Buku 18

“Aku hanya mencoba membesarkan hatiku sendiri Tuan. Aku menyadari, bahwa setiap orang menganggap bahwa lebih baik bagiku untuk menghindari perkelahian besok selain mereka yang ingin melihat dadaku berlubang oleh ujung tombak. Tuan memang bermaksud baik, dan karenanya sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Tetapi sikap Tuan itu telah memperkecil hatiku. Maaf, Tuan. Aku harap Tuan mengerti supaya aku tidak menggigil pada saat aku melihat ujung tombaknya. Namun tak ada niatku untuk lari dari janji yang telah aku ucapkan.”

Wajah pemimpin prajurit Wira Tamtama di Prambanan itu masih juga tegang. Tetapi ia merasa aneh mendengar kata-kata anak muda dari Sangkal Putung itu. Ia merasa tersinggung karenanya, tetapi ia merasakan kebenarannya pula. Bahkan ia merasa hormat kepada anak yang melihat kenyataan yang telah berlaku di Prambanan ini. Sehingga dengan demikian ia menjadi ragu-ragu apakah benar ia hanya berhadapan dengan seorang anak gembala yang karena keadaan telah menjadi pengawal kademangannya?

Dalam pada itu maka prajurit itu pun menjadi ragu-ragu. Dengan demikian, maka ruangan itu pun menjadi sunyi kembali. Yang terdengar kemudian adalah kokok ayam jantan yang menjadi semakin ramai di segenap sudut desa.

“Hampir fajar,” tiba-tiba Sutawijaya berdesis.

Dalam keragu-raguannya tiba-tiba prajurit itu berkata, “Kau belum sempat beristirahat menghadapi saat yang berbahaya bagimu.”

“Aku sudah cukup beristirahat di sini. Aku sudah minum minuman hangat dan makan pagi, jadah panggang dan jenang manis.”

Prajurit itu tidak menjawab. Sejenak ia termenung. Kemudian terdengar ia berkata, “Aku akan melihat apa yang terjadi. Aku kira di sebelah Barat Bukit Baka pagi ini akan menjadi sangat ramai dikunjungi orang. Mereka ingin melihat punggungmu dipatahkan, atau dadamu menjadi berlubang. Tetapi aku tidak bertanggung jawab.”

“Mudah-mudahan terjadi sebaliknya. Punggung tamu itulah yang akan aku patahkan dan dadanyalah yang akan berlobang.”

“Kau terlalu sombong.”

“Tidak, Tuan,” sahut Sutawijaya. “Sudah aku katakan, aku hanya ingin membesarkan hatiku sendiri.”

Prajurit itu memandangi wajah Sutawijaya dengan saksama. Tiba-tiba ia sadar, bahwa wajah itu sama sekali bukan wajah seorang gembala atau anak padesan Sangkal Putung. Tetapi ia tidak tahu, bagaimana ia harus mengatakannya.

Tiba-tiba ia berkata, “Apakah kau memerlukan senjata? Lawanmu akan mempergunakan sebuah pusakanya yang berbahaya. Sebatang tombak pendek. Kalau kau perlukan, kau dapat memakai pedangku.”

“Terima kasih,” sahut Sutawijaya. “Aku mempunyai senjataku sendiri.”

Dada prajurit itu berdesir, tetapi ia berdiam diri.

Ketika suara ayam jantan menjadi semakin ramai, maka berkatalah Sutawijaya, “Aku tidak ingin terlambat. Lebih baik aku datang lebih dahulu. Aku akan berangkat segera.”

“Angger,” Astra yang sejak tadi berdiam diri tiba-tiba berkata, “apakah Angger tidak dapat mengurungkan perkelahian itu? Aku telah mendengar pula dari anak-anakku bahwa Angger akan melakukan perang tanding pagi ini.”

Sutawijaya tersenyum. Jawabnya, “Sayang, Paman. Doakan saja aku selamat.”

Sutawijaya pun segera minta diri untuk memenuhi janjinya pergi ke sebelah Barat Bukit Baka di tepi Sungai Opak.

Wajah Astra yang tua itu pun kemudian memancarkan perasaan cemasnya. Sorot matanya menjadi suram dan gelisah. Bahkan pemimpin prajurit itu pun tertegun-tegun dicengkam oleh perasaan tak menentu.

Namun terdengar Sutawijaya berkata tegas, “Aku akan berangkat.” Kepada Agung Sedayu dan Swandaru ia berkata, “Marilah. Aku tidak mempunyai waktu lagi.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Segera mereka turun dari amben bambu yang besar itu dan mengipas-ngipaskan kain mereka.

Prajurit itu pun tiba-tiba berkata, “Aku akan pergi bersama kalian.”

“Terima kasih,” sahut Sutawijaya yang kemudian sekali lagi minta diri kepada Astra. “Kami akan berangkat, Paman.”

Astra melepas mereka dengan hati yang gelisah dan cemas. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia mencemaskan nasib anak-anak muda yang baik itu. Meskipun anak-anak muda itu baru saja dikenalnya. Namun dalam tutur kata dan sikapnya, serta apa yang didengarnya dari kedua anaknya, maka hatinya telah tertarik kepada mereka.

Tetapi Astra tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat memandangi langkah-langkah yang tetap dari ketiga anak-anak muda itu bersama pemimpin prajurit Pajang di Prambanan, meninggalkan halaman rumahnya.

Ketika Sutawijaya berbelok lewat sebuah pematang, maka prajurit itu pun berkata, “Kita menempuh jalan ini. Jalan ini adalah jalan yang paling dekat.”

Sutawijaya menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah kedua kawannya seolah-olah ingin mendapat pertimbangan dari padanya. Tetapi kedua kawannya itu sama sekali tidak berbuat sesuatu bahkan sorot mata mereka pun sama sekali tidak menunjukkan sesuatu sikap. Karena itu, maka Sutawijaya-lah yang harus bersikap. Katanya, “Aku harus lewat jalan ini, Tuan.”

“Kau harus memutari ladang. Baru kau akan sampai ke jalan yang sempit. Di ujung lain dari pematang itu, kau akan sampai ke jalan kecil, dan jalan kecil itu adalah simpangan dari jalan yang besar ini.”

Kembali Sutawijaya menjadi ragu-ragu. Tetapi ia harus melewati batang gayam tempat mereka menyangkutkan senjata-senjata mereka. Karena itu maka jawabnya, “Jalan inilah yang aku kenal pada saat aku datang, Tuan. Karena itu aku akan menempuh jalan ini pula.”

“Aku mengenal setiap sudut Kademangan Prambanan seperti aku mengenal rumahku sendiri.”

Sutawijaya akhirnya tidak mempunyai alasan lain dari pada alasan yang sebenarnya, sehingga ia tidak lagi dapat menghindar. Maka katanya, “Aku harus lewat di bawah pohon gayam di sebelah ladang ini, Tuan.”

Pemimpin prajurit itu menjadi heran, sehingga dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa kau harus lewat di bawah pohon gayam?”

Sutawijaya benar-benar sudah tidak ada kesempatan untuk menyembunyikan keadaannya. Maka jawabnya, “Senjata kami, kami simpan di pohon itu, Tuan.”

“Senjata?” kembali prajurit itu terkejut. Ia telah mendengar Sutawijaya berkata bahwa ia akan mempergunakan senjatanya sendiri, tetapi ketika ia mendengar bahwa senjata itu tersimpan di pohon gayam, maka ia masih juga terperanjat.

“Ya, Tuan. Kami telah menyembunyikan senjata-senjata kami di atas dahan yang rimbun.”

Prajurit itu tidak menyahut, namun raut mukanya menjadi berkerut-kerut. Ditatapnya ketiga anak-anak muda itu berganti-ganti. Sutawijaya dengan wajah yang pasti dan teguh, sedang anak yang kedua berwajah tenang. Namun dalam ketenangan itulah tersembunyi relung yang dalam. Seperti wajah air, semakin tenang semakin dalamlah dasarnya. Anak muda yang ketiga, yang gemuk, adalah anak muda yang berwajah terang, tetapi membayangkan kekerasan tekadnya.

“Hem,” desah prajurit itu di dalam hatinya. “Siapakah sebenarnya anak-anak ini. Kenapa baru sekarang aku dapat mengenali wajah-wajah mereka dengan baik justru di dalam keremang-remangan. Kenapa aku tidak melihatnya tadi di banjar desa yang terang benderang?”

Prajurit itu kini tidak membantah lagi. Diikutinya saja ketiga anak-anak muda itu di belakangnya. Ketika mereka sampai di bawah pohon gayam, maka segera mereka pun berhenti. Sejenak mereka tegak berdiri sambil berpandang-pandangan. Namun yang pertama-tama berkata adalah Swandaru, “Hem, aku lagikah yang harus memanjat?”

Mau tidak mau Sutawijaya dan Agung Sedayu tersenyum. Sebelum keduanya menjawab, maka Swandaru telah menyingsingkan lengan bajunya dan menyangkutkan kain panjangnya. “Tak ada pilihan lain,” gumamnya.

“Jangan menggerutu,” sahut Agung Sedayu. “Aku pun akan memanjat pula.”

“Kalau aku tahu di mana senjata-senjata itu disangkutkan, maka aku pun bersedia untuk memanjat pula. Tetapi aku tidak tahu, apalagi hari masih gelap,” berkata Sutawijaya.

“Huh,” desis Swandaru. “Alasan yang sempurna.”

Sutawijaya tertawa. Dibiarkannya kedua kawan-kawannya memanjat ke atas. Namun terdengar ia berpesan, “Berhati-hatilah. Hari masih terlalu gelap.”

Tetapi Swandaru dan Agung Sedayu kemudian berhasil mengambil seluruh senjata-senjata mereka. Sebatang tombak, dua batang pedang, tiga buah busur beserta endong panahnya.

Pemimpin prajurit itu terkejut melihat kelengkapan mereka. Sehingga dengan serta merta ia berkata, “Bukan main. Kelengkapan kalian telah menambah teka-teki di dalam kepalaku. Siapakah sebenarnya kalian?”

“Sudah aku katakan,” sahut Sutawijaya, “kami adalah pengawal Kademangan Sangkal Putung.”

Prajurit itu pun terdiam. Tetapi teka-teki di dadanya justru menjadi semakin membayang di wajahnya. Sekali-kali nampak mulutnya berkumat-kumit. Tetapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Ketika ketiga anak-anak muda itu sudah siap dengan senjata masing-masing, maka berkatalah Sutawijaya, “Marilah. Kami sudah siap.”

Prajurit itu menjadi semakin bimbang akan penglihatan matanya. Sutawijaya kini tidak lagi kelihatan seperti seorang gembala. Dibenahinya pakaiannya dan dibetulkannya lipatan ikat kepalanya. Tampaklah betapa anak itu memiliki beberapa kelebihan di dalam dirinya. Sedang kedua anak-anak muda yang lain pun berbuat pula serupa. Di lambung mereka kini tergantung sehelai pedang, dan di punggung mereka tersangkut sebuah busur. Sedang pada ikat pinggang mereka, tersangkut pula sebuah endong dengan anak-anak panah di dalamnya.

Nafas prajurit itu tiba-tiba menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

“Marilah,” sekali lagi Sutawijaya mengajak kedua kawan-kawannya dan prajurit itu. “Tetapi sebaiknya kita tidak melewati jalan. Apakah ada jalan lain yang lebih sepi dari jalan itu?”

Prajurit itu kini telah benar-benar terpesona melihat ketiga anak-anak muda itu, sehingga kata-kata Sutawijaya itu telah memukaunya pula. Tanpa sesadarnya prajurit itu menjawab, “Ada, kita dapat memintas, lewat pematang di sepanjang parit kecil ini.”

“Bagus,” sahut Sutawijaya. “Hari telah menjadi semakin terang. Aku tidak mau lagi berpapasan terlalu banyak orang. Mudah-mudahan aku tidak terlambat. Silahkan tuan berjalan di depan.”

Sekali lagi prajurit itu melakukan permintaan Sutawijaya tanpa disadarinya. Segera ia meloncat dan berjalan di paling depan, memintas pematang di sepanjang parit, menyusur ke sebelah Barat Bukit Baka.

Kini warna semburat merah di langit sebelah Timur sudah menjadi semakin nyata. Satu-satu bintang-bintang yang bergayutan di udara seakan-akan lenyap ditelan cahaya fajar yang segera pecah. Ujung-ujung pepohonan telah mulai nampak berkilat-kilat oleh cahaya pagi yang terpantul dari butir-butir embun yang mengantung di ujung dedaunan.

Sutawijaya dan kawan-kawannya pun segera mempercepat langkah mereka. Prajurit yang berjalan di depan itu pun digamitnya sambil berkata, “Aku agaknya akan terlambat.”

“Tidak,” sahut prajurit itu. “Matahari sedang terbit.”

“Saat inilah yang dijanjikan. Pada saat matahari terbit Argajaya menanti aku di sebelah Barat Gunung Baka.”

“Seandainya kau terlambat, maka saat kelambatanmu tidak ada sepemakan sirih.”

“Aku berharap dapat datang lebih dahulu sebelum Argajaya. Apalagi apabila kemudian ada orang-orang lain yang mencoba menonton sabungan ini.”

“Pasti. Aku dapat menduga bahwa hampir setiap laki-laki di Prambanan akan hadir melihat perkelahianmu nanti.”

Sutawijaya terdiam. Tetapi ia melangkah lebih cepat lagi.

Akhirnya ujung Gunung Baka itu pun menjadi semakin dekat. Di antara semak-semak ilalang tampaklah batu-batu padas yang menjorok seolah-olah ingin menggapai langit. Tetapi Bukit Baka bukan pegunungan yang cukup tinggi. Meskipun demikian, namun bukit itu tampak garang dalam keremangan cahaya fajar.

“Kita harus meloncat ke jalan. Parit ini akan menyilang jalan ke Gunung Baka.”

“Apakah ada jalan ke pegunungan itu? Bukankah pegunungan itu seakan-akan pegunungan yang tidak pernah disentuh kaki?”

“Tidak,” sahut prajurit itu. “Banyak orang yang mencoba mendaki ke puncak itu.”

“Apa yang dicarinya?”

“Bermacam-macam kepercayaan telah dicengkam penduduk di sekitar tempat ini tentang gunung kecil itu.”

Sutawijaya mengerutkan dahinya. Tiba-tiba ia berkata, “Kita turun ke Kali Opak. Adalah lebih baik bagiku menyusur tepian sungai dari pada berjalan lewat jalan itu. Mudah-mudahan tak banyak orang di sana.”

Prajurit itu tidak menyahut. Tetapi ia pun segera membelok ke Barat. Meloncat-loncat di antara puntuk-puntuk padas. Kini mereka sudah meninggalkan tanah persawahan. Mereka telah sampai di padang ilalang yang jarang. Di sana-sini berserak-serakan batu-batu padas yang kelabu.

Sesaat kemudian mereka telah sampai di pinggir tebing Sungai Opak. Tebing yang tidak begitu tinggi, sehingga mereka tidak mengalami kesukaran untuk meloncat turun.

Kini mereka berempat berjalan di sepanjang pasir tepi Sungai Opak. Mereka berjalan dengan langkah yang panjang ke Selatan. Janji itu mengatakan, bahwa mereka akan bertemu di pinggir Kali Opak di sebelah Barat Pegunungan Baka.

Sutawijaya terkejut ketika ia melihat beberapa orang berkerumun di kejauhan. Dengan serta merta ia berkata, “Apakah kira-kira tempat itu yang disebut oleh Argajaya.”

“Tak ada seseorang yang tahu pasti, manakah yang dikehendaki oleh Argajaya. Tetapi pasti di sepanjang tepian ini. Tempat orang berkerumun itu adalah tepat di sebelah Barat ujung Gunung Baka.”

“Mungkin di sana Argajaya menunggu. Ternyata aku datang terlambat.”

Prajurit itu tidak menyahut. Mereka berjalan semakin cepat. Sebelum mereka mendekat, berkatalah Sutawijaya kepada Swandaru, “Sekali lagi aku minta tolong. Bawalah busurku. Aku hanya akan mempergunakan tombakku.”

Swandaru menarik nafas. Katanya “Baiklah. Apakah busurmu tidak sama sekali kau berikan aku Kakang Agung Sedayu.”

Sutawijaya tersenyum. Tetapi wajahnya kini menjadi bersungguh-sungguh. Ia tidak lagi dapat bergurau ketika di hadapannya telah menunggu sekelompok orang yang ingin melihat dirinya berkelahi antara hidup dan mati.”

Swandaru melihat kesungguhan wajah Sutawijaya itu meskipun sambil tersenyum. Karena itu, maka Swandaru tidak mau bersenda lagi. Wajahnya pun menjadi bersungguh-sungguh pula ketika kemudian ia menerima busur dan endong anak panah Sutawijaya.

Mereka berempat kini berjalan semakin cepat. Namun tak sepatah kata pun yang terucap. Masing-masing terbenam dalam angan-angannya sendiri.

Tiba-tiba orang-orang yang berkelompok itu pun mulai bergerak-gerak seperti sarang semut yang tersentuh tangan. Agaknya seseorang telah melihat kedatangan mereka, dan berita itu pun telah menjalar ke segenap telingga, sehingga semua orang di dalam kelompok itu pun berpaling dan memandangi Sutawijaya dan kawan-kawannya.

Sutawijaya menarik nafas. Sekali ia menengadahkan wajahnya. Seleret sinar memancar di langit yang jernih. Dari balik Gunung Baka sinar matahari seolah-olah meluncur menghujam ke segenap penjuru.

“Hem,” guman Sutawijaya, “matahari telah memanjat naik.”

“Belum secengkang,” sahut prajurit itu.

Sutawijaya terdiam. Dengan wajah yang tegang ia berjalan selangkah mendekati kelompok yang tiba-tiba menebar seakan-akan memberikan jalan.

Langkah Sutawijaya pun menjadi tetap. Tanpa ragu-ragu ia berjalan masuk ke dalam kerumunan orang-orang Prambanan. Dengan sorot mata yang tajam ia memandang berkeliling. Setiap pasang mata yang terbentur dengan sorot mata anak muda itu, tiba-tiba terpaksa jatuh menunduk memandangi pasir tepian. Sorot mata anak muda itu ternyata terlampau tajam bagi mereka.

Tetapi Sutawijaya belum melihat orang yang menantangnya. Meskipun hampir seluruh wajah di baris terdepan telah dipandanginya, tetapi wajah Argajaya belum tampak berada di tempat itu. Karena itu maka tanpa disadarinya ia bergumam, “Di manakah tamu yang terhormat itu?”

Sutawijaya berpaling ketika ia mendengar jawaban di belakangnya, “Belum datang, Kisanak.”

Sutawijaya melihat Haspada telah berada di tempat itu pula. Di sampingnya berdiri Trapsila dan beberapa orang kawan-kawannya. Di sisi yang lain dilihatnya anak-anak muda saling bergerombol. Satu dua Sutawijaya masih dapat mengenal. Di sebelah Selatan adalah gerombolan anak-anak Sembojan, sedang di sisi Utara adalah anak-anak Tlaga Kembar. Anak-anak induk kademangan bertebaran hampir di segenap sudut, sedang anak-anak dari padesan-padesan kecil pun berkumpul di antara mereka. Orang-orang tua berdiri agak ke belakang. Tetapi agaknya mereka pun ingin melihat apa yang akan terjadi.

“Apakah Argajaya memilih tempat yang lain?” bertanya Sutawijaya tanpa ditujukan kepada seorang pun.

Tak ada jawaban. Tetapi wajah-wajah orang yang mengitarinya seakan-akan membantah kata-katanya itu. Seakan-akan mereka ingin berkata, “Ini adalah batas Kademangan Prambanan. Ini adalah tepian Kali Opak di sebelah Barat Gunung Baka.”

Tetapi tak seorang pun yang mengatakannya. Mereka seakan-akan terbungkam dan bahkan terpesona melihat anak muda yang berdiri di tengah-tengah mereka. Anak muda itu seakan-akan bukan anak muda yang dilihatnya kemarin. Juga kedua kawan-kawannya itu seakan-akan sama sekali bukan anak muda yang berkelahi di pendapa. Dengan pedang di lambung dan busur menyilang di punggung tampaknya mereka menjadi gagah, segagah prajurit-prajurit Pajang.

“Apakah pemimpin prajurit Pajang yang datang bersama-sama dengan mereka itulah yang meminjami mereka senjata?” Pertanyaan itu tumbuh di setiap dada mereka yang berdiri berkerumun itu.

Namun yang terdengar adalah suara Sutawijaya, “Aku akan menunggu Argajaya.”

Sutawijaya berkata tidak terlampau keras. Namun terdengar menyusup dalam-dalam ke dalam telinga orang-orang yang mengerumuninya. Suara yang terlontar dari bibir anak muda itu terasa mengandung perbawa yang tajam.

Tetapi ternyata Sutawijaya tidak perlu menunggu terlampau lama. Kembali orang-orang di dalam kelompok itu bergerak-gerak. Semua kepala berpaling ke satu arah. Ketika Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru mengikuti pandangan mereka, terasa dada mereka berdesir. Di sepanjang jalan kecil yang menembus padang ilalang, tampak beberapa orang berjalan beriringan. Debu yang tipis tampak berhamburan terlontar dari tanah yang kering oleh sentuhan kaki-kaki mereka.

Di paling depan berjalan seorang yang bertubuh tegap kekar. Dengan kepala tengadah ia melangkah menjinjing sebatang tombak pendek, sependek tombak Sutawijaya. Orang itu adalah Argajaya. Di belakangnya berjalan kedua orang kawannya, kemudian pemimpin prajurit yang satu lagi dan beberapa orang prajurit Pajang. Bahkan tampak di antara mereka Ki Demang Prambanan, Ki Jagabaya yang kurus dan beberapa orang perabot desa yang lain.

Tanpa disengajanya Sutawijaya berpaling ke arah pemimpin prajurit yang seorang yang datang bersamanya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang, lebih tegang dari wajah Sutawijaya. Ia melihat para prajurit bawahannya seakan-akan telah berpihak kepada tamu yang sombong itu. Dengan demikian, maka seakan-akan ia telah kehilangan kewibawaan bagi para prajuritnya. Bahkan Ki Demang Prambanan yang semalam membenarkan sikapnya, kini agaknya telah berganti pendirian. Seakan-akan apa yang dikatakan semalam hanyalah suatu mimpi yang kecut. Sekarang ia ingin bersikap lain. Besok adalah soal besok. Sikapnya baru akan dipikirkannya besok juga.

Tetapi pemimpin prajurit itu menjadi agak tenang ketika ia melihat Haspada, Trapsila, dan beberapa kawan-kawannya berada di tempat itu pula. Kalau ia harus memberikan keputusan, sedang para prajuritnya tidak dapat dikendalikannya lagi, maka ia akan memerlukan bantuan anak-anak muda Prambanan itu. Bahkan mungkin ia memerlukan anak-anak Sangkal Putung ini. Ya, anak-anak Sangkal Putung ini mungkin akan bersedia membantunya.

Kini iring-iringan itu sudah semakin dekat. Ketika wajah mereka menjadi kian jelas, maka tampaklah bibir Argajaya dihias oleh senyum yang cerah.

Sejenak orang-orang yang telah menanti di pinggir Kali Opak itu terpesona melihat kehadiran Argajaya bersama orang-orang yang mengiringinya, seakan-akan kehadiran seorang pemimpin bersama dengan anak buahnya, sehingga mereka itu pun kemudian terdiam seperti orang-orang tersentuh kaki.

Yang mula-mula terdengar adalah suara Aryajaya menggelegar, “He, agaknya kau telah datang lebih dahulu anak muda. Ternyata kau benar-benar anak jantan. Aku sangka kau semalam telah melarikan diri meninggalkan Prambanan kembali ke rumahmu, bersembunyi di balik selendang ibumu.”

Alangkah menyakitkan hati. Tetapi Sutawijaya tidak menjawab. Ditungguinya sampai Argajaya semakin dekat.

Sejenak kemudian mereka telah melintasi rumput-rumput kering di tebing, kemudian berloncatan turun ke tepian. Para pengikutnya pun segera berloncatan pula. Dan tanpa mereka sadari, mereka telah membuat suatu kelompok yang seakan-akan terpisah dari kelompok yang lebih dahulu datang. Bahkan di antara mereka tampak satu dua anak-anak muda Sembojan dan anak-anak muda Tlaga Kembar yang semalam saling mengejar dan berkelahi. Ternyata pendapat mereka kini telah terbelah silang menyilang. Anak-anak Sembojan dan anak-anak Tlaga Kembar sebagian telah datang lebih dahulu bersama Haspada dan Trapsila.

Sejenak kemudian kembali terdengar suara Argajaya, “Bagaimanapun juga aku merasa kagum akan kejantananmu. Meskipun kalian menyadari apa yang kalian hadapi, tetapi kalian tidak melarikan diri. Sidanti akan bergembira mendengar berita ini. Aku harap ia akan mendengarnya kelak. Dari salah seorang di antara kalian atau dari aku sendiri.”

Sutawijaya masih berdiam diri. Ia tegak seperti tonggak. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Ketika Argajaya menjadi semakin dekat. Dilihatnya kini bahwa di tangan Sutawijaya tergenggam sebatang tombak pendek pula. Ia telah melihat tombak itu sejak ia masih berada di atas tebing. Tetapi baru kini ia melihat ujung dari tombak yang pendek itu. Tanpa disadarinya dipandanginya ujung tombaknya sendiri. Tombaknya adalah tombak pusaka. Tetapi dalam sekilas itu ia dapat melihat, bahwa tombak anak muda itu pun bukan kebanyakan tombak.

Apalagi kemudian ia melihat Agung Sedayu dan Swandaru yang berdiri tidak jauh dari Sutawijaya itu. Di lambungnya tergantung pedang, dan di punggungnya menyilang busur.

Hati Argajaya menjadi berdebar-debar. Busur itu semuanya berjumlah tiga buah. Pasti milik ketiga anak itu.

Meskipun demikian ia bertanya, “He, dari mana kau mendapat pinjaman senjata anak muda?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab, “Senjataku sendiri. Apakah senjatamu itu senjata pinjaman?”

Argajaya terkejut mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba sorot matanya menjadi tajam dan dengan nada yang berat ia menjawab, “Pertanyaanmu terlampau tajam anak muda. Semalam, ketika aku meninggalkan pendapa banjar desa, hatiku telah sedikit mereda. Aku menganggap bahwa kalian adalah anak-anak yang patut dikasihani. Meskipun kali ini aku datang dengan senjata di tangan, tetapi aku telah menjadi lilih. Aku tidak ingin membunuh seperti semalam. Aku hanya ingin memberimu sekedar peringatan, bahwa kau telah berbuat kesalahan. Tetapi itu mungkin karena kau sama sekali belum mengenal kami. Aku mengharap perkenalan pagi ini akan memberimu kesadaran. Kalau kau dan kedua kawan-kawanmu bersedia minta maaf kepadaku, maka kalian aku anggap tidak bersalah.”

“Terima kasih, Argajaya,” sahut Sutawijaya. Namun kata-kata selanjutnya sangat mengejutkan, “Aku sudah menduga bahwa kau bukan seorang yang terlampau jahat. Kau hanya seorang pemarah yang tidak dapat mengendalikan diri. Tetapi ingat, sikap yang demikian adalah berbahaya. Berbahaya bagi orang-orang di sekitarmu dan berbahaya bagi dirimu sendiri. Seperti kau, maka aku pun kini sebenarnya sudah kehilangan gairah untuk berkelahi. Dan aku pun akan bersedia memberimu maaf seandainya kau memerluknnya.”

Darah Argajaya yang cepat mendidih itu pun tiba-tiba bergejolak sampai kepalanya. Tombaknya pun menjadi gemetar dan wajahnya menjadi merah membara. Tiba-tiba ia berpaling kepada Ki Demang sambil berkata, “Kau dengar Ki Demang, apa yang dikatakannya? Apakah salahku apabila aku benar-benar membunuhnya?”

Ki Demang tidak segera menyahut. Dilihatnya setiap wajah menjadi tegang. Wajah para prajurit pun menjadi tegang pula. Bahkan pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya pun tidak dapat mengerti, kenapa tiba-tiba sikap anak muda itu menjadi semakin keras dan semakin tajam.

“Apa katamu, he Ki Demang?”

Demang Prambanan terkejut. Tergagap ia menjawab, “Ya, ya, salahnya. Salahnya sendiri. Aku telah mendengar kata-katanya yang tidak sopan itu.”

“Nah,” tiba-tiba pemimpin prajurit yang lain, yang datang bersama Argajaya menyambung, “apa kataku. Ia telah menghina Prambanan dalam keseluruhan.”

Argajaya itu pun kemudian mengangkat wajahnya. Sambil memandang berkeliling ia berkata, “Lihatlah, betapa anak muda dari Sangkal Putung itu telah mencoba membunuh dirinya sendiri. Kalian menjadi saksi, bahwa aku bersedia memaafkannya, apabila ia dengan baik dan penuh penyesalan minta kepadaku. Tetapi kalian telah mendengar jawabnya.”

Terdengar suara bergumam di belakang mereka. Salah seorang yang telah setengah baya berkata lirih, “He, anak yang keras kepala. Kenapa kesempatan itu dilewatkannya.”

Yang terdengar kemudian adalah suara Argajaya pula, “Sekarang adalah terserah kepadaku. Bagaimanapun aku akan menyelesaikan persoalan ini.”

Kembali setiap mulut menjadi terbungkam. Namun setiap jantung berdetak semakin keras. Sebagian dari mereka menyesali anak muda dari sangkal putung itu. Kesempatan yang diberikan oleh Argajaya akan dapat menyelamatkan mereka. Tetapi kesempatan itu tidak dipergunakannya.

Argajaya itu pun kemudian maju beberapa langkah mendekati Sutawijaya yang berdiri tegak seperti patung. Wajahnya yang merah membara itu pun kemudian tersenyum, meskipun terasa betapa senyum itu hambar. Katanya, “Hem, kau memang anak muda yang keras hati. Kau ingin tahu dari mana aku mendapat senjata? Senjata ini adalah pusaka dari Menoreh. Kau ingin tahu namanya? Namanya Kiai Petit. Apalagi? Bertanyalah sebelum kau kehilangan kesempatan.”

“Tidak,” jawab Sutawijaya singkat.

“Nah, sekarang katakan kepadaku, siapakah yang memberimu senjata?” bertanya Argajaya. Tetapi matanya berkisar memandangi pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya. Dada prajurit itu berdesir. Ia merasa, bahwa Argajaya berprasangka kepadanya, dengan demikian, apabila pekerjaan Argajaya atas Sutawijaya selesai, maka hubungannya dengan tamu itu pasti tidak akan baik. Bahkan mungkin anak buahnya sendiri pun akan bersikap tidak baik pula kepadanya.

Tetapi ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar jawaban Sutawijaya, “Setiap laki-laki Sangkal Putung pasti bersenjata. Sebab laki-laki Sangkal Putung adalah pengawal-pengawal kademangannya menghadapi sisa-sisa laskar Arya Penangsang.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sekali lagi ia melihat ujung tombak Sutawijaya. Tombak itu bukan tombak kebanyakan.

“Bagus,” sahut Argajaya. “Mungkin kau pernah mendapat ilmu dari Sidanti. Mungkin dari para prajurit yang lain. Tetapi ternyata kau menjadi terlampau sombong. Sekarang tentukan sikapmu yang terakhir.

“Aku menunggu kau minta maaf kepadaku dan berjanji untuk bertingkah laku baik dan sopan,” jawab Sutawijaya.

Jawaban itu telah menutup setiap kemungkinan untuk mengurungkan perkelahian. Argajaya benar-benar menjadi gemetar. Matanya menyala seperti bara. Terdengar giginya gemeretak. Dan dengan suara gemetar ia berkata, “Bersiaplah. Kau telah membakar kemarahanku kembali setelah aku bersedia memaafkanmu.”

“Kau juga telah membuat aku marah,” sahut Sutawijaya lantang.

Argajaya sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Selangkah ia maju, dan tombaknya pun kini telah terangkat setinggi dada.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 4 Oktober 2008 at 23:16  Comments (32)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-18/trackback/

RSS feed for comments on this post.

32 KomentarTinggalkan komentar

  1. Salam kenal, saya senang ada yang publish ADBM. Saya gemar cerita silat sih. O ya.. kalau dipercaya saya juga bisa bantu untuk ikut ng-edit asal diberi tahu caranya. Ya biar kerjaan jadi tambah ringan. Trims.

    D2: Terima kasih atas supportnya. Nanti kalau bahan sudah dikirim akan saya kasih tahu.

  2. Assalamu’alaikum wr wb,
    Bung DD, dan segenap membership ADBM yang saya cintai :

    Paling Enak Makan Ketupat,
    Minum ES Dicampur Serbat,
    Berjabat Tangan Tidak Sempat,
    Kirim Imil Juga Terlambat.

    Pupuh Dandang Gula, dulu dinyanyikan Kyai Gringsing:

    -Gumiliring mongso kolo yekti,
    -Purbaning Hyang Kang Moho Kuwoso,
    -Wus purno Ramadhane,
    -Idhul Fitri 1429 wus tumiyung,
    -Gyo angrucat dosa sami,
    -Apuro ingapuran,
    -Lahir trusing kalbu,
    -Yo iku ingkang sinedyo,
    -Manunggaling roso sadoyo prodhasih,
    -Asih marang sasomo.

    SUGENG RIYADI 1429 H.
    NYUWUN GUNGING SAMODRA PANGAKSAMI
    SEDOYO KALEPATAN.

    Wassalamu’alaikum wr wb.,
    Sumarmo Hs

  3. SANDIWARA RADIO ADBM

    sewaktu saya pulang kampung, tidak sengaja mendengarkan radio. Eh ada sandiwara radio ADBM , tapi ceritanya sudah jauh, karena sekarmirah …

    mungkin ADBM-ers ada info , mayan kan sambil2 denger ..hhh

    D2: Lebih seru mana, Mas?

  4. absen dulu di buku 18 ah

  5. Benar kata rekan2 yg sudah membaca ADBM, katanya jilid 1-100 masih berbelit2, dan menceritakan sesuatu hal tertentu sangat detail, yg membuat kita kadang2 bosan juga.
    Tapi 100 keatas, baru kelihatan cerita sesungguhnya.
    ingin membuktikan juga

  6. Salam ADBM,

    Salut untuk semua sahabat-sahabat yang penuh keikhlasan sudah berusaha untuk melanggengkan salah satu perbendaharaan sastra yang adi luhung ini.

    Semoga karya ini bisa selesai sampai tuntas hingga akhir cerita yang ditulis oleh sang empunya.

    Untuk mas DD dan seluruh pasukannya, terima kasih atas persembahannya ini.

    Salam,
    Abu Faris

  7. Menanggapi usul temen2 untuk mempercepat penayangan ADBM, barusaja saya memperoleh saran yang baik sekali dari BD. Beliau menyarankan agar ADBM ditayangkan apa adanya saja (dalam bentuk image). Tentu kita akan menggunakan format yang simpel (bukan JPG). Mungkin PDF atau DJVU(?). Terus terang saya mengamini ide beliau. Dengan cara ini proses penayangan tidak perlu menunggu proses konversi-edit-proof yang banyak memakan waktu. Sementara itu, proyek digitalisasi (maksud saya teksisasi) sebagaimana kita lakukan selama ini bisa berjalan seiring (kalau kita masih mau). Kita minta kesediaan ADBMers untuk mengalihkan ADBM (retype atau apapun caranya) ke teks sambil menikmati ADBM itu sendiri. Lalu, sebagaimana sebelumnya, teks2 itu kita kumpulkan dan diaplod (ulang) sedikit demi sedikit. Saya yakin proses ini akan jauh lebih cepat. Kalau seminggu 5 jilid, maka sisa 83 jild bagian pertama bisa kita tayangkan dalam hanya 3 bulan! Suatu kemajuan yang sangat luar biasa. Dengan cara begini semua bisa terpuaskan dan proyek digitalisasi tetap bisa berjalan. Bagaimana, kawan?

    DD

    • ya ya ruar byasah
      emang bener-bener ruar byasaaaa
      trutama ki mangkubyasaaaa

      • nopo niku ??????????

        • genthong gedhe niku lho ki mangku

          • sing gadhah sinten niku …..

            • kyai semut kalih nyai lumut 🙄

              • Lho nopo taksih pernah nak-ndulur kaliyan mbok rondho

                Dhadhapan to ???????

                • kirang terang ki mangku, nek masalah rondho sampean nyuwun pirso ki satpam utawi ki ndul kemawon

  8. Dear Bung Dede,
    Saya sangat setuju usulan ini, dan pdf menurut saya adalah format yang paling efisien. Lagian sudah banyak software free yang bisa konversi langsung ke format text atau word.
    Wassalam, GI.

    D2: Kita akan pakai format djvu karena ternyata lebih kompak. Untuk membacanya ADBMers perlu menginstal software djvu reader. Bagi yang tahu link-nya silahkan diinformasikan. Kita juga akan usahakan untuk mencarikan link donlotnya. Atau, kalau memungkinkan, akan kita sediakan saja untuk di DL di sini.

  9. Setuju tuh,
    trus biar ga tumpang tindih waktu retype, yang udah retype bisa langsung di posting di comment section aja, jadi yang mau retype bisa tahu kalo halaman itu udah selesai. bisa juga pakai zoho atau kalo mau pakai joomla aja, jadi kolaborasinya bisa online langsung. servernya bisa di byethost.com tuh (tapi kapasitasnya cuma 250 mb, kalo ada yang tahu ada yang lebih gede lebih baik lagi), gratisan. gimana? aku bisa buatin kalo setuju.

    salam

    D2: Bung Melben, kolaborasi editing online merupakan ide cemerlang. Bisa nggak jilid yang udah rampung diedit dipindah ke blog ini? Jika memungkinkan, maka kapasitas 250 MB juga cukup, karena tiap jilid paling2 tidak sampai 5 MB. Saya se7 seX. Buatin aja.

    Sukra : Kalo soal tumpang tindih bisa diakali dengan satu orang sebagai penanggung jawab, mas. Mis ; ADBM Melben sebagai penanggung jawab jilid 21 ya semua hasil scan dan sebagainya dikirim ke ADBM Melben. Gitu kan lebih baik. Oh ya.. udah cek email belum mas ?

  10. Salah satu contoh kolaborasi online yang sudah berjalan bisa dilihat di http://silat.cersilangka.info/. Atau Mau ikutan saja disana, setelah ada jilid selesai baru tayang disini.

    Salam

  11. Aku setuju juga dng metode penayangan baru, cuma teknis “njlimetnya” aku kurang dong..Maklum sedikit Gabtek (tapi sedikit) ..He3

    Mas DD & para komandan, Trus tugasku ke depan apa dong..? Pokoknya jng mung “mampir ngombe” aja..

    Salam
    \\HER\\

    D2: Menurut saya, penting juga teksisasi ADBM itu. Kalau pada setuju, tugas kita ya sama seperti sebelumnya. Retype-konvert-edit-proof. Cuma tidak lagi dikejar2 tayang. O ya, Mas Her kan ikut dalam pasukan scanning Seri II dan seterusnya. Gimana tuh progresnya? Nyai Demang juga gak muncul2.

  12. Iya tuh..Apa sungkem ke Sangkal Putungnya kelamaan yach? kok belum juga merespon imelku, apalagi progresnya..Tapi aku yakin, pelan tapi pasti akan terealisasi..
    Salam

  13. tolong dibantu, setelah di dowmload stdu viewer tetap tidak bisa buka https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu. mau save file apanya yang harus di file

  14. wah saya berterima kasih banget kepada pengelola situs ini, tapi saya hanya bisa bantu baca saja ya…….
    maklum saya nggak begitu bisa bahasa pemograman dan pengolahan data komputer.
    maklum cuma s3 jadi agak ketinggalan dengan masalah teknologi IT.

    saya hanya bisa berdoa semoga yang mengelola situs ini bisa dengan sabar mengolahnya

    salam kenal dari saya yan dari madiun

    wassalam

    saiful anam

    D2: Kami tdk menggunakan bhs pemrograman apapun, Mas. Salam dan sebarkan virus ADBM

  15. trimakasih pada rekan2 yang telah membuat situs ini rasa kangen saya telah terobati dan saya tidak sangka ternyata pengemar ADBM cukup banyak, saya membaca ADBM pertama kali jilid ke 50 an tahun 1972 an alhamdulillah sekarang saya bisa membaca dari jilid 1 dan akan saya baca hingga tamat, sy hanya bisa bantu doa semoga kerja keras rekan2 dapat melestarikan komik asli Indonesia dengan latar belakang budaya Nusantara Bravo ADBM

  16. Wow, saya baru aja tau situs ini… thx buat seorang temen kantor yang lupa log out… Ini salah satu seri favorit keluarga besar saya… dulu kalo terbit bukunya, rebutan giliran… thx buat pemrakarsa penerbitan ini di internet… Kalo serial Nagasasra Sabuk Inten ada juga ngga?

  17. ning GANDOK sini…….cantrik tinggalkan jeJAK,

  18. pinten regine ki as

  19. andai mau di bikin fersi gambarnya.aku siap jadi tukang gambarnya mas.he he@

    • lha monggo…, dicoba saja, diupload di sini
      jika bagus dan banyak peminatnya nanti dibukukan, he he he …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: