Buku 18

“Kisanak benar,” sahut Sutawijaya. “Namun yang ingin kami campuri bukan persolan anak-anak muda Prambanan, tetapi adalah persoalan para prajurit Pajang itu.”

“He,” Haspada dan Trapsila mengerutkan kening mereka. Terdengar Trapsila bertanya, “Apakah kepentingan kalian dengan para prajurit itu?”

Sutawijaya tergagap. Ia ternyata agak terlampau jauh menjawab pertanyaan anak-anak muda Prambanan itu. Karena itu maka dengan terbata-bata ia menjawab, “Maksud kami, kami sama sekali tidak sependapat melihat sikap para prajurit itu.”

Kedua anak muda Prambanan itu terdiam. Namun mereka terkejut ketika melihat Agung Sedayu beringsut maju. Sutawijaya pun terkejut pula, tetapi ia menyadari keadaan sehingga dibiarkannya Agung Sedayu bertindak apabila dainggapnya perlu.

Dalam pada itu tamu yang seorang telah bergerak-gerak pula. Ternyata dadanya serasa menyimpan bara ketika ia melihat kawannya tidak segera dapat memenangkan perkelahian itu. Bahkan semakin lama agaknya menjadi semakin sulit. Karena itu, maka tanpa disengajanya ia beringsut pula maju.

“Apakah adikmu yang seorang itu juga mampu membela dirinya seperti adikmu yang gemuk itu?” bertanya Trapsila.

“Mudah-mudahan,” Sahut Sutawijaya. “Ia pun pernah berlatih sehari dua hari,” jawab Sutawijaya.

“Siapakah sebenarnya kalian,” bertanya Haspada tiba-tiba.

Sutawijaya terdiam sesaat. Dipandanginya wajah Haspada, namun kemudian ia menjawab, “Seperti yang dikatakan adikku yang gemuk itu. Kami adalah pengawal-pengawal Kademangan Sangkal Putung.”

“Kami bangga melihat pengawal-pengawal kademangan seperti kalian,” sahut Haspada. “Meskipun demikian timbul pula kecurigaan kami. Ternyata kalian suka merendahkan diri, bahkan terlampau berlebih-lebihan.”

“Sangkal Putung kini ada dalam bahaya,” sahut Sutawijaya. “Kami setiap kali harus bertempur melawan sisa-sisa laskar Arya Penangsang bersama para prajurit Pajang di sana. Mereka pulalah yang telah mendidik kami dan melatih kami dalam olah kanuragan.”

Haspada dan Trapsila terdiam. Jawaban itu dapat diterima oleh akalnya. Kini perhatian mereka tertarik pada tamu yang seorang lagi. Agaknya ia sudah tidak dapat menahan dirinya. Bahkan kemudian dengan serta merta ia berdiri sambil berkata, “Serahkan kelinci gemuk itu kepadaku.”

Tetapi ternyata kawannya pun tidak mau melihat kenyataan. Harga dirinya pasti akan tersinggung seandainya ia tidak dapat memenangkan perkelahian itu. Apalagi ia menyadari, bahwa anak-anak muda Prambanan, terutama anak-anak Sembojan menganggap mereka itu orang-orang yang luar biasa, melampaui ketangkasan dan ketangguhan prajurit-prajurit dari Pajang. Namun ternyata setelah ia memeras tenaganya, ia masih belum mampu mengalahkan lawannya yang gemuk hampir bulat itu.

Meskipun demikian kawannya yang seorang itu benar-benar tidak dapat bersabar lagi. Sekali lagi ia berteriak, “Tinggalkan lawanmu, biarlah aku patahkan lehernya itu.”

“Jangan ganggu aku,” sahut kawannya yang sedang berkelahi itu dengan nafas tersengal-sengal.

Kawannya itu pun terdiam sejenak. Namun nafasnya tidak kalah derasnya dengan nafas kawannya yang sedang berkelahi itu. Terengah-engah. Bahkan kadang-kadang terputus-putus.

Akhirnya, tamu yang satu itu pun tidak dapat mengendalikan dirinya ketika ia melihat kawannya yang berkelahi itu terdorong beberapa langkah surut, bahkan hampir terjatuh ke lantai. Terhuyung-huyung kawannya itu mencoba menguasai keseimbangannya, yang dengan susah payah berhasil. Tetapi hampir setiap orang, betapapun tipisnya ilmunya, dapat melihat, bahwa anak Sangkal Putung yang gemuk itu sengaja membiarkan lawannya berhasil menguasai diri. Ia tidak melakukan serangan selama kawannya itu tertatih-tatih. Bahkan seperti seorang yang berdiri menonton keheran-heranan.

“Minggir!” teriak tamu yang seorang itu “biarlah aku selesaikan urusan ini.”

“Aku masih sanggup,” sahut temannya.

Tiba-tiba Swandaru berkata, “Jangan berebut. Silahkan keduanya bersama-sama.”

Darah tamu-tamu dari Menoreh itu mendidih. Sorot matanya menjadi merah menyala.

“Apakah kau sudah gila?” terdengar suaranya gemetar.

Tetapi Swandaru masih saja tersenyum.

“Aku hanya ingin kalian tidak berkelahi sendiri karena berebut dahulu,” jawab anak yang gemuk itu.

Dada lawannya serasa hampir-hampir pecah. Sikap Swandaru telah membakar segenap perasaannya. Bahkan keduanya hampir-hampir lupa diri dan bersama-sama menyerang Swandaru yang telah menghina mereka.

Agung Sedayu menarik nafas. Betapapun kuatnya Swandaru, tetapi untuk melawan mereka berdua, agaknya akan terlampau berat. Seandainya terjadi demikian, maka Swandaru pasti akan mengerahkan segenap tenaganya dan adalah mungkin bahwa ia akan lupa diri dan melepaskan serangan-serangan yang langsung membahayakan jiwa lawannya. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun berdri. Perlahan-lahan ia melangkah maju sambil berkata, “Aku akan mencoba membantu adikku membuat keseimbangan. Apakah kita akan bermain-main berpasangan ataukah kita akan berhadapan seorang lawan seorang?”

Kembali pendapa itu dicengkam oleh ketegangan. Mereka melihat anak Sangkal Putung yang seorang itu pun bersedia melayani tamu-tamu mereka dari Menoreh. Sikap dan kata-kata anak muda ini agak berbeda dengan sikap dan kata-kata anak muda yang gemuk, yang agaknya senang berkelakar. Anak muda yang kedua ini agaknya lebih pendiam dan banyak di antara mereka segera menyadari, bahwa anak muda pendiam itu agaknya lebih matang dari anak yang gemuk bulat itu.

Kedua tamu dari Menoreh itu pun melihat pula sikap itu. Kini mereka tidak melihat seorang anak muda yang dungu dan bodoh. Tetapi langkah dan kata-kata Agung Sedayu benar-benar telah mempengaruhi hati mereka. Karena itu sejenak mereka saling berpandangan. Dan tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Hem, apakah keinginanmu berdua? Apakah kalian akan memperlihatkan kepandaian kalian seorang-seorang ataukah kalian ingin menunjukan kerapihan kalian dalam pertempuran berpasangan?”

“Kamilah yang bertanya,” sahut Swandaru.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Mereka tidak segera menjawab. Namun segera mereka menyadari, bahwa setidak-tidaknya orang yang satu ini pun tidak akan kalah dari anak muda yang gemuk itu.

Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar seseorang berkata, “Aku ingin melihat kalian berkelahi berpasangan.”

Semua orang berpaling ke arah suara itu. Mereka mengerutkan kening mereka, ketika mereka melihat tamu yang seorang lagi duduk bersila sambil membelai kumisnya yang tidak begitu lebat. Dengan tersenyum ia mengulangi kata-katanya, “Berkelahilah berpasangan.”

Agaknya orang itu mempunyai pengaruh yang kuat atas kedua kawannya. Ia adalah pemimpin rombongan kecil yang datang dari seberang Hutan Mentaok itu.

Kembali kedua kawan-kawannya saling berpandangan. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Baik. Kita bertempur berpasangan.”

Agung Sedayu tidak menyukai istilah yang dipakai oleh kedua tamu itu, tetapi ia tidak dapat menyahut. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati Swandaru. Kemudian katanya, “Kita bermain berpasangan.”

Swandaru tersenyum. Dipandanginya kedua lawannya yang kini telah berada di hadapan mereka. Bahkan mereka telah bersiap pula untuk menghadapi kedua saudara seperguruan itu.

Agung Sedayu dan Swandaru sudah tidak berminat lagi untuk menanyakan sesuatu. Karena itu, maka mereka pun berdiam diri sambil menunggu.

“Apakah kalian tidak akan menyesal,” bertanya salah seorang dari mereka, “mungkin wajah kalian akan tidak dapat dikenal besok karena bengkak-bengkak dan babak belur. Beruntunglah kalian seandainya tidak ada bagian dari tubuh kalian yang patah.”

Agung Sedayu menjawab dengan segan, “Mudah-mudahan aku selamat.”

Kedua lawannya mengerutkan keningnya. Jawaban itu terlampau pendek. Namun disadarinya, bahwa mereka akan berkelahi, tidak harus berbicara berkepanjangan. Karena itu, maka berkata salah seorang dari mereka, “Bersiaplah, kita akan mulai.”

“Marilah,” sahut Swandaru pendek.

Keduanya pun kini tidak lagi berbicara. Segera mereka bersiap seperti dua pasang penari yang bersiap untuk mulai dengan pertunjukannya.

Namun kini Agung Sedayu dan Swandaru terkejut pula seperti orang-orang lain yang berada di pendapa dan di halaman banjar desa itu. Bahkan Sutawijaya pun terkejut pula, sehingga ditengadahkannya wajahnya memandangi tamu dari Menoreh yang seorang lagi, yang kini masih duduk bersila sambil membelai kumisnya. Dengan tenangnya orang itu berkata, “He, apakah para penabuh gamelan tidak dapat mengiringi pertunjukan ini dengan gending yang serasi?”

Keempat orang yang telah bersiap untuk berkelahi itu pun justeru tertegun, sementara Sutawijaya berbisik di dalam hatinya, “Orang ini agak berbeda dari kedua teman-temannya.”

Sikap tamu yang seorang ini memang jauh berbeda dengan dengan kedua kawan-kawannya. Sikapnya tenang dan meyakinkan. Orang itu tidak mudah menjadi gelisah dan gugup. Bahkan sambil tersenyum-senyum ia melihat keadaan seperti benar-benar sedang melihat tayub.

Ketika kedua kawannya masih termangu-mangu di tengah-tengah pendapa itu, kembali ia berkata, “He, kenapa kalian berdiri saja di situ seperti patung. Lekas, kalau kalian mau berkelahi, berkelahilah, kalau kalian mau menari, menarilah. Lihatlah halaman di sekeliling pendapa dan di pendapa ini. Para penonton telah menunggu-nunggu apa yang akan terjadi. Biarlah mereka tidak terlalu lama kecewa. Kalau salah satu pihak akan babak belur, biarlah itu segera terjadi. Wajah-wajah yang biru bengap dan bengkak-bengkak pasti akan menarik sekali. Ayo, para penabuh, apakah kalian tidak sanggup mengiringi tarian maut ini dengan gending-gending yang gila. Ayo.”

Kedua orang tamu dari Menoreh itu pun tergagap. Mereka menyadari keadaannya. Karena itu kembali mereka bersiap menghadapi kedua anak-anak muda Sangkal Putung. Tetapi para penabuh gamelan masih saja duduk membeku. mereka sama sekali tidak bergerak untuk mengikuti perkelahian itu dengan iringan gending apapun.

Tetapi kedua pasang lawan itu pun tidak menunggu. para tamu dari Menoreh segera mulai dengan serangan-serangannya. Dan kedua saudara seperguruan itu pun segera mulai melayaninya.

Perkelahian itu kini meningkat menjadi semakin seru. Kedua tamu dari Menoreh yang sedikit banyak telah melihat ketangkasan Swandaru tidak mau bermain-main lagi. Mereka tidak dapat lagi mempunyai anggapan yang lain daripada, bahwa kedua anak-anak muda itu sebenarnya terlampau kuat bagi mereka.

Sejak perkelahian itu mulai, maka mereka yang cukup mengerti akan segera dapat melihat bahwa kedua pasangan itu sama sekali tidak berimbang. Agung Sedayu dan Swandaru memang terlampau kuat untuk kedua lawannya. Meskipun demikian, mereka masih mencoba menyesuaikan diri mereka. Kemenangan mereka tidak terlalu menonjol, meskipun bagi orang yang dapat mengertinya cukup meyakinkan.

Tamu yang seorang, yang sampai saat itu masih duduk di pinggir pendapa di antara para pemimpin Kademangan Prambanan dan para prajurit, melihat perkelahian itu dengan wajah yang kerut-merut. Betapa hatinya sebenarnya menjadi bergolak dan bergelora. Sebenarnya hatinya sama sekali tidaklah setenang wajahnya. Ia yakin bahwa kedua kawan-kawannya sama sekali tidak akan dapat mengimbangi kedua anak-anak muda Sangkal Putung, tetapi disimpannya perasaan itu di dalam dadanya. Yang tampak di wajahnya adalah sebuah senyuman dan bahkan kadang-kadang terdengar ia tertawa kecil.

“Hem, alangkah tangkasnya anak-anak muda Sangkal Putung itu,” desisnya.

Para pemimpin Prambanan dan para prajurit berpaling ke arahnya. Dan ia berkata terus, “Kawan-kawanku itu sama sekali tidak akan mampu mengimbangi mereka. Kalau benar mereka pengawal Sangkal Putung, alangkah kuatnya kademangan itu. Tetapi dengan demikian aku pun menjadi ikut berbangga. Bukankah salah seorang prajurit Pajang di Sangkal Putung itu kemanakanku, Sidanti. Pastilah anak itulah yang telah melatihnya menjadi pengawal yang baik.”

Yang mendengarkan kata-katanya itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mereka kehendaki. Sedang mata mereka kini kembali melihat perkelahian itu. Semakin lama semakin seru. Kedua orang dari Menoreh itu telah memeras segenap kemampuan yang ada pada mereka, dan Agung Sedayu beserta Swandaru pun berusaha melayani sebaik-baiknya.

Tetapi di mata tamu yang seorang itu, perkelahian itu sama sekali tidak menarik hatinya. Sebab ia tahu kedua anak-anak muda dari Sangkal Putung itu pun tidak berkelahi sepenuh kekuatannya. Para prajurit pun menyadari keadaan itu. Mereka pun mengerti apa yang terjadi di pendapa, sehingga mereka pun menjadi terheran-heran. Anak-anak muda Sangkal Putung ternyata adalah anak-anak muda yang tangguh melampaui dugaan mereka.

Tiba-tiba tamu yang seorang itu pun berteriak, “Menjemukan! Menjemukan! Permainan ini sama sekali tidak menarik.”

Tetapi perkelahian itu masih saja berlangsung. Mereka berempat seakan-akan tidak mendengar teriakan itu. Sehingga orang itu mengulangi sekali lagi, “Berhenti! Berhenti! Perkelahian kalian menjemukan.”

Tiba-tiba perkelahian itu pun mengendor. Akhirnya mereka berloncatan mundur, sehingga perkelahian itu berhenti.

“Kenapa?” Teriak salah seorang tamu itu. “Kami belum menyelesaikan pekerjaan kami. Kami segera akan membuat kedua anak-anak ini menjadi biru bengkak.”

Kawannya yang masih saja duduk itu tertawa. Katanya, “Jangan membual. Apakah kau sangka bahwa kami tidak tahu yang sebenarnya terjadi? Kalian berdua tidak akan dapat memenangkan itu. Kalau ada di antara kalian yang biru bengap, maka yang biru bengap adalah kalian berdua itu sendiri. Bukan anak-anak muda Sangkal Putung itu. Mereka masih belum menggunakan segenap kekuatan mereka, sedang kalian telah hampir mati kelelahan. Dengan demikian kami belum dapat menjajaki sampai di mana puncak kemampuan mereka.”

Kedua kawannya itu tidak menjawab. Mereka tidak akan dapat mengingkari, bahwa sebenarnyalah demikian.

“Aku bangga melihat keterampilan anak-anak Sangkal Putung itu,” desis orang yang masih duduk itu. Namun nadanya agak berbeda dengan nada kawannya yang terdahulu. Wajahnya pun kini tidak lagi secerah semula. Bagaimanapun ia menyembunyikan perasaannya, namun akhirnya tampak pula, betapa ia merendam kemarahan di dalam dadanya.

Orang itu pun tiba-tiba berdiri. Sekali ia mengangguk kepada Ki Demang Prambanan, kemudian kepada kedua pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung.

Agung Sedayu dan Swandaru masih berdiri di tengah-tengah pendapa itu. Tetapi kini dada mereka pun berdebaran. Mereka melihat perbedaan yang seorang ini dengan kedua kawan-kawannya yang lain.

Tamu yang seorang itu pun segera melangkah mendekaiti Agung Sedayu dan Swandaru. Betapa hatinya bergelora, dan betapa api menyala membakar jantungnya, namun wajahnya masih juga tersenyum dan dari sela-sela bibirnya terdengar ia berkata, “Aku mengagumi kalian. Bukankah kalian bukan saja pengawal Kademangan Sangkal Putung yang mendapat tuntunan dari para prajurit Pajang, tetapi kalian ini juga saudara seperguruan?”

Agung Sedayu dan Swandaru mengerutkan keningnya. Orang itu mampu menebak dengan tepat. Namun kedua anak-anak muda itu pun tahu pula, bahwa orang itu pasti telah membaca unsur-unsur gerak yang dipergunakan, meskipun Agung Sedayu memiliki unsur-unsur gerak jauh lebih kaya dari Swandaru, namun dalam pokok-pokoknya keduanya pasti mempunyai banyak persamaan.

“Apakah aku salah?” bertanya tamu itu.

Agung Sedayu menggeleng sambil menjawab, “Tidak.Tuan benar.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Kalian masih cukup muda. Sedang ilmu kalian telah melampaui kedua kawan-kawanku itu. Bahkan aku tidak berhasil mengetahui betapa tinggi puncak ilmu kalian dalam perkelahian kalian dengan kedua kawan-kawanku. Kelak apabila kalian menjadi semakin sempurna dalam olah kanuragan jaya kawijayan, maka kalian berdua akan menjadi seperti sepasang elang dari satu sarang.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Namun debar jantung mereka tidak mereda. Orang ini pasti menyimpan ilmu yang jauh berbeda dengan kedua kawan-kawannya itu.

“Nah,” katanya, “apakah kakakmu yang seorang itu juga seperguruan pula?”

Agung Sedayu dan Swandaru bersama-sama menggelengkan kepalanya. Tetapi hanya Agung Sedayu-lah yang menjawab, “Tidak.”

Orang itu berpaling ke arah Sutawijaya. Agung Sedayu dan Swandaru pun memandanginya. Namun Sutawijaya masih saja duduk di tempatnya meskipun sekali-sekali tampak ia mengangkat kepalanya dan mencoba memperhatikan setiap pembicaraan.

Ia tidak pula dapat berdiam diri. Melihat sikap dan langkah orang itu Sutawijaya pun menjadi cemas. Meskipun belum dapat dipastikan namun orang ini pasti menyimpan banyak kelebihan dari kedua kawannya. Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu. Ditunggunya perkembangan keadaan lebih lanjut.

Sejenak kemudian maka tamu dari Menoreh itu pun bertanya lagi, “Apakah kalian berdua puas dengan kemenangan kalian atas kedua kawan-kawanku?”

Yang menjawab adalah Agung Sedayu, “Bukan suatu kemenangan.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia menjawab, “Aku menganggapnya sebagai suatu kemenangan.”

“Kami masih dalam permainan. Belum ada kepastian siapakah di antara kami yang akan menang,” sahut Swandaru.

Orang itu mengerutkan keningnya kembali. Wajahnya kini tidak seterang semula. Senyumnya tidak lagi menghiasi bibirnya. Dalam nada yang dalam ia berkata, “Jangan menghina. Kalian sudah pasti bahwa kalian akan menang apabila perkelahian itu diteruskan. Tetapi dengan kemenangan itu kalian jangan terlampau cepat berbangga.”

Agung Sedayu dan Swandaru terkejut mendengar jawaban itu. Ternyata yang seorang ini mempunyai harga diri yang terlampau tinggi. Meskipun demikian Agung Sedayu berkata, “Jangan menyangka demikian. Tak ada maksud kami menyombongkan diri kami. Bahkan tak ada maksud kami terlibat dalam perkelahian dengan dalih apapun. Tetapi kami malam ini tersudut dalam kemungkinan ini. Kemungkinan yang tidak dapat kami hindari.”

“Omong kosong!” orang itu hampir berteriak. “Kalian sengaja membuat keributan di halaman dengan menghina para prajurit dan kedua kawan-kawanku.”

Agung Sedayu dan Swandaru sejenak saling berpandangan. Kemudian mereka pun memandangi wajah Sutawijaya pula, seakan-akan mereka ingin mendapat pertimbangan. Namun wajah Sutawijaya itu tidak berbicara apapun bagi mereka berdua. Mereka hanya melihat wajah itu berkerut-kerut.

Sejenak kemudian mereka mendengar orang itu berbicara lagi, “Kalian datang dari Sangkal Putung dengan sengaja ingin mempertunjukkan kelebihan-kelebihanmu di sini. Tetapi jangan kau sangka bahwa Sidanti akan berbangga mendengar tingkah lakumu itu. Kalau ia mendengar, maka kau pasti akan dicekiknya sampai mati. Sayang ia tidak melihat kau berbuat seperti ini. Tetapi karena akulah yang melihat bahwa kau telah menghina kedua kawan-kawanku, maka akulah yang akan mewakilinya. Ia pasti akan berterima kasih kepadaku apabila kelak aku mengatakan kepadanya, bahwa tiga orang-orangnya dari Sangkal Putung aku patahkan tangan-tangannya karena kesalahan mereka sendiri.”

Dada kedua anak-anak muda dari Sangkal Putung itu berdesir. Agung Sedayu menggigit bibirnya untuk menahan gelora di dalam dadanya, ia masih mencoba untuk menguasai keseimbangan perasaannya. Karena itu ia masih belum segera menjawab. Tetapi telinga Swandaru ternyata telah terlampau panas. Dengan serta-merta ia menjawab, “Kau sombong seperti Sidanti.”

Jawaban yang pendek itu benar-benar telah menggoncangkan segenap pertimbangan tamu itu. Wajah tamu dari Menoreh itu segera menjadi gelap. Dan orang-orang yang melihatnya pun menjadi semakin tegang. Yang mereka dengar kemudian adalah orang itu berkata, “Hem, aku ingin kalian bertiga maju bersama-sama supaya perkelahian yang terjadi tidak menjemukan seperti perkelahian yang baru saja berlangsung. Ternyata bukan saja tanganmu yang akan aku patahkan, tetapi juga mulutmu. Ayo, bawa saudaramu yang seorang itu ke arena kalau ia mampu.”

Tetapi Sutawijaya ternyata tidak menunggu Agung Sedayu atau Swandaru memanggilnya. Ia kini telah berdiri. Seperti tamu tadi ia mengangguk hormat kepada para tamu yang lain dan dengan perlahan-lahan maju ke tengah-tengah pendapa. Ia tertegun ketika salah seorang pemimpin prajurit berdesis. Tetapi prajurit itu tidak berkata sesuatu.

Prajurit itu adalah prajurit yang seorang lagi, bukan pemimpin prajurit yang memberikan perintah untuk menangkapnya. Karena prajurit itu kemudian sama sekali tidak mengucapkan kata-kata, maka Sutawijaya pun meneruskan langkahnya ke tengah-tengah pendapa.

Tamu dari Menoreh yang menantang mereka berkelahi bersama, memandanginya dengan mata yang menyala. Meskipun demikian orang itu masih mencoba tersenyum sambil berkata, “Hei. Kalian masih sangat muda.”

“Ya,” sahut Sutawijaya, “kami masih cukup muda.”

“Bagus,” desis orang itu. “Tetapi kenapa kalian senang mencari persoalan dengan orang lain. Kenapa kalian senang mencampuri urusan yang bukan urusanmu?”

“Kami tidak sengaja,” sahut Sutawijaya. “kami tidak sengaja membuat persoalan dan mencampuri urusan orang Iain. Tetapi kami juga tidak biasa melihat keanehan-keanehan terjadi?”

“Apa yang aneh menurut pertimbanganmu?” bentak orang itu.

“Banyak sekali.”

“Sebut satu di antaranya.”

“Di antaranya adalah, bahwa kau terlampau merasa dirimu penting dan merasa kau mempunyai wewenang yang berlebih-lebihan. Itu pun akibat dari sesuatu keanehan. Ternyata kau adalah tamu yang terlampau manja di sini.”

“Diam!” tamu itu pun berteriak sehingga hampir setiap orang terkejut karenanya. Dengan luapan kemarahan ia membentak-bentak. “Kau tidak berwenang apapun berbuat demikian. Itu adalah perbuatan yang menyakitkan hati.”

“Aku tidak peduli,” sahut Sutawijaya dengan tatag. Kini ia tidak lagi berusaha menghindari apapun. “Tetapi aku tidak senang melihat sikap dan perbuatan yang demikian.”

“Siapkan diri kalian,” teriak orang itu tiba-tiba. “Kita akan segera mulai. Majulah bertiga bersama-sama.”

“Tidak,” sahut Sutawijaya. “Kami bukan pengecut yang hanya berani berkelahi bersama-sama. Kalau kau berkelahi sendiri, akupun akan berkelahi sendiri.”

Darah orang itu telah benar-benar mendidih sampai ke kepala. Sikap Sutawijaya yang tatag berani itu benar-benar telah sangat mengganggunya. Anak yang masih terlampau muda itu seakan-akan merasa dirinya sangat yakin sehingga orang itu berteriak, “Jangan berbangga karena kawan-kawanmu dapat menang dari kedua kawan-kawanku. Tetapi jangan mimpi bahwa kalian dapat mengalahkan aku. Aku adalah adik Kepala Daerah Perdikan Menoreh. Aku adalah paman Sidanti itu.”

“Pantas,” sahut Sutawijaya tegas.

“Apa?” teriaknya pula.

“Pantas. Benar kata adikku, kau sombong seperti Sidanti.”

Sekali lagi dada orang itu serasa akan meledak. Sekali lagi ia berkata lantang, “Kita akan mulai. Kalau kau akan berkelahi seorang diri, dan kau menjadi korban kesombonganmu adalah bukan salahku. Semua orang akan menjadi saksi.”

“Baik,” sahut Sutawijaya, yang kemudian berkata kepada Agung Sedayu dan Swandaru, “Minggirlah. Biarlah orang ini dapat menakar diri.”

Orang itu hampir tidak dapat mengekang dirinya lagi. Hampir-hampir ia meloncat menerkam Sutawijaya. Tetapi untunglah bahwa orang-orang yang duduk di tepi pendapa itu telah mempengaruhinya pula.

Agung Sedayu dan Swandaru pun menjadi kecewa. Mereka masing-masing ingin pula mendapat kesempatan untuk melawan orang itu, tetapi karena mereka mengetahui siapakah Sutawijaya itu, maka mereka pun tidak membantahnya.

Tetapi di pinggir pendapa itu, pemimpin prajurit yang seorang itu pun tampak menjadi sangat gelisah. Prajurit itu seakan-akan ingin berbuat sesuatu, tetapi ia menjadi ragu-ragu. Kini ia melihat kedua kawan masing-masing pihak telah melangkah menepi dan ia melihat kemarahan telah membara pada wajah keduanya. Apalagi kemudian ia mendengar tamu dari Menoreh itu berteriak, “Kita bukan anak-anak tanggung, yang hanya suka berkelahi. Tetapi kita masing-masing menyadari akibat daripadanya.”

Sutawijaya menyadari kata-kata itu. Para prajurit dan para pemimpin Kademangan Prambanan pun menyadarnya pula. Mereka mendengar Sutawijaya menjawab, “Aku tidak takut menghadapi akibat yang paling parah sekali pun.”

“Bagus,” sahut orang itu. “Kau akan dapat mati di arena ini.”

Perkataan itu telah menegangkan setiap hati yang mendengarnya. Beberapa orang menjadi ngeri dan perempuan-perempuan pun menjadi lebih baik menyingkir jauh-jauh.

Tetapi sebelum mereka mulai, maka tiba-tiba pemimpin prajurit yang gelisah itu pun meloncat berdiri. Dengan tegangnya ia berkata, “Aku tidak ingin melihat pertumpahan darah di kademangan ini. Kau bukan orang Prambanan, kau pun bukan. Apakah sebabnya kalian akan berkelahi di pendapa Banjar Desa Prambanan? Bahkan sampai mati? Tidak. Aku adalah pamimpin Prajurit Pajang di Prambanan. Aku mengemban tugas di sini. Dan aku melarang kalian berkelahi.”

Wajah tamu dari Menoreh itu pun menjadi semakin menyala mendengarnya. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya sambil menjawab kasar, “Akulah yang akan berkelahi, bukan kau?”

“Aku mempunyai wewenang di sini. Aku penguasa yang mendapat tugas langsung dari pimpinan prajurit Wira Tamtama, dan bertanggung jawab kepada senapati di daerah lereng Merapi, Untara.”

Orang itu terdiam. Tetapi dada Agung Sedayu berdesir mendengar kata-kata itu. Ternyata daerah ini adalah masih merupakan daerah yang menjadi tanggung jawab kakaknya, Untara. Tetapi prajurit itu sama sekali belum mengenalnya, bahwa ia adalah adik Untara. Apalagi dirinya, bahkan ternyata terhadap Sutawijaya pun orang itu belum mengenalnya.

Tetapi tamu itu berteriak, “Apa peduliku. Bahkan seandainya Untara di sini, aku tidak akan takut. Aku akan tetap dalam pendirianku. Berkelahi sampai mati di sini.”

“Aku tidak berkepentingan apakah kau akan mati atau tidak. Tetapi tidak di sisni. Tidak di Prambanan.”

Terdengar gigi tamu itu gemeretak. Demikian kemarahan menanjak sampai ke ubun-ubun sehingga sejenak justru ia terdiam. Beberapa orang menjadi heran melihat sikap pemimpin prajurit itu, bahkan kawannya, pemimpin prajurit yang lain pun menjadi heran melihat sikam kawannya itu. Dengan tidak sesadarnya ia berteriak, “Biarkan Kakang. Biarkan saja apa yang akan terjadi. Biarkan saja anak-anak Sangkal Putung itu dicekik sampai mampus. Mereka telah menghina kami di sini, menghina tamu-tamu itu dan menghina anak-anak muda Prambanan.”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 4 Oktober 2008 at 23:16  Comments (32)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-18/trackback/

RSS feed for comments on this post.

32 KomentarTinggalkan komentar

  1. Salam kenal, saya senang ada yang publish ADBM. Saya gemar cerita silat sih. O ya.. kalau dipercaya saya juga bisa bantu untuk ikut ng-edit asal diberi tahu caranya. Ya biar kerjaan jadi tambah ringan. Trims.

    D2: Terima kasih atas supportnya. Nanti kalau bahan sudah dikirim akan saya kasih tahu.

  2. Assalamu’alaikum wr wb,
    Bung DD, dan segenap membership ADBM yang saya cintai :

    Paling Enak Makan Ketupat,
    Minum ES Dicampur Serbat,
    Berjabat Tangan Tidak Sempat,
    Kirim Imil Juga Terlambat.

    Pupuh Dandang Gula, dulu dinyanyikan Kyai Gringsing:

    -Gumiliring mongso kolo yekti,
    -Purbaning Hyang Kang Moho Kuwoso,
    -Wus purno Ramadhane,
    -Idhul Fitri 1429 wus tumiyung,
    -Gyo angrucat dosa sami,
    -Apuro ingapuran,
    -Lahir trusing kalbu,
    -Yo iku ingkang sinedyo,
    -Manunggaling roso sadoyo prodhasih,
    -Asih marang sasomo.

    SUGENG RIYADI 1429 H.
    NYUWUN GUNGING SAMODRA PANGAKSAMI
    SEDOYO KALEPATAN.

    Wassalamu’alaikum wr wb.,
    Sumarmo Hs

  3. SANDIWARA RADIO ADBM

    sewaktu saya pulang kampung, tidak sengaja mendengarkan radio. Eh ada sandiwara radio ADBM , tapi ceritanya sudah jauh, karena sekarmirah …

    mungkin ADBM-ers ada info , mayan kan sambil2 denger ..hhh

    D2: Lebih seru mana, Mas?

  4. absen dulu di buku 18 ah

  5. Benar kata rekan2 yg sudah membaca ADBM, katanya jilid 1-100 masih berbelit2, dan menceritakan sesuatu hal tertentu sangat detail, yg membuat kita kadang2 bosan juga.
    Tapi 100 keatas, baru kelihatan cerita sesungguhnya.
    ingin membuktikan juga

  6. Salam ADBM,

    Salut untuk semua sahabat-sahabat yang penuh keikhlasan sudah berusaha untuk melanggengkan salah satu perbendaharaan sastra yang adi luhung ini.

    Semoga karya ini bisa selesai sampai tuntas hingga akhir cerita yang ditulis oleh sang empunya.

    Untuk mas DD dan seluruh pasukannya, terima kasih atas persembahannya ini.

    Salam,
    Abu Faris

  7. Menanggapi usul temen2 untuk mempercepat penayangan ADBM, barusaja saya memperoleh saran yang baik sekali dari BD. Beliau menyarankan agar ADBM ditayangkan apa adanya saja (dalam bentuk image). Tentu kita akan menggunakan format yang simpel (bukan JPG). Mungkin PDF atau DJVU(?). Terus terang saya mengamini ide beliau. Dengan cara ini proses penayangan tidak perlu menunggu proses konversi-edit-proof yang banyak memakan waktu. Sementara itu, proyek digitalisasi (maksud saya teksisasi) sebagaimana kita lakukan selama ini bisa berjalan seiring (kalau kita masih mau). Kita minta kesediaan ADBMers untuk mengalihkan ADBM (retype atau apapun caranya) ke teks sambil menikmati ADBM itu sendiri. Lalu, sebagaimana sebelumnya, teks2 itu kita kumpulkan dan diaplod (ulang) sedikit demi sedikit. Saya yakin proses ini akan jauh lebih cepat. Kalau seminggu 5 jilid, maka sisa 83 jild bagian pertama bisa kita tayangkan dalam hanya 3 bulan! Suatu kemajuan yang sangat luar biasa. Dengan cara begini semua bisa terpuaskan dan proyek digitalisasi tetap bisa berjalan. Bagaimana, kawan?

    DD

    • ya ya ruar byasah
      emang bener-bener ruar byasaaaa
      trutama ki mangkubyasaaaa

      • nopo niku ??????????

        • genthong gedhe niku lho ki mangku

          • sing gadhah sinten niku …..

            • kyai semut kalih nyai lumut 🙄

              • Lho nopo taksih pernah nak-ndulur kaliyan mbok rondho

                Dhadhapan to ???????

                • kirang terang ki mangku, nek masalah rondho sampean nyuwun pirso ki satpam utawi ki ndul kemawon

  8. Dear Bung Dede,
    Saya sangat setuju usulan ini, dan pdf menurut saya adalah format yang paling efisien. Lagian sudah banyak software free yang bisa konversi langsung ke format text atau word.
    Wassalam, GI.

    D2: Kita akan pakai format djvu karena ternyata lebih kompak. Untuk membacanya ADBMers perlu menginstal software djvu reader. Bagi yang tahu link-nya silahkan diinformasikan. Kita juga akan usahakan untuk mencarikan link donlotnya. Atau, kalau memungkinkan, akan kita sediakan saja untuk di DL di sini.

  9. Setuju tuh,
    trus biar ga tumpang tindih waktu retype, yang udah retype bisa langsung di posting di comment section aja, jadi yang mau retype bisa tahu kalo halaman itu udah selesai. bisa juga pakai zoho atau kalo mau pakai joomla aja, jadi kolaborasinya bisa online langsung. servernya bisa di byethost.com tuh (tapi kapasitasnya cuma 250 mb, kalo ada yang tahu ada yang lebih gede lebih baik lagi), gratisan. gimana? aku bisa buatin kalo setuju.

    salam

    D2: Bung Melben, kolaborasi editing online merupakan ide cemerlang. Bisa nggak jilid yang udah rampung diedit dipindah ke blog ini? Jika memungkinkan, maka kapasitas 250 MB juga cukup, karena tiap jilid paling2 tidak sampai 5 MB. Saya se7 seX. Buatin aja.

    Sukra : Kalo soal tumpang tindih bisa diakali dengan satu orang sebagai penanggung jawab, mas. Mis ; ADBM Melben sebagai penanggung jawab jilid 21 ya semua hasil scan dan sebagainya dikirim ke ADBM Melben. Gitu kan lebih baik. Oh ya.. udah cek email belum mas ?

  10. Salah satu contoh kolaborasi online yang sudah berjalan bisa dilihat di http://silat.cersilangka.info/. Atau Mau ikutan saja disana, setelah ada jilid selesai baru tayang disini.

    Salam

  11. Aku setuju juga dng metode penayangan baru, cuma teknis “njlimetnya” aku kurang dong..Maklum sedikit Gabtek (tapi sedikit) ..He3

    Mas DD & para komandan, Trus tugasku ke depan apa dong..? Pokoknya jng mung “mampir ngombe” aja..

    Salam
    \\HER\\

    D2: Menurut saya, penting juga teksisasi ADBM itu. Kalau pada setuju, tugas kita ya sama seperti sebelumnya. Retype-konvert-edit-proof. Cuma tidak lagi dikejar2 tayang. O ya, Mas Her kan ikut dalam pasukan scanning Seri II dan seterusnya. Gimana tuh progresnya? Nyai Demang juga gak muncul2.

  12. Iya tuh..Apa sungkem ke Sangkal Putungnya kelamaan yach? kok belum juga merespon imelku, apalagi progresnya..Tapi aku yakin, pelan tapi pasti akan terealisasi..
    Salam

  13. tolong dibantu, setelah di dowmload stdu viewer tetap tidak bisa buka https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/10/adbm-jilid-019.djvu. mau save file apanya yang harus di file

  14. wah saya berterima kasih banget kepada pengelola situs ini, tapi saya hanya bisa bantu baca saja ya…….
    maklum saya nggak begitu bisa bahasa pemograman dan pengolahan data komputer.
    maklum cuma s3 jadi agak ketinggalan dengan masalah teknologi IT.

    saya hanya bisa berdoa semoga yang mengelola situs ini bisa dengan sabar mengolahnya

    salam kenal dari saya yan dari madiun

    wassalam

    saiful anam

    D2: Kami tdk menggunakan bhs pemrograman apapun, Mas. Salam dan sebarkan virus ADBM

  15. trimakasih pada rekan2 yang telah membuat situs ini rasa kangen saya telah terobati dan saya tidak sangka ternyata pengemar ADBM cukup banyak, saya membaca ADBM pertama kali jilid ke 50 an tahun 1972 an alhamdulillah sekarang saya bisa membaca dari jilid 1 dan akan saya baca hingga tamat, sy hanya bisa bantu doa semoga kerja keras rekan2 dapat melestarikan komik asli Indonesia dengan latar belakang budaya Nusantara Bravo ADBM

  16. Wow, saya baru aja tau situs ini… thx buat seorang temen kantor yang lupa log out… Ini salah satu seri favorit keluarga besar saya… dulu kalo terbit bukunya, rebutan giliran… thx buat pemrakarsa penerbitan ini di internet… Kalo serial Nagasasra Sabuk Inten ada juga ngga?

  17. ning GANDOK sini…….cantrik tinggalkan jeJAK,

  18. pinten regine ki as

  19. andai mau di bikin fersi gambarnya.aku siap jadi tukang gambarnya mas.he he@

    • lha monggo…, dicoba saja, diupload di sini
      jika bagus dan banyak peminatnya nanti dibukukan, he he he …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: