Buku 19

“Pergilah. Terima kasih bahwa kau mau mendengarkan pesanku. Pesan seorang pengawal Kademangan Sangkal Putung. Jangan lupa, sebut kami satu persatu di hadapan Sidanti. Aku, adikku yang bertubuh sedang dan berwajah tampan seperti topeng Panji, yang satu gemuk bulat seperti kelapa. Kau telah mengenal nama-nama kami. Karena itu, maka ……..”

“Cukup! Kau menjadi besar kepala karenanya. Tetapi akan datang saatnya, kepalamu itu aku penggal kelak.”

Argajaya tidak menunggu jawaban Sutawijaya. Segera ia memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan arena dengan tergesa-gesa. Tetapi ia tertegun ketika ia mendengar Sutawijaya berkata, “Tunggu. Kau kelupaan tombakmu. Kalau tombakmu itu memang sebuah pusakan sipat kandel dari Tanah Perdikan Menoreh, bawalah. Mungkin akan berguna bagimu.”

Mata Argajaya menjadi merah, semerah darah. Giginya gemeretak dan tubuhnya bergetar. Tetapi ia melangkah cepat-cepat kea rah tombaknya yang tergolek di atas pasir tepian.

“Anggaplah tombak itu sebuah kenang-kenangan daripadaku,” barkata Sutawijaya.

Argajaya berpaling pun tidak. Ia berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat itu. meskipun demikian, meskipun ia meninggalkan lawannya, namun sebenarnya di dalam hati Sutawijaya mengakui kejantanan lawannya itu. sikapnya yang pantang menyerah dalam keyakinannya, meskipun ujung tombak telah melekat di lambungnya. Tetapi orang yang demikian, pasti benar-benar akan melakukan kata-katanya yang diucapkan sebagai janji untuk melepaskan dendamnya kelak apabila ada kesempatan.

Semua mata memandang langkah Argajaya yang tergesa-gesa itu, yang kemudian disusul oleh kedua pengiringnya dari Mentaok. Kesan keberanian dan keteguhan hatinya masih terasa di dalam hati orang-orang yang berdiri di tepian itu. Bahkan Agung Sedayu bergumam di dalam hatinya, “Seperti Sidanti. Keras hati. Namun nalarnya kadang-kadang terdesak jauh ke belakang, sehingga orang itu kurang memikirkan akibat dari perbuatannya.”

Belum lagi Argajaya itu jauh, terdengar prajurit yang datang bersamanya menggeram, “Perbuatanmu tidak dapat lagi dimaafkan. Kalau kelak Sidanti itu benar-benar datang kemari, maka kami adalah saksi yang akan dapat mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi.”

“Sidanti tidak akan datang kemari,” jawab Sutawijaya.

“Apakah kau pasti?” bertanya prajurit itu.

“Sidanti tidak lagi berada di Sangkal Putung.”

“Bohong! Salah seorang dari kami akan menghadap ke Sangkal Putung. Ki Untara harus mendengar bahwa pimpinan kami di sini telah berbuat kesalahan dengan membiarkan kalian membuat onar di Kademangan Prambanan. kalian bersama pimpinan kami itu harus ditangkap.”

Pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya itu pun segera memotong, “Kalianlah yang telah memberontak. Aku masih tetap pimpinan di sini. Aku pun dapat mengatakan apa yang telah terjadi dan orang-orang yang berdiri di sini yang semalam melihat apa yang terjadi di banjar desa akan menjadi saksi.”

“Baik. Kita lihat, siapakah yang akan dipercaya oleh pimpinan kita di Sangkal Putung.”

Tiba-tiba Sutawijaya itu pun tertawa. Katanya, “Kalian terlalu percaya bahwa Sidanti akan dapat memberimu perlindungan. Tetapi sudah aku katakana, kami tidak takut kepada Sidanti. Kami tidak takut pula seandainya Ki Untara mempercayai kata-katamu. Bahkan kami tidak akan takut seandainya Panglima Wira Tamtama sendir datang kemari.”

Para prajurit itu pun terkejut mendengar kata-kata itu. Prajurit yang berpihak kepadanya pun terkejut. Sejenak ia terbungkam sambil memandangi anak muda yang masih menggenggam tombak di tangannya itu.

Sutawijaya melihat wajah-wajah yang menjadi semakin tegang. Tetapi ia masih saja tertawa dan berkata, “Aku berkata sebenarnya. Tidak ada seorang pun yang akan dapat berbuat sesuatu atas kami. Tetapi sebaliknya, kami akan dapat mengatakan apa yang telah terjadi di sini kepada siapa pun yang akan datang kemari. Ki Untara, Ki Penjawi, Ki Juru Mertani, atau Ki Gede Pemanahan sendiri.”

Yang mendengarkan kata-kata itu menjadi semakin tidak mengerti. Bahkan para prajurit yang berpihak kepada Argajaya menganggap bahwa anak muda itu sebenarnya anak yang tidak tahu adat. Karena itu maka pemimpinnya pun berkata, “Nah, semua orang telah mendengar kata-katamu. Kau benar-benar tekah menghina Wira Tamtama. Sedang pemimpin kami yang bertanggung jawab di sini masih saja diam mematung.”

Pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya itu pun menjadi heran mendengar kata-kat Sutawijaya. Kata-kata itu sendiri telah dapat digolongkan pada suatu tindakan yang kurang pada tempatnya. Kata-kata itu sebenarnya memang menyangkut nama Wira Tamtama dan apalagi panglimanya. Karena itu, maka sejenak ia terdiam. Dicobanya untuk mencernakan apa yang telah dilihatnya dan apa yang telah didengarnya.

“Aku sama sekali tidak menghinanya. Aku justru mempercayai mereka, para pemimpin Wira Tamtama. Baik yang berada di Prambanan, baik yang berada di Sangkal Putung maupun yang berada di Pajang. Aku memang tidak takut seandainya mereka datang bersama-sama kemari, sebab mereka pasti dapat membedakan mana yang baik dan mana yang salah,” berkata Sutawijaya.

Pemimpin prajurit yang datang bersamanya tiba-tiba menganggukkan kepalanya. Katanya, “Benar, kau benar anak muda. Orang yang yakin akan kebenarannya tidak perlu takut menghadapi apapun, apalagi mereka yang tegak pada keadilan. Aku pun percaya bahwa para pemimpin itu akan mempertahankan keadilan yang selurus-lurusnya.”

“Persetan!” sahut pemimpin yang lain. “Kalian adalah orang-orang yang memang pandai berbicara. Tetapi marilah kita lihat apakah yang akan terjadi kelak.” Kemudian kepada kawan-kawannya ia berkata, “Marilah kita tinggalkan tempat ini.”

“Tunggu,” cegah Sutawijaya. “Persoalan kalian belum selesai. Dengan demikian, maka di Prambanan kini masih ada dua pimpinan prajurit yang merasa masing-masing berkuasa. Pimpinan yang sebenarnya dan pimpinan bayangan.”

“Akulah yang memegang pimpinan sekarang. Semua prajurit di Prambanan tunduk kepadaku.”

“Tidak!” sahut yang datang bersama Sutawijaya. “Aku tetap pimpinan di sini. Siapa yang tidak tunduk pada perintahku, kepadanya akan dapat dikenakan hukuman.”

“Omong koaong! Jangan hiraukan. Mari kita pergi.”

Tetapi ketika mereka sudah mulai bergerak untuk meninggalkan tempat itu, kembali mereka tertegun karena Sutawijaya berkata, “Aku hanya mengakui pimpinan yang seorang, yang datang bersamaku. Bukan karena ia membenarkan sikapku, tetapi karena ialah yang menerima kekuasaan dalam jabatan itu. setiap pelanggaran atas perintahnya, berarti pemberontakan yang akan ditindak.”

Wajah pemimpin prajurit yang lain menjadi merah menyala. Dengan kasarnya ia berkata, “Apakah hakmu berkata demikian, he anak Sangkal Putung. Prambanan bukan bawahan Sangkal Putung, meskipun kebetulan pemimpin kami berada di sana. Tetapi kami hanya bertanggung jawab kepada Ki Untara. Kalau kau tidak mau mengakui kami, kami tidak berkeberatan. Tetapi sebenarnya bahwa kami ingin menangkap kalian dan mengikat di halaman banjar desa.”

Prajurit itu tidak berpaling ketika Sutawijaya berkata, “Tunggu.”

Beberapa prajurit yang lain pun segera mengikutinya. Tetapi langkah mereka pun tertegun-tegun. Agaknya mereka sedang membicarakan sesuatu. Sekali tampak mereka berpaling ketika anak-anak muda yang datang bersama mereka pun telah bergerak pula. Hanya Ki Demang-lah yang masih saja berdiri mematung.

Tetapi mereka pun terkejut ketika para prajurit itu berhenti dan tiba-tiba saja mereka berlari berpencaran kembali mengelilingi arena dari arah yang berbeda-beda.

Yang terjadi itu berlangsung terlampau cepat. Sutawijaya tegak di tengah-tengah arena itu dengan hati yang berdebar-debar, sedang Agung Sedayu sejenak menjadi seakan-akan membeku. Mereka menyadari apa yang akan dilakukan oleh para prajurit itu, tetapi mereka tidak segera menemukan cara untuk mengatasinya.

“Aku tidak menyangka bahwa mereka segila itu,” desah Sutawijaya di dalam hatinya.

Sejenak kemudian terdengar pemimpin prajurit yang seorang, yang datang bersama Argajaya berteriak, “Demi tegaknya tanggung jawab para prajurit Pajang di Prambanan, marilah kita tangkap anak setan itu. he, para pemuda Prambanan, jangan tidur, kau pun telah mendapat penghinaan dari orang itu.”

Tiba-tiba para pemudanya pun bergerak. Semula mereka berdesak-desakan saja, namun kemudian sebagian dari mereka segera memencar setelah mereka menyadari maksud gerakan para prajurit itu. Dengan demikian mereka menghindarkan diri mereka sejauh-jauh mungkin dari anak panah Agung Sedayu dan Swandaru, karena mereka terpencar-pencar. Para prajurit itu mengharap, bahwa mereka dapat membuat gerakan-gerakan yang dapat membingungkan Agung Sedayu dan Swandaru. Agung Sedayu dan Swandaru pasti tidak akan mungkin lagi memanah mereka dalam sekejap dan melepaskan anak panah yang kedua sekejap kemudian, atau dengan mata terpejam mengarah kepada sekelompok orang.

Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, pemimpin prajurit yang lain, dan beberapa orang kini terkepung oleh sebuah lingkaran yang terdiri dari para prajurit Pajang di Prambanan beserta beberapa anak-anak muda. Anak-anak muda itu bergerak saja seperti kena pesona, karena hubungan mereka yang rapat dengan para prajurit itu. Ki Demang pun tiba-tiba bergerak pula bersama dengan mereka.

“Jangan berbuat sesuatu yang tidak akan ada gunanya,” ancam pemimpin prajurit itu. “Kalian telah terkepung. Meskipun kalian bertiga seorang-seorang menang dari orang-orang Menoreh, tetapi jangan mimpi untuk dapat melawan kami semuanya ini.”

“Kalian benar-benar gila!” teriak pemimpin prajurit yang berada di dekat Sutawijaya. “Uraikan kepungan ini!”

“Tidak!”

“Demi kekuasaan Wira Tamtama yang berada di tanganku.”

“Tidak! Menyerahlah!”

Gigi pemimpin prajurit itu pun gemeretak. Kini pedangnya tergenggam erat di tangannya. Sedang para prajurit di luar lingkaran itu pun telah menggenggam senjata masing-masing pula.

Suasana segera meningkat semakin tegang. Orang-orang tua yang berdiri di dalam kepungan menjadi ketakutan dan gemetar. Tetapi pemimpin prajurit yang memimpin pengepungan itu berkata, “Siapa yang tidak turut dan tidak ingin melibatkan dirinya, segera keluar dari kepungan ini, kecuali empat orang yang akan kami tangkap.”

Beberapa orang kemudian tersuruk-suruk berjalan ke luar lingkaran dengan tubuh yang menggigil karena ketakutan. Satu-satu mereka menghilang ke belakang kepungan, sehingga orang-orang yang berada di dalam itu pun susut dengan cepatnya.

Tetapi ternyata tidak semua orang berlari ke luar lingkaran. Ketika tidak seorang pun lagi yang bergerak, maka tampaklah dengan jelas, siapa-siapa yang kini berdiri berseberangan. Yang masih tinggal di dalam lingkaran itu, ternyata bukan saja Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, dan pemimpin prajurit yang seorang, tetapi di dalam lingkaran itu berdiri Haspada, Trapsila, dan beberapa pemuda yang lain. Meskipun mereka tidak bersenjata panjang, tetapi mereka dapat menduga, bahwa sesuatu akan terjadi. Ternyata di dalam baju mereka terselip sebilah keris. Ketika keadaan meningkat menjadi semakin tegang, meka hulu-hulu keris itu pun telah tersembul dari dalam baju-baju mereka.

Dada Sutawijaya menjadi semakin berdebar-debar melihat peristiwa itu. Apakah benar-benar akan terjadi pertumpahan darah di tepian Kali Opak itu?

Tiba-tiba udara digetarkan oleh suara tertawa berkepanjangan. Ketika semua berpaling kea rah suara itu, mereka melihat Swandaru masih saja tertawa sambil mamandang pemimpin prajurit yang berdiri di lingkaran, siap dengan senjata di tangan.

“Hem,” berkata Swandaru, “kalau kalian bersungguh-sungguh, maka sudah barang tentu bahwa kami tidak akan mempergunakan anak panah ini. Sebenarnya kami tidak senang berkelahi dengan anak panah. Kalau aku berhasil membinasakan lawan dengan anak panah, aku sama sekali tidak mendapat kepuasan karenanya. Aku lebih senang membelah dada lawanku dengan pedangku ini.”

Swandaru kemudian dengan tenangnya meletakkan busurnya, melepaskan busur Sutawijaya di punggungnya, dan seolah-olah sedang melepaskan pakaiannya untuk mandi saja, anak yang gemuk bulat itu melepas tali-tali endong anak panahnya.

Para prajurit Pajang, beberapa anak-anak muda yang berdiri mengepungnya dan bahkan anak-anak muda yang berada di dalam kepungan, menjadi heran melihat ketenangan sikapnya. Orang-orang yang berdiri mengancamnya dengan senjata di tangan itu seakan-akan sama sekali tidak mempengaruhinya. Namun ketenangan Swandaru itu telah membuat para prajurit Pajang bertanya-tanya di dalam hati dan membuat anak-anak muda Prambanan menjadi gelisah.

Dengan tenang pula tangan kanannya kemudian menarik hulu pedangnya yang terbuat dari gading dan kini berjuntai seutas tali yang kekuning-kuningan. Ketika pedang itu kemudian menjadi telanjang, maka tampaklah pedang itu adalah sebilah pedang yang panjang.

Dengan nada yang tinggi Swandaru itu pun berkata, “Apakah kita benar-benar akan berkelahi?”

Sutawijaya dan Agung Sedayu melihat sikap itu dengan cemas, apalagi ketika kemudian mereka melihat wajah-wajah para prajurit Pajang itu pun menjadi semakin tegang.

Tanpa berjanji maka Agung Sedayu dan Sutawijaya itu pun saling berpandangan. Seakan-akan mereka saling bertanya, apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Ternyata yang merayap di dalam hati mereka serupa. Mereka mencemasakan keadaan di sekitarnya. Bukan karena mereka cemas tentang nasib mereka masing-masing, tetapi mereka mencemaskan nasib anak-anak muda Prambanan. kalau terjadi perkelahian di pinggir Kali Opak ini maka korban yang paling banyak adalah anak-anak muda itu. Sebagian dari mereka sama sekali tidak bersenjata. Tetapi terbakar oleh darah mudanya, maka mereka akan menjadi mabuk keberanian tanpa perhitungan. Dalam perkelahian yang demikian, maka kemungkinan jatuhnya korban adalah besar sekali. Mereka sendiri pasti tidak akan dapat menjamin, bahwa senjata-senjata mereka tidak akan menyentuh tubuh lawan.

Sebelum menemukan sesuatu cara yang sebaik-baiknya mereka mendengar pemimpin prajurit yang melingkari mereka itu berkata, “Ternyata kalian benar-benar melawan perintah kami. Bahkan ada beberapa anak-anak Prambanan sendiri yang mencoba menentang kami pula. Aku memberi kesempatan terakhir kepada anak-anak muda Prambanan. Haspada, Trapsila dan kawan-kawannya. Tinggalkan orang-orang itu, supaya kami dapat segera menagkapnya tanpa membuat korban anak-anak muda Prambanan sendiri.”

Haspada memandang wajah prajurit itu dengan sorot mata yang menyala. Tiba-tiba ia menjawab, “Aku sudah jemu melihat tingkah lakumu. Bagi Prambanan sebenarnya lebih baik apabila kalian pergi saja. Mungkin kami memerlukan perlindungan dari para prajurit Pajang, tetapi bukan prajurit semacam kalian.”

Kemarahan prajurit-prajurit Pajang itu kini telah memuncak. Segera mereka bergerak maju, sehingga lingkaran itu pun menjadi semakin sempit.

Sutawijaya masih belum bergeser dari tempatnya, sedang Agung Sedayu masih menggenggam anak panah pada busurnya. Hati mereka pun menjadi semakin cemas melihat perkembangan keadaan. Tetapi mereka menyadari, bahwa mereka tidak dapat untuk sekedar mencemaskannya saja tanpa berbuat sesuatu.

Ketika lingkaran itu menjadi semakin menyempit, maka anak-anak muda Prambanan di dalam lingkaran itu pun segera bersiap pula. Di tangan mereka kini tergenggam keris masing-masing. Dengan wajah tengadah mereka menghadapi para prajurit yang menggenggam pedang di tangannya. Sedang pemimpin prajurit yang berpihak pada Sutawijaya pun berdiri dengan mata menyala. Sambil mengacung-acungkan pedangnya ia berkata, “Apa pun yang kalian lakukan, maka kalian tidak akan dapat mengingkari pertanggungan jawab.”

“Justru karena aku tidak mengingkari pertanggungan jawabku maka aku berbuat, menangkap kalian, mengikat di halaman banjar desa, minta maaf kepada tamu-tamu kami dan kemudian menyerahkan kalian kepada Ki Sidanti atau Ki Untara.”

Tiba-tiba kembali terdengar suara tertawa menggeletar. Kali ini Sutawijaya-lah yang tertawa. Suara tertawanya itu pun telah menarik perhatian pula, sehingga segenap mata seakan-akan tertumpah padanya.

“Apakah kira-kira yang akan kau katakan kepada Ki Untara?” terdengar Sutawijaya itu bertanya. Ia ingin mencoba untuk mengurungkan perkelahian itu. Tak ada jalan yang dapat ditempuhnya selain yang sedang dicobanya itu. Tetapi kalau gagal, maka ia tidak tahu, apakah akibatnya. Terasa sejak lama, sejak ia bertempur melawan Argajaya, penyesalan merayapi hatinya. Apalagi kini, pertentangan itu seakan-akan semakin menjadi-jadi.

Prajurit yang memimpin pengepungan itu menjawab kasar, “Aku akan melaporkan apa yang pernah kalian lakukan di sini.”

“Apakah Ki Untara dapat mempercayaimu?”

“Ada berpuluh-puluh saksi di sini. Ki Demang Prambanan ini pun akan dapat menjadi saksi pula.”

Kembali Sutawijaya tertawa. Katanya, “Lalu apakah yang akan dilakukan oleh Untara itu kira-kira?”

“Kalian akan diserahkan kepada kami. Dan kami akan mencincang kalian di halaman banjar desa.”

“Kalau kau berani mencincang anak itu,” berkata Sutawijaya sambil menunjuk Agung Sedayu, “maka leher kalianlah taruhannya.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia berkata hampir berteriak, “Pengecut, kalian mencoba mencari jalan untuk menyelamatkan diri.”

“Tidak. Kalau kau tidak percaya, pergilah ke Sangkal Putung. Bukan saja Untara berada di sana kini. Tetapi Panglima Wira Tamtama pun berada di sana pula. Kalau kalian ingin memanggilnya, maka aku akan menunggu mereka itu di sini. Untara dan Panglima Wira Tamtama itu.”

Sebelum mereka menjawab, kini tertawa Swandaru-lah yang terdengar memenuhi udara. “He,” katanya, “apakah kau akan mengatakan bahwa Agung Sedayu itu tak akan dihukum oleh Untara.”

Agung Sedayu berpaling ke arah adik seperguruannya. Tetapi ia pun tahu maksud Sutawijaya. Agaknya adi seperguruannya yang tidak begitu senang menggunakan otaknya, karena ia lebih senang mempergunakan perasaannya, kini menyadari keadaan yang gawat itu. Sehingga dengan demikian maka baik Sutawijaya maupun Agung Sedayu tersenyum karenanya.

“Apakah kau tidak ingin berkelahi?” terdengar Sutawijaya bertanya kepadanya.

“Sebenarnya. Tetapi agaknya Tuan akan menutup kesempatan itu dengan cara Tuan.”

“He,” teriak pemimpin prajurit yang mengepungnya, “jangan membuat cara yang aneh-aneh untuk menyelamatkan diri.”

“Kalau Untara datang, maka kami akan selamat. Apakah tadi kau dengar anak muda yang gemuk itu berkata?” bertanya Sutawijaya, “Anak yang berwajah tampan seperti Panji itu adalah adik Untara. Ya, ia adik senapati yang namanya selalu kau sebut-sebut.”

Kata-kata Sutawijaya itu terdengar menggelegar seperti guntur yang meledak di atas kepala mereka. Sejenak mereka terdiam seperti kena pukau yang tajam. Semua mata memandangi Agung Sedayu yang menjadi tersipu-sipu karenanya.

Meskipun demikian pemimpin prajurit yang mengepungnya tidak segera mempercayainya. Dengan ragu-ragu kini ia berkata, “Kau mendapatkan suatu cara yang baik sekali. Memang kami tidak akan berani berbuat sesuatu atas adik Ki Untara, seandainya adiknya benar-benar berada di sini. Tetapi setiap orang dapat menyebut dirinya adik Ki Untara. Bukan saja adik Ki Untara, setiap orang dapat menyebut dirinya adik Panglima Wira Tamtama atau menyebut dirinya putera Ki Gede Pemanahan.”

Suara prajurit itu terputus ketika terdengar meledak suara tertawa Swandaru Geni. Anak itu benar-benar tertawa terkekeh-kekeh sehingga tubuhnya yang bulat terguncang-guncang.

Namun Sutawijaya-lah yang menyahut, “Memang kami tidak akan dapat membuktikannya bahwa anak muda itu adik Ki Untara. Tetapi jangan mencoba memancing pertengkaran. Kalau anak muda itu mengayunkan pedangnya, maka dalam gerakan yang pertama, lima dari kalian pasti sudah terbunuh olehnya. Apalagi anak-anak muda Prambanan yang tidak bersenjata atau yang bersenjata terlampau pendek. Untuk melawan kalian, semua orang yang mencoba mengepung kami, maka Agung Sedayu sendiri akan dapat menyelesaikannya. Apakah kalian tidak percaya?”

Tampaknya wajah-wajah di sekitarnya menjadi bimbang. Beberapa anak muda menjadi pucat dan beberapa yang lain saling berpandangan.

“Persetan!” teriak prajurit itu, “Cara yang sudah lapuk untuk menakut-nakuti lawan. Sekarang kalau kalian ingin perlakuan yang lebih baik, menyerahlah. Aku tidak akan percaya apakah yang akan kalian katakan tentang diri kalian.”

Sutawijaya menarik alisnya. Memang sulitlah untuk membuktikan diri mereka di hadapan orang-orang itu. Tetapi apabila ia tidak berhasil, maka mereka benar-benar akan menyerang dan perkelahian pun akan terjadi. Meskipun beberapa orang prajurit dan anak-anak muda Prambanan itu sama sekali tidak akan menitikkan keringatnya, apalagi dibantu oleh beberapa anak-anak muda Prambanan sendiri justru yang paling kuat di antara mereka, namun setiap korban yang jatuh pasti akan membuatnya menyesal.

Dalam keragu-raguannya itu tiba-tiba terdengar pemimpin prajurit yang mengepungnya berteriak sekali lagi, “Ayo menyerahlah meskipun kau mengaku anak dewa dari langit, atau anak iblis dari dasar bumi.”

“Tidak terlampau jauh,” Sahut Swandaru sambil tertawa, “tebakanmu yang pertama tepat.”

Pemimpin prajurit itu memandanginya sambil menunjuk Sutawijaya, “Apakah ia anak dewa dari langit.”

“Yang pertama.”

Prajurit itu terdiam. Tiba-tiba ia bertanya, “Yang mana?”

“Putra Ki Gede Pemanahan.”

Kembali udara di pinggir kali Opak itu menggeletar oleh jawaban Swandaru itu. Kembali orang-orang yang berdiri di tempat itu diam mematung. Kini pusat perhatian mereka adalah anak muda yang menggenggam tombak di tangannya, yang telah berhasil mengalahkan Argajaya dengan tidak mengalami kesulitan.

Namun kemudian pemimpin prajurit itu berteriak kembali, meskipun terasa bahwa dadanya diamuk oleh kebimbangan, ”Nah. Aku menjadi semakin tidak yakin akan kebenaran kata-kata kalian. Mula-mula salah seorang dari kalian dinamakan adik Ki Untara, kemudian kini yang lain disebut putera Ki Gede Pemanahan. Nah, yang seorang itu, yang gemuk, akan kalian namakan apalagi. Apakah anak yang gemuk itu akan disebut sebagai Putera Sultan Hadiwijaya?”

Swandaru tertawa semakin keras mendengar kata-kata itu. Sehingga beberapa titik air matanya membasahi pipinya yang gembung. Sutawijaya dan Agung Sedayu pun terpaksa tersenyum melihat tingkah lakunya.

Haspada, Trapsila, beberapa anak-anak muda yang berada di dalam lingkaran, beserta pemimpin prajurit yang datang bersamanya, benar-benar membeku melihat tingkah laku ketiga anak-anak muda itu. Sebutan-sebutan yang mereka ucapkan telah mempengaruhi sikap mereka. Tanpa mereka kehendaki, maka tiba-tiba mereka kini semakin memperhatikan wajah-wajah dari ketiga anak-anak muda yang menyebut dirinya Pengawal Kademangan Sangkal Putung.

Wajah Agung Sedayu yang mantap dan tenang. Wajah Sutawijaya yang tajam berwibawa dan wajah gemuk bulat namun memancarkan keteguhan tekad. Ketiganya sudah pasti bukan anak-anak gembala yang kebetulan menjadi seorang pengawal kademangannya.

Tetapi meskipun ragu-ragu, namun pemimpin prajurit yang mengepungnya mencoba untuk tidak terpengaruh kata-kata itu.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 9 Oktober 2008 at 05:27  Comments (76)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-19/trackback/

RSS feed for comments on this post.

76 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wah piye ki, program opo maneh dejavu iku mas, bedo ra karo microsof reader, iso gawat ki rek ra iso neruske moco ADBM, kadung kedanan je. Rodo kuatir ki aku mas. Soale aku ra nduwe program iku. Piye yo…maklum gaptek.

    D2: Jangan khawatir. Hampir sama dengan Adobe Reader koq.

  2. D, aku gak bisa buka adbm-jilid-019.pdf; baik pake djvu atau pun reader yang lain. ada yang gak beres di file-nya?

    D2: Ubah ekstensinya ke .djvu dulu.

  3. CARA BUKA FILE:

    Karena blog kita tidak memberi kesempatan kita untuk aplod file djvu, maka file itu saya ubah ekstensinya dengan pdf (ekstensi lain spt jpg, tiff, dll juga bisa aja), hanya semata2 agar file itu bisa diaplod.

    File harus disave dulu ke komputer Anda. Lalu ubah ekstensi .pdf menjadi .djvu. Jadi adbm-jilid-019.pdf diubah menjadi adbm-jilid-019.djvu dengan cara mengganti .pdf menjadi .djvu

    Lalu buka deh dengan djvu reader.

    O ya, pastikan Anda menginstal djvu reader yang bisa diperoleh di blog ini (check di halaman Download)

    DD

  4. D, makasih. akhirnya aku bisa buka buku 19. aku bersedia retype hal 1-10 dulu. salam

    D2: Thanks juga. Siapa halaman berikutnya?

  5. kasian deh gue…,selama ini hanya bs bc lewat hp,,sekarang gak bisa baca2 lg….

    D2: Tentu masih bisa baca, Mas. Karena konversi ke teks tetap dikerjakan. Tetapi ya itu, tidak secepat penayangan image. Jadi, yang mau baca teks silakan bersabar.

  6. Lha … rak tenen to..??? Aku dah nduga-nduga ..wah kok enuakk tenan gratis menikmati ajo-ojo….. eee lah kok tenan…

    D2: Ojo2 piye Mas Panji? Jangan bikin orang salah tafsir lho.

  7. Mas, aku kok gk bisa download file pdf nya itu ya..
    link yg “adbm-jilid-019”, kalau di klik gk keluar pilihan save… malah pengumuman file not found..
    Gimana ya Mas, untuk ngesavenya?

    • untuk mengklik sebaiknya cemeti dipegang dengan cara terbalik dan gagangnya yang digunakan untuk ndudul link yang bersangkutan, lebih jelasnya bisa menghubungi ki ndul

  8. Sudah ketemu Mas caranya.. harus klik kanan dulu terus save link as…
    btw… ini hasil scanenan tooh Mas.. apakah tidak akan di retipe lg seperti sebelumnya… kok sepertinya lebih enak baca lewat blok ini, dari pada model dejavu gini..

    D2: Proses retype tetap berjalan. Silakan saja yang mau berpartisipasi. Sehalaman2 gak apa2. Hasilnya langsung aja dishout di boks komentar ini. Nanti admin akan mengumpulkannya untuk ditayangkan sebagaimana sebelumnya. Asal jelas aja Jilid berapa halaman berapa.

  9. DD… kalo udah langsun tampil gini rasanya kurang semangat retypenya. sebaiknya hanya pasukan retype saja yg di kasih bahan mentah, seperti kemarin.
    saya rasa kalo pake cara yg sekarang pasukan retypenya lambat laun akan berkurang.
    sebab yg mau ditampilin udah dibaca orang-orang dulu..

    saya daptar retype 10 halaman.
    halaman mana yg belum ada petugasnya ?

    D2: Saya yakin yang ikut retype justru makin banyak. Silakan pilih halaman mana saja. Saya berharap ke depan ada cara yg efisien, semacam wiki yg bisa diedit. Ada usul?

    trim’s

  10. iya ni ms DD…,klo boleh usul mbok kembali sj ke prosedur semula,, sy ko kuatir ni mengarah ke aborsi seperti yg pernah mas sampaikan…,btw ngapunten sing katah,,cm bs kasih comment thok gak bs bantu,,dan smoga aja si tetep langgeng…

    • justru yang penting tu commentnya, masalah mbantu kan sudah ada ki ndul

  11. iya ni ms DD…,klo boleh usul mbok kembali sj ke prosedur semula,, sy ko kuatir ni mengarah ke aborsi seperti yg pernah mas sampaikan…,btw ngapunten sing katah,,cm bs kasih comment thok gak bs bantu,,dan smoga aja si tetep langgeng..
    maturnuwun

  12. Sedikit urun informasi nggih…,
    berdasarkan pengalam pribadi (karena gaptek nih), setelah download adbm-jilid-019.pdf, windows otomatis mengenali sebagai file adobe, setelah diubah extention menjadi djvu tetap tidak bisa dibuka. Setelah dicheck ternyata filenya menjadi adbm-jilid-019.djvu.pdf..weleh..weleh..
    mengubahnya melalui windows explorer>tools>Folders Option>View>HIdes extention for know file types (tanda thick nya dihilangkan)…
    Jika belum jelas silakan buka di http://www.mediacollege.com/microsoft/windows/extension-change.html

    selamat menikmati adbm…salam buat pecinta adbm dari Melbourne…(yang sempat kebat kebit saat membaca ..perlu nunggu 8 tahun untuk baca seluruh jilid adbm dg format retype..)

  13. cara ubah pdf ke djvu gimana??

    • dikasih pewarna aja kan langsung brubah

  14. udah bisa, thx ABDMnya

  15. He eh mas D2, kembali seperti semula saja lah, biar aku bisa langsung baca he…he….tapi ya monggo kerso soalnya saya kan cuma numpang baca, ngapunten sing katah ugi.

  16. DD ini halaman terakhir buku 19

    Jangan di bagian belakang ini berada di samping regol yang telah ditutup mati hanya malam hari apabila keadaan mengkhawatirkan. Sedang penjagaan yang biasa terdapat di tikungan, di gardu, peronda. Sekarang di tempat itu ternyata ada sebuah penjagaan sehingga dengan demikian mereka dapat menduga sesuatu benar-benar telah terjadi.

    Tiba-tiba Swandaru menjadi tidak bersabar lagi. Dengan terbata-bata ia berbisik, ”Kiai, aku akan melihat apakah yang telah terjadi.”
    ”Tunggu.” Cegah Kiai Gringsing. ”Jangan mengejutkan para penjaga yang sedang dalam kesiapsiagaan penuh. Kalau mereka melihat kita berempat, maka meka pasti menyangka bahwa mereka menghadapi bahaya. Dengan demikian, maka kegaduhan pasti akan timbul. Karena itu, biarlah aku sendiri menemui mereka dan mengatakan bahwa kalian telah kembali.”

    ”Baik Kiai..” sahut Swandaru tidak sabar.

    Kiai Gringsingpun kemudian melangkah maju. Perlahan-lahan dan hati-hati. Ternyata para penjaga itupun belum melihatnya.

    Untuk menghindari kesalah pahaman, maka Kiai Grinsing itupun terbatuk-batuk kecil. Sehingga dari tempat yang terlindung ia mendengar seseorang menyapanya, ”He, Siapakah itu ?”

    ”Ah..Aku Tanu Metir”

    ”Oh.” terdengar seseorang berdesah, ”Kenapa Kiai bearda di situ?”

    Kiai Grinsing tidak segera menjawab. Bahkan ia masih juga terbatuk-batuk

    • pergantian musim rawan flu ..

  17. wah sedih rasanya ndak bisa mbaca kelanjutannya, aku dah coba buka pakai adobe reader tetep aja ndak bisa, padahal aku juga sudah coba download tapi hasilnya ya tetep.
    Hik…hiks say good bay.

    D2: Kasihan… Jangan buka pake adobe, Sen. Ini adalah file djvu, jadi buka pake djvu reader. Udah instal, kan? (ambil tuh di halaman download). Sebelum dibuka, ubah ekstensinya menjadi djvu. Caranya lihat komentar orang lain di bawah.

  18. kok berubah… kenapa ga seperti yang dulu2, tinggal buka langsung baca ato di blog-nya bos rizal yang sekarang entah kemana ….

    D2: Sekarang kan tinggal simpan, baca… beda dikit doang.

  19. usul mas dd
    saya cocok jg cara ini krn emang cepet dan gampang klo ikutan retype. Tapi gimana kalo ditaruh di halaman download aja , jadi yang di halaman utama tetep yang hasil retype.

  20. Halaman 78 jilid 19
    —–
    Semakin dekat dengan mereka Kademangan Sangkal Putung, maka hati merekapun menjadi berdebar-debar. Mereka tidak melihat sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Mereka tidak melihat kelainan daripada biasanya. Kalau terjadi sesuatu atas Kademangan itu, maka mereka pasti melihat suatu perubahan apapun. Mereka masih melihat lampu-lampu yang sinarnya kadang-kadang meloncat dari celah-celah dinding rumah. Di mulut lorong mereka masih melihat sebuah pelita yang menyala.

    Tiba-tiba Swandaru memperlambat jalannya sambil menarik nafas dalam-dalam. “Hem, Ternyata Sangkal Putung tidak mengalami sesuatu”.

    Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab “Begitulah agaknya”.

    “Kalau begitu, sejak kini aku akan berjalan lambat-lambat. Bukankah kita tidak perlu tergesa-gesa”.

    “Ah kau”, sahut Agung Sedayu, “akulah kini yang tergesa-gesa. Bukankah kau masih ingin berburu?”

    Swandaru tertawa. Tetapi tiba-tiba ia menguap. “Aku tidak terlalu lelah tetapi aku mengantuk”.

    Namun mereka tidak lagi merasa gelisah. Apalagi ketika mereka sudah memasuki padesan. Namun agaknya Swandaru ingin mengejutkan orang-orang di Kademangan, karena itu katanya, “Marilah kita tidak melalui jalan. Kita membuat kejutan bagi orang-orang Kademangan”.

    Kedua kawan-kawannya tidak membantah. Kiai Gringsingpun menuruti saja kemauan muridnya yang aneh itu. Tetapi ketika mereka memasuki halaman Kademangan lewat belakang, mereka benar-benar terperanjat. Ternyata Kademangan itu benar-benar tidak seperti biasanya. Bahkan lamat-lamat Swandaru mendengar tangis perempuan. Tangis ibunya.

    Mereka berempat itupun tertegun sejenak. Suara tangis yang lamat-lamat itu masih mereka dengar. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun tak seorangpun yang tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi.

    Menilik tanda-tanda yang mereka jumpai disepanjang jalan, mereka sama sekali tidak melihat bekas-bekas keributan. Dari tempat mereka menyelinap di antara pepohonan sambil meloncat-loncat di antara dinding-dinding halaman, mereka melihat gardu-gardu peronda masih juga seperti biasanya. Memang mereka melihat kesiapsiagaan yang agak lebih ketat dari kebiasaan. Tetapi mereka menyangka bahwa keadaan sekedar meningkat menjadi lebih genting, tetapi belum

  21. ini buku 19 halaman 79

    (dari halaman 78)…Terlambat.

    Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini ….. (dst. Udah diambil Ki Demang)

  22. Halaman 79 jilid 19
    —————-

    terlambat.

    Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini.

    “Agaknya memang telah terjadi sesuatu” bisik Swandaru.

    Agung Sedayu mengangguk, “Ya”.

    “Tetapi tidak ada tanda-tanda yang kita temui” sahut Sutawijaya.

    Merekapun kemudian terdiam. Ketika mereka berpaling kepada Kiai Gringsing, orang tua itupun sedang termenung.

    “Bagaimana Kiai?”

    Kiai Gringsing menggeleng, “Aku tidak tahu. Marilah kita lihat.”

    “Sebenarnya aku ingin bermain-main. Aku ingin mengejutkan orang-orang di Kademangan. Diam-diam aku ingin tidur, sehingga besok page mereka pasti terkejut melihat kami di pendapa atau di gandok wetan. Tetapi agaknya kita harus berbuat lain.”

    “Agaknya kita tidak sedang menghadapi persoalan yang dapat dibawa untuk bergurau” gumam Kiai Gringsing, “marilah jangan terlampau lama.”

    Ketiga anak-anak muda itupun kemudian mengikuti langkah Kiai Gringsing. Mereka tidak agi berkata apapun. Kiai Gringsing benar-benar sedang berpikir. Kalau saja Kiai Gringsing menjadi gelisah, maka persoalan yang mereka hadapi pasti bukan sekedar persoalan yang ringan.

    Memang sekali-sekali Swandaru hanya menganggap bahwa ibunya pasti sedang sakit gigi. Sebab baik di setiap sudut penjagaan maupun di halaman itu sendiri mereka tidak melihat kekhususan yang menyolok. Tetapi anggapan itu tidak diyakininya sendiri. Setiap kali dadanya terasa berdesir, semakin lama menjadi semakin tajam.

    Mereka terhenti ketika mereka melihat dua orang berjalan di bagian belakang halaman itu. Supaya tidak menimbulkan kegaduhan maka merekapun berhenti dan menyelinap di balik pepohonan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat begitu terlalu lama, sebab kedua orang itu ternyata menuju ke tempat yang agak terlindung. Pada saat itulah baru mereka mengetahui, bahwa yang di sudut yang gelap itu ternyata telah diadakan suatu penjagaan.

    Penjagaan di tempat itu tidak pernah ada sebelumnya. Penjagaan …

  23. nyuwun ngapunten..
    mau usul nyeleneh nih (untuk mempercepat retype)..

    gimana kalo situs ini dijadikan situs berbayar 😦
    maksudnya bayarnya pake retype. jadi siapa yg mau akses situs secara penuh harus retype dulu.
    Tapi untuk memberikan kesempatan yg luas bagi semua orang untuk dapat mengagumi karya besar ini, dibuka akses terbatas.
    Kamsudnya begini.. misalnya yg udah di retype jilid 1-20, maka yg tidak retype hanya bisa akses jilid 1-15. kalo retype nambah jadi 1-30, maka yg tidak retype hanya bisa buka 1-23.
    trus untuk mengapresiasi peran serta pasukan retype, juga diberikan hak akses pada image.

    nyuwun ngapunten lho

    D2: Gimana kalau kolaborasi retyping, dimana bahan yg sedng diretype bisa diedit oleh pengunjung dan yg sudah kelar diboyong ke halaman buku? Cuma belum tahu teknisnya. Ada usul?

  24. wah.. wah.. seru jg nih.. selalu ada pro n kontra.. tp gk apa-apa, malah bagus, bebas berpendapat, semua punya hak yang sama, yg penting tetep jaga semangat tepa selira ya Mas-mas..
    Aku sendiri setuju dg usulannya Mas DD,.. lebih enak begini, n selajutnya klo sudah di retipe baru di tayangkan online…
    Aku jg salut sama Mas DD, saya pikir Mas sudah pikirkan matang-matang bgimana bagus nya… jadi apapun hasilnya ya nanti kita liat aja gimana.. namanya jg rencana..
    Mengenai klo dibikin kya wiki.. semua orang bisa urun rembuk itu mesti hati-hati lho Mas.. soalnya kita kan tetep mau jaga keorisinilan karya SH.M ini…
    sepertinya tetap harus Mas DD tau team Master untuk finalisasinya.

  25. hmm… aku sih nangkep idenya Mas DD.. aku usul… gimana kalo ada 2 sesi utama di blok ini… satu yg sudah final.. dan satu lagi yang untuk gotong royong ngolah.. n bisa dibuat kya wiki gitu…
    masalahnya aku sendiri sebenernya jg gk ngerti teknisnya blog…

  26. sepertinya di wp bisa deh dibuat hak akses beda-beda. bahan image di upload, (dg terpisah-pisah 5 halaman) trus yg bagian retype bisa edit bahan tersebut dibawah image. begitu kelar, bagian si admin utk nge”publish” sehingga bisa dibaca umum. (menangkap ide mas yuwana said ttg 2 sesi)
    jadi kolaborasinya tetap di sini aja..
    piye mas dd dan mas nindityo?

    D2: Aku setuju. Bagaimana kalau Mas Mbodo buatkan halaman contoh (Misal untuk buku 19). Nanti halaman image bisa aku siapkan.

  27. wah…,nampaknya sdh pd berbulat tekad untuk ganti djvu ni….,iyalah…smoga tambah sukses aja wis…, cm sayang ya…sekarang hanya bs diakses melalui komputer…,da yg tau gak gmn caranya agar bs di bc pakai hp…,hiiks…atau cm sy aja x ya yg bcnya pakai hp…jelek lg….

    • saya malah pake kalkulator 😀 tapi cakep loh

  28. aku pakai linux. bisa nggak ya djvu ini di download.

    • bisa, pake aja evince (jika pake gnome biasanya evince dah terpasang, jika belum ya install dulu dong), bisa juga pake djview ato jika mau yang bisa buat ngedit djvu pake aja djvusmooth

  29. Wah.. paling banyak respon di halaman 19 dst.. matur nuwun, kebetulan aku coba sekali dan OK.. eh tapi dipandu sm anakku nding.. Mumet..!
    Salut, memang hrs belajar terus meski estewe..
    Salam

  30. oops sorry,
    moderator saya dah setor tuh buku 19 halaman 52-56, tapi tak kirim ke “RETYPE (IN PROGRESS)”

    D2: Gpp. Tx

  31. tolong dibantu, setelah di dowmload stdu viewer tetap tidak bisa buka https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu. mau save file apanya yang harus disave. terima kasih

    D2: Klik kanan, save as. Untuk membukanya, ganti ekstensi pdf menjadi djvu.

  32. terima kasih mas dhe dhe, btw setelah diganti sekarang muncul perngatan kesalahan dipilih don’t send eh malah hilang kenapa ya ?
    terima kasih

  33. Maaf lahir batin buat semua adbm’ers. Sorry telat ngucapinnya, baru sempat setelah mudik dan jauh dari koneksi internet.

    to bro DD: bisa ngga kalo file djvu-nya juga di upload di tempat lain selain di file section-nya wordpress? misal di rapidshare, megaupload or 4shared? sepertinya bandwidth dowload dari WP terlalu kecil, jadi agak lama downloadnya. cuma usul aja lho.

    thanks.

  34. Saya berharap bisa baca lagi seperti model yg dulu karena bacanya pakai hp. Saya dikampung untuk ke warnet jauh dan mahal klo pakai hp murah dan efisien, jadhi tolong kembali ke format awal 😥

  35. Wah mas, sy blm bisa jg buka yg “adbm-jilid-019”
    Coba klik (https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.pdf) ditunggu lama gak ada penampakan apa2.
    Trus diganti (https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu) metu tulisan ngene “404 — File not found”
    Padahal wis donlod DJView.
    Opone sing salah mas

    D2: Yang model konvensional kan udah lengkap diaplod…

  36. Mas DD, sekedar info, Buku 19 kayaknya kurang di halaman depan, belum masuk tuw disini…(hal 7-10 di buku asli)… mungkin udah ada yg ngeproof tapi kelewat n belum ditayangin….trims

  37. tambahan juga: hal 32 – 34 buku asli juga kelewat… thanks

  38. nuwun sewu keparenga kulo matur menawi cariosipun sajakipun kapunggel ing bab tarungipun Danang Sutowijoyo mangsah Daruko nyuwun priso sababipun
    Matur sembah sewu nuwun
    Ki Ageng Penataran .

  39. Lega, bisa baca cerita Jawa lagi. Thank to ALL

  40. Gimana nih cara download versi djvu-nya? Aku cari2 yang ketemu kok cuman versi retype. Aku suka format djvu karena bisa nostalgia seakan-akan pegang buku aslinya yg dulu pernah aku baca. Aku sendiri masih menyimpan buku aslinya cuman sudah ada yang ilang lumayan banyak. Saran: Kalau bisa download versi djvu-nya ada yang dibikin 100 buku perbundel. Jadi dengan 4 kali download bisa kesedot semua. Thanks…!

    • Versi DJVU clue-nya bisa didapat via poro cantrik.

  41. Clue-nya bisa didapat via komentar poro cantrik.

    • Mampir njihh Ki Truno……Sugeng enjing !

  42. aku gak bisa donlot DjVu reader. padahal dah ngeklik dari forum download di blog ini. tapi koq yo ra gelem mbuka. piye iki?????

  43. Hikksss,
    mau nemu lading, neng gagange ana tulisan :
    Ya-suku, Da-nglegena
    Pa- pepet layar, Ma-nglegena, Na-nglegena.

    Apa kagungane Ki Menggung ya….????

    • nemu nang endi ki, tak melu leles 😀

      • ndek pinggiran lendhut benter Ki.

        • Ki Gembleh kados pundi kabaripun?
          Kula nggih saking tlatah lendut benter lho.
          menawi badhe tilik gandhok gagak seta, kula sampun nyobi nglanjutakaen ADBM wonten ing “terusan ADBM” gagak seta.
          monggo Ki, menawi badhe mampir, kula tenggo.
          matur suwun
          mbah_man

          • sugeng ndalu mbah mandaraka,
            nuwun sewu (seket ewu nggeh mboten nolak) nderek tangled, tindak terusan adbm nika nitih andong jurusan pundi ?
            mbok diparingi edres lengkap rt/rw-ne to mbah

  44. matur nuwun Ki Patih
    mbah_man_daraka
    tak nyusul numpak bison……werrrrrr…..

    • waduuuh ditinggal ijen ngeneki piye jal

      • sugeng enjing Ki Abdus Syakuur.
        badhe tindak gandhok terusan adbm saking mriki nggih saget, klik mawon Gandhok Gagak Seta, mangke sampun saget pinanggih gandhok terusan adbm.
        menawi saking daleme mbah google, diketik mawon terusan adbm, mange muncul “terusan Adbm gagak seta” langsung mawon mlebet, mentrik ipun ayu2 lan kenes2 hehehe

  45. Test…..

    .Ji.Nem.Ji.Nem .Mo.Lu… 😐

    • wis isok ki 😀

      • tes…..tes-teeeeeeessss,

        nuwun sewu, cantrik dherek tes-tes……teeeeesssss

        • hep,

          lancar…..ra no rintangan……!!!!

          • tumut

            mo nem ji ro ro nem ro , ji ji ro ji ji ro ji

            siip lah …..

            • iling pak raden …
              sol do iwak kebo …
              re mi fa sol iwak …

              • botol …..

                • kwkwkwkkkk temanggung udane deres

                  • wah mesakke sing dho diudani niku , maksude sing ra nggowo payung ….

  46. raiso…. jadi males nih ! (mutung mode ON)

    • Lho..lho..kenapa nih… 🙂
      anak macan koq lutung..eh..mutung 😀

      • Ra nganggo sarung ayake ??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: