Buku 17

Namun dengan demikian, mereka mendapat sekedar gambaran tentang anak-anak muda yang dikatakan oleh Astra. Selain kedua putra-putranya sendiri, Supa dan Bawa, maka anak-anak yang berada di tepi jalan itu adalah contoh yang cukup baik.

“Pantaslah apabila sering terjadi perkelahian di sini,” desis Sutawijaya. “Apabila gerombolan itu bertemu dengan gerombolan yang lain, maka kemungkinan timbulnya bentrokan pasti mudah sekali.”

“Tetapi,” potong Swandaru, “apabila kekuatan mereka seimbang, maka mereka pasti ragu-ragu untuk mulai.”

Sutawijaya tersenyum. “Ya,” jawabnya.

Ketika kemudian mereka berpaling, maka anak-anak muda itu telah jauh berada di belakang mereka. Namun satu-satu mereka masih juga bertemu dengan anak-anak muda yang lain, yang agaknya sedang berjalan ke gardu itu berkumpul dengan teman-temannya.

Lepas dari desa itu mereka sampai di sebuah bulak yang pendek. Di seberang bulak itulah terletak induk Kademangan Prambanan.

Ketika mereka sampai di sebuah simpangan di tengah-tengah bulak itu, kembali mereka melihat segerombolan anak-anak muda dari arah yang lain. Anak muda yang bertingkah laku mirip dengan anak-anak yang bergerombol di samping gardu yang telah mereka lampaui.

Tetapi anak-anak muda ini bersikap acuh tak acuh saja terhadap Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya, seperti mereka tidak melihatnya.

Beberapa langkah kemudian terdengar Swandaru berbisik, “Sikap mereka terhadap kita agak berbeda.”

“Bukan karena mereka menghormati kita,” sahut Agung Sedayu, “tetapi justru mereka menganggap kita tidak berarti apa-apa bagi mereka.”

Semakin dekat dengan induk Kademangan Prambanan, jalan-jalan menjadi bertambah ramai. Anak-anak muda berjalan bersimpang-siur dalam tingkah laku yang aneh-aneh. Namun ada pula di antara mereka yang bersikap lain. Bersikap wajar, meskipun mereka juga berada dalam gerombolan tersendiri.

“Adalah tidak bijaksana, dalam keadaan seperti ini diadakan keramaian di kademangan ini,” gumam Sutawijaya.

“Ya. Terlalu berat akibat yang dapat terjadi,” sahut Agung Sedayu.

“Mungkin karena mereka menerima beberapa tamu,” desis Swandaru.

Mereka pun kemudian terdiam. Di kejauhan mereka melihat dari celah-celah dedaunan, sinar obor yang terang-benderang seperti siang.

“Itulah banjar desa,” berkata Agung Sedayu. “Ternyata tidak terlalu dalam masuk ke induk kademangan.”

Kedua kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka memperhatikan pula sinar obor yang bertebaran di sebuah halaman yang cukup luas, sebuah lapangan rumput di muka Banjar Desa Prambanan.

Di halaman itu telah banyak berkumpul anak-anak muda dan orang-orang di sekitar banjar desa itu. Bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang yang setengah baya pun banyak juga yang duduk-duduk di tepi lapangan kecil itu. Bahkan orang berjualan pun banyak bertebaran di sana-sini.

Agung Sedayu dan Swandaru melihat suasana banjar desa itu dengan perasaan yang aneh. Selain di sana-sini dilihatnya beberapa anak-anak muda dengan tingkah laku yang tidak wajar, maka keramaian itu sendiri telah membuat suasana yang berlawanan di dalam dada mereka.

Apa yang selama ini mereka lihat adalah Banjar Desa Sangkal Putung yang selalu ramai pula. Tetapi banjar desa itu diramaikan oleh prajurit-prajurit yang memandi senjata, beserta anak-anak muda Sangkal Putung yang selalu bersiaga menghadapi bahaya. Sedang kali ini, ia melihat suasana sebuah banjar desa yang jauh dengan Banjar Desa Sangkal Putung.

Sutawijaya dan kawan-kawannya kemudian memilih tempat yang agak terlindung oleh bayangan tetumbuhan. Kemudian duduk sambil melihat-lihat berbagai macam sikap dan tingkah laku anak-anak muda di sana-sini.

Di pendapa mereka melihat sederet gamelan dan tikar yang dibentangkan di sisi yang lain, bertentangan dengan letak gamelan. Di situlah nanti para tamu dan orang-orang penting dari Prambanan akan duduk menikmati pertunjukan.

Sutawijaya yang sering melihat keramaian di tempat-tempat yang lebih besar, sama sekali tidak tertarik pada pertunjukan yang akan dihidangkan. Apalagi apabila kemudian akan dilakukan pula tarian tayub yang dapat menjadikan suasana menjadi panas. Tetapi yang menarik perhatiannya adalah keadaan dan suasana pada saat itu. Hampir tidak sabar ia menunggu para tamu, para pemimpin kademangan dan mungkin juga para pemimpin prajurit Pajang yang berada di Prambanan, meskipun hanya satu atau dua orang.

Sejenak kemudian, gamelan telah mulai dibunyikan. Beberapa orang yang berdiri bertebaran mulai merayap maju mendekati pendapa banjar desa.

Sutawijaya dan kedua kawannya belum berkisar dari tempatnya. Mereka masih duduk-duduk sambil melepaskan lelah setelah mereka berjalan hampir sehari penuh melampaui hutan, gerumbul-gerumbul liar dan semak-semak ilalang.

Baru ketika beberapa orang keluar dari pinggiran banjar desa, Sutawijaya mengangkat wajahnya. Katanya berlahan-lahan, “Itulah mereka.”

Tetapi mereka tidak dapat melihat wajah-wajah orang-orang yang keluar dari pringgitan dan duduk di atas tikar pandan yang telah terbentang di pendapa. Tetapi menilik pakaian mereka, segera Sutawijaya dapat mengenal, bahwa di antara mereka ada dua orang prajurit Pajang.

“Itulah mereka,” desisnya. “Dua orang itu pasti prajurit Pajang.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan. Pakaian itu mirip dengan pakaian Untara dan Widura apabila mereka mengenakan pakaian resmi mereka. Pakaian kebesaran mereka sebagai Prajurit Wira Tamtama Pajang.

“Mari kita mendekat. Aku ingin melihat wajahnya. Mungkin aku mengenalnya,” ajak Sutawijaya.

Mereka pun kemudian berdiri. Perlahan-lahan mereka maju di antara para penonton yang lain. Mereka selalu berhati-hati supaya tidak menyingung perasaan anak-anak muda yang bertingkah laku kurang pada tempatnya itu.

Ketika mereka menjadi semakin dekat berdiri di sisi pendapa, maka segera dapat melihat siapa yang duduk di atas tikar di pendapa itu. Selain dua orang prajurit itu, masih ada beberapa orang yang tampaknya mendapat kehormatan di antara mereka. Mereka adalah tiga orang anak-anak muda, meskipun agak lebih tua sedikit dari Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya.

Segera mereka dapat menebak, bahwa ketiga anak-anak muda itulah yang dimaksud oleh Astra, tamu dari Bukit Menoreh. Utusan pribadi Kepala Daerah Perdikan Menoreh.

Di belakang para tamu itu duduk beberapa orang pemimpin Kademangan Prambanan, di antaranya beberapa orang anak-anak muda yang berpakaian rapi dan baik.

Sutawijaya ingin mendapat beberapa penjelasan tentang orang-orang itu, tetapi tak ada orang tempat bertanya. Ia tidak dapat bertanya kepada siapa orang yang ada di sekitarnya, sebab dengan demikian akan menimbulkan kecurigaan dan mungkin hal-hal yang tidak dikehendakinya. Karena itu, maka Sutawijaya itu pun untuk sejenak berdiam diri sambil mencoba mengamati wajah-wajah mereka lebih seksama.

Kemudian digamitnya kedua kawannya sambil berbisik, “Aku telah mengenal kedua prajurit itu. Mereka adalah Lurah Wira Tamtama. Tetapi mereka bukan orang yang cukup penting, mungkin karena keadaan Prambanan telah cukup baik, sehingga orang-orang itulah yang ditinggalkannya di sini.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan pula Agung Sedayu berkata, “Keadaan Prambanan saat ini justru sangat berbahaya. Bukan karena sisa-sisa laskar Tohpati, tetapi karena keadaan kademangan ini sendiri.”

“Kau benar, tetapi aku kira, pimpinan pemerintahan di Pajang belum mendengar persoalan ini. Banyak persoalan yang tidak segera diketahui oleh atasan atau bawahan, sesuai dengan salurannya. Coba, apa katamu tentang orang-orang Menoreh itu? Apakah menurut dugaanmu mereka telah mendengar keadaan Sidanti?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya, “Aku kira belum,” jawabnya. “Apabila sudah, ia tidak akan duduk begitu rapat dan ramah dengan kedua prajurit Pajang itu.”

“Kau benar,” sahut Sutawijaya. “Ternyata para prajurit Pajang itu pun pasti belum mendengar pula. Sebab menilik sikap mereka, maka mereka pun sangat rapat dan ramah pula menanggapi tamu-tamu dari Menoreh itu.”

Mereka bertiga pun kemudian mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sesaat kemudian mereka pun berpaling ketika mereka mendengar seseorang menyapa beberapa orang kawannya yang berdiri di belakang Sutawijaya. “Mari Kakang, kawan-kawan ada di sebelah gerbang.”

Kawan-kawannya yang berdiri di belakang Sutawijaya berpaling. Di samping mereka berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi kekar. Berkumis melintang dan berjambang panjang.

Sutawijaya dan kawan-kawannya melihat perbedaan sikap di antara mereka. Anak-anak muda yang mengajak anak-anak yang berdiri di belakang mereka yang bertubuh tinggi kekar itu, agaknya adalah anak-anak muda yang sedang dijangkiti penyakit aneh-aneh, sedang mereka yang disapanya tampaknya agak lebih tenang dan dewasa.

Sementara itu Sutawijaya mendengar anak-anak muda yang berdiri di belakangnya menjawab, “Kami di sini saja. Kami akan menonton pertunjukan di pendapa.”

Anak muda yang menyapanya tertawa, “Kami pun akan menonton, Kakang.”

“Baik, silahkan.”

Anak muda yang pertama tertawa terbahak-bahak sehingga beberapa orang berpaling kepadanya, tetapi anak muda itu sama sekali tidak memperdulikannya.

“Kalian adalah anak-anak malaikat,” katanya sambil tertawa.

Anak-anak muda yang sejak semula berdiri di belakang Sutawijaya tidak menjawab. Kini perhatian mereka telah mereka arahkan kembali ke pendapa banjar desa.

“Kami akan mendapat kesempatan bertemu dengan tamu-tamu dari Menoreh, Kakang,” berkata anak muda berkumis melintang dan berjambang panjang itu.

“Silahkan. Silahkan,” sahut yang berdiri yang berdiri di belakang Sutawijaya..

Kembali anak muda itu tertawa. Kemudian katanya, “Kami telah berusaha untuk menyenangkan hati tamu-tamu kita. Aku telah menghubungi beberapa orang gadis yang akan menemani kita nanti menemui tamu-tamu kita. Dan gadis-gadis itu pun menjadi bergembira pula.”

Sutawijaya melihat beberapa orang pemuda itu terkejut. Tetapi sesat kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Silahkan, Adi.”

“Kakang tidak ikut bergembira bersama kami? Anak-anak muda dari Sembojan kali ini mendapat kesempatan terbaik dibanding dengan anak-anak muda dari pedesaan yang lain, di samping anak-anak induk kademangan ini sendiri.”

“Bagus, tetapi kami tidak ikut dengan kalian.”

Kembali anak muda itu tertawa terbahak-bahak. Kembali beberapa orang berpaling memandangnya. Tetapi anak muda itu sama sekali tidak mempedulikannya. Bahkan ketika ia melangkah pergi pun suara tertawanya masih terdengar mengumandang.

Ketika anak muda itu telah pergi, maka Sutawijaya mendengar anak-anak yang berdiri di belakannya bergumam, “Anak itu sangat menyedihkan tetua padesaan kami.”

“Memalukan dan pasti akan menimbulkan persoalan dengan anak-anak muda dari padesan yang lain.”

Belum lagi mereka berhenti berbicara, maka mereka telah melihat dua orang pemuda yang lain dengan tingkah laku yang memuakkan menyuruk di antara penonton. Salah seorang dari mereka berkata, “Di mana?”

“Aku mendengar suara tertawanya. Di sini.”

“Siapa?”

“Anak Sembojan.”

“Anak itu pasti benar. Anak yang tinggi berkumis melintang. Hem. Kalau anak itu belum dihajar, ia pasti masih saja merasa pahlawan di antara kawan-kawannya. Anak-anak Sembojan harus menyadari bahwa anak-anak Telaga Kembar mampu mengatasi mereka.”

Sutawijaya dan kawan-kawannya menjadi berdebar-debar. Mereka tahu betul, bahwa di belakannya masih berdiri anak-anak Sembojan yang menolak diajak oleh anak muda yang tinggi kekar itu. Kalu anak-anak itu menjadi marah mendengar tantangan itu, maka akibanya memang tidak baik. Tetapi ternyata anak-anak muda di belakang Sutawijaya itu seakan-akan tidak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh anak-anak muda Telaga Kembar itu.

Ketika anak-anak muda itu pergi, Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tidak mereka sengaja mereka bertiga bersama-sama berdesah.

“Lucu,” bisik Sutawijaya. “Apakah Sembojan dan Telaga Kembar itu keduanya termasuk Kademangan Prambanan? Kalau demikian, Prambanan memang sedang mengalami bencana. Lalu apakah kerja prajurit-prajurit Pajang itu di sini ?

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menyahut. Pertanyaan itu berputar pula di dalam kepalanya. Alangkah jauh bedanya dengan anak-anak muda Sangkal Putung. Dari ujung Kademangan yang satu sampai ujung kademangan yang lain, semuanya dapat dikendalikannya dalam satu perjuangan menahan arus laskar Tohpati.

“Tetapi,” berkata Swandaru di dalam hatinya, “Apabila bahaya itu telah berlalu, apakah anak-anak muda Sangkal Putung akan mengalami nasib seperti Prambanan?”
“Beruntunglah aku melihat kejadian ini,” gumamnya pula dalam hatinya. “Aku mendapat pelajaran yang sangat berharga sehingga aku akan dapat memperhitungkannya kelak. Mudah-mudahan aku akan dapat mencegahnya keadaan serupa ini.”

Dalam pada tiu terdengar Agung Sedayu berkata perlahan-lahan, “Tetapi di antara mereka masih ada juga yang menyadari keadaan. Anak-anak muda di belakang kita itu agaknya bersikap lain dengan kawan-kawannya.”

Sutawijaya dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar Sutawijaya berkata, “Kita menunggu kesempatan. Aku ingin bertanya beberapa hal kepada mereka.”

“Tetapi hati-hatilah,” sahut Swandaru.

“Tentu. Jangan-jangan kita disangkanya anak-anak muda dari kademangan lain yang akan mengganggu mereka pula.”

Ketiganya kemudian terdiam. Suara gamelan di pendapa telah mulai memenuhi udara. Di atas tikar pandan, merekam melihat para tamu bergurau dan bergembira.

Sutawijaya dan kedua kawannya masih tetap berdiri di tempatnya. Sekali-kali mereka berpaling dan anak-anak muda Sembojan itu pun masih juga berdiri tenang-tenang.

Sedikit demi sedikit Sutawijaya dan kawan-kawannya kemudian beringsut surut mendekati anak-anak Sembojan itu tanpa menimbulkan perhatian sama sekali. Ketika mereka sudah berdiri di samping anak-anak Sembojan maka kembali mereka berdiam diri. Tetapi meskipun mereka memandangi orang-orang yang berada di atas pendapa, para tamu, prajurit-prajurit Pajang, para pemimpin kademangan, dan para penabuh gamelan, namun perhatian mereka sama sekali tidak tertuju ke sana.

Sejenak kemudian pertunjukan pun dimulai. Sebuah tarian tunggal, petikan dari cerita Panji dan Kirana pada masa kerajaan-kerajaan Jenggala.

Terdengar para penonton bersorak. Tetapi suara mereka tenggelam dalam suara hiruk-pikuk anak-anak muda yang berteriak tidak menentu.

Sutawijaya dan kedua kawannya heran mendengar suara hiruk-pikuk itu. Namun suara itu pun kemudian mereda dan akhirnya lenyap pula. Yang terdengar kemudian adalah suara gamelan yang memenuhi halaman.

“Kenapa mereka berteriak-teriak?” berbisik Sutawijaya tanpa sesadarnya.

“Entahlah,” sahut Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan.

Mereka kemudian terdiam ketika mereka meyadari bahwa pemuda-pemuda Sembojan yang berdiri di samping mereka itu memperhatikannya. Bahkan terdengar salah seorang dari mereka berkata, “Apakah kalian heran mendengar hiruk-pikuk itu?”

Ketiga anak muda itu terdiam sesaat. Mereka menjadi ragu untuk menjawab. Namun karena mereka tidak segera menjawab terdengar kembali pertanyaan itu, “Apakah kalian heran?”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Mereka mengharap Sutawijaya yang mereka anggap tertua di antara mereka untuk menjawabnya.

Sutawijaya pun sebenarnya masih dicengkam oleh keragu-raguan. Tetapi ia tidak dapat berdiam diri saja. Sehingga akhirnya terpaksa ia menjawab, “Ya, Kisanak. Aku menjadi heran mendengar suara-suara itu.”

Anak Sembojan itu tidak segera menyahut. Bahkan salah seorang dari mereka melangkah mendekat sambil mengamat-amati wajah Sutawijaya. Ia bertanya, “Dari manakah kalian?”

Agaknya anak muda dari Sembojan itu agak disilaukan oleh sinar obor yang memancar dari pendapa, sedang Sutawijaya agak terlindung oleh bayangan orang-orang yang berdiri di mukanya.

Kembali Sutawijaya menjadi ragu-ragu. Tetapi kembali ia terdesak dalam suatu keadaan, bahwa ia harus menjawab pertanyaan itu. Maka katanya, “Kami datang dari Sangkal Putung.”

“Sangkal Putung,” anak muda itu mengulangi, “Aku pernah mendengar nama padesan itu. Apakah Sangkal Putung juga sebuah kademangan?”

“Ya,” jawab Sutawijaya. “Sangkal Putung adalah sebuah kademangan di seberang hutan di sebelah Timur Prambanan.”

“Oh. Kalian datang dari jauh. Di manakah kalian bermalam di sini?”

“Di rumah Paman Astra,” Sahut Sutawijaya.

“Oh,” Anak-anak Sembojan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Maksudmu Astra yang mempunyai dua orang putra bernama Supa dan Bawa?”

“Ya,” jawab Sutawijaya pula.

Anak-anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka bertanya kembali, “Kenapa kalian tidak pergi bersama Supa dan Bawa?”

Pertanyaan itu memang sulit untuk dijawab. Karena itu kembali Sutawijaya menjadi ragu-ragu.

“Bukankah Supa dan Bawa hadir juga di halaman ini?”

“Ya,” sahut Sutawijaya. “Tetapi kami tidak dapat datang bersama mereka.”

Anak-anak muda Sembojan itu mengerutkan keningnya. Tetapi mereka tidak bertanya lagi. Kini mereka mencoba mengikuti setiap gerak penari di pendapa banjar desa. Tetapi kemudian Sutawijaya-lah yang bertanya, “Kisanak, apakah pertunjukan semacam ini sering dilakukan di Prambanan?”

Salah seorang dari anak-anak Sembojan itu menjawab, “Tidak terlalu sering. Tetapi sekali-kali diadakan juga. Kali ini kademangan kami mendapat tamu dari Bukit Menoreh, yang seterusnya akan pergi ke Lereng Gunung Merapi, menemui putera Kepala Daerah Perdikan Menoreh yang berguru pada seorang guru yang sakti tiada taranya, yang bernama Sidanti.”

“Apakah keramaian ini diselenggarakan untuk menghormatinya?”

“Ya, sebagian.”

“Orang-orang kami sendiri memang senang sekali mengadakan keramaian.”

Sutawijaya terdiam sejenak. Keinginannya untuk mengetahui beberapa hal mengenai Kademangan ini semakin mendesaknya. Tetapi ia masih mencoba untuk menahan diri menunggu kesempatan yang sebaik-baiknya.

Pertunjukan itu pun berjalan terus. Penari di atas pendapa banjar desa masih menari dengan baiknya. Menarikan tari tunggal.

Dalam pada itu terdengar Sutawijaya bertanya kepada anak muda Sembojan yang berdiri di sampingnya, “Apakah keramaian semacam ini tidak menimbulkan kecemasan pada para pemimpin kademangan ini?”

Anak muda Sembojan itu berpaling. Kini anak muda itulah yang menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi ketika beberapa saat ia masih berdiam diri, terdengar seorang yang agak lebih tua dari padanya berkata, “Apakah kau menjadi cemas? Apakah yang kau cemaskan?”

Sutawijaya heran mendengar pertanyaan itu. Ia yakin bahwa anak-anak muda Sembojan itu tahu benar yang dimaksudkannya. Tetapi mereka masih bertanya, apakah yang dicemaskan. Namun akhirnya terasa oleh Sutawijaya, bahwa pertanyaan itu adalah sekedar pelepasan perasaan yang menekan anak-anak muda Sembojan itu. Maka jawab Sutawijaya, “Banyak yang dapat aku cemaskan Kisanak. Terutama anak-anak muda yang berada di halaman ini.”

Anak-anak muda Sembojan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Agaknya mereka tertarik benar kepada Sutawijaya dan kedua kawannya sehingga salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah nama-nama kalian?”

“Namaku Sutajia,” jawab Sutawijaya. “Kedua ini adalah adik sepupuku. Yang ini Agung Sedayu dan yang gemuk bernama Swandaru.

Anak-anak Sembojan itu menganguk-anggukkan kepalanya. Mereka tertegun ketika mendengar Sutawijaya bertanya, “Dan siapakah nama-nama kalian?”

Anak muda yang nampaknya tertua di antara mereka menjawab, “Namaku Haspada.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ia tidak menanyakan nama anak-anak muda yang lain. Satu di antara mereka telah cukup baginya, meskipun mungkin ia masih memerlukan nama yang lain.

“Apakah kakang Haspada berasal dari Sembojan?” bertanya Sutawijaya kemudian.

Anak muda yang bernama Haspada itu memandangnya sejenak, kemudian dijawabnya, “Ya, kenapa?”

“Bukankah anak muda yang mengajak Kakang tadi juga berasal dari Sembojan?”

Haspada mengerutkan keningnya. Katanya, “Ya, ya. Anak muda yang tinggi berkumis?”

“Ya.”

“Ya. Ia anak Sembojan pula. Namanya Bunar. Kenapa?”

“Kenapa Kakang tidak ikut bersama kawan-kawan anak-anak Sembojan yang lain?”

Haspada mengerutkan keningnya pula. Ditatapnya wajah Sutawijaya lebih tajam lagi. Kemudian dijawabnya, “Kau mendengar percakapan kami?”

“Ya, kami mendengar percakapan kalian. Kami juga mendengar percakapan anak-anak Telaga Kembar.”

“Pantas kalian menjadi cemas. Memang kami pun menjadi cemas seperti kalian. Sebenarnyalah setiap kali ada keramaian maka setiap kali kami menjadi cemas.”

“Kenapa keramaian ini diadakan juga?”

“Keramaian adalah kegemaran anak-anak muda dan orang-orang tua di kademangan ini meskipun bagi kami sangat mencemaskan. Tetapi mereka menganggap bahwa keramaian semacam ini akan memberi gairah kerja kepada mereka. Keramaian ini dapat memberikan kegembiraan dan pertanda bahwa kademagan kami adalah kademangan yang hidup.”

“Hidup dalam kecemasan adalah tidak menyenangkan,” sahut Sutwijaya.

“Memang demikian buat sebagian orang. Tetapi sebagian orang yang lain menyenangi cara hidup yang demikian itu.”

“Aku kira Kakang tidak senang dengan cara itu?”

Haspada terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya, “Kenapa? Kenapa kau tahu aku tidak menyenanginya?”

“Kakang tidak berada di antara mereka. Di antara anak-anak muda semacam Bunar.”

Haspada mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mulai tertarik pada anak muda Sangkal Putung itu. Meskipun kedua kawan-kawannya yang lain tidak ikut dalam pembicaraan itu, namun wajah-wajah mereka menunjukkan, bahwa hati mereka tersentuh oleh kata-katanya.

Tiba-tiba mereka terkejut ketika mendengar suara riuh di antara para penonton. Kembali terdengar anak-anak muda berteriak-teriak tak menentu. Ketika mereka mengangkat wajah-wajah mereka, maka penari di pendapa banjar desa telah tidak lagi menari. Penari itu sedang mengangguk-anggukkan kepalanya kepada para tamu. Sejenak kemudian penari itu pun meninggalkan pendapa masuk ke dalam.

Suara yang gemuruh terdengar dari segenap sudut halaman. Suara itu sama sekali bukan bernada kekaguman atau kebanggaan atas penari yang baru saja menari. Tetapi suara itu asal saja melontar berebut keras. Bahkan kadang-kadang terdengar ucapan-ucapan yang kurang menyenangkan dari antara mereka.

Demikianlah kemudian berlangsung pertunjukkan demi pertunjukkan. Dan demikian pula suara sorak gemuruh yang menyertainya sahut-menyahut, semakin lama semakin memekakkan telinga, dan bahkan semakin lama semakin menggelitik perasaan. Dan malam pun semakin lama semakin dalam.

“Bukan main,” gumam Sutawijaya. “Aku tidak tahu, apakah yang sebenarnya terjadi di halaman ini.”

“Aku menjadi ngeri,” sahut Agung Sedayu, “seperti berdiri di tengah-tengah sungai yang sebentar lagi akan banjir.”

Swandaru tersenyum. Katanya, “Kenapa kau tidak menepi?”

Kedua kawannya pun tersenyum pula. Sutawijaya-lah yang menjawab, “Di arus air banjir kita akan banyak mendapat ikan. Bukankah begitu?”

Keduanya terdiam ketika Haspada bertanya, “Apakah kalian senang melihat suasana ini?”

“Lucu sekali,” sahut Sutawijaya, “aku tidak pernah menjumpai suasana ini di Sangkal Putung.”

“Aku anak Sembojan sejak lahir pun merasakan keganjilan itu. Apalagi kalian. Mudah-mudahan suasana ini tidak meningkat. Tetapi adalah kesalahan orang-orang tua juga apabila mereka nanti menutup acara dengan tayuban. Suasana segera akan meningkat menjadi panas. Dalam keadaan yang demikian itu akan dapat banyak terjadi hal-hal yang lebih ganjil lagi. Mudah-mudahan orang-orang tua menyadarinya, sehingga mereka tidak menyelenggarakan tayuban. Tetapi harapan itu sangat tipis. Orang-orang tua kita sebagian telah mabuk pula.” Suara anak muda itu terputus ketika tiba-tiba suara gamelan seolah-olah memekik tinggi dan meluncurlah irama yang mulai menjadi hangat.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 3 Oktober 2008 at 12:30  Comments (25)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-17/trackback/

RSS feed for comments on this post.

25 KomentarTinggalkan komentar

  1. dah H+3 masih kaming sun ki 😀 dah ga sabar nungguin nih. btw sukses buat perjuangannya..(maap baru bisa ikut baca doang blom bisa bantuin apa2)

  2. penipuan nih.. masak halaman kaming sun nya ada 2 biji 😀

    D2: Maaf, gak sengaja 😀

  3. Buat ADBMers..”Selamat Iedhul Fitri 1 Syawal 1429 H, Mohon Maaf Lahir Batin..”

    Ketika mentari pagi hisapkan embun
    Ketika secercah hati,
    menyeruakkan harapan
    satu-satu..
    Jangan lagi kotori “bumi”-mu ini
    Dengan noktah yang tak berarti
    Dengki, iri, dan sakit hati..
    buang jauh! ..ke langit tujuh.
    Bersama kata “maaf”
    yang terungkap tulus
    dari lubuk hati
    yang terindah..
    //HER//

    Setelah PULKAM harap jaga kesehatan
    jangan cape2..
    Salam hangat buat segenap keluarga besar (dan famili) ADBMers

  4. Mas DD

    Aku baca di page 4 (klu gak salah) masih ada beberapa kata dengan huruf yg salah (“i” kapital mengganti huruf “l”) shg cukup m’ganggu, misalnya: Sangkal Putung (ditulis: SangkaI Putung); lereng Merapi (ditulis: Iereng Merapi) ..dmk dst.. Biasanya huruf tsb merupakan hasil dari konvert dari scan (JPG) ke teks (word), tapi klu prosesnya melalui “ngetik ulang” nggak akan terjadi..

    Mas DD, aku uwis terlanjur ngerjakan tugas yg sampean berikan dan udh pula aku kirim balik, sementara pada page 5 udh dimuat (doble yo?)…yo wis ora opo2..

    Salam
    HER

    D2: Terima kasih koreksinya. Feedback udah aku kirim balik.

  5. Met Idul Fitri semua…
    mohon maaf lahir batin.

    libur seminggu, uploadnya dah banyak betul.
    hasil kerja keras mas de2 nih. trims mas de2

    sy ni dah siap ngerjain tugas lg nih. retype, proof siap semua

    D2: Bukan saya sendiri kok. Kan ada editor yg gak mudik

  6. Buat Nyai Demang yth
    Aku kirim imel (sesuai alamat imel anda) ke dikau kok nggak nyangkut ya? maksudku kapan n dmn aku hrs ambil logistik utk scan ADBM?

    Salam
    HER

    • untuk urusan logistik mungkin bisa ditanyakan langsung kepada nyi nunik, anging mengenai peminadahan kekuasaan dan lain-lain harus dilakukan dengan cara saksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.

      jakarta, 17 agustus ’05
      atas nama rakyat mataram
      ki gembleh pol – ki haryo mangku

      • Kepadha SANG GULA KELAPA ,

        HORMAT SENJATAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA GRAAKKK

  7. Mas DD,
    di postingan buku-17/5 ada kalimat yang mengganggu:
    Dalam analisis Sutawijaya, “— Yang kedua, Sangkal Putung agak lebih besar dari Prambanan dan lebih padat pula, sehingga yang tersimpan di dalam perut Kademangan […] Prambanan. Agaknya Prambanan tidak memiliki kekayaan seperti Sangkal Putung. —”

    Saya kira, ada potongan kalimat yang hilang pada bagian yang saya tandai […]

    Juga pada kalimat (beberapa alinea di bawahnya):
    “— Apalagi […] mereka harus mengalami perselisihan. Senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    […] di kalimat ini = apabila/jika.

    Betul demikian?

    @mas Herry, sebaliknya dari di atas, ini kelemahan jika harus re-type naskah. Terkadang ada kata atau bagian kalimat yang terlewat, jika yang mengetik atau membacanya kurang cermat.

    salam, Wukir

    D2: 1) Kami sudah re-cek, demikianlah adanya. Saya sendiri bingung, Pak, tetapi tidak punya alternatif. Mudah2an Pak Wukir masih bisa menikmatinya, termasuk kekeliruan itu.

    D2: 2) Yang benar: “— Apabila mereka harus mengalami perselisihan, senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    D2: 3) Terima kasih koreksinya.

  8. kayaknya semakin banyak yang mau membantu.
    mungkin bung DD bisa mulai membagi pasukan. bukan cuma sapit urang (ganjil genap) tapi bisa trisula ato lebih banyak lagi. saya gak ada bahan, jadi paling bisa ngedit ato retype doang. siap dibawah panglima sapa aja.
    eh.. nge – upload saya juga bisa lho 😀

    D2: Kita sedang kesana, Mas Sukra. Sabar ya.

  9. Dear bung Dede,
    Saya bikin kalkulasi sederhana tentang lamanya kita harus menunggu selesai ADM yang ada 286 jilid tsb.
    Kalau seminggu kita hanya bisa posting 1 jilid, berarti untuk sampai ke jilid 286 kita harus menunggu 286/52 minggu = 5.5 tahun. Apa ini ndak kelamaan?
    Menurut saya kalau memang bahan sudah ada, apa tidak sebaiknya diposting saja segera. Apalagi menurut yang saya baca tujuan ADBMCad ini bukan hanya buku ADBM saja, akan tetapi untuk buku-buku yang bagus lainnya.
    Kalau boleh saya usul sehari satu jilid (sekali lagi kalau bahan sudah ada), atau sebanyak bahan yang siap tayang. Artinya, kalau bisa jumlah jilid tayang tidak perlu dipatok satu per minggu dan dibagi tujuh, akan tetapi ditayang begitu bahan siap tampil.
    Usulan saya sebenarnya juga dibarengi kesediaan untuk membantu. Berdasar pengalaman membantu bung Rizal, bung Doelah dan bung Dede sendiri, kecepatan saya sendiri dalam mentransfer dari jpg sampai MSword siap tayang bisa mencapai 3 jilid/minggu. Ini karena OCR dan MSWord sudah ‘terlatih’ untuk auto editing khusus ADBM. Tentu saja masih perlu bung Dede sbg gawang terakhir editor. Apalagi menurut pengamatan saya paling tidak ada 3-4 anggota ADMC lagi yang juga punya kapabilitas yang sama. Jadi 5-6 jilid/minggu bukan hal yang tak mungkin sehingga kita hanya butuh setahun lebih sedikit untuk menyelesaikannya.
    Bagaimanapun, ini hanya usul.
    Wassalam, GI

    D2: Bukan 5.5 tahun, tapi hampir 8 tahun, Mas GI. Karena jumlah keseluruhan jilid ada 396. Kita sedang bergerak ke 5 JPM, tapi yo nggak bisa sak iyeg sak eko proyo. Alon-alon waton klakon.

  10. Dear semuanya,

    Salam kenal. Thanks untuk Mas Dede dan rekan2 lainnya atas upaya ditampilkannya ADBM di dunia maya, sehingga sy yang kebetulan lagi tinggal di New York bisa ikut menikmati.

    Walau mungkin harus nyuri-nyuri waktu, tapi sy bersedia juga untuk membantu. Kalau misalnya ada yang tahu bahwa ada mesin scanner yang lumayan memadai untuk mempercepat proses penayangan, dengan senang hati akan saya beli agar sy setidaknya bisa memperpendek jangka waktu penanyangan buku ADBM.

    Salam,
    TJ

  11. @ Nyai Demang
    Aku dah siap bantu pasukan scan, sgr hub aku di herry_wsono@yahoo.com
    Yg penting jadwalkan utk ambil logistik, kapan n dmn? mumpung aku ada kesempatan berdayakan anak2ku yg masih di SMU, klu anakku yg udah sarjana bacaannya udh beda, meskipun sedikit tertarik jg..He3

    @Mas DD
    klu ada tgs lagi, masih siap kok!

    @p_sawukir
    Lha ya itu, wong aku cuma tunjukkan adanya salah satu kelemahan dr masing-masing proses..
    Inggih mas p_sawukir, mdh2an smuanya bisa saling berhati2 atas segala kemungkinan kekurangan yg ada
    Salam kembali

  12. Hare gene masih kamin’ sun, boss, gak sabaran nich.. penasaran oe…

    • kalo dah nggak sabar ya berangkat aja dulu kan bisa, nanti ketemu di enggok-enggokan ya …..

  13. habis nyontreng cawapres langsung “lanjutkan” jilid 17 dan “lebih cepat lebih baik” mengetahui apakah sutawijaya itu “pro-rakyat”

  14. Tayub……tuak………
    wah…… mesti ana petugas keamanan’e….!!!!
    lha dari kelompok mana ya….?????
    (jaman iku wis kenal tato sak kujur awak durung yo…???)

    • kalo foto separo badan, kalo tato telung prapat badan

      • Kalau Ki Bukan tentu tatone di
        pergelangan tangan,
        gambar cakra…..????

        • wis ganti ki, biyen cen gambare ngono iku, saiki ganti angie 😀

          • gandok 17,

            ki Gembleh, ki AS……sugeng dalu, angie 😀 genk tepang

            • dereng sare ki ndul

            • ????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: