Buku 17

Tanpa disengaja Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru serentak berpaling ke arah Haspada, yang wajahnya tiba-tiba berkerut-merut.

“Gila,” geramnya, “kalau anak-anak muda di Prambanan ini menjadi liar, sebagian adalah kesalahan orang-orang tua pula.”

“Apakah yang akan datang?” bertanya Agung Sedayu. “Irama terlampau panas.”

“Tayub. Tayub. Kalian akan melihat beberapa orang perempuan penari naik ke atas pendapa itu. Mereka akan menari semakin lama semakin panas. Satu-persatu para tamu akan berdiri dan ikut menari. Tetapi apabila mereka telah dicengkam oleh mabuk tuak, maka mereka tidak akan sabar menunggu giliran mereka. Mereka akan berebut dahulu dan kadang-kadang mereka tidak lagi memperdulikan orang lain. Dengan demikian kalian akan melihat pertunjukan yang gila di atas pendapa itu. Sedang kegilaan yang serupa akan terjadi pula di halaman ini,” berkata Haspada dengan nada yang aneh, terasa getaran dadanya terlontar pada kata-katanya. Betapa muaknya ia melihat peristiwa itu.

“Lebih baik kalian meninggalkan halaman ini,” katanya kepada Sutawijaya dan kedua kawannya.

“Apakah kalian juga akan pergi?” bertanya Sutawijaya.

“Aku tidak sampai hati meninggalkan mereka dalam keadaan yang gila ini. Meskipun hatiku sakit, tetapi aku merasa wajib untuk tetap berada di sini. Mungkin aku dapat melihat sesuatu yang perlu dicegah. Aku tidak peduli seandainya anka-anak muda itu saling mencekik di antara mereka. Bahkan di antara mereka para tamu dan prajurit-prajurit Pajang itu. Tetapi aku ingin mencegah korban yang tidak pada tempatnya.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan yang ditanyakan kepada Paman Astra tetapi belum mendapat jawaban, “Apakah prajurit-prajurit Pajang itu tidak akan berbuat sesuatu seandainya timbul hal-hal yang tidak diinginkan?”

“Jumlah mereka terlampau sedikit.”

“Berapa?”

“Tidak lebih dari sepuluh orang.”

“Jumlah itu sudah cukup,” tiba-tiba Sutawijaya memotong kata-kata Haspada sehingga anak Sembojan itu menjadi heran.

“Oh,” Sutawijaya menyadari dirinya, bahwa kini ia adalah anak Sangkal Putung, sehingga cepat-cepat ia memperbaiki kata-katanya .

“Maksudku, apakah sepuluh orang prajurit itu tidak mampu mencegah kerusuhan yang dapat terjadi?”

“Mereka tidak sempat melakukannya.”

“Kenapa?”

“Lihatlah,” berkata Haspada sambil menunjuk ke atas pendapa.

Dada Sutawijaya berdesir ketika ia melihat kedua orang prajurit yang duduk di pendapa mewakili kawan-kawannya itu dengan tertawa-tawa sedang menghirup tuak. Kemudian mengisi mangkuknya kembali dan sekali lagi mangkuk itu dikosongkannya.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah dapat membayangkan, apakah yang sebenarnya terjadi di Kademangan ini. Ternyata beberapa orang prajurit Pajang yang ditinggalkan di daerah ini sama sekali tidak mampu melaksanakan tugasnya. Bahkan mereka telah terseret oleh arus yang melanda anak-anak muda di Kademangan Prambanan. Tuak, mabuk dan kemudian tayub.

Dan mereka tidak perlu menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian maka para tamu, para pemimpin Kademangan Prambanan, dan para prajurit itu pun telah menjadi mabuk. Satu demi satu mereka berdiri dan menari-nari tanpa ujung pangkal. Sekali-sekali orang berikutnya tidak sabar lagi menunggu dan dengan serta-merta menarik sampur yang masih dipergunakan oleh orang lain. Sehingga akhirnya, mereka tidak lagi saling menunggu. Berebutan mereka berdiri dan berebutan mereka menari.

Alangkah memuakkan. Ternyata rombongan penari-penari itu pun telah biasa melayani keadaan serupa itu. Ketika para tamu tidak lagi dapat menunggu gilirannya menerima sampur, maka bermunculan beberapa orang penari naik ke pendapa itu pula. Penari-penari perempuan dengan solahnya masing-masing. Dan lagu yang megiringinya pun menjadi semakin panas, semakin panas. Gendang yang memimpin irama gamelan menjadi semakin keras dan cepat, sehingga pendapa itu kini benar-benar telah menjadi hiruk-pikuk, tanpa dapat dikendalikan.

“Apakah kalian tidak meninggalkan halaman ini saja, Kisanak,” bertanya Haspada kepada Sutawijaya.

“Kenapa?”

“Kalian belum dikenal di sini. Mungkin hal-hal yang tidak menyenangkan dapat terjadi. Kami, meskipun tidak berada di dalam lingkungan anak-anak Sembojan, tetapi setiap anak muda, hampir telah mengenal, sehingga kemungkinan untuk diperlakukan kurang wajar adalah tipis sekali. Mereka tahu, siapakah Haspada selama Prambanan dalam bahaya karena orang-orang Jipang beberapa saat berselang. Dan mereka tidak melupakannya sampai kini.”

“Terima kasih atas peringatan itu,” sahut Sutawijaya. “Tetapi kami ingin melihat apa yang terjadi. Mungkin kami dapat bersembunyi di belakang kalian.”

“Selama aku dapat berbuat sesuatu, akan berbuat. Tetapi dalam keadaan yang ribut, mungkin aku tidak lagi sempat berbuat sesuatu.”

“Terima kasih. Tetapi maaf, kami ingin melihat keadaan ini sampai selesai. Mungkin kami dapat bersembunyi di dalam semak-semak di sebelah.”

“Bersembunyilah.”

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru kemudian beringsut dari tempatnya. Tetapi mereka sama sekali tidak bersembunyi. Mereka hanya berlindung di tempat yang cukup gelap sambil melihat apa yang akan terjadi. Namun mereka menjadi heran ketika mereka sudah tidak melihat lagi orang-orang yang tadi berjualan memenuhi halaman. Agaknya mereka sudah terlalu biasa melihat keadaan serupa, sehingga mereka telah dapat memperhitungkan keadaan dengan baik.

Dari tempat mereka, Sutawijaya dan kawan-kawannya dapat melihat sebagian besar dari halaman dan pendapa banjar desa. Mereka dapat melihat orang-orang di pendapa menari-nari seperti mereka sudah tidak sadar lagi akan diri mereka, di antara para penari tayub. Dan ledek-ledek itu pun menari lebih hangat lagi meskipun malam menjadi semakin dingin.

“Hem,” gumam Sutawijaya, “inilah puncak dari keramaian yang hebat ini.”

Agung Sedayu dan Swandaru belum pernah melihat keramaian yang berakhir seperti ini. Sehingga sejenak mereka berdiri seolah-olah membeku.

“Apakah kalian menjadi heran?” bertanya Sutawijaya.

“Bukan main,” gumam Agung Sedayu. “Apakah orang-orang yang berada di pendapa itu tidak malu?”

“Kepada siapa mereka harus malu?” bertanya Sutawijaya.

“Kepada para penonton di halaman itu.”

“Para penonton yang mana ?”

Ketika Agung Sedayu dan Swandaru memperhatikan setiap orang di halaman itu, maka dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Hampir tak seorang pun lagi memperhatikan orang-orang yang berada di pendapa itu. Irama yang panas dari suara gamelan di pendapa telah membawa para penonton di halaman menjadi panas pula. Mereka pun menari-nari di antara mereka, dan yang mendirikan bulu roma ketiga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu adalah, bahwa di antara mereka yang berada di halaman terdapat gadis-gadis.

“Gila,” desis Swandaru. “Kalau gadis-gadis itu adik-adikku, aku cekik lehernya sampai mampus.”

“Aneh,” sahut Agung Sedayu.

Kemudian sejenak mereka terpesona oleh hiruk-pikuk yang aneh itu. Halaman banjar desa itu benar-benar seperti sebuah danau yang dilanda angin pusaran. Bergejolak tidak menentu.

Anak-anak muda di halaman itu pun mengalir ke segenap arah, berpapasan satu sama lain sambil menari-nari. Bergandeng-gandengan tangan dan dorong-mendorong.

Tiba-tiba Sutawijaya dan kedua kawannya terkejut ketika mereka mendengar suara yang kacau di sudut halaman. Kemudian terdengar teriakan tinggi.

“Apa itu?” desis Swandaru.

Ketiganya mengangkat wajah-wajah mereka. Tetapi mereka tidak melihat halaman itu menjadi rebut karena teriakan itu. Mereka yang sedang gila masih juga gila menari-nari. Dan agak di kegelapan Sutawijaya masih juga melihat Haspada berdiri saja di tempatnya bersama empat orang temannya.

Terdengar Sutawijaya berkata, “Mereka sama sekali tidak memperdulikannya,” bisik Sutawijaya.

“Agaknya perkelahian semacam itu sudah terlampau biasa dalam keadaan serupa ini. Sehingga bukan merupakan hal yang menarik perhatian lagi,” sahut Agung Sedayu.

Sutawijaya dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sejenak kemudian maka perkelahian itu pun mereda dengan sendirinya.

Tetapi sejenak kemudian mereka dikejutkan oleh suara langkah orang berlari-lari. Sejenak kemudian mereka melihat beberapa anak-anak muda berlari lewat di hadapan mereka. Namun karena mereka amat tergesa-gesa sehingga mereka tidak memperhatikan ketiga anak-anak muda yang berlindung di dalam gelap itu. Namun dari mereka yang berlari-lari itu Sutawijaya dengan kawan-kawannya mendengar mereka berkata perlahan-lahan, “Hus, gila. Beberapa orang prajurit Pajang memihak mereka.”

“Ya. Kalau saja anak-anak Sembojan itu dibiarkan, maka mereka akan dapat kami tundukkan malam ini,” sahut yang lain.

Ketika anak-anak itu merasa bahwa tak seorang pun mengejar-ngejar mereka, maka mereka berhenti hanya beberapa langkah daripada ketiga anak-anak muda yang datang dari Sangkal Putung itu. Tetapi yang segera mereka lihat, bukanlah Sutawijaya dan kawan-kawannya namun yang pertama-tama menarik perhatian mereka adalah kelima anak-anak muda yang berdiri tidak jauh dari tempat itu.

“He, apakah mereka anak-anak Sembojan?” terdengar salah seorang dari mereka berdesis.

“Ya.”

“Kenapa tidak berada di dalam lingkungan kawan-kawannya?”

“Entahlah.”

“Mereka terlampau sombong. Marilah kita ambil kelima anka-anak itu.”

“Untuk apa?”

“Kita akan melepaskan kalau anak-anak Sembojan mengakui kemenangan kita.”

Terdengar beberapa orang dari mereka tertawa. Kemudian salah seorang berkata lagi. “Satu orang pergi kepada mereka. Pancing mereka kemari.”

“Sulit,” sahut yang lain. “Kita datang bersama-sama selagi kawan-kawan mereka berada di sisi yang lain dari pendapa ini.”

“Di sebelah itu adalah anak-anak dari induk kademangan.”

“Mereka tidak akan turut campur, kecuali kalau kita berbuat sesuatu atas anak induk kademangan.”

“Kalau mereka melibatkan diri, kita harus lari meninggalkan halaman ini. Di manakah sebagian kawan-kawan kita yang lain.”

“Di belakang banjar desa. Apabila perlu kita akan memberi mereka tanda.”

“Marilah,” terdengar keputusan jatuh. Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya menjadi berdebar-debar. Apakah yang akan mereka lakukan atas Haspada dan keempat kawan-kawannya.

Dengan cemas Sutawijaya melihat anak-anak itu perlahan-lahan mendekati Haspada. Beberapa langkah daripadanya beberapa anak-anak muda itu berhenti.

Sutawijaya yang ingin melihat apa yang terjadi, segera beringsut mendekati, diikuti oleh Agung Sedayu dan Swandaru.

Haspada yang berdiri diam di tempatnya, hampir-hampir tidak menyangka sama sekali, bahwa anak-anak Tlaga Kembar sedang mendekatinya. Mereka masih berdiri memperhatikan orang-orang yang berada di pendapa banjar desa, yang kini telah menjadi seperti sebuah pertunjukkan liar. Bahkan satu dua orang telah tidak ada lagi di pendapa itu. Merayap-rayap ke tempat-tempat yang lain.

Haspada dan kawan-kawannya itu terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat anak-anak Tlaga Kembar itu mengepungnya. Terdengar salah seorang anak muda Tlaga Kembar itu berkata, “Jangan ribut. Kalian ikut kami ke Tlaga Kembar.”

Kelima anak-anak muda Sembojan itu terdiam sejenak. Namun kemudian terdengar Haspada menjawab, “Apakah kepentinganmu dengan aku, Dadi?”

Anak muda Tlaga Kembar yang bernama Dadi tiba-tiba terkejut. Diamatinya wajah Haspada dengan seksama, lalu katanya, “Kau. Haspada?”

“Ya. Aku. Kenapa? Apakah kau sedang mencari anak-anak Sembojan?”

“Ya. Ya,” sahut Dadi tergagap.

“Aku juga anak Sembojan.”

“Tetapi bukan kau, Haspada.”

“Kenapa?”

“Kenapa kau berada di tempat ini?” bertanya Dadi, anak Tlaga Kembar itu.

“Pertanyaanmu aneh. Bukankah kau juga berada di tempat ini?”

Dadi menjadi bingung. Ketika ia memandang berkeliling, ia pun melihat kawan-kawannya menjadi bingung pula. Haspada-lah yang berkata, “Apa kepentinganmu dengan anak-anak Sembojan?”

Dadi tidak menjawab lain daripada mengatakan sebenarnya, “Kami berkelahi.”

“Bagus. Aku sudah menyangka bahwa kalian akan berkelahi. Apakah kalian dikalahkan? dan kalian akan mencari korban anak-anak Sembojan yang lain meskipun tidak ikut berkelahi?”

“Tidak Haspada, kami tidak akan berbuat apa-apa denganmu.”

“Kebetulan yang berdiri di sini adalah aku. Seandainya keempat kawan-kawanku ini tanpa aku?”

Dadi terdiam. Namun salah seorang yang lain menjawab terputus-putus, “Anak-anak Sembojan yang lain tidak jujur, Haspada.”

“Kenapa?”

“Mereka mencari bantuan pada prajurit-prajurit Pajang.”

“Aku tidak mau tahu. Uruslah perkara itu sendiri. Berkelahilah kalau kalian ingin berkelahi. Aku pun tidak akan memihak anak-anak Sembojan yang gila itu, seperti kalian telah menjadi gila pula. Coba katakan kepada kami, apa yang akan dilakukan oleh Trapsila atas kalian, apabila ia melihat anak-anak muda Tlaga Kembar berbuat serusuh itu. Trapsila pasti akan bersikap seperti aku menghadapi anak-anak Sembojan. Meskipun Trapsila adalah anak Tlaga Kembar, tetapi ia pasti akan muak melihat kalian berbuat seperti ini.”

Anak-anak Tlaga Kembar itu terdiam. Trapsila bagi mereka adalah anak muda yang disegani, seperti Haspada bagi anak-anak Sembojan. Bukan saja bagi anak-anak sedesanya, tetapi bagi anak-anak muda Prambanan pada umumya. Namun jumlah anak-anak yang demikian itu sangat sedikit. Mereka adalah anak-anak muda yang berani, yang dengan gigih telah berjuang melawan orang-orang yang memihak Arya Penangsang, bersama beberapa orang prajurit Pajang. Tetapi yang kini seolah-olah mereka sama sekali tidak mendapat tempat lagi di Kademangan Prambanan. Prajurit-prajurit kawan-kawan mereka telah sebagian besar ditarik kembali ke Pajang. Yang tinggal adalah prajurit-prajurit yang ternyata dapat dimabukkan oleh tayub dan tuak.

Tiba-tiba anak-anak Tlaga Kembar itu menjadi gelisah ketika mereka mendengar suara rebut di halaman itu. Ketika mereka berpaling, mereka melihat beberapa anak-anak muda berjalan tergesa-gesa ke arah mereka. Anak-anak itu adalah anak-anak Sembojan.

“Mereka mengejar kita,” desis Dadi.

“Marilah kita lari,” ajak kawannya yang lain.

“Tinggallah di sini,” berkata Haspada.

“Kita harus berkelahi lagi. Mereka datang terlampau banyak, dan di antara mereka ada tiga empat orang prajurit Pajang.”

“Tinggallah di sini. Aku tidak senang apabila Trapsila mendapat kesan yang jelek atas anak-anak Sembojan, apalagi aku berada di tempat ini pula. Trapsila adalah sahabatku. Sembojan dan Tlaga Kembar adalah sama-sama wilayah Kademangan Prambanan.”

Anak-anak Tlaga Kembar itu tidak menyahut. Meskipun demikian mereka berkisar berdiri di belakang Haspada dan keempat kawan-kawannya.

Yang datang itu adalah benar-benar anak-anak Sembojan. Paling depan berdiri Bunar, anak muda yang tinggi kekar, berkumis melintang. Namun tiba-tiba ia berhenti ketika ia melihat Haspada berdiri di antara anak-anak Tlaga Kembar.

“Kakang, kau berada di antara mereka?” bertanya Bunar. “Atau mereka berusaha menangkap Kakang.”

“Kedua-duanya tidak benar,” sahut Haspada. “Aku menonton keramaian di halaman ini, mereka menonton pula.”

“Tetapi kami berkepentingan dengan mereka, Kakang,” berkata Bunar pula.

Haspada memandang Bunar dengan wajah yang tegang. Jawabnya, “Tinggalkan mereka Bunar. Jangan ada persoalan-persoalan yang gila di antara anak-anak muda. Kalian telah membuat ribut. Lihat ada berapa kelompok pemuda di halaman ini. Mereka pun akan berbuat gila pula seperti kalian. Dan halaman ini akan kacau. Mungkin ada satu dua orang yang terluka. Yang luka itu akan menimbulkan dendam di antara kalian.”

“Tetapi mereka mendahului, Kakang.”

“Tinggalkan mereka. Berbuatlah gila sesama kalian, tetapi jangan berkelahi.”

Bunar terdiam. Ia tidak berani membantah lagi. Tetapi dari antara anka-anak Sembojan itu tampil seorang yang bertubuh raksasa dan berpakaian seorang prajurit. Ia adalah prajurit Pajang.

Haspada menjadi semakin tegang. Ia menyesal bahwa prajurit-prajurit itu telah berpihak, meskipun berpihak pada anak-anak muda sepadukuhan dengan dirinya sendiri.

“Haspada,” geram prajurit itu, “jangan banyak mulut. Biarlah kami menyelesaikan urusan kami dengan anak-anak Tlaga Kembar itu.”

“Apakah anak-anak Tlaga Kembar mempunyai urusan dengan kau, Paman?” bertanya Haspada.

Prajurit itu terdiam sejenak. Tetapi selangkah ia terhuyung ke samping.

“Gila,” desis Haspada di dalam hatinya “Prajurit itu telah menjadi mabuk. Matanya telah meredup dan bibirnya bergetaran. Sulitlah berbicara dengan orang mabuk.”

Namun kecuali prajurit yang mabuk itu, tampil seorang lagi yang lebih kecil. Orang itu sama sekali tidak mabuk karena tuak. Dengan tajamnya ia berkata, “Haspada, jangan kau banggakan perjuanganmu yang tidak berarti itu. Kau sama sekali belum seorang pahlawan. Karena itu, kau sebaiknya menyingkir saja sebelum kami kehilangan kesabaran. Bukankah kau berasal dari Sembojan pula? Kenapa justeru kau berpihak kepada anak-anak Tlaga Kembar?”

“Apakah aku berpihak?” Haspada menjawab. “Kalianlah yang berpihak. Apakah bagi Pajang Sembojan dan Tlaga Kembar itu mempunyai kedudukan yang berbeda? Bagiku tidak, Paman. Tidak. Aku berdiri di mana saja. Tlaga Kembar, Sembojan, Prambanan. Bahkan kademangan yang lain pun sama pula bagiku. Semuanya wilayah Pajang.”

Prajurit-prajurit Pajang itu menjadi semkain marah. Mereka tidak dapat mengingkari kata-kata Haspada, tetapi mereka juga tidak mau ditundukkan. Haspada hanyalah anak padukuhan Sembojan. Sedang mereka adalah prajurit-prajurit Pajang. Karena itu, maka prajurit yang kecil itu membentak, “Jangan banyak mulut! Aku tidak peduli siapakah Haspada.”

Wajah Haspada pun menjadi merah membara. Namun dadanya menjadi seolah-olah sesak. Ia mencoba mencegah perkelahian yang timbul di halaman itu, tetapi apakah ia sendiri harus berkelahi?

Dalam keragu-raguan itu terdengar prajurit itu berkata lagi, “Ayo. Pergilah Haspada!”

Belum lagi Haspada menjawab, dari antara para penonton itu telah timbul banyak perhatian, karena di antara mereka terlibat beberapa orang prajurit. Anak-anak muda berlari-larian mengerumuninya. Anak-anak muda induk Kademangan Prambanan pun telah berada di tempat itu pula. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah yang kalian persoalkan?”

Tak seorang pun yang menjawab. Anak Sembojan tidak dan anak-anak Tlaga Kembar pun tidak.

“Ya,” tiba-tiba Haspada seperti tersadar dari mimpinya, “apakah yang sebenarnya kalian persoalkan?”

Juga tak ada jawaban. Anak-anak Sembojan dan anak-anak Tlaga Kembar masih saja terbungkam. Bahkan prajurit-prajurit Pajang yang marah itu terdiam pula.

Tiba-tiba sekali lagi mereka digoncangkan oleh kedatangan dua orang yang belum mereka kenal sebaik-baiknya. Namun beberapa orang segera menyibak. Beberapa orang di antara mereka telah mengetahuinya, bahwa kedua orang itu adalah tamu-tamu dari Menoreh.

“Apa yang terjadi?” salah seorang bertanya.

Juga tak seorang pun menjawab.

“Aku tidak berkepentingan dengan keributan ini,” katanya pula “tetapi, manakah janjimu itu?” bertanya tamu itu kepada Bunar.

Wajah Bunar menjadi merah. Sejenak ia tidak menjawab seperti juga anak-anak muda yang lain terbungkam.

“Mana, he?”

“Itulah,” jawab Bunar kemudian, “kami belum dapat mengambilnya dari tangan anak-anak Tlaga Kembar.”

“He,” wajah tamu-tamu itu menjadi tegang. Sekali mereka berpaling ke pendapa. Dilihatnya seorang kawannya berdiri di tangga sambil mengawasi mereka.

“Maksudmu?” berkata salah seorang dari mereka itu pula.

“Anak-anak yang kami janjikan ternyata dibawa oleh anak-anak muda Tlaga Kembar.”

Kini wajah kedua tamu itu menjadi merah. Terdengar gigi mereka gemeretak dan berkata tajam. “Kalian tidak dapat menghormati tamu-tamu kalian. Apakah kalian sengaja membuat kami kecewa? Buat apa kalian membawa kami melihat anak-anak itu di rumahnya sore tadi. Ketika kami sudah menjadi mabuk oleh wajahnya, kalian sengaja menyembunyikannya.”

“Bukan maksud kami,” jawab Bunar. “Kami sedang berusaha untuk mengambilnya. Inilah mereka anak-anak Tlaga Kembar. Beberapa orang prajurit Pajang bersedia membantu kami.”

Mata tamu-tamu dari Bukit Menoreh itu kini seakan-akan menyala memandangi anak-anak Tlaga Kembar. Salah seorang dari mereka terdengar menggeram. “Hem. Ternyata kalian sengaja membuat onar ya.”

“Bukan hanya mereka,” Haspada-lah yang menjawab. “Anak-anak Sembojan itu pun sengaja membuat onar pula.”

Tamu dari Bukit Menoreh itu tertegun sejenak. Mereka menjadi heran melihat Haspada. Anak ini mempunyai perbawa yang agak berbeda dengan kawan-kawannya.

Tetapi Haspada itu pun terkejut ketika dari antara anka-anak muda yang berkerumun terdengar suara, “Biarkanlah, Kakang. Biarkanlah anak-anak Tlaga Kembar. Sekali-sekali mereka memang perlu mendapat sedikit pelajaran.”

Semua kepala berpaling ke arah suara itu. Dan mereka pun segera melihat seorang yang bertubuh agak kecil. Namun dari matanya memancar kebesaran hatinya.

“Adi Trapsila,” desis Haspada.

“Ya. Aku sudah melihat sejak semula apa yang terjadi,” katanya.

Terdengar suara bergeremang di antara anak-anak muda itu. Anak-anak Tlaga Kembar saling berbisik di antara mereka, dan anak-anak Sembojan menjadi cemas. Apabila Trapsila dan Haspada bersama-sama berada di pihak Tlaga Kembar, maka anak-anak induk kademangan pasti akan terpengaruh. Mereka semuanya telah mengenal siap Haspada dan siapa Trapsila.

“Tetapi, Adi, apakah kita akan membiarkan perkelahian ini terjadi?” bertanya Haspada kemudian.

Trapsila melangkah maju. Beberapa orang menyingkir, seakan-akan memberi jalan kepada anak muda Tlaga Kembar yang bernama Trapsila itu.

Trapsila itu pun kemudian berdiri di antara anak-anak muda yang berkerumun. Antara anak-anak muda Sembojan dan anka-anak muda Tlaga Kembar. Berhadap-hadapan dengan Haspada. Ketika ia berpaling dipandanginya prajurit Pajang yang bertubuh raksasa dan kawannya yang lebih kecil. Di belakang prajurit itu masih dilihatnya prajurit Pajang yang lain.

Tiba-tiba hiruk-pikuk si sekeliling tempat itu menjadi terdiam. Seolah-olah semuanya ingin mendengarkan Trapsila itu berkata seterusnya. Hanya hiruk-pikuk di atas pendapa masih juga berlangsung. Mereka sama sekali tidak memperdulikan apa yang terjadi di halaman, seakan-akan halaman itu sama sekali tidak mempunyai hubungan apapun dengan pendapa banjar desa. Persoalan di halaman adalah persoalan anak-anak muda atau orang-orang kecil di sekitar banjar desa. Para pemimpin itu sama sekali tidak mau mengotori tangannya dengan soal-soal yang remeh. Bagi mereka lebih baik meneruskan menikmati tayub yang semakin menggila daripada soal-soal yang bagi mereka sama sekali tidak berarti itu.

Bahkan mereka sudah tidak melihat lagi, bahwa tamu-tamu mereka dari Menoreh sudah tidak ada di antara mereka. Yang tinggal di pendapa itu hanya seorang saja yang sudah berdiri di tangga. Dan yang seorang itu pun hampir-hampir tidak sabar lagi menunggu kedua kawan-kawannya yang sedang mencari anak-anak Sembojan yang sudah terlanjur membuat janji dengan mereka.

Haspada pun berdiam diri. Kemudian anak muda Sembojan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bergumam, “Kau benar, Adi. Persoalan ini adalah persoalan yang memalukan.”

“Persetan!” desis tamu dari Menoreh. “Kalau kalian tidak akan turut campur menepilah. He, siapa anak-anak yang merasa dirinya seperti panglima bagi anak-anak Sembojan dan anak-anak Tlaga Kembar ini?” bertanya kedua tamu itu kemudian kepada prajurit Pajang yang bertubuh agak kecil.

Dan prajurit itu menjawab, “Namanya Haspada dan Trapsila.”

“Ya, aku sudah mendengar. Tetapi apakah kedudukannya?”

“Tidak ada kedudukan apapun yang dipangkunya.”

“Kenapa ia agaknya disegani?”

Prajurit itu terdiam. Ia tidak ingin mengatakan bahwa keduanya pernah berjuang dengan gigih melawan sisa-sisa laskar Arya Jipang bersama beberapa anak-anak muda Sembojan, Tlaga Kembar, anak-anak muda induk Kademangan Prambanan, dan beberapa lagi dari desa-desa yang lain, namun jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Kalau ada yang lain, maka mereka tidak segigih mereka itu.

Ternyata tamu-tamu dari Menoreh itu merasa tersinggung atas anggapan bahwa persoalan yang mereka hadapi adalah persoalan yang memalukan, sehingga dengan kasar mereka berkata, “Sekarang selesaikan persoalan ini. Kalau kedua anak-anak muda ini ingin mengenal kami, biarlah mereka sekali lagi mengatakan bahwa persoalan yang kami hadapi adalah persoalan yang memalukan.”

“Merekalah yang memalukan,” sahut prajurit yang bertubuh raksasa itu sambil berdiri terhuyung-huyung. “Mereka memang harus dihajar lebih dahulu sebelum anak-anak Tlaga Kembar yang lain.”

Haspada dan Trapsila memang tidak ingin terjadinya perselisihan, apalagi dalam soal yang mereka anggap memalukan. Karena itu, maka terdengar Trapsila berkata, “Selesaikanlah urusan kalian. Kami tidak akan turut campur.”

Anak-anak Tlaga Kembar yang medengar kata-kata itu menjadi berdebar-debar. Mereka tidak akan dapat melawan anak-anak Sembojan yang dibantu oleh beberapa orang prajurit dan kini bertambah lagi dengan tamu-tamu dari Menoreh itu. Karena itu, maka mereka pun bersiap untuk menghilang di antara mereka yang sedang berkerumun. Mereka harus mencoba melarikan diri, supaya tubuh mereka tidak babak-belur, dan muka mereka tidak menjadi bengkak-bengkak.

Namun dalam keadaan yang demikian itu terdengar salah seorang anak mdua dari induk kademangan berkata, “Tidak adil. Jangan ada prajurit yang ikut campur.”

“Setan!” desis prajurit yang bertubuh raksasa. “Siapa kau berani mencoba melawan prajurit Pajang.”

Anak muda itu tidak segera menjawab. Tetapi ia berpaling mencari seseorang. Dan dari antara mereka tampak sesorang mendesak maju sambil berkata lantang, “Aku. Aku yang berani.”

“Siapa. Siapa, he?” prajurit yang kecil itu pun menjadi marah sekali. Tetapi kemudian matanya terbelalak ketika dari antara anak-anak muda induk kademangan itu muncul seseorang yang masih berteriak lantang, “Akulah orangnya.”(***)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 3 Oktober 2008 at 12:30  Comments (25)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-17/trackback/

RSS feed for comments on this post.

25 KomentarTinggalkan komentar

  1. dah H+3 masih kaming sun ki 😀 dah ga sabar nungguin nih. btw sukses buat perjuangannya..(maap baru bisa ikut baca doang blom bisa bantuin apa2)

  2. penipuan nih.. masak halaman kaming sun nya ada 2 biji 😀

    D2: Maaf, gak sengaja 😀

  3. Buat ADBMers..”Selamat Iedhul Fitri 1 Syawal 1429 H, Mohon Maaf Lahir Batin..”

    Ketika mentari pagi hisapkan embun
    Ketika secercah hati,
    menyeruakkan harapan
    satu-satu..
    Jangan lagi kotori “bumi”-mu ini
    Dengan noktah yang tak berarti
    Dengki, iri, dan sakit hati..
    buang jauh! ..ke langit tujuh.
    Bersama kata “maaf”
    yang terungkap tulus
    dari lubuk hati
    yang terindah..
    //HER//

    Setelah PULKAM harap jaga kesehatan
    jangan cape2..
    Salam hangat buat segenap keluarga besar (dan famili) ADBMers

  4. Mas DD

    Aku baca di page 4 (klu gak salah) masih ada beberapa kata dengan huruf yg salah (“i” kapital mengganti huruf “l”) shg cukup m’ganggu, misalnya: Sangkal Putung (ditulis: SangkaI Putung); lereng Merapi (ditulis: Iereng Merapi) ..dmk dst.. Biasanya huruf tsb merupakan hasil dari konvert dari scan (JPG) ke teks (word), tapi klu prosesnya melalui “ngetik ulang” nggak akan terjadi..

    Mas DD, aku uwis terlanjur ngerjakan tugas yg sampean berikan dan udh pula aku kirim balik, sementara pada page 5 udh dimuat (doble yo?)…yo wis ora opo2..

    Salam
    HER

    D2: Terima kasih koreksinya. Feedback udah aku kirim balik.

  5. Met Idul Fitri semua…
    mohon maaf lahir batin.

    libur seminggu, uploadnya dah banyak betul.
    hasil kerja keras mas de2 nih. trims mas de2

    sy ni dah siap ngerjain tugas lg nih. retype, proof siap semua

    D2: Bukan saya sendiri kok. Kan ada editor yg gak mudik

  6. Buat Nyai Demang yth
    Aku kirim imel (sesuai alamat imel anda) ke dikau kok nggak nyangkut ya? maksudku kapan n dmn aku hrs ambil logistik utk scan ADBM?

    Salam
    HER

    • untuk urusan logistik mungkin bisa ditanyakan langsung kepada nyi nunik, anging mengenai peminadahan kekuasaan dan lain-lain harus dilakukan dengan cara saksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.

      jakarta, 17 agustus ’05
      atas nama rakyat mataram
      ki gembleh pol – ki haryo mangku

      • Kepadha SANG GULA KELAPA ,

        HORMAT SENJATAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA GRAAKKK

  7. Mas DD,
    di postingan buku-17/5 ada kalimat yang mengganggu:
    Dalam analisis Sutawijaya, “— Yang kedua, Sangkal Putung agak lebih besar dari Prambanan dan lebih padat pula, sehingga yang tersimpan di dalam perut Kademangan […] Prambanan. Agaknya Prambanan tidak memiliki kekayaan seperti Sangkal Putung. —”

    Saya kira, ada potongan kalimat yang hilang pada bagian yang saya tandai […]

    Juga pada kalimat (beberapa alinea di bawahnya):
    “— Apalagi […] mereka harus mengalami perselisihan. Senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    […] di kalimat ini = apabila/jika.

    Betul demikian?

    @mas Herry, sebaliknya dari di atas, ini kelemahan jika harus re-type naskah. Terkadang ada kata atau bagian kalimat yang terlewat, jika yang mengetik atau membacanya kurang cermat.

    salam, Wukir

    D2: 1) Kami sudah re-cek, demikianlah adanya. Saya sendiri bingung, Pak, tetapi tidak punya alternatif. Mudah2an Pak Wukir masih bisa menikmatinya, termasuk kekeliruan itu.

    D2: 2) Yang benar: “— Apabila mereka harus mengalami perselisihan, senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    D2: 3) Terima kasih koreksinya.

  8. kayaknya semakin banyak yang mau membantu.
    mungkin bung DD bisa mulai membagi pasukan. bukan cuma sapit urang (ganjil genap) tapi bisa trisula ato lebih banyak lagi. saya gak ada bahan, jadi paling bisa ngedit ato retype doang. siap dibawah panglima sapa aja.
    eh.. nge – upload saya juga bisa lho 😀

    D2: Kita sedang kesana, Mas Sukra. Sabar ya.

  9. Dear bung Dede,
    Saya bikin kalkulasi sederhana tentang lamanya kita harus menunggu selesai ADM yang ada 286 jilid tsb.
    Kalau seminggu kita hanya bisa posting 1 jilid, berarti untuk sampai ke jilid 286 kita harus menunggu 286/52 minggu = 5.5 tahun. Apa ini ndak kelamaan?
    Menurut saya kalau memang bahan sudah ada, apa tidak sebaiknya diposting saja segera. Apalagi menurut yang saya baca tujuan ADBMCad ini bukan hanya buku ADBM saja, akan tetapi untuk buku-buku yang bagus lainnya.
    Kalau boleh saya usul sehari satu jilid (sekali lagi kalau bahan sudah ada), atau sebanyak bahan yang siap tayang. Artinya, kalau bisa jumlah jilid tayang tidak perlu dipatok satu per minggu dan dibagi tujuh, akan tetapi ditayang begitu bahan siap tampil.
    Usulan saya sebenarnya juga dibarengi kesediaan untuk membantu. Berdasar pengalaman membantu bung Rizal, bung Doelah dan bung Dede sendiri, kecepatan saya sendiri dalam mentransfer dari jpg sampai MSword siap tayang bisa mencapai 3 jilid/minggu. Ini karena OCR dan MSWord sudah ‘terlatih’ untuk auto editing khusus ADBM. Tentu saja masih perlu bung Dede sbg gawang terakhir editor. Apalagi menurut pengamatan saya paling tidak ada 3-4 anggota ADMC lagi yang juga punya kapabilitas yang sama. Jadi 5-6 jilid/minggu bukan hal yang tak mungkin sehingga kita hanya butuh setahun lebih sedikit untuk menyelesaikannya.
    Bagaimanapun, ini hanya usul.
    Wassalam, GI

    D2: Bukan 5.5 tahun, tapi hampir 8 tahun, Mas GI. Karena jumlah keseluruhan jilid ada 396. Kita sedang bergerak ke 5 JPM, tapi yo nggak bisa sak iyeg sak eko proyo. Alon-alon waton klakon.

  10. Dear semuanya,

    Salam kenal. Thanks untuk Mas Dede dan rekan2 lainnya atas upaya ditampilkannya ADBM di dunia maya, sehingga sy yang kebetulan lagi tinggal di New York bisa ikut menikmati.

    Walau mungkin harus nyuri-nyuri waktu, tapi sy bersedia juga untuk membantu. Kalau misalnya ada yang tahu bahwa ada mesin scanner yang lumayan memadai untuk mempercepat proses penayangan, dengan senang hati akan saya beli agar sy setidaknya bisa memperpendek jangka waktu penanyangan buku ADBM.

    Salam,
    TJ

  11. @ Nyai Demang
    Aku dah siap bantu pasukan scan, sgr hub aku di herry_wsono@yahoo.com
    Yg penting jadwalkan utk ambil logistik, kapan n dmn? mumpung aku ada kesempatan berdayakan anak2ku yg masih di SMU, klu anakku yg udah sarjana bacaannya udh beda, meskipun sedikit tertarik jg..He3

    @Mas DD
    klu ada tgs lagi, masih siap kok!

    @p_sawukir
    Lha ya itu, wong aku cuma tunjukkan adanya salah satu kelemahan dr masing-masing proses..
    Inggih mas p_sawukir, mdh2an smuanya bisa saling berhati2 atas segala kemungkinan kekurangan yg ada
    Salam kembali

  12. Hare gene masih kamin’ sun, boss, gak sabaran nich.. penasaran oe…

    • kalo dah nggak sabar ya berangkat aja dulu kan bisa, nanti ketemu di enggok-enggokan ya …..

  13. habis nyontreng cawapres langsung “lanjutkan” jilid 17 dan “lebih cepat lebih baik” mengetahui apakah sutawijaya itu “pro-rakyat”

  14. Tayub……tuak………
    wah…… mesti ana petugas keamanan’e….!!!!
    lha dari kelompok mana ya….?????
    (jaman iku wis kenal tato sak kujur awak durung yo…???)

    • kalo foto separo badan, kalo tato telung prapat badan

      • Kalau Ki Bukan tentu tatone di
        pergelangan tangan,
        gambar cakra…..????

        • wis ganti ki, biyen cen gambare ngono iku, saiki ganti angie 😀

          • gandok 17,

            ki Gembleh, ki AS……sugeng dalu, angie 😀 genk tepang

            • dereng sare ki ndul

            • ????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: