Buku 17

Kedua kawan-kawannya mengangguk. Hampir bersamaan mereka menjawab, “Ya, kami sependapat.”

Mereka pun kemudian berjalan ke arah bukit yang membentang di sebelah Selatan padang ilalang itu. Padang yang menarik perhatian Sutawijaya. Apalagi ketika kemudian mereka melihat tanah pategalan dan persawahan yang hijau subur di sebelah padang ilalang yang semakin lama menjadi semakin tipis.

“Daerah ini adalah daerah yang sangat subur,” gumam Sutawijaya.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “tidak kalah subur dengan daerah Sangkal Putung.”

“Menurut pendengaranku, tanah ini mendapat air dari sungai di sebelah Candi Prambanan, Sungai Opak,” berkata Sutawijaya itu pula.

Kedua kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Mereka hanya tertarik pada tanah yang subur, tanaman yang hijau dan rumpun-rumpun yang segar.

Tiba-tiba terdengar Swandaru berdesis, “Kalau tanah ini sesubur Sangkal Putung, kenapa orang-orang Jipang tidak ingin memiliki tanah dan kademangan ini pula?”

“Siapa tahu.” sahut Agung Sedayu. “Mungkin daerah ini pun mendapat tekanan-tekanan yang serupa dengan Sangkal Putung.”

“Tidak,” potong Sutawijaya, “aku kira tidak, sebab Tohpati, Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan sebelum itu juga Pande Besi Sendang Gabus berada di sekitar Sangkal Putung.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya,” katanya lirih.

Sejenak mereka terdiam. Kaki-kaki mereka melangkah di antara batang-batang ilalang yang sudah semakin tipis. Di hadapan mereka terbentang sebuah padang rumput yang sempit. Di seberang padang rumput itu, maka terbentanglah tanah persawahan dan pategalan yang hijau. Di sana-sini mereka melihat padesan yang segar bermunculan di antara batang-batang padi yang sedang berbunga.

“Ada perbedaan antara Prambanan dan Sangkal Putung,” berkata Sutawijaya kemudian. “Yang mungkin mempengaruhi perhitungan Tohpati adalah letak dari kedua kademangan ini. Yang kedua, Sangkal Putung agak lebih besar dari Prambanan dan lebih padat pula, sehingga yang tersimpan di dalam perut Kademangan Prambanan. Agaknya Prambanan tidak memiliki kekayaan seperti Sangkal Putung. Ternak, iwen, lumbung-lumbung yang padat dan hampir setiap orang di Pajang dan Jipang tahu, bahwa orang-orang Sangkal Putung adalah selain petani yang rajin, juga pedagang yang ulet, sehingga menurut perhitungan Tohpati, di Sangkal Putung, akan banyak dijumpai emas dan permata. Kepentingan Tohpati yang lain, karena Sangkal Putung lebih padat daripada Prambanan, maka Sangkal Putung akan dijadikan panjatan perlawanan atas Pajang. Mungkin Tohpati akan dapat memanfaatkan penduduk Sangkal Putung dengan sebaik-baiknya.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan mereka mendengar Sutawijaya berkata terus, “Tetapi tidak mustahil, bahwa apabila mereka gagal menduduki Sangkal Putung, maka mereka akan memperhatikan tempat-tempat lain. Tempat-tempat yang cukup baik, tetapi yang terlepas dari pengawasan prajurit-prajurit Pajang. Tetapi aku kira Prambanan pun berada di bawah pengawasan langsung dari beberapa orang prajurit.”

Agung Sedayu dan Swandaru masih saja mengangguk-anggukkan kepala mereka. Di dalam hati Swandaru merasa bangga, bahwa kademangannya, kademangan yang dipimpin oleh ayahnya ternyata mempunyai beberapa keistimewaan dari kademangan-kademangan lain. Jati Anom, Prambanan dan beberapa kademangan yang lain, bukanlah kademangan yang dapat dinilai sebesar kademangannya.

Tetapi berbeda dengan angan-angan yang berputar di kepala Sutawijaya. Pandangannya atas kademangan ini ternyata jauh melampaui masa yang dilihatnya kini. Ia adalah putera Ki Gede Pemanahan. Sehingga apabila ayahnya nanti mampu membuka hutan Mentaok, maka adalah menjadi kewajibannya untuk menjadikan daerah itu daerah yang besar. Daerah yang memiliki kedudukan yang kuat dan memiliki sumber kekayaan yang cukup. Prambanan adalah daerah yang cukup subur. Dan daerah ini tidak terlampau jauh dengan alas Mentaok yang dijanjikan olah Adipati Pajang kepada ayahnya.

Namun Sutawijaya menyimpan angan-angan itu di dalam kepalanya. Ia sama sekali tidak menyatakan kepada kedua kawannya. Gambaran-gambaran tentang masa depan itu dibiarkan tumbuh dan berkembang di dalam hatinya sendiri.

Demikianlah mereka berjalan terus ke arah Barat. Dilingkarinya pategalan dan tanah-tanah persawahan. Mereka berjalan di padang alang-alang di sisi-sisi bukit kecil yang menbujur di sebelah Selatan Prambanan.

“Itulah Candi Jonggrang,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Hem, itulah candi yang terkenal itu.”

Swandaru mengerutkan wajahnya. Tetapi ia tidak berkata suatu apapun.

Ketika matahari semakin lama menjadi semakin rendah, maka berkatalah Sutawijaya kemudian, “Hampir senja. Apakah kita akan bermalam di padang ilalang, ataukah kita ingin mencari penginapan di desa yang terdekat. Lihat, desa itu adalah desa kecil yang terpencil. Mungkin kita akan dapat mencari sekedar tempat untuk bermalam.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak segera menjawab. Ditatapnya sebuah desa kecil yang terpencil agak di sebelah Barat Candi Prambanan. Desa itu dipisahkan oleh sebuah bulak yang agak panjang, yang ditumbuhi oleh batang-batang padi yang hijau subur. Namun desa kecil itu sendiri dilingkari oleh tanaman yang segar pula. Daun-daun yang hijau menjadi kemerah-merahan karena sinar matahari yang hampir terbenam di ujung Barat.

“Bagaimana?” desak Sutawijaya. “Kalau kita ingin bermalam di desa itu, maka biarlah kita menunggu gelap. Kita memasuki desa itu setelah tidak banyak orang yang akan melihat kita. Kita pilih rumah yang paling ujung. Dan kita minta bermalam apabila pemiliknya tidak keberatan.”

“Dengan segala macam senjata ini?” bertanya Agung Sedayu.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Tidak. Kita mencari tempat yang agak baik untuk menyembunyikan senjata-senjata ini.”

“Bagaimana kalu senjata-senjata kita dicuri orang?” bertanya Swandaru.

“Tidak kita letakkan di sembarang tempat. Kita sembunyikan di tempat yang kita yakin, bahwa senjata-senjata itu tidak dilihat orang.”

Kedua kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian Agung Sedayu menjawab, “Baiklah. Tanpa senjata di tangan kita tidak akan menakut-nakuti penduduk desa itu. Tetapi apakah jawab kita apabila mereka bertanya siapakah kita dan apakah kepentingan kita di desa mereka?”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya pula, “Ya, apakah keperluan kita?”

Mereka pun kemudian terdiam. Mereka sedang mencari-cari jawab apabila mereka mendapat pertanyaan tentang diri mereka.

“Baiklah kita katakan, bahwa kita adalah orang-orang Mangir. Kita baru saja bepergian ke Sangkal Putung, bagaimana?” berkata Sutawijaya.

“Kita belum pernah melihat daerah itu. Bagaimana kalau orang yang kita temui itu mengenal Mangir dengan baik dan bertanya beberapa hal tentang Mangir?” sahut Agung Sedayu.

Sutawijaya termenung. Matahari di sebelah Barat telah menjadi semakin rendah.

“Kita bermalam di padang ilalang ini saja,” katanya kemudian.

Swandaru mengerutkan keningnya. Katanya, “Dingin. Sudah tentu kita tidak dapat membuat perapian kalau kita tidak ingin menarik perhatian orang-orang Prambanan.”

“Ya, kau benar,” jawab Sutawijaya, “dingin dan banyak sekali nyamuk. Memang lebih senang tidur di dalam rumah.”

“Kita perhitungkan setiap kemungkinan. Manakah yang lebih baik. Kedinginan di ladang ini atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka berikan,” berkata Agung Sedayu.

“Oh, aku terbalik menjawab,” berkata Sutawijaya. “Kita adalah anak-anak Sangkal Putung yang akan pergi ke Mangir. Kita akan dapat menjawab segala pertanyaan mengenai Sangkal Putung. Tetapi apabila mereka bertanya tentang Mangir, biarlah kita jawab, bahwa kita belum pernah pergi ke Mangir.”

“Apakah keperluan kita ke Mangir?” bertanya Swandaru.

“Apa saja,” jawab Sutawijaya, “mencari paman kita atau kakak kita?”

“Baik, kita adalah anak-anak Sangkal Putung,” sahut Swandaru kemudian.

“Kita saudara-saudara sepupu,” berkata Sutawijaya, “panggil aku kakang. Agung Sedayu menjadi penengah di antara kita dan Swandaru adalah saudara sepupu yang lahir dari saudara termuda di antara orang tua kita.”

Swandaru tertawa. Katanya, “Kenapa aku yang termuda?”

“Demikianlah sepantasnya,” jawab Sutawijaya.

“Muda dalam urutan saudara sepupu tidaklah mesti yang paling muda umurnya,” sahut Swandaru.

“Apakah kita akan berbantahan mengenai umur untuk kepentingan ini?” bertanya Sutawijaya.

Kedua kawannya tertawa, “Baiklah,” desis Swandaru.

“Marilah, kita dekati desa itu. Kau lihat pohon gayam yang besar itu? Kita sembunyikan senjata kita ke atasnya. Aku sangka tak seorang pun yang akan melihatnya.”

“Ya, apabila senja telah menjadi gelap.”

Mereka bertiga pun kemudian berjalan ke Utara. Merka telah melampaui arah Candi Jonggrang. Mereka menuju sebuah desa kecil di sebelah Barat candi itu, desa yang terpisah oleh sebuah bulak yang agak panjang.

Pada saat yang bersamaan, di Sangkal Putung berderap kaki-kaki kuda prajurit-prajurit Wira Tamtama dari Pajang yang akan menjemput Ki Gede Pemanahan dengan membawa orang-orang Jipang. Besok mereka akan kembali bersama sebagian dari pasukan Widura di Sangkal Putung, sedang sebagian yang lain harus tetap tinggal di Sangkal Putung untuk menjaga setiap kemungkinan. Orang-orang Widura itu akan kembali ke Sangkal Putung bersama pasukan yang dipimpin oleh Pidaksa yang akan ditempatkan di bawah kekuasaan Untara untuk menyelesaikan sisa-sisa orang-orang Jipang itu sama sekali.

Ki Gede Pemanahan yang gelisah karena puteranya pergi tanpa sepengetahuannya, terpaksa tidak dapat berbuat apapun juga. Ia harus segera kembali ke Pajang yang sedang mengembangkan dirinya. Pada saat ini Kerajaan Demak sedang kosong sepeninggal Sultan Trenggana. Timbulnya berbagai pertentangan di antara putera-putera dan kemenakannya telah memberi peluang kepada beberapa orang yang tidak senang menyaksikan Demak bangkit kembali. Apalagi melihat kebangkitan keturunannya.

Ki Gede itu hanya dapat berpesan kepada Untara dan Widura untuk kelak menyuruh anaknya segera kembali ke Pajang. Bukan saja dirinya sendiri yang menjadi gelisah, tetapi pasti Adipati Adiwijaya pun menjadi gelisah pula.

“Anak itu menggangu pekerjaanku saja,” gumamnya. Tetapi kemudian diteruskan, “Yah, tetapi ia telah berjasa pula kepada Pajang.”

Malam itu Ki Gede Pemanahan telah mempersiapkan dirinya untuk besok pada saat matahari terbit, berangkat dengan pengawalan yang kuat, membawa orang-orang Jipang yang menyadari kekeliruan yang selama ini mereka lakukan.

Dan pada saat itu, ketika matahari telah tenggelam di balik cakrawala, maka Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru telah berada di bawah pohon gayam yang cukup besar. Mereka ingin menyimpan senjata-senjata mereka di atas pohon itu, supaya kehadiran mereka ke desa di ujung Kademangan Prambanan tidak mencurigakan.

“Siapakah yang memanjat?” bertanya Sutawijaya.

“Siapa?” sahut Agung Sedayu.

“Berikan senjata kalian. Aku akan memanjatnya,” desis Swandaru.

Kedua kawannya tertawa. Ketika mereka melihat Swandaru melipat lengan bajunya serta menyingsingkan kain panjangnya, maka kedua kawannya pun segera melepas senjata mereka.

“Apakah kau dapat membawa sekaligus?” bertanya Agung Sedayu.

“Tentu tidak. Aku akan memanjat untuk kepentingan kalian, tetapi tolong, berikan senjata-senjata itu apabila aku sudah berada di atas pohon gayam ini,” jawabnya.

“Uh, kalau begitu sama saja bagiku. Lebih baik kita memanjat bersama-sama. Ayo, biarlah aku membawa sebagian dari senjata-senjata itu,” berkata Agung Sedayu.

Swandaru-lah yang kemudian tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan sebagian dari senjata-senjata mereka ia memanjat. Dibawanya pedangnya sendiri, busur serta endong panahnya, dan tombak Sutawijaya, sedang Agung Sedayu membawa senjata-senjatanya sendiri dengan busur dan endong panah Sutawijaya.

Dengan hati-hati mereka menyangkutkan senjata-senjata itu pada cabang-cabang yang kuat dan rimbun. Mengikatnya dan kemudian mereka pun turun dengan hati-hati supaya gerakan-gerakan mereka tidak menjatuhkan senjata-senjata mereka yang terikat pada cabang-cabang pohon gayam itu.

Sutawijaya yang berdiri di bawah mengawasi keadaan dengan seksama. Kalau-kalau ada seseorang yang mengintai mereka bertiga. Tatapi sampai kedua anak-anak muda itu turun dari pohon gayam itu, tidak seorang pun yang dilihatnya.

“Aku kira tak seorang pun yang melihat kita di sini,” desis Sutawijaya. “Apalagi setelah hari menjadi gelap. Kini marilah kita pergi ke desa itu.”

“Marilah,” sahut keduanya.

Tetapi segera langkah mereka terhenti. Dalam keremangan malam mereka melihat bayangan semakin lama menjadi semakin dekat. Tidak hanya seorang. Tetapi dua dan bahkan tiga orang.

Ketiga anak muda itu menjadi berdebar-debar. Bukan karena mereka takut, namun apabila ada orang yang melihat perbuatan mereka, maka pasti akan menimbulkan berbagai pertanyaan dan persoalan. Apabila mereka harus mengalami perselisihan, senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.

Bayangan-bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Kemudian terdengarlah suara mereka bercakap-cakap. Tidak begitu jelas, tetapi percakapan mereka berjalan lancar.

“Mereka belum melihat kita,” desis Sutawijaya perlahan-lahan.

“Ya, Tuan, mereka belum melihat kita,” sahut Agung Sedayu.

“Jangan panggil aku tuan. Panggil aku kakang.”

“Ya, Kakang,” ulang Agung Sedayu.

Tiba-tiba tiga orang yang berjalan itu pun tertegun. Mereka kini melihat ketiga anak-anak muda yang berdiri di pinggir jalan di bawah pohon gayam. Karena itu salah seorang dari mereka segera bertanya, “Siapakah kalian di situ?”

Ketiga anak-anak muda itu sejenak menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian Sutawijaya menjawab, “Aku, Paman.”

“Aku siapa?”

Kembali Sutawijaya menjadi bingung. Lebih baik baginya untuk tidak mempergunakan namanya sendiri, supaya tidak mengganggunya. Sebab mungkin seseorang telah mendengar nama itu.

“Siapa?” bertanya orang itu pula.

“Aku, Suta Paman.”

“Suta, Suta siapa?”

“Suta, ya Suta. Sutajia.”

“Sutajia,” ulang orang itu, “aku belum pernah mendengar namamu.”

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru pun menjadi bingung. Meskipun mereka telah merencanakan, apa yang harus mereka katakan, namun menghadapi pertanyaan itu mereka masih harus berpikir sejenak.

Karena mereka bertiga tidak segera menjawab, maka orang itu mensedak, “He, Sutajia, siapakah kau?”

Sutawijaya menjawab terbata-bata, “Memang mungkin, Paman. Mungkin Paman belum pernah mendengar namaku. Aku bukan orang Prambanan.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Pantas. Aku belum pernah mendengar nama itu. Tetapi meskipun kau bukan orang Prambanan, namun namamu itu cukup aneh. Sutajia. Nama yang terasa tidak cukup lengkap.”

Dada Sutawijaya menjadi berdebar-debar. Seakan-akan orang yang berbicara itu mengerti keadaan dirinya sepenuhnya. Namun kemudian ia menjadi berlega hati ketika orang itu bertanya, “Dari manakah kalian datang?”

“Kami datang dari Sangkal Putung, Paman,” sahut Sutawijaya.

“Siapa kedua kawanmu itu?”

“Mereka adalah adik sepupuku. Yang bertubuh sedang bernama Agung Sedayu dan yang gemuk bernama Swandaru Geni.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya kembali. Gumamnya, “Nama itu adalah nama-nama yang bagus, Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Nama itu adalah nama lengkap dan berwibawa. Tidak seperti namamu sendiri Sutajia.”

“Demikianlah orang tua kami memberi nama kepada kami masing-masing, Paman.”

Dan orang itu pun bertanya pula, “Kalian datang dari Sangkal Putung menurut katamu? Tetapi ke manakah kalian akan pergi?”

“Ya, Paman. Kami datang dari Sangkal Putung. Sedang kami ingin pergi ke Magir.”

“Mangir, he? Mangir di seberang hutan Mentaok?”

“Ya, Paman.”

“Apakah kalian tidak sedang bermimpi?”

“Tidak, Paman.”

Orang itu mengangguk-anggukan kepalanya pula. Seolah-olah lehernya terlampau lentur.

“Apakah kalian sudah mengetahui jalan yang harus kalian tempuh?”

“Sudah, Paman. Kami akan melewati Candi Sari, Cupu Watu, dan kemudian hutan Tambak Baya.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Pandangan wajahnya membayangkan keragu-raguan hatinya. Tetapi ia tidak mempunyai kepentingan atas ketiga anak-anak muda itu. Karena itu maka sambil lalu orang itu bertanya, “Apakah malam ini kau akan bermalam di bawah pohon ini?”

Sutawijaya menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi setelah mereka saling berpandangan, berkatalah Sutawijaya, “Tidak, Paman. Terlampau dingin. Tetapi kami tidak mempunyai keluarga di daerah ini.”

“Lalu?” bertanya orang itu pendek.

“Sebenarnya kami ingin pergi ke desa itu. Mungkin ada seseorang yang menaruh belas kepada kami, dan mengijinkan kami bermalam semalam ini, meskipun kami harus tidur di atas kandang.”

Orang itu tertawa. Ia berpaling kepada kedua kawannya. Kemudian katanya, “Kalian bertiga akan pergi ke Mangir di sebelah hutan Mentaok, tetapi kalian takut kedinginan di udara terbuka. Apakah kalian tahu, bahwa hutan Tambak Baya itu menyimpan bahaya yang jauh lebih besar daripada udara yang dingin? Apalagi alas Mentaok?”

Sutawijaya terdiam. Tetapi pertanyaan itu masuk di dalam akalnya.

“Tetapi aku kasihan melihat kalian bertiga,” berkata orang itu. “Untunglah bahwa keadaan telah menjadi baik, sehingga kami tidak ragu-ragu lagi membawa kalian menginap di rumah kami.”

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru mengerutkan keningnya. Agaknya Prambanan pun pernah mengalami masa yang kurang baik. Tetapi ternyata masa yang kurang baik itu telah lampau.

“Bawa anak-anak ini ke rumah, Bawa,” berkata orang itu. Kemudian kepada Sutawijaya ia berkata, “Keduanya adalah anak-anakku. Yang tua bernama Bawa dan yang muda bernama Supa.”

“Oh,” Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Demikian pula Agung Sedayu dan Swandaru.

“Mari, ikut aku,” ajak Bawa. Tetapi nada suaranya agak berbeda dengan nada suara ayahnya. Tetapi Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya mula-mula tidak memperhatikannya.

“Pulanglah dahulu,” berkata orang itu kepada kedua anaknya, “Aku masih akan menyusur parit ini. Apakah kalian masih ada waktu?”

“Tidak Ayah. Aku harus segera pulang. Kawan-kawan pasti sudah menanti di halaman banjar desa.”

“Apakah kerja kalian di sana? Bukankah lebih baik bagi kalian pergi ke pategalan sebentar untuk menengok tanaman kalian. Mungkin ada binatang yang merusak mentimun itu.”

“Aku tidak sempat, Ayah.”

“Hem,” orang tua itu menarik nafas, “ada-ada saja kerjamu sekarang ini. Bagaimana kau, Supa?”

“Aku juga tidak dapat Ayah. Aku juga harus pergi ke halaman banjar desa itu.”

“Terlalu. Jadi aku juga yang harus pergi ke sana? Sesudah menyusur air ini, aku masih harus pergi ke ladang mentimun itu?”

“Terserah kepada Ayah. Bagaimana kalau ladang itu tidak usah ditengok? Aku kira hampir tidak ada gunanya. Demikian kita meninggalkannya setelah kita bersusah payah menengoknya, maka babi hutan itu datang merusaknya.”

“Memang sebaiknya ladang itu kita tunggu apabila buahnya telah menjadi besar seperti sekarang. Kalianlah yang harus membantu untuk menunggui ladang itu.”

Kedua anak muda itu bersungut-sungut. Ternyata mereka sama sekali tidak tertarik akan pekerjaan yang disebut oleh ayahnya, menunggui ladang.

Anak muda yang bernama Bawa, yang tertua kemudian manjawab, “Pekerjaan itu sangat menjemukan, Ayah.”

“Aku tidak dapat melakukannya. Anak-anak muda yang lain bergembira di banjar desa, apakah aku harus kedinginan di ladang mentimun?”

Ayahnya tidak menyahut. Terdengar ia menarik nafas dalam-dalam.

“Ayo,” berkata Bawa kemudian. “Kalau kalian mau ikut kami, marilah ikut.”

Bawa tidak menunggu ketiga anak-anak Sangkal Putung itu menjawab. Langsung ia melangkah pergi, meninggalkan ayahnya berdiri termanggu-maggu. Adiknya, Supa, segera mengikuti pula berjalan di belakang kakaknya.

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru masih belum bergerak dari tempatnya. Sekali-sekali mereka memandang orang tua yang masih berdiri tegak di tempatnya dan sekali-sekali mereka menatap kedua anak-anaknya yang berjalan dengan langkah yang tetap.

Ketiga anak-anak muda itu terkejut ketika orang tua itu berkata, “Ikutlah. Tidurlah di gandok wetan atau di tempat lain yang akan ditunjukkan oleh anak-anakku. Mereka sendiri akan pergi ke banjar desa.”

“Apakah Paman tidak pulang?” tiba-tiba Sutawijaya bertanya.

“Aku akan pergi menyusur parit ini ke Timur. Seperti kalian dengar, aku masih harus pergi ke ladang untuk melihat tanaman. Binatang-binatang liar kadang-kadang merusak tanaman di ladang, meskipun tidak terlampau sering.”

Kembali Sutawijaya menjadi ragu-ragu. Ketika ia memandangi wajah kedua orang temannya, maka wajah-wajah mereka pun memancarkan keragu-raguan pula. Akhirnya Sutawijaya itu pun berkata, “Paman. Kami akan pergi bersama Paman.”

“Uh,” sahut orang itu, “belum tentu tengah malam aku sampai ke rumah.”

“Biarlah. Biarlah kami tengah malam sampai ke rumah Paman. Tetapi bukankah Paman yang mempunyai rumah itu? Lebih baik bagi kami apabila kami datang ke rumah Paman sesudah Paman berada di rumah.”

“Istriku ada di rumah.”

“Tetapi bibi belum mengenal kami dan putera-putera Paman agaknya terlampau tergesa-gesa.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Terserahlah kalian, kalau kalian ingin kedinginan di sepanjang parit ini.”

“Kami juga anak-anak ladang,” tiba-tiba Swandaru menyela. “Kami pun sering menyusur parit. Karena itu, kami tidak akan canggung lagi berjalan di sepanjang pematang.”

Orang tua itu mengangguk-angguk, katanya, “Kalau demikian terserahlah.”

“Marilah,” akhirnya ia berkata sambil melangkahkan kakinya.

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru pun berjalan mengikutinya pula. Meskipun Swandaru-lah yang berkata bahwa mereka adalah anak ladang, namun ia pulalah yang bersungut-sungut sambil berbisik, “Tuan, kenapa kita mengikutinya? Kenapa kita tidak pergi bersama kedua anaknya. Kita tidak akan kedinginan di tengah-tengah sawah seperti ini. Mungkin oleh bibi, istri orang ini sudah dijamu dengan air sere hangat.”

Sutawijaya tersenyum. Jawabnya, “Kami adalah anak-anak ladang. Kami pun sering menyusur parit. Karena itu, kami tidak akan canggung lagi berjalan di pematang.”

“Ah,” desah Swandaru.

Agung Sedayu yang mendengar pembicaraan itu pun tertawa tertahan. Tetapi sebenarnya ia pun telah merasa cukup lelah. Karena itu, maka dengan malasnya ia menguap sambil berkata, “Aku bukan anak ladang. Karena itu aku kedinginan.”

“Ssst,” desis Sutawijaya. “Kalian tidak tahu maksudku. Aku ingin mendengar ceritera tentang daerah ini. Bukankah orang itu tadi mengatakan, bahwa keadaan kini telah menjadi baik? Apakah yang telah terjadi sebelumnya?”

“Oh,” kedua kawannya mengangguk-anggukan kepala mereka. Betapa pun dinginnya, namun mereka kini tidak lagi berdesah di dalam hati.

Ketiga anak-anak muda itu mengikuti orang tua berjalan di sepanjang pematang di tepi parit. Alangkah dinginnya apabila kaki-kaki mereka terkena percikan air yang mengalir di sepanjang parit itu. Sehingga akhirnya mereka sampai ke sebuah bendungan kecil yang membagi parit itu menjadi dua buah saluran yang mengalir ke arah yang berbeda.

“Aku akan menutup salah satu daripadanya,” berkata orang tua itu. “Tanah di sebelah ini seharusnya telah kenyang. Karena itu, maka airnya akan dipergunakan untuk belahan yang lain.”

Sutawijaya dan kedua kawannya sama sekali tidak menyahut, tetapi mereka berdiri dekat di belakang orang tua yang terbungkuk-bungkuk mencangkul tanah berpasir untuk menutup salah sebuah dari kedua saluran itu.

Dari bendungan kecil itu, mereka segera ke ladang di sebelah padesan kecil yang semula akan disinggahi oleh Sutawijaya dengan kawan-kawannya. Pategalan mentimun yang subur yang sudah mulai berbuah.

Ketika mereka kemudian duduk-duduk di rerumputan di sebelah tanaman di ladang itu, maka mulailah Sutawijaya bertanya, “Paman, apakah desa ini termasuk Kademanangan Prambanan?”

“Ya, ya,” sahut orang tua itu. “Daerah ini adalah daerah Kademangan Prambanan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya pula, “Siapa nama, Paman?”

Orang Prambanan itu tersenyum mendengar pertanyaan Sutawijaya. Katanya, “Apakah kalian ingin juga mengetahui namaku?”

“Tentu, Paman, supaya besok aku dapat mengatakan kepada setiap orang di Sangkal Putung, bahwa di Prambanan aku bermalam di rumah Paman.”

Orang itu kini tertawa. Jawabnya, “Namaku Astra.”

“Astra,” ulang Sutawijaya.

“Ya.”

“Hanya itu.”

“Ya, kenapa?”

“Mendengar namaku, Sutajia, Paman menjadi heran. Menurut Paman, nama itu belum lengkap. Tetapi nama Paman bagiku justru terlampau pendek. Bukankah itu lebih pendek dari namaku?”

Orang yang bernama Astra itu tertawa pula. Katanya, “Tetapi namaku meskipun pendek, kedengarannya tidak aneh seperti namamu.”

Sutawijaya tertawa. Yang lain pun ikut tersenyum pula.

Tiba-tiba Sutawijaya bertanya, “Kenapa putera-putera Paman tidak mau membantu Paman ke sawah dan ladang?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian setelah terdiam sejenak ia menjawab, “Hal ini terjadi belum terlalu lama. Dahulu anak-anakku adalah anak-anak yang rajin. Bahkan aku hampir tidak pernah ke sawah. Merekalah yang menyelesaikan semua pekerjaan. Tetapi sekarang tiba-tiba mereka menjadi malas, setelah di banjar desa sering diadakan permainan tayuban.”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 3 Oktober 2008 at 12:30  Comments (25)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-17/trackback/

RSS feed for comments on this post.

25 KomentarTinggalkan komentar

  1. dah H+3 masih kaming sun ki 😀 dah ga sabar nungguin nih. btw sukses buat perjuangannya..(maap baru bisa ikut baca doang blom bisa bantuin apa2)

  2. penipuan nih.. masak halaman kaming sun nya ada 2 biji 😀

    D2: Maaf, gak sengaja 😀

  3. Buat ADBMers..”Selamat Iedhul Fitri 1 Syawal 1429 H, Mohon Maaf Lahir Batin..”

    Ketika mentari pagi hisapkan embun
    Ketika secercah hati,
    menyeruakkan harapan
    satu-satu..
    Jangan lagi kotori “bumi”-mu ini
    Dengan noktah yang tak berarti
    Dengki, iri, dan sakit hati..
    buang jauh! ..ke langit tujuh.
    Bersama kata “maaf”
    yang terungkap tulus
    dari lubuk hati
    yang terindah..
    //HER//

    Setelah PULKAM harap jaga kesehatan
    jangan cape2..
    Salam hangat buat segenap keluarga besar (dan famili) ADBMers

  4. Mas DD

    Aku baca di page 4 (klu gak salah) masih ada beberapa kata dengan huruf yg salah (“i” kapital mengganti huruf “l”) shg cukup m’ganggu, misalnya: Sangkal Putung (ditulis: SangkaI Putung); lereng Merapi (ditulis: Iereng Merapi) ..dmk dst.. Biasanya huruf tsb merupakan hasil dari konvert dari scan (JPG) ke teks (word), tapi klu prosesnya melalui “ngetik ulang” nggak akan terjadi..

    Mas DD, aku uwis terlanjur ngerjakan tugas yg sampean berikan dan udh pula aku kirim balik, sementara pada page 5 udh dimuat (doble yo?)…yo wis ora opo2..

    Salam
    HER

    D2: Terima kasih koreksinya. Feedback udah aku kirim balik.

  5. Met Idul Fitri semua…
    mohon maaf lahir batin.

    libur seminggu, uploadnya dah banyak betul.
    hasil kerja keras mas de2 nih. trims mas de2

    sy ni dah siap ngerjain tugas lg nih. retype, proof siap semua

    D2: Bukan saya sendiri kok. Kan ada editor yg gak mudik

  6. Buat Nyai Demang yth
    Aku kirim imel (sesuai alamat imel anda) ke dikau kok nggak nyangkut ya? maksudku kapan n dmn aku hrs ambil logistik utk scan ADBM?

    Salam
    HER

    • untuk urusan logistik mungkin bisa ditanyakan langsung kepada nyi nunik, anging mengenai peminadahan kekuasaan dan lain-lain harus dilakukan dengan cara saksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.

      jakarta, 17 agustus ’05
      atas nama rakyat mataram
      ki gembleh pol – ki haryo mangku

      • Kepadha SANG GULA KELAPA ,

        HORMAT SENJATAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA GRAAKKK

  7. Mas DD,
    di postingan buku-17/5 ada kalimat yang mengganggu:
    Dalam analisis Sutawijaya, “— Yang kedua, Sangkal Putung agak lebih besar dari Prambanan dan lebih padat pula, sehingga yang tersimpan di dalam perut Kademangan […] Prambanan. Agaknya Prambanan tidak memiliki kekayaan seperti Sangkal Putung. —”

    Saya kira, ada potongan kalimat yang hilang pada bagian yang saya tandai […]

    Juga pada kalimat (beberapa alinea di bawahnya):
    “— Apalagi […] mereka harus mengalami perselisihan. Senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    […] di kalimat ini = apabila/jika.

    Betul demikian?

    @mas Herry, sebaliknya dari di atas, ini kelemahan jika harus re-type naskah. Terkadang ada kata atau bagian kalimat yang terlewat, jika yang mengetik atau membacanya kurang cermat.

    salam, Wukir

    D2: 1) Kami sudah re-cek, demikianlah adanya. Saya sendiri bingung, Pak, tetapi tidak punya alternatif. Mudah2an Pak Wukir masih bisa menikmatinya, termasuk kekeliruan itu.

    D2: 2) Yang benar: “— Apabila mereka harus mengalami perselisihan, senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    D2: 3) Terima kasih koreksinya.

  8. kayaknya semakin banyak yang mau membantu.
    mungkin bung DD bisa mulai membagi pasukan. bukan cuma sapit urang (ganjil genap) tapi bisa trisula ato lebih banyak lagi. saya gak ada bahan, jadi paling bisa ngedit ato retype doang. siap dibawah panglima sapa aja.
    eh.. nge – upload saya juga bisa lho 😀

    D2: Kita sedang kesana, Mas Sukra. Sabar ya.

  9. Dear bung Dede,
    Saya bikin kalkulasi sederhana tentang lamanya kita harus menunggu selesai ADM yang ada 286 jilid tsb.
    Kalau seminggu kita hanya bisa posting 1 jilid, berarti untuk sampai ke jilid 286 kita harus menunggu 286/52 minggu = 5.5 tahun. Apa ini ndak kelamaan?
    Menurut saya kalau memang bahan sudah ada, apa tidak sebaiknya diposting saja segera. Apalagi menurut yang saya baca tujuan ADBMCad ini bukan hanya buku ADBM saja, akan tetapi untuk buku-buku yang bagus lainnya.
    Kalau boleh saya usul sehari satu jilid (sekali lagi kalau bahan sudah ada), atau sebanyak bahan yang siap tayang. Artinya, kalau bisa jumlah jilid tayang tidak perlu dipatok satu per minggu dan dibagi tujuh, akan tetapi ditayang begitu bahan siap tampil.
    Usulan saya sebenarnya juga dibarengi kesediaan untuk membantu. Berdasar pengalaman membantu bung Rizal, bung Doelah dan bung Dede sendiri, kecepatan saya sendiri dalam mentransfer dari jpg sampai MSword siap tayang bisa mencapai 3 jilid/minggu. Ini karena OCR dan MSWord sudah ‘terlatih’ untuk auto editing khusus ADBM. Tentu saja masih perlu bung Dede sbg gawang terakhir editor. Apalagi menurut pengamatan saya paling tidak ada 3-4 anggota ADMC lagi yang juga punya kapabilitas yang sama. Jadi 5-6 jilid/minggu bukan hal yang tak mungkin sehingga kita hanya butuh setahun lebih sedikit untuk menyelesaikannya.
    Bagaimanapun, ini hanya usul.
    Wassalam, GI

    D2: Bukan 5.5 tahun, tapi hampir 8 tahun, Mas GI. Karena jumlah keseluruhan jilid ada 396. Kita sedang bergerak ke 5 JPM, tapi yo nggak bisa sak iyeg sak eko proyo. Alon-alon waton klakon.

  10. Dear semuanya,

    Salam kenal. Thanks untuk Mas Dede dan rekan2 lainnya atas upaya ditampilkannya ADBM di dunia maya, sehingga sy yang kebetulan lagi tinggal di New York bisa ikut menikmati.

    Walau mungkin harus nyuri-nyuri waktu, tapi sy bersedia juga untuk membantu. Kalau misalnya ada yang tahu bahwa ada mesin scanner yang lumayan memadai untuk mempercepat proses penayangan, dengan senang hati akan saya beli agar sy setidaknya bisa memperpendek jangka waktu penanyangan buku ADBM.

    Salam,
    TJ

  11. @ Nyai Demang
    Aku dah siap bantu pasukan scan, sgr hub aku di herry_wsono@yahoo.com
    Yg penting jadwalkan utk ambil logistik, kapan n dmn? mumpung aku ada kesempatan berdayakan anak2ku yg masih di SMU, klu anakku yg udah sarjana bacaannya udh beda, meskipun sedikit tertarik jg..He3

    @Mas DD
    klu ada tgs lagi, masih siap kok!

    @p_sawukir
    Lha ya itu, wong aku cuma tunjukkan adanya salah satu kelemahan dr masing-masing proses..
    Inggih mas p_sawukir, mdh2an smuanya bisa saling berhati2 atas segala kemungkinan kekurangan yg ada
    Salam kembali

  12. Hare gene masih kamin’ sun, boss, gak sabaran nich.. penasaran oe…

    • kalo dah nggak sabar ya berangkat aja dulu kan bisa, nanti ketemu di enggok-enggokan ya …..

  13. habis nyontreng cawapres langsung “lanjutkan” jilid 17 dan “lebih cepat lebih baik” mengetahui apakah sutawijaya itu “pro-rakyat”

  14. Tayub……tuak………
    wah…… mesti ana petugas keamanan’e….!!!!
    lha dari kelompok mana ya….?????
    (jaman iku wis kenal tato sak kujur awak durung yo…???)

    • kalo foto separo badan, kalo tato telung prapat badan

      • Kalau Ki Bukan tentu tatone di
        pergelangan tangan,
        gambar cakra…..????

        • wis ganti ki, biyen cen gambare ngono iku, saiki ganti angie 😀

          • gandok 17,

            ki Gembleh, ki AS……sugeng dalu, angie 😀 genk tepang

            • dereng sare ki ndul

            • ????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: