Buku 17

Untara tidak dapat menjawab sama sekali. Mulutnya serasa terbungkam dan darahnya beredar semakin cepat.

Yang berkata kemudian adalah Ki Gede Pemanahan kembali, “Untara, seorang Tumenggung Wira Tamtama, mendapat prajurit segelar sepapan, yang telah siap melakukan perintah. Kau di sini hanya mempergunakan sepasukan Wira Tamtama yang dipimpin oleh pamanmu Widura. Kemudian kau dan pamanmulah yang membentuk pasukan segelar sepapan dengan tenaga yang kalian persiapkan sendiri. Anak-anak muda Sangkal Putung. Namun kau telah berhasil melawan Tohpati yang pada saat terakhir telah mengumpulkan sisa-sisa laskarnya yang tersebar.

Untara masih berdiam diri.

“Adalah sepantasnya bahwa kau berhak menerima anugerah itu.”

Untara menggigit bibirnya. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Ki Gede. Adalah tidak mungkin aku lakukan semua itu apabila aku berdiri sendiri. Apa yang aku lakukan adalah sebagian saja dari apa yang kami lakukan bersama. Prajurit Wira Tamtama Pajang dan hampir setiap laki-laki di Sangkal Putung. Bahkan perempuan-perempuan kademangan ini pun bekerja pula untuk kepentingan bersama. Makanan yang disediakan untuk kami dan banyak lagi keperluan-keperluan kami yang lain. Karena itu, setiap anugerah untukku adalah sepantasnya apabila diserahkan untuk kepentingan kami bersama. Aku, Paman Widura beserta pasukannya yang lebih dahulu telah berjuang melawan Tohpati di Sangkal Putung ini, Ki Demang, dan setiap orang di Sangkal Putung.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum mendengar jawaban Untara itu. Katanya kemudian, “Kau benar Untara. Dan hal itu telah diketahuinya pula oleh Adipati Pajang. Seluruh Sangkal Putung akan mendapat kehormatan pula. Mungkin sangkal Putung akan menerima berbagai macam hadiah yang langsung dapat dimanfaatkan oleh kademangan ini. Mungkin alat-alat pertanian, mungkin ternak dan iwen dan mungkin anugerah-anugerah yang lain. Tetapi kau yang menangani kematian Tohpati telah mendapat perhatian khusus dari Adipati Pajang. Meskipun kau sama sekali tidak menginginkan hadiah itu Untara, tetapi hal yang serupa itulah yang telah menggerakkan Sidanti untuk berbuat hal yang aneh-aneh. Semula ia ingin bahwa kematian Tohpati adalah akibat dari senjatanya. Tetapi ia gagal.”

Untara kini terdiam kembali. la mencoba untuk mengerti setiap kata yang diucapkan oleh Ki Gede Pemanahan. Dan Ki Gede itu berkata terus, “Kemudian Widura pun akan mendapat bagiannya pula. Aku juga belum tahu apa yang akan kau terima, tetapi pesan itu telah aku bawa pula.” Ki Gede Pemanahan itu terdiam sejenak, lalu sambungnya, “Tetapi sebelum semuanya itu berlangsung, sebelum kalian menerima hadiah yang telah dijanjikan, maka aku ingin menyampaikan persoalan yang kedua yang baru aku temukan setelah aku berada di Sangkal Putung ini.”

Debar di dalam dada Untara pun menjadi semakin cepat kembali. Persoalan inipun agaknya tidak kalah pentingnya dengan persoalan yang pertama, namun nadanya agaknya amat jauh berbeda. Persoalan yang dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan, baru diketemukan di Sangkal Putung.

“Untara,” berkata Ki Gede Pemanahan seterusnya, “aku sependapat dengan laporanmu, bahwa persoalan di Sangkal Putung telah delapan dari sepuluh bagian selesai. Tetapi kemudian tumbuh persoalan baru yang apabila dijumlahkan maka apa yang telah kau selesaikan dengan terbunuhnya Tohpati barulah lima dari sepuluh bagian. Bahkan mungkin kurang daripada itu. Sebab sepeninggal Tohpati tumbuhlah Sidanti dan bahkan gurunya Ki Tambak Wedi di samping sebagian dari laskar Tohpati sendiri. Tetapi ini bukan salahmu. Keadaan berkembang ke arah yang tidak kita kehendaki bersama. Karena itu Untara, maka pekerjaanmu kali ini terpaksa belum dapat diakhiri. Mungkin Widura yang telah lebih lama berada di Sangkal Putung akan dapat beristirahat bersama pasukannya di kademangan ini, sebab pergolakan kemudian harus kau geser ke tempat lain.”

Untara mengangkat wajahnya. Dadanya berdesir mendengar penjelasan itu. Sekilas ia telah berhasil menangkap maksud Ki Gede Pemanahan, namun kemudian Ki Gede itu menjelaskan, “Untara, tegasnya aku akan menjatuhkan perintah kepadamu dan kepada Widura. Widura sementara masih harus tetap berada di Sangkal Putung bersama pasukannya. Mungkin satu dua orang sisa laskar Jipang masih akan merayap kemari. Tetapi sebaliknya aku akan memberikan perintah kepada Untara untuk meninggalkan Sangkal Putung. Kau jangan menunggu ki Tambak Wedi dan Sidanti datang ke tempat ini atau membuat huru hara di tempat lain, di sekitar lereng Gunung Merapi. Karena itu kau harus mendekat. Bukankah kau berasal dari Jati Anom? Nah, kau harus tinggal di sana bersama sepasukan Wira Tamtama yang akan aku kirimkan dari Pajang. Bukan pasukan yang telah berada di Sangkal Putung. Dengan pasukan itu kau tidak harus bertahan, tetapi kau harus berusaha merebut setiap kedudukan ki Tambak Wedi. Aku mengharap dengan pasukan itu kau mampu melakukannya, meskipun di antaranya aku tidak akan memasang seseorang yang mampu mengimbangi ki Tambak Wedi. Aku mengharap kau berhasil menghubungi Kiai Gringsing yang menurut laporanmu, akan dapat setidak-tidaknya memperkecil arti Ki Tambak Wedi, atau kalau tidak, maka kau harus membuat pasangan-pasangan yang mampu menahan setiap perbuatan Hantu Lereng Merapi itu.”

Untara merasa bahwa dadanya bergelora oleh berbagai perasan yang saling berdesak-desakan. la merasa bahwa ia telah membuat banyak kesalahan dengan laporan yang telah dikirimnya. Karena itu maka di dalam sudut hatinya ia pun merasa bahwa seolah-olah ia harus melakukan suatu hukuman karena kesalahan itu. Tetapi bertentangan dengan perasaan itu, maka di sudut hatinya yang lain ia merasa mendapat kepercayaan yang tidak terhingga. la merasa bahwa karena ia telah berhasil membunuh Tohpati, maka pekerjaan yang berat itu hanya pantas dipercayakan kepadanya.

Karena gelora di dalam dadanya itulah, maka Untara justru terdiam. Keringat yang dingin telah membasahi seluruh punggungnya. Di sampingnya, Widura pun menjadi gelisah pula. Ada juga kebanggaan membersit di hatinya, tetapi seperti juga Untara, ia sama sekali tidak mengharapkan hadiah atau penghargaan apapun atas perjuangannya.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka Ki Gede Pemanahan pun segera akan menutup pertemuan itu. Diulanginya sekali lagi perintahnya, “Untara, ingat, kau mempunyai tugas yang mungkin justru lebih berat. Kita belum tahu, apakah kekuatan yang dihimpun oleh Ki Tambak Wedi bersama Sanakeling tidak justru lebih kuat dari kekuatan Tohpati di sini. Kau harus mulai lagi seperti pamanmu di Sangkal Putung. Menghimpun anak muda Jati Anom untuk memperkuat prajurit Pajang yang akan aku kirimkan kemudian. Dengan kekuatan itu kau harus berhadapan dengan Tambak Wedi. Kau pasti sudah mengenal Jati Anom dengan baik karena daerah itu adalah daerah kelahiranmu.”

Untara tidak menjawab. Tetapi Jati Anom bukan daerah seperti Sangkal Putung. Jati Anom adalah daerah yang tidak mengalami tekanan seberat Sangkal Putung, sehingga anak muda Jati Anom belum tergugah hatinya. Mungkin sekali dua kali daerah itu pernah dilintasi oleh orang-orang Tohpati, Sanakeling, atau Plasa Ireng, atau bekas orang-orang Pande Besi Sendang Gabus, atau yang lain lagi. Tetapi orang-orang itu hanya lewat dan mungkin sekali dua kali melakukan perampokan. Menghadapi orang-orang itu, biasanya anak-anak muda Jati Anom bersikap diam. Mereka tidak mau terlibat dalam perkelahian dengan mereka, sebab anak-anak muda itu tahu, bahwa apabila orang-orang Jipang itu mendendam mereka, maka kademangan Jati Anom akan dapat dihancurkan.

Tetapi apabila kelak ada prajurit Pajang di daerah itu, maka keadaannya pasti akan berbeda, seperti juga daerah Sangkal Putung kini. Jati Anom seterusnya akan menjadi garis pertama untuk menghadapi ki Tambak Wedi yang bertempat di padepokannya, di lereng Gunung Merapi. Justru di atas Kademangan Jati Anom.

“Untara,” berkata Ki Gede Pemanahan itu pula, “aku akan mengirimkan prajurit Wira Tamtama di bawah pimpinan Pidaksa. Aku akan mengirimnya langsung ke mari, supaya kau dapat membawanya ke Jati Anom bersama kau sendiri. Sementara pekerjaanmu untuk mengawasi daerah-daerah lain di sekitar Gunung Merapi dapat kau lepaskan. Pusatkan perhatianmu kepada Tambak Wedi. Kalau keadaan Sangkal Putung benar-benar telah aman, maka aku ijinkan kau minta kepada pamanmu sebagian dari prajuritnya apabila kau perlukan, sesudah kau memberitahukannya kepadaku.”

Untara menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Perlahan-lahan ia menjawab, “Terima kasih atas kepercayaan itu Ki Gede. Mudah-mudahan aku dapat melakukannya.”

“Tiga hari setelah aku sampai di Pajang lusa, maka prajurit itu akan berangkat dari Pajang.”

Untara terkejut mendengar perintah itu. Tiga hari setelah Ki Gede Pemanahan sampai di Pajang. Itu berarti lima hari sejak malam ini.

“Hem,” Untara menarik nafas dalam-dalam, “terlampau cepat.”

Agaknya Ki Gede dapat menebak hati Untara. Katanya, “Melawan Tambak Wedi harus dilakukan dengan secepat-cepatnya. Kau harus sudah mulai sebelum Tambak Wedi mampu menghimpun orang-orang yang berada di bawah pengaruhnya. Kau harus lebih dahulu menguasai anak-anak muda di sekitar Jati Anom, Banyu Asri, Sendang Gabus, Tangkil, dan lebih-lebih ke arah Barat. Ingat, pengaruh Ki Tambak Wedi cukup besar di seberang hutan Bode.”

Untara menganggukkan kepalanya kembali. Katanya, “Ya, Ki Gede, padepokan Ki Tambak Wedi menurut pendengaranku berada di sebelah Barat hutan Bode.”

“Ya. Kau pasti telah mengetahuinya pula. Dan kau pasti pernah pula pergi ke hutan itu.”

“Ya, Ki Gede,” sahut Untara. Dan Untara itupun segera mengenang kembali pada masa kanak-kanaknya. Ia sering pergi dengan ayahnya berburu ke hutan Bode. Hutan yang mempunyai sebuah batu yang sangat besar, hampir berbentuk seeker kerbau, sehingga orang menamakannya hutan Kebo Gede. Tetapi saat itu, Ki Tambak Wedi belum mencengkamkan pengaruhnya di daerah itu, meskipun orang itu mungkin telah berkeliaran di sekitar lereng Merapi. Apabila ayahnya masih ada, mungkin ayahnya akan dapat berceritera banyak tentang Ki Tambak Wedi itu.

Kemudian setelah sejenak lagi mereka berbincang berkatalah Ki Gede, “Aku kira persoalanku sudah cukup. Aku akan beristirahat. Besok aku menunggu prajurit berkuda dari Pajang dan lusa aku akan kembali. Ingat tiga hari sejak itu, aku akan mengirimkan Pidaksa kemari beserta pasukannya. Dan Widura masih tetap berada di Sangkal Putung. Mungkin kau dapat beristirahat setelah sekian lama kau berjuang melawan Tohpati, tetapi mungkin pula kau harus bekerja keras, apabila sepeninggal Untara, orang-orang Jipang itu kembali. Dalam keadaan yang demikian kau dapat segera menghubungi Untara di Jati Anom.”

Widura itu pun menganggukkan kepalanya pula sambil menjawab, “Ya Ki Gede. Aku akan melakukan sebaik-baiknya pula.”

Sejenak kemudian maka pertemuan itupun seIesai. Ki Gede segera ditempatkan di ruang dalam banjar desa. Bukan sebuah pembaringan yang bagus, tetapi sebuah pembaringan di depan garis perang. Sebuah amben bambu beralaskan tikar pandan. Tetapi ki Gede Pemanahan adalah prajurit yang namanya dibesarkan di garis-garis perang, bukan di belakang pintu Kadipaten Pajang. Karena itu apa yang ditemuinya kini sama sekali tidak mengejutkannya.

Ketika Ki Gede Pemanahan membaringkan diri, kembali ia terkenang kepada puteranya. Terdengar Ki Gede berdesis perlahan, “Anak bengal. Di mana ia bermalam sekarang.”

Pada saat yang demikian itu Sutawijaya sedang berusaha membangunkan Swandaru yang masih saja tidur dengan nyenyaknya.

Swandaru terkejut dan kemudian meloncat dari pembaringannya. Dengan gugup ia bertanya, “Ada apa?”

Sutawijaya tertawa, katanya, “Ah, seorang anak muda seperti kau pasti seorang anak muda yang tangkas. Kau mampu bangun sekaligus meloncat dari pembaringan dan bersiap untuk berkelahi.”

Swandaru mengusap matanya. Dilihatnya Sutawijaya dan Agung Sedayu duduk di pembaringan itu pula. Perapian mereka kini sudah tidak menyala sebesar semula lagi. Tetapi perapian itu kini nyalanya telah jauh susut.

“Kau tidur terlampau nyenyak Adi,” desis Agung Sedayu.

“Ya,” jawabnya pendek. Tertatih-tatih ia melangkah dan kemudian duduk di pembaringan itu pula.

“Sudah saatnya kau bangun,” berkata Sutawijaya.

“Alangkah nikmatnya tidur di samping perapian,” Gumam Swandaru. “Apakah tidak ada hantu yang mengunjungi kalian?”

“Ada,” sahut Sutawijaya. “Sayang kau tidak melihatnya. Hantu perempuan yang sangat cantik.”

“Sayang,” desah Swandaru sambil menguap. Kemudian katanya, “Sekarang siapakah yang akan tidur?”

“Siapa?” sahut Sutawijaya.

“Silahkan,” jawab Agung Sedayu, “aku tidak kantuk sekarang. Mudah-mudahan nanti.”

“Baik,” berkata Sutawijaya, “akulah yang akan tidur. Tolong bangunkan aku kalau hantu itu nanti datang kembali.”

Agung Sedayu dan Swandaru tersenyum.

Demikianlah maka Sutawijaya kini membaringkan dirinya. Iapun ternyata cepat tertidur pula, meskipun tidak secepat Swandaru. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru kini berjaga-jaga sambil memanasi tubuh mereka di samping perapian. Sekali-sekali Agung Sedayu dan Swandaru mencari potongan-potongan kayu dan sampah ditaburkan di atas perapian yang kini menjadi seolah-olah seonggok bara semerah darah.

Tetapi seperti ujung malam yang telah mereka lampaui, maka keduanya sama sekali tidak melihat dan mendengar apapun, selain suara binatang hutan dan bunyi desir angin di dedaunan. Bahkan ketika kemudian Sutawijaya terbangun dengan sendirinya dan pada saat Agung Sedayu beristirahat, mereka sama sekali tidak mengalami sesuatu.

Ketika kemudian matahari mengembang di kaki bukit di sebelah Timur, maka ketiga anak-anak muda itupun menarik nafas lega. Mereka seakan-akan telah terlepas dari sebuah ketegangan hampir semalam suntuk.

Dengan nada yang datar Swandaru berkata, “Hem, siapakah yang telah bermain gila-gilaan semalam? Ternyata tak seorang pun yang kami temui di sini. Apakah siang ini kita akan melanjutkan berusaha untuk menemukannya?”

“Tak ada gunanya,” jawab Sutawijaya, “lebih baik kita mempersiapkan diri untuk meneruskan perjalanan. Kecuali apabila kita menjumpainya.”

“Kita harus mendapatkan air,” tiba-tiba terdengar Agung Sedayu memotong.

“Ya kita mencari air,” Sahut Swandaru.

“Pasti ada air di dekat tempat ini. Kalau tidak Macan Kepatihan pasti tidak memilih tempat ini untuk membuat perkemahan,” berkata Sutawijaya.

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sependapat dengan Sutawijaya. Karena itu Swandaru segera menjawab, “Mari kita mencari air. Mencuci muka dan minum sepuas-puasnya, sebagai ganti makan pagi.”

Sutawijaya tersenyum. “Jangan takut. Kita akan mencari makan pagi. Hutan ini pasti berbaik hati kepada kita. Nah, Sekarang biarlah kita pegang busur kita. Kita akan mencari binatang buruan.”

“Bagus,” sahut Agung Sedayu, “sudah lama aku tidak pergi berburu.”

“Aku juga. Sudah hampir dua puluh tahun aku tidak pergi berburu,” berkata Swandaru.

“Berapa tahunkah umurmu?” bertanya Sutawijaya.

“Lewat delapan belas,” sahut Swandaru.

“Kenapa sudah hampir duapuluh tahun kau tidak pernah berburu?”

“Bukankah demikian? Sejak bayi aku belum pernah berburu. Bukankah hampir duapuluh tahun?”

Sutawijaya tertawa, ia senang mendengar kelakar itu.

“Marilah,” ajak Sutawijaya kemudian. “Tetapi bagaimana aku menyangkutkan tombakku? Tali tombak ini telah kau minta Swandaru.”

Swandaru mengamat-amati pedangnya. la melihat juntai benang yang kekuning-kuningan. Benang yang didapatkannya dari Sutawijaya. Tetapi ia merasa sayang untuk melepas benang itu dari hulu pedangnya.

Tetapi ternyata Sutawijaya tidak minta Swandaru untuk melepasnya. Katanya, “Bukankah kau sudah hampir duapuluh tahun tidak berburu Swandaru? Dengan demikian kau pasti sudah menjadi canggung. Mungkin kau sudah tidak ingat lagi, bagaimana kau harus mengikuti jejak binatang buruanmu, kemudian mengintainya dan melepaskan anak panah. Nah, sebaiknya kau melihat cara kami berburu lebih dahulu. Dan, maaf, tolong bawa tombakku.”

“Uh,” sungut Swandaru. Tetapi ia tidak dapat menolak, diterimanya tombak pendek Sutawijaya. Tetapi sesaat Swandaru seolah-olah menjadi tegang. Terasa sesuatu bergetar di tangannya, seperti ada sesuatu mengalir dari tombak itu. “Hem,” katanya dalam hati. “Tombak yang demikian inilah yang disebut tombak yang baik.”

Tetapi yang didengarnya kemudian adalah suara Sutawijaya mengejutkannya, “Ayo. Senjatamu sudah lengkap. Pedang di lambung, tombak di tangan dan busur di punggung. Siapa yang berani melawanmu sekarang?”

Agung Sedayu tertawa mendengar gurau itu. Sekedar untuk melupakan orang yang semalam mengganggu mereka dengan perapiannya. Tetapi Swandaru sendiri mencibir sambil bersungut-sungut, “Huh. Akulah yang menjadi ganti karena kalian tidak membawa pedati. Ayo siapa lagi yan akan memberi aku muatan?”

Sekarang bukan saja Agung Sedayu tetapi juga Sutawijaya tertawa terbahak-bahak. Di antara derai tertawanya ia berkata, “Jangan marah Swandaru. Nanti aku carikan buruan yang sesuai dengan seleramu. Apakah kira-kira yang kau senangi?”

“Daging kambing,” sahut Swandaru.

“Hem,” gumam Sutawijaya, “mudah-mudahan di dalam hutan ini aku dapat menjumpai gerombolan kambing liar. Tetapi kalau tidak ada kambing nanti aku akan menangkap kelinci. Bukankah kau gemar pula daging kelinci?”

“Daripada makan daging kelinci bagiku lebih baik makan daun mlandingan muda.”

Kembali Sutawijaya dan Agung Sedayu tertawa.

“Marilah. Nanti binatang-binatang buruan habis berlarian mendengar kita ribut saja di sini,” ajak Sutawijaya kemudian.

Ketiganya kemudian terdiam. Dengan busur dan anak panah di tangan, mereka kemudian menyusup ke dalam hutan mencari binatang buruan untuk makan pagi mereka.

Ternyata Sutawijaya cukup tangkas dan Agung Sedayu adalah pembidik yang benar-benar mengagumkan. Ketika mereka menjumpai seekor kijang muda, maka keduanya segera dapat menguasainya dan mengenainya.

Demikianlah mereka kemudian kembali duduk mengelilingi perapian yang masih membara. Bahkan Swandaru telah menambahnya dengan potongan-potongan kayu dan akar-akaran. Dengan lahapnya mereka kemudian menikmati daging panggang yang baru saja mereka tangkap.

Setelah mereka membersihkan diri dan minum sepuas-puasnya pada sebuah belik di dekat perkemahan itu maka, segera mereka mempersiapkan diri mereka untuk meneruskan perjalanan.

Sinar matahari yang sudah menanjak semakin tinggi, satu-satu herhasil menembus rimbunnya dedaunan dan jatuh bertebaran di atas tanah yang lembab. Sekali-sekali mereka harus menyeberangi parit-parit yang mengalir di antara akar-akar kayu-kayuan di dalam hutan itu.

Hutan itu meskipun tidak terlampau tebal, namun cukup luas. Mereka menyusur di bawah pepohonan yang besar dan kadang-kadang harus menyusup di bawah rimbunnya belukar. Tetapi perjalanan itu telah menyenangkan hati ketiga anak-anak muda itu. Agung Sedayu kini telah melupakan kecemasnnya apabila kakaknya akan marah kepadanya. Bahkan kemudian mereka menjadi gembira seperti anak-anak domba yang lepas di lapangan rumput yang hijau.

Ketika matahari telah mulai menurun di belahan Barat, maka mereka telah hampir menembus ujung hutan dan sampai ke padang terbuka. Padang yang ditumbuhi oleh ilalang liar dan gerumbul-gerumbul perdu di samping beberapa jenis pohon yang agak besar lainnya.

Ketika mereka keluar dari hutan itu dan menginjakkan kaki mereka di padang ilalang, maka serentak mereka menengadahkan wajah-wajah mereka.

“Hem, matahari telah turun,” gumam Sutawijaya.

“Kita terlampau siang berangkat,” sahut Agung Sedayu.

“Kau terlalu lama menggenggam tulang paha kijang itu,” sambung Swandaru.

Ketiganya tersenyum.

“Menilik daerah ini, kita akan segera sampai ke daerah persawahan atau pategalan,” berkata Sutawijaya.

“Ya. Kita akan segera sampai ke padesan.”

“Apakah kita akan memasuki padesan itu?” bertanya Swandaru.

“Lebih baik tidak. Kita akan mendapat banyak kesulitan. Mungkin kita dicurigai, atau bahkan mungkin kita tidak boleh meneruskan perjalanan. Mungkin mereka menyangka kita adalah sisa-sisa orang-orang Jipang. Menurut pendengaranku ada beberapa orang prajurit Pajang yang ditempatkan di Kademangan Prambanan. Tetapi tidak banyak. Dan aku belum tahu, manakah yang bernama Prambanan itu.”

“Aku tahu,” sahut Swandaru. “Bukankah di Prambanan ada bangunan yang terkenal. Hampir orang di seluruh pelosok Demak tahu, bahwa di Kademangan Prambanan ada Candi yang bernama Candi Jonggrang.”

“Aku juga pernah mendengar,” sahut Sutawijaya, “apalagi kalian yang asal kalian tidak terlampau jauh dari daerah itu. Tetapi di manakah letak candi itu?”

Swandaru menggelengkan kepalanya. “Aku belum tahu,” jawabnya.

“Mungkin kita akan sampai juga ke candi itu tanpa kita kehendaki, tetapi mungkin pula tidak,” berkata Sutawijaya.

“Tetapi Candi itu cukup tinggi. Dari kejauhan kita akan dapat melihatnya. Kecuali apabila kita berada di sebelah desa yang dapat menutup pandangan mata kita.”

“Kita tidak berkepentingan dengan candi itu. Kita akan berjalan terus. Kita akan mencoba menghindari padesan. Tetapi apabila kita kemalaman di jalan, mungkin kita memerlukan desa terdekat untuk bermalam,” berkata Sutawijaya kemudian.

Kedua kawan-kawannya sependapat. Mereka akan menghindari banyak pertanyaan. Dengan senjata di lambung mereka serta busur di punggung, maka setiap orang yang melihat mereka pasti akan bercuriga. Karena itu mereka telah bersepakat untuk berjalan sejauh-jauhnya dari padesan yang akan mereka jumpai.

“Lewat Prambanan kita akan sampai ke Candi Sari, kemudian Cupu Watu, baru kita akan sampai ke daerah hutan yang lebih lebat dari hutan yang telah kita lewati,” berkata Sutawijaya.

“Apakah kita akan bermalam di hutan itu lagi?” bertanya Swandaru.

Mereka bertiga menatap padang yang terbentang di hadapannya. Sebuah padang ilalang yang cukup luas.

“Kita belum akan sampai ke hutan Tambak Baya apabila malam turun,” berkata Sutawijaya. “Lihat di hadapan kita masih terbentang padang yang agak luas, kemudian kita akan sampai ke bulak persawahan. Baru kita akan memasuki desa-desa pertama dari Kademangan Prambanan. Belum lagi kita sampai ke ujung kademangan yang lain, maka kita pasti sudah harus mencari tempat untuk bermalam.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu memandang bukit-bukit yang membujur di sebelah Selatan, seperti seorang raksasa yang sedang tidur dengan nyenyaknya.

“Menurut ceritera,” berkata Sutawijaya, “di bukit itu telah terjadi suatu peristiwa yang dahsyat pada jaman pemerintahan Prabu Baka.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu. Teringatlah ia kepada ceritera ibunya yang dahulu selalu memanjakannya, yang lebih senang melihat Agung Sedayu bertekun dengan rontal daripada dengan pedang. “Candi Prambanan adalah akhir dari peristiwa itu.”

“Dan patung Rara Jonggrang adalah patung yang cantik sekali,” sambung Swandaru yang pernah mendengar ceritera itu pula.

“Sekarang,” berkata Sutawijaya, “kita akan menyusur di sebelah bukit itu untuk menghindarkan diri dari kecurigaan seseorang. Apakah kalian sependapat?”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 3 Oktober 2008 at 12:30  Comments (25)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-17/trackback/

RSS feed for comments on this post.

25 KomentarTinggalkan komentar

  1. dah H+3 masih kaming sun ki 😀 dah ga sabar nungguin nih. btw sukses buat perjuangannya..(maap baru bisa ikut baca doang blom bisa bantuin apa2)

  2. penipuan nih.. masak halaman kaming sun nya ada 2 biji 😀

    D2: Maaf, gak sengaja 😀

  3. Buat ADBMers..”Selamat Iedhul Fitri 1 Syawal 1429 H, Mohon Maaf Lahir Batin..”

    Ketika mentari pagi hisapkan embun
    Ketika secercah hati,
    menyeruakkan harapan
    satu-satu..
    Jangan lagi kotori “bumi”-mu ini
    Dengan noktah yang tak berarti
    Dengki, iri, dan sakit hati..
    buang jauh! ..ke langit tujuh.
    Bersama kata “maaf”
    yang terungkap tulus
    dari lubuk hati
    yang terindah..
    //HER//

    Setelah PULKAM harap jaga kesehatan
    jangan cape2..
    Salam hangat buat segenap keluarga besar (dan famili) ADBMers

  4. Mas DD

    Aku baca di page 4 (klu gak salah) masih ada beberapa kata dengan huruf yg salah (“i” kapital mengganti huruf “l”) shg cukup m’ganggu, misalnya: Sangkal Putung (ditulis: SangkaI Putung); lereng Merapi (ditulis: Iereng Merapi) ..dmk dst.. Biasanya huruf tsb merupakan hasil dari konvert dari scan (JPG) ke teks (word), tapi klu prosesnya melalui “ngetik ulang” nggak akan terjadi..

    Mas DD, aku uwis terlanjur ngerjakan tugas yg sampean berikan dan udh pula aku kirim balik, sementara pada page 5 udh dimuat (doble yo?)…yo wis ora opo2..

    Salam
    HER

    D2: Terima kasih koreksinya. Feedback udah aku kirim balik.

  5. Met Idul Fitri semua…
    mohon maaf lahir batin.

    libur seminggu, uploadnya dah banyak betul.
    hasil kerja keras mas de2 nih. trims mas de2

    sy ni dah siap ngerjain tugas lg nih. retype, proof siap semua

    D2: Bukan saya sendiri kok. Kan ada editor yg gak mudik

  6. Buat Nyai Demang yth
    Aku kirim imel (sesuai alamat imel anda) ke dikau kok nggak nyangkut ya? maksudku kapan n dmn aku hrs ambil logistik utk scan ADBM?

    Salam
    HER

    • untuk urusan logistik mungkin bisa ditanyakan langsung kepada nyi nunik, anging mengenai peminadahan kekuasaan dan lain-lain harus dilakukan dengan cara saksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.

      jakarta, 17 agustus ’05
      atas nama rakyat mataram
      ki gembleh pol – ki haryo mangku

      • Kepadha SANG GULA KELAPA ,

        HORMAT SENJATAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA GRAAKKK

  7. Mas DD,
    di postingan buku-17/5 ada kalimat yang mengganggu:
    Dalam analisis Sutawijaya, “— Yang kedua, Sangkal Putung agak lebih besar dari Prambanan dan lebih padat pula, sehingga yang tersimpan di dalam perut Kademangan […] Prambanan. Agaknya Prambanan tidak memiliki kekayaan seperti Sangkal Putung. —”

    Saya kira, ada potongan kalimat yang hilang pada bagian yang saya tandai […]

    Juga pada kalimat (beberapa alinea di bawahnya):
    “— Apalagi […] mereka harus mengalami perselisihan. Senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    […] di kalimat ini = apabila/jika.

    Betul demikian?

    @mas Herry, sebaliknya dari di atas, ini kelemahan jika harus re-type naskah. Terkadang ada kata atau bagian kalimat yang terlewat, jika yang mengetik atau membacanya kurang cermat.

    salam, Wukir

    D2: 1) Kami sudah re-cek, demikianlah adanya. Saya sendiri bingung, Pak, tetapi tidak punya alternatif. Mudah2an Pak Wukir masih bisa menikmatinya, termasuk kekeliruan itu.

    D2: 2) Yang benar: “— Apabila mereka harus mengalami perselisihan, senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.”

    D2: 3) Terima kasih koreksinya.

  8. kayaknya semakin banyak yang mau membantu.
    mungkin bung DD bisa mulai membagi pasukan. bukan cuma sapit urang (ganjil genap) tapi bisa trisula ato lebih banyak lagi. saya gak ada bahan, jadi paling bisa ngedit ato retype doang. siap dibawah panglima sapa aja.
    eh.. nge – upload saya juga bisa lho 😀

    D2: Kita sedang kesana, Mas Sukra. Sabar ya.

  9. Dear bung Dede,
    Saya bikin kalkulasi sederhana tentang lamanya kita harus menunggu selesai ADM yang ada 286 jilid tsb.
    Kalau seminggu kita hanya bisa posting 1 jilid, berarti untuk sampai ke jilid 286 kita harus menunggu 286/52 minggu = 5.5 tahun. Apa ini ndak kelamaan?
    Menurut saya kalau memang bahan sudah ada, apa tidak sebaiknya diposting saja segera. Apalagi menurut yang saya baca tujuan ADBMCad ini bukan hanya buku ADBM saja, akan tetapi untuk buku-buku yang bagus lainnya.
    Kalau boleh saya usul sehari satu jilid (sekali lagi kalau bahan sudah ada), atau sebanyak bahan yang siap tayang. Artinya, kalau bisa jumlah jilid tayang tidak perlu dipatok satu per minggu dan dibagi tujuh, akan tetapi ditayang begitu bahan siap tampil.
    Usulan saya sebenarnya juga dibarengi kesediaan untuk membantu. Berdasar pengalaman membantu bung Rizal, bung Doelah dan bung Dede sendiri, kecepatan saya sendiri dalam mentransfer dari jpg sampai MSword siap tayang bisa mencapai 3 jilid/minggu. Ini karena OCR dan MSWord sudah ‘terlatih’ untuk auto editing khusus ADBM. Tentu saja masih perlu bung Dede sbg gawang terakhir editor. Apalagi menurut pengamatan saya paling tidak ada 3-4 anggota ADMC lagi yang juga punya kapabilitas yang sama. Jadi 5-6 jilid/minggu bukan hal yang tak mungkin sehingga kita hanya butuh setahun lebih sedikit untuk menyelesaikannya.
    Bagaimanapun, ini hanya usul.
    Wassalam, GI

    D2: Bukan 5.5 tahun, tapi hampir 8 tahun, Mas GI. Karena jumlah keseluruhan jilid ada 396. Kita sedang bergerak ke 5 JPM, tapi yo nggak bisa sak iyeg sak eko proyo. Alon-alon waton klakon.

  10. Dear semuanya,

    Salam kenal. Thanks untuk Mas Dede dan rekan2 lainnya atas upaya ditampilkannya ADBM di dunia maya, sehingga sy yang kebetulan lagi tinggal di New York bisa ikut menikmati.

    Walau mungkin harus nyuri-nyuri waktu, tapi sy bersedia juga untuk membantu. Kalau misalnya ada yang tahu bahwa ada mesin scanner yang lumayan memadai untuk mempercepat proses penayangan, dengan senang hati akan saya beli agar sy setidaknya bisa memperpendek jangka waktu penanyangan buku ADBM.

    Salam,
    TJ

  11. @ Nyai Demang
    Aku dah siap bantu pasukan scan, sgr hub aku di herry_wsono@yahoo.com
    Yg penting jadwalkan utk ambil logistik, kapan n dmn? mumpung aku ada kesempatan berdayakan anak2ku yg masih di SMU, klu anakku yg udah sarjana bacaannya udh beda, meskipun sedikit tertarik jg..He3

    @Mas DD
    klu ada tgs lagi, masih siap kok!

    @p_sawukir
    Lha ya itu, wong aku cuma tunjukkan adanya salah satu kelemahan dr masing-masing proses..
    Inggih mas p_sawukir, mdh2an smuanya bisa saling berhati2 atas segala kemungkinan kekurangan yg ada
    Salam kembali

  12. Hare gene masih kamin’ sun, boss, gak sabaran nich.. penasaran oe…

    • kalo dah nggak sabar ya berangkat aja dulu kan bisa, nanti ketemu di enggok-enggokan ya …..

  13. habis nyontreng cawapres langsung “lanjutkan” jilid 17 dan “lebih cepat lebih baik” mengetahui apakah sutawijaya itu “pro-rakyat”

  14. Tayub……tuak………
    wah…… mesti ana petugas keamanan’e….!!!!
    lha dari kelompok mana ya….?????
    (jaman iku wis kenal tato sak kujur awak durung yo…???)

    • kalo foto separo badan, kalo tato telung prapat badan

      • Kalau Ki Bukan tentu tatone di
        pergelangan tangan,
        gambar cakra…..????

        • wis ganti ki, biyen cen gambare ngono iku, saiki ganti angie 😀

          • gandok 17,

            ki Gembleh, ki AS……sugeng dalu, angie 😀 genk tepang

            • dereng sare ki ndul

            • ????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: