Buku 16

“Apakah kau pernah melihatnya?”

“Belum,” sahut Agung Sedayu.

“Marilah kita lihat.”

“Marilah,” tiba-tiba Swandaru menyela, “aku juga ingin melihatnya.”

“Belum ada yang pernah melihat di antara kita,” berkata Agung Sedayu.

“Kita dapat mencarinya,” jawab Swandaru.

“Bukan pekerjaan yang mudah. Kita akan kehilangan waktu untuk suatu kerja yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan maksud kepergian kita.”

“Tidak apa,” potong Sutawijaya. “Kita memberikan waktu sejenak.”

Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Kedua kawannya telah sependapat untuk pergi melihat-lihat bekas sarang orang-orang Jipang itu. Karena itu, maka ia harus tunduk dan mengikutinya.

Ketika mereka telah hampir sampai ke tepi hutan itu, maka segera Sutawijaya memperhatikan rerumputan di hadapan langkah kakinya. “Hati-hati,” seakan-akan ada yang dicarinya.

“Adakah yang tuan cari?” bertanya Swandaru.

“Ada,” sahut Sutawijaya.

“Apa?”

Sutawijaya tidak segera menjawab. Tetapi tiba-tiba ia tertawa, “Itulah.”

Agung Sedayu segera mengetahuinya, bahwa Sutawijaya sedang mencari jejak kaki orang-orang Jipang. Orang-orang Jipang yang pagi itu telah meninggalkan sarang mereka untuk menyerahkan diri mereka ke Sangkal Putung.

“Itulah salah satu tanda yang dapat kita ikuti,” berkata Sutawijaya sambil menunjuk ujung-ujung ilalang yang terpatah-patahkan oleh injakan kaki.

“Kita mengikuti arah itu. Berlawanan dengan arah yang mereka tempuh.”

Kedua kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka berjalan saja di samping Sutawijaya. Sejenak lagi mereka akan sampai kehutan yang sejuk. Panas matahari tidak lagi menyentuh tubuh mereka karena daun pepohonan yang lebat dan rimbun.

Demikian mereka menginjakkan kaki-kaki mereka di batas hutan itu, maka Sutawijaya segera berkata, “Di sini kita mendapat petunjuk yang lebih jelas lagi. Lihat iring-iringan itu pasti telah melewati jalan ini pula. Ranting-ranting yang patah, dan dedaunan yang terinjak-injak itu akan menjadi penunjuk jalan yang baik. Marilah kita ikuti. Kita harus menemukan perkemahan itu sebelum senja.”

Tetapi ketika Agung Sedayu menengadahkan wajahnya, maka ia menggelengkan kepalanya sambil bergumam, “Matahari telah turun terlampau cepat. Aku tidak yakin bahwa kita akan sampai sebelum senja. Kalau kita dapat menentukan jalan memintas, maka kita akan dapat mencapainya. Tetapi aku kira jalan yang dilalui oleh orang-orang Jipang dalam rombongan yang besar ini adalah jalan yang paling mudah, bukan yang paling dekat.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya, ia pun mempunyai perhitungan yang serupa, tetapi ia menjawab, “Marilah kita coba.”

Kembali mereka bertiga berjalan beriringan. Kali ini mereka berjalan di antara pepohonan yang belum terlampau pepat. Yang banyak mereka lintasi barulah gerumbul-gerumbul yang bertebaran di sana-sini. Satu dua mereka melintasi pohon-pohon yang cukup besar. Namun sejenak kemudian, hutan itu pun menjadi semakin pepat. Pepohonan menjadi semakin padat dan gerumbul-gerumbulnya pun menjadi semakin rapat. Bahkan di sana-sini mereka harus melewati rumpun-rumpun berduri.

Namun Sutawijaya yang berjalan di paling depan tidak kehilangan jejak. Semakin rimbun hutan itu, semakin jelaslah bekas-bekas rombongan orang-orang Jipang. Semakin banyak ranting-ranting yang patah dan mereka patahkan untuk memberi jalan kepada kawan-kawan mereka yang masih di belakang. Daun-daun yang menjorok ke dalam barisan dan duri-duri yang berada di depan rombongan itu telah disingkirkan.

Ketika Sutawijaya melihat sebuah tikungan yang lengkung dari bekas orang-orang Jipang itu, kemudian satu putaran lagi di hadapan mereka. Terdengar ia bergumam, “Ya, orang-orang jipang ini mengambil jalan yang paling mudah, bukan yang paling dekat. Seandainya kita tahu jalan memintas maka kita akan sampai ke tempat itu segera.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu. “Tetapi dengan mengikuti jejak ini kita pasti akan sampai. Kalau kita memilih jalan sendiri bahkan mungkin kita sama sekali tidak akan menemukan perkemahan itu.”

“Ya, aku sependapat,” jawab Sutawijaya, “karena itu, mari kita percepat jalan kita.”

Langkah mereka pun menjadi semakin cepat dan panjang. Mereka ingin berlomba dengan waktu. Namun setiap kali terasa bahwa jalan mereka terlampau lambat. Meskipun mereka telah meloncat-loncat, berlari-lari kecil. Namun matahari serasa meluncur amat cepatnya ke atas cakrawala. Sinarnya yang kemudian menjadi kemerah-merahan tampak bergayutan di tepi-tepi awan yang bergerak di langit yang biru.

Tetapi matahari itu pun turun lebih rendah lagi. Hampir hilang ditelan punggung-punggung bukit. Sehingga hutan itu pun kini menjadi semakin kabur.

“Apakah perkemahan itu masih jauh?” bertanya Sutawijaya.

“Aku tidak tahu,” sahut Agung Sedayu, “Aku belum pernah sampai ke perkemahan itu.”

Sutawijaya terdiam. Kini ia menjadi semakin sukar untuk mengenal bekas-bekas yang telah di buat oleh rombongan orang-orang Jipang yang menyerah. Tetapi tiba-tiba Sutawijaya itu berteriak, “Ha, lihat. Ini adalah sebuah gardu peronda yang telah mereka buat.”

Agung Sedayu dan Swandaru segera melihat di belakang sebuah pohon yang cukup besar, tampak sebuah atap ilalang yang cukup untuk berteduh dua orang bersama-sama.

“Kita hampir sampai,” desis Sutawijaya.

Mereka pun terdiam. Dengan penuh perhatian mereka memandangi keadaan di sekeliling mereka. Ketika mereka maju lagi, maka segera mereka mengenal tempat itu. Tempat itu pasti tempat orang-orang Jipang berkemah. Sebuah halaman yang kotor dan di sana-sini mereka melihat batang-batang kayu yang telah tumbang. Karena itu maka tempat itu menjadi agak lebih terang dari tempat-tempat yang lain karena sisa-sisa sinar senja.

“Kita sudah sampai. Tetapi kita harus menemukan gubug-gubug mereka di sekitar tempat ini.”

“Sudah dekat sekali,” desis Swandaru, “Tidak ada seratus langkah kita akan sampai.”

“Belum pasti,” jawab Sutawijaya.

Kembali mereka terdiam. Hutan itu menjadi semakin suram. Sekali-sekali mereka terpaksa menggaruk-garuk tubuh mereka karena gigitan nyamuk yang berterbangan.

Dan kini langkah mereka terhenti. Kembali Sutawijaya berteriak, “Nah, itulah. Kau lihat?”

“Ya,” hampir bersamaan Agung Sedayu dan Swandaru menyahut.

Di dalam kesuraman senja, mereka melihat beberapa buah gubug berdiri berjajar-jajar. Udara terasa sangat lembab dan pengab. Tetapi gubug-gubug itu adalah gubug yang kecil-kecil.

“Kita melihat-lihat keadaannya,” berkata Sutawijaya. “Tetapi hati-hatilah. Siapa tahu, di dalam perkemahan itu masih ada beberapa orang yang berkeras kepala.”

“Marilah,” sahut Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Mereka pun kemudian mencabut senjata-senjata mereka dan berjalan hati-hati mendekati gubug-gubug itu.

“Sepi,” bisik Sutawijaya.

“Sudah kosong,” sahut Swandaru.

“Terlampau sedikit,” berkata Sutawijaya kemudian. “Di sekitar tempat ini pasti masih ada perkemahan lagi.”

“Mungkin,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi biarlah. Hari telah gelap. Aku kira akan berbahayalah bagi kita apabila kita merayap-rayap di dalam gelap di tempat yang belum kita kenal. Tetapi menilik tempat-tempat penjagaan telah dikosongkan, maka perkemahan ini pun pasti telah kosong. Seandainya ada tempat-tempat lain di sekitar tempat ini pun pasti benar-benar telah menjadi kosong pula.”

“Ya,” desis Agung Sedayu dan Swandaru bersama-sama.

“Kita bermalam di sini,” berkata Sutawijaya. “Kita akan mendapat tempat untuk tidur.”

“Kita lihat dahulu di dalam gubug-gubug itu, apakah mungkin kita tidur di dalamnya?” berkata Swandaru.

“Marilah,” sahut Sutawijaya.

Maka dengan hati-hati ketiga anak-anak muda itu pun memilih satu di antara kemah-kemah yang kosong itu. Mereka pun kemudian melangkah ke pintunya.

“Siapa di dalam?” desis Sutawijaya, tetapi kemudian anak muda itu tertawa.

“Mengapa Tuan tertawa?” bertanya Swandaru.

“Aku merasa geli sendiri. Kenapa aku bertanya?”

“Kalau Tuan mendengar jawaban maka Tuan pasti akan lari,” berkata Swandaru.

“Kalau ada yang menjawab di dalam, maka ia akan aku sobek perutnya dengan tombak ini.”

“Bukankah gubug itu kosong,” berkata Swandaru

“Ya, kenapa ada jawaban?”

“Itulah. Kalau ada jawaban dari dalam gubug yang kosong dan gelap-kelam itu, maka pasti bukan jawaban yang keluar dari mulut orang-orang Jipang. Bukan pula keluar dari mulut orang manapun.”

Sekali lagi Sutawijaya tertawa. Katanya, “Ha. kau sudah mulai membayangkan, bahwa di dalam gubug itu akan kau temui sebuah kerangka yang akan menyambut kehadiranmu.”

Swandaru dan Agung Sedayu tertawa. Tanpa mereka sadari maka mereka pun memandang berkeliling. Gelap malam telah mulai menyelubungi hutan itu sehingga gubug-gubug di sekitar mereka kini hanya tampak sebagai onggokan bayangan-bayangan hitam. Tiba-tiba bulu kuduk Swandaru meremang.

“Ngeri,” desisnya.

“Kenapa?”

“Aku seolah-olah merasa berada di tengah-tengah kuburan. Bayangan-bayangan hitam itu seperti bayangan-bayangan cungkup yang bertebaran. Aku lebih baik merasa berada di tengah-tengah hutan yang lebat. Aku tidak takut diterkam macan.”

Kini Sutawijaya dan Agung Sedayu tidak dapat menahan tertawanya. Suara tertawa itu telah menggetarkan hutan yang sepi. Berkepanjangan, seolah-olah telah membangunkan dedaunan yang telah mulai tidur lelap.
Tetapi akhirnya Swandaru sendiri turut tertawa pula.

“Marilah kita masuk,” ajak Sutawijaya.

“Gelap,” sahut Swandaru.

“Tidak ada kerangka yang hidup di dalam gubug itu. Kalau ada kerangka itu pasti sudah menyambut kita di muka pintu ini,” sela Agung Sedayu.

Namun kembali bulu-bulu mereka meremang, bukan saja Swandaru. Ketika angin yang lemah berdesir menyentuh leher-leher mereka, maka tanpa mereka sengaja mereka menjadi semakin berhati-hati.

Di kejauhan ketiga anak-anak muda itu mendengar suara burung hantu memekik-mekik. Sedang malam pun menjadi semakin gelap pula. Tiba-tiba terdengar Sutawijaya berkata, “Siapa di antara kita yang membawa titikan? Kita sebaiknya membuat api.”

“Aku,” sahut Swandaru sambil mencari sesuatu di kantong bajunya. “Aku selalu membawa titikan. Setiap kali Sekar Mirah minta aku membuat api untuknya, apabila api di dapur padam dan beberapa orang pembantunya akan merebus air dan menanak nasi di pagi hari.”
“Ha,” seru Sutawijaya, “Buatlah api.”

“Apakah yang akan kita bakar? Kita belum mengumpulkan kayu atau sampah.”

“Sampah telah cukup terkumpul,” potong Agung Sedayu. Tiba-tiba tangannya meraih atap gubug yang terbuat daripada ilalang. Sekali tangan kirinya merenggut, maka segenggam ilalang telah didapatkannya.

“Hanya segenggam?” bertanya Swandaru.

“Kalau kurang, maka dua tiga buah gubug akan kita bakar,” sahut Agung Sedayu.

Ketiga anak-anak muda itu pun tertawa. Swandaru kemudian menyarungkan pedangnya dan dengan hati-hati membuat api dengan batu titikan dan emput lugut aren yang telah dihaluskan. Sekali dua kali akhirnya lugut aren itu pun membara.

“Hembuslah kuat-kuat di atas ilalang ini,” katanya kepada Agung Sedayu.

Maka kemudian mereka bertiga pun bergantian menghembus emput itu. Bara emput itu pun kemudian menjalar dan sejenak kemudian ilalang di dalam genggaman tangan Agung Sedayu itu pun mulai menyala.

“Cari yang lain, sebanyak-banyaknya,” berkata Agung Sedayu.

Sutawijaya dan Swandaru pun kemudian berebutan merenggut ilalang atap gubug dan meletakkannya di atas tanah. Dengan api di tangannnya Agung Sedayu pun kemudian membakar ilalang itu.

Mereka bertiga pun kemudian mencari sampah-sampah yang agak basah ditimbunkannya ke dalam api supaya perapian itu tidak lekas habis.

“Kalau ada kita beri kayu di atasnya,” gumam Sutawijaya, “supaya semalam suntuk api tidak padam.”

“Dari manakah kita mendapatkan kayu ?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu menebarkan pandangannya berkeliling. Karena api yang menyala di perapian itu, maka dilihatnya beberapa buah gubug berdiri bertebaran, seolah-olah betapa lelahnya. Sebagian dari mereka telah menjadi condong dan bahkan sebagian yang lain telah hampir roboh.

“Bukankah tiang-tiang gubug itu sebagian terbuat dari kayu dan sebagian yang lain dari bambu?” gumam Agung Sedayu.

Sutawijaya pun kemudian menyahut, “Bagus, kita robohkan salah satu daripadanya.”

Mereka bertiga pun kemudian meletakkan busur masing-masing dan Agung Sedayu pun menyarungkan pedangnya pula, sedang Sutawijaya menyandarkan tombaknya di dekat perapian itu. Setelah menyingsingkan lengan baju mereka, maka segera mereka pun bekerja. Mereka telah merobohkan sebuah gubug dan mengambil segenap kayu yang ada. Mereka melemparkan kayu-kayu itu ke atas perapian dan membiarkannya terbakar.

“Perapian ini akan tahan semalam suntuk,” gumam Sutawijaya.

“Ya, kita tidak akan kedinginan,” sahut Swandaru.

“Tetapi kita tidak akan dapat tidur bersama-sama,” berkata Sutawijaya kemudian. “Kita lebih baik tidur di samping perapian ini, tidak di dalam gubug meskipun kita tidak takut kepada kerangka-kerangka yang menunggui gubug-gubug itu. Atau mungkin banaspati atau semacam wedon. Tetapi di sini kita lebih aman. Kita dapat melihat keadaan di sekitar kita dalam jarak yang cukup.”

“Tetapi kita akan menjadi tontonan di sini,” sahut Swandaru, “Kalau ada orang yang bersembunyi di dalam gelap itu, maka mereka akan melihat kita dengan leluasa.”

“Tak ada orang di sekitar tempat ini,” jawab Sutawijaya

“Atau kita tidak terlampau dekat dengan api, supaya kita tidak terlampau jelas di lihat dari kegelapan.”

“Mungkin tetekan, peri atau prayangan yang mengintip kita,” berkata Agung Sedayu. “Kalau demikian, maka meskipun kita berada di dalam kegelapan pun mereka akan dapat melihat.”

“Huh. Kita bicarakan yang lain,” potong Swandaru, “Bukan tentang hantu-hantuan saja.”
Kedua kawan-kawannya tertawa. Swandaru pun kemudian tertawa pula.

“Hem,” desis Suiawijaya, “Alangkah nyamannya kalau kita mendapat daging kijang. Kita panggang di atas api.”

“Di sekitar tempat ini pasti ada kijang.”

“Kalian sering berburu?”

Agung Sedayu menggeleng, “Kakang Untara sering berburu, bahkan sejak kecil.”

“Kau tidak ikut?”

“Jarang sekali. Kalau ibu tahu, maka Kakang Untara pasti dimarahi.”

“He?” Sutawijaya menjadi heran, “Ibumu tidak mengijinkan?”

Agung Sedayu menggeleng, “Dahulu tidak.”

“Aku sering berburu juga bersama ayah. Tetapi mencari kijang lebih baik di siang hari. Malam hari kita jarang-jarang menemui binatang selain binatang buas yang sedang mencari makan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Anak itu tidak pernah pergi berburu selain berburu kambing di kandang rumahnya. Karena itu, ia sama sekali tidak tahu, bagaimanakah caranya harus memburu kijang.

Kini mereka terdiam sejenak. Mereka duduk memeluk lutut mereka. Namun senjata-senjata mereka tetap tergantung di lambung dan busur-busur mereka berada di sisi, sedang Sutawijaya memeluk tombak pendeknya sambil memandangi nyala api yang seakan-akan melonjak-lonjak.

Angin malam semakin lama menjadi semakin sejuk. Tetapi panas perapian telah menghangatkan tubuh mereka. Lidah api yang merah menggapai-gapai seperti sedang menari. Cahayanya yang melekat di dedaunan bergetaran meloncat dari lembar ke lembar yang lain.

Terkantuk-kantuk Swandaru menguap sambil bergumam, “Siapakah yang akan tidur lebih dahulu?”

“Kau sudah kantuk?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Apakah aku dapat tidur lebih dahulu? Setelah tengah malam maka berganti aku yang jaga?”

“Pikiran yang bagus,” sahut Sutawijaya, “Tetapi bagaimana kalau kau kami tinggalkan di sini seorang diri? Ketika kau kemudian membuka mata di tengah malam, kau dikerumuni oleh kerangka-kerangka yang bangkit dari dalam tanah? Kau pasti tahu bahwa di sekitar perkemahan ini pasti ada kuburan. Kuburan orang-orang Jipang yang terbunuh di peperangan atau yang mati karena luka-lukanya?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ditebarkannya pandangannya berkeliling. Dilihatnya dari dalam gelap bayangan api yang kemerah-merahan seperti hantu yang sedang menari-nari, bahkan kemudian seperti serombongan hantu yang siap menerkamnya. Tetapi Swandaru bukan seorang penakut. Bahkan kemudian ia tertawa sambil berkata, “Lihat, itu mereka telah datang.”

Sutawijaya dan Agung Sedayu pun tertawa. Tanpa mereka kehendaki mereka memandang ke arah ujung jari Swandaru yang menunjuk bayangan api yang satu-satu jatuh ke dalam gelap. Tetapi tiba-tiba Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ia melihat bayangan di tempat yang terlampau jauh. Bayangan yang terlampau terang dibandingkan dengan jarak antara perapiannya dan tempat itu. Apalagi pepohonan dan dedaunan yang menghalanginya, pasti akan menutup jauh lebih banyak dari apa yang dilihatnya. Karena itu, maka Sutawijaya itu pun tiba-tiba berdiri. Digenggamnya tombak pendeknya erat-erat.

“Apa yang Tuan lihat?” bertanya Swndaru.

“Kau lihat bayangan api di kejauhan itu?” bertanya Sutawijaya.

“Ya,” sahut Swandaru.

“Kau lihat keanehannya?” bertanya Sutawijaya pula.

Swandaru menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Semula ia sama sekali tidak menaruh perhatian atas bayangan api itu. Namun ternyata bayangan itu semakin lama menjadi semakin besar. Di kejauhan itu kemudian tampaklah warna merah yang memancar bertebaran seperti pancaran api dari perapian mereka.

“Perapian,” desis Agung Sedayu.
Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan iapun mengulanginya, “Perapian.”

“Ya,” sahut Sutawijaya, “Seseorang telah menyalakan perapian.”

“Siapa?” desis Swandaru kemudian.

Sutawijaya menggelengkan kepalanya, “Kita tidak tahu.”

Sejenak kemudian mereka terdiam. Namun hati mereka menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa di sekitar tempat itu, masih juga ada seseorang setidak-tidaknya, yang mungkin telah melihat mereka bertiga.

“Tetapi apa maksudnya membuat perapian itu?”

Pertanyaan itu timbul di dalam dada ketiga anak-anak muda itu.

“Siapkan senjata kalian,” berkata Sutawijaya, “Kita yang akan datang melihatnya. Kita tidak akan menunggu sampai seseorang datang kepada kita dengan maksud apa pun.”

“Marilah,” jawab Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan.()

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Telah Terbit on 26 September 2008 at 07:09  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-16/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. saya jagain jakarta mas..
    siap aja disuruh ngapain 😀

    D2: Gimana kalau handel BENDE MATARAM. Ini juga cersil berlatar Jawa. Bahannya komplit ada yang mau share tuh. Itu tuh orangnya di bawah. Kalau OK, kontak langsung aja ke dianya.

  2. Mas Dhe dhe aku juga ga pulkam, jadi siap bantu retype

    D2: Serius neh. Soalnya ada tuh dokumen kami yang memang harus diretype karena kualitas scannya kurang bagus. Kalau OK, bahan kukirim segera.

  3. Met Lebaran,
    Daku sih ikutan mudik neh…
    btw tararengkyu ke semua yang ikut andil di ADBM ini n sori belum bisa nyumbang apa2, baru ikutan baca aja.
    Minal ‘aidin wal faidin – mohon maaf lahir batin.
    Nuhun ka sadayana utamina ka kang DD.

    • dawah sami-sami ki

      • minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, sedoyo lepat nyuwun pangapuro kalih nyuwun arto

  4. Bende Mataram ya mas… ??
    Kalo boleh milih.. aku pengen Dewi Sri Tanjung, dengan ajian Netra Luyup nya. Tau cerita ini mas ?

    Japri aja ato YM-an ya.. suwun.
    Sukra mo ke pakiwan lagi. 😉

    • hihaaaaa
      ki nin pengen dewi sri tanjung

  5. meski mudik..
    insyaAllah masih tetep bisa bantu

    tapi jangan kejar tayang ya… 🙂

    met lebaran DD & adbm-ers semua.
    mohon maaf atas segala khilaf & salah

    bensroben@gmail.com

  6. Siap Mas Dhe dhe, kirim aja bahan dan petunjuknya

    D2: Bahan udah dikirim. Petunjuk: Retype

  7. Mas Dhe dhe,

    Saya juga cuma jagain jakarta, siap nih tuk retype or anything…….

    Tuk yang merayakan Idul Fitri, saya pribadi ucapkan Selamat Idul Fitri, semoga ibadahnya di bulan puasa diterima oleh Tuhan YME. Bagi yang mudik, hati-2 dalam perjalanan.

  8. Komandan (DD) dan ADBMer, kali ini saya gak mudik, jaga jakarta biar gak sepi2 amat..Maka berilah daku tugas2 terus!

    Bende Mataram (Herman Patikto) memang Cersil Jawa, menurutku nggak sedahsyat ADBM or NSSI (SHM), meskipun diakui mempunyai segmen penggemar tersendiri.

    Tapi, menarik juga kan ada misi “lain” yg lebih mulia..Nguri-uri sastra jawa sekaligus mendokumentasikan dalam bentuk “maya”, ini suatu usaha berbasis pengorbanan yang tentunya berazaskan nirlaba
    Bravo DD!

    • karya-karya ki herman memang berusaha ‘jawa’, tapi karena selalu mengacu kepada ching yung maka banyak bagian yang kedodoran

  9. mana tugas untuk saya?
    mumpung belum lebaran..
    ditunggu..

    D2: Tugas dah dikirim

  10. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H untuk seluruh pemrakarsa upload & penikmat Cerita ADBM. Semoga semua sehat selalu… Amin.. Btw, kalau cerita Sawer Wulung, karangan S. Djati Laksana, bagaimana, saya ada bukunya?

    D2: Kita sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar yaitu cersil Indonesia. Jadi, sepanjang cersil dan Indonesia akan ditampung.

  11. Mas Dhe dhe, tugas dah aku kembaliin.
    siap tugas selanjutnya
    And untuk semua penikmat blog ini
    “Selamat Hari Raya Idul Fitri”
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    D2: Siiip. Bahan selanjutnya dah dikirim

  12. Tugas dah aku kembalikan……., siap tuk tugas selanjutnya……

    D2: Thanks

  13. makasih banget ya adbm nya, mengingatkan aku waktu masih kanak-kanak, jilid pertamanya sekitar ketika aku sd kelas 3 s/d 6, ya tahun 1968-1971, sudah lama banget, jadi lupa-lupa ingat, tamat nya juga kapan aku lupa, pokoknya jilid nya seratusan lah, dan terbitnya klo nggak salah sebulan sekali, jadi nunggunya luamaaaaa buanget, kadang klo aku pulang ke jateng (aku di surabaya) waktu lewat sekitar menoreh, kadang mencari cari dimana ya alas mentaok itu, dimana ya sangkal putung itu, dimana ya jati anom dst dst, gimana klo diadakan napak tilas jalur nya adbm, sapa tahu nemu cambuknya kyai gringsing.
    sekali lagi makasih,

    D2: Sangkal Putung, Jati Anom (Jatinom), dan Prambanan masuk wilayah Klaten sekarang. Alas Mentaok kini menjadi Kota Gede, Yk (mohon koreksi kalau salah).
    salam,
    ariyanto surabaya

  14. Tugas yang Mas Dhe dhe berikan sudah selesai dan aku kirimkan.
    Tugas selanjutnya ………

    D2: Thanks

  15. Seneng sekali bergabung dgn ADMers. Saya penggemar setia cersil jawa, & yg lagi intens saya ikuti salah satunya cerita ini (ADBM).

    MOhon kalo ada yg punya Alap-Alap Laut Kidul bisa dishare juga. Tks

    D2: Mas Aryo sendiri punya apa?

  16. SMS tetangga:
    “Hidup ini bentar. “Bentar happy”, “bentar sedih”. “Bentar marah”, “bentar baikan”. “Bentar senyum”, “bentar cemberut”… Eh “bentar lagi lebaran”….

    Buat semua-muanya aza: Selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

    DD

  17. BUAT TIM SCANNER: CATATAN DAN USUL
    1. Mas Julius, tadi Mas Herry mengirim contoh hasil scan dalam bentuk JPG ke saya. Hasilnya bagus, cuma ukuran filenya ngudubilah besarnya (1 halaman 1800 KB). Kalau 1 buku bisa 70-an MB dong. Lalu ingat mungkin bisa diresize dan saya iseng coba-coba. Eh hasilnya hampir sama dengan aslinya, sedangkan ukuran file bisa dikurangi menjadi hanya 200 kb atau bahkan 80 kb. Saya kira prosedur ini bisa diterapkan.
    2. Dalam proses penayangan kami memerlukan baik file teks maupun JPG. File teks untuk memudahkan proses editing, file JPG untuk proofing. Melalui scan kita bisa memperoleh dua jenis file tsb. Jadi alangkah baiknya jika setiap buku discan 2 kali: sekali untuk mendapatkan file JPG, sekali untuk teks file. Agar tidak mengubah2 seting scanner, mungkin bisa dibagi, siapa saja yang menyecen untuk file JPG saja dan siapa saja yg untuk teks saja. Dengan cara seperti ini, proses konversi bisa ditiadakan.

    Demikian semoga bermanfaat.

    DD

  18. Tugas dah diterima, siap dikerjakan……..

  19. Sedulur,
    ngaturake Sugeng Riyadi
    Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  20. Mas DD dan kawan-kawan semua,
    Saya dan keluarga mengucapakan “Minal Alidin wal Faidzin” – mohon maaf lahir dan batin.
    Bagi kawan2 yang mudik, agar tetap berhati2 dalam perjalanan sampai ke rumah dan kembali ke tempat kerja.
    Semoga blog ini makin seru dan akan selalu diringukan para fans.
    Salam,
    Ubaid dan keluarga

    D2: Sama2. Aku kira Mas Ubaid ikut menghilang bersama Mas Rizal. Selamat bergabung deh.

  21. Hehe .. kok salah ketik ya.
    Bukan Minal Alidin.. tapi Minal Aidin…
    Mohon dimaafkan.. soalnya saya ngetik sambil ndlosor, sekali2 tolah toleh nungguin baby..

  22. Met Lebaran 1429 H Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir batin.

  23. Dalam rangka mempercepat penayangan ADBM, kami berencana meningkatkan kecepatan menjadi 2 JPM (jilid per minggu). Gelar SAPIT URANG akan kita pakai. Sapit kanan bertugas menayangkan ADBM Jilid Genap dan kiri Jilid Ganjil. Untuk itu kami memerlukan satu orang lagi untuk diserahi tugas menjadi senopati pengapit kiri. Persyaratan:
    1. memahami EYD dengan baik
    2. pernah terlibat dalam proses editing-proof reading.
    3. memiliki kesanggupan untuk mengkoordinir pasukan dan penayangan ADBM 1 JPM.
    Bagi yang bersedia dipersilakan ngacung. Admin kami akan menghubungi Anda.

    DD

  24. Tugasnya selanjutnya ……….

  25. Bukan menghilang mas… cuman pas kemarin2 lebih banyak di laut kebagian piket. Kawan yang seharusnya gantian kerja lagi kena masalah medis.
    Eeh ga tahunya blog ini jadi hebat. Tapi istri di rumah yang selalu ngecek dan kirim email lanjutannya ADBM. Seneeng banget ketemu obatnya.
    Penginnya ikut bantu biar lebih banyak tayang, tapi sementara nunggu 1-2 bulan ke depan dulu deh. Sementara ini jadi penikmat dulu disela2 momong anak. Maklum kurang tidur.
    Tetapi jika ada jilid yg agak jauh, barangkali bisa dikirim dulu, yang penting ga masuk target jarak dekat.

  26. Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  27. lanjutannya mana ???

  28. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadoken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinten kemawon cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  29. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadosaken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinteno kemawon b, cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  30. Mas …. mas …… saya pengin baca tapi nggak bisa caranya gimana sih. tks

  31. sip banget .. dulu baca ADBM pas SD.. nggak urut cos bongkar2 gudang mbacanya… pernah baca cerita lumayan seru.. judulnya lupa tapi ada tokoh misteriusnya” LUKIR LUDIRO” kalo nggak salah…. ada yang tau ndak ya…

  32. perkenalkan,
    saya juga fans adbm, sejak 1974 sudh baca adbm seri 1 dari buku alm bapak saya (selain pelangi).
    dan sangat bersyukur ternyata adbm ada web sitenya (walaupun tidak semua jilid di upload).
    hanya ada kekecewaan saya, setelah baca adbm mulai seri 2, dimana tidak ada lagi kalimat, pernyataan untuk beribadah/bersuci seperti di seri 1 (terutama nomor-2 awal).
    kedua, memang perlunya napak tilas nih, dari jati anom, dukuh pakuwon, sangkal putung, alas mentaok dan perdikan menoreh, kali aja kitab rontal empu windujati dan empu pahari ditemukan , apalagi goa ki sadewa mengukir ilmunya di dinding goa … hehehehehe
    sekali lagi terima kasih sehingga adbm tetap eksis.

  33. Asiiiikkkkkkk,
    Mentaok, lewat Prambanan, Kalasan,
    isa mampir tuku ayam goreng si mBok.

    • ki gembleh ra mampir bu tjitro ta ?

      • mBoten Ki,
        mampire wonten pinggir selokan Mataram,
        Yu Djum.

        • yu djum ?
          gudeg kendile muanteb iku ….
          nek sing besek meriah 😉

          • kalo sempat ki Gembleh, ki AS mampir sebentar ning Boe Jah,
            ana menu spesial KI…..maknyus,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: