Buku 16

“Perjalanan yang tidak masuk dalam akalku. Tuan hanya bertiga?”

“Kenapa tidak masuk dalam akalmu? Jarak itu dapat kau ketahui, apakah kau pernah pergi ke sana?”

“Belum, Tuan, tetapi sebagai seorang prajurit aku pernah mendapat tugas ke Prambanan. Kakak Adi Sedayu itu pernah pula mendapat tugas di Prambanan.”

“Kau dapat juga sampai ke Prambanan, mengapa kau heran mendengar rencana perjalanan ini? Bukankah sesudah Prambanan jarak ke Alas Mentaok tidak lagi begitu jauh?”

“Justru daerah itu adalah daerah yang berbahaya, Tuan. Mungkin Tuan akan berjumpa dengan penyamun-penyamun yang sakti. Dan aku pergi ke Prambanan bersama dengan rombongan prajurit dalam jumlah yang cukup. Karena itu maka aku tidak kuwatir menjumpai bahaya-bahaya yang serupa. Tetapi apakah Tuan hanya akan bertiga saja?”

Sutawijaya tertawa. Ditepuknya bahu prajurit itu sambil berkata, “Katakan kepada Sendawa. Aku pergi ke Alas Mentaok.”

“Apakah Tuan tidak akan menjumpainya sendiri? Mungkin Kakang Sendawa dapat menceriterakan serba sedikit tentang hutan itu. Mungkin Kakang Sendawa pernah mendapat tugas mengunjungi daerah-daerah terpencil di seberang hutan Mentaok beberapa waktu yang lampau atas nama kekuasaan Pajang yang menerima limpahan kekuasaan Demak pada waktu itu. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi adalah daerah-daerah Mangir dan Lipura.”

Sutawijaya menggelengkan kepalanya, “Tidak. Sendawa pasti hanya akan menakut-nakuti aku. Katakan saja, aku pergi bertiga dengan berjalan kaki. Mungkin kami akan melintasi hutan-hutan bebondotan yang sukar sekali dilalui seekor kuda.”

“Ya, Tuan benar. Kuda-kuda itu hampir tak berarti di hutan-hutan yang lebat.”

“Sudahlah,” berkata Sutawijaya. “Aku akan pergi.”

“Tetapi, Tuan,” bertanya prajurit itu, “Tuan tidak membawa bekal apa pun di perjalanan. Bagaimana Tuan akan mendapatkan makanan? Apakah Tuan mempunyai beberapa orang yang telah Tuan kenal di sepanjang jalan?”

Sutawijaya tertegun sejenak. Dipandanginya wajah-wajah Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Tetapi kedua anak muda itu pun agaknya tidak tahu, bagaimana mendapatkan bekal di perjalanan. Sudah tentu mereka tidak dapat mencari bekal di desa Benda yang kosong itu. Yang ada hanyalah orang-orang Jipang dan para prajurit yang sedang bertugas. Mereka sama sekali tidak mempunyai persediaan makanan dari Sangkal Putung.

Tiba-tiba Sutawijaya itu bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang membawa busur dan anak panah?”

Prajurit itu terdiam sejenak.

“Ada?” desak Sutawijaya.

Prajurit itu mencoba melihat beberapa orang kawan-kawannya yang mendengarkan percakapan itu dengan mulut ternganga.

Tiba-tiba Sutawijaya melihat beberapa buah busur di sudut gardu. Tanpa bertanya kepada siapa pun ia meloncat dan mengambil tiga daripadanya.

“He, Agung Sedayu dan Swandaru, apakah kalian dapat memanah?”

Yang menjawab adalah Swandaru Geni, “Kakang Agung Sedayu adalah pemanah terbaik dari seluruh penghuni Sangkal Putung, termasuk para prajurit Pajang.”

“Bagus,” Sutawijaya menjadi gembira. Diraihnya beberapa endong anak panah sambil berkata, “Aku pinjam busur-busur ini.”

Para prajurit yang berada di dalam gardu itu seolah-olah terpaku beku di tempatnya. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya melihat Sutawijaya mengambil tiga buah busur dari lima persediaan busur di gardu itu, beserta tiga endong penuh dengan anak panah. Mereka kemudian melihat Sutawijaya meloncat keluar sambil membagikan ketiga busur itu kepada Agung Sedayu dan Swandaru Geni.

“Kalian tidak akan mendapat musuh lagi di sini. Biarlah senjata-senjata ini kami bawa ke Alas Mentaok,” berkata Sutawijaya kepada para prajurit Pajang itu.

Sebelum mendapat jawaban, maka Sutawijaya segera mengajak kedua kawannya itu berjalan meninggalkan desa Benda menuju ke arah Barat. Alas Mentaok.

Perjalanan itu bukanlah perjalanan yang ringan. Jalan yang harus mereka lewati adalah jalan yang sulit dan jauh.

“Dengan anak-anak panah ini kita akan mendapat bekal di sepanjang jalan,” gumam Sutawijaya.

“Apakah kita akan menyamun atau memeras sambil menakut-nakuti orang dengan anak panah,” bertanya Swandaru.

Sutawijaya tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Agung Sedayu yang segera menangkap maksud Sutawijaya pun tersenyum.

“Kenapa?” bertanya Swandaru heran.

“Aku belum pernah menyamun orang,” berkata Sutawijaya di antara derai tertawanya. “Lebih baik kita menyamun kijang atau menjangan.”

“O,” Swandaru tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Pipinya yang gembul itu pun menjadi kemerah-merahan. Ternyata ia tidak cepat menangkap maksud Sutawijaya dengan busur dan anak panah itu, yang akan menjadi alat berburu yang baik.

Sesaat kemudian ketiga anak-anak muda itu terdiam. Mereka berjalan dengan cepat ke arah Barat. Di belakang mereka pedesaan Benda seolah-olah berjalan mundur sedang gerumbul-gerumbul jarak yang liar di hadapan mereka pun menjadi semakin dekat. Di belakang semak-semak itu akan terbentang sebuah lapangan rumput yang tidak begitu lebar. Dan di seberang lapangan itu mereka akan mendapatkan sebuah hutan yang cukup luas, meskipun tidak terlampau lebat.

Di langit, matahari telah melewati titik puncaknya dan dengan perlahan-lahan turun ke cakrawala. Namun panasnya masih terasa seakan-akan membakar kulit.

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru berjalan tanpa berpaling lagi. Panas matahari telah memeras keringat mereka sehingga seluruh pakaian mereka menjadi basah. Kulit mereka yang menjadi semerah tembaga, menjadi berkilat-kilat karena keringat dan debu yang melekat.

Para prajurit di Benda pun kemudian menjadi gempar. Ceritera tentang Sutawijaya dan kedua anak muda yang telah mereka kenal dengan baik, yaitu Agung Sedayu dan Swandaru benar-benar menimbulkan berbagai pembicaraan. Ada yang menjadi cemas, ada yang menjadi heran dan ada yang menjadi kagum karenanya.

Sendawa yang kemudian diberi tahu pula tentang kepergian ketiga anak-anak muda itu terkejut sekali. Katanya, “Apakah kalian tidak mencoba mencegahnya?”

“Aku telah mencobanya,” jawab prajurit itu, “tetapi mereka tidak mendengarkan.”

“Alas Mentaok adalah hutan belukar yang luar biasa lebatnya. Binatang-binatang buas masih berkeliaran dan bahkan di sekitar hutan yang liar itu masih banyak didiami oleh penjahat-penjahat yang sebuas binatang-binatang di dalam hutan itu.”
“Aku sudah mengatakannya.”

Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia bergumam, “Mudah-mudahan mereka tidak memasuki hutan itu. Mudah-mudahan mereka berhenti setelah mereka melihat wajah Alas Mentaok.”

“Tetapi,” berkata prajurit itu, “bukankah menyeberangi hutan Tambak Baya itu pun cukup berbahaya?”

“Mungkin mereka akan mendapat beberapa orang kawan. Mudah-mudahan mereka menyeberang bersama-sama dengan rombongan-rombongan yang sering melewati hutan itu pula bersama-sama dengan beberapa orang pengawal. Dengan demikian, mereka akan terhindar dari banyak kesulitan.”

“Mudah-mudahan,” desis prajurit itu.

“Meskipun demikian, kita harus memberitahukannya kepada para pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung. Bahkan kepada Ki Gede Pemanahan sendiri. Bukankah Raden Sutawijaya itu putera Ki Gede Pemanahan?”

“Ya. Demikian sebaiknya,” sahut prajurit itu.

“Nah, sekarang pergilah. Sampaikan laporan ini.”

Belum lagi prajurit itu pergi, mereka terkejut melihat seseorang memasuki rumah pimpinan itu. Ternyata orang itu adalah dukun tua yang selama ini tidak menampakkan diri. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

Dengan nada tinggi ia bertanya sambil tersenyum, “Aku dengar, ada di antara kalian yang akan pergi ke Alas Mentaok?”

“Tidak, Kiai,” sahut Sendawa. “Yang pergi ke Alas Mentaok adalah putera Ki Gede Pemanahan, Raden Sutawijaya.”

Ki Tenu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian kembali ia bertanya, “Sendiri ?”
“Tidak,” jawab Sendawa pula. “Bersama dengan dua kawannya. Agung Sedayu dan Swandaru Geni.”

“He?” Ki Tanu Metir itu pun terkejut. Wajahnya yang tua itu menjadi semakin berkerut-merut. “Apakah kepentingan mereka dengan Alas Mentaok itu?”

“Kami tidak tahu Kiai,” sahut Sendawa. “Seorang prajurit telah mencoba mencegah mereka dengan memberikan gambaran-gambaran tentang perjalanan yang berbahaya itu. Tetapi mereka bertiga sama sekali tidak takut.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Tentu tidak. Putera Ki Gede Pemanahan yang telah berhasil membinasakan Arya Penangsang itu tidak akan mengenal takut terhadap apapun.”

“Tetapi perjalanan itu sangat berbahaya.”

“Ya,” kembali dukun tua itu bergumam seolah-olah untuk dirinya sendiri, “perjalanan yang berbahaya.”

“Kami akan memberitahukannya kepada ki Gede Pemanahan Kiai. Bukankah sebaiknya demikian?”

“Bagus,” sahut Ki Tanu Metir. “Beritahukan kepada Ki Gede Pemanahan. Apakah mereka belum lama berangkat? dan apakah mereka berkuda?”

“Belum terlampau lama. Mereka tidak berkuda.”

“Apakah dengan berkuda anak-anak itu akan dapat dicapai sebelum mereka masuk ke dalam hutan?”

Sendawa mengerutkan keningnya. Dicobanya menghitung waktu yang sudah dipergunakan oleh Sutawijaya. Namun kemudian ia mengambil kesimpulan, “Mungkin mereka telah memasuki hutan itu Kiai. Mereka sudah meninggalkan padukuhan ini sesaat setelah pasukan Pajang kembali ke induk Kademangan Sangkal Putung. Tetapi agaknya para prajurit lebih senang memperbincangkannya lebih dahulu, baru memberitahukannya kepadaku.”

Tampaklah sejenak kecemasan membayang di wajah orang tua itu. Namun hanya sejenak. Kemudian kembali ia tersenyum, “Bagus. Secepatnya kalian beritahukan kepada Ki Gede Pemanahan. Anak-anak itu hanya berjalan kaki saja bukan?”

“Baik, Kiai,” sahut Sendawa. Kemudian kepada prajurit yang memberitahukannya, Sendawa berkata, “Laporkan kepada Ki Gede Pemanahan, atau kepada Ki Untara atau Ki Widura.”

“Baik,” jawab prajurit itu sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian menghilang di belakang pintu rumah itu. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke belakang gardu untuk mengambil seekor kuda. Para prajurit yang lain, yang melihat seorang kawannya berlari-lari mengambil seekor kuda segera mengetahuinya, bahwa prajurit itu harus melaporkan kepergian Raden Sutawijaya bersama dengan Agung Sedayu dan Swandaru kepada Ki Gede Pemanahan, Untara dan Ki Demang Sangkal Putung. Meskipun demikian, salah seorang dari mereka pun bertanya, “Apakah kau akan menyusul anak-anak muda itu atau akan pergi ke Sangkal Putung?”

“Aku hanya akan melapor,” sahut prajurit itu sambil meloncat ke atas punggung kuda. Sesaat kemudian maka kuda itu pun melontar berlari menyusul pasukan Pajang dan laskar Sangkal Putung yang kembali ke induk kademangan. Suara kakinya berderap di atas tanah berbatu-batu, mengejutkan para pengawal dan bahkan orang-orang Jipang yang sedang beristirahat di dalam rumah-rumah.

Di ujung lorong yang lain beberapa orang pengawal menghentikannya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Kemana kau?”

“Menyusul Ki Gede Pemanahan.”

“Ada sesuatu yang penting?”

“Ya. Aku harus memberitahukan bahwa putera Ki Gede Pemanahan bersama Agung Sedayu dan Swandaru Geni tanpa setahu Ki Gede sendiri pergi ke Alas Mentaok.”

“Alas Mentaok?” beberapa mulut bersama-sama mengulanginya.

“Ya.”

“Mengapa?”

“Tak seorang pun di antara kami yang tahu. Apa perlunya maka putera Ki Gede itu pergi ke Mentaok.”

Para pengawal itu tidak bertanya lagi. Prajurit itupun kembali memacu kudanya. Derap kakinya melemparkan kepulan debu yang putih ditimpa sinar matahari yang telah menjadi semakin condong ke Barat.

Dengan tergesa-gesa prajurit itu berusaha untuk dapat menyusul Ki Gede Pemanahan secepatnya. Ketika telah dilewatinya beberapa padukuhan kecil, maka kemudian dilihatnya ujung panji-panji. Tiba-tiba hatinya menjadi berdebar-debar. Apakah jawabnya nanti apabila Ki Gede itu bertanya kepadanya, mengapa puteranya itu tidak dicegahnya?

Akhirnya kuda itu menjadi semakin dekat. Beberapa orang di barisan yang paling belakang yang lebih dahulu mendengar derap kakinya, segera berpaling. Ketika mereka melihat seekor kuda berlari kencang, maka mereka pun menjadi terkejut.

“Apakah yang terjadi?” pertanyaan itu mengetuk setiap dada para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung.

Untara dan Widura yang kemudian mendengar derap itu pula, menjadi berdebar-debar. Seperti setiap prajurit yang lain timbul pula pertanyaan di dalam dadanya, “Apakah yang telah terjadi?”

Dalam pada itu terdengar Ki Gede Pemanahan bertanya, “Siapakah yang berkuda itu?”

“Seorang prajurit pengawal yang kita tinggalkan di Benda, Ki Gede,” sahut Untara.

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Ketika orang berkuda itu menjadi semakin dekat, maka Ki Gede itu berkata, “Mungkin ia membawa persoalan yang segera perlu kau ketahui Untara.”

“Ya, Ki Gede,” sahut Untara yang kemudian melambaikan tangannya memanggil prajurit itu.

Kuda itu pun kemudian berlari mendahului barisan yang menjelujur di sepanjang jalan. Beberapa langkah dari Untara prajurit itu segera meloncat turun.

“Apakah ada sesuatu yang penting?” bertanya Untara.

“Penting bagi Ki Gede Pemanahan.” sahut prajurit itu.

Ki Gede yang mendengar jawaban itu segera bertanya, “Penting bagiku? Apakah itu?”

Prajurit itu menjadi ragu-ragu sejenak. Baru ketika Untara menyuruhnya mengatakan, ia berkata, “Ki Gede, Putera Ki Gede bersama Adi Agung Sedayu dan Adi Swandaru telah pergi meninggalkan Benda ke arah Barat. Menurut keterangannya, mereka bertiga akan pergi ke Alas Mentaok.”

“He?” bukan main terkejut Ki Gede Pemanahan, Untara, Widura dan orang-orang lain yang mendengarnya, sehingga sejenak justru mereka terdiam.

Barisan yang panjang itu pun kemudian berhenti dengan sendirinya. Mereka yang tidak mendengar laporan itu bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi berita itu pun kemudian menjalar dari mulut ke mulut, dari ujung terdepan merambat sampai ke ujung belakang. Hampir semua orang menggeleng-gelengkan kepala mereka.

“Bukan main,” gumam salah seorang prajurit.

“Mereka adalah anak-anak muda yang berani,” sahut yang lain. “Tetapi apakah kepentingan mereka?”

Untara dan Widura pun berdiri terpaku. Mereka sejenak saling berpandangan, namun tak sepatah kata pun yang mereka katakan. Sesaat kemudian terdengar Ki Gede Pemanahan bertanya, “Apakah mereka sudah lama pergi? Dan apakah mereka berkuda?”

“Tidak, Ki Gede. Mereka berjalan kaki. Mereka berangkat sejenak setelah pasukan ini meninggalkan desa Benda.”

“Kenapa baru sekarang kau memberitahukan?” bertanya Ki Gede.

Prajurit itu terdiam. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menjawab. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Sejenak mereka saling berdiam diri. Ki Demang Sangkal Putung yang mendengar berita itu pun segera pergi ke ujung barisan. Namun ketika dilihatnya Untara, Widura dan beberapa orang yang lain terpaku diam, maka Ki Demang Sangkal Putung pun tidak bertanya apa-apa lagi.

“Hem,” Ki Gede Pemanahan kemudian menarik napas dalam-dalam. “Anak itu memang nakal.”

Tetapi kata-katanya tidak dilanjutkannya. Ki Gede itu mencoba membayangkan perjalanan yang akan dilalui oleh puteranya beserta Agung Sedayu dan Swandaru. Ki Gede Pemanahan meskipun hanya sekilas telah melihat, bagaimana Agung Sedayu dan Swandaru menggerakkan pedangnya.
Perjalanan ke Alas Mentaok bukanlah perjalanan yang menyenangkan seperti sebuah tamasya. Yang dihadapi di dalam perjalanan itu adalah alam yang keras dan mungkin juga para penjahat.

Tetapi Ki Gede Pemanahan tidak sempat memberi pesan apa pun kepada puteranya yang nakal itu.

Sebagai seorang senapati Perang, Panglima Wiratamtama, maka Ki Gede Pemanahan pun pernah mengunjungi daerah-daerah di seberang hutan Mentaok. Karena itu maka Ki Gede dapat membayangkan apakah yang akan ditemui puteranya di sepanjang jalan.

Ki Gede Pemanahan itu pun kini berdiri dalam kebimbangan. Perasaannya menjadi sangat berat untuk membiarkan puteranya dengan dua anak-anak muda itu tanpa berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak melihat seorang pun yang dapat diperintahkannya menyusul mereka. Untara atau Widura bukanlah seorang yang akan dapat melindungi sutawijaya, sebab menurut penilaian Ki Gede Pemanahan, Untara tidak lebih cakap berolah pedang dan tombak daripada Sutawijaya sendiri.

Tetapi Ki Gede Pemanahan sendiri sudah tentu tidak akan dapat meninggalkan Pajang terlampau lama untuk menyusul puteranya. Belum pasti puteranya itu segera dapat diketemukan. Apabila anak-anak muda itu sudah masuk kedalam hutan, maka mencari seseorang di dalam hutan adalah sama sulitnya dengan mencarinya di dalam kota yang ramai. Bahkan mungkin di dalam kota masih sempat bertanya-tanya, siapakah di antara orang-orang kota yang pernah melihat orang yang ciri-cirinya dapat dikenal. Tetapi di dalam hutan, pepohonan justru menjadi tempat-tempat bersembunyi yang baik.

Ki Gede Pemanahan seolah-olah berdiri di persimpangan jalan antara kekhawatirannya tentang anaknya dan kewajibannya sebagai seorang Panglima. Saat ini Pajang masih sedang dalam pergolakan. Pajang masih mendapat penilaian daripada para adipati di sepanjang Pantai dan adipati di wilayah Demak lainnya bagian Timur. Apakah Pajang akan mampu berdiri tegak menggantikan Demak. Karena itu, maka Panglima Wira Tamtama selalu harus berada di tempatnya.

Dalam kebingungan itu Ki Gede Pemanahan berkata, “Marilah kita teruskan perjalanan ini. Biarlah kita pertimbangkan sesudah kita sampai di induk Kademangan Sangkal Putung.”

“Marilah Ki Gede,” sahut Untara, yang kemudian kepada prajurit yang membawa berita tentang kepergian Sutawijaya, Untara berkata, “Kembalilah ke tempatmu.”

Prajurit itu pun menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baik.”

Ketika Ki Gede Pemanahan kemudian berjalan kembali diikuti oleh seluruh barisan, maka prajurit itu pun kembali ke Benda untuk meneruskan tugasnya.

Di sepanjang jalan Ki Gede Pemanahan hampir tidak berkata sepatah kata pun. Hatinya menjadi risau dan gelisah. Kedatangannya di Sangkal Putung ternyata menjadikannya bingung setelah beberapa kali ia menemui kekecewaan.Tetapi di sepanjang jalan itu pula ia menemukan keputusan. Sebagai seorang panglima, maka ia tidak dapat meninggalkan tugasnya. Ia harus segera kembali ke Pajang sesuai dengan rencana yang telah dibuatnya. Ia akan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya dengan puteranya, Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar. Karena Sutawijaya itu telah diambil putera pula oleh Adipati Pajang, maka sudah tentu Adipati Pajang akan menanyakannya. Baru apabila ia mendapat perintah untuk mencari puteranya, ia akan berangkat dengan menanggalkan baju kebesarannya sebagai seorang panglima, sementara ia pergi.

Karena itu, maka ketika mereka telah sampai di Sangkal Putung, Ki Gede segera memberitahukan kepada Untara dan Widura bahwa ia tidak akan merubah rencana.

Dengan demikian, maka segera setelah mereka beristirahat di Banjar Desa Sangkal Putung, Ki Gede Pemanahan memanggil Untara, Widura, dan para perwira yang dibawanya dari Pajang.

“Kita besok harus kembali membawa orang-orang Jipang itu sesuai dengan rencana,” berkata Ki Gede Pemanahan kepada para pengawalnya.

“Ya, Ki Gede,” sahut salah seorang dari mereka.

“Tetapi kita harus mempertimbangkan keadaan. Bagaimana dengan pertimbanganmu, Untara. Apakah kau dapat menganggap cukup dengan membagi prajuritmu menjadi dua. Separo ikut aku mengawal orang-orang Jipang itu ke Pajang, dan yang separo tinggal di Sangkal Putung?”

“Bagi Sangkal Putung, separo dari prajurit-prajurit Pajang itu telah cukup untuk melindungi Kademangan ini. Tetapi yang aku cemaskan justru perjalanan Ki Gede. Apabila perjalanan Ki Gede bertemu dengan laskar Tambak Wedi dan Sanakeling, kita belum tahu pasti apakah orang-orang Jipang yang sudah menyerah ini tidak akan terlibat dalam pertempuran itu. Meskipun mereka tidak bersenjata, tetapi jumiah mereka cukup banyak untuk menentukan keadaan,” jawab Untara.

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Untara. Karena itu, maka katanya kemudian kepada perwira bawahannya yang dibawanya dari Pajang, “Dua di antara kalian malam ini kembali ke Pajang. Kalian harus melaporkan keadaan kami di sini. Tetapi ingat, jangan kau katakan apapun tentang Sutawijaya. Aku sendiri yang akan menyampaikannya kepada Adipati Pajang. Kemudian mintalah kepada Adi Adipati supaya memberimu ijin membawa limapuluh prajurit berkuda Wira Tamtama untuk membantu pengawalan orang-orang Jipang itu. Dengan demikian kita terpaksa menunda saat kembali ini dengan semalam lagi.”

“Baik, Ki Gede,” sahut perwira itu. “Kedua orang di antara kami akan segera berangkat sebelum gelap.”

Demikianlah maka segera mereka menentukan dua orang di antara para pengawal itu untuk kembali ke Pajang. Sementara itu mereka telah mempergunakan waktu beristirahat sebaik-baiknya. Para prajurit yang lain pun segera bertebaran di tempat masing-masing. Di banjar desa dan yang lain ke kademangan dan rumah-rumah yang ditentukan.

Sementara itu Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru, berjalan secepat-cepatnya menuju ke hutan yang semakin dekat di hadapan mereka. Sutawijaya masih merasa cemas kalau-kalau ayahnya datang menyusul mereka, sehingga apabila mereka telah berada di dalam hutan itu, maka kesempatan untuk menyembunyikan diri menjadi lebih besar.

Matahari yang merangkak di langit kini menjadi semakin rendah. Cahayanya tidak lagi terasa membakar kulit, tetapi karena mereka berjalan kearah Barat, maka mereka pun kini menjadi silau.

“Di hutan itukah Tohpati dahulu menyembunyikan diri?” bertanya Sutawijaya.

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “Agak ke tengah.”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Telah Terbit on 26 September 2008 at 07:09  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-16/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. saya jagain jakarta mas..
    siap aja disuruh ngapain 😀

    D2: Gimana kalau handel BENDE MATARAM. Ini juga cersil berlatar Jawa. Bahannya komplit ada yang mau share tuh. Itu tuh orangnya di bawah. Kalau OK, kontak langsung aja ke dianya.

  2. Mas Dhe dhe aku juga ga pulkam, jadi siap bantu retype

    D2: Serius neh. Soalnya ada tuh dokumen kami yang memang harus diretype karena kualitas scannya kurang bagus. Kalau OK, bahan kukirim segera.

  3. Met Lebaran,
    Daku sih ikutan mudik neh…
    btw tararengkyu ke semua yang ikut andil di ADBM ini n sori belum bisa nyumbang apa2, baru ikutan baca aja.
    Minal ‘aidin wal faidin – mohon maaf lahir batin.
    Nuhun ka sadayana utamina ka kang DD.

    • dawah sami-sami ki

      • minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, sedoyo lepat nyuwun pangapuro kalih nyuwun arto

  4. Bende Mataram ya mas… ??
    Kalo boleh milih.. aku pengen Dewi Sri Tanjung, dengan ajian Netra Luyup nya. Tau cerita ini mas ?

    Japri aja ato YM-an ya.. suwun.
    Sukra mo ke pakiwan lagi. 😉

    • hihaaaaa
      ki nin pengen dewi sri tanjung

  5. meski mudik..
    insyaAllah masih tetep bisa bantu

    tapi jangan kejar tayang ya… 🙂

    met lebaran DD & adbm-ers semua.
    mohon maaf atas segala khilaf & salah

    bensroben@gmail.com

  6. Siap Mas Dhe dhe, kirim aja bahan dan petunjuknya

    D2: Bahan udah dikirim. Petunjuk: Retype

  7. Mas Dhe dhe,

    Saya juga cuma jagain jakarta, siap nih tuk retype or anything…….

    Tuk yang merayakan Idul Fitri, saya pribadi ucapkan Selamat Idul Fitri, semoga ibadahnya di bulan puasa diterima oleh Tuhan YME. Bagi yang mudik, hati-2 dalam perjalanan.

  8. Komandan (DD) dan ADBMer, kali ini saya gak mudik, jaga jakarta biar gak sepi2 amat..Maka berilah daku tugas2 terus!

    Bende Mataram (Herman Patikto) memang Cersil Jawa, menurutku nggak sedahsyat ADBM or NSSI (SHM), meskipun diakui mempunyai segmen penggemar tersendiri.

    Tapi, menarik juga kan ada misi “lain” yg lebih mulia..Nguri-uri sastra jawa sekaligus mendokumentasikan dalam bentuk “maya”, ini suatu usaha berbasis pengorbanan yang tentunya berazaskan nirlaba
    Bravo DD!

    • karya-karya ki herman memang berusaha ‘jawa’, tapi karena selalu mengacu kepada ching yung maka banyak bagian yang kedodoran

  9. mana tugas untuk saya?
    mumpung belum lebaran..
    ditunggu..

    D2: Tugas dah dikirim

  10. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H untuk seluruh pemrakarsa upload & penikmat Cerita ADBM. Semoga semua sehat selalu… Amin.. Btw, kalau cerita Sawer Wulung, karangan S. Djati Laksana, bagaimana, saya ada bukunya?

    D2: Kita sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar yaitu cersil Indonesia. Jadi, sepanjang cersil dan Indonesia akan ditampung.

  11. Mas Dhe dhe, tugas dah aku kembaliin.
    siap tugas selanjutnya
    And untuk semua penikmat blog ini
    “Selamat Hari Raya Idul Fitri”
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    D2: Siiip. Bahan selanjutnya dah dikirim

  12. Tugas dah aku kembalikan……., siap tuk tugas selanjutnya……

    D2: Thanks

  13. makasih banget ya adbm nya, mengingatkan aku waktu masih kanak-kanak, jilid pertamanya sekitar ketika aku sd kelas 3 s/d 6, ya tahun 1968-1971, sudah lama banget, jadi lupa-lupa ingat, tamat nya juga kapan aku lupa, pokoknya jilid nya seratusan lah, dan terbitnya klo nggak salah sebulan sekali, jadi nunggunya luamaaaaa buanget, kadang klo aku pulang ke jateng (aku di surabaya) waktu lewat sekitar menoreh, kadang mencari cari dimana ya alas mentaok itu, dimana ya sangkal putung itu, dimana ya jati anom dst dst, gimana klo diadakan napak tilas jalur nya adbm, sapa tahu nemu cambuknya kyai gringsing.
    sekali lagi makasih,

    D2: Sangkal Putung, Jati Anom (Jatinom), dan Prambanan masuk wilayah Klaten sekarang. Alas Mentaok kini menjadi Kota Gede, Yk (mohon koreksi kalau salah).
    salam,
    ariyanto surabaya

  14. Tugas yang Mas Dhe dhe berikan sudah selesai dan aku kirimkan.
    Tugas selanjutnya ………

    D2: Thanks

  15. Seneng sekali bergabung dgn ADMers. Saya penggemar setia cersil jawa, & yg lagi intens saya ikuti salah satunya cerita ini (ADBM).

    MOhon kalo ada yg punya Alap-Alap Laut Kidul bisa dishare juga. Tks

    D2: Mas Aryo sendiri punya apa?

  16. SMS tetangga:
    “Hidup ini bentar. “Bentar happy”, “bentar sedih”. “Bentar marah”, “bentar baikan”. “Bentar senyum”, “bentar cemberut”… Eh “bentar lagi lebaran”….

    Buat semua-muanya aza: Selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

    DD

  17. BUAT TIM SCANNER: CATATAN DAN USUL
    1. Mas Julius, tadi Mas Herry mengirim contoh hasil scan dalam bentuk JPG ke saya. Hasilnya bagus, cuma ukuran filenya ngudubilah besarnya (1 halaman 1800 KB). Kalau 1 buku bisa 70-an MB dong. Lalu ingat mungkin bisa diresize dan saya iseng coba-coba. Eh hasilnya hampir sama dengan aslinya, sedangkan ukuran file bisa dikurangi menjadi hanya 200 kb atau bahkan 80 kb. Saya kira prosedur ini bisa diterapkan.
    2. Dalam proses penayangan kami memerlukan baik file teks maupun JPG. File teks untuk memudahkan proses editing, file JPG untuk proofing. Melalui scan kita bisa memperoleh dua jenis file tsb. Jadi alangkah baiknya jika setiap buku discan 2 kali: sekali untuk mendapatkan file JPG, sekali untuk teks file. Agar tidak mengubah2 seting scanner, mungkin bisa dibagi, siapa saja yang menyecen untuk file JPG saja dan siapa saja yg untuk teks saja. Dengan cara seperti ini, proses konversi bisa ditiadakan.

    Demikian semoga bermanfaat.

    DD

  18. Tugas dah diterima, siap dikerjakan……..

  19. Sedulur,
    ngaturake Sugeng Riyadi
    Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  20. Mas DD dan kawan-kawan semua,
    Saya dan keluarga mengucapakan “Minal Alidin wal Faidzin” – mohon maaf lahir dan batin.
    Bagi kawan2 yang mudik, agar tetap berhati2 dalam perjalanan sampai ke rumah dan kembali ke tempat kerja.
    Semoga blog ini makin seru dan akan selalu diringukan para fans.
    Salam,
    Ubaid dan keluarga

    D2: Sama2. Aku kira Mas Ubaid ikut menghilang bersama Mas Rizal. Selamat bergabung deh.

  21. Hehe .. kok salah ketik ya.
    Bukan Minal Alidin.. tapi Minal Aidin…
    Mohon dimaafkan.. soalnya saya ngetik sambil ndlosor, sekali2 tolah toleh nungguin baby..

  22. Met Lebaran 1429 H Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir batin.

  23. Dalam rangka mempercepat penayangan ADBM, kami berencana meningkatkan kecepatan menjadi 2 JPM (jilid per minggu). Gelar SAPIT URANG akan kita pakai. Sapit kanan bertugas menayangkan ADBM Jilid Genap dan kiri Jilid Ganjil. Untuk itu kami memerlukan satu orang lagi untuk diserahi tugas menjadi senopati pengapit kiri. Persyaratan:
    1. memahami EYD dengan baik
    2. pernah terlibat dalam proses editing-proof reading.
    3. memiliki kesanggupan untuk mengkoordinir pasukan dan penayangan ADBM 1 JPM.
    Bagi yang bersedia dipersilakan ngacung. Admin kami akan menghubungi Anda.

    DD

  24. Tugasnya selanjutnya ……….

  25. Bukan menghilang mas… cuman pas kemarin2 lebih banyak di laut kebagian piket. Kawan yang seharusnya gantian kerja lagi kena masalah medis.
    Eeh ga tahunya blog ini jadi hebat. Tapi istri di rumah yang selalu ngecek dan kirim email lanjutannya ADBM. Seneeng banget ketemu obatnya.
    Penginnya ikut bantu biar lebih banyak tayang, tapi sementara nunggu 1-2 bulan ke depan dulu deh. Sementara ini jadi penikmat dulu disela2 momong anak. Maklum kurang tidur.
    Tetapi jika ada jilid yg agak jauh, barangkali bisa dikirim dulu, yang penting ga masuk target jarak dekat.

  26. Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  27. lanjutannya mana ???

  28. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadoken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinten kemawon cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  29. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadosaken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinteno kemawon b, cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  30. Mas …. mas …… saya pengin baca tapi nggak bisa caranya gimana sih. tks

  31. sip banget .. dulu baca ADBM pas SD.. nggak urut cos bongkar2 gudang mbacanya… pernah baca cerita lumayan seru.. judulnya lupa tapi ada tokoh misteriusnya” LUKIR LUDIRO” kalo nggak salah…. ada yang tau ndak ya…

  32. perkenalkan,
    saya juga fans adbm, sejak 1974 sudh baca adbm seri 1 dari buku alm bapak saya (selain pelangi).
    dan sangat bersyukur ternyata adbm ada web sitenya (walaupun tidak semua jilid di upload).
    hanya ada kekecewaan saya, setelah baca adbm mulai seri 2, dimana tidak ada lagi kalimat, pernyataan untuk beribadah/bersuci seperti di seri 1 (terutama nomor-2 awal).
    kedua, memang perlunya napak tilas nih, dari jati anom, dukuh pakuwon, sangkal putung, alas mentaok dan perdikan menoreh, kali aja kitab rontal empu windujati dan empu pahari ditemukan , apalagi goa ki sadewa mengukir ilmunya di dinding goa … hehehehehe
    sekali lagi terima kasih sehingga adbm tetap eksis.

  33. Asiiiikkkkkkk,
    Mentaok, lewat Prambanan, Kalasan,
    isa mampir tuku ayam goreng si mBok.

    • ki gembleh ra mampir bu tjitro ta ?

      • mBoten Ki,
        mampire wonten pinggir selokan Mataram,
        Yu Djum.

        • yu djum ?
          gudeg kendile muanteb iku ….
          nek sing besek meriah 😉

          • kalo sempat ki Gembleh, ki AS mampir sebentar ning Boe Jah,
            ana menu spesial KI…..maknyus,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: