Buku 17

“Tayuban,” Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru mengulang hampir bersamaan.

“Ya, tayuban. Setelah keadaan kademangan ini menjadi baik, maka aneh-anehlah tingkah laku anak-anak muda yang kehilangan kegiatan dan tidak mendapat penyaluran yang sewajarnya.”

“Apa saja yang mereka lakukan?” bertanya Agung Sedayu.

“Macam-macam. Berjalan-jalan berbondong-bondong mengelilingi kademangan di senja hari. Kemudian berteriak-teriak tidak menentu. Kadang-kadang mereka menyembelih kambing, bahkan lembu tanpa sebab. Mereka makan-makan tanpa batas. Gadis-gadis tidak mau ketinggalan. Merekalah yang memasak daging kambing atau lembu atau kerbau. Kemudian sambil berkelakuan aneh-aneh mereka habiskan waktu mereka semalam-malaman.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Sekali mereka bertiga saling berpandangan. Kemudian terdengar Swandaru bertanya, “Apakah orang tua tidak berbuat sesuatu?”

“Kau lihat sendiri, bagaimana sikap anak-anakku terhadapku. Apakah aku harus memukulnya? Kalau aku berbuat demikian, mereka pasti akan melawan, dan aku pasti akan mati mereka cekik bersama-sama.”

Sorot mata Swandaru tiba-tiba menjadi aneh. Ia adalah pemimpin anak-anak muda Sangkal Putung. Karena itu ia menaruh minat yang sangat besar mendengar ceritera itu.

“Kenapa terjadi demikian, Paman Astra?” bertanya Swandaru. “Bukankah menurut Paman hal itu baru saja terjadi. Maksudku belum terlampau lama.”

“Ya, memang demikian. Baru saja, sejak keadaan Prambanan menjadi baik kembali.”

“Apakah yang pernah terjadi di Prambanan, Paman?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku kira pernah terjadi pula di Sangkal Putung. Apakah tidak demikian? Sisa-sisa laskar Arya Penangsang, beberapa orang dari mereka selalu berkeliaran di sekitar daerah ini. Hal itulah yang menyebabkan beberapa orang prajurit Pajang ditempatkan di kademangan ini.”

Sutawijaya dan kedua kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tiba-tiba mereka lenyap dari daerah ini seperti ditelan hantu. Beberapa waktu yang lalu mereka masih berkeliaran di sekitar kademangan ini.”

“Sejak kapan mereka tidak menampakkan diri lagi, Paman?”

“Dua tiga bulan, kurang lebih.”

Sutawijaya dan kedua kawannya saling berpandangan. Dua bulan. Persiapan Tohpati yang terakhir berlangsung dalam waktu yang lama dan cukup masak. Mungkin orang-orang Jipang di Prambanan harus berkumpul di Sangkal Putung untuk memperkuat serangan yang terakhir itu. Mungkin pula sejak serangan yang gagal sebelumnya, pada saat Tohpati membawa orang-orangnya datang di malam hari.

Tetapi tak seorang pun dari mereka yang mengatakannya kepada Astra. Mereka masih saja berteka-teki di dalam dada masing-masing.

“Lalu apakah hubungannya dengan perbuatan anak-anak muda di Prambanan ini, Paman.”

“Mereka mendapat tuntunan dari para prajurit Pajang untuk menjaga kademangannya. Prajurit Pajang sendiri tidak dapat mencukupi. Namun sebagian besar dari anak-anak muda itu belum pernah mengalami pertempuran yang sebenarnya. Mereka hanya berkeliling kademangan, meronda sambil membawa segala macam senjata. Kalau ada sesuatu terjadi, mereka segera berlindung di belakang para prajurit Pajang dan kawan-kawannya yang lebih berani. Untunglah, jumlah orang-orang Jipang itu pun tidak seberapa banyak, sehingga bagi Prambanan, mereka belum merupakan bahaya yang benar-benar dapat menggoncangkan ketenteraman kademangan ini.”

Ketiga anak-anak muda yang mendengarkan ceritera itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ini adalah suatu perbedaan antara anak-anak muda Prambanan dan anak-anak muda Sangkal Putung. Anak-anak muda Sangkal Putung hampir seluruhnya telah mengalami pertempuran berkali-kali dengan orang Jipang. Bahkan korban pun telah berjatuhan.

“Tetapi kenapa mereka sekarang berbuat aneh-aneh?” bertanya Agung Sedayu.

“Kini sebagian besar prajurit Pajang pun telah ditarik. Pengawasan atas anak-anak muda itu menjadi jauh berkurang. Anak-anak muda yang dirinya mendapat kekuasaan itu, tiba-tiba menjadi mabuk. Mabuk atas kekuasaan yang ditinggalkan oleh para prajurit Pajang untuk menjaga keamanan kademangan ini. Dengan pedang di lambung, mereka ditakuti. Karena itu, maka mereka kadang-kadang melakukan perbuatan-perbuatan yang aneh-aneh itu.”

Ketiga anak-anak muda itu merasa aneh mendengar ceritera Astra. Hati mereka segera tersentuh, dan perhatian mereka pun menjadi sangat tertarik kepada peristiwa itu.

Dalam pada itu Astra berceritera terus, “Sekarang anak-anak muda itu telah jauh terdorong ke dalam perbuatan-perbuatan yang lebih berbahaya. Di antaranya kedua anakku. Mungkin kalian dapat menyalahkan aku dan orang-orang tua. Tetapi aku yang mengalaminya sendiri merasa, bahwa habislah akalku untuk mengendalikan kedua anak-anakku itu. Apalagi di antara kami orang tua-tua, memang ada yang justru menjadi bangga melihat kelakuan anak-anaknya. Seolah-olah anaknya telah menjadi seorang pahlawan.”

“Aneh,” desis Sutawijaya dengan serta-merta.

“Ya, aneh,” sahut Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan. Mereka adalah pemuda-pemuda pula. Tetapi mereka tidak dapat membayangkan apa saja yang telah dilakukan oleh anak-anak sebayanya di Kademangan Prambanan.

“Apakah tidak ada tindakan yang dapat dilakukan?” bertanya Sutawijaya.

Astra menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab, “Sulit. Sulit sekali. Mungkin dapat juga dilakukan tindak kekerasan. Tetapi anak-anak muda itu merasa diri mereka pahlawan-pahlawan dan mereka pun pasti akan melawan dengan kekerasan pula. Apakah yang kira-kira akan terjadi di Prambanan? Bencana ini akan jauh lebih dahsyat daripada bencana yang dapat ditimbulkan oleh orang-orang Jipang.”

“Ya, Paman benar,” shut Sutawijaya.

“Kami hampir kehilangan akal untuk mengatasinya,” berkata orang tua itu pula.

“Bagaimana dengan pamong kademangan ini? Bapak Demang misalnya atau Bapak Jagabaya?”

“He,” tiba-tiba orang itu tersentak. Katanya kemudian, “Kenapa kau ributkan kademangan ini? Terserahlah kepada Bapak Demang dan Bapak Jagabaya.”

Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya terdiam. Namun timbullah keinginan mereka untuk melihat, apakah yang telah terjadi di Banjar Desa Kademangan Prambanan? Karena itu, tanpa bersetuju lebih dahulu, hampir bersamaan Agung Sedayu dan Sutawijaya berkata, “Apakah kita akan melihat?”

“Apakah yang akan kalian lihat?” bertanya Astra.

“Apa yang terjadi di banjar desa.”

“Apakah kalian akan membawa kebiasaan itu ke Sangkal Putung, supaya para pemudanya mempunyai kebiasaan serupa pula?”

“Tidak,” sahut Swandaru cepat-cepat. “Kami hanya ingin melihatnya.”

Orang tua itu tersenyum. Katanya, “Apalagi kini di kademangan ini sedang kedatangan beberapa orang tamu. Dua atau tiga orang, aku kurang tahu.”

“Tamu?” bertanya ketiga anak-anak muda itu serta merta.

“Ya, tamu dari seberang hutan Mentaok.”

Sutawijaya dan kedua kawannya terkejut mendengar jawaban itu. Dengan terbata-bata Agung Sedayu bertanya, “Seberang hutan Mentaok? Maksud Paman, tamu itu datang dari daerah di seberang hutan Mentaok?”

“Ya, kenapa kau terkejut?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan debar jantungnya. Kemudian jawabnya, “Tidak apa-apa? Kami terpengaruh oleh tujuan kami sendiri. Kami ingin pergi ke hutan itu, dan kami mendengar nama Mentaok, Paman sebut-sebut.”

“Oh,” Astra mengangguk-anggukan kepalanya. “Mereka adalah utusan dari daerah perdikan Menoreh.”

“Bukit Menoreh maksud Paman?”

Orang itu mengangguk, “Demikian yang aku dengar. Aku tidak tahu kebenarannya.”

Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Mereka telah dua malam berada di tempat ini. Dan mungkin kalian akan terkejut mendengarnya, tamu-tamu itu akan pergi ke Sangkal Putung.”

Swandaru menggigit bibirnya, tetapi ia masih tetap berdiam diri. Namun di dalam dada anak-anak muda itu tersimpan bergabai macam pertanyaan. Kalau mereka utusan Kepala Daerah Perdikan Menoreh, maka mereka pasti mempunyai sangkut paut dengan kepala daerah perdikan itu. Daerah perdikan Menoreh adalah tanah kelahiran Sidanti.

“Sangat menarik perhatian,” gumam Agung Sedayu. “Justru kami datang dari daerah Sangkal Putung.”

“Kapan mereka akan berangkat ke Sangkal Putung?” bertanya Sutawijaya.

“Aku tidak tahu. Tetapi tamu-tamu itu agaknya kerasan di sini. Mereka pun masih muda-muda, semuda kalian bertiga. Kalau terpaut umur, maka tidak akan lebih dari tiga empat tahun.”

Alangkah menarik hati ceritera itu bagi ketiga anak-anak muda itu. Keinginan mereka untuk melihat apa yang terjadi di Prambanan semakin mencengkam hati mereka. Namun mereka tidak segera menyatakannya. Bahkan Sutawijaya itu bertanya, “Kalau di kedemangan ini ada tamu, apakah anak-anak mudanya masih juga mengadakan tayub di banjar desa?”

“Tamu-tamu itu pun mempunyai kesukaan serupa.”

“Oh,” Sutawijaya menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana dengan para prajurit dari Pajang yang masih tinggal di sini?”

“He,” kembali orang itu tersentak. “Kenapa kalian ributkan kademangan ini? Itu bukan urusan kalian, bukan urusanku dan bukan urusan istriku. Urusanku sebenarnya hanyalah berkisar pada anak-anakku yang menjadi mursal pula.”

“Paman keliru,” sahut Sutawijaya tiba-tiba. “Keadaan kademangan ini adalah tanggung jawab segenap penghuninya. Tanggung jawab Bapak Demang, Bapak Jagabaya, Bapak Kabayan, Bapak Pamong-Pamong yang lain dan tanggung jawab Paman pula.”

Orang itu membelalakkan matanya. Ia sebenarnya sependapat dengan Sutawijaya yang menamakan dirinya Sutajia. Tetapi karena yang mengucapkan itu seorang anak muda yang ingin menumpang tidur kepadanya, dan seorang anak muda yang disangkanya betul-betul anak Sangkal Putung saja, dengan pakaian yang kusut, setelah mereka mengenakannya selama dua hari terakhir siang dan malam, maka Astra menjadi heran.

Dengan penuh selidik ia bertanya, “Darimana kau bisa berbicara seolah-olah kau ini seorang pemimpin pemerintahan?”

“Aku hanya sering mendengarnya, Paman. Bapak Demang Sangkal Putung sering mengatakan demikian.”

“Oh,” Astra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah Bapak Demang Prambanan tidak pernah berkata demikian?”

“Tentu. Tentu. Bapak Demang adalah seorang demang yang baik. Tetapi apakah ia dapat berbuat banyak di antara para pamong yang berbuat tidak baik? Di antara orang-orang tua yang berbangga melihat anak-anaknya berbuat edan-edanan? Bahkan bukan saja Bapak Demang, ada juga beberapa anak-anak muda yang menangis di dalam hatinya melihat perkembangan keadaan. Tetapi tidak mendapat kesempatan apa-apa.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu dan Swandaru duduk tepekur, tetapi ia mendengar setiap pembicaraan dengan penuh minat.

“Seperti anak-anakku,” berkata Astra pula. “Aku sudah hampir menjadi gila memikirkannya. Seandainya ada kekuatan yang mampu memperingatkannya, meskipun seandainya anakku harus mengalami pelajaran yang agak berat, aku akan berterima kasih.”

Ketiga anak-anak muda yang datang dari Sangkal Putung itu berdiam sejenak. Dan Astra berkata pula, “Tetapi sayang, anak-anak muda yang masih menyadari keadaan, jumlahnya tidak terlampau banyak, dan mereka tidak mempunyai banyak kelebihan dari anak-anakku yang bengal itu.”

“Tetapi itu adalah pekerjaan kami, Bawa,” potong ayahnya.

Sutawijaya-lah yang kemudian bertanya, “Paman, Paman belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana dengan prajurit-prajurit Pajang?”

Orang itu terdiam sejenak. Tiba-tiba ia berkata, “He, aku sudah selesai dengan pekerjaan di sini. Tidak ada binatang-binatang liar yang mengganggu ladangku. Ayo, kita kembali. Bukankah kau bermalam di rumahku?”

Sutawijaya mengangguk-angguk, “Ya Paman,” jawabnya. Tetapi setiap kali ia kecewa. Pertanyaannya belum terjawab. Sebagai seorang putera Panglima yang pernah ikut serta dalam barisan Wira Tamtama justru menghadapi lawan yang terberat, yaitu Arya Penangsang itu sendiri, maka ia terkait akan adanya beberapa orang prajurit di Prambanan.

Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertanya lagi. Astra segera berdiri, memanggul cangkulnya dan berjalan menyusur pinggiran ladangnya. Katanya, “Kita lewat jurusan ini.”

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru segera mengikutinya di belakang. Namun agaknya masih belum puas. Di sepanjang jalan ia masih bertanya, “Dan bagaimana dengan tamu-tamu dari Menoreh?”

“Tidak apa-apa. Mereka tidak apa-apa,” jawab Astra pendek.

Sutawijaya menjadi benar-benar kecewa. Tiba-tiba ia berkata, “Paman. Kami ingin pergi ke banjar desa. Di kademangan kami hampir tidak pernah kami lihat keramaian apapun. Apabila di sini kebetulan ada keramaian di banjar desa, maka betapa besar keinginan kami untuk melihatnya.”

“Huh, sebaiknya kalian tidak melihatnya.”

“Kenapa?”

Astra tidak menjawab. Tetapi ia berkata, “Bukankah kalian akan bermalam di rumahku? Jarang aku bertemu dengan anak-anak muda seperti kalian. Aku senang bercakap-cakap dengan anak-anakku sendiri.”

“Tentu Paman. Aku akan mengikuti sampai ke rumah Paman. Kemudian kami akan mohon ijin untuk pergi ke banjar desa. Dengan demikian kami telah mengenal rumah Paman, supaya kami tidak usah mencari-cari apabila kami kembali dari banjar desa.”

Astra mengangguk-anggukan kepalanya, “Baiklah,” gumamnya.

Kemudian mereka saling berdiam diri. Mereka berjalan di sepanjang pategalan. Di sini mereka melihat beberapa orang duduk di ladang semangka, menungguinya pula.

“Dari ladang Kakang?” tegur salah seorang dari mereka.

“Ya,” sahut Astra, “aku tidak dapat menungguinya malam ini. Anak-anak pun tidak. Tolong, apabila kalian melihat binatang atau anak-anak nakal merusak masuk.”

“Baik, Kakang,” jawab orang itu. “Tetapi bukankah Supa dan Bawa telah mau ikut ke sawah bersama Kakang?”

“Mereka hanya mau melewatinya tanpa membasahi kaki-kaki mereka dengan air parit. Mereka tergesa-gesa pergi ke banjar desa. Apakah anak-anak kalian juga pergi ke sana?

“Ah, aku tidak peduli lagi. Mereka telah menjadi gila. Tetapi bukankah Supa dan Bawa yang berjalan bersama Kakang itu.

“Bukan, sama sekali bukan. Anak-anak ini adalah kemenakanku yang baru saja datang dari Sangkal Putung.”

“O,” orang yang duduk-duduk tidak bertanya lagi. Astra dan ketiga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu berjalan terus menyusur jalan kecil di tengah-tengah ladang, menyusup di dalam gelapnya malam.

Di pinggir desa kecil di ujung kademangan itulah terletak rumah Astra. Sebuah rumah joglo yang tidak terlampau besar. Tetapi menilik bentuknya dan coraknya, maka Astra bukan termasuk orang yang dapat disebut miskin. Di sisi rumah itu, mereka melihat sebuah pedati lembu di samping sebuah kandang.

“Inilah rumahku,” berkata Astra, “mungkin tidak sebagus rumah-rumah di Sangkal Putung.”

Ketika mereka berempat menginjakkan kaki-kaki mereka di halaman rumah itu, maka Sutawijaya dan kedua kawannya tertegun sejenak. Ketika mereka saling berpandangan, maka tanpa mereka kehendaki mereka mengangguk-anggukan kepala mereka.

“Mari anak-anak,” ajak Astra.

“Paman,” berkata Sutawijaya, “kami sebenarnya ingin untuk melihat banjar desa Prambanan. Kini kami telah mengetahui rumah Paman. Nanti dari banjar desa kami akan datang kemari. Tetapi kami tidak perlu membuat Paman dan Bibi menjadi sibuk. Biarlah kami nanti tidur di pendapa ini saja apabila Paman mengijinkan.”

“He?” Astra mengerutkan keningnya, “pergilah ke banjar desa kalau kalian benar-benar ingin. Tetapi marilah singgah sebentar. Kalian tidak akan terlambat. Keramaian itu baru akan mencapai puncaknya nanti menjelang tengah malam.”

“Terima kasih Paman. Kami ingin melihat sejak keramaian ini baru dimulai.”

Orang tua itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah kalian pernah melihat orang berkelahi?”

Ketiga anak-anak muda itu terkejut.

“Kenapa?” bertanya Swandaru.
“Apakah di Sangkal Putung ada juga anak-anak muda sering berkelahi di antara mereka, di antara sesama?”

Swandaru dan kawan-kawannya menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Sementara itu Astra berkata, “Kalau kalian belum pernah melihat anak-anak muda berkelahi, sebaiknya kalian tidak usah melihat, daripada kalian menjadi ketakutan.”

“Apakah akan ada pertandingan berkelahi di banjar desa?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak. Tetapi artinya hampir sama. Hampir setiap kali ada keramaian semacam ini, anak-anak muda selalu bikin ribut. Ada-ada saja yang mereka persoalkan. Dan sering terjadi mereka berkelahi di antara mereka karena soal-soal tetek bengek.”

Ketiga anak-anak muda itu justru semakin ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di banjar desa. Karena itu maka Sutawijaya menjawab, “Kalau kami tidak ikut campur dalam setiap perselisihan, maka aku kira kami tidak akan terlibat, Paman.”

“Mudah-mudahan. Kalau kau ngeri melihat mereka berkelahi, maka sebaiknya kalian segera pergi dan kembali kemari.”

“Baik, Paman,” sahut mereka hampir serentak.

Astra itu pun kemudian memberi mereka ancar-ancar ke mana mereka harus pergi. “Kalau kau melihat lampu obor yang terang benderang seperti siang, maka itulah banjar desa.”

“Terima kasih, Paman,” sahut mereka bersamaan pula.
Sejenak kemudian mereka telah meninggalkan halaman rumah Astra dengan pertanyaan yang memenuhi dada. Ceritera Astra sangat menarik perhatian mereka. Mereka pun menyadari mungkin Astra telah membumbui ceriteranya terlampau banyak. Namun sedikit banyak ceritera itu pasti mengandung kebenaran.

Ada beberapa hal yang sangat menarik perhatian ketiga anak-anak muda itu. Tingkah laku sebagian anak-anak muda Prambanan, yang menurut Astra mereka terpaksa menangis di dalam hati melihat sikap kawan-kawannya. Kemudian apakah yang akan dilakukan oleh para pamong kademangan dan lebih-lebih menarik lagi, bagaimanakah sikap beberapa orang prajurit Pajang yang masih ada di Prambanan? Yang tidak kalah menariknya adalah ceritera tentang tamu-tamu dari Menoreh. Tamu-tamu yang mau tidak mau pasti menyangkut nama kepala daerah Perdikan Menoreh. Nama orang tua Sidanti.

Karena itu, maka tiba-tiba mereka tergesa-gesa. Tanpa mereka sengaja langkah mereka pun menjadi semakin cepat. Jarak yang harus mereka tempuh tidak terlampau jauh. Jalan yang harus mereka lalui adalah jalan itu juga, tanpa berbelok. Mereka akan melewati sebuah desa sebelum mereka akan sampai ke bulak yang pendek. Di sebelah bulak yang pendek itulah terletak induk Kademangan Prambanan. Dan di desa itulah terletak banjar desa. Tidak terlampau jauh dari sebuah bangunan yang sangat terkenal, Candi Jonggrang.

Waktu yang mereka perlukan tidak terlalu banyak. Beberapa saat kemudian mereka telah sampai ke ujung lorong memasuki desa yang pertama.

Demikian mereka sampai ke ujung desa, maka Sutawijaya mengamit kedua kawan-kawannya. Agung Sedayu dan Swandaru berpaling. Hampir bersamaan mereka mengangguk ketika mereka mendengar Sutawijaya berbisik, “Kau lihat beberapa orang berdiri di pinggir jalan di bawah lampu gardu itu?”

Melihat sikap mereka, hati ketiga anak-anak muda itu menjadi berdebar-debar. Sikap itu benar-benar bukan sikap yang wajar. Tetapi mereka bertiga tidak mempunyai kepentingan dengan mereka. Karena itu mereka sama sekali tidak memperhatikannya.

Anak-anak muda yang berkerumun di sebelah gardu itu mamandangi mereka bertiga dengan berbagai pertanyaan di dalam hati. Seorang yang duduk di sisi jalan tiba-tiba berdiri dan bertolak pinggang. Tetapi ia tidak bertanya apapun. Kawannya yang berjongkok di atas dinding halaman, meloncat turun sambil bergumam, “He, apakah akan ada tamu lagi?”

“Huh,” sahut yang lain yang berbaring di atas dinding halaman yang sempit di sisi jalan yang lain, “aku kira mereka adalah gembala-gembala dari kademangan lain. Mungkin mereka ingin mendapat sisa-sisa makanan di banjar desa.”

Hampir serentak pemuda-pemuda itu tertawa. Bahkan seorang di antara mereka berjalan ke tengah lorong, sementara Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya menjadi semakin dekat.

Dengan tingkah yang dibuat-buat anak muda itu mengawasi Sutawijaya dan kawan-kawannya. Kemudian katanya, “Kalian benar. Bukan anak-anak Prambanan. Mereka adalah anak-anak kelaparan. Wajahnya pucat dan pakainnya kusut kumal.”

“Biarkan mereka lewat. Tak ada kepentingan dengan anak-anak kecingkrangan,” berkata yang lain.

Sutawijaya tidak tahu, bagaimanakah tanggapan anak-anak muda itu sebenarnya atas dirinya dan kedua kawan-kawannya, tetapi terasa untuk memancing perselisihan. Sutawijaya sendiri menyadari bahwa pakaiannya pasti lebih baik dari pakaian seorang anak yang disebut kecingkrangan. Meskipun setelah dipakainya selama ini tanpa dicuci telah dilekati oleh banyak debu dan kotoran serta menjadi kusut. Juga pakaian Agung Sedayu dan Swandaru adalah pakaian yang meskipun sederhana, tetapi cukup baik. Tetapi pakaian itu pun telah menjadi kusut.

Sutawijaya sama sekali tidak menanggapi kata-kata itu. Ia percaya bahwa Agung Sedayu akan bersikap demikian. Tetapi yang agak dicemaskan adalah Swandaru. Agung Sedayu pun mempunyai perasaan yang serupa. Ia mengharap di dalam hatinya agar Swandaru dapat sedikit mengendalikan dirinya.

Namun ternyata Swandaru bersikap acuh tak acuh. Ia berjalan saja tanpa berpaling.

Ketika mereka bertiga melewati anak-anak muda itu, dan beberapa langkah membelakangi mereka, terdengar seolah-olah meledak, suara tertawa mereka tergelak-gelak. Terdengar di antara suara tertawa itu salah seorang berkata, “Apakah mereka anak-anak Temu Agal, atau anak Kepuh?”

“Kami belum pernah melihatnya,” sahut yang lain, “tetapi aku menjadi kasihan melihat sikap mereka, seperti tikus masuk ke dalam sarang kucing.”

Swandaru dan Agung Sedayu masih juga mencemaskan sikap Swandaru. Anak muda itu agak mudah tersinggung. Tetapi ketika mereka berdua berpaling, memandangi wajah Swandaru mereka melihat anak yang gemuk itu tersenyum, katanya perlahan-lahan, “Aku senang melihat sikap anak-anak itu.”

“Apa yang kau senangi?” bertanya Agung Sedayu perlahan-lahan pula.

“Seperti sebuah pertunjukan lelucon. Seperti raksasa-raksasa di dalam hutan melihat Raden Arjuna lewat.”

“He, kau sangka kau seperti Raden Arjuna,” potong Sutawijaya.

“Ya, aku seperti Raden Arjuna bersama-sama dengan punakawannya.”

“Huh,” Agung Sedayu menyahut. “Kaulah yang pantas menjadi Semar.”

Ketiganya tertawa. Tetapi mereka cukup mengerti, bahwa mereka harus menahan suara tertawanya supaya tidak menyinggung perasaan anak-anak muda yang masih belum terlampau jauh.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 3 Oktober 2008 at 12:30  Comments (25)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-17/trackback/

RSS feed for comments on this post.

25 KomentarTinggalkan komentar

  1. dah H+3 masih kaming sun ki 😀 dah ga sabar nungguin nih. btw sukses buat perjuangannya..(maap baru bisa ikut baca doang blom bisa bantuin apa2)

  2. penipuan nih.. masak halaman kaming sun nya ada 2 biji 😀

    D2: Maaf, gak sengaja 😀

  3. Buat ADBMers..”Selamat Iedhul Fitri 1 Syawal 1429 H, Mohon Maaf Lahir Batin..”

    Ketika mentari pagi hisapkan embun
    Ketika secercah hati,
    menyeruakkan harapan
    satu-satu..
    Jangan lagi kotori “bumi”-mu ini
    Dengan noktah yang tak berarti
    Dengki, iri, dan sakit hati..
    buang jauh! ..ke langit tujuh.
    Bersama kata “maaf”
    yang terungkap tulus
    dari lubuk hati
    yang terindah..
    //HER//

    Setelah PULKAM harap jaga kesehatan
    jangan cape2..
    Salam hangat buat segenap keluarga besar (dan famili) ADBMers

  4. Mas DD

    Aku baca di page 4 (klu gak salah) masih ada beberapa kata dengan huruf yg salah (“i” kapital mengganti huruf “l”) shg cukup m’ganggu, misalnya: Sangkal Putung (ditulis: SangkaI Putung); lereng Merapi (ditulis: Iereng Merapi) ..dmk dst.. Biasanya huruf tsb merupakan hasil dari konvert dari scan (JPG) ke teks (word), tapi klu prosesnya melalui “ngetik ulang” nggak akan terjadi..

    Mas DD, aku uwis terlanjur ngerjakan tugas yg sampean berikan dan udh pula aku kirim balik, sementara pada page 5 udh dimuat (doble yo?)…yo wis ora opo2..

    Salam
    HER

    D2: Terima kasih koreksinya. Feedback udah aku kirim balik.

  5. Met Idul Fitri semua…
    mohon maaf lahir batin.

    libur seminggu, uploadnya dah banyak betul.
    hasil kerja keras mas de2 nih. trims mas de2

    sy ni dah siap ngerjain tugas lg nih. retype, proof siap semua

    D2: Bukan saya sendiri kok. Kan ada editor yg gak mudik

  6. Buat Nyai Demang yth
    Aku kirim imel (sesuai alamat imel anda) ke dikau kok nggak nyangkut ya? maksudku kapan n dmn aku hrs ambil logistik utk scan ADBM?

    Salam
    HER

    • untuk urusan logistik mungkin bisa ditanyakan langsung kepada nyi nunik, anging mengenai peminadahan kekuasaan dan lain-lain harus dilakukan dengan cara saksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.

      jakarta, 17 agustus ’05
      atas nama rakyat mataram
      ki gembleh pol – ki haryo mangku

      • Kepadha SANG GULA KELAPA ,

        HORMAT SENJATAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA GRAAKKK

  7. Mas DD,
    di postingan buku-17/5 ada kalimat yang mengganggu:
    Dalam analisis Sutawijaya, “— Yang kedua, Sangkal Putung agak lebih besar dari Prambanan dan lebih padat pula, sehingga yang tersimpan di dalam perut Kademangan […] Prambanan. Agaknya Prambanan tidak memiliki kekayaan seperti Sangkal Putung. —”

    Saya kira, ada potongan kalimat yang hilang pada bagian yang saya tandai […]

    Juga pada kalimat (beberapa alinea di bawahnya):
    “— Apalagi […] mereka harus mengalami perselisihan. Senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    […] di kalimat ini = apabila/jika.

    Betul demikian?

    @mas Herry, sebaliknya dari di atas, ini kelemahan jika harus re-type naskah. Terkadang ada kata atau bagian kalimat yang terlewat, jika yang mengetik atau membacanya kurang cermat.

    salam, Wukir

    D2: 1) Kami sudah re-cek, demikianlah adanya. Saya sendiri bingung, Pak, tetapi tidak punya alternatif. Mudah2an Pak Wukir masih bisa menikmatinya, termasuk kekeliruan itu.

    D2: 2) Yang benar: “— Apabila mereka harus mengalami perselisihan, senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    D2: 3) Terima kasih koreksinya.

  8. kayaknya semakin banyak yang mau membantu.
    mungkin bung DD bisa mulai membagi pasukan. bukan cuma sapit urang (ganjil genap) tapi bisa trisula ato lebih banyak lagi. saya gak ada bahan, jadi paling bisa ngedit ato retype doang. siap dibawah panglima sapa aja.
    eh.. nge – upload saya juga bisa lho 😀

    D2: Kita sedang kesana, Mas Sukra. Sabar ya.

  9. Dear bung Dede,
    Saya bikin kalkulasi sederhana tentang lamanya kita harus menunggu selesai ADM yang ada 286 jilid tsb.
    Kalau seminggu kita hanya bisa posting 1 jilid, berarti untuk sampai ke jilid 286 kita harus menunggu 286/52 minggu = 5.5 tahun. Apa ini ndak kelamaan?
    Menurut saya kalau memang bahan sudah ada, apa tidak sebaiknya diposting saja segera. Apalagi menurut yang saya baca tujuan ADBMCad ini bukan hanya buku ADBM saja, akan tetapi untuk buku-buku yang bagus lainnya.
    Kalau boleh saya usul sehari satu jilid (sekali lagi kalau bahan sudah ada), atau sebanyak bahan yang siap tayang. Artinya, kalau bisa jumlah jilid tayang tidak perlu dipatok satu per minggu dan dibagi tujuh, akan tetapi ditayang begitu bahan siap tampil.
    Usulan saya sebenarnya juga dibarengi kesediaan untuk membantu. Berdasar pengalaman membantu bung Rizal, bung Doelah dan bung Dede sendiri, kecepatan saya sendiri dalam mentransfer dari jpg sampai MSword siap tayang bisa mencapai 3 jilid/minggu. Ini karena OCR dan MSWord sudah ‘terlatih’ untuk auto editing khusus ADBM. Tentu saja masih perlu bung Dede sbg gawang terakhir editor. Apalagi menurut pengamatan saya paling tidak ada 3-4 anggota ADMC lagi yang juga punya kapabilitas yang sama. Jadi 5-6 jilid/minggu bukan hal yang tak mungkin sehingga kita hanya butuh setahun lebih sedikit untuk menyelesaikannya.
    Bagaimanapun, ini hanya usul.
    Wassalam, GI

    D2: Bukan 5.5 tahun, tapi hampir 8 tahun, Mas GI. Karena jumlah keseluruhan jilid ada 396. Kita sedang bergerak ke 5 JPM, tapi yo nggak bisa sak iyeg sak eko proyo. Alon-alon waton klakon.

  10. Dear semuanya,

    Salam kenal. Thanks untuk Mas Dede dan rekan2 lainnya atas upaya ditampilkannya ADBM di dunia maya, sehingga sy yang kebetulan lagi tinggal di New York bisa ikut menikmati.

    Walau mungkin harus nyuri-nyuri waktu, tapi sy bersedia juga untuk membantu. Kalau misalnya ada yang tahu bahwa ada mesin scanner yang lumayan memadai untuk mempercepat proses penayangan, dengan senang hati akan saya beli agar sy setidaknya bisa memperpendek jangka waktu penanyangan buku ADBM.

    Salam,
    TJ

  11. @ Nyai Demang
    Aku dah siap bantu pasukan scan, sgr hub aku di herry_wsono@yahoo.com
    Yg penting jadwalkan utk ambil logistik, kapan n dmn? mumpung aku ada kesempatan berdayakan anak2ku yg masih di SMU, klu anakku yg udah sarjana bacaannya udh beda, meskipun sedikit tertarik jg..He3

    @Mas DD
    klu ada tgs lagi, masih siap kok!

    @p_sawukir
    Lha ya itu, wong aku cuma tunjukkan adanya salah satu kelemahan dr masing-masing proses..
    Inggih mas p_sawukir, mdh2an smuanya bisa saling berhati2 atas segala kemungkinan kekurangan yg ada
    Salam kembali

  12. Hare gene masih kamin’ sun, boss, gak sabaran nich.. penasaran oe…

    • kalo dah nggak sabar ya berangkat aja dulu kan bisa, nanti ketemu di enggok-enggokan ya …..

  13. habis nyontreng cawapres langsung “lanjutkan” jilid 17 dan “lebih cepat lebih baik” mengetahui apakah sutawijaya itu “pro-rakyat”

  14. Tayub……tuak………
    wah…… mesti ana petugas keamanan’e….!!!!
    lha dari kelompok mana ya….?????
    (jaman iku wis kenal tato sak kujur awak durung yo…???)

    • kalo foto separo badan, kalo tato telung prapat badan

      • Kalau Ki Bukan tentu tatone di
        pergelangan tangan,
        gambar cakra…..????

        • wis ganti ki, biyen cen gambare ngono iku, saiki ganti angie 😀

          • gandok 17,

            ki Gembleh, ki AS……sugeng dalu, angie 😀 genk tepang

            • dereng sare ki ndul

            • ????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: