Buku 16

Tetapi menilik sikap Panglima Wira Tamtama maka semuanya akan dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya.

Demikian pulalah harapan Untara. Ia telah memberanikan diri mengharap kehadiran Ki Gede Pemanahan dengan pengharapan yang serupa itu. Semula ia ragu-ragu akan ketaatan para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung terhadap keputusan yang diambilnya. Menerima orang-orang Jipang yang menyerahkan diri dengan beberapa bentuk pengampunan. Karena itu, apabila Ki Gede Pemanahan bersedia hadir, akibatnya pasti akan menguntungkan kedua belah pihak. Para prajurit Pajang, sudah tentu tidak akan berani melanggar keputusannya dan orang-orang Jipang pun akan terpengaruh oleh wibawa panglima itu. Dan kini ternyata semuanya itu telah terjadi.

Maka di pinggir desa kecil itu, telah terjadi saat-saat yang penting. Dengan kesungguhan Sumangkar menyatakan janji dan kata-kata penyerahan. Betapa berat perasaan orang tua itu. Namun kata-kata itu harus diucapkannya. Di hadapan Ki Gede Pemanahan, Untara dan Widura.

Ki Gede Pemanahan, Untara, Widura, Ki Demang Sangkal Putung, dan para pemimpin yang lain mendengarkan kata-kata Sumangkar itu dengan penuh minat. Setiap patah kata telah menunjukkan kesungguhan hati orang tua itu untuk benar-benar mengakhiri perlawanan.

“Ki Gede Pemanahan,” Sumangkar itu pun kemudian mengakhiri kata-katanya, “kami dengan ini menyatakan kesungguhan hati kami untuk menyerahkan diri tanpa syarat apapun ke hadapan Ki Gede Pemanahan, ke hadapan senapati untuk daerah ini dan kepada pimpinan prajurit Pajang di sangkal Putung beserta para pemimpin kademangan. Kami tidak akan mengingkari kesalahan-kesalahan yang telah kami lakukan sehingga karenanya kami tidak akan menghindarkan diri dari setiap hukuman yang akan diletakkan di atas pundak kami.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah mendengar dengan baik semua ucapan Sumangkar. Karena itu maka kemudian ia pun berkata, “Penyerahanmu kami terima. Semoga saat ini benar-benar dapat mengakhiri kerusuhan-kerusuhan yang terjadi. Tetapi sayang, bahwa penyerahan ini tidak sempurna. Masih ada beberapa orang dari kalian yang tidak bersedia berbuat seperti ini dan bahkan telah bekerja bersama dengan Ki Tambak Wedi. Tetapi itu bukan kesalahan kalian. Ketahuilah, bahwa terhadap mereka tidak ada pilihan lain kecuali dilenyapkan. Untuk seterusnya akan berlaku, semua persetujuan kalian dengan Senapati Pajang untuk daerah ini, Untara. Semoga Tuhan selalu menerangi hati kita semua. Hati kami, dan hatimu semua.”

Yang berbicara kemudian adalah Untara. Ia hanya menguraikan beberapa segi pelaksanaan. Orang-orang Jipang itu harus tinggal di Benda sebelum mereka dibawa ke Pajang bersama-sama dengan Ki Gede Pemanahan. Dalam pada itu tiba-tiba terdengar Sutawijaya bertanya, “He, Paman Sumangkar yang suka mengembara, bukankah jalan ini pula yang menuju ke Alas Mentaok?”

Semua yang mendengar pertanyaan Sutawijaya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan persoalan yang sedang terjadi itu, menjadi heran. Dengan wajah bertanya-tanya mereka hampir serentak berpaling memandangnya.

Ki Gede Pemanahan pun heran pula mendengar pertanyaan itu, sehingga katanya, “Apakah kau sedang bermimpi Jebeng?”

“Tidak, Ayah,” sahut Sutawijaya. “Aku tiba-tiba saja ingin mengetahui, jalan ini akan menuju ke mana.”

“Apakah hubungannya dengan persoalan orang-orang Jipang yang menyerahkan diri dan Pamanmu Sumangkar?”

“Aku hanya ingin bertanya kepada Paman Sumangkar, karena Paman Sumangkar hampir selama ini selalu mengembara berkeliling. Mungkin Paman Sumangkar telah pernah menyelusur jalan ini terus ke Barat.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas panjang-panjang. Ia tahu pikiran apakah yang bergejolak di dalam dada anak itu, Sutawijaya pasti sedang berpikir tentang Alas Mentaok yang pernah dijanjikan oleh Adipati Pajang kepada dirinya, dan tanah Pati bagi kawan seperjuangannya melawan Adipati Jipang pada saat itu. Dan Sutawijaya pun pasti pernah mendengar janji itu, sehingga tiba-tiba saja ia menyebut tanah Alas Mentaok.

Dalam pada itu terdengar Sumangkar berkata, “Ya, Ngger. Jalan ini akan sampai ke Alas Mentaok, tetapi jalan terlampau sulit. Beberapa bagian hutan di sebelah Barat itu harus dilampaui. Meskipun hutan ini tidak terlampau lebat, tetapi hutan itu pun cukup luas. Sekali-sekali Angger akan sampai di pedukuhan-pedukuhan kecil yang terserak-serak. Tetapi tempat-tempat itu hampir tak berarti. Padukuhan kecil dan miskin. Padukuhan yang hampir tidak pernah bersangkut paut dengan pemerintahan karena letak dan keadaan penduduknya. Tetapi agak yang ke sebelah Barat, Angger akan menjumpai daerah yang subur. Daerah yang cukup mempunyai kedudukan di daerah Selatan, Prambanan. Di daerah itu pasti juga sudah dilindungi oleh sepasukan prajurit dari Pajang. Sayang aku tidak tahu, siapakah yang berada disana. Ki Gede Pemanahan pasti mengetahuinya. Prambanan adalah kademangan yang hampir sekaya Sangkal Putung. Kalau Angger masuk lebih dalam lagi, maka Angger akan sampai ke hutan Tambak Baya, setelah melewati Candi Sari, Cupu Watu, dan beberapa pedukuhan kecil yang lain. Di sebelah Barat hutan Tambak Baya itulah nanti Angger akan menjumpai hutan belukar yang besar, Alas Mentaok.”

“Apakah belum ada pedukuhan sama sekali di sekitar hutan itu Paman?”

“Ada Ngger. Pliridan, Gumawang, Lipura dan hampir di ujung Selatan, dekat pantai lautan terdapat pula daerah yang sudah mulai subur dan ramai, Mangir.”

“Sutawijaya,” potong Ki Gede Pemanahan, “Untuk apa kau ketahui semuanya itu. Aku sendiri pernah menjelajahi hampir setiap sudut yang berada di dalam wilayah Demak. Aku pernah juga sampai ke tempat-tempat yang disebut-sebut oleh Kakang Sumangkar. Tetapi sekarang ini bukanlah saatnya untuk berbicara tentang Alas Mentaok.”

Sutawijaya terdiam mendengar kata-kata ayahnya. Ia menyadari bahwa ayahnya dan para pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung kini sedang menghadapi tugas yang berat, sehingga pertanyaannya tentang Alas Mentaok pasti hanya akan mengganggu saja.

Setelah Sutawijaya tidak bertanya-tanya lagi, maka segala sesuatu segera mulai dipersiapkan. Untara segera mengatur tempat-tempat penampungan orang-orang Jipang itu, sedang Widura mempersiapkan para prajurit Pajang yang harus menjaga padesan kecil ini. Bukan saja menghadapi setiap orang yang mungkin dapat berubah pendirian selama mereka berada dalam penampungan, tetapi juga terhadap setiap usaha Sanakeling dan Sidanti, untuk mengacaukan keadaan. Adalah mungkin sekali mereka tiba-tiba datang dan membuat keributan. Menghasut orang-orang Jipang yang sudah menyerah atau mengancam mereka, sebab mereka kini sudah tidak bersenjata.

Ketika upacara penyerahan itu telah selesai, serta segala macam persiapan penampungan telah cukup, maka Ki Gede Pemanahan serta para pemimpin prajurit Pajang dan Sangkal Putung pun segera bersiap untuk kembali ke induk kademangan. Ki Gede Pemanahan sendiri telah memberikan beberapa pesan khusus bagi para prajurit Pajang yang bertugas menjaga desa terpencil itu. Bagaimana mereka harus menghadapi orang-orang Jipang yang sudah menyerah itu, dan bagaimana mereka harus menghadapi lawan yang masih tetap memandi senjata-senjata mereka apabila mereka benar-benar datang. Untuk kepentingan itu, maka di sekitar Desa Benda telah diletakkan beberapa pengawas yang harus dapat menilai setiap perkembangan keadaan dengan tepat.

Kepada Sumangkar, Ki Gede Pemanahan berpesan, “Kakang, kalian akan kami tinggalkan. Kakang adalah tetua orang-orang Jipang, Segala sesuatu harus selalu berada dalam pengawasan Kakang. Kakang-lah orang satu-satunya yang dapat langsung berhubungan dengan para prajurit Pajang yang sedang bertugas di tempat ini. Apapun yang kurang serasi menurut penilaian Kakang, maka Kakang akan dapat memberitahukannya kepada para petugas.

“Baik Ki Gede. Kami akan mematuhi perintah itu,” sahut Sumangkar.

Namun ketika Ki Gede Pemanahan akan meninggalkan tempat itu, maka ia masih sempat bertanya kepada Sumangkar, “Di manakah orang yang menamakan diri Kiai Gringsing itu? Apakah ia tidak turut beserta kalian?”

Sumangkar menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak Ki Gede. Orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu tidak bersama kami.”

“Apakah orang itu tidak ingin bertemu dengan aku?

Sumangkar tertegun sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Tidak Ki Gede. Ternyata Kiai Gringsing belum ingin bertemu dengan Ki Gede Pemanahan.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin tertarik kepada nama itu. Kiai Gringsing yang sehari-hari disebut Ki Tanu Metir. Seorang dukun yang cakap mengobati berbagai macam penyakit.

“Baiklah,” berkata Ki Gede Pemanahan. “Lain kali aku mengharap untuk dapat bertemu dengan orang itu.”

“Pesan itu akan aku sampaikan Ki Gede,” sahut Sumangkar.

Dalam pada itu, semua persiapan pun telah selesai. Ki Gede Pemanahan dan para pemimpin beserta sebagian dari prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung akan kembali ke induk kademangan.

Tetapi Sutawijaya tiba-tiba menggamit Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Katanya, “Kita tinggal di sini.”

“Kenapa? “bertanya Agung Sedayu.

“Kita pergi ke Alas Mentaok.”

“Apakah yang menarik di Alas Mentaok itu?” bertanya Swandaru.

“Itulah yang ingin aku ketahui.”

“Apakah Tuan mempunyai kepentingan dengan hutan itu?” bertanya Agung Sedayu pula.

Sutawijaya memandang ayahnya dengan sudut matanya. Kemudian katanya perlahan-lahan, “Tanah itu akan dihadiahkan oleh Adipati Pajang kepada ayah. Aku ingin melihatnya, apakah tanah itu cukup baik untuk dibuka menjadi suatu pedukuhan. Mentaok akan dapat menjadi sebuah tanah perdikan.”

“Agung Sedayu mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi ia pernah mendengar bahwa Mentaok kini masih berupa hutan belantara.

“Aku ikut bersama Tuan,” tiba-tiba Swandaru menyela. Wajahnya yang bulat tampak berseri-seri gembira.

Tetapi wajah Agung Sedayu disaput oleh keragu-raguan hatinya. Sekali-sekali ia memandangi Sutawijaya, namun sesaat kemudian ditatapnya wajah kakaknya yang masih sibuk mengatur barisan bersama pamannya, Widura.

“Aku harus minta ijin Kakang Untara dan Paman Widura lebih dahulu,” berkata Agung Sedayu.

“Uh, kau seperti anak-anak saja,” potong Sutawijaya. “Bukankah kita sudah cukup dewasa? Kalau aku minta ijin pada ayah mungkin ayah akan melarangnya. Kau pun pasti akan dilarang pula. Karena itu maka kita tidak usah minta ijin.

“Mereka pasti akan mencari kita,” berkata Agung Sedayu.

“Biarkan saja mereka mencari kita,” sahut Sutawijaya. “Besok atau lusa, kalau kita kembali, maka mereka akan berhenti mencari.”

“Tetapi apakah Ki Gede akan tinggal beberapa lama di sini?” bertanya Agung Sedayu.

Mas Ngabehi Loring Pasar menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu. Kalau ayah tergesa-gesa kembali ke Pajang, biarlah ia mendahului.”

Agung Sedayu terdiam sejenak. Hatinya dicekam oleh keragu-raguan.

“Kenapa kau selalu ragu-ragu”?” bertanya Sutawijaya “Jangan seperti anak kecil. Kau telah mampu berkelahi melawan Sanakeling yang menurut pengamatanku, apabila perkelahian berlangsung lebih lama lagi, kau akan memenangkan perkelahian itu. Kenapa kau selalu masih harus minta ijin kepada kakakmu?”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Tetapi adalah menjadi kebiasannya untuk berbuat demikian. Bahkan sampai saat ia telah mampu memecah dinding yang mencengkamnya dalam ketakutan, maka kebiasaan itu tidak segera dapat dilupakan.

“Jangan takut,” berkata Swandaru. “Akupun tidak akan minta ijin kepada ayahku. “

Agung Sedayu masih berdiri dalam kebimbangan, sehingga Sutawijaya berkata, “Ayolah. Mau tidak mau kau harus pergi bersama kami.”

Agung Sedayu tidak dapat membantah lagi. Ia harus pergi ke Mentaok bersama Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar dan Swandaru Geni.

“Tetapi kita harus memberi tahukan kepada para penjaga,” gumam Agung Sedayu.

“Ah, bodoh kau,” berkata Sutawijaya. “Kalau mereka tahu dan mereka mengatakannya kepada ayah, maka aku tidak akan diperbolehkannya.”

“Setidak-tidaknya sepeninggalan Ki Gede Pemanahan dari desa ini”

Sutawijaya berpikir sejenak, kemudian katanya, “Baiklah nanti kita memberitahukannya kepada para penjaga.”

Agung Sedayu masih akan mengatakan sesuatu ketika ia mendengar Ki Gede Pemanahan memanggil, ”Sutawijaya. Mari, kita kembali ke induk kademangan.”

Sutawijaya berpikir sejenak. Sekali-sekali dipandanginya wajah Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Hampir-hampir ia kehilangan akal bagaimana ia akan dapat menyelinap meninggalkan barisan itu. Mendengar ajakan itu, Agung Sedayu menjadi senang. Mudah-mudahan Sutawijaya mengurungkan niatnya. Sama sekali bukan karena takut menghadapi bahaya di sepanjang jalan, tetapi dengan demikian kakaknya akan memarahinya.

Tiba-tiba Agung Sedayu kecewa ketika ia mendengar Sutawijaya menjawab, “Aku akan tinggal di sini sebentar ayah. Aku akan segera menyusul.”

Ki Gede Pemanahan memandanginya dengan penuh pertanyaan, bahkan orang tua itu menjadi curiga. Katanya, “Apalagi yang akan kau lakukan?”

Sutawijaya tertawa, jawabnya, “Aku hanya akan beristirahat sebentar ayah. Bukankah di sini sudah ada sepasukan prajurit Pajang? kalau terjadi sesuatu, maka mereka pasti akan dapat melindungi aku.”

“Tetapi jangan terlampau lama Sutawijaya,” berkata ayahnya. “Meskipun jarak induk Kademangan Sangkal Putung dan desa ini tidak terlampau jauh, namun di tengah-tengah bulak itu dapat bersembunyi segala macam bahaya.”

Sekilas terasa pula oleh Sutawijaya kekhawatiran ayahnya tentang dirinya di daerah yang ternyata masih diliputi oleh bahaya itu. Bahaya yang kini datang tidak saja dari orang-orang Jipang, tetapi lebih-lebih lagi adalah hantu lereng Merapi yang bernama Tambak Wedi. Namun Sutawijaya itu berpikir “Tambak Wedi itu pasti sudah pergi jauh-jauh. Setidak-tidaknya hari ini ia tidak akan datang kembali kemari. Kalau besok ia datang, maka aku sudah berada di Alas Mentaok. Mudah-mudahan nanti apabila aku kembali aku tidak menemuinya dan hantu itu tidak mengetahui bahwa aku pergi ke Alas Mentaok.”

Sutawijaya itu terkejut ketika ia mendengar suara ayahnya kembali, “He, Sutawijaya, bagaimana? Jangan terlalu lama, kau dengar?”

“Ya, ya Ayah,” jawabnya tergagap. “Aku tidak akan lama disini”

“Jangan memberi aku bermacam-macam pekerjaan lagi,” berkata Ki Gede Pemanahan pula. “Aku sudah terlalu letih.”

“Baik ayah,” sahut Sutawijaya.

Ki Gede Pemanahan itu pun kemudian bersama-sama dengan Untara, Widura dan para pemimpin Pajang dan Sangkal Putung yang lain pergi meninggalkan desa kecil itu. Mereka akan kembali ke induk kademangan, dan Ki Gede Pemanahan bermaksud bermalam di Sangkal Putung semalam, sambil menunggu persiapan orang-orang Jipang dan pasukan pengawal yang akan membawa mereka ke Pajang. Tetapi keadaan kini telah berkembang menjadi bertambah sulit. Ketika Untara mengetahui, bahwa Ki Tambak Wedi ternyata bergerak terlampau cepat, maka ia harus memperhitungkan keadaan. Baik yang akan pergi mengawal orang-orang Jipang bersama Ki Gede Pemanahan, maupun yang akan ditinggalkan di Sangkal Putung. Jangan sampai Ki Tambak Wedi dapat memanfaatkan keadaan itu. Keadaan di mana pasukan Pajang sedang terbagi. Ki Tambak Wedi yang cerdik itu akan dapat menghadang rombongan ke Pajang atau menusuk jantung Sangkal Putung yang sedang ditinggalkan oleh sebagian dari para pengawalnya mengantar orang-orang Jipang ke Pajang.

Karena itu semuanya, maka Untara harus berpikir lebih masak lagi.

Sutawijaya dan kedua kawan-kawan barunya itu memandangi pasukan yang berjalan meninggalkan desa Benda. Semakin lama semakin jauh. Sejalan dengan itu, maka hatinya pun menjadi semakin gembira pula. Katanya berbisik kepada Agung Sedayu dan Swandaru. “Nah, kita segera berangkat. Jangan menunggu matahari terlampau rendah. Mungkin kita harus bermalam beberapa malam di perjalanan.”

“Marilah,” terdengar Swandaru yang menyahut.

“Kau masih ragu-ragu,” bertanya Sutawijaya kepada Agung Sedayu.

“Aku tidak meragukan perjalanan yang akan kita lakukan, tetapi bagaimana Kakang Untara setelah mengetahuinya?”

“Aku yang bertanggung jawab,” potong Sutawijaya. “Kalau ia marah, biarlah ia marah kepadaku.”

Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Ketika kemudian Sutawijaya berjalan kembali ke gardu di ujung desa, kedua anak muda murid Ki Tanu Metir itu mengikutinya di belakang.

“Apakah kita akan pergi berkuda atau berjalan kaki?” bertanya Swandaru.

“Mana yang lebih baik?,” Sutawijaya minta pertimbangan.

Mereka terdiam sejenak. Menilik jarak yang harus mereka tempuh, maka kuda akan membantu mereka, tetapi mengingat hutan-hutan yang mungkin terlampau sulit ditembus, maka lebih baik bagi mereka apabila mereka berjalan kaki. Sebab kuda-kuda mereka pasti hanya akan mengganggu di sepanjang perjalanan di hutan-hutan belukar itu.

Ketika kedua kawannya tidak menyahut, maka Sutawijaya itu pun akhirnya memutuskan “Kita berjalan kaki. Mungkin kita akan memerlukan waktu seminggu. Tetapi kita pasti akan sampai. Tetapi apabila kita pergi berkuda, maka kita akan terhalang di hutan-hutan belukar atau kita akan melepaskan kuda-kuda kita. Mungkin kuda-kuda kita itu akan diterkam oleh binatang-binatang buas. Karena itu lebih baik kita berjalan kaki.”

“Baik,” sahut Swandaru Geni, “Kita berjalan kaki. Bagaimana kakang Agung Sedayu?”

Meskipun hatinya masih ragu-ragu, namun Agung Sedayu menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baik. Kita berjalan kaki.”

“Nah, kita berangkat sekarang. Kita akan masuk ke hutan di hadapan desa Benda ini dan menyeberanginya. Kita harus keluar dari hutan itu sebelum senja.”

“Tidak mungkin,” potong Agung Sedayu, “Lihat, matahari telah terguling ke Barat. Meskipun hutan itu tidak begitu lebat, tetapi hutan itu cukup luas.”

“Ah, persetan,” gumam Sutawijaya kemudian, “Apakah kita akan menembus hutan itu senja nanti atau apakah kita akan berjalan di malam hari, kita tidak usah meributkannya. Marilah kita pergi.”

“Ingat, Tuan, kita sebaiknya memberitahukan kepergian ini kepada para penjaga, supaya Ki Gede Pemanahan, Ki Demang Sangkal Putung dan Kakang Untara mendapat gambaran, berapa hari kita akan kembali,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Sutawijaya berpikir sejenak, kemudian ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik,” katanya, “aku akan berkata kepada pemimpin pengawal.”

Sutawijaya itu pun kemudian pergi ke gardu penjaga. Kepada seorang prajurit Sutawijaya bertanya, “Siapa pemimpin pengawal di sini?”

“Kakang Sendawa, Tuan,” sahut penjaga itu. “Ia berada di rumah sebelah. Rumah itu dipakai sementara untuk memimpin pengawalan desa ini.”

Sutawijaya mengangguk-angguk. Namun, tiba-tiba ia berkata, “Katakan kepadanya, aku akan pergi ke Alas Mentaok.”

“He?” prajurit itu terkejut, sehingga matanya terbeliak.

Tetapi Sutawijaya pun menjadi heran pula melihat prajurit itu memandangnya dengan pandangan yang aneh, sehingga terloncat pertanyaan dari bibirnya, “Kenapa kau memandangku seperti melihat hantu?”

“Tuan,” bertanya prajurit itu, “apakah aku tidak salah dengar? Apakah benar Tuan akan pergi ke Alas Mentaok?”

“Ya, kenapa?” jawab Sutawijaya.

“Alas Mentaok itu terletak di sebelah Barat hutan Tambak Baya, Tuan.”

“Ya, aku sudah tahu. Aku akan berjalan terus ke Barat. Aku akan melewati Prambanan, Candi Sari, Cupu Watu dan hutan Tambak Baya. Kenapa?”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Telah Terbit on 26 September 2008 at 07:09  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-16/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. saya jagain jakarta mas..
    siap aja disuruh ngapain 😀

    D2: Gimana kalau handel BENDE MATARAM. Ini juga cersil berlatar Jawa. Bahannya komplit ada yang mau share tuh. Itu tuh orangnya di bawah. Kalau OK, kontak langsung aja ke dianya.

  2. Mas Dhe dhe aku juga ga pulkam, jadi siap bantu retype

    D2: Serius neh. Soalnya ada tuh dokumen kami yang memang harus diretype karena kualitas scannya kurang bagus. Kalau OK, bahan kukirim segera.

  3. Met Lebaran,
    Daku sih ikutan mudik neh…
    btw tararengkyu ke semua yang ikut andil di ADBM ini n sori belum bisa nyumbang apa2, baru ikutan baca aja.
    Minal ‘aidin wal faidin – mohon maaf lahir batin.
    Nuhun ka sadayana utamina ka kang DD.

    • dawah sami-sami ki

      • minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, sedoyo lepat nyuwun pangapuro kalih nyuwun arto

  4. Bende Mataram ya mas… ??
    Kalo boleh milih.. aku pengen Dewi Sri Tanjung, dengan ajian Netra Luyup nya. Tau cerita ini mas ?

    Japri aja ato YM-an ya.. suwun.
    Sukra mo ke pakiwan lagi. 😉

    • hihaaaaa
      ki nin pengen dewi sri tanjung

  5. meski mudik..
    insyaAllah masih tetep bisa bantu

    tapi jangan kejar tayang ya… 🙂

    met lebaran DD & adbm-ers semua.
    mohon maaf atas segala khilaf & salah

    bensroben@gmail.com

  6. Siap Mas Dhe dhe, kirim aja bahan dan petunjuknya

    D2: Bahan udah dikirim. Petunjuk: Retype

  7. Mas Dhe dhe,

    Saya juga cuma jagain jakarta, siap nih tuk retype or anything…….

    Tuk yang merayakan Idul Fitri, saya pribadi ucapkan Selamat Idul Fitri, semoga ibadahnya di bulan puasa diterima oleh Tuhan YME. Bagi yang mudik, hati-2 dalam perjalanan.

  8. Komandan (DD) dan ADBMer, kali ini saya gak mudik, jaga jakarta biar gak sepi2 amat..Maka berilah daku tugas2 terus!

    Bende Mataram (Herman Patikto) memang Cersil Jawa, menurutku nggak sedahsyat ADBM or NSSI (SHM), meskipun diakui mempunyai segmen penggemar tersendiri.

    Tapi, menarik juga kan ada misi “lain” yg lebih mulia..Nguri-uri sastra jawa sekaligus mendokumentasikan dalam bentuk “maya”, ini suatu usaha berbasis pengorbanan yang tentunya berazaskan nirlaba
    Bravo DD!

    • karya-karya ki herman memang berusaha ‘jawa’, tapi karena selalu mengacu kepada ching yung maka banyak bagian yang kedodoran

  9. mana tugas untuk saya?
    mumpung belum lebaran..
    ditunggu..

    D2: Tugas dah dikirim

  10. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H untuk seluruh pemrakarsa upload & penikmat Cerita ADBM. Semoga semua sehat selalu… Amin.. Btw, kalau cerita Sawer Wulung, karangan S. Djati Laksana, bagaimana, saya ada bukunya?

    D2: Kita sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar yaitu cersil Indonesia. Jadi, sepanjang cersil dan Indonesia akan ditampung.

  11. Mas Dhe dhe, tugas dah aku kembaliin.
    siap tugas selanjutnya
    And untuk semua penikmat blog ini
    “Selamat Hari Raya Idul Fitri”
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    D2: Siiip. Bahan selanjutnya dah dikirim

  12. Tugas dah aku kembalikan……., siap tuk tugas selanjutnya……

    D2: Thanks

  13. makasih banget ya adbm nya, mengingatkan aku waktu masih kanak-kanak, jilid pertamanya sekitar ketika aku sd kelas 3 s/d 6, ya tahun 1968-1971, sudah lama banget, jadi lupa-lupa ingat, tamat nya juga kapan aku lupa, pokoknya jilid nya seratusan lah, dan terbitnya klo nggak salah sebulan sekali, jadi nunggunya luamaaaaa buanget, kadang klo aku pulang ke jateng (aku di surabaya) waktu lewat sekitar menoreh, kadang mencari cari dimana ya alas mentaok itu, dimana ya sangkal putung itu, dimana ya jati anom dst dst, gimana klo diadakan napak tilas jalur nya adbm, sapa tahu nemu cambuknya kyai gringsing.
    sekali lagi makasih,

    D2: Sangkal Putung, Jati Anom (Jatinom), dan Prambanan masuk wilayah Klaten sekarang. Alas Mentaok kini menjadi Kota Gede, Yk (mohon koreksi kalau salah).
    salam,
    ariyanto surabaya

  14. Tugas yang Mas Dhe dhe berikan sudah selesai dan aku kirimkan.
    Tugas selanjutnya ………

    D2: Thanks

  15. Seneng sekali bergabung dgn ADMers. Saya penggemar setia cersil jawa, & yg lagi intens saya ikuti salah satunya cerita ini (ADBM).

    MOhon kalo ada yg punya Alap-Alap Laut Kidul bisa dishare juga. Tks

    D2: Mas Aryo sendiri punya apa?

  16. SMS tetangga:
    “Hidup ini bentar. “Bentar happy”, “bentar sedih”. “Bentar marah”, “bentar baikan”. “Bentar senyum”, “bentar cemberut”… Eh “bentar lagi lebaran”….

    Buat semua-muanya aza: Selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

    DD

  17. BUAT TIM SCANNER: CATATAN DAN USUL
    1. Mas Julius, tadi Mas Herry mengirim contoh hasil scan dalam bentuk JPG ke saya. Hasilnya bagus, cuma ukuran filenya ngudubilah besarnya (1 halaman 1800 KB). Kalau 1 buku bisa 70-an MB dong. Lalu ingat mungkin bisa diresize dan saya iseng coba-coba. Eh hasilnya hampir sama dengan aslinya, sedangkan ukuran file bisa dikurangi menjadi hanya 200 kb atau bahkan 80 kb. Saya kira prosedur ini bisa diterapkan.
    2. Dalam proses penayangan kami memerlukan baik file teks maupun JPG. File teks untuk memudahkan proses editing, file JPG untuk proofing. Melalui scan kita bisa memperoleh dua jenis file tsb. Jadi alangkah baiknya jika setiap buku discan 2 kali: sekali untuk mendapatkan file JPG, sekali untuk teks file. Agar tidak mengubah2 seting scanner, mungkin bisa dibagi, siapa saja yang menyecen untuk file JPG saja dan siapa saja yg untuk teks saja. Dengan cara seperti ini, proses konversi bisa ditiadakan.

    Demikian semoga bermanfaat.

    DD

  18. Tugas dah diterima, siap dikerjakan……..

  19. Sedulur,
    ngaturake Sugeng Riyadi
    Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  20. Mas DD dan kawan-kawan semua,
    Saya dan keluarga mengucapakan “Minal Alidin wal Faidzin” – mohon maaf lahir dan batin.
    Bagi kawan2 yang mudik, agar tetap berhati2 dalam perjalanan sampai ke rumah dan kembali ke tempat kerja.
    Semoga blog ini makin seru dan akan selalu diringukan para fans.
    Salam,
    Ubaid dan keluarga

    D2: Sama2. Aku kira Mas Ubaid ikut menghilang bersama Mas Rizal. Selamat bergabung deh.

  21. Hehe .. kok salah ketik ya.
    Bukan Minal Alidin.. tapi Minal Aidin…
    Mohon dimaafkan.. soalnya saya ngetik sambil ndlosor, sekali2 tolah toleh nungguin baby..

  22. Met Lebaran 1429 H Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir batin.

  23. Dalam rangka mempercepat penayangan ADBM, kami berencana meningkatkan kecepatan menjadi 2 JPM (jilid per minggu). Gelar SAPIT URANG akan kita pakai. Sapit kanan bertugas menayangkan ADBM Jilid Genap dan kiri Jilid Ganjil. Untuk itu kami memerlukan satu orang lagi untuk diserahi tugas menjadi senopati pengapit kiri. Persyaratan:
    1. memahami EYD dengan baik
    2. pernah terlibat dalam proses editing-proof reading.
    3. memiliki kesanggupan untuk mengkoordinir pasukan dan penayangan ADBM 1 JPM.
    Bagi yang bersedia dipersilakan ngacung. Admin kami akan menghubungi Anda.

    DD

  24. Tugasnya selanjutnya ……….

  25. Bukan menghilang mas… cuman pas kemarin2 lebih banyak di laut kebagian piket. Kawan yang seharusnya gantian kerja lagi kena masalah medis.
    Eeh ga tahunya blog ini jadi hebat. Tapi istri di rumah yang selalu ngecek dan kirim email lanjutannya ADBM. Seneeng banget ketemu obatnya.
    Penginnya ikut bantu biar lebih banyak tayang, tapi sementara nunggu 1-2 bulan ke depan dulu deh. Sementara ini jadi penikmat dulu disela2 momong anak. Maklum kurang tidur.
    Tetapi jika ada jilid yg agak jauh, barangkali bisa dikirim dulu, yang penting ga masuk target jarak dekat.

  26. Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  27. lanjutannya mana ???

  28. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadoken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinten kemawon cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  29. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadosaken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinteno kemawon b, cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  30. Mas …. mas …… saya pengin baca tapi nggak bisa caranya gimana sih. tks

  31. sip banget .. dulu baca ADBM pas SD.. nggak urut cos bongkar2 gudang mbacanya… pernah baca cerita lumayan seru.. judulnya lupa tapi ada tokoh misteriusnya” LUKIR LUDIRO” kalo nggak salah…. ada yang tau ndak ya…

  32. perkenalkan,
    saya juga fans adbm, sejak 1974 sudh baca adbm seri 1 dari buku alm bapak saya (selain pelangi).
    dan sangat bersyukur ternyata adbm ada web sitenya (walaupun tidak semua jilid di upload).
    hanya ada kekecewaan saya, setelah baca adbm mulai seri 2, dimana tidak ada lagi kalimat, pernyataan untuk beribadah/bersuci seperti di seri 1 (terutama nomor-2 awal).
    kedua, memang perlunya napak tilas nih, dari jati anom, dukuh pakuwon, sangkal putung, alas mentaok dan perdikan menoreh, kali aja kitab rontal empu windujati dan empu pahari ditemukan , apalagi goa ki sadewa mengukir ilmunya di dinding goa … hehehehehe
    sekali lagi terima kasih sehingga adbm tetap eksis.

  33. Asiiiikkkkkkk,
    Mentaok, lewat Prambanan, Kalasan,
    isa mampir tuku ayam goreng si mBok.

    • ki gembleh ra mampir bu tjitro ta ?

      • mBoten Ki,
        mampire wonten pinggir selokan Mataram,
        Yu Djum.

        • yu djum ?
          gudeg kendile muanteb iku ….
          nek sing besek meriah 😉

          • kalo sempat ki Gembleh, ki AS mampir sebentar ning Boe Jah,
            ana menu spesial KI…..maknyus,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: