Buku 16

“Saatnya telah tiba,” gumam Ki Gede Pemanahan.

Hati Untara menjadi berdebar-debar. Mudah-mudahan tidak terjadi malapelaka bagi Sangkal Putung. Mudah-mudahan rencana ini dapat berjalan sesuai dengan rencana. Tiba-tiba ia menyesal atas ketergesa-gesaannya. Ia telah memberanikan diri menyatakan bahwa persoalan orang-orang Jipang segera akan selesai sepeninggal Macan Kepatihan. Bahkan ia telah memberanikan menyatakan bahwa Sangkal Putung kini telah aman tenteram dan mengharap kehadiran Ki Gede Pemanahan untuk menerima penyerahan sisa-sisa terakhir dari orang-orang Jipang itu. Sedang beberapa orang yang tidak sependapat dengan mereka yang menyerah itu, sama sekali tidak akan berarti apa-apa. Bahkan mereka akan dapat diabaikan untuk sementara.

Namun ternyata kehadiran Ki Gede Pemanahan telah disambut oleh Ki Tambak Wadi di tegal jagung. Bahkan kemudian putera ki Gede Pemanahan pun hampir-hampir menjadi korban pula.

Tetapi kini semuanya itu telah terjadi. Kalau sekali lagi terjadi sesuatu, maka kepercayaan Ki Gede Pemanahan kepadanya pasti akan surut terlampau jauh.

Dalam pada itu kembali terdengar Ki Gede Pemanalan berkata, “Bukankah matahari telah berada tepat di atas kepala.”

“Ya, Ki Gede,” sahut Untara ragu-ragu.

“Apakah saat ini yang teIah mereka janjikan?”

“Ya, Ki Gede,” kembali terdengar suara Untara datar. Dalam pada itu kembali Untara teringat kepada Kiai Gringsing yang seakan-akan menghilang. Namun ia sama sekali tidak dapat menuntutnya untuk sesuatu kewajiban tertentu. Sebab Kiai Gringsing bukan prajurit Pajang dan bukan anak buahnya.

“Kita tunggu sejenak,” gumam Ki Gede Pemanahan. “Kalau sepemakan sirih mereka tidak nampak, maka aku akan langsung memberikan perintah lain.”

Meskipun Ki Gede Pemanahan bergumam sambil tersenyum, tetapi jelas bagi Untara, bahwa perasaan Ki Gede Pemanahan menjadi tidak begitu senang melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di Sangkal Putung itu. Peristiwa-peristiwa yang sejak kedatangannya telah menunjukkan bahwa Sangkal Putung tidak sebaik seperti laporan Untara.
Kini mereka berdiri dengan tegangnya, memandangi sawah yang ditumbuhi rumput-rumput liar dan batang-batang jarak yang menjadi lebat. Di belakang gerumbul-gerumbul itu dapat bersembunyi orang-orang Jipang. Bahkan mereka dapat bertebaran jauh dari Selatan ke Utara. Mungkin pula mereka menyusup ke Sangkal Putung lewat di belakang gerumbul-gerumbul itu langsung mendekati induk kademangan dan menyerang dari samping.

Hampir tak seorang pun yang bercakap-cakap. Mereka bersiaga sepenuhnya menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi. Para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung yang menebar itu pun memandangi gerumbul di hadapan mereka dengan mata yang hampir tidak berkedip.

Semakin lama dada Untara seakan-akan menjadi semakin bergolak. Dada itu akan dapat meledak apabila laskar Jipang tidak segera tampak. Apalagi Ki Gede Pemanahan segera akan menjatuhkan perintah lain. Perintah yang belum diketahui akan bagaimana bunyinya.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang bergerak-gerak dari dalam gerumbul di hadapan mereka. Mereka melihat seseorang menyeruak batang-batang perdu dan kemudian muncul di atas rumput-rumput liar yang tumbuh subur di atas tanah persawahan yang tidak ditanami itu.

Untara melihat orang itu dengan dada berdebar-debar. Selangkah ia maju sambil bergumam, “Itukah mereka?”

“Hanya satu orang,” sahut Ki Gede Pemanahan.

Tapi ternyata yang kemudian menyeruak dari dalam gerumbul-gerumbul itu tidak hanya satu orang. Sesaat kemudian kembali mereka melihat seorang yang lain. Disusul orang yang ketiga dan keempat. Namun yang datang dari balik gerumbul itu sama sekali tidak seperti yang diharapkan oleh Untara dan para pemimpin Sangkal Putung. Mereka ternyata tidak lebih dari dua puluh orang.

“Hanya itu?” terdengar Ki Gede Pemanahan bertanya.

Untara tidak segera dapat menjawab. Tetapi keringat dinginnya telah melelehi di segenap permukaan kulitnya.

“Dua puluh atau dua puluh lima orang,,” berkata Ki Gede Pemanahan pula. “Dua puluh orang Jipang telah mampu menggerakkan Panglima Wira Tamtama untuk menyambut kedatangannya.” “
Dada Untara kini benar-benar dipenuhi oleh kegelisahan yang melonjak-lonjak. Kalau yang datang hanya dua puluh lima orang itu, alangkah malunya. Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama itu pun pasti akan menjadi sangat marah kepadanya, seolah-olah duapuluh lima orang Jipang itu cukup bernilai untuk memaksa Ki Gede Pemanahan datang ke daerah terpencil ini.

Tetapi ketika kemudian mereka melihat dengan seksama maka mereka melihat sesuatu yang tidak begitu wajar pada orang-orang Jipang itu. Mereka melihat orang-orang Jipang itu memanggul sesuatu yang agaknya cukup berat.

“Apakah yang mereka bawa?” tanya Ki Gede bertanya kembali.

“Aku tidak tahu Ki Gede,”,” sahut Untara.

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian matanya yang tajam melihat benda yang dipanggul oleh orang-orang Jipang itu. Terdengar ia bergumam, “Senjata. Mereka memanggul senjata di atas pundak-pundak mereka. Kau lihat ujung-ujung dari senjata-senjata itu? Mereka memanggul tidak hanya sepucuk senjata di atas pundak masing-masing, tetapi seikat senjata.
Hati Untara menjadi semakin tegang. Ia tidak tahu kenapa orang-orang Jipang itu memanggul senjata-senjata mereka yang telah mereka ikat menjadi dua puluh ikat dan mereka bawa mendahului orang-orang mereka. Untara tidak tahu, apakah yang seterusnya akan dilakukan oleh orang-orang Jipang itu. Dalam persetujuan mereka, sama sekali mereka tidak pernah menyatakan bahwa mereka bersedia berbuat demikian.

Namun Untara tidak dapat berbuat lain daripada menunggu orang-orang itu menjadi semakin dekat. Untara harus mendapat keterangan dari mereka, apakah yang seterusnya akan dilakukan oleh orang-orang Jipang itu.

Semakin lama orang-orang yang memanggul bongkokan senjata itu pun menjadi semakin dekat. Dengan demikian, maka semakin jelas pula tampak, bahwa senjata yang mereka bawa itu adalah segala macam jenis senjata. Tombak, pedang, bindi dan sebagainya.

Ketika orang-orang itu menjadi semakin dekat, maka Untara pun segera melihat, siapakah yang berdiri di paling depan dari orang-orang Jipang itu. Orang yang justru tidak membawa sesuatu. Tetapi ialah yang menentukan segala sesuatu atas orang-orang Jipang itu. Orang itu adalah Sumangkar.

Dengan kepala tunduk ia berjalan. Langkahnya satu-satu seperti orang kehilangan gairah untuk menghadapi hidupnya di masa-masa mendatang.

Melihat orang itu Ki Gede Pemanahan menarik keningnya tinggi. Tanpa dikehendakinya sendiri ia melangkah maju sambil berdesis, “Kakang Sumangkar.”

Sumangkar yang kemudian mengangkat wajahnya melihat Ki Gede Pemanahan itu berjalan ke arahnya, seolah-olah hendak menyongsongnya. Karena itu maka ia pun segera berhenti sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.

“Kakangmu yang tidak berharga telah menghadap Ki Gede Pemanahan.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Sumangkar adalah lawan yang cukup tangguh sepeninggal Patih Mantahun. Ki Gede Pemanahan tahu benar kemampuan yang tersimpan pada orang tua itu. Tak ubahnya seperti kemampuan Patih Mantahun sendiri.

Dari Untara Ki Gede Pemanahan sudah mendengar bahwa Sumangkar kini berada bersama-sama dengan laskar Jipang yang dipimpin oleh Tohpati. Sumangkar-lah orang yang telah berusaha untuk menghentikan perlawanan sepeninggal Macan Kepatihan. Namun menitik perkembangan keadaan, maka Ki Gede Pemanahan memang harus berhati-hati. Apakah Sumangkar tidak sedang menjebaknya bersama-sama dengan Ki Tambak Wedi.

Ketika Sumangkar melihat Ki Gede Pemanahan, maka orang itu seakan-akan tidak merasa terkejut. Apakah ia menganggap bahwa kehadiran Ki Gede Pemanahan menyambutnya itu adalah sesuatu yang sewajarnya, atau memang ia sudah mendengar dari Ki Tambak Wedi?

Namun dalam keadaan yang bagaimanapun juga. Ki Gede Pemanahan harus menghadapinya dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak akan kehilangan kewaspadaan hanya karena beberapa bongkok senjata yang dibawa oleh orang-orang Jipang itu.

Ki Gede Pemanahan itu pun kemudian berhenti beberapa langkah di muka Sumangkar. Untara dan Widura pun kemudian berdiri di kedua sisinya. Di belakang mereka berderet beberapa orang perwira pengawal Ki Gede Pemanahan.

Sejenak Ki Gede Pemanahan memandangi orang tua itu. Wajahnya yang suram dan matanya yang cekung menunjukkan bahwa orang itu telah mengalami keadaan yang tidak menyenangkan hatinya.
“Kau nampak kurus dan lekas bertambah tua Kakang Sumangkar,” sapa Ki Gede Pemanahan.

Sumangkar membungkuk hormat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab, “Ya Ki Gede, aku bukan saja cepat menjadi tua, tetapi sebenarnya aku telah tua.”

Ki Gede tersenyum. Katanya pula, “Sebenarnya Kakang belum terlampau tua. Bukankah umur Kakang tidak terpaut banyak dengan umurku. Bahkan mungkin kita sebaya?”

“Ya, ya,” Sumangkar masih mengangguk-anggukkan kepalanya, “mungkin kita memang sebaya. Tetapi Ki Gede adalah Panglima Wira Tamtama. Ki Gede hidup dalam lingkungan yang baik sedang aku hidup di hutan-hutan seperti seekor ayam alas yang terbang dari satu sarang, hinggap ke sarang yang lain menghindari seekor musang yang selalu memburunya”

Ki Gede Pemanahan tertawa. “Apakah Kakang sudah jemu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku sendiri sebenarnya tidak pernah merasakan itu sebagai suatu keadaan yang menjemukan Ki Gede. Aku telah membiasakan diri hidup dalam kesulitan dan penderitaan sejak aku berguru di Kedung Jati bersama Kakang Mantahun. Juga ketika Kakang Mantahun menjadi Patih Jipang aku tidak menjadi seorang tumenggung atau senapati perang. Aku waktu itu adalah seorang abdi kepatihan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Lalu apakah yang mendorong Kakang mengambil keputusan seperti ini?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia berpaling. Dilihatnya orang-orang Jipang yang memanggul senjata-senjata mereka, masih berdiri di belakangnya.

“Letakkanlah senjata-senjata itu,” berkata Sumangkar kepada orang-orang Jipang. Namun kemudian kepada Ki Gede Pemanahan ia berkata, “Bukankah demikian Ki Gede? Apakah senjata-senjata ini boleh kami letakkan di sini?”

Ki Gede berpikir sejenak, kemudian jawabnya, “Letakkanlah.”

Orang-orang Jipang itu segera meletakkan senjata-senjata yang terikat dalam ikatan-ikatan yang cukup besar.
“Itulah sebagian besar dari senjata-senjata kami, Ki Gede,” berkata Sumangkar kemudian kepada Untara ia berkata, “Kami telah melakukan sesuatu di luar persetujuan Angger Untara. Tetapi kami yakin, bahwa dengan demikian, kami telah menegaskan kami untuk menghentikan perlawanan kami.”

Untara tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Ki Gede Pemanahan sejenak. Seolah-olah ia menyerahkan segala persoalan kepada Panglima Wira Tamtama itu.

“Hanya inikah senjata-senjata kalian seluruhnya?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Ini sebagian terbesar dari seluruh senjata-senjata kami Ki Gede,” sahut Sumangkar.

“Kenapa tidak seluruhnya?”

“Kami masih memerlukan beberapa pucuk senjata di tangan kami,” sahut Sumangkar.

“Kakang tidak percaya kepada kami?”

“Bukan Ki Gede, bukan,” jawab orang tua itu cepat-cepat. “Tetapi kami masih harus melindungi diri kami dari kebuasan serigala-serigala sesarang kami sendiri.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun tiba-tiba ia bertanya kembali, “Kakang, Kakang belum menjawab pertanyaanku. Apakah yang mendorong Kakang Sumangkar mengambil keputusan ini? Bukankah Kakang tidak pernah mengalami kejemuan dengan keadaan Kakang selama ini. Hidup di hutan-hutan dan menurut istilah Kakang sendiri, terbang dari satu sa-rang hinggap ke sarang yang lain menghindari musang yang memburunya?”

Sekali lagi Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan hati-hati ia menyahut, “Sebenarnya alasan itu tidak penting bagi Ki Gede. Apapun yang mendorong kami untuk menyerahkan diri adalah persoalan kami. Namun meskipun demikian, secara pribadi aku akan menjawab, sebab Ki Gede sudah bertanya secara pribadi pula.”

“Benar,” potong Ki Gede, “tetapi Sumangkar dalam segala keadaan akan dapat menentukan sikap orang-orang Jipang itu. Bukankah kakang berkata bahwa kakang sendiri, kakang pribadi tidak pernah merasakan kejemuan karena keadaan itu? Apakah dengan demikian berarti bahwa Sumangkar menyerah hanya karena kawan-kawannya menyerah tanpa sesuatu keyakinan apapun? Atau bahkan dengan suatu keyakinan yang lain?”

Sumangkar menggelengkan kepalanya. Namun terasa hatinya berdesir mendengar pertanyaan Ki Gede Pemanahan itu. Dengan hati-hati pula ia menjawab, “Tidak Ki Gede. Aku cukup mempunyai keyakinan tentang sikap yang telah aku ambil ini. Dan sikap itu sama sekali tidak atas landasan kejemuan tentang diriku sendiri. Bukan karena aku sudah jemu hidup di-hutan-hutan dan selalu dikejar-kejar oleh Angger Untara dan Angger Widura, bukan karena aku sudah jemu karena digigit nyamuk sebesar kelingking di paya-paya. Tidak Ki Gede. Kalau demikian maka justru aku menyerah karena putus asa dan tanpa suatu keyakinan apa-apa, selain keputus-asaan itu. Tetapi aku datang bukan karena itu. Aku memang menyerah karena jemu. Tetapi aku jemu melihat peperangan. Jemu melihat pertumpahan darah yang tidak ada henti-hentinya tanpa ujung dan pangkal. Karena kejemuan itulah maka aku membawa beberapa orang Jipang untuk menyerahkan dirinya kepada Angger Untara. Ternyata di sini bukan saja ada Angger Untara, namun ada Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama.”

“Kalau benar demikian alangkah menyenangkan,” sahut Ki Gede Pemanahan. “Tetapi bagaimana dengan api yang telah membakar beberapa rumah ini? Dan bagaimanakah dengan orang orangmu di bulak jagung?”

“Pertanyaan Ki Gede adalah wajar,” berkata Sumangkar dalam nada yang datar. “Ki Gede pasti akan terpengaruh oleh api yang menyala di desa ini, seperti kami menjadi bertanya-tanya di dalam hati kami pula. Kenapa di desa Benda terjadi kebakaran? Tetapi Angger Untara dan Angger Widura tahu pasti bahwa Sa-nakeling tidak sependapat dengan penyerahan ini. Apalagi Sidanti, murid Ki Tambak Wedi. Karena itu maka mereka telah membuat keributan di desa kecil ini dan bahkan telah berhasil mencegat Ki Gede di bulak jagung. Tetapi Ki Gede harus dapat membedakan, bahwa yang melakukannya sama sekali bukanlah orang-orang Jipang yang telah berjanji untuk menyerah. Mereka adalah orang-orang Jipang yang berpihak kepada Sanakeling dan Ki Tambak Wedi.”

Tampaklah wajah Ki Gede Pemanahan berkerut-kerut. Wajah itu tiba-tiba menjadi tegang. Ketika ia berpaling kepada Untara dan kemudian kepada Widura, maka dilihatnya wajah kedua pemimpin Prajurit Pajang di Sangkal Putung itu pun menjadi tegang pula.

“Kakang Sumangkar,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “apakah Kakang Sumangkar atau setidak-tidaknya orang-orang Kakang tidak melakukan perbuatan itu?”

“Tidak Ki Gede, tidak,” jawab Sumangkar.

“Jangan berbohong, Kakang.”

“Kenapa aku berbohong? Sekarang Ki Gede dapat melihat, aku telah menepati janjiku. Datang ke desa kecil ini, bahkan tanpa senjata untuk meyakinkan kesungguhan kami di hadapan Ki Gede Pemanahan dan Angger Untara dan Widura. Sebab sebenarnya kami pun dapat mengerti, setelah terjadi peristiwa itu, maka para pemimpin Pajang akan dapat menjadi ragu-ragu.”

Tiba-tiba serentak mereka berpaling ketika dari belakang para pengawal Ki Gede Pemanahan terdengar seseorang berkata, “Aneh. Bukankah itu aneh sekali ayah?”

Yang berkata itu adalah Sutawijaya. Beberapa langkah ia mendesak maju sehingga kemudian ia berdiri di samping Untara, menghadap ke arah Sumangkar itu pula.

Dada Sumangkar berdesir melihat anak muda itu. Anak muda itulah yang telah berhasil menyobek perut Arya Penangsang sehingga ususnya mencuat keluar. Bulu-bulu Sumangkar tiba-tiba terasa meremang mengenang peperangan itu. Arya Penangsang benar-benar orang yang keras hati. Meskipun ususnya telah keluar itu telah disangkutkan pada keris dilambungnya.

Kini anak muda itu berdiri di mukanya dengan sebatang tombak pendek, bukan tombak berlandasan panjang seperti yang dipakainya bertempur melawan Arya Penangsang.

Sambil membungkukkan badannya Sumangkar berkata, “Kau Angger yang perkasa. Berbahagialah ayahanda mempunyai seorang putera seperti Angger, dan berbahagialah Adipati Pajang mempunyai prajurit setangkas Tuan.”

“Terima kasih Paman Sumangkar,” sahut Sutawijaya. Namun sekali lagi ia bertanya kepada ayahnya, “Apakah ayah merasakan keanehan itu?”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, aku merasakan kejanggalan jawaban Kakang Sumangkar. Untara dan Widura pasti merasakannya pula.,” Kemudian kepada Sumangkar Ki Gede Pemanahan bertanya, “Nah, Kakang. Anakku pun merasakan suatu kejanggalan pada jawaban-jawaban yang Kakang ucapkan.”

Sumangkar menarik alisnya tinggi-tinggi, sehingga alis yang sudah mulai berwarna putih itu pun bergerak-gerak. Sekali dipandanginya Sutawijaya. Kemudian Untara dan Widura. Sekali-sekali ia berpaling memandangi beberapa bagian dari para prajurit Pajang yang dapat dilihatnya di bawah pohon-pohon yang rindang sepanjang dinding desa. Dan sekali-sekali ia berpaling juga kepada orang-orangnya yang berdiri tegang di samping ikatan-ikatan senjata yang mereka bawa. Matahari yang kini telah melampaui titik pusat itu sama sekali tidak terasa membakar tubuh-tubuh mereka dan memeras keringat mereka.

“Apakah yang terasa janggal itu Ki Gede?” bertanya Sumangkar.

“Kakang Sumangkar, jangan Kakang menganggap bahwa aku terlampau berprasangka,” berkata Ki Gede Pemanahan. “Di dalam peperangan segala macam siasat dan cara dapat terjadi. Mudah-mudahan Kakang Sumangkar tidak mempergunakan cara yang licik itu. Bahkan terbayang pun jangan pada angan-angan Kakang sumangkar.” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, namun kemu-dian diteruskanya, “Tetapi Kakang, kenapa Kakang tidak terkejut dan heran melihat kehadiranku di sini? Apakah itu bukan hal yang aneh bagi Kakang? Apakah Kakang telah mengetahuinya lebih dulu?”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Bahkan matanya kemudian menyorotkan berbagai macam pertanyaan. Bukan saja Ki Gede Pemanahan yang heran melihat sikap Sumangkar menilai kehadirannya, tetapi sumangkar pun heran mendengar pertanyaan Ki Gede Pemanahan itu.

“Ki Gede,” berkata Sumangkar kemudian, “adakah mengherankan, dan apakah seharusnya aku menjadi terkejut dan heran melihat seorang Senapati Agung, seorang Panglima Prajurit Wira Tamtama berada di garis peperangan? Kalau seorang prajurit berada di garis perang merupakan suatu keanehan, maka alangkah piciknya pengetahuanku kini tentang peperangan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Sumangkar itu. Katanya, “Kau benar Kakang. Tetapi apakah sudah selayaknya, bahwa Panglima Wira Tamtama harus berada di garis perang pada saat-saat seperti ini? Kalau Kakang menganggap itu wajar, baiklah. Tetapi kenapa Kakang tidak terkejut medengar bahwa di desa ini telah terjadi kebakaran? Mungkin Kakang telah melihat asap yang mengepul tinggi dan api yang menjilat ke udara. Tetapi dari mana Kakang tahu bahwa yang melakukan pembakaran itu Sidanti, Sanakeling dan kawan-kawannya? Dari mana pula Kakang tahu, bahwa telah terjadi pencegatan di bulak jagung yang dilakukan oleh Ki Tambak Wedi? Maafkan Kakang, aku menjadi bercuriga mendengar semuanya itu. Aku menjadi berprasangka, bahwa semuanya telah diatur sebaik-baiknya. Suatu pembagian tugas yang rapi antara Ki Tambak Wedi dan Sumangkar.”

Sumangkar mendengarkan kata-kata itu dengan seksama. Baru kini ia justru menjadi terkejut. Tampak orang itu mengerutkan alisnya, kemudian wajahnya menegang sesaat. Tetapi ternyata hatinya telah benar-benar semeleh. Orang tua itu telah benar-benar meletakkan suatu tekad, bahwa ia sampai sedemikian jauh telah berbuat sebaik-baiknya dalam kemauan yang sebaik-baiknya pula. Karena itu maka sejenak kemudian ia menjadi tenang kembali.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Telah Terbit on 26 September 2008 at 07:09  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-16/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. saya jagain jakarta mas..
    siap aja disuruh ngapain 😀

    D2: Gimana kalau handel BENDE MATARAM. Ini juga cersil berlatar Jawa. Bahannya komplit ada yang mau share tuh. Itu tuh orangnya di bawah. Kalau OK, kontak langsung aja ke dianya.

  2. Mas Dhe dhe aku juga ga pulkam, jadi siap bantu retype

    D2: Serius neh. Soalnya ada tuh dokumen kami yang memang harus diretype karena kualitas scannya kurang bagus. Kalau OK, bahan kukirim segera.

  3. Met Lebaran,
    Daku sih ikutan mudik neh…
    btw tararengkyu ke semua yang ikut andil di ADBM ini n sori belum bisa nyumbang apa2, baru ikutan baca aja.
    Minal ‘aidin wal faidin – mohon maaf lahir batin.
    Nuhun ka sadayana utamina ka kang DD.

    • dawah sami-sami ki

      • minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, sedoyo lepat nyuwun pangapuro kalih nyuwun arto

  4. Bende Mataram ya mas… ??
    Kalo boleh milih.. aku pengen Dewi Sri Tanjung, dengan ajian Netra Luyup nya. Tau cerita ini mas ?

    Japri aja ato YM-an ya.. suwun.
    Sukra mo ke pakiwan lagi. 😉

    • hihaaaaa
      ki nin pengen dewi sri tanjung

  5. meski mudik..
    insyaAllah masih tetep bisa bantu

    tapi jangan kejar tayang ya… 🙂

    met lebaran DD & adbm-ers semua.
    mohon maaf atas segala khilaf & salah

    bensroben@gmail.com

  6. Siap Mas Dhe dhe, kirim aja bahan dan petunjuknya

    D2: Bahan udah dikirim. Petunjuk: Retype

  7. Mas Dhe dhe,

    Saya juga cuma jagain jakarta, siap nih tuk retype or anything…….

    Tuk yang merayakan Idul Fitri, saya pribadi ucapkan Selamat Idul Fitri, semoga ibadahnya di bulan puasa diterima oleh Tuhan YME. Bagi yang mudik, hati-2 dalam perjalanan.

  8. Komandan (DD) dan ADBMer, kali ini saya gak mudik, jaga jakarta biar gak sepi2 amat..Maka berilah daku tugas2 terus!

    Bende Mataram (Herman Patikto) memang Cersil Jawa, menurutku nggak sedahsyat ADBM or NSSI (SHM), meskipun diakui mempunyai segmen penggemar tersendiri.

    Tapi, menarik juga kan ada misi “lain” yg lebih mulia..Nguri-uri sastra jawa sekaligus mendokumentasikan dalam bentuk “maya”, ini suatu usaha berbasis pengorbanan yang tentunya berazaskan nirlaba
    Bravo DD!

    • karya-karya ki herman memang berusaha ‘jawa’, tapi karena selalu mengacu kepada ching yung maka banyak bagian yang kedodoran

  9. mana tugas untuk saya?
    mumpung belum lebaran..
    ditunggu..

    D2: Tugas dah dikirim

  10. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H untuk seluruh pemrakarsa upload & penikmat Cerita ADBM. Semoga semua sehat selalu… Amin.. Btw, kalau cerita Sawer Wulung, karangan S. Djati Laksana, bagaimana, saya ada bukunya?

    D2: Kita sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar yaitu cersil Indonesia. Jadi, sepanjang cersil dan Indonesia akan ditampung.

  11. Mas Dhe dhe, tugas dah aku kembaliin.
    siap tugas selanjutnya
    And untuk semua penikmat blog ini
    “Selamat Hari Raya Idul Fitri”
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    D2: Siiip. Bahan selanjutnya dah dikirim

  12. Tugas dah aku kembalikan……., siap tuk tugas selanjutnya……

    D2: Thanks

  13. makasih banget ya adbm nya, mengingatkan aku waktu masih kanak-kanak, jilid pertamanya sekitar ketika aku sd kelas 3 s/d 6, ya tahun 1968-1971, sudah lama banget, jadi lupa-lupa ingat, tamat nya juga kapan aku lupa, pokoknya jilid nya seratusan lah, dan terbitnya klo nggak salah sebulan sekali, jadi nunggunya luamaaaaa buanget, kadang klo aku pulang ke jateng (aku di surabaya) waktu lewat sekitar menoreh, kadang mencari cari dimana ya alas mentaok itu, dimana ya sangkal putung itu, dimana ya jati anom dst dst, gimana klo diadakan napak tilas jalur nya adbm, sapa tahu nemu cambuknya kyai gringsing.
    sekali lagi makasih,

    D2: Sangkal Putung, Jati Anom (Jatinom), dan Prambanan masuk wilayah Klaten sekarang. Alas Mentaok kini menjadi Kota Gede, Yk (mohon koreksi kalau salah).
    salam,
    ariyanto surabaya

  14. Tugas yang Mas Dhe dhe berikan sudah selesai dan aku kirimkan.
    Tugas selanjutnya ………

    D2: Thanks

  15. Seneng sekali bergabung dgn ADMers. Saya penggemar setia cersil jawa, & yg lagi intens saya ikuti salah satunya cerita ini (ADBM).

    MOhon kalo ada yg punya Alap-Alap Laut Kidul bisa dishare juga. Tks

    D2: Mas Aryo sendiri punya apa?

  16. SMS tetangga:
    “Hidup ini bentar. “Bentar happy”, “bentar sedih”. “Bentar marah”, “bentar baikan”. “Bentar senyum”, “bentar cemberut”… Eh “bentar lagi lebaran”….

    Buat semua-muanya aza: Selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

    DD

  17. BUAT TIM SCANNER: CATATAN DAN USUL
    1. Mas Julius, tadi Mas Herry mengirim contoh hasil scan dalam bentuk JPG ke saya. Hasilnya bagus, cuma ukuran filenya ngudubilah besarnya (1 halaman 1800 KB). Kalau 1 buku bisa 70-an MB dong. Lalu ingat mungkin bisa diresize dan saya iseng coba-coba. Eh hasilnya hampir sama dengan aslinya, sedangkan ukuran file bisa dikurangi menjadi hanya 200 kb atau bahkan 80 kb. Saya kira prosedur ini bisa diterapkan.
    2. Dalam proses penayangan kami memerlukan baik file teks maupun JPG. File teks untuk memudahkan proses editing, file JPG untuk proofing. Melalui scan kita bisa memperoleh dua jenis file tsb. Jadi alangkah baiknya jika setiap buku discan 2 kali: sekali untuk mendapatkan file JPG, sekali untuk teks file. Agar tidak mengubah2 seting scanner, mungkin bisa dibagi, siapa saja yang menyecen untuk file JPG saja dan siapa saja yg untuk teks saja. Dengan cara seperti ini, proses konversi bisa ditiadakan.

    Demikian semoga bermanfaat.

    DD

  18. Tugas dah diterima, siap dikerjakan……..

  19. Sedulur,
    ngaturake Sugeng Riyadi
    Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  20. Mas DD dan kawan-kawan semua,
    Saya dan keluarga mengucapakan “Minal Alidin wal Faidzin” – mohon maaf lahir dan batin.
    Bagi kawan2 yang mudik, agar tetap berhati2 dalam perjalanan sampai ke rumah dan kembali ke tempat kerja.
    Semoga blog ini makin seru dan akan selalu diringukan para fans.
    Salam,
    Ubaid dan keluarga

    D2: Sama2. Aku kira Mas Ubaid ikut menghilang bersama Mas Rizal. Selamat bergabung deh.

  21. Hehe .. kok salah ketik ya.
    Bukan Minal Alidin.. tapi Minal Aidin…
    Mohon dimaafkan.. soalnya saya ngetik sambil ndlosor, sekali2 tolah toleh nungguin baby..

  22. Met Lebaran 1429 H Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir batin.

  23. Dalam rangka mempercepat penayangan ADBM, kami berencana meningkatkan kecepatan menjadi 2 JPM (jilid per minggu). Gelar SAPIT URANG akan kita pakai. Sapit kanan bertugas menayangkan ADBM Jilid Genap dan kiri Jilid Ganjil. Untuk itu kami memerlukan satu orang lagi untuk diserahi tugas menjadi senopati pengapit kiri. Persyaratan:
    1. memahami EYD dengan baik
    2. pernah terlibat dalam proses editing-proof reading.
    3. memiliki kesanggupan untuk mengkoordinir pasukan dan penayangan ADBM 1 JPM.
    Bagi yang bersedia dipersilakan ngacung. Admin kami akan menghubungi Anda.

    DD

  24. Tugasnya selanjutnya ……….

  25. Bukan menghilang mas… cuman pas kemarin2 lebih banyak di laut kebagian piket. Kawan yang seharusnya gantian kerja lagi kena masalah medis.
    Eeh ga tahunya blog ini jadi hebat. Tapi istri di rumah yang selalu ngecek dan kirim email lanjutannya ADBM. Seneeng banget ketemu obatnya.
    Penginnya ikut bantu biar lebih banyak tayang, tapi sementara nunggu 1-2 bulan ke depan dulu deh. Sementara ini jadi penikmat dulu disela2 momong anak. Maklum kurang tidur.
    Tetapi jika ada jilid yg agak jauh, barangkali bisa dikirim dulu, yang penting ga masuk target jarak dekat.

  26. Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  27. lanjutannya mana ???

  28. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadoken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinten kemawon cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  29. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadosaken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinteno kemawon b, cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  30. Mas …. mas …… saya pengin baca tapi nggak bisa caranya gimana sih. tks

  31. sip banget .. dulu baca ADBM pas SD.. nggak urut cos bongkar2 gudang mbacanya… pernah baca cerita lumayan seru.. judulnya lupa tapi ada tokoh misteriusnya” LUKIR LUDIRO” kalo nggak salah…. ada yang tau ndak ya…

  32. perkenalkan,
    saya juga fans adbm, sejak 1974 sudh baca adbm seri 1 dari buku alm bapak saya (selain pelangi).
    dan sangat bersyukur ternyata adbm ada web sitenya (walaupun tidak semua jilid di upload).
    hanya ada kekecewaan saya, setelah baca adbm mulai seri 2, dimana tidak ada lagi kalimat, pernyataan untuk beribadah/bersuci seperti di seri 1 (terutama nomor-2 awal).
    kedua, memang perlunya napak tilas nih, dari jati anom, dukuh pakuwon, sangkal putung, alas mentaok dan perdikan menoreh, kali aja kitab rontal empu windujati dan empu pahari ditemukan , apalagi goa ki sadewa mengukir ilmunya di dinding goa … hehehehehe
    sekali lagi terima kasih sehingga adbm tetap eksis.

  33. Asiiiikkkkkkk,
    Mentaok, lewat Prambanan, Kalasan,
    isa mampir tuku ayam goreng si mBok.

    • ki gembleh ra mampir bu tjitro ta ?

      • mBoten Ki,
        mampire wonten pinggir selokan Mataram,
        Yu Djum.

        • yu djum ?
          gudeg kendile muanteb iku ….
          nek sing besek meriah 😉

          • kalo sempat ki Gembleh, ki AS mampir sebentar ning Boe Jah,
            ana menu spesial KI…..maknyus,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: