbangan di dalam hati putera Panglima Wira Tamtama itu. Namun demikian, dibiarkannya anak muda itu membuat pertimbangan sendiri.

“Kiai,” berkata Sutawijaya itu kemudian, “aku sudah menempuh jarak ini. Bagaimanakah kalau aku meneruskan beberapa langkah lagi Kiai? Aku hanya ingin melihat sejenak, bagaimanakah ujudnya alas Mentaok itu. Tidak terlampau lama. Sekejap saja.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Begitu besar keinginan Sutawijaya untuk melihat tanah yang kelak akan dimilikinya.

Dengan demikian maka Kiai Gringsingpun menjadi ragu-ragu pula. Ia tidak sampai hati untuk mengecewakan putera Panglima Wira Tamtama itu. Tetapi ia tidak pula dapat membiarkan mereka mengalami bencana.

Namun yang dicemaskan oleh Kiai Gringsing bukan saja Sutawijaya dan kawan-kawannya, tetapi juga Sangkal Putung. Kalau Panglima Wira Tamtama hari ini atau besok kembali ke Pajang dengan membawa orang-orang Jipang, maka sebagian dari prajurit Pajang di Sangkal Putung pasti meninggalkan Kademangan itu untuk mengawal orang-orang Jipang ke Pajang. Ki Tambak Wedi yang licik, apabila dapat memperhitungkan dengan tepat keberangkatan Ki Gede Pemanahan, maka Sangkal Putung benar-benar berada dalam bahaya. Sepeninggal Ki Gede Pemanahan, maka Sangkal Putung hanya ditunggui oleh para prajurit di bawah Untara dan Widura. Tidak ada orang-orang lain yang akan dapat membantunya seandainya Ki Tambak Wedi benar-benar menyergap Kademangan itu. Sedangkan di dalam barisan Ki Tambak Wedi akan muncul orang-orang yang tangguh seperti Sidanti, Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan sudah tentu Argajaya yang menyimpan dendam pula di hatinya. Dalam keadaan demikian maka tenaga Agung Sedayu dan Swandaru pasti akan sangat berarti.

Dengan demikian maka yang dapat terjadi adalah beberapa kemungkinan. Ki Tambak Wedi, Argajaya dan Sidanti berusaha mencegat Sutawijaya, atau mereka mengerahkan laskarnya untuk menghantam Sangkal Putung. Kemungkinan yang lain, tetapi tidak terlampau mencemaskan adalah bahwa Ki Tambak Wedi nanti akan mencegat Ki Gede Pemanahan. Apabila demikian, maka kehadiran Sutawijaya pun pasti diperlukan.

Satu demi satu kemungkinan-kemungkinan itu pun diberitahukannya kepada Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya. Ternyata merekapun dapat mengerti arti dari bahaya itu. Meskipun demikian Sutawijaya masih juga berkata, “Baik Kiai, aku akan segera kembali. Aku harap ayah menungguku di Sangkal Putung. Aku hanya memerlukan waktu sedikit untuk mencapai alas Mentaok. Bukankah sebentar lagi kami akan memasuki alas Tambak Baya?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Waktu yang Anakmas perlukan paling sedikit adalah dua hari dua malam. Sedang Argajaya malam nanti pasti sudah akan sampai ke Padepokan Ki Tambak Wedi. Ceriteranya pasti akan membakar kemarahan mereka sehingga seandainya mereka tidak bernafsu untuk berbuat sesuatu, atau rencana mereka masih berjarak beberapa waktu, maka mereka akan segera menentukan sikap. Mereka pasti segera akan mempercepat setiap rencana.”

“Aku akan berjalan siang dan malam, Kiai.”

“Tetapi dua malam itu tak akan dapat Angger percepat.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Belum lagi kalau Angger bertemu dengan beberapa orang penyamun. Meskipun penyamun-penyamun di hutan Tambak Baya itu tidak berbahaya bagi Anakmas, namun setidak-tidaknya mereka akan menghambat rencana Anakmas. Kalau Anakmas bertemu dengan gerombolan Daruka, maka Angger akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menundukkannya. Bukan karena Daruka itu seorang yang sakti tiada taranya, tetapi karena gerombolannya terdiri dari orang-orang yang berpengalaman dan cukup banyak jumlahnya.”

Sutawijaya tidak menjawab. Tetapi kedip matanya menunjukkan kekecewaan hatinya. Ia pernah juga mendengar dari beberapa orang prajurit, nama Daruka. Tetapi semula ia sama sekali tidak memperhatikannya. Ternyata menurut Kiai Gringsing, Daruka itu akan dapat memperlambat perjalanannya.

Namun demikian Kiai Gringsing tidak sampai hati untuk mengecewakannya. Anak itu merasa bahwa alas Mentaok sudah berada di hadapan hidungnya. Karena itu maka katanya, “Baiklah Anakmas. Aku menjadi iba melihat mata Angger berkedip seperti anak-anak yang kecewa karena ibunya tidak membawa oleh-oleh dari pasar. Nah, kalau demikian, maka pergilah terus. Tetapi cepat. Secepat-cepatnya. Seperti yang Angger katakan, berjalan siang dan malam.”

Swandarulah yang kemudian mengerutkan alisnya. Desisnya, “Siang dan malam? Hem, kalian tidak perlu membawa tubuh sebesar tubuhku. Kalau ada salah seorang dari kalian bersedia membantu membawa perutku, aku tidak berkeberatan berjalan siang dan malam. Bahkan tanpa berhenti sekalipun.”

Mau tidak mau, yang mendengar kata-katanya itu terpaksa tersenyum. Yang menjawab adalah Agung Sedayu,”Kau akan menjadi langsing adi Swandaru. Kalau kau banyak berjalan, maka gembung perutmu akan berkurang.”

“Sebuah latihan yang baik,” berkata Ki Tanu Metir. “Nah, manfaatkan kesempatan ini apabila kalian benar-benar tidak ingin segera kembali ke Sangkal Putung. Mungkin kalian akan mempergunakan waktu lebih dari dua hari dua malam. Tetapi supaya kalian tidak memilih jalan yang salah, yang akan dapat memperpanjang waktu, atau kalian sengaja mencari jalan lain karena kenakalan kalian, maka biarlah aku pergi bersama kalian.”

“He,” wajah Sutawijaya dan kedua kawannya tiba-tiba menjadi cerah, “Kiai akan pergi bersama kami?”

“Hanya supaya kalian cepat kembali ke Sangkal Putung.”

“Kita tidak cemas lagi dicegat oleh Ki Tambak Wedi, sehingga kita tidak perlu mencari jalan lain,”berkata Swandaru.

“Akibatnya kita segera sampai ke Sangkal Putung,” sahut Kiai Gringsing.

“Kalau begitu kita dapat berbicara sambil berjalan,” gumam Agung Sedayu.

“Tak ada lagi yang dibicarakan,” berkata Kiai Gringsing, “ternyata kalian tidak mau kembali ke Sangkal Putung. Nah, marilah kita berangkat, supaya kita tidak terlampau lama diperjalanan.”

Maka segera merekapun melangkahkan kaki-kaki mereka kembali. Kali ini mereka membawa seorang penunjuk jalan yang dapat diandalkan, Kiai Gringsing.

Dengan demikian maka perjalanan itu menjadi lebih cepat. Agaknya Kiai Gringsing telah cukup mengenal daerah yang akan mereka jalani.

Sebelum mereka memasuki hutan Tambak Baya, maka perjalanan mereka sama sekali tidak menemui kesulitan. Candi Sari, kemudian Cupu Watu dan ketika mereka melangkah ke barat lebih jauh lagi, maka terbentang di hadapan mereka sebuah hutan yang lebat. Tambak Baya.

Meskipun hutan ini tidak segarang Mentaok, tetapi Tambak Baya cukup menyeramkan. Pepohonan yang pepat seakan-akan berserakan di setiap jengkal tanah. Pohon-pohon perdu yang rimbun dan pepohonan yang merambat, bahkan yang berduri sekali.

Sejenak mereka berhenti di pinggir hutan itu. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, maka matahari telah tampak condong di arah barat. Cahayanya yang kemerah-merahan memencar menyoroti langit yang terbentang. Sehelai-sehelai mega yang putih mengalir beriringan.

Dibelakang mereka terbentang padang rumput yang diseling oleh tanaman-tanaman perdu. Di ujung padang itu terdapat pategalan dan kemudian tanah persawahan yang cukup subur.

Tetapi mereka sama sekali tidak melihat seorangpun berada di tempat itu. Lengang dan terasa kesunyian mencekam dada mereka. Sehingga tanpa sesadarnya Swandaru berdesis,”Alangkah lengangnya. Apakah tak pernah ada orang yang menggarap pategalan itu?”

“Tentu ada,” sahut Ki Tanu Metir, “Bagaimana mungkin tanaman-tanaman itu tumbuh teratur?”

“Tetapi tak seorangpun nampak,” berkata Swandaru pula.

“Mereka mengerjakan sawah dan ladang mereka di pagi hari. Mereka memerlukan kawan untuk pergi ke sawah dan ladang mereka. Di sini ada semacam warung sepekan sekali atau dua kali. Bukan saja tempat orang-orang menukarkan barang-barang keperluan sehari-hari, tetapi kadang-kadang ada pula orang-orang yang akan menyeberangi hutan ini memerlukan bekal di perjalanan. Bahkan di sini kadang-kadang ada beberapa orang pengantar yang menemani dan melindungi orang-orang yang ingin pergi ke daerah-daerah di seberang hutan ini. Mungkin ke Nglipura, mungkin ke Mangir.”

Anak-anak muda yang mendengarkan kata-kata itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang bertanya adalah Agung Sedayu, “Tetapi kenapa kali ini mereka tidak ada di tempat ini Kiai. Bagaimana seandainya saat ini ada orang yang akan menyeberangi hutan. Apakah tidak ada orang yang bersedia mengantarkannya?”

“Ada saat-saat tertentu bagi mereka yang akan menyeberangi hutan ini. Para pengantar hanya bersedia di hari-hari yang sudah mereka tentukan. Misalnya di hari Manis dan Pahing. Selain hari-hari itu mereka tidak berada di tempat ini. Mungkin mereka sedang di dalam perjalanan kembali setelah mengantarkan beberapa orang bersama-sama, tetapi mungkin pula mereka sedang beristirahat.”

“Bagaimana kalau ada keperluan yang tidak mungkin tertunda?” bertanya Swandaru.

“Tergantung kepada orang itu sendiri. Apakah mereka berani menanggung setiap kemungkinan bertemu dengan gerombolan penyamun di dalam hutan ini. Kalau mereka itu merasa diri mereka cukup kuat, maka merekapun akan menyeberang tanpa pengawalan dan perlindungan orang lain.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Dengan demikian maka para pengawal itu pasti orang-orang yang cukup kuat untuk menghadapi setiap kejahatan yang dapat terjadi di hutan ini Kiai.”

“Demikianlah. Tetapi kadang-kadang para penjahat itu saling bantu-membantu. Kadang-kadang mereka bekerja bersama untuk suatu kepentingan. Tetapi kadang-kadang mereka saling bertempur di antara mereka berebut korban.”

Sutawijaya mendengarkan ceritera itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bergumam, “Seperti kehidupan binatang-binatang yang menghuni hutan ini. Begitukah kira-kira Kiai?”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian agak ragu ia menjawab, “Ya. Begitulah kira-kira. Apabila mereka sedang mempunyai kepentingan yang sama, maka kadang-kadang kekuatan mereka benar-benar tak terlawan oleh para pengawal. Dalam keadaan yang demikian, maka kadang-kadang iring-iringan itu benar-benar menjadi korban para penyamun. Namun hal itu jarang terjadi. Kalau para pengawal tidak lagi mampu bertahan, maka orang-orang itu sendiri pasti akan ikut bertempur. Tetapi sekali dua kali, kemalangan memang dapat terjadi atas para pengawal dan orang-orang yang dikawalnya.”

Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Ketika sekali lagi mereka menebarkan pandangan mata mereka di sekitar tempat itu, maka pinggiran hutan itu benar-benar sepi dan lengang.

“Apakah kita akan menyeberang sekarang?” terdengar Sutawijaya bertanya.

“Terserah kepada Anakmas,” sahut Kiai Gringsing, “Tetapi apabila kita benar-benar ingin berjalan siang dan malam, maka sebaiknya kita berjalan terus. Kita tidak perlu mencemaskan para penyamun, sebab kita tidak membawa barang-barang yang berharga kecuali leher-leher kita sendiri.”

Sutawijaya tersenyum, tetapi Swandaru mengerutkan dahinya.

“Apakah kalian tidak merasa lelah?”

Swandaru menjadi kecewa ketika Agung Sedayu menjawab, “Tidak. Aku tidak merasa lelah.”

“Ah,” Swandaru bertolak pinggang sambil mendesah. Kemudian anak yang gemuk itu menggeliat, katanya, “Hem, baiklah. Akupun tidak lelah.”

Agung Sedayu, Sutawijaya dan Kiai Gringsing tersenyum.

“Salahmu,” berkata Agung Sedayu.

“Kenapa?” sahut Swandaru.

“Kau terlampau banyak makan.”

Swandaru memberengutkan wajahnya. Tetapi sebelum ia menjawab, terdengar Kiai Gringsing berkata,”Marilah kita berjalan terus. Mungkin kita terpaksa berhenti nanti sebelum kita terlampau dalam masuk ke hutan ini.”

Sejenak Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan. Matahari telah menjadi semakin rendah. Apabila mereka memasuki hutan itu, maka segera mereka akan terhalang oleh gelap. Namun mereka sudah terlanjur berkata, bahwa mereka akan berjalan siang dan malam. Sehingga karena itu maka Sutawijaya menjawab,”Marilah Kiai. Kalau Kiai menghendaki kami berjalan terus.”

“Ya. Kita harus berjalan terus. Kalau tidak maka kita akan kehilangan waktu. Kira harus memperhitungkan keadaan Sangkal Putung pula. Bukan sekedar melihat keadaan diri kita sendiri.”

“Baiklah Kiai,” sahut Sutawijaya kemudian.

“Bagus,” gumam Kiai Gringsing, “kita haru mempergunakan waktu sebaik-baiknya.”

Maka merekapun segera melangkah mendekati bibir hutan yang lebat. Sejenak mereka menjadi termangu-mangu, tetapi mereka melangkah terus.

Tiba-tiba langkah mereka tertegun ketika mereka melihat rimbunnya daun bergerak-gerak di hadapan mereka. Dan merekapun terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat beberapa orang muncul dari balik dedaunan.

Tetapi dalam pada itu capat Kiai Gringsing berbisik, “Mereka adalah orang-orang yang sering mengawal para pedagang dan orang-orang lain yang berkepentingan menyeberangi hutan ini.”

Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Orang-orang yang baru muncul itu adalah orang-orang yang rata-rata bertubuh tegap kekar. Di lambung mereka tersangkut pedang dan beberapa di antaranya membawa pula pisau atau kapak.

Kiai Gringsing masih juga berbisik, “Senjata-senjata itu kecuali berguna untuk bertempur, juga berguna untuk merambas jalan yang pepat karena daun-daun perdu dan akar-akar yang merambat dan menutup jalan.”

Kembali ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Sementara itu Kiai Gringsing masih berkata, “Mereka masuk hutan tiga hari yang lampau. Mungkin di hari Aditya Manis.”

“Sekarang hari apa?” bertanya Swandaru.

“Hanggara Jene.”

“He, Bintang Kuning.”

“Ya, Selasa Pon.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara itu orang-orang yang muncul dari dalam hutan itu telah berdiri beberapa langkah di hadapan mereka. Namun ketika wajah-wajah mereka menjadi semakin jelas, nampaklah bahwa beberapa orang di antara mereka terluka. Titik-titik darah yang kering masih jelas pada pakaian mereka.

Seorang yang berkumis lebat dan tidak berbaju melangkah mendekati mereka. Dengan nada yang berat ia bertanya, “Apakah Ki Sanak anak menyeberangi hutan?”

Yang menjawab adalah Kiai Gringsing, “Ya Ki Sanak. Kami akan menyeberangi hutan.”

“Kemanakah kalian akan pergi?”

“Mentaok.”

“Mentaok? Ke alas Mentaok? Apakah keperluan kalian ke Mentaok?”

Kiai Gringsing berpaling ke arah Sutawijaya. Tetapi orang tua itu menjawab, “Kami akan pergi ke Nglipura, Ki Sanak. Ada keluargaku di sana.”

Orang yang berkumis lebat, yang agaknya pemimpin dari para pengawal itu berkata, “Kalian hanya berempat?”

“Ya.”

“Menilik persiapan dan senjata kalian, maka kalian merasa bahwa kalian cukup kuat untuk menyeberangi hutan ini tanpa pengawalan. Ternyata pula kalian memilih hari ini, bukan hari-hari yang telah kami tentukan. Kami tidak berkeberatan kalian menyeberang sendiri, tetapi kami wajib memperingatkan kalian. Kali ini gerombolan Daruka berada di hutan ini. Kami terpaksa berkelahi. Untunglah bukan seluruh kekuatan yang kita hadapi, sehingga kami sempat melepaskan diri bersama orang-orang yang kami antar. Tetapi di perjalanan kembali, kami terpaksa mencari jalan lain. Kami takut kalau gerombolan itu memperkuat diri, apalagi Daruka sendiri, akan menghadang kami pula.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan kalian menemukan jalan yang aman. Jangan kau telusuri jalan yang biasa kami lalui. Mungkin untuk sebulan kami tidak akan membawa orang menyeberang, kecuali kami mendapat tambahan kawan yang dapat kami percaya.”

Kiai Gringsing masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Terima kasih Ki Sanak. Kami akan mencari jalan lain. Mudah-mudahan kami selamat.”

“Apakah keperluan kalian tidak dapat ditunda seminggu dua minggu?”

“Kepentingan kami sangat mendesak.”

“Hati-hatilah,” pesan pemimpin pengawal itu.

“Terima kasih.”

Para pengawal itu pun kemudian meninggalkan mereka. Tampak jelas bahwa mereka baru saja menempuh perjalanan yang berat, dan jelas pula luka-luka silang-menyilang di tubuh mereka. Ada yang dalam, tetapi ada pula yang dangkal. Bahkan ada salah seorang dari mereka yang terluka agak parah di lengannya yang telah dibalut dengan sepotong kain.

Ketika orang-orang itu telah menjadi semakin jauh, berkata Kiai Gringsing, “Itulah isi hutan Tambak Baya. Juga hutan Mentaok mempunyai penghuni-penghuninya sendiri. Nah, apakah kita ingin melihat pula?”

Wajah Sutawijaya tiba-tiba menjadi tegang. Sambil menggeram ia berkata, “Itukah isi dari tanah yang akan diterima oleh ayah dari Ramanda Adipati Pajang? Beruntunglah paman Penjawi mendapat tanah Pati yang sudah jauh lebih baik dari tanah Mentaok. Kami masih harus membuka hutan yang lebat, dan mengusir penghuni-penghuninya yang banyak itu. Untunglah bahwa aku sempat menyaksikannya kini.”

Kiai Gringsing dan kedua muridnya terdiam. Mereka merasakan pula, betapa anak muda putera Panglima Wira Tamtama itu menjadi kecewa. Tanah Mentaok seakan-akan telah dimilikinya, sehingga sudah tentu Sutawijaya sama sekali tidak senang melihat penghuni-penghuni yang sama sekali tidak terhormat itu.

Dengan kesal anak muda itu kemudian menggeram, “Kiai, aku mempunyai tanggung jawab atas tanah itu meskipun belum secara resmi diserahkan kepada ayah. Aku harus mengusir setiap orang yang mengotori hutan Mentaok.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab, “Berapa bulan Angger memerlukan waktu untuk itu?”
Sutawijaya mengerutkan keningnya, “Ya,” desisnya, “aku memerlukan waktu untuk melakukannya.”

“Jangan kau lakukan kini. Apabila datang saatnya, bersama-sama dengan beberapa orang kawan, Angger pasti dapat mengusirnya.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, marilah kita lihat,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “Mungkin kita dapat bertemu sebuah contoh dari isi hutan itu.”

“Marilah,” sahut Sutawijaya.

“Mudah-mudahan kita dapat bertemu,” Swandaru pun bergumam pula.

Kiai Gringsing tersenyum. Ia tahu, bahwa Swandaru hanya ingin berbuat sesuatu.

Demikianlah mereka berjalan kembali. Kini mereka sudah memasuki hutan Tambak Baya. Namun demikian mereka masuk, maka cahayua matahari telah menjadi semakin pudar. Meskipun demikian mereka berjalan terus. Namun akhirnya malam yang semakin kelampun turunlah. Pohon-pohon raksasa yang bertebaran itu pun menjadi semakin kabur.

“Malam terlampau gelap di hutan ini,” desis Swandaru.

“Ya, lebih gelap dari hutan tempat orang-orang Jipang membuat perkemahan,” sahut Agung Sedayu.

“Tentu,” berkata Kiai Gringsing, “Hutan ini jauh lebih lebar. Isinya pun jauh lebih garang. Apalagi hutan Mentaok. Selain yang dikatakan oleh para pengawal, maka isi hutan ini adalah binatang buas.”

Ketiga anak-anak muda itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak takut terhadap binatang buas maupun orang-orang jahat seperti yang dikatakan oleh para pengawal. Tetapi berjalan di dalam kelam serasa berjalan di daerah yang sama sekali tidak dikenalnya. Mereka seolah-olah hampir tak melihat apapun selain hitam pekat. Bahkan kawan-kawan seperjalanan mereka sendiripun hampir tidak dapat dilihatnya.

Tetapi telinga mereka adalah telinga yang cukup baik. Mereka dapat mengenal tempat-tempat kawan seperjalanan hanya karena pendengaran mereka.

Namun meskipun demikian, akhirnya Swandaru berkata, “Nafasku terasa sesak.”

Kiai Gringsing tertawa. “Kenapa?” ia bertanya.

“Gelapnya bukan main.”

“Ya, gelapnya bukan main,” sahut Sutawijaya.

“Jadi bagaimana?” bertanya Kiai Gringsing.

Tak seorang pun yang menjawab.

“Apakah kita akan berhenti dan tidak berjalan siang dan malam?”

Masih tidak terjawab.

“Baiklah. Kita berhenti,” berkata orang tua itu, “tetapi kita harus mendapatkan tempat yang baik. Kita akan membuat perapian.”

“Bagaimana kita mendapat kayu baka?” bertanya Swandaru.

“Di bawah kaki kita adalah setumpuk daun-daun kering. Kalau kita sudah menyalakannya, maka kita akan melihat, apakah kita akan dapat mencari kayu atau ranting-ranting perdu.”

Akhirnya merekapun mengumpulkan daun-daun kering di bawah kaki mereka. Dengan batu titikan mereka membuat api, dan dengan agak susah, merekapun berhasil menyalakan dedaunan yang sudah cukup kering.

Ketika api sudah menyala, maka segera mereka melihat ranting-ranting perdu yang dapat mereka tebas dan mereka lemparkan ke atas api.

Malam itu mereka beristirahat di sekitar perapian. Tak ada yang menarik. Meskipun Swandaru mengharap, mudah-mudahan orang-orang jahat itu mendekati mereka, tetapi tempat itu masih belum cukup dalam, sehingga semalam itu mereka benar-benar dapat beristirahat, meskipun bergantian mereka tetap bangun.

Pagi-pagi mereka sudah meneruskan perjalanan. Meskipun demikian, Swandaru masih juga berkata, “Aku sudah mulai lapar. Apakah di hutan ini tidak ada makanan?”

“Kau akan mendapatkannya,” berkata Kiai Gringsing, “Kau akan dapat mencari makan buat menambah besar perutmu.”

Ternyata yang dikatakan Kiai Gringsing itu pun benar pula.

Dengan panah-panah mereka, mereka berhasil pula mendapat makan pagi mereka.

Perjalanan mereka hari ini ternyata agak lebih berat dari hari-hari yang telah mereka lalui. Untunglah bahwa Kiai Gringsing berjalan beserta mereka, sehingga mereka tidak takut lagi akan tersesat. Meskipun demikian ketiga anak-anak muda itu kadang-kadang masih juga membuat tanda-tanda pengenal pada pepohonan yang besar, supaya apabila terpaksa mereka harus mencari jalan keluar, mereka tidak akan menemui kesukaran.

Gairah perjalanan hari itu didorong oleh perasaan kecewa pada Sutawijaya, karena tanah yang akan diterimanya itu ternyata telah dikotori oleh orang-orang jahat. Sedang Swandaru segera ingin bertemu dengan orang-orang jahat itu. Agung Sedayu tidak terlampau banyak dipengaruhi oleh gerombolan-gerombolan itu. Meskipun demikian, pengalaman-pengalaman itu pasti akan berguna baginya. Sehingga karena itu perjalanan inipun sangat menarik hati. Ia akan mengenal tempat-tempat yang hampir belum pernah dijamahnya. Hutan yang lebat pepat, binatang-binatang yang buas dan alam yang keras. Agung Sedayu baru mengenalnya lewat ceritera-ceritera yang pernah didengarnya dari kakaknya, Untara, di masa kanak-kanaknya.

Ternyata Kiai Gringsing adalah seorang penunjuk jalan yang terlampau baik. Tanpa kesulitan yang berarti, mereka berjalan menembus hutan. Tetapi hutan itu sendiri telah merupakan penghalang yang banyak memperlambat dan menelan waktu. Oyot-oyot bebondotan dan tumbuh-tumbuhan merambat lainnya. Batang-batang kayu yang roboh yang malang-melintang dan semak-semak yang pepat padat.

Dalam pada itu terdengar Swandaru bertanya, “Apakah jalan ini pula yang sering dilalui oleh orang-orang yang menyeberangi hutan ini diantar oleh para pengawal?”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing.

“Apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik?”

“Jalan inilah yang paling tipis ditumbuhi oleh berbagai macam tetumbuhan. Telah beberapa kali aku menyeberangi hutan ini, sekali-sekali bersama-sama dengan para pengawal.”

Swandaru tidak bertanya lagi. Tetapi ia dapat membayangkan bahwa di tempat-tempat lain tetumbuhan pasti jauh lebih lebat dari tempat ini, tempat yang paling banyak dilalui orang.

Ketika mereka masuk semakin dalam ke tengah-tengah hutan Tambak Baya, maka berbisiklah Kiai Gringsing, “Kita hampir sampai.”

“Sampai di mana?” bertanya Agung Sedayu, “Apakah kita sudah sampai di alas Mentaok?”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 9 Oktober 2008 at 05:27  Comments (76)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-19/trackback/

RSS feed for comments on this post.

76 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wah piye ki, program opo maneh dejavu iku mas, bedo ra karo microsof reader, iso gawat ki rek ra iso neruske moco ADBM, kadung kedanan je. Rodo kuatir ki aku mas. Soale aku ra nduwe program iku. Piye yo…maklum gaptek.

    D2: Jangan khawatir. Hampir sama dengan Adobe Reader koq.

  2. D, aku gak bisa buka adbm-jilid-019.pdf; baik pake djvu atau pun reader yang lain. ada yang gak beres di file-nya?

    D2: Ubah ekstensinya ke .djvu dulu.

  3. CARA BUKA FILE:

    Karena blog kita tidak memberi kesempatan kita untuk aplod file djvu, maka file itu saya ubah ekstensinya dengan pdf (ekstensi lain spt jpg, tiff, dll juga bisa aja), hanya semata2 agar file itu bisa diaplod.

    File harus disave dulu ke komputer Anda. Lalu ubah ekstensi .pdf menjadi .djvu. Jadi adbm-jilid-019.pdf diubah menjadi adbm-jilid-019.djvu dengan cara mengganti .pdf menjadi .djvu

    Lalu buka deh dengan djvu reader.

    O ya, pastikan Anda menginstal djvu reader yang bisa diperoleh di blog ini (check di halaman Download)

    DD

  4. D, makasih. akhirnya aku bisa buka buku 19. aku bersedia retype hal 1-10 dulu. salam

    D2: Thanks juga. Siapa halaman berikutnya?

  5. kasian deh gue…,selama ini hanya bs bc lewat hp,,sekarang gak bisa baca2 lg….

    D2: Tentu masih bisa baca, Mas. Karena konversi ke teks tetap dikerjakan. Tetapi ya itu, tidak secepat penayangan image. Jadi, yang mau baca teks silakan bersabar.

  6. Lha … rak tenen to..??? Aku dah nduga-nduga ..wah kok enuakk tenan gratis menikmati ajo-ojo….. eee lah kok tenan…

    D2: Ojo2 piye Mas Panji? Jangan bikin orang salah tafsir lho.

  7. Mas, aku kok gk bisa download file pdf nya itu ya..
    link yg “adbm-jilid-019”, kalau di klik gk keluar pilihan save… malah pengumuman file not found..
    Gimana ya Mas, untuk ngesavenya?

    • untuk mengklik sebaiknya cemeti dipegang dengan cara terbalik dan gagangnya yang digunakan untuk ndudul link yang bersangkutan, lebih jelasnya bisa menghubungi ki ndul

  8. Sudah ketemu Mas caranya.. harus klik kanan dulu terus save link as…
    btw… ini hasil scanenan tooh Mas.. apakah tidak akan di retipe lg seperti sebelumnya… kok sepertinya lebih enak baca lewat blok ini, dari pada model dejavu gini..

    D2: Proses retype tetap berjalan. Silakan saja yang mau berpartisipasi. Sehalaman2 gak apa2. Hasilnya langsung aja dishout di boks komentar ini. Nanti admin akan mengumpulkannya untuk ditayangkan sebagaimana sebelumnya. Asal jelas aja Jilid berapa halaman berapa.

  9. DD… kalo udah langsun tampil gini rasanya kurang semangat retypenya. sebaiknya hanya pasukan retype saja yg di kasih bahan mentah, seperti kemarin.
    saya rasa kalo pake cara yg sekarang pasukan retypenya lambat laun akan berkurang.
    sebab yg mau ditampilin udah dibaca orang-orang dulu..

    saya daptar retype 10 halaman.
    halaman mana yg belum ada petugasnya ?

    D2: Saya yakin yang ikut retype justru makin banyak. Silakan pilih halaman mana saja. Saya berharap ke depan ada cara yg efisien, semacam wiki yg bisa diedit. Ada usul?

    trim’s

  10. iya ni ms DD…,klo boleh usul mbok kembali sj ke prosedur semula,, sy ko kuatir ni mengarah ke aborsi seperti yg pernah mas sampaikan…,btw ngapunten sing katah,,cm bs kasih comment thok gak bs bantu,,dan smoga aja si tetep langgeng…

    • justru yang penting tu commentnya, masalah mbantu kan sudah ada ki ndul

  11. iya ni ms DD…,klo boleh usul mbok kembali sj ke prosedur semula,, sy ko kuatir ni mengarah ke aborsi seperti yg pernah mas sampaikan…,btw ngapunten sing katah,,cm bs kasih comment thok gak bs bantu,,dan smoga aja si tetep langgeng..
    maturnuwun

  12. Sedikit urun informasi nggih…,
    berdasarkan pengalam pribadi (karena gaptek nih), setelah download adbm-jilid-019.pdf, windows otomatis mengenali sebagai file adobe, setelah diubah extention menjadi djvu tetap tidak bisa dibuka. Setelah dicheck ternyata filenya menjadi adbm-jilid-019.djvu.pdf..weleh..weleh..
    mengubahnya melalui windows explorer>tools>Folders Option>View>HIdes extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan)…
    Jika belum jelas silakan buka di http://www.mediacollege.com/microsoft/windows/extension-change.html

    selamat menikmati adbm…salam buat pecinta adbm dari Melbourne…(yang sempat kebat kebit saat membaca ..perlu nunggu 8 tahun untuk baca seluruh jilid adbm dg format retype..)

  13. cara ubah pdf ke djvu gimana??

    • dikasih pewarna aja kan langsung brubah

  14. udah bisa, thx ABDMnya

  15. He eh mas D2, kembali seperti semula saja lah, biar aku bisa langsung baca he…he….tapi ya monggo kerso soalnya saya kan cuma numpang baca, ngapunten sing katah ugi.

  16. DD ini halaman terakhir buku 19

    Jangan di bagian belakang ini berada di samping regol yang telah ditutup mati hanya malam hari apabila keadaan mengkhawatirkan. Sedang penjagaan yang biasa terdapat di tikungan, di gardu, peronda. Sekarang di tempat itu ternyata ada sebuah penjagaan sehingga dengan demikian mereka dapat menduga sesuatu benar-benar telah terjadi.

    Tiba-tiba Swandaru menjadi tidak bersabar lagi. Dengan terbata-bata ia berbisik, ”Kiai, aku akan melihat apakah yang telah terjadi.”
    ”Tunggu.” Cegah Kiai Gringsing. ”Jangan mengejutkan para penjaga yang sedang dalam kesiapsiagaan penuh. Kalau mereka melihat kita berempat, maka meka pasti menyangka bahwa mereka menghadapi bahaya. Dengan demikian, maka kegaduhan pasti akan timbul. Karena itu, biarlah aku sendiri menemui mereka dan mengatakan bahwa kalian telah kembali.”

    ”Baik Kiai..” sahut Swandaru tidak sabar.

    Kiai Gringsingpun kemudian melangkah maju. Perlahan-lahan dan hati-hati. Ternyata para penjaga itupun belum melihatnya.

    Untuk menghindari kesalah pahaman, maka Kiai Grinsing itupun terbatuk-batuk kecil. Sehingga dari tempat yang terlindung ia mendengar seseorang menyapanya, ”He, Siapakah itu ?”

    ”Ah..Aku Tanu Metir”

    ”Oh.” terdengar seseorang berdesah, ”Kenapa Kiai bearda di situ?”

    Kiai Grinsing tidak segera menjawab. Bahkan ia masih juga terbatuk-batuk

    • pergantian musim rawan flu ..

  17. wah sedih rasanya ndak bisa mbaca kelanjutannya, aku dah coba buka pakai adobe reader tetep aja ndak bisa, padahal aku juga sudah coba download tapi hasilnya ya tetep.
    Hik…hiks say good bay.

    D2: Kasihan… Jangan buka pake adobe, Sen. Ini adalah file djvu, jadi buka pake djvu reader. Udah instal, kan? (ambil tuh di halaman download). Sebelum dibuka, ubah ekstensinya menjadi djvu. Caranya lihat komentar orang lain di bawah.

  18. kok berubah… kenapa ga seperti yang dulu2, tinggal buka langsung baca ato di blog-nya bos rizal yang sekarang entah kemana ….

    D2: Sekarang kan tinggal simpan, baca… beda dikit doang.

  19. usul mas dd
    saya cocok jg cara ini krn emang cepet dan gampang klo ikutan retype. Tapi gimana kalo ditaruh di halaman download aja , jadi yang di halaman utama tetep yang hasil retype.

  20. Halaman 78 jilid 19
    —–
    Semakin dekat dengan mereka Kademangan Sangkal Putung, maka hati merekapun menjadi berdebar-debar. Mereka tidak melihat sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Mereka tidak melihat kelainan daripada biasanya. Kalau terjadi sesuatu atas Kademangan itu, maka mereka pasti melihat suatu perubahan apapun. Mereka masih melihat lampu-lampu yang sinarnya kadang-kadang meloncat dari celah-celah dinding rumah. Di mulut lorong mereka masih melihat sebuah pelita yang menyala.

    Tiba-tiba Swandaru memperlambat jalannya sambil menarik nafas dalam-dalam. “Hem, Ternyata Sangkal Putung tidak mengalami sesuatu”.

    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab “Begitulah agaknya”.

    “Kalau begitu, sejak kini aku akan berjalan lambat-lambat. Bukankah kita tidak perlu tergesa-gesa”.

    “Ah kau”, sahut Agung Sedayu, “akulah kini yang tergesa-gesa. Bukankah kau masih ingin berburu?”

    Swandaru tertawa. Tetapi tiba-tiba ia menguap. “Aku tidak terlalu lelah tetapi aku mengantuk”.

    Namun mereka tidak lagi merasa gelisah. Apalagi ketika mereka sudah memasuki padesan. Namun agaknya Swandaru ingin mengejutkan orang-orang di Kademangan, karena itu katanya, “Marilah kita tidak melalui jalan. Kita membuat kejutan bagi orang-orang Kademangan”.

    Kedua kawan-kawannya tidak membantah. Kiai Gringsingpun menuruti saja kemauan muridnya yang aneh itu. Tetapi ketika mereka memasuki halaman Kademangan lewat belakang, mereka benar-benar terperanjat. Ternyata Kademangan itu benar-benar tidak seperti biasanya. Bahkan lamat-lamat Swandaru mendengar tangis perempuan. Tangis ibunya.

    Mereka berempat itupun tertegun sejenak. Suara tangis yang lamat-lamat itu masih mereka dengar. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun tak seorangpun yang tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi.

    Menilik tanda-tanda yang mereka jumpai disepanjang jalan, mereka sama sekali tidak melihat bekas-bekas keributan. Dari tempat mereka menyelinap di antara pepohonan sambil meloncat-loncat di antara dinding-dinding halaman, mereka melihat gardu-gardu peronda masih juga seperti biasanya. Memang mereka melihat kesiapsiagaan yang agak lebih ketat dari kebiasaan. Tetapi mereka menyangka bahwa keadaan sekedar meningkat menjadi lebih genting, tetapi belum

  21. ini buku 19 halaman 79

    (dari halaman 78)…Terlambat.

    Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini ….. (dst. Udah diambil Ki Demang)

  22. Halaman 79 jilid 19
    —————-

    terlambat.

    Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini.

    “Agaknya memang telah terjadi sesuatu” bisik Swandaru.

    Agung Sedayu mengangguk, “Ya”.

    “Tetapi tidak ada tanda-tanda yang kita temui” sahut Sutawijaya.

    Merekapun kemudian terdiam. Ketika mereka berpaling kepada Kiai Gringsing, orang tua itupun sedang termenung.

    “Bagaimana Kiai?”

    Kiai Gringsing menggeleng, “Aku tidak tahu. Marilah kita lihat.”

    “Sebenarnya aku ingin bermain-main. Aku ingin mengejutkan orang-orang di Kademangan. Diam-diam aku ingin tidur, sehingga besok page mereka pasti terkejut melihat kami di pendapa atau di gandok wetan. Tetapi agaknya kita harus berbuat lain.”

    “Agaknya kita tidak sedang menghadapi persoalan yang dapat dibawa untuk bergurau” gumam Kiai Gringsing, “marilah jangan terlampau lama.”

    Ketiga anak-anak muda itupun kemudian mengikuti langkah Kiai Gringsing. Mereka tidak agi berkata apapun. Kiai Gringsing benar-benar sedang berpikir. Kalau saja Kiai Gringsing menjadi gelisah, maka persoalan yang mereka hadapi pasti bukan sekedar persoalan yang ringan.

    Memang sekali-sekali Swandaru hanya menganggap bahwa ibunya pasti sedang sakit gigi. Sebab baik di setiap sudut penjagaan maupun di halaman itu sendiri mereka tidak melihat kekhususan yang menyolok. Tetapi anggapan itu tidak diyakininya sendiri. Setiap kali dadanya terasa berdesir, semakin lama menjadi semakin tajam.

    Mereka terhenti ketika mereka melihat dua orang berjalan di bagian belakang halaman itu. Supaya tidak menimbulkan kegaduhan maka merekapun berhenti dan menyelinap di balik pepohonan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat begitu terlalu lama, sebab kedua orang itu ternyata menuju ke tempat yang agak terlindung. Pada saat itulah baru mereka mengetahui, bahwa yang di sudut yang gelap itu ternyata telah diadakan suatu penjagaan.

    Penjagaan di tempat itu tidak pernah ada sebelumnya. Penjagaan …

  23. nyuwun ngapunten..
    mau usul nyeleneh nih (untuk mempercepat retype)..

    gimana kalo situs ini dijadikan situs berbayar 😦
    maksudnya bayarnya pake retype. jadi siapa yg mau akses situs secara penuh harus retype dulu.
    Tapi untuk memberikan kesempatan yg luas bagi semua orang untuk dapat mengagumi karya besar ini, dibuka akses terbatas.
    Kamsudnya begini.. misalnya yg udah di retype jilid 1-20, maka yg tidak retype hanya bisa akses jilid 1-15. kalo retype nambah jadi 1-30, maka yg tidak retype hanya bisa buka 1-23.
    trus untuk mengapresiasi peran serta pasukan retype, juga diberikan hak akses pada image.

    nyuwun ngapunten lho

    D2: Gimana kalau kolaborasi retyping, dimana bahan yg sedng diretype bisa diedit oleh pengunjung dan yg sudah kelar diboyong ke halaman buku? Cuma belum tahu teknisnya. Ada usul?

  24. wah.. wah.. seru jg nih.. selalu ada pro n kontra.. tp gk apa-apa, malah bagus, bebas berpendapat, semua punya hak yang sama, yg penting tetep jaga semangat tepa selira ya Mas-mas..
    Aku sendiri setuju dg usulannya Mas DD,.. lebih enak begini, n selajutnya klo sudah di retipe baru di tayangkan online…
    Aku jg salut sama Mas DD, saya pikir Mas sudah pikirkan matang-matang bgimana bagus nya… jadi apapun hasilnya ya nanti kita liat aja gimana.. namanya jg rencana..
    Mengenai klo dibikin kya wiki.. semua orang bisa urun rembuk itu mesti hati-hati lho Mas.. soalnya kita kan tetep mau jaga keorisinilan karya SH.M ini…
    sepertinya tetap harus Mas DD tau team Master untuk finalisasinya.

  25. hmm… aku sih nangkep idenya Mas DD.. aku usul… gimana kalo ada 2 sesi utama di blok ini… satu yg sudah final.. dan satu lagi yang untuk gotong royong ngolah.. n bisa dibuat kya wiki gitu…
    masalahnya aku sendiri sebenernya jg gk ngerti teknisnya blog…

  26. sepertinya di wp bisa deh dibuat hak akses beda-beda. bahan image di upload, (dg terpisah-pisah 5 halaman) trus yg bagian retype bisa edit bahan tersebut dibawah image. begitu kelar, bagian si admin utk nge”publish” sehingga bisa dibaca umum. (menangkap ide mas yuwana said ttg 2 sesi)
    jadi kolaborasinya tetap di sini aja..
    piye mas dd dan mas nindityo?

    D2: Aku setuju. Bagaimana kalau Mas Mbodo buatkan halaman contoh (Misal untuk buku 19). Nanti halaman image bisa aku siapkan.

  27. wah…,nampaknya sdh pd berbulat tekad untuk ganti djvu ni….,iyalah…smoga tambah sukses aja wis…, cm sayang ya…sekarang hanya bs diakses melalui komputer…,da yg tau gak gmn caranya agar bs di bc pakai hp…,hiiks…atau cm sy aja x ya yg bcnya pakai hp…jelek lg….

    • saya malah pake kalkulator 😀 tapi cakep loh

  28. aku pakai linux. bisa nggak ya djvu ini di download.

    • bisa, pake aja evince (jika pake gnome biasanya evince dah terpasang, jika belum ya install dulu dong), bisa juga pake djview ato jika mau yang bisa buat ngedit djvu pake aja djvusmooth

  29. Wah.. paling banyak respon di halaman 19 dst.. matur nuwun, kebetulan aku coba sekali dan OK.. eh tapi dipandu sm anakku nding.. Mumet..!
    Salut, memang hrs belajar terus meski estewe..
    Salam

  30. oops sorry,
    moderator saya dah setor tuh buku 19 halaman 52-56, tapi tak kirim ke “RETYPE (IN PROGRESS)”

    D2: Gpp. Tx

  31. tolong dibantu, setelah di dowmload stdu viewer tetap tidak bisa buka https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu. mau save file apanya yang harus disave. terima kasih

    D2: Klik kanan, save as. Untuk membukanya, ganti ekstensi pdf menjadi djvu.

  32. terima kasih mas dhe dhe, btw setelah diganti sekarang muncul perngatan kesalahan dipilih don’t send eh malah hilang kenapa ya ?
    terima kasih

  33. Maaf lahir batin buat semua adbm’ers. Sorry telat ngucapinnya, baru sempat setelah mudik dan jauh dari koneksi internet.

    to bro DD: bisa ngga kalo file djvu-nya juga di upload di tempat lain selain di file section-nya wordpress? misal di rapidshare, megaupload or 4shared? sepertinya bandwidth dowload dari WP terlalu kecil, jadi agak lama downloadnya. cuma usul aja lho.

    thanks.

  34. Saya berharap bisa baca lagi seperti model yg dulu karena bacanya pakai hp. Saya dikampung untuk ke warnet jauh dan mahal klo pakai hp murah dan efisien, jadhi tolong kembali ke format awal 😥

  35. Wah mas, sy blm bisa jg buka yg “adbm-jilid-019”
    Coba klik (https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.pdf) ditunggu lama gak ada penampakan apa2.
    Trus diganti (https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu) metu tulisan ngene “404 — File not found”
    Padahal wis donlod DJView.
    Opone sing salah mas

    D2: Yang model konvensional kan udah lengkap diaplod…

  36. Mas DD, sekedar info, Buku 19 kayaknya kurang di halaman depan, belum masuk tuw disini…(hal 7-10 di buku asli)… mungkin udah ada yg ngeproof tapi kelewat n belum ditayangin….trims

  37. tambahan juga: hal 32 – 34 buku asli juga kelewat… thanks

  38. nuwun sewu keparenga kulo matur menawi cariosipun sajakipun kapunggel ing bab tarungipun Danang Sutowijoyo mangsah Daruko nyuwun priso sababipun
    Matur sembah sewu nuwun
    Ki Ageng Penataran .

  39. Lega, bisa baca cerita Jawa lagi. Thank to ALL

  40. Gimana nih cara download versi djvu-nya? Aku cari2 yang ketemu kok cuman versi retype. Aku suka format djvu karena bisa nostalgia seakan-akan pegang buku aslinya yg dulu pernah aku baca. Aku sendiri masih menyimpan buku aslinya cuman sudah ada yang ilang lumayan banyak. Saran: Kalau bisa download versi djvu-nya ada yang dibikin 100 buku perbundel. Jadi dengan 4 kali download bisa kesedot semua. Thanks…!

    • Versi DJVU clue-nya bisa didapat via poro cantrik.

  41. Clue-nya bisa didapat via komentar poro cantrik.

    • Mampir njihh Ki Truno……Sugeng enjing !

  42. aku gak bisa donlot DjVu reader. padahal dah ngeklik dari forum download di blog ini. tapi koq yo ra gelem mbuka. piye iki?????

  43. Hikksss,
    mau nemu lading, neng gagange ana tulisan :
    Ya-suku, Da-nglegena
    Pa- pepet layar, Ma-nglegena, Na-nglegena.

    Apa kagungane Ki Menggung ya….????

    • nemu nang endi ki, tak melu leles 😀

      • ndek pinggiran lendhut benter Ki.

        • Ki Gembleh kados pundi kabaripun?
          Kula nggih saking tlatah lendut benter lho.
          menawi badhe tilik gandhok gagak seta, kula sampun nyobi nglanjutakaen ADBM wonten ing “terusan ADBM” gagak seta.
          monggo Ki, menawi badhe mampir, kula tenggo.
          matur suwun
          mbah_man

          • sugeng ndalu mbah mandaraka,
            nuwun sewu (seket ewu nggeh mboten nolak) nderek tangled, tindak terusan adbm nika nitih andong jurusan pundi ?
            mbok diparingi edres lengkap rt/rw-ne to mbah

  44. matur nuwun Ki Patih
    mbah_man_daraka
    tak nyusul numpak bison……werrrrrr…..

    • waduuuh ditinggal ijen ngeneki piye jal

      • sugeng enjing Ki Abdus Syakuur.
        badhe tindak gandhok terusan adbm saking mriki nggih saget, klik mawon Gandhok Gagak Seta, mangke sampun saget pinanggih gandhok terusan adbm.
        menawi saking daleme mbah google, diketik mawon terusan adbm, mange muncul “terusan Adbm gagak seta” langsung mawon mlebet, mentrik ipun ayu2 lan kenes2 hehehe

  45. Test…..

    .Ji.Nem.Ji.Nem .Mo.Lu… 😐

    • wis isok ki 😀

      • tes…..tes-teeeeeeessss,

        nuwun sewu, cantrik dherek tes-tes……teeeeesssss

        • hep,

          lancar…..ra no rintangan……!!!!

          • tumut

            mo nem ji ro ro nem ro , ji ji ro ji ji ro ji

            siip lah …..

            • iling pak raden …
              sol do iwak kebo …
              re mi fa sol iwak …

              • botol …..

                • kwkwkwkkkk temanggung udane deres

                  • wah mesakke sing dho diudani niku , maksude sing ra nggowo payung ….

  46. raiso…. jadi males nih ! (mutung mode ON)

    • Lho..lho..kenapa nih… 🙂
      anak macan koq lutung..eh..mutung 😀

      • Ra nganggo sarung ayake ??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: