Buku 16

“Pertanyaan Ki Gede Pemanahan adalah pertanyaan yang sewajarnya,” berkata Sumangkar itu kemudian. “Kecurigaan dan prasangka Ki Gede pun beralasan. Tetapi perkenankanlah aku mencoba menjelaskan–

“Ki Gede, ketika aku melihat api yang menyala di desa ini, aku menjadi bercuriga. Bukan saja aku sendiri, tetapi hampir seluruh orang-orang Jipang menjadi bimbang. Apakah sebenarnya yang telah terjadi. Apakah api itu suatu pertanda bahwa Pajang membatalkan perjanjian. Maksudku, Pajang membatalkan niatnya untuk menerima kami kembali? karena itulah maka aku mencoba untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Ternyata dari balik gerumbul-gerumbul itu aku melihat Sidanti, Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda berlari-lari meninggalkan desa ini. Bukankah dengan demikian menjadi jelas, bahwa yang melakukan pembakaran ini pasti Sidanti dan orang-orangnya? Seterusnya aku menyangka, bahwa di belakang Sidanti pasti ada Tambak Wedi. Dan apakah dugaan itu meleset?–

“Tentang bulak jagung Ki Gede, memang aku telah mendengarnya lebih dahulu sebelum aku bertemu dengan Ki Gede.”

“Dari siapa Kakang mendengar?” bertanya Ki Gede Pemanahan

“Kiai Gringsing.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Nama itu masih asing baginya. Meskipun ia pernah mendengarnya sekali dua kali disebut-sebut oleh Untara, namun nama itu sama sekali tidak mendapat perhatian yang khusus dari padanya. Tetapi Untara, Widura apalagi Agung Sedayu dan Swandaru terkejut mendengar nama itu disebut oleh Sumangkar. Bahkan dengan serta merta Untara bertanya, “Apakah Kiai Gringsing sekarang berada di sana?”

“Ya,” sahut Sumangkar, “Kiai Gringsing berada di antara orang-orang Jipang yang akan menyerah.”

“Siapakah orang itu?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Kiai Gringsing Ki Gede. Seorang dukun dari dukuh Pakuwon. Nama yang dipergunakannya sehari-hari adalah Ki Tanu Metir,” sahut Untara.

Wajah Ki Gede Pemanahan masih berkerut-kerut. Nama Tanu Metir itu pun tak dikenalnya. Tetapi adalah menarik perhatian bahwa orang yang bernama Ki Tanu Metir itu dapat berada di kedua belah pihak. Maka kembali ia bertanya, “Untara, apakah dukun yang bernama Ki Tanu Metir itu sering berada di Sangkal Putung dan sering berada di dalam laskar orang-orang Jipang?”

“Tidak Ki Gede,” jawab Untara. “Dukun tua itu selalu berada di Sangkal Putung. Dukun itu pulalah yang telah menyembuhkan lukaku sampai dua kali. Namun dalam persoalan ini, persoalan penyerahan orang-orang Jipang ini. Ki Tanu Metir-lah yang seolah-olah menjadi perantara. Aku minta orang tua itu membuka jalan antara orang-orang Jipang itu dan Sangkal Putung.”

“Apakah orang itu dapat dipercaya?” bertanya Pemanahan pula.

“Sepengetahuanku Ki Gede, dan menurut tanggapanku maka aku mempercayainya,” jawab Untara.

“Tetapi kenapa ia sekarang berada di sana?”

Untara tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Ia memang mencari orang tua itu sejak ia kembali dari bulak jagung, tetapi ia tidak sempat menemukannya. Ternyata Ki Tanu Metir itu telah berada di antara orang-orang Jipang.

“Ki Gede,” Sumangkar-lah yang kemudian menjawab pertanyaan Ki Gede Pemanahan itu, “Kiai Gringsing datang dengan membawa pertanyaan seperti yang tersimpan di dalam hati Ki Gede. Kiai Gringsing bertanya, kenapa kami telah berbuat curang, mencegat Ki Gede di bulak jagung. Namun kecurigaan Kiai Gringnsing dapat segera terhapus setelah ia melihat persiapan kami. Apalagi Kiai Gringsing sendiri melihat pertentangan pendapat antara aku dan Sanakeling pada saat kami menentukan sikap ini. Dengan demikian maka Kiai Gringsing segera memaklumi, bahwa pasti Ki Tambak Wedi-lah yang telah berbuat onar itu dengan maksud-maksud tertentu tanpa sepengetahuanku.”

Kembali wajah Ki Gede menjadi berkerut-kerut. Dicobanya untuk dapat mengerti penjelasan Sumangkar itu. Tetapi karena Ki Gede Pemanahan belum tahu benar tentang orang yang bernama Kiai Gringsing, maka kepada Untara ia bertanya, “Untara, bagaimanakah tanggapanmu tentang Kiai Gringsing itu? Apakah keterangan Sumangkar tentang orang yang bernama Kiai Gringsing itu dapat kau benarkan, setidak-tidaknya menurut anggapanmu hal itu dapat terjadi atasnya?”

Untara menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia harus mengatakan tanggapannya tentang Kiai Gringsing menurut penilaiannya. Maka jawabnya, “Menurut keadaan yang pernah aku saksikan Ki Gede, maka Kiai Gringsing itu memang mungkin dapat berbuat demikian.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kalau kau dapat menganggap bahwa Kiai Gringsing memang dapat berbuat demikian, dan apabila kau percaya kepada Kiai Gringsing, maka aku dapat mempercayai sebagian besar dari ceritera Kakang Sumangkar.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia kini telah di-bebaskan dari sebuah hukuman yang mengerikan.

Namun dalam pada itu kembali ia mendengar Ki Gede Pemanahan bertanya pula kepadanya, “Tetapi apakah kau benar-benar dapat melihat Sidanti dan Sanakeling berlari-lari dari gerumbul sejauh itu?”

“Tidak Ki Gede,” jawab Sumangkar. “Aku tidak melihat dari jarak itu. Tetapi aku menyelinap ke gerumbul-gerumbul yang lebih dekat di sebelah desa ini,” Sumangkar berhenti sejenak, kemudian dilanjutkannya, “Kiai Gringsing juga ikut serta melihatnya, dan Kiai Gringsing membenarkan penglihatanku bahwa orang yang berlari-lari dari desa ini adalah Sidanti.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Untara dan Widura ia bertanya, “Untara dan Widura yang memegang tanggung jawab sepenuhnya atas Sangkal Putung, bagaimana pertimbanganmu?”

Kembali dada Untara dan Widura dilanda oleh ke ragu-raguan. Tetapi kembali mereka berkata seperti kata hati mereka, “Ki Gede, kami dapat mempercayainya sampai sekian.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada Sumangkar, “Mana orang-orangmu yang lain? Apakah kau hanya akan menyerah dengan duapuluh lima orang ini?”
“Tidak Ki Gede,” sahut sumangkar. “Berdasarkan berbagai pertimbangan, menurut Kiai Gringsing, yang ternyata aku temui, yaitu kecurigaan para pemimpin Pajang atas diri kami, maka aku mengambil sikap seperti yang dikehendaki oleh Kiai Gringsing, untuk meyakinkan para pemimpin Pajang atas kehendak baik kami. Kami datang bersama-sama senjata-senjata kami. Sesudah itu, maka segera akan menyusul orang-orang kami apabila segala kesalahpahaman sudah diatasi.”

Sekali lagi Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tertarik benar kepada orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing. Ia ingin bertemu dan berbincang tentang beberapa hal dengan orang itu. Apa yang didengarnya dari Sumangkar dan Untara seolah-olah telah memberikan kepadanya gambaran tentang seorang dukun tua yang memiliki beberapa kelebihan dalam menanggapi berbagai persoalan. Bahkan orang tua itu telah dengan cepat dapat mengambil sikap untuk menyelamatkan rencana penyerahan yang akan dilakukan oleh orang-orang Jipang.

“Kakang Sumangkar,” berkata Ki Gede Pemanahan itu pula. “Telah sampai saatnya Kakang membawa orang-orang Kakang itu kemari. Apakah Kiai Gringsing akan kembali ke Sangkal Putung bersama dengan orang-orang Jipang?.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku tidak tahu Ki Gede. Aku tidak tahu apakah Kiai Gringsing akan bersama-sama dengan kami.”
“Baik. Kalau demikian, datanglah bersama laskarmu,” berkata Ki Gede Pemanahan.

“Terima kasih Ki Gede. Aku akan kembali menjemput mereka di belakang gerumbul-gerumbul itu. Mereka menunggu apakah mereka dapat datang tanpa kesulitan.”

“Kami telah berjanji,” berkata Ki Gede “Kalau kalian tidak berbuat sesuatu, maka kami akan menepati janji itu.”

“Terima kasih Ki Gede,” sahut Sumangkar sambil membungkukkan badannya. “Kini perkenankanlah aku menjemput orang-orang kami.”

“Silahkan Kakang.”

Sumangkar itu pun kemudian melangkah beberapa langkah mundur. Ia masih melayangkan pandangan matanya beredar pada dinding-dinding halaman desa Benda yang kecil. Ia melihat ujung-ujung tombak dan pedang di balik dinding-dinding itu. Dan di sana-sini ia melihat prajurit Pajang bertebaran dalam kelompok kecil di luar dinding.”

Kemudian setelah ia memutar tubuhnya ia berkata kepada orang-orang Jipang yang masih berdiri di samping onggokan senjata yang mereka bawa, “Kalian tetap di sini. Aku akan menjemput kawan-kawan kalian.”

Orang-orang itu pun mengangguk sambil menyahut, “Baik, Kiai.”

Sumangkar pun segera berjalan tergesa-gesa meninggalkan orang-orangnya yang berdiri tegang kaku. Seolah-olah mereka jadi membeku. Tak seorang pun yang berani menggerakkan ujung jarinya sekalipun.

Orang-orang Sangkal Putung dan para prajurit Pajang memandangi orang-orang itu dengan sorot mata yang aneh. Bahkan salah seorang anak muda Sangkal Putung bergumam lirih, “Hem. Berapa orang anak-anak muda Sangkal Putung yang pernah dilukai oleh mereka, dan bahkan dibunuhnya.”

Kawannya yang berdiri di sampingnya berpaling. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kenapa kita tidak menghancurkan mereka itu saja di sarang mereka?”

Kawannya yang lain menyahut, “Sungguh menyenangkan. Sesudah tangannya berlumuran darah kami, mereka datang untuk berjabat tangan dengan tangan-tangan kami. Dan kami pun harus menyambut uluran tangan berdarah itu. Huh.”

Anak-anak muda Sangkal Putung itu pun kemudian terdiam ketika mereka melihat seorang prajurit Pajang berjalan di belakang mereka. Kini mereka berdiri mematung di dalam pagar batu yang membatasi desa Benda. Mereka masih melihat Sumangkar itu pun hilang di balik gerumbul-gerumbul yang rimbun.

Ketika salah seorang dari mereka ingin berkata pula, maka ia pun terdiam ketika ia melihat Ki Gede Pemanahan melangkah maju mendekati orang-orang Jipang yang berdiri kaku di samping onggokan-onggokan senjata mereka.

“He,” berkata Ki Gede Pemanahan kepada salah seorang dari mereka, “Siapa namamu?”

Orang itu menjadi berdebar-debar. Tergagap ia menjawab, “Suradapa. Suradapa Ki Gede.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengulangi nama itu. “Suradapa. Nama itu bagus sekali,” orang Jipang itu menundukkan kepalanya.

“Apakah kau sudah beristeri?”

“Sudah Ki Gede.”

“Berapakah anakmu?”

“Waktu aku tinggalkan isteriku, anakku ada delapan Ki Gede,” orang itu berhenti sejenak, lalu meneruskan, “Sekarang mungkin anakku telah menjadi sepuluh”

“He?” Ki Gede terkejut “Berapa lama kau meninggalkan isterimu. Apakah isterimu beranak kembar?”

“Tidak, Ki Gede.”

“Kenapa bertambah dengan dua sekaligus?”

“Isteriku sama-sama sedang mengandung tua pada saat aku pergi”

“Berapa isterimu?”

“Dua, Ki Gede.”

Ki Gede Pemanahan terseyum. Ditepuknya bahu orang Jipang itu sambil berkata, “Hem. Kau terlampau kurus untuk beristeri dua. Tetapi kau memang kaya akan anak. Tetapi kenapa kau menyerah?”

Orang itu menundukkan kepalanya. Ia mendapat kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu. Ya, kenapa ia menyerah? Ia mendengar Sumangkar berkata, bahwa pertempuran-pertempuran yang akan terjadi kemudian hampir tak akan berarti apa-apa, selain kerusuhan, pembunuhan dan penaburan benih-benih dendam di mana-mana. Karena itu ia mencoba menirukan kata-kata Sumangkar. “Ki Gede,” tetapi ia tidak ingat kalimat-kalimat yang harus diucapkannya. Maka ia meneruskan “Aku kepingin melihat anak-anakku dan kedua bayi yang belum pernah aku lihat.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Apakah tanpa menyerahkan diri, kau tidak dapat melihat anak-anakmu itu.”

Orang itu menggeleng. “Tidak Ki Gede,” jawabnya, “Desa kami sudah dikuasai oleh prajurit Pajang.”

“Kalau demikian, apakah sesudah kau berhasil melihat anak-anakmu kau akan kembali melarikan diri memihak kenada Sanakeling dan Sidanti?”

“Tidak Ki Gede, tidak,” sahutnya cepat-cepat. “Aku akan tetap menyerah untuk seterusnya, sebab aku tidak ingin lagi berperang. Aku sudah jemu berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu hutan ke hutan yang lain. Aku sudah jemu mengalami masa yang pahit itu. Makan dari hasil rampasan dan pemerasan.”

“Bagaimana kalau kau memenangkan peperangan ini?” tiba-tiba terdengar pertanyaan yang tidak disangka-sangkanya. Pertanyaan yang tidak tahu bagaimana ia harus menjawabnya. Karena itu maka orang Jipang itu menjadi pucat dan gemetar.

“Bagaimana kalau kau menangkan peperangan ini,” desak Ki Gede Pemanahan, “Apakah aku akan kau gantung, kau cincang atau kau angkat menjadi pepatih Jipang?”

Orang itu menjadi semakin pucat. Ia tidak tahu bagaimana ia menjawab. Keringatnya tiba-tiba semakin banyak membasahi tubuhnya, tetapi keringat yang dingin.
Beberapa orang anak muda Sangkal Putung mendengarkan percakapan itu dari sudut desa. Mereka sengaja memerlukan memperhatikan setiap patah kata yang diucapkan oleh Ki Gede Pemanahan dan jawaban yang diucapkan oleh orang-orang Jipang itu. Tetapi orang Jipang itu masih belum menjawab. Kepalanya semakin tunduk dalam-dalam dan dadanya serasa menjadi kian sesak.

“Suradapa,” berkata Ki Gede Pemanahan, “sebelum Adipati Jipang memenangkan perang ini, ia telah melakukan serangkaian pembunuhan-pembunuhan untuk menyingkirkan lawan-lawannya yang mungkin akan menjadi perintangnya menuju ke Singgasana Demak. Meskipun aku tahu, bahwa pengaruh pengikut-pengikutnya banyak mendorongnya melakukan perbuatan yang tidak terpuji itu. Nah, apakah kira-kira yang akan dilakukan kalau ia kemudian benar-benar menguasai Demak? Adipati Pajang pasti akan terbunuh. Aku, Ki Juru Mertani, Ki Penjawi, Ki Wila, Ki Wuragil dan para senapati prajurit. Bandingkan sikap Adipati Jipang itu dengan sikap Adipati Pajang. Mungkin Arya Penangsang sendiri tidak ingin berbuat demikian. Tetapi kekuasaan-kekuasaan yang ada di bawahnya itulah yang telah menjerumuskannya. Sekarang, Adipati Pajang bersikap lain. Ia tidak menaburkan dendam yang tersimpan di hati. Bahkan ia mencoba mencari jalan supaya pertentangan ini berakhir tanpa pertumpahan darah lebih banyak lagi. Apakah ini dapat kau mengerti dan kau rasakan?”

Orang itu masih menundukkan kepalanya. “Ya Ki Gede,” suaranya menjadi sesak parau.

“Yang lain bagaimana? Apakah kalian dapat juga mengerti perbedaan itu?”

“Ya Ki Gede,” hampir serentak mereka menjawab.

“Kalau begitu, tularkan pengertian itu kepada kawan-kawanmu. Kepada keluargamu, kepada siapa saja yang kau temui. Supaya mereka dapat menilai keadaan sebaik-baiknya. Tetapi ingat, bahwa ini bukan berarti melepaskan setiap hukuman bagi yang bersalah, tapi hukuman itu pasti akan berlandaskan pada dasar yang kuat dan adil.”

Orang Jipang itu dapat memahami sepenuhnya kata-kata Ki Gede Pemanahan. Ia pernah mendengar pula ucapan-ucapan seperti itu dari pemimpin-pemimpinnya. Ia tidak akan menyesal akan hukuman yang harus dijalani. Tetapi ia tahu pasti kapan hukumannya itu akan berakhir. Dan ia tahu pasti, bahwa menilik sikap dan perbuatan para pemimpin prajurit Pajang, maka setiap hukuman pasti akan dilakukan di atas dasar-dasar peri-kemanusiaan yang adil dan tidak melanggar pancaran sinar cinta kasih dari Tuhan yang Maha Besar.

“Ya Tuhan Maha Besar dan Maha Murah,” orang Jipang itu terkejut mendengar suara angan-angannya sendiri. Sudah terlampau lama ia tidak sempat mengucapkannya. Tiba-tiba kalimat itu diulang-ulangnya di dalam hati “Tuhan Maha Besar dan Maha Murah” dan hatinya pun menjadi tenteram. Seandainya orang-orang Pajang ingkar janji, memotong kepala mereka seperti menebas ilalang karena mereka sudah tidak bersenjata, maka kini ia telah menemukan ke-damain abadi di dalam dirinya. “Tuhan Maha Besar dan Maha Murah.”

Orang Jipang itu mengangkat kepalanya ketika ia mendengar Ki Gede Pemanahan bertanya, “Kenapa kau tepekur? Apakah kau menyesal mendengar bahwa kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu berdasarkan hukum yang berlaku?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Ketika ia mengangkat wajahnya Ki Gede Pemanahan menjadi heran. Wajah itu telah menjadi berbeda benar dengan wajah sebelumnya. Dengan tatag dan teguh ia menjawab, “Tidak Ki Gede. Aku akan melakukan setiap hukuman. Hukuman kerja paksa ataupun kami sekeluarga harus menyingkir dari Demak untuk tinggal di daerah-daerah terpencil. Di hutan-hutan Mentaok atau di hutan-hutan sekitar Pati, Kami tidak akan selak meskipun kami akan dihukum mati.”

“He?,” berkata Ki Gede Pemanahan heran. “Sikapmu tiba-tiba berubah. Apakah yang terjadi di dalam dirimu?”

“Aku menemukan ketenangan di dalam menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Murah.”

Ki Gede Pemanahan menepuk bahu orang Jipang itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Kau telah menemukan sumber hidupmu kembali. Genggamlah kedamaian itu di dalam hatimu. Jangan terlepas kembali. Kalau kau mampu menuangkan kedamaian hatimu itu kepada kawan-kawanmu, maka kau akan mendapat kebahagiaan berlipat-lipat.”

“Ya Ki Gede, mudah-mudahan aku mampu melakukannya.”

Yang mendengar percakapan itu, Untara, Widura, bahkan orang-orang Jipang yang lain dan para pemimpin Pajang, menjadi terharu. Orang ini ternyata tidak saja memilih jalan yang dikehendaki oleh pimpinan prajurit Pajang untuk segera menyelesaikan persengketaan yang terjadi dan tersebar di mana-mana, tetapi ia telah menemukan dirinya sebagai manusia yang berada di antara manusia yang lain. Manusia yang merasa dirinya berada di dalam lingkungannya sendiri. Lingkungan yang berasal dari sumber yang sama.

Tetapi bukan saja mereka, orang-orang Jipang itu yang seakan menemukan ketetapan hati dalam kedamaian yang abadi apabila mereka dapat mempertahankan nama Tuhan Yang Maha Esa di dalam hatinya, namun tiba-tiba orang-orang Sangkal Putung yang tidak henti-hentinya mengumpat-umpat itu pun terhenti pula. Tiba-tiba pula mereka merasakan sesuatu bergetar di dalam hatinya.

“Apakah arti dari sikap ini,” desis mereka di dalam hati masing-masing. Tiba-tiba mereka menjadi malu sendiri. Seolah-olah merekalah yang kini mempertahankan supaya peperangan tetap berlangsung terus. Supaya pepati masih bertambah-tambah setiap hari. Namun tiba-tiba mereka dihadapkan pada suatu sikap yang jernih dari pemimpin tertinggi Wira Tamtama dan hadirnya sinar terang di dalam diri orang-orang Jipang itu.

Bukan sekedar menyerahkan diri karena tidak lagi mampu untuk melawan kekuatan Pajang yang setiap hari menekan mereka, tetapi kini mereka menemukan sumber yang lebih tinggi dari pada sikap yang mereka ambil. Hakekat dari penghentian perlawanan, bukan saja karena alasan-alasan lahiriah semata-mata.

Ki Gede Pemanahan tidak berbicara lagi. Ketika ia memandang kearah gerumbul-gerumbul liar di hadapannya, maka dilihatnya sebuah barisan yang menyeruak keluar dari balik gerumbul jarak kepyar yang menjadi lebat. Barisan itu adalah barisan orang-orang Jipang.

Panglima Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melihat bahwa mereka sudah tidak bersenjata lagi. Orang-orang Sangkal Putung dan para prajurit Pajang pun melihat pula, bahwa mereka datang dalam barisan yang teratur tanpa senjata di tangan. Dengan demikian, maka ketegangan yang menekan dada masing-masing tiba-tiba terasa mengendor. Terasa bahwa orang-orang Jipang itu sebenarnyalah berkehendak atas kebulatan tekad mereka, untuk menyerahkan diri. Bukan hanya sekedar permainan jebakan yang licik. Bahkan menurut persetujuan yang telah dibuat, mereka akan datang dengan senjata masih di tangan. Mereka baru akan mengumpulkan senjata itu di hadapan para pemimpin prajurit Pajang dan Sangkal Putung. Tetapi kini mereka datang dengan tangan hampa.

Untara berpaling ketika ia mendengar langkah di belakangnya. Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang pemimpin laskar Sangkal Putung datang kepadanya. Didengarnya Ki Demang berbisik, “Mereka sudah tidak bersenjata.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya perlahan-lahan, “Itu adalah sikap yang terpuji. Ternyata Kiai Gringsing memegang peranan pula atas sikap orang-orang Jipang itu.”

Sambil memandang barisan yang semakin lama menjadi semakin dekat Ki demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak berbicara lagi. Wajah-wajah para pemimpin prajurit Pajang, para pemimpin laskar Sangkal Putung, bahkan semuanya yang berada di tempat itu, menjadi tegang. Mereka melihat derap langkah yang tetap dan tidak ragu-ragu.

Sebenarnya orang-orang Jipang itu pun kini tidak ragu-ragu lagi. Apalagi setelah mereka mendengar, bahwa Panglima Wira Tamtama sendiri telah hadir.

Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama itu memandangi barisan itu dengan hati yang berdebar-debar. Sekali-sekali ia berpaling memandangi wajah Untara yang tegang. Semula kepercayaan Ki Gede Pemanahan terhadap Untara seolah-olah jauh menjadi susut. Tetapi setelah ia melihat orang-orang Jipang dalam barisan itu, maka kepercayaannya tumbuh kembali. Dalam keadaan itu, maka Ki Gede Pemanahan segera dapat membuat perhitungan, bahwa Ki Tambak Wedi pasti akan menjadi musuh yang lebih berbahaya daripada Tohpati. Musuh yang bertindak terlampau cepat, mendahului semua perhitungan Untara dan Widura.

Pada saat-saat mereka melawan Macan Kepatihan, maka Untara dan Widura hampir tidak pernah salah hitung. Hampir setiap gerakan Macan Kepatihan itu dapat dipotong oleh Widura dan kemudian Untara. Namun Ki Tambak Wedi dapat bergerak menembus semua perhitungan para Senapati Pajang.

Barisan orang-orang Jipang itu pun menjadi semakin lama semakin dekat. Yang berdiri di ujung barisan itu adalah Sumangkar dan beberapa orang pemimpin yang lain. Pemimpin-pemimpin rendahan yang tidak bersedia ikut beserta Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda.

Beberapa puluh langkah dari Ki Gede Pemanahan yang dipayungi oleh bendera kebesarannya, bendera yang memberitahukan bahwa pada saat itu hadir Panglima Wira Tamtama, barisan itu berhenti. Di ujung belakang dari barisan itu masih ada beberapa orang yang membawa senjata di tangan mereka. Tetapi demikian mereka berhenti, maka segera senjata itu mereka kumpulkan bersama-sama.

Ketika Sumangkar kemudian melangkah maju mendekati Ki Gede Pemanahan, maka Panglima Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa itu memang peristiwa yang penting bagi kedua belah pihak. Bagi orang-orang Jipang dan bagi Kadipaten Pajang. Dengan penyerahan itu, maka Pajang akan mendapat kesempatan untuk berbuat lain dari hanya bermain kejar-kejaran dengan sisa-sisa laskar Jipang itu.

Tetapi bagaimanapun juga, terasa pada para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung, bahwa mereka masih merasakan sentuhan yang pahit di dalam hati mereka. Lawan yang sudah sejak beberapa lama, selalu bertemu dalam medan-medan peperangan, dengan senjata di tangan masing-masing, maka kini mereka melihat orang-orang itu mendekati mereka tanpa gangguan suatu apa. Namun dada orang-orang Jipang itu pun berdesir ketika mereka melihat kesiapsiagaan para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung. Mereka melihat ujung-ujung senjata seperti ujung daun ilalang di padang rumput liar. Pada saat-saat lampau mereka pun pernah datang ke desa ini, tetapi juga dengan senjata di tangan. Tetapi kini mereka datang dengan tangan yang hampa. Kalau terjadi sedikit kesalahpahaman, dan para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung itu menyerangnya, maka mereka seolah-olah akan menebas batang-batang pisang tanpa perlawanan yang berarti sama sekali.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Telah Terbit on 26 September 2008 at 07:09  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-16/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. saya jagain jakarta mas..
    siap aja disuruh ngapain 😀

    D2: Gimana kalau handel BENDE MATARAM. Ini juga cersil berlatar Jawa. Bahannya komplit ada yang mau share tuh. Itu tuh orangnya di bawah. Kalau OK, kontak langsung aja ke dianya.

  2. Mas Dhe dhe aku juga ga pulkam, jadi siap bantu retype

    D2: Serius neh. Soalnya ada tuh dokumen kami yang memang harus diretype karena kualitas scannya kurang bagus. Kalau OK, bahan kukirim segera.

  3. Met Lebaran,
    Daku sih ikutan mudik neh…
    btw tararengkyu ke semua yang ikut andil di ADBM ini n sori belum bisa nyumbang apa2, baru ikutan baca aja.
    Minal ‘aidin wal faidin – mohon maaf lahir batin.
    Nuhun ka sadayana utamina ka kang DD.

    • dawah sami-sami ki

      • minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, sedoyo lepat nyuwun pangapuro kalih nyuwun arto

  4. Bende Mataram ya mas… ??
    Kalo boleh milih.. aku pengen Dewi Sri Tanjung, dengan ajian Netra Luyup nya. Tau cerita ini mas ?

    Japri aja ato YM-an ya.. suwun.
    Sukra mo ke pakiwan lagi. 😉

    • hihaaaaa
      ki nin pengen dewi sri tanjung

  5. meski mudik..
    insyaAllah masih tetep bisa bantu

    tapi jangan kejar tayang ya… 🙂

    met lebaran DD & adbm-ers semua.
    mohon maaf atas segala khilaf & salah

    bensroben@gmail.com

  6. Siap Mas Dhe dhe, kirim aja bahan dan petunjuknya

    D2: Bahan udah dikirim. Petunjuk: Retype

  7. Mas Dhe dhe,

    Saya juga cuma jagain jakarta, siap nih tuk retype or anything…….

    Tuk yang merayakan Idul Fitri, saya pribadi ucapkan Selamat Idul Fitri, semoga ibadahnya di bulan puasa diterima oleh Tuhan YME. Bagi yang mudik, hati-2 dalam perjalanan.

  8. Komandan (DD) dan ADBMer, kali ini saya gak mudik, jaga jakarta biar gak sepi2 amat..Maka berilah daku tugas2 terus!

    Bende Mataram (Herman Patikto) memang Cersil Jawa, menurutku nggak sedahsyat ADBM or NSSI (SHM), meskipun diakui mempunyai segmen penggemar tersendiri.

    Tapi, menarik juga kan ada misi “lain” yg lebih mulia..Nguri-uri sastra jawa sekaligus mendokumentasikan dalam bentuk “maya”, ini suatu usaha berbasis pengorbanan yang tentunya berazaskan nirlaba
    Bravo DD!

    • karya-karya ki herman memang berusaha ‘jawa’, tapi karena selalu mengacu kepada ching yung maka banyak bagian yang kedodoran

  9. mana tugas untuk saya?
    mumpung belum lebaran..
    ditunggu..

    D2: Tugas dah dikirim

  10. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H untuk seluruh pemrakarsa upload & penikmat Cerita ADBM. Semoga semua sehat selalu… Amin.. Btw, kalau cerita Sawer Wulung, karangan S. Djati Laksana, bagaimana, saya ada bukunya?

    D2: Kita sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar yaitu cersil Indonesia. Jadi, sepanjang cersil dan Indonesia akan ditampung.

  11. Mas Dhe dhe, tugas dah aku kembaliin.
    siap tugas selanjutnya
    And untuk semua penikmat blog ini
    “Selamat Hari Raya Idul Fitri”
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    D2: Siiip. Bahan selanjutnya dah dikirim

  12. Tugas dah aku kembalikan……., siap tuk tugas selanjutnya……

    D2: Thanks

  13. makasih banget ya adbm nya, mengingatkan aku waktu masih kanak-kanak, jilid pertamanya sekitar ketika aku sd kelas 3 s/d 6, ya tahun 1968-1971, sudah lama banget, jadi lupa-lupa ingat, tamat nya juga kapan aku lupa, pokoknya jilid nya seratusan lah, dan terbitnya klo nggak salah sebulan sekali, jadi nunggunya luamaaaaa buanget, kadang klo aku pulang ke jateng (aku di surabaya) waktu lewat sekitar menoreh, kadang mencari cari dimana ya alas mentaok itu, dimana ya sangkal putung itu, dimana ya jati anom dst dst, gimana klo diadakan napak tilas jalur nya adbm, sapa tahu nemu cambuknya kyai gringsing.
    sekali lagi makasih,

    D2: Sangkal Putung, Jati Anom (Jatinom), dan Prambanan masuk wilayah Klaten sekarang. Alas Mentaok kini menjadi Kota Gede, Yk (mohon koreksi kalau salah).
    salam,
    ariyanto surabaya

  14. Tugas yang Mas Dhe dhe berikan sudah selesai dan aku kirimkan.
    Tugas selanjutnya ………

    D2: Thanks

  15. Seneng sekali bergabung dgn ADMers. Saya penggemar setia cersil jawa, & yg lagi intens saya ikuti salah satunya cerita ini (ADBM).

    MOhon kalo ada yg punya Alap-Alap Laut Kidul bisa dishare juga. Tks

    D2: Mas Aryo sendiri punya apa?

  16. SMS tetangga:
    “Hidup ini bentar. “Bentar happy”, “bentar sedih”. “Bentar marah”, “bentar baikan”. “Bentar senyum”, “bentar cemberut”… Eh “bentar lagi lebaran”….

    Buat semua-muanya aza: Selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

    DD

  17. BUAT TIM SCANNER: CATATAN DAN USUL
    1. Mas Julius, tadi Mas Herry mengirim contoh hasil scan dalam bentuk JPG ke saya. Hasilnya bagus, cuma ukuran filenya ngudubilah besarnya (1 halaman 1800 KB). Kalau 1 buku bisa 70-an MB dong. Lalu ingat mungkin bisa diresize dan saya iseng coba-coba. Eh hasilnya hampir sama dengan aslinya, sedangkan ukuran file bisa dikurangi menjadi hanya 200 kb atau bahkan 80 kb. Saya kira prosedur ini bisa diterapkan.
    2. Dalam proses penayangan kami memerlukan baik file teks maupun JPG. File teks untuk memudahkan proses editing, file JPG untuk proofing. Melalui scan kita bisa memperoleh dua jenis file tsb. Jadi alangkah baiknya jika setiap buku discan 2 kali: sekali untuk mendapatkan file JPG, sekali untuk teks file. Agar tidak mengubah2 seting scanner, mungkin bisa dibagi, siapa saja yang menyecen untuk file JPG saja dan siapa saja yg untuk teks saja. Dengan cara seperti ini, proses konversi bisa ditiadakan.

    Demikian semoga bermanfaat.

    DD

  18. Tugas dah diterima, siap dikerjakan……..

  19. Sedulur,
    ngaturake Sugeng Riyadi
    Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  20. Mas DD dan kawan-kawan semua,
    Saya dan keluarga mengucapakan “Minal Alidin wal Faidzin” – mohon maaf lahir dan batin.
    Bagi kawan2 yang mudik, agar tetap berhati2 dalam perjalanan sampai ke rumah dan kembali ke tempat kerja.
    Semoga blog ini makin seru dan akan selalu diringukan para fans.
    Salam,
    Ubaid dan keluarga

    D2: Sama2. Aku kira Mas Ubaid ikut menghilang bersama Mas Rizal. Selamat bergabung deh.

  21. Hehe .. kok salah ketik ya.
    Bukan Minal Alidin.. tapi Minal Aidin…
    Mohon dimaafkan.. soalnya saya ngetik sambil ndlosor, sekali2 tolah toleh nungguin baby..

  22. Met Lebaran 1429 H Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir batin.

  23. Dalam rangka mempercepat penayangan ADBM, kami berencana meningkatkan kecepatan menjadi 2 JPM (jilid per minggu). Gelar SAPIT URANG akan kita pakai. Sapit kanan bertugas menayangkan ADBM Jilid Genap dan kiri Jilid Ganjil. Untuk itu kami memerlukan satu orang lagi untuk diserahi tugas menjadi senopati pengapit kiri. Persyaratan:
    1. memahami EYD dengan baik
    2. pernah terlibat dalam proses editing-proof reading.
    3. memiliki kesanggupan untuk mengkoordinir pasukan dan penayangan ADBM 1 JPM.
    Bagi yang bersedia dipersilakan ngacung. Admin kami akan menghubungi Anda.

    DD

  24. Tugasnya selanjutnya ……….

  25. Bukan menghilang mas… cuman pas kemarin2 lebih banyak di laut kebagian piket. Kawan yang seharusnya gantian kerja lagi kena masalah medis.
    Eeh ga tahunya blog ini jadi hebat. Tapi istri di rumah yang selalu ngecek dan kirim email lanjutannya ADBM. Seneeng banget ketemu obatnya.
    Penginnya ikut bantu biar lebih banyak tayang, tapi sementara nunggu 1-2 bulan ke depan dulu deh. Sementara ini jadi penikmat dulu disela2 momong anak. Maklum kurang tidur.
    Tetapi jika ada jilid yg agak jauh, barangkali bisa dikirim dulu, yang penting ga masuk target jarak dekat.

  26. Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  27. lanjutannya mana ???

  28. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadoken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinten kemawon cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  29. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadosaken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinteno kemawon b, cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  30. Mas …. mas …… saya pengin baca tapi nggak bisa caranya gimana sih. tks

  31. sip banget .. dulu baca ADBM pas SD.. nggak urut cos bongkar2 gudang mbacanya… pernah baca cerita lumayan seru.. judulnya lupa tapi ada tokoh misteriusnya” LUKIR LUDIRO” kalo nggak salah…. ada yang tau ndak ya…

  32. perkenalkan,
    saya juga fans adbm, sejak 1974 sudh baca adbm seri 1 dari buku alm bapak saya (selain pelangi).
    dan sangat bersyukur ternyata adbm ada web sitenya (walaupun tidak semua jilid di upload).
    hanya ada kekecewaan saya, setelah baca adbm mulai seri 2, dimana tidak ada lagi kalimat, pernyataan untuk beribadah/bersuci seperti di seri 1 (terutama nomor-2 awal).
    kedua, memang perlunya napak tilas nih, dari jati anom, dukuh pakuwon, sangkal putung, alas mentaok dan perdikan menoreh, kali aja kitab rontal empu windujati dan empu pahari ditemukan , apalagi goa ki sadewa mengukir ilmunya di dinding goa … hehehehehe
    sekali lagi terima kasih sehingga adbm tetap eksis.

  33. Asiiiikkkkkkk,
    Mentaok, lewat Prambanan, Kalasan,
    isa mampir tuku ayam goreng si mBok.

    • ki gembleh ra mampir bu tjitro ta ?

      • mBoten Ki,
        mampire wonten pinggir selokan Mataram,
        Yu Djum.

        • yu djum ?
          gudeg kendile muanteb iku ….
          nek sing besek meriah 😉

          • kalo sempat ki Gembleh, ki AS mampir sebentar ning Boe Jah,
            ana menu spesial KI…..maknyus,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: